Anda di halaman 1dari 22

TUGAS RUTIN MAKALAH

KELOMPOK

MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

PENDIDIKAN FISIKA PROGRAM


PASCASARJANA
PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
SKOR NILAI:

(1) (2)

KELOMPOK 1
1. BESTRICA KURNIA SARI (NIM 8186175005)
2. NORMADINA (NIM 8186175008)

DOSEN PENGAMPU : Dr. Sondang Manurung, M.Pd


MATA KULIAH : FILSAFAT ILMU

PENDIDIKAN FISIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2018
A. Pengertian Filsafat Ilmu
Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia”
yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan
sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat
berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali.
Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama,
pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan
bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis. (The Liang Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah
dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), Secara
harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang
kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam
segala aspek perilakunya seperti: Logika, Etika, Estetika dan Teori pengetahuan.
Menurut Surajiyo (2010:1) Secara etimologi kata filsafat, yang dalam bahasa Arab
dikenal dengan istilah falsafah dan dalam Bahasa Inggris di kenal dengan istilah philoshophy
adalah dari Bahasa Yunani philoshophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta (love) dan
shopia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti
cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian,
seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.
Secara terminologi, menurut Surajiyo (2010: 4) filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada
hakikatnya. Filsafat bukan mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah
hakikat dari sesuatu fenomena. Hakikat adalah suatu prinsip yang menyatakan “sesuatu”. Filsafat
mengkaji sesuatu yang ada dan yang mungkin ada secara mendalam dan menyeluruh. Jadi
filsafat merupakan induk segala ilmu.
Susanto (2011: 6) menyatakan bahwa menurut Istilah, filsafat adalah ilmu pengetahuan
yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang muncul dan berkenaan dengan segala
sesuatu, baik yang sifatnya materi maupun immateri secara sungguh-sungguh, guna menemukan
hakikat sesuatu yang sebenarnya, mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir secara
rasional-logis, mendalam dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu
menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan manusia.

1
Menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah
philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika
yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2+b2 = c2. Pytagoras
menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya
hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah
filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf
yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau cosmos dalam perkataan Yunani. Menurut
aliran filsafat cosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui
asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).
Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan
oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang
untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak
menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan
kebenaran. (Soeparmo, 1984).
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya
kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih
lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh
filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997),
dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak
semua persoalan itu harus persoalan filsafat.
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang telah digambarkan
pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan
pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh
karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa
meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk
mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa
ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Filsafat ilmu menurut Surajiyo (2010 : 45), merupakan cabang filsafat yang membahas
tentang ilmu. Tujuan filsafat ilmu adalah mengadakan analisis mengenai ilmu pengetahuan dan
cara bagaimana ilmu pengetahuan itu diperoleh. Jadi filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang

2
ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya. Pokok perhatian filsafat ilmu adalah
proses penyelidikan ilmiah itu sendiri.
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari
ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu
kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan
kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari
sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari
sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang
merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk
memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat ilmu menyangkut
masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam
menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” dari sesuatu itu. Inilah awal-mula sehingga
seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis dan
lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam pemilihan epistemologi, yaitu
cara-cara paradigma yang akan diambil dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya,
serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam
seseorang mengembangkan ilmu.

B. Tujuan Mempelajari Filsafat Ilmu


Adapun tujuan mempelajari filsafat ilmu menurut Amsal Bakhtiar (2008:20) adalah:
a. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami
sumber, hakekat dan tujuan ilmu.
b. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang
sehingga kita dapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
c. Menjadi pedoman untuk membedakan studi ilmiah dan non ilmiah.
d. Bahwa persoalan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.

Sedangkan tujuan mempelajari filsafat ilmu Bagi mahasiswa dan peneliti, adalah :
1. Seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami persoalan ilmiah dengan melihat ciri dan
cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat dan kritis.

3
2. Seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat melakukan pencarian kebenaran ilmiah dengan tepat
dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan ilmunya (ilmu budaya, ilmu kedokteran,
ilmu teknik, ilmu keperawatan, ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya)
tetapi juga persoalan yang menyangkut seluruh kehidupan manusia, seperti : lingkungan
hidup, peristiwa sejarah, kehidupan sosial, politik dan sebagainya.
3. Seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami bahwa terdapat dampak kegiatan ilmiah
(penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat yang digunakan oleh bidang medis,
teknik, komputer) dengan masyarakat yaitu berupa tanggung jawab dan implikasi etis.
Contoh dampak tersebut misalnya masalah euthanasia dalam dunia kedokteran yang masih
sangat dilematis dan problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer, pemalsuan
terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , dan plagiarisme dalam karya ilmiah.

C. Cakupan Filsafat Ilmu Menurut Para Ahli


The Liang Gie (2007) mengemukakan cakupan filsafat ilmu dari para filsuf dunia, antara lain:
1. Peter Angeles
Menurut Peter Angeles, filsafat ilmu mempunyai empat bidang konsentrasi utama yaitu:
a. Telaah mengenai berbagai konsep, pra-anggapan, dan metode ilmu, berikut analisis,
perluasan, dan penyusunannya untuk memperoleh pengetahuan yang lebih ajeg dan
cermat,
b. Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur
perlambangannya,
c. Telaah mengenai keterkaitan antara berbagai ilmu,
d. Telaah mengenai akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan
penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas, entitas, teoretis, sumber, dan
keabsahan pengetahuan, serta sifat dasar kemanusiaan.

2. Cornelius Benyamin
Menurut Cornelius Benyamin yang menjadi pokok soal filsafat ilmu dalam tiga bidang
yaitu (1) telaah mengenai metode ilmu, lambang ilmiah, dan struktur logis dan sistem
perlambangan ilmiah, (2) penjelasan tentang konsep dasar, pra-anggapan, dan pangkal pendirian
ilmu, berikut landasan empiris, rasional, dan pragmatis yang menjadi tempat tumpuannya, (3)

4
aneka telaah mengenai saling keterkaitan antara berbagai ilmu dan implikasinya bagi suatu karier
alam semesta, misalnya idealisme, materialisme, monisme, atau pluralisme.

3. Marx War Tofsiy


Menurut Marx War Tofsiy, filsafat ilmu meliputi: (1) perenungan mengenai konsep
dasar, struktur formal, dan metodologi ilmu, (2) persoalan ontologi dan epistemologi yang khas
bersifat filsafati dengan pembahasan yang memadukan peralatan analitis dari logika modern dan
model konseptual dari penyelidikan ilmiah.

4. Ernest Nagel
Ernest Nagel mengemukakan hasil penyelidikannya yang menyimpulkan bahwa filsafat
ilmu mencakup tiga bidang luas: (1) pola logis yang ditunjukkan oleh penjelasan dalam ilmu, (2)
pembuktian konsep ilmiah, (3) pembuktian keabsahan kesimpulan ilmiah.
Dari sekian banyak telaah tentang cakupan filsafat ilmu yang telah dikemukaan oleh
Peter Angeles, Cornelius Benyamin, Marx War Tofsiy, Ernest Nagel, maupun cakupan filsafat
ilmu yang dikemukakan oleh filsuf lainnya, ternyata cakupan filsafat ilmu sangat luas. Walaupun
ada para ahli yang membahasnya dari segi cakupan pembahasan yang relatif berbeda dan
mendalam namun esensinya tetap sama, dan dia hanya bergerak pada konstruk filsafat, yaitu
ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

D. Permasalahan (Problem) Filsafat Ilmu Menurut Para Ahli


1. A. Cornelius Benjamin
Filsuf ini menggolong-golongkan segenap persoalan filsafat ilmu dalam tiga bidang:
a. Bidang pertama meliputi semua persoalan yang bertalian secara langsung atau tidak
langsung dengan suatu pertimbangan mengenai metode ilmu.
b. Persoalan-persoalan dalam bidang kesdua dalam filsafat ilmu agak kurang terumuskan
baik dari problem-problem tentang metode. Dalam suatu makna, banyak darinya
merupakan pula persoalanpersoalan metode. Tetapi, penunjukannya secara langsung
lebih kepada pokok soal daripada kepada prosedur sehingga persoalan-persoalan itu
menyangkut apa yang umumnya disebut pertimbanganpertimbangan metafisis dalam

5
suatu cara bidang terdahulu tidak menyangkutnya. Ini bertalian dengan analisis terhadap
konsep-konsep dasar dan praanggapan-praanggapan dari ilmu-ilmu.
c. Bidang ketiga dari filsafat ilmu, terdiri dari aneka ragam kelompok persoalan yang tidak
mudah terpengaruh oleh suatu penggolongan sistematis. Kesemua itu dapat secara kasar
dilukiskan sebagaimana bersangkut paut dengan implikasi-implikasi yang dipunyai ilmu
dalam isi maupun metodenya bagi aspekaspek lain dari kehidupan kita.

2. Michael Berry
Penulis ini mengemukakan dua problem yang berikut:
a. Bagaimanakah kuantitas dari rumusan dalam teori-teori ilmiah (misalnya suatu ciri dalam
genetika atau momentum dalam mekanika Newton) berkaitan dengan peristiwa-peristiwa
dalam dunia alamiah diluar pikiran kita?
b. Bagaimanakah dapat dikatakan bahwa teori atau dalil ilmiah adalah ‘benar’ berdasarkan
induksi dari sejumlah persoalan yang terbatas?

3. Van Fraassen dan H. Margenau


Menurut kedua ahli ini problem-problem utama dalam filsafat ilmu setelah tahun-tahun
enam puluhan ialah:
a. Metodologi (Hal-hal yang menonjol yang banyak diperbincangkan adalah mengenai sifat
dasar dari penjelasan ilmiah, dan teori pengukuran).
b. Landasan ilmu-ilmu (ilmu-ilmu empiris hendaknya melakukan penelitian mengenai
landasannya dan mencapai sukses seperti halnya landasan matematik).
c. Ontologi (Persoalan utama yang diperbincangkan ialah menyangkut konsep-konsep
substansi, proses, waktu, ruang, kausalitas, hubungan budi dan materi, serta status dari
entitas-entitas teoritis).

4. Davih Hull
Filsuf biologi ini mengemukakan persoalan yang berikut:
Persoalan menyampingkan yang meliputi jilid-jilid belakangan ini (seri Foundations of
Philosophy) ialah apakah pembagian tradisional dari ilmu-ilmu empiris dalam cabang-cabang
pengetahuan yang terpisah seperti geologi, astronomi dan sosiologi mencerminkan semata-mata

6
perbedaan dalam pokok soal ataukah hasil dari perbedaan pokok dalam metodologi. Secara
singkat, adakah suatu filsafat ilmu tunggal yang berlaku merata pada semua bidang ilmu
kealaman, atau adakah beberapa filsafat ilmu yang masing-masing cocok dalam ruang
lingkupnya sendiri?

5. Victor Lenzen
Filsuf ini mengajukan dua problem:
a. Struktur Ilmu, yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah;
b. Pentingnya ilmu bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas.

6. J. J. C. Smart
Filsuf ini mengumpamakan kalau seorang awam bukan filsuf membuka-buka beberapa
nomor dari majalah Amerika serikat berjudul Philosophy of Science dan majalah Inggris The
British Journal of the Philosophy of science, maka akan dijumpainya dua jenis persoalan:
a. Pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu, misalnya pola-pola perbincangan ilmiah, langkah-
langkah pengujian teori ilmiah, sifat dasar dari dalil dan teori dan cara-cara merumuskan
konsep ilmiah.
b. Perbincangan filasafati yang mempergunakan ilmu, misalnya bahwa hasil-hasil
penyelidikan ilmiah akan menolong para filsuf menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang
manusia dan alam semesta.

7. Joseph Sneed
Menurut filsuf ini, pembedaan dalam jenis problem-problem filsafat ilmu khusus
(misalnya variable tersembunyi, determinisme dalam mekanika quantum) dan jenis problem-
problem filsafat ilmu seumumnya (misalnya ciri-ciri teori ilmiah) yang telah umum diterima
adalah menyesatkan. Hal itu dinyatakannya demikian, “Saya menyarankan bahwa dualitas
diantara problem-problem filsafat ilmu ini adalah menyesatkan. Saya berpendapat bahwa
problem-problem filasafati tentang sifat dasar ilmu seumumnya tidaklah, dalam suatu cara yang
mendasar, berbeda dengan problem-problem filasafati yang bertalian semata-mata dengan ilmu-
ilmu khusus. Secara khusus tidaklah ada makna khusus bahwa filsafat ilmu seumumnya
merupakan sustu usaha normative, sedangkan filsafat ilmu-ilmu khusus tidak.

7
8. Frederick Suppe
Menurut filsuf ini, problem yang paling pokok atau penting dalam filsafat ilmu adalah
sifat dasar atau struktur teori ilmiah. Alasannya ialah kerena teori merupakan roda dari
pengetahuan ilmiah dan terlibat dalam hampir semua segi usaha ilmiah. Tanpa teori tidak akan
ada problem-problem mengenai entitas teoritis, istilah teoritis, pembuktian kebenaran, dan
kepentingan kognitif. Tanpa teori yang perlu diuji atau diterapkan, rancangan percobaan tidak
ada artinya. Oleh karena itu hanyalah agak sedikit melebih-lebihkan bilamana dinyatakan bahwa
filsafat ilmu adalah suatu analisis mengenai teori dan peranannya dalam usaha ilmiah.

9. D.W. Theobald
Menurut filsuf ini, dalam filsafat ilmu terdapat dua kategori problem yaitu:
a. Problem-problem Metodologis yang menyangkut struktur pernyataan ilmiah dan
hubungan-hubungan diantara mereka. Misalnya analisis probabilitas, peranan
kesederhanaan dalam ilmu, realitas dari entitas teoritis, dalil ilmiah, sifat dasar
penjelasan, dan hubungan antara penjelasan dan peramalan.
b. Problem-problem tentang ilmu yang menyelidiki arti dan implikasi dari konsep-konsep
yang dipakai para ilmuwan. Misalnya kausalitas, waktu, ruang, dan alam semesta.

10. W. H. Walsh
Filsuf sejarah ini menyatakan bahwa filsafat ilmu mencakup problem yang timbul dari
metode dan praanggapan dari ilmu serta sifat dasar dan persyaratan dari pengetahuan ilmiah.

11. Walter Weimer


Ahli ini mengemukakan empat problem yang berikut:
a. Pencarian terhadap suatu teori penyimpulan rasional (ini berkisar pada penyimpulan
induktif, sifat dasarnya dan pembenarannya).
b. Teori dan ukuran bagi pertumbuhan atau kemajuan ilmiah (Ini berkisar pada
pertumbuhan pengetahuan ilmiah, pencarian dan penjelasannya. Misalnya dalam menilai
bahwa teori Einstein lebih unggul daripada teori sebelumnya, apakah ukurannya?)

8
c. Pencarian terhadap suatu teori tindakan Pragmatis (dalam menentukan salah satu teori di
antara teoriteori yang salah, bagaimanakah caranya untuk mengetahui secara pasti teori
yang paling terkecil kesalahannya?)
d. Problem mengenai kejujuran intelektual (Ini menyangkut usaha mencocokkan prilaku
senyatanya, dari para ilmuwan dengan teori yang mereka anut setia).

12. lPhilip Wiener


Menurut beliau para filsuf ilmu dewasa ini membahas problem-problem yang
menyangkut :
a. Struktur logis atai ciri-ciri metodologis umum dari ilmu-ilmu.
b. Saling hubungan diantara ilmu-ilmu.
c. Hubungan ilmu-ilmu yang sedang tumbuh dengan tahapan-tahapan lainnya dari
peradaban, yaitu kesusilaan, politik, seni dan agama.

E. Bidang Kajian dalam Filsafat Ilmu


Problem-problem filsafat seumumnya bilamana digolong-golongkan ternyata berkisar
pada enam hal pokok, yaitu pengetahuan, keberadaan, metode, penyimpulan, moralitas, dan
keindahan.
Berdasarkan keenam sasaran itu, bidang filsafat dapat secara sistematis dibagi dalam
enam cabang pokok, yaitu epistemologi (teori pengetahuan), metafisika (teori mengenai apa
yang ada), metodologi (studi tentang metode), logika (teori penyimpulan), etika (ajaran
moralitas) dan estetika (teori keindahan). Oleh karena filsafat ilmu merupakan suatu bagian dari
filsafat seumumnya, problem-problem dalam filsafat ilmu secara sistematis juga dapat
digolongkan menjadi enam kelompok sesuai dengan cabang-cabang pokok filsafat itu. Dengan
demikian, seluruh problem dalam filsafat ilmu dapat ditertibkan menjadi :
1. Problem-problem epitesmologis tentang ilmu
2. Problem-problem metafisis tentang ilmu
3. Problem-problem metodologis tentang ilmu
4. Problem-problem logis tentang ilmu
5. Problem-problem etis tentang ilmu
6. Problem-problem estetis tentang ilmu

9
Problem-problem epitemologis, metafisis, dan logis yang bertalian dengan ilmu-ilmu
mulai memperoleh perhatian para filsuf dan ilmuwan pada awal abad XIX.28 Problem-problem
secara metodologis telah secara tegas disebutkan oleh D. W. Theobald dimuka sebagai salah satu
kategori problem dalam filsafat ilmu. Problem- problem etis yang menyangkut ilmu juga telah
disebutkan dimuka oleh Walter Weimer (menyangkut kejujuran intelektual para ilmuwan dan
oleh Philip Weiner (menyangkut hubungan ilmu dengan kesusilaan sebagai suatu segi perdaban
manusia). Problem-problem estetis yang menyangkut ilmu pada dasawarsa terakhir ini dimulai
menjadi topik perbincangan oleh sebagian filsuf dan ilmuwan. Dalam tahun 1980 diadakan
sebuah konperensi para ahli yang membahas dimensi estetis dari ilmu. Berikut ini penjelasan
mengenai keenam problem dalam filsafat ilmu:

1. Problem Epistemologi dan Metodologis


Di tengah maraknya kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat spektakuler masalah landasan
Epistemology dalam Metodologis mempunyai kedudukan yang sentral dan strategis. Auguste Comte dan
Karl Raimund Popper adalah dua sosok filsuf besar. Auguste hidup di abad ke-19 mengalami langsung
revolusi Prancis dengan segala akibatnya , positifisme merupakan aliran produk pemikirannya. Kemudian
diabad ke-20 dikembangkan oleh kelompok Wina dengan aliran Neo-Positifisme.
Sedangkan Popper ialah filsuf kontemporer. Falsifikasionisme merupakan aliran yang dilahirkannya
sebagai jawaban atas problem-problem epistemology, filsafat, ilmu sosial, politik , sejarah dan metodologi.
Yang menjadi problem /permasalahannya disini ialah masalah perolehan pengetahuan yang selanjutnya
melahirkan aliran Rasionalisme dan Empirisme, yang pada gilirannya melahirkan aliran kritisme sebagai
alternatif dan solusi terhadap pertikaian dari dua aliran tersebut. Popper tampil diantara pertikaian tersebut
dengan aliran Falsifikasionisme yang bertumpu diatas landasan Epistemology Rasionalisme -kritis dan
Empirisme-kritis.
Pendekatan hubungan antara epistemology dengan metodologi bila dikaitkan dengan pandangan
Protaguras yang menyatakan bahwa “didalam segala hal manusia adalah menjadi tokoh ulur”.
Epistemology oleh Popper dianggap sebagai teori ilmu pengetahuan dan metodologi yang akan menentukan
proses dan produk ilmiah. Konflik metodologi akan tampak bila dikaitkan dengan jenis ilmu, yakni ilmu
pengetahuan alam, ilmu sosial, ilmu budaya, dan lain-lain. Persoalannya adalah apakah ilmu sosial dan ilmu
budaya dapat menggunakan metode yang dipakai oleh ilmu pengetahuan alam.

10
Latar belakang pemikiran Augustus ialah dipengaruhi oleh terjadinya perang revolusi Prancis pada
abad ke-19 yang dimana ia mengalaminya secara langsung akibat-akibat dari revolusi tersebut. Terutama
bidang-bidang sosial, ekonomi, politik dan pendidikan. Pengalaman pahit yang dialaminya ini memotivasi
dirinya untuk memberikan alternatif dan solusi ilmiah filosofis.
Berbeda dengan Popper yang hidup diabad ke-20 yakni abad yang diawali oleh konflik sosial secara
terbuka yaitu dengan terjadinya perang pertama dan perang kedua. Namun dilihat dari sudut pendidikan
Popper lebih beruntung dibandingkan dengan Auguste. Karena ia dapat mencapai jenjang tertinggi yakni
Doktor dibanding filsafat. Namun keduanya mempunyai kesukaan ilmu yang sama yakni Matematika dan
Fisika teoritis, hanya saja Popper lebih menguasai secara mendalam ilmu pengetahuan alam modern.
Dasar pemikaran Auguste diperoleh secara inspiratif dari Saint Simon Charles Darwin. Kata rasional
bagi Auguste terkait dengan masalah yang bersifat emperik dan positif , Yakni pengetahuan yang diperoleh
melalui observasi, ekpermentasi, komparasi, dan generalisasi. Karena itu bagi positifisme tuntutan utama
adalah pengetahuan faktual yang dialami oleh subjek, dan di sini metode yang digunakan ialah
“indukatif –verifikatif.
Sementara Popper berpandangan bahwa rasion identik dengan kata intelektual yang tidak
bertentangan dengan irrasionalisme tetapi bertentangan dengan empirisme. Karena itu dalam arti luas
Rasionalisme mencakup intelektual dan empirisme. Bentuk metodologi yang ia pakai ialah “deduktif -
falsifikatif dengan realisasi metodologinya”.
Menurut pandangan Popper Relatifisme sama sekali tidak mengakui bahwa manusia mampu
menangkap dan menyimpan kebenaran. Namun bagi manusia, kebenaran selalu bersifat sementara karena
harus selalu dihadapkan dengan pengujian. Ada sesuatu yang ada dalam pemikiran Popper , yakni adanya
campakan terhadap metafisika. Akan tetapi justru ia mengakui adanya kebenaran metafisika terhadap
pemikirannya. Namun hal ini ditentang oleh Auguste yang beranggapan bahwa metafisika sebagai omong -
kosong.
Dari uraian di atas ada beberapa hal yang menunjukkan kekuatan kelemahan pemikiran kedua filsus
tersebut, diantaranya latar belakang filsafat dimana mereka hidup yakni akibat dari revolusi Prancis dan perang
dunia petama dan kedua yang menumbuhkan pemkiran mereka yang orisinal dan aktual sekaligus petunjuk
kekuatan berfikir mereka.

Sedangkan kelemahannya terbentuk pada teradisi berpikir filosof dimana setiap alternatif dan sosial
yang timbul setiap problem selalu menimbulkan problem yang baru . Maka positifisme dan
faksifikasionalisme merupakan karya berfikir menumental orisinal dan aktual kedua filsuf tersebut.

11
Kemampuan Popper memunculkan problem dan kebenaran tentative (sementara) sebagai esensi-
subtansial dalam dunia kefilsafatan dan keilmuan. Ia menunjukkan kekuatan berfikirnya sekaligus
kelemahannya, yakni membuatnya terjebak dalam dunia relativisme dan begitu juga denganAuguste Comte.

2. Problem Etika Ilmu Pengetahuan


Problem etika ilmu pengetahuan disini yakni menyangkut bagaimana penerapan dari pada ilmu
pengetahuan dan teknologi apa yang seharusnya dikerjakan/tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan
dan martabat manusia. Dan disinilah tanggung jawab etis bagi penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karena kedua hal tersebut mempunyai pengaruh pada proses perkembangan.

3. Problem Estetis tentang ilmu


Adapun persoalan atau problem dalam estetis ini antara lain:
- Pengertian dari estetika.
- Munculnya teori-teori tentang estetika.
- Munculnya bagian-bagian baru dalam estetika.
Dalam memberikan pengetian yang tepat tentang estetika disini memunculkan masalah atau problem-
problem dari pada filsuf, kerena mempunyai pendapat dan pandangan yang berbeda. Bahkan perbandingan ini
sudah sangat lama menjadi suatu masalah yang memberikan jawaban- jawaban yang berbeda. Perbedaan
ini disebabkan dari berlainannya sasaranyang dikemukakan. Selain persoalan atau problem-problem
diatas, masalah lain yang menjadi problem dalam filsafat ilmu adalah munculnya sikap-sikap pro dan kontra
dari para tokoh-tokoh terkemuka tarhadap ahli-ahli filusufi. Dan salah satu contohnya disini adalah sikap pro
dan kontra yang muncul dari tokoh-tokoh terhadap imam Al-Ghazali. Memang mayoritas umat islam telah
terbawa hanyaut oleh pandangan bahwa Al-Ghazali sebagai hujjatul islam. Namun sekarang, telah muncul
tokoh-tokoh yang telah mengkritik terhadap imam Al-Gazali, diantaranya :
- Al-Alamah Abu Bakar at-Therthurusyi Almasik
- Imam Abu Abdullah Al-Mazali al-Maliki
- Imam Taqiyyuddin Ibnu Shalab
Masing-masing dari mereka mempunyai pandangan yang berbeda tentang Imam Al-Ghazali.

12
Keenam problem filsafat ilmu versi The Liang Gie diatas memiliki keluasan dan kedalaman yang
mandiri, namun di kalangan pembelajar filsafat ilmu, Pemilahan problem-problem filsafat ilmu lebih diperinci
lagi kedalam tiga permasalahan yaitu: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.

4. Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi


a. Ontologi
Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu
pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Dasar ontologis berhubungan dengan materi yang menjadi
objek penelaahan ilmu. Berdasarkan objek yang telah ditelaahnya, dapat disebut pengetahuan empiris, karena
objeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek-
aspek kehidupan yang diuji panca indera manusia. Persolan-persoalan yang dibahas antara lain : Objek apa
yang ditelaah ilmu? Apa asumsi ilmu terhadap objek material dan formal suatu ilmu? dan apakah objek
tersebut bersifat psikis ataukah fisis? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan
antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, mengindera) yang membuahkan
pengetahuan? (Jujun, 2002: 34).
b. Epistemologi
Epistemologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha untuk
memperoleh pengetahuan. Epistemologi adalah suatu teori pengetahuan. Kaitannya dengan filsafat ilmu,
logika dan metodologi berperan penting.

Dalam epistemologi yang dibahas adalah objek pengetahuan, sumber dan alat untuk memperoleh
pengetahuan, kesadaran dan metode, validitas pengetahuan, dan kebenaran. Epistemologi berkaitan pemilahan
dan kesesuaian antara realisme atas pengetahuan tentang proposisi, konsep-konsep, kepercayaan dengan
realisme tentang objek yang tersusun atas “objek real”, fenomena, data alam dan sebagainya. Logika dalam
arti landasan epistemologis ini berkisar pada persoalan penyimpulan yakni proses penalaran guna mendapat
pengertian baru dari satu atau lebih proposisi yang diterima sebagai benar, dan kebenaran dari kesimpulan itu
diyakini terkandung dalam kebenaran proposisi yang belakang. Penyimpulan ini dengan prinsip-prinsip dan
aturan-aturan yang sah. Penyelidikan mengenai cara-cara memperoleh pengetahuan ilmiah bersangkutan
dengan susunan logik dan metodologik, Urutan serta hubungan antara berbagai langkah dalam penyelidikan
ilmiah.

13
Dalam hal metodologi, filsafat ilmu mempersoalkan azas-azas serta alasan apa yang menyebabkan
ilmu dapat memperoleh predikat “pengetahuan ilmiah”. Fungsi metodologi adalah menguji metode
yang digunakan untuk menghasilkan pengetahuan yang valid, dengan cara meletakkan prosedur yang
dijustifikasi maknanya dengan argument filosofis. Metodologi meletakkan aturan bagi prosedur praktek ilmu.
Metodologi adalah praktek ilmu filsafat dan ilmu-ilmu adalah realisasi dari metodologi. Persoalan- persoalan
yang dibahas antara lain : Bagaimana proses memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apakah yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang
benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah ktiterianya? Dan Cara/ teknik/ sarana apa yang
membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Jujun, 2002: 34).

c. Aksiologis
Aksiologi membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya.
Tidak dipungkiri bahwa ilmu telah memberikan kemudaan-kemudahan bagi manusia dalam mengendalikan
kekuatan-kekuatan alam. Permasalahan aksiologi terkait hakikat ilmu itu sendiri, yakni tentang netralitas ilmu
dalam hubungannya dengan penerapan praktis ilmu di masyarakat. Etika dan juga estetika merupakan aspek
penting dalam bahasan aksiologi ilmu yang terkait dengan tujuan dan tanggung jawab ilmu terhadap
masyarakat. Etika mengarahkan ilmu agar dapat menguntungkan dan tidak mencelakakan manusia sedangkan
estetika terkait pencarian ilmu terhadap keindahan tersembunyi dari dunia (The Liang Gie, 2000: 84).
Persoalan- persoalan yang dibahas antara lain : Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?
Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral dan keteraturan? Bagaimana
penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral dan estesis? Bagaimana kaitan antara teknik
prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/ professional?
(Jujun, 2002: 35).

Ketiga aspek tersebut merupakan faktor-faktor yang melekat dalam keberadaan ilmu pengetahuan,
berkaitan satu sama lain dan tak terpisahkan. Ketiga aspek merupakan dasar bagi eksistensi ilmu (Heri dan
Listiyono, 2003: 11). Tiga aspek disebutkan sebagai landasan penelaahan ilmu pengetahuan yang seperti apa
yang dikatakan Jujun S. Suriasumantri (2002:35), menjadi pembeda antara pengetahuan ilmiah dengan
pengetahuan yang lain (seni, agama, filsafat).

Suatu ilmu sah dibenarkan sebagai ilmu apabila memiliki sifat atau ciri- ciri sebagai berikut :

1. Memiliki objek atau pokok soal, yakni sasaran dan titik pusat perhatian tertentu.

14
2. Bermetode, yakni cara atau sistem dalam ilmu untuk memperoleh kebenaran agar rasional, terarah dan
dapat dipertanggungjawabkan secarailmiah.

3. Bersistem, yakni mencakup seluruh objek serta aspek-aspeknya sehingga saling berkaitan satu sama lain.

4. Universal, yakni keputusan kebenarannya berorientasi sifat keumuman, bukan tunggal (Peodjawijatna,
1991: 24-26).

5. Verifikatif, yakni dapat dilacak kebenarannya.

6. Rasional/ objektif , yakni dapat dipahami dengan akal.

Filsafat ilmu pada dasarnya menuntut jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut :

1. Karakteristik-karakteristik apa yang membedakan penyelidikan ilmiah dari penyelidikan orang lain?

2. Prosedur yang bagaimana yang patut diikuti para ilmuwan dalam menyelidiki alam?

3. Kondisi yang bagaimana yang harus dicapai bagi suatu penjelasan ilmiah agar menjadi benar?

4. Status kognitif yang bagaimana dari prinsip-prinsip dan hukum-hukum ilmiah? (Conny, dkk, 1998: 44).

F. Berbagai Metode Pendekatan Filsafat


Dalam melakukan studi filsafat dilakukan berdasarkan beragamnya pendapat dan
pandangan. Agar studi filsafat tidak menjadi historis melainkan sistematis, fungsional, dan
komperatif kita perlu melakukan pendekatan-pendekatan sehingga dapat membuka wawasan
kita yang lebih luas. Beberapa penulis yang mengomentari tentang pendekatan filsafat ilmu ini
seperti yang dikemukakan oleh Parsons (Ismaun:2004) dalam studinya melakukan lima
pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan received view yang secara klasik bertumpu pada aliran positifisme yang
berdasar kepada fakta-fakta.
2. Pendekatan menampilkan diri dari sosok rasionality yang membuat kombinasi antara
berpikir empiris dengan berpikir struktural dalam matematika.
3. Pendekatan fenomenolgik, yang tidak hanya sekedar pengalaman langsung melainkan
pengalaman yang mengimplikasikan penafasiran dan klasifikasi.

15
4. Pendekatan metafisik, yang bersifat intransenden. Moral berupa suatu yang objektif
universal.
5. Pendekatan pragmatisme, walaupun memang bukan pendekatan tetapi menarik disajikan,
karena dapat menyatuhkan antara teori dan praktik.

Dengan memahami pendekatan-pendekatan sebagaimana disebut dalam kutipan diatas


untuk melakukan studi filsafat dalam memilih salah satu pendekatan yang tepat sehingga dalam
melakukan generalisasinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Cara untuk
mendapatkan pengetahuan ilmiah, yaitu dengan menggunakan metode ilmiah, berpikir secara
rasional dan bertumpu pada data empiris.
Jenis pendekatan lain yang juga penting kita telaah sebagai perbandingannya adalah
pendekatan deduksi dan induksi. Alasannya kedua pendekatan ini relatif familiar dengan
keseharian kita, serta pendekatan ini menunjukkan kepada kita bahwa filsafat ilmu adalah sebuah
ilmu yang mempelajari filsafat. Karena kita perlu melihat bahwa sebagian cabang ilmu filsafat
menghasilkan teori-teorinya dari pelaksanaan metode ilmiah.
Pola pendekatan deduktif dan induktif menggambarkan bahwa untuk melakukan studi
ilmiah yang pertama harus dilakukan adalah menetapkan rumusan masalah dan
mengidentifikasinya, kemudian ditunjang oleh konsep dari teori atas temuan yang relatif.
Secara ekstrim aliran pragmatisme menyatakan bahwa metode ilmiah adalah sintetis
antara bepikir rasional dan empiris. Metode yang dikembangkan oleh John Dewey, sebagaimana
dikutip oleh Anna Poedjiadi (1987: 18) memberikan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Identifikasi masalah
b. Formulasi hipotesis
c. Mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menanalisis data
d. Formulasi kesimpulan
e. Verifikasi apakah hipotesis ditolak, diterima, atau dimodifikasi.

1. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif kerap dikontraskan dengan pendekatan induktif. Pendekatan
Deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya
telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang

16
bersifat lebih khusus. Dari segi bahasa, deduktif atau deduksi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu
deduction yang artinya penarikan kesimpulan-kesimpulan dari keadaan-keadaan umum atau
menemukan yang khusus dari yang umum. Pendekatan deduktif juga diartikan sebagai cara
berpikir dimana pernyataan yang bersifat umum ditarik suatu kesimpulan yang bersifat khusus.
Penarikan kesimpulan dalam pendekatan deduktif biasanya menggunakan pola pikir silogisme
yang secara sederhana digambarkan dalam penyusunan dua buah pernyataan (premis mayor dan
premis minor) dan sebuah kesimpulan.

2. Pendekatan Induktif
Pendekatan Induktif merupakan pendekatan yang digunakan dalam berpikir dengan
bertolak dari hal-hal khusus ke hal umum. Hukum yang disimpulkan pada fenomena yang
diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Berpikir induktif adalah bentuk dari
apa yang disebut generalisasi. Induksi (induction) adalah cara mempelajarai sesuatu yang
bertolak dari hal-hal khusus untuk menentukan hukum atau hal yang bersifat umum. Metode
berpikir induktif merupakan cara berpikir yang dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan
yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Oleh karena itu, penalaran
induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang khusus
dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.

3. Pendekatan Rasionalisme
Rasionalisme merupakan suatu paham yang mengutamakan rasio. Paham ini beranggapan
bahwa prinsip-prinsip dasar keilmuan bersumber dari rasio manusia, sehingga pengalaman
empiris bergantung pada prinsip-prinsip rasio. Karena rasio itu ada pada subjek (manusia), maka
asal pengetahuan harus dicari pada subjek. Rasio itu berpikir. Berpikir inilah ynag membentuk
pengetahuan. Karena hanya manusia yang berpikir, maka hanya manusia yang mempunyai
pengetahuan. Dengan pengetahuan inilah manusia berbuat dan menentukan tindakannya.
Berbeda pengetahuan, berbeda pula tingkah laku, perbuatan dan tindakannya. Rasionalisme juga
bisa diartikan sebagai doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan
melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma,
atau ajaran agama.

17
4. Pendekatan Empirisme
Empirisme merupakan suatu paham yang mengutamakan pengalaman. Secara harfiah,
istilah empirisme berasal dari Bahasa Yunani, yaitu kata emperia yang berarti pengalaman.
Pendekatan empiris melihat bahwa pengalaman, baik pengalaman lahiriyah maupun pengalaman
batiniyah merupakan sumber utama pengenalan. Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat
yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme
menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika
dilahirkan.

18
KESIMPULAN

1. Istilah filsafat bisa dilacak etimologinya dari istilah Arab (falsafah), atau bahasa Inggris (Philosophy )
yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophi yang terbentuk dari dua akar kata : philen (mencintai) dan
sophos (bijaksana), atau juga philos (teman) dan Sophia (ke Filsafat adalah kegiatan / hasil pemikiran /
perenungan yang menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pada makna di
balik kenyataan/ teori yang ada untuk disusun dalam sebuah sistem pengetahuan rasional dan bijaksana).
Jadi filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan.
2. Problem-Problem Filsafat Ilmu menurut definisi A Cornelius Bejamin ialah “suatu situasi praktis atau
teoritis yang untuk itu tidak ada jawaban lazim atau otomatis yang memadai dan oleh sebab itu
memerlukan proses-proses refleksi”.
3. Banyak sekali pendapat para filsafat ilmu mengenai kelompok atau perincian problem apa saja yang
diperbincangkan dalam filsafat ilmu. Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas perlulah kiranya
dikutipkan pendapat-pendapat sebagai berikut.
1. Dari Michel Berry, Filsafat penulis ini mengemukakan dua problem yaitu:
a. Bagaimana kuantitas dan rumusan dalam teori-teori ilmiah (misal: cirigenetic atau momentum dalam
mekanika Newton) yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa dunia alamiah diluar pikiran kita?
b. Bagaimana dapat dikatakan bahwa teori atau dalil imliah adalah benar berdasarkan induksi dari sejumlah
percobaan yang terbatas?
2. Dari B. Van Mrasen dan H. Margenau, Menurut kedua ahli problem-problem utama dalam filsafat ilmu
adalah :

a. Metodologi Yang membicarakan tentang sifat dasar dari penjelasan ilmiah (scientific explanation), logika
penemuan (logic discovery), teori probabilita (probability theory), dan teori pengukuran (theory of
measurement).

b. Landasan Ilmu-ilmu Dengan melakukan suatu penelitian untuk mencapai suatu tujuan misalnya
menggunakan landasan matematik Ontologi. Permasalahan utama yang diperbandingkan adalah konsep-
konsep subtansi, proses, waktu, ruang kausalitas, hubungan budi dan materi, serta status dari entitas-entitas
teoritis.

3. Dari Victor Lenzen, Filsuf ini mengajukan dua problem: a. Struktur ilmu yaitu metode dan bentuk
pengetahuan ilmiah. b. Pentingnya ilmu bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas.

19
4. Dari JJC Smart, Filsuf ini mengemukakan dua persoalan yaitu:

a. Pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu misalnya pola-pola perbincangan ilmiah, langkah-langkah pengujian


teori ilmiah, sifat dasar dari dalil dan cara-cara merumuskan konsep ilmiah.

b. Perbincangan filsafat yang mempergunakan ilmu, misalnya bahwa hasil-hasil penyelidikan ilmiah akan
menolong para filsuf menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang manusia dan alam semesta.
5. Dari Philip Wiener, Menurut beliau para filsuf ilmu dewasa ini membahas problema-problema yang
menyangkut:
a. Struktur logis atau ciri-ciri metodologis umum dari ilmu-ilmu.
b. Saling berhubungan dan keterkaitan diantara ilmu.
c. Hubungan ilmu-ilmu yang sedang tumbuh dengan tahap-tahap lainnya dari peradaban, yaitu: kesusilaan,
politik, seni dan agama. Rincian aneka ragam dari jenis problem-problem dalam lingkungan filsafat ilmu dari
para filsuf tampak masih agak simpang siur. Segenap problem ini perlu kiranya dipilah-pilahkan dan disusun
menjadi suatu kebulatan yang lebih sistematis.
4. Problem-problem filsafat semuanya dapat digolongkan menjadi enam, yaitu: pengetahuan, keberadaban,
metode, penyimpulan, moralitas dan keindahan. Berdasarkan enam sasaran itu, bidang filsafat dapat secara
sistematis dibagi menjadi enam cabang kelompok, yaitu epistemology (teori pengetahuan), metafisika
(teori mengenai apa yang ada), metodologi (studi tentang metode), logika (teori tentang penyimpulan),
etika (ajaran moralitas), dan estetika (teori keindahan).
5. Pendekatan dalam filsafat ilmu menurut para ahliterbagi kedalam 4 metode pendekatan yaitu
deduktif, induktif, rasionalisme, dan empirisme.

20
DAFTAR PUSTAKA

A.C. Ewing, 2003. P e r s o a l a n - P e r s o a l a n M e n d a s a r F i l s a f a t. Jakarta:Pustaka


Pelajar,. Terjemahan.

Jujun S. Suriasumantri, 2003. F i l s a f a t I l m u. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,

Koento Wibisono S. dkk., 1997. “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan
Pariwara,Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79

Qardhawi, Yusuf. 1997. Al-Ghazali Antam Pro dan Kontra. Surabaya: PustakaProgressif.

Surajiyo, 2005. ILMU FILSAFAT SUATU PENGANTAR. Jakarta: PT.Bumi Aksara.

Soeparmo,A.H., 1984., “Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam”. Surabaya : Penerbit
Airlangga University Press.

The Liang Gie,P e n g a n t a r F il s a fa t I l m u. Yogyakarta: Penerbit LibertyYogyakarta.

Susanto, A. 2011. Fisafat Ilmu. Jakarta: PT Bumi Aksara.

21