Anda di halaman 1dari 38

STUDI LABORATORIUM OPTIMASI PENGGUNAAN WATER BASE

MUD DALAM PENANGGULANGAN SHALE PROBLEM DENGAN


MELAKUKAN PENAMBAHAN ADDITIF

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:
RIZKI YUDA SYAHPUTRA
113130017

JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2018
2

STUDI LABORATORIUM OPTIMASI PENGGUNAAN WATER BASE


MUD DALAM PENANGGULANGAN SHALE PROBLEM DENGAN
MELAKUKAN PENAMBAHAN ADDITIF

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:
RIZKI YUDA SYAHPUTRA
113130017

Disetujui untuk Jurusan Teknik Perminyakan


Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh:
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(Ir. Joko Pamungkas, MT) (Ir. Agus Widiarso, MT)


3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal Skripsi ini.
Adapun maksud dan tujuan dari proposal ini disusun untuk melakukan
penelitian Skripsi guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik pada Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”Yogyakarta
Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti K, Msc selaku Rektor UPN “Veteran”
Yogyakarta
2. Bapak Dr. Ir. Drs. H. Herianto, MT., selaku Ketua Jurusan Teknik
Perminyakan UPN “Veteran” Yogyakarta.
3. Bapak Ir. Suwardi, MT., selaku Sekretaris Jurusan Teknik Perminyakan
UPN “Veteran” Yogyakarta.
4. Bapak Ir. Joko Pamungkas, MT., selaku dosen pembimbing I
5. Bapak Ir. Agus Widiarso, MT., selaku dosen Pembimbing. II
6. Seluruh staf pengajar dan rekan-rekan mahasiswa di lingkungan Jurusan
Teknik Perminyakan UPN “Veteran” Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa dalam proposal ini masih terdapat kesalahan dan
kekurangan serta masih jauh dari kesempuranaan, oleh karena itu penulis
mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk
penyempurnaan proposal ini.

Yogyakarta, Oktober 2018

Penulis

I. JUDUL
STUDI LABORATORIUM OPTIMASI PENGGUNAAN WATER BASE
4

MUD DALAM PENANGGULANGAN SHALE PROBLEM DENGAN


MELAKUKAN PENAMBAHAN ADDITIF

II. LATAR BELAKANG


Dalam melakukan operasi pemboran erat kaitannya dengan kondisi
formasi yang ditembus Salah satu hambatan yang dipengaruhi oleh formasi yang
ditembus adalah problem shale. Pemboran yang menembus formasi shale dapat
menyebabkan terjadinya pipa terjepit. Hal ini dikarenakan sifat formasi shale
yang swelling maupun sloughing tersebut. Maka perlu diketahui mineral
terkandung dalam batuan tersebut.
Salah satu jenis analisa kandungan mineral yang digunakan adalah dengan
menggunakan alat linear swell meter. Perencanaan lumpur yang baik sangat
diperlukan untuk mencegah kecenderungan terjadinya masalah-masalah seperti
pipa terjepit, lost maupun kick. Dalam hal ini perlu diketahui jenis lumpur yang
optimum untuk mencegah masalah pipa terjepit akibat swelling atau sloughing
shale dan juga sifat fisik lumpur yaitu densitas lumpur untuk dapat mencegah
terjadinya kick atau lost circulation.

III. RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengaruh kandungan mineral pada batuan shale terhadap masalah
pemboran ?
2. Bagaimana mengidentifikasi problem pemboran pada saat pemboran
menembus formasi shale dengan pendekatan metode linear swell
meter?
3. Bagaimana cara mencegah terjadinya problem akibat formasi shale ?

IV. BATASAN MASALAH


Dalam laporan tugas akhir ini, penulis hanya membatasi permasalahan
pada analisa jenis dan karakteristik mineral dari batuan yang ditembus dengan
menggunakan uji linear swell meter dari sampel cutting untuk mengidentifikasi
problem pemboran dan kemudian dilakukan pengujian lumpur sehingga
didapatkan mud properties yang tepat.
5

V. MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN


Maksud dari penelitian ini adalah untuk mempelajari klasifikasi dan
karakteristik mineral berdasarkan jenis mineral dan tekanan bawah permukaan
sehingga diharapkan dapat mengurangi atau mencegah terjadinya permasalahan
pada lapisan tersebut dalam operasi pemboran pada Lapangan “Y”.
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah melakukan analisa penyebab
problem pemboran dengan terlebih dahulu melakukan tinjauan terhadap aspek
lithologi dan kandungan mineral sampel serbuk bor batuan formasi pada lapisan
tersebut kemudian melakukan pengujian terhadap lumpur yang akan digunakan
untuk mencegah masalah tersebut.

VI. METODOLOGI
Metode analisa shale problem pada Sumur “X” dilakukan dengan terlebih
dahulu melakukan analisa terhadap aspek litologi batuan dengan uji linear swell
meter.
A. Lakukan pengujian MBT untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan
shale. Klasifikasi shale dapat dikelompokkan dengan penentuan MBT terhadap
CEC, dengan prosedur :
1. Menggerus sampel hingga halus.
2. Mengeringkan sample shale dengan hot oven pada 150ºF.
3. Menyaring sampel yang telah kering dengan sieve 200 mesh.
4. Menimbang 1 gr sampel/ clay.
5. Memasukkan 1 gram clay ke dalam erlenmeyer 250cc, menambahkan
10cc aquadest dan 15cc H2O2.
6. Mengaduk larutan sampel dengan multi magnetizer dan menambahkan 10
tetes H2SO4.
7. Memanaskan larutan sampel diatas hot plate selama 10 menit.
8. Menambahkan 25ml aquadest dan kemudian mengocok larutan dalam
erlenmeyer.
9. Mentitrasi larutan sampel dengan methylene blue sebanyak 1 ml tiap tahap.
6

10. Meneteskan larutan sampel pada kertas saring setiap telah selesai satu
tahap.
11. Penambahan methylene blue selasai saat ditemukan lingkaran biru tua dan
muda yang konstan pada saat tetesan pertama setelah titrasi maupun
tetesan kedua saat 2 menit setelah titrasi.
Besarnya penyerapan shale tehadap larutan methylene blue menunjukkan
tingkat aktifitas kation terhadap padatan reaktif formasi, disebut Cation Exchange
Capacity atau CEC, dengan satuan Milli equivalent Methylene Blue per 100 gr
shale. Untuk perhitungan nilai CEC dapat dilihat pada Persamaan 7.1 Untuk
mengetahui jenis dari shale berdasarkan hasil analisa MBT dapat dilihat pada
Tabel VII.3
B. Selanjutnya adalah melakukan pengujian lab dengan untuk menanggulangi
problem pemboran dengan pembuatan lumpur KCl-Polymer dengan tahapan:
1. Membuat lumpur KCl-Polymer dengan densitas yang sesuai diatas tekanan
formasi dan dibawah tekanan rekah formasi yang telah dihitung
sebelumnya.
2. Melakukan simulasi penambahan KCl dengan presentase yang berbeda-
beda untuk mendapatkan nilai MBT cutting yang sesuai.
C. Setelah membuat beberapa jenis lumpur dengan presentase dari KCL yang
berbeda, maka di adakan uji lab untuk menentukan hasil yang paling baik dari
beberapa lumpur yang telah dibuat. Adapun uji nya yaitu :
1. Pengujian menggunakan LSM
Digunakan untuk mengetahui berapa prosentase terjadinya swelling
pada lumpur yang dibuat
2. Pengujian Shale Dispertion
Digunakan untuk mengetahui nilai dari recovery shale

3. Pengujian Accretion
Digunakan untuk mengetahui berapa persen kemungkinan terjadinya
bit bailling
D. Setelah dilakukan serangkaian test tersebut lalu dipilih 1 lumpur yang optimal
untuk digunakan pada lapisan yang terjadi problem shale tersebut. Lumpur
yang didapatkan diharapkan dapat mencegah problem pemboran yang serupa
pada pemboran selanjutnya
Untuk Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 6.1
7

VII. TINJAUAN PUSTAKA


Pada bagian ini akan membahas teori-teori yang berlaitan dengan jenis-
jenis shale, karakteristik shale .

7.1. Shale
Shale atau serpih merupakan endapan sedimen yang terbentuk oleh
lempung (clay) yang terkompaksi karena tekanan overburden dan temperatur yang
cukup tinggi pada lingkungan marine. Pengembangan mineral clay merupakan
akibat terjadinya invasi fasa cair dari lumpur ke dalam formasi yang mengandung
clay reaktif terhadap hidrasi air. Clay merupakan batuan sedimen klastis yang
berasal dari pelapukan batuan beku atau metamorf. Ukuran butir clay lebih kecil
dari 1/256 mm menurut skala Wenworth. Mineral clay merupakan campuran
matrix dan semen, dan kadang-kadang mendominasi batuan sebagai batu lempung
(claystone). Ditinjau dari material yang dikandungnya, shale yang megandung
pasir disebut arenaceous shale, yang mengandung kalsium karbonat disebut
calcareous shale, dan yang mengandung besi disebut ferrogeneous shale
sedangkan yang mengandung material organic disebut carbonaceous shale.
Kemudian berdasarkan kepada susunan dari unit strukturnya clay
digolongkan kedalam tiga kategori utama. Sebagai contoh, bila sebuah clay
memiliki 2 layer silica tetrahedral dan satu layer alumina octahedral maka clay
tersebut digolongkan sebagai tipe 2:1. Struktur susunan layer tersebut adalah
sebuah lembaran alumina diapit oleh dua buah lembaran silika.
8

Terdapat enam atau tujuh tipe clay utama yang membentuk kebanyakan
mineral- mineral clay. Ketujuh tipe tersebut dapat dibagi kedalam dua grup utama
yaitu layered clays dan chain-type clays. Layered clays terdiri atas: smectite,
illites, kaolinites, chlorites, vermiculites, dan mixed-layer clays. Sedangkan chain-
type terdiri atas attapulgite-sepiolite minerals.

7.1.1. Mineral Shale


 Smectite (Montmorillonite)
9

Gambar 7.1.
Struktur Dari Montmorillonite
(Lummus dan Azar, 1986)

Diantara mineral- mineral clay, smectite merupakan yang paling tidak


stabil dan paling rentan terhadap hidrasi dan diagenetic alteration. Dua sebutan
lain yang seringkali dikaitkan dengan smectite adalah montmorillonite dan
bentonite. Montmorillonite adalah nama yang diberikan kepada mineral clay yang
ditemukan dekat Montmorillon, Prancis. Nama ini digunakan sampai sekarang
untuk menyebut yang kini diketahui sebagai clay dari grup smectite. Bentonite
adalah sebutan yang diberikan untuk jenis clay yang ditemukan dekat Fort
Benton, Montana. Bentonite terbentuk oleh alterasi dari debu vulkanik oleh air. ).
Setiap unit-unit struktur / kristal montmorillonite yang ukurannya sekitar 9 – 12
oA bisa mencapai mengembang dua kalinya pada kondisi terhidrasi. Derajat
hidrogen (swelling affinity) tergantung pada jenis kationnya dan komposisi airnya.
Tebal satuan unit adalah 9,6 Å (0,96 μm).
Smektit terbentuk pada temperatur < 100°-150ºC, interlayer illit-smektit (100°-
200ºC), illit (200°-250ºC). Kandungan smektit pada interlayer illit-smektit akan
berkurang bersamaan dengan naiknya temperature.
Montmorillonite clay terdiri dari dua silica tetrahedron dengan satu
Alumina tetrahedron ditengah-tengahnya. Susunan demikian disebut sebagai
konfigurasi 2:1. Berbeda dengan Kaolinite, mata antara dua lattice pada Kristal ini
diikat oleh dua sisi oksigen dari silica tetrahedral, oleh karena itu ikatan ini tidak
10

kuat dan memungkinkan air masuk kedalamnya (swelling). Struktur dari


montmorillonite dapat dilihat pada Gambar 7.1.

 Illite
Illite disebut juga sebagai three-layer clay seperti halnya dengan
montmorillonite karena struktur sheetnya sama (yaitu dua silica tetrahedral sheet
dan satu octahedral sheet). Bedanya adalah bahwa permukaan unit kristal
mengikat kation kalium (K+) dan sifatnya relative tetap. Struktur dasar dari illite
sama dengan struktur dasar montmorrilionite. Tetapi sekitar 15% dari Atom Silica
(Si4+) pada structure tetrahedral tersubstitusi oleh Al3+. Karena Al3+ lebih lemah
dari Si4+, maka akan terjadi kelebihan muatan negatip, dan pada illite, kelebihan
tersebut diisi oleh kation K+.
Walaupun K+ dapat menarik molekul-molekul H2O tetapi karena ikatan
antara unit-unit kristalnya kuat maka penyerapan molekul-molekul H2O sangat
terbatas dan tidak menyebabkan pengembangan partikel-partikel illite secara
signifikan.
Sebagaimana illit umumnya stabil pada temperature lebih tinggi dari 220 C,
berkurangnya temperatur akan meningkatkan stabilitas smektit. Kelompok
mineral ini terbentuk pada kondisi pH antara 4 – 6 sedangkan pada pH transisi (4 -
5) berasosiasi dengan kaolin, mineral ini terbentuk pada temperatur > 200 – 250
C.
Maka akan terbentuk ikatan yang sedikit lebih kuat. Akibatnya illite
menpunyai sifat swelling tetapi lebih kecil dari montmollionite. Struktur dari
lempung illite dapat dilihat pada Gambar 7.2.
11

Gambar 7.2.
Struktur Dari Illite
(Lummus dan Azar, 1986)

 Kaolinite
Kaolinite terbentuk dari susunan "berulang " dari satu silica tetrahedral dan satu
Alumia Octahedral. Unit gabungan begini selanjutnya disebut sebagai kristal-lattice atau
lattice saja. Bentuk ini : Konfigurasi 1 : 1 Gabungan dari dua lattice membentuk kristal
kaolinite. Antara dua lattice dalam satu kristal, terikat oleh sisi hydroxyl (OH-) dari
alumina octahedral dan sisi oxygen dari silica tetrahedral, disebut sebagai ikatan
hydrogen yang berkarakteristik cukup kuat, akibatnya tidak reaktif (tidak swelling).
Ketebalannya kira-kira 7 Angstrom- Ikatan (hydrogen bounding) antar kristal/sheet
sangat lemah dan penyerapan molekul-molekul H2O sangat kecil sekali. Anggota dari
kelompok mineral kaolinite adalah dickite dan nacrit. Karena itu kaolinite tidak swelling
pada kondisi dalam formasi.
Mineral kaolin terbentuk pada temperatur yang rendah (150 – 250C) pada
kedalaman yang kecil (dangkal). Sebaliknya, dalam matriks batupasir, transformasi
kaolinit ke dickite telah dilaporkan sekitar 120 ºC. Kaolinit terbentuk pada kedalaman
dangkal dan temperatur yang rendah. Dikit terbentuk pada suhu yang tinggi dan pada
12

suhu yang lebih tinggi lagi akan terbentuk pirophilit Struktur dari kaolinite dapat dilihat
pada Gambar 7.3.

Gambar 7.3.
Struktur dari Kaolinite
(Lummus dan Azar, 1986)

 Attapulgate [(OH)10Mg5Si8O204(H2O)]
Terbentuknya dari rantai panjang silika yang dihubungkan olehAl3+ atau
Mg2+. Kristalnya berbentuk jarum. Partikel attapulgate mempunyai struktur dan
bentuk yang sangat berbeda dengan mineral jenis mika. Sangat sedikit substansi
atom pada strukturnya, sehingga pengisian permukaan pada pertikelnya rendah.
Dengan demikian suspensi attapulgate tergantung peda interferensi secara
mekanik diantara lattice-nya dibandingkan terhadap tenaga elektrostatik antar
partikel.
 Analisa Brittleness Index
Brittleness adalah kemampuan suatu batuan atau material terhadap stress
sebelum patah (failure) dan merupakan fungsi dari kekuatan batuan (rock
strength), litologi, tekstur, effective stress, suhu, jenis fluida, digenesa dan TOC.
Brittleness Index (BI) adalah parameter yang paling banyak digunakan untuk
mengukur kuantitas dari brittleness batuan.
BIJarvie(2007) = Qz / (Qz + Ca + Cly)........................................(7-2)
Tabel VII-2
13

Klasifikasi Brittleness Index (Perez, R. And Marfurt, K., 2013)

No Nilai Brittleness Index Sifat Brittleness

1 0 - 0.16 Ductile
2 0.16 - 0.32 Less Ductile
3 0.32 - 0.48 Less Brittle
4 > 0.48 Brittle

Gambar 7.6 Analisa Brittleness (Pertamina,2017)


7.1.3. Methylene Blue Test
Telah diketahui bahwa formasi shale mengandung mineral clay. Beberapa
clay ada yang memiliki kemampuan untuk swelling dan non-swelling jika kontak
dengan air. Untuk evaluasi efek kereaktifan formasi clay perlu diperhatikan bahwa
low-density solid ditimbulkan juga oleh adanya penambahan bentonite dan
kandungan padatan pada lumpur. Untuk mengetahui tingkat kereaktifan dari
mineral clay dapat dilakukan pengujian dengan Methylene Blue Test (MBT).
Klasifikasi shale dapat dikelompokkan dengan penentuan MBT terhadap CEC,
dengan prosedur :
1. Menggerus sampel hingga halus.
2. Mengeringkan sample shale dengan hot oven pada 150ºF.
3. Menyaring sampel yang telah kering dengan sieve 200 mesh.
14

4. Menimbang 1 gr sampel/ clay.


5. Memasukkan 1 gram clay ke dalam erlenmeyer 250cc, menambahkan 10cc
aquadest dan 15cc H2O2.
6. Mengaduk larutan sampel dengan multi magnetizer dan menambahkan 10
tetes H2SO4.
7. Memanaskan larutan sampel diatas hot plate selama 10 menit.
8. Menambahkan 25ml aquadest dan kemudian mengocok larutan dalam
erlenmeyer.
9. Mentitrasi larutan sampel dengan methylene blue sebanyak 1 ml tiap tahap.
10. Meneteskan larutan sampel pada kertas saring setiap telah selesai satu tahap.
11. Penambahan methylene blue selasai saat ditemukan lingkaran biru tua dan
muda yang konstan pada saat tetesan pertama setelah titrasi maupun tetesan
kedua saat 2 menit setelah titrasi.
Besarnya penyerapan clay tehadap larutan methylene blue menunjukkan
tingkat aktifitas kation terhadap padatan reaktif formasi, disebut Cation Exchange
Capacity atau CEC, dengan satuan Milli equivalent Methylene Blue per 100 gr
Clay.
MBT sampel clay/cutting didapat dengan perhitungan sebagai berikut :

CEC, meq/100 gr clay = ml of methylene blue .................………………….(7.1)


gr of shale
Perhitungan diatas menghasilkan CEC yang didapat pada tiap 100 gram clay.
Untuk mengkonversi data MBT ke dalam satuan pound per barrel (ppb), maka
harga MBT dapat dikonversikan kedalam persamaan berikut:

MBT, ppb = CEC x 5...........................................................………………(7.2)


Pembagian shale didasarkan pada angka Cation Exchange Capasity (CEC)
yang diperoleh dari Uji Methylene Blue Test mengklasifikasikan shale dari tekstur.
Mondshine (1969) dalam papernya menyajikan klasifikasi shale dari hasil
analisa Methylene Blue Test (MBT), baik non reactive shale (inert) maupun
reactive clay. Harga MBT dinyatakan dalam pound per barrel of bentonite-
eqivalent clay/100 lb shale (lihat Tabel VII-3). Sedangkan O’Brien dan
15

Chevenert (1973) juga membuat suatu klasifikasi versi lain, berdasarkan shale
problem yang terjadi (lihat Tabel VII-4)

Tabel VII-3
Klasifikasi Shale Berdasarkan Uji MBT (Mondshine,2004)

Cation
Clas Exchange Clay Density
Texture Clay Type
s Capacity (wt %) (g/cm3)
(meq/100 g)
Montmorillonite
A Soft 20 – 40 20 – 30 1,2 – 1,5
dan Illite
Illite dan Mixed
Layer
B Firm 10 – 20 20 – 30 1,5 – 2,2
Montmorillonite
Illite
Trace
C Hard 3 – 10 Montmorillonite 20 – 30 2,2 – 2,5
High Illite
Illite,
D Brittle 0–3 Kaoline,Chlorit 2 – 30 2,5 – 2,7
e

Tabel VII-4
Klasifikasi Shale Berdasarkan Problem yang Terjadi (Lummus dan azar, 1986
)
Shale Shale
Typical Hole Problems Clay types
Class Type
16

Tight hole due to swelling


Hole enlargement due to washout
A Soft Smectite,illite
(dispersion )
Ledges if interbedded with sandstone
Tight hole due to swelling
Possible wash out ( poorly inhibited mud ) illite mixed
B Firm
Particularly prone to bit balling layer

Occasional cavings
Caving, Sloughing illite possibly
C Hard Cuttings beds leading to packing off
smectite
Tight hole in stressed formations
Caving illite koalinite
D Brittle Hole collapse
chlorite
Time delayed failure

Dari Tabel VII-4 diketahui tingkat klasifikasi sifat dari shale berdasarkan
dengan pengujian dengan menggunakan metode uji laboratorium Methylene Blue
Test (MBT).

7.2. Problem Shale


Pada operasi pemboran terjadi kontak secara langsung antara lumpur yang
disirkulasikan dengan dinding lubang sumur sehingga menghasilkan reaksi yang
mempengaruhi sifat-sifat lumpur, terutama jika pemboran menemui formasi
dengan kandungan shale atau clay (argillaceous). Fenomena hidrasi yang
disebabkan oleh interaksi antara lumpur pemboran dengan formasi argillaceous,
dimana air diadsorpsi oleh permulaan clay karena terjadi pertukaran kation, yang
menyebabkan bertambahnya volume bulk batuan dan tekanan pengembangan. Hal
ini ditunjukkan dengan adanya lima kondisi yang teridentifikasikan, yang dapat
berkembang dan berpengaruh terhadap satu dengan yang lainnya. Kondisi yang
teridentifikasi antara lain : terjadinya sloughing, heaving, expansion (tight hole)
dan gradual hole enlargement serta caving yang lebih jelasi ditampilkan pada
Tabel VII-5. Dibawah.
17

Tabel VII-5
Kondisi, Karakteristik dan Perbaikan Problem Shale
(Lummus, J.L. and Azar, J.J.,
1986)
Kondisi Karakteristik Perbaikan Lumpur
 Sloughing (longsoran).  Soft, terdispersi pada MBT  Lumpur fasa minyak dan
tinggi, 15 lb meq/100 lb shale. lumpur aditif KCl.
 Heaving.  Soft hingga medium hard,  Lumpur fasa minyak dan
interlayered dengan unsur clay lumpur aditif KCl.
MBT tinggi, pengembangan
sloughing.
 Expansion atau tight hole  Derajat plastisitas tinggi,  Menaikkan berat jenis,
(penyempitan). umumnya MBT tinggi, lumpur fasa minyak dan
membentuk “gumbo ball”, lumpur KCl.
pengembangan menjadi
heaving.
 Gradual hole enlargement  Washout melebihi diameter  Aditif polymer
(pembesaran lubang). lubang bor, MBT rendah, lensa encapsulation atau seal
mengandung clay, tidak ada agent, mekanisme
kecenderungan sloughing dan plugging fractured.
heaving.
 Caving (runtuhan).  Penebalan lapisan, depth yang  Jika montmorillonite
dalam, MBT rendah, surface digunakan inhibited
hydration menyebabkan mud, jika kaolinite
retakan dan runtuhan. digunakan polymer mud

7.2.1. Diagnosa Problem Shale


Langkah pertama adalah mendapatkan drilling record dari sumur-sumur
dimana terjadi problem shale. Untuk itu, diperlukan pencatatan yang meliputi
laporan pemboran, laporan harian lumpur pemboran, geolograph, log, laporan
problem pemboran, dan engineering memoranda yang mencatat lumpur khusus
secara detail atau teknik yang digunakan untuk mengurangi problem shale. Studi
dari beberapa sumur yang dibor pada daerah-daerah tertentu mungkin bervariasi.

Tabel VII-6
Pendekatan untuk Mendiagnosa Problem Shale
Lummus, J.L. and Azar, J.J. , 1986)

Drilling Record
 Berapa lama lubang bor terbuka ?
 Apakah perbedaan jenis-jenis lumpur yang digunakan : sifat fisik lumpur, jenis sodium atau
calsium?
18

 Kecepatan anulus untuk berbagai jenis lumpur ; apakah ada korelasi antara kecepatan alir
yang tinggi dengan sloughing shale ?
 Tripping practice ?
 Bottom hole assembly; rotary speed, dsb.
 Plot informasi ; apakah ada korelasinya ?
 Prosedur yang digunakan untuk menangani problem pemboran
Diagnosing Problem
 Tentukan jenis shale-drilling problem yang terjadi :
 Shloughing
 Heaving
 Tigh hole
 Hole enlargement
 Caving
 Untuk menentukan jenis problem, klasifikasikan shale :
 Lakukan sampling.
 Lakukan MBT, analisa difraksi Sinar-X.
 Diskripsikan sifat-sifat fisik shale, yaitu : lunak, elastik, keras, sensitivitas terhadap
air, dsb.
 Lakukan pengujian terhadap sampel shale, yaitu ; swell meter, capillary filtration,
atau shale rolling test, dsb.
 Pemilihan sistem lumpur yang sesuai :
 Berdasarkan hasil-hasil analisa tersebut diatas.
 Mekanis :
 Jika problem shale tersebut berhubungan dengan hidrolika, maka harus dibuat
perencanaan program hidrolika yang baru.
 Lakukan surge program untuk mengoreksi kecepatan penurunan pipa.
 Tigh hole, fill-up, dsb. yang mungkin disebabkan oleh pembersihan dasar lubang
bor yang kurang baik.
 Rotary speed (RPM) yang tinggi dapat menyebabkan efek pengkocokan dan pada
gilirannya mengakibatkan kerusakan lubang.

Untuk itu, maka prosedur optimasi harus meliputi perencanaan pemboran


sumur sampai kedalaman total dalam waktu yang ditentukan. Telah terbukti
bahwa pengawasan lumpur yang lebih baik, perbaikan hidrolika, pemilihan pahat
yang lebih baik, penanganan solids control yang baik akan dapat mengurangi 10
hari dari 40 hari yang ditentukan.
Banyak jenis lumpur telah digunakan untuk mengatasi problem shale.
Jenis lumpur tersebut meliputi lime mud, gyp mud, calcium chloride mud, sodium
silicate mud, potassium base mud, barium hydroxide mud, salt muds, berbagai
macam lumpur surfactant, berbagai macam lumpur polimer, lumpur
lignosulfonate, dan oil-base mud. Dalam beberapa kasus, formulasi tertentu dapat
berhasil menanggulangi problem shale ditempat tertentu tetapi gagal ditempat
19

lain. Pada umumnya, oil-base mud, potassium chloride, polimer, dan lumpur
lignosulfonate dapat digunakan untuk mengatasi problem shale.
Lembar kerja yang disajikan pada Tabel VII-6 akan dapat membantu
dalam menentukan lumpur pemboran yang terbaik untuk membor formasi shale.
Trend dari analisis sifat-sifat fisik lumpur pemboran dilakukan untuk menentukan
karaktereristik tertentu yang dapat dihubungkan dengan berhasil atau gagalnya
operasi pemboran.
Telah lama diduga bahwa ada korelasi antara kecepatan annular yang
tinggi, fluid loss, dan sloughing shale. Sumur-sumur yang dibor di Williston Basin
memberikan data yang menunjukkan bahwa kecepatan annular yang tinggi dapat
menyebabkan erosi terhadap formasi dan fluid loss yang tinggi dapat
mempercepat terjadinya pembesaran lubang pada zona-zona yang sensitif.
Ketidak-stabilan lubang bor juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang
lainnya, seperti overpressure shale yang diakibatkan oleh fluida yang terjebak
dalam sistem tertutup. Dengan naiknya tekanan overburden, maka tekanan
formasi juga naik dan dapat melampaui tekanan statik yang diberikan oleh
tekanan kolom lumpur di anulus. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya kick atau
blowout. Prosedur umum untuk menangani masalah tersebut adalah menaikkan
densitas lumpur. Jika berat lumpur terlalu tinggi dapat mengakibatkan rekah
formasi dan menyebabkan lost circulation. Untuk menghindari hal tersebut maka
dalam penanganan pengendalian tekanan (pressure control) harus dilakukan
secara hati-hati.

7.2.2. Swelling Clay


Proses hidrasi (pembengkakan) dan dispersi merupakan hal yang berkaitan,
meskipun masing-masing dipengaruhi oleh jumlah dan jenis lempung di serpih.
Beberapa serpih akan mengalami swelling secara signifikan dengan sedikit
dispersi. Hidrasi dihasilkan dari dua mekanisme yang berbeda yaitu hidrasi
permukaan dan osmotik hidrasi. Hidrasi permukaan adalah sedikit ekspansi antara
partikel tanah liat yang dipadatkan dengan penambahan beberapa lapisan molekul
air pada permukaan partikel tanah liat. Osmotik hidrasi terutama adalah perluasan
20

struktur partikel tanah liat yang disebabkan oleh adsorpsi air antara platelet tanah
liat. Dispersi bersifat terus-menerus dan sering cepat disintegrasi permukaan
serpih, dan hasilnya bila kekuatan ikatan antara partikel berkurang dengan
masuknya air. Berbagai lempung bereaksi berbeda saat terkena air Seperti yang
dinyatakan sebelumnya, lempung yang paling banyak ditemukan di serpih adalah
montmorillonites, illites, dan chlorites. Montmorillonites sangat terdispersi,
disintegrasi, dan mudah menyerap air. Illites tidak mengalami swelling dalam
bentuk murni. Hal ini disebabkan oleh pelindian dan pelapukan, bagaimanapun,
kation yang bisa ditukar (potassium) bisa terjadi diganti dengan kation lain yang
memungkinkan pembengkakan. Kelompok chlorite mengandung tumpukan lapis
alternatif dari berbagai jenis lempung. Kecenderungan disintegrasi tinggi karena
layering mengurangi jumlah ikatan kuat antar partikel. ketiidakseragaman dalam
swelling menyebabkan tegangan hidrasional tinggi dan melemahkan struktur.
Bergantung pada kation yang terkait, jarak interlayer (interlayer spacing) dari
montmorillonite kering akan berada pada kisaran 9.8Å untuk sodium dan 12.1Å
untuk kalsium. Apabila clay kering/ montmorillonite kering mengalami kontak
dengan air akan mengalami pengembangan, untuk calcium-base akan
mengembang hingga kisaran 17Å sedangkan untuk sodium-base dapat
mengembang hingga 40Å. Hal ini disebabkan pada divalent cations seperti Ca2+
dan Mg2+ terjadi peningkatan gaya tarik (attractive forces) diantara clay platelets
yang mengakibatkan penurunan jumlah air yang dapat diserap. Perbandingan
kemampuan swelling akibat pengaruh kation sodium dan kalsium dapat dilihat
lebih jelas pada Gambar 7.7.
21

Gambar 7.7.
Perbandingan Swelling Mineral- mineral Clay
(Lummus dan Azar, 1986)

7.2.3. Sloughing Shale


Sloughing shale biasanya disebabkan oleh shale yang terendapkan cukup
dalam lebih dari 1000 m dan beumur cukup tua. Sloughing shale adalah salah satu
problem pemboran yang ditunjukan dengan gugurnya formasi shale yang
diakibatkan karena 2 faktor. Pertama sloughing shale dapat diakibatkan karena
shale tersebut bersifat rekah-rekah. Hal ini menyebabkan adanya hidrasi pada
micro-fracture pada shale tersebut dan menyebabkan terjadinya formasi shale
tersebut tidak stabil dan menyebabkan akan terjadi guguran. Kedua sloughing
shale terjadi ketika adanya kandungan kuarsa dan feldspar yang cukup dominan
pada formasi shale yaitu sebesar 48 %. Hal ini menyebabkan ikatan antara pasir
dan matrix pada shale tidak kuat dan membuat pasir mudah lepas dan
menyebabkan guguran. Jenis ini biasanya dapat dikatakan brittle shales.
Terbentuknya filtrat yang terlalu banyak akan menyebabkan gaya kohesi antar
partikel penyusun batuan shale tersebut akan berkurang dan akhirnya dapat
22

mengurangi kestabilan dari lapisan shale tersebut dan guguran pun sangat
mungkin terjadi. Oleh karena itu penggunaan aditif filtration loss control agent
sangat disarankan untuk mengurangi kecenderungan untuk terjadinya sloughing.

7.3. Profil Tekanan Bawah Permukaan


Pada evaluasi mud weight sangatlah erat hubungannya dengan tekanan
formasi, sebab dari tekanan formasi dapat digunakan untuk merancang semua
kebutuhan yang diperlukan saat melakukan kegiatan pemboran. Tekanan formasi
juga berhubungan erat dengan formasi yang ditembus. Pengetahuan tentang
formasi yang ditembus, sifat kekuatan mereka serta perilakunya ketika kontak
dengan berbagai cairan pengeboran sangat penting untuk merencanakan dan
melakukan suatu trayek pengeboran. Parameter seperti tekanan pori dan kekuatan
formasi menentukan aspek seperti:
1. Pemilihan profil berat lumpur,
2. Penentuan kedalaman pengaturan casing,
3. Desain casing yang optimal,
4. Pemilihan mata bor.
Pada proses melakukan analisa tekanan bawah permukaan, untuk
mempermudah perhitungan digunakanlah Drillworks Software untuk melakukan
desain profil tekanan bawah permukaan secara akurat.

7.3.1. Tekanan Hidrostatis


Tekanan Hidrostatik (Ph) adalah tekanan yang disebabkan oleh berat fluida
dalam sebuah kolom, ditulis dalam persamaan dibawah ini:

(7.3)
23

atau dalam satuan lapangan :

(7.4)

Keterangan:
ρfl = densitas fluida yang mempengaruhi tekanan hidrostatik, ppg
ρ = densitas fluida rata-rata, kg/m3
D = kedalaman dimana tekanan hidrostatik diukur (TVD), ft
h = ketinggian kolom fluida, m
Ph = tekanan hidrostatik, psig
g = percepatan gravitasi, m/s2.

Pada Gambar 7.8. dijelaskan bahwa secara umum tekanan akan bertambah
dengan bertambahnya kedalaman kolom suatu fluida, namun jika berbicara
tentang gradien tekanan hidrostatik tidak akan dipengaruhi oleh kedalaman selama
tidak ada perubahan densitas disuatu kedalaman. Gradient tekanan hidrostatik
dipengaruhi oleh padatan-padatan yang terpisah (seperti garam) dan gas-gas
dalam kolom fluida dan perbedaan gradient temperature. Dengan kata lain,
bertambahnya padatan-padatan yang terpisah (seperti kadar garam yang tinggi)
cenderung menambah gradient tekanan normal. Oleh karena itu banyaknya gas
dalam sistem dan temperatur yang tinggi akan mempengaruhi gradient tekanan
hidrostatik normal. Gradien tekanan formasi ditulis biasanya dalam pound per
square inchper feet (Psi/ft). Secara umum, gradien tekanan hidrostatik P h (Psi/ft)
dapat didefinisikan seperti berikut:

(7.5)

Keterangan:
SG = Spesifik gravity dari fluida yang mengisi kolom tersebut
G.Ph = Gradien Tekanan Hidrostatis, psi/ft
0.433 = Faktor konversi dari gram/cc ke psi/ft.
24

The OFITE Dynamic Linear Swellmeter adalah metode yang sangat


efektif untuk memeriksa interaksi antara cairan berbasis air dan sampel mineral
yang mengandung lempung reaktif dalam kondisi simulasi sementara fluida
bergerak. Karakteristik pengembangan yang diamati digunakan untuk
mengantisipasi atau memperbaiki masalah yang seringkali tidak dapat diprediksi,
dan yang sering dihadapi saat melakukan pengeboran dalam formasi serpih. Ini
adalah alat yang sangat berguna saat merancang cairan pengeboran atau saat
menguji perilaku lumpur yang ada karena ini menunjukkan perubahan pada
interaksi tanah liat atau cairan untuk periode waktu yang singkat, yaitu antara (0 -
5 menit) serta periode yang lebih lama (> 350 menit) . Bit balling, pipa terjepit,
runtuhnya lubang bor dan masalah serpih, dan lain- lainnya dapat diprediksi
sebelumnya, dan memungkinkan operator untuk memilih cairan pengeboran yang
tepat dan agar dapat mencapai lingkungan sumur bor yang stabil.
OFITE multiple channel Dynamic Linear Swellmeter memiliki banyak
pengukuran untuk pengujian secara simultan hingga delapan (8) core atau cairan
pengeboran. Mineral (serpih, sampel inti, stek, bentonit kasar, dan lain-lain.)
Wafer yang terkena cairan pengeboran yaitu hanya yang berada di sekitar wafer.
Linear Variable Diferensial Transducer (LVDT) berfungsi untuk mengukur
perluasan wafer ke arah vertikal (akurasinya sampai 0,1%) dan informasi ini
kemudian disimpan, dan nantinya akan berfungsi sebagai data perolehan. Unit
pompa hidrolik menyiapkan wafer mineral untuk ditempatkan di dalam tempat
transfer dan pengujian selanjutnya. Uji yang dibutuhkan selain CEC dan LSM
adalah Dispertion Test dan Accretion Test. Masing masing untuk mengetahui nilai
Cutting yang terdisperse, shale recovery dan presentase terjadinya bit bailing

VIII. DATA-DATA YANG DIBUTUHKAN


1. Data Hasil Uji Linear Swell Meter
Data ini digunakan dalam menentukan jenis mineral yang ada dibatuan
tersebut dan kemudian menentukan kecenderungan untuk swelling
atau sloughing shale.
25

IX. SISTEMATIKA PENULISAN


Pada penulisan Skripsi Studi Laboratorium Optimasi Penggunaan Water Base
Mud Dalam Penanggulangan Shale Problem Dengan Melakukan
Penambahan Aditif. Pada penulisan ini akan menjelaskan secara sistematis 5
bab.

Bab I Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, permasalahan, maksud dan
tujuan, metodologi, hasil yang diperoleh, dan sistematika penulisan yang
digunakan.

Bab II Tinjauan Pustaka yang berisi fungsi lumpur pemboran, jenis lumpur
pemboram, jenis aditif yang digunakan pada pemboran.

Bab III Prosedur dan Hasil Penelitian yang berisi tentang data pengujian CEC,
accretion test, shale dispertion test dan linier swell meter, prosedur percobaan
peneilitian, dan hasil yang didapatkan setelah melakukan uji laboratorium.

Bab IV Pembahasan menguraikan pembahasan analisa hasil uji laboratorium


lumpur yang telah diperoleh.

Bab V Kesimpulan.
Menganalisa Sampel Mengetahui Jenis
Cutting Dengan CEC Mineral Shale
Metode (MBT)

Apakah Cuttting Tersebut Tidak


Reaktif

Ya

Membuat Beberapa Lumpur dengan


presentase penambahan Aditif yang berbeda

Pengujian dengan Pengujian Shale Dispertion Pengujian


menggunakan LSM pada Lumpur Acrretion

% Terjadinya Swelling Recovery Shale % Terjadinya Bit Bailing

Pemilihan Penggunaan Aditif yang digunakan


pada lumpur yang akan digunakan.

Tabel 6.1

Flowchart Metode Penanggulangan Shale Problem

8
26

X. JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN


Penelitian Skripsi direncanakan peneliti selama kurang lebih satu bulan di
PT. SCOMI OILTOOLS pada 15 Desember 2018 sampai dengan selesai.

Tabel 10.1.
Rencana Pelaksanaan Penelitian
MINGGU
NO DISKRIPSI
I II III IV

1 Persiapan Data

2 Analisa Cutting

3 Pengujian Lab

4 Penyusunan Laporan

5 Presentasi
XI. RENCANA DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH........................................
HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................
RINGKASAN................................................................................................
DAFTAR ISI.................................................................................................
DAFTAR GAMBAR....................................................................................
DAFTAR TABEL.........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN.........................................................................
1.1. Latar Belakang Masalah..............................................................
1.2. Maksud dan Tujuan.....................................................................
1.3. Permasalahan...............................................................................
1.4. Metode Penelitian........................................................................
1.5. Sistematika Penulisan..................................................................
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................
2.1. Fungsi Lumpur Pemboran...........................................................................
2.1.1. Mengangkat Cutting ke Permukaan.....................................................
2.1.2. Mendinginkan Serta Melumasi Bit dan Drill string............................
2.1.3. Memberi Dinding Pada Lubang Bor Dengan Mud cake......................
2.1.4. Mengimbangi Tekanan Formasi...........................................................
2.1.5. Membawa Cutting dan Material Pemberat Pada Suspensi Jika
Sirkulasi Lumpur Dihentikan Sementara.............................................
2.1.6. Melepaskan Cutting dan Pasir di Permukaan......................................
2.1.7. Menahan Sebagian Berat Drill Pipe dan Casing.................................
2.1.8. Mengurangi Efek Negatif Pada Caving Formasi.................................

27
2.1.9. Mendapatkan Informasi dari Mud Logging.........................................
2.1.10. Media Logging.....................................................................................
2.2. Komponen Dasar Lumpur Pemboran..........................................................
2.2.1. Komponen Cair....................................................................................
2.2.2. Komponen Padatan..............................................................................
2.3. Jenis–Jenis Lumpur Pemboran……………………………………………
2.3.1. Water base Mud....................................................................................
2.3.2. Oil Base Mud.......................................................................................
2.3.3. Emulsion Mud......................................................................................
2.3.4. Gaseous Drilling Mud..........................................................................
2.4. Sifat-sifat Fisik Lumpur Pemboran.............................................................
2.4.1. Densitas................................................................................................
2.4.2. Viskositas.............................................................................................
2.4.4. Sand Content........................................................................................
2.4.5. Filtrasi Dan Mud cake..........................................................................
2.4.6. Derajat Keasaman (pH)........................................................................
2.5. Problem Lumpur Pemboran Terkait Dengan Fungsi Vikositas dan
Filtrate Loss Lumpur..............................................................................................
2.5.1. Problem Pengangkatan Cutting............................................................
2.5.2. Swelling................................................................................................
2.5.3. Skin effect.............................................................................................
2.6. Aditif Lumpur..............................................................................................
2.6.1. Material Pemberat................................................................................
2.6.2. Pengental (Viscosifier).........................................................................
2.6.3. Pengencer.............................................................................................
2.6.4. Filtrate Loss Control Agent..................................................................
2.6.5. Lost Circulation Material....................................................................
2.6.6. Emulsifier.............................................................................................
2.6.7. Aditif Khusus.......................................................................................
2.7. Peralatan Yang Digunakan..........................................................................
2.7.1. Gelas ukur............................................................................................
2.7.3. Mud mixer dan cup..............................................................................
2.7.4. Mud balance.........................................................................................

28
2.7.5. Rheometer fann VG.............................................................................
2.7.6. Filter press............................................................................................
2.7.7. Jangka sorong.......................................................................................
2.7.8. pH meter...............................................................................................
BAB III. PROSEDUR DAN HASIL PENELITIAN.............................................
3.1.Persiapan Material Cutting...............................................................................
3.1.1. Prosedur Percobaan Pengujian Sampel Cutting Lapangan dengan MBT
(Mythyl Blue Test) method:......................................................................
3.2. Persiapan Pembuatan Lumpur Dasar..........................................................
3.3. Pengujian Empat Jenis Lumpur Dengan Linier Swellmeter........................
3.3.1. Prosedur Keselamatan Penggunaan Alat :...........................................
3.3.2. Prosedur Percobaan Pengujian Sampel Cutting dan Lumpur dengan
Linier Swellmet :..................................................................................
3.4. Shale Dispersion Test..................................................................................
3.4.1. Prosedur Percobaan Pengujian Sampel Cutting dan Lumpur dengan
Shale Dispertion.......................................................................................
3.5. Accretion Test..............................................................................................
3.5.1. Persiapan Pengujian Sampel Cutting dan Lumpur dengan Shale
Dispertion.............................................................................................
3.5.2. Prosedure Pengujian Sampel Cutting dan Lumpur dengan Shale
Dispertion.............................................................................................
BAB IV. PEMBAHASAN.........................................................................……...
5.1. Kajian Kronologi dan Data Pemboran........................................……...
5.2. Kajian Karakteristik Shale dari Analisa Uji Cutting...................……...
5.3. Evaluasi Tekanan Bawah Permukaan Pada Sumur “X” ............……..
5.4. Identifikasi Problem.....................................................................……..
5.5. Penanggulangan Problem............................................................……..
BAB V. KESIMPULAN.............................................................................……..
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................……..
LAMPIRAN

29
XII. DAFTAR PUSTAKA
1. Adams , N.J., “Drilling Engineering : A Complete Well Planning”, Approach
Penwell Publishing Co., Chapter 3 (56-76) Tulsa Oklahoma, 1985.
2. Azadpour, M., Shad Manaman, N., “Determination of Pore Pressure from
Sonic Log: a Case Study on One of Iran Carbonate Reservoir Rocks”,
Iranian Journal of Oil & Gas Science and Technology, Vol. 4 (2015), No. 3,
pp. 37-50
3. Bai, et al., “Study of Wellbore Stability due to Drilling Fluid/Shale
Interactions”, presented at San Francisco 2008, the 42nd US Rock
Mechanics Symposium and 2nd U.S.-Canada Rock Mechanics Symposium,
held in San Francisco, June 29 - July 2, 2008.
4. Barron, J.G., Weakley, R.R., Haas, M.M., ”Pore Pressure Analysis Indicates
Abnormal Pressure as Reason for Shale Instability in Offshore California
Field”, Houston, Texas, 1990.
5. Bloys, et al., “Effects of Adsorptive Characteristics of Shale on Wellbore
Stability”, presented at the 49th US Rock Mechanics / Geomechanics
Symposium held in San Francisco, CA, USA, 28 June- 1 July 2015.
6. Breeden D., Shipman, J., “Shale Analysis for Mud Engineers”, AADE
Drilling Fluids Conference, at the Radisson Astrodome in Houston, Texas,
April 6-7, 2004.
7. Brindley, George W., “Identification of Clay Minerals by X Ray Diffraction”,
London, 1951.
8. Davis, N., Tooman, C.E., “New Laboratory Tests Evaluate the Effectiveness
of Gilsonite as a Borehole Stabilizer”, presentation at the 1988 IADC/SPE
Drilling Conference held in Dallas, Texas, February 28 - March 2, 1988
9. Eaton, B.A., “The Equation for Geopressure Prediction from Logs”, presented
at the 50th Annual Fall Meetingof the Societyof Petroleum Engineersof
AIME, to be held in Dallas,Texas,Sept. 28-Ott.1, 1975.
10. Francis, I.N., Oriji, A.B., Dosunmu, A.,” Study of abnormally-high pore
pressure prediction methods in regions with non-equilibrium compaction –
Insight of Niger Delta fields”, The International Journal Of Engineering And
Science (IJES) ,Volume 5 Issue 2 Pages PP -01-10 ,2016.

30
11. Goins, W.C., Ables, G.L., “The Causes of Shallow Gas Kicks” presented at
the 1987 SPE/IADC Drilling Conference held in New Orleans, LA, March
15-18, 1987.
12. James L. L., Azar. J.J., “Drilling Fluid Optimization”, Panwell Publising
Company, Tulsa, Oklahoma, Chapter 8 (170-186), 1986.
13. John W. A, Richard A. B, Kenneth W. B, and Monte C. N., “The Handbook
of Mineralogy series is a Five Volume”, published by Mineral Data
Publishing, Chantilly, USA, 2001.
14. Kozlov, et al., “Fracture Pressure Prediction With Improved Poisson’s Ratio
Estimation”, Presented at the 2005 Offshore Technology Conference held in
Houston, Texas, U.S.A, 2-5 May 2005.
15. Moore, P.L., “Drilling Practices Manual”, Pennwell Publishing Company,
Tula, Oklahoma, Chapter 3 (73-76), 1986.
16. Morita, N., Black, A.D., Fuh, G.F., “Theory of Lost. Circulation Pressure”
presented at the 65th Annual Technical Conference and Exhibition of the
Society of Petroleum Engineers held in New Orleans, LA, September 23-26,
1990.
17. Nelson, Stephen A., “X-Ray Crystallography”. Tulane University. 2008
18. O’ Connor, Stephen,” Deep Pore Pressure Prediction in Challenging Areas,
Malay Basin, SE Asia”, Proceedings Indonesia Petroleum Association, Thirty-
Fifth Annual Convention & Exhibition, May 2011.
19. Roderick Perez Altamar, Kurt Marfurt, “ Mineralogy-based brittleness
prediction form surface seismic data : Application to the Barnett Shale” ,
Interpretation, p. T255–T27 Vol. 2, No. 4, November 2014.
20. Solano, Y.P., “a modified approach to predict pore pressure using the d
exponent method: an example from the carbonera formation, colombia”,
Universidad Industrial de Santander, UIS, Colombia, 2005.
21. Swarbick, R.E., “Pore-Pressure Prediction: Pitfalls in Using Porosity”,
presentation at the 2001 Offshore Technology Conference held in Houston,
Texas, 30 April–3 May 2001..
22. Yu, et al., “Chemical and Thermal Effects on Wellbore Stability of Shale
Formations”, presented at the 2001 SPE Annual Technical Conference and
Exhibition held in New Orleans, Louisiana, 30 September–3 October 2001.

31
32
LAMPIRAN A
(Curriculum Vitae)

CURRICULUM VITAE

Informasi Pribadi
Nama : Rizki Yuda Syahputra
Nama Panggilan : Yuda

33
Tempat Lahir : Kendal
Tanggal Lahir : 3 Februari 1996
Kewarganegaraan : Indonesia
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam

Informasi Kontak
Alamat : Jalan Selokan Mataram no 94 Seturan, Depok, Sleman Yogyakarta
Email : rizkiiyuda@gmail.com
Mobile/HP : 08996868969
Riwayat Pendidikan
SEKOLAH KOTA/KABUPATEN TAHUN
SD Negeri 02 Serang Serang 2001-2007
SMPIT Al-Azhar 11 Serang Serang 2007-2010
SMA Negeri 1 Kota Serang Serang 2010-2013
Teknik Perminyakan Yogyakarta 2013-sekarang
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran” Yogyakarta

Pengalaman Organisasi & Kepanitiaan


ORGANISASI TAHUN JABATAN
Moeslem of Petroleum 2013-2015 Syiar Division
Engineer

Kelebihan
1. Penguasaan Komputer
a. MS. Word
b. MS. PowerPoint
c. MS. Excel
2. Bisa Berbahasa Inggris
3. Pengalaman dalam Kepanitiaan dan Berorganisasi
4. Mudah Bersosialisasi

34
35
LAMPIRAN B
(Transkrip Nilai)

36
37