Anda di halaman 1dari 95

A.

Pengertian
1. Demam Berdarah Dengue (Dengue Haemorrhagic Fever) ialah suatu penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
(Suriadi, 2001 : 57)
2. Demam Berdarah Dengue ialah suatu penyakit demam berat yang sering mematikan, disebabkan oleh
virus, ditandai oleh permeabilitas kapiler, kelainan hemostasis dan pada kasus berat, sindrom syok
kehilangan protein.
(Nelson, 2000 : 1134)

B. Etiologi
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes Aegypti.
Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe
bersangkutan tetapi tidak ada perlndungan terhadap serotipe lain.
- Ciri-ciri nyamuk Aedes Aegypti
Badannya kecil, warnanya hitam dan berbelang-belang, menggigit pada siang hari, badannya
datar saat hinggap, hidup di tempat-tempat yang gelap (terhindar dari sinar matahari, jarak
terbangnya kurang dari 100 M dan senang menggigit manusia). Aedes Aegypti betina
mempunyai kebiasaan berulang (multi diters) yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian
dalam waktu singkat.

C. Patofisiologi

· Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan
kemudian bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah komplek virus antibodi, dalam sirkulasi
akan mengakt,ivasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,
dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai
faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma
mealui endotel dinding itu.
· Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagalasi
(protambin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya
perdarahan hebat, teutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

· Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh


darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis
hemoragik. Renjatan terjadi secara akut.

· Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding
pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hypovolemik. Apabila tidak
diatasi bisa terjadi anoksia jangan asidosis dan kematian.
D. Gambaran Klinis

Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari
asimtomatik, penyakit paling ringan, demam dengue, demam berdarah dengue sampai syndrome
syok dengue. Timbulnya bervariasi berdasarkan derajat Demam berdarah dengue.

· Fase pertama yang relatif ringan dengan demam mulai mendadak, malaise muntah, nyeri
kepala, anoreksia, dan batuk.

· Pada fase kedua ini penderita biasanya menderita ekstremitas dingin, lembab, badan panas,
maka merah, keringat banyak, gelisah, iritabel, dan nyeri mid-epigastrik. Seringkali ada
petekie tersebar pada dahi dan tungkai, ekimosis spontan mungkin tampak, dan mudah
memar serta berdarah pada tempat fungsi vena adalah lazim. Ruam makular atau
makulopopular mungkin muncul dan mungkin ada sianosis sekeliling mulut dan perifer.
Nadi lemah cepat dan kecil dan suara jantung halus. Hati mungkin membesar sampai 4-6 cm
dibawah tepi costa dan biasanya keras agak nyeri. Kurang dari 10% penderita ekimosis atau
perdarahan saluran cerna yang nyata, biasanya pasca masa syok yang tidak terkoreksi.

Menurut patokan dari WHO pada tahun 1975, diagnosa DBD (DHF) harus berdasarkan
adanya gejala klinik sebagai berikut :

1. Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari (tanpa sebab jelas).
2. Manifestasi perdarahan: paling tidak terdapat uji turnikel positif dari adanya salah satu bentuk
perdarahan yang lain misalnya positif, ekimosis, epistaksis, perdarahan yang lain misalnya
petekel, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, melena, atau hematomesis.
3. Pembesaran hati (sudah dapat diraba sifat permulaan sakit).
4. Syok yang ditandai nadi lemah, cepat, disertai tekanan nadi yang menurun (menjadi 20 mmHg
atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang),
disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, pasien
menjadi gelisah, timbul sianosis disekitar mulut.
E. Klasifikasi Demam Berdarah Dengue menurut WHO (1975)

Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turnikel positif, trombositopeni
dan hemokonsentrasi.
Derajat II : Derajat I disertai perdarahan spontan dikulit dan atau perdarahan lain.
Derajat III : Kegagalan sirkulasi: nadi cepat dan lemah, hipotensi kulit dingin, lembab, gelisah.
Derajat IV : Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur.

F. Pemeriksaan Diagnostik

· Darah lengkap : hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20% atau lebih) trombositopeni


(100.00/mm3 atau kurang).
· Serotogi : uji HI (Hemaaglutination Inhibition test).
· Rongten thorax : effusi pleura.

G. Penatalaksanaan Terapeutik

· Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula atau susu.
· Antipiretik jika terdapat demam.
· Antikonvulsan jika terdapat kejang.
· Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai
hematokrit cenderung meningkat.

H. Tanda-Tanda Perdarahan

1. Karena manipulasi

Rumpel leed test


a. Teknik
- Klien diukur tekanan darahnya dan dicari sistol dan diastolnya.
- Setelah ketemu kemudian dijumlahkan lalu dibagi dua.
- Hasil digunakan untuk patokan mempertahankan tekanan air raksa tensimeter.
- Pompa lagi balon tensimeter sampai patokan tadi lalu kunci dan pertahankan sampai 5 menit.
- Setelah itu buka kuncinya dan mansit dilepaskan.
- Kemudian lihat apakah ada petekie / tidak didaerah vola lengan bawah.
b. Kriteria :
Å bila jumlah petekie > 20
± bila jumlah petekie 10 - 20
⊝ bila jumlah petekie 10
2. Perdarahan spontan
a. Petekil/ ekimosis
b. Perdarahan gusi
c. Epistakeis
d. Hematomesis/ melena
ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
1.1 Biodata / Identitas
DHF dapat menyerang dewasa atau anak-anak terutama anak berumur < 15 tahun. Endemik
didaerah Asia tropik.

1.2 Keluhan Utama


Panas / demam.

1.3 Riwayat Penyakit Sekarang


Demam mendadak selama 2-7 hari dan kemudian demam turun dengan tanda-tanda lemah,
ujung-ujung jari, telinga dan hidung teraba dingin dan lembab.
Demam disertai lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota badan,
punggung, sendi, kepala dan perut, nyeri ulu hati, konstipasi atau diare.

1.4 Riwayat Penyakit Dahulu


Ada kemungkinan anak yang telah terjangkau penyakit DHF bisa berulang DHF lagi,
Tetapi penyakit ini tidak ada hubungannya dengan penyakit yang pernah diderita dahulu.

1.5 Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit DHF bisa dibawa oleh nyamuk jadi jika dalam satu keluarga ada yang menderita
penyakit ini kemungkinan tertular itu besar.

1.6 Riwayat Kesehatan Keluarga


Daerah atau tempat yang sering dijadikan tempat nyamuk ini adalah lingkungan yang
kurang pencahayaan dan sinar matahari, banyak genangan air, vas and ban bekas.

1.7 Riwayat Tumbuh Kembang Anak


Sesuai dengan tumbuh kembang klien.
1.8 ADL
1. Nutrisi : Dapat menjadi mual, muntah, anoreksia.
fitas : Lebih banyak berdiam di rumah selama musim hujan dapat terjadi nyeri otot dan sendi, pegal-
pegal pada seluruh tubuh, menurunnya aktifitas bermain.
rahat tidur : Dapat terganggu karena panas, sakit kepala dan nyeri.
minasi alvi : Dapat terjadi diare/ konstipasi, melena.
sonal hygiene : Pegal-pegal pada seluruh tubuh saat panas dapat meningkatkan ketergantungan
kebutuhan perawatan diri.

1.9 Pemeriksaan
daan umum : Suhu tubuh tinggi (39,4 – 41,1 0C), menggigit hipotensi,nadi cepat dan lemah.
2. Kulit : tampak bintik merah (petekil), hematom, ekimosit.
3. Kepala : mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor (kadang).
4. Dada : nyeri tekan epigastrik, nafas cepat dan sering berat.
5. Abdomen : pada palpasi teraba pembesaran hati dan limfe pada keadaan dehidrasi turgor kulit menurun.
. Anus dan genetalia : dapat terganggu karena diare/ konstipasi.
. Ekstrimitas atas dan bawah : ekstrimitas dingin, sianosis.
1. 10 Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai:
1) Hb dan PCV meningkat (≥20%).
2) Trombositopenia (≤100.000/ml).
3) Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis).
4) Ig.D.dengue positif.
5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan: hipoprotinemia, hipokloremia, dan hiponatremia.
6) Urium dan PH darah mungkin meningkat.
7) Asidosis metabolik: pCO <35-40 mmHg HCO rendah.
8) SGOT/SGPT memungkinkan meningkat.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus.


2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan,
muntah dan demam.
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah,
anoreksia.
4. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.
5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan keletihan, malaise sekunder akibat DHF.
6. Kecemasan ringan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang
dialammi pasien.

3. PERENCANAAN
A. Prioritas Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan kegawatan masalah.
B. Tujuan, Kriteria hasil : Rencana tindakan dan Rasional Rencana Tindakan
1. Dx I
Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus.
Tujuan: Anak menunjukkan suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh 36-37 0C
b. Pasien bebas dari demam.
Rencana tindakan :
a. Monitor temperatur tubuh
Rasional : Perubahan temperatur dapat terjadi pada proses infeksi akut.
b. Observasi tanda-tanda vital (suhu, tensi, nadi, pernafasan tiap 3 jam atau lebih sering).
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
c. Anjurkan pasien untuk minum banyak 1 ½ -2 liter dalam 24 jam.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu
diimbangi dengan asupan yang banyak.
d. Berikan kompres dingin
Rasional : Menurunkan panas lewat konduksi.
e. Berikan antipiretik sesuai program tim medis
Rasional : Menurunkan panas pada pusat hipotalamus.
2. Dx II
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan,
muntah, dan demam.
Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan cairan.
Kriteria hasil :
a. TTV (nadi, tensi) dalam batas normal.
b. Turgor kulit kembali dalam 1 detik.
c. Ubun-ubun datar.
d. Produksi urine 1 cc/ kg/ BB/ jam.
e. Tidak terjadi syok hipovolemik.
Rencana tindakan :
a. Kaji keadaan umum pasien
Rasional : Menetapkan data dasar untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan
normalnya.
b. Observasi tanda-tanda syok (nadi lemah dan cepat, tensi menurun akral dingin, kesadaran
menurun, gelisah)
Rasional : Mengetahui tanda syok sedini mungkin sehingga dapat segera dilakukan tindakan.
c. Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit turun, ubun-ubun cekung produksi urin turun).
Rasional : Mengetahui derajat dehidrasi (turgor kulit turun, ubun-ubun cekung produksi urin
turun).
d. Berikan hidrasi peroral secara adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Rasional : Asupan cairan sangat diperhatikan untuk menambah volume cairan tubuh.
e. Kolaborasi pemberian cairan intravena RL, glukosa 5% dalam half strenght NaCl 0,9%, Dextran
L 40.
f. Rasional : Pemberian cairan ini sangat penting bagi pasien yang mengalami defisit volume
cairan dengan keadaan umum yang buruk karena cairan ini langsung masuk ke pembuluh darah.
3. Dx III
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah dan
anoreksia.
Tujuan :
Kriteria hasil :
a. Adanya minat/ selera makan.
b. Porsi makansesuai kebutuhan.
c. BB dipertahankan sesuai usia.
d. BB meningkat sesuai usia.
Rencana tindakan :
a. Monitor intake makanan
Rasional : Memonitor intake kalori dan insufisiensi kualitas konsumsi makanan.
b. Memberikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan.
Rasional : Mengurangi rasa tidak nyaman dan meningkatkan selera makan.
c. Sajikan makanan yang menarik, merangsang selera dan dalam suasana yang menyenangkan.
Rasional : Meningkatkan selera makan sehingga meningkatkan intake makanan.
d. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : Makan dalam porsi besar/ banyak lebih sulit dikonsumsi saat pasien anoreksia.
e. Timbang BB setiap hari.
Rasional : Memonitor kurangnya BB dan efektifitas intervensi nutrisi yang diberikan.
f. Konsul ke ahli gizi.
Rasional : Memberikan bantuan untuk menetapkan diet dan merencanakan pertemuan secara
individual bila diperlukan.
4. Dx IV
Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.
Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda perfusi jaringan perifer yang adekuat.
Kriteria hasil :
a. Suhu ekstrimitas hangat, tidak lembab, warna merah muda.
b. Ekstrimitas tidak nyeri, tidak ada pembengkakan.
c. CRT kembali dalam 1 detik.
Rencana tindakan :
a. Kaji dan catat tanda-tanda vital (kualitas dan frekuensi nadi, tensi, capilary reffil).
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui penurunan perfusi ke jaringan.
b. Kaji dan catat sirkulasi pada ekstrimitas (suhu kelembaban, dan warna).
Rasional : Suhu dingin, warna pucat pada ekstrimitas menunjukkan sirkulasi darah kurang adekuat.
c. Nilai kemungkinan kematian jaringan pada ekstrimitas seperti dingin, nyeri, pembengkakan,
kaki.
Rasional : Mengetahui tanda kematian jaringan ekstrimitas lebih awal dapat berguna untuk mencegah
kematian jaringan.
5. Dx V
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan keletihan malaise sekunder akibat DHF.
Tujuan : Rasa nyaman pasien terpenuhi dengan kriteria nyeri berkurang atau hilang.
Rencana tindakan :
a. Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien dengan memberi rentang nyeri (0-10).
Rasional : Mengetahui nyeri yang dialami pasien sehingga perawat dapat menentukan cara mengatasinya.
b. Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri.
Rasional : Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat dapat melakukan intervensi yang sesuai
dengan masalah klien.
c. Berikan posisi yang nyaman dan ciptakan suasana ruangan yang tenang.
Rasional : Posisi yang nyaman dan situasi yang tenang dapat membuat perasaan yang nyaman pada pasien.
d. Berikan suasana gembira bagi pasien, alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri dengan mainan,
membaca buku cerita.
Rasional : Dengan melakukan aktifitas lain pasien dapat sedikit mengalihkan perhatiannya
terhadap nyeri.
e. Kolaborasi pemberian obat-obatan analgesik.
Rasional : Obat analgesik dapat menekankan rasa nyeri.
6. Dx VI
Kecemasan ringan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang
dialami pasien.
Tujuan :
Kecemasan berkurang dengan kriteria :
a. Klien tampak lebih tenang.
b. Klien mau berkomunikasi dengan perawat.
Rencana tindakan :
a. Kaji rasa cemas yang dialam oleh pasien.
Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.
b. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.
Rasional : Membantu menenangkan perasaan pasien.
c. Gunakan komunikasi terapeutik.
Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan pada pasien memberikan hasil yang efektif.
d. Jaga hubungan saling percaya dari pasien dan keluarga.
Rasional : Menjalin hubungan saling percaya antara perawat dengan pasien/ keluarga.
e. Jawab pertanyaan daripasien/ keluarga dengan jujur dan benar.
Rasional : Jawaban jujur dan benar akan menumbuhkan kepercayaan pasien pada perawat.
4. PELAKSANAAN
Prinsip-prinsip pelaksanaan rencana askep pada anak dengan DBD/ DHF.
1. Mempertahankan pemenuhan kebutuhan cairan.
2. Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
3. Mempertahankan kebutuhan nut risi.
4. Mempertahankan perfusi jaringan perifer agar tetap adekuat.
5. Mempertahankan rasa nyaman pasien.
6. Mengurangi kecemasan klien.
5. EVALUASI
1. Mengukur pencapaian tujuan.
2. Membandingkan tujuan yang telah ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Suriadi, Yuliana R, 2001, Asuhan Keperawatan pada Anak, Edisi I,


Penerbit PT. Fajar Interpratama : Jakarta.
Nelson, 2000, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian II, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
http://www.riyawan.com / http://www.smkmuh5babat.info / http://www.babat.web.id
Askep Pada Anak Dengan DHF

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

DHF (Dengue Haemorraghic Fever) pada masyarakat awam sering disebut sebagai demam berdarah.

Menurut para ahli, demam berdarah dengue disebut sebagai penyakit (terutama sering dijumpai pada
anak) yang disebabkan oleh virus Dengue dengan gejala utama demam,nyeri otot, dan sendi diikuti
dengan gejala pendarahan spontan seperti ; bintik merah pada kulit,mimisan, bahkan pada keadaan
yang parah disertai muntah atau BAB berdarah.

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya adalah flavivirus. Virus ini
mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara
klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus Dengue.
Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara Tropis dan Subtropis.

Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di Indonesia Penyakit DBD
pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di
Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-
akhir ini ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor
geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang
timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi
masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis.
B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada klien DHF ( Dengue Haemorraghic Fever ).

2. Tujuan Khusus

Tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah keperawatan anak

BAB II Tinjauan Teori

A. Konsep Dasar

1. Devinisi

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang
tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty
(Christantie Efendy,1995 ).

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan
gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus
yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty
(betina) (Seoparman , 1990).

DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang
menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick
manson,2001).

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan
oleh nyamuk aedes aegypty (Seoparman, 1996).

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF)
adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk
kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang
dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.
2. Etiologi
Virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang terdiri dari 4 tipe yaitu DEN-1, DEN-2,
DEN-3, DEN-4 (baca : virus dengue tipe 1-4). infeksi oleh satu tipe virus dengue akan memberikan
imunitas yang menetap terhadap infeksi virus yang bersangkutan pada masa yang akan datang. Namun,
hanya memberikan imunitas yang sementara dan parsial terhadap infeksi virus lainnya. Wabah dengue
juga telah dissertai Aedes albopictus, Aedess polinienssiss, Aedess sscuttellariss tetapi vector tersebut
kurang efektif dan kurang berperan karena nyamuk-nyamuk tersebut banyak terdapat didaerah
perkebunan dan semak-semak, sedangkan Aedes aegypti banyak tinggal di sekitar pemukiman
penduduk.

Adapun ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah


a. Berbadan kecil, warna hitam dan belang-belang
b. Menggigit pada siang hari, yaitu rentang waktunya antara Pkl 08.00 – 10.00 pagi.
c. Gemar hidup di tempat yang gelap dan lembab dan di baju-baju yang bergantungan
d. Badannya mendatar saat hinggap
e. Jarak terbangnya kurang dari 100 meter
f. Banyak bertelur di genangan air yang terdapat pada sisa-sisa kaleng bekas, tempat penampungan air,
bak mandi, ban bekas dan sebagainya.

3. Patofisiologi

Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi
dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system
komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk
melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas
dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin
dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan
saluran gastrointestinal pada DHF.

Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah ,
menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi , trombositopenia dan diathesis hemorrhagic ,
renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh
darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi
anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

4. Tanda dan gejala

a. Demam tinggi selama 5 – 7 hari

b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.

c. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.

d. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.

e. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.

f. Sakit kepala.

g. Pembengkakan sekitar mata.

h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.

i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary
refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

5. Komplikasi

Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :


a. Perdarahan luas.

b. Shock atau renjatan.

c. Effuse pleura

d. Penurunan kesadaran.

6. Klasifikasi

a. Derajat I :

Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan
hemokonsentrasi.

b. Derajat II :

Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki,
hematoma dan perdarahan dari lain tempat.

c. Derajat III :

Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi
berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.

d. Derajat IV :

Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang
berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.

7. Pemeriksaan penunjang

a. Darah

1) Trombosit menurun.
2) HB meningkat lebih 20 %

3) HT meningkat lebih 20 %

4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3

5) Protein darah rendah

6) Ureum PH bisa meningkat

7) NA dan CL rendah

b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).

1) Rontgen thorax : Efusi pleura.

2) Uji test tourniket (+)

8. Penatalaksanaan

a. Tirah baring

b. Pemberian makanan lunak .

c. Pemberian cairan melalui infus.

Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena

yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28

mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.

d. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik,

e. Anti konvulsi jika terjadi kejang

f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).

g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan


h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut

i. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

B. KONSEP ANAK

1. Tumbuh kembang pada anak

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah
perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg /
tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.

Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial
dan emosi.

a. Motorik kasar

1) Loncat tali

2) Badminton

3) Memukul

4) Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan
kehalusan.

b. Motorik halus

1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan

2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
c. Kognitif

1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi

2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah

3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal

4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang

d. Bahasa

1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak

2) Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata

penghubung dan kata depan

3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal

4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan

2. Dampak hospitalisasi

Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak
merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan
penyakit dan pengobatan.

Penyebab anak stress meliputi ;

a. Psikososial

Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran

b. Fisiologis

Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri

c. Lingkungan asing
Kebiasaan sehari-hari berubah

d. Pemberian obat kimia

Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)

e. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya

f. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri

g. Selalu ingin tahu alasan tindakan

h. Berusaha independen dan produktif

Reaksi orang tua

a. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya
terhadap masa depan anak

b. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya
peraturan Rumah sakit.

C. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan
sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan
dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Adapun tahapan-tahapannya meliputi :

a. Mengkaji data dasar, kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual pasien dari berbagai sumber (pasien,
keluarga, rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya).

b. Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.
c. Kaji riwayat keperawatan.

d. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan,
nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit
dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
b. Risiko tinggi kekurangan volume cairan vascular yang berhubungan dengan pindahnya cairan dari
ruang intravascular ke ruang ekstravaskular
c. Risiko tinggi syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak
adekuat
e. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik
f. Kebutuhan pembelajaran mengenai kondisi, prognosis dan program pengobatan mengenai penyakit
DHF yang berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi

3. Perencanaan Keperawatan

Perumusan rencana perawatan pada kasus DHF hendaknya mengacu pada masalah diagnosa
keperawatan yang dibuat. Perlu diketahui bahwa tindakan yang bisa diberikan menurut tindakan yang
bersifat mandiri dan kolaborasi.

a. Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue


Tujuan : hipertermi dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
1) Suhu tubuh normal (36-370 C)
2) Pasien mengatakan tidak panas lagi
b. Risiko tinggi kekurangan volume cairan vascular yang berhubungan dengan pindahnya cairan dari
ruang intravascular ke ruang ekstravaskular
Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
1) Klien tidak mengalami kekurangan volume cairan vaskuler yang ditandai dengan TTV stabil dalam
batas normal
2) Produksi urine 1 cc/KgBb/jam
3) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi

c. Risiko tinggi syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan


Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria Hasil :
1) TTV stabil dalam batas normal
2) Hematokrit dalam batas normal ( L : 40-52 %, P : 35-47 % )
3) Hemoglobin dalam batas normal ( L : 11,5-16,5 g/dL, P : 13-17,5 g/dL )
4) Trombosit dalam batas normal (150.000-400.000 /mm3 )
5) Tidak terjadi tanda-tanda syok

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak
adekuat
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan

Kriteria hasil :
1) Klien mengalami peningkatan selera makan dan mampu menghabiskan 1 porsi makanan yang
disediakan
2) Mual, ¬muntah hilang
3) Berat badan dalam batas normal

e. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik


Tujuan : pasien mampu untuk beraktivitas setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
1) Klien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya
2) Klien dapat mandiri untuk mandi, makan, eliminasi dan berpakaian

f. Kebutuhan pembelajaran mengenai kondisi, prognosis dan program pengobatan mengenai penyakit
DHF yang berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi
Tujuan : pengetahuan pasien/ keluarga tentang penyakit DHF bertambah setelah dilakukan tindakan
keperawatan
Kriteria hasil :
1) Pasien/keluarga dapat mengerti mengena pengertian, penyebab, prose terjadinya penyakit, tanda
dan gejala, cara pencegahan dan pengobatan dan komplikasi DHF
INTERVENSI RASIONAL

1) Observasi TTV : suhu, nadi, tekanan darah,


pernapasan - TTV merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien
2) Berikan penjelasan tentang penyebab demam atau
peningkatan suhu tubuh
- keterlibatan keluarga sangat berarti dalam
3) Beri kompres hangat di daerah ketiak dan dahi proses penyembuhan pasien di rumah sakit

- kompres hangat memberikan efek vasodilatasi


4) Anjurkan klien banyak minum ± 1-2 liter / hari
pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan
pengeluaran panas tubuh melalui pori-pori

5) Anjurkan klien untuk istirahat di tempat tidur / tirah


baring - peningkatan suhu tubuh mengakibatkan
penguapan tubuh meningkat sehingga perlu
diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
6) Anjurkan untuk menggunakan pakaian yang tipis
dan menyerap keringat
- mencegah terjadinya peningkatan
7) Monitor dan catat intake dan output dan berikan metabolisme tubuh dan membantu proses
cairan intravena sesuai program medik penyembuhan

8) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat


- pakaian yang tipis akan membantu
antipiretik
mengurangi penguapan tubuh

- karena IWL meningkat 10 %setiap peningkatan


suhu tubuh 10C, maka peningkatan intake
cairan perlu untuk mencegah dehidrasi

- antipiretik berfungsi dalam menurunkan suhu


tubuh

1) Observasi TTV : suhu, nadi, tekanan darah, - TTV merupakan acuan untuk mengetahui
pernapasan keadaan umum pasien

2) Kaji tanda dan gejala kurang volume cairan (selaput


mukosa kering, rasa haus dan produksi urine) - deteksi dini kurang volume cairan
3) Monitor dan catat cairan yang masuk dan keluar

- mengetahui keseimbangan cairan yang masuk


4) Beri minum yang cukup dan sesuaikan dengan dan keluar
jumlah cairan infuse

5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan - minum cukup untuk menambah volume cairan
intravena dan sesuaikan dengan cairan infuse untuk
mencegah kelebihan cairan

6) Kolaborasi dengan petugas laboratorium dalam - program cairan intravena sangat penting bagi
pemeriksaan trombosit, hematokrit dan hemoglobin pasien yang mengalami deficit volume cairan
dengan keadaan umum yang jelek karena cairan
yang masuk langsung ke pembuluh darah

- mengetahui tingkat kebocoran pembuluh


darah

1) Observasi TTV : suhu, nadi, tekanan darah,


pernapasan - TTV merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien
2) Monitor tanda-tanda perdarahan

- perdarahan yang tepat diketahui dapat segera


diatasi sehingga pasien tidak sampai ke tahap
hipovolemik akibat perdarahan hebat
3) Observasi perkembangan bintik-bintik merah di
kulit, keringat dingin, kulit lembab dan dingin serta
tanda-tanda sianosis
- mengetahui tanda-tanda terjadinya syok
4) Bila terjadi syok hipovolemik, baringkan pasien sehingga dapat menentukan intervensi secepatnya
dalam posisi datar
5) Segera puasakan pasien bila terjadi perdarahan
saluran pencernaan

6) Anjurkan pada pasien dan keluarga untuk - menghindari kondisi yang lebih buruk
segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan

7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian


tranfusi dan cairan parenteral
- mengistirahatkan saluran pencernaan untuk
sementara selama perdarahan dari saluran cerna
8) Kolaborasi dengan petugas laboratorium dalam
- keterlibatan keluarga sangat membantu tim
pemeriksaan trombosit, hematokrit dan
perawatan untuk segera melakukan tindakan yang
hemoglobin
tepat

- untuk menggantikan volume dan komponen


darah yang hilang dan untuk memenuhi
keseimbangan cairan tubuh

- mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah

1) Kaji keluhan mual, muntah dan anoreksia yang - untuk menentukan intervensi yang sesuai dengan
dialami pasien kondisi pasien

2) Kaji pola makan pasien, catat porsi makan yang


dihabiskan setiap hari - mengetahui masukan nutrisi pasien

3) Timbang berat badan pasien setiap hari

4) Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan


makan dalam porsi kecil tetapi sering - mengetahui kecukupan nutrisi pasien

5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian


therapy antiemetik dan vitamin
- mencegah pengosongan lambung
- antiemetik untuk mengatasi mual dan muntah,
vitamin untuk meningkatkan selera makan dan
daya tahan tubuh pasien

1) Kaji tingkat kemampuan pasien dalam


beraktivitas - mengetahui kemampuan pasien dalam
beraktivitas
2) Libatkan keluarga/orang tua dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari pasien
- memberikan dorongan kepada pasien dalam
3) Anjurkan mobilisasi secara bertahap sesudah pemenuhan kebutuhan sehari-hari
demam hilang sesuai dengan pulihnya kekuatan
pasien
- agar klien berpartisipasi dalam perawatan diri
4) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari jika pasien belum mampu sendiri

- bantuan yang tepat perlu dilakukan agar pasien


tidak memaksakan diri beraktivitas sementara
dirinya belum mampu sehingga kelelahan pasien
dapat dihindari

1) Kaji tingkat pengetahuann pasien dan


keluarga tentang penyakit DHF - memberikan infrmasi kepada pasien / keluarga,
perawat perlu mengetahui sejauh mana
informasi atau pengetahuan tentang penyakit
pasien serta kebenaran informasi yang telah
didapatkan pasien / keluarga sebelumnya

2) Kaji latar belakang pendidikan pasien dan


keluarga
- agar perawat dapat memberikan penjelasan
sesuai dengan tingkat pendidikan mereka
sehingga penjelasan dapat dipahami dan tujuan
yang direncanakan tercapai
3) Jelaskan tentang pengertian, sebab, proses
penyakit, tanda dan gejala, cara pencegahan dan
pengobatan serta komplikasi dengan
menggunakan gambar dan leaflet dan dengan - agar informasi dapat diterima dengan mudah
kata-kata yang mudah dipahami dan tepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman
dan dengan menggunakan leaflet dan gambar
4) Berikan kesempatan kepada pasien / keluarga penjelasan yang diberikan dapat dibaca dan
untuk bertanya sehubungan dengan penyakit dilihat berulang-ulang
yang dihadapinya dan jawab pertanyaannya

- mengurangi kecemasan dan memotivasi pasien


untuk kooperatif selama masa perawatan atau
penyembuhan

5. Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan
terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap
selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil
dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.

a. Suhu tubuh normal.


b. Kekurangan volume cairan vascular tidak terjadi dan pasien tidak mengalami kekurangan

volume cairan.
c. Syok hipovolemik tidak terjadi, pasien tidak mengalami perdarahan yang berlebihan seperti

hematemesis, melena, perdarahan gusi, epistaksis dan ptekiae.


d. Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
e. Aktivitas dan latihan pasien dapat dilakukan secara mandiri
f. pengetahuan pasien / keluarga tentang kondisi, prognosis dan program pengobatan penyakit

DHF bertambah
Daftar Pustaka

● Effendi, Christantie. 1995. Perawatan Pasien DHF edisi 1. Jakarta : EGC

● Ginanjar, Genis. 2008. Demam Berdarah. Yogyakarta : PT Bentang Pustaka

● Mansjoer, arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III vol. 1. Jakarta : Media

Aesculapius.

● http://askep.blogspot.com/2008/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan_6163.html

● http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2009/02/asuhan-keperawatan-pada

anak-dengan.html

● http://nsnining.blogspot.com/2009/03/asuhan-keperawatan-anak-dengan-dengue.html

● http://nurse87.wordpress.com/2011/10/28/asuhan-keperawatan-anak-dengan-dhf/

http://komunitas-fikes.blogspot.com/2012/04/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan

dhf.html

asuhan keperawatan DHF pada ANAK


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
DHF (Dengue Haemorraghic Fever) pada masyarakat awam sering disebut sebagai demam
berdarah.
Menurut para ahli, demam berdarah dengue disebut sebagai penyakit (terutama sering dijumpai
pada anak) yang disebabkan oleh virus Dengue dengan gejala utama demam,nyeri otot, dan sendi
diikuti dengan gejala pendarahan spontan seperti ; bintik merah pada kulit,mimisan, bahkan pada
keadaan yang parah disertai muntah atau BAB berdarah.
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu
penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya adalah
flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3
dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung
dari serotipe virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara Tropis dan
Subtropis.
Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di Indonesia
Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar
keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya korelasi antara
strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah
berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya.
Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara
konvensional sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius
pada banyak negara tropis dan sub tropis.
1.2 Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini, menggunakan metode kepustakaan. Mengkaji pustaka terhadap
bahan–bahan kepustakaan yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam makalah ini.
Sebagai referensi juga diperoleh dari situs web internet yang membahas mengenai DHF.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Penyakit
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau dema berdarah adalah penyakit menular yang di
sebabkan oleh virus dengue dan di tularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini
dspat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian, terutama kepada anak.
Penyakit ini juga sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah.
Penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD ) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
adalah virus dengue. Di Indonesia, virus tersebut sampai saat ini telah diisolasi menjadi 4
serotipe virus dengue yang termasuk dalam grup B dari arthropedi borne viruses (Arboviruses),
yaitu DEN-1,DEN-2,DEN-3, dan DEN-4. Ternyata DEN-2 dan DEN-3 merupakan serotipe yang
menjadi penyebab terbanyak. Di Thailand, dilaporkan bahwa serotipe DEN-2 adalah dominan.
Sementara di Indonesia, yang terutama dominan adalah DEN-3, tetapi akhir-akhir ini ada
kecenderungan dominasi DEN-2.
Infeksi oleh salah satu serotipe menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe
bersangkutan, tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe lain. Virus dengue ini terutama
ditularkan melalui vektor nyamuk aedes aegypti. Nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensi,
dan beberapa spesies lain kurang berperan. Jenis nyamuk ini terhadap hampir di seluruh
Indonesia kecuali di ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut.
Mekanisme sebenarnya mengenai patofisiologi, hemodinamika, dan biokimia DHF hingga kiri
belum diketahui secara pasti. Sebagian besar sarjana masih menganut The Secondary
Heterologous Infection Hypothesis atau The Sequential Infection Hypothesis dari Halsteel yang
menyatakan bahwa DHF dapat terjadi bila seseorang setelah terinfeksi dengue untuk pertama
kalinya mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berbeda.
Fenomena patofisiologis utama yang menentukan berat penyakit yang membedakan DHF dari
dengue klasik adalah meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume
plasma, serta terjadinya hipotensi. Trombositopeni dan diastesis hemorrhagik. Pada kasus berat ,
renjatan terjadi secara akut dan nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan menghilangnya
plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Ada dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai
akibat dari kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler melalui kapiler yang rusak, sehingga
mengakibatkan menurunnya volume plasma dan meningkatnya nilai hematokrit. Bukti dugaan
ini adalah ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa, yaitu rongga peritonium,
pleura, dan perikard yang ternyata melebihi pemberian cairan infus, serta terjadinya bendungan
pembuluh darah paru. Plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari awal demam
sampai puncaknya pada masa renjatan.
Trombositopeni yang hebat, gangguan fungsi trombosit, dan kelainan fungsi koagulasi
merupakan penyebab utama terjadinya perdarahan. Perdarahan kulit umumnya disebabkan oleh
factor kapiler dan trombositopeni, sedangkan perdarahan masih diakibatkan oleh kelainan yang
lebih kompleks, yaitu trombositopeni, gangguan faktor pembekuan, dan mungkin juga faktor
DIC.
Patogenesis DHF berkaitan dengan system komplemen,yaitu system dalam sirkulasi darah yang
terdiri dari 11 komponen protein dengan bentuk tidak aktif dan labil terhadap panas. Sebagai
reaksi tehadap infeksi,terjadi aktivasi komplemen sehingga dilepaskanlah anafilaktoksin C3a
dan C5a yang mampu membebaskan histamine sebagai mediator kuat dalam peningkatan
permeabilitas dinding pembuluh darah,dan bereperan dalam terjadinya renjatan. Seperti pada
infeksi virus yang lain ,infeksi virus dengue juga merupakan self limiting infektious disease yang
akan berakhir sekitar 2-7 hari.
Infeksi virus dengue mengakibatkan manipestasi klinis yang berpariasi mulai dari asimtomatik ,
yang merupakan penyakit yang paling ringan ( mild undifferentiated febrile illness) demam
dengue( dengue fever) , demam berdarah dengue (DBD) , atau dengue hemoragik fever (DHF)
sampai syndrome syok dengue(SSD) . walaupun secara epidemiologis infeksi ringan lebih
banyak terjadi,tetapi pada awal penyakit hamper tiidak mungkin membedaakan antara infeksi
ringan atau berat.
Bentuk ringan dengue menyerang semua golongan umur dan bermanifestasi lebih berat pada
orang dewasa. Demam dengue pada bayi dan anak berupa demem ringan yg disertai dengan
timbulnya ruam makulopapular. Pada anak besar dan dewasa, penyakit ini dikenal sindrom
triasdengue, yang berupa demam tinggi dan mendadak nyeri pada anggota badan(kepala,bola
mata,punggung dan sendi) dan timbulnya ruam makulopapular.pasien dengan penyakit demam
dengue biasanya sembuh tanpa adanya gejala sisa.
Kasus DHF ditandai oleh manifestasi klinis,yaitu : demam tinggi dan mendadak yang dapat
mencapai 400 c atau lebih atau terkadang disertai dengan kejang demam ,sakit
kepala,anoreksia,muntah muntah atau vomiting,epigastric discomfort,nyeri perut kanan atas atau
seluruh bagian perut dan pendarahan, terutama pendarahan kulit, walaupun hanya berupa uji
tourniquet positif.selain itu,pendaharahan kulit dapat terwujud memar atau dapat juga berupa
pendarahan spontan mulai dari petechiae atau muncul pada hari-hari pertama demam dan
berlangsung selama 3-6 hari pada ekstremitas,tubuh,dan muka, sampai epistaksis dan pendarahan
gusi. Sementara pendarahan gastro intestinal masih lebih jarang terjadi dan biasnya hanya terjadi
pada kasus dengan syok yang berkepanjangan atau setelah syok yang tidak teratasi. Pendarahan
lain seperti pendarahan sub konjungtiva terkadang juga ditemukan.pada masa kovalesen sering
kali ditemukan eritema pada telapak tangan dan kaki dan hepatomegaly.hepatomegali pada
umumnya dapat diraba pada permulaan penyakit dan pembesaran hati ini tidak sejajar dengan
beratnya penyakit.nyeri tekan sering kali ditemukan tanpa icterus maupun kegagalan peredaran
darah ( circulatory failure).
2.2 Diagnosa DHF menurut patokan yang ditetapkan WHO (1997), yaitu:
1. Demam tinggi mendadak dan terus-menerus selama 2-7 hari.
2. Manifestasi perdarahan, termasuk paling tidak uji tourniquet positif dan bentuk lain
perdarahan/perdarahan spontan (petechia, purpura, echimosis, epistaksis, perdarahan gusi) dan
hematemesis melena.
3. Pembesaran hati.
4. Syok, yang ditandai dengan nadi lemah dan cepat disertai dengan tekanan nadi yang
menurun (20 mmHg atau kurang), tekanan darah yang menurun (tekanan sistolik menurun
sampai 80 mmHg atau kurang), dan kulit yang teraba dingin dan lembab, terutama pada ujung
hidung, jari, dan kaki. Penderita gelisah serta timbul sianosis disertai mulut.
Pada awal penyakit, diagnosis banding mencakup infeksi bakteri, virus atau protozoa seperti
demam tipoid, campak, influenza, hepatitis, demam chikungunya, leptospirosis, dan malaria.
Adanya tombositopenia yang jelas disertai dengan hemokonsentrasi membedakan DHF dari
penyakit-penyakit lain. Diagnosa banding lain adalah sepsis, meningitis, meningocele, idiophatic
trombosytopenic purpura (ITP), leukimia, dan anemia aplastik.
Demam Chikungunya (DC) sangat menular dan biasanya menyerang seluruh keluarga dengan
gejala demam mendadak. Masa demam lebih pendek, suhu lebih tinggi, dan hamper selalu di
ikuti dengan ruam makulapopular, infeksi konjungtiva, serta sering dijumpai nyeri sendi.
Proporsi uji bending positif, petekia, dan epistaksinya hampir sama dengan DHF. Pada DC tidak
ditemukan perdarahan gastroinstestinal dan syok.
Hari-hari pertama ITP berbeda dengan DHF karena pada ITP demam cepat menghilang dan tidak
di jumpai hemokonsentrasi. Sedangkan pada fase penyembuhan perbedaannya teletak pada
jumlah trombosit yang lebih cepat kembali pada DHF.
Perdarahan dapat juga terjadi pada leukemia atau anemia aplastic. Pada leukemia, demam tidak
teratur, kelenjar limfe dapat teraba dan anak sangat anemis. Sementara pada anemia aplastik,
anak sangat anemis dan demam timbul karena infeksi sekunder.
Kematian oleh demam dengue hamper tidak ada, sebaliknya pada DHF atau DSS mortalitasnya
cukup tinggi. Penelitian pada orang dewasa di Surabaya, Semarang dan Jakarta memperlihatkan
bahwa prognosis dan perjalanan penyakit umumnya lebih ringan dibandingkan dengan pada
anak-anak.
Untuk memutuskan rantai penularan, pemberantasan vektor dianggap merupakan cara yang
paling memadai saat ini. Vektor dengue, khususnya Aedes Aegypti, sebenarnya mudah
diberantas karena sarang-sarangnya terbatas di tempat-tempat yang berisi air bersih dengan jarak
terbang maksimal 100 m. tetapi karena vektor tersebar luas, untuk keberhasilan pemberantasan
tersebut diperlukan total coverage (meliputi seluruh wilayah) agar nyamuk tak dapat berkembang
biak lagi.
2.3 Klasifikasi
a. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan
hemokonsentrasi.
b. Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti
peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.
c. Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system
sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan
penderita gelisah.

d. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan
yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.
2.4 Pemeriksaan penunjang
a. Darah
1) Trombosit menurun.
2) HB meningkat lebih 20 %.
3) HT meningkat lebih 20 %.
4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3.
5) Protein darah rendah.
6) Ureum PH bisa meningkat.
7) NA dan CL rendah.
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1) Rontgen thorax : Efusi pleura.
2) Uji test tourniket (+)

2.5 Penatalaksanaan
a. Tirah baring
b. Pemberian makanan lunak .
c. Pemberian cairan melalui infus.
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra
vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter
basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
d. Pemberian obat-obatan: antibiotic, antipiretik,
e. Anti konvulsi jika terjadi kejang
f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan
h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
i. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Identitas pasien
Nama, umur ( pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia kurang dari 15 tahun ),
jenis kelamin, alamat , pendidikan , nama orang tua , pendidikan orang tua , dan pekerjaan orang
tua.
2. Keluhan Utama
Alasan / keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang ke rumah sakit adalah panas
tinggi dan anak lemah.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Di dapatkan adanya keluhan panas mendadak yang di sertai menggigil dan saat demam
kesadaran compos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 , dan anak semakin
lemah. Kadang-kadang di sertai dengan keluhan batuk, filek, nyeri telan, mual, muntah,
anorexia, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan
pergerakanbola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi ( grade
III, IV ), melena, atau hematemesis.
4. Riwayat penyakit yang pernah di derita
Penyakit apa saja yang pernah di derita. Pada DHF, anak bisa mengalami serangan ulang DHF
dengan tipe virus yang lain.
5. Riwayat Imunasasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya komplikasi
dapat di hindarkan.
6. Riwayat Gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. semua anak dengan status gizi baik
maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya. Anak yang menderita
DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini
berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat
mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
7. Kondisi lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih seperti air
yang menggenang dan gantungan baju di kamar.
8. Pola kebiasaan
1) Nutrisi dan metabolisme frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang, dan nafsu makan
menurun.
2) Eliminasi alvi ( buang air besar ). Kadang-kadang anak mengalami diare / konstipasi. sementara
DHF pada grade III-IV bisa terjadi melena.
3) Eliminasi urine ( buang air kecil ) perlu di kaji apakah sering kencing, sedikit / banyak, sakit /
tidak. pada DHF garade IV sering terjadi hematuria.
4) Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit / nyeri otot dan
persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.
5) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang
terutama untuk membesihkan tempat sarang nyamuk aedes aegypti.
6) Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk menjaga kesehatan.
9. Pemeriksaan fisik. Meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari ujung rambut sampai
ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak adalah sebagai berikut.
1) Grade I : Kesadaran kompos mentis, keadaaan umum lemah, tanda-tanda vital dan nadi lemah.
2) Grade II : Kesadaran kompos mentis , keadaaan uum lemah, ada perdarahan spontan ptekia,
perdarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
3) Grade III : kesadaran apatis, somenolen, keadaan umum lemah, nadi lemah, kecil, dan tidak
teratur, serta tensi menurun.
4) Grade IV : Kesadaran koma, tanda-tanda vital : nadi tidak teraba, tensi tidak terukur, pernafasan
tidak teratur, ekstremitas dingin , berkeringat, dan kulit tampak biru.
10. Sistem Integumen:
1) Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin, dan lembab.
2) Kuku sianosis / tidak
3) Kepala dan leher.
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam ( flusy ), mata anemis, hidung
kadang mengalamiperdarahan ( epistaksis ) pada grade II,III,IV, pada mulut di dapatkan bahwa
mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan
mengalami hypertemia pharing dan terjadi perdarahan telinga ( pada grade II,III,IV ).
4) Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. pada fhoto thorax terdapat adanya cairan yang
tertimbun pada paru sebelah kanan ( efusi pleura ), Rales +, rhonkhi + yang biasanya terdapat
grade III dan IV.
5) Abdomen, mengalami nyeri tekan, pembesaran hati ( hepatomegali ), dan asietas.
6) Ekstremitas, akral dingin, serta terjadi nyeri otot , sendi, serta tulang.
11. Pemeriksaan Laboratorium.
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai:
1) HB dan PCV meningkat ( > 20 % )
2) Trombositopenia ( < 100.000/ml )
3) Leukopenia ( mungkin normal atau lekositosis )
4) lg. D . dengue fositif
5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan : hipoproteinemi, hipokloremia, dan hiponatremia.
6) Urium dan PH darah mungkin meningkat.
7) Asidosis metabolik : pCO2 <35-40 mmHg dan HCO3 rendah.
8) SGOT/SGPT mungkin meningkat.

3.2 Diagnosa keperawatan.


a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit/ viremia.
b. Nyeri berhubungan dengan proses patologi penyakit.
c. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding
plasma, evaforasi, intake tidak adekuat
d. Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
f. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.
g. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan pasien DHF berhubungan
dengan kurangnya informasi.
3.3 Intervensi dan Rasional
a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit/ viremia.
Intervensi:
1) Observasi tanda – tanda vital klien : suhu, nadi, tensi, pernapasan, tiap 4 jam atau lebih sering
R/ Tanda –tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
2) Beri penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh
R/ Penjelasan tentang kondisi yang dialami klien dapat membantu klien/keluarga mengurangi
kecemasan yang timbul.
3) Menjelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya jika hal tersebut tidak
dilakukan.
R/ Penjelasan yang diberikan akan memotivasi klien untuk kooperatif.
4) Menganjurkan pasien untuk banyak minum ± 2,5 ltr/24 jam dan jelaskan manfaatnya bagi
pasien.
R/ Peningkatan suhu tubuh akan menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi
dengan asupan cairan yang banyak.
5) Berikan kompres hangat pada kepala dan axilla
R/ Pemberian kompres akan membantu menurunkan suhu tubuh.
6) Kolaborasi: Pemberian antipiretik
R/ Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
b. Nyeri berhubungan dengan proses patologi penyakit.
Intervensi:
1) Kaji tingkat nyeri yang dialami klien.
R/ Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami klien.
2) Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi klien terhadap nyeri (budaya, pendidikan,dll)
R/ Reaksi klien terhadap nyeri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, dengan mengetahui faktor
tersebut maka perawat dapat melakukan intervensi sesuai masalah klien.
3) Berikan posisi nyaman, dan citakan lingkungan yang tenang.
R/ Untuk mengurangi rasa nyeri
4) Berikan suasana gembira bagi klien, lakukan teknik distraksi, atau teknik relaksasi.
R/ Dengan teknik distraksi atau relaksasi, klien sedikit melupakan perhatiannya terhadap nyeri
yang dialami.
5) Beri kesempatanklien untuk berkomunikasi dengan orang terdekat.
R/ Berhubungan dengan orang terdekat dapat membuat klien teralih perhatiannya dari nyeri yang
dialami.
6) Kolaborasi: Berikan obat-obat analgetik
R/ Obat analgetik dapat mengurangi atau menekan nyeri klien.
c. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding
plasma, evaforasi, intake tidak adekuat.
Intervensi:
1) Kaji keadaan umum klien 9pucat, lemah, taki kardi), serta tanda –tanda vital.
R/ Menetapkan data dasar, untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan
normalnya.
2) Observasi adanya tanda – tanda syok
R/ Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok yang dialami klien.
3) Anjurkan klien untuk banyak minum.
R/ Asupan cairan sangat diperluakan untuk menambah volume cairan tubuh.
4) Kaji tanda dan gejala dehidrasi/hipovolemik (riwayat muntah, diare, kehausan, turgor jelek).
R/ Untuk mengetahui penyebab defisit volume cairan.
5) Kaji masukan dan haluaran cairan.
R/ Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
6) Kolaborasi : Pemberian cairan intra vena sesuai indikasi.
R/ Pemberian cairan intra vena sangat penting bagi klien yang mengalami defisit volume cairan
dengan keadaan umum yang buruk untuk rehidrasi.
d. Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
Intervensi:
1) Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.
R/ Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada
tahap tertentu dapat menimbulkan perdarahan.
2) Beri penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada klien.
R/ Agar klien/keluarga mengetahui hal hal yang mungkin terjadi padaklien dan dapat membantu
mengantisipasi terjadinya perdarahan.
3) Anjurkan klien untuk banyak istirahat.
R/ Aktivitas klien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
4) Beri penjelasan pada klien/keluarga untuk segera melaporkan tanda-tanda perdarahan
(hematemesis,melena, epistaksis).
R/ Keterlibatan keluarga akan sangat membantu klien mendapatkan penanganan sedini mungkin.
5) Antisipasi terjadinya perdarahan ( sikat gigi lunak, tindakan incvasif dengan hati-hati).
R/ Klien dengan trombositopenia rentan terhadap cedera/perdarahan.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
Intervensi:
1) Kaji keluhan mual, muntah, dan sakit menelan yang dialami klien
R/ Untuk menetapkan cara mengatasinya.
2) Kaji cara/pola menghidangkan makanan klien
R/ Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan klien.
3) Berikan makanan yang mudah ditelan seperti: bubur dan dihidangkan saat masih hangat.
R/ Membantu mengurangi kelelahan klien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah
ditelan.
4) Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering
R/ Untuk menghindari mual dan muntah serta rasa jenuh karena makanan dalam porsi banyak.
5) Jelaskan manfaat nutrisi bgi klien terutama saat sakit.
R/ UntukMeningkatkan pengetahan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat.
6) Catat jumlah porsi yang dihabiskan klien.
R/ Mengetahui pemasukan/pemenuhan nutrisi klien.
f. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.
Intervensi:
1) Mengkaji keluhan klien
R/ Untuk mengidentifikasi masalah-masalah klien.
2) Kaji hal-hal yang mampu/tidak mampu dilakukan oleh klien sehubungan degan kelemahan
fisiknya.
R/ Untuk mengetahui tingkat ketergantungan klien dalam memenuhi kebutuhannya.
3) Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya sesuai dengan tingkat keterbatasan klien seperti
mandi, makan, eliminasi.
R/ Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah tanpa membuat
klien mengalami ketergantungan pada perawat.
4) Bantu klien untuk mandiri sesuai dengan perkembangan kemajuan fisiknya.
R/ Dengan melatih kemandirian klien, maka klien tidak mengalami ketergantungan.
5) Letakkan barang-barang di tempat yang mudah dijangkau oleh klien.
R/ Akan membantu klien memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain.
g. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan pasien DHF berhubungan
dengan kurangnya informasi.
Intervensi:
1) Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit DHF.
R/ Sebagai data fdasar pemberian informasi selanjutnya.
2) Kaji latar belakang pendidikan klien/ keluarga.
R/ Untuk memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan klien/ keluarga sehingga dapat
dipahami.
3) Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada klien dengan bahasa
dan kata-kata yang mudah dimengerti.
R/ Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehinggfa tidak terjadi
kesalahpahaman.
4) Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya pada klien.
R/ Dengan mengetahui prosedur/tindakan yang akan dilakukan dan manfaatnya, klien akan
kooperatif dan kecemasannya menurun.
5) Berikan kesempatan pada klien/ keluarga untuk menanyakan hal-hal yangingin diketahui
sehubungan dengan penyakit yang diderita klien.
R/ Mengurangi kecemasan dan memotivasi klien untuk kooperatif.
6) Gunakan leaflet atau gambar-gambar dalam memberikan penjelasan.
R/ Untuk membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan karena dapat dilihat/ dibaca
berulang kali.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Banyak cara untuk menurunkan insiden terjadinya DHF. Karena vektor dari DHF adalah
nyamuk Aedes a, maka ada beberapa hal yang sebaiknya dilaksanakan untuk memutuskan rantai
penyakit:
1. Tanpa insektisida:
a. menguras bak mandi,tempayan,drum,dll minimal seminggu sekali.
b. menutup penampungan air rapat- rapat.
c. membersihkan pekarangan dari kaleng bekas,botol bekas yang memungkinkan nyamuk
bersarang.
2. dengan insektisida:
a. malathion untuk membunuh nyamuk dewasa: biasanya dengan fogging/pengasapan.
b. abate untuk membunuh jentik nyamuk denan cara ditabur pada bejana- bejana tempat
penampungan air bersih dengan dosis 1 gram Abate SG 1% per 10 liter air.

4.2 Saran
Penulis berharap semoga penyusunan makalah tentang Askep pada anak/bayi dengan DHF
ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan praktik keperawatan.
Dan juga dengan makalah ini dapat menjadi acuan untuk tindakan proses keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Asuhan keperawatan bayi dan anak ( untuk perawat dan bidan)

Mansjoer, arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III vol. 1. Jakarta : Media Aesculapius.

http://askep.blogspot.com/2008/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan_6163.html
ASKEP ANAK DENGA DHF ( DBD )

DENGUE HAEMORHAGIC FEVER


A. DEFENISI
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
sejenis virus yang tergolong arbovirusdan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan
nyamuk aedes aegypty (Nursalam, dkk. 2008)
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang
dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa
ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui
gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Hidayatalimulaziz. 2006).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus
yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty (Suridi. 2010).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever
(DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong
arbovirusdan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang
terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi
yang disertai ruam atau tanpa ruam

B. KLASIFIKASI
1. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi,
trombositopeni dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit
seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat..
3. Derajat III
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan
system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin
dan penderita gelisah.
4. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi
renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.

C. ETIOLOGI
Virus dengue sejenis arbovirusyang di tularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
Nyamuk aedes aegypti berbentuk batang, stabil pada suhu 37 0C. Adapun ciri-ciri nyamuk
penyebar demam berdarah adalah
1. Badan kecil,warna hitam dengan bintik-bintik putih
2. Hidup didalam dan sekitar rumah
3. Menggigit dan menghisap darah pada waktu siang hari
4. Senang hinggap pada pakaian yang bergantung didalam kamar
Bersarang dan bertelur digenangan air jernih didalam dan sekitar rumah seperti bak mandi,
tempayan vas bunga.

D. PATOFISIOLOGI
Berdasarkan klasifikasi derajat ringan dan beratnya penyakit DHF dibagi menjadi empat
derajat yaitu : Derajat 1 demam disertai gejala klinis lainnya pendarahan ringan, uji tourniquet
positif, trambositopenia hemokonsentrasi, Derajat II seperti derajat I disertai pendarahan spontan
dikulit dan pendarahan lain, Derajat III ditemukan kegagalan sirkulasi dengan adanya nadi cepat
dan lemah, tekanan nadi menurun (kurang dari 20 mmhg) atau hipotensi disertai kulit yang
dingin dan lembab, dan tekanan darah yang tak dapat diukur.
Penyebab DHF yaitu virus dengue terdiri dari 4 serotipe 1,2,3,4 yang ditularkan melalui
vector nyamuk aedes aegypthy. Infeksi dengan salah satu serotif akan menimbulkan antibody
seumur hidup terhadap serotip lain.
Virus Dengue dianggap sebagai antigen sehingga akan merangsang tubuh untuk
mengeluarkan antibody humoral dan sekuler. Dalam virus tidak langsung menimbulkan gejala
tetapi mengalami masa inkubasi kurang lebih 2 minggu. Hal ini tergantung dari banyaknya virus
yang masuk, virulensi atau keganasan dan daya tahan tubuh. Setelah terjadi masa inkubasi maka
akan terjadi viremia yaitu adalah virus dalam darah. Viremia ini berjalan singkat mulai dua hari
sebelum panas dan mencapai puncaknya setelah mencapai 6-7 hari bersamaan dengan timbulnya
antibody yang memiliki aktivitas netralisasi atau aktivitas komplemen akhirnya banyak virus di
hilangkan dan penderita mengalami penyembuhan selanjutnya terjadilah seumur hidup terhadap
serotip virus yang sama, tetapi tidak melindungi terhadap serotip yang lain (proses infeksi
primer). Infeksi sekunder terjadi jika tubuh mendapatkan infeksi berulang dengan tipe virus
dengue yang berbeda dan lebih vurulen. Terdapatnya kompleks virus dalam sirkulasi darah
menyebabkan suatu aktivitas sistem komplemen yang mengakibatkan dilepaskannya
anafilaktosin C3a dan C5a yang berdaya untuk melepaskan histamin dan serotonin yang
berdampak meningginya permeabilitis pembuluh darah dan pada sistem koagulasi
mengakibatkan menghilangnya plasma melalui dinding endotel pembuluh darah sehingga terjadi
perembesan plasma dari ruang intravaskuler keruang ekstavaskuler, kedua agresi trombosit
menurun, apa bila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trambosit, sebagai
akibat mobilisasi sel trambosit muda dari sumsum tulang, Pada keadaan agregasi akan
melepaskan amin vaso aktif (histamin dan serotonin) yang bersifat meninggikan permaebilitis
kapiler dan melepaskan trambosit faktor 3 yang merangsang reaksi intravaskuler. Ketiga
terjadinya aktivitas factor hagemen (faktor XII) akibat terjadinya pembekuan intravaskuler yang
berperan dalam pembentukkan anafilaktosin dan penghancuran fibrin menjadi fibrin degradation
product. Disamping itu aktivasi akan merangsang sistem kinin yang peran dalam proses
meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah.

E. MANIFESTASI KLINIS
Adapun manifestasi klinis dari penyakit DHF yaitu:
1. Demam tinggi selama 5 – 7 hari
2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan
3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie.
4. Nyeri otot
5. Sakit kepala.
6. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah,
capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

F. KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi apabila kebocoran plasma dari intravaskuler ke ekstravaskuler yang
terus maka akan mengalami syok hipovolemia dan bisa terjadi DSS (Dengue Syock Sindrom),
jika keadaan tersebut tidak teratasi maka akan menyebabkan anoreksia jaringan, asidosis
metabolic dan berakhir dengan kematian, perdarahan terjadi karena trombositopenia,
menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya factor koagulasi (protombin, factor V. VII, IX, X
dan frinogen) pendarahan hebat dapat terjadi terutama pada traktus grastrointestinal.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Darah
 Trombosit menurun. (trombositopenia: 100.000/mm3atau kurang)
 HB meningkat lebih 20 %.
 HT meningkat lebih 20 % (homokonsetrasi)
 Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3.
 Protein darah rendah.
 Ureum PH bisa meningkat.
 NA dan CL rendah.

2. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).


 Rontgen thorax : Efusi pleura.
 Uji test tourniket (+)

H. PENATALAKSANAAN
Demam berdarah dengue, penatalaksanaannya hanya bersifat simptomatis dan suportif.
1. Tirah baring
2. Pemberian makanan lunak .
3. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
4. Monitor adanya tanda-tanda renjatan
5. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
6. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.
7. Pemberian cairan yang cukup
Cairan di berikan untuk mengurangi rasa haus dan dehidrasi akibat demam tinggi,
anoreksia, dan muntah. Penderita perlu di beri minum sebanyak mungkin (1-2 liter dalam 24
jam).
8. Antipiretik
Seperti golongan asetaminofen (parasetamol), jangan berikan golongan salisilat karena
dapat menyebabkan bertambahan perdarahan.
9. Antikonvulsan
Bila penderita kejang dapat di berikan :
 Diazepam
 Fenobarbital
10. Pemberian cairan melalui infus,
Di lakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung
meningkat. Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan
cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4
mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Nama, umur ( pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia kurang dari 15
tahun ), jenis kelamin, alamat , pendidikan , nama orang tua , pendidikan orang tua , dan
pekerjaan orang tua.
2. Keluhan Utama
Alasan / keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang ke rumah sakit adalah
panas tinggi dan anak lemah.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Di dapatkan adanya keluhan panas mendadak yang di sertai menggigil dan saat demam
kesadaran compos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 , dan anak semakin
lemah. Kadang-kadang di sertai dengan keluhan batuk, filek, nyeri telan, mual, muntah,
anorexia, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan
pergerakanbola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi ( grade
III, IV ), melena, atau hematemesis.
4. Riwayat penyakit yang pernah di derita
Penyakit apa saja yang pernah di derita. Pada DHF, anak bisa mengalami serangan ulang
DHF dengan tipe virus yang lain.
5. Riwayat Imunasasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya
komplikasi dapat di hindarkan.
6. Riwayat Gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan status gizi
baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat etabo predisposisinya. Anak yang menderita
DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini
berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat
mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
7. Kondisi lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih
seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar.
8. Pola kebiasaan
a. Nutrisi dan etabolic frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang, dan nafsu makan
menurun.
b. Eliminasi alvi ( buang air besar ). Kadang-kadang anak mengalami diare / konstipasi. Sementara
DHF pada grade III-IV bisa terjadi melena.
c. Eliminasi urine ( buang air kecil ) perlu di kaji apakah sering kencing, sedikit / banyak, sakit /
tidak. Pada DHF garade IV sering terjadi hematuria.
d. Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit / nyeri otot dan
persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.
e. Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang
terutama untuk membesihkan tempat sarang nyamuk aedes aegypti.
f. Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk menjaga kesehatan.
9. Pemeriksaan fisik. Meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari ujung rambut sampai
ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak adalah sebagai berikut.
a. Grade I : Kesadaran kompos mentis, keadaaan umum lemah, tanda-tanda vital dan nadi lemah.
b. Grade II : Kesadaran kompos mentis , keadaaan uum lemah, ada perdarahan spontan ptekia,
perdarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
c. Grade III : kesadaran apatis, somenolen, keadaan umum lemah, nadi lemah, kecil, dan tidak
teratur, serta tensi menurun.
d. Grade IV : Kesadaran koma, tanda-tanda vital : nadi tidak teraba, tensi tidak terukur, pernafasan
tidak teratur, ekstremitas dingin , berkeringat, dan kulit tampak biru.
10. Sistem Integumen:
a. Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin, dan lembab.
b. Kuku sianosis / tidak
c. Kepala dan leher.
d. Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam ( flusy ), mata anemis, hidung
kadang mengalamiperdarahan ( epistaksis ) pada grade II,III,IV, pada mulut di dapatkan bahwa
mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan
mengalami hypertemia pharing dan terjadi perdarahan telinga ( pada grade II,III,IV ).
11. Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada fhoto thorax terdapat adanya
cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan ( efusi pleura ), Rales +, rhonkhi + yang biasanya
terdapat grade III dan IV.
12. Abdomen, mengalami nyeri tekan, pembesaran hati ( hepatomegali ), dan asietas.
13. Ekstremitas, akral dingin, serta terjadi nyeri otot , sendi, serta tulang.
14. Pemeriksaan Laboratorium.
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai:
a. HB dan PCV meningkat ( > 20 % )
b. Trombositopenia ( < 100.000/ml )
c. Leukopenia ( mungkin normal atau lekositosis )
d. lg. D . dengue fositif
e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan : hipoproteinemi, hipokloremia, dan hiponatremia.
f. Urium dan PH darah mungkin meningkat.
g. Asidosis etabolic : pCO2 <35-40 mmHg dan HCO3 rendah.
h. SGOT/SGPT mungkin meningkat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit/ viremia.
2. Nyeri berhubungan dengan proses patologi penyakit.
3. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding
plasma, evaforasi, intake tidak adekuat
4. Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.
7. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan pasien DHF berhubungan
dengan kurangnya informasi.
8. Resiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
9. Resiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia

C. RENCANA KEPERAWATAN
1. DX.Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit/ viremia ( virus ).
Tujuan :
Hipertemia dapat teratasi
Kriteria Hasil :
 Suhu tubuh dalam batas normal (36-370 C).
 Mukosa lembab tidak ada sianosis atau purpura
Intervensi:
a. Observasi tanda – tanda vital klien : suhu, nadi, tensi, pernapasan, tiap 4 jam atau lebih sering
Rasional : Tanda –tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
b. Beri penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh
Rasional : Penjelasan tentang kondisi yang dialami klien dapat membantu klien/keluarga
mengurangi kecemasan yang timbul.
c. Menjelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya jika hal tersebut tidak dilakukan.
Rasional : Penjelasan yang diberikan akan memotivasi klien untuk kooperatif.
d. Menganjurkan pasien untuk banyak minum ± 2,5 ltr/24 jam dan jelaskan manfaatnya bagi pasien
Rasional : Peningkatan suhu tubuh akan menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga
perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
e. Berikan kompres hangat pada kepala dan axilla
Rasional : Pemberian kompres akan membantu menurunkan suhu tubuh.
f. Kolaborasi: Pemberian antipiretik
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.

2. DX.Nyeri berhubungan dengan proses patologi penyakit.


Tujuan
Nyeri berkurang
Intervensi :
a. Kaji tingkat nyeri yang dialami klien.
Rasional : Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami klien.
b. Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi klien terhadap nyeri (budaya, pendidikan,dll)
Rasional : Reaksi klien terhadap nyeri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, dengan
mengetahui faktor tersebut maka perawat dapat melakukan intervensi sesuai masalah klien.
c. Berikan posisi nyaman, dan citakan lingkungan yang tenang.
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri
d. Berikan suasana gembira bagi klien, lakukan teknik distraksi, atau teknik relaksasi.
Rasional : Dengan teknik distraksi atau relaksasi, klien sedikit melupakan perhatiannya
terhadap nyeri yang dialami.
e. Beri kesempatanklien untuk berkomunikasi dengan orang terdekat.
Rasional : Berhubungan dengan orang terdekat dapat membuat klien teralih perhatiannya dari
nyeri yang dialami.
f. Kolaborasi: Berikan obat-obat analgetik
Rasional : Obat analgetik dapat mengurangi atau menekan nyeri klien.
3. DX.Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
dinding plasma, evaforasi, intake tidak adekuat
Tujuan :
Intervensi
a. Kaji keadaan umum klien pucat, lemah, taki kardi), serta tanda –tanda vital.
Rasional :Menetapkan data dasar, untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan
normalnya.
b. Observasi adanya tanda – tanda syok
Rasional :Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok yang dialami klien.
c. Anjurkan klien untuk banyak minum.
Rasional : Asupan cairan sangat diperluakan untuk menambah volume cairan tubuh.
d. Kaji tanda dan gejala dehidrasi/hipovolemik (riwayat muntah, diare, kehausan, turgor jelek).
Rasional : Untuk mengetahui penyebab defisit volume cairan.
e. Kaji masukan dan haluaran cairan.
Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
f. Kolaborasi : Pemberian cairan intra vena sesuai indikasi.
Rasional : Pemberian cairan intra vena sangat penting bagi klien yang mengalami defisit volume
cairan dengan keadaan umum yang buruk untuk rehidrasi.

4. DX.Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.


Intervensi:
a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.
Rasional : Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah
yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan perdarahan.
b. Beri penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada klien.
Rasional : Agar klien/keluarga mengetahui hal hal yang mungkin terjadi padaklien dan dapat
membantu mengantisipasi terjadinya perdarahan.
c. Anjurkan klien untuk banyak istirahat.
Rasional : Aktivitas klien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
d. Beri penjelasan pada klien/keluarga untuk segera melaporkan tanda-tanda perdarahan
(hematemesis,melena, epistaksis).
Rasional : Keterlibatan keluarga akan sangat membantu klien mendapatkan penanganan sedini
mungkin.
e. Antisipasi terjadinya perdarahan ( sikat gigi lunak, tindakan incvasif dengan hati-hati).
Rasional : Klien dengan trombositopenia rentan terhadap cedera/perdarahan.

5. DX.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah,
anoreksia.
Tujuan :
Anoreksia dan kebutuhan nutrisi dapat teratasi.
Kriteria Hasil
Berat badan stabil dalam batas normal, Tidak ada mual dan muntah.
Intervensi :
a. Kaji keluhan mual, muntah, dan sakit menelan yang dialami klien
Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya.
b. Kaji cara/pola menghidangkan makanan klien
Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan klien.
c. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti: bubur dan dihidangkan saat masih hangat.
Rasional : Membantu mengurangi kelelahan klien dan meningkatkan asupan makanan karena
mudah ditelan.
d. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering
Rasional : Untuk menghindari mual dan muntah serta rasa jenuh karena makanan dalam porsi
banyak.
e. Jelaskan manfaat nutrisi bgi klien terutama saat sakit.
Rasional : UntukMeningkatkan pengetahan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan
meningkat.
f. Catat jumlah porsi yang dihabiskan klien
Rasional : Mengetahui pemasukan/pemenuhan nutrisi klien.
6. DX.Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.
Intervensi :
a. Mengkaji keluhan klien
Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah klien.
b. Kaji hal-hal yang mampu/tidak mampu dilakukan oleh klien sehubungan degan kelemahan
fisiknya.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan klien dalam memenuhi kebutuhannya.
c. Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya sesuai dengan tingkat keterbatasan klien seperti
mandi, makan, eliminasi.
Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah tanpa
membuat klien mengalami ketergantungan pada perawat
d. Bantu klien untuk mandiri sesuai dengan perkembangan kemajuan fisiknya.
Rasional : Dengan melatih kemandirian klien, maka klien tidak mengalami ketergantungan.
e. Letakkan barang-barang di tempat yang mudah dijangkau oleh klien
Rasional : Akan membantu klien memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain.

7. DX.Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan pasien DHF
berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit DHF.
Rasional : Sebagai data fdasar pemberian informasi selanjutnya.
b. Kaji latar belakang pendidikan klien/ keluarga.
Rasional : Untuk memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan klien/ keluarga
sehingga dapat dipahami.
c. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada klien dengan bahasa dan
kata-kata yang mudah dimengerti.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehinggfa tidak terjadi
kesalahpahaman.
d. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya pada klien.
Rasional : Dengan mengetahui prosedur/tindakan yang akan dilakukan dan manfaatnya, klien
akan kooperatif dan kecemasannya menurun.
e. Berikan kesempatan pada klien/ keluarga untuk menanyakan hal-hal yangingin diketahui
sehubungan dengan penyakit yang diderita klien.
Rasional : Mengurangi kecemasan dan memotivasi klien untuk kooperatif.
f. Gunakan leaflet atau gambar-gambar dalam memberikan penjelasan.
Rasional : Untuk membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan karena dapat dilihat/
dibaca berulang kali.

8. DX.Resiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia


Tujuan : Perdarahan tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
 Tanda-tanda vital normal.
 Jumlah trombosit klien meningkat.
 Tidak terjadi epitaksis, melena, dan hemotemesis
Intervensi
a. Monitor tanda-tanda perdarahan dan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.
Rasonal: Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda-tanda adanya perforasi pembuluh darah
yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis berupa perdarahan (petekie,
epistaksis, dan melena).
b. Anjurkan klien untuk banyak istirahat.
Rasional : Aktivitas yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
c. Berikan penyelasan pada keluerga untuk segera melaporkan jika ada tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Mendapatkan penanganan segera mungkin.
d. Antisipasi terjadinya perdarahan dengan menggunakan sikat gigi lunak, memberikan tekanan
pada area tubuh setiap kali selesai pengambilan darah.
Rasional : Mencegah terjadinya pendarahan.

9. DX.Resiko tinggi syok hipovolemik berhibungan dengan kurangnya volume cairan tubuh
akibat perdarahan.
Tujuan :
Tidak terjadi syok hipovolemik.
Kriteria Hasil
 Tanda-tanda vital dalam batas normal.
 Keadaan umum baik,
 Syok hipovolemik tidak terjadi.
Intervensi.
a. Monitor keadaan umum kilen.
Rasional : Untuk mengetahui jika terjadi tanda-tanda syok.
b. Observasi tanda-tanda vital tiap 2-4 jam.
Rasional : Untuk memastikan tidak terjadi per syok.
c. Monitor tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Perdarahan yang cepat diketahui dapat segera teratasi.
d. Anjurkan keluarga/klien untuk segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Untuk membantu tim perawat untuk segara menentukan tindakan yang tepat.
e. Segera puasakan jika terjadi perdarahan saluran pencernaan.
Rasional : Untuk membantu mengistirahatkan saluran pencernaan untuk sementara selama
perdarahan berasal dari saluran cerna.
f. Perhatikan keluhan klien seperti pusing, lemah, ekstremitas dingin, sesak nafas.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pengaruh perdarahan.
g. Kolaborasi berikan therapi cairan intra vena jika terjadi perdarahan.
Rasional: Untuk mengetahui kehilangan cairan tubuh yang hebat yaitu untuk mengatasi syok
hipovolemik.
h. Cek Hb, Ht, Trombosit (sito)
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami klien, dan untuk
acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
i. Berikan trasfusi sesuai instruksi dokter.
Rasional : Untuk menganti volume darah serta komponen yang hilang.

DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III vol. 1. Jakarta : Media Aesculapius.
Nelson, 2000, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian II, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Suriadi, Yuliana R, 2010, Asuhan Keperawatan pada Anak, Edisi I, Penerbit PT. Fajar Interpratama :
Jakarta.
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT dengan segala limpahan Rahmat, Taufiq, dan Hidayah-
Nya sehingga laporan yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Tn.“ H ” dengan DHF
dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Laporan ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas dari Praktek (PSG) di Klinik
Pratama Rawat Inap dan Bersalin Nurmedika pada tgl 22 Juni 2013 sampai 22 Juli 2013 dalam
rangka Program Studi Keperawatan SMK Nurmedika Surabaya.

Dengan terselesaikannya laporan ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih
kepada:

1. , selaku Kepala Sekolah SMK Nurmedika Surabaya


2. dr.H.Bambang Supriyono,SE,MM selaku Penanggung Jawab Klinik Pratama Rawat Inap dan
Bersalin Nurmedika
3. Risma Widyastuti, S. Kep. Ners, selaku Ketua Prodi Keperawatan SMK Nurmedika Surabaya
4. Desy Purnama Sari, SST., selaku Guru Pembimbing Praktek di Klinik Pratama Rawat Inap dan
Bersalin Nurmedika
5. Perawat dan Bidan di Klinik Pratama Rawat Inap dan Bersalin Nurmedika
6. Dan pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian laporan ini. Terima kasih.

Surabaya, 24 September 2013


Daftar Isi
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………………….1
KATA PENGANTAR.………………………………………………………………2
DAFTAR ISI..….…………………………………………………………………….3
KONSEP DASAR…...……………………………………………………………….4
1. PENGERTIAN …………………………………………………………………………………4
2. ETIOLOGI ………………………………………………………………………………………4
3. PATOFISIOLOGI …………………………………………………………………………….4
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG …………………………………………………………7
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN,,…………………………….8
1. PENGKAJIAN ………………………………………………………………………………..8
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN ………………………………………………………….8
3. RENCANA KEPERAWATAN ……………………………………………………………9

DAFTAR PUSAKA ………………………………………………….10


. PENGERTIAN
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies
aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot
dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever ( DHF ).

B. PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena
viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan,
timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran
kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh
darah dibawah kulit.

Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF
ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan
serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini
berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan
renjatan.

Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler ibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam
rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi
sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis
metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya
dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.

Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan
terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya
oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. Masalah
terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat.

C. KLASIFIKASI DHF
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu :

Derajat I

Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif,
trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
Derajat II

Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis,
hematemesis, melena, perdarahan gusi.

Derajat III

Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat ( >120x/mnt ) tekanan nadi
sempit ( £ 120 mmHg ), tekanan darah menurun, ( 120/80 ® 120/100 ® 120/110 ® 90/70 ® 80/70 ® 80/0
® 0/0 )

Derajat IV

Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur ( denyut jantung ³ 140x/mnt ) anggota gerak teraba dingin,
berkeringat dan kulit tampak biru.

D. TANDA DAN GEJALA


Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dangejala lain adalah :

- Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.

- Asites

- Cairan dalam rongga pleura ( kanan )

- Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.

E. PEMERIKSAAN DAN DIGNOSIS


- Trombositopeni ( £ 100.000/mm3)

- Hb dan PCV meningkat ( ³ 20% )

- Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )

- Isolasi virus

- Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder

- Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah
menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN, creatinin serum.

F. PENATALAKSANAAN
Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue :
- Panas 1-2 hari disertai dehidrasi ( karena panas, muntah, masukan kurang ) atau kejang-kejang.

- Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniquet positif / negatif, kesan sakit keras (
tidak mau bermain ), Hb dan PCV meningkat.

- Panas disertai perdarahan

- Panas disertai renjatan.

Belum atau tanpa renjatan:

1. Grade I dan II :

a. Oral ad libitum atau

b. Infus cairan Ringer Laktat dengan dosis 75 ml/Kg BB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg atau 50 ml/Kg
BB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg bersama-sama diberikan minuman oralit, air buah atau susu
secukupnya.

Untuk kasus yang menunjukkan gejala dehidrasi disarankan minum sebnyak-banyaknya dan sesering
mungkin.

Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai
dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :

· 100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg

· 75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg

· 60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg

· 50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg

· Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk anti panas, darah 15
cc/kgBB/hari perdarahan hebat.

Dengan Renjatan ;

2. Grade III

a. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam

Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi
kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan
tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam
kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi
waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm
diperhitungkan sebagai berikut :

· 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg

· 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg.

· 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg.

· 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg.

b. Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi masih terukur kurang
dari 80 mmHg dan andi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau
plasma ekspander ( dextran L atau yang lainnya ) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang
maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL
sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah
dapat mengatasi renjatan.

c. Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi menurun
lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut
harus memperoleh plasma atau plasma ekspander ( dextran L atau lainnya ) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1
jam. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.

G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian

1.1 Identitas

DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa (
Effendy, 1995 )

1.2 Keluhan Utama

Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.

1.3 Riwayat penyakit sekarang

Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu
menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.

1.4 Riwayat penyakit terdahulu


Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.

1.5 Riwayat penyakit keluarga

Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit
DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.

1.6 Riwayat Kesehatan Lingkungan

Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat
air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan.

1.7 Riwayat Tumbuh Kembang

1.8 Pengkajian Per Sistem

1.8.1 Sistem Pernapasan

Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi
sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.

1.8.2 Sistem Persyarafan

Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS

1.8.3 Sistem Cardiovaskuler

Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat
terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada
grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

1.8.4 Sistem Pencernaan

Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran
hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis,
melena.

1.8.5 Sistem perkemihan

Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing
berwarna merah.

1.8.6 Sistem Integumen.

Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi
pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
2. Diagnosa Keperawatan

2.1 Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue

2.2 Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya ciran intravaskuler ke ekstravaskuler

2.3 Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler

2.4 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.

2.5 Resiko terjadi perdarahn berhubungan dnegan penurunan factor-fakto pembekuan darah ( trombositopeni )

2.6 Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan

2.7 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.

3. Rencana Asuhan Keperawatan.

DP : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue

Tujuan : Suhu tubuh normal

Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37

Nyeri otot hilang

Intervensi :

a. Beri komres air kran

Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi

b. Berika / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi )

Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.

c. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat

Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak
merangsang peningkatan suhu tubuh.

d. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.

Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam
tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
e. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.

Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat
khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien.

DP 2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke


ekstravaskuler.

Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan

Kriteria : Input dan output seimbang

Vital sign dalam batas normal

Tidak ada tanda presyok

Akral hangat

Capilarry refill < 3 detik

Intervensi :

a. Awasi vital sign tiap 3 jam/lebih sering

Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler

b. Observasi capillary Refill

Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer

c. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ

Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.

d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )

Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral

e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena

Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.

DP. 3 Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler.

Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik

Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal


Intervensi :

a. Monitor keadaan umum pasien

Raional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat
segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok

b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih

Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok

c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan

Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui
dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.

d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena

Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.

e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo

Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan
melakukan tindakan lebih lanjut.

DP. 4 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.

Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi

Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

Menunjukkan berat badan yang seimbang.

Intervensi :

a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai

Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi

b. Observasi dan catat masukan makanan pasien

Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan

c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan )

Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.

d. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah
distensi gaster.

e. Berikan dan Bantu oral hygiene.

Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral

f. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.

Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.

DP. 5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah (
trombositopeni )

Tujuan : Tidak terjadi perdarahan

Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat

Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat

Intervensi :

a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.

Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap
tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.

b. Monitor trombosit setiap hari

Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh
darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.

c. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )

Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.

d. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan spt :
hematemesis, melena, epistaksis.

Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi
perdarahan.

e. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan
tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.

Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK E.C DENGAN DHF GRADE II

DI RUANG MENULAR ANAK RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

A. PENGKAJIAN

1. Identitas

Nama : An. E.C

Umur : 9 thn

Alamat : Tambak Asri 23/27 Surabaya

Agama : Kristen

Nama Ibu : Ny. T

Pendidikan :

Nama Ayah : Tn S

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Karyawan swasta

Diagnosa Medik : DBD Grade II

Pengkajian tanggal : 13 Desember 2001

2. Keluhan Utama :

Sakit kepala, panas dan tidak nafsu makan.

3. Riwayat penyakit sekarang :

Senin pagi panas, dibawa ke puskesmas dapat paracetamol. Panas turun. Rabu malam anak tiba-tiba
muntah-muntah air, makan tidak mau, minum masih mau. Kamis jam 03 pagi keluar darah dari hiding
pada waktu bersin, keluhan pusing, mencret air, dibawa ke IRD.

4. Riwayat penyakit dahulu

Sebelumnya klien tidak penah dirawat karena penyakit apapun.

5. Riwayat penyakit keluarga

Menurut keluarga ( Ibu ) tidak ada keluarga yang dalam waktu dekat ini menderita sakit DBD.
6. Riwayat kesehatan lingkungan.

Menurut ibu kondisi lingkungan rumah cukup bersih, walaupun tinggal dekat kali kecil, sekitar rumah
terdapat beberapa ban bekas untuk menanam tanaman yang belum dipakai, bak mandi dikuras setiap
seminggu 1 kali. Menurut ibu seminggu yang lalu ada tetangga gang yang menderita DHF, tetapi
sekarang sudah sembuh, dan lingkungan wilayah belum pernah disemprot.

7. Riwayat kehamilan

Anak lahir pada usia kehamilan 7 bulan, dengan berat badan lahir 4 kg, ibu tidak tahu mengapa
kehamilannya hanya 7 bulan. Lahir spontan dan selama 1 tahun anak mendapat imunisasi lengkap dan
minum PASI Lactona s/d 2 tahun.

8. Pengkajian Persistem

a. Sistem Gastrointestinal

Nafsu makan menurun, anak hanya mau makan 3 sendok makan, minum tidak suka, harus dipaksakan
baru mau minum. Mual tidak ada, muntah tidak terjadi. Terdapat nyeri tekan daerah hepar dan asites
positif, bising usus 8x/mnt.

b. Sistem muskuloskeletal :

Tidak terdapat kontraktur sendi, tidak ada deformitas, keempat ekstremitas simetris, kekuatan otot baik.

c. Sistem Genitourinary

BAK lancar, spontan, warna kuning agak pekat ditampung oleh ibu untuk diukur, BAB dari malam belum
ada.

d. Sistem Respirasi.

Pergerakan napas simetris, tidak terdapt pernapasan cuping hidung, pd saat pengkajian tanda-tanda
epistaksis sudah tidak ada, Frekuensi napas 25x/menit. Bunyi nafas tambahan tidak terdengar.

e. Sistem Cardiovaskuler

TD : 100/60, nadi 98x/mnt, akral dingin, tidak terdapat tanda-tanda cyanosis, cap. Refill < 3 detik, tidak
terjadi perdarahan spontan, tanda-tanda petikhie spontan tidak terlihat, hanya tanda pethike bekas rumple
leed.

f. Sistem Neurosensori

Tidak ada kelainan

g. Sistem Endokrin

Tidak ada kelainan

h. Sistem Integumen.
S : 376 turgor baik, tidak ada luka, pethikae bekas rumple leed, tidak terdapat perdarahan spontan pada
kulit.

9. Pemeriksaan Penunjang

Hb : 11.8

Leko : 5,5

Trombo : 133

PCV : 0,30

10. Terapi

Infus D ½ saline 1600 cc/24 jam

Minum manis

Vit B compleks / C 3 x 1

Diet TKTP 1600 Kkal + 50 gr Protein.

Nasi 3 x sehari

Susu : 3 x 200 cc

B. ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah

S1 : Klien mengatakan badanya terasa Proses infeksi virus dengue Peningkatan suhu
panas, pusing tubuh
Ô
O : Akral dingin
Viremia
Panas hari ke 2 panjang.
Ô
6,
TTV : S : 37 Nadi 98x/mnt, TD :
100/60, RR 25x/mnt. Thermoregulasi

S : Klien mengatakan tidak suka minum


dan perut terasa kenyang minum Cairan tubuh
Peningkatan suhu tubuh
terus.
O : Turgor kulit baik Ektravasasi cairan

Mukosa bibir kering Intake kurang

Urine banyak warna kuning pekat Ô

Panas hari ke 2 panjang Volume plasma berkurang

Trombosit ; 133.000 Ô

TD : 100/60, N ; 98x/mnt. Penurunan volume cairan tubuh

S : Klien menyatakan tidak mau


makan, tetapi tidak mual.

O : KU lemah
Nutrisi
Makan pagi hanya mau 3 sendok
Nafsu makan menurun

Intake nutrisi tidak adekuat

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

C. DiAGNOSA KEPERAWATAN :

1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler

3. Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun.

D. PERENCANAAN
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue

Tujuan : Suhu tubuh kembali normal

Kriteria : TTV khususnya suhu dalam batas normal ( 365 – 375 )

Membran mukosa basah.

Rencana Intervensi ;

1. Observasi TTV setiap 1 jam

Rasional : Menentukan intervensi lanjutan bila terjadi perubahan

2. Berikan kompres air biasa / kran

Rasional : Kompres akan memberikan pengeluaran panas secara induksi.

3. Anjurkan klien untuk banyak minum 1500 – 2000 ml

Rasional : Mengganti cairan tubuh yang keluar karena panas dan memacu pengeluaran urine guna
pembuangan panas lewt urine.

4. Anjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat.

Rasional : Memberikan rasa nyaman dan memperbesar penguapan panas

5. Observasi intake dan out put

Rasional : Deteksi terjadinya kekurangan volume cairan tubuh.

6. Kolaborasi untuk pemberian antipiretik

Rasional : Antipireik berguna bagi penurunan panas.

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik

Kriteria : TD 100/70 mmHg, N: 80-120x/mnt

Pulsasi kuat

Akral hangat

Rencana Intervensi ;

1. Observasi Vital sign setiap jam atau lebih.

Rasional : Mengetahui kondisi dan mengidentifikasi fluktuasi cairan intra vaskuler.


2. Observasi capillary refill

Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer.

3. Observasi intake dan output, catat jumlah, warna / konsentrasi urine.

Rasional : Penurunan haluaran urine / urine yang pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.

4. Anjurkan anak untuk banyak minum 1500-2000 mL

Rasional : Untuk pemenuhan kebutuhan ciran tubuh

5. Kolaborasi pemberian cairan intra vena atau plasma atau darah.

Rasional : Meningkatkan jumlah cairan tubuh untuk mencegah terjadinya hipovolemik syok.

3. Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun.

Tujuan : Nutrisi terpenuhi

Kriteria : Nafsu makan meningkat

Porsi makan dihabiskan

Rencana Intervensi :

1. Kaji keluhan mual, muntah atau penurunan nafsu makan

Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya.

2. Berikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna

Rasional : Mengurangi kelelahan klien dan mencegah perdarahan gastrointestinal.

3. Berikan makanan porsi kecil tapi sering.

Rasional : Menghindari mual dan muntah

4. Hindari makanan yang merangsang : pedas, asam.

Rasional : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah.

5. Beri makanan kesukaan klien

Rasional : Memungkinkan pemasukan yang lebih banyak

6. Kolaborasi pemberian cairan parenteral


Rasional : Nutrisi parenteral sangat diperlukan jika intake peroral sangat kurang.Read more:
http://belajaraskep.blogspot.com/2012/04/askep-anak-pada-pasien-dengan-
demam.html#ixzz4BeYoqy5G

ASKEP DBD

DEMAM BERDARAH DENGUE


(DBD)
I. KONSEP PENYAKIT
A. Defenisi
Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk dan ditandai
dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker, 2005). Demam
dengue/dengue fever adalah penyakit yang terutama pada anak, remaja, atau orang dewasa,
dengan tanda-tanda klinis demam, nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa
ruam (rash) dan limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan
bola mata, rasa menyecap yang terganggu, trombositopenia ringan, dan bintik-bintik perdarahan
(ptekie) spontan. Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi
& Yuliani, 2006).
B. Etiologi
Virus dengue tergolong dalam family Flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. Dengue
1&2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia II, sedangkan dengue 3 & 4
ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat
termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksilat, stabil pada suhu
700C (Djamin, 2013).
Vektor utama dengue di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti, di samping pula Aedes
albopictus. Vektor ini mepunyai ciri-ciri (Djamin,2013):
1. Badannya kecil, badannya mendatar saat hinggap
2. Warnanya hitam dan belang-belang
3. Menggigit pada siang hari
4. Gemar hidup di tempat – tempat yang gelap
5. Jarak terbang <100 meter dan senang mengigit manusia
6. Bersarang di bejana-bejana berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi, drum penampung air,
kaleng bekas atau tempat-tempat yang berisi air yang tidak bersentuhan dengan tanah.
7. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk sekitar 10 hari.
C. Klasifikasi
1. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket
positif, trombositopenia, dan hemokosentrasi.
2. Derajat II : Derajat I disertai perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain
3. Derajat III : Kegagalan sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin
lembab, gelisah.
4. Derajat IV : Renjatan berat, denyut nadi, dan tekanan darah tidak dapat diukur.
Yang disertai dengan Dengue Shock Sindrom. (Suriadi dan Rita Yuliani, 2006).
D. Manifestasi Klinik
Adapun tanda dan gejala dari Demam dengue adalah (Khair, 2013):
1. Demam tinggi 5-7 hari.
2. Perdarahan, terutama perdarahan bawah kulit ; ptekie, ekhimosis, hematoma.
3. Epistaksis, hematemesis, melena, hematuria.
4. Mual, muntah, tidak ada napsu makan, diare, konstipasi.
5. Nyeri otot, tulang dan sendi, abdomen dan ulu hati.
6. Sakit kepala.
7. Pembengkakan sekitar mata.
8. Pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening.
9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah,
capillary reffil time lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).
Pada bayi dan anak-anak kecil biasanya berupa:
1. Demam disertai ruam-ruam makulopapular.
2. Pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa, bisa dimulai dengan demam ringan atau demam
tinggi (>390C) yang tiba-tiba dan berlangsung selama 2 - 7 hari, disertai sakit kepala hebat, nyeri
di belakang mata, nyeri sendi dan otot, mual-muntah dan ruam-ruam.
3. Bintik-bintik perdarahan di kulit sering terjadi, kadang kadang disertai bintik-bintik perdarahan
di farings dan konjungtiva.
4. Penderita juga sering mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu hati, nyeri di tulang rusuk
kanan dan nyeri seluruh perut.
5. Kadang-kadang demam mencapai 40 - 410C dan terjadi kejang demam pada bayi.

E. Patofisiologi
1. Virus Dengue akan masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty dan kemudian
akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus antibodi, dalam sirkulasi akan
mengaktifasi sistem komplemen. Akibat aktifasi C3 danC5 akan dilepas C3a dan C5a, 2 peptida
berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya
permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
2. Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi
(protrobin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen ) merupakan faktor penyebab terjadinya
perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
3. Yang menentukan beratnya penyakit adalah permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya
volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik, Renjatan terjadi
secara akut.
4. Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding
pembuluh darah. dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak
diatasi bisa terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. (Suriadi dan Rita Yuliani,
2006).
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Darah lengkap : hemokosentrasi (hematokrit meningkat 20 % atau lebih), trombositopenia
(100.000/mm3 atau kurang)
2. Serologi uji HI (hemoglutination inhibition test)
3. Rontgen toraks : efusi pleura. (Suriadi dan Rita Yuliani, 2006).
G. Komplikasi
1. Ensefalopati dengue
2. Kelainan ginjal
3. Udem paru. (Hadinegoro H Sri Rezeki, 2005).
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk klien Demam Berdarah Dengue adalah penanganan pada derajat I
hingga derajat IV.
1. Derajat I dan II
1) Pemberian cairan yang cukup dengan infus RL dengan dosis 75 ml/kg BB/hari untuk anak
dengan berat badan kurang dari 10kg atau bersama diberikan oralit, air buah atau susu
secukupnya, atau pemberian cairan dalam waktu 24 jam antara lain sebagai berikut :
a. 100 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 kg
b. 75 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 26-30 kg
c. 60 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 kg
d. 50 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 kg
2) Pemberian obat antibiotik apabila adanya infeksi sekunder
3) Pemberian antipieritika untuk menurunkan panas.
4) Apabila ada perdarahan hebat maka berikan darah 15 cc/kg BB/hari.
2. Derajat III
1) Pemberian cairan yang cukup dengan infus RL dengan dosis 20 ml/kg BB/jam, apabila ada
perbaikan lanjutkan peberian RL 10 m/kg BB/jam, jika nadi dan tensi tidak stabil lanjutkan
jumlah cairan berdasarkan kebutuhan dalam waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk.
2) Pemberian plasma atau plasma ekspander (dekstran L ) sebanyak 10 ml/kg BB/jam dan dapat
diulang maksimal 30 ml/ kg BB dalam 24 jam, apabila setelah 1 jam pemakaian RL 20 ml/kg
BB/jam keadaan tekanan darah kurang dari 80 mmHg dan nadi lemah, maka berikan cairan yang
cukup berupa infus RL dengan dosis 20 ml/kg BB/jam jika baik lanjutkan RL sebagaimana
perhitungan selanjutnya.
3) Apabila 1 jam pemberian 10 ml/kg BB/jam keadaan tensi masih menurun dan dibawah 80
mmHg maka penderita harus mendapatkan plasma ekspander sebanyak 10 ml/kgBB/jam diulang
maksimal 30 mg /kg BB/24 jam bila baik lanjutkan RL sebagaimana perhitungan diatas
3. Derajat IV
1) Pemberian cairan yang cukup dengan infus RL dengan dosis 30 ml/kgBB/jam, apabila keadaan
tekanan darah baik, lanjutkann RL sebanyak 10 ml/kgBB/jam.
2) Apabila keadaan tensi memburuk maka harus dipasang. 2 saluran infuse dengan tujuan satu
untuk RL 10 ml/kgbb/1jam dan satunya pemberian palasma ekspander atau dextran L sebanyak
20 ml/kgBB/jam selam 1 jam,
3) Apabila keadaan masih juga buruk, maka berikan plasma ekspander 20 ml/kgBB/jam,
4) Apabila masih tetap memburuk maka berikan plasma ekspander 10 ml/kgBB/jam diulangi
maksimun 30 ml/kgBB/24jam.
5) Jika setelah 2 jam pemberian plasma dan RL tidak menunjukan perbaikan maka konsultasikan
kebagian anastesi untuk perlu tidaknya dipasang central vaskuler pressure atau CVP. (Hidayat A
Aziz Alimul, 2008).

I. Pencegahan
Ada 3 cara pemberantasan vector
1. Fogging focus
Dalam keadaan krisis ekonomi sekarang ini, dana terbatas maka kegiatan fogging hanya
dilakukan bila hasil penyelidikan epidemologis butul-butul memenuhi kriteria
2. Abatisasi
Dilaksanakan di desa/ kelurahan endemis terutama di sekolah dan tempat-tempat umum.
3. Tanpa inteksida
Membasmi jentik nyamuk penular demam berdarah dengan cara 3M:
1) Menguras secara teratur seminggu sekali atau menaburkan abate/altosit ketempat penampungan
air bersih.
2) Menutupnya rapat-rapat tempat penampungan air.
3) Mengubur atau menyingkirkan kaleng-kaleng bekas, plastik dan barang bekas, lainnya yang
dapat menampung air hujan, sehingga tidak menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti.
J. Prognosis
Bila tidak terjadi renjatan dalam 24-36 jam biasanya prognosis akan menjadi baik kalau
lebih dari 36 jam belum ada tanda-tanda perbaikan, kemungkinan sembuh kecil dan prognosis
menjadi buruk. (Rampengan T.H, 2007).
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian pada anak dengan Penyakit infeksi Demam Berdarah Dengue Menurut
Nursalam 2005 adalah :
1. Identitas pasien

Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, dan

pekerjaan orang tua.

2. Keluhan utama

Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien Demam Berdarah Dengue untuk datang ke Rumah

Sakit adalah panas tinggi dan anak lemah.

3. Riwayat penyakit sekarang

Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil, dan saat demam kesadaran

komposmentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin lemah.

Kadang-kadang disertai dengan keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare

atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri uluh hati, dan pergerakan bola mata

terasa pegal, serta adanya manisfestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade 3 dan 4), melena, atau

hematemesis.

4. Riwayat penyakit yang pernah diderita

Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada Demam Berdarah Dengue, anak bisa mengalami

serangan ulangan Demam Berdarah Dengue dengan tipe virus yang lain.

5. Riwayat imunisasi

Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya komplikasi

dapat dihindarkan.

6. Riwayat gizi
Status gizi anak yang menderita Demam Berdarah Dengue dapat bervariasi. Semua anak dengan

status gizi baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya. Anak yang

menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan napsu makan menurun. Apabila

kondisi ini berlanjut, dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak

dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.

7. Kondisi lingkungan

Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih (seperti air

yang menggenang dan gantungan baju di kamar).

8. Pola kebiasaan

1) Nutrisi dan metabolisme: frekuensi, jenis, pantangan, napsu makan berkurang, napsu makan

menurun.

2) Eliminasi atau buang air besar.Kadang-kadang anak mengalami diare atau konstipasi. Sementara

Demam Berdarah Dengue pada grade III-IV bisa terjadi melena.

3) Eliminasi urine atau buang air kecil perlu dikaji apakah sering kencing sedikit atau banyak sakit

atau tidak. Pada Demam Berdarah Dengue grade IV sering terjadi hematuria.

4) Tidur dan istirihat. Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit/nyeri otot dan

persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.

5) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang

terutama untuk membersikan tempat sarang nyamuk Aedes Aegypti.

6) Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk menjaga kesehatan.

9. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari ujung rambut sampai

ujung kaki. Berdasarkan tingkatan atau (grade) Demam Berdarah Dengue, keadaan fisik anak

adalah sebgai berikut:


1) Grade I : kesadaran komposmentis, keadaan umum lemah, tanda-tanda vital dan nadi

lemah.

2) Grade II : kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, dan perdarahan spontan

petekie, perdarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil dan tidak teratur.

3) Grade III : kesadaran apatis, somnolent, keadaan umum lemah, nadi lemah, kecil dan

tidak teratur, serta tensi menurun.

4) Grade IV : kesadaran koma, tanda-tanda vital : nadi tidak teraba, tensi tidak terukur,

pernapasan tidak teratur, ekstremitas dingin, berkeringat, dan kulit tampak biru.

10. Sistem integument

1) Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin, dan lembab.

2) Kuku sianosis/tidak

3) Kepala dan leher

Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy), mata anemis, hidung

kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade II, III, IV. Pada mulut didapatkan bahwa

mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan nyeri telan. Sementara tenggorokan

mengalami hiperemia pharing ( pada Grade II, III, IV).

4) Dada

Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terdapat adanya cairan yang

tertimbun pada paru sebelah kanan ( efusi pleura), rales (+), Ronchi (+), yang biasanya terdapat

pada grade III dan IV.

5) Abdomen
Mengalami nyeri tekan, Pembesaran hati (hepetomegali), asites.

6) Ekstremitas.

Akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.

B. Patofisiologi Penyimpangan KDM

C. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang muncul pada anak dengan penyakit infeksi Demam Berdarah
Dengue tergantung pada data yang ditemukan.
Menurut Nursalam 2005 diagnosa keperawatan yang muncul antara lain:
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan infeksi virus.
2. Nyeri berhubungan dengan gangguan metabolisme pembuluh darah perifer.

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

mual, muntah, tidak ada napsu makan.

4. Potensial terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.

5. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan permeabilitas kapiler,

muntah dan demam.

6. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan tubuh.

7. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.

D. Intervensi
1. Dx 1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan infeksi virus.

Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.

Kriteria hasil : Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan.

Intervensi Keperawatan

1) Observasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, tensi dan pernapasan setiap 3 jam atau sering lagi.

Rasional : Suhu 38,9-41,1oc menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Pola

demam dapat membantu dalam diagnosis.

2) Berikan penjelasan mengenai penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh.

Rasional : Untuk memberikan pengetahuan pemahaman tentang penyebab dan

memberikan kesadaran kebutuhan belajar.

3) Berikan penjelasan kepada keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi

demam.

Rasional : Perubahan dapat lebih tampak oleh orang terdekat, meskipun adanya

perubahan dapat dilihat oleh orang lain yang jarang kontak dengan pasien.

4) Catatlah asupan dan keluaran cairan.


Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan baik intake maupun output.

5) Anjurkan anak untuk banyak minum paling tidak ± 2,5 liter tiap 24 jam dan jelaskan manfaat

bagi anak.

Rasional : Untuk mempercepat proses penguapan melalui urine dan keringat,

selain itu dimaksudkan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.

6) Berikan kompres dingin pada daerah axila dan lipatan paha.

Rasional : kompres air dingin dapat memberikan efek vasodilatasi pembululuh

darah.

7) Anjurkan agar anak tidak memakai selimut dari pakaian yang tebal.

Rasional : Untuk memudahkan dalam proses penguapan.

8) Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai dengan program dokter.

Rasional : Pemberian terapi cairan intravena untuk mengganti cairan yang hilang dan obat-

obatan sebagai preparat yang di formulasikan untuk penurunan panas.

2. Dx 2. Nyeri berhubungan dengan gangguan metabolisme pembuluh darah perifer.

Tujuan : Nyeri berkurang atau terkontrol

Kriteria hasil : Anak tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri

Intervensi keperawatan.

1) Kaji tingkat nyeri yang dialami anak dengan menggunakan skala nyeri (0-10). Biarkan anak

memutuskan tingkat nyeri yang dialami. Tipe nyeri yang dialami dan respons anak terhadap

nyeri.

Rasional : Mengindikasi kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda

perkembangan resolusi komplikasi.

2) Atur posisi yang nyaman dan usahakan situasi yang tenang.


Rasional : Posisi yang nyaman dan situasi yang tenang dapat mengurangi rasa

nyeri atau mengurangi stimulus nyeri.

3) Ciptakan suasana yang gembira pada anak, alihkan perhatian anak dari rasa nyeri (libatkan

keluarga) misalnya: membaca buku, mendengar musik, dan menonton TV.

Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri pada anak.

4) Berikan kesempatan pada anak untuk berkomunikasi dengan teman-temannya atau orang

terdekat.

Rasional : Dapat menguragi ansietas dan rasa takut, sehingga mengurangi persepsi

akan intensitas rasa sakit.

5) Berikan obat-obat analgetik (kolaborasi dengan dokter).

Rasional : Memberikan penurunan nyeri/tidak nyaman.

3. Dx 3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan mual, muntah, tidak ada napsu makan.

Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda kebutuhan nutrisi yang adekuat.

Kriteria hasil : Anak mengkonsumsi jumlah makanan yang adekuat.

Intervensi keperawatan

1) Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami oleh anak.

Rasional : Untuk memberikan nutrisi yang optimal meskipun kehilangan

napsu makan serta memotivasi anak agar mau makan.

2) Berikan makanan yang mudah ditelan, seperti bubur dan tim, serta dihidangkan selagi masih

hangat

Rasional` : Memudahkan proses menelan dan meringankan kerja lambung

untuk mencerna makanan dan menghindari rasa mual.


3) Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi

sering.

Rasional : karena porsi biasanya ditoleransi dengan lebih baik.

4) Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan skala yang sama.

Rasional : Untuk membantu status nutrisi.

5) Mempertahankan kebersihan mulut pasien

Rasional : Untuk merangsang napsu makan.

6) Mempertahankan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit.

Rasional : Untuk menghindari intoleransi makanan.

7) Jelaskan pada keluarga manfaat makanan/ nutrisi bagi anak terutama saat sakit.

Rasional : Makanan merupakan penambahan tenaga bagi orang sakit.

8) Catatlah jumlah/porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.

Rasional : Untuk mengetahui jumlah intake makanan dan penentuan dalam

pemberian diet dan selanjutnya.

4. Dx 4. Potensial terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.

Tujuan : tidak terjadi perdarahan

Kriteria hasil : Jumlah trombosit dalam batas normal.

Intervensi Keperawatan

1) Monitor penurunan trombosit yang di sertai dengan tanda klinis

Rasional : Untuk mengetahui perkembangan penyakit apabila terjadi perdarahan

bawah kulit.

2) Monitor jumlah trombosit setiap hari

Rasional : Mengetahui nilai batas normal dan perkembangan penyakit.


3) Berikan penjelasan mengenai pengaruh trombositopenia pada pada anak.

Rasional : Penjelasan yang akurat tentang trombositopenia merupakan faktor

penyebab terjadinya syok apabila terjadi penurunan trombosit yang hebat.

4) Anjurkan anak untuk banyak istirahat

Rasional : Memberikan relaksasi untuk anggota organ tubuh serta membantu

dalam proses penyembuhan.

5. Dx 5. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan permeabilitas kapiler,

muntah dan demam.

Tujuan : Anak menunjukkan terpenuhinya tanda-tanda kebutuhan cairan.

Kriteria hasil :

- Anak mendapatkan cairan yang cukup

- Menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang adekuat yang dibutuhkan dengan tanda-tanda vital dan

turgor kulit yang normal, membran mukosa lembab.

Intervensi keperawatan.

1) Monitor keadaan umum pasien

Rasional : Untuk mengetahui perkembangan penyakit.

2) Observasi tanda-tanda vital setiap 2-3 jam.

Rasional : Untuk meningkatkan hidrasi dan mencegah dehidrasi.

3) Perhatikan keluhan pasien seperti mata kunang-kunang, pusing, lemah, ekstremitas dingin dan

sesak napas.

Rasional : Untuk mengetahui perubahan yang terjadi bila adanya kekurangan

cairan sehingga mendapatkan perawatan lebih baik.

4) Mengobservasi dan mencatat intake dan output.


Rasional : Untuk menentukan status hidrasi

5) Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Rasional : Menentukan adanya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

6) Monitor nilai laboratorium : elektrolit darah, serum albumin.

Rasional : Menentukan adanya ketidakseimbangannya cairan dan elektrolit.

7) Mempertahankan intake dan output yang adekuat.

Rasional : Pemenuhan kebutuhan cairan menurunkan resiko dehidrasi.

8) Monitor dan mencatat berat badan.

Rasional : merupakan indikator cairan dan nutrisi.

9) Pasang infus dan beri terapi cairan intravena jika terjadi perdarahan (kolaborasi dengan dokter)

Rasional : Pemberian infus dimaksudkan untuk mengganti cairan yang hilang

akibat kebocoran plasma.

6. Dx 6. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan tubuh.

Tujuan : Anak mendapat istirahat yang adekuat

Kriteria hasil :

- Anak melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.

- Kebutuhan istirahat anak terpenuhi.

Intervensi keperawatan

1) Bantulah anak untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari seperti: mandi, makan dan

eliminasi, sesuai dengan tingkat keterbatasan anak.

Rasional : Melindungi anak dari cedera selama melakukan aktivitas dan

memungkinkan penghematan energi atau kelemahan tubuh.

2) Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan anak


Rasional : Bantuan keluarga membuat anak merasa aman secara moril dan

fisik serta membantu perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien.

3) Dekatkan dan siapkan alat-alat yang dibutuhkan di dekat anak

Rasional : Memudahkan pasien dapat mengambil keperluannya.

7. Dx 7. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.

Tujuan :Keluarga menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal koping yang adatif.

Kriteria hasil :

- Keluarga menunjukkan pemahaman tentang penyakit dan terapinya

- Keluarga menunjukkan perilaku koping positif terhadap anak.

Intervensi keperawatan

1) Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh

stress.

Rasional : Karena hal ini biasanya terjadi dalam proses penyesuaian dan untuk

menguatkan pemahaman keluarga.

2) Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar, dan identifikasi

faktor yang paling mencemaskan keluarga.

Rasional : Agar keluarga mendapat dukungan yang di butuhkan sehingga

kemampuan mereka untuk mengatasi masalah dapat dimaksimalkan.

3) Identifikasi koping yang biasa digunakan dan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi

keadaan.

Rasional : Untuk memberikan dukungan dan ketenangan sesuai kebutuhan.

4) Tanyakan kepada keluarga apa yang dapat dilakukan untuk membuat anak atau keluarga menjadi

lebih baik atau dan jika memungkinkan memberikan apa yang diminta oleh kelurga.
Rasional : Untuk memberikan perawatan yang optimal terhadap intervensi

lanjut.

5) Memenuhi kebutuhan dasar anak; jika anak sangat tergantung dalam melakukan aktivitas sehari-

hari, ijinkan hal ini terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kemudian secara bertahap

meningkatkan kemandirian anak dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Rasional : Untuk memberikan dukungan sehingga kemampuan anak untuk

melakukan koping dapat di maksimalkan serta menurunkan resiko cedera.

DAFTAR PUSTAKA

Djamin, Sumarjo. 2013. Laporan Pendahuluan DBD/DHF.


http://Aryoxkepuitblogspot.com (Diakses pada 19 Januari 19.42)

Hidayat, A.Azis Alimul., 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan


Anak.Buku2.Penerbit Salemba Medika: Jakarta.

Khair. 2013. Laporan Pendahuluan DBD pada anak.

http://kkaptenjeleg.blogspot.com/2013/05/l-p-askep-bdb,404.htm.
Diakses pada 19 Januari 2014 19.44).

Suriadi & Yuliani, Rita. 2001. Buku Pegangan Praktek Klinik : Asuhan
Keperawatan pada Anak. Sagung Seto: Jakarta.
Figure 1