Anda di halaman 1dari 20

Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

PERCOBAAN 3.1
Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Bahan Baku dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

I. Tujuan Percobaan
1.1.Melakukan analisis kualitatif bahan baku dengan metode Kromatografi Cair
Kinerja Tinggi
1.2.Melakukan analisis kuantitatif bahan baku dengan metode Kromatografi Cair
Kinerja Tinggi
1.3.Menyimpulkan mutu bahan baku dengan data kromatogram dan hasil penetapan
kadar

II. Teori
Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas
perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantarany dua fase, yaitu
fase diam (stationary) dan fase bergerak (mobile). Fase diam dapat berupa zat padat
atau zat cair, sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau gas. Dalam
kromatografi fase bergerak dapat berupa gas atau zat cair dan fase diam dapat
berupa zat padat atau zat cair (Acun, dkk, 2010).
Banyaknya macam-macam kromatografi yang salah satunya adalah
kromatografi gas, yang merupaka metode kromatografi pertama yang
dikembangkan pada zaman instrumen dan elektronika. Kromatografi gas dapat
dipakai untuk setiap campuran dimana semua komponennya mempunyai tekanan
uap yang berarti, suhu tekanan uap yang dipakai untuk proses pemisahan. Tekanan
uap atau keatsirian memungkinkan komponen menguap dan bergerak bersama-
sama dengan fase gerak yang berupa gas (Acun, dkk, 2010).
Kromatografi gas metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan
campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa
detik untuk campuran yang sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang
mengandung 500-1000 komponen. Metode ini sangat baik untuk analisis senyawa
organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan eter. Analisis minyak

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 1 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

mentah dan atsiri dalam buah telah dengan sukses dilakukan dengan tehnik ini.
Efisien pemisahan ditentukan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel
dan cairan, dengan menggunakan fase cair standar yang diketahui efektif untuk
berbagai senyawa (Acun, dkk, 2010).
Prinsip dasar dari HPLC, dan semua metode kromatografi adalah
memisahkan setiap komponen dalam sample untuk selanjutnya diidentifikasi
(kualitatif) dan dihitung berapa konsentrasi dari masing-masing komponen tersebut
(kuantitatif). Analisa kualitatif bertujuan untuk mengetahui informasi tentang
identitas kimia dari analat dalam suatu sample. Sedangkan analisa kuantitaif untuk
mengetahui jumlah dan konsentrasi analat tersebut dalam sample (Riyadi, 2009).
Teknik HPLC merupakan satu teknik kromatografi cair- cair yang dapat
digunakan baik untuk keperluan pemisahan maupun analisis kuantitatif. Analisis
kuantitatif dengan teknik HPLC didasarkan kepada pengukuran luas atau area
puncak analit dalam kromatogram, dibandingkan dengan luas atau area larutan
standar. Pada prakteknya, perbandingan kurang menghasilkan data yang akurat bila
hanya melibatkan satu standar, oleh karena itu maka perbandingan dilakukan
dengan menggunakan teknik kurva kalibrasi (Cupritabu, 2010).
Menurut Adnan (1997), komponen utama HPLC adalah :
a. Reservoir pelarut : zat pelarut yang dipakai polaritasnya dapat bervariasi
tergantung dari senyawa yang dianalisis, yang perlu diperhatikan adalah bahwa
tempat pelrut tersebut harus memungkinkan untuk proses menghilangkan gas
atau udara yang ada dalam pelarut
b. Pompa : digunakan untuk mengalirkan pelarut sebagai fase mobile dengan
kecepatan dan tekanan yang tetap
c. Injektor : saat sampel diinjeksikan ke dalam kolom, diharapkan agar pelarut
tidak mengganggu masuknya keseluruhan sampel ke dalam kolom. Injeksi
dapat menggunakan syringe.
d. Kolom krmatografi : kolom yang dipakai memiliki panjang 10 – 25 cm dan
diameter 4,5 – 5 mm yang diisi dengan fase stasioner beukuran 5-10
mikrometer dan terbuat dari logam atau stainlessteel.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 2 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

e. Detektor : digunakan untuk mendeteksi sampel. Detektor dibutuhkan untuk


mempunyai sinsitivitas yang tinggi, linear untuk jangka konsentrasi tertentu
dan dapat mendekati eluen tanpa mempengaruhi resolusi kromatografi.
Saat ini, HPLC atau KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara
luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel pada
sejumlah bidang, antara lain : farmasi; lingkungan; bioteknologi; polimer; dan
industri- industri makanan. Kegunaan umum HPLC adalah untuk: pemisahan
sejumlah senyawa organik, anorganik, maupun senyawa biologis ; analisis
ketidakmurnian (impurities); analisis senyawa- senyawa mudah menguap
(volatile); penentuan molekul- molekul netral, ionic, maupun zwitter ion; isolasi
dan pemurnian senyawa; pemisahan senyawa-senyawa yang strukturnya
hamper sama; pemisahan senyawa- senyawa dengan jumlah sekelumit (trace
elements), dalam jumlah yang banyak, dan dalam skala proses industry, HPLC
merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik untuk
analisis kualitatif maupun kuantitatif (Cupritabu, 2010).
Menurut Khopkar (1990), zat dengan kepolaran berbeda dapat dipisahkan
dengan HPLC berdasarkan partisi cair-cair. Prinsip HPLC menggunakan prinsip
kromatografi adsorbsi dan banyak digunakan dalam industi farmasi dan pestisida.
Prinsip umum kromatografi:
Keterangan :
1. Fase gerak
2. Fase diam
3. Kolom
4. Detektor
5. Rekorder
HPLC sering digunakan antara lain untuk menetapkan kadar senyawa aktif
pada obat, produk hasil samping proses sintesis, atau produk- produk degradasi
dalam sediaan farmasi. Keterbatasan metode HPLC ini adalah untuk identifikasi
senyawa, kecuali jika HPLC dihubungkan dengan spektometer massa (MS).
Keterbatasan lainnya adalah sampel sangat kompleks maka resolusi yang baik sulit
diperoleh (Cupritabu, 2010).

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 3 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

Berat molekul : 151.16


Rumus empiris : C8H9NO2
(Metabolisme) : Hati (Hepar)
Golongan hamil (farmasi) : B (AS) A (Aus)

Parasetamol adalah senyawa yang memiliki sifat polar dan gugus kromofor
yang dimilikinya mnyebabkan senyawa ini dapat menyerap sinar UV. Karakteristik
senyawa ini memungkinkan analisis dengan teknik HPLC menggunakan kolom
nonpolar seperti C-18 dan fasa gerak polar seperti methanol/ air. Parasetamol
diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi plasma
dicapai dalam waktu ½ jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar
ke seluruh tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat protein plasma.
Parasetamol digunakan sebagai analgesic dan antipiretik (Cupritabu, 2010).
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretikyang
populer dan dipakai untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan,
serta demam. Dipakai dalam sebagian besar resep obat analgesik selesma dan flu.
Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat patut
sengaja atau tidak sengaja sering terjadi.
Berlainan dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen,
parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam
obat macam NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan
dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal, atau duktus arteriosus
pada janin.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 4 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

Struktur metanol

Berikut beberapa sifat fisika dari metanol


Titik leleh : - 97 degC
Titik didih : 65 degC
Massa jenis : 0.8
Metanol atau diaebut juga metil alkohol adalah senyawa paling sederhana
dari gugus alifatis/rantai terbuka alkohol dan merupakan senyawa pertama dari
senyawa yang termasuk deret homolog alkohol.
Metanol adalah cairan bening tak berwarna, sangat mirip dengan air dan
merupakan pelarut senyawa organik dan metanol sangat hidroskopis. Hidroskopis
adalah sifat suatu zat yang dapat menarik molekul air dari udara sehingga metanol
harus ditutup rapat agar tetap murni.
Metanol memiliki bau yang menyenangkan dan memiliki rasa seperti
terbakar. Metanol sangat berbahaya bagi syaraf karena merupakan salah satu racun
syaraf.

Air, zat yang terdiri dari unsur-unsur kimia hidrogen dan oksigen dan ada
dalam bentuk gas, cair, dan padat. Air adalah salah satu senyawa yang paling

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 5 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

berlimpah dan penting. Air merupakan sebuah cairan hambar dan tidak berbau pada
suhu kamar, Air memiliki kemampuan penting untuk melarutkan banyak zat
lainnya. Memang, fleksibilitas air sebagai pelarut sangat penting untuk organisme
hidup. Hidup diyakini berasal dari larutan air dari lautan di dunia, dan organisme
hidup tergantung pada air, seperti darah dan pencernaan, untuk proses biologis.
Dalam jumlah kecil air tidak berwarna, tapi air sebenarnya memiliki warna biru
intrinsik yang disebabkan oleh sedikit penyerapan cahaya pada panjang gelombang
merah.

III. Data Fisik dan Kimia


3.1 Paracetamol / Acetominofen
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan NaOH 1N, mudah larut dalam
etanol.
Titik leleh : 170oC
Berat molekul : 151,16 g/mol
Bobot jenis : 1,293 g/cm3
pH larutan : 5-7 (Dirjen POM, 1995 : 649).
Tidak menyebabkan karsinogenik, mutagenik, dan teratogenik.
3.2 Metanol
Pemerian : Cairan berbau alkohol, tidak berwarna, tidak berasa.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air
Titik didih : 64,5oC
Titik leleh : 97,8oC (Dirjen POM, 1995 : 1176).
Mudah terbakar, dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, inflamasi, teratogenik.
3.3 Aqua Pro Injeksi
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau (Dirjen POM, 1979
:97).
Kelarutan : Larut dalam kebanyakan pelarut polar (Rowe et al, 2009 : 776).
Stabilitas : Stabil disegala bentuk es, cair, gas/uap (Rowe, 2009 : 776).

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 6 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

IV. Alat dan Bahan


Alat Bahan
Gelas ukur Aqua Pro Injeksi
HPLC agilent Baku pembanding parasetamol
Membran filter PTFE 0,45μm Metanol pro HPLC
Pipet Volume Tablet Parasetamol
Labu takar

V. Prosedur
Sistem Kromatografi
Fase diam : ODS, Packing l1
Fase gerak : air:methanol = 3:1 (v/v)
Laju alir : 1.5ml/menit
Lempeng teoretis : 1000
Tailing factor : maksimal 2
Detector : UV 243 nm
5.1. Uji Kesesuaian
Pengujian dilakukan dengan menginjeksikan larutan standar ke dalam
instrument KCKT berturut – turut. Kemudian, diamati dan dihitung luas area
standar, waktu retensi, factor ikutan nilai simpangan baku relatifnya.
5.2. Analisis Kualitatif
5.2.1. Larutan Standar
25mg bahan baku pembanding parasetamol ditimbang, kemudian
dimasukan ke dalam labu takar 50ml. setelah ditimbang, parasetamol diencerkan
dengan fase gerak hingga memenuhi tanda batas. Larutan dikocok hingga homogen,
lalu dipipet 1.0ml ke dalam labu takar 10ml. larutan kemudian diencerkan dengan
fase gerak hingga tanda batas. Kemudian larutan disaring dengan membran filter
PTFE berukuran 0.45µm.
5.2.2. Larutan uji
25mg bahan baku parasetamol ditimbang, kemudian dimasukan ke dalam
labu takar 50ml. setelah ditimbang, parasetamol diencerkan dengan fase gerak

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 7 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

hingga memenuhi tanda batas. Larutan dikocok hingga homogen, lalu dipipet 1.0ml
ke dalam labu takar 10ml. larutan kemudian diencerkan dengan fase gerak hingga
tanda batas. Kemudian larutan disaring dengan membran filter PTFE berukuran
0.45µm.
Setelah membuat larutan standar dan larutan uji, larutan diinjeksikan
kedalam alat KCKT. Kromatogram yang terbentuk direkam, dan dibandingkan
antara hasil kromatogram larutan uji dan larutan standar.
5.3.Analisis Kuantitatif
5.3.1. Larutan Standar
25mg bahan baku pembanding parasetamol ditimbang, kemudian
dimasukan ke dalam labu takar 50ml. setelah ditimbang, parasetamol diencerkan
dengan fase gerak hingga memenuhi tanda batas. Larutan dikocok hingga homogen,
kemudian dibuatlah serangkaian pengenceran larutan standar untuk pembuatan
kurva kalibrasi. Larutan dipipet masing masing 0.2;0.4;0.6;0.8;1.0;1.2 ml dan
dimasukan ke dalam labu takar 10ml. larutan kemudian diencerkan dengan fase
gerak hingga tanda batas. Kemudian larutan disaring dengan membran filter PTFE
berukuran 0.45µm.
5.3.2. Larutan uji
25mg bahan baku parasetamol ditimbang, kemudian dimasukan ke dalam
labu takar 50ml. setelah ditimbang, parasetamol diencerkan dengan fase gerak
hingga memenuhi tanda batas. Larutan dikocok hingga homogen, lalu dipipet 1.0ml
ke dalam labu takar 10ml. larutan kemudian diencerkan dengan fase gerak hingga
tanda batas. Kemudian larutan disaring dengan membran filter PTFE berukuran
0.45µm.
5.4. Kurva Kalibrasi
Masing – masing konsentrasi larutan standar dan larutan uji diinjeksikan ke dalam
alat KCKT. Kemudian dicatat luas area kromatogram masing – masing larutan
standar dan larutan uji. Kadar larutan sampel dihitung menggunakan kurva
kalibrasi.
5.5.One Point

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 8 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

Luas area kromatogram diambil dari salah satu pembanding, kemudian dihitung
kadar larutan sampel dengan menggunakan metode one point
𝐿𝑈
𝐶𝑢 = 𝑥 𝐶𝑠
𝐿𝑆
Cu = Konsentrasi Larutan uji
Lu = Luas Area Kromatogram Larutan Standar
Ls = Luas Area Kromatogram Larutan Uji
Cs = Konsentrasi Larutan Standar

VI. Hasil Pengamatan dan Perhitungan


6.1. Pengamatan
6.1.1. Sistem Kromatografi
Fase diam : ODS, packing L1
Fase gerak : Metanol : Air (3:1) dibuat 200 mL maka:
1
Air (aqua pro injection) = 4 × 200 𝑚𝐿 = 150 𝑚𝐿
3
Metanol (pro HPLC) = × 200 𝑚𝐿 = 50 𝑚𝐿
4

Lempeng teoritis : 1000


Tailing factor : max 2
Detektor : UV 243 nm

6.1.2. Uji Kesesuaian Sistem


Tabel Uji Kesesuaian Sistem
Penyuntikan Waktu retensi Luas area
1 3,547 4313387
2 3,477 4276936
3 3,437 4212435
4 3,420 4199734
5 3,400 4297061
6 3,390 4181391

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 9 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

7 3,373 4334927
Rata-rata 3,434857143 4259410114
SD 0,050042841 60822105227
SBR / RSD 1,74804 % 1,42794 %

6.1.3. Analisis Kualitatif


a. Larutan Standar
Massa baku pembanding Paracetamol = 25,3 mg
Volume yang dibuat 50 ml
25,3 𝑚𝑔
Konsentrasi = × 1000 𝑚𝑙 = 506 ppm
50 𝑚𝑙

Pengenceran: V1 × N1 = V2 × N2
10 ml × N1 = 1 ml × 506 ppm
N1 = 50,6 ppm
b. Larutan Uji
Massa bahan baku Paracetamol = 25 mg
Volume yang dibuat 50 ml
25 𝑚𝑔
Konsentrasi = × 1000 𝑚𝑙 = 500 ppm
50 𝑚𝑙

Pengenceran: V1 × N1 = V2 × N2
10 ml × N1 = 1 ml × 500 ppm
N1 = 50 ppm
6.1.4. Analisis Kualitatif
a. Larutan Standar
Massa baku pembanding Parasetamol = 25,3 mg
Volume yang dibuat 50 ml
25,3 𝑚𝑔
Konsentrasi = × 1000 𝑚𝑙 = 506 ppm
50 𝑚𝑙

b. Pengenceran Larutan Standar


1. V1 × N1 = V2 × N2
10 ml × N1 = 0,2 ml × 506 ppm
N1 = 10,12 ppm
2. V1 × N1 = V2 × N2

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 10 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

10 ml × N1 = 0,4 ml × 506 ppm


N1 = 20,24 ppm
3. V1 × N1 = V2 × N2
10 ml × N1 = 0,6 ml × 506 ppm
N1 = 30,36 ppm
4. V1 × N1 = V2 × N2
10 ml × N1 = 0,8 ml × 506 ppm
N1 = 40,48 ppm
5. V1 × N1 = V2 × N2
10 ml × N1 = 1 ml × 506 ppm
N1 = 50,6 ppm
6. V1 × N1 = V2 × N2
10 ml × N1 = 1,2 ml × 506 ppm
N1 = 60,72 ppm
c. Larutan Uji
Massa bahan baku Paracetamol = 25 mg
Volume yang dibuat 50 ml
25 𝑚𝑔
Konsentrasi = × 1000 𝑚𝑙 = 500 ppm
50 𝑚𝑙

Pengenceran: V1 × N1 = V2 × N2
10 ml × N1 = 1 ml × 500 ppm
N1 = 50 ppm
6.2. Perhitungan
6.2.1. Analisis Kuantitatif
Tabel Hasil Kromatogram Uji dan Standar
Sampel Waktu retensi Luas area
Uji 3,320 41582200
Standar 3,434857143 4259410114

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 11 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

6.2.2. Cara Kurva Kalbrasi


Tabel Kurva Kalibrasi

Konsentrasi (x) Luas area (y)


ppm
10,12 ppm 8524173
20,24 ppm 16529083
30,36 ppm 23822539
a = 660494,4
40,48 ppm 32601905
b = 776183,6279
50,6 ppm 39423033 r = 0,999642109
60,72 ppm 48016778

Kurva Kalibrasi Konsentrasi terhadap Luas Area


60000000
48016778
50000000 39423033
40000000 32601905
30000000 23822539
16529083
20000000
8524173
10000000
0
0 10 20 30 40 50 60 70

6.2.3. Perhitungan Kadar dengan Metode Kurva Kalibrasi


𝑦 = b𝑥 + a
41582200 = 776183,6279 𝑥 + 660494,4
41582200 - 660494,4= 776183,6279 𝑥
40921705,6
𝑥 = 776183,6279

𝑥 = 52,72168096 ppm
52,72168096 ppm
% Kadar Paracetamol = x 100% = 105,4433619%
50 ppm

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 12 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

6.2.4. Perhitungan Kadar dengan Metode One Point


𝐿𝑢
Cu = × Cs
𝐿𝑠
41582200
Cu = 39423033 × 50,6 ppm

Cu = 53,37132026 ppm
53,37132026 ppm
% Kadar Paracetamol = x 100% = 106,7426%
50 ppm

VII. Pembahasan
Pada percobaan kali ini dilakukukan analis kualitatif dan kuantitatif bahan
baku dengan metode KCKT dengan prinsipnya yaitu, pemisahan komponen analit
berdasarkan kepolarannya, artinya komponen pada suatu analit (sampel) akan
terpisah berdasarkan sifat kepolaran masing-masing komponen dalam sampel,
apakah kepolarannya lebih mirip dengan fasa diam, maka dia akan tertinggal di fasa
diam atau bergerak lebih lambat, ataukah kepolarannya lebih mirip dengan fasa
gerak sehingga dia akan bergerak terdistribusi lebih jauh dan lebih cepat.
Sedangkan untuk prinsip kerja dari alat KCT tersebut adalah ketika suatu sampel
yang akan diuji diinjeksikan ke dalam kolom maka sampel tersebut kemudian akan
terurai dan terpisah menjadi senyawa-senyawa kimia (analit) sesuai dengan
perbedaan afinitasnya. Cairan yang akan dipisahkan merupakan fasa cair dan zat
padatnya merupakan fasa diam (stasioner).
Fasa gerak dalam KCKT adalah berupa zat cair dan disebut juga eluen atau
pelarut. Fasa gerak yang digunakan adalah air dan metanol dengan perbandingan
3:1 yang bersifat lebih polar, sedangkan fase diamnya berupa ODS besifat lebih
nonpolar. Hal ini disebabkan karena senyawa yang dianalisis yaitu paracetamol
bersifat lebih polar. Molekul polar dalam campuran itu akan menghabiskan
sebagian besar waktu mereka bergerak dengan pelarut. Senyawa non-polar dalam
campuran akan cenderung membentuk atraksi dengan gugus hidrokarbon karena
gaya dispersi van der Waals. Mereka juga akan kurang larut dalam pelarut karena
membutuhkan pemutusan ikatan hydrogen sebagaimana halnya di antara molekul-

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 13 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

molekul air atau metanol. Maka jenis teknik kromatografi yang digunakan adalah
kromatografi fase balik.
Pada KCKT fasa gerak selain berfungsi membawa komponen-komponen
campuran menuju detector, fasa gerak dapat berinteraksi dengan solut-solut. Oleh
karena itu, fasa gerak dalam KCKT merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan proses pemisahan. Fase gerak sebelum digunakan harus disaring
terlebih dahulu untuk menghindari adanya partikel-partikel kecil . Selain itu,
adanya gas dalam fase gerak juga harus dihilangkan, sebab adanya gas akan
berkumpul dengan komponen lain terutama di pompa dan detektor sehingga akan
mengacaukan analisis.
Sebelum melakukan analisis setiap hari, seorang analis harus memastikan
bahwa sistem dan prosedur yang digunakan harus mampu memberikan data yang
dapat diterima. Hal ini dilakukan dengan percobaan kesesuaian system yang
didefinisikan sebagai serangkaian uji untuk menjamin bahwa metode tersebut dapat
menghasilkan akurasi dan presisi yang dapat diterima. Uji kesesuaian system
ditujukan utk memastikan efektivitas sistem operasional dari sistem kromatografi
sebelum digunakan utk analisis (terutama analisis kuantitatif).
Farmakope Amerika (United States Pharmacopeia, USP) menentukan
parameter-parameter yang dapat digunakan untuk menetapkan kesesuaian sistem
sebelum dianalisis. Parameter-parameter yang dapat digunakan meliputi: bilangan
lempeng teori (N), factor tailing, kapasitas (k’ atau ) dan α nilai standar deviasi
relative (RSD) tinggi puncak dan luas puncak dari serangkaian injeksi. Uji
kesesuaian system dinyatakan memenuhi syarat apabila nilai Simpangan Baku
Relatif (SBR) < 2,0%. Dalam pengujian yang kami lakukan diperoleh nilai SBR
1,74804% dan 1,42794% menunjukan bahwa system yang digunakan tidak
memenuhi syarat, karena waktu retensinya < 2,0%.
Faktor tailing adalah ukuran tailing puncak. Didefinisikan sebagai jarak dari
kemiringan depan puncak ke kemiringan belakang dibagi dua kali jarak dari garis
tengah puncak ke kemiringan depan, dengan semua pengukuran dilakukan pada 5%
dari ketinggian puncak maksimum. Faktor tailing dari puncak biasanya akan mirip

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 14 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

dengan faktor asimetri untuk puncak yang sama, tetapi dua nilai tidak dapat
dikonversi secara langsung.

Gambar 1. Tailing Faktor


Adsorbsi adalah peristiwa penyerapan atau pengayaan (enrichment) bahan
dari suatu komponen campuran gas/cairdi daerah antar fasa dimana bahan yang
akan dipisahkan ditarik oleh permukaan zat padat. Bahan penyerap berupa zat
padat, penyerap hanya dipermukaan zat penyerap. Pada peristiwa adsorbsi,
komponenakan berada di daerah antar muka, tetapi tidak masuk ke dalam fase.
Komponen yang terserap disebut adsorbat (adsorbate), sedangkan daerah tempat
terjadinya penyerapan disebut adsorben (substrate). Ada dua jenis adsorbs
berdasarkan penyerapannya, yaitu: (kipling,1965).
Proses adsorbsi dapat digambarkan sebagai proses dimana molekul
meninggalkan larutan dan menempel pada permukaan zat adsorben akibat
kimiadanfisika (Reynolds,1982).
Proses adsorpsi tergantung pada sifat zat padat yang mengadsorpsi,
sifatatom/molekul yang diserap, konsentrasi, temperatur dan lain-lain. Pada
prosesadsorpsi terbagi menjadi 4 tahap yaitu :
1. Transfer molekul-molekul zat terlarutyang teradsorpsi menuju lapisan filmyang
mengelilingi adsorben.
2. Difusi zat terlarut yang teradsorpsi melalui lapisan film (film diffusionprocess).
3. Difusi zat terlarut yang teradsopsi melalui kapiler/pori dalam adsorben
(porediffusion process).

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 15 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

4. Adsorpsi zat terlarut yang teradsorpsi pada dinding pori atau


permukaanadsorben(proses adsorpsi sebenarnya), (Reynolds, 1982).
Mekanisme kromatografi partisi adalah pemisahan terjadi berdasarkan pada
partisi analit dalam dua cairan yang tak bercampur yaitu fase gerak cair dan fase
diam cair yang terikat pada penyangga kolom. Pemisahan terjadi karena adanya
perbedaan kelarutan komponen sampel dalam kedua fase cair tersebut. Dikenal dua
jenis teknik kromatografi partisi yaitu:
1. Kromatografi fase normal dimana digunakan fse gerak bersifat non polar dan
fase diamnya bersifat polar. Sampel yang kurang polar akan terelusi lebih awal.
2. Kromatografi fase balik, dimana digunakan fase gerak bersifat polar dan fse
diamnya bersifat kurang polar. Sampel yang sangat polar akan terelusi lebih
awal. Teknik ini banyak digunakan (lebih dari 90%) dibandingkan teknik
kromatografi lainnya.
Analisis yang dilakukan dalam percobaan ini adalah analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan membandingkan waktu
retensi larutan uji dengan waktu retensi larutan standar. Waktu retensi adalah waktu
yang diperlukan sampel untuk keluar kolom. Sedangkan, analisis kuantitatif
dilakukan dengan menghitung konsentrasi sampel berdasarkan luas area puncak
kromatogram dengan menggunakan metode kurva yang menghitungan konsentrasi
dengan menggunakan persamaan garis y = bx + a serta metode one point.
Pengujian kualitatif parasetamol menggunakan teknik HPLC, dalam proses
analisisnya HPLC memiliki beberapa tahapan. Diawali dengan menginjeksikan
sampel uji dan standar yaitu larutan yang sebelumnya telah disaring dengan
membran PTFE ke dalam kolom HPLC dengan injector khusus yang bervolume 20
µL, penyaringan sebelum penginjeksian ini dilakukan agar tidak terjadi
penyumbatan didalam kolom dan menghilangkan gas dari pelarutnya. Larutan
didorong cepat saat melalui kolom dengan bantuan pompa bertekanan tinggi.
Komponen akan keluar dari kolom dengan kecepatan yang berbeda dan terdeteksi
oleh detektor. Detektor yang digunakan adalah detektor UV karena parasetamol
merupakan senyawa organik yang dapat menyerap sinar UV karena memiliki gugus
kromofor pada strukturnya.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 16 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

Pengujian ini menggunakan panjang gelombang 243 nm dengan


mempertimbangkan panjang gelombang methanol yaitu 205 nm dan air yaitu 190
nm. Selanjutnya hasil analisis dengan HPLC ini menghasilkan suatu citra berupa
kromatogram. Kromatogram merupakan grafik antara intensitas komponen yang
dibawa oleh fasa gerak terhadap waktu retensi . Tampilan kromatogram yang baik
berupa grafik lurus, lancip, dan simetris.
Sampel melewati kolom HPLC tentunya memiliki jangka waktu yang
terukur dan juga menjadi parameter, waktu yang dibutuhkan sampel untuk melewati
kolom ini disebut waktu retensi. Kromatogram yang dihasilkan dari setiap
konsentrasi larutan standar diperoleh waktu retensi dan luas area kromatogram.
Analisis kualitatif dilakukan dengan menentukan waktu retensi dan luas area
kromatogram larutan sampel/uji. Waktu retensi larutan uji adalah 3.320 dengan luas
area 41582200. Kemudian dibandingkan dengan waktu retensi pada larutan standar.
Adanya kesamaan waktu retensi yaitu pada 3,434857143 dengan luas area
4259410114 yang menunjukan larutan uji benar mengandung paracetamol, karena
waktu retensi uji dan standar sama pada sekitar 3.
Setelah analisis kualitatif, selanjutnya dilakukan analisis kuantitatif yang
bertujuan untuk menentukan kadar dari paracetamol dengan cara kurva kalibrasi
dan cara one point. Untuk cara kurva kalibrasi perhitungan kadar dilakukan dengan
persamaan garis y = bx + a.
y : luas area yang didapat setelah sampel diinjeksikan ke alat KCKT, y yang dipilih
adalah y pada konsentrasi 41582200
b : didapat dari persamaan regresi yaitu 776183.6279
x : konsentrasi dari larutan standar yaitu 52,72168096
a : didapat dari persamaan regresi yaitu 660494.4
Dari data diatas didapat x adalah 52,72168096 ppm. Setelah data x didapat
maka dapat dihitung kadar dari paracetamol adalah 105.4433619%. Untuk
penentuan kadar paracetamol dengan cara one point kadar yang didapat adalah
106.7426405%. Berdasarkan literatur dari farmakope, Parcetamol mengandung
tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 101 %. Dari kedua cara diatas, metode
kurva kalibrasi lebih baik daripada metode one point. Dapat dilihat dari hasil

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 17 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

perhitungan kadar, dimana cara kurva kalibrasi hasilnya lebih mendekati


konsentrasi sesuai literatur dibandingkan dengan cara one point, tetapi hasil yang
diperoleh tidak melebihi syarat karena rentangnya lebih dari 101%.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 18 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

VIII. Kesimpulan
Analisis kualitatif bahan baku parasetamol dapat dilakukan dengan
menggunakan metode kromatografi cair kinerja tinggi. Semakin besar nilai luas
area maka semakin besar pula konsentrasi sampel.
Prinsip metode kromatografi cair kinerja tinggi adalah memisahkan setiap
komponen dalam sample untuk selanjutnya diidentifikasi (kualitatif) dan dihitung
berapa konsentrasi dari masing-masing komponen tersebut (kuantitatif). Analisa
kualitatif bertujuan untuk mengetahui informasi tentang identitas kimia dari analat
dalam suatu sample. Sedangkan analisa kuantitaif untuk mengetahui jumlah dan
konsentrasi analat tersebut dalam sampel.
Hasil analisis kuantitatif bahan baku paracetamol dengan menggunakan
kurva kalibrasi diperoleh %kadar paracetamol sebesar 105,4433619% hal tersebut
menyatakan bahwa %kadar paracetamol tidak memenuhi persyarat karena melebihi
rentang yang berada pada literature (farmakope) yaitu 98-100%.
Sedangkan hasil analisis kuantitatif bahan baku paracetamol dengan
menggunakan onepoint methode diperoleh %kadar paracetamol sebesar
106,7426405% hal tersebut menyatakan bahwa %kadar paracetamol tidak
memenuhi persyarat karena melebihi rentang yang berada pada literature
(farmakope) yaitu 98-100%.
Perbedaan %kadar yang diperoleh dengan literature dapat disebabkan
karena kesalahan praktikan dalam menimbang atau memipet konsentrasi, dapat
juga disebabkan bahan baku paracetamol dilaboratorium tidak murni lagi atau telah
terkontamiasi.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 19 dari 20
Laporan Praktikum Metode Analisis Instrumen 2018

IX. Daftar Pustaka


Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia
Edisi IV. Jakarta: Depkes RI.
Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. 1995. Farmakope
Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan R.I Jakarta
Gandjar, Gholib., dan Rohman, 2009. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka
Pelajar: Yogyakarta.
Johnson, E. L. and Steven son, R. 1978. Basic liquid chromatography.
Varian, California.
Lindsay, S. 1992. High performance liquid chrotomagraphy second edition,
John Wiley &Sons, Chischer, New York, Brisbane, Toronto, Singapore
Rowe, et al., (2009), Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition,
The Pharmaceutical Press, London.Rucker, G .1988. Instrumentelle
pharmazeutische Analytik : lehbuch zu spektroskop, chrotograph.u.
elektrochem.Analysemethoden/von G. Rucker. M. Neugebauer ; G.G. Wilems .
Stuttgart : Wiss. Verl – Ges., Germany.
Snyder, L. R and Kirkland J.J. 1979. Introduktion to modern liquid
chromatography. second edition. John Wiley & Sons.Inc NewYork, Chihester,
Briebane, Toronto, Singapore.
.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit B | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 20 dari 20