Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istilah eksema (eczema, dari Bahasa Yunani yang berarti ‘merebus’) dan
dermatitis merupakan sinonim. ‘Eksema atopik’ sama dengan ‘dermatitis
atopik’ dan ‘eksema seboroik’ sama dengan ‘dermatitis seboroik’.
Eksema/dermatitis merupakan sejenis pola reaksi peradangan kulit yang bisa
dicetuskan oleh berbagai faktor baik eksternal maupun internal
Sistem klasifikasi yang biasa digunakan untuk mengelompokkan
penyakit eksema yaitu kelompok eksema ‘endogen’ yang disebabkan oleh
agen eksema internal dan kelompok ‘eksogen’ yang disebabkan oleh agen
eksema eksternal Salah satu kelompok eksema ‘eksogen’ yang sering dijumpai
terjadi pada masyarakat adalah penyakit dermatitis kontak alergi.
Istilah dermatitis kontak alergi digunakan untuk menyebut
hipersensitivitas tipe IV (tipe lambat, seluler) terhadap alergen lingkungan
Beberapa zat kimia merupkan alergen yang cukup kuat, yang dengan sekali
paparan bisa menyebabkan terjadinya sensitisasi, sedangkan sebagian besar
zat kimia lain memerlukan paparan berulang-ulang sebelum timbul sensitisasi.
Mungkin saja paparan alergen telah berlangsung bertahun-tahun, namun
secara mendadak baru terjadi hipersensitivitas.
(Graham & Burns, 2009).

1
B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi eksema ?


2. Bagaimana klasifikasi eksema ?
3. Bagaimana etiologi eksema?
4. Bagaimana manifestasi klinis eksema ?
5. Bagaimana patofisiologi eksema?
6. Bagaimana pathways eksema ?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang eksema?
8. Bagaimana penatalaksanaan eksema?
9. Bagaimana komplikasi eksema?
10. Bagaimana konsep asuhan keperawatan eksema ?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep asuhan keperawatan eksema.
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan definisi eksema.
b. Menjelaskan klasifikasi eksema.
c. Menjelaskan etiologi eksema.
d. Menjelaskan manifestasi klinis eksema.
e. Menjelaskan patofisiologi eksema.
f. Menjelaskan pathways eksema.
g. Menjelaskan pemeriksaan penunjang eksema.
h. Menjelaskan penatalaksanaan eksema.
i. Menjelaskan komplikasi eksema.
j. Menjelaskankonsep asuhan keperawatan eksema.

2
D. MANFAAT
1. Bagi mahasiswa
Diharapkan mahasiswa dapat menambah pengetahuan dan ketrampilan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien Eksema.
2. Bagi masyarakat
Diharapkan mahasiswa dapat memberikan pengetahuan atau informasi
kepada masyarakat tentangEksema. dan bagaimana cara penanganannya.
3. Bagi tenaga kesehatan
Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan
dan pendidikan kesehatan Eksema pada klien.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Dermatitis atau Eksema adalah suatu peradangan menahun pada
lapisan atas kulit yang menyebabkan rasa gatal. Pada umumnya Dermatitis
juga disertai dengan tanda-tanda seperti terbentuknya bintik yang berisi cairan
(bening atau nanah) dan bersisik.
(Smeltzer, Suzanne C. 2009 )
Dermatitis atau Eksema adalah suatu kondisi umum yang biasanya
tidak mengancam jiwa atau menular. Tapi kondisi ini dapat membuat
seseorang merasa tidak nyaman dan percaya diri. Langkah perawatan diri dan
obat-obatan dapat membantu mengobati penyakit dermatitis.
(Widhya. (2011).
Dermatitis atau Eksema adalah istilah umum yang menggambarkan
suatu peradangan pada kulit. Ada berbagai jenis dermatitis, termasuk
dermatitis seboroik dan dermatitis atopik (eksim). Meskipun gangguan
tersebut dapat memiliki banyak penyebab dan terjadi dalam berbagai bentuk,
gambaran klinis yang ditimbulkan antara lain bengkak, memerah dan kulit
gatal.
(Muttaqin, Arif. 2011)
Dermatitis atau Eksema adalah istilah yang luas yang mencakup
berbagai gangguan yang semua mengakibatkan ruam, merah gatal. Beberapa
jenis dermatitis hanya mempengaruhi bagian tertentu dari tubuh, sedangkan
yang lain dapat terjadi di mana saja. Beberapa jenis dermatitis memiliki
penyebab yang diketahui, sedangkan yang lainnya tidak. Namun, penyakit
dermatitis atau Eksema selalu berhubungan dengan kulit yang bereaksi
terhadap kekeringan berat, menggaruk, zat iritasi, atau alergen. Biasanya,
substansi yang datang dalam kontak langsung dengan kulit, tetapi kadang-
kadang substansi juga datang karena ditelan (seperti alergi makanan). Dalam
semua kasus, menggaruk terus menerus atau menggosok akhirnya dapat
menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit.

4
B. Klasifikasi
klarifikasi penyakit eksim, yaitui :
1. Atopik eksim
Adalah penyakit alergi yang diyakini memiliki komponen turun-temurun
dan sering berjalan dalam keluarga yang juga memiliki demam dan asma.
Ruam gatal terutama terlihat pada kepala dan kulit kepala, leher, dalam
siku, di belakang lutut, dan pantat.
2. Xerotic eksim
Adalah kulit kering yang menjadi begitu serius ternyata ke eksim. Itu
memburuk di musim dingin yang kering, dan anggota badan dan batang
paling sering terpengaruh.Gatal, lembut kulit menyerupai tempat tidur
sungai kering, retak.Gangguan ini sangat umum di antara penduduk yang
lebih tua.
3. Ichthyosis adalah suatu kelainan yang terkait.
Adalah suatu kondisi yang kadang-kadang diklasifikasikan sebagai bentuk
eksim yang terkait erat dengan ketombe. Menyebabkan kering atau
berminyak mengupas kulit kepala, alis, dan wajah, dan kadang-kadang
batang.
4. Dyshidrosis
Hanya terjadi di telapak tangan, Sol, dan sisi jari tangan dan kaki. Benjolan
buram kecil disebut vesikel, bahan, dan celah-celah yang disertai dengan
gatal-gatal, yang parah di malam hari.Jenis umum tangan eksim, itu
memburuk dalam cuaca hangat.
5. Vena eksim
Terjadi pada orang dengan gangguan sirkulasi, varises dan edema, dan
sangat umum di wilayah pergelangan kaki orang-orang lebih dari 50. Ada
kemerahan, scaling, kulit yang menjadi gelap dan gatal. Gangguan
predisposes untuk kaki ulcers.
6. Dermatitis herpetiformis
Menyebabkan ruam sangat gatal dan biasanya simetris pada lengan, paha,
lutut, dan kembali. Langsung berhubungan dengan penyakit celiac, sering
dapat dimasukkan ke dalam pengampunan dengan diet yang tepat, dan
cenderung memburuk pada malam hari.

5
7. Neurodermatitis
Adalah sebuah kawasan yang gatal patch eksim menebal, pigmen yang
dihasilkan dari kebiasaan menggosok dan menggaruk. Biasanya hanya ada
satu tempat.Sering dapat disembuhkan melalui Modifikasi perilaku dan
obat-obatan anti-inflamasi.Prurigo nodularis adalah gangguan terkait yang
menampilkan beberapa benjolan.
8. Autoeczematization
Adalah sebuah reaksi eczematous infeksi dengan parasit, fungi, bakteri atau
virus. Ini benar-benar dapat disembuhkan dengan kliring infeksi asli yang
menyebabkannya.Penampilan bervariasi tergantung pada penyebab.Itu
selalu terjadi jarak tertentu dari infeksi asli.
(Harahap, 2010.)

C. Etiologi

Penyebab dari eksim sebenarnya belum diketahui dengan pasti, namun


beberapa ahli mencurigai eksim berhubungan dengan aktifitas daya pertahanan
tubuh (imun) yang berlebihan. Hal ini menyebabkan tubuh mengalami reaksi
berlebihan terhadap bakteri atau iritan yang sebenarnya tidak berbahaya pada
kulit. Oleh karena itu, eksim banyak ditemukan pada keluarga dengan riwayat
penyakit alergi atau asma.
Tiap – tiap orang mempunyai pencetus eksim yang berbeda beda. Ada
orang yang setelah memegang sabun atau deterjen akan merasakan gatal yang
luar biasa, ada pula yang disebabkan oleh bahan atau alat rumah tangga yang
lain. Gejala yang timbul pun bervariasi, ada yang gatalnya ringan tetapi rasa
panas yang dominan, ada pula yang sebaliknya. Infeksi saluran nafas bagian
atas atau flu juga bisa menjadi pencetus timbulnya eksim. Stress yang dialami
penderita akan membuat gejala menjadi lebih buruk.
Meskipun penyembuhan eksim sangat sulit dilakukan, namun pada
banyak kasus, pasien dapat mengurangi terjadinya kekambuhan dengan
melakukan pengobatan yang tepat dan menghindari iritan/alergen yang
menyebabkan eksim. Perlu diingat, penyakit ini tidak menular dan tidak akan
menyebar dari satu orang ke orang yang lain.

6
Penyebab dermatitis kadang–kadang tidak diketahui sebagian besar
merupakan respon kulit terhadap agen-agen yang beraneka ragam,
misalnya

1. Zat kimia, protein, bakteri, dan fungus


2. Alergi terhadap debu, serbuk sari tanaman / bulu hewan
3. Alergi / toleransi terhadap makanan tertentu
4. Pemakaian kosmetik dan perhiasan imitasi ( bahan kimia lainnya )
5. Virus dan infeksi lain

Penyebab tidak diketahui. Biasanya merupakan manifestasi sekunder


dari adanya pruritus atau garukan pada kulit yang sensitif. Keadaan yang dapat
mengawali timbulnya eksema adalah sebagai berikut:

1. Kulit yang kering akibat cuaca dingin


2. Berkeringat akibat panas atau udara yang lembab
3. Kontak kulit dengan makanan/bahan makanan tertentu, misalnya terkena
tumpahan jus tomat atau jus jeruk.
4. Bahan pakaian yang iritatif
5. Sabun tertentu
6. Stress.

Menurut Harahap (2010), karena lokalisasinya di tempat yang banyak


berkeringat (hiperhidrosis), diduga keringat sebagai penyebabnya
(dishidrotik). Penderita juga mempunyai riwayat kecenderungan atopy
(eksema, asma, hay fever dan rinitis alergika).
Penyebab dyshidrotic eczema belum diketahui dengan pasti.
Dyshidrotic eczema sering timbul bersamaan dengan penyakit kulit lain
misalnya dermatitis atopik, dermatitis kontak, alergi terhadap bahan metal,
infeksi dermatofita, infeksi bakteri, lingkungan dan stres. ada beberapa faktor
yang mungkin berperan dalam menyebabkan dyshidrotic eczema dan
pompholyx, yaitu:

7
1. Faktor genetik : Kembar monozigot dapat secara serentak dipengaruhi oleh
dyshidrotic eczema.
2. Atopy : Sebanyak 50% pasien dengan dyshidrotic eczema dilaporkan baik
secara personal maupun keluarga mempunyai atopy diatesis (eksema,
asma, hay fever, rinitis alergika)
3. Serum IgE akan meningkat, sekalipun pasien dan keluarga tidak
mempunyai riwayat atopy.
4. Dyshidrotic eczema bisa merupakan manifestasi awal dari diatesis atopy.
5. Sensitif terhadap nikel : Ini mungkin faktor yang signifikan dalam
dyshidrotic eczema namun mempunyai jumlah yang rendah, sedangkan
dalam beberapa studi lain dilaporkan adanya peningkatan terhadap
sensitifitas terhadap nikel.
6. Diet rendah nikel : Hal ini dilaporkan dapat menurunkan frekuensi dan
keparahan dari dyshidrotic eczema.
7. Reaksi id : Timbulnya dyshidrotic eczema tidak selalu berhubungan
dengan paparan bahan kimia yang peka atau metal (misalnya kromium,
kobalt, karbomix, fragande mix, diaminodiphenylmethana, parfum,
fragrances dan balsem dari Peru).
8. Infeksi jamur.
9. Stres emosi : Merupakan faktor yang paling memungkinkan menyebabkan
dyshidrotic eczema. Banyak pasien melaporkan adanya pompholyx
berulang selama periode stres. Perbaikan dyshidrotic eczema
menggunakan biofeedback untuk mengurangi stres.
10. Faktor lain : Faktor yang dilaporkan bisa menyebabkan dyshidrotic
eczema antara lain rokok, kontrasepsi oral, aspirin dan implan metal.

D. Manifestasi klinis
1. Rasa panas dan dingin yang berlebihan pada bagian kulit yang terkena
eksim.
2. Rasa gatal terutama terasa pada malam hari.
3. Akan tampak lepuhan-lepuhan kecil dan kulit bersisik yang keras pada
permukaan kulit yang akan disertai dengan pembengkakan.
4. Eksim akan sangat cepat sekali penularannya pada kulit yang lain.

8
5. Eksim dapat dibedakan menjadi 2 yaitu eksim kering dan eksim basah.
Eksim kering akan tampak pada kulitnya kering, bersisik, kemerah-
merahan, kadang-kadang bengkak, dan terasa gatal. Sedangkan pada eksim
basah kulitnya akan tampak merah, bengkak, melepuh, dan basah, timbul
bintil-bintil yang mengandung air atau nanah yang menimbulkan rasa gatal.
6. Daerah-daerah yang sering terjangkit penyakit eksim adalah : pada sela-sela
jari tangan atau kaki, dan daerah-daerah lipatan tubuh, seperti sela paha,
belakang lutut, pergelangan tangan, dan daerah sekitar leher. Penyakit
eksim sering terjadi secara berulang-ulang atau kambuh, oleh karena itu
harus diperhatikan untuk menghindari hal-hal atau bahan-bahan yang dapat
menimbulkan alegi (alergen).
(Harahap (2010),

E. Patofisiologi
Eksim kulit merupakan kelainan lokal pada kulit yang dikaitkan dengan
reaksi tubuh terhadap beberapa faktor luar.Penyebab eksim kulit hingga kini
belum terdeteksi secara pasti, tapi ditengarai eksim kulit berhubungan dengan
reaksi imunitas tubuh seseorang. Jenis penyakit ini jamak ditemui di
Indonesia, pada bayi sering juga disebut dengan ruam susu dan ruam popok.
Bayi memang rentan terhadap penyakit ini, karena mereka memiliki kulit yang
masih lemah.
Penyakit eksim bukanlah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur, atau parasit.Alhasil, eksim tidak menular.Penyebab eksim adalah
gangguan sistem pertahanan tubuh, dimana terjadi peningkatan produksi
antibodi jenis IgE ketika terpapar bahan tertentu.Dalam bahasa medis, keadaan
ini disebut atopi.Oleh karena itu, eksim disebut juga peradangan kulit
(dermatitis) atopi.
Gejala utama penyakit eksim adalah gatal hebat yang menyebabkan
penderitanya terus menggaruk.Akibatnya, kulit mengalami iritasi, peradangan,
dan menjadi bersisik.Eksim yang baru muncul biasanya terlihat merah, agak
basah, dan bengkak.Sedangkan eksim yang sudah lama tampak bersisik,
menebal, kering, dan agak kehitaman.

9
Pada beberapa kasus, penyakit eksim dapat mengalami pernanahan.Hal ini
terjadi karena luka eksim ditumpangi oleh bakteri (misalnya staphylococcus
aureus).Kadang-kadang juga oleh virus (misalnya herpes simpleks).Keadaan
ini disebut infeksi sekunder.
(Mitchel, Richard N. 2009)

10
F. Patways

Zat kimia Alergi terhadap Alergi makanan Pemakaian virus


debu kosmetik

Gangguan sistem
pertahanan tubuh

Atopi

Eksema

Timbulnya rasa Rasa gatal


Timbulnya lepuhan- Adanya lesi
gatal hebat pada malam
lepuhan kecil dan
hari
pembekakan Timbul rasa
Keinginan untuk kemerahan & panas
menggaruk Kurangnya pengetahuan Rasa ingin
tentang penyakitnya menggaruk
Pembengkakan terus pada lesi
Menimbulkan
iritasi
Ansietas Nyeri area
Kesulitan
Peradangan lesi
untuk tidur
(inflamasi)

Nyeri akut Gangguan pola


Resiko infeksi Menyebabkan Timbulnya tidur
kulit bersisik bintik-bintik
air (nanah)
Gangguan
citra tubuh Kerusakan
integritas kulit

11
G. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk dermatitis, misal:

1. Usap kulit(skin swab)

Dilakukan pada:Pasien eksema yang di RS dengan eksema yang terbuka,


terkeskoriasi,atau berkerak untuk menentukan jenis bakteri penyabab dan
pengobatan paling tepat. Kecurigaan bahwa infeksi disebabkan oleh
bakteri S, auereus yang resisten terhadap pengobatan standar.

2. Usap hidung (nasal swab) dari pasien dan orang tua. Hanya dilakukan jika
ada infeksi berulang atau bisul
3. Tes alergi pada kulit

Dilakukan jika:Anak memiliki riwayat gatal, kemerahan, bentol-


bentol, atau kambuhnya eksema setelah makan makanan tertentu. Anak
berusia kurang dari 12 bulan dengan eksema sedang-berat yang tidak
membaik dengan pengobatan. Anak yang patuh dengan pengobatan
selama 6 minggu, namun tidak menunjukan perbaikan.

4. Dermatografisme puth
5. Percobaan asetikolin
6. Percobaan histamine

diagnosis dyshidrotic eczema biasanya ditegakkan berdasarkan


pemeriksaan klinis semata dan mudah untuk didiagnosis karena cenderung
tidak menyerupai keadaan lainnya. Pemeriksaan kultur bakteri dan
sensitifitas dilakukan jika curiga adanya infeksi sekunder. Sedangkan tes
darah biasanya tidak diusulkan, tapi biasanya IgE-nya meningkat.Dapat
juga dilakukan uji tempel (Patch Test) bila dicurigai adanya dermatitis
kontak alergi.

(Hetharia, Rospa. 2009)

12
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan keperawatan
a. Kompres yang sejuk dan basah
Dilakukan pada daerah dermatitis vesikuler yang kecil.Remukan halus es
yang di tambahkan pada air kompres kerap kali memberikan efek anti
pruritus.Kompres basah biasanya membantu membersihkan lesi eksema
yang meneluarkan secret.
b. Balutan oklusif
Balutan oklusif dapat dibuat atau diproduksi secara komersial dari
potongan kain penutup atau kasa yang steril atau nonsteril dan harganya
tidak begitu mahal.Kasa ini dipakai untuk menutup obat topikal yang
dioleskan pada dermatosis (lesi kulit abnormal).Daerah lesi dibuat kedap
udara dengan memakai lembaran plastik yang tipis (seperti plastik
pembalut).Lembaran plastik itu tipis dan mudah beradaptasi dengan
semua ukuran tubuh, bentuk tubuh serta permukaan kulit. Plester bedah
dari plastik yang mengandung kortikosteroid pada lapisan perekat dapat
dipotong menjadi ukuran tertentu dan ditempelkan pada setiap lesi.
Umumnya plastik pembalut ini tidak boleh digunakan lebih 12 jam
dalam sehari.
Untuk memasang kasa ini dirumah, pasien harus mendapatkan instruksi
berikut:
1) Mencuci daerah yang sakit, kemudian mengeringkannya;
2) Mengoleskan obat pada lesi ketika kulit tersebut berada dalam
keadaan basah.
3) Menutupi dengan lembaran plastik (misalnya, plastik pembalut,
sarung tangan vinil, kantong plastik);
4) Menutupi dengan pembalut elastic, kasa atau plester kertas agar
bagian tepinya tersegel. Kasa harus dilepas selama 12 jam dari setiap
24 jam untuk mencegah penipisan kulit (atrofi), striae (guratan mirip
sabuk), telangiektasia(lesi yang merah dan kecil akibat pelebaran
pembuluh darah).
c. Mandi terapeutik (balneoterapi)
Rendaman yang dikenal dengan istilah balneoterapi dapat digunakan jika
lesi mengenai daerah kulit yang luas; bentuk terapi ini dilakukan untuk
13
menghilangkan krusta, skuama serta obat lama dan untuk meredakan
inflamasi serta rasa gatal yang menyertai dermatosis akut.Suhu air
rendaman harus nyaman bagi pasien, dan lama tetapi rendaman tidak
boleh lebih dari 30 menit karena perendaman dan pencelupan cenderung
menimbulkan maserasi kulit.Untuk berbagai tipe terapi rendaman dan
pemakaiannya.
d. Penatalaksanaan medis
Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan rasa gatal untuk
mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering dan gatal,
lotion dan cream pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit
menjadi lembab. Tindakan ini biasanya dilakukan saat kulit masih basah,
seperti saat habis mandi sehingga cream yang dioleskan akan
mempertahankan kelembaban kulit. Kompres dingin juga diduga dapat
mengurangi rasa gatal yang terjadi. Salep atau cream yang mengandung
kortikosteroid seperti hydri kortison dibrikan untuk mengurangi proses
inflamasi / peradangan. Untuk kasus-kasus yang berat dokter akan
memberikan tablet kortikosteroid dan apabila pada daerah dermatitis
setelagh terinfeksi maka bisa diberikan antibiotika untuk membunuh
bakteri penyebab infeksi. Pengobatan menurut FKUI yaitu :
1. Pengobatan secara sistemik
Pada kasus dermatitis ringan diberi antihistamin atau kombinasi
antihistamin-anti serotonin, anti bradikinin, anti-SRS-A, dsb. Pada
kasus berat dapt dipertimbangkan pemberian kortikosteroid
2. Pengobatan secara topical
Prinsip umum terapi topical diuraikan dibawah ini :
a. Dermatitis basah (madidans) harus diobati dengan kompres terbuka.
b.Dermatitis kering (sika) diobati dengan krim atau salep
c. Makin berat atau akut penyakitnya, makin rendah presentase
obatspesifikc. Bila dermatitis akut, diberi kompres. Bila subakut,
diberi losion (bedak kocok), pasta, krim atau linimentum (pasta
pendingin). Bila kronik diberi salepd. Pada dermatitis sika, bila
superficial diberi bedak, losio, krim atau pasta. Bila kronik diberi
salep. Krim diberikan pada daerah berambut, sedangkan pasta pada

14
daerah yang tidak berambut. Penetrasi salep lebih besar daripada
krim.
(Smeltzer, 2009)

I. Komplikasi
a. Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi sekunder oleh bakteri,
septikemi, diare, dan pneumonia. Gangguan metabolic mengakibatkan
suatu resiko hipotermia, dekompensasi kordis, kegagalan sirkulasi perifer
dan trombophlebitis. Bila pengobatan kurang baik, akan terjadi degenerasi
visceral yang menyebabkan kematian.
b. Dapat terjadi komplikasi yaitu infeksi bakteri. Gejalanya berupa bintik-
bintik yang mengeluarkan nanah. Pembengkakan kelenjar getah bening
sehingga penderita mengalami demam dan lesu.
(Djuanda S, Sularsito. (2008).

15
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA EKSEMA

A. Pengkajian Keperawatan
a. Pengkajian
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa,
agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan
diagnosa medik.
2. Keluhan utama
Biasanya pasien mengeluh gatal pada kulitnya.
3. Riwayat kesehatan sekarang
PQRST dapat digunakan untuk menanyakan keluhan klien misalnya pada
klien dengan keluhan klien.Misalnya,pada klien pada keluhan gatal,dapat
dikembangkan pengkajiannya sebagai berikut:
a. P=Provokatif/Paliatif(pencetus)
Apa penyebab rasa gatal, yang meringankan dan memperberat rasa gatal
tersebut?
b. Q=Quality/quqntity(kualitas)
Bagaimana gambaran rasa gatal tersebut(seperti membakar,hilang timbul
atau bercampur nyeri).
c. R=Region/radiasi(lokasi)
Rasa gatal tersebut terasa dimana? Apakah menjalar? Jika menjalar
sampai dimana?
d. S=Sevirity Scale/(tingkat keperahan)
Berapa lama berlangsungnya dan apakah mengganggu aktifitas sehari-
hari?
e. T=Timing(waktu)
Kapan pertama kali dirasakan?Apakah timbul setiap saat atau sewaktu-
waktu?
4. Riwayat kesehatan dahulu
Untuk informasi riwayat kesehatan yang dahulu, misalnya demam, penyakit
kulit yang pernah diderita penyakit pernapasan atau pencernaan, riwayat
alergi, dan lain-lain.
16
5. Riwayat kesehatan keluarga
Tentang status kesehatan keluarga, dapat ditanyakan ada tidaknya
anggota keluarga yang menderita gangguan kulit, kapan dimulainya
gangguan itu, dan adakah anggota keluarga yang mempunyai riwayat
alergi.
6. Riwayat psikososial
Keadaan psikologis klien yang perlu dikaji misalnya, stress yang
berkepanjangan yang akan mempengaruhi kesehatan kulit seseorang ,
bahkan dapat menimbulkan kelainan kulit.
7. Pemeriksaan Fisik
Mengkaji ciri kulit secara keseluruhan:
1. Inspeksi
a. Warna kulit
Perubahan warna kulit juga dipengaruhi oleh banyak
variable.Gangguan pada melanin dapat bersifat menyeluruh atau
setempat yang dapt menyebabkan kulit menjadi gelap atau lebih
terang dari pada kulit yang lainnya.Kondisi tanpa pigmentasi terjadi
pada kasus albino.
b. Keadaan kulit
Mengobservasi lokasi lesi, keadaan lesi dan kedalaman lesi.
2. Palpasi
a. Turgor kulit
Turgor kulit umumnya mencerminkan status hidrasi. Pada klien
yang dehidrasi dan lansia, kulit terlihat kering. Pada klien lansia,
turgor kulit mencerminkan hilangnya elastisitas kulit, dan keadaan
kekurangan air ekstrsasel.Perhatikan seberapa mudah kulit kembali
ketempat semula. Normalnya, kulit segera kembali keposisi awal.
Pada edema pitting, tekan kuat area tersebut selama 5 detik dan
lepaskan. Catat kedalaman pitting dalam millimeter, edem +1
sebanding dengan kedalaman dua millimeter, edem+2 sebanding
dengan kedalaman 4 milimeter.
b. Tekstur kulit

17
Tekstur kulit pada perubahan menyeluruh perlu dikaji , karena tekstur
kulit dapat berubah-ubah dibawah pengaruh banyak variable. Jenis
tekstur kulit dapat meliputi kasar, kering, atau halus.
8. Pengkajian fungsonal Gordon
a. Pola persepsi dan penanganan kesehatan
Tanyakan kepada klien pendapatnya mengenai kesehatan dan
penyakit.Apakah pasien langsung mencari pengobatan atau menunggu
sampai penyakit tersebut mengganggu aktivitas pasien.
b. Pola nutrisi dan metabolism
1) Tanyakan bagaimana pola dan porsi makan sehari-hari klien ( pagi,
siang dan malam )
2) Tanyakan bagaimana nafsu makan klien, apakah ada mual muntah,
pantangan atau alergi
3) Tanyakan apakah klien mengalami gangguan dalam menelan
4) Tanyakan apakah klien sering mengkonsumsi buah-buahan dan
sayur-sayuran yang mengandung vitamin antioksidant
c. Pola eliminasi
1) Tanyakan bagaimana pola BAK dan BAB, warna dan
karakteristiknya
2) Berapa kali miksi dalam sehari, karakteristik urin dan defekasi
3) Adakah masalah dalam proses miksi dan defekasi, adakah
penggunaan alat bantu untuk miksi dan defekasi.
d. Pola aktivitas/olahraga
1) Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan pada
kulit.
2) Kekuatan Otot :Biasanya klien tidak ada masalah dengan kekuatan
ototnya karena yang terganggu adalah kulitnya
3) Keluhan Beraktivitas : kaji keluhan klien saat beraktivitas.
e. Pola istirahat/tidur
1) Kebiasaan : tanyakan lama, kebiasaan dan kualitas tidur pasien
2) Masalah Pola Tidur : Tanyakan apakah terjadi masalah istirahat/tidur
yang berhubungan dengan gangguan pada kulit
3) Bagaimana perasaan klien setelah bangun tidur? Apakah merasa segar
atau tidak?
18
f. Pola kognitif/persepsi
1) Kaji status mental klien
2) Kaji kemampuan berkomunikasi dan kemampuan klien dalam
memahami sesuatu
3) Kaji tingkat anxietas klien berdasarkan ekspresi wajah, nada bicara
klien. Identifikasi penyebab kecemasan klien
4) Kaji penglihatan dan pendengaran klien.
5) Kaji apakah klien mengalami vertigo
6) Kaji nyeri : Gejalanya yaitu timbul gatal-gatal atau bercak merah pada
kulit.
g. Pola persepsi dan konsep diri
1) Tanyakan pada klien bagaimana klien menggambarkan dirinya
sendiri, apakah kejadian yang menimpa klien mengubah gambaran
dirinya
2) Tanyakan apa yang menjadi pikiran bagi klien, apakah merasa cemas,
depresi atau takut
3) Apakah ada hal yang menjadi pikirannya
h. Pola peran hubungan
1) Tanyakan apa pekerjaan pasien
2) Tanyakan tentang system pendukung dalam kehidupan klien seperti:
pasangan, teman, dll.
3) Tanyakan apakah ada masalah keluarga berkenaan dengan perawatan
penyakit klien

i. Pola seksualitas/reproduksi
1) Tanyakan masalah seksual klien yang berhubungan dengan
penyakitnya
2) Tanyakan kapan klien mulai menopause dan masalah kesehatan
terkait dengan menopause
3) Tanyakan apakah klien mengalami kesulitan/perubahan dalam
pemenuhan kebutuhan seks
j. Pola koping-toleransi stress
1) Tanyakan dan kaji perhatian utama selama dirawat di RS ( financial
atau perawatan diri )
19
2) Kaji keadan emosi klien sehari-hari dan bagaimana klien mengatasi
kecemasannya (mekanisme koping klien ). Apakah ada penggunaan
obat untuk penghilang stress atau klien sering berbagi masalahnya
dengan orang-orang terdekat.
k. Pola keyakinan nilai
1) Tanyakan agama klien dan apakah ada pantangan-pantangan dalam
beragama serta seberapa taat klien menjalankan ajaran agamanya.
Orang yang dekat kepada Tuhannya lebih berfikiran positif.
2) Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan adanya lesi
b. Resiko infeksi berhubungan dengan peradangan timbulnya iritasi
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya bintik bintik pada kulit
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampilan kulit yang tidak baik
e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa ingin menggaruk terus menerus
f. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan

20
3) Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan adanya lesi

Diagnosa Tujuan dan Kriteria


Intervensi
Keperawatan Hasil

Nyeri kronik/akut NOC NIC


Definisi: Pengalaman 1. Pain Level, Pain Management
sensori dan emosional 2. Pain control 1. Lakukan pengkajian nyeri
yang tidak 3. Comfort level secara komprehensif
menyenangkan yang termasuk lokasi,
muncul akibat kerusakan Kriteria Hasil : karakteristik, durasi
jaringan yang aktual atau 1. Mampu mengontrol frekuensi, kualitas dan
potensial atau nyeri (tahu penyebab faktor presipitasi
digambarkan dalam hal nyeri, mampu 2. Observasi reaksi
kerusakan sedemikian menggunakan tehnik nonverbal dan
rupa (International nonfarmakologi untuk ketidaknyamanan
Association for the study mengurangi nyeri, 3. Gunakan teknik
of Pain): awitan yang mencari bantuan) komunikasi terapeutik
tiba-tiba atau lambat dan 2. Melaporkan bahwa untuk mengetahui
intensitas ringan hingga nyeri berkurang pengalaman nyeri pasien
berat dengan akhir yang dengan menggunakan 4. Kaji kultur yang
dapat diantisipasi atau manajemen nyeri mempengaruhi respon
diprediksi dan 3. Mampu mengenali nyeri
berlangsung <6 bulan. nyeri (skala, intensitas, 5. Evaluasi pengalaman
frekuensi dan tanda nyeri masa lampau
Batasan Karakteristik : nyeri) 6. Evaluasi bersama pasien
1. Perubahan selera 4. Menyatakan rasa dan tim kesehatan lain
makan nyaman setelah nyeri tentang ketidakefektifan
2. Perubahan tekanan berkurang kontrol nyeri masa
darah Iampau
3. Perubahan frekwensi 7. Bantu pasierl dan keluarga
jantung untuk mencari dan
4. Perubahan frekwensi menemukan dukungan
pernapasan 8. Kontrol lingkungan yang
5. Laporan isyarat dapat mempengaruhi
6. Diaforesis nyeri seperti suhu
7. Perilaku distraksi ruangan, pencahayaan dan
(mis,berjaIan mondar- kebisingan
mandir mencari orang 9. Kurangi faktor presipitasi
lain dan atau aktivitas nyeri
lain, aktivitas yang 10. Pilih dan lakukan
berulang) penanganan nyeri
8. Mengekspresikan (farmakologi, non
perilaku (mis, gelisah, farmakologi dan inter
merengek, menangis) personal)
9. Masker wajah (mis, 11. Kaji tipe dan sumber nyeri
mata kurang untuk menentukan
bercahaya, tampak intervensi

21
kacau, gerakan mata 12. Ajarkan tentang teknik
berpencar atau tetap non farmakologi
pada satu fokus 13. Berikan anaIgetik untuk
meringis) mengurangi nyeri
10. Sikap melindungi area 14. Evaluasi keefektifan
nyeri kontrol nyeri
11. Fokus menyempit 15. Tingkatkan istirahat
(mis, gangguan 16. Kolaborasikan dengan
persepsi nyeri, dokter jika ada keluhan
hambatan proses dan tindakan nyeri tidak
berfikir, penurunan berhasil
interaksi dengan orang 17. Monitor penerimaan
dan lingkungan) pasien tentang manajemen
12. Indikasi nyeri yang nyeri
dapat diamati Administra
13. Perubahan posisi 18. Tentukan lokasi,
untuk menghindari karakteristik, kualitas, dan
nyeri derajat nyeri sebelum
14. Sikap tubuh pemberian obat
melindungi 19. Cek instruksi dokter
15. Dilatasi pupil tentang jenis obat, dosis,
16. Melaporkan nyeri dan frekuensi
secara verbal 20. Cek riwayat alergi
17. Gangguan tidur 21. Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
FaktorYang dari analgesik ketika
Berhubungan: pemberian lebih dari satu
1. Agen cedera (mis, 22. Tentukan pilihan
biologis, zat kimia, analgesik tergantung tipe
fisik, psikologis) dan beratnya nyeri
23. Tentukan analgesik
pilihan, rute pemberian,
dan dosis optimal
24. Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara
teratur
25. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
26. Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
27. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala

22
2. Resiko infeksi berhubungan dengan peradangan timbulnya iritasi

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Intervensi


Kriteria Hasil

Resiko Infeksi NOC NIC


Definisi : Mengalami 1. Immune Status Infection Control (Kontrol
peningkatan resiko 2. Knowledge : Infection infeksi)
terserang organisme control 1. Bersihkan lingkungan
patogenik 3. Risk control setelah dipakai pasien
Factor resiko penyakit Kriteria hasil : lain
kronis 1. Klien bebas dari tanda 2. Pertahankan teknik
1. Diabetes melitus dan gejala infeksi isolasi
2. Obesitas 2. Mendeskripsikan proses 3. Batasi pengunjung bila
Pengetahuan yang tidak penularan penyakit, perlu
cukup untuk faktor yang 4. Instruksikan pada
menghindari mempengaruhi pengunjung untuk
pemanjanan patogen. penularan serta mencuci tangan saat
Pertahanan tubuh penatalaksanaannya berkunjung dan setelah
primer yang tidak 3. Menunjukkan berkunjung
adekuat. kemampuan untuk meninggalkan pasien
1. Gangguan peritalsis mencegah timbulnya 5. Gunakan sabun
2. Kerusakan integritas infeksi antimikrobia untuk cuci
kulit (pemasangan 4. Jumlah leukosit dalam tangan
kateter intravena, batas normal 6. Cuci tangan setiap
prosedur invasif) 5. Menunjukkan perilaku sebelum dan sesudah
3. Perubahan sekresi pH hidup sehat tindakan keperawatan
4. Penurunan kerja 7. Gunakan baju, sarung
siliaris tangan sebagai alat
5. Pecah ketuban dini pelindung
6. Pecah ketuban lama 8. Pertahankan lingkungan
7. Merokok aseptik selama
8. Stasis cairan tubuh pemasangan alat
9. Trauma jaringan (mis, 9. Ganti letak IV perifer
trauma destruksi dan line central dan
jaringan) dressing sesuai dengan
Ketidakadekuatan petunjuk umum
pertahanan sekunder 10. Gunakan kateter
1. Penurunan hemoglobin intermiten untuk
2. Imunosupresi (mis, menurunkan infeksi
imunitas didapat tidak kandung kencing
adekuat, agen 11. Tingktkan intake nutrisi
farmaseutikal 12. Berikan terapi antibiotik
termasuk bila perlu
imunosupresan, 13. Infection Protection
steroid, antibodi (proteksi terhadap
monoklonal, infeksi)

23
imunomudulator) 14. Monitor tanda dan gejala
3. Supresi respon infeksi sistemik dan
inflamasi lokal
Vaksinasi tidak adekuat 15. Monitor hitung
Pemajanan terhadap granulosit, WBC
patogen lingkungan 16. Monitor kerentangan
meningkat terhadap infeksi
1. Wabah 17. Batasi pengunjung
Prosedur invasif 18. Sering pengunjung
Malnutrisi terhadap penyakit
menular
19. Pertahankan teknik
aspesis pada pasien yang
beresiko
20. Pertahankan teknik
isolasi k/p
21. Berikan perawatan kulit
pada area epidema
22. Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
23. Inspeksi kondisi luka /
insisi bedah
24. Dorong masukkan
nutrisi yang cukup
25. Dorong masukan cairan
26. Dorong istirahat
27. Instruksikan pasien
untuk minum antibiotik
sesuai resep
28. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
29. Ajarkan cara
menghindari infeksi
30. Laporkan kecurigaan
infeksi
31. Laporkan kultur positif

3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya bintik bintik pada


kulit

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

Kerusakan integritas NOC NIC


kulit Tissue Integrity : Pressure Management
Definisi : Perubahan / 1. Anjurkan pasien untuk

24
gangguan epidermis dan / 1. Skin and Mucous menggunakan pakaian
atau dermis Membranes yang longgar
2. Hemodyalis akses 2. Hindari kerutan pada
Batasan Karakteristik : tempat tidur
· 1.Kerusakan lapisan kulit Kriteria Hasil : 3. Jaga kebersihan kulit agar
(dermis) 1. Integritas kulit yang baik
tetap bersih dan kering
2.Gangguan permukaan bisa dipertahankan 4. Mobilisasi pasien (ubah
kulit (epidermis) (sensasi, elastisitas, posisi pasien) setiap dua
3.Invasi struktur tubuh temperatur, hidrasi, jam sekali
pigmentasi) 5. Monitor kulit akan adanya
2. Tidak ada luka/lesi pada
kemerahan
Faktor Yang 6. Oleskan lotion atau
Berhubungan : kulit
3. Perfusi jaringan baik
minyak/baby oil pada
Eksternal : daerah yang tertekan
1. Zat kimia, Radiasi 4. Menunjukkan
pemahaman dalam 7. Monitor aktivitas dan
2.Usia yang ekstrim mobilisasi pasien
proses perbaikan kulit
3.Kelembapan dan mencegah terjadinya 8. Monitor status nutrisi
cedera berulang pasien
4.Hipertermia,Hipotermia
5. Mampu melindungi kulit 9. Memandikan pasien
5.Faktor mekanik dengan sabun dan air
dan mempertahankan
(mis..gaya gunting hangat
kelembaban kulit dan
[shearing forces])
perawatan alami Insision site care
6. Medikasi 1. Membersihkan, memantau
7.Lembab dan meningkatkan proses
penyembuhan pada luka
8.Imobilitasi fisik
yang ditutup dengan
Internal: jahitan, klip atau straples
1 Perubahan status cairan 2. Monitor proses
5. Perubahan pigmentasi kesembuhan area insisi
6. Perubahan turgor 3. Monitor tanda dan gejala
7. Faktor perkembangan infeksi pada area insisi
8. Kondisi 4. Bersihkan area sekitar
ketidakseimbangan jahitan atau staples,
nutrisi (mis.obesitas, menggunakan lidi kapas
emasiasi) steril
9. Penurunan imunologis 5. Gunakan preparat
10. Penurunan sirkulasi antiseptic, sesuai program
11. Kondisi gangguan 6. Ganti balutan pada
metabolik interval waktu yang sesuai
12. Gangguan sensasi atau biarkan luka tetap
13. Tonjolan tulang terbuka (tidak dibalut)
sesuai program
7. Dialysis Acces
Maintenance

25
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampilan kulit yang tidak
baik

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

Gangguan citra tubuh NOC NIC


Definisi : Konfusi dalam 1. Body image Body image enhancement
gambaran mental tentang 2. Self esteem 1. Kaji secara verbal dan non
diri-fisik individu verbal respon klien
Kriteria Hasil : terhadap tubuhnya
Batasan karakteristik : 1. Body image positif 2. Monitor frekuensi
1. Perilaku mengenali 2. Mampu mengkritik dirinya
tubuh individu mengidentifikasi 3. Jelaskan tentang
2. Perilaku menghindari kekuatan personal pengobatan, perawatan,
tubuh individu 3. Mendiskripsikan secara kemajuan dan prognosis
3. Perilaku memantau faktual perubahan penyakit
tubub individu fungsi tubuh 4. Dorong klien
4. Respon nonverbal 4. Mempertahankan mengungkapkan
terhadap perubahan interaksi sosial perasaannya
aktual pada tubuh (mis; 5. Identifikasi arti
penampilan, struktur, pengurangan melalui
fungsi) pemakaian alat bantu
5. Respon nonverbal 6. Fasilitasi kontak dengan
terhadap persepsi individu lain dalam
perubahan pada tubuh kelompok
(mis; penampilan,
struktur, fungsi)
6. Mengungkapkan
perasaan yang
mencerminkan
perubahan pandangan
tentang tubuh individu (
mis; penampilan,
struktur, fungsi)
7. Mengungkapkan
persepsi yang
mencerminkan
perubahan individu
dalam penampilan
8. Perilaku memantau
tubuh individu

26
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa ingin menggaruk terus
menerus

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

Gangguan pola tidur NOC NIC


Definisi : Gangguan 1. Anxiety reduction Sleep Enhancement
kualitas dan kuantitas 2. Comfort level 1. Determinasi efek-efek
waktu tidur akibat faktor 3. Pain level medikasi terhadap pola
eksternal 4. Rest : Extent and Pattern tidur
5. Sleep : Extent an Pattern 2. Jelaskan pentingnya tidur
Batasan Karakteristik : yang adekuat
1. Perubahan pola tidur Kriteria Hasil: 3. Fasilitas untuk
normal 1.Jumlah jam tidur dalam mempertahankan aktivitas
2. Penurunan kemampuan batas normal 6-8 sebelum tidur (membaca)
berfungsi jam/hari 4. Ciptakan lingkungan yang
3. Ketidakpuasan tidur 2.Pola tidur, kualitas nyaman
4. Menyatakan sering dalam batas normal 5. Kolaborasikan pemberian
terjaga 3.Perasaan segar sesudah obat tidur
5. Meyatakan tidak tidur atau istirahat 6. Diskusikan dengan pasien
mengalami kesulitan dan keluarga tentang
tidur teknik tidur pasien
6. Menyatakan tidak 7. Instruksikan untuk
merasa cukup istirahat memonitor tidur pasien
8. 8. Monitor waktu makan
Faktor Yang dan minum dengan waktu
Berhubungan tidur
1. Kelembaban 9. Monitor/catat kebutuhan
lingkungan sekitar tidur pasien setiap hari dan
2. Suhu lingkungan jam
sekitar
3. Tanggung jawab
memberi asuhan
4. Perubahan pejanan
terhadap cahaya gelap
5. Gangguan(mis.,untuk
tujuan terapeutik,
pemantauan,
pemeriksaan
laboratorium)
6. Kurang kontrol tidur
7. Kurang privasi,
Pencahayaan
8. Bising, Bau gas
9. Restrain fisik, Teman
tidur

27
6. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan

Diagnosa Tujuan dan Intervensi


Keperawatan Kriteria Hasil

Ansietas NOC NIC


Definsi : 1. Anxiety self-control Anxiety Reduction
Perasaan tidak nyaman 2. Anxiety level (penurunan kecemasan)
atau kekawatiran yang 3. Coping 1. Gunakan pendekatan
Samar disertai respon yang menenangkan
autonom (sumber sering Kriteria Hasil : 2. Nyatakan dengan jelas
kali tidak spesifik atau 1. Klien mampu harapan terhadap pelaku
tidak diketahui oleh mengidentifikasi dan pasien
individu); perasaan takut mengungkapkan gejala 3. Jelaskan semua prosedur
yang disebabkan oleh cemas. dan apa yang dirasakan
antisipasi terhadap bahaya. 2. Mengidentifikasi, selama prosedur
Hal ini merupakan isyarat mengungkapkan dan 4. Pahami prespektif pasien
kewaspadaan yang menunjukkan tehnik terhadap situasi stres
memperingatkan individu untuk mengontol 5. Temani pasien untuk
akan adanya bahaya dan cemas. memberikan keamanan
kemampuan individu 3. Vital sign dalam batas dan mengurangi takut
untuk bertindak normal. 6. Dorong keluarga untuk
menghadapi ancaman. 4. Postur tubuh, ekspresi menemani anak
wajah, bahasa tubuh 7. Lakukan back / neck rub
Batas karateristik: dan tingkat aktivfitas 8. Dengarkan dengan penuh
1. Penurunan menunjukkan perhatian
produktivitas berkurangnya 9. Identifikasi tingkat
2. Gerakan yang ireleven kecemasan. kecemasan
3. Gelisah 10. Bantu pasien mengenal
4. Melihat sepintas situasi yang menimbulkan
5. Insomnia kecemasan
6. Kontak mata yang 11. Dorong pasien untuk
buruk mengungkapkan
7. Mengekspresikan perasaan, ketakutan,
kekawatiran karena persepsi
perubahan dalam 12. Instruksikan pasien
peristiwa hidup menggunakan teknik
8. Agitasi relaksasi
9. Mengintai 13. Berikan obat untuk
10. Tampak waspada mengurangi kecemasan
Affektif :
1. Gelisah, Distres
2. Kesedihan yang
mendalam
3. Ketakutan
4. Perasaan tidak adekuat
5. Berfokus pada diri
sendiri

28
6. Peningkatan
kewaspadaan
7. Iritabihtas
8. Gugup senang
beniebihan
9. Rasa nyeri yang
meningkatkan
ketidakberdayaan
10. Peningkatan rasa
ketidak berdayaan
yang persisten
11. Bingung, Menyesal
12. Ragu/tidak percaya
diri
13. Khawatir
Fisiologis :
1. Wajah tegang, Tremor
tangan
2. Peningkatan keringat
3. Peningkatan
ketegangan
4. Gemetar, Tremor
5. Suara bergetar
Simpatik :
1. Anoreksia
2. Eksitasi
kardiovaskular
3. Diare, Mulut kering
4. Wajah merah
5. Jantung berdebar-
debar
6. Peningkatan tekanan
darah
7. Peningkatan denyut
nadi
8. Peningkatan reflek
9. Peningkatan frekwensi
pernapasan
10. Pupil melebar
11. Kesulitan bernapas
12. Vasokontriksi
superfisial
13. Lemah, Kedutan pada
otot
Parasimpatik :
1. Nyeri abdomen
2. Penurunan tekanan
darah
3. Penurunan denyut nadi

29
4. Diare, Mual, Vertigo
5. Letih, Ganguan tidur
6. Kesemutan pada
ekstremitas
7. Sering berkemih
8. Anyang-anyangan
9. Dorongan cegera
berkemih
Kognitif :
1. Menyadari gejala
fisiologis
2. Bloking fikiran,
Konfusi
3. Penurunan lapang
persepsi
4. KesuIitan
berkonsentrasi
5. Penurunan
kemampuan belajar
6. Penurunan
kemampuan untuk
memecahkan masalah
7. Ketakutan terhadap
konsekwensi yang
tidak spesifik
8. Lupa, Gangguan
perhatian
9. Khawatir, Melamun
10. Cenderung
menyalahkan orang
lain.

Faktor Yang

Berhubungan :
1. Perubahan dalam
(status ekonomi,
lingkungan,status
kesehatan, pola
interaksi, fungsi peran,
status peran)
2. Pemajanan toksin
3. Terkait keluarga
4. Herediter
5. Infeksi/kontaminan
interpersonal

30
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dermatitis atau Eksema adalah suatu peradangan menahun pada lapisan
atas kulit yang menyebabkan rasa gatal. Pada umumnya Dermatitis juga disertai
dengan tanda-tanda seperti terbentuknya bintik yang berisi cairan (bening atau
nanah) dan bersisik.
Keadaan yang dapat mengawali timbulnya eksema adalah sebagai berikut:

1. Kulit yang kering akibat cuaca dingin


2. Berkeringat akibat panas atau udara yang lembab
3. Kontak kulit dengan makanan/bahan makanan tertentu, misalnya terkena
tumpahan jus tomat atau jus jeruk.
4. Bahan pakaian yang iritatif
5. Sabun tertentu
6. Stress.
B. Saran
a. Bagi mahasiswa
Bagi mahasiswa untuk lebih mudah menambah wawasan dan pengetahuan
dalam pemberian asuhan keperawatan pasien eksema
b. Bagi perawat.
Bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus lebih
memperhatikan kondisi pasien serta kolaborasi yang baik antar semua tenaga
medis baik dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainya.
c. Bagi masyarakat
Diharapkan masyarakat mengetahui tanda dan gejala eksema dan cara
penanganannya.

31
DAFTAR PUSTAKA

Djuanda S, Sularsito. (2008). SA. Dermatitis In: Djuanda A, ed Ilmu penyakit kulit

dan kelamin. Edisi III. Jakarta: FK UI: 126-31.

Graham dan Burns. 2009. Dermatologi. Jakarta : Erlangga.

Harahap, 2010. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : hipocrates

Hetharia, Rospa. 2009. Asuhan Keperawatan gangguan Sistem Integumen. Jakarta

Mitchel, Richard N. 2009. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit. Jakarta : EGC.

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari.(2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem

Integumen. Jakarta: Salemba Medika.

Smeltzer, Suzanne C. (2009). Buku ajar medikal bedah Brunner Suddarth/Brunner

Suddarth’s Texbook of Medical-surgical. Alih Bahasa:Agung Waluyo…..(et.al.).

ed 8 Vol 3 Jakarta: EGC.

32