Anda di halaman 1dari 25

TUGAS MATA KULIAH

KEPERAWATAN HIV/AIDS
“MANAJEMEN KASUS PADA KLIEN PENYALAHGUNAAN NAPZA“

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4

1. Livia Permata Gita (1710142010012)


2. Liza Anggraini (1710142010013)
3. Munzir Mubarak (1710142010019)
4. Nadia Hanifa (1710142010020)
5. Rahmat Besly Permata (1710142010026)
6. Ririn Sovia (1710142010034)
7. Tyovynna Oktavia Dewi (1710142010041)

PRODI S1 KEPERAWATAN
DOSEN PEMBIMBING : Siska Damaiyanti, Ners, M.Kep

STIKES YARSI SUMBAR BUKITTINGGI


TA 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT, tuhan semesta alam
yang telah memberikan rahmat serta karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas mata kuliah keperawatan HIV AIDS ini
Didalam makalah ini berisi tentang manajemen kasus pada klien
penyalahgunaan NAPZA. Makalah ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah.
Kami menyadari bahwa didalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan
dan kekurangan, hal ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan, pengetahuan,
dan pengalaman yang kami miliki. Namun demikian banyak pula pihak yang sudah
membantu dengan menyediakan sumber-sumber informasi serta memberikan
masukan pemikiran.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan
kesempurnaan makalah ini diwaktu yang akan datang, Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

Bukittinggi, 9 Mei 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . ......................................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
1.4. Manfaat Penulisan ..................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian NAPZA .................................................................................... 4
2.2. Penyebab Penyalahgunaan NAPZA........................................................... 5
2.3. Pengertian Manajemen Kasus .................................................................... 8
2.4. Tujuan Manajemen Kasus .......................................................................... 8
2.5. Prinsip-Prinsip Manajemen Kasus ............................................................. 8
2.6. Komponen Dasar Manajemen Kasus ......................................................... 10
2.7. Model-Model Manajemen Kasus ............................................................... 14
2.8. Komposisi Tim Manajemen Kasus ............................................................ 15
2.9. Langkah-Lagkah Penerapan Manajemen Kasus ........................................ 16
2.10. Penanggulangan Masalah NAPZA .......................................................... 18
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan ............................................................................................... 21
3.2. Saran ......................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masalah penyalahgunaan NAPZA semakin banyak dibicarakan baik di kota besar


maupun kota kecil di seluruh wilayah Republik Indonesia. Peredaran NAPZA sudah
sangat mengkhawatirkan sehingga cepat atau lambat penyalahgunaan NAPZA akan
menghancurkan generasi bangsa atau disebut dengan lost generation (Joewana, 2005).

Faktor individu yang tampak lebih pada kepribadian individu tersebut factor
keluarga lebih pada hubungan individu dengan keluarga misalnya kurang perhatian
keluarga terhadap individu, kesibukan keluarga dan lainnya faktor lingkungan lebih
pada kurang positifnya sikap masyarakat terhadap masalah tersebut
misalnyaketidakpedulian masyarakat tentang NAPZA. Hal ini ditunjukkan dengan
makin banyaknya individu yang dirawat di rumah sakit karena penyalahgunaan dan
ketergantungan yaitu mengalami intoksikasi at dan withdrawal. Peran penting
tenaga kesehatan dalam upaya menanggulangi penyalahgunaan dan ketergantungan
NAPZA di rumah sakit khususnya upaya terapi dan rehabilitasi sering tidak disadari,
kecuali mereka yang berminat pada penanggulangan NAPZA (depkes, 2001).

Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas, maka perlunya peran serta tenaga
kesehatan khususnya tenaga keperawatan dalam membantu masyarakat yang sedang
dirawat di rumah sakit untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat
tentang perawatan dan pencegahan kembali penyalahgunaan NAPZA pada klien.
Untuk itu dirasakan perlu perawat meningkatkan kemampuan merawat klien dengan
menggunakan pendekatan dalam pemberian pelayanan yang ditujukan untuk
menjamin agar klien yang mempunyai masalah ganda dan kompleks dapat
memperoleh semua pelayanan yang dibutuhkannya secara tepat melalui manajemen
penyalahgunaan NAPZA.

1.2. Rumusan Masalah

1
1. Apa Pengertian NAPZA
2. Apa Penyebab Penyalahgunaan NAPZA
3. Apa Pengertian Manajemen Kasus
4. Apa Tujuan Manajemen Kasus
5. Apa Prinsip-Prinsip Manajemen Kasus
6. Apa Komponen Dasar Manajemen Kasus
7. Bagaimana Model-Model Manajemen Kasus
8. Bagaimana Komposisi Tim Manajemen Kasus
9. Bagaimana Langkah-Lagkah Penerapan Manajemen Kasus
10. Bagaimana Cara Penanggulangan Masalah NAPZA

1.3.Tujuan Penulisan

11. Untuk Mengetahui Pengertian NAPZA


12. Untuk Mengetahui Penyebab Penyalahgunaan NAPZA
13. Untuk Mengetahui Pengertian Manajemen Kasus
14. Untuk Mengetahui Tujuan Manajemen Kasus
15. Untuk Mengetahui Prinsip-Prinsip Manajemen Kasus
16. Untuk Mengetahui Komponen Dasar Manajemen Kasus
17. Untuk Mengetahui Model-Model Manajemen Kasus
18. Untuk Mengetahui Komposisi Tim Manajemen Kasus
19. Untuk Mengetahui Langkah-Lagkah Penerapan Manajemen Kasus
20. Untuk Mengetahui Penanggulangan Masalah NAPZA

1.4. Manfaat Penulisan

1.4.1. Bagi Penulis


Mengembangkan kemampuan penulis dalam hal menyusun makalah serta
menambah pengetahuan penulis mengenai manajemen kasus penyalahgunaan
NAPZA
1.4.2. Bagi Pembanca

2
Dapat menambah wawasan pembaca/mahasiswa mengenai manajemen
kasus penyalahgunaan NAPZA

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian NAPZA

3
Narkoba /NAPZA merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan zat
adiktif lainnya yang disalahgunakan. NAPZA /Penyalahgunaan zat adalah
penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai setelah terjadi masalah (Purba
dkk, 2013).
NAPZA merupakan perkembangan dari narkoba yang berubah nama seiring
dengan bertambahnya jumlah bahan yang masuk dalam kriteria narkoba. NAPZA
merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.
a) Narkotika:
adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman yang dapat menurunkan, zat-zat
alamiah maupun buatan (sintetik) dari bahan candu/kokain atau turunannya
dan padanannya – digunakan secara medis atau disalahgunakan - menghilangkan dan
mengurangi rasa nyeri serta dapat menimbulkan ketergantungan/efek psikoaktif.
b) Psikotropika
adalah zat-zat dalam berbagai bentuk pil dan obat yang mempengaruhi
kesadaran karena sasaran obat tersebut adalah pusat-pusat tertentu di sistem syaraf
pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Menurut UU no.5/1997 Psikotropik
meliputi : Ecxtacy, shabu shabu, LSD, obat penenang/tidur, obat anti depresi dan
anti psikosis. Sementara PSIKOAKTIVA adalah istilah yang secara umum digunakan
untuk menyebut semua zat yang mempunyai komposisi kimiawi berpengaruh pada
otak sehingga menimbulkan perubahan perilaku,perasaan, pikiran, persepsi,
kesadaran.
c) Zat Adiktif
yaitu zat-zat yang mengakibatkan ketergantungan seperti zat-zat solvent termasuk
inhalansia (aseton, thinner cat, lem). Zat-zat tersebut sangat berbahaya
karena bisa mematikan sel-sel otak. Zat adiktif juga termasuk nikotin (tembakau) dan
kafein (kopi).
Penyalahgunaan Napza adalah suatu penyimpangan perilaku yg disebabkan oleh
penggunaan yg terus menerus sampai terjadi masalah. Napza tersebut bekerja didalam
tubuh yg mempengaruhi terjadinya perubahan: perilaku, alam perasaan,
memori,proses pikir,kondisi fisik individu yg menggunakannya.

4
2.2. Penyebab Penyalahgunaan NAPZA
Penyalahgunaan narkoba merupakan suatu pola penggunaan yang bersifat
patologik dan harus menjadi perhatian segenap pihak. Meskipun sudah terdapat
banyak informasi yang menyatakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh
penyalahgunaan dalam mengkonsumsi narkoba, tapi hal ini belum memberi angka
yang cukup signifikan dalam mengurangi tingkat penyalahgunaan narkoba.

Terdapat 3 faktor (alasan) yang dapat dikatakan sebagai “pemicu” seseorang


dalam penyalahgunakan narkoba. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri, faktor
lingkungan, dan faktor kesediaan narkoba itu sendiri.

1. Faktor Diri
 Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau brfikir panjang
tentang akibatnya di kemudian hari.
 Keinginan untuk mencoba-coba kerena penasaran.
 Keinginan untuk bersenang-senang.
 Keinginan untuk dapat diterima dalam satu kelompok (komunitas) atau
lingkungan tertentu.
 Workaholic agar terus beraktivitas maka menggunakan stimulant
(perangsang).
 Lari dari masalah, kebosanan, atau kegetiran hidup.
 Mengalami kelelahan dan menurunya semangat belajar.
 Menderita kecemasan dan kegetiran.
 Kecanduan merokok dan minuman keras. Dua hal ini merupakan gerbang
ke arah penyalahgunaan narkoba.
 Karena ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-puasnya.
 Upaya untuk menurunkan berat badan atau kegemukan dengan
menggunakan obat penghilang rasa lapar yang berlebihan.

5
 Merasa tidak dapat perhatian, tidak diterima atau tidak disayangi, dalam
lingkungan keluarga atau lingkungan pergaulan.
 Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
 Ketidaktahuan tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan narkoba.
 Pengertian yang salah bahwa mencoba narkoba sekali-kali tidak akan
menimbulkan masalah.
 Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau
kelompok pergaulan untuk menggunakan narkoba.
 Tidak dapat atau tidak mampu berkata TIDAK pada narkoba.

2. Faktor Lingkungan
 Keluarga bermasalah atau broken home.
 Ayah, ibu atau keduanya atau saudara menjadi pengguna atau
penyalahguna atau bahkan pengedar gelap nrkoba.
 Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau beberapa atau
bahkan semua anggotanya menjadi penyalahguna atau pengedar gelap
narkoba.
 Sering berkunjung ke tempat hiburan (café, diskotik, karoeke, dll.).
 Mempunyai banyak waktu luang, putus sekolah atau menganggur.
 Lingkungan keluarga yang kurang / tidak harmonis.
 Lingkungan keluarga di mana tidak ada kasih sayang, komunikasi,
keterbukaan, perhatian, dan saling menghargai di antara anggotanya.
 Orang tua yang otoriter,.
 Orang tua/keluarga yang permisif, tidak acuh, serba boleh, kurang/tanpa
pengawasan.
 Orang tua/keluarga yang super sibuk mencari uang/di luar rumah.
 Lingkungan sosial yang penuh persaingan dan ketidakpastian.
 Kehidupan perkotaan yang hiruk pikuk, orang tidak dikenal secara pribadi,
tidak ada hubungan primer, ketidakacuan, hilangnya pengawasan sosial

6
dari masyarakat,kemacetan lalu lintas, kekumuhan, pelayanan public yang
buruk, dan tingginya tingkat kriminalitas.
 Kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan keterlantaran.

3. Faktor Ketersediaan Narkoba.

Narkoba itu sendiri menjadi faktor pendorong bagi seseorang untuk memakai
narkoba karena :

 Narkoba semakin mudah didapat dan dibeli.


 Harga narkoba semakin murah dan dijangkau oleh daya beli masyarakat.
 Narkoba semakin beragam dalam jenis, cara pemakaian, dan bentuk
kemasan.
 Modus Operandi Tindak pidana narkoba makin sulit diungkap aparat
hukum.
 Masih banyak laboratorium gelap narkoba yang belum terungkap.
 Sulit terungkapnya kejahatan computer dan pencucian uang yang bisa
membantu bisnis perdagangan gelap narkoba.
 Semakin mudahnya akses internet yang memberikan informasi pembuatan
narkoba.
 Bisnis narkoba menjanjikan keuntugan yang besar.
 Perdagangan narkoba dikendalikan oleh sindikat yagn kuat dan
professional. Bahan dasar narkoba (prekursor) beredar bebas di
masyarakat.

2.3. Pengertian Manajemen Kasus

Manajemen kasus merupakan suatu pendekatan dalam pemberian pelayanan yang


ditujukan untuk menjamin agar klien yang mempunyai masalah ganda dan
kompleks dapat memperoleh semua pelayanan yang dibutuhkannya secara tepat.
Kasus di sini adalah orang dalam situasi meminta atau mencari pertolongan dalam
masalah penyalahgunaan NAPZA.

7
2.4. Tujuan Manajemen Kasus
Tujuan atau peranan manajemen kasus secara umum adalah untuk mengupayakan
agar pelayanan kepada individu dan keluarga tetap berlanjut dengan menghubungkan
klien kepada sumber pelayanan yang sesuai selain melakukan koordinasi diantara
pelayanan-pelayanan yang diberikan. Dalam kasus ini klien diberikan pelayanan oleh
lembaga yang menguasai yaitu BNN.
Peranan ini dimulai dari ;
 mengidentifikasi pelayanan apa yang dibutuhkan oleh klien,
 mencarikan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi,
 membela klien dengan menghubungkannya dengan pihak terkait,
 memberikan pelayanan langsung sampai dengan memonitor ketercapaian
pelayanan

2.5. Prinsip – Prinsip Manajemen Kasus

(Gerhart, 1990) & Henry S. Maas


1) Individualisasi pelayanan (Individualization of services)
Prinsip individualisasi, pada intinya menganggap setiap individu berbeda satu
dengan yang lainnya, sehingga seorang pekerja sosial haruslah menyesuaikan
cara memberi bantuan dengan setiap kliennya, guna mendapatkan hasil yang
diinginkan. Dengan adanya prinsip individualisasi ini, maka seorang pekerja
sosial dibekali dengan pengetahuan bahwa setiap individu adalah unik,
sehingga pendekatan yang diutamakan adalah kasus per kasus dan bukannya
penggeneralisasian
2) Pelayanan yang komprehensif (comprehensiveness of services)
Pelayanan diberikan tidak hanya terfokus pada klien, tetapi juga sistem klien
(lingkungan) yang mempengaruhi keberadaan klien, agar tercita suasana yang
kondusip bagi kehidupan klien.
3) Pelayanan yang teratur (parsimonious services)

8
4) Kemandirian (fostering autonomy)
Pelayanan yang diberikan bertujuan agar klien mampu hidup normal dan
kedepan mampu mengatasi masalahnya sendiri
5) Keberlanjutan pelayanan (continuity of care)
Pelayanan dilakukansesuai dengan tahapan pelayanan yang dimulai dari
pendekatan awal sampai dengan terminasi yang berakhir dengan kemandirian
klien.
6) Penerimaan
Prinsip ini mengemukakan bahwa seorang pekerja sosial menerima klien
tanpa “menghakimi” klien tersebutterlebih dahulu. Kemampuan pekerja sosial
untuk menerima klien dengan sewajarnya (apa adanya) akan banyak
membantu perkembangan relasi antara pekerja sosial dengan kliennya.Dengan
adanya sikap menerima keadaan klien apa adanya, maka klien akan dapat
merasa lebih percaya diri dan tidak “kaku” dalam berbicara dengan pekerja
sosial, sehingga ia dapat mengungkapkan berbagai macam perasaan dan
permasalahan yang mengganjal di hatinya. Dengan cara seperti ini maka relasi
antara pekerja sosial dengan klien dapat dikembangkan dengan baik
7) Komunikasi
Prinsip komunikasi ini erat kaitannya dengan kemampuan pekerja sosial
untuk menangkap informasi ataupun pesan yang dikemukakan oleh klien, baik
dalam bentuk komunikasi yang verbal, yang diungkapkan klien ataupun
sistem klien, maupun bentuk komunikasi nonverbal, seperti cara duduk klien,
posisi ataupun letak duduk dalam suatu pertemuan dengan anggota keluarga
yang lain, cara bicara, cara berpakaian, dan lain sebagainya.
Bila suatu ketika lawan bicara tidak dapat mengungkapkan apa yang
dirasakannya, seorang pekerja sosial diharapkan dapat membantunya untuk
mengungkapkan apa yang ia rasakan agar dapat menelaah permasalahannya
secara lebih jelas.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh pekerja sosial adalah menyadari
ekspektasi (harapan) dari klien, sehingga komunikasi antara klien ataupun

9
sistem klien dengan pekerja sosial daapat tetap terjaga. Dalam kaitannya
dengan hal ini, seorang pekerja sosial diharapkan dapat member kesempatan
kepada klien untuk mengemukakan apa yang ia rasakan, misalnya perasaan
takut, marah, benci, sedih, gembira, dan lain sebagainya. Dengan
mengemukakan apa yang dirasakan, diharapkan akan sedikit dapat
meringankan beban yang menghimpit klien, sehingga hubungan antara
pekerja sosial dengan klien dapat semakin berkembang.
8) Kerahasiaan.
Apapun data atau pun perihal tentang klien wajib di jaga kerahasiaannya
2.6. Komponen Dasar Manajemen Kasus
a. Asesmen (Assessment)
Sebelum melakukan tahap penilaian ini, tim manajemen kasus mengadakan
prescreening terhadap klien, untuk menentukan klien mana yang dapat ikut dalam
program manajemen kasus yang akan dilakukan.
Hal-hal mendasar dalam penentuan prescreening :
 Keadaan medis psikiatri klien, dalam hal ini klien yang masih dalam kondisi
akut tidak dapat diikutsertakan dalam program ini.
 Ada tidaknya dukungan keluarga terhadap program ini dapat berpengaruh
pada keikutsertaan klien. Keluarga yang tidak mendukung akan dapat
mengurangi kesempatan klien untuk dapat mengikuti program manajemen
kasus
Asesmen yang bersifat komprehensif menjadi sangat penting dalam manajemen
kasus, yakni asesmen diperoleh dari :
-Hasil observasi dan evaluasi perkembangan tingkah laku klien selama masa
perawatan
-Informasi dari keluarga atau orang yang dekat dengan klien
-Hasil masukan atau pendapat dari klien tentang hal-hal yang menjadi masalah
bagi dirinya
b. Perencanaan (Planning)

10
Yaitu tahap untuk menyusun dan mengembangkan layanan yang menyeluruh
untuk klien sesuai dengan hasil asesmen.

Hasil-hasil identifikasi masalah yang didapatkan dari tahap asesmen (sesuai


keinginan klien, masalah kebutuhannya, serta sumber daya yang tersedia), kemudian
disusun menjadi suatu formulasi masalah, dan selanjutnya dapat ditetapkan prioritas
masalah yg digunakan untuk menyusun perencanaan

Penetapan tujuan harus individual dan harus realistis berdasarkan hasil yang
didapat dari asesmen, serta tujuan yang tercapai.

Contoh; klien yang memiliki masalah disabilitas psikososial atau sulit


berkomunikasi dengan orang sekitarnya atau tidak ada keterampilan untuk melakukan
pekerjaan, maka perlu direncanakan intervensi dengan menghubungkan klien pada
program day care. Selanjutnya harus ditentukan tujuan jangka pendek dan jangka
panjang yang akan dicapai oleh klien

 Berdasarkan contoh di atas maka dapat ditetapkan tujuan jangka pendek dan
panjang sbb:
- Tujuan jangka pendek yang ditetapkan pada klien ini, adalah :
meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan mandiri
- Tujuan jangka panjang : mengurangi stresor yang dapat menyebabkan
depresi dan kekambuhan penyakit, sehingga dapat mengurangi terjadinya
penurunan kondisi fisik dan psikis, serta memperbaiki kualitas hidup.

Dalam upaya penetapan tujuan ini tentunya harus berkonsultasi terlebih dahulu
dengan tim multidisiplin berkaitan dengan penyusunan;

 Dalam upaya penetapan tujuan ini tentunya harus berkonsultasi terlebih


dahulu dengan tim multidisiplin berkaitan dengan penyusunan;
- jenis pelayanan yang akan diberikan
- sumber-sumber pelayanan yang mudah didapat klien, dan

11
- penentuan anggota staf tim yang bertanggung jawab terhadap pelayanan
yang diberikan.
 Tahap selanjutnya adalah untuk menentukan keberhasilan program
manajamen kasus yang dilakukan terhadap klien, maka perlu disusun kriteria
evaluasi;
Contoh ; klien yang sulit berkomunikasi. Adapun kriteria evaluasinya yaitu;
mampu memulai, memelihara, dan mengakhiri pembicaraan, mampu
menemukan topik pembicaraan, serta mampu melakukan kontak mata yang
adekuat (penetapan kriteria evaluasi pun harus dikonsultasikan dg tim
multidisiplin).
 Tahapan selanjutnya adalah menentukan target waktu bagi pencapaian tujuan.
Selain itu, staf manajamen kasus menyusun rencana utk mengantisipasi
keadaan krisis ataupun kejadian di luar dugaan yg mungkin terjadi pada saat
program sedang berlangsung
c. Pelaksanaan (Implementation)

Menjamin terpenuhinya kebutuhan klien sesuai perencanaan yang telah dibuat.


Mulai dari perencanaan hingga melakukan pelaksanaan, dilihat sejauh mana
manajamen kasus memberikan pelayanan kepada klien untuk memenuhi
kebutuhannya.

Contoh ; konseling, bimbingan mental dan ketrampilan, dsb. Apakah dukungan


ini dapat disediakan sendiri atau harus bekerja sama dengan agensi lainnya? Bila
terjadi keadan krisis yang tidak terduga, maka harus dijamin tersedianya jasa
pelayanan yang sesuai untuk mengatasinya

d. Pengawasan (Monitoring)

Mengevaluasi dan memantau jasa pelayanan yang telah diberikan kepada klien.
Faktor-faktor yang dievaluasi meliputi; kuantitas dan kualitas pelayanan, termasuk
efektivitas penggunaan biaya dan kesesuaian pelaksanaan pelayanan dengan tujuan
yang ditetapkan. Selain itu, harus diketahui ada tidaknya kebutuhan-kebutuhan yang

12
belum terpenuhi atau adanya kesenjangan antara kebutuhan dengan sumber daya dan
pelayanan yang ada.

e. Pendampingan

Mendampingi dan memberikan bimbingan lanjutan kepada klien.


Tahap pendampingan terhadap klien berlangsung terus-menerus selama program
manajamen kasus, bertujuan agar dapat diketahui apakah pelayanan yang diberikan
sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Contoh: klien yang telah direncanakan
mendapat pelayanan day care, ternyata tidak dilakukan oleh agen pelayanan, sehingga
manajer kasus dapat mempertanyakan hal tersebut atas nama klien

f. Pengakhiran (Termination)

Mengambil tindakan untuk menyelesaikan atau meneruskan suatu program


manajemen kasus pada seorang klien, dimana klien dipersiapkan utk mengakhiri
program, disiapkan melalui masa transisi, dan kemudian dilepaskan untuk mengikuti
program tanpa pendampingan, setelah itu baru klien benar-benar dapat keluar dari
program. Pada masa transisi, manajer kasus mengajak klien untuk berperan aktif
merencanakan kegiatan dan pemenuhan kebutuhannya secara mandiri.

2.7. Model – Model Manajemen Kasus


Sejumlah besar program manajemen kasus disusun dengan beberapa elemen yang
diambil dari model program yang berbeda. Pemilihan model ini disesuaikan dengan
kebutuhan klien dan dapat memilih untuk tidak memakai elemen tertentu dari suatu
model manajemen kasus. Salomon (1992) mengidentifikasikan ada 4 model yang
sering dipakai pada manajemen kasus :
 Expanded Broker Model
Model ini termasuk dalam model manajemen kasus tradisional dan merupakan
model umum, dimana staf yang bekerja pada model ini bertindak sebagai broker,
yaitu, menghubungkan klien dengan agensi atau pelayanan lain di dalam

13
komunitas untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan klien yang spesifik.
Petugas manajemen kasus dalam model ini bertindak sebagai agen dibandingkan
sebagai penyedia pelayanan. Petugas manajemen kasus ini menggunakan elemen
tugasnya terutama untuk penilaian, perencanaan, pelaksanaan dan
pendampingan. Keuntungan dari penerapan model ini, diantaranya :
- mempertimbangkan case load yang lebih besar, mempengaruhi kualitas dan
penyediaan pelayanan.
- Efektivitas model ini sangat tergantung pada keutuhan dan efektivitas dari
pelayanan komunitas yang ada.
- Tugas dari manajer kasus dalam model Expanded Broker ini yaitu untuk
menjamin klien mendapatkan keuntungan dari pelayanan yang tersedia.
 Rehabilitation Model
Model ini lebih banyak membantu klien untuk mencapai sukses pada lingkungan
yang dipilihnya, dibanding memperhatikan program komprehensif untuk
perbaikan, dimana kepada klien dilakukan penilaian fungsional sebagai dasar
untuk melakukan rencana rehabilitasi.Manajer kasus dalam model ini lebih
memfokuskan pada perkembangan keterampilan hingga klien mampu bekerja
pada suatu jaringan.
 Personal Strengths Model atau Development Acquaisition Model
Model ini mempunyai 2 dasar, yaitu :
- Untuk menjadi orang yang sukses, maka seseorang harus bisa
menggunakan, mengembangkan dan menjalankan potensi diri, serta
mempunyai sumber utk menjalankannya.
- Perilaku individu tergantung pada sumber-sumber individu yang tersedia.
Manajer kasus pada model ini bertindak sebagai penasehat atau mentor yang
akan membantu klien dalam memecahkan masalah dan mengembangkan
sumber daya yang dimilikinya.
 Full Support Model
Model ini mempunyai fungsi tambahan, yaitu untuk menyediakan secara
langsung sebagian atau seluruh jasa pelayanan yang dibutuhkan oleh klien.

14
Model ini sangat khas, dimana tergabung tim multidisiplin yang terdiri dari
spesialis berbagai jasa pelayanan, misalnya bagian perumahan, perawatan dan
rehabilitasi bertugas memberikan klien semua kebutuhannya, sehingga mereka
dapat menyesuaikan diri di dalam komunitas. Model ini menjadi perhatian utama,
karena merupakan pendekatan yang paling lengkap dan mungkin paling
berpengaruh pada program manajemen kasus.
2.8. Komposisi Tim Manajemen Kasus
Tim manajemen kasus terdiri dari berbagai multidisiplin yang menyediakan
berbagai pelayanan yang dibutuhkan klien, antara lain; pekerja sosial, psikiater,
psikolog, dokter umum, dokter gigi, perawat, pengacara, dan lain-lain. Tim ini
diharapkan dapat bekerja sangat dinamis dalam penyediaan pelayanan bagi klien,
selalu siaga dalam mengantisipasi keadaan-keadaan krisis bila diperlukan sehingga
klien dapat segera mengatasi kebutuhannya.
Agar peran tim ini menjadi optimal maka perlu ditetapkan seorang Manajer
Kasus, yaitu; orang yang bertanggung jawab dalam kelangsungan dan keberhasilan
pelaksanaan pelayanan manajemen kasus.
Adapun tugas Manajer Kasus antara lain:
o Melakukan asesmen kebutuhan klien, kapasitas jejaring sosial, dan
kemampuan penyedia pelayanan
o Mengembangkan rencana pelayanan komprehensif yang melibatkan klien
secara maksimum dan profesional multidisiplin
o Melakukan intervensi secara langsung dengan klien untuk meningkatkan
keterampilan dan kapasitas pelayanan diri (self-care) dan yang secara tidak
langsung mempengaruhi klien
o Memonitor implementasi rencana pelayanan, menjajaki status klien,
penyampaian pelayanan dan pelibatan anggota jejaring social
o Melakukan evaluasi efektifitas rencana pelayanan dan dampaknya kepada
keberfungsian sosial klien, pada kapasitas jejaring sosial guna mendukung
klien, dan kemampuan profesional pelayanan sosial bekerja dengan klien

15
Berdasarkan tugas-tugas manajer kasus tsb, maka Peran Manajer Kasus
yaitu :
- Advocator
- Broker
- Pakar diagnostic
- Perencana
- Community organizer
- Evaluator
- Consultant
- Therapist
2.9. Langkah – Langkah Penerapan Manajemen Kasus
 Orientasi dan Identifikasi klien.

Manajemen kasus merupakan suatu pendekatan dalam pemberian pelayanan yang


ditujukan untuk menjamin agar klien yang mempunyai masalah ganda dan
kompleks dapat memperoleh semua pelayanan yang dibutuhkannya secara tepat.
Kasus di sini adalah orang dalam situasi meminta atau mencari pertolongan.
Dalam masalah penyalahgunaan NAPZA, orang yang mencari pertolongan dapat
pada para penyalahguna NAPZA langsung, keluarga atau orang lain. Dalam
manajemen kasus ini, pekerja sosial melaksanakan peranan sebagai manajer kasus
(case manager). Identifikasi dan menyeleksi kepada individu untuk mendapatkan
hasil pelayanan , yang dapat berdampak positif pada kualitas hidup melalui
managemen kasus

 Assessment informasi dan memahami situasi klien.

Fungsi ini merujuk pada pengumpulan informasi dan memformulasikan suatu


asesment kebutuhan klien, situasi kehidupan dan sumber-sumber yang ada serta
penggalian potensi klien.

 Merencanakan program pelayanan.

16
Pekerja social mengidentifikasi berbagai pelayanan yang dapat diakses untuk
memenuhi kebutuhan klien. Klien dan keluarganya serta orang lain yang
berpengaruh secara bersama-sama merumuskan tujuan dan merancangnya dalam
suatu rencana intervensi yang terintegrasi.

 Menghubungkan dan Mengkoordinaksikan pelayanan.

Seperti peranannya sebagai broker, manaer kasus harus menghubungkan klien


dengan sumber-sumber yang tepat. Peranan manager kasus dapat berbeda –beda
walaupun pekerja social yang utamanya sebagai partisipan aktif dalam
menyampaikan pelayanan kepada individu atau keluarga. Manager kasus
menekankan pada koordinasi dengan sumber sumber yang digunakan klien
dengan menjadi saluran dan berkomunikasi dengan sumber-sumber pelayanan.

 Memberikan pelayanan tindak lanjut dan monitoring.

Manager kasus secara regular menindaklanjuti hubungan dengan klien dan


penyedia pelayanan untuk menjamin bahwa pelayanan yang dibutuhkan dapat
diterima dan dimanfaatkan oleh klien.

 Memberikan support pada klien

Selama pelayasnan berlangsung yang disediakan oleh berbagai sumber, manager


kasus membantu klien dan keluarganya yang meliputi pemecahan konflik pribadi,
konseling, menyediakan informasi, memberi dukungan emosional dan melakukan
pembelaan yang tepat untuk menjamin bahwa mereka menerima pelayanan yang
tepat.

 Monitor dan reassement


- Tujuan tahap ini adalah untuk menentukan apakah rancangan yang telah
dilaksanakan dapat mengatasi masalah klien atau belum.
- Manajer kasus memonitor dan melakukan pengukuran terhadap
perkembangan klien

17
 Evaluasi
Evaluasi hasil dilakukan dengan menentukan tingkat pencapaian tujuan (misal;
jaminan perawatan kesehatan, dapat mengendalikan untuk tidak menggunakan
napza secara secara mandiri)

2.10. Penanggulangan Masalah NAPZA


Penanggulangan masalah NAPZA dilakukan mulai dari pencegahan, pengobatan
sampai pemulihan (rehabilitasi)
1) Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan, misalnya dengan:
 Memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang NAPZA. Bisa
dengan cara penyuluhan yang dilakukan oleh, guru, perawat maupun pihak
kepolisian.
 Deteksi dini perubahan perilaku. Menolak tegas untuk mencoba (“Say no to
drugs”) atau “Katakan Tidak pada narkoba”
2). Pengobatan Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan
detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala
putus zat, dengan dua cara yaitu:
 Detoksifikasi tanpa subsitusi Klien ketergantungan putau (heroin) yang
berhenti menggunakan zat yang mengalami gajala putus zat tidak diberi obat
untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut.Klien hanya dibiarkan saja
sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri. Metode ini berpusat pada
diri klien sendiri untuk mengendalikan rasa kecanduannya terhadap NAPZA.
 Detoksifikasi dengan substitusi Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan
memberikan jenis opiat misalnya kodein, ufremorfin, dan metadon. Substitusi
bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas,
misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan dosis
secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama pemberian substitusi
dapat juga diberikan obat yang menghilangkan gejala simptomatik, misalnya
obat penghilang rasa nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala

18
yang ditimbulkan akibat putus zat tersebut. Metode ini bisa juga disebut
dengan menghilangkan kecanduan terhadap NAPZA dengan bertahap.
3). Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu
melalui pendekatan non medis, psikologis, sosial dan religi agar pengguna NAPZA
yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional
seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik,
mental, sosial, dan spiritual.Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki
tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (Depkes, 2001). Sesudah klien
penyalahgunaan/ ketergantungan NAPZA menjalani program terapi (detoksifikasi)
dan konsultasi medik selama 1 (satu) minggu dan dilanjutkan dengan program
pemantapan (pascadetoksifikasi) selama 2 (dua) minggu, maka yang bersangkutan
dapat melanjutkan ke program berikutnya yaitu rehabilitasi (Hawari, 2003).
Dengan rehabilitasi diharapkan pengguna NAPZA dapat:
Mempunyai motivasi kuat untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi 2. Mampu
menolak tawaran penyalahgunaan NAPZA 3. Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa
rendah dirinya 4. Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan
baik 5. Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja 6. Dapat diterima dan dapat
membawa diri dengan baik dalam pergaulan dengan lingkungannya. Jenis
Rehabilitasi:
 Rehabilitasi psikososial merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat
(reentry program).
 Rehabilitasi kejiwaan klien yang berperilaku maladaptif berubah menjadi
adaptif yang penting adalah psikoterapi baik secara individual maupun secara
kelompok. Yang termasuk rehabilitasi kejiwaan ini adalah
psikoterapi/konsultasi keluarga terutama keluarga broken home.
 Rehabilitasi komunitas berupa program terstruktur yang diikuti oleh mereka
yang tinggal dalam satu tempat. Dipimpin oleh mantan pemakai yang
dinyatakan memenuhi syarat sebagai konselor, setelah mengikuti pendidikan
dan pelatihan. Di sini klien dilatih keterampilan mengelola waktu dan

19
perilakunya secara efektif dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat
mengatasi keinginan mengunakan narkoba lagi atau nagih (craving) dan
mencegah relaps.
 Rehabilitasi keagamaan rehabilitasi keagamaan dapat menumbuhkan
kerohanian (spiritual power) pada diri seseorang apabila taat dan rajin
menjalankan ibadah, risiko kekambuhan hanya 6,83%; bila kadang-kadang
beribadah risiko kekambuhan 21,50%, dan apabila tidak sama sekali
menjalankan ibadah agama risiko kekambuhan mencapai 71,6%.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Narkoba /NAPZA merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan zat
adiktif lainnya yang disalahgunakan. NAPZA /Penyalahgunaan zat adalah
penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai setelah terjadi masalah (Purba
dkk, 2013). Terdapat 3 faktor (alasan) yang dapat dikatakan sebagai “pemicu”
seseorang dalam penyalahgunakan narkoba. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri,
faktor lingkungan, dan faktor kesediaan narkoba itu sendiri. Melalui pendekatan
dalam pemberian pelayanan yang ditujukan untuk menjamin agar klien yang

20
mempunyai masalah ganda dan kompleks dapat memperoleh semua pelayanan yang
dibutuhkannya secara tepat dengan manajemen kasus penyalahgunaan NAPZA.
3.2. Saran

21
DAFTAR PUSTAKA
http://hsvfhavfhbhv.blogspot.com/2017/03/makalah-penyalahgunaan-napza.html

http://lailatulmamluah2406.blogspot.com/

http://getaliadeaqorisyah.blogspot.com/2018/04/manajemen-kasus-pada-klien-
dengan_85.html

http://stefanowidhy123.blogspot.com/2018/04/manajemen-kasus-pada-klien-
dengan.html

http://intanhblogspot.blogspot.com/2018/04/manajement-kasus-pada-klien-
dengan.html

http://akpersehat-binjai.ac.id/data/1544753780.pdf

http://wwwdayatranggambozo.blogspot.com/2011/03/menejemen-kasus-pejerjaan-
sosial.html

http://media.kemsos.go.id/images/350MANAJEMEN_KASUS_DALAM_.pdf

https://sitiativa.wordpress.com/2012/04/07/prinsip-pekerjaan-sosial/