Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KUNJUNGAN PERUSAHAAN

GIZI KERJA DAN SANITASI DI PERUSAHAAN


PABRIK CAMBRIC GABUNGAN KOPERASI BATIK
INDONESIA

Disusun oleh:
KELOMPOK 4
dr. Muslich Idris Al Mashur
dr. Nadila Anindita
dr. Nurwachid Arbangi
dr. Refly Dwi Angesti Putri
dr. Reinaldo Supanji
dr. Reizty Dwiyanda Putri
dr. Rida Rizki Amalia
dr. Sheila Rahmi Ismi Faizah
dr. Suryani Trinindia Putri
dr. Tania Purbonegoro
dr. Umi Hasanah Anggarani
dr. Yuliana Wiralestari

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


BAGI DOKTER PERUSAHAAN/INSTANSI
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
AGUSTUS 2018

1
2
KATA PENGANTAR

Puji Tuhan kami panjatkan atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala
rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan mengenai kunjungan
perusahaan dengan judul “Laporan Kunjungan Lapangan Gizi kerja dan Sanitasi
PC. Gabungan Koperasi Batik Indonesia.”
Adapun kunjungan yang kami lakukan ini merupakan salah satu rangkaian
kegiatan dalam pelatihan hiperkes dan keselamatan kerja provinsi daerah istimewa
yogyakarta. Kunjungan ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur mengenai
pemahaman materi yang telah diberikan sebelumnya pada saat pelatihan sehingga
harapannya dapat menjadi dokter perusahaan maupun instansi yang memiliki
kecakapan dan profesionalitas yang baik.
Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan terima kasih terhadap para
pengajar dan pembimbing dari Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta beserta jajaran direksi, manajemen dan para pekerja
di PC. Gabungan Koperasi Batik Indonesia beserta rekan sejawat pelatihan yang
telah banyak membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih terdapat
banyak kekurangan dan kesalahan yang disebabkan oleh keterbatasan
pengetahuan dan kemampuan kami, oleh karena itu kritik dan juga saran sangat
kami harapkan demi mencapai kesempurnaan dalam laporan kunjungan
perusahaan ini.
Demikian kata pengantar ini kami buat, semoga laporan kunjungan
perusahaan ini bermanfaat baik untuk kami pribadi maupun bagi para pembaca.

Yogyakarta, 31 Agustus
2018

3
Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dengan perkembangan era industrial di Indonesia, pelaksanaan Hiperkes
dan Keselamatan Kerja menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan oleh
perusahaan. Perusahaan diwajibkan untuk menciptakan lingkungan kerja yang
bebas dari bahaya akibat kerja sehingga tenaga kerja merasa aman dalam
menjalan pekerjaannya dan produktivitas tenaga kerja tetap terjaga. Dalam UU
RI. No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan mengatur mengenai keselamatan
dan kesehatan kerja yang mengatakan bahwa pekerja berhak mendapatkan
perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja guna mewujudkan produktivitas
kerja yang optimal.
Produktivitas kerja dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya yang
mempunyai peran sangat penting dan menentukan adalah kecukupan gizi.
Seseorang yang berstatus gizi kurang tidak mungkin mampu dengan hasil yang
maksimal sehingga dapat dikatakan bahwa Faktor gizi bisa menjadi penentu
prestasi kerja para tenaga kerja karena adanya kecukupan dan penyebar kalori
yang seimbang selama bekerja. Menurut Darwin Karyadi (1984) penambahan gizi
akan berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas kerja dan hal ini juga
yang mendasari Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
No. 06 tahun 1989 dimana Program Pangan Dan Gizi yang berdimensi
produktivitas kerja dipercayakan kepada Departemen Tenaga Kerja. Tenaga kerja
yang sehat akan bekerja lebih giat, produktif dan teliti sehingga dapat mencegah
kecelakaan yang mungkin terjadi dalam bekerja.
Penyelenggaraan makanan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi
penyusunan anggaran belanja makanan, perencanaan menu, pengadaan atau
pembuatan bahan makanan, penerimaan dan penyimpanan bahan makanan,
persiapan dan pemasakan makanan, penilaian, pengemasan, distribusi atau

4
penyajian makanan di tempat kerja. Sanitasi menjadi faktor penting dalam
penyelenggaraan makanan yang dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit,
keracunan ataupun gangguan kesehatan dengan memperhatikan faktor makanan,
orang, tempat serta perlengkapan yang digunakan dalam mempersiapkan
makanan.
Sanitasi merupakan usaha masyarakat yang menitikberatkan pada
pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat
kesehatan manusia. Pada sanitasi industri adalah usaha kesehatan masyarakat
lingkungan dalam batas-batas tertentu termasuk cara pencegahan penyakit
menular atau gangguan lain yang mempengaruhi kesehatan tenaga kerja yang
tidak dapat dipisahkan dalam proses industri. Peraturan Menteri Perburuhan no. 7
tahun 1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan dan penerangan di tempat kerja
serta Kepmenaker Nomor 51 tahun 1999 tentang faktor bahaya fisik menjadi
landasan adanya pengawasan terhadap pencemaran di tempat kerja
Berdasarkan pemaparan di atas, penulis melakukan kunjungan perusahaan
pada PC. Gabungan Koperasi Batik Indonesia untuk melakukan pengamatan lebih
lanjut mengenai K3 gizi kerja dan sanitasi yang dilaksanakan oleh perusahaan
tersebut.

2. Tujuan
Tujuan kunjungan ini yaitu sebagai berikut:
a. Meningkatkan pengetahuan mengenai K3 gizi pekerja dan juga sanitasi
pada lingkungan perusahaan
b. Mengetahui standard gizi dan sanitasi yang benar dan sesuai

3. Manfaat
Berdasarkan tujuan tersebut, maka manfaat kunjungan ini adalah:
a. Menambah wawasan dan pengetahuan gizi kerja dan sanitasi pada
lingkungan perusahaan, khususnya PC. Gabungan Koperasi Batik
Indonesia

5
b. Memberikan masukan terhadap PC. Gabungan Koperasi Batik
Indonesia mengenai gizi kerja dan sanitasi perusahaan yang sesuai
dengan pedoman K3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Gizi Kerja

Pengertian dan Ruang Lingkup Gizi Kerja


Gizi berasal dari bahasa Arab “gizzah” yang artinya zat makanan sehat
atau sari makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Ilmu Gizi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara makanan yang kita makan dengan kesehatan tubuh
(Moehji, 2002; Sediaoetama, 2004). Sedangkan menurut Sudiarti dan Indrawani
pada tahun 2007, definisi lengkap ilmu giziyaitu ilmu yang mempelajari zat-zat
dari pangan yang bermanfaat bagi kesehatan dan proses yang terjadi pada pangan
sejak dikonsumsi, dicerna, diserap, sampai dimanfaatkan tubuh serta dampaknya
terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kelangsungan hidup manusia serta
factor yang mempengaruhinya.
Zat gizi adalah zat terkandung dalam makanan dan berguna untuk
tubuh.Zat gizi yang dikenal ada lima, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin
dan mineral. Ada kelompok yang memasukkan air sebagai zat gizi dengan alasan
zat tersebut digunakan dalam proses metabolism dalam tubuh, namun pendapat
tersebut belum diterima oleh semua ahli gizi. Kelompok yang tidak setuju air
dimasukkan sebagai kelompok zat gizi beralasan karena zat tersebut mudah
didapat dan merupaka zat tunggal(Sudiarti dan Indrawani, 2007).
Makanan adalah bahan-bahan makanan yang dapat digolongkan menjadi
makanan pokok (nasi, roti), lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buahan, dan susu.
Bahan-bahan ini mengandung zat yang diperlukan oleh tubuh, seperti protein
karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air. Oleh karena itu makanan yang

6
cocok adalah makanan berimbang (balancediet), (Anies, 2005; Sudiarti dan
Indrawanni, 2007).
Istilah gizi kerja bermakna nutrisi yang diperlukan tenaga kerja untuk
melakukan suatu pekerjaan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerjanya
sehingga tercapai tingkat efisiensi kerja dan produktivitas setinggi-tingginya.
Sebagai suatu aspek dari ilmu gizi pada umumnya, maka gizi kerja ditujukan
kepada kesehatan dan daya kerja tenaga kerja yang setinggi-tingginya. Kesehatan
dan kerja mempunyai hubungan yang erat dengan tingkat gizi seseorang
(Suma’mur. 1996; Anies, 2005; Winarni, 2000). Gizi kerja juga merupakan upaya
promotif, syarat penting untuk meningkatkan derajat kesehatan dan produktivitas
kerja. Penerapan gizi kerja di perusahaan menjadi keharusan investasi yang
rasional bagi perbaikan kualitas tenaga kerja. Di samping aspek kesehatan, dalam
gizi kerja juga terkandung aspek kesejahteraan dan pengembangan sumber daya
(Anies,2005).
Tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita yang sedang dalam
dan/atau akan melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja
guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat.Sedangkan pekerja adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam
hubungan kerja pada pengusaha dengan menerima upah (Anonim, 1997). Upaya
kesehatan kerja adalah upaya penyerasian kapasitas kerja, beban kerja, dan
lingkungan kerja agar setiap pekerjaan dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun lingkunga agar diperoleh produktivitas
kerja yang optimal. (Anonim, 1997)
Masalah gizi disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait baik secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dipengaruhi oleh penyakit
infeksi dan tidak cukupnya asupan gizi baik secara kuantitas maupun kualitas,
sedangkan secara tidak langsung dipengaruhi oleh jangkauan dan kualitas
pelayanan kesehatan, kurang baiknya kondisi sanitasi lingkungan serta rendahnya
ketahanan pangan di tingkat rumah tanngga. Sebagai pokok masalah di
masyarakat adalah rendahnya pendidikan, pengatahuan, dan keterampilan serta
tingkat pendapatan masyarakat (Azwar,2005).

7
Penyakit gizi kerja adalah penyakit yang diakibatkan oleh kerja atau ada
hubungan dengan kerja, contohnya: anemia yang dapat menyebabkan penurunan
konsentrasi kerja menurun dan lambatnya daya ingat.Dalam kaitan dengan gizi
kerja, nutrisi atau zat makanan yang diperlukan oleh tenaga kerja tidak berbeda
dengan nutrisi yang dibutuhkan oleh orang lain (Anies,2005).
Kebutuhan kalori orang dewasa dipengaruhi pleh metabolism basal,
kegiatan tubuh atau aktivitas fisik, efek makanan (Spesific Dynamic Action
/SDA), dan kerja otot. Kalori tersebut berasal dari bahan-bahan makanan protein,
lemak, dan karbohitdrat (Anies, 2005; Suma’mur,1996; sudiarti dan
Indrawani,2007).
Penyelenggaraan gizi kerja di perusahaan dapat dilaksanakan oleh
perusahaan sendiri, pengusaha boga atau kafetaria yang diorganisasi oleh
perusahaan. Namun menyelenggarakan gizi kerja yang baik bukan sekedar
memenuhi kewajiban memberikan makanan dengan sumber standar tertentu
kepada tenaga kerja. Tidak kurang penting adalah fungsi pengawasan, agar
pelaksanaannya sesuai harapan (Anies,2005) .
Secara garis besar kebutuhan gizi untuk pekerja sama dengan kebutuhan
setiap orang seharinya, tetapi di rinci dengan perbedaan pada kebutuhan jenis
aktivitanya dan lama kegiatan tersebut dilakukan. Apabila aktivitas seseorang
normal seperti pegawai bagian administrasi perkantoran atau bekerja ringan
sampai sedang dapat dirata-rata sesuai anjuran kecukupan gizi rata-rata
(Subur,2005).
Komposisi yang cukup memadai dari diet seimbang bagi pekerja
dianjurkan terdiri dari 50-55% karbohitrat, 25-35% lemak, 10-15% protein dan
secukupnya air, vitamin serta mineral.

Kebutuhan energi yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan :


a. Metabolism Basal : energi minimal yang diperlukan untuk melaksanakan
hajat biologi selama 24 jam
b. Energi untuk melaksanan kerja luar : jumlah energi yang diperlukan untuk
melakukan pekerjaan selama satu hari ditambah basal metabolisme.

8
Nilai BMR menurut kelompok umur dan jenis kelamin

Umur (Th) Laki-laki Perempuan

18-30 15,3 B + 679 14,7 B + 496

30-60 11,6 b + 879 8,7 B + 829

>60 13,5 B + 487 10,5 B + 596

Angka kecukupan energi dengan tingkat aktivitas fisik

Aktivitas Jenis Kegiatan Fak . aktivitas


Ringan
Laki-laki 75% waktu digunakan 1,58
untuk duduk/berdiri
Perempuan 25% waktu untuk 1,45
duduk/bergerak
Sedang :
Laki-laki 40% waktu untuk duduk/ 1,67
berdiri
Perempuan 60% waktu untuk aktif 1,65
pada pekerjaan tertentu
Berat :
Laki-laki 25% waktu digunakan 1,88
untuk duduk/berdiri
Perempuan 75% waktu untuk aktif 1,75
pada pekerjaan tertentu

9
Kegiatan pelaksanaan gizi di perusahaan, meliputi :
1. Penyelenggaraan kantin dan ruang makan serta melaksanakan sanitasi
penyelenggaraan makan secara menyeluruh.
2. Penyediaan preparat gizi : vitamin, mineral, oralit,dll
3. Penyuluhan gizi kerja
4. Pemberian makan di tempat kerja
- Frekuensi makan
- Perilaku makan sehat

Faktor yang menentukan kebutuhan gizi seseorang :


1. Ukuran
2. Usia
3. Jenis kelamin

10
4. Kegiatan sehari-hari
5. Kondisi tubuh tertentu
6. Lingkungan kerja

Permasalahan Gizi Tenaga Kerja

Kekurangan atau kelebihan energi sama-sama tidak baik untuk


keselamatan dan kesehatan kerja. Kekurangan energi terjadi bila konsumsi energi
melalui makanan kurang dari energi yang dibutuhkan / dikeluarkan oleh tubuh
akan mengakibatkan berat badan kurang dari berat badan seharusnya (ideal),
sedang bila konsumsi energi melebihi dari energi yang dibutuhkan/ dikeluarkan
tubuh, maka akan terjadi kegemukan yang akan menyebabkan gangguan dalam
fungsi tubuh dan merupakan resiko untuk menderita penyakit kronis seperti
diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung koroner, dan dapat memperpendek
harapan hidup.

Masalah yang dihadapi dalam memperbaiki keadaan gizi tenaga kerja


adalah kurangnya perhatian para pengusaha terhadap makanan yang diberikan
atau dikonsumsi. Permasalahan tersebut adalah:

 Perusahaan hanya memberikan uang makan tanpa menyediakan makanan

 Memberikan makanan tapi kurang seimbang

 Bagaimana memberikan makanan dan berapa yang harus diberikan serta


kapan makanan itu diberikan

Landasan Hukum Pelaksanaan Gizi Kerja


a. UU No. 1 th 1951 dan UU No. 12 th 1984 kondisi fisik tenaga kerja,
setelah bekerja terus menerus selama 4 jam
b. UU No.1 th 1970 keselamatan kerja
c. Peraturan mentri perburuhan No. 7 th 1964 syarat kesehatan, kebersihan
dan penerangan di tempat kerja
d. Surat edaran mentri tenaga kerja dan transmigrasi no. 01/MEN/1979
pengadaan kantin dan ruang makan

11
e. Peraturan mentri tenaga kerja dan transmigrasi No. 03/MEN/1982
pelayanan kesehatan kerja
f. Keputusan mentri tenaga kerja dan transmigrasi No. 608/MEN/1989 izin
penyimpangan waktu kerja, perusahaan yang mempekerjakan tenaga
kerja sembilan jam per hari wajib menyediakan makan dan minum 1400
kalori
g. Keputusan mentri koordinator bidang kesejahteraan rakyat
No.06/Kep/Menko/Kesra/VIII/1989 di mana program pangan dan gizi
yang berdimensi produktivitas kerja penanggung jawabnya dipercayakan
kepada Departemen Tenaga Kerja
h. Surat edaran Dirjen Binawas No. 86/BW/1989 tentang Catering Bagi
Tenaga Kerja
i. Instruksi Mentri Tenaga Kerja No. 03/Men/1999 peningkatan
pengawasan dan penertiban terhadap pengadaan kantin dan toilet
perusahaan

2. Sanitasi

Pengertian Sanitasi ada beberapa, yaitu:


a. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan
kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.
b. Upaya menjaga pemeliharaan agar seseorang, makanan, tempat kerja atau
peralatan agar hygienis (sehat) dan bebas pencemaran yang diakibatkan oleh
bakteri, serangga, atau binatang lainnya.
c. Menurut Dr.Azrul Azwar, MPH, sanitasi adalah cara pengawasan
masyarakat yang menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai
faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan
masyarakat.
d. Menurut Ehler & Steel, sanitation is the prevention of diseases by
eliminating or controlling the environmental factor which from links in the
chain of tansmission.

12
e. Menurut Hopkins, sanitasi adalah cara pengawasan terhadap faktor-faktor
lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan.
Dari beberapa pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang
menitikberatkan kegiatannya kepada usaha-usaha kesehatan lingkungan hidup
manusia. Sedangkan hygiene adalah bagaimana cara orang memelihara dan juga
melindungi diri agar tetap sehat.
Sanitasi termasuk usaha-usaha dan tindakan yang dilakukan untuk
mengubah secara langsung maupun tidak langsung pengaruh lingkungan yang
buruk bagi kesehatan manusia menjadi lingkungan yang menguntungkan. Sanitasi
perusahaan adalah tindakan-tindakan menciptakan kebersihan, menjaga kesehatan
dan memelihara kenyamanan lingkungan kerja di dalam perusahaan yang
memenuhi persyaratan hiperkes.
Dengan melaksanakan sanitasi, faktor-faktor buruk yang dapat
menimbulkan penyakit dapat dicegah dan dihilangkan. Program sanitasi dilakukan
untuk mendapatkan hasil yang efektif serta melibatkan seluruh jajaran personel di
dalam perusahaan.

a. Pengelolaan Limbah Cair


 Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga
tercapai kualitas yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk
menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiahnya.
 Pengelolaan air buangan dibagi menjadi 3 metode :
 Pengelolaan secara fisika, yaitu melalui proses flotasi
menyisihkan bahan yang mengapung (minyak,lemak),
dilanjutkan proses adsorbs atau reverse osmosis
 Pengelolaan secara kimia, yaitu dengan memberikan bahan
kimia tertentu yang diperlukan agar terjadi netralisasi muatan
dan koloid mudah diendapkan

13
 Pengelolaan secara biologi, yaitu dengan proses lumpur aktif
dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi dan dengan bioreaktor
film tetap
b. Pengendalian Pencemaran Udara
Pengendalian pencemaran udara dilakukan dengan ventilasi isap setempat,
atau scruber arus balik
c. Pengendalian Pencemaran Tanah
Limbah padat umumya dibuang dengan jalan ditanam dalam tanah.
Apabila tidak dapat dilakukan karena sifat racunnya, maka harus ditanam
di dalam tanah dengan dimasukkan terlebih dahulu ke dalam drum khusus
yang tidak akan hancur oleh air tanah. Penanganan yang lebih aman lagi
yaitu setelah dimasukkan ke dalam drum khusus, ditanam dalam tanah
dengan waduk beton yang dilapisi plastik.
d. Pengendalian Sampah Industri
Sampah sering dibuang dengan sistem dumping ini sangat merugikan
karena akan mengakibatkan terjadinya (1) pencemaran; (2) pengotoran; (3)
kekurangan O2; (4) mengganggu kesehatan; timbulnya berbagai macam
penyakit; (5) estetika kurang nyaman; (6) menimbulkan bau busuk.
Berdasarkan UU No: 18 tahun 2008 tentang sampah pada pasal (9) ayat
(1) penyelenggaraan pengelolaan sampah berupa penyediaan tempat
penampungan sampah, alat angkut sampah, tempat penampungan
sementara, tempat pengelolaan sampah terpadu, dan / atau tempat
pemrosesan terakhir sampah.

Ruang lingkup sanitasi antara lain:


a. Pengadaan air bersih untuk pendingin, pelarut, katalis, pembersih, penghasil
panas dan tenaga, keperluan tenaga kerja, dan pemadam kebakaran.
b. Pengadaan air minum yang bebas dari unsur kimia dan mikrobiologi dengan
proses penyaringan, pengendapan, menghilangkan partikel tersuspensi dan
koloid, penyaringan dan disinfeksi.
c. Penampungan air buangan:

14
a. air buangan kloset
b. air buangan bak mandi,wastafel,dapur
c. air hujan
d. air buangan yang mengandung gas,racun,dan bahan berbahaya
industry, laboratorium, atau rumah sakit.
d. Pembuangan sampah, berupa penyediaan tempat penampungan sampah,
alat angkut sampah, tempat penampungan sementara, tempat pengolahan
sampah terpadu, dan/atau tempat pemrosesan akhir sampah.
e. Penyediaan makanan dan minuman yang bebas dari zat-
zat/mikroorganisme yang membahayakan.
f. Bangunan / gedung
g. Pengawasan/ pembasmian serangga dan binatang mengerat,yaitu dengan
pengawasan fisik (pemukulan, kawat kasa, alat pendingin/pemanas
ruangan, mengaliri listrik), pengawasan kimiawi (pestisida), pengawasan
biologis (memanfaatkan musuh arthropoda dan rodentia), pengawasan
kultural (mengubah perilaku bersih sehingga tercipta lingkungan bersih
yang tidak menjadi tempat biakan arthropoda dan rodentia)
h. Penyediaan fasilitas kebersihan, antara lain tempat menyimpan pakaian
kerja, tempat cuci, tempat mandi, ruang makan / kantin
i. Ketatarumahtanggaan, yaitu dengan menjaga kebersihan fasilitas industri,
mengatur perkakas alat, penyimpanan fasilitas dan bahan.
j. Pengawasan terhadap pencemaran yang memenuhi standar lingkungan
kerja yaitu nilai ambang batas untuk faktor bahaya fisik, faktor bahaya
kimia, syarat kebersihan, penerangan, dan ventilasi udara.
Manfaat sanitasi meliputi:
a. Mencegah penyakit menular
b. Mencegah kecelakaan
c. Mencegah timbulnya bau tidak sedap
d. Menghindari pencemaran
e. Mengurangi jumlah presentasi sakit
f. Lingkungan menjadi bersih, sehat dan nyaman

15
BAB III
HASIL KUNJUNGAN

1. Profil Perusahaan
a. Identitas Perusahaan
- Nama Perusahaan : PT. Cambric GKBI Yogyakarta

16
- Jenis Perusahaan : Industri Garmen
- Alamat : Jl. Magelang KM 14,5 Yogyakarta
- Jumlah Tenaga Kerja : 710 orang
- Tanggal Kunjungan : 31 Agustus 2018
b. Bahan Produksi
- Bahan yang diperlukan
 Bahan baku :Benang
 Bahan tambahan : Kanji
- Mesin/ Peralatan yang digunakan
 Alat berat : Mesin Produksi (Mesin pemintal, Mesin
pengulung benang, Mesin rajut, Mesin pemutih), Forklift
 Alat ringan : Alat pemotong, Alat pengepakan
c. Proses Produksi
- Pemilihan bahan baku
- Proses Warping
Memindahkan benang dari gulungan bobbin menjadi gulungan
besar/beam.
- Proses Sizing
Memberikan lapisan kanji kepada benang agar lebih kuat dan tidak mudah
putus.
- Proses Drawing in
Proses pencucukan dimana benang-benang dimasukan kedalam dropper,
gun, sisir menjadi anyaman kain.
- Weaving
Proses pertenunan.
- Greige Inspecting
Memeriksa dan memberikan grade kualitas kain hasil tenun.
d. Barang Yang Dihasilkan
- Produk utama : kain mori
- Produk sampingan : kain potongan

17
e. Limbah :
- Padat (Ampas batu bara)
- Gas (panas, asap cerobong)
- Cair (air tersisa treatment, oli bekas, dll)

2. Gizi Kerja
a. Pemberian Makanan Tambahan Bagi TenagaKerja

Tidak ada makanan tambahan yang diberikan oleh perusahaan cambric


GKBI kepada pekerja/karyawan perusahaan. Dalam satu hari hanya
mendapatkan 1 kali jatah makan, yang dimana makanan yang diberikan
berupa makan besar (nasi dan lauk pauk).

b. Pemberian Makan Bagi TenagaKerja

Pada perusahaan cambric GKBI yang memiliki karyawan/pekerja


sebanyak 750 orang, telah disediakan satu kantin untuk kegiatan makan-
minum pekerja. Pada perusahaan ini diberikan makan besar (nasi dan lauk
pauk) sebanyak satu kali dan pada waktu yang berbeda-beda sesuai dengan
shift kerja yang berlaku di perusahaan ini dengan durasi istirahat selama
satu jam. Dengan perincian sebagai berikut:

Jam Istirahat
Jam Dinas
I II

Shift Pagi
09.00 – 10.00 10.00 – 11.00
06.00 – 14.00

Shift Siang
17.00 – 18.00 18.00 – 19.00
14.00 – 22.00

Shift Malam
01.00 – 02.00 02.00 – 03.00
22.00 – 06.00

Shift Normal
11.30 – 12.30
07.30 – 15.30

18
c. VariasiMenu

Menu makanan yang disajikan oleh kantin perusahaan bervariasi setiap


harinya, dan menu ini berulang setiap minggunya. Jadwal menu makanan
yang diberikan kepada pekerja adalah sebagai berikut:

Nasi putih, Bumbu rujak tahu dan tempe, Bergedel,


Senin
Rambak
Selasa Nasi putih, Kentaki ayam, Sayur sop, Kerupuk
Rabu Nasi putih, Sayur kare, Tempe mendoan, Rambak
Kamis Nasi putih, Sayur soto ayam, Tempe goreng, Kerupuk
Jum’at Nasi putih, Bakso, Kerupuk
Nasi putih, Sambal goreng tempe, Telor dadar,
Sabtu
Kerupuk
Minggu Nasi putih, Sayur sop, Tempe mendoan, Kerupuk

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa makanan yang diberikan secara garis
besar terdiri dari makanan kering dan makanan basah. Lauk-pauk didalam
menu makan cukup bervariasi, antara lain seperti tempe, tahu, telur,
daging sapi, serta daging ayam yang di olah menjadi aneka macam
masakan baik dalam bentuk makanan basah ataupun makanan kering.
Selain nasi dan lauk pauk, pekerja juga diberikan kerupuk sebagai
makanan pendamping. Selain makanan, pekerja juga diberikan minuman
seperti air putih dan atau teh manis yang dapat dikonsumsi sepuasnya.

d. Penyajian

Penyajian disediakan dalam bentuk perporsi dan sudah ditetapkan jumlah


lauk pauknya didalam satu piring atau mangkok keramik. Satu porsi terdiri
dari karbohidrat beruba nasi dan kerupuk sebagai makanan pendamping,
protein (tahu/tempe/daging sapi dalam bentuk olahan bakso/telur), serat
brupa sayur, dan minuman (air putih dan teh manis). Pemberian nasi
sebagai sumber karbohidrat yang telah diberikan oleh pihak kantin
perusahaan dapat dikonsumsi oleh pekerja sebanyak yang pekerja inginkan

19
(sepuasnya), tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk lauk-pauk yang telah
disajikan.

Dari observasi yang kami lakukan, didapatkan hasil bahwa seluruh


penyajian makanan untuk pekerja dilakukan oleh juru masak. Dalam
menyajikan makanan tersebut juru masak tidak memperhatikan
kebersihan, beberapa contohnya adalah juru masak tidak menggunakan
sarung tangan ataupun alat lain untuk menghindari kontaminasi langsung
dengan makanan (misal: plastik bening), tidak menggunakan masker,
celemek dan lap yang digunakan hampir semua terlihat kotor. Saat
memindahkan makanan pada panci masak ke wadah untuk dihidangkan,
juru masak menggunakan gayung mandi yang berbahan plastik dan terlihat
kotor.

e. KelengkapanGizi

Jenis makanan Komposisi Berat Total Kalori

Nasi Putih 200 gr 700


Tahu 40 gr 50
Sayur 20 gr 10
Makan Siang Bakso (3 buah) 31 gr 30
KeKrupuk 15 gr 138
Sambel 20 gr 7
Minyak kelapa 5 gr 31
Air putih 0
Total 966

f. Kecukupan Kalori
Kecukupan kalori karyawan pada perusahaan ini di evaluasi setiap bulan
oleh analis gizi. Tidak terdapat perbedaan jumlah kalori yang diberikan
pada pegawai administrasi maupun bagian produksi dan lainnya. Pekerja
yang bekerja melebihi 8 jam akan diberikan makanan tambahan.

20
Berikut adalah data diambil dari salah seorang pekerja pabrik Mr. M (43th)
dengan berat badan 70 kg.
Perhitungan kebutuhan kalori:
 Kebutuhan BMR = (11,6x70+879=1691 Kkal)
 Kebutuhan Kalori untuk aktifitas sedang = 1691x1,67=2823,97 Kkal
 Asupan kalori dalam 24 jam=2823,97+10%=3106,37 Kkal
 Kebutuhan asupan kalori sarapan pagi=3106,37x20%=621,27 Kkal
 Kebutuhan asupan kalori makan siang= 3106,37 x35%=1087,23 Kkal
 Kebutuhan asupan kalori makan malam= 3106,37 x25%= 776,59 Kkal
Dari hasil penghitungan kebutuhan kalori perorangan, dapat disimpulkan
kalori yang didapatkan dari jatah makanan yang disediakan tergolong
cukup.

g. Jenis atau Beban Kerja


Beban kerja karyawan pada perusahaan ini cukup bervariasi bergantung
pada bagian masing-masing karyawan. Mayoritas pekerja menggunakan
mesin dalam proses produksinya sehingga tenaga kerja di perusahaan ini
tergolong pada beban kerja sedang.
h. Pengelola Makan
Penyediaan makanan pada perusahaan ini dikelola sendiri oleh koperasi.
Pegawai yang mengelola makanan terdiri dari koki dan asistennya yang
berjumlah 10 orang pekerja. Para pekerja terbagi menjadi 3 shift, yaitu 5
orang pada shift pagi, 3 orang pada shift siang dan 2 orang pada shift
malam. Pengolahan makan dilakukan dalam jumlah besar dan apabila
terdapat sisa maka karyawan diperbolehkan mengambil sisa makanan. Sisa
makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi akan dimanfaatkan menjadi
pakan ternak.
i. Kantin Perusahaan
Perusahaan menyediakan tempat makan pada jam istirahat dimana setiap
karyawan diberikan jatah makan sesuai shift masing-masing. Kantin pada
perusahaan ini cukup luas dengan ukuran ± 30x20 m2. Didalamnya

21
disediakan 36 meja dan setiap meja terdapat 4-6 kursi. Pada bagian teras
kantin terdapat 2 buah wastafel dengan salah satunya terdapat sabun cuci
tangan dan lap. Minuman disediakan diluar ruangan dekat dengan tempat
sampah dan cenderung tidak higienis.

Gambar 1. Kantin Perusahaan dan fasilitasnya


j. Dapur
Perusahaan ini memiliki 1 dapur yang dibagi menjadi 3 ruangan yaitu
tempat mencuci peralatan dapur, tempat memasak dan tempat penyajian
makanan. Pada tempat pencucian peralatan terkesan tidak higienis dengan
lantai keramik yang licin. Di tempat memasak terdapat 2 tungku untuk
memasak nasi dan 2 tungku untuk memasak bahan lainnya. Ventilasi pada
dapur ini sangat kurang sehingga sirkulasi udara dalam ruangan tidak baik.
Atap di daerah dapur ini terlihat rapuh sehingga berisiko untuk mencelakai
para pekerja dan mempengaruhi higienitas makanan yang diolah. Para
pegawai melakukan peracikan bahan makanan pada tempat yang kurang
higienis. Lantai pada dapur ini juga terlihat sangat basah dan kotor
sehingga dapat mengakibatkan para pegawai terpeleset saat menyiapkan
makanan. Sedangkan, pada tempat penyajian terdapat kompor yang
terletak di tengah jalan untuk memanaskan makanan agar tetap hangat bila
disajikan. Hal ini cukup membahayakan karena dapat mengenai pegawai
yang melewati ruangan tersebut.

22
Gambar 2. Dapur kantin perusahaan

Gambar 3. Tempat penyajian makanan

Gambar 4. Tempat pencucian peralatan

23
Gambar 5. Atap di bagian dapur
2. Sanitasi Perusahaan
a. Kebersihan Perusahaan
Gedung Pabrik Cambric Gabungan Koperasi Batik Indonesiaterletak di
pinggir jalan besar yang cukup dekat dengan area pemukiman. Area
halaman tampak cukup bersih dan indah dengan adanya pohon-pohon
yang rindang.Luas lahansebesar 5 hektardengan pembagian 2,5-3 hektar
untuk gedung produksi. Jumlah tenaga kerja sebanyak 710 orang. Secara
umum, gedung perkantoran tampak terpelihara, kokoh, dan bersih.
Kondisi dinding pada gedung ini kering dan tidak lembab. Dinding dicat
dengan warna putih. Namun, untuk gedung produksi tampak tidak
terpelihara, dan kotor. Pada langit-langit gedung produksi terdapat
gumpalan debu, dan terdapat plavon yang berlubang. Sisa kapas
produksi tampak menggumpal di mesin, lantai, maupun di dinding dan
atap. Berdasarkan info narasumber, dinding dibersihkan tiap akhir
minggu oleh pekerja dan dicat setiap tahun saat perayaan hari
kemerdekaan, serta direnovasi berkala.Namun, pada pengamatan
dinding tampak kotor, cat terkelupas, dan lembab.

Gambar 6. Kondisi di dalam gedung PC. GKBI

24
Lantai gedung produksi berbahan kuat dan keras dan tahan air, namun
permukaan tidak rata dan ditemukan beberapa bagian yang pecah.
Kebersihan gedung menjadi tanggung jawab pekerja di gedung tersebut
tanpa adanya petugas khusus.

Gambar 7. Tempat sampah serta alat kebersihan

Tidak terdapat tempat sampah yang dilabel untuk sampah organik,


non-organik, dan sampah berbahaya. Hanya terdapat satu jenis tempat
sampah di beberapa lokasi, berwarna biru,tidak berlabel. Tempat sampah
tersebut berbahan plastikdan drum yang kedap air dan tidak terdapat
penutup tempat sampah. Pengelolaan sampah tidak dibakar, namun
diserahkan ke badan pengelolaan dari luar perusahaan.
Halaman gedung bersih, rapi, tidak becek, dan cukup luas untuk lalu
lintas orang dan barang. Terdapat saluran air di sekitar gedung yang tidak
ditutupi dan tidak tersumbat.
b. Kerapian/Keindahan Perusahaan

Keindahan dan kerapian pabrik dari luar tampak indah dan bersih.
Kondisi lingkungan juga terasa sejuk dengan pepohonan. Mesin produksi
yang berjumlah 496 buah tampak tertata dengan rapi. Jarak mesin antar mesin
kurang dari 2 meter. Keadaan ruangan pabrik tampak tidak bersih dan tidak
tertata rapi. Banyak debu dan sarang laba-laba di dalam area pabrik, kabel

25
listrik tidak tersusun rapi, selang pembersih tampak melintang di lantai.

Gambar 8. Ruang kerja sempit

c. Mandi Cuci Kakus


Pada ruang produksi, terdapat enam buah toilet untuk 60 pekerja.
Toilet berada dalam ruang kamar mandi dengan sekat yang tertutup bagian
atasnya, berdampingan dengan ruang wudhu. Terdapat air bersih pada toilet
dan pembuangan air mengalir dengan baik. Terdapat pintu, dan penerangan
yang cukup, dan ventilasi udara baik.Masing-masing toilet memiliki
panjang sekitar 150 cm, dengan lebar sekitar 120 cm, dan tinggi dinding
sekitar 250 cm, dan lebar pintu sekitar 70 cm. Pada, toilet terdapat jamban
jongkok dengan air bersih yang cukup, alat pembilas tersedia disetiap toilet.
Kondisi toilet kotor dan berbau, namun tidak terlihat serangga. Hanya
disediakan satu tempat sampah yang terletak di luar toilet. Tidak terdapat
tempat pembuangan pembalut. Tidak terdapat tempat cuci tangan ataupun
botol sabun. Toilet tidak dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan, serta
tidak terdapat toilet untuk penyandang cacat. Lantai basah, licin dan
berlumut. Toilet tidak dibersihkan setiap hari karena tidak petugas khusus.
Kebersihan toilet menjadi tanggung jawab pekerja gedung tersebut.

26
Gambar 9. Toilet dan kakus terlihat kotor

d. Site Plan

Gedung produksi tidak memiliki denah ataupn jalur produksi. Hanya


terdapat maket perusahaan di gedung utama/kantor.

Gambar 10. Maket perusahaan

e. Penerangan
Penerangan umum ruangan dinilai cukup, namun di sekitar mesin tidak
terdapat penerangan lokal. Tidak terdapat lampu penanda jalur evakuasi
pada gedung ini.

Gambar11. Penerangan dalam pabrik

27
28
f. Penyediaan air
Penyediaan air bersih menggunakan sumber dari sumur bor dan sungai
umum di lingkungan pabrik. Air dari kedua sumber ini ditampung dalam sebuah
area sumber air yang terdapat tumbuhan enceng gondok sebagai salah satu media
pembersih air. Dilakukan pemeriksaan air sumur tiap bulan oleh BBTKLPP. Hasil
pemeriksaan air sumur bulan lalu menunjukkan kualitas air sumur baik. Air bersih
dari sumber ini digunakan untuk keperluan proses industri dan MCK. Sedangkan
untuk kebutuhan air minum dan kantin terdapat sumur tersendiri.

Gambar 12. Atap di bagian dapur

Gambar 13.Sumber air perusahaan dari sungai dan sumur bor

g. Industri Pengolahan Limbah

Limbah sisa bahan produksi terdiri dari limbah padat,gas dan cair. Limbah padat
terdiri dari ampas batu-bara hasil sisa mesin pemutih, sisa kapas hasil produksi,
dan limbah sisa kantin perusahaanyang disimpan di tempat terbuka. Hasil limbah
padat ini dijual untuk diolah kembali, bekerjasama dengan PT. Putra Restu Ibu
Abadi Mojokerto dan TPA di Semarang yang diambil seminggu dua kali.Limbah

29
gas terdiri dari hasil pembakaran dan panas hasil produksi berupa CO2 dibuang
langsung melalui cerobong asap.Cara penanganan limbah gas ini salah satunya
dengan cara menanam pohon untuk mengganti CO2 yang dilepaskan ke udara
bebas. Limbah cair terdiri dari sisa buanganproduksi dan kegiatan pada
lingkungan pabrik seperti kantin dan MCK. Limbah cair diolah terlebih dulu
dalam bak-bak penampungan sesuai dengan gambar, agar tidak berbau dan
berbahaya bagi lingkungan. Setelah itu, dialirkan kesungai. Air hasil pengolahan
limbah diperiksa di laboratorium berkala.

Gambar 14: Diagram Instalasi IPAL


Pembahasan Sanitasi
Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor
5 tahun 2018 yang mengatur mengenai keselamatan dan kesehatan kerja pasal 2,
setiap perusahaan atau tempat kerja wajib melaksanakan syarat-syarat
keselamatan kesehatan kerja di lingkungan kerja. Salah satunya adalah dengan
menyediakan fasilitas kebersihan atau higiene di tempat kerja. Hal tersebut
bertujuan untuk mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan
nyamandalam rangka mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
 Kebersihan dan Kerapian Perusahaan
Penerapan higiene dan sanitasi diatur pada Bab III Permenaker No. 5 tahun
2018 bagian satu mengatur mengenai bangunan tempat kerja yang meliputi
halaman, gedung, dan bangunan bawah tanah. Halaman sebagaimana diatur pada
pasal 27 harus bersih, tertata rapi, dan tidak becek serta cukup luas untuk lalu
lintas orang dan barang. Jika terdapat saluran air pembuangan pada halaman,

30
maka saluran harus tertutup dan terbuat dari bahan yang cukup kuat serta air
buangan harus mengalir dan tidak boleh menggenang.
Halaman pada perusahaan secara umum bersih, tertata rapi, rata, tidak
becek, serta cukup luas untuk lalu lintas orang dan barang. Mesin pabrik tertata
rapi, namun area pabrik secara umum terlihat kotor, berdebu, dan becek.
Pada pasal 28, diatur mengenai penerapan higiene dan sanitasi pada gedung
yang meliputi dinding dan langit-langit, atap, serta lantai. Hal tersebut
dimaksudkan untuk memastikan gedung dalam kondisi terpelihara dan bersih,
kuat dan kokoh, dan cukup luas sehingga memberikan ruang gerak paling sedikit
2 meter persegi per orang. Ruang gerak pekerja sempit, kurang dari 2 meter
sehingga tidak sesuai peraturan. Dinding tampak kokoh, namun kotor.
Dalam hal dinding dan langit-langit gedung diatur dalam pasal 29 yang
mengatakan bahwa dinding dan langit-langit bangunan harus kering, dicat dan
mudah dibersihkan, dan dibersihkan paling sedikit satu kali dalam setahun.
Gedung yang kami kunjungi memiliki dinding dan langit-langit yang belum
memenuhi syarat yang tertera di pasal 29, di antaranya tampak kotor dan cat
terkelupas, meskipun pihak perusahaan menyatakan bahwa pembersihan dan
pengecatan ulang dinding dilakukan secara rutin dan berkala.
Peraturan mengenai syarat-syarat lantai dalam gedung perusahaan diatur
dalam pasal 30, yang menyatakan bahwa lantai pada gedung perusahaan harus:
terbuat dari bahan yang keras, tahan air dan tahan dari bahan kimia yang merusak;
datar, tidak licin, dan mudah dibersihkan; serta lantai harus dibersihkan secara
teratur. Dalam hal ini perusahaan sudah mengikuti sebagian aturan yang tertera
pada pasal 30. Hanya lantai masih ada yang tidak rata dan licin.Tanggung jawab
kebersihan masing-masing gedung dilimpahkan pada tiap pekerja, namun
kesadaran akan kebersihan dinilai masih kurang.
Atap gedung perusahaan diatur dalam pasal 31 yang berbunyi bahwa atap
gedung perusahaan harus dapat memberikan perlindungan dari panas matahari dan
hujan, serta tidak bocor, berlubang dan berjamur. Dalam hal ini gedung yang kami
kunjungi belum memenuhui persyaratan yang tertera pada pasal 31 di mana masih
ditemukan atap yang berlubang.

31
Pembuangan sampah diatur dalam Undang-undang nomor 18 tahun 2008.
Pada pasal 9 ayat (1) disebutkan bahwa penyelenggaraan pengelolaan sampah
berupa tempat penampungan sampah, alat angkut sampah, tempat penampungan
sementara, tempat pengelolaan sampah terpadu dan pemroses terakhir sampah.
Pada pasal 13 tertulis bahwa pengelola kawasan spesifik seperti industri wajib
menyediakan tempat pemilahan sampah yang diatur oleh pemerintah setempat.
Berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Sleman nomor 4 tahun 2015 pasal 30
hingga 31, disebutkan bahwa produsen boleh mengelola sampah sendiri atau
bekerja sama dengan pihak pengelola sampah mandiri dengan syarat menyediakan
tempat pemilahan sampah (TPS) secara jelas. Selain itu, pada pasal 37 butir (2)a
disebutkan bahwa pemilahan sampah harus minimal diberi label sebagai
“Organik”, “Non-Organik” dan “Bahan berbahaya.” Dari hasil observasi, PC.
GBKI belum memiliki tempat pemilahan sampah, sehingga dalam
penyelenggaraan pengelolaan sampah masih belum optimal, namun pengolahan
lebih lanjut diserahkan kepada badan pengelolaan sampah dari pihak luar.

 Mandi Cuci Kakus


Bagian kedua Permenaker No. 5 tahun 2018 tentang fasilitas kebersihan
pasal 33 mengatur bahwa fasilitas kebersihan harus disediakan pada setiap tempat
kerja. Fasilitas kebersihan paling sedikit meliputi toilet dan kelengkapannya; loker
dan ruangan ganti pakaian; tempat sampah dan peralatan kebersihan. Fasilitas
kebersihan berupa toilet, loker, ruang ganti pakaian, tempat sampah serta alat
kebersihan seperti sapu telah disediakan oleh perusahaan. Namun, terdapat
beberapa hal yang perlu ditinjau lebih lanjut mengenai fasilitas kebersihan
tersebut.
Toilet di lingkungan kerja harus memenuhi syarat sebagai berikut, yaitu
bersih dan tidak menimbulkan bau, tidak ada lalat, nyamuk, atau serangga yang
lainnya; tersedia saluran pembuangan air yang mengalir dengan baik; tersedia air
bersih; dilengkapi dengan pintu; memiliki penerangan yang cukup; memiliki
sirkulasi udara yang baik; dibersihkan setiap hari secara periodik dan dapat
digunakan selama jam kerja. Kelengkapan fasilitas toilet paling sedikit meliputi

32
jamban, air bersih yang cukup, alat pembilas, tempat sampah, tempat cuci tangan,
dan sabun. Penempatan toilet antara laki-laki, perempuan, dan penyandang cacat
harus terpisah serta diberikan tanda yang jelas.
Kondisi toilet di gedung produksi kotor dan bau, meskipun tidak terlihat
serangga di sekitar jamban. Sirkulasi udara dinilai baik. Tidak terdapat sabun di
toilet. Pada PC. GKBI tidak ada petugas kebersihan, sehingga tidak ada yang
membersihkan toilet setiap hari secara berkala. Selain itu, toilet tidak dibedakan
antara laki-laki dan perempuan. Toilet untuk penyandang cacat juga tidak tersedia.
Untuk jumlah toilet, ketentuannya berdasarkan pasal 34, sebagai berikut,
yaitu: untuk satu sampai 15 orang dibutuhkan satu jamban; 16-30 orang
dibutuhkan dua jamban; 31-45 orang dibutuhkan tiga jamban; 46-60 orang
dibutuhkan empat jamban; 61-80 orang dibutuhkan lima jamban; 81-100 orang
dibutuhkan enam jamban; diatas 100 orang, setiap penambahan 40 orang
ditambah satu jamban. Pada gedung produksi dengan 60 orang tenaga kerja,
terdapat 6 toilet. Berdasarkan ketentuan, jumlah toilet sudah cukup.
Pasal 35 mengatur mengenai ukuran ruang toilet sebagai mana berikut, yaitu
paling sedikit berukuran panjang 80 cm, lebar 155 cm, dan tinggi 220 cm, dengan
lebar pintu 70 cm. Seluruh toilet yang ada di dalam gedung produksi telah
memenuhi ketentuan luas toilet.
 Site Plan
Tidak didapatkan site plan atau alur proses produksi pada perusahaan,
sehingga tidak bisa dilakukan evaluasi mengenai efisiensi dan efektivitasnya.
Namun, terdapat maket pabrik di gedung kantor utama.
 Penerangan
Pengukuran dan pengendalian pencahayaan diatur dalam pasal 16 Peraturan
Menteri Tenagakerja No. 5 tahun 2018. Pencahayaan meliputi pencahayaan alami
dan atau pencahayaan buatan. Pencahayaan alami merupakan pencahayaan yang
dihasilkan oleh sinar matahari. Penerangan di dalam gedung produksi dinilai
cukup dan sudah sesuai aturan.
 Penyediaan Air Bersih

33
Pada PC GKBI, terdapat air bersih yang bersumber dari sumur bor dan
sungai untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK) dan produksi serta sumur
tersendiri sebagai air kebutuhan masak dan minum. Berdasarkan Peraturan
Menteri Perburuhan nomor 7 tahun 1964 pasal 8 butir (4), air untuk konsumsi
pekerja tidak boleh berbau dan harus segar, harus bening, tidak berasa dan tidak
mengandung garam berbahaya juga tidak boleh mengandung unsur binatang
maupun bakteri yang berbahaya. Poin-poin tersebut dapat dipastikan dengan
laboratorium kesehatan daerah setempat. Penyediaan air minum bagi pekerja
selalu diperiksa tiap 6 bulan sekali untuk memeriksa apakah kandungannya baik
para pekerja. Hal ini sesuai dengan PMP no. 7 tahun 1964 khusus penyediaan air
minum pekerja.
Sumber daya air industri disebutkan pada Undang-undang nomor 7 tahun
2004 pasal 42 berguna untuk kebutuhan pengelolaan dan eksplorasi industri sesuai
dengan peraturan pemerintah pusat maupun daerah. Pada Peraturan Menteri
Ketenagakerjaan nomor 5 tahun 2018 kebersihan adalah bebas dari kotoran dan
tidak bercampur dengan unsur atau zat lain yang berbahaya (pasal 1 butir 28).
Pada peraturan Menteri lingkungan hidup nomor 5 tahun 2015 pasal 16, semua
usaha wajib untuk memantau hasil pengolahan air industri minimal 1 bulan sekali.
Pemeriksaan air dari sumur oleh PT. PC GKBI dilakukan setiap 1-2 kali sebulan
sehingga penyediaan air bersih untuk pekerja sudah dilaksanakan sesuai undang-
undang.
 Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL)
Menurut Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 pasal 1 air limbah
merupakah hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair. Pada peraturan
pemerintah (PP) yang sama dengan pasal 37 diharapkan pengusaha mengelola
limbah cair untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran air pada lingkungan
industri dan sekitarnya dengan diatur pemerintah daerah setempat (pasal 29).
Untuk mengetahui keamanan pengolahan limbah cair dapat dilihat pengaruhnya
pada pembudidayaan ikan, hewan dan tanaman, kualitas tanah dan air tanah, dan
kesehatan masyarakat sesuai pasal 41 ayat (2). Sementara itu, Pemerintah Daerah
Kabupaten Sleman nomor 4 tahun 2007 pasal 10 menyatakan bahwa hasil dari

34
IPAL harus diperiksa kadar zat sisa limbah setiap 1 bulan sekali dan pasal 11
menyatakan bahwa hasil pemeriksaan IPAL harus dilaporkan pada pemerintah
setempat minimal 3 bulan sekali. Pada PC GKBI, diketahui bahwa hasil dari IPAL
diolah kembali. Selain itu, hasil air dari IPAL digunakan untuk menyiram
tanaman, sumber air hydrantsekitar, dan sebagian dibuang ke sungai. Ini berarti
bahwa hasil dari IPAL PC GKBI tidak memiliki pengaruh buruk pada tanaman
dan hewan serta lingkungan sesuai dengan PP no. 82 tahun 2001 pasal 41 ayat (2).
Dilaporkan juga bahwa kadar zat IPAL PCGKBI diperiksakan pada laboratorium
kerja sama setiap sebulan sekali yang berarti PT. GKBI mengikuti Perda
Kabupaten Sleman No. 4 tahun 2007 pasal 10. Untuk pelaporan hasil pemeriksaan
laboratorium IPAL PCGKBI dikatakan juga sesuai dengan Perda Kabupaten
Sleman no. 4 tahun 2007 yaitu per tiga bulan sekali.

35
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kunjungan ke PC. Gabungan Koperasi Batik Indonesia,
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut, yaitu :
1) Sanitasi industri pada lingkungan perusahaan dinilai masih kurang karena
belum memenuhi standar sesuai Permenaker no 5 tahun 2018. Hal tersebut
terlihat dari lingkungan perusahaan yang kotor dan kurang terawat.
2) Kebersihan dan sarana prasarana MCK dan tempat sampah sangat kurang.
3) Terjadi defisit antara kalori yang dibutuhkan oleh pekerja dengan asupan
kalori yang dimakan. Menu yang disajikan kurang bervariasi dan belum
menyertakan buah-buahan pada menu makanannya. Ditambah lagi jadwal
makanan yang dibuat oleh pihak kantin pabrik hanya diganti setiap bulan.
Cara penyajian makananuntuk pekerja tidak bersih dan dapur yang berada
tepat dibelakang kantin juga terlihat kurang bersih, gelap, bau, dan licin.

2. Saran
Berdasarkan hal tersebut, maka kami menyarankan hal-hal di bawah ini :
1) Pengecatan gedung dilakukan secara menyeluruh, baik di dalam
maupun di luar gedung dan dilakukan perawatan berkala.
2) Menyediakan petugas khusus kebersihan, meliputi area produksi,
halaman, dan toilet.
3) Menyediakan toilet terpisah bagi pekerja laki-laki dan perempuan,
pengadaan loker, sabun, dan wastafel di area produksi.
4) Menyediakan tempat sampah yang terpilah, minimal diberi label
sebagai “Organik”, “Non-Organik” dan “Bahan berbahaya” dengan
jumlah yang cukup.Diperlukan penyediaan kantin dan ruang makan
yang memadai.
5) Diperlukan perbaikan tempat pengelolaan limbah.

36
6) Penambahan variasi menu makanan, dan penggantian jadwal makanan
dapat dilakukan tiap 10 hari.
7) Penambahan menu buah-buahan.
8) Pemaikaian sarung tangan, masker, lap serta celemek yang bersih
untuk menunjang kebersihan penyajian makanan.
9) Pemberian pengesat kaki yang terbuat dari bahan karet dibagian dapur.

37