Anda di halaman 1dari 72

KONSEP DASAR

SISTEM TENAGA LISTRIK


Dr Sudarmono Sasmono, MT
Materi

 Pengertian Sistem Tenaga Listrik


 Single-Subscript Notation (Notasi subscript-Tunggal)
 Double-Subscript Notation (Notasi subscript – Ganda)
 Power in Single-Phase AC Circuits (Daya di saluran AC satu fasa)
 Complex Power (Daya Kompleks)
 The Power Triangle (Segitiga Daya)
 Direction of Power flow (Arah Aliran Daya)
 Voltage and Current in BalanceThree-Phase Circuits (Tegangan dan Arus di Saluran 3
fasa seimbang)
 Power in Balance Three-Phase Circuits (Daya di Saluran 3 Fasa Seimbang)
 Per-Unit Quantities (Kuantitas Per Unit)
 Changing the Base of Per-Unit Quantities (Perubahan Dasar Kuantitas Per Unit)
 Node Equations (Persamaan Node)
 The Single - Line or One-Line Diagram (Diagram Satu Garis)
 Impedance and Reactance Diagrams (Diagram Impedansi dan Reaktansi)
Sistem Tenaga Listrik
 Pengertian Dasar
 Sistem adalah bagian dari semesta yang menjadi fokus
perhatian.
 Dalam suatu sistem terdapat interaksi antar elemen yang saling
berhubungan dalam suatu keteraturan
 Sistem tenaga listrik adalah sistem yang menunjukkan interaksi
antar elemen-elemen dalam proses pembangkitan energi listrik.
 Sistem tenaga listrik membahas aspek-aspek :
◼ Energi Primer
◼ Sistem Pembangkitan
◼ Sistem Penyaluran
◼ Sistem Transmisi (Tegangan saluran > 20 kV)
◼ Sistem Distribusi (Tegangan saluran  20 kV)
◼ Regulasi teknis dan non teknis yang mempengaruhi pemilihan
alternative optimal
Sistem Tenaga Listrik (2)
Aspek-aspek penting dalam Sistem Tenaga Listrik

 Pertumbuhan sistem tenaga listrik


 Pertumbuhan sistem tenaga listrik dipengaruhi oleh pertumbuhan
kebutuhan listrik di suatu kawasan layanan listrik
 Pembangunan infrastruktur listrik mengikuti pertumbuhan kebutuhan listrik
di kawasan layanan listrik tersebut.
 Produksi listrik
 Listrik adalah energi sekunder yang dibangkitkan melalui konversi energi
primer menjadi energi listrik.
 Proses konversi dapat dilakukan melalui thermal, hidro dan konversi
langsung.
 Transmisi dan Distribusi
 Daya listrik dialirkan dari pembangkit ke beban/pengguna melalui
saluran transmisi dan/atau saluran distribusi
 Saluran transmisi umumnya bertegangan tinggi (>20 kV) mengalirkan
daya listrik dari pusat-pusat pembangkit ke pusat-pusat beban yang jauh.
 Saluran distribusi bertegangan menengah (<20 kV) mendistribusikan daya
dari Gardu Induk ke pengguna listrik
Aspek-aspek penting dalam Sistem Tenaga Listrik (2)

 Proyeksi Beban
 Proyeksi beban/kebutuhan listrik jangka panjang (≥10 tahun) dilakukan untuk melakukan
perencanaan pembangunan infrastruktur listrik
 Proyeksi beban/kebutuhan listrik jangka pendek (orde jam-jaman atau harian) dilakukan
untuk melakukan perencanaan operasi sistem.
 Economic Load Dispatch
 Pembangkit-pembangkit yang dioperasikan pada suatu sistem kelistrikan untuk memenuhi
kebutuhan listrik pada suatu waktu tertentu adalah kombinasi pembangkit yang memenuhi
biaya pembangkitan terendah pada suatu waktu tertentu.
 Gangguan
 Gangguan adalah kegagalan suatu sistem beroperasi karena kendala tertentu.
 Terdapat sejumlah tipe gangguan seperti gangguan 1 fasa ke tanah sampai gangguan 3
fasa ke tanah.
 Sistem Proteksi
 Sistem harus tetap beroperasi meskipun mengalami gangguan dengan cara isolasi
gangguan.
 Isolasi gangguan dilakukan oleh suatu sistem proteksi
 Kestabilan sistem
 Kestabilan sistem adalah kemampuan sistem kembali pada kondisi normalnya sesaat setelah
mengalami gangguan
Tegangan dan Arus

 Sistem tenaga listrik saat ini menggunakan sistem AC


(alternating current) dimana tegangan dan arus
berbentuk sinusoidal.
 Misalkan tegangan dan arus diberikan dalam bentuk
fungsi sinusoidal berikut :

 Tegangan dan Arus maksimal


Tegangan dan Arus (2)
 Magnitude Tegangan
𝑉𝑚𝑎𝑥 141,4
𝑉 = = = 100 𝑉
2 2

 Tegangan dan Arus dapat dituliskan mengikuti


Persamaan Euler
Tegangan dan Arus (3)
 Dengan menggunakan koordinat x sebagai koordinat
bilangan real dan koordinat y sebagai koordinat
bilangan imajiner maka penulisan dapat berbentuk :

 Dalam bentuk fasor :


Notasi Subscript Tunggal
(Single Subscript Notation)

 Dalam rangkaian AC,


notasi + dan – berubah-
ubah setiap setengah
siklus tegangan
 Arah arus yang mengalir
di beban akan berubah-
ubah sesuai dengan
perubahan setiap
setengah siklus tegangan
tersebut
Notasi Subscript Tunggal
 Karena perubahan tersebut, maka yang diukur sebenarnya
adalah arus dan tegangan fasor yang memenuhi persamaan :
𝑉𝑡 −𝑉𝐿
 𝐼𝐿 = 𝑍𝐴
 𝑉𝑡 = 𝐸𝑔 − 𝐼𝐿 𝑍𝑔
 Tegangan Instantanous 𝑣𝑎 dan tegangan vasor 𝑉𝑎 menunjukkan
tegangan di node a terhadap referensi node 0. Tegangan tersebut
bernilai positif jika a memiliki potensial lebih tinggi dari 0, dan
sebaliknya, sehingga berlaku
 𝑣𝑎 = 𝑣𝑡
 𝑣𝑏 = 𝑣𝐿
 𝑉𝑎 = 𝑉𝑡
 𝑉𝑏 = 𝑉𝐿
Notasi Subscript Ganda
(Double Subscript Notation)
 Penggunaan simbol polaritas dan arah arus dapat
dihindari dengan menggunakan notasi subscript ganda.
 Dalam notasi subscript ganda Iab = -Iba, sehingga dapat
dinyatakan subscript menunjukkan node antar
rangkaian dimana tegangan bernilai.
 Notasi subscript di tegangan dan parameter lainnya
menunjukkan node-node di saluran yang ada.
 vab menunjukkan tegangan sesaat antara impedansi Za
adalah tegangan antara node a dan node b dimana vab
positif selama setengah siklus ketika a memiliki nilai
potensial lebih tinggi dari b.
Notasi Subscript Ganda
(Double Subscript Notation)
 Tegangan fasor diberikan oleh persamaan
 𝑉𝑎𝑏 = 𝐼𝑎𝑏 . 𝑍𝐴

 Pemahaman setengah siklus positif dan


sebaliknya membentuk persamaan :
Notasi Subscript Ganda
(Double Subscript Notation)
 Berdasarkan Persamaan Kirchoff:

 Substitusi beberapa variabel dengan konsep notasi


subscript ganda didapatkan :

 Sehingga :
Daya di Saluran AC Satu Fasa
(Power in Single-Phase AC Circuits)
 Secara konseptual daya menunjukkan perubahan energi
setiap saat.
 Satuan daya adalah watt
 Daya yang diserap oleh suatu beban pada setiap saat
adalah sama dengan jatuh tegangan (voltage drop) pada
beban tersebut dalam volt dikalikan dengan arus yang
mengalir lewat beban dalam ampere.
 Jika terminal beban adalah a dan n maka :
 𝑣𝑛 = 𝑉𝑚𝑎𝑥 . cos 𝜔𝑡
 𝑖𝑛 = 𝐼𝑚𝑎𝑥 . cos 𝜔𝑡 − 0
 Daya pada saat tersebut (instantaneous power) adalah :
 𝑝 = 𝑣𝑛. 𝑖𝑛 = 𝑉𝑚𝑎𝑥 . 𝐼𝑚𝑎𝑥 cos 𝜔𝑡 cos 𝑤𝑡 − 0
Daya di Saluran AC Satu Fasa
(Power in Single-Phase AC Circuits)

 Daya bernilai positif ketika arus


mengalir pada arah tegangan drop
dimana energi ditransfer ke beban.
 Sebaliknya, daya bernilai negative
ketika arus mengalir pada arah
tegangan yang meningkan dimana
beban mengirimkan daya ke sistem
 Jika van dan Ian sefasa, maka beban
bersifat resistif sehingga daya sesaat
tidak akan pernah bernilai negative.
 Jika van dan Ian berbeda fasa sebesar
900, maka beban dapat bersifat
 Sudut  di persamaan bernilai positif, jika induktif atau kapasitif sehingga daya
arus lagging (tertinggal) dari tegangan dan sesaat bernilai positif untuk setengah
negative jika arus leading (mendahului)
siklus dan bernilai negative untuk
 Daya sesaat bernilai positif jika van dan ian setengah siklus lainnya, sehingga nilai
negative dan bernilai negatif jika kedua rerata daya sesaat adalah nol
variable pembentuknya berlawanan tanda.
Daya di Saluran AC Satu Fasa
 Dengan menggunakan persamaan Trigonometri,
persamaan daya sesaat dapat diubah menjadi :

𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥 𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥


𝑝= 𝑐𝑜𝑠𝜃 1 + 𝑐𝑜𝑠2𝜔𝑡 + 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑠𝑖𝑛2𝜔𝑡
2 2

𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥
≅ 𝑉𝑎𝑛 𝐼𝑎𝑛 ≅ 𝑉 𝐼
2
Daya di Saluran AC Satu Fasa
 Komponen Ian yang sefasa
dengan Van adalah IR, dimana
:
𝐼𝑅 = 𝐼𝑎𝑛 𝑐𝑜𝑠𝜃
 Jika nilai maksimum Ian adalah Rangkaian RL parelel
Imax, maka nilai maksimum IR
adalah Imax cos .
 Arus sesaat iR harus sefasa
dengan van, sehingga untuk van
= Vmax cos t berlaku :
𝑖𝑅 = 𝐼𝑚𝑎𝑥 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜔𝑡 Diagram Fasor
Daya di Saluran AC Satu Fasa
 Komponen Ian yang  Gambar berikut
lagging 900 dengan Van menunjukkan plot vanIR
adalah IX, dengan nilai terhadap waktu
maksimum adalah Imax
sin , sehingga :
𝑖𝑥 = 𝐼𝑚𝑎𝑥 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜔𝑡

 Maka,
𝑣𝑎𝑛 𝑖𝑅 = 𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑐𝑜𝑠 2 𝜔𝑡

𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥
= 𝑐𝑜𝑠𝜃 1 + 𝑐𝑜𝑠2𝜔𝑡
2
Daya di Saluran AC Satu Fasa
 Demikian pula,  Gambar berikut
menunjukkan plot vanIX
𝑣𝑎𝑛 𝑖𝑥 = 𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥 . 𝑠𝑖𝑛𝜃. 𝑠𝑖𝑛𝜔𝑡. 𝑐𝑜𝑠𝜔𝑡
terhadap waktu
𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥
= 𝑠𝑖𝑛𝜃. sin2ω𝑡
2

 Daya sesaat bersifat


induktif
Daya di Saluran AC Satu Fasa
𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥
𝑃= 𝑐𝑜𝑠𝜃
2

𝑃 = 𝑉 𝐼 𝑐𝑜𝑠𝜃

 P yang menunjukkan rerata daya dikenal sebagai daya


nyata/daya real/daya aktif.
 Satuan P adalah watt, kilowatt, megawatt, dst
 Cos  dikenal sebagai faktor daya
 Saluran induktif memiliki nilai faktor daya lagging.
 Saluran kapasitif memiliki faktor daya leading.
 Faktor daya lagging atau faktor daya leading menunjukkan apakah
arus lagging atau leading terhadap tegangan yang digunakan
Daya di Saluran AC Satu Fasa
𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥 𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥
𝑝= 𝑐𝑜𝑠𝜃 1 + 𝑐𝑜𝑠2𝜔𝑡 + 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑠𝑖𝑛2𝜔𝑡
2 2

Daya reaktif Sesaat

 Daya reaktif menunjukkan energi yang menuju atau


keluar dari suatu beban
 Daya reaktif disimbolkan dengan Q, yang memenuhi
persamaan :
𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐼𝑚𝑎𝑥
𝑄= sin 𝜃
2

𝑄 = 𝑉 𝐼 sin 𝜃
Daya di Saluran AC Satu Fasa

𝑃2 + 𝑄2 = 𝑉 𝐼 cos 𝜃 2 + 𝑉 𝐼 sin 𝜃 2

= 𝑉 𝐼

 Satuan daya reaktif, Q adalah Var (Volt-ampere


reaktif).
 Dengan demikian satuan teknis Q yang umum
digunakan diantaranya adalah kVar, Mvar dsb.
Daya di Saluran AC Satu Fasa
 Dalam rangkaian seri dimana Z  R + jX, berlaku
persamaan-persamaan berikut :
𝑃= 𝐼 2 𝑍 cos 𝜃
𝑄 = 𝐼 2 𝑍 sin 𝜃
𝑅 = 𝑍 cos 𝜃
𝑋 = 𝑍 sin 𝜃
𝑃 = 𝐼 2𝑅
𝑄 = 𝐼 2𝑋
𝑄
 cos 𝜃 = cos 𝑡𝑎𝑛−1 𝑃
𝑃
 cos 𝜃 =
𝑃2 +𝑄2
Daya di Saluran AC Satu Fasa

 Kapasitor adalah komponen


yang menghasilkan daya
reaktif positif yang
Elemen rangkaian pasif diperlukan saluran yang
dimana arus leading bersifat induktif
 Kapasitor adalah peralatan
yang mengalirkan arus
lagging.

Generator yang memasok


arus lagging
Daya Kompleks

 Jika tegangan berbentuk fasor diketahui memiliki persamaan 𝑉 =


𝑉 ∠𝛼 dan 𝐼 = 𝐼 ∠𝛽 maka berlaku persamaan daya kompleks :

𝑉𝐼 ∗ = 𝑉 𝜀 𝑗𝛼 𝑥 𝐼 𝜀 𝑗𝛽 = 𝑉 𝐼 𝜀 𝑗 𝛼−𝛽 = 𝑉 𝐼 ∠𝛼 − 𝛽

 Persamaan ini dikenal sebagai persamaan daya kompleks, S,


dimana :
𝑆 = 𝑉𝐼 ∗ = 𝑉 𝐼 cos 𝛼 − 𝛽 + 𝑗 𝑉 𝐼 sin 𝛼 − 𝛽
𝑆 = 𝑃 + 𝑗𝑄
 Daya kompleks disebut juga daya semu yang memiliki satuan VA
(Volt-Ampere), sehingga dalam hal praktis terdapat kVA, MVA dst.
Segitiga Daya
 Segitiga daya menunjukkan
hubungan antara daya semu
(S), daya aktif (P), daya
reaktif (Q) dan factor daya
().
 Pada beban induktif, daya
reaktif dan faktor daya
positif ; di segitiga daya Q
digambarkan keatas
 Pada beban kapasitif, daya
reaktif dan faktor daya
negatif ; di segitiga daya Q
digambarkan kebawah.
 𝑆𝑅 ≠ 𝑆1 + 𝑆2
Arah Aliran Daya
 Arah aliran daya apakah membangkitkan daya
atau menyerap daya penting untuk melihat
hubungan antara P, Q, tegangan bus V dan
tegangan pembangkitan, E.
 Arah aliran daya di rangkaian DC lebih mudah
dipahami dibandingkan arah aliran daya di
rangkaian AC
Arah Aliran Daya Rangkaian DC
 Misalkan Am membaca arus
sebesar 10 A, dan Vm
membaca tegangan 100 V
maka baterai akan menyerap
daya sebesar = 10 x 100 =
1000 watt.
 Jika arah arus yang dibaca Am
berbeda arah dengan
sebelumnya, maka Am
membaca arus sebesar -10 A,
 Ketika arah aliran arus dan Vm membaca tegangan
melewati Baterai dengan gaya 100 V maka baterai akan
gerak listrik, E, maka discharging/melepas energi
Amperemeter, Am akan sebesar = -10 x 100 = -1000
membaca arus dan Voltmeter, watt.
Vm akan membaca tegangan.
Arah Aliran Daya Rangkaian AC
 Watt-meter memiliki koil arus dan
koil tegangan yang masing-masing
memiliki fungsi serupa dengan Am
dan Vm di Rangkaian DC.
 Jika Wattmeter membaca arah
arus dan tegangan seperti pada
gambar, maka dengan
menggunakan persamaan daya
kompleks :
 𝑃 = 𝑉 𝐼 cos 𝜃 bernilai +,
berarti daya aktif diserap oleh
sumber tegangan, E.
 Sumber tegangan ideal, E (Besar
konstan, frekuensi konstan, Impedansi  Jika wattmeter membaca
sebaliknya tetapi hanya untuk
nol) memiliki polaritas yang salah satu koil saja maka 𝑃 =
menunjukkan setengah siklus tegangan 𝑉 𝐼 cos 𝜃 bernilai -, berarti
akan +, dan setengah siklus negatif. daya aktif dihasilkan oleh sumber
 Arah arus menunjukkan arah arus tegangan, E atau daya reaktif
pada setengah siklus tegangan diserap oleh sumber tegangan, E.
Arah Aliran Daya Aktif (P)
dan Daya Reaktif (Q)

 I lagging terhadap V, sudut  positif


 I leading terhadap V, sudut  negatif
Contoh Soal 1.1
 Dua buah sumber tegangan
ideal yang terhubung
diidentifikasi sebagai mesin 1
dan mesin 2. Jika 𝐸1 =
100∠00 𝑉dan 𝐸2 = 100∠300 𝑉
; 𝑧 = 0 + 𝑗5 Ω
 Tentukan :
 P dan Q yang diserap oleh
Impedansi, z.
 Mesin yang membangkitkan dan
yang menyerap daya aktif dan
besar daya aktif tersebut.
 Mesin mana yang menyerap atau
memasok daya reaktif dan besar
daya reaktif tersebut.
Solusi Soal 1.1

𝐸1 − 𝐸2 100 + 𝑗. 𝑜 − 86,6 + 𝑗. 50 13,4 − 𝑗. 50


𝐼= = =
𝑧 𝑗. 5 𝑗. 5
= −10 − 𝑗. 2,68 = 10,35∠1950 𝐴
 Arus yang memasuki Mesin 1 adalah –I, sedangkan yang memasuki
Mesin 2 adalah arus I, sehingga :
𝑆1 = 𝐸1 −𝐼 ∗ = 𝑃1 + 𝑗𝑄1 = 100 10 + 𝑗. 2,68 ∗ = 1000 − 𝑗268 𝑉𝐴
𝑆2 = 𝐸2 𝐼 ∗ = 𝑃2 + 𝑗𝑄2 = 86,6 + 𝑗. 50 . −10 + 𝑗. 2,68
= −1000 − 𝑗268 𝑉𝐴

 Daya reaktif yang diserap oleh impedansi seri adalah :


𝐼 2 𝑋 = 10,352 𝑥 5 = 536 𝑣𝑎𝑟
Solusi Soal 1.1
 Arah arus keluar dari mesin 1 maka mesin 1 diharapkan adalah
mesin pembangkit, tetapi karena P1 positif dan Q1 negative
sehingga mesin mengkonsumsi energi 1000 W dan memasok daya
reaktif sebesar 268 Var. Sehingga disimpulkan mesin 1 adalah
motor.

 Mesin 2 diharapkan adalah motor, tetapi karena P2 negatif dan Q2


negative sehingga mesin memproduksi energi 1000 W dan
memasok daya reaktif sebesar 268 Var. Sehingga disimpulkan
mesin 2 adalah generator.

 Perhatikan bahwa pasokan daya reaktif 268 Var + 268 Var = 536
Var yang diperlukan oleh reaktansi induktif 5 . Impedansi dalam
persoalan ini adalah murni reaktif sehingga tidak ada P yang
dikonsumsi oleh impedansi dan seluruh energi yang dihasilkan oleh
Mesin 2 dialirkan ke Mesin 1
Tegangan dan Arus di Saluran 3 Fasa Seimbang

 Sistem tenaga listrik


mendapatkan pasokan
daya dari generator 3
fasa.
 Idealnya, beban ketiga
fasa tersebut seimbang
atau dengan kata lain
impedansi setiap beban
sama.
 Diagram generator
menunjukkan generator
terkoneksi Y dengan titik
netral o memasok beban
terkoneksi Y seimbang
dengan titik netral n
Tegangan dan Arus di Saluran 3 Fasa Seimbang

 Dari diagram generator diketahui :


 Generator 3 fasa terdiri dari emf (electric motor
force) yang terhubung secara serial dengan
resistansi dan reaktansi induktif yang disimbolkan
dengan Zd.
 Jika tegangan setiap emf adalah 100 V dengan
E’o sebagai referensi maka :

𝐸𝑎′ 𝑜 = 100∠00 𝑉

𝐸𝑏′ 𝑜 = 100∠2400 𝑉

𝐸𝑐 ′ 𝑜 = 100∠1200 𝑉

 Dengan mengasumsikan urutan fasa mengikuti urutan


abc, maka Ea’o mendahului Eb’o sebesar 1200 dan
Eb’o mendahului Ec’o sebesar 1200 seperti terlihat di
gambar.
Tegangan dan Arus di Saluran 3 Fasa Seimbang

 Di terminal generator, tegangan terminal  Diagram fasor arus ditunjukkan di


gambar berikut
ke netral diberikan oleh persamaan
berikut :
𝑉𝑎𝑜 = 𝐸𝑎′ 𝑜 − 𝐼𝑎𝑛 𝑍𝑑
𝑉𝑏𝑜 = 𝐸𝑏′ 𝑜 − 𝐼𝑏𝑛 𝑍𝑑
𝑉𝑐𝑜 = 𝐸𝑐 ′ 𝑜 − 𝐼𝑐𝑛 𝑍𝑑
 Node o dan n memiliki nilai tegangan
yang sama sehingga Vao, Vbo, Vco bernilai
sama dengan Van, Vbn dan Vcn
 Arus yang mengalir di saluran/arus fasa
yang terkoneksi Y mengikuti persamaan :
𝐸𝑎 ′ 𝑜 𝑉𝑎𝑛
𝐼𝑎𝑛 = =
𝑍𝑑 + 𝑍𝑅 𝑍𝑅  Pada kasus ini tegangan dam arus
𝐸𝑏𝑜 𝑉𝑏𝑛 disebut seimbang yaitu kondisi
𝐼𝑏𝑛 = = dimana :
𝑍𝑑 + 𝑍𝑅 𝑍𝑅
 Besar masing-masing tegangan dan
𝐸𝑐𝑜 𝑉𝑐𝑛 arus fasa sama
𝐼𝑐𝑛 = =
𝑍𝑑 + 𝑍𝑅 𝑍𝑅  Sudut antara fasa adalah 1200
Tegangan dan Arus di Saluran 3 Fasa Seimbang

 Fasor arus dalam kondisi seimbang  Pada kondisi seimbang :


dapat pula digambarkan sebagai  In = 0 yaitu arus yang mengalir
berikut : antara titik netrak generator dan
beban
 Terdapat impedansi antara n dan
o
 n dan o memiliki potensial yang
sama

 Jika beban tidak seimbang :


 Total arus tidak akan sama
dengan nol dan arus akan
mengalir diantara o dan n.
 o dan n tidak akan memiliki
potensial yang sama meskipun
kedua titik tersebut dihubungkan
dengan impedansi = 0.
Tegangan dan Arus di Saluran 3 fasa Seimbang

 Dalam bilangan kompleks terdapat


aturan :
 Perkalian fasor dengan besar dan
sudut , akan menghasilkan fasor
baru yang berbeda posisi rotasi
terhadap fasor awal sebesar  ;
sudut  disebut sebagai operator
fasor.
 Operator kompleks j memutar fasor
sebesar 900; operator -1 memutar
fasor sebesar 1800, karena j x j = -
1 dimana 𝑗 = −1
 Jika a operator yang
menyebabkan fasor berputar
sebesar 1200, maka :
𝑎 = 1∠1200 = 1𝜀 𝑗2𝜋/3 = −0,5 + 𝑗0.866
𝑎 2 = 1∠2400 = 1𝜀 𝑗4𝜋/3 = −0,5 − 𝑗0.866
𝑎 3 = 1∠3600 = 1𝜀 𝑗2𝜋 = 1∠00 = 1
Tegangan dan Arus di Saluran 3 fasa Seimbang

 Tegangan line to line atau tegangan fasa ke


fasa dari rangkaian generator 3 fasa adalah
Vab, Vbc dan Vca, dimana
𝑉𝑎𝑏 = 𝑉𝑎𝑛 + 𝑉𝑏𝑛 = 𝑉𝑎𝑛 − 𝑉𝑏𝑛
 Karena Van dan Ea’o tidak sefasa maka
pilihan referensi tegangan lebih tepat
menggunakan Van, sesuai dengan
pendekatan fasor sebelumnya :
𝑉𝑏𝑛 = 𝑎2 𝑉𝑎𝑛
 Sehingga,
𝑉𝑎𝑏 = 𝑉𝑎𝑛 − 𝑎2 𝑉𝑎𝑛 = 𝑉𝑎𝑛 1 − 𝑎2
1 − 𝑎2 = 3∠300
 Maka,
0
𝑉𝑎𝑏 = 3𝑉𝑎𝑛 𝜀 𝑗30 = 3𝑉𝑎𝑛 ∠300
 Besar tegangan line to line saluran 3 fasa
seimbang selalu 3 x besar tegangan line ke
netral /tegangan fasa ke netral
Tegangan dan Arus di Saluran 3 fasa Seimbang

 Penggambaran fasor tegangan


dengan tegangan referensi Van
 Tegangan line-to-line atau
tegangan fasa ke fasa
membentuk segitiga luar
 Tegangan line to neutral
membentuk segitiga dalam
 Perputaran segitiga melawan
arah jarum jam dengan titik n
sebagai sumbu putar
menunjukkan urutan fasa
tegangan
 Pemahaman urutan fasa menjadi
dasar dalam mempelajari
komponen simetri yang akan
digunakan dalam analisis
gangguan tidak seimbang di
sistem tenaga
Contoh Soal 1.2

Dalam suatu sistem 3 fasa seimbang, tegangan 𝑉𝑎𝑏 =


173∠00 𝑉, Tentukan semua tegangan dan arus di
beban terkoneksi Y yang memiliki nilai 𝑍𝐿 =
10∠200 Ω. Asumsikan urutan fasa adalah abc
Solusi Soal 1.2
Dengan mengasumsikan Vab,
sebagai tegangan referensi
maka dapat ditentukan :

𝑉𝑎𝑏 = 173∠00 𝑉
𝑉𝑏𝑐 = 173∠2400 𝑉
𝑉𝑐𝑎 = 173∠1200 𝑉

𝑉𝑎𝑛 = 100∠ − 300 𝑉


𝑉𝑏𝑛 = 100∠2100 𝑉
𝑉𝑐𝑛 = 100∠900 𝑉
Solusi Soal 1.2
 Setiap arus lagging
dari tegangan dan
melewati impedansi
sebesar 200,
 Setiap setiap arus
bernilai 10 A,
sehingga :
𝐼𝑎𝑛 = 10∠ −500 𝐴
𝐼𝑏𝑛 = 10∠1900 𝐴
𝐼𝑐𝑛 = 10∠700 𝐴
Tegangan dan Arus di Saluran 3 fasa Seimbang

 Beban 3 fasa seimbang


terhubung dengan
koneksi 
 Urutan fasa adalah abc,
Iab dipilih sebagai
referensi
 𝐼𝑎 ≈ 3𝐼𝑎𝑏
 Ia lagging 300 terhadap
Iab
Tegangan dan Arus di Saluran 3 fasa Seimbang

 Solusi persoalan arus


dan tegangan pada
beban 3 fasa seimbang
dilakukan dengan :
 Mengasumsikan titik
netral memiliki hubungan
dengan impedansi nol
 Untuk kondisi seimbang,
total arus 3 fasa = 0
Tegangan dan Arus di Saluran 3 Fasa Seimbang

 Persoalan rangkaian beban diselesaikan


dengan menggunakan Hukum Kirchoff
pada tegangan di suatu siklus tertutup
termasuk di satu fasa dan netral.
 Rangkaian pengganti untuk generator
dan beban 3 fasa berbentuk rangkaian
satu fasa atau dikenal juga sebagai
rangkaian ekivalen per fasa
 Dalam perhitungan diasumsikan
rangkauan per fasa ekivalen serupa
untuk fasa lainnya dengan perbedaan
fasa 1200 dan 2400
 Dalam beban seimbang, beban fasa
terkoneksi  atau Y, tetapi keduanya
dapat dipertukarkan sesuai kebutuhan
dengan mempertimbangkan hubungan
antara kedua jenis koneksi tersebut.
Tegangan dan Arus di Saluran 3 Fasa Seimbang

 Transformasi →Y
Tegangan dan Arus di Saluran 3 Fasa Seimbang

 Transformasi →Y
Tegangan dan Arus di Saluran 3 Fasa Seimbang

 Persamaan menentukan ZY, jika Z diketahui :


𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑍∆ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑑𝑒𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛
𝑍𝑌 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑍∆

 Persamaan menentukan Z, jika ZY diketahui :

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑍𝑌 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑑𝑒𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛


𝑍∆ =
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑍𝑌
Contoh Soal 1.3

Tegangan terminal line to line dengan beban


terkoneksi-Y yang terdiri dari 3 impedansi seimbang
20∠300 Ω adalah 4,4 kV. Impedansi setiap fasa yang
terhubung beban ke bus di gardu induk (ZL) adalah
1,4 ∠750 Ω. Tentukan tegangan line to line di gardu
induk tersebut
Solusi Soal 1.3
Besar Tegangan ke titik netral di beban adalah :
4400 𝑉
= 2540 𝑉
3
Jika Van dipilih sebagai tegangan referensi maka :
𝑉𝑎𝑛 = 2540∠00 𝑉

2540∠00 𝑉 0𝑉
𝐼𝑎𝑛 = = 127,0∠ −30
20∠300 𝑉
Solusi Soal 1.3

Tegangan fasa ke netral di gardu induk adalah :


𝑉𝑎𝑛 + 𝐼𝑎𝑛 𝑍𝐿 = 2540∠00 𝑉 + 127∠ −300 𝑥 1,4∠750
= 2540∠00 + 177,8∠450
= 2666 + 𝑗125,7 = 2670∠2,670 𝑉

Besar tegangan di bus gardu induk adalah :


3 𝑥 2,67 = 4,62 𝑘𝑉
Daya di Saluran 3 Fasa Seimbang
 Jika besar tegangan ke titik netral Vp, untuk beban terkoneksi Y
diberikan oleh persamaan :

𝑉𝑝 = 𝑉𝑎𝑛 = 𝑉𝑏𝑛 = 𝑉𝑐𝑛

 Demikian pula, jika arus fasa Ip, untuk beban terkoneksi Y, diberikan
oleh persamaan :

𝐼𝑝 = 𝐼𝑎𝑛 = 𝐼𝑏𝑛 = 𝐼𝑐𝑛

 Total daya 3 fasa menjadi : 𝑃 = 3 𝑉𝑝 𝐼𝑝 cos 𝜃𝑝


 𝜃𝑝 , adalah sudut fasa Ip lagging terhadap Vp yang menunjukkan juga
sudut impedansi per fasa
Daya di Saluran 3 Fasa Seimbang
 Jika 𝑉𝐿 dan 𝐼𝐿 masing-masing menunjukkan besar tegangan line to line,
VL dan arus fasa IL maka :

𝑉𝐿
𝑉𝑝 =
3

𝐼𝑝 = 𝐼𝐿

 Sehingga daya menjadi : 𝑃 = 3 𝑉𝐿 𝐼𝐿 cos 𝜃𝑝


 Daya reaktif menjadi :
𝑄 = 3 𝑉𝑝 𝐼𝑝 sin 𝜃𝑝
𝑄 = 3 𝑉𝐿 𝐼𝐿 sin 𝜃𝑝
 Daya VA/daya semu menjadi : 𝑆 = 𝑃2 + 𝑄 2 = 3 𝑉𝐿 𝐼𝐿
Daya di Saluran 3 Fasa Seimbang
 Jika beban terkoneksi , maka :

𝑉𝑝 = 𝑉𝐿

𝐼𝐿
𝐼𝑝 =
3

 Sehingga daya menjadi : 𝑃 = 3 𝑉𝑝 𝐼𝑝 cos 𝜃𝑝


𝑃 = 3 𝑉𝐿 𝐼𝐿 cos 𝜃𝑝
Per Unit
 Nilai per unit dari setiap  Beberapa besaran yang
besaran kelistrikan dijadikan base/referensi
didefenisikan sebagai rasio
terhadap suatu nilai base 𝑘𝑉𝐴1𝜑 𝐵𝑎𝑠𝑒
sebagai referensi yang 𝐴𝑟𝑢𝑠 𝐵𝑎𝑠𝑒 =
𝑇𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑉𝐿𝑁
diberikan dalam bentuk
desimal. 𝑇𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑉𝐿𝑁
𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎𝑠𝑒, Ω =
 Nilai per unit memudahkan 𝐴𝑟𝑢𝑠 𝐵𝑎𝑠𝑒 𝐴
dalam perhitungan mengingat 𝐷𝑎𝑦𝑎 𝐵𝑎𝑠𝑒, 𝑘𝑊1𝜑 = 𝐵𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑉𝐴1𝜑
besaran-besaran kelistrikan
yang relative tinggi seperti 𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑒𝑙𝑒𝑚𝑒𝑛 Ω =
𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 𝐴𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 (Ω)
tegangan (dalam kV) dan 𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎𝑠𝑒 (Ω)

arus (dalam ampere)


Contoh Soal 1.4

 Jika per unit base adalah 4,4 kV, 127 A.


Selesaikan soal No 1.3 dengan pendekatan per
unit
Solusi Soal 1.4
4400
ൗ 3
 Base Impedansi = = 20,0 Ω = 1,00 𝑝. 𝑢
127
1,4∠750
 Impedansi Saluran, 𝑍 = = 0,07∠750 𝑝. 𝑢
20
0 0 0
 𝑉𝑎𝑛 = 1,0∠0 + 1,0∠ −30 𝑥 0,07∠75

= 1,0∠00 + 0,07∠450
= 1,0495 + 𝑗0,0495 = 1,051∠2,700 𝑝. 𝑢
4400
 𝑉𝐿𝑁 = 1,051 𝑥 = 2670 𝑉 𝑜𝑟 2,67 𝑘𝑉
3
 𝑉𝐿𝐿 = 1,051 𝑥 4,4 = 4,62 𝑘𝑉
Perubahan Per-Unit

 Pada beberapa kasus teknis, impedansi per-unit dari suatu


komponen didasarkan pada suatu referensi yang berbeda
dengan sistem dimana komponen tersebut terpasang.
 Diperlukan suatu penyesuaian dengan menggunakan
formulasi matematika sebagai berikut :

𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙, Ω . (𝑏𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑉𝐴)


𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡 =
𝑏𝑎𝑠𝑒 𝑡𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 2 . 1000

2
𝑏𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑉𝑦𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑉𝐴𝑏𝑎𝑟𝑢
𝑍𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡 = 𝑍𝑦𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡
𝑏𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑉𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑏𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑉𝐴𝑦𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛
Contoh Soal 1.5

Reaktansi generator (𝑋 ′′ ) bernilai 0,25 p.u pada nilai


name plate generator 18 kV, 500 MVA. Jika base
perhitungan adalah 20 kV, 100 MVA. Tentukan besar
reaktansi generator (𝑋 ′′ ) tersebut dalam referensi
yang baru
Solusi Soal 1.5

2
18 100
𝑋 ′′ = 0,25 = 0,0405 𝑝. 𝑢
20 500

Atau bisa juga dihitung menggunakan cara sbb :

2 /500
0,25 18
𝑋 ′′ = 2 = 0,0405 𝑝. 𝑢
20 /100
Persamaan Node
 Junction terbentuk
ketika 2 atau lebih
elemen terhubung
pada satu titik
terminal yang disebut
sebagai node
 Formulasi persamaan
node mengikuti Hukum
Kirchoff
Persamaan Node
 Di Node 1 berlaku :

 Di Node 3 berlaku :

 Atau diubah menjadi :


 Di Node 1 :
 Di Node 3 :
Persamaan Node
 Cara yang sama dapat dilakukan untuk Node 2
dan Node 4, sehingga dapat dibentuk matriks
admitansi :
Persamaan Node
 Matriks Admitansi Bus :
Persamaan Node
Persamaan Node
Single Line Diagram
 Single Line diagram  Contoh Simbol :
(SLD) atau One Line
diagram adalah
diagram satu garis yang
menggambarkan
peralatan-peralatan
dalam sistem.
 Simbol-simbol peralatan
tersebut dapat mengacu
pada standar IEEE atau
ANSI
Single Line Diagram
 Contoh single line diagram suatu sistem
Diagram Impedansi dan Reaktansi
 Diagram Impedansi per fasa :
Diagram Impedansi dan Reaktansi
 Diagram reaktansi per fasa :