Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

Epidemiologi Riwayat Alamiah Penyakit

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah "SIK II - Epidemiologi"

Dosen Pengampu : Tiny Hartini

Ketua : Istiqomatul Hasanah

Sekertaris : Hany Nabila Fauzia

Anggota : Desti Amalia

Nina Rusmiati Adowiyah

Riska Putri

Wulani Nur Azizah

Politeknik Piksi Ganesha Bandung

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
segala nikmat dan karunia-nya kepada kita, sehingga kita dapat menyelesaikan makalah
sebagai tugas mata kuliah Epidemiologi dengan judul “Riwayat Alamiah Penyakit” ini
dengan tepat waktu.

Tentu kita menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kita mengharapkan kritik serta
saran dari pembaca makalah ini. Demikian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah
ini mohon maaf sebesar-besarnya.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada ibu Tiny
Hartini, S.ST., Skm, M.KES selaku dosen mata kuliah Epidemiologi dan juga kepada teman-
teman yang telah membantu.
Dengan demikian, semoga makalah ini bermanfaat, terimakasih.

Bandung, April 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Munculnya berbagai macam penyakit disebabkan oleh banyak faktor. Studi
Riwayat Alamiah Penyakit mempelajari bagaimana suatu penyakit dapat timbul dan
tersebar. Studi ini diduga mempunyai manfaat dalam mengetahui bagaimana
pencegahan penyakit yang seharusnya dilakukan. Jika ada sebab pastilah ada
sumbernya. Maka, pada makalah kali ini penyusun akan menjabarkan apa itu
riwayat alamiah penyakit, tahapan-tahapan penyakit itu terjadi, manfaat-manfaat,
dan juga pencegahan agar tidak terjadinya proses riwayat alamiah penyakit, agar
penyakit tersebut dapat tertangani dan teratasi tanpa mengabaikan dasar-dasar ilmu
epidemiologi yang telah ada.
Telah diketahui bahwa perkembangan zaman di bidang ilmu pengetahuan maupun
teknologi membawa dampak lingkungan yang besar terhadap lingkungan, maka
dari situlah penyakit yang pada umumnya bersifat biasa saja menjadi suatu penyakit
yang lebih bersifat patogen, dan adanya transisi epidemiologi merupakan salah satu
buktinya.

B. Rumusan Masalah
a. Apakah Riwayat Alamiah Penyakit itu?
b. Bagaimana tahapan-tahapan proses terjadinya Riwayat Alamiah Penyakit itu?
c. Apa manfaat Riwayat Alamiah Penyakit itu?
d. Bagaimana pencegahan agar penyakit itu tidak berkembang dengan cepat?

C. Maksud dan Tujuan


Maksud dari makalah ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai masalah
perkembangan penyakit dan mengetahui sejauh mana perannya di kehidupan
masyarakat, dan juga sebagai tugas mata kuliah Epidemiologi.
Adapun tujuannya adalah :
a. Untuk mengetahui definisi dan proses perkembangan Riwayat Alamiah Penyakit.
b. Untuk mengetahui tahapan Riwayat Alamiah Penyakit.
c. Untuk mengetahui tahapan pencegahan penyakit.
d. Untuk mengetahui manfaat dari Riwayat Alamiah Penyakit.

D. Sasaran
Makalah ini ditujukan untuk mahasiswa mahasiswi kelas RMIK R33/17 jurusan
Rekam medis dan informasi kesehatan.

E. Kegiatan
Kami mengadakan kegiatan Presentasi, Tanya Jawab dan Diskusi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Riwayat Alamiah penyakit


Kejadian penyakit, tidak terkecuali penyakit akut (mendadak) mempunyai
masa berlangsungnya tersendiri. Bagaimanapun mendadaknya, perlu waktu, yang
memang mungkin singkat untuk tercetusnya suatu penyakit. Dalam mengetahui
keberadaan (diagnosis) penyakit, diperlukan perhatian dan perhitungan terhadap
faktor waktu berlangsungnya penyakit. Hal yang diinginkan untuk melakukan
diagnosis supaya benar dan tepat waktu.
Untuk membuat diagnosis, salah satu yang yang perlu diketahui adalah
Riwayat alamiah penyakit ( Natural history of disease) yaitu perkembangan
penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu
penyakit berlangsung secara natural/alamiah (Fletcher,22).
Adapun pengertian lainnya riwayat alamiah penyakit adalah deskripsi tentang
perjalanan waktu dan perkembangan penyakit pada individu, dimulai sejak
terjadinya paparan dengan agen kausal hingga terjadinya akibat penyakit, seperti
kesembuhan atau kematian, tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preverentif
maupun terapetik. Riwayat alamiah penyakit merupakan salah satu elemen utama
epidemiologi deskriptif (Bhopal,2002, dikutip wikipedia,2010).
Pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit sama pentingnya dengan kausa
penyakit untuk pencegahan dan pengendalian penyakit. Dengan mengetahui
perilaku dan karakteristik masing-masing penyakit maka bisa dikembangkan
intervensi yang tepat untuk mengidentifikasi maupun mengatasi problem penyakit
tersebut (Gordis, 2000, dikutip wikipedia, 2010).

B. Tahapan Riwayat Alamiah


Riwayat alamiah suatu penyakit pada umumnya melalui tahap-tahap sebagai
berikut:
1. Tahap Prepatogenesis
Pada tahap ini individu berada dalam keadaan normal (sehat), tetapi mereka
pada dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agen penyakit
(stage of susceptibility).
Walaupun demikian, pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan
bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit
penyakit berada di luar tubuh penjamu dimana para kuman mengembangkan
potensi infektivitas untuk siapmenyerang penjamu. Pada keadaan ini belum
ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya tahan tubuh pejamu masih kuat
dan dapat menolak penyakit. Namun begitu penjamunya lengah ataupun bibit
penyakit menjadi lebih ganas ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang
menguntungkan penjamu, maka keadaan dapat segera berubah. Penyakit akan
melanjutkan perjalanannya memasuki fase berikutnya.
2. Tahap Patogenesis
Tahap ini meliputi 4 sub-tahap yaitu: Tahap Inkubasi, Tahap Dini, dan Tahap
Lanjut dan Tahap Akhir.
a. Tahap Inkubasi
Tahap inkubasi merupakan waktu antara masuknya bibit penyakit ke dalam
tubuh yang peka terhadap penyebab penyakit sampai timbulnya gejala
penyakit. Misal: penyakit DB rata-rata 7-10 hari. Tiap-tiap penyakit
mempunyai masa inkubasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jika
daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus yang
mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh. Pada suatu
saat penyakit makin bertambah hebat, sehingga timbul gejalanya. Garis yang
membatasi antara tampak dan tidak tampaknya gejala penyakit disebut dengan
horison klinik.
Pengetahuan tentang lamanya masa inkubasi ini sangat penting untuk
informasi diagnosis.

Tabel Berbagai Jenis Penyakit Menular dan Masa Inkubasinya


Jenis Penyakit Masa Inkubasi
AIDS 2 bulan – 10 tahun
Amoebiasis 2-4 minggu
Anthrax 2-7 hari
Botulism 12-36 jam
Chikungunya 3-12 hari
Kholera 1-5 hari
Dipteri 2-5 hari
Filariasis 3-12 bulan
Hepatitis A 15-50 minggu
Hepatitis B 7-26 minggu
Leptospirosis 4-18 hari
Campak 10-14 hari
Poliomyelitis 5-30 hari
Tetanus 4-21 ari

b. Tahap Dini
Tahap ini mulai munculnya gejala-gejala penyakit yang kelihatannya
ringan. Misal: myeri ulu hati, lesu, tidak nafsu makan. Umumnya penderita
masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak
berobat. Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya tidak memerlukan
perawatan, karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat jalan.
Tahap ini sudah mulai menjadi masalah kesehatan karena sudah ada
gangguan patologis, walaupun penyakit masih dalam masa subklinik.
Seandainya memungkinkan, pada tahap ini sudah di harapkan diagnosis dapat
ditegakkan secara dini.
c. Tahap Lanjut
Merupakan tahapan dimana penyakit bertambah jelas dan mungkin
bertambah berat dengan segala kelainan patologis dan gejalanya (stage of
clinical disease). Pada tahap ini penyakit sudah menunjukkan gejala dan
kelainan klinik yang jelas, misal: adanya pendarahan,shock. sehingga
diagnosis sudah relatif mudah ditegakkan, sehingga dapat diberikan
pengobatan yang tepat untuk menghindari akibat lanjut yang kurang baik.
d. Tahap Akhir
Berkahirnya perjalanan penyakit dapat berada dalam lima pilihan keadaan,
yaitu:
1. Sembuh sempurna, yakni bibit penyakit menghilang dan tubuh menjadi
pulih kembali
2. Sembuh dengan cepat, yakni bibit penyakit menghilang, penyakit sudah
tidak ada, tetapi tubuh tidak pulih sepenuhnya, meninggalkan bekas
gangguan yang permanen berupa cacat.
3. Karier, yakni tubuh penderita pulih kembali, namun bibit penyaki masih
tetap ada dalam tubuh tanpa memperlihatkan gangguan penyakit.
4. Penyakit tetap berlangsung secara kronik.
5. Berakhir dengan kematian.

Adapun contoh kerangka umum riwayat alamiah penyakit.

Perjalanan
penyakit
dimulai
dengan
terpaparnya
individu
sebagai
penjamu
yang rentan
(suseptibel) oleh agen kausal. Paparan (exposure) adalah kontak atau
kedekatan (proximity) dengan sumber agen penyakit. Konsep paparan
berlaku untuk penyakit infeksi maupun non-infeksi. Contoh, paparan virus
hepatitis B (HBV) dapat menginduksi terjadinya hepatitis B, paparan stres
terus-menerus dapat menginduksi terjadinya neurosis, paparan radiasi
menginduksi terjadinya mutasi DNA dan menyebabkan kanker, dan
sebagainya. Arti “induksi” itu sendiri merupakan aksi yang mempengaruhi
terjadinya tahap awal suatu hasil, dalam hal ini mempengaruhi awal
terjadinya proses patologis. Jika terdapat tempat penempelan (attachment)
dan jalan masuk sel (cell entry) yang tepat maka paparan agen infeksi dapat
menyebabkan invasi agen infeksi dan terjadi infeksi. Agen infeksi
melakukan multiplikasi yang mendorong terjadinya proses perubahan
patologis, tanpa penjamu menyadarinya.

Periode waktu sejak infeksi hingga terdeteksinya infeksi melalui tes


laboratorium/ skrining disebut “window period”. Dalam “window period”
individu telah terinfeksi, sehingga dapat menularkan penyakit, meskipun
infeksi tersebut belum terdeteksi oleh tes laboratorium. Implikasinya, tes
laboratorium hendaknya tidak dilakukan selama “window period”, sebab
infeksi tidak akan terdeteksi. Contoh, antibodi HIV (human immuno-
deficiency virus) hanya akan muncul 3 minggu, hingga 6 bulan setelah
infeksi. Jika tes HIV dilakukan dalam “window period”, maka sebagian
besar orang tidak akan menunjukkan hasil positif, sebab dalam tubuhnya
belum diproduksi antibodi. Karena itu tes HIV hendaknya ditunda hingga
paling sedikit 12 minggu (3 bulan) sejak waktu perkiraan paparan. Jika
seorang telah terpapar oleh virus tetapi hasil tes negatif, maka perlu
dipertimbangkan tes ulang 6 bulan kemudian.

Selanjutnya berlangsung proses promosi pada tahap preklinis, yaitu


keadaan patologis yang ireversibel dan asimtomatis ditingkatkan
derajatnya menjadi keadaan dengan manifestasi klinis (Kleinbaum et al.,
1982; Rothman, 2002). Melalui proses promosi agen kausal akan
meningkatkan aktivitasnya, masuk dalam formasi tubuh, menyebabkan
transformasi sel atau disfungsi sel, sehingga penyakit menunjukkan tanda
dan gejala klinis. Dewasa ini telah dikembangkan sejumlah tes skrining
atau tes laboratorium untuk mendeteksi keberadaan tahap preklinis
penyakit (US Preventive Services Task Force, 2002; Barratt et al., 2002;
Champion dan Rawl, 2005). Waktu sejak penyakit terdeteksi oleh skrining
hingga timbul manifestasi klinik, disebut “sojourn time”, atau detectable
preclinical period (Brookmeyer, 1990; Last, 2001; Barratt et al., 2002).
Makin panjang sojourn time, makin berguna melakukan skrining, sebab
makin panjang tenggang waktu untuk melakukan pengobatan dini (prompt
treatment) agar proses patologis tidak termanifestasi klinis. Kofaktor yang
mempercepat progresi menuju penyakit secara klinis pada sojourn time
(detectable preclinical period) disebut akselerator atau progresor
(Achenbach et al., 2005).

Waktu yang diperlukan mulai dari paparan agen kausal hingga timbulnya
manifestasi klinis disebut masa inkubasi (penyakit infeksi) atau masa laten
(penyakit kronis). Pada fase ini penyakit belum menampakkan tanda dan
gejala klinis, disebut penyakit subklinis (asimtomatis). Masa inkubasi bisa
berlangsung dalam hitungan detik pada reaksi toksik atau hipersentivitas.
Contoh, gejala kolera timbul beberapa jam hingga 2-3 hari sejak paparan
dengan Vibrio cholera yang toksigenik. Pada penyakit kronis masa inkubasi
(masa laten) bisa berlangsung sampai beberapa dekade. Kovariat yang
berperan dalam masa laten (masa inkubasi), yakni faktor yang
meningkatkan risiko terjadinya penyakit secara klinis, disebut faktor risiko.
Sebaliknya, faktor yang menurunkan risiko terjadinya penyakit secara
klinis disebut faktor protektif.

Selanjutnya terjadi inisiasi penyakit klinis. Pada saat ini mulai timbul tanda
(sign) dan gejala (symptom) penyakit secara klinis, dan penjamu yang
mengalami manifestasi klinis disebut kasus klinis. Gejala klinis paling awal
disebut gejala prodromal. Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan
diekspresikan hingga terjadi hasil akhir/ resolusi penyakit, baik sembuh,
remisi, perubahan beratnya penyakit, komplikasi, rekurens, relaps,
sekuelae, disfungsi sisa, cacat, atau kematian. Periode waktu untuk
mengekspresikan penyakit klinis hingga terjadi hasil akhir penyakit disebut
durasi penyakit. Kovariat yang mempengaruhi progresi ke arah hasil akhir
penyakit, disebut faktor prognostik (Kleinbaum et al., 1982; Rothman,
2002). Penyakit penyerta yang mempengaruhi fungsi individu, akibat
penyakit, kelangsungan hidup, alias prognosis penyakit, disebut ko-
morbiditas (Mulholland, 2005). Contoh, TB dapat menjadi ko-morbiditas
HIV/AIDS yang meningkatkan risiko kematian karena AIDS pada wanita
dengan HIV/AIDS (Lopez-Gatell et al., 2007).

C. Tahapan Pencegahan penyakit


Tujuan dari tahapan pencegahan penyakit adalh menghalangi
perkembangan penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut. Tahapan
pencegahan penyakit ini melalui 4 tahap yaitu:
1. Primordial : tujuan dari tahapan ini adalah untuk menghindari kemunculan dan
kemampanan di bidang sosial, ekonomi, dan pola kehidupan yang diketahui
mempunyai kontribusi untuk meningkatkan resiko penyakit. Misalnya: adanya
peraturan pemerintah tentang larangan merokok di tempat-tempat umum. Adanya
program-program tentanf gizi. Dll.
2. Pencegahan primer : Adalah segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian
suatu penyakit atau gangguan kesehatan sebelum hal itu terjadi. Tujuan
pencegahan primer adalah untuk mengurangi insidensi penyakit dengan cara
mengendalikan penyebab-penyebab penyakit dan faktor-faktor resikonya.
Pencegahan ini meliputi 3 aspek yaitu: promosi kesehatan, pendidikan kesehatan,
dan perlindungan kesehatan.
3. Pencegahan sekunder : pencegahan ini lebih di tujukan untuk mengobati para
penderita dan mengurangi akibat-akibat yang lebih serius dari penyakit melalui
diagnosis diri dan pemberian pengobatan.
4. Pencegahan tersier : pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan
menyediakan rehabilitasi saat penyakit atau cedera sudah terjadi dan
menimbulkan kerusakan. Pencegahan ini bertujuan untuk mengurangi kemajuan
atau komplikasi penyakit yang sudah terjadi.

D. Manfaat Riwayat Alamiah


Dari riwayat alamiah penyakit diperoleh beberapa manfaat, seperti:
1. Masa inkubasi atau masa latent, atau waktu yang diperlukan selama perjalanan
suatu penyakit untuk menyebabkan seseorang jatuh sakit.
2. Kelengkapan keluhan yang menjadi bahan informasi dalam meneggkan
diagnosis.
3. Lamanya dan beratnya keluhan dialami oleh penderita.
4. Kejadian penyakit menurut musim kapan penyakit itu lebih frekuen
kejadiannya.
5. Kecenderungan lokasi geografis serangan penyakit sehingga dengan mudah
dideteksi lokasi kejadian penyakit.
6. Sifat-sifat biologis kuman patogen sehingga menjad bahan informasi untuk
pencegahan penyakit, khususnya untuk membunuh kuman penyakit.