Anda di halaman 1dari 28

MATERI BENDA, PERIKATAN, PERJANJIAN DAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM

Ani Anisa 110110170096

HUKUM BENDA (ZAKENRECHT)


BUKU II KUHPER sistem tertutup
orang tidak dapat mengadakan hak-hak kebendaan baru selain yang sudah ditetapkan dalam undang-
undang.
ASAS-ASAS HUKUM BENDA

1. Asas sistem tertutup dan bersifat memaksa 5. Asas totalitas


2. Semua hak kebendaan dapat dipindah 6. Asas spealitas
tangankan 7. Asas pubisitas
3. Asas individualiteit 8. Asas perlekatan
4. Asas hak mengikuti benda 9. Asas pemisahan horizontal (asas
perlindungan)

Pembagian menurut KUHPER


1. Benda bergerak dan tidak bergerak
2. Benda yang musnah dan yang tetap ada
3. Benda yang dapat diganti dan tidak dapat
diganti
4. Benda yang dapat dibagi dan tidak dapat
dibagi
5. Benda yang dapat diperdagangkan dan
tidak dapat diperdagangkan.

A. Pengertian
1. Benda (zaak) secara yuridis adalah segala sesuatu yang dapat dihaki yg dapat menjadi obyek hak
milik 499 BW.
2. Pasal 1792 zaak perbuatan hukum, pasal 1354 zaak kepentingan, pasal 1263 zaak kenyataan
hukum.
B. Pembedaan macam-macam benda
Menurut sistem hukum perdata barat sbg mana diatur dalam BW diantarany:
1. Benda tidak bergerak dan benda bergerak
 Benda tidak bergerak (pasal 506,507,dan 508 BW) ada 3 golongan:
a. Tanah
b. Segala sesuatu yang bersatu dengan tanah karena tumbuh dan berakar serta bercabang
(tumbuh2an dan buah2an yang masih belum dipetik)
c. Segala sesuatu yg bersatu dengan tanah karena didirikan diatas tanah
(tertanam/terpaku).
 Benda yg menurut tujuan pemakaianya supaya bersatu dg benda tidak bergerak sub 1:
a. Pada pabrik (sgl mesin2, ketel2, alat2 lain untuk dipergunakan dlm menjalankan pabrik.
b. Perkebunan sgl sesuatu yg digunakan sbg rabuk bagi tanah, ikan dlm kolam.dll
c. Rumah kediaman sgl kaca,/ alat2 untuk menggantungkan barang2 sbg bagian dri
dinding.
d. Barang2 reruntuhan dari suatu bangunan untu mendirikan bangunan.
2. Benda yg menurut penetapan undang-undang sbg benda tidak bergerak, seperti:
a. Hak2 / penagihan mengenai suatu benda yg tidakbergerak.
b. Kapall2 yg berukuran 20 meter kubik (dlm hk perniagaan)
 Benda bergerak (pasal 509, 510, 511 BW)
a. Benda yg menurut sifatnya bergerak dlm arti benda itu dpt berpindah/dipindahkan dr
suatu tempatke tempat yg lain (sepeda, kursi, meja, motor dll)
b. Benda yg menurut penetapan undang-undang sbg benda bergerak ialah: sgl ha katas
benda2 bergerak misalnya, hak memetik hasil dan hak memakai, ha katas bunga yg
harus dibayar, hak menuntut dimuka hakim surat2 berhaga lainya.

#perbedaan antara benda bergerak dan benda tidak bergerak penting, karena adanya ketentuan khusu yg
berlaku bg masing2 golongan benda tertentu, yaitu:

a. Mengenai bezit pasal 1977 ayat1 BW menentukan, br siapayg menguasai benda bergera dianggap
sbg pemilik . beziter dari benda bergerak eigenaar.
b. Mengenai pembebanan bezwaring thd benda bergerak harus dilakukan pand, sdngkan benda
tidak bergerak hyphoteek (pasal1150 dan 1162 BW)
c. Mengenai penyerahan levering pasal 612 BW menentukan bahwa penyerahan benda bergerak
dapat dilakukan dengan penyerahan nyata, benda tidak bergerak pasal616 BW harus dilakukan
dengan balik nama.
d. Mengenai daluwarsa verjaring thd benda bergerak tidak dikenal verjaring sebab bezit = eigendom
atas benda bergerak itu, benda bergerak mengenal verjaring.
e. Mengenai penyitaan beslag yaitu penyitaan untuk mendapatkan kembali bendanya sendiri hanya
dapat dilakukan thd benda bergerak. Executoir beslah yaitu penyitaan untuk melaksanakan
keputusan pengadilan harus dilakukan terlebih dahulu terhadap benda2 bergerak. Apabilatidak
mencukupi untuk membayar hutang tergugat kepada penggugat , baru executoir beslag dilakukan
thd benda tidak bergerak.
3. Benda yang musnah dan benda yang tetap ada
a. Benda yang musnah
Benda yang dalam pemakaianya akan musnah, kegunaan/manfaat dari benda2 ini justru terletak
pada kemusnahanya (barang2 makanan dan minuman, kalo dimakan dan minum baru memberi
manfaat bagi kesehatan, kayu bakar, arang)
b. Benda yang tetap ada
Benda yg ttp ada adalah benda yang dasar pemakainya tidak mengakibatkan benda itu menjadi
musnah tetap memberi manfaat kepada sipemakai. (cangkir, sendok, motor, mobil dll)

#perbedaan antara benda yang musnah dan benda yg ttp ada juga penting, baik dalam hukum perjanjian
misalnya perjanjian pinjam pakai pada pasal 1740 s.d 1753 dilakukan thd benda yg ttp ada; sedangkan
perjanjian pinjam mengganti yg diatur pd pasal 154 s.d 1769 BW dilakukaknthd benda yg dpt musnah. dan
hukum benda mislanya hak memetic hasil suatu benda yg diatur pd pasal 756 s.d 817 BW dilakukan thd
benda yg dapt musnah; sedangkan hak memakai pasall 818-829 BW hanya dpt dilaakukan thd benda yg ttp
ada.
4. Benda yang dapat dibagi dan benda yang tidak dapat dibagi
a. Benda yang dapat dibagi adalah benda yang apabila wujudnya dibagi tidak mengakibatkan
hilangnya hakikat daripada benda itu sendiri (beras, gula pasir dll)
b. Benda yang tidak dapat dibagi adalah benda yg apabila wujudnya dibagi mengakibatkan
hilangnya/lenyapnya hakikat daripada benda itu sendiri (kuda, sapi, uang dll)
5. Benda yang diperdagangkan dan benda yang tidak diperdagangkan
a. Benda yang diperdagangkan adalah benda yang dapat dijadikan obyek pokok suatu perjanjian.
Jadi semua benda yang dapat dijadikan pokok perjanjian dilapangan harta kekayaan termasuk
benda yang diperdagangkan.
b. Benda yang tidak diperdagangkan adalah benda yang tidak dapat dijadikan obyek pokok suatu
perjanjian di lapangan harta kekayaan; biasanyan benda2 yang dipergunakan untuk kepentingan
umum.
6. Benda yang terdaftar dan benda yang tidak terdaftar

Pembagian atas benda yang terdaftar dan benda yang tidak terdaftar tidak dikenal dalam sistem
hukum perdata BW. (tanah, pendaftaran kapal 20 m3, kendaraan bermotor) untuk menjamin
kepastian ha katas benda dan upaya pemerintah untuk melakukan pungutn wajib seperti pajak,
iuran).

7. Perbedaan sistem hukum benda dan sistem hukum perikatan


a. Hukum benda termuat dalam hukum benda buku II BW 499-1232 adalah hukum yang
mengatur hubungan hukum antara seseorang dengan benda.hak kebendaan itu bersifat mutlak
(absolut) yang berarti bahwa hak seseorang atas benda itu dapat dipertahankan berlaku terhdapa
siapaun juga. Buku II BW bersifat memaksa (dwingend recht) artinya tidak dapat
dikesampingkan (closed system).
b. Hukum perikatan yang termuat dalam buku III BW 1233-1864 adalah hukum yang mengatur
hubungan hukum anatara seseorang dengan seseorang yang lain. (hukum perjanjian, hukum
persetujuan, hukum perutangan). (open system) hanyalah bersifat mengatur atau hanya sebagai
hukum pelengkap. Hak perseorangan relative (nisbi) hak perseorangan hanya berlaku kepada
orang2 tertentu saja.
 Hak kebendaan umumnya berlangsung lama, hak perseorangan uumumnya ditujukan
untuk pemenuhan prestasi dalam waktu yang tidak terlalu lama yaitu dengan
dipenuhinya prestasi tersebut hak perseoranganpun lenyap.
 Jumlah hak kebendaan terbatas pada apa yang hanya ditentukan undang2. Hak
erseorangan jumlanya tidak terbatas pada apa yang telah ditentukan dalam undang2,
karena hak perseorangan timbul dari berbagai macam perjanjian yang sepanjang tidak
bertentangan dengan undang2, kesusilaan dan ketertiban umum.
8. Pembedaan hak kebendaan dalam BW
Hak kebendaan atas tanah yang diatur dalam buku II BW yang tidak berlaku lagi
a. Hak bezit atas tanah e. Hak erpfpacht (hak untuk menarik
b. Hak eigendom atas tanah penghasilandari tanah milik orang lain dengan
c. Hak opstal (hak untuk memiliki bangunan atau membayar sejumlah uang atau penghasilan setiap
tanaman diatas orang lain) tahun.
d. Hak servitut (pembebanan perkarangan) f. Hak bunga tanah dan hasil sepersepuluh.
g. Hak pakai mengenai tanah.
Hak atas tanah sebagai penggantinya yang
berlaku sekarang yang diatur dalm UUPA;
a. Hak milik e. Hak membuka tanah dan
b. Hak guna usaha memungut hasil hutan
c. Hak guna bangunan f. Hak guna air pmeliharaan dan
d. Hak pakai penangkapan ikan.
g. Hak tanah untuk keperluan suci
dan sosial

1. Hak kebendaan yang bersifat memeberikan kenikmatan


a. Bezit
Kedudukan seseorang yang menguasai suatu kebendaan baik dengan diri sendiri maupun
dengan perantaraan orang lain dan yang mempertahankan atau menikmatinya selaku orang
memiliki kebendaan itu (527 KUHPER).
Sri soedewi “keadaan memegang atau menikmati suatu benda dimana seseorang
menguasainya baik sendiri ataupun dengan perantara orang lain seolah2 itu kepunyaan
sendiri.
Syarat adanya bezit (corpus hubungan anatar orang yang bersangkutan dengan bendanya,
animus hubungan antaraorang dengan bendanya itu harus dikehendaki oleh orang tsb).
Cara pengambilan bezit (1. Occupation pengambilan benda mengambil barang scr
langsung, tradition pengoperan diperoleh karena penyerahan dari orang lain yang telah
menguasainya terlebih dahulu, dan warisan) hilangnya bezit (kekuasaan atas benda telah
berpindah kepada orang lain/diambil orang lain, benda telah ditinggalkan).
b. Hak eigendom atau hak milik
Hak untuk menikmati kegunaan sesuatu benda dengan leluasa, dan untuk berbuat bebas
terhadap kebendaan itu dengan kedaulatan sepenuhnya. Subekti “hak eigendom adalah hak
yang paling sempurna atas suatu benda”. Cara memperoleh hak milik (pengambilan,
penarikan oleh benda lain, lewat waktu, pewarisan dan penyerahan). Hapusnya hak milik
(binasanya benda itu, pemilik hak milik melepaskan benda itu)
c. Hak memungut hasil
756 BW hak memungut hasil adalah hak untuk menarik hasil dari benda orang lain, seolah
olah bendanya itu milikny sendiri dengan kewajiban untuk menjaga benda tsb tetap dalam
keadaan seperti semula. Terjadinya hak memungut hasil apabila ada (perjanjian,
penghibahan, dan surat wasiat dan veryaring). Yang menghapuskan hak memungut hasil
(meninggalnya hak tsb, habisnya waktu, melepaskan hak, verjaring, musnah dan binasanya
benda, pemegang hak berubah menjadi pemilik)
d. Hak pakai dan hak mendiami
Hak pakai sama dengan hak mendiami, namun apabila hak ini mengenai hak kediaman
maka dinamakan hak mendiami.
2. Hak kebendaan yang bersifat memberi jaminan

a. Hak gadai
1150 BW gadai adalah suatu hak yang diperoleh kreditur atas suatu benda bergerak, yang
diberikan kepadanya oleh debitur atau orang lain atas debitur sebagai jaminan pembayaran
dan pemberian hak kepada kreditur untuk mendapatan pembayaran lebih dahulu daripada
kreditur2 lainya atas hasil penjualan benda jaminan. (objek benda bergerak, subjek orang
yang cakap hukum). hapusnya gadai ( hapusnya perjanjian peminjaman uang, lenyapnya
benda, hilangnya benda, benda yang digadaikan dikembalikan atas kemauan sendiri)
b. Jaminan fidusia
Adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud dan
benda tidak bergerak khusunya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan
sebagaimana dimaksud dalam UU no 4 1996 ttg hak tanggungan. Subjek jaminan fidusia
debitur (pihak yang mempunyai utang), kreditur (pihak yang mempunyai piutang).
Hapusnya jaminan fidusia (hapusnya hutang, musnahnya benda ).
c. Hak tanggungan
Hak jaminan yang dibebankan pada ha katas tanah sebagaimana dimaksud dalam UU no 5
tahun 1960. Objek haki milik, hak guna usaha dan hak guna bangunan.subjek pihak yang
membuat perjanjian , pemberi hak tanggungan (pemberi dan penerima).hapusnya hak
tanggungan (tidak belakunya lagi hak tanggungan) (dilunasinya hutang, debitur tidak
memenuhi tepat pada waktu, debitur cedera janji dan tidak mau memenuhi prestasi).
d. Hipotik
Suatu hak kebendaan atas benda2 tak bergerak tidak bermaksud memberikan orang yang
berhak (pemegang hipotik) sesuatu nikmat dari suatu benda, tetapi ia bermaksud
memberikan jaminan belaka bagi pelunasan sebuah hutang dengan dilebihdahulukan.
Subjek; pemberi dan penerima hipotik, objek benda tak bergerak, hak pakai hasil atas
benda tersebut, hak numang karang hak usaha, bunga seperti semula, pasar yang diakui
pemrintah). Benda yang tidak dapat dibebani hak hipotk (benda bergerak, benda dari org
yg belum dewasa, dibawah pengampuan). Hapusnya hipotik (hapusnya ha katas tanah).
hak kepribadian, hak atas
namanya, kemerdekaan dll.hak
mutlak atas suatu benda (hak
kebendaan)

hak mutlak (absolut)


ha yg terletak dlm hukum
keluarga yaitu hak yg timbul
krena adanya hub suami istri,
karena adanya hubungan
hak keperdataan anatara ortu dan anak

hak persoonlijk, yaitu semua


hak yang timbul karena adanya
hak nisbi (relatif) hubungan perutangan
sedangkan peutangan timbul
karena adanya perjanjian UU.

ISTILAH DAN PENGERTIAN PERIKATAN

BUKU III KUHPER (open system)


Pasal 1338 asas Asaskebebasan berkontrak “asas yang menyatakan bahwa
kebebasan setiap org pada dasarnya blh membuat kontrakperjanjian
berkontrak yang berisi dan macam apapun asal tidak bertentantangan
dengan UU, kesusilaan dan ketertiban umum

perikatan

UU SAJA

perjanjian undang-undang
Zaakwarnemin
UU karena perbuatan 1354
manusia

tidak bernama
bernama
DILUAR
KUHPER
KUHPER
Perbuatan yg Perbuatan Pembayaran
melawan hukum yang halal tidak terutang
1365 dan sah 1359
Van verbintenissen ada yang menerjemahkan perutangan (sri soedewi), perjanjian (achmad ihsan), perikatan (Subekti).

Hafting (menjamin pemenuhan prestasi), schuld (kewajiban debitur untuk memenuhi prestasi)

 Perikatan adalah hubungan hukum antara dua pihak di lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu kreditur
berhak atas prestasi danpihak yg lain debitur berkewajiban memenuhi prestasi itu..
 Obyek perikatan yang merupakan hak debitur dan kewajiban debitur biasanya dinamakan prestasi. Menurut pasal
1234 BW prestasi dapat berupa memberi sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu.
 Prestasi dari suatu perikatan harus memenuhi syarat:
A. Harus diperkenankan., tidak boleh bertentangan dengan undang2 ketertiban umum dan kesusilaan 1337 BW.
B. Harus tertentu ataua dapat ditentukan, harus terang dan jelas (pasal 1320 ayat 3 1333 BW.
C. Harus mungkin dilakukan (mungkin dilaksanakan menurut kemampuan manusia)

PENGATURAN HUKUM PERIKATAN

Selain dalam buku III BW perikatan juga diatur dalm beberapa bagian buku I dan II BW. Sepanjang belum diatur dalam UU
n0 5 tahun 1960 dan UU no 1 tahun 1974 maupun peraturan pelaksanaanya. WVK kitab undang2 hukum dagang.
Perjanjian yang tidak diatur dalam UU sesuai dengan asas kebebasan berkontrak 1338 ayat 1 boleh saja dibuat sesuai
kebutuhan masyarakat, sepanjang tidak bertentangan dengan undang2, kesusilaan dan ketertiban umum,

SUMBER SUMBER PERIKATAN

1233 BW perikatan bersumber dari perjanjian dan undang2. Perjanjian yang bersumber dari undang2 (1313-1351 BW).

UNDANG-UNDANG PERJANJIAN
perikatan yang bersumber dari undang2, Perikatan yang bersumber dari perjanjiann
perikatan itu diciptakan secara langsung karena meskipun mendapat sanksi dari undang2, tetapi
suatu keadaan tertentu perbuatan atau kejadian keharusan memenuhi kewajiban barulah tercipta
dan memikulkan suatu kewajiban dengan tidak setelah yg bersangkutan yang harus memenuhinya
menghiraukann kehendak org yang harus memberikan persetujuanya atau menghendakinya.
memenuhinya.

Sumber perikatan yang terpenting adalah perjanjian, sebab dengan melalui perjanjian pihak2 semuanya
mempunyai kebebasan untuk membuat segala macam perikatan, naik perikatan yang bernama buku III BW
maupun yang tidak bernama. Ha ini sesuai dengan asas kebebasan berkontrak.

SYARAT SYARAT PERJANJIAN 1320 BW

1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, para pihak yang membuat perjanjian telah sepakat/ ada
persesuaian kemauan / saling menyetujui kehendak masing2 tanpa adanya paksan, kekeliruan dan
penipuan.
2. cakap untuk membuat suatu perjanjian (bekwaam) harus sudah dewasa, sehat akal pikiran dan tidak
dilarang oleh suatu peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu. Syarat
kecakapan untuk membuat suatu perjanjian ini mengandung kesadaran untuk melindungi baik bagi
dirinya sendiri dan bagi miliknya maupun dalam hubunganya dengan keselamatan keluarganya.
3. suatu hal tertentu (objek) barang yang menjadi obyek suatu perjanjian 1333 BW obyek suatu perjanjian
harus tertentu, harus ditentukn jenisnya jumlah tidak diperhitungkan asalkan dapat ditentukan atau
diperhitungkan.
4. suatu sebab yang halal 1335 BW menyatakan bahwa suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang telah
dibut karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang tidak mempunyai kekuatan

MACAM MACAM PERIKATAN

Menurut ilmu pengetahuan hukum perdata Menurut Undang -Undang


a. menurut isi daripada prestasinya 1. perikatan bersyarat
1. perikatan positif dan negatif 2. perikatan dengan ketetapan waktu
2. perikatan sepintas lalu dan berkelanjutan 3. perikatan manasuka (alternative)
3. perikatan alternative 4. perikatan tanggung menanggung
4. perikatan fakultatif 5. perikatan yang dapat dibagi dan tidak dapat
5. perikatan generic dan spesifik dibagi
6. perikatan yang dapat dibagi dan tidak 6. perikatan dengan ancaman hukuman
dapat dibagi
b. menurut subyeknya Hapusnya perikatan
1. perikatan tanggung menanggung 1. pembayaran
2. perikatan pokok dan tambahan 2. karena penawaran pembayran tunai, diikuti
dengan penyimpanan atau penitipan.
3. Pembaharuan utang, percampuran utang,
pembebasan utang, perjumpaan utang
kompensasi
4. Musnahnya barang yg terutang, pembatalan.
5. Berlakunya syarat batal dan lewat waktu
c. menurut mulai berlakunya dan
berakhirnya
1. perikatan bersyarat
2. perikatan dengan ketetapan waktu

a. perikatan positif dan negatif (perikatan yang prestasinya perbuatan positif yaitu memberi sesuatu
dan berbuat sesuatu). (perikatan negatif perikatan yang prestasinya tidak berbuat sesuatu).
b. Perikatan sepintas lalu dan berkelanjutan (perikatan sepintas lalu “perikatan yang pemenuhan
prestasinya cukup dilakukan dengan satu perbuatan dan dalam waktu yang singkat tujuan perikatan
telah tercapai). (perikatan berkelanjutan preikatan yg prestasinya berkelanjutan untuk beberapa
waktu misalnya, timbul dari sewa menyewa dan perburuhan.
c. Perikatan alternative perikatan dimna debitur diberi kebebasan untuk memenuhi satu dari dua
atau lebih prestasi. Dengan pemenuhan salah satu prestasi maka perikatan berakhir.
d. Perikatan fakultatif perikatan yang hanya mempunyai satu objek prestasi, dimana debitur
mempunyai hak untuk mengganti dengan prestasi yang lain, bilamana debitur tidak dapat
memenuhi prestasi yang telah ditentukan semula.
e. Perikatan generic perikatan dimanan objeknya hanya ditentukan jenis dan jumlah barang yang
harus diserahkan debitur kpd kreditur (beraas 10 ton). Perikatan spesifik perikatan dimana objek
nya ditentukan secara terinci (10 ton beras dari cianjur).
f. Perikatan yang dapat dibagi perikatan yang prestasinya dapat dibagi, pembagian mana tidak
boleh mengurangi hakikat prestasi itu (10 ton beras). Perikatan tidak dapat dibagi perikatan yang
prestasinya tidak dapat dibagi (seekor kuda).
g. Perikatan tanggung menanggung perikatan dimana debitur atau kreditur terdiri dari beberapa
orang 1749, 1836 BW pasal 18 KUHD.
h. Perikatan bersyarat perikatan yang lahirnya digantungkan kepada suatu peristiwa (perikatan
dengan syarat tangguh), perikatan yang berakhir atau batalnya digantungkan kepada suatu peristiwa
(perikatan dengan syarat batal).
i. Perikatan dengan ketetapan waktu perikatan yang pelaksanaanya ditangguhkan sampai pada
suatu waktu ditentukan yang pasti akan tiba, meskipunn belum dipastikan kapan waktu yang
dimaksudkan akan tiba.
j. Perikatan dengan ancaman hukuman perikatan dimana ditentukan debitur akan menerima suatu
hukuman apabila tidak melaksanakan suatu perikatan.

WANPRESTASI DAN AKIBAT-AKIBATNYA

Prestasi adalah suatuhal yang wajib dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan. Wanprestasi apabila
debitur tidak memenuhi prestasi sebagaimana yang telah ditentukan dalam perjanjian. Wanprestsi
seseorang dapat berupa 4 macam:

1. Samasekali tidak memenuhi prestasi 3. Terlambat memenuhi prestasi


2. Tidak tunai memenuhi prestasi 4. Keliru memenuhi prestasi.
Tidak berbuat sesuatu tidak membangun Memberi sesuatu / berbuat sesuatu tidak menentukan
tembok yang tingginya lebih dari 2 meter, kapan debitur harus memenuhi prestasi, sehingga untuk
sehingga ketika debitur membangun pemenuhan prestasi debitur harus lebih dahulu diberi
tembok yang tingginya lebih dari 2 meter, teguran (somatie). Agar ia memenuhi kewajibanya. 1238
sejak itu ia dalam keadaan wanprestasi. BW (suratperintah eringatan resmi oleh jurusita
pengadilan/akta sejenis Subekti peringatan secara lisan.)
(tidak berlaku lagi SEMA no 3 1963.(penagihan).

Apabila debitur dalam keadaan wanprestasi , kreditur dapat memilih beberapa kemungkinan tuntutan (pasal
1267 BW):

1. Pemenuhan perikatan 3. Pembatan perjanjian timbal balik


2. Pemenuhan perikatan dengan ganti kerugian 4. Pembatalan dengan ganti kerugian

Debitur telah menerima teguran agar melaksanakan perikatan, tetapi telah melewati waktu yang ditentukan
dan prestasi belum dipenuhi, apakah debitur setelah itu masih bisa melaksanakan perikatan?

 Menurut Hofman dengan berdasarkan pada kepatutan, bahwa debitur masih bisa melaksanakan
perikatan tersebut dan kreditur sepatutnya menerima pula pelaksanaan perikatan itu .(wirjno
prodjodikoro dan Subekti)
PENGGANTIAN KERUGIAN

1234-1252 BW ganti rugi adalah sanksi yang dapat dibebankan kepada debitur yang tidak memenuhi
prestasi dalam suatu perikatan untuk memberikan penggantian biaya (pengeluaran oleh kreditur), rugi
(segala kerugian yang dialami kreditur) dan bunga (segala keuntungan yang sudah diperhitungkan). Code
civil perancis dommager biaya dan rugi, Interest dalam arti keuntungan.

KERUGIAN-KERUGIAN YANG DAPAT DITUNTUT

1248 BW 1. Akibat langsung (suatu akibat yang 1247 BW debitur hanya diwajibkan mengganti
tidak begitu jauh ketinggalan daripada hal biaya, rugi dan bunga (debitur jujur dan tidak jujur)
dilakukanya suatu wanprestasi.
1251 BW bunga uang pokok hanya dapatberbunga
apabiladituntut dimuka pengadilan

Pembatasan ganti rugi debitur yang lalai membayar sejumlah uang kepada kreditur diwajibkan membayar
pengggantian kerugian bunga mratoir. (bunga yang ditentukan oleh undang-undang terhitung dari mulai
gugatan diajukan ke pengadilan) besarnya bunga moratoir disesuaikan dan didasarkan kepada besarnya
bunga deposito yang diberikan secararesmi oleh bank2 pemerintah.

PEMBATALAN PERJANJIAN

Pembatalan sebagai salah satu kemungkinan yang dapat dituntut kreditur kepada debitur yang telah
mealkukan wanprestasi. Syarat pembatalan perjanjian;

1. perjanjian harus bersifat timbal balik, kedua belah pihak sama2 mempunyai kewajiban untuk
memenuhi prestasi (jual beli, tukar menukar, sewa menyewa)
2. harus ada wanprestasi,
3. harus ada keputusan hakim. Putusan hakim bersifat konstitutif (membatalkan perjanjian antara
penggugat dan tergugat. Tidak selamanya akan dikabulkan hakim melainkan hakim akan
mempertimbangkan terlebih dahulu. Wewenang discretionair (wewenang hakim untuk menilai
besar kecilnya wanprestasi)

OVERMACHT (KEADAAN MEMAKSA)

Apabila seseorang tidak dapat memnuhi suatu perikatan atau mealkukan pelanggaran hukum karena
keadaan memaksa maka ia tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Force majeure 1244 (suatu hal yang
tidak terduga, tidak dapat dipertanggungjawabkan Subekti), 1245 (kejadian tidak terduga) 1444 BW.

MACAM-MACAM OVERMACHT

1. overmacht yang bersifat mutlak (absolut) suatu keadaan memaksa yang menyebabkan suatu
perikatan bagaimanapun tidak mungkin bisa dilaksanakan. Kuda tersambar petir atau karena
bencana alam.
2. Overmacht yang bersifat nisbi (relative) suatu keadaan memaksa yang menyebabkan suatu
perikatan hanya dapat dilaksanakan oleh debitur dengan pengorbanan yang begitu besarnya
sehingga tidak sepantasnya lagi pihak kreditur menuntut pelaksaan perikatan tsb. Untuk
menentukan melalui ukuran obyektif (bagaimana keadaan orang pada ummnya) contohnya ada
PERDA kalsel yang melarang pengiriman beras kalsel. (perngorbanan berat mendapat hukuman).
ukuran subyektif keadaan seseorang tertentu yang berbeda dengan keadaan orang lain. contohnya
perampokan bersenjata (nyawa / tv resiko nya sangat besar).

PEMBUKTIAN ADANYA OVERMACHT

Pasal 1244, 1444 yaitu pihak debitur yang terpaksa tidak memenuhi prestasi. Hakimlah yang hanya dapat
memberikan penilaian terhadap bukti apakah benar tidak dapat dipenuhinya suatu prestasi karena
overmacht.

RISIKO

Kewajiban menanggung kerugian akibatovermacht. Pasal 1237 (kebendaan merupakan tanggugan (risisko
dalam satu pihak (penghibahan tidak jadi karena kebakaran) siberutang), 1264 (risiko musnahnya barang
menjadi pokok perjanjian bersyarat, sebelum diserahkan karena belum dipenuhinya syarat perjanjian itu
menjadi tanggungan pemilik barang. Dan apabila barangtsb musnah karena overmacht, perjanjian yang
pelaksanaanya masih menunggu terpenuhinya syarat itu menjadi batal. dan 1444 hapuslah perikatan (risiko)
apabila suatu barang tertentu yang menjadi bahan perjanjian musnah, tidak dapat lagi diperdagangkan, atau
hilang karena overmacht, sehingga perikatan antara pihak2 yang membuat perjanjian menjadi hapusndan
dengan sendirinya pula pihak yang mebuat perjanjian tidak dapat menuntut sesuatu apapun antara yang satu
terhadap yang lain.

EXCEPTIO NON ADEMPLETI CONTACTUS

Tangkisan yang menyatakan bahwa (debitur) tidak melaksanakan perjanjian sebagaimana mestinya justru
karena kreditur sendiri tidak melaksanakan perjanjian itu sebagaimana mestinya. Apabia debitur sebagai
tergugat dapatmembuktikan kebenaran tangkisanya, ia tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban apa2
atas tidak dilaksanakanya perjanjian itu.

RECHTSVERWERKING

(Pelepasan hak) sikap dari pihak kreditur baik berupa pernyataan secarategas maupun secaradiam2 bahwa
ia tidak menuntut lagi kepada pihak debitur apa2 yang merupakan haknya. Bersumber dari yurisprudensi.

PELAKSANAAN PERJANJIAN

a. ARTI MELAKSANAKAN PERJANJIAN

Melaksanakan sebagaimana mesti apa yang merupakan kewajiban terhdap siapa perjanjian itu dibuat.
Melaksanakan perjanjian pada hakikatnya adalah berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu untuk
kepentingan orang lain yakni pihak yang berhak atas pelaksanaan perjanjian tersebut.

b. PENAFSIRAN PERJANJIAN

1342 BW. Perjanjian harus ditafsirkan terlebih dahulu, supaya apa yang menjadi maksud para pihak
sesungguhnya diketahui dengan sejelas-jelasnya.
c. ITIKAD BAIK DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN

Itikad baik merupakan landasan utama untuk dapat melaksanakan suatu perjanjian dengan sebaik-baikya
dan sebagaimana mestinya.1338 BW “perjanjian ituharus dilaksanakan dengan itikad baik” jujur.

d. HAKIM BERKUASA MENYIMPANGI ISI PERJANJIAN

1338 BW “hakim diberikan kekuasaan untuk menagwai pelaksanaan suatu perjanjian, jangan sampai
pelaksanaan itu melanggar keadilan dan kepatutan. Hakim berkuasa untuk menyimpang makanakala
pelaksannaan bersinggungan dengan rasa keadialan.

Perikatan yang bersumber dari Undang-Undang (1352-1380 BW)

1. Zaakwaarneming 2. Pembayaran yang tidakdiwajibkan

Suatu perbuatan dimana seseorang dengan sukarela dan tanpa 1359 BW perbuatan yang menimbulkan perikatan
mendapat perintah, mengurus kepentingan orang lain, dengan yaitu memberikan hak kpd orang yangtelah membayar
atau tanpa sepengatahuan orang ini syarat adanya itu untuk menuntut kembali apa yang telah dibayar dan
zaakwaarneming: orang yang menerima pembayaran tsb.(barang/uang)

a. Yang diurus oleh zaakwaarneming adalah kepentingan


orang lain.
b. Dilakukan dengan sukarea. 3. Naturlijke verbintenis
c. Dilakukan tanpa adanya perintah.
Suatu perikatan yang sempurna. Dimana utang
d. Harus ada suatu keadaan yang membenarkan inisiatis
dianggap ada, tetapi hak untuk menuntut pembayaran
seseorag untuk bertindak sebagai zaakwaarnemer tidak ada. Jadi bergantung pada debitur apakah ingin
Hak dan kewajiban zaakwaarneming memenuhinya atau tidak. Mariam darus, ”perikatan
dimana kreditur tidak mempunyai hak untuk menuntut
a. Meneruskan pengurusan kepentingan dominus sampai pelaksanaan prestasi walaupun dengan bantuan hakim
dominus dappat mengurus sendiri kepentinganya. sebaliknya debitur tidak mempunyai kewajiban hukum
b. Melakukan pengurusan dominus sebaik2nya. untuk memenuhi prestasi. Perikatan yang termasuk
c. Bertanggungjawab sperti kuasa biasa (memberi laporan dalam naturljke verbintenis:
apa yg telah dilakukan demi kepentingan dominus.
-Bunga yang tidak diperjanjikan, utan yang terjadi
d. Apabila melakukan tugasnya dengan baik maka berhak karena perjudian, sisa utang orang yang failit setelah
mendapatkan uang penggantian biaya yg telah dilakukan pembayaran melalui pembayaran,
dikeluarkan.

PERBUATAN MELAWAN HUKUM undang-undang pidana saja tetapi juga jika


perbuatan tersebut bertentangan dengan undang-
Perbuatan melawan hukum undang lainnya dan bahkan dengan ketentuan-
memiliki ruang lingkup yang lebih luas ketentuan hukum yang tidak tertulis. Ketentuan
dibandingkan dengan perbuatan pidana. perundang-undangan dari perbuatan melawan
Perbuatan melawan hukum tidak hanya hukum bertujuan untuk melindungi dan
mencakup perbuatan yang bertentangan dengan
memberikan ganti rugi kepada pihak yang bias manusia sebagai subjek hukum dan juga
dirugikan. badan hukum sebagai subjek hukum.
“Setiap perbuatan pidana selalu dirumuskan Semula, banyak pihak meragukan, apakah
secara seksama dalam undang-undang, sehingga perbuatan melawan hukum memang merupakan
sifatnya terbatas. Sebaliknya pada perbuatan suatu bidang hukum tersendiri atau hanya
melawan hukum adalah tidak demikian. Undang- merupakan keranjang sampah, yakni merupakan
undang hanya menetukan satu pasal umum, yang kumpulan pengertian-pengertian hukum yang
memberikan akibat-akibat hukum terhadap berserak-serakan dan tidak masuk ke salah satu
perbuatan melawan hukum. bidang hukum yang sudah ada, yang berkenaan
Perbuatan melawan hukum dalam bahasa dengan kesalahan dalam bidang hukum perdata.
Belanda disebut dengan onrechmatige daad dan Baru pada pertengahan abad ke 19 perbuatan
dalam bahasa Inggeris disebut tort. Kata tort itu melawan hukum, mulai diperhitungkan sebagai
sendiri sebenarnya hanya berarti salah (wrong). suatu bidang hukum tersendiri, baik di negara-
Akan tetapi, khususnya dalam bidang hukum, negara Eropa Kontinental, misalnya di Belanda
kata tort itu sendiri berkembang sedemikian rupa dengan istilah Onrechmatige Daad, ataupun di
sehingga berarti kesalahan perdata yang bukan negara-negara Anglo Saxon, yang dikenal dengan
berasal dari wanprestasi dalam suatu perjanjian istilah tort.
kontrak. Jadi serupa dengan pengertian perbuatan Perbuatan Melawan Hukum diatur dalam
melawan hukum disebut onrechmatige Pasal 1365 s/d Pasal 1380 KUH Perdata. Pasal
daad dalam sistem hukum Belanda atau di 1365 menyatakan, bahwa setiap perbuatan yang
negara-negara Eropa Kontinental lainnya. Kata” melawan hukum yang membawa kerugian
tort ” berasal dari kata latin ” torquere ” atau kepada orang lain menyebabkan orang karena
” tortus ” dalam bahasa Perancis, seperti kata salahnya menerbitkan kerugian mengganti
” wrong ” berasal dari kata Perancis ” wrung ” kerugian tersebut. Perbuatan melawan hukum
yang berarti kesalahan atau kerugian dalam KUH Perdata berasal dari Code Napoleon.
(injury). Sehingga pada prinsipnya, tujuan
dibentuknya suatu sistem hukum yang kemudian Menurut Pasal 1365 Kitab Undang-Undang
dikenal dengan perbuatan melawan hukum ini Hukum Perdata Indonesia, maka yang dimaksud
adalah untuk dapat mencapai seperti apa yang dengan perbuatan melanggar hukum adalah
dikatakan dalam pribahasa bahasa Latin, perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan
yaitu juris praecepta sunt luxec, honestevivere, oleh seseorang, yang karena kesalahannya itu
alterum non laedere, suum cuique telah menimbulkan kerugian bagi orang lain.
tribuere (semboyan hukum adalah hidup secara Pasal 1365 KUHPerdata berbunyi:
jujur, tidak merugikan orang lain, dan
memberikan orang lain haknya). “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang
Onrechtmatigedaad (perbuatan melawan membawa kerugian kepada orang lain,
hukum), pada Pasal 1365 Kitab Undang-Undang mewajibkan orang yang karena salahnya
Hukum Perdata atau Pasal 1401 KUHPerdata, menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian
yang menetapkan: tersebut.”
Soebekti dan Tjitrosudibio menterjemahkannya Istilah “melanggar” menurut MA Moegni
sebagai berikut: Djojodirdjo hanya mencerminkan sifat aktifnya
saja sedangkan sefiat pasifnya diabaikan. Pada
“Tiap perbuatan melawan hukum, yang istilah “melawan” itu sudah termasuk pengertian
membawa kerugian kepada seorang lain, perbuatan yang bersifat aktif maupun pasif.
mewajibkan orang yang karena salahnya Seseorang dengan sengaja melakukan
menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian sesuatu perbuatan yang menimbulkan kerugian
tersebut”. pada orang lain, maka nampaklah dengan jelas
Para pihak yang melakukan perbuatan sifat aktif dari istilah melawan tersebut.
hukum itu disebut sebagai subjek hukum yaitu Sebaliknya kalau seseorang dengan sengaja tidak
melakukan sesuatu atau diam saja padahal
mengetahui bahwa sesungguhnya harus Molengraaf yang mana menurut pandangan
melakukan sesuatu perbuatan untuk tidak beliau, yang dimaksud dengan perbuatan
merugikan orang lain atau dengan lain perkataan melawan hukum tidak hanya terpaku pada
bersikap pasif saja, bahkan enggan melakukan melanggar undang-undang semata, tetapi juga
kerugian pada orang lain, maka telah “melawan” jika perbuatan tersebut melanggar kaedah-kaedah
tanpa harus menggerakkan badannya. Inilah sifat kesusilaan dan kepatutan.
pasif daripada istilah melawan.
Ketentuan dalam Pasal 1365 BW kemudian Pada tahun 1919, Hoge Raad merumuskan
dipertegas kembali dalam Pasal 1366 BW yaitu: pandangan luas mengenai perbuatan melawan
hukum. Pada rumusannya, Hoge Raad
“Setiap orang bertanggung jawab tidak hanya mempergunakan rumusan yang terdapat dalam
untuk kerugian yang ditimbulkan oleh rancangan Heemskerk yang mana yang dimaksud
perbuatannya tetapi juga disebabkan oleh perbuatan melawan hukum tidak sama dengan
kelalaiannya.” melawan undang-undang tetapi perbuatan
Kedua pasal tersebut di atas menegaskan melawan hukum harus diartikan sebagai
bahwa perbuatan melawan hukum tidak saja “berbuat” atau “tidak berbuat” yang memperkosa
mencakup suatu perbuatan, tetapi juga mencakup hak oranglain atau bertentangan dengan
tidak berbuat. Pasal 1365 BW mengatur tentang kewajiban hukum si pembuat atau bertentangan
“perbuatan” dan Pasal 1366 BW mengatur dengan asas kesusilaan dan kepatuhan dalam
tentang “tidak berbuat”. masyarakat, baik terhadap diri atau benda orang
lain.
Dilihat dari sejarahnya maka pandangan-
pandangan mengenai perbuatan melawan hukum Rumusan tersebut dituangkan
selalu mengalami perubahan dan perkembangan. dalam “Standart Arrest” 31 Januari 119 dalam
Menurut Rachmat Setiawan dalam bukunya perkara Cohen dan Lindenbaum:
“Tinjauan Elementer Perbuatan Melawan “…. Penafsiran tersebut tidak beralasan karena
Hukum”, perbuatan melawan hukum dapat melawan hukum tidak sama dengan melawan
dibedakan menjadi 2 interpretasi, yaitu undang-undang. Menurut Hoge Raad perbuatan
interpretasi sempit atau lebih dikenal dengan melawan hukum harus diartikan sebagai
ajaran legisme dan interpretasi luas. “berbuat” atai “tidak berbuat” yang memperkosa
hak orang lain atau bertentangan dengan
Menurut ajaran Legisme (abad 19), suatu kewajiban hukum si pembuat atau kesusilaan atau
perbuatan melawan hukum diartikan sebagai kepatuhan dalam masyarakat, baik terhadap diri
beruat atau tidak berbuat yang bertentangan atau benda orang lain.”[7]
dengan kewajiban hukum dari si pembuat atau Sejak tahun 1919, Hoge Raad mulai
melanggar hak orang lain. Sehingga menurut menafsirkan Perbuatan Melawan Hukum dalam
ajaran Legistis suatu perbuatan melawan hukum arti luas pada perkara Lindenbaum v. Cohen
harus memenuhi salah satu unsure yaitu: dengan mengatakan Perbuatan Melawan Hukum
melanggar hak orang lain bertentangan dengan harus diartikan sebagai berbuat atau tidak berbuat
kewajiban hukum si pembuat yang telah diatur yang bertentangan dengan[8] :
dalam undang-undang. 1. Hak Subyektif orang lain.
Ajaran Legistis lebih menitik beratkan bahwa 2. Kewajiban hukum pelaku.
tidak semua perbuatan yang menimbulkan 3. Kaedah kesusilaan.
kerugian dapat dituntut ganti rugi melainkan 4. Kepatutan dalam masyarakat
hanya terhadap perbuatan melawan hukum saja Pertanggungjawaban yang harus dilakukan
yang dapat memberikan dasar untuk menuntut berdasarkan perbuatan melawan hukum ini
ganti rugi. Pandangan tersebut kemudian lebih merupakan suatu perikatan yang disebabkan dari
dikenal sebagai pandangan sempit. undang-undang yang mengaturnya (perikatan
yang timbul karena undang-undang).
Ajaran Legistis tersebut mendapat tantangan
dari beberapa sarjana diantarnya adalah Pada ilmu hukum dikenal 3 (tiga) kategori
perbuatan melawan hukum, yaitu sebagai berikut:
1. Perbuatan melawan hukum karena wanprestasi terhadap kewajiban trust ataupun
kesengajaan wanprestasiterhadapkewajiban equity lainnya
2. Perbuatan melawan hukum tanpa kesalahan 5. Suatu kerugian yang tidak disebabkan oleh
(tanpa unsur kesengajaan maupun kelalaian). wanprestasi terhadap kontrak atau lebih
3. Perbuatan melawan hukum karena kelalaian. tepatnya, merupakan suatu perbuatan yang
Bila dilihat dari model pengaturan dalam merugikan hak-hak orang lain yang
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang diciptakan oleh hukum yang tidak terbit dari
perbuatan melawan hukum lainnya, dan seperti hubungan kontraktual
juga di negaranegara dalam sistem hukum Eropa 6. Sesuatu perbuatan atau tidak berbuat sesuatu
Kontinental, maka model tanggung jawab hukum yang secara bertentangan dengan hukum
di Indonesia adalah sebagai berikut: melanggar hak orang lain yang diciptakan
oleh hukum dan karenanya suatu ganti rugi
1. Tanggung jawab dengan unsur kesalahan dapat dituntut oleh pihak yang dirugikan.
(kesengajaan dan kelalaian), seperti terdapat 7. Perbuatan melawan hukum bukan suatu
dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang kontrak seperti juga kimia buka suatu fisika
Hukum Perdata Indonesia. atau matematika.
2. Tanggung jawab dengan unsur kesalahan,
khususnya unsur kelalaian seperti terdapat SYARAT-SYARAT DAN UNSUR
dalam Pasal 1366 Kitab Undang-Undang PERBUATAN MELAWAN HUKUM
Hukum Perdata Indonesia. Sesuai dengan ketentuan Pasal 1365 Kitab
3. Tanggung jawab mutlak (tanpa kesalahan) Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia,
dalam arti yang sangat terbatas seperti dalam suatu perbuatan melawan hukum harus
Pasal 1367 Kitab Undang-Undang Hukum mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
Perdata Indonesia. 1. Ada Suatu Perbuatan
Beberapa definisi lain yang pernah diberikan Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan
terhadap perbuatan melawan hukum adalah melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku.
sebagai berikut: Secara umum perbuatan ini mencakup berbuat
1. Tidak memenuhi sesuatu yang menjadi sesuatu (dalam arti aktif) dan tidak berbuat
kewajibannya selain dari kewajiban sesuatu (dalam arti pasif), misalnya tidak berbuat
kontraktual atau kewajiban quasi contractual sesuatu, padahal pelaku mempunyai kewajiban
yang menerbitkan hak untuk meminta ganti hukum untuk berbuat, kewajiban itu timbul dari
rugi. hukum. (ada pula kewajiban yang timbul dari
2. Suatu perbuatan atau tidak berbuat sesuatu suatu kontrak). Dalam perbuatan melawan
yang mengakibatkan timbulnya kerugian bagi hukum ini , harus tidak ada unsur persetujuan atau
orang lain tanpa sebelumnya ada suatu kata sepakat serta tidak ada pula unsur kausa yang
hubungan hukum yang mana perbuatan atau diperberbolehkan seperti yang terdapat dalarn
tidak berbuat tersebut, baik merupakan suatu suatu perjanjian kontrak.
perbuatan biasa maupun bias juga merupakan 2. Perbuatan Itu Melawan Hukum
suatu kecelakaan. Perbuatan yang dilakukan itu, harus melawan
3. Tidak memenuhi suatu kewajiban yang hukum. Sejak tahun 1919, unsur melawan hukum
dibebankan oleh hukum, kewajiban mana diartikan dalam arti seluas-luasnya. Menurut
ditujukan terhadap setiap orang pada Standaard Arest Tahun 1919, berbuat atau tidak
umumnya, dan dengan tidak memenuhi berbuat merupakan suatu perbuatan melawan
kewajibannya tersebut dapat dimintakan suatu hukum jika:
ganti rugi. a. Perbuatan melanggar undang-undang
4. Suatu kesalahan perdata (civil b. Perbuatan melanggar hak orang lain yang
wrong) terhadap mana suatu ganti kerugian dilindungi hukum
dapat dituntut yang bukan merupakan Perbuatan yang bertentangan dengan hak
wanprestasi terhadap kontrak atau orang lain termasuk salah satu perbuatan yang
dilarang oleh Pasal 1365 KUHPerdata. Hak yang
dilanggar tersebut adalah hak-hak seseorang yang dengan kesusilaan, sehingga dapat digolongkan
diakui oleh hukum, termasuk tetapi tidak terbatas sebagai suatu perbuatan melawan hukum.
pada hak-hak sebagai berikut: e. Perbuatan yang bertentangan sikap baik dalam
masyarakat untuk memperhatikan kepentingan
 Hak-hak Pribadi orang lain (bertentangan dengan kepatutan yang
 Hak-hak Kekayaan berlaku dalam lalu-lintas masyarakat terhadap
 Hak-hak Kebebasan diri atau barang oranglain.
 Hak atas Kehormatan dan Nama Baik Perbuatan yang bertentangan dengan kehati-
Yang dimaksud dengan melanggar hak orang hatian atau keharusan dalam pergaulan
lain adalah melanggar hak subjektif orang lain, masyarakat yang baik ini juga dianggap sebagai
yaitu wewenang khusus yang diberikan oleh suatu perbuatan melawan hukum. Jadi, jika
hukum kepada seseorang untuk digunakan bagi seseorang melakukan tindakan yang merugikan
kepentingannya. Menurut Meyers dalam orang lain, tidak secara melanggar pasal-pasal
bukunya “Algemene dari hukum tertulis, mungkin masih dapat dijerat
Begrippen” mengemukakan: dengan perbuatan melawan hukum, karena
“Hak subjektif menunjuk kepada suatu hak yang tindakannya tersebut bertentangan dengan prinsip
diberikan oleh hukum kepada seseorang secara kehati-hatian atau keharusan dalam pergaulan
khusus untuk melindungi kepentingannya.” masyarakat. Keharusan dalam masyarakat
c. Perbuatan yang bertentangan dengan tersebut tentunya tidak tertulis, tetapi diakui oleh
kewajiban hukum si pelaku masyarakat yang bersangkutan.
Perbuatan ini juga termasuk ke dalam Pada garis besarnya dapat dinyatakan bahwa
kategori perbuatan melawan hukum jika suatu perbuatan adalah bertentangan dengan
perbuatan tersebut bertentangan dengan kepatutan, jika:
kewajiban hukum dari pelakunya. Istilah
“kewajiban hukum ini yang dimaksudkan adalah o Perbuatan tersebut dangat merugikan orang
bahwa suatu kewajiban yang diberikan oleh lain
hukum terhadap seseorang, baik hukum tertulis o Perbuatan yang tidak berfaedah yang
maupun hukum tidak tertulis. Jadi, bukan hanya menimbulkan bahaya terhadap orang lain,
bertentangan dengan hukum tertulis melainkan yang menurut menusia yang normal hal
juga bertentangan dengan hak orang lain menurut tersebut harus diperhatikan.
undang-undang karena itu pula istilah yang 3. Ada Kesalahan dari Pelaku
dipakai untuk perbuatan melawan hukum
adalah onrechtmatige daad, bukan onwetmatige Jika dilihat kembali dalam Pasal 1365
daad. KUHPerdata terdapat dua faktor penting dari
d. Perbuatan yang bertentangan perbuatan melawan hukum, yaitu adanya factor
kesusilaan (geode zeden). kesalahan dan kerugian. Kesalahan adalah
Dapat dinyatakan sebagai norma-norma perbuatan dan akibat-akibat yang dapat
moral yang dalam pergaulan masyarakat telah dipertanggung jawabkan kepada diri si pelaku.
diterima sebagai norma-norma hukum. Tindakan Menurut Asser’s ia tetap pada pendirian untuk
yang melanggar kesusilaan yang oleh masyarakat memberikan pengertian atas istilah kesalahan
telah diakui sebagai hukum tidak tertulis juga sebagai perbuatan dan akibat-akibat yang dapat
dianggap sebagai perbuatan melawan hukum, dipertanggung jawabkan si pelaku.
manakala dengan tindakan melanggar kesusilaan “Dalam hukum pidana telah diterima asas tidak
tersebut telah terjadi kerugian bagi pihak lain, dipidana tanpa kesalahan. Sedang dalam hukum
maka berdasarkan atas perbuatan melawan perdata asas tersebut dapat diuraikan: tidak ada
hukum. Dalam putusan terkenal Lindebaum v. pertanggung jawaban untuk akibat-akibat dari
Cohen (1919) Hoge Raad menganggap tindakan perbuatan hukum tanpa kesalahan.”
Cohen untuk membocorkan rahasia perusahaan Kesalahan dipakai untuk menyatakan bahwa
dianggap sebagai tindakan yang bertentangan seseorang dinyatakan bertanggung jawab untuk
akibat yang merugikan yang terjadi dari
perbuatannya yang salah. Si Pelaku adalah
bertanggung jawab untuk kerugian tersebut Suatu tindakan dianggap mengandung unsur
apabila perbuatan melawan hukum yang kesalahan, sehingga dapat diminta
dilakukan dan kerugian yang ditimbulkannya pertanggungjawaban hukum, jika memenuhi
dapat dipertanggungjawabkan kepadanya. unsur- unsur sebagai berikut:
Syarat kesalahan ini dapat diukur secara 1. Ada unsur kesengajaan
objektif dan subjektif. Secara objektif yaitu harus 2. Ada unsur kelalaian (negligence, culpa)
dibuktikan bahwa dalam keadaan seperti itu 3. Tidak ada alasan pembenar atau alasan
manusia yang normal dapat menduga pemaaf (rechtvaardigingsgrond), seperti
kemungkinan timbulnya akibat dan kemungkinan keadaan overmacht, membela diri, tidak
ini akan mencegah manusia yang baik untuk waras dan lain-lain.
berbuat atau tidak berbuat. Secara subjekif, harus Perlu atau tidak, perbuatan melawan hukum
diteliti apakah si pembuat berdasarkan keahlian mesti ada unsur kesalahan, selain unsur melawan
yang ia miliki dapat menduga akibat dari hukum di sini terdapat 3 (tiga) aliran teori sebagai
perbuatannya. berikut:
Pasal 1365 KUHPerdata kesalahan
dinyatakan sebagai pengertian umum, dapat a. Aliran yang menyatakan cukup hanya ada
mencakup kesengajaan maupun kelalaian. unsur melawan hukum.
Menurut H.F Vollmar, bahwa untuk adanya Aliran ini menyatakan, dengan unsur
kesalahan ada pertanyaan sebagai berikut: melawan hukum dalam arti luas, sudah mencakup
 Kesalahan dalam arti subjektif atau abstrak, unsur kesalahan di dalamnya, sehingga tidak
yaitu apakah orang yang bersangkutan diperlukan lagi ada unsur kesalahan dalam
umumnya dapat dipertanggungjawabkan perbuatan melawan hukum. Di negeri Belanda,
atas perbuatannya itu? aliran ini dianut oleh Van Oven.
 Kesalahan dalam arti objektif atau konkrit,
b. Aliran yang menyatakan cukup hanya ada
yaitu apakah ada keadaan memaksa unsur kesalahan
(overmacht) atau keadaan Aliran ini sebaliknya menyatakan, dalam
darurat (noodoestand). Dalam hal ini orang unsur kesalahan, sudah mencakup juga unsur
tersebut dapat dipertanggungjawabkan perbuatan melawan hukum. Di negeri Belanda,
perbuatannya namun karena ada keadaan aliran ini dianut oleh Van Goudever.
memaksa maka tidak ada kesalahan.
Undang-Undang dan Yurisprudensi c. Aliran yang menyatakan, diperlukan unsur
mensyaratkan untuk dapat dikategorikan melawan hukum dan unsur kesalahan.
perbuatan melawan hukum sesuai Pasal 1365
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Aliran ini mengajarkan, suatu perbuatan
Indonesia, maka pada pelaku harus mengandung melawan hukum mesti ada unsur perbuatan
unsur kesalahan (schuldelement) dan melakukan melawan hukum dan unsur kesalahan, karena
perbuatan tersebut. Karena itu, tanggungjawab unsur melawan hukum saja belum tentu
tanpa kesalahan (strict liability) tidak termasuk mencakup unsur kesalahan. Di negeri Belanda,
tanggung jawab dalam Pasal 1365 Kitab Undang- aliran ini dianut oleh Meyers. Kesalahan yang
Undang Hukum Perdata Indonesia. Bilamana diharuskan dalam perbuatan melawan hukum
dalam hal-hal tertentu berlaku tanggungjawab adalah kesalahan dalam arti ” kesalahan hukum ”
tanpa kesalahan (strict ZiabiZity), hal demikian dan ” kesalahan sosial “. Dalam hal ini, hukum
bukan berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang- menafsirkan kesalahan itu sebagai suatu
Undang Hukum Perdata Indonesia. Karena Pasal kegagalan seseorang untuk hidup dengan sikap
1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang ideal, yaitu sikap yang biasa dan normal
Indonesia mensyaratkan untuk dikategorikan dalam pergaulan masyarakat. Sikap demikian,
perbuatan melawan hukum harus ada kesalahan, kemudian mengkristal yang disebut manusia
maka perlu mengetahui bagaimana cakupan yang normal dan wajar (reasonable man).
unsur kesalahan itu. 4. Ada Kerugian Korban
Ada kerugian (schade) bagi korban Gugatan pengganti kerugian karena
merupakan unsur perbuatan melawan hukum perbuatan melawan hukum:
sesuai Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata Indonesia. Dalam pengertian bahwa 1. dapat berupa uang (dapat dengan uang
kerugian yang disebabkan oleh perbuatan pemaksa)
melawan hukum dapat berupa : 2. memulihkan dalam keadaan semula (dapat
a. Kerugian materiil. dengan uang pemaksa)
3. larangan untuk tidak mengulangi perbuatan
Kerugian materiil dapat terdiri dari kerugian yang itu lagi (dapat dengan uang pemaksa)
nyata-nyata diderita dan keuntungan yang 4. dapat meminta putusan hakim bahwa
seharunya diperoleh. Jadi pada umumnya perbuatannya adalah bersifat melawan
diterima bahwa si pembuat perbuatan melawan hukum.
hukum harus mengganti kerugian tidak hanya 5. Ada Hubungan Kausal antara Perbuatan dan
untuk kerugian yang nyata-nyata diderita, juga Kerugian.
keuntungan yang seharusnya diperoleh. Hubungan kausal antara perbuatan yang
dilakukan dengan kerugian yang terjadi,
b. Kerugian immaterial/idiil. merupakan syarat dari suatu perbuatan melawan
Perbuatan melawan hukum pun dapat hukum. Untuk hubungan sebab akibat ada 2
menimbulkan kerugian yang bersifat macam teori, yaitu:
immaterial/idiil seperti ketakutan, sakit dan a. Teori Hubungan Faktual
kehilangan kesenangan hidup. Teori Condition Sine Qua Non dari Von
Pengganti kerugian karena perbuatan Buri, seorang ahli hukum Eropa Kontinental yang
melawan hukum tidak diatur oleh undang- merupakan pendukung teori faktual ini.
undang. Oleh karena itu aturan yang dipakai menyatakan:
untuk ganti rugi ini adalah dengan cara analogis. “suatu hal adalah sebab dari akibat, sedangkan
Mengenai hal ini mempergunakan peraturan suatu akibat tidak akan terjadi bila sebab itu tidak
ganti rugi akibat ingkar janji yang diatur dalam ada.”
Pasal 1243-1252 KUHPerdata di samping itu, Menurut teori ini orang yang melakukan
pemulihan kembali ke keadaan semula. perbuatan melawan hukum selalu
Untuk menentukan luasnya kerugian yang bertanggungjawab, jika perbuatan Condition Sine
harus diganti umumnya harus dilakukan dengan Qua Non menimbulkan kerugian.
menilai kerugian tersebut, untuk itu pada asasnya Hubungan sebab akibat secara faktual
yang dirugikan harus sedapat mungkin (caution in fact) hanyalah merupakan masalah
ditempatkan dalam keadaan seperti keadaan jika fakta atau yang secara faktual telah terjadi. Setiap
terjadi perbuatan melawan hukum. Pihak yang penyebab yang menimbulkan kerugian adalah
dirugikan berhak menuntut ganti rugi tidak hanya penyebab faktual. Dalam perbuatan melawan
kerugian yang telah ia derita pada waktu diajukan hukum, sebab akibat jenis ini sering disebut
tuntutan akan tetapi juga apa yang ia akan derita hukum mengenai” but for ” atau ” sine qua non ”
pada waktu yang akan datang. .
b. Teori Adequate Veroorzaking.
Dalam gugatan atau tuntutan berdasarkan Teori Adequate Veroorzaking dari Van
alasan hukum wanprestasi berbeda dengan Kries, menyatakan:
gugatan berdasarkan perbuatan melawan hukum. “Suatu hal adalah sebab dari suatu akibat bila
Gugatan berdasarkan wanprestasi hanya menurut pengalaman masyarakat dapat diduga,
mengenal kerugian materil, sedangkan dalam bahwa sebab itu akan diikuti oleh akibat itu.”
gugatan perbuatan melawan hukum selain
mengandung kerugian materil juga mengandung Menurut teori ini orang yang melakukan
kerugian imateril, yang dinilai dengan uang. perbuatan melawan hukum hanya
bertanggungawab untuk kerugian, yang
selayaknya diharapkan sebagai akibat dari “ Setiap orang bertanggung-jawab tidak saja
perbuatan melawan hukum. untuk kerugian yang disebabkan karena
perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
Menurut Vollmar: disebabkan karena kelalaiannya atau kurang hati-
“Terdapat hubungan kausal, jika kerugian hatinya”.
menurut aturan pengalaman secara layak Ketentuan pasal 1365 KUH Perdata tersebut
merupakan akibat yang dapat diharapkan akan di atas mengatur pertanggung-jawaban yang
timbul dari perbuatan melawan hukum” diakibatkan oleh adanya perbuatan melawan
Perbuatan melawan hukum juga terdapat hukum baik karena berbuat (positip=culpa in
dalam sengketa tanah, dalam hal ini jika ada commitendo) atau karena tidak berbuat
pihak yang melanggar hak orang lain misalnya (pasif=culpa in ommitendo). Sedangkan pasal
saja menempati tanah tanpa ijin pemiliknya 1366 KUH Perdata lebih mengarah pada tuntutan
apalagi sampai membangun rumah dan pertanggung-jawaban yang diakibatkan oleh
menyewakan rumah tersebut pada orang lain, kesalahan karena kelalaian
maka pihak yang merasa dirugikan berhak (onrechtmatigenalaten).
mengajukan gugatan di pengadilan untuk objek Selain itu orang yang melakukan perbuatan
sengketa tersebut. melawan hukum harus dapat
c. Teori Sebab Kira-kira (proximately cause). dipertanggungjawaban atas perbuatannya, karena
Teori ini, adalah bagian yang paling orang yang tidak tahu apa yang ia lakukan tidak
membingungkan dan paling banyak pertentangan wajib membayar ganti rugi. Sehubungan dengan
mengenai perbuatan melawan hukum ini. kesalahan in terdapat dua kemungkinan :
Kadang-kadang teori ini disebut juga teori legal 1. Orang yang dirugikan juga mempunyai
cause, penulis berpendapat, semakin banyak kesalahan terhadap timbulnya kerugian.
orang mengtahui hukum, maka perbuatan Dalam pengertian bahwa jika orang yang
melawan hukum akan Semakin berkurang. dirugikan juga bersalah atas timbulnya
Mencegah melakukan perbuatan melawan kerugian, maka sebagian dari kerugian
hukum, jauh lebih baik daripada menerima sanksi tersebut dibebankan kepadanya kecuali jika
hukum. perbuatan melawan hukum itu dilakukan
PERTANGGUNGJAWABAN DALAM dengan sengaja.
PERBUATAN MELAWAN HUKUM 2. Kerugian ditimbulkan oleh beberapa
Hukum mengakui hak-hak tertentu, baik pembuat. Jika kerugian itu ditimbulkan
mengenai hak-hak pribadi maupun mengenai karena perbuatan beberapa orang maka
hak-hak kebendaan dan hukum akan melindungi terhadap masing-masing orang yang
dengan sanksi tegas baik bagi pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya perbuatan
melanggar hak tersebut, yaitu engan tersebut dapat dituntut untuk keseluruhannya
tanggungjawab membayar ganti rugi kepada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
pihak yang dilanggar haknya. Dengan demikian membagi masalah pertanggungjawaban terhadap
setiap perbuatan yang menimbulkan kerugian peruatan melawan hukum menjadi 2 golongan,
pada orang lain menimbulkan yaitu:
pertanggungjwaban.
Pasal 1365 KUHPerdata menyatakan: 1. Tanggung jawab langsung
“Tiap perbuatan melanggar hukum yang Hal ini diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata.
membawa kerugian kepada orang lain, Dengan adanya interprestasi yang luas sejak
mewajibkan orang yang karena salahnya tahun 1919 (Arest Lindenbaun vs Cohen) dari
menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian Pasal 1365 KUHPerdata ini, maka banyak hal-hal
tersebut.” yang dulunya tidak dapat dituntut atau dikenakan
sanksi atau hukuman, kini terhadap pelaku dapat
Sedangkan ketentuan pasal 1366 KUHPerdata dimintakan pertanggung jawaban untuk
menyatakan: membayar ganti rugi.
2. Tanggung jawab tidak langsung Sering terjadi suatu pertinbangan tentang
dirasakannya adil dan patut untuk
Menurut Pasal 1367 KUHPerdata, seorang mempertanggungjawabkan seseorang atas
subjek hukum tidak hanya bertanggung jawab perbuatan orang lain, terletak pada soal
atas perbuatan melawan hukum yang perekonomian, yaitu jika pada kenyataannya
dilakukannya saja, tetapi juga untuk perbuatan orang yang melakukan perbuatan melawan
yang dilakukan oleh orang lain yang menjadi hukum itu ekonominya tidak begitu kuat. Hal ini
tanggungan dan barang-barang yang berada di berdasarkan pertimbangan bahwa percuma saja
bawah pengawasannya. jika orang tersebut dipertanggungjawabkan,
Tanggung jawab atas akibat yang karena kekayaan harta bendanya tidak cukup
ditimbulkan oleh perbuatan melawan hukum untuk menutupi kerugian yang disebabkan
dalam hukum perdata, pertanggung jawabannya olehnya dan yang diderita oleh orang lain.
selain terletak pada pelakunya endiri juga dapat Sehingga dalam hal ini yang
dialihkan pada pihak lain atu kepada negara, mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah
tergantung siapa yang melakukannya. orang lain yang dianggap lebih mampu untuk
bertanggung jawab.
Adanya kemungkinan pengalihan tanggung
jawab tersebut disebabkan oleh dua hal: KONSEKUENSI YURIDIS DALAM HAL
1. Perihal pengawasan TIMBULNYA PERBUATAN MELAWAN
Adakalanya seorang dalam pergaulan hidup HUKUM
bermasyarakat menurut hukum berada di bawah Akibat perbuatan melawan hukum diatur
tanggung jawab dan pengawasan orang lain. pada Pasal 1365 KUH Perdata sampai dengan
Adapun orang-orang yang bertanggung jawab 1367 KUHPerdata sebagai berikut:
untuk perbuatan yang dilakukan oleh orang lain 1. Menurut Pasal 1365 KUHPerdata dikutip
menurut Pasal 1367 KUHPerdata adalah sebagai bunyinya:
berikut: “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang
membawa kerugian kepada seorang lain,
 Orang tua atau wali, bertanggung jawab mewajibkan orang yang karena salahnya
atas pengawasan terhadap anak-anaknya menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian”.
yang belum dewasa
 Seorang curator, dalam hal curatele,
2. Pasal 1366 KUHPerdata, menyebutkan:
bertanggung jawab atas pengawasan “Setiap orang bertanggung-jawab tidak saja
terhadap curandus untuk kerugian yang disebabkan karena
 Guru, bertanggung jawab atas pengawasan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
murid sekolah yang berada dalam diesbabkan karena kelalaian atau kurang hati-
lingkungan pengajarannya. hatinya”.
 Majikan, bertanggung jawab atas
pengawasan terhadap buruhnya 3. Pasal 1367 KUHPerdata, menyebutkan:
 Penyuruh (lasgever), bertanggung jawab
atas pengawasan terhadap pesuruhnya. “Seorang tidak saja bertanggung-jawab untuk
Terkait dengan hal ini pengawasan dapat kerugian yang disebabkan karena perbuatannya
dianggap mempunyai untuk menjaga agar jangan sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang
sampai seorang yang diwasi itu melakukan disebabkan karena perbuatan orang-orang yang
perbuatan melawan hukum. Pengawas itu harus menjadi tanggungannya, atau disebabkan oleh
turut berusaha menghindarkan kegoncangan orang-orang yang berada di bawah
dalam msyarakat, yang mungkin akan disebabkan pengawasannya … dst”.
oleh tingkat laku orang yang diawasinya. Berdasarkan kutipan pasal tersebut di atas,
2. Pemberian kuasa dengan risiko ekonomi secara umum memberikan gambaran mengenai
batasan ruang lingkup akibat dari suatu perbuatan
melawan hukum. Akibat perbuatan melawan
hukum secara yuridis mempunyai konsekuensi Masyarakat berhak untuk mengajukan
terhadap pelaku maupun orang-orang yang tuntutan-tuntutan apabila mereka mengalami
mempunyai hubungan hukum dalam bentuk kerugian akibat perbuatan melawan hukum.
pekerjaan yang menyebabkan timbulnya Untuk mengembalikan pada keadaan semula
perbuatan melawan hukum. Jadi, akibat yang yang berimbang, maka terhadap pelaku
timbul dari suatu perbuatan melawan hukum akan dikenakan suatu hukuman dari yang ringan
diwujudkan dalam bentuk ganti kerugian sampai yang berat yang dituntut oleh korban.
terehadap korban yang mengalami.
Pada hukum perikatan, khususnya hukum
Penggantian kerugian sebagai akibat dari perjanjian, ganti rugi umumnya terdiri dari 3 hal
adanya perbuatan melawan hukum, sebagaimana yaitu biaya, rugi, dan bunga. Pada setiap kasus
telah disinggung diatas, dapat berupa tidak selamanya ketiga unsure tersebut selalu ada,
penggantian kerugian materiil dan immateriil. tetapi ada kalanya hanya terdiri dari 2 unsur saja.
Lazimnya, dalam praktik penggantian kerugian
dihitung dengan uang , atau disetarakan dengan Dalam hukum Perbuatan Melawan Hukum,
uang disamping adanya tuntutan penggantian Wirjono Prodjodikoro menyatakan, jika dilihat
benda atau barang-barang yang dianggap telah bunyi Pasal 57 ayat (7) Reglement burgerlijk
mengalami kerusakan/perampasan sebagai akibat Rechrvordering (Hukum Acara Perdata
adanya perbuatan melawan hukum pelaku. berlaku pada waktu dulu bagi Raad van
Justitie) yang juga memakai istilah Kosten
Jika mencermati perumusan ketentuan pasla schaden en interesen untuk menyebut kerugian
1365 KUHPerdata, secara limitatif menganut sebagai perbuatan melanggar hukum, sehingga
asas hukum bahwa penggantian kerugian dalam dapat dianggap sebagai pembuat Burgerlijk
hal terjadinya suatu perbuatan melawan hukum Wetboek sebetulnya tidak membedakan antara
bersifat wajib. Bahkan, dalam berbagai kasus kerugian yang disebabkan perbuatan melanggar
yang mengemuka di pengadilan, hakim seringkali hukum dengan kerugian yang disebabkan tidak
secara ex-officio menetapkan penggantian dilaksanakannya suatu perjanjian. Sehingga
kerugian meskipun pihak korban tidak menuntut dalam kaitannya dengan perbuatan melawan
kerugian yang dimaksudkan. hukum, ketentuan yang sama dapat dijadikan
sebagai pedoman.
Secara teoritis penggantian kerugian sebagai Pasal 1365 KUHPerdata memberikan
akibat dari suatu perbuatan melawan hukum beberapa jenis penuntutan, yaitu:
diklasifikasikan ke dalam dua bagian, yaitu :
kerugian yang bersifat actual (actual loss) dan 1. ganti rugi atas kerugian dalam bentuk uang
kerugian yang akan datang. Dikatakan kerugian 2. ganti rugi atas kerugian dalam bentuk
yang bersifat actual adalah kerugian yang mudah natura atau pengembalian pada keadaan
dilihat secara nyata atau fisik, baik yang bersifat semula
materiil dan immateriil. Kerugian ini didasarkan 3. pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan
pada hal-hal kongkrit yang timbul sebagai akibat adalah bersifat melawan hukum
adanya perbuatan melawan hukum dari pelaku. 4. larangan untuk melakukan suatu perbuatan
Sedangkan kerugian yang bersifat dimasa 5. meniadakan sesuatu yang diadakan secara
mendatang adalah kerugian-kerugian yang dapat melawan hukum
diperkirakan akan timbul dimasa mendatang 6. pengumuman daripada keputusan atau dari
akibat adanya perbuatan melawan hukum dari sesuatu yang telah diperbaiki.
pihak pelaku. Kerugian ini seperti pengajuan Ketentuan mengenai ganti rugi dalam
tuntutan pemulihan nama baik melalui KUHPerdata diatur dalam Pasal 1243
pengumuman di media cetak dan atau elektronik KUHPerdata sampai dengan Pasal 1252
terhadap pelaku. Ganti kerugian dimasa KUHPerdata. Dari ketentuan pasal-pasal tersebut
mendatang ini haruslah didasarkan pula pada dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud
kerugian yang sejatinya dapat dibayangkan dengan ganti rugi adalah sanksi yang dapat
dimasa mendatang dan akan terjadi secara nyata. dibebankan kepada debitor yang tidak memenuhi
prestasi dalam suatu prestasi dalam suatu
perikatan untuk memberikan penggantian biaya, 2. Pasal 1250 KUHPerdata membebakan
rugi dan bunga. pembayaran bunga tasa penggantian biaya,
Ganti rugi menurut Pasal 1246 KUHPerdata rugi, dan bunga dalam hal terjadinya
memperincikan ke dalam 3 kategori yaitu: keterlambatan pembayaran sejumlah uang
sedangkan yang dialami dalam perbuatan
1. biaya, artinya setiap cost yang harus melawan hukum tidak mungkin disebabkan
dikeluarkan secara nyata oleh pihak yang karena tidak dilakukannya pembayaran
dirugikan, dalam hal ini adalah sebagai akibat sejumlah uang yang tidak tepat pada
dari adanya tindakan wanprestasi. waktunya.
2. Kerugian, artinya keadaan merosotnya Jadi dalam hal ganti rugi karena perbuatan
(berkurangnya) nilai kekayaan Kreditor melawan hukum, Penggugat berdasarkan
sebagai akibat dari adanya tindakan gugatannya pada Pasal 1365 KUHPerdata tidak
wanprestasi dari pihak Debitor. dapat mengharapkan besarnya kerugian.
3. Bunga, adalah keuntungan yang seharusnys Kerugian ini ditentukan oleh hakim dengan
diperoleh tetapi tidak jadi diperoleh oleh mengacu pada putusan terdahulu
pihak Kreditor, dikarenakan adanya tindakan (Yurisprudensi).
wanprestasi dari pihak Kreditor.
Terkait dengan hal ini, pasal-pasal ganti rugi Kerugian yang timbul karena adanya
karena wanprestasi tidak dapat begitu saja perbuatan melawan hukum menyebabkan adanya
diberlakukan terhadap perbuatan yang pembebanan kewajiban kepada pelaku untuk
dikualifikasikan sebagai perbuatan melawan memberikan ganti rugi kepada penderita adalah
hukum. Hal ini disebabkan karena ada penilaian sedapat mungkin mengembalikan ke keadaan
terhadap ukuran penggantian itu sukar untuk semula yakni sebelum terjadinya perbuatan
ditetapkan. melawan hukum, maka menurut undang-undang
dan yurisprudensi dikenal berbagai macam
Ketentuan yang mengatur tentang ganti rugi penggantian kerugian yang dapat dituntut
karena wanprestasi dapat diperlakukan sebagian berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata oleh
secara analogis, terhadap ganti rugi karena penderita, sebagai upaya untuk mengganti
perbuatan melanggar hukum. Misalnya apabila kerugian maupun pemulihan kehormatan.
seorang pelaku melanggar hukum
menolak membayar seluruh jumlah ganti rugi Macam kerugian tersebut yaitu:
yang telah ditetapkan oleh hakim yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap. Pelaku 1. ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian
bergutang bunga sejak diputus oleh pengadilan. yang ditimbulkan
2. ganti kerugian dalam bentuk natura atau
Di samping itu ada ketentuan ganti rugi dikembalikan dalam keadan semula
karena wanprestasi yang tidak dapat 3. pernyataan, bahwa perbuatan yang dilakukan
diberlakukan terhadap ganti rugi karena adalah melawan hukum
perbuatan melawan hukum, yakni Pasal 1247 4. dilarang dilakukannya suatu perbuatan
sampai Pasal 1250 KUHPerdata, oleh karena: 5. pengumuman dalam putusan hakim.
1. Pasal 1247 KUHPerdata mengenai perbuatan PERKEMBANGAN TEORI PERBUATAN
perikatan berarti perikatan tersebut dilahirkan MELAWAN HUKUM
dari persetujuan, sedangkan perbuatan
melawan hukum bukan merupakan perikatan
yang lahir karena persetujuan.
Perbuatan tiketentuan-ketentuan pasal
Melawan Hukum di Indonesia secara normatif s lainnya. Perumusan norma Pasal 1365 KUHPerd
elalu merujuk pada ketentuan Pasal 1365 KUH ata lebih
Perdata merupakan struktur norma daripada substansi
rumusan norma dalam pasal ini unik, tidak seper ketentuan hukum yang sudah lengkap.
Oleh karenanya substansi ketentuan Pasal 13 melawan hukum karena tidak setiap tindakan
65 KUH Perdata senantiasa memerlukan dalam dunia usaha, yang bertentangan dengan
materialisasi di luar KUH Perdata. tata krama dalam masyarakat dianggap sebagai
Oleh karena itu perbuatan melawan hukum tindakan melawan hukum.
berkembang melalui putusan-
Pada putusan berikutnya, Hoge Raad
putusan pengadilan dan melalui undang-
berpendapat sama dalam kasus Zutphense
undang.
Juffrouw. Perkara yang diputuskan tanggal 1
Perbuatan Melawan Hukum dalam KUH
0 Juni 1910 itu bermula dari sebuah
Perdata diatur dalam buku III tentang
gudang di Zutphen. Iklim yang sangat dingin
Perikatan. Perbuatan
menyebabkan pipa air dalam gudang tersebut
melawan hukum Indonesia yang berasal dari
pecah, sementara kran induknya berada
Eropa Kontinental diatur dalam Pasal 1365
dalam rumah di tingkat atas. Namun
KUHPerdt. sampai dengan Pasal 1380
KUHPerdt. Pasal-pasal tersebut mengatur penghuni di tingkat atas tersebut tidak bersedia
bentuk tanggung jawab atas perbuatan melawan memenuhi permintaan untuk menutup
hukum. Perbuatan melawan hukum dalam Pasal kran induk tersebut;sekalipun kepadanya telah
1365 KUHPerdt. pada awalnya memang dijelaskan, bahwa dengan tidak ditutupnya
mengandung pengertian yang sempit sebagai kran induk, akan timbul kerusakan besar pada
pengaruh dari ajaran legisme. Hal ini barang yang tersimpan dalam gudang
sebenarnya bertentangan dengan doktrin yang akibat tergenang air. Perusahaan asuransi telah
dikemukakan oleh para sarjana pada waktu itu, membayar ganti kerugian atas rusaknya barang-
antara lain Molengraaff yang menyatakan bahwa barang tersebut dan selanjutnya
Perbuatan Melawan Hukum tidak hanya menggugat penghuni tingkat atas di
melanggar undang-undang, tetapi juga muka pengadilan. Hoge Raad memenangkan
melanggar kaedah kesusilaan dan kepatutan tergugat dengan alasan, bahwa tidak
terdapat suatu ketentuan undang-
Pengertian yang dianut adalah bahwa
undang yang mewajibkan penghuni tingkat at
perbuatan melawan hukum merupakan
as
perbuatan yang bertentangan dengan hak dan
kewajiban hukum menurut undang-undang. tersebut untuk mematikan kran induk guna
Dengan kata lain bahwa perbuatan melawan kepentingan pihak ketiga. Dengan kata lain
hukum (onrechtmatige daad) sama dengan Hoge Raad di Belanda memandang perbuatan
melawan undang-undang (onwetmatige daad). melawan hukum secara legistis.
Aliran ini ditandai dengan Arrest Hoge Raad 6
Januari 1905 dalam perkara Singer Pemandangan legistis itu kemudian berub
Naaimachine. Perkara bermula dari seorang ah pada tahun 1919 dengan putusan Hoge
pedagang menjual mesin jahit merek “Singer Raad 31 Januari 1919 dalam perkara Cohen v.
” yang telah disempurnakan. Padahal Lindenbaum yang dikenal sebagai drukkers
mesin itu sama sekali bukan produk Singer. arrest. Pada perkara ini Hoge Raad mulai
Kata-kata “Singer” ditulis dengan huruf-huruf menafsirkan perbuatan melawan
yang besar, sedang kata-kata yang lain ditulis Pendirian ini terlihat dalam pendapat Hoge R
kecil-kecil sehingga sepintas yang aad pada Arrestnya tanggal 18 Februari 1853
terbaca adalah “Singer” saja. mempertimbangkan antara lain sebagai beriku
Ketika pedagang itu digugat di t: “Menimbang, bahwa dari hubungan satu d
muka pengadilan, H.R. antara lain engan lainnya dan ketentuan-ketentuan dalam
mengatakan bahwa perbuatan pedagang itu b Pasal 1365 dan 1366 KUHPerdata masing-
ukanlah merupakan tindakan masing kiranya dapat ditarik kesimpulan
bahwa sesuatu perbuatan dapat berupa perbua
tan yang rechtmatig dan dibolehkan, dan si entangan dengan kewajiban hukum si pelaku
pencipta sekalipun demikian karenanya harus dan (b) melanggar hak subyektif orang lain,
bertanggung jawab, bilamana ia dalam hal itu tetapi juga (c) perbuatan yang melanggar kaidah
telah berbuat tidak berhati- yang tidak tertulis, yaitu kaedah yang mengatur
hati”. Dalam perkara ini, Cohen seorang peng tata susila
usaha percetakan telah (d) kepatutan, ketelitian, dan kehati-
membujuk karyawan percetakan Lindenbaum hatian yang seharusnya dimiliki seseorang
untuk memberikan copy-copy pesanan dalam pergaulan hidup dalam
dari langganan- masyarakat atau terhadap harta benda warga
langganannya. Cohen memanfaatkan informasi masyarakat.
ini sehingga Lindenbaum mengalami kerugian
Penilaian mengenai apakah suatu perbuatan
karena para langganannya lari ke perusahaan
termasuk perbuatan melawan hukum, tidak cukup
Cohen.
apabila hanya didasarkan pada pelanggaran
Selanjutnya Lindenbaum menggugat Cohen u terhadap kaidah hukum, tetapi
ntuk membayar ganti kerugian perbuatan tersebut harus juga dinilai dari
kepadanya. Gugatan tersebut dikabulkan oleh sudut pandang kepatutan. Fakta bahwaseseorang
Pengadilan Negeri (rechtbank). Pengadilan telahmelakukan pelanggaran terhadap suatu k
Tinggi (Hof) sebaliknya membatalkan keputusan aidah hukum dapat menjadi faktor pertimbangan
Pengadilan Negeri dengan untuk menilai apakah perbuatan yang
pertimbangan bahwa sekalipun karyawan ters menimbulkan kerugian tadi
ebut melakukan perbuatan yang sesuai atau tidak dengan kepatutan yang seha
bertentangan dengan undang- rusnya dimiliki seseorang dalam pergaulan
undang, yakni telah dengan sesama warga masyarakat.
melanggar suatu kewajiban hukum, ALASAN PEMBENAR DAN ALASAN
namun tidak berlaku bagi Cohen karena PEMAAF DALAM PERBUATAN
undang-undang tidak melarang dengan tegas MELAWAN HUKUM
bahwa mencuri informasi adalah melanggar Dalam ilmu hukum, khususnya hukum
hukum. Hoge Raad membatalkan pidana, terhadap perbuatan melawan hukum
keputusan Hof atas dasar pertimbangan, bah dikenal adanya dua macam alasan yang menjadi
wa dalam keputusan Pengadilan Tinggi dasar peniadaan pidana, yaitu alasan pembenar
makna tentang perbuatan melawan hukum (o dan alasan pemaaf.
nrechtmatige daad) dipandang secara sempit Alasan yang pertama yang disebut dengan
sehingga yang termasuk di dalamnya hanyalah alasan pembenar, berhubungan dengan sifat
perbuatan-perbuatan yang secara obyektivitas dari suatu tindakan yang melawan
langsung dilarang oleh undang- hukum. Dengan alasan pembenar ini suatu tindak
undang. Sedangkan perbuatan- pidana kehilangan unsur perbuatan melawan
perbuatan yang tidak dilarang oleh undang- hukumnya, sehingga siapa pun juga yang
undang sekalipun perbuatan- melakukan tindakan tersebut tidak akan dapat
perbuatan ini bertentangan dengan dipidana karena tidak memiliki lagi unsur
keharusan dan kepatutan, yang diwajibkan da perbuatan melawan hukumnya. Termasuk dalam
lam pergaulan masyarakat bukan merupakan alasan pembenar ini adalah:
perbuatan melawan hukum. Dengan adanya 1. Adanya daya paksa (overmacht, Pasal 48
KUHP)
arrest ini maka pengertian perbuatan melawan
2. Adanya pembelaan yang terpaksa (noodweer,
hukum menjadi lebih luas. Perbuatan melawan
Pasal 49 ayat (1) KUHP).
hukum kemudian diartikan tidak hanya 3. Karena menjalankan perintah undang-undang
perbuatan yang melanggar kaidah- (Pasal 50 KUHP) dan;
kaidah tertulis, yaitu (a) perbuatan yang bert
4. Karena sedang menjalankan perintah jabatan yang diwajibkan, atau melakukan suatu
yang sah (Pasal 51 ayat (1) KUHP). perbuatan yang terlarang baginya.
Alasan yang kedua disebut dengan alasan
pemaaf yang berkaitan dengan sifat subyektivitas Dari rumusan yang diberikan oleh kedua
dari tindak pidana tersebut. Dalam alasan pemaaf pasal tersebut dapat kita tarik kesimpulan sebagai
ini, seorang subyek pelaku tindak pidana berikut:[26]
dihadapkan pada suatu keadaan yang demikian 1. Yang dimaksud dengan alasan pembenar
rupa sehingga keadaan jiwanya menuntun ia adalah alasan yang mengakibatkan debitor
untuk melakukan suatu tindakan yang termasuk yang tidak melaksanakan kewajibannya
dalam tindak pidana. Ini berarti dalam alasan sesuai perikatan pokok/asal, tidak diwajibkan
pemaaf ini unsure kesalahan dari pelaku untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga.
ditiadakan. Termasuk dalam alasan pemaaf 2. Alasan pembenar dalam alasan pemaaf yang
tersebut adalah: Ketidakmampuan diperbolehkaan tersebut bersifat limitative,
bertanggungjawab dari pelaku (Pasal 44 ayat (1) dengan perngertian bahwa selain yang
KUHP) disebutkan dalam KUH Perdata tidak
1. Pembelaan terpaksa yang melampaui batas dimungkinan bagi debitor untuk mengajukan
(pasal 49 ayat (2) KUHP) alasan lain yang dapat membebaskannnya dari
2. Hal menjalankan dengan itikad baik, suatu kewajiban untuk mengganti biaya, kerugian
perintah jabatan yang tidak sah (Pasal 51 auat dan bunga dalam hal debitor telah cidera janji.
(2) KUHP) Hal ini harus dibedakan dari suatu keadaan
Jika kita perhatikan ketentuan yang diatur dimana kreditor tidak menuntut pelaksanaan
dalam KUH Perdata, ketentuan yang meng, penggantian biaya, kerugian dan bunga dari
ketentuan yang mengatur mengenai alasan debitor yang telah cidera janji.
pembenar dan alasan pemaaf bagi debitor yang 3. Alasan pembenar dan alasan pemaaf yang
tidak dapat melaksanakan prestasinya sesuai diperbolehkan hanya meliputi hal-hal sebagai
dengan kewajiban yang telah ditentukan dan pada berikut :
saat yang telah ditetapkan dapat kita temukan 1. Untuk alasan pemaaf bahwa tidak
dalam pasal 1244 dan Pasal 1245 KUH Perdata, dilaksanakannya perikatan itu atau tidak
yang berada dalam Bagian keempat Bab Kesatu tepatnya waktu dalam melaksanakan
Buku III KUH Perdata yang mengatur mengenai perikatan itu disebabkan oleh sesuatu hal
“Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tidak yang tak terduga, yang dapat
terpenuhi suatu perikatan”. Kedua pasal tersebut, dipertanggungkan kepadanya, selama
yaitu Pasal 1244 dan Pasal 1245 KUH Perdata, tidak ada itikad buruk kepadanya.
secara lengkapnya berbunyi : 2. Alasan pembenar karena keadaan
memaksa debitor terhalang untuk
1. Pasal 1244 KUH Perdata memberikan atau berbuat sesuatu yang
Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya, diwajibkan atau melakukan suatu
kerugian dan bunga. bila ia tak dapat perbuatan yang terlarang baginya.
membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya 3. Alasan pembenar karena kejadian yang
perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam tidak disengaja, debitor terhalang untuk
melaksanakan perikatan itu disebabkan oleh memberikan atau berbuat sesuatu yang
sesuatu hal yang tak terduga, yang tak dapat diwajibkan atau melakukan
dipertanggungkan kepadanya. walaupun tidak suatu perbuatan yang terlarang baginya.
ada itikad buruk kepadanya. Yang menarik dari kesimpulan tersebut
adalah bahwa persyaratan yang ditentukan dalam
2. Pasal 1245 KUH Perdata masing-masing huruf a, b, dan c angka 3, dalam
Tidak ada penggantian biaya. kerugian dan tiap-tiap ketentuan bersifat kumulatif. Dengan
bunga. bila karena keadaan memaksa atau karena ketentuan tersebut berarti debitor tidak dapat
hal yang terjadi secara kebetulan, debitur diwajibkan untuk memberikan penggntian berupa
terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu biaya, kerugian dan bunga kepada kreditor,
meskipun debitor telah lalai melaksanakan
kewajibannya berdasarkansuatu perikatan B. Kejadian yang
pokok/asal, selama dan sepanjang: tidak disengaja.
Yang menyebabkan debitor terhalang untuk
1. Bagi alasan pemaaf, pasal 1244 KUH Perdata memberikan atau berbuat sesuatu yang
menentukan: diwajibkan atau melakuan suatu perbuatan yang
1. Ada suatu hal yang tidak terduga terlarang baginya. Kedua hal tersebut, yaitu
sebelumnya pada saat perikatan dilahirkan adanya keadaan memaksa atau kejadian yang
yang tidak memungkinkan tidak disengaja adalah dua hal yang bersifat
dilaksanakannya perikatan pada saat yang alternative, dengan pengertian bahwa jika salah
telah ditentukan atau sama sekali tidak satu peristiwa terjadi, maka debitor digapuskan
memungkinkan pelaksanaan dari dan kewajibannya untuk memberikan
perikatan tersebut. penggantian biaya, kerugian dan bunga,
2. Hal yang tidak terduga tersebut adalah meskipun debitor tidak memenuhi perikatan pada
suatu peristiwa yang berada di luar waktu yang telh ditetapkan.
tanggung jawab debitor. Hal ini adalah
wajar mengingat bahwa suatu perikatan KUH Perdata tidak memberikan pengertian
yang pelaksanaannya semata-mata lebih lanjut dari kedu hal tersebut. Jika kita lihat
digantungkan pada kehendak debitor pernyataan “keadaan memaksa”, yang dikaitkan
adalah batal demi hukum. Perikatan dengan pernyataan “kejadian yang tidak
tersebut dianggap tidak pernah ada sejak disengaja” maka jelas rumusan tersebut
awal. Selain itu dalam hal perikatan tidak menunjuk pada suatu keadaan yang merupakan
dilaksanakan atau dilaksanakan tetapi kejadian yang berada di luar kekuasaan denitor
tidak sesuai dengan yang telah ditentukan, sendiri.
oleh karena terjadinya suatu peristiwa
yang masih berada di bawah kemampuan Dari uraian yang diberikan di atas tampak
debitor untuk menghindarinya ataupun jelas bahwa hukum perdata hanya mengenai
suatu peristiwa yang diciptakan oleh ketiga macam alasan sebagai alasan pempemaaf
debitor atau yang terjdi karena kelalaian dan alasan pembenar yang
debitor, memungkinkanseseorang yang telah wanprestasi
3. Debitor tidak memiliki itikad buruk untuk tidak dikenakan ancaman hukuman dalam bentuk
tidak melaksanakan kewajiban yang telah penggantian biaya kerugian dan bunga. Jika kita
dibebankan padanya berdasarkan perhatikan ketiga macam alasan tersebut, dapat
perikatan yang telah ada di antara debitor- kita katakana bahwa dari ketujuh alasan yang
kreditor. Dengan rumusan negative, yang diberikan dalam ketentuan hukum pidana
menyatakan bahwa “selama tidak ada tersebut di atas yaitu :
itikad buruk padanya”. KUH Perdata 1. Adanya daya paksa (overmacht, Pasal 48
bermaksud menyatakan bahwa cukup KUHP)
debitor berada dalam keadaan netral saja, 2. Adanya pembelaan yang terpaksa (noodweer,
dan tidak perlu berlebihan dalam Pasal 49 ayat (1) KUHP)
menyikapi terjdinya peristiwa yang tidak 3. Karena menjalankan perintah undang-undang
terduga tersebut, yang tidak berada di (Pasal 50 KUHP)
bawah tanggung jawabnya, yang 4. Karena sedang menjalankan perintah jabatan
menyebabkan debitor tidak dapat yang sah (Pasal 51 ayat (1) KUHP)
melaksanakan kewajibannya berdasarkan 5. Ketidakmampuan bertanggungjawab dari
perikatan yang telah ada. pelaku (Pasal 44 ayat (1) KUHP)
4. Terhadap alasan pembenar, Pasal 1245 6. Pembelaan terpaksa yang melampaui bata
KUH Perdata menentukan syarat yaitu (noodweerexces, Pasal 49 ayat (2) KUHP)
tidak ada penggantian biaya, kerugian dan 7. Hal yang menjalankan dengan itikad baik,
bunga, bila terjadi : suatu perintah jabatan yang tidak sah (Pasal
A. Keadaan 51 ayat (2) KUHP)
memaksa;
Terkait dengan hal tersebut, yang merupakan bagian dari perbuatan melawan
dihubungkan dengan alsan pemaaf dan alasan hukum dan ada pula yang menganggap perbuatan
pembenar dalam hukum perdata, dapat dikatakan melawan hukum adalah bagian dari wanprestasi.
bahwa ketiga alasan tersebut dapat dikatakan Hal ini merupakan hal yang wajar karena dalam
bahwa alasan pmbenar dalam hukum wanprestasi maupun perbuatan melawan hukum
perdata tersebut adalah sama dengan terdapat pihak yang dirugikan dan pihak yang
keberadaan overmacht, menyebabkan kerugian tersebut dituntut untuk
noodweerdan noodweerexces dalam hukum mengganti kerugian yang disebabkannya.
pidana . Sedangkan dua alasan yang diesbutkan Pada dasarnya terdapat perbedaan-perbedaan
dalam angka 3 dan angka 4 sudah selayaknya jika dasar antara wanprestasi dan perbuatan melawan
ketentuan tersebut sama sekali menghapuskan hukum, yaitu:
unsure perbuatan melawan hukum. Sedangkan
dalam kaitannya dengan ketentuan angka 6 dan 1. Sumber.
angka 7 sebagai alasan pemaaf perlu diperhatikan Wanprestasi dapat terjadi karena terdapat
ketentuan Pasal 1367 KUH Perdata yang suatu perjanjian sebelumnya, dengan demikian
berbunyi : untuk menyatakan bahwa seseorang telah
“Seseorang tidak hanya bertanggung jawab, atas melakukan wanprestasi harus terlebih dahulu
kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, terdapat perjanjian yang telah dibuat dan
melainkan juga atas kerugian yang disebabkan disepakati oleh para pihak. Wanprestasi dapat
perbuatan-perbuatan orang-orang yang menjadi terjadi karena terdapat pihak yang ingkar janji
tanggungannya atau disebabkan barang-barang atau lalai dalam melakukan prestasi seperti yang
yang berada di bawah pengawasannya. “ telah disepakati dalam perjanjian. Bentuk-
bentukk wanprestasi diantaranya adalah:
“Orangtua dan wali bertanggung jawab atas
kerugian yang disebabkan oleh anak-anak yang  tidak memenuhi prestasi sama sekali
belum dewasa, yang tinggal pada mereka dan  terlambat memenuhi prestasi
terhadap siapa mereka melakukan kekuasaan  memenuhi prestasi namun tidak sempurna
orangtua atau wali. Majikan dan orang yang  melakukan perbuatan yang dilarang oleh
mengangkat orang lain untuk mewakili urusan- perjanjian.
urusan mereka, bertanggung jawab atas kerugian Perbuatan melawan hukum dapat terjadi
yang disebabkan oleh pelayan atau bawahan karena undang-undang sendiri yang
mereka dalam melakukan pekerjaan yang menentukannya. Dalam pasal 1352 KUHPerdata
ditugaskan kepada orang-orang itu. “ dinyatakan bahwa:

“Guru sekolah atau kepala tukang bertanggung “Perikatan yang dilahirkan demi undang-undang,
jawab atas kerugian yang disebabkan oleh murid- bukan karena berdasarkan perjanjian dan
muridnya atau tukang-tukangnya selama waktu perbuatan melawan hukum merupakan perbuatan
orang-orang itu berada di bawah manusia yang ditentukan sendiri oleh undang-
pengawasannya.” undang.”

“Tanggung jawab yang disebutkan di atas 2. Pembuktian.


berakhir, jika orangtua, guru sekolah atau kepala Pembuktian adalah usaha untuk meyakinkan
tukang itu membuktikan bahwa mereka masing- hakim tentang kebenaran dalil-dalil yang
masing tidak dapat mencegah perbuatan itu atas dimuatkan dalam suatu sengketa. Masalah
mana meneka seharusnya bertanggung jawab”. pembuktian diatur dalam buku IV BW, yaitu
PERBEDAAN WANPRESTASI DAN Pasal 1865 yang berbunyi:
PERBUATAN MELAWAN HUKUM “Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia
Wanprestasi dan perbuatan melawan hukum mempunyai suatu hak, atau guna meneguhkan
merupakan dua pengaturan dalam hukum yang haknya sendiri maupun membantah hak orang
seringkali sulit untuk dibedakan oleh kebanyakan lain, menunjukkan pada suatu peristiwa,
orang. Ada yang menganggap wanprestasi
diwajibkan membuktikan adanya hak atau Hal ini dituangkan dalam Pasal 1243
persitiwa tersebut”. KUHPerdata yang mengatakan:
Menurut pasal 1866 KUH Perdata, alat-alat
bukti dalam perkara perdata terdiri dari: “Penggantian biaya rugi dan bunga karena tidak
dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai
 Bukti tulisan diwajibkan apabila debitur setelah dinyatakan
 Bukti dengan saksi-saksi lalai memenuhi perikatannya, tetap
 Persangkaan-persangkaan melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus
 Pengakuan diberikan atau dibuatnya dalam tenggang waktu
 Sumpah. tertentu telah dilampauinya.”
Pembuktian dalam wanprestasi berbeda
dengan perbuatan melawan hukum. Wanprestasi Maksud “berada dalam keadaan lalai” ialah
berdasarkan perjanjian, maka yang harus peringatan atau pernyataan dari kreditur tentang
dibuktikan di pengadilan adalah hal-hal apa saat selambat-lambatnya debitur wajib memenuhi
sajakah yang dilanggar dalam perjanjian oleh prestasi. Apabila saat ini dilampauinya, maka
tergugat, sedangkan dalam perbuatan melawan debitur telah melakukan wanprestasi. Tuntutan
hukum yang harus dibuktikan adalah kesalahan terhadap perbuatan melawan hukum tidak
yang telah diperbuat tergugat sehingga membutuhkan proses somasi, dengan begitu
menimbulkan kerugian. ketika perbuatan melawan hukum tersebut
dilakukan, maka pihak yang dirugikan dapat
3. Proses Penuntutan. langsung mengajukan tuntutan.
Seseorang yang dinyatakan melakukan
wanprestasi harus terlebih dahulu dinyatakan
dalam keadaan lalai dengan memberikan somasi.

PERIKATAN PERJANJIAN KONTRAK

Hubungan hukum diilapangan harta Perbuatan hukum dalam lapangan harta Perjanjian tertulis. Objek
kekayaan antara 2 orang atau lebih, kekayaan antara 2 orang atau lebih perikatan: prestasi kewajiban
dimana pihak yang satu berhak atas debitur untuk melaksanakan apa
sesuatu prestasi (kreditur) dan pihak yang telah diperjanjikan
lain (debitur) wajib memenuhi prestasi