Anda di halaman 1dari 64

UNIVERSITAS INDONESIA

SISTEM ALARM KEBAKARAN TERINTEGRASI

BERBASIS INTERNET PROTOCOL

SKRIPSI

ARIEF ROSSENO

070619456

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM FISIKA

DEPOK

NOVEMBER 2011

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


UNIVERSITAS INDONESIA

SISTEM ALARM KEBAKARAN TERINTEGRASI

BERBASIS INTERNET PROTOCOL

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana


sains

ARIEF ROSSENO

070619456

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM FISIKA

DEPOK

NOVEMBER 2011

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Arief Rosseno

NPM : 0706196456

Tanda Tangan :

Tanggal : 15 Desember 2011

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh:

Nama : Arief Rosseno


NPM : 0706196256
Program Studi : Fisika
Judul Skripsi : Sistem Alarm Kebakaran Berbasis Internet Protokol

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai


bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains
pada Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Dr.rer.nat Martarizal ( )

Penguji 1 : Dr. B.E.F Da Silva, M.Sc ( )

Penguji 2 : Lingga Hermanto, M.Si ( )

Ditetapkan di : Depok
Tanggal : 28 Desember 2011

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan segala nikmat serta

rahmatNya sehingga skripsi dapat selesai tepat waktu. Laporan skripsi ini dibuat

sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Sains Jurusan Fisika

pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,

dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi

saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima

kasih kepada:

1) Dr.rer.nat. Martarizal, selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan

waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan

skripsi ini;

2) Prof.Dr. B.E.F. Da Silva, M.Sc dan Lingga Hermanto, M.Si selaku penguji

1 dan 2, yang telah memberikan masukan dan saran dalam

menyempurnakan skripsi ini;

3) Dr. Santoso S, Dr. Syamsu Rosyid, Dr. Imam Fahcrudin yang telah

memberikan kesempatan untuk melaksanakan skripsi di Departemen

Fisika;

4) Papa, Mama, Uda, Ayuk, Bang Bob, Indah dan Euis yang telah

memberikan bantuan dukungan doa, material dan moral;

5) Sdr Dody Bayu, Ela, Atom, Agus, Ilham, Slamet, Mas Budi, Hendro, yang

telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini;

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


6) Seluruh dosen di Departemen Fisika FMIPA UI;

7) Seluruh staf administrasi Sekretariat Departemen Fisika FMIPA UI;

8) Dan seluruh kerabat yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.

Akhir kata, semoga Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan

semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan.

Depok, November 2011

Penulis

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama : Arief Rosseno


NPM : 0706196456
Program Studi : Fisika
Departemen : Fisika
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jenis karya : Skripsi

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan


kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive
Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Sistem Alarm Kebakaran Berbasis Internet Protocol

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,
mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data
(database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak
Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 15 Desember 2011
Yang menyatakan

( Arief Rosseno )

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


ABSTRAK

Nama : Arief Rosseno


Program Studi : Fisika
Judul : Sistem Alarm Kebakaran Terintegrasi Berbasis Internet
Protocol

Keselamatan manusia adalah faktor utama yang menjadi pertimbangan


ketika terjadi kebakaran pada suatu bangunan, pabrik, atau di pada fasilitas umum
seperti rumah sakit, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Para penghuni bangunan
tersebut harus mendapatkan informasi atau peringatan dini pada saat terjadi
kebakaran. Peringatan dini atau yang secara umum dikenal dengan alarm harus
dapat mendeteksi dengan baik agar penghuni yang berada di tempat kejadian
memiliki waktu untuk segera melakukan evakuasi.
Agar informasi kebakaran tersebut dapat diterima dengan oleh manusia,
maka dirancanglah sebuah sistem alarm kebakaran terintegrasi yang dapat
memberi informasi secara cepat dan tepat mengenai titik kebakaran yang
terdeteksi.

Kata Kunci : Fire Alarm, Protocol Modbus, Internet Protocol


xiii+48 halaman ; 48 gambar; 5 tabel
Daftar Acuan : 10 (1996-2011)

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


ABSTRACT

Name : Arief Rosseno


Studies Program : Physics
Title : Fire Alarm System Integrated Internet Protocol Based

Human safety is a major factor to be considered when there is a fire in a


building, factory, or in the public facilities such as hospitals, shopping centers and
others. The occupants of the building must obtain information or early warning in
the event of fire. Early warning or that are generally known by the alarm should
be able to detect the well to the inhabitants who were at the scene have the time
for immediate evacuation.
In order for fire information can be received by humans, then designed a
fire alarm system integrated that can provide information quickly and precisely on
the spot fires were detected.

Keywords : Fire Alarm, Protocol Modbus, Internet Protocol


xiii+48 pages ; 48 pictures; 5 tables
Bibliography : 10 (1996-2011)

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................... ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS............................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................... iv
KATA PENGANTAR.................................................................................. v
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI................................................... vii
ABSTRAK.................................................................................................... viii
DAFTAR ISI................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR.................................................................................... xii
DAFTAR TABEL......................................................................................... xiv

1. BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................ 1
1.2 Tujuan............................................................................................. 2
1.3 Batasan Masalah.............................................................................. 2
1.4 Metode Penelitian............................................................................2
1.5 Sistematika Penulisan...................................................................... 3

2. BAB 2 TEORI DASAR......................................................................... 5


2.1 Alarm Kebakaran............................................................................ 5
2.2 Alarm Kebakaran Berbasis Internet Protocol................................. 7
2.3 Sistem Otomasi Gedung Berbasis Internet Protocol...................... 8
2.3.1 Standarisasi Open Protocol.................................................... 8
2.4 Pengendali Mikro............................................................................ 10
2.5 Sensor Alarm Kebakaran................................................................ 11
2.5.1 Sensor Asap........................................................................... 11
2.5.2 Sensor Panas.......................................................................... 12
2.6 Modul Internet Protocol..................................................................13
2.7 Modbus............................................................................................ 15
2.7.1 Modbus IP.............................................................................. 16
2.8 Basic Compiler AVR...................................................................... 17

3. BAB 3 PERANCANGAN SISTEM..................................................... 18


3.1 Sistem Alarm Kebakaran.................................................................18
3.2 Pengendali Mikro ATMEGA128.................................................... 19
3.3 Sensor Asap dan Sensor Panas........................................................ 20
3.4 Manual Call.................................................................................... 22
3.5 Switch Reset.................................................................................... 22
3.6 Reset Sensor.................................................................................... 23
3.7 Alarm/Bel Kebakaran..................................................................... 23

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


3.8 Relay Sequence............................................................................... 24
3.9 Power Supply.................................................................................. 24
3.10 Modul IP......................................................................................... 25
3.11 Address Modbus............................................................................. 26
4. BAB 4 DATA DAN ANALISA............................................................ 27
4.1 Pengujian Sensor............................................................................ 28
4.2 Pengujian Reset Sensor................................................................... 31
4.3 Pengujian Manual Call................................................................... 32
4.4 Mikrontroler dan Modbus............................................................... 34
4.5 Sistem Keseluruhan......................................................................... 41

5. BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN................................................. 47

DAFTAR ACUAN....................................................................................... 48

LAMPIRAN

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Sistem Alarm Kebakaran Konvensional................................ 5


Gambar 2.2 Contoh wiring diagram fire alarm addressable.................... 6
Gambar 2.3 Fire Alarm Nittan.................................................................. 7
Gambar 2.4 Skema IP Base Fire Alarm IPDACT Honeywell.................. 8
Gambar 2.5 Ideal IBMS............................................................................ 9
Gambar 2.6 Contoh Standar BACnet....................................................... 9
Gambar 2.7 Konfigurasi Pin ATMEGA128.............................................. 10
Gambar 2.8 Sensor Asap dengan Memanfaatkan Sensor Cahaya............. 12
Gambar 2.9 Ethernet Module Wiznet.........................................................13
Gambar 2.10 Komunikasi Master Slave Modbus........................................ 15
Gambar 2.11 Modbus IP.............................................................................. 17
Gambar 3.1 Blok diagram kontrol sistem alarm kebakaran...................... 18
Gambar 3.2 Skematik mikrokontroler....................................................... 20
Gambar 3.3 Skema pemasangan sensor (a) paralel, (b) terpisah............... 21
Gambar 3.4 Skema rangkaian pengkondisian sinyal................................. 21
Gambar 3.5 Skema pemasangan flow switch atau manual call................. 22
Gambar 3.6 Skema rangkaian flow switch / manual call...........................22
Gambar 3.7 Skema rangkaian switch reset................................................ 22
Gambar 3.8 Skema rangkaian reset sensor................................................ 23
Gambar 3.9 Skema rangkaian alarm/bel kebakaran.................................. 23
Gambar 3.10 Skema rangkaian relay sequence........................................... 24
Gambar 3.11 Skema rangkaian power supply............................................. 24
Gambar 3.12 Skema rangkaian modul IP................................................... 25
Gambar 4.1 Perangkat Fire Alarm terpasang............................................ 27
Gambar 4.2 Indikator sensor pada panel fire alarm.................................. 28
Gambar 4.3 Pengujian sensor panas.......................................................... 29
Gambar 4.4 Indikator detektor kebakaran yang aktif
pada kontrol panel................................................................. 29
Gambar 4.5 Pengujian Sensor Asap.......................................................... 30
Gambar 4.6 Indikator detektor kebakaran yang aktif
pada kontrol panel................................................................. 31
Gambar 4.7 Me-reset sensor panas dan asap yang aktif........................... 32
Gambar 4.8 Pengujian Manual Call/Flow Switch pada
kondisi normal (off)................................................................32
Gambar 4.9 Manual Call /Flow Switch aktif............................................. 33
Gambar 4.10 Me-reset flow switch yang aktif............................................. 34
Gambar 4.11 Jendela Modbus Poll.............................................................. 35
Gambar 4.12 Pengaturan Modbus Poll sebagai Master...............................35
Gambar 4.13 Jendela Modbus Poll alamat alat........................................... 36

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.14 Pengaturan Modbus Poll sebagai penerima
informasi kebakaran...............................................................37
Gambar 4.15 Jendela Modbus Poll sebagai penerima informasi kebakaran
pada kondisi normal............................................................... 38
Gambar 4.16 Pengaturan Modbus Poll sebagai pengirim tindakan setelah
terjadi kebakaran.................................................................... 39
Gambar 4.17 Pengaturan pengalamatan untuk perintah input..................... 40
Gambar 4.18 Modbus Poll memantau saat kondisi normal......................... 41
Gambar 4.19 Skema pengujian sistem secara keseluruhan......................... 42
Gambar 4.20 Tampilan pada modbus saat deteksi kebakaran..................... 42
Gambar 4.21 Tampilan Modbus Poll pada saat sensor mendeteksi
kebakaran............................................................................... 43
Gambar 4.22 Tampilan Modbus Poll pada saat Flow Switch aktif............. 44
Gambar 4.23 Alarm dan kontak/relay aktif................................................. 45
Gambar 4.24 Tampilan aplikasi monitoring alarm kebakaran.................... 46
Gambar 4.25 Tampilan aplikasi ketika alat mendeteksi kebakaran.............46

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Konfigurasi Pin ATMEGA 128............................................. 11


Tabel 2.2 Perbandingan tipe - tipe Ethernet Module Wiznet................. 14
Tabel 2.3 Modbus ASCII..................................................................... 16
Tabel 2.4 RTU Framing........................................................................ 16
Tabel 3.1 Pegalamatan Modbus pada Alat............................................ 26

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keselamatan manusia adalah faktor utama yang menjadi pertimbangan
ketika terjadi kebakaran pada suatu bangunan, pabrik, atau di pada fasilitas umum
seperti rumah sakit, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Para penghuni bangunan
tersebut harus mendapatkan informasi atau peringatan dini pada saat terjadi
kebakaran. Peringatan dini kebakaran atau yang secara umum dikenal dengan fire
alarm harus dapat mendeteksi dengan baik agar penghuni yang berada di tempat
kejadian memiliki waktu untuk segera melakukan evakuasi[1].
Alarm secara umum dapat didefinisikan sebagai bunyi peringatan atau
pemberitahuan[2]. Dalam istilah jaringan, alarm dapat juga didefinisikan sebagai
pesan berisi pemberitahuan ketika terjadi penurunan atau kegagalan dalam
penyampaian sinyal komunikasi data ataupun ada peralatan yang mengalami
kerusakan (penurunan kinerja). Pesan ini digunakan untuk memperingatkan
operator atau administrator mengenai adanya masalah (bahaya) pada jaringan.
Alarm memberikan tanda bahaya berupa sinyal, bunyi, ataupun sinar.
Alarm kebakaran otomatis pertama kali ditemukan pada tahun 1890 oleh
Francis Robbins Upton. Kemudian George Andrew Darby menemukan detektor
panas dan detektor asap pada tahun 1902 di Birmingham, Inggris. Sebelum alarm
kebakaran otomatis ditemukan masyarakat di berbagai negara didunia memakai
cara tradisional untuk memberitahukan peringatan kebakaran, seperti peluit,
lonceng, kentongan, atau bahkan tembakan senjata ke udara. Kemudian pada
tahun 1852 William F Channing menggunakan teknologi telegraf untuk
menyampaikan informasi kebakaran ke markas pusat pemadam kebakaran.
Menggunakan morse yang ditemukan oleh Samuel Morse dalam sistem telegram
yang memadukan kode dengan teknologi, Channing membuat rencana elaborasi
untuk menyalurkan sinyal dari pusat sistem pemerintah menuju stasiun pemadam
kebakaran untuk memberitahu titik lokasi terjadinya kebakaran.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Sistem alarm kebakaran merupakan sistem yang di desain dan dibangun
untuk mendeteksi adanya gejala kebakaran, untuk kemudian memberi peringatan
dalam sistem evakuasi dan ditindak lanjuti secara otomatis maupun manual
dengan sistem instalasi pemadam kebakaran. Sistem alarm kebakaran digunakan
untuk sistem pengamanan pada gedung atau bangunan bertingkat yang terdiri dari
beberapa kamar atau ruangan sehingga tidak memungkinkan untuk dikendalikan
oleh beberapa orang. Sistem alarm kebakaran yang dirancang ini dapat terintegrasi
dengan sistem lain pada Building Automation System[3].

1.2 Tujuan
Membuat rangkaian modul alarm kebakaran untuk monitoring dan
mengendalikan piranti input dan output yang terhubung ke database melalui
internet protocol hingga dapat terintegrasi dengan sistem otomasi gedung
(Building Automation System).

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah dari tugas akhir ini adalah mengenai pembuatan modul
kontrol alarm kebakaran, yang kemudian dihubungkan melalui modul internet
protocol (modbus IP) sehingga dapat terintegrasi ke dalam sistem otomasi gedung
(BAS).

1.4 Metode Penelitian


Metode penelitian yang akan dilakukan terdiri dari beberapa tahap antara
lain:
1.4.1 Studi literatur
Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang teori-teori
dasar sebagai sumber penulisan skripsi. Informasi dan pustaka yang
berkaitan dengan masalah ini diperoleh dari literatur, penjelasan yang
diberikan dosen pembimbing, rekan-rekan mahasiswa, internet, data sheet,
dan buku-buku yang berhubungan dengan tugas akhir penulis.
1.4.2 Perancangan dan pembuatan alat

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Perancangan alat merupakan tahap awal penulis untuk mencoba
memahami, menerapkan, dan menggabungkan semua literatur yang
diperoleh maupun yang telah dipelajari untuk melengkapi sistem serupa
yang pernah dikembangkan, dan selanjutnya penulis dapat merealisasikan
sistem sesuai dengan tujuan.
1.4.3 Pengujian sistem
Uji sistem ini berkaitan dengan pengujian alat serta pengambilan data dari
alat yang telah dibuat.
1.4.4 Analisa
Metode ini merupakan pengamatan terhadap data yang diperoleh dari
pengujian alat serta pengambilan data. Setelah itu dilakukan
penganalisisan sehingga dapat ditarik kesimpulan dan saran-saran untuk
pengembangan lebih lanjut.

1.5 Sistematika penulisan


Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari bab-bab yang memuat
beberapa sub-bab. Untuk memudahkan pembacaan dan pemahaman maka tugas
akhir ini dibagi menjadi beberapa bab yaitu:

Bab 1 Pendahuluan
Pendahuluan berisi latar belakang, permasalahan, batasan masalah, tujuan
penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan dari tugas akhir ini.

Bab 2 Teori Dasar


Teori dasar berisi landasan-landasan teori sebagai hasil dari studi literatur
yang berhubungan dalam perancangan dan pembuatan alat (hardware) serta
pembuatan program (software).

Bab 3 Perancangan Sistem


Pada bab ini akan dijelaskan secara keseluruhan sistem kerja dari semua
perangkat kontrol (hardware) dan program penghubung (software).

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Bab 4 Pengujian dan Analisa Data
Bab ini berisi tentang fungsi kerja alat sebagai hasil dari perancangan
sistem. Pengujian akhir dilakukan dengan menyatukan seluruh bagian-bagian
kecil dari sistem untuk memastikan bahwa sistem dapat berfungsi sesuai dengan
tujuan awal. Setelah sistem berfungsi dengan baik maka dilanjutkan dengan
pengambilan data untuk memastikan kapabilitas dari sistem yang dibangun.

Bab 5 Penutup
Penutup berisi kesimpulan yang diperoleh dari pengujian sistem dan
pengambilan data selama penelitian berlangsung. Selain itu juga penutup memuat
saran untuk pengembangan lebih lanjut dari penelitian ini baik dari segi perangkat
keras (hardware) dan program (software).

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


BAB 2
TEORI DASAR

2.1 Alarm Kebakaran


Sistem alarm kebakaran merupakan sistem yang dirancang agar dapat
mengetahui posisi titik api berasal dan memberikan peringatan kepada seluruh
penghuni sebuah gedung. Sistem ini adalah kerja sinergis antara sensor kebakaran
dan indikator penanda kebakaran. Sistem alarm kebakaran yang umum ada dua
jenis, yaitu konvensional dan addressable[4].

 Sistem Alarm Kebakaran Konvensional


Sistem alarm kebakaran konvensional telah dirancang sejak prinsip
elektronika dirasa cukup untuk mengatasi pendeteksian kebakaran. Sistem ini
mengunakan prinsip sambungan langsung antara masing - masing sensor atau
kumpulan beberapa sensor dalam satu zona dengan indikator pemadam. Suatu
rangkaian (kumpulan dari beberapa sensor) yang dipasang secara paralel dan
dihubungkan dengan sistem kontrol, seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.1 Sistem Alarm Kebakaran Konvensional

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Sistem konvensional ini murah dan mudah diterapkan untuk bangunan
kecil atau gedung yang memiliki zona pengamanan titik api yang tidak terlalu
luas. Namun jika diterapkan pada zona yang besar, maka pengkabelan menuju
kontrol utama akan sangat panjang dan tidak efisien. Kelemahan utama dari
sistem konvensional ini adalah seseorang tidak bisa tahu persis mana perangkat
yang aktif, hanya zona nya saja. Kebakaran mungkin terjadi pada satu area
kecil, tetapi indikator darurat hanya bisa mengetahui zona yang lebih besar
saja.

 Addressable
Alarm kebakaran jenis ini adalah jenis alarm paling canggih dan paling
akurat untuk mengetahui letak titik api. Setiap sensor memiliki alamat
tersendiri dan terkoneksi dengan jalur data. Sehingga lebih detail mengetahui
posisi sensor yang sedang aktif. Informasi yang diterima dari detektor akan
diteruskan ke panel kontrol yang selanjutnya akan diproses. Kekurangan dari
sistem ini adalah harga alarm kebakaran addressable jauh lebih mahal
dibandingkan dengan alarm kebakaran konvensional. Karena setiap titik
memiliki alamat sendiri. Gambar dibawah ini adalah salah satu contoh wiring
diagram dari sistem alarm kebakaran addressable.

Gambar 2.2 Contoh wiring diagram fire alarm addressable

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


 Semi Addressable
Sistem alarm kebakaran semi addressable merupakan pengabungan dari
sistem alarm kebakaran konvensional dan alarm kebakaran addressable. Untuk
menengahi harga sensor addresable yang jauh tinggi maka ada yang disebut
zone control. Diperlukan sebuah perangkat yang mendukung alamat dan
koneksi dengan sensor alarm kebakaran konvensional, sehingga harga
implementsi lebih murah dan dapat menekan biaya instalasi.
Gambar dibawah ini merupakan contoh sistem alarm kebakaran dari
nittan, yang memiliki ketiga jenis sistem tersebut dan dapat di koneksikan
menjadi sebuah Building Automation System.

Gambar 2.3 Fire Alarm Nittan

2.2 Alarm Kebakaran Berbasis Internet Protocol


Alarm kebakaran berbasis sambungan kabel telepon telah
diimplemetasikan sejak lama. Pengimplementasian alarm kebakaran
menggunakan sambungan telepon kabel memperlambat pengiriman data pada saat
terjadi kebakaran selama 1 menit. Hal ini menyebabkan diperlukannya pengiriman
data yang lebih cepat, dan digunakanlah Internet Protocol sebagai solusinya.
Fire Alarm Internet Protocol Base merubah data - data yang terdapat pada
panel alarm kebakaran menjadi data - data yang dapat dikirimkan melalui jaringan
Internet Protocol. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengamanan.
Sebagai contoh Honeywell salah satu perusahaan Building Automation
System meluncurkan IP Base Fire Alarm yang bernama IPDACT.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 2.4 Skema IP Base Fire Alarm IPDACT Honeywell

2.3 Sistem Otomasi Gedung Berbasis Internet Protocol


Kemajuan teknologi Internet Protocol memungkinkan akses informasi
disebarkan lebih luas dengan bermacam media. Ditambah lagi dengan kemajuan
media yang sudah sangat pesat. Internet Protocol (IP) sudah bukan hanya di akses
lewat komputer lagi tetapi sudah bisa lewat perangkat seperti handphone maupun
handheld pc. Untuk dapat berkomunikasi antar vendor harus ada perjanjian
protokol yang dipakai bersama yang disebut open protocol. Sejak adanya open
protocol, menjadikan support semakin luas karena publik berhak
mengembangkan Building Automation System masing - masing sesuai pasarnya.

2.3.1 Standarisasi Open Protocol


Pada perkembangan dan tuntutan dunia building automation, maka open
protocol menjadi sebuah kebutuhan. Hal ini dikarenakan tuntutan pasar yang
sangat tinggi sehingga tidak dapat di penuhi oleh satu vendor saja.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 2.5 Ideal IBMS

Ada beberapa open protocol yang ada saat ini (2011). Semua harus
mengikuti cara berkomunikasi yang sama sehingga produk lain dapat “berbicara”
dengan bahasa yang sama.

Gambar 2.6 Contoh Standar BACnet

Salah satu contoh protocol standar ISO adalah BACnet yang unggul dalam
building terutama HVAC. Selain itu, ada juga Lonwork yang unggul dengan
protokol yang sudah di-embed dalam bentuk IC. Dalam penelitian ini yang akan
digunakan adalah protokol modbus, sehingga protokol Modbus akan lebih
dijelaskan lebih mendalam.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


2.4 Pengendali Mikro
AVR merupakan seri mikrokontroler CMOS 8-bit buatan Atmel, berbasis
arsitektur RISC (Reduced Instruction Set Computer) yang ditingkatkan. Hampir
semua instruksi dieksekusi dalam satu siklus clock[5]. AVR mempunyai 32
register general-purpose, timer/counter fleksibel dengan mode compare, interrupt
internal dan eksternal, dual serial UART, programmable Watchdog Timer, dan
mode power saving. Mempunyai ADC dan PWM internal. AVR juga mempunyai
In-System Programmable Flash on-chip yang mengijinkan memori program untuk
diprogram ulang dalam sistem menggunakan hubungan serial SPI.
Mikrokontroller keluarga AVR Atmega128 memiliki fitur sebagai berikut:
128K bytes of In-System Programmable Flash with Read-While-Write
capabilities, 4K bytes EEPROM, tersedia pula untuk Pulse Modulation Width
(PWM) dan timer. Berikut ini adalah konfigurasi pin ATMEGA 128.

Gambar 2.7 Konfigurasi Pin ATMEGA128

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Tabel 2.1 Konfigurasi Pin ATMEGA 128
VCC Digital Supply voltage
GND Ground
Port A (PA7...PA0) 8 bit Bi-directional I/O dengan resistor pull-up internal.
Port B (PB7...PB0) 8 bit Bi-directional I/O dengan resistor pull-up internal.
Port C (PC7...PC0) 8 bit Bi-directional I/O dengan resistor pull-up internal.
Port D (PD7...PD0) 8 bit Bi-directional I/O dengan resistor pull-up internal.
Port E (PE7...PE0) 8 bit Bi-directional I/O dengan resistor pull-up internal.
Port F (PF7...PF0) Dapat digunakan sebagai A/D Converter. 8 bit Bi-
directional I/O dapat digunakan jikaA/D Converter
tidak digunakan.
Port G (PG4...PG0) 8 bit Bi-directional I/O dengan resistor pull-up internal.
Reset
XTAL1 Input untuk inverting oscillator amplifier dan Input
untuk internal clock operating circuit.
XTAL2 Output dari inverting oscillator amplifier
AVCC Supply tegangan untuk A/D Converter.
AREF Pin referensi untuk A/D Converter.
PEN Programming enable pin untuk mode pemograman
serial

2.5 Sensor Alarm Kebakaran


Dalam sebuah sistem alarm kebakaran, dimanfaatkan beberapa sensor
yang mampu mendeteksi titik api berasal[6]. Titik api dapat diketahui melalui
perubahan suhu ruangan atau asap yang muncul dari titik api. Berikut ini adalah
beberapa jenis sensor alarm kebakaran.

2.5.1 Sensor Asap (Smoke Detector)


Terdapat dua jenis cara kerja sensor dalam mendeteksi asap, yaitu dengan
menggunakan photoelectric sensor dan ionization sensor. Sensor asap yang
menggunakan sensor cahaya (photoelectric sensor) memanfaatkan cahaya untuk
mendeteksi asap yang mucul dari titik api.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Dalam keadaan normal, cahaya dari sumber cahaya pada detektor menyala
lurus, sehingga tidak menyentuh detektor asap. Apabila sensor cahaya yang ada di
dalam detektor kebakaran terhalang oleh adanya asap, maka cahaya akan berbelok
ke arah sensor cahaya. Sensor cahaya biasanya hanya peka pada asap yang pekat.
Selama sensor cahaya belum benar-benar terhalang oleh asap, alarm tidak akan
berbunyi.

Gambar 2.8 Sensor Asap dengan Memanfaatkan Sensor Cahaya

Ionization Sensor merupakan bagian dari photoelectric sensor. Sensor ini


menghasilkan kesalahan yang lebih besar daripada sensor asap menggunakan
photoelectric sensor. Sensor ini mendeteksi partikel dari asap yang terlalu kecil
untuk dilihat. Sensor ini menggunakan 37 kBq atau 1 µCi bahan radioaktif
americium-241 (Am) yang sesuai dengan 0.3 µg isotop. Radiasi melewati ruang
ionisasi, udara dalam ruangan akan terisi diantara dua plat elektroda, dan
menghasilkan arus yang kecil dan tetap melewati kedua elektroda tersebut. Setiap
asap yang masuk ke dalam ruangan akan mengabsorsi parikel alpha yang akan
mengurangi ionisasi dan memutus arus antara dua elektroda dan mengaktifkan
alarm.

2.5.2 Sensor Panas (Heat Detector)


Detektor panas (Heat Detector) ada dua macam yaitu ROR Detector dan
Fixed Heat Detector. ROR (Rate of Rise) akan bekerja berdasarkan suatu kontak

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


mekanik (switch), yang dikontrol oleh dua jenis logam (bimetal) yang dibentuk
sedemikian rupa, sehingga switch selalu dalam keadaan OFF bila kondisi normal.
Apabila detektor menerima panas sampai titik yang telah ditentukan maka
bimetal akan memuai, sehingga switch akan ON dan ini berarti detektor sedang
mendeteksi panas. Selain cara kerja seperti diatas detektor ini juga akan langsung
aktif ON bila kenaikan lebih dari 10 derajat celsius per menit tanpa menunggu
temperatur mencapai titik yang telah ditentukan (rate of rise).Untuk ruangan yang
sudah cukup panas ROR tidak cocok digunakan karena mudah terjadi false alarm.
Detektor panas tetap (Fixed Heat Detector) bekerja berdasarkan kontak
mekanik (switch), dimana suatu penahan yang diletakkan dengan bahan perekat
khusus, akan membuat switch selalu dalam keadaan OFF bila kondisi normal.
Apabila detektor menerima panas pada titik yang telah ditentukan maka bahan
perekat tersebut akan mencair yang mengakibatkan penahan otomatis lepas
sehingga membuat switch berubah ke posisi ON, dan ini berarti detektor
mendeteksi panas. Perubahan switch dari posisi OFF ke posisi ON akan segera
diteruskan ke panel sebagai indikasi kebakaran. Jenis bahan perekat yang dipakai
akan menentukan pada temperatur /suhu berapa detektor akan mulai aktif, jadi
titik temperatur kerjanya,selalu tetapi tidak dipengaruhi oleh kecepatan kenaikan
temperatur / suhu.

2.6 Modul Internet Protocol


Modul internet protocol yang digunakan Ethernet Module Wiznet adalah
modul antarmuka komunikasi antara Ethernet dengan mikrokontroler atau
mikroproessor yang dikeluarkan oleh Wiznet. Ethernet Module Wiznet
menggunakan W5100 sebagai chip Ethernet Controller.

Gambar 2.9 Ethernet Module Wiznet

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Wiznet mengeluarkan 3 tipe Ethernet Module Wiznet yaitu: WIZ810MJ,
WIZ811MJ, dan WIZ812MJ. Perbedaan antara 3 tipe Ethernet Module Wiznet
dapat dilihat pada Tabel 2.4 berikut.

Tabel 2.2 Perbandingan tipe - tipe Ethernet Module Wiznet

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


2.7 MODBUS

Gambar 2.10 Komunikasi Master Slave Modbus.

Modbus adalah protokol komunikasi serial yang diterbitkan oleh Modicon


pada tahun 1979 untuk digunakan pada programmable logic controller (PLC).
Sederhana dan kuat, sejak itu menjadi salah satu standar protokol komunikasi di
industri.
Modbus memungkinkan untuk komunikasi antara banyak perangkat
(sekitar 240) yang terhubung ke jaringan yang sama, misalnya sistem yang
mengukur suhu dan kelembaban dan mengkomunikasikan hasilnya ke komputer.
Modbus sering digunakan untuk menghubungkan komputer pengawasan dengan
unit terminal jarak jauh (RTU) di kontrol pengawasan dan akuisisi data (SCADA)
sistem.
Pengembangan dan update protokol Modbus dikelola oleh Organisasi
Modbus, yang terbentuk dari pengguna independen dan pemasok perangkat sesuai
Modbus.
Ada beberapa jenis protokol modbus. Perbedaannya adalah pada jenis data
yang ditukarkan. Modbus ascii (menggunakan karakter ascii), Modbus RTU
(menggunakan data biner langsung). Urutan data yang dipertukarkan seperti
berikut.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Tabel 2.3 Modbus ASCII

Tabel 2.4 RTU Framing

Pertukaran data pada modbus menggunakan perjanjian alamat. Ada 3 jenis


alamat coil (output), Input dan holding register. Untuk lebih detailnya bisa
merujuk ke referensi[7].

2.7.1 MODBUS IP
Modbus IP merupakan penyesuaian protokol modbus agar data dapat
dialirkan melalui media ethernet[8]. Secara content protokol data yang
dipertukarkan sama. Proses ini diperlukan karena untuk dapat mengirim data
melalui ke jaringan IP, koneksi yang di buat harus sesuai dengan Internet
Protocol standar. Modbus bisa jalan di kanal UDP karena sifatnya mirip dengan
koneksi serial biasa yang tidak memerlukan konfirmasi dari penerima terlebih
dahulu. Untuk kepentingan konversi protokol modbus IP terdapat versi RTU
(Modbus RTU Over IP) dan ascii (modbus ASCII Over IP), selain murni modbus
IP sendiri.
Keunggulan modbus IP adalah penggunaan koneksi kabel yang tergabung
dalam kabel data ethernet dan untuk transmisi jarak jauh dapat menggunakan
kabel serat optik. Gambar 2.8 menunjukan bagaimana protokol modbus di pack ke
dalam protokol IP.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 2.11 Modbus IP

2.8. Basic Compiler AVR


Pada dasarnya setiap mikrokontroler memiliki bahasa dasar atau
ASSEMBLER yang khusus diperuntukkan baginya. Begitu-pun dengan AVR.
Namun biasanya bahasa ASSEMBLER AVR lebih rumit untuk dipelajari
dibandingkan dengan bahasa yang tingkatannya lebih tinggi, seperti bahasa
“Basic” ataupun bahasa “C”. Bascom AVR adalah sebuah tool compiler yang
digunakan untuk pengembangan atau pembuatan program yang akan ditanamkan
pada mikrokontroller keluarga AVR. Bahasa pemograman yang digunakan adalah
basic. Basic adalah bahasa tingkat tinggi yang cepat, handal, dan mudah. Bahasa
pemograman basic lebih sering digunakan pada mikrokontroller keluarga AVR
karena kompatibel dengan mikrokontroller jenis AVR.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


BAB 3
PERANCANGAN SISTEM

3.1 Sistem Alarm Kebakaran


Sistem alarm kebakaran yang akan digunakan adalah sistem semi
addressable. Sistem semi addressable merupakan gabungan dari sistem
konvensional dan addresssable. Piranti kontrol semi addressable adalah sistem
addressable. Sedangkan piranti input dan output nya menggunakan sistem
konvensional. Dengan demikian biaya implementasi sistem semi addressable
lebih rendah dari sistem addressable, tetapi bisa mendeteksi titik kebakaran lebih
baik dari pada sistem konvensional.

IP Module

Smoke
& Signal Driver
Relay Alarm
Heat Conditioning Relay
Detector

Flow
Switch
Signal
Conditioning
µc Driver
Relay
Relay Sequencing

Switch Driver
Relay Sensor
Reset Relay

Power Power
Supply AC

BackUp
Battery

Gambar 3.1 Blok diagram kontrol sistem alarm kebakaran

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Sistem alarm kebakaran ini terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu input,
pengendali mikro, dan output. Piranti input disini adalah piranti - piranti yang
memberikan masukan ke panel kontrol. Piranti input ini ada yang bekerja secara
otomatis, seperti pendeteksi asap dan pendeteksi panas. Sedangkan piranti input
yang bekerja secara manual adalah titik panggil manual atau flow switch, dan
switch reset yang berfungsi untuk me-reset sensor.
Pengendali mikro adalah piranti yang akan memproses masukan dan
keluarannya. Piranti output adalah bagian yang akan memberitahukan kepada
orang-orang ketika terjadi kebakaran. Bagian output ini terdiri dari alarm, output
untuk integrasi ke sistem lain, dan output yang terakhir adalah untuk reset sensor.
Setiap panel kontrol memiliki alamat (address) sendiri. Panel kontrol
tersebut diletakan pada zona yang mencakup beberapa detektor panas dan asap.
Misalkan pada satu lantai gedung dibagi menjadi 2 atau 3 zona. Dan setiap panel
kontrol pada setiap zona memiliki alamat yang berbeda sehingga bisa di ketahui
zona mana yang mendeteksi adanya kebakaran.

3.2 Pengendali Mikro Atmega128


Pengendali mikro yang digunakan adalah ATmega128. Atmega 128
adalah mikrokontroler CMOS 8-bit daya-rendah berbasis arsitektur RISC yang
ditingkatkan. Atmega 128 mempunyai throughput mendekati 1 MIPS per MHz
membuat disainer sistem untuk mengoptimasi komsumsi daya versus kecepatan
proses.
ATmega128 memiliki kemampuan lebih besar dibandingkan jenis-jenis
Atmega yang lain, yaitu 128 KB ISP Flash Memory, 4K EEPROM, 4K internal
SRAM dan memiliki 5 port I/O. Port C digunakan untuk input dari pengkondisi
sinyal detektor kebakaran. Port A digunakan untuk input dari manual call / flow
switch. Port D digunakan sebagai output ke relay yang kemudian dihubungkan ke
alarm/bel kebakaran, reset sensor dan sequensing. Switch reset menggunakan port
F.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


IC1MC
J1MC
PE0 PEN 1 64 AVCC
VCC 2 1 PEN AVCC
PE0 2 63 GND
4 3 PE0(RXD0/PD1) GND
RST PE1 3 62 AREV
6 5 PE1(TXD0/PD0) AREV
SCK PE2 4 61 PF0
8 7 PE2(XCK0/AINO) (ADC0)PF0
PE1 PE3 5 60 PF1
10 9 PE3(OC3A/AIN1) (ADC1)PF1
PE4 6 59 PF2
R2M C PE4(OC3B/INT4) (ADC2)PF2
ISPPROG SCK PE5 7 58 PF3
PB1 PE5OC3C/INT5) (ADC3)PF3
1K PE6 8 57 PF4
R3MC PE6(T3/INT6) (ADC4/TCK)PF4
PEN PE7 9 56 PF5
VCC PE7(ICP3/INT7) (ADC5/TMS)PF5
VCC 4K7 PB0 10 55 PF6
PB0(SS) (ADC6/TD0)PF6
SCK 11 54 PF7
R4MC PB1(SCK) (ADC7/TDI)PF7
PB2 12 53 GND
VCC PB2(MOSI) GND
10K PB3 13 52 VCC
PB3(MISO) VCC
R1MC S1MC PB4 14 51 PA0
PB4(OC0) (AD0)PA0
1K RST PB5 15 50 PA1
PB5(OC1A) (AD1)PA1
RESET PB6 16 49 PA2
C4MC PB6(OC1B) (AD2)PA2
PB7 17 48 PA3
100NF PB7(OC2/OC1C) (AD3)PA3
PG3 18 47 PA4
PG3(TOSC2) (AD4)PA4
C5MC PG4 19 46 PA5
LED1MC PG4(TOSC1) (AD5)PA5
XTAL1 RST 20 45 PA6
VCC DISP RESET (AD6)PA6
VCC 21 44 PA7
XC1MC VCC (AD7)PA7
20PF GND 22 43 PG2
16Mhz GND (ALE)PG2
C6MC XTAL2 23 42 PC7
XTAL2 (A15)PC7
XTAL2 XTAL1 24 41 PC6
XTAL1 (A14)PC6
PD0 25 40 PC5
PD0(SCL/INT0) (A13)PC5
20PF PD1 26 39 PC4
PD1(SDA/INT1) (A12)PC4
AREV PD2 27 38 PC3
PD2(RXD1/INT2) (A11)PC3
C2MC PD3 28 37 PC2
PD3(TXD1/INT3) (A10)PC2
PD4 29 36 PC1
C1MC VCC PD4(ICP1) (A9)PC1
PD5 30 35 PC0
100nF PD5(XCK1) (A8)PC0
100nF
C3MC PD6 31 34 PG1
PD6(T1) (RD)PG1
PD7 32 33 PG0
VCC PD7(T2) (WR)PG0
100nF
AT-MEGA128 (MAINCONTROLLER)

Gambar 3.2 Skematik mikrokontroler

3.3 Sensor Asap dan Sensor Panas


Detektor kebakaran menggunakan prinsip relay yaitu sifat dasar dari
sensor konvensional. Saat nilai hambatan dalam sensor turun maka set point akan
tercapai, sehingga timbul arus listrik yang disebut action current. Besar nilai
action current berkisar 120 - 240mA mampu untuk mengendalikan coil dari relay.

(a)

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


(b)

Gambar 3.3 Skema pemasangan sensor (a) paralel, (b) terpisah

INRL1 PA7

SW17IN
RL1IN

INRL2
R17IN
VCC
RES1

Gambar 3.4 Skema rangkaian pengkondisian sinyal

Saat kondisi idle, arus yang dikeluarkan detektor sangat kecil. Besar arus
yang dikeluarkan mencapai orde micro ampere (µA) sehingga tidak mungkin
untuk menngendalikan coil relay.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


3.4 Manual Call

Gambar 3.5 Skema pemasangan flow switch atau manual call

Ketika breakglass dioperasikan, terjadi rangkaian tertutup yang membuat


tahanan end of line terhubung paralel dengan tahanan pada breakglass dan
menjadikan tahanan pada rangkaian berkurang sehingga arus yang mengalir
bertambah menjadi lebih besar dari keadaan normal, dan keadaan ini ditafsirkan
sebagai keadaan alarm oleh panel. Begitu juga ketika pendeteksi panas dan
pendeteksi asap teraktifasi, atau terjadi hubungan singkat pada rangkaian.

R9IN
VCC
R1IN 4K7
INOP1 470 PC0
OP1IN
IN1 SW9IN
COM1

Gambar 3.6 Skema rangkaian flow switch / manual call

3.5 Switch Reset

Gambar 3.7 Skema rangkaian switch reset

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Setelah alarm aktif maka seluruh piranti pendeteksi kebakaran diset ulang,
dan panel dibebaskan dari keadaan alarm aktif. Jika satu piranti pendeteksi masih
mengeluarkan alarm setelah sistem di-set ulang, seperti pendeteksi asap terus
mendeteksi asap, atau manual pull station masih pada posisi aktif, alarm yang lain
akan terpicu. Jadi untuk me-set ulang sistem membutuhkan keadaan yang benar-
benar bersih.

3.6 Reset Sensor


Rangkaian ini adalah output dari rangkaian switch reset. Rangkaian ini
men-set ulang sensor setelah alarm kebakaran aktif.

RESET

RST1
+24
IC2O
1 D9O
OC 1N4003 RL9O
PE5 11
C
IC6O
PD0 2 19 1 18 OUT9
1D 1Q IN1 OUT1
PD1 3 18 2 17 OUT10 OUT9 RST2
2D 2Q IN2 OUT2
PD2 4 17 3 16 OUT11
3D 3Q IN3 OUT3
PD3 5 16 4 15 OUT12 RST3
4D 4Q IN4 OUT4 +24
PD4 6 15 5 14 OUT13
5D 5Q IN5 OUT5 D10O
PD5 7 14 6 13 OUT14
6D 6Q IN6 OUT6 1N4003 RL10O
PD6 8 13 7 12 OUT15
7D 7Q IN7 OUT7
PD7 9 12 8 11 OUT16
8D 8Q IN8 OUT8
9 10
GND COM +24
74ALS573 OUT10 RST4
ULN2803

Gambar 3.8 Skema rangkaian reset sensor

3.7 Alarm/Bel Kebakaran


Masukan dari detektor alarm dan manual call akan diproses oleh
mikrokontroler yang kemudian akan digunakan untuk mengaktifkan coil relay.
Alarm/bel pada kondisi normal (off) terhubung ke ground. Ketika coil relay aktif
maka akan mengubah posisi alarm ke kondisi aktif (on). Untuk menonaktifkan
alarm/bel maka detektor kebakaran dan manual call harus di-reset seperti
pembahasan pada subbab sebelumnya.

ALRM1
+24
IC1O D1O
1 1N4003 RL1O
OC
PE4 11
C
IC5O
PD0 2 19 1 18 OUT1 OUT1
1D 1Q IN1 OUT1
PD1 3 18 2 17 OUT2
2D 2Q IN2 OUT2
PD2 4 17 3 16 OUT3 +24 ALRM2
3D 3Q IN3 OUT3 +24
PD3 5 16 4 15 OUT4
4D 4Q IN4 OUT4 D2O
PD4 6 15 5 14 OUT5
5D 5Q IN5 OUT5 1N4003 RL2O
PD5 7 14 6 13 OUT6
6D 6Q IN6 OUT6
PD6 8 13 7 12 OUT7
7D 7Q IN7 OUT7
PD7 9 12 8 11 OUT8
8D 8Q IN8 OUT8
9 10 OUT2
GND COM +24
74ALS573
ULN2803 +24

Gambar 3.9 Skema rangkaian alarm/bel kebakaran

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


3.8 Relay Sequence
Relay sequence dipergunakan untuk mengendalikan sistem - sistem lain
yang terintegrasi. Sebagai contoh bila ada deteksi kebakaran maka PLN dan
elevator harus dimatikan, maka relay sequence akan mengeksekusi perintah
tersebut.
SEQUENSIAL

COM1
+24
IC3O
1 D17O
OC 1N4003 RL17O
PE6 11
C
IC7O
PD0 2 19 1 18 OUT17
1D 1Q IN1 OUT1
PD1 3 18 2 17 OUT18 OUT17 NC1
2D 2Q IN2 OUT2
PD2 4 17 3 16 OUT19 NO1
3D 3Q IN3 OUT3
PD3 5 16 4 15 OUT20 COM2
4D 4Q IN4 OUT4 +24
PD4 6 15 5 14 OUT21
5D 5Q IN5 OUT5 D18O
PD5 7 14 6 13 OUT22
6D 6Q IN6 OUT6 1N4003 RL18O
PD6 8 13 7 12 OUT23
7D 7Q IN7 OUT7
PD7 9 12 8 11 OUT24
8D 8Q IN8 OUT8
9 10
GND COM +24
74ALS573 OUT18 NC2
ULN2803 NO2

Gambar 3.10 Skema rangkaian relay sequence

3.9 Power Supply


Nilai tegangan input yang digunakan adalah 24 volt dc. Kemudian nilai
tegangan tersebut dikonversi menjadi 5 volt dan 3,3 volt. Tegangan 5 volt adalah
sumber tegangan mikrokontroler, optocoupler dan beberapa komponen lainnya.
Sedangkan 3,3 volt adalah nilai sumber tegangan modul IP Wiznet. Selain itu
tegangan 24 volt juga digunakan untuk sumber tegangan relay dan beberapa
komponen lain yang terkait.

Gambar 3.11 Skema rangkaian power supply

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


3.10 Modul IP
Modul IP yang digunakan adalah Ethernet Module Wiznet, yaitu modul
antarmuka komunikasi antara Ethernet dengan mikrokontroler atau mikroproessor
yang dikeluarkan oleh Wiznet. Ethernet Module Wiznet menggunakan W5100
sebagai chip Ethernet Controller. Tipe yang dipakai adalah WIZ811MJ.
Berikut beberapa fitur yang terdapat pada modul IP Wiznet tipe
WIZ811MJ.
 Mendukung 10/100 Base TX
 Mendukung operasi half / full duplex
 Mendukung auto-negotiation dan auto cross-over deteksi
 IEEE 802.3/802.3u
 Beroperasi 3.3V dengan 5V I / O toleransi sinyal
 Termasuk Hardware Internet protokol: TCP, IP Ver.4, UDP, ICMP, ARP,
PPPoE, IGMP
 Termasuk Hardware Ethernet protokol: DLC, MAC
 Mendukung MCU bis Interface dan SPI Antarmuka

WIZ1 WIZ811MJ
PB2 1 21
MOSI 3V3 3V3
PB3 2 22 PB5
MISO /RESET
3 23 PB1
D1 SCLK
4 24 PB0
D0 /SCS
5 25
D3 /WR
6 26
D2 /RD
7 27 PB4
D5 /CS
8 28
D4 /INT
9 29
D7 GND
10 30
D6 GND
11 31
GND A0
12 32
3V3 3V3 A1
13 33
A8 A2
14 34
A9 A3
15 35
A10 A4
16 36
A11 A5
17 37
A12 A6
18 38
A13 A7
19 39
A14 GND
20 40
NC GND

D1MC

VCC 3V3
3 2
Vin +3V3
GND

CPS5MC CPS2MC CPS6MC CPS3MC

100u/25V 100nF REG2MC 100uF/25V 100nF


SJ1117
1

Gambar 3.12 Skema rangkaian modul IP

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


3.11 Address Modbus
Alat ini dirancang sebagai modbus slave yang akan selalu dipantau oleh
modbus master. Pengalamatan modbus pada perangkat dilakukan dengan dengan
cara susunan sebagai berikut.
Pengalamatan alat disimpan pada holding register yang dapat diakses pada
alamat 40001 - 50000.
Tabel 3.1 Pegalamatan Modbus pada Alat
Alamat Alias Nilai

40000 ID 74

40001 IP Gateway 192

40002 168

40003 2

40004 1

40005 IP Module 192

40006 168

40007 2

40008 20

40009 Subnet Mask 255

40010 255

40011 255

40012 0

40013 Mac Address 74

40014 16

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


40015 32

40016 48

40017 64

40018 80

40019 Port 38

40020 Reset IP=15 1000

40021 Reset=9 1000

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


BAB 4
DATA DAN ANALISA

4.1 Pengujian Sensor


Perangkat alarm kebakaran yang telah dirancang diuji coba dengan
mengaktifkan sensor panas dan sensor asap. Selanjut nya dicoba mengatur ulang
kedua sensor tersebut ke kondisi normal. Pengujian ini dilakukan beberapa kali
pada sensor yang berbeda untuk memastikan tidak ada kesalahan pada controller.

Gambar 4.1 Perangkat Fire Alarm terpasang

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Pada panel fire alarm terdapat indikator untuk menunjukkan sensor-sensor
yang aktif, switch reset untuk me-reset sensor, dan manual call / flow switch.
Setiap indikator berfungsi untuk menunjukan sub-zone yang aktif. Pada pengujian
kali ini sensor panas dan asap terletak pada sub-zone no 2.

Gambar 4.2 Indikator sensor pada panel fire alarm

Pengujian pertama alat ini dilakukan terhadap sensor panas (heat


detector). Pengujian ini menggunakan api dari korek gas dan didekatkan ke sensor
seperti yang terlihat pada gambar 4.3. Panas yang dipancarkan oleh api
mengakibatkan sensor mendeteksi panas mencapai titik set poin sehingga
mengalir arus yang akan menjadi pemicu agar alat ini aktif.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.3 Pengujian sensor panas

Saat panas dideteksi oleh sensor, alarm/bel kebakaran aktif dan LED
indikator berhasil menyala menandakan aktifnya alarm. Hal ini dapat dilihat pada
gambar 4.4 dengan menyalanya LED indikator pada sub-zone 2 menunjukkan
bahwa alat ini bekerja dengan baik.

LED Indikator
Sensor Aktif

Gambar 4.4 Indikator detektor kebakaran yang aktif pada panel kontrol

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Pengujian selanjutnya adalah pengujian sensor asap. Asap sebagai
simulasi untuk titik api dihasilkan dengan bantuan kertas yang dibakar dan
dimatikan. Sensor asap terletak pada sub-zone 2 sama seperti sensor panas.

Gambar 4.5 Pengujian Sensor Asap

Saat sensor mendeteksi asap alarm/bel kebakaran aktif dan LED indikator
berhasil menyala menandakan aktifnya alarm yang dibuat. Hal ini menunjukkan
bahwa alat ini bekerja dengan baik.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


LED Indikator
Sensor Aktif

Gambar 4.6 Indikator detektor kebakaran yang aktif pada kontrol panel

4.2 Pengujian Reset Sensor


Setelah sensor panas dan sensor asap mendeteksi titik api, maka alarm/bel
kebakaran aktif. Untuk mengatur agar alarm yang telah aktif kembali ke kondisi
normal atau sebelum terjadi kebakaran maka ditekan tobol reset pada perangkat
fire alarm. Sensor asap dan sensor panas yang aktif kemudian di-reset, indikator
LED off terlihat pada gambar 4.7.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Switch reset di
tekan dan LED
Indikator off

Gambar 4.7 Me-reset sensor panas dan asap yang aktif

4.3 Pengujian Manual Call


Pengujian manual Call / flow switch dilakukan dengan menekan tombol
flow switch pada panel kebakaran. Manual call / flow switch terletak pada sub-
zone 3. Gambar 4.8 menunujukkan pengujian manual Call / flow switch.

Gambar 4.8 Pengujian Manual Call / Flow Switch pada kondisi normal (off)

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.9 Manual Call / Flow switch aktif

Gambar diatas memperlihatkan manual Call / flow switch yang telah


diaktifkan. Manual Call / flow switch yang aktif juga terlihat pada indikator panel
fire alarm. Kemudian Manual Call diset ulang ke kondisi awal dengan menekan
tombol switch reset pada panel fire alarm seperti pada gambar 4.10.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Manual Call aktif
yang akan di-reset

Gambar 4.10 Me-reset flow switch yang aktif

4.4 Mikrokontroler dan Modbus


Pengujian protokol Modbus TCP/IP dilakukan dengan bantuan software
Modbus Poll. Software Modbus Poll sebagai master dan alat ini sebagai slave.
Modbus Poll akan selalu memantau alat agar dapat mengetahui saat alat
mengirimkan data kepada master ketika terjadi kebakaran.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.11 Jendela Modbus Poll

Sebelum melakukankan tes koneksi, terlebih dahulu dilakukan setting


Modbus Poll Master disesuaikan dengan setting alat yang akan dituju seperti
menentukan alamat alat yang akan dipantau, ID alat, banyaknya data yang
diambil, dan waktu pengambilan (scan rate) data dari alat.

Gambar 4.12 Pengaturan Modbus Poll sebagai Master

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Pada gambar 4.12 pengaturan Slave ID disesuaikan dengan ID alat yaitu
74, sesuai dengan ID alat yang sudah dirancang dan dijelaskan pada bab 3.
Perintah alat dilakukan pada holding register dimulai dengan alamat 40000
hingga 40021, ini diatur pada field quantity sejumlah 22. Scan rate (waktu
perintah) dilakukan selama 1000ms. Kemudian setelah koneksi berhasil maka
informasi tentang alat akan terlihat pada jendela Modbus Poll (Gambar 4.13).

Gambar 4.13 Jendela Modbus Poll alamat alat

Pengaturan pengalamatan pada Modbus Poll sesuai dengan alamat


perangkat dan untuk alias hanya penanda isi dari alamat. Sebagai contoh alamat
40001 – 40004, dengan alias IP Gateway yang bernilai 192.162.2.1.
Kemudian pada halaman Modbus Poll baru di-set untuk mengetahui
informasi yang dikirim oleh perangkat saat terjadi kebakaran. Slave ID yang
dituju sama seperti sebelumnya yaitu 74, function dirubah menjadi Read Discrete
Inputs karena Modbus akan menerima informasi dari alat berupa pemberitahuan
terjadi kebakaran. Quantity untuk alamat yang dibaca berjumlah 16 alamat, 8 dari
sensor dan 8 dari flow switch. Perintah alamat dimulai dari alamat 20000 – 20015.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.14 Pengaturan Modbus Poll sebagai penerima informasi kebakaran

Pengaturan pengalamatan untuk perintah input sesuai dengan yang


terdapat pada pengalamatan alat (gambar 4.15). Pada alamat 20000 – 20007 untuk
perintah sensor sedangkan alamat 20008 – 20015 untuk perintah flow switch.
Alamat diisi dengan data 0 atau 1 yang menandakan terjadi kebakaran atau tidak.
Data 0 berarti dalam kondisi normal sedangkan data 1 menandakan ada
kebakaran.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.15 Jendela Modbus Poll sebagai Penerima Informasi Kebakaran Pada
Kondisi Normal

Kemudian satu jendela Modbus Poll untuk menginstruksikan tindakan


yang harus dilakukan setelah terjadi kebakaran (Gambar 4.16). Slave ID yang
dituju sama seperti sebelumnya yaitu 74, function dirubah menjadi Read Discrete
Inputs karena Modbus akan megirim informasi menuju alat berupa tindakan
setelah terjadi kebakaran terjadi kebakaran. Quantity untuk alamat yang dibaca
berjumlah 40 alamat, 8 untuk alarm, 8 untuk kontak/relay, 8 untuk status LED, 8
untuk reset protocol, 8 untuk reset alat. Perintah alamat dimulai dari alamat
00000 – 00039.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.16 Pengaturan Modbus Poll sebagai Pengirim Tindakan Setelah Terjadi
Kebakaran

Pengaturan pengalamatan untuk perintah input sesuai dengan yang


terdapat pada pengalamatan alat, terlihat pada gambar 4.17. Pada alamat 00000 –
00007 untuk perintah alarm, alamat 00008 – 00015 untuk perintah kontak/relay,
alamat 00016 – 00023 untuk perintah status LED, 00024 – 00031 untuk perintah
reset alamat, dan 00032 – 00039 untuk perintah reset alat. Alamat diisi dengan
data 0 atau 1 yang ada perintah atau tidak. Saat belum dikirim perintah tindakan
setelah terjadi kebakaran alamat untuk perintah alarm, kontak/relay, reset alamat,
dan reset alat adalah 0, kecuali status LED yang bernilai 1.Setelah ada perintah
akan terjadi perubahan dari 0 menjadi 1 untuk semua alamat kecuali untuk alamat
status LED akan bernilai 0.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.17 Pengaturan pengalamatan untuk perintah input sesuai dengan
pengalamatan alat

Setelah alat dihubungkan dengan Modbus Poll pada status normal (tidak
terjadi kebakaran) maka dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.18 Modbus Poll Memantau Saat Kondisi Normal

4.5 Sistem Keseluruhan


Pengujian sitem secara keseluruhan dilakukan dengan menghubungkan
sistem sensor pendeteksi kebakaran, sistem alarm kebakaran, alat yang dirancang,
dan jaringan terhubung dengan PC, seperti skema dibawah ini:

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.19 Skema Pengujian Sistem secara Keseluruhan

Saat sensor pada zone mendeteksi titik api atau flow switch 1 ditekan maka
diidentifikasi terjadi kebakaran dan alat ini akan langsung melakukan aksi
sequencing dan mengaktifkan alarm serta mengirimkan data terjadi kebakaran
kepada PC. Tampilan pada modbus poll di PC terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.20 Tampilan pada Modbus saat deteksi kebakaran

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.21 Tampilan Modbus Pool pada saat sensor mendeteksi kebakaran

Gambar diatas menunjukkan sensor pada sub-zone yang aktif. Sensor yang
aktif ada pada sub-zone 5 yang beralamat 000004. Pada saat sensor pada alamat
000004 mendeteksi terjadi kebakaran maka akan terjadi perubahan data dari 0
menjadi 1.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.22 Tampilan Modbus Pool pada saat flow switch aktif

Hal yang sama juga berlaku jika 000013 flow switch aktif terjadi
perubahan data dari 0 menjadi 1. Setelah terdeteksi kebakaran Modbus Poll
mengirimkan perintah untuk membunyikan alarm dan mengaktifkan kontak/relay.
Maka alarm akan menyala dan kontak/relay akan aktif seperti pada gambar 4.23.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.23 Alarm dan kontak/relay aktif

Setelah bel alarm aktif maka sensor yang aktif harus di atur ulang ke
kondisi normal. Pengaturan ulang ini bisa menggunakan switch reset pada alat
maupun secara software.
Selain pengujian dengan menggunakan modbus, pada ruang security juga
terdapat layar monitoring untuk melihat status kebakaran sedang terjadi. Agar
status kebakaran dapat terpantau maka alat ini diintegrasikan ke sistem otomasi
gedung (gambar 4.24). Kemudian pengujian dilanjutkan dengan mengaktifkan
sensor pada dua zona yang berbeda.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


Gambar 4.24 Tampilan aplikasi monitoring alarm kebakaran

Pada aplikasi diatas terdapat status fire alarm yang terdiri dari 3 warna
status. Status hijau menunjukkan alat terhubung dengan baik, status warna kuning
menunjukkan alat tidak terhubung ke sistem otomasi gedung (disconnect), dan
status warna merah menunjukkan terjadinya kebakaran. Pada saat pengujian juga
terlihat ada alat yang tidak terkoneksi dengan baik ke jalur internet.
.

Gambar 4.25 Tampilan aplikasi ketika alat mendeteksi kebakaran

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berikut ini adalah kesimpulan yang didapatkan dari hasil pembahasan pada bab
sebelumnya, yaitu:
1. Telah berhasil membuat sebuah fire alarm IP based yang dapat
memanfaatkan jalur internet/intranet sebagai jalur pertukaran data.
2. Fire alarm yang dibuat dapat berdiri sendiri maupun dapat dirangkai menjadi
sebuah sistem besar yang terintegrasi.

5.2 Saran
Penelitian ini masih membutuhkan banyak perbaikan dan pada implementasi
kondisi lapangan. Saran yang bisa dilakukan antara lain:
1. Agar alat dapat berdiri sendiri sebaiknya ditambahkan LCD agar lebih
interaktif.
2. Disediakan backup battery agar bila sistem mengalami kegagalan daya,
alat masih tetap berfungsi.

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


DAFTAR ACUAN

[1]. HiCow. “Fire Alarm Systems You Need To Know”. 2011.


<http://www.hicow.com/united-states/smoke-detector/burglar-alarm-
375773.html>

[2]. Wikipedia. 2011. “Alarm”. <http://id.wikipedia.org/wiki/Alarm>

[3]. John Lavevhagen. "Discription of Building Automation System." Buildint;


Aulomation Svstem 8 (2001): 25 Agst. 2002. p.2
<http://. fpd.ohio-state. edu/bds/app_a_01. pdO>

[4]. Petrov, Kiril. “Types of Fire Alarm Systems”. 17 Oct. 2010


<http://www.articles.doknow.org/>

[5]. Atmel. 2011. <www.atmel.com/atmel/acrobat/doc2467.pdf>

[6]. HiCow. “Types Of Fire Alarms”. 2011


<http://www.hicow.com/smoke-detector/fire-alarm-system/sensor-
256582.html>

[7]. Modbus Protocol Reference Guide, MODICON, Inc. June 1996 North
Andover, Massachusetts

[8]. “Introduction To MODBUS TCP/IP”. Technical Reference – Modbus


TCP/IP. ACROMAG INCORPORATED. Wixom, USA 2005.

[9]. <http://www.temperatures.com/sensors/csensors/thermistors/>

[10]. Fitriawan, Helmy “Protocol TCP/IP”.


<http://onno.vlsm.org/v11/ref-ind-1/network/mengenal-protokol-internet-
tcpip-1998.rtf>

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011


LAMPIRAN

Sistem alarm..., Arief Rosseno, FMIPA UI, 2011