Anda di halaman 1dari 12

PEMISAHAAN HARTA PERSEROAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG

NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

NAMA: FITRI NISAYENTI

2015010461100

KELAS X

NASKAH JAWABAN UAS

HUKUM PERUSAHAAN

MKN- UNIVERSITAS JAYABAYA

2016
PEMISAHAAN HARTA PERSEROAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG

NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

I. Pendahuluan

Menurut Pemerintah Belanda, yang pada waktu membacakan memorie van

toelichting (memori penjelasan) Rencana Undang-Undang Wetboek van Koophandel di

muka parlemen, yang disebut dengan perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang

dilakukan secara tidak terputus-putus, dengan terang-terangan, dan dalam kedudukan

tertentu untuk mencari laba (bagi diri sendiri).

Secara umum,perusahaan didefinisikan sebagai suatu organisasi produksi yang

menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomi untuk memuaskan kebutuhan

dengan cara yang menguntungkan. Berdasarkan definisi diatas maka dapat dilihat adanya

lima unsur penting dalam sebuah perusahaan,yaitu organisasi,produksi,sumber

ekonomi,kebutuhan dan cara yang menguntungkan. Adapun jenis-jenis perusahaan :

1. Usaha Perseorangan;

2. Firma (Fa);

3. Perseroan Komanditer (CV);

4. Perseroan Terbatas (PT);

5. Perseroan Terbatas Negara (Persero);

6. Perusahaan Daerah (PD);

7. Perusahaan Negara Umum (PERUM);

8. Perusahaan Negara Jawatan (PERJAN);

9. Koperasi, dan
10. Yayasan.1

Menurut Prof. Molengraff, perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang

dilakukan secara terus menerus, bertindak keluar, untuk mendapatkan penghasilan,

dengan cara memperniagakan barang-barang, menyerahkan barang-barang, atau

mengadakan perjanjian-perjanjian perdagangan. Di sini Molengraff memandang

perusahaan dari sudut “ekonomi”. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang

menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus yang didirikan,

bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah Negara Indonesia dengan tujuan

memperoleh keuntungan dan atau laba.2

Suatu badan hukum dapat disebut sebagai badan hukum apabila telah dipenuhi

beberapa syarat, yakni:

1. Adanya harta kekayaan yang terpisah (hak – hak) dengan tujuan tertentu

terpisah dengan kekayaan pribadi antara anggota atau sekutu atau pemegang

saham dan badan yang bersangkutan. Tegasnya ada pemisahan kekayaan antara

kekayaan badan atau perusahaan dan kekayaan pribadi para anggota atau sekutu

atau pemegang sahamnya;

2. Adanya kepentingan yang menjadi tujuan badan yang bersangkutan;

3. Adanya beberapa orang yang menjadi pengurus badan tersebut.3

Ketiga syarat di atas merupakan syarat materiil bagi suatu badan hukum

terpenuhinya syarat – syarat materiil tersebut belum dapat menjadikan lembaga

tersebut badan hukum, ia juga harus memenuhi syarat – syarat formal badan hukum

yakni syarat formal tersebut adalah adanya pengakuan dari Negara atau Undang –

1
http://gemmyrozalia.blogspot.co.id/2014/05/makalah-hukum-bisnis-perusahaan.html, diakses pada tanggal
26 Agustus 2016.
2
https://ibelboyz.wordpress.com/2011/10/19/hukum-perusahaan/, diakses pada tanggal 26 Agustus 2016.
3
H.M.N. Purwosujipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia Jilid 2, Djambatan, Jakarta,1999,hlm 42
Undang yang menyatakan bahwa lembaga itu adalah badan hukum. Perseroan

Terbatas telah memenuhi syarat sebagai badan hukum.4

Badan hukum sebagai subjek hukum mencakup unsur – unsur sebagai

berikut:

1. Dapat memenuhi keputusan;

2. Memiliki harta kekayaan sendiri;

3. Dapat melakukan transaksi;

4. Dapat mempunyai utang – piutang

5. Dapat menuntut dan dituntut sebagaimana layaknya manusia

6. Mempunyai hak dan kewajiban.

Status Perseroan Terbatas sebagai badan hukum, maka sejak saat itu hukum

memperlakukan pemilik atau pemegang saham dan pengurus atau Direksi, terpisah

dari Perseroan Terbatas itu sendiri yang dikenal dengan istilah “ Separate legal

personality” yaitu sebagai individu yang berdiri sendiri, dengan demikian maka

pemegang saham tidak mempunyai kepentingan – kepentingan dalam kekayaan

Perseroan Terbatas, sehingga oleh sebab itu juga tidak bertanggung jawab atas utang

– utang perusahaan atau PT.5

II. Pembahasan

Dengan semakin berkembangnya dunia bisnis sekarang ini, kegiatan usaha suatu

Perseroan Terbatas (“Perseroan”) juga semakin berkembang. Banyak Perseroan yang

memperluas kegiatan bidang usahanya untuk mengimbangi perkembangan bisnis yang

terjadi, sehingga pemisahan beberapa usaha dalam satu Perseroan merupakan alternatif

4
Ridwan Khairandy et . al, Pengantar Hukum Dagang Indonesia 1, Yogyakarta.2000,hlm 23.
5
I.G. Rai Widrajaya, Hukum Perusahaan, ctk Ketiga, kesaint Blanc, Jakarta, 2003, hlm 131.
yang dapat dilakukan oleh Perseroan untuk melakukan efisiensi usaha dan menekan

ongkos operasi disamping untuk mengejar laba yang lebih maksimal. Pemisahan

memungkinkan suatu Perseroan memisahkan satu atau beberapa kegiatan usaha ke dalam

Perseroan yang menerima pemisahan. Dengan melakukan pemisahan suatu Perseroan

dapat lebih memfokuskan pada usaha intinya (core business) dan juga dapat mengurangi

risiko usaha pada Perseroan akibat meluasnya kegiatan usaha yang dilakukan oleh

Perseroan yang bersangkutan.

Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 (“UU PT”)

mendefinisikan Pemisahan sebagai perbuatan hukum yang dilakukan oleh Perseroan

untuk memisahkan usaha yang mengakibatkan seluruh aktiva dan pasiva Perseroan

beralih karena hukum kepada 2 (dua) Perseroan atau lebih atau sebagian aktiva dan

pasiva Perseroan beralih karena hukum kepada 1 (satu) Perseroan atau lebih.

UU PT membedakan Pemisahan kedalam 2 (dua) jenis pemisahan yaitu

Pemisahan murni dan Pemisahan tidak murni. Pemisahan murni adalah Pemisahan yang

mengakibatkan seluruh aktiva dan pasiva Perseroan beralih karena hukum kepada 2 (dua)

Perseroan lain atau lebih yang menerima peralihan dan Perseroan yang melakukan

Pemisahan tersebut berakhir karena hukum. Sedangkan pada Pemisahan tidak murni atau

spin off adalah Pemisahan yang mengakibatkan sebagian aktiva dan pasiva Perseroan

beralih karena hukum kepada 1 (satu) Perseroan lain atau lebih yang menerima peralihan

dan Perseroan yang melakukan Pemisahan tetap ada.

Persamaan dari kedua Pemisahan ini adalah adanya peralihan karena hukum atas

aktiva dan pasiva dari Perseroan yang melakukan pemisahan. Sedangkan perbedaannya

terletak pada eksistensi Perseroan yang melakukan Pemisahan setelah pemisahan tersebut

dilakukan. Pada Pemisahan murni, Perseroan yang melakukan pemisahan berakhir karena
hukum, sedangkan pada Pemisahan tidak murni, Perseroan yang melakukan Pemisahan

tidak berakhir.

Suatu Perseroan apabila akan melakukan Pemisahan harus memperhatikan

kepentingan Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan, kreditor dan mitra usaha

lainnya, serta masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha. Pemisahan tidak

dapat dilakukan apabila akan merugikan kepentingan pihak-pihak tertentu. Direksi

Perseroan yang akan melakukan Pemisahan wajib mengumumkan ringkasan rancangan

paling sedikit dalam 1 (satu) surat kabar dan mengumumkan secara tertulis kepada

karyawan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum pemanggilan

Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS’). Pengumuman ini dimaksudkan untuk

memberikan kesempatan kepada kreditor atau pihak-pihak lain yang merasa keberatan

akan rencana Pemisahan agar dapat mengajukan keberatannya. Kreditor atau pihak yang

merasa keberatan dapat mengajukan keberatan atas rencana Pemisahan dalam jangka

waktu paling lambat 14 (empat belas) hari setelah pengumuman. Apabila dalam jangka

waktu tersebut ternyata Kreditor tidak mengajukan keberatan, maka kreditor dianggap

menyetujui Pemisahan. Keputusan untuk melakukan Pemisahan harus didasarkan pada

keputusan RUPS untuk menyetujui Pemisahan Perseroan yang hanya dapat

dilangsungkan jika dalam rapat paling sedikit ¾ (tiga per empat) bagian dari jumlah

seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili dalam RUPS, dan keputusan RUPS

adalah sah jika disetujui oleh paling sedikit ¾ (tiga per empat) bagian dari jumlah suara

yang dikeluarkan, kecuali anggaran dasar menentukan kuorum kehadiran dan/atau

ketentuan tentang persyaratan pengambilan keputusan RUPS yang lebih besar.


Selanjutnya, rancangan pemisahan yang telah disetujui RUPS dituangkan ke dalam Akta

Pemisahan yang dibuat di hadapan notaris dalam bahasa Indonesia.6

Pemisahan perusahaan menurut undang-undang adalah perbuatan hukum yang

dilakukan perseroan untuk memisahkan usaha yang mengakibatkan seluruh aktiva dan

pasiva perseroan terbatas beralih karena hukum kepada dua perseroan terbatas atau lebih;

atau sebagian aktiva atau pasiva perseroan beralih karena hukum kepada satu perseroan

atau lebih. Setelah terjadi kesepakatan di dalam Rapat Umum Pemegang Saham,

pemisahan perusahaan dapat dilakukan dengan dua cara:

1. Pemisahan perusahan secara penuh/pemisahan murni (split off)

Pemisahan secara penuh adalah pemisahan perusahaan yang akan

mengakibatkan seluruh aktiva dan pasiva perseroan beralih karena hukum kepada dua

perusahaan atau lebih dan perseroan yang melakukan pemisahan tersebut selanjutnya

akan berakhir karena hukum. Beralih karena hukum artinya beralih berdasarkan titel

umum sehingga tidak diperlukan akta peralihan. Suatu contoh perusahaan A dengan

aset Rp100 miliar dipecah menjadi dua perusahaan B dan perusahaan C dengan

masing-masing perusahaan B mendapatkan aset Rp50 miliar dan perusahaan C

mendapatkan aset Rp50 miliar. Jadi karena asetnya menjadi nol maka perusahaan A

menjadi bubar karena hukum tanpa likuidasi.

2. Pemisahan perusahan sebagian/pemisahan tidak murni (spin off)

Pemisahaan perusahaan sebagian artinya pemisahaan perusahaan yang

mengakibatkan aktiva dan pasiva perseroan beralih karena hukum kepada satu

perseroan lain atau lebih yang menerima peralihan dan perseroan yang melakukan

pemisahan itu tetap ada. Suatu contoh perusahaan A dengan aset Rp100 miliar

melakukan pemisahan terhadap salah satu divisi usahanya menjadi perusahaan

6
http:.hukumperseroanterbatas.com/pemisahan-perusahaan/pemisahan-perseroan-terbatas/, diakses pada
tanggal 03 Agustus 2016.
tersendiri bernama PT B dengan aset Rp50 miliar. Dalam hal ini perusahaan induk

yaitu perusahaan A tetap eksis dengan aset yang tersisa Rp50 miliar dan untuk

selanjutnya kedua perusahaan dapat melakukan kegiatan usahanya bersama.

Berkenaan dengan pemegang saham atas perseroan baru hasil pemisahan, baik

dalam UU PT maupun UU Perbankan Syariah di atas tidak disebutkan secara tegas siapa

yang menjadi pemegang saham atas perseroan baru tersebut, apakah pemegang saham

dari perseroan awal atau perseroan awal itu sendiri. Aspek hukum lainnya yang juga

penting dalam spin off ini adalah terkait dengan perlindungan kreditur dan pihak-pihak

lain yang memiliki hak-hak istimewa yang bisa saja sebagai alat dari pemisahan

perseroan tersebut mengalami kerugian.7

Dalam spin off perseroan beberapa pihak yang harus mendapatkan perlindungan

hukum antara lain kreditur, karyawan dan para pemegang saham minoritas yang

melakukan pemisahan. Pemegang saham dalam hal ini perlu mendapatkan perlindungan

mengingat proses spin off untuk perseroan bisa terjadi bukan atas kehendak pemegang

saham, namun karena adanya ketentuan undang-undang yang mewajibkan pemisahan.

Spin Off merupakan bentuk pembebasan perseroan dimana sebuah bagian dari

perseroan menjadi mandiri dan saham perseroan yang baru tersebut dibagikan kepada

para pemegang saham.Dalam perseroan mekanisme spin off atau pemisahan belum

diakomodir sebagai salah satu alternatif dalam penguatan struktur perseroan di Indonesia.

Hal ini dapat dimengerti mengingat UU No.1 Tahun 1995 tidak menggatur konsep spin

off. Peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia memberikan pengertian

atau definisi spin off dengan rumusan kalimat yang hampir seragam.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (UUPT)

menggunakan istilah “Pemisahan” sebagai pengganti terminologi “Spin Off”. UUPT

7
Tumbuan Fred. B. G, Pokok-Pokok Undang-Undang Kepailitan, (Jakarta : Penerbit Ghalia, 2008), hal.39.
memberikan pengertian pemisahan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua

perseroan atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu perseroan

baru yang karena hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari perseroan yang

menggabungkan diri beralih karena hukum kepada perseroan yang menerima pemisahan

dan selanjutnya status badan hukum perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena

hukum.8

Setiap tindakan yang dilakukan di negara hukum haruslah mempunyai dasar

hukumnya. Apalagi tindakan hukum berupa spin off perseroan yang begitu penting

kedudukannya dalam bidang hukum perseroan tersebut. Secara yuridis, yang merupakan

dasar hukum bagi tindakan spin off tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dasar Hukum Utama (UUPT).

2. Dasar Hukum Kontraktual.

3. Dasar Hukum Status Perseroan (Pasar Modal, PMA, BUMN).

4. Dasar Hukum Konsekuensi Spin Off.

5. Dasar Hukum Pembidangan Usaha.9

Berbeda dengan restrukturisasi perseroan. Adapun pengertian restrukturisasi

menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti bahwa: “restrukturisasi merupakan kegiatan

untuk merubah struktur perseroan”. Sedangkan pengertian dari restrukturisasi James C.

Van Horne dan John M. Wachowicz, JR, yang diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan

Denny Arnos Kwari, bahwa: “restrukturisasidiikuti dengan adanya perubahan dalam

struktur modal, operasi, atau kepemilikan perseroan yang merupakan rutinitas

usahanya”.10

8
Ibid, hal. 51.
9
Bahari Adib, Prosedur Cepat Mendirikan Perseroan Terbatas, ( Yogyakarta : Pustaka Yustisia, 2010), hal. 24.
10
Ibid, hal. 76.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa restrukturisasi adalah tindakan atau

kegiatan merubah struktur perseroan melalui pertimbangan dan untuk tujuan tertentu,

dimana semuanya itu harus berdasarkan dengan ketentuan perundang-undangan yang

berlaku. Mengingat restrukturisasi ini terjadi pada badan usaha, maka pihak pengambil

keputusan dalan hal ini adalah perseroan yang bertindak sebagai stakeholders.

Restrukturisasi yang terjadi pada perseroan meliputi restrukturisasi sumber daya manusia

dan restrukturisasi keuangan. Dimana hal ini diberlakukan agar pengelolaan perseroan

sendiri dapat lebih optimal dalam meningkatkan kinerja keuangan.11

Dari kedua pengertian diatas pula, bahwa restrukturisasi dapat diartikan makin

membesaratau makin mengecilnya struktur organisasi suatu perseroan. Apabila diartikan

dalam pengertian pertama, maka kegiatan Spin Off juga merupakan upaya untuk

melakukan restrukturisasi. Dalam pengadaan restrukturisasi terhadap perseroan harus

terdapat adanya prinsip keterbukaan. Pelaksanaan prinsip keterbukaan ini sangat penting

untuk dilakukan karena berguna meningkatkan kepercayaan investor atau publik

khususnya terhadap pasar modal, kemudian dengan adanya prinsip keterbukaan dapat

berfungsi juga untuk menciptakan mekanisme pasar yang efisien. Filosofi ini di dasarkan

pada konstruksi pemberian informasi secara penuh sehingga pasar modal yang efisien

yaitu harga saham sepenuhnya merupakan refleksi dari seluruh informasi yang tersedia.12

III. Kesimpulan

Secara umum,perusahaan didefinisikan sebagai suatu organisasi produksi yang

menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomi untuk memuaskan kebutuhan

dengan cara yang menguntungkan. Berdasarkan definisi diatas maka dapat dilihat adanya

11
Ibid, hal. 80.
12
Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek, ( Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1996), hal.42.
lima unsur penting dalam sebuah perusahaan,yaitu organisasi,produksi,sumber

ekonomi,kebutuhan dan cara yang menguntungkan. Adapun jenis-jenis perusahaan :

1. Usaha Perseorangan;

2. Firma (Fa);

3. Perseroan Komanditer (CV);

4. Perseroan Terbatas (PT);

5. Perseroan Terbatas Negara (Persero);

6. Perusahaan Daerah (PD);

7. Perusahaan Negara Umum (PERUM);

8. Perusahaan Negara Jawatan (PERJAN);

9. Koperasi, dan

10. Yayasan

Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 (“UU PT”)

mendefinisikan Pemisahan sebagai perbuatan hukum yang dilakukan oleh Perseroan

untuk memisahkan usaha yang mengakibatkan seluruh aktiva dan pasiva Perseroan

beralih karena hukum kepada 2 (dua) Perseroan atau lebih atau sebagian aktiva dan

pasiva Perseroan beralih karena hukum kepada 1 (satu) Perseroan atau lebih.

I. Tanda Tangan

Jakarta 27 Agustus 2016

FITRI NISAYENTI
DAFTAR PUSTAKA

Fuady,Munir. 1996. Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek. Bandung : PT. Citra Aditya

Bakti.

Adib, Bahari. 2010. Prosedur Cepat Mendirikan Perseroan Terbatas, Yogyakarta : Pustaka

Yustisia.

B. G. Tumbuan Fred. 2008. Pokok-Pokok Undang-Undang Kepailitan. Jakarta : Penerbit

Ghalia.

http:.hukumperseroanterbatas.com/pemisahan-perusahaan/pemisahan-perseroan-terbatas/,

diakses pada tanggal 03 Agustus 2016.

http://gemmyrozalia.blogspot.co.id/2014/05/makalah-hukum-bisnis-perusahaan.html, diakses

pada tanggal 26 Agustus 2016.

https://ibelboyz.wordpress.com/2011/10/19/hukum-perusahaan/, diakses pada tanggal 26

Agustus 2016.

PurwosujiptO. H.M.N., 1999. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia Jilid 2,

Djambatan, Jakarta,