Anda di halaman 1dari 3

Nama : Lilis Nozara

NIM : 1610301116
Kelas : 6B3 Fisioterapi

LEARNING OUTCOME
TUTORIAL 1 SISTEM SYARAF PUSAT (SSP)
1. Jelaskan prevalensi stroke !
Jawab :
Prevalensi penderita stroke di Indonesia meningkat dari 8,3 per 1.000 populasi
penduduk pada tahun 2007 menjadi 12,1 per 1000 populasi penduduk pada tahun 2013.
Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi penyakit stroke di Indonesia
meningkat seiring bertambahnya usia. Kasus stroke tertinggi yang terdiagnosis tenaga
kesehatan ialah pada kelompok usia 75 tahun keatas (43,1%) dan terendah pada kelompok
usia 15-24 tahun yaitu sebesar 0,2%. Prevalensi stroke berdasarkan berdasarkan jenis
kelamin lebih banyak pada laki-laki (7,1%) dibandingkan perempuan (6,8%). Berdasarkan
tempat tinggal, prevalensi stroke di perkotaan lebih tinggi (8,2%) dibandingkan dengan
daerah pedesaan (5,7%). Prevalensi kasus stroke tertinggi terdapat di Sulawesi Utara
(10,8%) dan terendah di Provinsi Papua (2,3%).

(Arisoy YM. Gambaran NIHSS RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2014 –
Juni 2015. eCliniC. 2016;4(1).)

2. Jelaskan Intervensi Fisioterapi pada stroke !


Jawab :
a. PNF memberikan fasilitasi pada otot untuk bisa berkontraksi sehingga terjadi
peningkatan kekuatan otot dan memperbaiki koordinasi gerak, dan sejalan dengan
perkembangan motorik dan sensorik pada pasien stroke maka akan terjadi peningkatan
pada aktifitas fungsionalnya.
b. IR (infra red) membantu merileksasikan otot-otot yang kaku, memperbaiki sirkulasi
darah, meningkatkan metabolism tubuh dan secara tidak langsung meningkatkan
kukuatan otot. Sehingga dapat mempercepat proses pemulihan pada kasus diatas.
c. Breathing exercise membantu menambah ventilasi alveolar dan mengembalikan fungsi
diagfrahma supaya otot-otot pernafasan kuat, bekerja dengan efisien, terkoordinasi baik,
kemampuan mengontrol pernafasan dan memelihara pergerakan dinding thoraks.
d. Passive exercise akan menimbulkan pumping action sehingga memperkecil efek
kontraktur pada jaringan lunak (otot, tendon dan ligament) dan memelihara fisiologis
otot.
e. Aproksimasi untuk memfasilitasi postural tonus otot melalui aktifitas sekitar sendi.
f. Stimulasi bertujuan untuk meningkatkan reaksi-reaksi pada otot.
g. Positioning untuk mencegah potensial akibat tirah baring seperti decubitus.

(Affandi, A.R. 2016. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Hemiparese Dextra Di Rsud
Dr. Moewardi. Naskah Publikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta).

3. Apakah stroke termasuk Traumatik Brain Injury (TBI) ?


Jawab :
Cedera otak traumatik atau trauma kapitis adalah cedera mekanik yang secara
langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala,
fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri, serta
mengakibatkan gangguan neurologis (Sjahrir, 2012). Cedera kepala merupakan sebuah
proses dimana terjadi cedera langsung atau deselerasi terhadap kepala yang dapat
mengakibatkan kerusakan tengkorak dan otak (Pierce dan Neil, 2014).
Sedangkan stroke merupakan penyakit atau gangguan fungsional otak berupa
kelumpuhan saraf (deficite neurologis) akibat terhamabatnya aliran darah ke otak (Junaidi,
2011). Bisa dilihat dari penyebabnya saja stroke dan TBI sudah berbeda, TBI karena trauma
mekanik sedangkan stroke karena penyumbatan pembuluh darah (non traumatic).
Stroke iskemik dan cedera otak traumatis (TBI) adalah penyebab utama kecacatan
parah pada orang dewasa. TBI adalah faktor risiko stroke yang tidak diketahui karena
trauma pada kepala dan leher dapat meningkatkan risiko stroke melalui diseksi pembuluh
darah, cedera mikrovaskular, atau koagulasi abnormal. Sebuah studi observasional di
Taiwan baru-baru ini berdasarkan analisa data menyebutkan ada hubungan antara TBI dan
semua jenis stroke. Dimana komponen TBI (perdarahan subarachnoid dan intraserebral),
meningkatkan risiko kejadian stroke pada bulan pertama. Oleh karena itu, ada kemungkinan
bahwa beberapa peristiwa yang diklasifikasikan sebagai kejadian stroke hanyalah kelanjutan
dari TBI.

(James F. Burke. 2013. Traumatic Brain Injury May Be An Independent Risk Factor For
Stroke. 81(1): 33–39).
4. Analisa Skenario (sebab-akibat) !
Jawab :
a. Semua anggota gerak kanan tidak bias digerakkan : gangguan/penyumbatan berada di
hemispher kiri, karena sifat lesi pada hemisphere adalah gangguan motorik berupa
kelemahan pada sisi kontralateral
b. Rasa baal : gangguan sensoris akibat kerukasan saraf pusat (otak) karena penyumbatan
c. Napas pedek dan dangkal : tergambar dari hasil RR yang tinggi (40 x/ menit), akibat
melemahnya otot pernapasan dan tirah baring lama.
d. Atrofi otot sisi kanan : karena lama tidak dikontraksikan akibat stroke sehingga terjadi
penurunan massa otot
e. bahu kanan tidak simetris : karena adanya kelemahan otot kanan menyebabkan
imobilisasi dalam jangka waktu lama, sehingga postur berubah
f. tonus otot lembek : karena kekuatan otot menurun akibat tidak dikontraksikan
g. suhu lebih dingin dibanding kiri : suhu dihasilkan dari metabolisme basal pada saat otot
beraktifitas/kontraksi, saat otot lemah, aktifitas menurun, suhu pun turun.
h. hiporeflek trisep, bicep, patella : adanya gangguan neuron motorik yaitu gangguan pada
sel saraf yang berfungsi untuk menanggapi rangsangan sensorik dengan memproduksi
gerakan otot yang diperlukan.
i. gangguan sensoris, motorik kanan : karena adanya gangguan syaraf pusat (otak)
sehingga proses perjalanan impuls terganggu, dan menimpulkan rasa baal (sensorik) dan
kelemahan otot (motorik).
j. MMT kanan 3 : adanya kelemahan otot, akibat gangguan syaraf pusat pasca stroke
k. gangguan kesimbangan : Gangguan keseimbangan pada stroke berhubungan dengan
ketidak mampuan untuk mengatur perpindahan berat badan dan kemampuan gerak otot
yang menurun sehingga keseimbangan tubuh menurun. Selain itu pasien stroke akan
berusaha membentuk gerakan kompensasi untuk gangguan kontrol postur mereka.
l. gangguan koordinasi : adanyan gangguan kontrol motorik pada pasien pasca stroke
sehingga tidak mampu mengkoordinasi gerakan anggota tubuhnya.