Anda di halaman 1dari 34

RELEVANSI DISTORSI PASAR DAN KEBIJAKAN

PERDAGANGAN INTERNASIONAL MODERN DENGAN


PEMIKIRAN EKONOMI YAHYA BIN UMAR

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran dan Peradaban
Ekonomi Islam yang diampu oleh:
Dr. Juliana, S.Pd., M.E.Sy..

disusun oleh:
Nispi Amalia Adila 1600768
Jini Nurul Jannati 1701412

PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI DAN KEUANGAN ISLAM


FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh


Segala puji bagi Allah karena rahmat serta anugerah dari-Nya kami
diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan makalah kami ini
dengan judul “Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar”. Shalawat dan salam tidak
lupa selalu kami haturkan kepada junjungan Nabi kita, Nabi Muhammad Saw.
yang telah menyampaikan petunjuk dari Allah Swt. dan membawa kebenaran
untuk kita semua yakni Syariah agama Islam yang merupakan satu-satunya
karunia paling besar bagi seluruh alam semesta.
Makalah ini berisi tentang pemikiran-pemikiran ekonomi pada masa Umar
bin Yahya dan studi kasus pada masa sekarang ini mengenai mekanisme pasar
yang disampaikan oleh Umar bin Yahya.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan ini masih terdapat banyak
kekurangan. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar
selanjutnya dapat kami perbaiki kembali. Kami ucapkan terima kasih yang
sebanyak-banyaknya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan
makalah ini dan telah mendukung serta membantu kami selama proses
penyelesaian hingga rampungnya makalah ini.
Akhir kata, kami berharap semoga para pembaca merasakan manfaat dan
dapat memahami bagaimana pemikiran ekonomi Islam dari salah satu tokoh
ternama dalam masa-masa kejayaan Islam serta terinspirasi untuk melalukan
sebuah perubahan di dalam masyarakat setelah membaca makalah yang kami buat
ini. Aamiin.

Bandung, 25 September 2018

i
ABSTRAK

Seperti yang kita ketahui, bahwa pasar merupakan ciri utama dari aktivitas
ekonomi. Pengaturan mekanisme pasar sudah ada sejak masa Rasulullah Saw.
Tetapi mekanisme pasar yang berlangsung saat ini, terutama di Indonesia
keberlangsungannya selalu memicu permasalahan. Permasalahan tersebut seperti
penimbunan barang, adanya politik dumping, dan distorsi pasar lainnya. Salah
satu fuqaha dari Mazhab Maliki bernama Yahya bin Umar ini menuliskan kitab
berjudul Ahkam al-Suq yang pada intinya beliau membahas mengenai distorsi
pasar, perdagangan internasional dan mekanisme pasar menurut Islam. Untuk itu,
tujuan dituliskannya makalah ini adalah untuk membahas serta mengupas tuntas
pemikiran ekonomi dari Yahya bin Umar, bagaimana pemikiran beliau mengenai
penetapan harga (tas’ir), ihtikar (penimbunan), siyasah al-Ighraq (dumping) dan
sebagainya yang termasuk ke dalam mekanisme pasar. Metode yang digunakan
dalam penulisan ini yakni metode kualitatif dengan sumber data sekunder yang
diperoleh dari buku-buku, jurnal ilmiah, dan lain sebagainya yang memuat
informasi-informasi mengenai pemikiran ekonomi pada masa Yahya bin Umar.

Kata Kunci : Ahkam al-Suq, Ihtikar, Tas’ir, Siyasah al-Ighraq, Monopoly’s Rent
Seeking

ii
DAFTAR ISI

ABSTRAK .............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan ......................................................................................... 4
D. Manfaat Penulisan ....................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 6
A. Biografi Yahya bin Umar ............................................................................ 6
B. Karya-karya Yahya bin Umar ..................................................................... 7
C. Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar ......................................................... 8
D. Wawasan Modern Teori Yahya bin Umar ................................................ 13
a. Ihtikar (Monopoly’s Rent-Seeking) ....................................................... 13
b. Siyasah al-Ighraq (Dumping Policy) .................................................... 14
c. Tas’ir (Regulasi Harga)......................................................................... 17
d. Kebebasan Ekonomi.............................................................................. 20
E. Implikasi Pemikiran Yahya bin Umar....................................................... 22
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 27
A. Simpulan ................................................................................................... 27
B. Saran .......................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 28
PLAGIARISMA ................................................................................................... 30

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sejatinya, kehidupan dalam bermasyarakat ini tidak bisa terlepas dari
aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi ini memiliki kedudukan yang penting,
baik dalam ekonomi konvensional, sosialisme maupun dalam Islam. Dan
kegiatan ekonomi ini secara umum telah diatur dalam mekanisme pasar.
Menurut Adiwarman A. Karim, pasar adalah tempat yang
mempertemukan antara permintaan (pembeli)
Mekanisme pasar (market mechanism) menurut Nur Rianto dan Euis
Amalia adalah suatu kecenderungan di dalam pasar bebas sehingga terjadi
perubahan harga sampai pasar menjadi seimbang (equilibrium) yakni sampai
jumlah permintaan dan penawaran sama.1
Sejarah pemikiran ekonomi dalam Islam merupakan salah satu hal yang
tak kalah pentingnya dengan teori-teori ekonomi yang bermunculan saat ini.
Karena tanpa adanya sejarah pemikiran ini, kita tidak pernah tahu bagaimana
perjuangan orang-orang terdahulu mengkritisi, mengkaji dan menerapkan
pemikirannya terhadap fenomena apa saja yang sedang terjadi pada
zamannya.
Banyak sekali ulama dan para pemikir ekonomi Islam, mulai dari zaman
Nabi Muhammad Saw. sampai dengan sekarang. Salah satunya yakni Yahya
bin Umar. Yahya bin Umar dengan nama lengkapnya Abu Bakar Yahya bin
Umar bin Yusuf al-Kannani al-Andalusi dilahirkan pada tahun 213 H/930 M
dan dibesarkan di Cordova, Spanyol. Beliau merupakan salah satu fuqaha
abad ke-9 M dari Mazhab Maliki yang sangat produktif dalam menuangkan
ide-idenya menjadi karya tulis yang bermanfaat bagi orang banyak.
Sebagaimana para tokoh muslim lainnya, ia juga melakukan rihlah ilmiah ke
berbagai negeri untuk menuntut ilmu.2
Beliau sangat banyak menghasilkan karya tulis, di antara berbagai buku

1
M. Nur Rianto dan Euis Amalia, Teori Mikro Ekonomi: Suatu Perbandingan Ekonomi Islam
dan Ekonomi Konvensional, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 51.
2
Moh. Subhan, “Relevansi Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar dalam Perspektif Ekonomi
Modern”, Jurnal Ekonomi Syariah, Volume 1, Nomor 2, Maret 2017, hlm. 209.

1
2

tersebut, karyanya yang paling terkenal adalah al-Muntakhabah fi ikhtishar


al-Mustakhirijah fi al-Fiqh al-Maliki dan kitab Ahkam al-Suq.
Dalam makalah ini, kami membahas mengenai kitab Ahkam al-Suq.
Dalam buku ini, Yahya bin Umar menyebutkan bahwa dalam penulisan kitab
ini dilatar belakangi oleh dua persoalan yang mendasar, yaitu pertama,
hukum syara’ tentang perbedaan kesatuan timbangan dan takaran
perdagangan dalam satu wilayah; kedua, hukum syara’ tentang harga dari
gandum yang tidak terkendali akibat dari pemberlakuan liberalisasi harga,
yang dikhawatirkan dapat menimbulkan kemudaratan bagi para konsumen.
Selain pembahasan mengenai hal itu, dalam kitab ini pembahasan yang
paling utama yakni mengenai penetapan harga (tas’ir). Karena seperti yang
kita ketahui bersama, di Indonesia ini kebijakan mengenai penetapan harga
selalu menjadi salah satu permasalahan yang terjadi dalam mekanisme
pasarnya.
Selain penetapan harga, banyak juga fenomena penimbunan (ihtikar),
dan dumping (siyasah al-ighraq). Masalah-masalah ini yang selalu terjadi
dalam mekanisme pasar di Indonesia. Dan masalah ini dibahas oleh seorang
fuqaha yakni Yahya bin Umar yang disesuaikan dengan al-Quran dan as-
Sunnah.
Yahya bin Umar melarang kebijakan penetapan harga (tas’ir) karena
kenaikan harga yang terjadi adalah semata-mata hasil interaksi penawaran
dan permintaan yang alami. Sebab dengan penetapan harga akan memicu hal
baru yakni sesuatu yang tidak adil. Pemerintah itu tidak mempunyai hak
untuk melakukan intervensi harga. Berbeda halnya jika kenaikan harga itu
terjadi oleh ulah manusia (human error). Pemerintah sebagai institusi formal
yang memikul tanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan umum,
berhak melakukan intervensi harga ketika terjadi suatu aktivitas yang dapat
membahayakan kehidupan masyarakat luas. Pemikiran ini beliau ambil
berdasarkan perkataan Rasulullah Saw.
Di Indonesia sendiri, pengaturan mengenai hal ini diatur dalam UU No. 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha yang
3

Tidak Sehat. Mengenai penetapan harga diatur dalam pasal 5 ayat (1) dan
ayat (2) yang berbunyi:
1. Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha
pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang
harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan
yang sama.
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi:
a. Suatu perjanjian yang dibuat dalam suatu usaha patungan; atau
b. Suatu perjanjian yang didasarkan undang-undang yang berlaku.
Pasal 5 ini mengindikasikan adanya larangan untuk melakukan
persekongkolan dalam rangka menetapkan harga di pasar.
Mengenai ihtikar, para ulama sepakat bahwa illat pengharaman ihtikar
ini karena dapat menimbulkan kemudaratan bagi manusia. Ihtikar tidak hanya
akan merusak mekanisme pasar, tetapi juga akan berimbas kepada
kemaslahatan masyarakat, yaitu akan menghambat keuntungan orang lain
serta proses distribusi harta kekayaan di antara manusia.3
Dari definisi di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa sebuah aktivitas
ekonomi baru akan dapat dikatakan sebagai ihtikar jika memenuhi setidaknya
dua syarat, yaitu :
a. Objek penimbunan merupakan barang pokok kebutuhan masyarakat.
b. Tujuan dari penimbunan adalah untuk meraih keuntungan di atas
keuntungan normal. 4
Dan masalah-masalah lain mengenai mekanisme pasar di sini, semuanya
dibahas oleh Yahya bin Umar secara tuntas. Oleh karena itu, pemikiran beliau
ini bisa dijadikan referensi dalam berlangsungnya mekanisme pasar di
Indonesia.

3
Nur Chamid, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm.
204.
4
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok: PT RajaGrafindo
Persada, 2012), Edisi 3, Cet. Ke-5, hlm. 291.
4

B. Rumusan Masalah
Berdasar kepada latar belakang masalah yang telah di kemukakan di atas,
kami membatasi pembuatan makalah ini pada pertanyaan-pertanyaan berikut
ini:
1. Siapa itu Yahya bin Umar?
2. Apa saja karya dari Yahya bin Umar?
3. Bagaimana pemikiran ekonomi menurut Yahya bin Umar?
4. Bagaimana wawasan modern teori ekonomi menurut Yahya bin Umar?
5. Bagaimana relevansi pemikiran Yahya bin Umar dengan kondisi
kekinian?
6. Adakah irisan pemikiran Yahya

C. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan permasalahan yang menjadi target dalam
makalah ini, maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Agar kita semua mengetahui siapa itu Yahya bin Umar,
2. Agar kita mengetahui apa saja karya dari Yahya bin Umar,
3. Agar kita mengetahui bagaimana pemikiran ekonomi menurut Yahya bin
Umar,
4. Agar kita mengetahui bagaimana wawasan modern teori ekonomi
menurut Yahya bin Umar, dan
5. Agar kita mengetahui bagaimana implikasi dari pemikiran Yahya bin
Umar,
6. Agar kita mengetahui apakah pemikiran Yahya bin Umar ini cocok
diterapkan di Indonesia atau tidak.

D. Manfaat Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini, diharapkan dapat memberikan manfaat
baik secara teoretis maupun secara praktis, di antaranya adalah sebagai
berikut:
1. Manfaat Teoretis
5

Dalam penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan


tentang pemikiran ekonomi pada masa Yahya bin Umar.
2. Manfaat Praktis
Selain manfaat teoretis, diharapkan hasil penulisan makalah ini juga
dapat memberikan manfaat secara praktis, yaitu dapat bermanfaat bagi
masyarakat umum, mahasiswa, dan lembaga keuangan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Yahya bin Umar


Yahya bin Umar merupakan salah seorang Fuqaha atau ahli fiqih dari
Mazhab Maliki. Beliau bernama lengkap Abu Bakar Yahya bin Umar bin
Yusuf al-Kannani al-Andalusi lahir pada tahun 213 H dan dibesarkan di
Kordova, Spanyol. Yahya bin Umar adalah seorang cendekiawan muslim
yang gemar berkelana atau mengembara ke berbagai negeri untuk menuntut
ilmu. Pada mulanya, ia singgah di Mesir dan berguru kepada para pemuka
sahabat Abdullah bin Wahab al-Maliki dan ibn al-Qasim, seperti ibu al-
Kirwan Ramh dan Abu al-Zhahir bin al-Sarh. Setelah itu, ia pindah ke Hijaz
dan berguru, di antaranya kepada Ahli Ilmu Faraid dan Hisab yakni Abu
Zakaria Yahya bin Sulaiman al-Farisi.5
Perkembangan selanjutnya, Yahya bin Umar menjadi pengajar di Jami’
Al-Qairuwan, Afrika. Pada masa hidupnya, pernah terjadi konflik yang
menajam antara fuqaha Malikiyah dengan fuqaha Hanafiyah hal ini dipicu
oleh persaingan memperebutkan pengaruh dalam pemerintahan. Beliau
terpaksa pergi dari Qairuwan dan tinggal di Sausah. Ketika itu, Ibnu ‘Abdun
yang menjabat sebagai qadi6 di negeri itu berusaha menyingkirkan para
ulama penentangnya, baik dengan cara memenjarakan maupun membunuh.
Setelah Ibnu ‘Abdun turun dari jabatannya, Ibrahim bin Ahmad al-Aglabi
menawarkan jabatan qadi kepada Yahya bin Umar. Namun, ia menolaknya
dan memilih tetap tinggal di Sausah serta mengajar di Jami’ Al-Sabt hingga
akhir hayatnya. Beliau wafat pada tahun 289 H (901 M).7

5
Nur Chamid, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm.
197.
6
Qadi atau Khadi (Arab: ‫ )قاضي‬adalah seorang hakim yang membuat keputusan berdasarkan
syariat Islam. (Wikipedia)
7
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok: PT Raja Grafndo
Pesada, 2012), Edisi 3, Cet. Ke-5, hlm. 118.

6
7

B. Karya-karya Yahya bin Umar


Yahya bin Umar ini, selain aktif dalam mengajar, beliau juga
menghasilkan banyak karya tulis, hingga mencapai 40 juz.8 Diantaranya,
kitab yang paling terkenal yakni al-Muntakhabah fi Ikhtishar al-Mustakhrijah
fi al-Fiqh al-Maliki dan kitab al-Ahkam al-Suq.
a) Kitab al-Ahkam al-Suq
Kitab al-Ahkam al-Suq ini membahas tentang persoalan-persoalan
ekonomi. Salah satu hal yang mempengaruhi beliau untuk menulis kitab
ini adalah situasi kota Qairuwan yang terletak di Afrika Utara. Tempat
dimana Imam Yahya bin Umar menghabiskan bagian terpenting masa
hidupnya.9
Pada saat itu kota Qairuwan memiliki institusi pasar yang permanen
sejak tahun 155 H dan para penguasanya, mulai dari masa Yazid bin
Hatim Al-Muhbili hingga sebelum masa Ja’far Al-Mansur, ia sangat
memperhatikan keberadaan institusi pasar. Dengan demikian, pada masa
Yahya bin Umar, kota Qairuwan ini telah memiliki dua keistimewaan,
yaitu :10
a. Keberadaan institusi pasar mendapatkan perhatian khusus dan
pengaturan yang memadai dari para penguasa, dan
b. Dalam lembaga peradilan ini, terdapat seorang hakim yang khusus
untuk menangani berbagai permasalahan pasar.
Kitab al-Ahkam al-Suq ini dilatar belakangi oleh dua persoalan
mendasar, yaitu hukum syara’ tentang perbedaan dan kesatuan
timbangan serta takaran perdagangan dalam satu wilayah; dan hukum
syara’ tentang harga gandum yang tidak terkendali, sehingga
dikhawatirkan dapat menimbulkan kesulitan bagi para konsumen.11

8
Hammad bin Abdurrahman al-Janidal, Manahij al-Bahitsin fi al-Iqtishad al-Islami, (Riyadh:
Syirkah al-Ubaikan li al-Thaba’ah wa al-Nasyr, 1460 H), hlm. 118. Lihat juga dalam Euis Amalia,
Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok: Gramata Publishing, 2010), hlm. 157-158.
9
Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok: Gramata Publishing, 2010), hlm.
157-158.
10
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok: PT Raja Grafindo
Pesada, 2012), Edisi 3, Cet. Ke-5, hlm. 283-284.
11
Hammad bin Abdurrahman al-Janidal, Manahij al-Bahitsin fi al-Iqtishad al-Islami, (Riyadh;
Syirkah al-Ubaikan li al-Thaba’ah wa al-Nasyr, 1460 H), hlm. 120. Lihat juga dalam Nur Chamid,
Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 199.
8

Dalam membahas dua persoalan ini Yahya bin Umar menjelaskan


secara komprehensif yang disertai dengan diskusi yang panjang, hingga
melampaui jawaban yang diperlukan. Sebelum menjawabnya, ia menulis
muqaddimah secara terperinci tentang berbagai tanggung jawab
melakukan inspeksi pasar, mengontrol timbangan dan takaran, serta
mengungkapkan perihal mata uang.12
Kitab al-Ahkam as-Suq ini memiliki tema utama tentang tas’ir
(penetapan harga), tetapi pada dasarnya Yahya bin Umar lebih banyak
membahas tentang persoalan ihtikar dan siyasah al Ighraq. Kedua istilah
tersebut dalam ilmu ekonomi kontemporer dikenal dengan monopoly's
rent-seeking (ihtikar) dan dumping Policy (siyasah al-ighraq).13
Yahya bin Umar mengajarkan kitab ini untuk pertama kalinya itu di
kota Sausah. Dalam perkembangan berikutnya, terdapat dua riwayat
tentang kitab ini, Riwayat al-Qashri yang sekarang kita pelajari dan
Riwayat al-Shibli.14
C. Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar
Menurut Yahya bin Umar, aktivitas ekonomi ini merupakan bagian yang
tidak bisa dipisahkan dari ketakwaan seorang muslim kepada Allah Swt. Hal
ini memiliki arti bahwa ketakwaan merupakan asas penting dalam
perekonomian Islam, sekaligus faktor utama yang menjadi pembeda antara
ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional. Oleh karena itu, di samping
al-Quran, setiap muslim harus berpegang teguh pada as-Sunnah dan
mengikuti seluruh perintah Nabi Muhammad Saw. dalam melakukan setiap
aktivitas ekonominya.15 Karena dalam Islam, bukan hanya hal ibadah saja
yang di atur oleh Allah, tetapi segala aktivitas manusia, sudah ada aturannya

12
Nur Chamid, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm.
199.
13
Moh Subhan, “Relevansi Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar dalam Perspektif Ekonomi
Modern”, Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. 1, No I, Juni 2017, hlm. 85
14
Rif’at al-‘Aududi. Min al-Tturats: al-Iqtishad Li al-Muslimin. (Makkah: Rabithah ‘Alam al-
Islami, 1985), hlm. 44. Lihat juga dalam Nur Chamid. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam.
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 199.
15
Rifa’at Al-‘Audi, Min al-Turats: al-Iqtishad li al-Muslimin, (Makkah: Rabithah ‘Alam al-
Islami, 1985), hlm. 44. Lihat juga dalam Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi
Islam, Edisi 3 Cet. Ke 5, (Depok: RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 285.
9

yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. dan tertulis dalam al-Quran
dan as-Sunnah.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa keberkahan akan selalu menyertai
orang-orang yang bertakwa, sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. al-
A’raf ayat 96 yang berbunyi:16

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah


Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya”.

Seperti yang telah disinggung fokus perhatian Yahya bin Umar tertuju
pada hukum-hukum pasar yang tercerminkan dalam pembahasan tentang
tas’ir (penetapan harga). Penetapan harga (al-tas’ir) merupakan tema inti
dalam kitab Ahkam al-Suq. Ia ingin menyatakan bahwa eksistensi harga
merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah transaksi dan jika diabaikan
dapat menimbulkan kerusakan dalam kehidupan masyarakat.17
Berkaitan dengan hal ini, Yahya bin Umar berpendapat bahwa al-tas’ir
(penetapan harga) tidak boleh dilakukan.18 Ia berhujjah dengan berbagai hadis
Nabi Muhammad Saw., antara lain hadis di bawah ini:

16
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Edisi 3 Cet. Ke 5, (Depok: PT
RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 285.
17
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Edisi 3 Cet. Ke 5, (Depok: PT
RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 286.
18
Rifa’at Al-‘Audi, Min al-Turats: al-Iqtishad li al-Muslimin, (Makkah: Rabithah ‘Alam al-
Islami, 1985), hlm. 48. Lihat juga Hammad bin Abdurrahman Al-Janidal, Manahij al-Bahitsin fi
al-Iqtishad al-Islami, (Riyadh: Syirkah al-Ubaikan li al-Thaba’ah wa al-Nasyr, 1406 H), hlm. 118.
Lihat juga dalam Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Edisi 3 Cet. Ke 5,
(Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 286.
10

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Telah melonjak harga (di pasar) pada
masa Rasulullah Saw. Mereka (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah,
tetapkanlah harga bagi kami”. Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah-
lah yang menguasai (harga), yang memberi rezeki, yang memudahkan, dan
yang menerapkan harga. Aku sungguh berharap bertemu dengan Allah dan
tidak seorang pun (boleh) memintaku untuk melakukan suatu kezaliman
dalam persoalan jiwa dan harta”. (Riwayat Abu Dawud)19

Jika mencermati konteks hadis tersebut, tampak jelas bahwa Yahya bin
Umar ini melarang kebijakan penetapan harga (tas’ir) pada kenaikan harga
yang terjadi adalah semata-mata hasil interaksi penawaran dan permintaan
yang alami. Sebab dengan penetapan harga pada kejadian ini akan memicu
sebuah ketidakadilan. Pemerintah tidak memiliki hak untuk melakukan
intervensi harga. Berbeda halnya jika kenaikan harga itu terjadi oleh ulah
manusia (human error). Pemerintah sebagai institusi formal yang memikul
tanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan umum, berhak melakukan
intervensi harga ketika terjadi suatu aktivitas yang dapat membahayakan
kehidupan masyarakat luas. Yahya bin Umar menyatakan bahwa pemerintah
tidak boleh melakukan intervensi, kecuali dalam dua hal, yaitu:20
1. Jika para pedagang tidak memperdagangkan barang dagangan tertentu
yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga hal ini dapat
menimbulkan kemudaratan serta merusak mekanisme pasar. Dalam hal
ini, pemerintah bisa mengeluarkan para pedagang tersebut dari pasar
serta menggantikannya dengan para pedagang yang lain berdasarkan
kemaslahatan dan kemanfaatan umum, dan
2. Para pedagang melakukan praktik siyasah al-ighraq atau banting harga
(dumping) yang dapat menimbulkan persaingan yang tidak sehat dalam
pasar serta mengacaukan stabilitas harga pasar. Dalam hal ini,
pemerintah berhak memerintahkan para pedagang tersebut untuk

19
Abu Daud Al-Sijistani, Sunan Abi Daud, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), Jilid 3, hlm. 272. Lihat
juga dalam Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Depok: PT Raja Grafindo Persada,
2017), Edisi 5, Cet. Ke-9, hlm. 286.
20
Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Depok: PT Raja Grafindo Persada,
2017), Edisi 5, Cet. Ke-9, hlm. 286-287.
11

menyesuaikan kembali harganya sesuai dengan harga yang berlaku di


pasar. Apabila mereka menolak, pemerintah berhak mengusir para
pedagang tersebut dari pasar. Hal ini pernah dipraktikkan oleh Umar bin
al-Khattab ketika mendapati seorang pedagang kismis menjual barang
dagangannya di bawah harga pasar. Ia memberikan pilihan kepada
pedagang tersebut, apakah menaikkan harga sesuai dengan standar yang
berlaku atau pergi dari pasar.21
Pernyataan Yahya bin Umar tersebut jelas mengindikasikan bahwa
hukum asal intervensi pemerintah adalah haram. Intervensi baru dapat
dilakukan jika dan hanya jika kesejahteraan masyarakat umum terancam. Hal
ini sesuai dengan tugas yang dibebankan kepada pemerintah dalam
mewujudkan keadilan sosial di setiap aspek kehidupan masyarakat, termasuk
ekonomi. Di samping itu, pendapatnya yang melarang praktik tas’ir
(penetapan harga) tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sesungguhnya
Yahya bin Umar mendukung kebebasan ekonomi, termasuk kebebasan
kepemilikan.
Seperti yang ada di dalam hadis sebelumnya bahwa sikap Rasulullah
Saw. yang menolak untuk melakukan penetapan harga merupakan indikasi
awal bahwa dalam ekonomi Islam itu tidak hanya sebatas mengatur
kepemilikan khusus saja, tetapi juga menghormati serta menjaganya.22
Kebebasan ekonomi yang dimaksud bukanlah kebebasan mutlak seperti yang
dikenal dalam ekonomi konvensional, tetapi kebebasan yang terikat oleh
syariat Islam.
Pasar merupakan tempat atau pusat terjadinya penyediaan (supply) dan
permintaan (demand) barang. Kedudukan pasar dalam Islam begitu tinggi,
sebab selain bidang pertanian dan perdagangan merupakan salah satu profesi
yang sangat dianjurkan oleh Islam. Karakteristik pasar Islam ialah di
dalamnya terdapat aturan, mekanisme dan nilai-nilai Islam yang dijadikan

21
Hammad bin Abdurrahman Al-Janidal, Manahij al-Bahitsin fi al-Iqtishad al-Islami, (Riyadh:
Syirkah al-Ubaikan li al-Thaba’ah wa al-Nasyr, 1460 H), hlm. 122-123. Lihat juga dalam
Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2017),
Edisi 5, Cet. Ke-9, hlm. 287.
22
Rif’at al-‘Aududi. Min al-Tturats: al-Iqtishad Li al-Muslimin. (Makkah: Rabithah ‘Alam al-
Islami, 1985), hlm. 53-53. Lihat juga dalam Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami,
(Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2017), Edisi 5, Cet. Ke-9, hlm. 288.
12

standar aktivitas. Karakteristik inilah yang menjadi kekhasan Islam yang


tidak mengenal dikotomi ranah dunia dan akhirat. Aktivitas bisnis yang
berorientasi materiil selalu diimbangi dengan kecintaan membelanjakan harta
di jalan Allah (spiritual). Karena Islam merupakan agama yang menjunjung
tinggi nilai kebebasan dalam berekonomi. Maka dari itu, Islam memberikan
kebebasan kepada umatnya untuk melakukan inovasi dan kreativitas dalam
bermuamalah.
Yahya bin Umar menambahkan bahwa mekanisme harga itu haruslah
tunduk kepada kaidah-kaidah. Di antara kaidah-kaidah tersebut yakni
pemerintah berhak untuk melakukan intervensi ketika terjadi tindakan
sewenang-wenang dalam pasar yang dapat menimbulkan kemudaratan bagi
masyarakat, termasuk ihtikar dan dumping. Dalam hal ini, pemerintah berhak
mengeluarkan pelaku tindakan itu dari pasar. Dengan demikian, hukuman
yang diberikan terhadap pelaku tindakan tersebut adalah berupa larangan
melakukan aktivitas ekonominya di pasar, bukan berupa hukuman maliyah.
Tentang ihtikar, Yahya bin Umar menyatakan bahwa timbulnya
kemudaratan terhadap masyarakat merupakan syarat pelarangan penimbunan
barang. Apabila hal tersebut terjadi, barang dagangan hasil timbunan tersebut
harus dijual dan keuntungan dari hasil penjualan ini disedekahkan sebagai
pendidikan terhadap para pelaku ihtikar.
Adapun para pelaku ihtikar itu sendiri hanya berhak mendapatkan modal
pokok mereka. Selanjutnya, pemerintah memperingati para pelaku ihtikar
agar tidak mengulangi perbuatannya. Apabila mereka tidak memedulikan
peringatan tersebut, pemerintah berhak menghukum mereka dengan
memukul, mengelilingi kota, dan memenjarakannya.
Dengan demikian, dalam kasus kenaikan harga akibat ulah manusia,
seperti ihtikar dan dumping, kebijakan yang diambil pemerintah adalah
mengembalikan tingkat harga pada equilibrium price. Hal ini juga berarti
bahwa dalam ekonomi Islam, undang-undang mempunyai peranan sebagai
pemelihara dan penjamin pelaksanaan hak-hak masyarakat yang dapat
meningkatkan kesejahteraan hidup mereka secara keseluruhan, bukan sebagai
13

alat kekuasaan untuk memperoleh kekayaan secara semena-mena.23

D. Wawasan Modern Teori Yahya bin Umar


a. Ihtikar (Monopoly’s Rent-Seeking)
Ihtikar ialah suatu perbuatan mengambil keuntungan diatas
keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit barang untuk harga
yang lebih tinggi.24 Ihtikar juga merupakan istilah bahasa Arab yang
menjelaskan tentang perbuatan menimbun barang-barang dari pasar
dengan artian yang lebih luas, istilah tersebut mencakup manipulasi
harga.
Menurut Yahya bin Umar apabila harga di pasar mengalami ketidak
stabilan karena ulah dari segelintir para pedagang, maka pemerintah
sebagai lembaga formal harus melakukan intervensi terhadap harga di
pasar tersebut, dengan mengembalikan tingkat harga pada equilibrium
price (keseimbangan harga).25
Islam secara tegas telah melarang adanya ihtikar, bersumber dari
Said bin al-Musayyab dari Ma’ar bin Abdullah al-Adawi bahwa
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

“Tidaklah orang yang melakukan ihtikar itu kecuali berdosa”.


HR. Muslim, Ahmad dan Abu dawud.26

Merujuk pada fatwa dari DSN Indonesia, fatwa No. 80/DSN-


MUI/III/2011, ihtikar adalah membeli suatu barang yang sangat

23
Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Depok: PT Raja Grafindo Persada,
2017), Edisi 5, Cet. Ke-9, hlm. 288-289.
24
Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Depok: PT Raja Grafindo Persada,
2017), Edisi 2, Cet. Ke-2, hlm. 266. Lihat juga dalam Adiwarman Azwar Karim, Sejarah
Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2012), Edisi 3, Cet. Ke-5, hlm.
290.
25 Moh. Subhan, “Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar dalam Perspektif Ekonomi Modern”,

Jurnal Ulumuna, Vol. 1 No. 1, Juni 2015, hlm. 86.


26
Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Depok: PT Raja Grafindo Persada,
2017), Edisi 5, Cet. Ke-9, hlm. 222.
14

diperlukan masyarakat pada saat harga mahal dan menimbunnya dengan


tujuan untuk menjualnya kembali pada saat harga nya lebih mahal.27
Para ulama sepakat bahwa illat pengharaman ihtikar ialah karena
dapat menimbulkan kemadharatan bagi manusia. Ihtikar tidak hanya
akan merusak mekanisme pasar, tetapi juga akan berimbas kepada
kemashlahatan masyarakat, yaitu akan menghambat keuntungan orang
lain serta proses distribusi harta kekayaan di antara manusia.28
Dari definisi diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa sebuah aktivitas
ekonomi baru akan dapat dikatakan sebagai ihtikar jika memenuhi
setidaknya dua syarat, yaitu :
c. Objek penimbunan merupakan barang-barang kebutuhan
masyarakat.
d. Tujuan penimbunan adalah untuk meraih keuntunga diatas
keuntungan normal. 29
Dengan demikian, Islam tidak melarang adanya penimbunan, malah
aktifitas penimbunan juga dibutuhkan saat mengahadapi kondisi tertentu,
yaitu ketika kondisi dimana ada suatu barang yang beredar dengan
jumlah yang banyak di masyarakat, dan boleh di timbun, dengan tujuan
agar konsumsi di masyarakat tidak terlalu berlebihan. Sebenarnya yang
Islam larang ialah aktifitas ini dengan tujuan memperoleh untung yang
lebih ketika sudah terjadi kelangkaan, yang mana hal ini akan merusak
mekanisme pasar juga, dan akan banyak mengundang kemadharatan.
b. Siyasah al-Ighraq (Dumping Policy)
Dumping ialah sistem penjualan barang di pasaran luar negeri dalam
jumlah banyak dengan harga yang rendah sekali (dengan tujuan agar
harga pembelian di dalam negeri tidak diturunkan sehingga akhirnya
dapat menguasai pasaran luar negeri dan dapat menguasai harga

27
Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Depok: PT Raja Grafindo Persada,
2017), Edisi 5, Cet. Ke-9, hlm. 252.
28
Nur Chamid, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm.
204.
29
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok: PT Raja Grafindo
Persada, 2012), Edisi 3, Cet. Ke-5, hlm. 291.
15

kembali).30 Pengertian menurut KBBI ini bahwa dumping adalah


penjualan dengan harga yang berbeda antara ke pasar luar negeri dengan
pasar dalam negeri, yang mana cakupan nya jika dalam dumping itu lebih
luas, yaitu Negara.
Dalam suatu pasar persaingan tidak sempurna, suatu perusahaan
kadang melakukan kebijakan pengenaan harga yang berbeda untuk
produk yang sama di setiap pasar yang berlainan. Secara umum, dalam
praktik pemberian harga yang berbeda terhadap pembeli yang berbeda
disebut dengan diskriminasi harga. Dalam perdagangan Internasional,
praktik seperti ini disebut dengan dumping, yakni suatu praktik
pemberian harga yang berbeda antara di dalam negeri nya dengan yang
di ekspor ke Negara lain, biasanya untuk barang yang di ekspor harga
nya lebih murah dibandingkan dengan yang ada di pasar domestik.31
Dalam praktiknya, dumping dikenal dengan sebuah kebijakan
perdagangan yang lebih menguntungkan oleh sebuah perusahaan, jika
ditemukan dua hal, yaitu, pertama, industri tersebut bersifat pasar
persaingan tidak sempurna, sehingga perusahaan dapat bertindak sebagai
price maker, bukan sebagai price taker; kedua, pasar harus
tersegmentasi, sehingga penduduk di dalam negeri tidak dapat membeli
barang-barang yang di ekspor dengan mudah.32 Dumping merupakan
sebuah kebijakan perdagangan yang kontroversial dan secara luas dikenal
sebagai sebuah praktik yang tidak fair karena menimbulkan persaingan
yang tidak sehat dan merusak mekanisme pasar. Perilaku ini secara tegas
dilarang oleh agama karena dapat menimbulkan kemudaratan bagi
masyarakat.33

30
Kamus Online KBBI
31
Paul R. Krugman dan Maurice Obstfeld, International Economics: Theory and Policy (New
York: HarperCollins Publishers Inc., 1991) Edisi 2, hlm. 142. Lihat juga dalam Adiwarman Azwar
Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok: PT Raja Grafindo Pesada, 2012), Edisi 3, Cet.
Ke-5, hlm.283-284.
32
Eddy Rinaldy, Kamus Istilah Perdagangan Internasional, (Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 2000) hlm. 74. Lihat juga dalam Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi
Islam, (Depok: PT Raja Grafindo Pesada, 2012), hlm. 294.
33
Fahrur Ulum, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Analisis Pemikiran Tokoh dari Masa
Rasulullah Saw. Hingga Masa Kontemporer), (Surabaya: UIN Sunan Ampel), hlm. 125.
16

Dumping terjadi bila para produsen (biasanya para pelaku monopoli)


dari suatu negeri menjual hasil mereka ke negara lain dibawah harga
yang dikenakan pada para konsumen negara asal. Tujuan dumping
tersebut antara lain adalah:
1. Untuk menghabiskan persediaan yang berlebihan karena keliru
menilai permintaan,
2. Mengembangkan hubungan perdagangan baru dengan menetapkan
harga yang rendah,
3. Mengenyahkan pesaing pasar asing, produsen asing, atau pribumi,
dan
4. Memungut keuntungan sebesar-besarnya dalam perekonomian.34
Menurut pendapat Rahmadi Usman Dalam kamus hukum ekonomi,
dumping diartikan sebagai praktik dagang yang dilakukan eksportir
dengan menjual barang, jasa atau barang jasa di pasar internasional
dengan harga kurang dari nilai yang wajar atau lebih rendah dari pada
harga barang tersebut di negerinya sendiri atau daripada harga jual di
negara lain.35 Dengan kata lain dumping adalah kegiatan dagang yang
dilakukan produsen pengekspor yang dengan sengaja banting harga
dengan cara menjual dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga
jual dalam negeri atau negara lain, dengan harapan dapat mematikan
usaha pesaing di pasar yang bersangkutan. Praktik dagang yang demikian
dianggap sebagai praktik dagang yang tidak sehat dan sekaligus bisa
mendatangkan kerugian pelaku usaha sejenis di negara pengimpor.
Dalam sistem negara modern dewasa ini, keterlibatan negara dalam
mengontrol pasar khususnya yang terkait dengan fluktuasi harga barang
dan regulasi pasar semakin dibutuhkan. Kebutuhan akan peran
pemerintah semakin diperlukan sebagai akibat dari meningkatnya pola-
pola tidak adilan para pelaku pasar bebas yang berujung pada
merebaknya otoritasi kontrol harga yang terpusat pada segelintir orang.
Peran pemerintah untuk menertibkan sekaligus memberikan

34
M. A. Mannan, Ekonomi Islam Teori dan Praktek, (Jakarta: PT Intermasa, 1992), hlm. 294.
35
Rahmadi Usman, Hukum persaingan Usaha di Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2004), hlm. 76.
17

kenyamanan dalam bentuk memberikan efek jera kepada para pelaku


tidakadilan di atas sungguh diharapkan. Pernah suatu waktu, harga-harga
barang di pasar Madinah meningkat tajam, dan hal ini dikeluhkan oleh
para sahabat kepada nabi, dan mereka meminta kepada nabi untuk
mematok harga atas barang-barang di pasar (al-tas`ir). Namun nabi
menolak, dengan alasan khawatir hal itu akan merugikan para penjual
dari kalangan pemilik barang. Tentu kejadian ini harus dilihat dari
konteks waktu diucapkannya perkataan nabi tersebut, jika seandainya
nabi masih hidup saat ini, niscaya beliau akan setuju dengan permintaan
para sahabat untuk memberikan harga standar atas barang-barang yang
beredar di pasar. Perubahan karakter pada pelaku bisnis dahulu dan
sekarang tentunya yang merubah fatwa tersebut. Dan bukan seperti yang
disangka oleh para pendukung sistem kapitalis, bahwa hakikatnya nabi
mendukung pasar bebas atau sangat membela kepentingan para pemiliki
modal (the capital).36

c. Tas’ir (Regulasi Harga)


Penetapan harga (al-tas’ir) merupakan tema sentral dalam kitab al-
Ahkam al-Suq.37 Karena Yahya bin Umar begitu banyak menjelaskan
tentang tas’ir di dalam kitab nya itu, berkali-kali ia bahas pada tempat
yang berbeda. Jika melihat kitab al-Ahkam al-Suq yang dengan banyak
membahas tentang tas’ir ini, tampaknya Yahya bin Umar sangat
memperhatikan masalah ini, bahwa eksistensi harga merupakan hal
sangat penting yang harus di perhatikan, karena akan membuat kerusakan
pada pasar jika fokus nya terabaikan.
Kata tas’ir berasal dari kata sa’ara-yas’aru-sa’ran yang artinya
menyalakan. Secara etimologi kata at-tas’ir berarti penetapan harga.
Dikatakan sa’arat asy-syay a tasîran, artinya menetapkan harga sesuatu

36
Fahrur Ulum, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Analisis Pemikiran Tokoh dari Masa
Rasulullah Saw. Hingga Masa Kontemporer), (Surabaya: UIN Sunan Ampel), hlm. 125-126.
37
Fahrur Ulum, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Analisis Pemikiran Tokoh dari Masa
Rasulullah Saw. Hingga Masa Kontemporer), (Surabaya: UIN Sunan Ampel), hlm. 118.
18

yang merupakan titik berhenti tawar-menawar.38 Adapun menurut


pengertian syariah, terdapat beberapa pengertian. Menurut Imam Ibnu
Irfah (ulama Malikiyah) :

“Tas’ir adalah penetapan harga tertentu untuk barang dagangan yang


dilakukan penguasa kepada penjual makanan di pasar dengan sejumlah
dirham tertentu”.39

Sedangkan menurut Imam Syaukani :

“Tas’ir adalah perintah penguasa atau para wakilnya atau siapa saja
yang mengatur urusan kaum muslimin kepada pelaku pasar agar mereka
tidak menjual barang dagangan mereka kecuali dengan harga tertentu
dan dilarang ada tambahan atau pengurangan dari harga itu karena
alasan maslahat”.40

Jika kita lihat dari kedua definisi dari para tokoh diatas, dapat
diambil kesimpulan bahwa tas’ir merupakan larangan kepada para
penguasa atau pemerintah untuk membuat harga di pasar, karena
seharusnya harga yang ada di pasar dibiarkan saja terjadi sesuai
permintaan dan penawaran, di dalamnya terjadi interaksi tawar-menawar
yang akan menimbulkan adanya harga.
Sebagai contoh, ketika pada suatu saat harga barang-barang di pasar
Madinah membumbung tinggi, umat Islam meminta Rasulullah untuk
intervensi menentukan harga (tas’ir). Namun, Rasulullah menolak
permintaan tersebut. Beliau tidak mau intervensi dengan mematok harga

38
Al-Minawi, at-Ta’arif, Juz I, Dar al-Fikr al-Mu’ashirah-Dar al-Fikr, Beirut-Dam. Lihat juga
dalam Qusthoniyah, “Tas’ir al-Jabari (Penetapan Harga oleh Negara) Dalam Koridor Fiqh Dengan
Mempertimbangkan Realitas Ekonomi”, Jurnal Syari’ah, Vol II, No. II, 2014, hlm. 83
39
Muhammad bin Qasim Al-Anshari, Syarah Hudud Ibnu Irfah, II, hlm. 35. Lihat juga dalam
Qusthoniyah, “Tas’ir al-Jabari (Penetapan Harga oleh Negara) Dalam Koridor Fiqh Dengan
Mempertimbangkan Realitas Ekonomi”, Jurnal Syari’ah, Vol II, No. II, 2014, hlm. 84
40
Qusthoniyah, “Tas’ir al-Jabari (Penetapan Harga oleh Negara) Dalam Koridor Fiqh Dengan
Mempertimbangkan Realitas Ekonomi”, Jurnal Syari’ah, Vol II, No. II, 2014, hlm. 85
19

tertentu.41 Jadi, Rasulullah pun memilih pasar bebas, tidak adanya


penetapan harga yang dilakukan oleh pemerintah.
Namun, dalam hal ini bukan berarti pemerintah benar-benar angkat
tangan dalam urusan pasar. Pemerintah mempunyai tanggung jawab
mencipatkan kesejahteraan umum, tetapi tidak melakukan intervensi
terhadap harga pasar, yang akan menimbulkan kerusakan, dan banyak
pihak yang akan terdzalimi.
Yahya bin Umar mengatakan, bahwa ada pengecualian untuk
pemerintah dalam menetapkan harga. Jadi, pemerintah boleh menetapkan
harga ketika berada dalam dua hal ini, yaitu :42
a. Para pedagang tidak memperdagangkan barang dagangan tertentu
yang sangat dibutuhkan masyarakat, sehingga dapat menimbulkan
kemadharatan serta merusak mekanisme pasar. Dalam hal ini,
pemerintah dapat mengeluarkan para pedagang tersebut dari pasar
serta menggantikannya dengan para pedagang yang lain berdasarkan
kemaslahatan dan kemanfaatan umum.
b. Para pedagang melakukan praktik siyasah al-igraq atau banting
harga (dumping) yang dapat menimbulkan persaingan yang tidak
sehat dan dapat mengacaukan stabilitas harga di pasar. Dalam hal
ini, pemerintah berhak memerintahkan para pedagang tersebut untuk
menaikkan kembali harga nya sesuai dengan harga yang berlaku di
pasar. Apabila para pedagang menolaknya, maka pemerintah berhak
mengusir para pedagang tersebut dari pasar. Hal ini pernah di
praktikan oleh khalifah Umar bin al-Khattab ketika mendapati
seorang pedagang kismis menjual barang nya di bawah harga pasar.
Umar memberikan pilihan kepada pedagang tersebut, jika ingin tetap
berjualan di pasar, maka ia harus menaikkan harga kismis nya

41
Al-Darimy, Sunan al-Darimiy (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), 78. Lihat pula Muhammad Akram
Khan, ed., Economic Teachings of Prophet Muhammad (pbuh): A Select Anthology of Hadith
Literature on Economics (Karachi: Dar al-Ishat, t.t.). Lihat juga dalam Aan Jaelani. Institusi pasar
dan hisbah: Teori Pasar dalam Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Cirebon: Syari’ah Nurjati
Pess, 2013), hlm. 69.
42
Nur Chamid. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm.
201.
20

disesuaikan dengan harga pasar, atau berbeda dengan harga pasar,


namun harga kismis nya itu tidak boleh di bawah harga pasar.
Pernyataan Yahya bin Umar tadi memperlihatkan bahwa beliau
menyatakan hukum asal tas’ir oleh pemerintah adalah haram, dan
pemerintah baru boleh melakukan penetapan harga di pasar ketika ada
hal mendesak yang dapat membawa kerusakan, atau kemadharatan bagi
banyak pihak. Mayoritas ulama pun menetapkan keharaman tas’ir
(mematok harga tertentu). Menurut mereka, tas’ir adalah kedzaliman,
karena masing-masing orang diberikan kebebasan untuk memutar
harganya.
d. Kebebasan Ekonomi
Konsep Islam menegaskan bahwa pasar harus berdiri di atas prinsip
persaingan bebas (perfect competition). Tapi bukan berarti kebebasan itu
berlaku mutlak, namun kebebasan yang dibungkus oleh frame syari’ah.
Islam mengedepankan transaksi jual-beli yang terjadi secara sukarela
(‘an taradhin minkum/mutual goodwill) sesuai petunjuk al-Qur’an, dalam
QS. An-Nisa (4) : 29, yang artinya:43

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta


sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan
yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah
kamu membunuh dirimy; sesungguhanya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.”

Jika kita melihat ayat di atas, telah jelas Allah mengatakan


perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka, berarti harus adanya
keikhlasan di antara keduanya (penjual dan pembeli), yang mana di saat
interaksi mencari suka sama suka itu terjadin, akan adanya transaksi
tawar menawar harga hingga menghasilkan harga yang keduanya saling
ridha.

43
Al- Qur’an (QS. An-Nisa (4) : 29)
21

Menurut Dr. Rif’at al-Audi, pendapat Yahya bin Umar yang


melarang praktik tas’ir, menunjukkan bahwa Yahya bin Umar pun
mendukung adanya kebebasan dalam ekonomi, sikap Rasulullah yang
tadi telah dijelaskan pada pembahasan tas’ir pun menjadi indikasi awal
bahwa dalam ekonomi tidak hanya terbatas mengatur kepemilikan
khusus, tetapi juga menghormati dan menjaganya.44
Kebebasan bersaing dan menentukan harga di pasaran kian
dipertegas dengan adanya larangan tas’ir (penetapan harga) seperti yang
disebutkan dalam hadis riwayat Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majjah dan
al-Syaukani sebagai berikut :45
“Orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah, harga mulai mahal.
Patoklah harga untuk kami!” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
Allah-lah yang mematok harga, yang menyempitkan dan yang
melapangkan rizki, dan aku sungguh berharap untuk bertemu Allah
dalam kondisi tidak seorangpun dari kalian yang menuntut kepadaku
dengan suatu kezhaliman-pun dalam darah dan harta.”
Hadits diatas memperlihatkan bahwa Rasulullah pun menyatakan
adanya kebebasan ekonomi dalam hal menetapkan harga, beliau tidak
ikut campur, dan membiarkan adanya kebebasan kepada pedagang dan
pembeli. Pedagang menjual barang tentu untuk mendapat keuntungan,
sedangkan pembeli, ingin mendapatkan barang dengan harga yang
rendah.
Ketika kemauan penjual dan keinginan pembeli saling berhadapan,
mereka diberikan keleluasaan untuk tawar-menawar menentukan harga
yang disepakati. Intervensi pemerintah dalam menentukan harga
merupakan bentuk pengekangan, tidak adanya kebebasan, karena ketika
harga ditentukan oleh pemerintah, maka salah satunya pasti ada yang

44
Rif’at al-‘Aududi. Min al-Tturats: al-Iqtishad Li al-Muslimin. (Makkah: Rabithah ‘Alam al-
Islami, 1985), hlm. 52-53. Lihat juga dalam Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam.
(Depok: Gramata Publishing, 2010), hlm.160.
45
Qusthoniyah, “Tas’ir al-Jabari (Penetapan Harga oleh Negara) Dalam Koridor Fiqh Dengan
Mempertimbangkan Realitas Ekonomi”, Jurnal Syari’ah, Vol II, No. II, 2014, hlm. 80
22

dipaksa untuk menerima, dan hal ini tidak sesuai dengan firman Allah
yang tadi telah dijelaskan sebelumnya.

E. Implikasi Pemikiran Yahya bin Umar


Etika pasar dalam Islam, yang tidak semata diarahkan bagi para pelaku
bisnis baik pedagang dan pembeli saja namun pada pembenahan sistem
secara menyeluruh. Lebih jelasnya etika pasar dalam Islam ini menghendaki
pembenahan sistem dan kerja sama sinergis antara semua unsur baik pelaku
bisnis, masyarakat dan pemerintah.
Dalam konsep ekonomi Islam harga ditentukan oleh keseimbangan
permintaan dan penawaran. Keseimbangan ini tidak terjadi bila antara penjual
dan pembeli tidak bersikap saling merelakan. Kerelaan ini ditentukan oleh
penjual dan pembeli dalam mempertahankan kepentingan atas barang
tersebut. Jadi, harga ditentukan oleh kemampuan penjual untuk menyediakan
barang yang ditawarkan pembeli, dan kemampuan pembeli untuk
mendapatkan barang tersebut dari penjual.
Islam pada dasarnya memberikan kebebasan dan penghargaan yang besar
terhadap perdagangan. Sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat Al-
Baqarah ayat 275 “Dan Allah swt telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba”. Akan tetapi praktik persaingan tidak sehat dalam
transaksi perdagangan seperti Siyasah Al-Ighraq dengan tujuan untuk
mematikan pedagang lain yang ada di pasar merupakan hal yang dilarang
dalam aturan hukum Islam, oleh karena itu Islam tidak lantas membiarkannya
tanpa aturan yang jelas, bahwa nilai-nilai akhlak seperti kejujuran dan
keadilan harus selalu di kedepankan dalam melakukan transaksi perdagangan.
Ini sesuai dengan hadist yang di riwayatkan oleh At-Tirmidzi bahwa
Rasulullah Saw. bersabda “pedagang yang jujur dan terpercaya
(ditempatkan di surga) sejajar dengan para nabi, para shadiqin dan para
sahabat“. Jadi sangat jelas bahwa aspek etika bisnis ini menjadi sangat
penting karena dalam transaksi perdagangan sangat mungkin terjadi
23

ketegangan antara hak individu dan kepentingan umum.46

F. Irisan pemikiran Yahya bin Umar dengan pemikiran Ekonomi Barat


a. Monopoly's rent-seeking (ihtikar)
Menurut Yahya bin Umar apabila terjadi ketidakstabilan harga
di pasar, karena ulah segelintir para pedagang, maka pemerintah
sebagai lembaga formal harus melakukan intervensi47 terhadap
harga di pasar tersebut, dengan cara mengembalikan tingkat harga
pada equilibrium price (keseimbangan harga).48 Hal ini dilakukan
guna mencegah adanya ihtikar yang dapat merusak mekanisme
pasar. Indonesia pun saat ini melakukan intervensi terhadap harga
di pasar melalui dua cara, yaitu : Peraturan (regulation) dan
Undang-undang anti monopoli.49
Monopoli pun dibahas dalam pemikiran kapitalisme. Pada masa
awal kapitalisme ditandai dengan persaingan bebas, lalu kemudian
berkembang menjadi monopoli. Di sini, Lenin menggambarkan tiga
fase historis dari monopoli: (1) Tahun 1860-70 merupakan puncak
dari persaingan bebas, monopoli masih berada dalam tahap embrio;
(2) Setelah krisis 1873, mulai muncul kartel-kartel, tapi mereka
masih menjadi pengecualian dan tidak tahan lama; (3) Pada boom
ekonomi di akhir abad ke-19 dan krisis 1900-1903, kartel menjadi
fondasi dari seluruh kehidupan ekonomi. Kapitalisme telah berubah
menjadi kapitalisme monopoli atau imperialism.50
Tentang ihtikar inipun, Yahya bin Umar menyatakan bahwa
timbulnya kemadharatan terhadap masyarakat merupakan syarat

46
Fahrur Ulum, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Analisis Pemikiran Tokoh dari Masa
Rasulullah Saw. Hingga Masa Kontemporer), (Surabaya: UIN Sunan Ampel), hlm. 127-128.
47
Intervensi adalah sebuah perbuatan atau tindakan campur tangan yang dilakukan oleh satu
lembaga (badan)
48
Moh Subhan, “Relevansi Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar dalam Perspektif Ekonomi
Modern”, Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. 1, No I, Juni 2017, hlm. 86
49
Sentot Imam Wahjono dan Anna Marina, Kebijakan anti Monopoli dalam Perekonomian
Indonesia, Jurnal Balance, Vol III, No I, 2009, hlm. 04
50
V.I. Lenin, Imperialism,The Highest Stage of Capitalism: A Popular Outline.( Moscow:
Progress Publishers. 1964) hlm. 119
24

dari pelarangan penimbunan barang. Apabila ihtikar ini terjadi,


barang dagangan hasil penimbunan ini harus dijual, dan hasil dari
penjualan barangnya dibagi dua, untuk laba atau keuntungannya
dibagikan kepada yang membutuhkan, atau disedekahkan, hal ini
dilakukan agar mendidik si pelaku penimbunan barang tersebut,
lalu untuk pelaku ihtikar ini hanya berhak memperoleh modal
pokok nya saja.51
b. Siyasah al-Ighraq (dumping)
Siyasah al-Ighraq (dumping) adalah sebuah aktivitas
perdagangan yang bertujuan untuk mencari keuntungan dengan
jalan menjual barang pada tingkat harga yang lebih rendah dari
harga yang berlaku di pasaran.52
Dalam sistem negara modern dewasa ini, semakin
dibutuhkannya campur tangan negara dalam mengontrol pasar
khususnya yang terkait dengan fluktuasi harga barang dan regulasi
pasar. Kebutuhan akan peran pemerintah semakin diperlukan
sebagai akibat dari meningkatnya ketidakadilan para pelaku pasar
bebas yang berujung pada adanya permainan harga yang di atur
oleh segelintir orang saja. Jadi ketika adanya praktik ihtikar, lalu
seiring dengan berjalannya waktu barang di pasar akan menjadi
langka, dan ketika barang langka sedangkan permintaan masih
tetap banyak maka harga pun akan menjadi mahal, ketika inilah
praktik dumping harga itu dilarang, ketika pedagang lain menjual
dengan harga yang lumayan tinggi sesuai pasaran karena susah
untuk menemukan barangnya, tapi ada segelintir pedagang yang
menjual nya dengan harga rendah, atau dibawah harga pasaran
karena memiliki banyak stok. Contohnya, seperti penimbunan
barang-barang kebutuhan pokok, khususnya pada saat permintaan
barang meningkat di hari-hari besar umat Islam atau tahun baru

51
Rif’at Al-Audi, Min Al-Turats Al-Ikhtishad Li Al-Muslimin, hlm. 289. Lihat juga dalam Alwi
Bahari, “Pemikiran Yahya bin Umar tentang Siyasah al-Ighraq dalam kitab Ahkam al-Suq”,
Skripsi
52
Moh Subhan, Relevansi Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar dalam Perspektif Ekonomi
Modern, Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. 1, No I, Juni 2017, hlm. 90
25

dan lain-lain. Tidak mengherankan jika pada hari-hari besar


tersebut terjadi kenaikan harga barang secara tiba-tiba, atau
bahkan stok habis dari peredaran.53
Demikianlah etika pasar dalam Islam, yang tidak hanya
ditujukan kepada pelaku bisnis saja, baik itu pedagang ataupun
pembeli saja, melainkan juga bagi pembenahan sistem secara
menyeluruh. Lebih jelasnya etika pasar dalam Islam ini
menghendaki pembenahan sistem dan kerjasama antara semua
unsur baik pelaku bisnis, masyarakat dan pemerintah.54
c. Tas’ir (Regulasi Harga)
Adam Smith pun mengatakan dalam “The Wealth of Nation”
mensyaratkan adanya kebebasan dalam usaha,55 sama hal nya
dengan tas’ir yang juga merupakan indikasi dari kebebasan dalam
pasar, bahwa harga dibiarkan berjalan dengan sendirinya, tanpa
adanya intervensi dari pemerintah.
Dalam hal ini, teori barat pun menjelaskan bahwa harga
dibiarkan terjadi secara alami mengikuti Mekanisme pasar, yang di
dalam prosesnya dapat dipengaruhi oleh berbagai hal di antaranya
adalah permintaan dan penawaran. Begitupun dengan pemikiran
Yahya bin Umar, yang jauh sebelum Adam Smith ini mengatakan
bahwa harga terbentuk dari mekanisme pasar, dan
mengindikasikan hukum asal dari intervensi pemerintah terhadap
harga di pasar ialah haram, selama tidak ada sesuatu yang
mendesak.
Meskipun Adam Smith ini lebih menyukai perdagangan bebas,
dia berpikir bahwa itu tidak seharusnya didasarkan pada
kepentingan pribadi bangsa tetapi pada simpatisan dan

53
Moh Subhan, Relevansi Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar dalam Perspektif Ekonomi
Modern, Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. 1, No I, Juni 2017, hlm. 91
54
Moh Subhan, Relevansi Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar dalam Perspektif Ekonomi
Modern, Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. 1, No I, Juni 2017, hlm. 92
55
Sentot Imam Wahjono dan Anna Marina, Kebijakan anti Monopoli dalam Perekonomian
Indonesia, Jurnal Balance, Vol III, No I, 2009, hlm. 03
26

persahabatan56. Disini menunjukan bahwa perdagangan bebas yang


dimaksud Adam Smith bukan perdagangan bebas yang
mendatangkan kemadharatan, atau bahkan perpecahan, sama
halnya dengan Yahya bin Umar dalam kitab nya Ahkam as-Suq
bahwa larangan tas’ir ini mengindikasikan bahwa beliau juga
mendukung adanya kebebasan pasar, namun kebebasan yang
didalamnya tetap diatur atau sesuai dengan hukum syari’ah, yaitu
tidak boleh hingga menimbulkan kemadharatan, yang mana jika
terjadi kerusakan pada mekanisme pasar itu, maka pemerintah lah
yang berhak turun secara langsung untuk memperbaiki masalah
yang terjadi.

56
Mats Forsgren and Mo Yamin, A Commentary on Adam Smithand International Business, The
Multinational Business Journal, Vol 18, No 1, hlm. 107
27

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

JURNAL
Forsgren, Mats., and Yamin, Mo. “A Commentary on Adam Smithand
International Business”. The Multinational Business Journal, Vol 18, No 1.
Subhan, Moh. 2017. “Relevansi Pemikiran Ekonomi Yahya bin Umar dalam
Perspektif Ekonomi Modern”. Jurnal Ekonomi Syariah. Vol. 1, No. 2:209.
Qusthoniyah. 2014. “Tas’ir al-Jabari (Penetapan Harga oleh Negara) Dalam
Koridor Fiqh Dengan Mempertimbangkan Realitas Ekonomi”. Jurnal
Syari’ah, Vol. II, No. II.
Wahjono, Sentot Imam., dan Marina, Anna. 2009. “Kebijakan anti Monopoli
dalam Perekonomian Indonesia”, Jurnal Balance. Vol III, No I.
V.I. Lenin. 1964. Imperialism,The Highest Stage of Capitalism: A Popular
Outline. Moscow: Progress Publishers.

BUKU
Al-‘Aududi, Rif’at. 1985. Min al-Tturats: al-Iqtishad Li al-Muslimin. Makkah:
Rabithah ‘Alam al-Islami.
Al-Janidal, Hammad bin Abdurrahman. 1460 H. Manahij al-Bahitsin fi al-Iqtishad
al-Islami. Riyadh: Syirkah al-Ubaikan li al-Thaba’ah wa al-Nasyrhlm.
Alwi Bahari. Pemikiran Yahya bin Umar tentang Siyasah al-Ighraq dalam
kitab Ahkam al-Suq. ParePare : Sekolah Tinggi Agama Islam
Amalia, Euis. 2010. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Depok: Gramata
Publishing.
Chamid, Nur. 2010. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Jaelani, Aan. 2013. Institusi Pasar dan Hisbah: Teori Pasar dalam Sejarah
Pemikiran Ekonomi Islam. Cirebon: Syari’ah Nurjati Pess.
Karim, Adiwarman Azwar. 2017. Ekonomi Mikro Islami Ed. 5 Cet. Ke-9. Depok:
PT Raja Grafindo Persada.
Karim, Adiwarman Azwar. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Edisi 3, Cet. Ke-5.
Depok: PT RajaGrafindo Persada.

28
29

Khan, Muhammad Akram, ed. Economic Teachings of Prophet Muhammad


(pbuh): A Select Anthology of Hadith Literature on Economic. Karachi: Dar
al-Ishat.
Krugman, Paul R., dan Maurice Obstfeld. 1991. International Economics: Theory
and Policy Ed. 2.. New York: HarperCollins Publishers Inc.
Mannan, M. Abdul. 1992. Ekonomi Islam Teori dan Praktek. Jakarta: PT
Intermasa.
Rinaldy, Eddy. 2000. Kamus Istilah Perdagangan Internasional. Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada.
Ulum, Fahrur. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Analisis Pemikiran Tokoh dari
Masa Rasulullah Saw. Hingga Masa Kontemporer). Surabaya: UIN Sunan
Ampel).
Usman, Rahmadi. 2004. Hukum Persaingan Usaha di Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
PLAGIARISMA

30