Anda di halaman 1dari 44

MANAJEMEN KUALITAS DAN RESIKO

PROYEK
Materi 1
Landasan Teori
Konsep Resiko dalam Proyek Konstruksi

Dosen : Dr. Ir. Albert Eddy Husin, MT

Disusun Oleh: Kelompok 1

1. Reza Ferial H (55716120001)


2. Zel Citra (55716120010)
3. Agus Harmoko (55716120012)
4. Yosie Malinda (55716120020)

Pascasarjana Magister Teknik Sipil


Universitas Mercu Buana
Jakarta
2018
DAFTAR ISI

Halaman Judul ...................................................................................................... ……… i

Daftar Isi …………………………….. ................................................................. ……….. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang .............................................................................................. ………. 1

1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ ………. 2

1.3. Tujuan Penulisan ........................................................................................... ………. 2

1.4 Manfaat Penulisan ......................................................................................... ………. 3

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Sistem Manajemen Resiko Proyek .............................................. ……… 4

2.2. Sistem Manajemen Resiko ............................................................................ ……… 5

2.3. Jenis-Jenis Resiko dan Pengendalian Resiko ................................................ ……… 7

2.4. Proses Manajemen Resiko. ............................................................................ ……. . 11

BAB III KESIMPULAN ……………………………….…………………………….... 15

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………. 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata “Resiko” dan
sudah biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang.
Resiko merupakan bagian dari kehidupan kerja individual maupun organisasi.
Berbagai macam resiko, seperti resiko kebakaran, tertabrak kendaraan lain di
jalan, resiko terkena banjir di musim hujan dan sebagainya, dapat
menyebabkan kita menanggung kerugian jika resiko-resiko tersebut tidak kita
antisipasi dari awal.
Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat
mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Sebagaimana kita
pahami dan sepakati bersama bahwa tujuan perusahaan adalah membangun
dan memperluas keuntungan kompetitif organisasi.Resiko berhubungan
dengan ketidakpastian ini terjadi karena kurang atau tidak tersedianya cukup
informasi tentang apa yang akan terjadi.
Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau
merugikan. Menurut Wideman, ketidakpastian yang menimbulkan
kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity),
sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan disebut
dengan istilah resiko (risk). Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen
resiko menjadi trend utama baik dalam perbincangan, praktik, maupun
pelatihan kerja. Hal ini secara konkret menunjukkan pentingnya manajemen
resiko dalam proyek maupun bisnis pada masa kini.
Pada perencanaan pembuatan proyek sebuah sistem, diperlukan berbagai
macam komponen yang terlibat didalamnya. satu hal yang harus
diperhatikan/diutamakan oleh seorang manajer proyek dalam melakukan
perencanaan adalah menghitung, baik secara kualitatif maupun kuantitatif,
resiko yang akan terjadi dalam proses pengerjaan.
Resiko Proyek adalah peristiwa tidak pasti yang bila terjadi memiliki
pengaruh positif atau negatif terhadap minimal satu tujuan proyek (waktu,
biaya, ruang lingkup, mutu). Resiko mungkin memiliki satu atau lebih
penyebab, yang bila terjadi memiliki satu atau lebih dampaknya terhadap
manajemen.
Dan apabila kita garis besarkan secara keseluruhan maka yang dimaksud
dengan Manajemen Proyek dan Resiko adalah proses sistematis untuk
merencanakan, mengidentifikasi, menganalisis, dan merespon resiko proyek.
Tujuannya untuk meningkatkan peluang dan dampak peristiwa positif, dan
mengurangi peluang dan dampak peristiwa yang merugikan proyek atau
dapak negatifnya.
Manajemen resiko sangat penting bagi kelangsungan suatu usaha atau
kegiatan. Jika terjadi suatu bencana, seperti kebakaran atau kerusakan,
perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar, yang dapat
menghambat, mengganggu bahkan menghancurkan kelangsungan usaha atau
kegiatan operasi. Manajemen resiko merupakan alat untuk melindungi
perusahaan dari setiap kemungkinan yang merugikan (Ramli, 2010).

1.2. Rumusan Masalah


2. Apa yang di maksud dengan Pengertian Sistem Manajemen Resiko Proyek
3. Apa yang di maksud dengan Manajemen Resiko
4. Apa yang di maksud dengan Jenis-Jenis Resiko dan Pengendalian Resiko
5. Apa yang di maksud dengan Proses Manajemen Resiko

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui Pengertian Sistem Manajemen Resiko Proyek
2. Mengetahui Manajemen Resiko
3. Mengetahui Jenis-Jenis Resiko dan Pengendalian Resiko
4. Mengetahui Proses Manajemen Resiko

2
1.4.Manfaat Penulisan
Hasil laporan ini adalah strategi penanganan resiko dalam proyek, strategi
yang tepat akan menambah probalitas tingkat keberhasilan penerapan/proses
kegiatan proyek.

3
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Sistem Manajemen Resiko Proyek


Sistem berasal dari bahasa Latin “systema” dan bahasa Yunani “sustema”
adalah sekelompok komponen dan elemen yang digabungkan menjadi satu
untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem juga merupakan kesatuan untuk
memudahkan aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu
tujuan.
Manajemen berasal dari kata bahasa inggris yaitu “manage” yang berarti,
mengurus, mengelola, mengendalikan, memimpin. Sedangkan secara
epistemology adalah seni melaksanakan dan mengatur. Pengertian
manajemen adalah suatu seni dalam ilmu dan proses pengorganisasian seperti
perencanaan, pergerakan, dan pengendalian atau pengawasan.
Dalam pengertian manajemen sebagai seni karena seni berfungsi dalam
mewujudkan tujuan yang nyata dengan hasil atau manfaat, sedangkan
manajemen sebagai ilmu yang berfungsi menerangkan fenomena-fenomena,
kejadian sehingga memberikan penjelasan yang sebenarnya. Menurut James
A.F Stoner, yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian manajemen
adalah proses perencanaan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber daya
organisasi yang lain agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Resiko adalah sebagai suatu konsep dengan beberapa arti, yang
pemakaiannya tergantung kepada hubungan-hubungan apa dan displin ilmu
dari mana orang memandangnya. Menurut Robert I. Mahr dan Emerson
Cammak dalam bukunya (Principle of Insurance) dinyatakan bahwa
pengertian resiko “apabila dipergunakan secara longgar, akan berarti
mengalami kemalangan atau kebahagiaan”. Resiko berhubungan
dengan ketidakpastian. Ketidakpastian ini terjadi oleh karena kurang atau
tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.

4
Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau
merugikan.menurut Wideman, ketidak pastian yang menimbulkan
kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (Opportunity),
sedangkan ketidak pastian yang menimbulkan akibat yang merugikan dikenal
dengan istilah resiko (Risk).

Secara umum resiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi
seseorang atau perusahaan dimana terdapat kemungkinan yang merugikan.
Bagaimana jika kemungkinan yang dihadapi dapat memberikan keuntungan
yang sangat besar sedangkan kalaupun rugi hanya kecil sekali? Misalnya
membeli loterei. Jika beruntung maka akan mendapat hadiah yang sangat
besar tetapi jika tidak beruntung uang yang digunakan membeli loterei relatif
kecil. Apakah ini juga tergolong Resiko? jawabannya adalah hal ini juga
tergolong resiko. Selama mengalami kerugian walau sekecil apapun hal itu
dianggap resiko.

Proyek adalah setiap usaha yang direncanakan sebelumnya yang


memerlukan sejumlah pembiayaan serta penggunaan masukan lain yang
ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu dan dalam waktu tertentu. (Sutrisno
dalam Triton,2005:13). Proyek merupakan suatu rangkaian aktivitas yang
dapat direncanakan, yang didalamnya menggunkan sumber-sumber (input),
misalnya : uang dan tenaga kerja, untuk mendapatkan manfaat (benefit) atau
hasil (return) di masa yang akan dating.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan sistem manajemen proyek
merupakan sekumpulan perencanaan untuk mendeteksi dampak positif dan
dampak negative di dalam kegiatan pembangunan oleh sebuah lembaga
orgnisasi.

2.2. Sistem Manajemen Resiko


Secara umum, tujuan Sistem manajemen resiko yang utama adalah
mencegah atau meminimisasi pengaruh yang tidak baik akibat kejadian yang
tidak terduga melalui penghindaran resiko atau persiapan rencana kontingensi

5
yang berkaitan dengan resiko tersebut. Dalam Sistem manajemen proyek
resiko proyek adalah suatu peristiwa atau kondisi yang tidak pasti, dan jika
terjadi mempunyai pengaruh positif atau bisa juga negatif pada tujuan proyek.
Suatu resiko mempunyai sebab dan bila terjadi akan membawa dampak, oleh
karena itu resiko dapat dinyatakan sebagai fungsi dari kemungkinan dan
dampak.
Sistem manajemen resiko pada proyek meliputi langkah memahami dan
mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin terjadi, mengevaluasi,
memonitoring dan menangani resiko. Manajemen resiko yang proaktif
artinya menjawab bagaimana orang secara aktif berusaha mengurangi resiko
serta memperbaiki tingkat probabilitas keberhasilan proyek.
Resiko merupakan kombinasi dari kemungkinan suatu kejadian dan akiat
dari kejadian tersebut dengan tidak menutup kemungkinan bahwa ada lebih
dari satu akibat yang mungkin terjadi untuk satu kejadian tertentu. Pada
umumnya resiko dipandang daru perspektif negatif, seperti kehilangan,
bahaya, kerugian, kegagalan dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut pada
prinsipnya merupakan bentuk ketidak pastian yang mestinya dipahami dan
dikelola secara efektif sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi
organisasi. Per definisi resiko merupakan suatu kesempatan atau peluang
yang secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:
Riskexposure = risk likelihood x riskimpact

Risk likelihood adalah probabilitas terjadinya suatu peristiwa yang


dikuantifisir menjadi angka probabilitas, risk impact adalah dampak dari
peristiwa tersebut yang biasanya diukur dengan satuan moneter misalnya
rupiah, sedangkan tingkat kepentingan resiko disebut risk exposure, yang
dalam analisis biaya-manfaat akan mencerminkan besarnya biaya. Risk
exposure inilah yang nantinya akan diperbandingkan dengan suatu pekerjaan
lainnya dan menjadi acuan bagi orang untuk memilih pekerjaan mana yang
akan dilakukan.
Lebih jauh, dalam konteks sistem manajemen proyek, sistem manajemen
resiko proyek dipahami sebagai seni dan ilmu untuk mengidentifikasi,

6
menganalisis dan merespon resiko selama umur proyek dan tetap menjamin
tercapainya tujuan proyek..
Sistem manajemen resiko proyek yang baik akan mampu memperbaiki
tingkat keberhasilan proyek secara signifikan. Bagaimanapun, sistem
manajemen resiko proyek akan memberikan suatu pengaruh positif dalam hal
memilih proyek, menentukan lingkup proyek, membuat jadwal yang realistis
dan estimasi biaya yang baik.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam sistem manajemen resiko
proyek yakni:
1) Identifikasi, analisis dan penilaian resiko di awal proyek secara
sistematis serta mengembangkan rencana untuk mengantisipasi
resiko.

2) Mengalokasikan tanggungjawab kepada pihak yang paling sesuai


untuk mengelola resiko.

3) Memastikan bahwa biaya penanganan resiko adalah cukup kecil


dibanding nilai proyek. Artinya bahwa biaya yang diperlukan untuk
mengurangi dampak negatif dari suatu resiko realatif lebih rendah
atau sama dengan besaran manfaat dari terhindarnya/ berkurangnya
resiko tersebut

Sistem manajemen resiko dapat diterapkan di setiap level di organisasi.


Sistem manajemen resiko dapat diterapkan di level strategis dan level
operasional. Sistem manajemen resiko juga dapat diterapkan pada proyek
yang spesifik, untuk membantu proses pengambilan keputusan ataupun untuk
pengelolaan daerah dengan resiko yang spesifik.

2.3. Jenis-Jenis Resiko dan Pengendalian Resiko


Resiko proyek adalah peristiwa tidak pasti yang bila terjadi akan
memiliki efek positif atau negatif terhadap tujuan proyek (bisa berupa biaya,
waktu, mutu, ruang lingkup). Resiko mungkin memiliki satu atau lebih

7
penyebab, yang bila terjadi memiliki satu atau lebih dampak. Resiko memiliki
3 unsur utama didalamnya, dapat dilihat dari gambar dibawah ini.

Jenis-Jenis resiko

Menurut IRM (2002), ada setidaknya 4 jenis resiko yang selama ini
sudah dikenal orang, yakni:

1. Resiko Operasional, yakni resiko yang berhubungan dengan operasional


organisasi, antra lain misalnya resiko yang mencakup sistem organisasi,
proses kerja, teknologi dan sumber daya manusia.
2. Resiko Finansial, yakni resiko yang berdampak pada kinerja keuangan
organisasi seperti kejadian resiko akibat dari fluktuasi mata uang, tingkt
suku bunga termasuk resiko pemeberian kredit, likuiditas da kondisi pasar.
3. Hazard Risk, yaitu resiko yang terkait dengan kecelakaan fisik seperti
kerusakan karena kebakaran, gempa bumi, ancaman fisik dll
4. Resiko stratejik, yaitu resiko yang ada hubungannya dengan strategi
perusahaan, politik, ekonomi, hukum. Resiko ini juga terkait dengan
reputasi kepemimpinan organisasi dan perubahan selera pelanggan.

Resiko memiliki kategori yang terbagi kedalam dua kategori yang dilihat untuk
membedakan dampak yang akan terjadi pada masing-masing resiko, kategori
tersebut terdiri dari :

 Resiko spekulatif

Resiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi perusahaan yang


dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian.

Resiko spekulatif kadang-kadang dikenal pula dengan istilah resiko


bisnis(business risk). Seseorang yang menginvestasikan dananya disuatu
tempat menghadapi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama investasinya
menguntungkan atau malah investasinya merugikan. Resiko yang dihadapi
seperti ini adalah resiko spekulatif. Resiko spekulatif adalah suatu keadaan

8
yang dihadapi yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat
menimbulkan kerugian.

 Resiko murni

Resiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat
merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan.

Salah satu contoh adalah kebakaran, apabila perusahaan menderita


kebakaran,maka perusahaan tersebut akan menderita kerugian.
kemungkinan yang lain adalah tidak terjadi kebakaran. Dengan demikian,
kebakaran hanya menimbulkan kerugian, bukan menimbulkan
keuntungan, kecuali ada kesengajaan untuk membakar dengan maksud-
maksud tertentu.

Resiko murni adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau
tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu cara
menghindarkan resiko murni adalah dengan asuransi. Dengan demikian
besarnya kerugian dapat diminimalkan. itu sebabnya resiko murni kadang
dikenal dengan istilah resiko yang dapat diasuransikan ( insurable risk ).

Perbedaan utama antara resiko spekulatif dengan resiko murni adalah


kemungkinan untung ada atau tidak, untuk resiko spekulatif masih terdapat
kemungkinan untung sedangkan untuk resiko murni tidak dapat
kemungkinan untung.

Pengendalian Resiko
Pengendalian resiko melalui rencana kegiatan program dan tingkatan
tim. Pada tahap ini perlu dilakukan pengembangan sebuah program untuk
pengendalian resiko di masing-masing bagian maupun area organisasi.
Pengendalian resiko meliputi identifikasi alternatif-alternatif pengendalian
resiko, analisis pilihan-pilihan yang ada, rencana pengendalian dan
pelaksanaan pengendalian.

9
Identifikasi Alternatif-Alternatif Pengendalian Resiko
a. Penghindaran resiko
Beberapa pertimbangan penghindaran resiko :
 Keputusan untuk menghindari atau menolak resiko sebaiknya
memperhatikan informasi yang tersedia dan biaya pengendalian
resiko.
 Kemungkinan kegagalan pengendalian resiko.
 Kemampuan sumber daya yang ada tidak memadai untuk
pengendalian.
 Penghindaran resiko lebih menguntungkan dibandingkan dengan
pengendalian resiko yang dilakukan sendiri.
 Alokasi sumber daya tidak terganggu.
b. Meningkatkan probabilita
Digunakan sebagai gambaran kualitatif dari peluang atau
frekuensi.Kemungkinan dari kejadian atau hasil yang spesifik, diukur
dengan rasio dari kejadian atau hasil yang spesifik terhadap jumlah
kemungkinan kejadian atau hasil. Probabilitas dilambangkan dengan
angka dari 0 dan 1, dengan 0 menandakan kejadian atau hasil yang tidak
mungkin dan 1 menandakan kejadian atau hasil yang pasti.
c. Mengurangi konsekuensi
Alternatif ini melihat kepada dampak dari sebuah proses yang sudah di
lakukan, apakah itu dampak positif maupun negative, guna untuk
meringankan para pekerja dari resiko yang ada.
d. Transfer resiko
Alternatif transfer resiko ini, dilakukan setelah dihitung keuntungan
dan kerugiannya. Transfer resiko ini bisa berupa pengalihan resiko
kepada pihak kontraktor. Oleh karena itu didalam perjanjian kontrak
dengan pihak kontraktor harus jelas tercantum ruang lingkup pekerjaan
dan juga resiko yang akan ditransfer. Selain itu konsekuensi yang
mungkin terjadi dapat juga di transfer resikonya dengan pihak asuransi.

10
2.4. Proses Manajemen Resiko
Proses manajemen resiko memberikan gambaran kepada kita bahwa untuk
mengelola resiko ada beberapa tahapan yakni:
1. Perencanaan Manajemen Resiko.
Perencanaan meliputi langkah memutuskan bagaimana mendekati dan
merencanakan kegiatan manajemen resiko untuk sebuah proyek. Dengan
mempertimbangkan lingkup proyek, rencana manajemen proyek, faktor
lingkungan perusahaan, maka tim proyek dapat mendiskusikan dan
menganalisis aktivitas manajemen resiko untuk proyek-proyek tertentu.
Untuk membuat perencanan manajemen resiko, ada bebrapa hal yang
diperlukan, yakni :
 Project Charter, yakni dokumen yang dikeluarkan oleh manajemen
senior yang secara formal menyatakan adanya suatu proyek.
Dokumen ini memberi otorisasi kepada manajer proyek untuk
menggunakan sumberdaya organisasi untuk melaksanakan
aktivitas proyek.
 Kebijakan manajemen resiko,
 Susunan peran dan tanggung jawab,
 Toleransi stakeholder terhadap resiko, dan
 Tamplate untuk rencana manajemen resiko organisasi.

Output dari perencanaan manajemen resiko adalah Risk Management Plan


yang berisi:
 Metodologi yang menguraikan definisi alat, pendekatan, sumber
data yang mungkin digunakan dalam manajemen resiko proyek
tertentu
 Peran dan Tanggung Jawab yang menguraikan tanggung jawab dan
peran utama serta pendukung berikut keanggotaan tim manajemen
resiko untuk setiap tindakan
 Budget yang berisi rencana anggaran untuk manajemen resiko
proyek

11
 Waktu yang berisi rencana waktu pelaksanaan proses manajemen
resiko di sepanjang siklus proyek
 Scoring dan Intepretasi yang menguraikan metode skoring dan
intepretasi yang sesuai tipe dan waktu analisis resiko kualitatif
maupun kuantitatif.L
2. Identifikasi Resiko

Sebagai suatu rangkaian proses, identifikasi resiko dimulai dengan


memahami apa sebenarnya yang disebut sebagai resiko. Berikutnya adalah
pendefinisian resiko yang mungkin mempengaruhi tingkat keberhasilan proyek
dan mendokumentasikan karakteristik dari tiap-tiap resiko dengan melakukan
Hasil utama dari langkah ini adalah risk register.
Identifikasi resiko dapat dilakukan dengan analisis sumber resiko dan analisis
masalah Analisis sumber resiko yaitu analisis resiko dengan melihat darimana
resiko berasal.

Ada tiga sumber resiko yang sudah banyak dikenal yakni Resiko internal
yakni resiko yang bersumber dari internal organisasi yang dapat dikategorikan
dalam non technical risk (manusia, material, keuangan) dan technical risk
(disain, konstruksi dan operasi). Analisis masalah adalah analisis
resiko yang terkait dengan kekawatiran/ rasa khawatir.

Untuk dapat mengidentifikasi resiko setidaknya ada empat metode yang


digunakan, yakni :
 Identifikasi resiko berdasarkan tujuan Yaitu resiko diidentifikasi
berdasarkan sejauh mana suatu peristiwa dapat membahayakan
pencapaian tujuan secara perbagian atau secara keseluruhan
pekerjaan proyek.
 Identifikasi Resiko berdasarkan Skenario. Yakni resiko
diidentifikasi berdasarkan skenario yang dibuat berdasarkan
perkiraan terjadinya sebuah peristiwa.
 Identifikasi resiko berdasarkan Taksonomi. Yakni resiko
dibreakdown berdasarkan sumber resiko dengan menggunakan

12
pengetahuan praktik yang ada melalui daftar pertanyaan yang telah
disusun yang jawabannya akan menunjukkan resiko yang ada.
 Common risk check. Yakni resiko yang sudah biasa terjadi
didaftar dan dilakukan pemilihan mana resiko yang sesuai dengan
proyek yang sedang dikerjakan.
3. Analisis Resiko Kualitatif
Analisis kualitatif salam manajemen resiko adalah proses menilai dampak
dan kemungkinan risko yang sudah diidentifikasi. Proses ini dilakukan dengan
menyusun resiko berdasarkan dampaknya terhadap tujuan proyek. Analisis ini
merupakan cara prioritisasi resiko sehingga membentuk gambaran resiko yang
harus mendapat perhatian khusus dan cara merespon resiko tersebut seandainya
terjadi.
4. Analisis Resiko Kuantitatif
Analisis resiko secara kuantitatif merupakan metode untuk
mengidentifikasi resiko kemungkinan kegagalan sistem dan memprediksi
besarnya kerugian. Analisis ini dilakukan dengan mengaplikasikan formula
matematis yang dikaitkan dengan nilai finansial. Secara matematis
penghitungan resiko dilajkukan dengan mengalikan tingkat kemungkinan
kejadian dengan dampak yang ditimbulkan.
Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengambil langkah strategis
dalam mengatasi resiko yang teridentifikasi.. Meskipun analisis kuantitatif ini
menggunakan pendekatan matematis, namun pada prinsipnya analsisi ini
merupakan tindak lanjut yang mengikuti hasil analisis kualitatif. Kesulitan
utama dalam analisis resiko kuantitatif adalah pada saat menentukan tingkat
kemungkinan karena data-data statistik belum tentu tersedia untuk semua
peristiwa.
5. Penanganan Resiko
Penangan resiko diartikan sebagai proses yang dilakukan untuk
meminimalisasi tingkat resiko yang dihadapi sampai pada batas yang dapat
diterima. Sacra kuantitatif, upaya meminimalisasi resiko dilakukan dengan

13
menerapkan langkah-langkah yang diarahkan pada turunnya angka hasil ukur
yang diperoleh dari analisis resiko.
Meskipun dalam penanganan resiko dapat dilakukan dengan satu atau
lebih cara yang diaplikasikan secara bersamaan atau simultan misalnya
mengurangi resiko sekaligus mengalihkan resiko, namun secara umum, teknik
yang digunakan untuk menangani resiko dikelompokkan menjadi beberapa
kategori, yaitu :
 Menghindari resiko yakni dengan tidak melakukan aktivitas yang
beresiko dan memilih melakukan kegiatan yang tidak memiliki
resiko.
 Mitigasi/ Reduksi/ Mengurangi resiko yakni dengan melakukan
tindakan untuk mengurangi peluang terjadinya peristiwa yang tidak
diharap. Misalnya dengan memilih orang-orang yang kompeten
untuk dipekerjakan di proyek.
 Menerima resiko yakni tetap melakukan pekerjaan yang
mengandung resiko dengan tidak melakukan perubahan apapun
namun menyiapkan rencana kontingensi jika resiko terjadi. Tranfer
Resiko yakni dengan mengalihkan resiko ke pihak lain misalnya
dengan membeli asuransi.
6. Evaluasi resiko
Proses yang biasa digunakan untuk menentukan manajemen resiko dengan
membandingkan tingkat resiko terhadap standar yang telah ditentukan, target
tingkat resiko dan kriteria lainnya.Melakukan Evaluasi Resiko, tentukan
kriteria yang diduga akan menghambat evaluasi resiko yang akan dilakukan.
Hal tersebut ditentukan oleh kesesuaian dan perlakuan resiko yang didasari
kegiatan operasional, teknis, dana, hukum, sosial, kemanusiaan atau kriteria
lainnya. Biasanya hal tersebut tergantung dari kebijakan internal, tujuan,
objektifitas, dan kebijakan organisasi perusahaan.Kriteria dipengaruhi oleh
persepsi internal dan eksternal, serta ketentuan hukum. Sangat penting untuk
menyesuaikan kriteria tersebut dengan lingkungan yang ada. Kriteria resiko
harus dibuat sesuai dengan jenis resiko yang ada dan level resikonya

14
BAB lll
METODE DAN PEMBAHASAN JURNAL

Pengukuran risiko meliputi penentuan tingkat risiko masing-masing tujuan dan


estimasi analisis risiko dengan menerapkan berbagai pendekatan dan teknologi.
Resiko eksternal (Kriteria lingkungan):
• Resiko politik
• Risiko ekonomi
• Risiko social
• Resiko cuaca

Risiko politik: Ada perubahan dalam peraturan pemerintah tentang sistem


legislatif, peraturan dan kebijakan dan sistem administrasi yang tidak tepat, dan
lain-lain (Li dan Liao, 2007).

Risiko ekonomi: Ada ketidakstabilan ekonomi di negara ini, situasi pembayaran


di bidang manufaktur, inflasi dan pendanaan. Mengingat situasi ekonomi saat ini,
hasil ini bisa diharapkan secara wajar.

Risiko sosial: Apakah semakin penting bagi upaya alokasi risiko. Ini adalah area
di mana tekanan politik dan sosial dari pihak-pihak yang memiliki minat sedikit
dalam sebuah proyek namun memiliki dampak yang besar pada proyek semacam
itu sangat mempengaruhi hasilnya. Dampak bantuan keuangan terhadap
pembangunan sosial dan ekonomi daerah dianalisis oleh Ginevicius dan Podvezko
(2009), komunikasi risiko dalam organisasi dianalisis oleh Conchie and Bums
(2008).

Risiko cuaca: Kecuali kondisi yang sangat tidak normal, risiko kontraktor
dianggap sebagai dampaknya terhadap metode konstruksi dapat dinilai oleh
kontraktor.

Risiko proyek (kriteria proses konstruksi):


• Risiko waktu
• Risiko biaya

15
• Kualitas kerja
• Risiko konstruksi
• Risiko teknologi

Resiko waktu: Dapat ditentukan dengan menilai keterlambatan pada konstruksi,


teknologi dan untuk semua penelitian.

Risiko biaya: Biaya produk yang berpeluang tumbuh karena mengabaikan


manajemen (Zavadskas et al., 2008).
Kualitas kerja: Pekerjaan deflektif dianggap sebagai faktor risiko yang signifikan
dalam kategori ini karena tidak hanya mengakibatkan penundaan konstruksi dan
biaya tambahan bagi kontraktor namun dengan mudah menimbulkan perselisihan
mengenai pertanggungjawaban atas defleksi.

Risiko konstruksi: Risiko yang terjadi karena penundaan konstruksi, perubahan


dalam teknologi kerja dan konstruksi.

Risiko teknologi: kesalahan perancangan, kurangnya teknologi, kesalahan


manajemen, kekurangan tenaga kerja yang memenuhi syarat.

Resiko Internal (Intrinsik):


• Risiko sumber daya
• Risiko anggota proyek
• Risiko pemangku kepentingan
• Desainer berisiko
• Risiko kontraktor
• Risiko subkontraktor
• Pemasok risiko
• Risiko tim
• Risiko situs konstruksi
• Dokumen dan informasi risiko

16
Risiko sumber daya: Bahan dan peralatannya terlibat risiko yang cukup besar.
Ketersediaan dan produktivitas sumber daya yang diperlukan untuk membangun
proyek adalah risiko yang harus bagi kontraktor untuk diperhitungkan (Fisk,
2003).

Risiko anggota proyek: Risiko tim mengacu pada isu-isu yang terkait dengan
anggota tim proyek yang dapat meningkatkan ketidakpastian hasil proyek seperti
pergantian anggota tim, pembentukan staf, kurangnya pengetahuan di antara
anggota tim, kerja sama, motivasi dan masalah komunikasi tim.

Resiko pemangku kepentingan: Yang benar dimiliki oleh pemangku kepentingan


saja dan harus dipegang oleh pemangku kepentingan kecuali sejauh mereka
dipengaruhi oleh metode konstruksi yang ditentukan oleh kontraktor atau dibuat
oleh pemasok yang dikendalikan oleh kontraktor. Pengaruh pemangku
kepentingan terhadap lingkungan eksternal dianalisis oleh Mitkus dan Sostak
(2008).

Risiko Perancangan/Desainer: Ekspansi konstruksi telah menempatkan beban


besar pada profesi desain. Mempertahankan standar kinerja dalam menghadapi ini
cukup sulit dan terkadang desain atau spesifikasi defleksi terjadi yang
menciptakan masalah konstruksi. Kegagalan desain atau kesalahan konstruksi
menjadi lebih besar dan arsitek harus menanggung biaya sebenarnya dari
kegagalan tersebut.

Risiko Kontraktor: Kontraktor utama atau kontraktor umum berada pada posisi
terbaik untuk menilai kapasitas subkontraktor mereka dan oleh karena itu
merekalah yang harus menanggung risiko jika tidak memperhitungkan risiko
subkontraktor dengan benar.

Resiko subkontraktor: Hal ini diasumsikan dengan benar oleh kontraktor kecuali
bila timbul dari salah satu risiko lain yang tercatat terkait dengan pemangku
kepentingan atau arsitek (Fisk, 2003).

17
Risiko Pemasok: Kegagalan dari kewajiban pemasok (Fisk, 2003).

Risiko tim: Risiko tim mengacu pada isu-isu yang terkait dengan anggota tim
proyek yang dapat meningkatkan ketidakpastian hasil proyek seperti pergantian
anggota tim, pembentukan staf, kurangnya pengetahuan di antara anggota tim,
kerja sama, motivasi dan masalah komunikasi tim. Tim kerja harus menganalisis
aktivitas bisnis semua anggota aliansi dan mengidentifikasi berbagai faktor risiko
dalam aktivitas bisnis dan karakter mereka (Li dan Liao, 2007; Li et al., 2007).

Risiko lokasi konstruksi: Eksposur kecelakaan di tempat kerja melekat pada sifat
pekerjaan dan paling baik dinilai oleh kontraktor dan penasihat asuransi dan
keselamatan mereka (Fisk, 2003).

Dokumen dan risiko informasi mengasumsikan: kontradiksi dalam dokumen; hal


tdk mengindahkan; hukum dan komunikasi. Konfirmasi untuk penjelasan definisi
dan penyelesaian sengketa yang tertunda merupakan risiko signifikan selama
konstruksi proyek. Komunikasi sangat penting pada semua periode konstruksi dan
setelah menyelesaikan pekerjaan konstruksi.

Demikian juga, manajemen risiko telah menjadi isu tepat waktu yang banyak
dibahas di industri. Namun, terkait dengan industri konstruksi, manajemen risiko
tidak umum digunakan. Semakin banyak perusahaan konstruksi mulai menyadari
proses manajemen risiko, namun tetap tidak menggunakan model dan teknik yang
ditujukan untuk mengelola risiko. Ini bertentangan dengan fakta bahwa industri
ini berusaha menjadi lebih banyak biaya dan waktu yang efisien serta memiliki
kontrol lebih terhadap proyek. Industri konstruksi beroperasi di lingkungan yang
sangat tidak pasti dimana kondisi dapat berubah karena kompleksitas setiap
proyek (Sanvido et al., 1992). Tujuan masing-masing organisasi adalah sukses
dan manajemen risiko dapat memfasilitasi hal tersebut. Namun, tidak boleh
dipungkiri bahwa manajemen risiko bukanlah alat yang menjamin kesuksesan,
melainkan alat yang membantu meningkatkan probabilitas mencapai kesuksesan.
Manajemen risiko oleh karena itu merupakan konsep yang proaktif dan bukan

18
reaktif. Klasifikasi risiko untuk proyek konstruksi disajikan pada Tabel 1 (Tsai
dan Yang, 2010).

Proyek-proyek pembinaan metode manajemen risiko: Identifikasi Resiko dapat


dilakukan dengan metode berikut (Rajendhran dan Sundar, 2011; Rehacek, 2017).

 Brainstorming: Ini adalah salah satu teknik yang paling populer.


Umumnya digunakan untuk pembuatan ide; Hal ini juga sangat
berguna untuk identifikasi risiko. Semua orang yang relevan yang
terkait dengan proyek berkumpul di satu tempat. Ada satu fasilitator
yang sedang memberi penjelasan tentang berbagai aspek dengan
peserta dan kemudian setelah mencatat faktor-faktornya. Sebelum
menutupnya fasilitator meninjau faktor-faktor yang menghilangkan
yang tidak perlu.

 Teknik Delphi: Teknik ini mirip dengan brainstorming namun peserta


dalam hal ini tidak saling mengenal dan mereka tidak berada pada
tempat yang sama. Mereka akan mengidentifikasi faktor-faktor
tersebut tanpa berkonsultasi dengan peserta lainnya. Fasilitator seperti
dalam brainstorming meringkas faktor-faktor yang diidentifikasi.

19
 Wawancara / pendapat ahli: Pakar atau personil dengan pengalaman
yang memadai dalam sebuah proyek dapat sangat membantu dalam
menghindari/menyelesaikan masalah serupa berulang-ulang. Semua
peserta atau orang yang bersangkutan dalam proyek dapat
diwawancarai untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
risiko.

 Pengalaman masa lalu: Pengalaman masa lalu dari jenis proyek yang
sama, analoginya dapat dibentuk untuk identifikasi faktor-faktor
risiko. Bila membandingkan karakteristik proyek akan memberikan
wawasan tentang faktor umum.

 Daftar Checklist: Ini adalah daftar faktor-faktor yang memungkinkan


namun sederhana namun sangat berguna. Daftar cek yang berisi daftar
risiko yang diidentifikasi dalam proyek yang dilakukan di masa lalu
dan tanggapan terhadap risiko tersebut memberikan identifikasi risiko
awal.

Penilaian risiko dapat dilakukan dengan metode berikut (Rajendhran dan Sundar,
2011; Rehacek, 2017) (Gambar 3):

20
Gambar 3: Empat kategori untuk faktor PI; Faktor 1-PI kategori 9 yang
membutuhkan perhatian maksimal; Kategori 2-PI faktor 6 yang membutuhkan
perhatian yang baik; Faktor 3-PI kategori 3 yang membutuhkan perhatian yang
relatif kurang; Faktor 4-PI kategori 1 dan 2, membutuhkan lebih sedikit perhatian

 Analisis sensitivitas metode kuantitatif: Ini dilakukan untuk


mengidentifikasi komponen proyek yang tidak pasti yang memiliki
dampak maksimal pada hasil proyek. Setelah dilakukan model risiko
dilakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui sensitivitas berbagai
elemen model pada hasil proyek. Untuk melakukan ini, nilai satu variabel
pada satu waktu berubah dan dampak dari perubahan ini kemudian terlihat
pada proyek.

 Skenario analisis: Skenario analisis memberikan dampak dari skenario


yang berbeda dari proyek atau dampak dari risiko yang berbeda jika itu
terjadi secara bersamaan. Keputusan yang adil dapat dilakukan setelah
analisis ini, pilihan yang akan memberi kerugian atau bahaya lebih rendah
sehingga opsi dapat diikutsertakan. Simulasi Probabilistik (Simulasi
Monte Carlo) Simulasi proyek dilakukan dengan menggunakan model
untuk menunjukkan dampak potensial dari tingkat ketidakpastian yang
berbeda terhadap tujuan proyek. Simulasi Monte Carlo umumnya
digunakan untuk analisis ini. Hal ini dapat mengukur dampak
ketidakpastian dan risiko terhadap anggaran dan jadwal proyek. Ini
mensimulasikan sistem penuh berkali-kali setiap kali memilih secara acak
nilai untuk setiap faktor dari distribusi probabilitasnya. Ini menggunakan
tiga perkiraan titik seperti kemungkinan besar, kasus terburuk dan durasi
kasus terbaik untuk setiap tugas dalam manajemen waktu.

 Pohon keputusan: Analisis ini dilakukan dengan diagram pohon


keputusan. Pohon keputusan sangat membantu untuk merumuskan
masalah dan mengevaluasi pilihan. Dalam analisis ini ada model grafis

21
yang digunakan untuk mewakili proyek dan dapat secara jelas
mencerminkan dampak dari setiap keputusan yang diambil dalam proyek.
Perencanaan respons risiko dapat dilakukan dengan metode berikut (Rajendhran
dan Sundar, 2011; Rehacek, 2017)
 Penghindaran risiko: Resiko dapat ditunda dengan menghapus penyebab
risiko pelaksanaan proyek dalam arah yang berbeda sambil tetap berusaha
mencapai tujuan proyek. Mengubah rencana manajemen proyek untuk
menghilangkan ancaman untuk mengisolasi tujuan proyek dari dampak
risiko atau untuk melonggarkan tujuan proyek yang dalam bahaya seperti
memperpanjang jadwal atau mengurangi cakupan.
 Transfer Resiko: Memindahkan risiko melibatkan menemukan beberapa
pihak lain yang bersedia menerima tanggung jawab atas pengelolaannya
dan siapa yang menanggung tanggung jawab atas risiko jika hal itu terjadi.
Mentransfer ancaman tidak menghilangkannya; Ancaman masih ada
namun dimiliki dan dikelola oleh pihak lain. Mentransfer risiko bisa
menjadi cara yang efektif untuk mengatasi eksposur risiko keuangan.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa risiko dimiliki dan dikelola
oleh partai yang paling mampu mengatasinya secara efektif.
 Mitigasi / pengurangan risiko: Mitigasi risiko mengurangi kemungkinan
dan / atau dampak dari kejadian risiko buruk terhadap ambang batas yang
dapat diterima. Mengambil tindakan dini untuk mengurangi kemungkinan
dan / atau dampak risiko seringkali lebih efektif.
 Eksploitasi risiko: Strategi ini berusaha menghilangkan ketidakpastian
yang terkait dengan kenaikan risiko tertentu dengan menciptakan peluang
yang pasti terjadi. Hilangkan ketidakpastian yang terkait dengan risiko
kenaikan tertentu. Kesempatan didefinisikan sebagai kejadian risiko jika
terjadi akan berdampak positif terhadap pencapaian tujuan proyek.
 Pembagian risiko: Alokasikan kepemilikan risiko atas kesempatan ke
pihak lain yang paling mampu memaksimalkan kemungkinan terjadinya
dan meningkatkan potensi keuntungan jika hal itu terjadi. Mentransfer
ancaman dan kesempatan berbagi serupa terjadi karena pihak ketiga

22
menggunakan orang-orang yang ancamannya ditransfer mengambil
tanggung jawab dan orang-orang yang peluangnya dialokasikan juga
diperbolehkan untuk berbagi keuntungan potensial.
 Peningkatan/Menambah risiko: Respon ini bertujuan untuk mengubah
"ukuran" dari risiko positif. Kemungkinan ditingkatkan dengan
meningkatkan probabilitas dan / atau dampaknya, sehingga
memaksimalkan manfaat yang diperoleh dari proyek. Mencari untuk
memfasilitasi atau memperkuat penyebab kesempatan dan secara proaktif
menargetkan dan memperkuat kondisi pemicunya.
 Penerimaan risiko: Pada akhirnya tidak mungkin menghilangkan semua
ancaman atau memanfaatkan semua peluang yang dapat kami
dokumentasikan dan setidaknya memberikan kesadaran bahwa ini ada dan
telah diidentifikasi, beberapa istilah "penerimaan pasif" ini. Strategi ini
diadopsi bila tidak memungkinkan atau praktis untuk menanggapi risiko
dengan strategi lain atau respon tidak dibenarkan oleh besarnya risiko.
Ketika manajer proyek dan tim proyek memutuskan untuk menerima
risiko, mereka setuju untuk mengatasi risiko tersebut jika dan kapan hal itu
terjadi. Ini melibatkan penggunaan rencana mundur (kontingensi) jika
terjadi risiko. Kontinjensi juga bisa dalam bentuk sesuatu yang tersimpan
dalam cadangan untuk menghadapi risiko yang tidak diketahui atau dalam
bentuk biaya untuk menghadapi risiko yang tidak diketahui.
 Pengendalian risiko adalah langkah terakhir dari proses (Rajendhran dan
Sundar, 2011; Rehacek, 2017). Setelah kami menerapkan tindakan
respons, kami harus melacak dan mencatat keefektifannya dan setiap
perubahan pada profil risiko proyek. Apakah tindakan respons memiliki
efek positif atau negatif terhadap pencapaian tujuan proyek? Tanggapan
yang diambil dalam risiko juga harus didokumentasikan untuk referensi
dan rencana proyek di masa depan.

23
BAB lV
REVIEW JURNAL

24
BAB V
KESIMPULAN

Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen konstruksi seperti


hasil penilaian risiko dalam proyek konstruksi, pemilihan kontraktor dan
pemasok, dll. Setiap manajer proyek harus memiliki pengetahuan dasar tentang
risiko yang terkait dengan sebuah proyek dan bagaimana mengatasinya.

Resiko dikelola setiap hari di industri ini namun tidak dengan cara terstruktur
seperti yang dijelaskan oleh literatur. Namun, informasi yang diberikan di sumber
tersebut agak berantakan. Beberapa teori yang diberikan oleh literatur manajemen
risiko sama sekali tidak berlaku untuk industri konstruksi. Seperti juga peneliti
lain menegaskan, pengetahuan manajemen risiko mendekati nol, meski konsep
manajemen risiko semakin populer di sektor konstruksi.

Profesional di industri konstruksi menggunakan teknik yang dijelaskan dalam


literatur mengenai manajemen risiko namun tidak menyadarinya. Teknik
manajemen risiko jarang digunakan oleh peserta dalam proyek konstruksi. Peserta
terbiasa menangani risiko dengan pendekatan informal. Teknik ini tidak
dipekerjakan karena kurang pengetahuan dan kesadaran di kalangan industri
konstruksi. Teknik manajemen risiko harus diterapkan ke dalam proyek
konstruksi pada tahap awal proyek untuk mendapatkan manfaat maksimal dari
teknik ini. Oleh karena itu, ada kebutuhan yang berkembang untuk memiliki
prosedur terdokumentasi dengan baik yang seharusnya menjadi solusi satu atap
untuk semua bahaya yang mungkin terjadi selama siklus hidup proyek. Harus ada
pendekatan yang lebih sehat terhadap manajemen risiko daripada pendekatan
sporadis saat ini terhadap risiko.

25
DAFTAR PUSTAKA

Conchie, S.M. and C. Burns, 2008. Trust and risk communication in high-
risk organizations: A test of principles from social risk research. Risk
Anal., 28: 141-149.
Fisk, E.R., 2003. Construction Project Administration. 7th
Edn., Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey, USA.,
ISBN:9780130984722, Pages: 637.
Ginevicius, R. and V. Podvezko, 2009. Evaluating the changes in
economic and social development of Lithuanian counties by multiple
criteria methods. Technol. Econ. Dev. Economy, 15: 418-436.
Li, G.D., D. Yamaguchi and M. Nagai, 2007. A grey-based decision-
making approach to the supplier selection problem. Mathe. Comput.
Modell., 46: 573-581.
Li, Y. and X. Liao, 2007. Decision support for risk analysis on dynamic
alliance. Decis. Support Syst., 42: 2043-2059.
Mitkus, S. and O.R. Sostak, 2008. Modelling the process for defence of
third party rights infringed while imp lementing construction investment
projects. Technol. Econ. Dev. Economy, 14: 208-223.
PMI., 2013. A Guide to the Project Management Body of Knowledge
(PMBOK Guide). 5th Edn., Project Management Institute, Newton
Square, PA., USA.
Rajendhran, N. and P. Sundar, 2011. A study of risk assessment and
management in construction. Master Thesis, PSG College of Technology,
Coimbatore, India.
Rehacek, P., 2017. Application and usage of the standards for project
management and their comparison. J. Eng. Appl. Sci., 12: 994-1002.
Rutkauskas, A.V., 2008. On the sustainability of regional competitiveness
development considering risk. Technol. Econ. Dev. Economy, 14: 89-99.
Sanvido, V., F. Grobler, K. Parfitt, M. Guvenis and M.
Coyle, 1992. Critical success factors for construction projects. J. Constr.
Eng. Manage., 118: 94-111.

26
Tsai, T.C. and M.L. Yang, 2010. Risk assessment of design-bid-build and
design-build building projects.
J. Oper. Res. Soc. Japan, 53: 20-39.
Zavadskas, E.K., Z. Turskis and J. Tamosaitiene, 2008. Contractor
selection of construction in a competitive environment. J. Bus. Econ.
Manage., 9: 181-187.
Zayed, T., M. Amer and J. Pan, 2008. Assessing risk and
Asgari, S., 2016. Insulated Concrete Formwork systems (ICFs) from the
perspective of project management. J. Eng. Appl. Sci., 100: 876-883.
uncertainty projects using 408-419.

27
LAMPIRAN
3/9/2018

MEMAHAMI KONSEP RISIKO


DALAM PROYEK KONSTRUKSI

MATA KULIAH :
REZA FERIAL A MANAJEMEN KUALITAS
YOSI MALINDA DAN
AGUS HARMOKO RISIKO PROYEK
ZEL CITRA

MAGISTER TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS MERCUBUANA
2018

• PENDAHULUAN
Tidak ada proyek konstruksi bebas risiko. Faktor risiko
dalam bisnis konstruksi sangat tinggi. Risiko objek
dapat didefinisikan sebagai kejadian atau kondisi
yang tidak pasti dimana jika terjadi akan memiliki
efek positif atau negatif pada tujuan proyek
konstruksi seperti waktu, biaya dan kualitas. Studi ini,
menyajikan penilaian risiko terhadap proyek
konstruksi, mengidentifikasi dan menganalisis risiko.

1
3/9/2018

• LANDASAN TEORI JURNAL


Manajemen risiko adalah tanggung jawab setiap orang.
Komunikasi terbuka dan jujur setiap orang harus dilibatkan
dalam proses manajemen risiko. Faktor kritis keberhasilan untuk
manajemen risiko diilustrasikan pada Gbr.1.

• METODE
Pengukuran risiko meliputi penentuan tingkat risiko
masing-masing tujuan dan estimasi analisis risiko
dengan menerapkan berbagai pendekatan dan
teknologi.
a. Identifikasi risiko adalah langkah pertama dan
utama dari proses manajemen risiko.
Risiko proyek dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
• Risiko eksternal
• Risiko proyek
• Risiko internal

2
3/9/2018

b. Menentukan struktur alokasi risiko proyek konstruksi


disajikan pada Gambar 2.

• HASIL DAN DISKUSI


Risiko Eksternal:
• Resiko politik
Risiko Internal :
• Risiko ekonomi • Risiko sumber daya
• Risiko social • Risiko anggota proyek
• Resiko cuaca • Risiko pemangku kepentingan
• Desainer berisiko
• Risiko kontraktor
Risiko Proyek:
• Risiko subkontraktor
• Risiko waktu • Pemasok risiko
• Risiko biaya • Risiko tim
• Kualitas kerja • Risiko situs konstruksi
• Risiko konstruksi • Dokumen dan informasi risiko
• Risiko teknologi

3
3/9/2018

Klasifikasi risiko untuk proyek konstruksi disajikan pada Tabel 1


(Tsai dan Yang, 2010).

Identifikasi Resiko dapat dilakukan dengan metode berikut


(Rajendhran dan Sundar, 2011; Rehacek, 2017).
• Brainstorming: Ini adalah pembuatan ide dalam
identifikasi faktor risiko secara bersama.
• Teknik Delphi: Mengidentifikasi faktor risiko tersebut
tanpa berkonsultasi dengan peserta lainnya.
• Wawancara/pendapat ahli: Pakar atau personil dengan
pengalaman yang memadai dalam sebuah proyek.
• Pengalaman masa lalu: Pengalaman masa lalu dari jenis
proyek yang sama.
• Daftar Checklist: Daftar cek yang berisi daftar risiko
yang diidentifikasi pada proyek yang dilakukan di masa
lalu dan tanggapan terhadap risiko tersebut

4
3/9/2018

Penilaian risiko dapat dilakukan dengan metode berikut


(Rajendhran dan Sundar, 2011; Rehacek, 2017)
a. Metode Kualitatif Analisis

b. Metode Kuantitatif Analisis


Dilakukan untuk mengidentifikasi
komponen proyek yang tidak pasti yang
memiliki dampak maksimal pada hasil
proyek. Setelah dilakukan pemodelan
risiko dilakukan analisis sensitivitas untuk
mengetahui sensitivitas berbagai elemen
model pada hasil proyek.

5
3/9/2018

c. Metode Skenario Analisis


Skenario analisis memberikan dampak dari
skenario yang berbeda dari proyek atau
dampak dari risiko yang berbeda jika itu
terjadi secara bersamaan.

d. Pohon keputusan:
Analisis ini dilakukan dengan diagram pohon
keputusan. Pohon keputusan sangat membantu
untuk merumuskan masalah dan mengevaluasi
pilihan. Dalam analisis ini ada model grafis
yang digunakan untuk mewakili proyek.

Perencanaan respons risiko dapat dilakukan


dengan metode berikut (Rajendhran dan
Sundar, 2011; Rehacek, 2017)
• Penghindaran risiko
• Transfer Resiko
• Mitigasi / pengurangan risiko
• Eksploitasi risiko
• Pembagian risiko
• Peningkatan/Menambah risiko
• Penerimaan risiko
• Pengendalian risiko

6
3/9/2018

• KESIMPULAN
Teknik manajemen risiko harus diterapkan ke
dalam proyek konstruksi pada tahap awal
proyek untuk mendapatkan manfaat maksimal
dari teknik ini. Oleh karena itu, ada kebutuhan
yang berkembang untuk memiliki prosedur
terdokumentasi dengan baik yang seharusnya
menjadi solusi satu atap untuk semua bahaya
yang mungkin terjadi selama siklus hidup
proyek.

• Review Jurnal 1
HASIL
• Tidak ada proyek konstruksi bebas risiko
• Ukuran dan kompleksitas bangunan konstruksi semakin
meningkat sehingga menambah risikonya.
KEKUATAN
• Menyajikan secara lengkap penilaian risiko terhadap proyek
konstruksi dan untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko
yang terkait dengan proyek penjadwalan
KELEMAHAN
• Tidak ada studi kasus yang dibahas dan implementasi pada
suatu proyek
KEBARUAN
• Tidak ada

7
3/9/2018