Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

GONORHOE

Disusun oleh:

Nadiah Restu Meilindha (010.06.0045)


Sri Ratna Permata Sari (013.06.0056)

Pembimbing:
dr. Asrarudin Hamid

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR
MATARAM
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat dan rahmat-Nya, penulis telah menyelesaikan penyusunan responsi dengan

topik “Gonore”.

Penyusunan responsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat

kelulusan pada program pendidikan profesi dokter pada Fakultas Kedokteran

Universitas Islam Al-Azhar Mataram. Ucapan terima kasih kepada dr. Asrarudin

Hamid selaku dokter pembimbing terima kasih atas bimbingan, saran, petunjuk

dan waktunya serta semua pihak terkait yang telah membantu sehingga penulis

dapat menyelesaikan penyusunan responsi ini.

Penulis menyadari penyusunan responsi ini masih jauh dari kesempurnaan.

Dengan kerendahan hati, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan

mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga penyusunan responsi

ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Mataram, 1 Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI............ iii

DAFTAR SINGKATAN iv

DAFTAR GAMBAR Error! Bookmark not defined.

BAB 1.................. 1

1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Definisi 3

1.3 Sinonim 3

1.4 Epidemiologi 3

1.5 Etiologi 4

1.6 Klasifikasi 5

1.7 Patogenesis 6

1.8 Gejala Klinis 7

1.9 Diagnosa 9

1.10 Diagnosa Banding 10

1.11 Penatalaksanaan 11

1.12 Prognosis 11

BAB 2.................. 11

2.1 Identitas Penderita 12

2.2 Keluhan Utama 12

2.3 Anamnesa 12

2.4 Pemeriksaan Fisik 13

2.5 Resume 14

iii
2.6 Diagnosa 14

2.7 Diagnosa Banding 14

2.8 Planning 14

2.9 Prognosa15

Daftar Pustaka...... Error! Bookmark not defined.9

BAB 3……….…22

BAB 4………….25

iv
v
BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Latar Belakang Masalah

Infeksi Menular Seksual (IMS) masih menjadi masalah kesehatan bagi

dunia kesehatan sejak 2 dekade terakhir1. Pada 2012, World Health Organization

(WHO) menyatakan bahwa terdapat 357 juta kasus IMS yang meliputi chlamydia,

gonore, sifilis, dan trikomoniasis. Artinya, diperkirakan terdapat sekitar 1 juta

kasus IMS baru setiap hari2. Di Amerika Serikat, diperkirakan terdapat sekitar 20

juta kasus IMS baru setiap tahunnya, dan setengah dari jumlah ini ditemukan pada

remaja dan dewasa muda berusia 15 sampai 24 tahun. IMS memiliki konsekuensi

pada kondisi kesehatan jangka panjang, seperti infertilitas, faktor predisposisi

HIV/AIDS, serta stigma negatif pada kelompok masyarakat tertentu2.

Gonore merupakan jenis IMS yang paling sering ditemukan nomor dua1.

WHO mencatat terdapat 78,3 juta kasus gonore baru pada 2012 dengan case rate

25,5 per 100.000 orang dewasa laki-laki2. Di Amerika Serikat, angka kasus gonore

mengalami peningkatan yang cukup signifikan sejak 2009, dimana sebelum tahun

2009 angka kasus gonore cenderung rendah akibat pesatnya perkembangan

teknologi screening dan terapi gonore. Hingga tahun 2015, angka kasus gonore

selalu meningkat dari tahun ke tahun dengan peningkatan sebesar 12,8% sejak

2014. Peningkatan ini lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada wanita 1. Di

Indonesia sendiri case rate gonore mencapai 7,7 kasus per 100.000 laki-laki2.

Peningkatan angka kasus gonore berbanding lurus dengan meningkatnya

angka resistensi kuman Neisseria gonorrhoeae terhadap fluoroquinolone dan

menurunnya efektifitas cefixime. Berubahnya perilaku seksual seperti variasi

1
posisi koitus, meningkatnya perilaku seksual menyimpang (homoseksual, lesbian,

biseks, dan transgender) juga mempengaruhi tingginya angka kasus gonore1. Hal

ini ditambah dengan meningkatnya angka kejadian seks pra nikah pada remaja. Di

Indonesia sendiri, dibandingkan dengan tahun 2007, pada 2012 terdapat

peningkatan angka kejadian seks pra nikah sebesar 4,1% pada laki-laki berusia

20-24 tahun dan peningkatan sebesar 0,4% pada perempuan3.

Tingginya angka IMS (gonore secara khusus) tentu berdampak pada

penurunan pendapatan rumah tangga akibat tingginya biaya pengobatan IMS

beserta komplikasinya baik komplikasi lokal maupun sistemik dan khususnya

pada ibu hamil untuk skrining, pencegahan, dan penatalaksanaan IMS

kongenital1,4. Beban sosial meliputi konflik dengan pasangan seksual dan dapat

mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga4.

Dari penjelasan di atas mengenai tingginya prevalensi gonore beserta

dampaknya baik dari segi medis maupun non medis, penulis ingin membuat

responsi tentang gonore.

2
1.2 Definisi

Gonore adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Nisseria gonorrhoeae

–suatu kuman gram negatif, berbentuk biji kopi, letaknya intra atau ekstra seluler-,

yang pada umumnya menyebabkan discharge mukopurulen pada membran

mukosa uretra5,6.

1.3 Sinonim

Kencing nanah, uretritis spesifik7.

1.4 Epidemiologi

Terdapat sekitar 106 juta kasus baru gonore setiap tahunya dengan

prevalensi 36 juta kasus per tahun. Gonore lebih banyak ditemukan di negara

berkembang seperti Afrika, Asia, dan Amerika Latin 5. Di Amerika Serikat, infeksi

gonore merupakan IMS terbanyak nomor dua setelah chlamydia dan merupakan

penyebab pelvic inflammatory disease (PID) tertinggi pada wanita1. Lebih dari

700.000 orang dilaporkan terinfeksi gonore setiap tahunnya. Jumlah ini dipercaya

lebih tinggi 1,5 kali lebih banyak8. Tren gonore cenderung meningkat selama 5

tahun 8 tahun terakhir. Sebelum 2009, case rate gonore per tahun tercatat rendah

dan cenderung menurun, yakni 98,1 kasus per 100.000 populasi 1. Hal ini

dikarenakan meningkatknya teknologi diagnostik dan skrining serta

perkembangan antibiotik dosis tunggal, dan meningkatnya pemahaman

masyarakat akan pentingnya praktik seks yang aman dikarenakan adanya risiko

infeksi HIV8. Tetapi, pada 2009 hingga 2012, case rate meningkat sedikit setiap

tahunnya menjadi 106.7 kasus per 100.000 populasi di 2012. Di 2013, case rate

menurun sedikit menjadi 105,3 kasus per 100.000 populasi. Tetapi, pada tahun

3
2013 hingga 2015 terdapat peningkatan case rate yang konsisten. Pada akhir 2015

case rate meningkat 12,8% dibanding tahun sebelumnya. Jika dirata-rata terdapat

peningkatan case rate gonore sebesar 19,9% sejak 20111.

Gambar 1.BAB 1.1: Grafik jumlah kasus gonore berdasarkan tahun1.

Gonore cenderung ditemukan lebih banyak pada pria ketimbang wanita

dengan perbandingan (2 sampai 3) banding 11,5. Selama periode 2011 hingga

2015, jumlah pria yang terinfeksi gonore meningkat 44,2%, sementara jumlah

wanita yang terinfeksi gonore menurun 0,7%. Hal ini diperkirakan karena adanya

perubahan perilaku seksual menyimpang seperti gay dan biseks1.

Dari segi umur, 92,7% penderita gonore berusia antara 15 hingga 44 tahun.

Pada pria, rentang usia terbanyak adalah 25-29 tahun dan 20-24 tahun. Sementara

pada wanita, rentang usia terbanyak adalah 20-24 tahun dan 15-19 tahun1,5.

1.5 Etiologi

Infeksi gonore disebabkan oleh Nisseria gonorrhoeae, suatu kuman gram

negatif-aerob, berbentuk biji kopi, letaknya cenderung intraseluler pada sel

leukosit polymorphonuclear (PMN)5,6,8. Satu-satunya host yang diketahui adalah

4
manusia. Di luar host, kuman N. gonorrhea tidak mampu bertahan hidup, tetapi

pada tubuh manusia, kuman ini memiliki kemampuan untuk mengubah variasi

antigen yang membantu menghindari respon imun serta membantu menimbulkan

resistensi antibiotik. Kuman ini biasanya menyerang sel dengan epitel kolumnar5.

Gambar 1.BAB 1.2 Bakteri N gonorrhoea pada duh uretral pada

pria8.

Gonococci (merah) berada dalam sel PMN. Ada juga bakteri gram positif

pada hapusan ini (biru tua).

1.6 Klasifikasi

Berdasarkan ICD 10, gonore diklasifikasikan menjadi:

5
Gambar 1.BAB 1.3 Klasifikasi ICD1010

1.7 Patogenesis

Manusia adalah satu-satunya host bagi gonococci. Kuman gonococci

masuk ke dalam tubuh manusia melalui kontak seksual dengan penderita gonore

atau melalui transmisi vertikal ibu-anak ketika proses melahirkan8.

Patogenesis meliputi penempelan kuman pada sel dengan epitel kolumnar,

biasanya pada uretra pars anterior. Kuman gonococci menempel pada sel mukosa

dengan bantuan pili, yang terdapat pada seluruh permukaan kuman. Selain pili,

fitur morfologi yang membantu penempelan kuman adalah outer membrane

6
protein, yakni PilC dan Opa8. Outer membrane protein ini masing-masing

memiliki lipooligosaccharide endotoxin, yang dilepaskan bakteri selama periode

replikasi dan memiliki andil dalam proses disseminated infection. Pili kemudian

mengalami perubahan antigen supaya tidak dikenali respon imun tubuh.

Gonococci kemudian penetrasi sel epitel menembus daerah subepithelial space

dan bermultiplikasi. Invasi dibantu oleh PilC dan Opa dan dimediasi oleh enzim

adhesins dan sphingomyelinase. Setelah berada di dalam sel, Gonococci

berreplikasi dan tumbuh di lingkungan aerobik maupun anaerobik. Setelah invasi

sel, gonococci berproliferasi. Hal ini memicu respon inflamatori yang berujung

pada mikroabses submukosa dan duh mukopurulen5,8.

1.8 Gejala Klinis

Pada pria5,6:

Anamnesis:

1. Gatal pada ujung kemaluan


2. Nyeri saat kencing (uretritis akut)
3. Rasa panas setelah kencing
4. Keluar duh tubuh purulen dari uretra
5. Coitus suspectus sekitar 2-4 hari. Pada beberapa kasus bisa sampai 2

minggu.
6. Rasa tidak enak pada anus, tenesmus, duh anus dengan riwayat anal

seks.

Pemeriksaan fisik:

1. Edema dan eritematus pada orificium uretra disertai disuria


2. Duh tubuh uretra mukopurulen dengan atau tanpa massase
3. Infeksi rektum pada pria homoseksual dapat menimbulkan duh tubuh

anal atau nyeri/rasa tidak enak di anus/perianal


4. infeksi pada farings biasanya asimptomatik

7
Gambar 1.BAB 1.4 Duh uretra mukopurulen5

Pada wanita5,6:

Anamnesa:

1. Keputihan / fluor albus


2. Kadang asimptomatik
3. Coitus suspectus sekitar 2-4 hari. Pada beberapa kasus bisa sampa

2 minggu.
4. Postcoital bleeding

Pemeriksaan fisik:

1. Seringkali asimptomatik
2. Serviks eritema, edema, kadang ektropion
3. Duh tubuh endoserviks mukopurulen
4. Kadang dijumpai swab bleeding
5. Dapat disertai nyeri pelvis/perut bagian bawah
6. Infeksi pada uretra dapat menyebabkan disuria

8
1.9 Diagnosa

Gold standard gonore tetap menggunakan isolasi dan kultur bakteri N

gonorrhoeae5.

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan di Indonesia meliputi6:

1. Pemeriksaan gram dari sekret uretra atau serviks ditemukan diplokokus Gram

negatif di dalam leukosit polimorfonuklear.

Gambar1.5 Bakteri N gonorrhoea pada duh uretral pada pria8.

2. Gonococci (merah) berada dalam sel PMN. Ada juga bakteri gram positif

pada hapusan ini (biru tua).


3. Kultur menggunakan media selektif Thayer-Martin dan agar coklat McLeod

(jika tersedia)
4. Tes Thomson (percobaan 2 gelas)
5. Pemeriksaan Nucleic acid amplification test (NAATs) seperti PCR, strand

displacement assay, transcription mediated amplification assay, RNA

detection.

9
1.10 Diagnosa Banding

Pria:

1. Uretritis non gonorrhoe


2. Infeksi saluran kencing
3. Chlamydia
4. Genital herpes

Wanita:

1. Bacterial vaginosis
2. Kandidiasis vulvovaginal
3. Trikomoniasis
4. Chlamydia
5. Genital herpes
6. PID
7. Kehamilan ektopik
8. Neoplasma serviks

1.11 Penatalaksanaan

Berdasarkan pedoman Perdoski, tatalaksana gonore meliputi6:

Nonmedikamentosa:

1. Periksa dan obati pasangan seksual tetapnya bila mungkin.


2. Anjurkan abstinensia sampai terbukti sembuh secara laboratoris, dan bila

tidak dapat menahan diri supaya menggunakan kondom.


3. Kunjungan ulang pada hari ke-3 dan hari ke-8
4. Konseling jelaskan mengenai penyakit gonore, kemungkinan komplikasi,

cara penularan, serta pentingnya pengobatan pasangannya.


5. Konseling mengenai kemungkinan risiko tertular HIV, hepatitis B,

hepatitis C, dan penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya.

Medikamentosa:

1. Obat pilihan: Cefixime tab 400mg 1dd1 no VII


2. Obat alternatif:
 Levofloxacin tab 500mg 1dd1 no VII
 Thiamphenicol tab 3,5g 1dd1 no VII
 Ceftriaxone amp 250mg 1dd1 no III pro inj. I

10
3. Komplikasi: Ceftriaxone amp 500mg 1dd1 pro inj IM + azithromycin tab

2g 1dd1 + doxycycline tab 100mg 2dd1 selama 14 hari

1.12 Prognosis

Baik jika diobati secara tepat dan teratur

11
BAB 2

LAPORAN KASUS

Identitas Penderita

Nama : Tn. H
Jenis kelamin : laki-laki
Usia : 29 tahun
Status : belum menikah
Alamat : Praya
Pekerjaan : Swasta
Tanggal Pemeriksaan : 24 April 2019
Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : Sekitar 167 cm

Keluhan Utama

Perasaan panas dan nyeri pada penis

Anamnesa

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan perasaan panas dan nyeri pada penis, sejak 3

minggu yang lalu. Gejala dirasakan terutama saat pasien ereksi, setelah kencing

dan setelah makan makanan yang pedas atau minum minuman yang mengandung

alkohol. Pasien juga mengeluh keluar cairan seperti nanah dari saluran kencing.

Pasien mengaku dan menduga pernah berhubungan dengan perempuuan lain saat

pasien tidak sadar akibat pengaruh alkohol 1 bulan yang lalu.

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak ada riwayat prostatitis / vasektomi

Tidak ada riwayat batu saluran kemih

Tidak ada riwayat trauma pada penis

12
Pernah menderita infeksi jamur pada kuku

Riwayat Alergi

Tidak ada alergi makanan maupun obat

Riwayat Pengobatan

Pasien pernah berobat di klinik praktek dokter umum mendapatkan obat 3 macam

(pasien tidak tahu obatnya)

Pemeriksaan Fisik

A. Keadaan umum : Baik


B. Kesadaran : CM
C. GCS : 456

Status Generalis
 Kepala/ leher : Dalam batas normal

 Thorax : Dalam batas normal

 Abdomen : Dalam batas normal

 Extremitas : Dalam batas normal

 Veneorologi :

 Discharge/duh mukopurulen
 OUE tidak tampak eritema atau edema

Resume

 Pria usia 29 tahun


 Riwayat coitus dengan berbeda pasangan
 Gejala muncul 3 minggu setelah coitus
 Nyeri saat ereksi dan setelah miksi
 Discharge mukopurulen

13
Diagnosa

Infeksi gonorrhoe

Diagnosa Banding

Chlamydia

Urehtritis non gonococcal

Planning

Planning diagnostik:

 Pemeriksaan gram dari sekret uretra


o Diplococus +
o PMN penuh +

Planning terapi:

Nonmedikamentosa:

 Periksa dan obati pasangan seksual bila mungkin.


 Anjurkan abstinensia sampai terbukti sembuh secara laboratoris, dan bila

tidak dapat menahan diri supaya menggunakan kondom.


 Konseling jelaskan mengenai penyakit gonore, kemungkinan komplikasi,

cara penularan, serta pentingnya pengobatan pasangannya.


 Konseling mengenai kemungkinan risiko tertular HIV, hepatitis B, hepatitis

C, dan penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya.

Medikamentosa:

Doksisiklin 2x200 mg (5 hari)

Azitromisin 1x500 mg dosis tunggal

Prognosis

Baik

14
BAB 3

PEMBAHASAN
3.1 Identitas Pasien
Pada kasus ini, pasien Tn. H usia 29 tahun bekerja sebagai pekerja

swasta, ini sesuai dengan literature bahwasannya kejadian gonoroe paling

sering pada laki laki.


3.2 Anamnesis Pasien

Pasien datang dengan keluhan perasaan panas dan nyeri pada penis,

sejak 3 minggu yang lalu. Gejala dirasakan terutama saat pasien ereksi,

setelah kencing dan setelah makan makanan yang pedas atau minum

minuman yang mengandung alkohol. Pasien juga mengeluh keluar cairan

seperti nanah dari saluran kencing. Pasien mengaku dan menduga pernah

berhubungan dengan perempuuan lain saat pasien tidak sadar akibat

pengaruh alkohol 1 bulan yang lalu.

Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa penularan terjadi

melalui kontak seksual, dimana masa tunas penyakit berkisar antara 2-5 hari

( 1-14 hari). Gejala klinis untuk infeksi pertama yang paling sering dijumpai

pada pria adalah uretritis anterior akuta dan dapat meluas ke proksimal,

selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal, asendend dan diseminata.

Keluhan subyektif berupa rasa gatal dan panas di bagian distal uretra di

sekitar orifisium uretra eksternum kemudian disusul disuria, polakisuria,

keluar duh tubuh mukopurulen pada orifisium uretra eksternum yang

kadang-kadang disertai darah, dan disertai perasaan nyeri pada waktu ereksi.

Pada literatur disebutkan bahwa penderita gonorrhoe didapatkan gejala

seperti gejala edema dan eritema di orificium uretra eksterna, namun pada

15
pasien ini tidak didapatkan gejala tersebut, hal ini kemungkinan bisa

disebabkan karena berbagai faktor diantaranya pasien sudah berobat dan

mendapatkan terapi dari pengobatan sebelumnya yang kemungkinan

diberikan obat-obatan seperti antibiotik sehingga menurunkan aktifitas

bakteri meskipun tidak sampai menghilangkan gejala seluruhnya.

Disamping itu juga terkait sistem imun dari host atau pasien yang terinfeksi

bisa dihubungkan dengan derajat keparahan panyakitnya. Pada pasien ini

juga tidak ditemukan pembesaran KGB inguinal.

3.3 Diagnosis
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang didapatkan diagnosis gonoroe. Hal ini sesuai dengan literatur

yang mengatakan bahwa diagnosis gonoroe ditegakkan berdasarkan gejala

klinis. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pengecatan

gram yang didapatkan bakteri diplococcus gram negatif.


Pada temuan gejala klinis yang mendukung salah satunya keluhan

sakit waktu ereksi, kencing, serta didapatkan duh pada orifisium eksterna.
3.4 Penatalaksanaan
Pada kasus ini pasien mendapat terapi non farmakologis :
 Periksa dan obati pasangan seksual tetapnya bila mungkin.
 Anjurkan abstinensia sampai terbukti sembuh secara laboratoris, dan bila

tidak dapat menahan diri supaya menggunakan kondom.


 Konseling jelaskan mengenai penyakit gonore, kemungkinan komplikasi,

cara penularan, serta pentingnya pengobatan pasangannya.


 Konseling mengenai kemungkinan risiko tertular HIV, hepatitis B, hepatitis

C, dan penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Hal ini sesuai

dengan literatur bahwa gonore disebabkan karena hubungan seksual

yang tidak sehat.

16
 Pasien juga mendapat terapi medikamentosa berupa Azitromisin 1x500mg

dosis tunggal + doxycycline tab 2x200mg selama 5 hari.


Hal ini sesuai dengan literatur bahwa antibiotik oral (golongan sefalosporin)

merupakan obat yang bersifat bakterisid dan sebagai pilihan pertama untuk

terapi gonoroe selain itu dikarenakan pasien sudah menggunakan antibiotik

maka pilihan pada obat golongan sefalosporin dan dikombinasi.

17
BAB 4
KESIMPULAN

Gonore adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Nisseria

gonorrhoeae –suatu kuman gram negatif, berbentuk biji kopi, letaknya intra

atau ekstra seluler-, yang pada umumnya menyebabkan discharge

mukopurulen pada membran mukosa uretra

Diagnosis gonoroe ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan

penunjang seperti pengecatan gram. Pada gonoroe akan ditemukan bakteri

diplococcus gram negatif.

Penanganan yang menjadi pilihan utama dalam kasus ini adalah

Antibiotik sistemik golongan sefalosporin dan di kombinasi. Periksa dan

obati pasangan seksual tetapnya bila mungkin. Anjurkan abstinensia sampai

terbukti sembuh secara laboratoris, dan bila tidak dapat menahan diri supaya

menggunakan kondom. Kunjungan ulang pada hari ke-3 dan hari ke-8

Konseling jelaskan mengenai penyakit gonore, kemungkinan komplikasi,

cara penularan, serta pentingnya pengobatan pasangannya. Konseling

mengenai kemungkinan risiko tertular HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan

penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya.

18
Daftar Pustaka

1. Centers for Disease Control and Prevention 2016, Sexually transmitted

disease surveillance 2015, pp. v, 1-2, 17-30 U.S. Department of Health and

Human Services, Atlanta.

2. World Health Organization 2016, Report on golobal sexually transmitted

infection surveillance 2015, pp. 1-11, 28-38, WHO Press, Geneva.

3. Kementerian Kesehatan RI 2015, Situasi kesehatan reproduksi remaja,

pp. 1-7, Pusat Data dan Informasi, Jakarta.

4. Kementerian Kesehatan RI 2011, Pedoman nasional penanganan infeksi

menular seksual 2011, pp. 1-4, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit

dan Penyehatan Lingkungan, Jakarta.

5. Kinghorn, GR, Briggs, A, & Gupta, NK 2016,’Other sexually transmitted

bacterial diseases’, Rook’s textbook of dermatology, vol. 1, no. 9, pp. 30.1-

30.30.8.

6. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia 2014,

Panduan layanan klinis dokter spesialis dermatologi dan venereologi, pp.

278-281, PP Perdoski, Jakarta.

7. Rizal, Y 2011, Hubungan perilaku cara mendapatkan pengobatan pada

penderitas uretritis gonore akuta non komplikata pria terhadap resistensi

obat, thesis, Padang, Universitas Andalas, viewed 26 September 2017.

19
8. Wolf, K, Goldsmith, LA, Katz, SI, Gilchrest, BA, Paller, AS, Leffell, DJ

2007,'Gonorrhea and other venereal diseases',Fitzpatrick’s dermatology in

general medicine, no. 7, chapter 25, pp. 1-21, McGraw Hill.

9. Hook, EW & Handsfield, HH 2007,’Gonococcal infections in the adult’,

Sexually transmitted diseases, no. 4, chapter 35, pp. 627-645, McGraw Hill.

10. World Health Organization, ICD10 data, available at:

http://www.icd10data.com/ICD10CM/Codes/A00-B99/A50-A64/A54-

20