Anda di halaman 1dari 5

Faktor-Faktor Analisa kesebandingan.

Karakteristik dari barang dan jasa


Kemiripan atau persamaan dalam karakteristik produk lebih relevan ketika membandingkan harga
dibandingkan profit margin antara transaksi yang mempunyai hubungan istimewa dan transaksi
yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Perbandingan dari karakteristik produk dan jasa akan
dilakukan secara mendalam pada saat aplikasi dari Metode Comparable Uncontrolled Price (CUP)
daripada metode yang lain. Karakteristik yang dibandingkan harus termasuk :
a. Tampilan fisik, kualitas, dan jumlah dari persediaan barang,
b. Dalam pemberian jasa, sifat dan batas dari jasa; dan
c. Dalam hal barang tak berwujud, bentuk dari suatu transaksi dan tipe dari barang.

Fungsi Yang Dilaksanakan


Suatu analisis fungsional harus selalu dilakukan menentukan kesebandingan suatu
transaksi. Analisis fungsional meliputi penentuan bagaimana fungsi, aktiva (termasuk aktiva tidak
berwujud) dan resiko usaha, dibagi diantara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu transaksi yang
sedang diteliti. Fungsi yang yang perlu diperbandingkan meliputi desain, pembuatan, pemasaran,
distribusi serta riset dan pengembangan (R&D) suatu produk dilakukan. Dalam membandingkan
beberapa fungsi tersebut, pertumbuhan aset (misalnya : pabrik dan mesin) sesuai dengan kondisi
yang sebenarnya dari beberapa aset-aset tersebut (misalnya umur dan nilai pasar), dan penggunaan
harta tidak berwujud juga harus diperhatikan. Jenis suatu resiko juga harus dipertimbangkan
termasuk resiko pasar, resiko finansial termasuk resiko nilai tukar dan resiko terkait dengan
keberhasilan serta kegagalan dari penelitian dan pengembangan (R&D) yang dilakukan oleh
perusahaan multinasional. Analisis fungsional itu sendiri tidak menentukan hasil kewajaran dari
sebuah transaksi yang dikendalikan tetapi sebaliknya harus menjadi format dasar untuk
mengidentifikasi pembanding.

Dalam membuat analisis fungsi, aset dan analisis resiko perlu mendapatkan perhatian khusus untuk
pertimbangan sebagai berikut :
1. Harga dipengaruhi oleh fungsi yang dilaksanakan, aset yang digunakan dan asumsi resiko yang
ditanggung
2. Mengidentifikasikan dan membandingkan fungsi ekonomi yang signifikan dan siapa yang
melaksanakannya
3. Nilai dari suatu fungsi berdasarkan kepada kepentingan ekonomi, mungkin juga dengan melihat
pertumbuhan aset
4. Membandingkan resiko dengan melihat asumsi resiko dan hasil yang diharapkan kembali
5. Resiko-resiko dipengaruhi oleh pelaksanaan bermacam-macam fungsi misalnya apakah distributor
berlaku sebagai pemilik atau sebagai agen
6. Memeriksa apakah resiko sesuai dengan subtansi ekonomi dan dimana kemampuan untuk mengawasi
dan mengatur resiko yang sebenarnya tidak ada.

Syarat-syarat berdasarkan kontrak


Suatu analisis dari syarat-syarat kontrak merupakan salah satu bagian dari analisis fungsional.
Pengalokasian tanggung jawab, resiko dan keuntungan antara perusahaan normalnya dijelaskan
dalam persetujuan kontrak. Syarat dan kondisi suatu kontrak mungkin mempengaruhi harga atau
marjin termasuk syarat-syarat kredit atau pembayaran, jumlah penjualan atau pembelian, syarat-
syarat surat garansi dan lain-lain. Permbanding harus di diletakkan kedalam perkiraan bagaimana
peraturan dari pihak asosiasi sesuai dengan syarat yang berlaku dalam kontrak; untuk mengetahui
seperti apa syarat-syarat dan kondisi sebelumnya akan memnpengaruhi transaksi yang dibuat antara
pihak-pihak yang indipenden.

Dalam membuat analisis syarat-syarat suatu kontrak, perlu diberikan perhatian khusus pada
pertimbangan-pertimbangan berikut ini :
1. Lihat bagaimana pembagian terhadap resiko, keuntungan, dan tanggung jawab
2. Analisis syarat-syarat, apakah tertulis atau secara lisan, eksplisit atau dinyatakan secara langsung
3. Pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa tersebut akan saling mematuhi persyaratan
satu sama lain dan akan merubahnya jika hanya pada kondisi luar biasa.
4. Lihat apakah pada pengawasan terjadi suatu situasi dimana fungsi pengawasan dalam menjaga
pelaksanaan syarat-syarat menjadi berkurang.

Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi dapat mempengaruhi perubahan harga atau keuntungan yang diterima dari
transaksi yang dikendalikan dan tidak dikendalikan, termasuk lokasi geografis dari suatu pasar,
besarnya pasar, kemampuan dari barang dan jasa pengganti, tingkat intervensi pemerintah misalnya
apakah barang yang diperbandingkan merupakan harga yang dikendalikan dan waktu dari
terjadinya transaksi.

Dalam membuat analisis keadaan ekonomi, perlu diberikan perhatian khusus pada pertimbangan-
pertimbangan berikut ini :
1. Identifikasi geografis pasar yang dihubungkan dengan transaksi : perubahan harga bersebrangan
dengan pasar yang berbeda meskipun dengan produk yang sama
2. Hal-hal yang perlu untuk di bandingkan dengan pasar yang serupa, atau bisa juga kepada material
yang berbeda
3. Tipe dari faktor-faktor yang dipertimbangkan, seperti lokasi, ukuran, posisi persaingan, tingkat
penawaran dan permintaan, peraturan dan biaya lokal dan lain-lain.

Strategi Bisnis
Strategi bisnis merupakan hal relevan dalam menetapkan perbandingan termasuk inovasi dan
pengembangan produk baru, tingkatan dari diversifikasi, sistem penetrasi pasar, pemilihan saluran
distribusi dan tingkatan pasar dan lokasi. Dalam sebuah analisis kesebandingan, mungkin
dibutuhkan analisis untuk melihat apakah perusahaan yang independen dalam posisinya sebagai
wajib pajak akan menggunakan strategi ini dan jika ya, apa imbalan yang diharapkan.

Dalam membuat analisis strategi bisnis, perlu diberikan perhatian khusus pada pertimbangan-
pertimbangan berikut ini :
1. Untuk mempertimbangkan perbandingan yang sebenarnya dan menentukan sudut pandang dari
entitas hukum yang terpisah dan bukan bagian dari perusahaan multinasional
2. Sistem penetrasi pasar mungkin sekarang ini dikorbankan untuk mengantisipasi keuntungan
3. Apa yang akan terjadi jika antisipasi keuntungan dalam keadaan yang sebenarnya
4. Evaluasi posisi secara kritis untuk melihat apakah strategi yang digunakan sudah sesuai, misalnya
apakah telah konsisten terhadap kebiasaan-kebiasaan dan lihat apa yang menyebabkan biaya-biaya
dan apakah diharapkan dapat menuai hasil
5. Akankah perusahaan independen harus masuk kedalam bagian dalam posisi pertama dan akankah
mereka harus terus melanjutkan setelah pengantisipasian keuntungan sudah tidak material lagi
Pilih Banding, MAP, atau APA?
SECARA umum, wajib pajak (WP) di Indonesia memiliki tiga alternatif sarana yang dapat
dipergunakan untuk menghadapi sengketa terkait dengan koreksi transfer pricing akibat
perbedaan penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha (arms’ length principle).

Ketiga alternatif sarana itu adalah mengajukan prosedur persetujuan bersama (mutual
agreement procedure/ MAP), menempuh kesepakatan harga transfer (advance pricing
agreement/ APA) atau mengajukan banding ke Pengadilan Pajak hingga peninjauan kembali
ke Mahkamah Agung.

Penggunaan MAP didasarkan ketentuan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B).


Sementara APA dan banding adalah upaya unilateral/ sepihak yang tidak didasarkan pada
ketentuan P3B. Dua alternatif tersebut adalah sarana yang diberikan oleh hukum domestik
yang berlaku di Indonesia.

Permohonan banding dapat diajukan WP hanya kepada badan peradilan pajak atas suatu
surat keputusan keberatan. Pada tahun 2012-2013, penyelesaian banding dari sejak
permohonan banding diajukan WP ke Pengadilan Pajak rata-rata memakan waktu 22 bulan.

Pada periode yang sama, ada 83 sengketa transfer pricing yang terdiri dari berbagai pokok
sengketa, antara lain metode transfer pricing, substansi dari transaksi dengan pihak yang
mempunyai hubungan istimewa, serta pencarian pembanding dan penentuan hasil
kewajaran laba/ harga. (DDTC, 2012)

Prosedur Persetujuan Bersama

MAP dilakukan Dirjen Pajak dan otoritas pajak negara/ jurisdiksi mitra yang dilaksanakan
menurut P3B. Jangka waktu penyampaian MAP di masing-masing P3B dihitung sejak
tanggal pemberitahuan pertama dari tindakan yang mengakibatkan pengenaan pajak yang
tidak sesuai dengan P3B.

Perlu diperhatikan, sebetulnya MAP dapat dilakukan secara bersamaan dengan proses
banding. Namun, Dirjen Pajak dalam hal ini Direktur Peraturan Perpajakan II berwenang
menghentikan proses MAP apabila persetujuan bersama belum diraih, sementara putusan
bandingnya telah diucapkan.

Kewenangan itu diberikan untuk menghindari upaya ganda yang tidak efektif. Sebab
dengan keluarnya putusan banding, otoritas pajak telah terikat secara hukum dengan
putusan tersebut. Kalaupun setelah itu proses MAP berhasil mencapai titik temu,
persetujuan bersama itu tidak dapat diimplementasikan.

Itu berarti, pada dasarnya WP harus memilih jalur penyelesaian sengketa yang ditempuh,
apakah melalui MAP atau banding tetapi tidak dua-duanya secara bersamaan kecuali MAP
bisa menghasilkan persetujuan bersama sebelum sidang pengadilan pertama dimulai, yang
mana hal ini sangat sulit dilakukan.

Karena itu, pelaksanaan MAP memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihannya,


Direktur Peraturan Perpajakan II memiliki kompetensi guna menghasilkan solusi terbaik
bagi kedua pihak untuk menghindari pemajakan berganda. Selain itu, beban pembuktian
ditanggung pihak yang mengajukan koreksi.

Adapun kekurangannya, WP memiliki keterbatasan untuk dapat terlibat langsung dalam


pelaksanaan proses MAP. Berbeda dengan proses banding di mana WP melakukan upaya
sendiri, dalam proses MAP proses tersebut ditangani oleh otoritas pajak.

Selanjutnya, tak ada kepastian kapan suatu sengketa akan selesai karena otoritas pajak juga
tidak memiliki kewajiban membuat suatu keputusan atas hasil sengketa. Selain itu, ada
risiko terjadinya set-off sengketa yang sedang dihadapi dengan sengketa lain, antara
otoritas- otoritas pajak yang terkait dalam suatu MAP.

Kesepakatan Harga Transfer

PADA prinsipnya, APA berangkat dari perjanjian tertulis antara Dirjen Pajak dan WP atau
Dirjen Pajak dan otoritas pajak negara mitra/ jurisdiksi P3B yang melibatkan WP untuk
menyepakati kriteria dan/ atau menentukan harga wajar atau laba wajar di muka.

Secara umum, dikenal dua tipe APA, yaitu secara unilateral dan bilateral/ multilateral. APA
unilateral dilakukan antara WP dengan satu otoritas pajak, sedangkan APA bilateral/
multilateral dilakukan antara WP dengan dua atau lebih otoritas pajak.

Perlu diperhatikan, APA bukan merupakan prosedur penyelesaian sengketa yang


didasarkan pada P3B. Itu berarti, APA dapat diajukan juga pada transaksi dengan pihak-
pihak yang mempunyai hubungan istimewa di negara yang bukan merupakan mitra P3B.

Berbeda dengan pelaksanaan MAP yang memerlukan ketentuan dalam P3B sebagai dasar
hukumnya, pelaksanaan APA cukup ditempuh melalui 5 tahapan. Hal ini telah diatur
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 7/PMK.03/2015 tentang Tata Cara Pembentukan dan
Pelaksanaan Kesepakatan Harga Transfer.

Kelima tahapan itu adalah 1) Pembicaraan awal; 2) Permohonan APA; 3) Pembahasan APA;
4) Penandatanganan kesepakatan hasil analisis; dan 5) Pelaksanaan serta evaluasi. Dengan
melihat perbedaan itu, tentu saja APA memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Kelebihannya, suasana yang diciptakan APA lebih kooperatif dan tidak kontroversial. APA
juga dapat meningkatkan kepastian dalam perencanaan transaksi afiliasi, menghindari
perpajakan berganda dan pemeriksaan yang lama dan berbiaya tinggi. Dari sisi otoritas
pajak, APA mengedepankan pemahaman yang lebih dalam terhadap model bisnis dan
informasi WP.

Adapun kekurangannya, jika APA gagal dijalankan, informasi WP yang telah diberikan
kepada otoritas pajak dapat digunakan untuk melakukan audit pajak. Selain itu, tidak
semua negara mempunyai petugas pajak yang kompeten dan peraturan/ panduan formal
untuk menjalankan prosedur APA secara efektif. Biaya yang dikeluarkan juga relatif tinggi
dengan prosedur yang cenderung memakan waktu lama.

Lalu, dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya itu, apa alternatif yang akan Anda pilih
untuk menghadapi sengketa transfer pricing? Cukup dengan mengajukan banding ke
Pengadilan Pajak, MAP, atau melalui APA? Tentu, semua berpulang pada kebutuhan Anda
masing-masing.*