Anda di halaman 1dari 8

Wisnu Kristianto, dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

JUMLAH LEUKOSIT DAN RASIO HETEROFIL/LIMFOSIT (H/L) PADA BERBAGAI AYAM SENTUL PERIODE
PERTUMBUHAN

(LEUKOCYTES AND HETEROPHILE/LYMPHOCYTES RATIO (H/L) IN VARIOUS KINDS GROWING


PERIODE OF SENTUL CHICKEN)

Wisnu Kristianto, Ismoyowati, dan Diana Indrasanti


Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
Email: wisnukr92@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah leukosit dan rasio
heterofil/limfosit (H/L) pada berbagai ayam sentul periode pertumbuhan. Penelitian dilaksanakan
mulai tanggal 4 Oktober 2014 sampai dengan tanggal 4 Desember 2014, bertempat di Experimental
Farm, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan Laboratorium Patologi
Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Materi penelitian
menggunakan ayam Sentul periode pertumbuhan sebanyak 125 ekor. Metode penelitian adalah
eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), sebagai perlakuan adalah berbagai
ayam Sentul, terdiri atas : Sa (Sentul abu), Sb (Sentul batu), Sd (Sentul debu), Se (Sentul emas), Sg
(Sentul Geni). Peubah yang diamati adalah jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa jumlah leukosit berkisar antara 6370 ± 956,2949 sel/µl sampai 8000 ±
2605,7628 sel/µl, dan rasio heterofil/limfosit H/L berkisar 0,8445 ± 0,3305 sampai 1,8340 ± 1,4913.
Data dianalisis dengan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukkan berbagai ayam Sentul
berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L).
Kesimpulan penelitian ini adalah berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan memiliki jumlah leukosit
dan rasio heterofil/limfosit (H/L) yang relatif sama.

Kata kunci : leukosit, rasio heterofil/limfosit (H/L), ayam Sentul

ABSTRACT
The aim of this research was to study the difference of number of leukocytes and
heterophile/lymphocytes ratio (H/L) in growing periode of Sentul chickens. Started in October 4th to
December 4th, 2014, took place in Experimental Farm, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman
University, Purwokerto, Central Java, and the Laboratory of Pathologycal Clinic, Faculty of Veterinary
Medicine, Gadjah Mada University, Yogyakarta. The material of this research was 125 of Sentul
Chickens in growing periode. The method was experimental, using competely randomized design, as
the treatments were various of Sentul chicken, which consisted : Sa (Sentul abu), Sb (Sentul batu), Sd
(Sentul debu), Se (Sentul emas), Sg (Sentul Geni). The observed variables was the number of
leukocytes and heterophile/lymphocytes ratio (H/L). Result showed that the number of leukocytes
ranged in 6370 ± 956,2949 sel/µl to 8000 ± 2605,7628 sel/µl, heterophile/lymphocytes ratio (H/L)
ranged in 0,8445 ± 0,3305 to 1,8340 ± 1,4913. The results analyzed using analysis of variance. The
result of analysis varianses showed, there was no significant effect of various Sentul chickens (P>0,05)
on the number of leukocytes and heteophile/lymphocytes ratio (H/L). The conclusions it, the varians
of Sentul chickens showed the number of leukocytes and heterophile/lymphocytes (H/L) relatively the
same.

Keywords : leukocytes, heterophile/lymphocytes (H/L), Sentul chickens.


Wisnu Kristianto, dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

PENDAHULUAN
Ayam Sentul merupakan ayam asli Kabupaten Ciamis yang hampir punah dan sekarang
dipelihara secara intensif oleh beberapa kelompok pecinta ayam sentul (Kurnia, 2011). Ciri khas ayam
Sentul adalah warna bulunya didominasi oleh warna abu-abu baik pada jantan maupun betina
(Nataamijaya dkk, 1993). Berdasarkan warna bulunya, ayam Sentul dapat digolongkan menjadi 5
macam jenis ayam Sentul di antaranya ayam Sentul geni, Sentul batu, Sentul kelabu, Sentul debu, dan
Sentul emas (meyliyana dkk, 2013).
Kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas ternak, dan
salah satu yang berpengaruh pada kesehatan tersebut adalah leukosit. Gambaran leukosit dari seekor
ternak dapat dijadikan sebagai salah satu indikator terhadap penyimpangan fungsi organ atau infeksi
agen infeksius, dan benda asing serta untuk menunjang diagnosa klinis (Frandson, 1992). Leukosit
berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap kuman-kuman penyakit yang menyerang tubuh dengan
cara fagosit, dan menghasilkan antibodi (Junguera, 1997). Peningkatan atau penurunan jumlah
leukosit dalam sirkulasi darah dapat diartikan sebagai hadirnya agen penyakit, peradangan, penyakit
autoimun atau reaksi alergi, untuk itu perlu diketahui gambaran normal leukosit pada setiap individu
(Nordenson, 2002).
Indikator ketahanan tubuh sebagai bentuk respon ayam terhadap faktor-faktor penyebab
cekaman dapat diketahui dari komponen darah seperti rasio heterofil/limfosit (H/L) (Widjajakusuma
dan Sikar, 1986). Mogement dan Youbicier-Simo (1998) menyatakan rasio H/L merupakan indikator
stres yang paling mudah diketahui secara dini. Kusnadi (2008) menyatakan semakin tinggi angka rasio
maka semakin tinggi pula tingkat cekaman sebagai bentuk stres pada unggas.
Menurut Dellmann dan Brown (1992), adanya fluktuasi jumlah total leukosit pada tiap individu
cukup besar pada kondisi tertentu, misalnya stres, aktivitas fisiologis, gizi, umur, spesies dan lain-lain,
sehingga perlu diketahui gambaran jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L) pada setiap
individu. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengukur
pengaruh berbagai ayam Sentul terhadap kekebalan tubuh dan tingkat stres dengan mengamati
perbedaan jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L).

METODE
Materi penelitian menggunakan ayam Sentul periode pertumbuhan sebanyak 125 ekor. Pakan
yang digunakan adalah pakan ayam buras A 03915 dari PT Cargill bentuk butiran dengan komposisi :
jagung kuning, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung daging, dedak, pollard, vitamin, trace mineral,
antioksidan serta memiliki kandungan nutrien kadar air 12%, protein 13%, lemak 6%, serat kasar 8%,
abu 12%, energi metabolis 2150 Kcal/Kg. Peralatan yang digunakan meliputi kandang litter sebanyak
25 unit sebagai kandang perlakuan yang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum,
sprayer, timbangan digital, termometer, lampu pijar, sedangkan bahan yang digunakan adalah kapur,
sekam padi, dan bahan fumigasi kandang. Pemeriksaan jumlah leukosit dan rasio heterofil limfosit
(H/L) meliputi alat dan bahan sebagai berikut : sampel darah 3 ml, es batu, termos, kapas, alkohol
70%, betadine, akuades, methanol, anti koagulan EDTA, larutan giemsa 10%, gelas ukur, spuit 3 ml,
tabung vacuntainer, alat hitung, mikroskop, dan gelas obyek.
Wisnu Kristianto, dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), sebagai
perlakuan adalah Berbagai ayam sentul, terdiri atas : Sa (Sentul abu), Sb (Sentul batu), Sd (Sentul
debu), Se (Sentul emas), Sg (Sentul geni). Setiap jenis ayam Sentul diulang 5 kali, sehingga dibutuhkan
25 unit percobaan, tiap unit di isi 5 ekor ayam sentul masing-masing jenis sehingga melibatkan 125
ekor ayam sentul. Pengambilan sampel darah dilakukan secara acak pada ayam Sentul betina
sebanyak 1 ekor setiap jenis. Data penelitian yang diperoleh ditabulasikan, kemudian dianalisis
menggunakan analisis variansi.
Prosedur pengukuran leukosit dengan cara : (1) menghisap sampel darah dengan pipet leukosit
sampai 0,5, (2) kemudian menambahkan reagen turk sampai angka 11, (3) mencampurkan sampai
homogen dengan memutarkan pipet membentuk angka delapan, (4) meneteskan sampel yang telah
homogen dikanan atau kiri kamar hitung, (5) melihat dan menghitung dengan menggunakan
mikroskop perbesaran 10x, (6) menghitung jumlah leukosit menggunakan rumus (leukosit hitung x 10
x 20)/4.
Pengukuran heterofil dan limfosit :
Pembuatan Preparat Apus Darah dengan Gelas Obyek dengan cara : (1) mencampurkan sampel
darah dengan baik sebelum diambil dengan pipet kapiler/batang gelas, satu tetes kecil darah
diletakkan dekat dengan ujung gelas (2) menempatkan gelas obyek yang kedua dengan bagian ujung
menyentuh permukaan gelas obyek yang pertama sehingga membentuk sudut 30-45°, (3) menarikkan
gelas obyek ke samping dan membiarkan darah mengalir dengan daya kapiler, sehingga mencapai 2/3
bagian gelas obyek, (4) membiarkan preparat apus mengering di udara terbuka, (5) pengeringan tidak
boleh dengan cara pemanasan atau peniupan, sebaiknya dengan cara mengangin-anginkan preparat
yang kita pegang.
Proses pewarnaan tidak boleh lebih dari satu jam setelah pembuatan preparat apus untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik. Pewarnaan Giemsa dengan cara : (1) memfiksir preparat apus
darah dengan methanol selama 3-5 menit, (2) membiarkan preparat mengering diudara terbuka, (3)
mengencerkan Giemsa 1:10 dengan akuades buffer atau dalam jumlah kecil juga dapat membuat
dengan perbandingan 1 tetes pewarna dalam 1 ml akuades buffer, (4) merendamkan preparat yang
telah kering ke dalam larutan giemsa yang baru dibuat selama 15-60 menit, (5) mencuci preparat
dengan akuades dan membiarkan preparat mengering dirak, (6) mengamati di bawah mikroskop
dengan pebesaran 100x dengan memilih bagian yang cukup tipis dan penyebaran leukosit merata, (7)
menghitung diferensial leukosit menggunakan alat hitung.
Wisnu Kristianto, dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian di peroleh rataan jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L) pada
berbagai ayam sentul periode pertumbuhan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan jumlah leukosit dan rasio heterofil limfosit (H/L) absolut pada berbagai ayam Sentul
betina periode pertumbuhan
Perlakuan Jumlah Leukosit (sel/µl) Rasio Heterofil Limfosit (H/L)
Sentul abu 8000 ± 2605,7628 1,8340 ± 1,4913
Sentul batu 7430 ± 2616,6773 1,1636 ± 0,7678
Sentul debu 6370 ± 956,2949 1,2513 ± 0,6692
Sentul emas 7880 ± 2521,3092 0,8445 ± 0,3305
Sentul geni 6370 ± 1953,0745 1,2688 ± 0,6899

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan (Tabel 1) leukosit berkisar antara 6370-8000
sel/μl, rataan tersebut lebih rendah dari penelitian Jain (1993) yaitu jumlah leukosit ayam kampung
berkisar antara 12.000-30.000 (sel/µl) dengan rataan sebesar 21.000 (sel/µl). Hasil rataan (Tabel 1)
rasio heterofil/limfosit (H/L) berkisar antara 0,8445-1,8340, rataan tersebut lebih tinggi dari hasil
penelitian Toghyani et al. (2010) yaitu berkisar 0,3 - 0,4.

Jumlah Leukosit
Leukosit atau sel darah putih merupakan unit paling aktif dari sistem pertahanan tubuh karena
berperan dalam melawan mikroorganisme penyakit, infeksi, dan benda asing (Guyton and Hall, 1997).
Jumlah leukosit pada umumnya dipengaruhi oleh jumlah netrofil ataupun limfosit dalam sirkulasi
darah, karena kedua jenis leukosit tersebut jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan leukosit
tipe lain (Kelly, 1984). Netrofil dan monosit berespon dengan melakukan aktifitas fagositosis,
sedangkan limfosit memproduksi antibodi (Swenson, 1984).
Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa bahwa berbagai ayam Sentul berpengaruh tidak
nyata (P>0,05) pada jumlah leukosit. Hal tersebut menunjukkan bahwa berbagai ayam Sentul tidak
memberikan pengaruh terhadap jumlah leukosit. Genetik merupakan salah satu faktor penyebab
perbedaan jumlah leukosit (Lestari dkk, 2013). Ayam Sentul memiliki keragaman genetik, yang
ditunjukkan dengan keragaman warna bulu, akan tetapi warna bulu tersebut tidak menyebabkan
perbedaan jumlah leukosit karena ayam Sentul masuh satu rumpung dengan ayam lokal lain (Zein dan
Sulandari, 2009). Peningkatan jumlah leukosit (leukositosis) dapat terjadi secara fisiologik maupun
patologik. Leukositosis yang fisiologik, dikarenakan respon fisiologik tubuh terhadap stres sebagai
efek dari epinefrin misal stres emosi akut, panas atau dingin yang ekstrim. Leukosit yang patologik
sering diikuti oleh peningkatan absolut dari salah satu atau lebih jenis leukosit yang desebabkan oleh
infeksi, peradangan, nekrosis jaringan dan gangguan metabolik (Frandson, 1992).
Dellmann and Brown (1992), serta Achmad, dkk (2012) menyatakan bahwa jumlah leukosit
sangat tergantung pada umur, jenis kelamin, stres, penyakit, dan pemberian pakan atau obat
tertentu. Menurut Lamount and Dietert (1990) faktor lingkungan mempunyai peranan sangat penting
Wisnu Kristianto, dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

dalam sistem imun ternak, faktor lingkungan diantaranya adanya infeksi dan pakan. Menurut Subekti
dkk. (2005), infeksi agen penyakit dalam tubuh menyebabkan terjadinya penurunan jumlah leukosit
karena destruksi sel-sel tersebut oleh agen penyakit. Infeksi juga menyebabkan pergeseran proporsi
komponen leukosit serta deplesi yang nyata pada jumlah netrofil, monosit, dan limfosit. Kusnadi
(2009) menyatakan cekaman panas dapat menurunkan jumlah sel darah putih. Keadaan ini
nampaknya ada kaitannya dengan kandungan limfosit pada sel darah putih. Pada ayam, bagian
terbanyak dari sel darah putih adalah limfosit yang berperan dalam sistem kekebalan (Swenson ,
1993). Kondisi cekaman mengakibatkan penurunan jumlah limfosit, sehingga meningkatkan rasio
heterofil/limfosit (H/L) (Kusnadi et al., 2005).
Hasil rataan jumlah leukosit (Tabel 1) secara biologis menunjukkan ayam Sentul dengan jumlah
leukosit tertinggi adalah Sentul abu sebesar 8000 (sel/µl). Apabila tubuh merespon ada benda asing
seperti bakteri maupun virus yang masuk maka secara otomatis, tubuh akan memproduksi lebih
banyak leukosit untuk mengantisipasi hal tersebut (Hillman et al., 2000). Peningkatan jumlah leukosit
dapat digunakan sebagai indikasi adanya penyakit atau terjadinya suatu infeksi dalam tubuh (Guyton,
1996). Penyakit yang disebabkan oleh suatu agen penyakit intoksikasi baik secara endogen maupun
eksogen, protein asing dan endokrin di dalam tubuh dapat mengakibatkan peningkatan yang
signifikan pada darah, jumlah total leukosit dan diferensial leukosit (Schalm, et al., 1975).

Rasio Heterofil/Limfosit (H/L)


Widjajakusuma dan Sikar (1986) menyatakan bahwa indikator ketahanan tubuh sebagai
bentuk respon ayam terhadap faktor-faktor penyebab cekaman dapat diketahui dari komponen darah
seperti rasio heterofil limfosit (H/L), dan juga Kusnadi (2008) menyatakan bahwa rasio H/L merupakan
indikator stres yang paling mudah diketahui secara dini, semakin tinggi angka rasio H/L maka semakin
tinggi pula tingkat cekaman sebagai bentuk stres pada unggas.
Berdasarkan hasil analisis variansi menunjukkan bahwa jenis ayam Sentul berpengaruh tidak
nyata (P>0,05) terhadap rasio H/L artinya bahwa secara statistik nilai rasio H/L tidak menunjukan
adanya perbedaan antar perlakuan. Keanekaragaman genetik ayam Sentul dapat dilihat dari warna
bulunya yang berbeda-beda. Namun, hal tersebut hanya menunjukkan adanya perbedaan fenotipe
pada berbagai ayam Sentul. Fenotip warna bulu tidak mengakibatkan perbedaan rasio heterofil
limfosit (H/L) karena masih dalam satu rumpun. Kusumawati (2003) menyatakan bahwa kondisi
fisiologi tubuh dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan, yang termasuk faktor genetik
adalah bangsa dan faktor lingkungan adalah pakan, suhu, kelembaban, penyakit dan lain-lain.
Tingginya nilai rasio H/L, salah satu faktor penyebabnya terkait dengan efek pelepasan
hormon glukokortikoid. Keberadaan reseptor glukokortikoid pada berbagai sel-sel pembentuk sel
imun akan mengganggu fungsi nukleus faktor- kaffa B (NF-κB) yang mengatur gen pengaturan
produksi sel-sel darah. Glukokortikoid menghambat proliferasi sel limfosit dan pembentukan
beberapa jenis sitokin dan reseptornya, seperti IL-1 dan IL-2 serta juga menstimulasi sintesis molekul
penghalang seperti lipokortin-1 dan reseptor IL-1 tipe II. Aktivitas glukokortikoid ini akhirnya dapat
mengganggu fungsi dan produksi sel-sel imun, seperti sel limfosit (Gupta dan Lalchhandama, 2002;
Padgett and Glaser, 2003; Mashaly et al., 2004).
Wisnu Kristianto, dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

Secara biologis ayam Sentul yang memiliki rataan rasio H/L tertinggi adalah ayam Sentul abu
sebesar 1,8340. Menurut Kusnadi (2008) semakin tinggi angka rasio H/L maka semakin tinggi pula
tingkat cekaman sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan. Tingginya rasio H/L dapat terjadi
karena cekaman panas atau terjadinya stes pada ayam. Menurut pendapat Kusnadi et al. (2005) dan
Zulkifli et al. (2000) cekaman panas dan kondisi stres menyebabkan meningkatan rasio
heterofil/limfosit (H/L) darah akibat terjadinya penurunan jumlah limfosit. Kusnadi (2009)
menyatakan peningkatan rasio H/L tersebut karena penurunan jumlah limfosit yang jauh lebih besar
dibandingkan penurunan jumlah heterofil darah.

SIMPULAN
Berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan memiliki jumlah leukosit dan rasio
heterofil/limfosit (H/L) yang relatif sama.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, H, R., Ida, W., Dewi, A, A. Fadjar, S. 2012. Tanggap Kebal dan Tampilan Produksi Ayam
Pedaging yang Diberi Ekstrak Buah Mengkudu. Jurnal Veteriner. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Dellman, H. D., dan E. M. Brown. 1992. Histologi Veteriner. Terjemahan: R. Hartono. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Gupta, B.B.P., and K. Lalchhandama. 2002. Molecular mechanisms of glucocorticoid action. Curr. Sci.
83: 1103-1111.
Guyton, A.C. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 17. Bagian 1. Ken Ariata Tengadi, Penerjemah.
EGC. Terjemahan dari Texbook of MedicalPhysiology. pp. 65.
Guyton, A.C., John, E., Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Irawati Setiawan,
penerjemah. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran, ECG. Terjemahan dari : Text Book of Medical
physiology.
Hillman, P.E., Scot, N.R., A. van Tienhoven, 2000. Physiological, Responses and Adaptations to Hot and
Cold Environments. Di dalam Yousef MK, editor. Stress Physiology in Livestock. Volume 3, Pultry.
Florida: CRC Pr. hal: 1-71.
Jain, N. C. 1993. Essential of Veterinary Hematology . Lea & Febiger, Philadelphia.
Junguera, L. C. 1977. Basic Histology. Ed ke-8. New York: Mc Graw-Hill.
Kelly, W. R. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis. Ed ke-3. London: Bailiere Tindall.
Kurnia, Y. 2011. Morfometrik Ayam sentul, Kampung dan Kedu pada Fase Pertumbuhan dari Umur 1-
12 Minggu. Skripsi. Program Alih Jenis. Departemen Produksi dan Teknologi Peternakan,
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kusnadi, E., R. Widjajakusuma., T. Sutardi., and A. Habibie. 2005. Effect of Antanan (Centella asiatica)
and Vitamin C on the Bursa of Fabricius, Liver Malonaldihide and Performance of Heat-Stressed
Broilers. Biotropia 24: 46 – 53.
Wisnu Kristianto, dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

Kusnadi, E. 2008. Perubahan malonaldehida hati, bobot relatif bursa fabricius dan rasio
heterofil/limfosit (H/L) ayam broiler yang diberi cekaman panas. Jurusan Produksi Ternak,
Fakultas Peternakan, Universitas Andalas Padang Kampus Limau Manis, Padang.
Kusnadi, E. 2009. Pengaruh Berbagai Cekaman Terhadap Perubahan Beberapa Komponen dan
Biokimia Darah Unggas. Fakultas Peternakan. Universitas Andalas Padang Kampus Limau Manis.
Padang.
Kusumawati, N., Bettysri, L. J., Siswa, S., Ratihdewanti., dan Hariadi. 2003. Seleksi Bakteri Asam Laktat
Indigenous sebagai Galur Probiotik dengan Kemampuan Menurunkan Kolesterol. Journal
Mikrobiologi Indonesia. Vol. 8(2): 39-43.
Lamount., and Dietert. 1990. Poultry Breeding and Genetics. Editor R.D. Craw Ford. Elsever.
Developmant in Animal and Veterinary Science. Amsterdam.
Lestari, S. H. A., Ismoyowati., dan Mohandas, I. 2013. Kajian Jumlah Leukosit dan Diferensial Leukosit
pada Berbagai Jenis Itik Lokal Betina yang Pakannya di Suplementasi Probiotik. Jurnal Ilmiah
Peternakan. Vol. 1(2): 699-709. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman.
Purwokerto.
Mashaly, M.M., G.L. Hendricks., M.A. Kalama., A.E. gehad., A.O. Abbas., and P.H. Patterson. 2004.
Effect of heat stress on production parameters and immune responses of commercial laying
hens. Poult. Sci. 83: 889-894.
Meyliyana., Sigit. M., dan Roesdiyanto. 2013. Bobot Badan Berbagai Jenis Ayam Sentul di Gabungan
Kelompok Tani Ternak Ciung Wanara Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis. Jurnal Ilmiah
Peternakan. Vol. 1(3): 985-992. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman.
Purwokerto.
Mogement, L.Y., Youicier-Simo, B.J. 1998. Determinaton of reliable biochemical parameter of heat
stress, and application to the evaluation of medications : example of erythromycin E. pages 538-
541 in Proceeding of 10th Eoropean Poultry Conference. Jerusalem. Israel.
Nataamijaya, A. G., Haryono, E., Sumantri, P., Sitorus, M., Kusni., Suhendar., and Subarna. 1993.
Karakteristik morfologis delapan breed ayam bukan ras (Buras) langka. Seminar Nasional
Pengembangan Ternak Ayam Buras melalui wadah Koperasi menyongsong PJPT II. Padjadjaran
University. Indonesia.
Nordenson, N. J. 2002. White Blood Cell Count and Differential. http://www.
Lifesteps.com/gm.Atoz/ency/white_blood_cell_count_and_differential.jsp. [Oktober 2014].
Padgett, D.A., and R. Glaser. 2003. How stress influences the immune response. Trends Immunol. 24:
444-448.
Schalm, O. W., E. J. Caroll., and N. C. Jain. 1975. Veterinery Hematology. 3rd. Ed Lea and Fibiger.
Philadelphia.
Subekti, d.t., Tolibin. I., Eka. S. P. S., Dian. R. L., Rica. H., Eka. F. D., dan Dwi. R. W. 2005.
Leukositopenia pada Mencit Setelah diinfeksi Toxoplasma Gondil dengan Dosis Tinggi dan Dosis
Rendah. J. Bio. Indo. Vol. III, No. 10 : 420-430.
Wisnu Kristianto, dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

Swenson, M.J. 1993. Physiological Properties and Celluler and Chemical Constituent of Blood in Dukes
Physiology of Domestic Animals, eleventh edition. Comstock Publishing Associates a division of
Cornell University Press Ithaca and Londion. pp. 22 – 48.
Swenson, M. J. 1984, Dukes’ Physiology of Domestic Animals. Ed ke-10, Ithaca and London: Comstock
Publishing Associates a division of Cornell University Press.
Toghyani, M., M. Tohidi, A., A. Gheisari., dan S. A. Tabeidian. 2010. Performance, Immunity, Serum
Biochemical And Hematological Parameters In Broiler Chicks Fed Dietary Thyme As Alternative
For An Antibiotic Growth Promoter. African Journal of Biotechnology. 9 (40):6819-6825.
Widjajakusuma, R., dan S. H. S. Sikar. 1986. Fisiologi Hewan. Institut Pertanian Bogor Press, Bogor.
Zein, M. S. A., dan S. Sulandri. 2009. Investigasi Asal Usul Ayam Indonesia Menggunakan Sekuens
Hypervariable-1 D-loop DNA Mitokondria. Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Bogor.
Zulkifi, I., Norma, M. T., Israf, D. A., Omar, A. R. 2000. The effect o early feed restriction on subsequent
response to high enfironmental temperatures in female broiler chickens. Poult.Sci. 79:1401-
1407.