Anda di halaman 1dari 22

TEKNIK MOLEKULAR DAN

IMUNOLOGI

Metode ELISA (ENZYME-LINKED


IMMUNOSORBENT ASSAY)

OLEH : HAFIZAHSYAH

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Enzim-linked immunosorbent assay (ELISA) atau dalam bahasa

indonesianya disebut sebagai uji penentuan kadar imunosorben taut-enzim,

merupakan teknik pengujian serologi yang didasarkan pada prinsip interaksi antara

antibodi dan antigen. Pada awalnya, teknik ELISA hanya digunakan dalam bidang

imunologi untuk mendeteksi keberadaan antigen maupun antibodi dalam suatu

sampel seperti dalam pendeteksian antibodi IgM, IgG, & IgA pada saat terjadi

infeksi (pada tubuh manusia khususnya). Namun seiring dengan perkembangan

ilmu pengetahuan, teknik ELISA juga diaplikasikan dalam bentuk lain termasuk

menganalisis kadar hormon yang terdapat dalam suatu organisme.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa teknologi ELISA yang digunakan

untuk asai hormon dalam cairan tubuh adalah system competitive enzyme immuno

assay yang analog dengan teknik RIA. Antigen yang berlabel dan antigen yang

tidak berlabel saling bersaing untuk berikatan dengan tapak pengikatan antibodi

yang terdapat dalam jumlah terbatas. Saturasi antibodi terjadi secara simultan bila

semua reaktan diinkubasikan bersama – sama. Contoh reaksi seperti ini adalah

ELISA untuk mengukur progesteron, estradiol, dan kortisol. Pengukuran hormon

kortisol dalam saliva menggunakan teknik ELISA dapat mengetahui tingkat stres

yang di alami oleh organisme (Haussmann et al., 2007).

ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay) atau penetapan kadar

imunosorben taut-enzim merupakan uji serologis yang umum digunakan di

2
berbagai laboratorium imunologi. Uji ini memiliki beberapa keunggulan seperti

teknik pengerjaan yang relatif sederhana, ekonomis, dan memiliki sensitivitas

yang cukup tinggi.

Teknik ELISA pertama kali diperkenalkan pada tahun 1971 oleh Peter

Perlmann dan Eva Engvall. Mereka menggunakan teknik ELISA ini dalam bidang

imunologi (ELISA konvensional) untuk menganalisis interaksi antara antigen dan

antibodi di dalam suatu sampel, dimana interaksi tersebut ditandai dengan

menggunakan suatu enzim yang berfungsi sebagai pelapor/ reporter/ signal.

Pemeriksaan ELISA dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi dalam

tubuh manusia maupun hewan. Terdapat berbagai teknik dalam pemeriksaan

ELISA.Tes ini dapat dilakukan dengan kit yang sudah jadi atau dapat juga

dilakukan dengan menggunakan antigen yang diracik sendiri (Setiawan, 2007).

ELISA tradisional secara khusus memiliki reporter dan substrat yang menghasilkan

beberapa bentuk perubahan warna yang dapat diamati untuk mengetahui kehadiran

antigen atau analyte. Bentuk teknik ELISA terbaru seperti teknik flurogenic,electro

chemiluminescent, dan real-time PCR dibuat untuk mengetahui sinyal kuantitatif.

Metode ini dapat memberikan berbagai keuntungan diantaranya sensitifitas yang

tinggi dan bersifat multiplexing (Leng et al, 2008).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dibahas

dalam makalah ini adalah :

1. Apa itu ELISA?

2. Bagaimana Jenis-jenis ELISA ?

3
3. Bagaimana prinsip kerja dari metode ELISA ?

4. Apa alat dan bahan yang digunakan dalam metode ELISA ?

5. Bagaimana contoh cara kerja metode ELISA ?

6. Apa kelebihan dan kekurangan dari metode ELISA ?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka tujuan dari makalah ini

adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian ELISA.

2. Untuk mengetahui jenis-jenis ELISA.

3. Untuk mengetahui prinsip kerja dari metode ELISA.

4. Untuk mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam metode ELISA.

5. Untuk mengetahui contoh cara kerja dari ELISA.

6. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari ELISA.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)

Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) adalah suatu teknik

biokimia yang terutama digunakan dalam bidang imunologi untuk mendeteksi

kehadiran antibodi atau antigen dalam suatu sampel. ELISA telah digunakan

sebagai alat diagnostik dalam bidang medis, patologi tumbuhan, dan juga

berbagai bidang industri. Dalam pengertian sederhana, sejumlah antigen yang

tidak dikenal ditempelkan pada suatu permukaan, kemudian antibodi spesifik

dicucikan pada permukaan tersebut, sehingga akan berikatan dengan antigennya.

Antibodi ini terikat dengan suatu enzim, dan pada tahap terakhir, ditambahkan

substansi yang dapat diubah oleh enzim menjadi sinyal yang dapat dideteksi.

Dalam ELISA fluoresensi, saat cahaya dengan panjang gelombang tertentu

disinarkan pada suatu sampel, kompleks antigen/antibodi akan berfluoresensi

sehingga jumlah antigen pada sampel dapat disimpulkan berdasarkan besarnya

fluoresensi.

Penggunaan ELISA melibatkan setidaknya satu antibodi dengan

spesifitas untuk antigen tertentu. Sampel dengan jumlah antigen yang tidak

diketahui diimobilisasi pada suatu permukaan solid (biasanya berupa lempeng

mikrotiter polistirene), baik yang non-spesifik (melalui penyerapan pada

permukaan) atau spesifik (melalui penangkapan oleh antibodi lain yang spesifik

untuk antigen yang sama, disebut ‘sandwich’ ELISA). Setelah antigen

diimobilisasi, antibodi pendeteksi ditambahkan, membentuk kompleks dengan

5
antigen. Antibodi pendeteksi dapat berikatan juga dengan enzim, atau dapat

dideteksi secara langsung oleh antibodi sekunder yang berikatan dengan enzim

melalui biokonjugasi. Di antara tiap tahap, plate harus dicuci dengan larutan

deterjen lembut untuk membuang kelebihan protein atau antibodi yang tidak

terikat. Setelah tahap pencucian terakhir, dalam plate ditambahkan substrat

enzimatik untuk memproduksi sinyal yang visibel, yang menunjukkan kuantitas

antigen dalam sampel. Teknik ELISA yang lama menggunakan substrat

kromogenik, meskipun metode-metode terbaru mengembangkan substrat

fluorogenik yang jauh lebih sensitif .

B. Jenis-Jenis Metode ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)

Secara umum, teknik ELISA dibedakan menjadi dua jenis, yaitu teknik

ELISA kompetitif yang menggunakan konjugat antigen-enzim atau konjugat

antibodi-enzim, dan teknik ELISA nonkompetitif yang menggunakan dua antibodi

(primer dan sekunder). Pada teknik ELISA nonkompetitif, antibody kedua

(sekunder) akan dikonjugasikan dengan enzim yang berfungsi sebagai signal.

Teknik ELISA nonkompetitif ini seringkali disebut sebagai teknik ELISA

sandwich.

Dewasa ini, teknik ELISA telah berkembang menjadi berbagia macam

jenis teknik. Perkembangan ini didasari pada tujuan dari dilakukannya uji

dengan teknik ELISA tersebut sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal. Berikut

ini adalah beberapa macam teknik ELISA yang relatif sering digunakan, antara lain

: ELISA Direct, ELISA Indirect, ELISA Sandwich, dll.

6
1. ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) DIRECT

Teknik ELISA ini merupakan teknik ELISA yang paling sederhana.

Teknik ini seringkali digunakan untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi

antigen pada sampel ELISA direct menggunakan suatu antibody spesifik

(monoklonal) untuk mendetaksi keberadaan antigen yang diinginkan pada sampel

yang diuji. Pada ELISA direct, pertama microtiter diisi dengan sampel yang

mengandung antigen yang diinginkan, sehingga antigen tersebut dapat menempel

pada bagian dinding-dinding lubang microtiter, kemudian microtiter dibilas untuk

membuang antigen yang tidak menempel pda dinding lubang microtiter. Lalu

antibodi yang telah ditautkan dengan enzim signal dimasukkan ke dalam lubang

lubang microtiter sehingga dapat berinteraksi dengan antigen yang diinginkan,

yang dilanjutkan dengan membilas microtiter untuk membuang antibody tertaut

enzim signl yang tidak berinteraksi dengan antigen. Lalu, ke dalam lubang-

lubang microtiter tersebut ditambahkan substrat yang dapat bereaksi dengan enzim

signal, sehingga enzim yang tertaut dengan antibodi yang telah berinteraksi dengan

antigen yang diinginkan akan berinteraksi dengan substrat dan menimbulkan

signal dapat dideteksi. Pendeteksian interaksi antara antibodi dengan antigen

tersebut selanjutnya dapat dihitung dengan menggunakan kolorimetri,

chemiluminescent, atau fluorescent end-point.

ELISA direct memiliki beberapa kelemahan, antara lain :

a. Immunoreaktifitas antibodi kemungkinan akan berkurang akibat bertaut dengan

enzim.

b. Penautan enzim signal ke setiap antibodi menghabiskan waktu dan mahal.

7
c. Tidak memiliki fleksibilitas dalam pemilihan tautan enzim (label) dari antibodi

pada percobaan yang berbeda.

d. Amplifikasi signal hanya sedikit.

e. Larutan yang mengandung antigen yang diinginkan harus dimurnikan

sebelum digunakan untuk uji ELISA direct.

Sedangkan kelebihan dari ELISA direct antara lain :

a. Metodologi yang cepat karena hanya menggunakan 1 jenis antibody.

b. Kemungkinan terjadinya kegagalan dalam uji ELISA akibat reaksi silang dengan

antibody lain (antibody sekunder) dapat diminimalisasi.

2. ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) INDIRECT

ELISA Indirect ini pada dasarnya juga merupakan teknik ELISA yang

paling sederhana, hanya saja dalam teknik ELISA indirect yang dideteksi dan

diukur konsentrasinya merupakan antibody. ELISA indirect menggunakan suatu

antigen spesifik (monoklonal) serta antibody sekunder spesifik tertaut enzim signal

untuk mendeteksi keberadaan antibody yang diinginkan pada sampel yang diuji.

Tahap umum yang digunakan dalam indirect ELISA untuk

mendeterminasi konsentrasi antibodi dalam serum adalah:

a. Suatu antigen yang sudah dikenal dan diketahui konsentrasinya ditempelkan

pada permukaan lubang plate mikrotiter. Antigen tersebut akan menempel pada

permukaan plastik dengan cara adsorpsi. Sampel dari konsentrasi antigen yang

diketahui ini akan menetapkan kurva standar yang digunakan untuk

mengkalkulasi konsentrasi antigen dari suatu sampel yang akan diuji.

8
b. Suatu larutan pekat dari protein non-interacting, seperti bovine serum albumin

(BSA) atau kasein, ditambahkan dalam semua lubang plate mikrotiter. Tahap

ini dikenal sebagai blocking, karena protein serum memblok adsorpsi non-

spesifik dari protein lain ke plate.

c. Lubang plate mikrotiter atau permukaan lain kemudian dilapisi dengan sampel

serum dari antigen yang tidak diketahui, dilarutkan dalam buffer yang sama

dengan yang digunakan untuk antigen standar. Karena imobilisasi antigen dalam

tahap ini terjadi karena adsorpsi non-spesifik, maka konsentrasi protein total

harus sama dengan antigen standar.

d. Plate dicuci, dan antibodi pendeteksi yang spesifik untuk antigen yang diuji

dimasukkan dalam lubang. Antibodi ini hanya akan mengikat antigen

terimobilisasi pada permukaan lubang, bukan pada protein serum yang lain atau

protein yang terbloking.

e. Antibodi sekunder, yang akan mengikat sembarang antibodi pendeteksi,

ditambahkan dalam lubang. Antibodi sekunder ini akan berkonjugasi menjadi

enzim dengan substrat spesifik. Tahap ini bisa dilewati jika antibodi pendeteksi

berkonjugasi dengan enzim.

f. Plate dicuci untuk membuang kelebihan konjugat enzim-antibodi yang tidak

terikat.

g. Dimasukkan substrat yang akan diubah oleh enzim untuk mendapatkan sinyal

kromogenik/ fluorogenik/ elektrokimia.

h. Hasil dikuantifikasi dengan spektrofotometer, spektrofluorometer atau alat

optik/ elektrokimia lainnya.

9
Enzim bertindak sebagai amplifier, bahkan jika hanya sedikit antibodi

terikat enzim yang tetap terikat, molekul enzim akan memproduksi berbagai

molekul sinyal. Kerugian utama dari metode indirect ELISA adalah metode

imobilisasi antigennya non-spesifik, sehingga setiap protein pada sampel akan

menempel pada lubang plate mikrotiter, sehingga konsentrasi analit yang kecil

dalam sampel harus berkompetisi dengan protein serum lain saat pengikatan pada

permukaan lubang. ELISA indirect dapat dilihat pada gambar berikut :

ELISA indirect memiliki kelemahan, antara lain: membutuhkan waktu

pengujian yang relative lebih lama daripada ELISA direct karena ELISA indirect

membutuhkan 2 kali waktu inkubasi yaitu pada saat terjadi interaksi antara

antigen spesifik dengan antibody yang dinginkan dan antara antibody yang

diinginkan dengan antibody sekunder tertaut enzim signal, sedangkan pada

ELISA direct hanya membutuhkan 1 kali waktu inkubasi yaitu pada saat terjadi

10
interaksi antara antigen yang diinginkan dengan antibody spesifik tertaut enzim

signal.

Sedangkan kelebihan dari ELISA indirect antara lain :

a. Terdapat berbagai macam variasi antibody sekunder yang terjual secar komersial

di pasar.

b. Immunoreaktifitas dari antibody yang diinginkan (target) tidak terpengaruh oleh

penautan enzim signal ke antibody sekunder karena penautan dilakuka pada

wadah berbeda.

c. Tingkat sensitivitas meningkat karena setiap antibody yag diinginkan memiliki

beberapa epitop yang bisa berinteraksi dengan antibody sekunder.

3. ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) SANDWICH

Teknik ELISA jenis ini menggunakan antibody primer spesifik untuk

menangkap antigen yang diinginkan dan antibody sekunder tertaut enzim signal

untuk mendeteksi keberadaan antigen yang diinginkan. Pada dasarnya, prinsip

kerja dari ELISA sandwich mirip dengan ELISA direct, hanya saja pada ELISA

sandwich, larutan antigen yang diinginkan tidak perlu dipurifikasi. Namun, karena

antigen yang diinginkan tersebut harus dapat berinteraksi dengan antibody primer

spesifik dan antibody sekunder spesifik tertaut enzim signal, maka teknik ELISA

sandwich ini cenderung dikhususkan pada antigen memiliki minimal 2 sisi

antigenic (sisi interaksi dengan antibodi) atau antigen yang bersifat multivalent

seperti polisakarida atau protein. Pada ELISA sandwich,antibody primer seringkali

disebut sebagai antibody penangkap, sedangkan antibody sekunder seringkali

11
disebut sebagai antibody penangkap, sedangkan antibody sekunder seringkali

disebut sebagai antibody deteksi.

Dalam pengaplikasiannya, ELISA sandwich lebih banyak dimanfaatkan

untuk mendeteksi keberadaan antigen multivalent yang kadarnya sangat rendah

pada suatu larutan dengan tingkat kontaminasi tinggi. Hal ini disebabkan

ELISA sandwich memiliki tingkat sensitivitas tinggi terhadap antigen yang

diinginkan akibat keharusan dari antigen tersebut untuk berinteraksi dengan kedua

antibody.

Tahapan dalam Sandwich ELISA adalah sebagai berikut:

a. Disiapkan permukaan untuk mengikatkan antibodi ‘penangkap’

b. Semua non spesifik binding sites pada permukaan diblokir

c. Sampel berisi antigen dimasukkan dalam plate

d. Plate dicuci untuk membuang kelebihan antigen yang tidak terikat

e. Antibodi primer ditambahkan, supaya berikatan secara spesifik dengan antigen

f. Antibodi sekunder yang berikatan dengan enzim dimasukkan, yang akan

berikatan dengan antibodi primer.

g. Plate dicuci, sehingga konjugat antibodi-enzim yang tidak terikat dapat dibuang.

h. Ditambahkan reagen yang dapat diubah oleh enzim menjadi sinyal berwarna/

berfluoresensi/ elektrokimia.

i. Diukur absorbansinya untuk menetukan kehadiran dan kuantitas dari antigen

Dalam ELISA sandwich, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi

tingkat sensitivitas dari hasil pengujian, antara lain :

12
a. Banyak molekul antibody penangkap yang berhasil menempel pada dinding-

dinding microtiter.

b. Avinitas dari antibody penangkap dan antibody detector terhadap antigen

sebenarnya, teknik ELISA sandwich ini merupakan pengembangan dari teknik

ELISA terdahulu, yaitu ELISA direct.

Kelebihan teknik ELISA sandwich ini pada dasarnya berada pada

tingkat sensitivitasnya yang relatif lebih tinggi karena antigen yang diinginkan

harus dapat berinteraksi dengan dua jenis antibody, yaitu antibody penangkap

dan antibody detector, kemampuannya menguji sampel yang tidak murni, dan

mampu mengikat secara selektif antigen yang dikehendaki. Tanpa lapisan

pertama antibodi penangkap, semua jenis protein pada sampel (termasuk protein

serum) dapat diserap secara kompetitif oleh permukaan lempeng, menurunkan

kuantitas antigen yang terimobilisasi.

Namun demikian, teknik ELISA sandwich ini juga memiliki kelemahan,

yaitu teknik ini hanya dapat diaplikasikan untuk medeteksi antigen yang

bersifat multivalent serta sulitnya mencari dua jenis antibody yang dapat

berinteraksi antigen yang sama pada sisi antigenic yang berbeda (epitopnya harus

berbeda).

Prinsip kerja sandwich ELISA dapat dilihat pada skema berikut ini:

13
C. Prinsip Kerja ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)

Prinsip dasar dari teknik ELISA ini secara simple dapat dijabarkan sebagai

berikut:

14
Pertama antigen atau antibodi yang hendak diuji ditempelkan pada suatu

permukaan yang berupa microtiter. Penempelan tersebut dapat dilakukan melalui

dua cara, yaitu penempelan secara non spesifik dengan adsorbs ke permukaan

microtiter, dan penempelan secara spesifik dengan menggunakan antibody atau

antigen lain yang bersifat spesifik dengan antigen atau antibodi yang diuji (cara ini

digunakan pada teknik ELISA sandwich). Selanjutnya antibodi atau antigen

spesifik yang telah ditautkan dengan suatu enzim signal (disesuaikan dengan

sampel => bila sampel berupa antigen, maka digunakan antibodi spesifik,

sedangkan bila sampel berupa antibodi, maka digunakan antigen spesifik)

dicampurkan ke atas permukaan tersebut, sehingga dapat terjadi interaksi antara

antibodi dengan antigen yang bersesuaian. Kemudian ke atas permukaan tersebut

dicampurkan suatau substrat yang dapat bereaksi dengan enzim signal. Pada saat

substrat tersebut dicampurkan ke permukaan, enzim yang bertaut dengan antibodi

atau antigen spesifik yang berinteraksi dengan antibodi atau antigen sampel akan

bereaksi dengan substrat dan menimbulkan suatu signal yang dapat dideteksi.

D. Alat dan Bahan Yang Di Gunakan

1. Bahan

Kit ELISA yang terdiri dari :

a. Plate ELISA yang telah dilapisi (coated) dengan antibodi atau antigen

b. Antigen yang dimurnikan (jika sampel yang hendak dideteksi atau dikuantifikasi

berupa antibodi).

c. Antibodi yang dimurnikan (jika sampel yang hendak dideteksi atau

dikuantifikasi berupa antigen).

15
d. Larutan standard (kontrol positif dan negatif).

e. Sampel yang ingin dites.

f. standar antibiotik

g. Konjugate atau enzim penanda

h. Substrat yang bersifat spesifik terhadap enzim signal

i. Larutan pencuci ( Buffer )

j. Larutan penghenti reaksi (stop solution)

2. Peralatan

a. Timbangan

b. Gelas ukur

c. Single mikro pipet 5-50 µl, 50-1000 µl

d. Multi channel mikro pipet 5-50 µl, 50-300 µl

e. Bak reservoar

f. Homogenizer/stomacher/mortar,

g. Sentrifuger atau filter

h. Penangas air

i. Inkubator

j. ELISA Plate washer atau labu semprot

k. ELISA Plate Reader dengan filter panjang gelombang 400-600 nm untuk

pengukuran kuantitatif

l. Komputer

16
E. Contoh Cara Kerja ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)

Berikut ini adalah contoh langkah kerja beberapa macam teknik ELISA,

yaitu:

a. Pendeteksian antibody dengan ELISA indirect:

1). Melapisi mikrotiter plate dengan antigen yang sudah dimurnikan dengan

membiarkan larutan berisi antigen menempel pada dinding/ permukaan

selama

2). Membilas antigen yang tidak terikat dengan buffer.

3). Melapisi sisi-sisi tertentuyang mungkin tidak spesifik dilekati oleh

antigen dengan protein yang tidak berhubungan/ tidak spesifik (seperti

larutan susu bubuk).

4). Membilas protein yang tidak melekat.

5). Menambahkan sampel serum yang akan dideteksi antibodinya dan

membiarkan antibody spesifik untuk berikatan dengan antigen.

6). Membilas antibody yang tidak terikat.

7). Menambahkan anti-Ig yang akan berikatan pada daerah Fc pada

antibody yang spesifik (sebagai contoh, anti-rantai gamma manusia yang

berikatan dengan IgG manusia). Daerah Fc pada anti-Ig akan berikatan

secara kovalen dengan enzim.

8). Membilas kompleks antibody-enzim yang tidak terikat.

9). Menambahkan substrat chromogenic: substrat yang tidak berwarna yang

terikat ke enzim akan dikonversi menjadi produk.

10). Inkubasi sampai muncul warna, dan

17
11). Ukur dengan spectrometer. Jka semakin pekat warna yang dideteksi, maka

makin besar kadar antibody spesifik dalam sampel.

b. Pendeteksian antigen dengan ELISA sandwich:

1). Melapisi mikrotiter plate dengan antibodi yang sudah

dimurnikandimurnikan dengan membiarkan larutan berisi antigen

menempel pada dinding/ permukaan selama 30-60 menit.

2). Membilas antibodi yang tidak terikat dengan buffer.

3). Melapisi sisi-sisi tertentuyang mungkin tidak spesifik dilekati oleh antigen

dengan protein yang tidak berhubungan tidak spesifik (seperti larutan susu

bubuk).

4). Membilas protein yang tidak melekat.

5). Menambahkan sampel yang akan dideteksi antigennya dan membiarkan

antibodi untuk berikatan dengan antigen spesifik dari sampel.

6). Membilas antigen yang tidak terikat.

7). Menambahkan antibody yang telah terlabeli dengan enzim dan bersifat

spesifik untuk epitope yang berbeda pada antigen sampel, sehingga

terbentuk sandwich.

8). Membilas antibody-enzim yang tidak terikat.

9). Menambahkan substrat chromogenic: substrat yang tidak berwarna yang

terikat

10). Inkubasi sampai muncul warna

11). Ukur dengan spektrofotometer. Jika semakin pekat warna yang

terdeteki, maka makin besar kadarantigen spesifi dalam sampel.

18
F. Kelebihan dan Kekurangan ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent
Assay)
Teknik ELISA ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain :

1. Teknik pengerjaan relatif sederhana

2. Relatif ekonomis (karena jenis a antibodi yang digunakan hanya satu saja,

sehingga menghemat biaya untuk membeli banyak jenis antibodi)

3. Hasil memiliki tingkat sensitivitas yang cukup tinggi.

4. Dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen walaupun kadar antigen

tersebut sangat rendah (hal ini disebabkan sifat interaksi antara antibodi atau

antigen yang bersifat sangat spesifik)

5. Dapat digunakan dalam banyak macam pengujian.

Sedangkan kekurangan dari teknik ELISA antara lain :

1. Jenis antibodi yang dapat digunakan pada uji dengan teknik ELISA ini hanya

jenis antibodi monoklonal (antibodi yang hanya mengenali satu antigen).

2. Harga antibodi monoklonal relatif lebih mahal daripada antibodi poliklonal,

sehingga pengujian teknik ELISA ini membutuhkan biaya yang relatif mahal.

3. Pada beberapa macam teknik ELISA, dapat terjadi kesalahan pengujian akibat

kontrol negatif yang menunjukkan respons positif yang disebabkan inefektivitas

dari larutan blocking sehingga antibodi sekunder atau antigen asing dapat

berinteraksi dengan antibodi bertaut enzim signal dan menimbulkan signal.

4. Reaksi antara enzim signal dan substrat berlangsung relatif cepat, sehingga

pembacaan harus dilakukan dengan cepat (pada perkembangannya, hal ini dapat

diatasi dengan memberikan larutan untuk menghentikan reaksi).

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan tujuan yang ada maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Imunologi adalah suatu cabang yang luas dari ilmu biomedis yang

mencakup kajian mengenai semua aspek sistem imun (kekebalan) pada semua

organisme.

2. Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) adalah suatu teknik

biokimia yang terutama digunakan dalam bidang imunologi untuk

mendeteksi kehadiran antibodi atau antigen dalam suatu sampel.

3. Teknik ELISA yang relatif sering digunakan, antara lain : ELISA Direct, ELISA

Indirect, ELISA Sandwich, dll.

4. Prinsip kerja ELISA: Pertama antigen atau antibodi yang hendak diuji

ditempelkan pada suatu permukaan yang berupa microtiter. Penempelan tersebut

dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu penempelan secara non spesifik dengan

adsorbs ke permukaan microtiter, dan penempelan secara spesifik dengan

menggunakan antibody atau antigen lain yang bersifat spesifik dengan

antigen atau antibodi yang diuji (cara ini digunakan pada teknik ELISA

sandwich). Selanjutnya antibodi atau antigen spesifik yang telah ditautkan

dengan suatu enzim signal (disesuaikan dengan sampel => bila sampel berupa

antigen, maka digunakan antibodi spesifik , sedangkan bila sampel berupa

antibodi, maka digunakan antigen spesifik) dicampurkan ke atas permukaan

tersebut, sehingga dapat terjadi interaksi antara antibodi dengan antigen yang

bersesuaian. Kemudian ke atas permukaan tersebut dicampurkan suatau

20
substrat yang dapat bereaksi dengan enzim signal. Pada saat substrat tersebut

dicampurkan ke permukaan, enzim yang bertaut dengan antibodi atau antigen

spesifik yang berinteraksi dengan antibodi atau antigen sampel akan bereaksi

dengan substrat dan menimbulkan suatu signal yang dapat dideteksi.

5. Tehnik ELISA memiliki kelebihan dan kekurangan dalam proses

pemeriksaannya.

B. Saran

Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan

terutama bagi penyusun dan para pembaca.

21
DAFTAR PUSTAKA

Arini Krisna Oktavia. 2012. TES ELISA Melalui


http://pandalikespurple.blogspot.com/2012/04/test-elisa.html Diakses 05
Juni 2018

Brahmana K. 1981. Immunologi, Serologi dan Tata Kerja Laboratorium. Medan.


Suryo. 1996. Genetika. Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi. Jakarta.

Haussmann, M. F., C. M. Vleck, and E. S. Farrar. 2007. A laboratory exercise


toillustrate increased salivary cortisol in response to three stressful
conditionsusing competitive ELISA. Adv. Physiol. Educ. 31: 110– 115.

Leng, S. J. McElhaney, J. Walston, D. Xie, N. Fedarko, G. Kuchel. 2008. "Elisa


and Multiplex Technologies for Cytokine Measurement in Inflammation and
Aging Research". J Gerontol a Biol Sci Med Sci 63 (8):879–884.PMC
2562869.PMID 18772478.

Lequin, RM .2005. "Enzyme Immunoassay (EIA)/Enzyme-Linked Immunosorbent


Assay (ELISA)" Clinical Chemistry 51 (12): 2415 – 2418. Setiawan, I Made.
2007. Pemeriksaan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)untuk
diagnosis Leptospirosis. EBERS PAPYRUS

22