Anda di halaman 1dari 13

Bab

Astronomi

Astronomi adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan


dengan gera.kan, penyebaran, dan karakteristik ben-
da-benda langit. 1 Ilmu ini bisa jadi merupakan yang
paling tua dari kelompok ilmu-ilmu fisik. Proses pen-
ciptaan yang telah dibahas dalam Bab "Kosmologi"
yang lalu, memberikan sejumlah gagasan tentang ke-
luasan dan kebesaran alam semesta yang mengagum-
kan yang diciptakan Tuhan ini. Dan, ilmu ini juga
membahas kemajemukan langit dan bumi serta me-

nunju.kkan bahwa dalam proses penciptaan benda-
benda itu terdapat sebuah tahap peralihan antara pen-
ciptaan lelangit dan penciptaan bumi. 2
Perlu ditekankan terlebih dahulu di sini bahwa
Al-Quran bukanlah kitab astronomi, bukan pula se-
buah buku astrologi, dan tentu saja tidak dibenarkan
mendudukkan Al-Quran sebagai kitab astrologi da.n
astronomi. Seluru.h manifestasi yang mengagumkan
dari dunia fisik ini, seperti proses penciptaan, penye-
baran alam semesta menjadi lelangit yang beraneka
macam, gerakan benda-benda angkasa serta ciri-ciri
khususnya dill;lkiskan Al-Quran bukan sebagai pela-
jaran astronomi atau astrologi, melainkan agar diper-

1
Encyclopaedia ofBritannica, cdisi kcsembilan.
2
Maurice Bucaillc, The Bible, the Qur'an and Science, Bab 4.

Bahan dengan hak cipta


80 Ensildopedjana Ilmu dalam AJ-Quran

gunakan sebagai refleksi acau menjadi randa renrang eksistensi, keagungan,


kebesaran, dan kekuasaan muclak Sang Pengendali da.n Pencipta alam se-
mesta, yakni Allah Swt.
Sernua deskripsi renrang alam semesta yang dikernukakan Al-Quran
memberikan kesan tentang keharmonisan dan keseimbangan yang sangat
menakjubkan di antara gerakan benda-benda langit, baik secara sendiri-
sendiri maupun dalam kairannya dengan seluruh jagat raya. Dan, keserasian
serta keseimbangan yang dirunjukkan oleh semesta raya ini menunjukkan
dengan jelas bahwa mereka sedemikian taat da.n patu.h kepada Sang Pengarur.
Semuanya diatur dan dikendalikan sedemikian rupa oleh Allah sehingga
kereraruran dan keseimbangan yang ditunjukkan oleh semesra raya yang
sangat mengagumkan itu menjadi tanda akan adanya kebenaran yang paling
asasi, yakni kesacuan hukum yang mengendalikan alam ini. Hal ini, bagai-
manapun, akan membawa kica pada prinsip Kesarua.n Kendali dan Tujuan-
prinsip Kesatuan Pencipta (tauhid).
Terdapat banyak ayat Al-Quran yang memberikan garnbaran tenrang
banyaknya jurnlah langir dan bumi. Al-Quran menuntun dan mengajak
manusia memerhatikan langit:

Maka apaltah mere/ta tidalt melihat a/tan langityang ada di atas mere/ta? Bagaimana
Kami mminggiltannya dan mmghiasinya dan langit-langit itu tidalt mempunyai
rttalt-rttalt sidiltitpun?(QS Qaf [50): 6)

Tentang fakta bahwa langit itu tidak memiliki tiang penyangga, di-
seburkan dalarn firman:

Allah-Lah yang mminggikan langit tanpa tiang (sebagaimana} yang kamu /ihat,
ltnnudian Dia bmtmayam di atas /tr~ dan mmundukltan matahari dan bu/an,
masing-masing beredar hingga wa.lttuyang ditmtukan. AUah mmgatur urusan (m.akhlult-
Nya}, mmjelasltan tanda-tanda {ltebesaran-Nya), supaya ltamu meyaltiniptrtnnuan-
{mu} dmgan Tuhanmu. (QSAJ-Ra'd [13): 2)
Dia mtnciptaltan langit tanpa tiang yang kamu meiihatnya dan Dia mtktaltkan
gunung-gunung {di pe11nukaan} bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu.
(QS Luqman [31): 10)
Dia mminggiltan bangunannya laiu mmyempurnaltannya. (QS Al-Nazi'~t [79]: 28)
Dan Allah telah meninggiltan langit dan Dia mektakltan neraca {keadilan}. (QS AJ-
Rahmin [55]: 7)

Bahan dengan hak cipta


f

Asttonomi • 81

Demikian pula dengan sejumlah ayat-sebagaimana telah dikemukakan



dalarn bab terdahulu-yang memberikan gambaran tentang penciptaan
langit dan bumi serta fenomena benda-benda langit yang sangat menga-
gumkan itu. Semua pemaparan itu menarik perhatian manusia untuk me-
ngagumi kebesaran dan keagungan Allah dan untuk menunjukkan bahwa
segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini, dengan ruangnya yang
sedemikian luas dan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya,
yang kesemuanya itu terlihat luar biasa besar dibandingkan dunia manusia-
dan berada di luar jangkauan pemahamannya-hanyalah merupakan bagian
kecil dari Kerajaan Allah Swt. Demi pencapaian kesadaran inilah, manusia
'
dianjurkan "untuk mempelajari astronomi. Berapa banyak perjalanan spi-
ritual yang dapat kita lakukan untuk menjelajahi fenomena ciptaan Alla.h
yang menakjubkan d.ala.m alam semesta ini, yang demikian besar dan-
pada saat yang sama-sangat teratur ini! Pikiran kita, demikian pula alat-
alat canggih yang berteknologi tinggi, tidak mampu menelusuri betapa
luasnya semesta ini. Kita takjub terhadap besarnya bintang-bintang dan
planet-planet, dan terkesima menyaksikan kescabilan gerakannya yang arnat
mengagumkan dalam garis edar yang tidak berubah". 3
Pengaturan dan pengendalian benda-benda langit itu sedemikian me-
nakjubkannya sehingga melampaui pemahaman-bahkan imajinasi-
manusia, mdampaui batas kemampuannya. Al-Quran menjelaskan keter-
aturan dan keseimbangan yang mengagumkan ini dengan firman berikut:

Katakanla.h: "Siapa Ytzng Empunya la.ngityang tujuh dan Ytzng Empunya .ltra.ry yang
btsar?" Mtrtka akan mtnjawab: "Ktpunyaan Allah." Katakanla.h: "Maka apakah
kamu tidak btrtakwa?" Katakanla.h: "Siapa yang di tangan-Nya btrada ktkuasaan
atas stgala. stsuatu stdang Dia mtlindungi, tttapi tidak ada yang dapat dilindungi dari
(azab}-Nya,jikakamu mtngttahui?(QSA1-Mu'min\1n [23): 86-88)
Mataharidan bula.n btrtdarmrourutperhitungan. (QSAl-R.ahman [55): 5)

Tujuan gerakan matahari dan bulan digarnbarkan sebagai herikut:

Dia mroying.singkan pagi dan mrojadikan ma/am untuk btristirahat, dan (mmjadikan)
matahari dan bula.n untuk ptrhitungan. !tula.h ktttntuan Alla.h Yting Mahaptrkasa
la.giMahaMtngttahui. (QSAl-An'am [6]: 96)

3 Muhammad Quthb, Maltkah Conference.

Bahan dengan hak cipta


82 Ensiklopediana llmu dalam Al-Quran

Adapun hikmah di balik pergerakan bintang-bintang, dijelaskan Allah


dalam firman ini:

Dan Dia/ah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya


petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan
tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orangyang mengetahui. (QS Al-An'am
[6]: 97)

Sedang.k an susunan pengaturannya diterangkan dalam firman sebagai


berikut:

Darf Dia telah menundukkan (pu/a) bagimu matahari dan bu/an yang terus-menerus
beredar (dalam orbitnya),· dan telah menundukkan bagimu ma/am dan siang. (QS
Ibrahim [14]: 33)

Lalu, Al-Quran mengarahkan perhatian manusia pada keteraturan, di-


siplin, ketat d.an tepatnya pengaturan bencla-benda langit, gerakan-gerakan-
nya yang menakjubkan, yang semuanya sedemikian teratur, tetap, dan ter-
susun rapi. ltu tiad.a lain merupakan tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi
mereka yang berpikir, yang merenu.ngkan dan mengkaji semua fenomena
semesca (QS Al-Jatsiyah [45]: 13). Ayat-ayat Al-Quran yang demikian itu
sungguh mendorong pengembangan penelitian ilmiah dan studi tentang
astronomi uncuk mengungkap lebih banyak lagi informasi tencang ciptaan
Allah Swt., karakteriscik dan perilaku benda-benda langit, sifat, dan pengaruh
gerakannya cerhadap fenomena alam. Semakin k.ita berpikir centang tanda-
tanda kebesaran Allah yang terhampar di langic dan di bumi, semakin
dekatlah kita kepada Sang Pencipta semesca raya yang menakjubkan ini.
Al-Quran menegas~ hal ini dalam firma.n:

Dan dnnikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-


binatang ternak ada yang bmnacam-macam warnanya {dan jenisnya). Sesungguhnya
yang takut kepadaAl/ah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama {orang-orang
yang memiliki ilmu), sesungguhnya Allah Mahaperkasa lag/ Maha Pengampun. (QS
Fachir [35]: 28)
Sesungguhnya pada yang dnnikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-
orangyang mmgetahui. (QSAl-ROm (30]: 22)
Sesungguhnya pada yang dnnikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum
yang mendmgarkan (QS Al-ROm (30): 23), bagi kaum yangmempergunakan akalnya.
(QS Al-RQm [30): 24 dan 28)

Bahan dengan hak cipta


'
Astronomi 83

Dan, kita baca lagi tentang gerakan benda-benda langit yang sedemi-
• kian stabil dan konstan pada garis edar tertentu:

Dan matahari berjalan di ttmpat peredarannya. Demikianlah ketetapan ~ng


Mahaperkasa /agi Maha Mmgetahui. Dan telah Kami tttapkan bagi bu/an manzilah-
manzilah, sehingga {sett/ah di.a sampai kt manzilah yang terakhir maka) kembali/ah ia
sebagai bentuk tandan yang tua. Ttdak/ah mungkin bagi matahari mendapatkan
bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pad.a
garis edarnya. (QS Ya Sin (36]: 38-40)
Dia/ahyang mmjadikan matahari bersinar dan bu/an bercahaya dan ditetapkan-Nya
manzilah-manzilah (tnnpat-wnpat) bagiperja/anan bu/an itu, supaya kamu mengetahui
bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak mmciptakan yang demikian
itu, melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda {kebesaran-Nya) kepada
orang-orangyang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu
dan pad.a yang diciptakan Allah di /angit dan di. bumi, bmar-benar terdapat tanda-
tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orangyangbertakwa. (QS Ynnus (10): 5-6)
Dan {Dia ciptakan) tanda-tanda (pmunjuk ja/an). Dan dengan bintang-bintang
itulah m~reka mmdapatpetunjuk. (QSAI-Nahl (16]: 16)

Sejauh ini, kita telah banyak mengutip ayat-ayat Al-Quran yang


menjelaskan banyaknya jumlah langit dan bumi serta tentang gerakan yang
sedemikian seimbang dan terkendali dari benda-benda langit yang senantiasa
berada dalam ketetapan dan keteraturan yang luar biasa-semuanya tunduk
kepada hu.kum Allah. Sekarang, tiba waktunya kita mengutip ayat-ayat Al-
Quran yang menggambarkan sifat dan kara.k ter berbagai macam benda
langit. Tentang sifat matahari dan bulan, Al-Quran menuturkannya sebagai
berikut:

Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia


menjadikan juga pelita. dan bu/an yang bercahaya. (QS Al-Fu.rqan (25): 61)
Tulakkah kamu perhatikan bagaimanaAl/ah telah mmciptakan tujuh /angit bmingkat-
tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan
matahari sebagai pelita. (QS Nllh (71]: 15-16)

Tentang cahaya bintang-bintang, Al-Qura.n memaparkan ayat berikut:

* (sirajan, yakni matahari-peny.)

l Bahan dengan hak cipta


84 Ensil<lopediana llmu dalam AJ-Quran

Demifojar, dan malamyangsepuluh, danyanggenapdanganjiL (QSAl-Fajr [89): 1-3)


Akan tetapi, barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan}; maka
iadikejaroleh suluhapiyangcemerlang. (QSAl-Shaffit [37): 10)
Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami
mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan
sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk
mendmgar-dengarkan {berita-beritanya). Tetapi sekarang, barang siapayang (mencoba)
mendmgar-dengarkan {seperti itu} tentu akan menjumpai panah api yang mengintai
{untuk membakamya). (QSAl-Jinn (72): 8-9)

Pernyataan AJ-Quran tentang berbagai planet itu merupakan penjelasan


yang u.m um, tidak menunjuk pada keberadaan suatu planet tertentu. Hal
ini karena Al-Quran bukanlah kitab astronomi dan bukan pula sebuah
buku yang mencoba memberikan pelajaran mengenai astronomi sebagai-
ma.na telah ditegaskan di ba.gian awal bab ini. Akan tetapi, Al-Quran adalah
kitab ilahi yang diturunkan Tuhan sebagai petunjuk kepada manusia untuk
menjalani kehidupannya. Al-Quran menjelaskan fakta-fakta astronomi
dengan caranya sendiri, sebagai penggugah perhatian manusia untuk men-
capai kesadara.n mengenai kebesa.ran Allah, Sang Pencipta bintang clan ben-
da-benda langit lainnya yang amat mengagumkan, sehingga mereka dapat
memikirkan tanda-tanda kebesaran-Nya serta menemukan petunjuk yang
benar.

Sesungguhnya Kami telah menghias langityang terdekat &kngan hiasan, yaitu bintang-
bintang. (QS AJ-ShMfar [37): 6)

AJ-Quran juga menyebutkan kondisi planet-planet itu tatkala semesta


alam hendak dihancurkan beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintangjatuh berserakan. (QS AJ-Infithar


[82): 1-2)

Perbandingan antara cahaya planet da.n cahaya lain yang tergambar


dalam kutipan ayat-ayat berikut merupakan contoh abadi mengenai ke-
indahan lukisan dan gaya bahasa Al-Quran:

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah, adalah
seperti sebuah lubangyang tale tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di

Bahan dengan hak cipta


Astronomi 85

dalam kaca (dan} kaca itu stakan-akan mtrupakan bintang (yang bercahaya) septrti
mutiara, yaitu yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak btrkahnya,
(yaitu) pohon uitun yang tumbuh tidak di stbt!ah timur {stsuatu) dan tidak pula di
stbtlah barat(nya}, yang minyalmya {saja) hampir-hampir mmerangi, wa!aupun tidak
distntuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing ktpada cahaya-
Nya siapayang Dia kehmdaki, dan Allah memperbuatptrumpamaan-perumpamaan
bagi manusia, danA/lahMahaMmgttahui stga!astsuatu. (QSAl-Nfir [24]: 35)

Al-Quran juga merujuk pada tata surya, keteraturan geraknya yang indah
serta kesaruan hukum operasional yang mengendalikannya:

.
Dan Dia/ahyang tela.h mmciptakan ma/am dan siang, matahari dan bu/an. Masing-
masing dari keduanya itu beredardi da!amgaris edarnya. (QSAl-Anbiya' [21): 33)

Benda-benda angkasa cersebut bergerak menurut garis edarnya masing-


masing tanpa bertabrakan satu sama lain:

Tidaklah mungkin bagi ma.tahari mendapatkan bu/an dan ma/am pun tidak dapat
mendahu/ui siang. Dan masing-masing beredarpada garis edarnya. (QS Ya Sin (36}:
40)

Ayat-ayat di atas memberi pecunjuk tencang adanya orbit matahari


dan bulan. Kemudian, pergantian siang da.n malam juga memberi pecunjuk
tentang adanya musim, sedangkan perbedaan posisi terbit dan cerbenamnya
matahari memberi petunjuk tencang adanya jarak yang jauh di antara kedua
posisi itu:4

Dia menutupkan mala.m ktpada siang yang mengikutinya dengan ctpat, dan
(diciptakan-Nya pula} matahari, bu/an dan bintang-bintang(masing-masing) tunduk
kepadaptrintah-Nya. (QSA1-A'raf[7]: 54)
Tidakkah kamu perhatikan bahwa stsungguhnyaAllah memasukkan ma/am kt dalam ·
siang dan memasukkan siang kt dalam ma/am dan Dia tundukkan matahari dan
bu/an masing-masing btrjalan sampai kepada waktu yang ditmtukan, dan stsungguhnya
AllahMahaMmgttahuiapayangkamuktrjakan. (QS Luqman [31]: 29)
Dia mmutupkan ma/am atas siang dan menutupkan siang atas mala.m dan mmun-
dukkan matahari dan bula.n, masing-masing btrja!an menurut waktuyang ditmtukan.
(QS Al-Zumar [39]: 5)

4 Maurice BucailJe, Op. Cit., hh. 163-164.

Bahan dengan hak cipta


86 Ensiklopediana Ilmu dalam A1-Quran

Dan suatu tanda (kek1'11.Saan Allah yang besar) bagi mereka adalah ma/am. Kami
tanggalltan siang dari ma/am itu, ma/ea dmgan serta mma berada dalam kegelapan.
(QS Ya Sin (36]: 37)

Semua ayat Al-Quran yang disebutkan di atas pada akhirnya menunjuk


pada adanya Zac Tunggal Yang Hak, bahwa seluruh benda langit dan
fenomena fisik yang setiap hari kira amaci tunduk kepada hukum Allah
Swc. Tidak ada satu pun kejadian dalam jagat raya ini bisa terjadi atas
kemauannya sendiri atau hanya dengan proses otomatis dari watak alamiah-
nya. Akan tecapi , semuanya itu dikendalikan dan diacur oleh Allah Swc.
Mereka semua mengikuci suatu pola secara disiplin dengan kecentuan yang
telah dicetapkan Maha Pencipca dan Maha Penguasa, yaicu Allah Swc. Tidak
ada sesuatu pun yang cerjadi dapat berlangsung tanpa pengetahuan acau
kehendak-Nya. Segala sesuaru berjalan pada garisnya sesuai dengan rencana
yang telah ditentukan secara pasti oleh Sang Pencipta.

Dan pada sisi A/lah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mmgetahuinya
kecuali Dia smdiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan
• tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mmgetahui (pula) dan tidak jatuh
sebutir biji pun da/am kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kmng,
me/ainkan ttrtulis da/am kitab yang nyata (Lauh Mahflt dz.). (QS Al-An'am [6): 59)
Katakanl.ah (kepada mereka}: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah
akan agamamu (keyakinanmu}, padahaiA/lah mmgetahui apa yang ada di /angit dan
apa yang ada di bumi danAilah Maha Mmgetahui segal.a sesuatt1. (QS !:!ujurac (49):
16)

Jadi, jelaslah bahwa Sang Pencipta icu mengendalikan sepenuhnya segala


sesuacu dalam jagat raya ini. Dia mengatur semua urusan-Nya sepanjang
masa, dan tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa perincah-Nya. lni mem-
batalkan teori palsu nacuralisme (dan sekularisme) yang menyacakan bahwa
seluruh fenomena alam yang terjadi dalam semesca ini bergerak berdasarkan
hukum alam yang bersifat swakendali dan swaadapcif. Pernyataan ini sama
sekali cidak benar. Jika kita kembali merujuk pada penjelasan Al-Quran di
atas, jelas sekali cidak ditemukan apa yang disebuc dengan hukum dan
kekuatan alamiah. Hal cersebuc merupakan penyalahgunaan nama Allah,
Yang Mengendalikan dan Mengarur semua peristiwa sesuai dengan hukum-
hukum-Nya.

Bahan dengan hak cipta


Ascronomi 87

Jarak ruang angkasa yang arnat luas dapat dikecahui dari ayat-ayat Al-
Quran sebagai berikuc:

... Aduhai, semoga (jarak) antara aku dan kamu stperti jarak antara masyrik dan
0

maghrib (QSAI-Zukhruf [43]: 38)


Maka Aku bersumpah dmgan Tuhan ~ng memiliki Timur dan Barat sesungguhnya
Kami bmar-benar Mahakuasa. (QS Ma'arij [70]: 40)
Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara
• kedua tempatterbmamnya. (QSAI-Rahman [55): 17)

Semua ayat di acas memberi pecunjuk cencang jarak yang luar biasa
jauhnya antara tempat cerbicnya macahari dan cempat cerbenamnya. Al-
Quran juga memberikan petunjuk cencang adanya cahapan evolucif dalarn
pencipcaan tata surya serca penciptaan alam semesta: ·: .. dan Dia tundukkan
matahari dan bu/an masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang
ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerja-
kan" (QS Luqman (31]: 29). Bahkan, ayat berikut ini menunjukkan bahwa
matahari beredar pada garis edarnya menurut jangka waktu yang celah di-
ten tukan: ''Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ke-
tetapan Yttng Mahaperkasa /agi Maha Mengetahui" (QS Ya Sin (36]: 38).
Gagasan lainnya yang diberikan oleh Al-Qura.n ialah bahwa alarn se-
mesta ini berada dalam keadaan yang cerus-menerus ·berkembang, cerus-
menerus mengalami ekspansi:

Dan langit itu Kami bangun Mngan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami
benar-bmar meluaskannya. (QS Al-D:Wiyat [51]: 47)

Al-Quran juga menunjukkan kemungkinan manusia untuk menakluk-


kan dan rnenembus melampaui bacas-bacas alam semesta:

Hai jamaahjin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi} pmjuru langit
dan bumi, maka lintasi/ah; kamu tidak dapat menembusnya, melainkan Mngan
kekuatan. (QSAI-Rahman [55): 33)

* maryrik adalah tempat terbit matahari (timur), sedangkan maghrib adalah tempat cerbenam
macahari (barat)-pcny.

Bahan dengan hak cipta


88 Ensiklopediana Ilmu dalam Al-Quran

Ayac-ayac di atas dan ayat-ayat lain yang serupa d.alam Al-Qura.n me-
ngundang perhacian manusia untu.k melakukan scudi tentang alam semesca
yang melingkupinya, melakukan penelician ascronomi untuk menemukan
keajaiban dalam ciptaan Allah, dan memperkukuh keimanan kepada-Nya
dan kepada kekuasaan-Nya atas segala sesuatu yang ada dalam alam semesta,
bukan untuk mengingkari keberadaan-Nya. Faktor lain yang menambah
pencingnya arci scudi astronomi bagi seorang Muslim adalah "dimensi kosmis
dari aspek ibadah Islam" yang beraneka ragam bencuknya. Waktu shalac
sehari-hari dan penetapan awal dan akhir berpuasa harus ditetapkan se- •
panjang cahun di semua cempat dan semua negara yang didiami umat
Islam. Demikian pula dengan arah kiblac yang juga harus ditecapkan di
mana pun umat Islam berada atau ketika sedang melakukan perjalanan.
Dengan kata lain, secara prakcis wakcu dan arah kiblat perlu dicecapkan
uncuk semua negara guna memudahkan kaum Muslim yang bertempat
tinggal di daerah itu atau yang ada dalam perjalanan. Jadi, kebutuhan hidup
beragama sekaligus bintang-bintang yang sangat menakjubkan itu, semuanya
memberikan kepada umac Islam sebuah dorongan kuat uncuk menyelidiki
dan menyelenggarakan penelician dalam bidang asuonomi ini.5
Scudi centang ascronomi yang lebih banyak dilakukan daripada bidang
lainnya, mengingatkan manusia kepada adanya kemahaluasan dan kemaha-
kuasaan serta betapa kukuh dan kuatnya pengendalian Allah, Sang Maha
Pencipta. Seluruh langit dan benda-benda di dalamr1ya dikendalikan dan
diatur secara a.m at certib dan berdisiplin. Terdapat aturan dan kesatuan
tujuan yang amat sempurna yang dengan sangac jelas menunjukkan keha-
diran Sang Pencipta yang sepanjang masa mengendalikan, mengacur, dan
mengurus segala hal ihwalnya. Gaya penuturan yang dipakai Al-Quran-
seperti halnya kicab yang mengandung petunjuk-bersifat memberikan
peringatan, mengimbau manusia untuk memerhatikan sistem ibadah Ilahiah
yang kekal dan abadi serta Sunnah rasul-Nya, seraya di sana-sini menyajikan
beberapa deskripsi centang kebesaran dan kekuasaan All.a h dalam fenomena
fisik. Akan tetapi, secara umum, corak dan sasaran dari pengecahuan infor-
macif itu adalah untu.k memperingatkan m anusia agar tidak lupa bahwa
ilmu-ilmu ini cidaklah sepenting kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan-
nya, yakni kesimpulan yang menuntun manusia kepada ketaatan terhadap
Pencipca dan Pemelihara alam semesta ini.
Oleh karena itu, cidaklah mengherankan jika peradaban Islam melahir-
kan ahli-ahli ascronomi ya.n g cerkenal seperti Al-Birunt, Nashir Al-Dtn Al-

s Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science, hh. 92-93 .


Bahan dengan hak cipta


J

Astronomi 89

Thftsi, Quthb Al-Din Al-Syirazi, Habbasy Al-Hasib, Banu Mftsa, Abu Ma'syar
Al-Balkhi, Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi, Al-Farghani (Alf.raganus),
Al-Nayrizi (Ana.ritius), Abu Abdullah Al-Batclnt (Albategrius), Abu Sahl Al-
Kuht, 'Abd Al-Rahman Al-Sufi, Ibn Yftnus, Ibn Al-Haytsam (Alhazem), 'Abd
Al-Rahman Al-Khazini, Al-Zarqili (Azarguiel), Abt1 Bakar ibn Thufail, Nur
Al-Din Al-Bicr(ljt (Alpetragius), Mu'ayyid Al-Dtn Al-Urdi, Muhyi Al-Din
Al-Maghribt, Ghiyath Al-Din Jamsyid Al-Kasyant, Ulugh Beg, Qadi-zadah
Rumi, i\li ibn Amajur (Banft Amajur), dan 'Abd Al-Hasan.O

I'
Bahan dengan hak cipta
Astrologi

Selama beberapa abad, ascrologi dianggap idencik


dengan ascronomi, dan orang "percaya bahwa benda-
benda langic mempunyai pengaruh cerhadap bumi
dan penghuninya. Astrologi secara umum dapac di-
bagi menjadi dua: pertama, Ascrologi Alami (Natural
Astrology), yakni suatu ilmu yang mencoba meramal-
kan gerakan benda-benda langic dan gerhana macahari
dan bulan. Kedua, Ascrologi Yudisial (Judicial Astro-
logy), yakni ilmu yang mempelajari pengaruh perbin-
cangan terhadap nasib manusia". 1
Para ahli astrologi Muslim yang masyhur, yang
juga merupakan ahli astronomi , mempelajari dan
mempraktikkan astrologi sebagai sebuah pengetahuan
ilmiah, bukan untuk tujuan meramalkan pengaruh
jelek dari gerakan benda-benda langit itu cerhadap
manusia dan peristiwa di acas bumi.

Kenyaraannya, simbolisme yang amac kuat dalam ascrologi


itulah yang menyebabkannya bisa berincegrasi ke dalam
peradaban Islam, dan khususnya ke dalam aspek-aspek
esoterisme Islam, terlcpas dari adanya pcrbcdaan lahiryang
amat jelas antara upaya ilmu astrologi d.alam mencoba
meramalkan kejadian yang akan datang (di satu sisi) dan

1
Encyclopa.edia Britannica, vol. 11.

Bahan dengan hak cipta


Astrologi 91

ajaran Islam yang mcndcankan bahwa semua kcjadian tcrjadi hanya karcna kchcndak
Allah (di sisi lain).2

Sebagian besar ilmuwa.n Mu.slim menolak segi yudisial dari astrologi


(yakni, meramalkan kejadian di masa depan), dan menunjukkan bahwa ia
sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah. Sarjana-sarjana Muslim kenamaan
yang menentang fungsi astrologi yudisial ini antara lain adalah Ibn Sina
(Avicenna), lbn Rusyd (Averroes), Al-Ghazali, Al-Binlni, dan Nashir Al-Din
Al-Thl1si.
Kebanyakan dari mereka hanya tercarik pada simbolisme kosmologis
dalam astrologi dan menjauhkan diri dari memberikan ramalan (horoscopes)
atau mencoba menebak masa depan seseorang.3
Tak diragukan lagi bahwa ahli astrologi awam-dalam rangka mencari
penghidupan dan reputasi duniawi-memang menggunakan dan memprak-
tikkan astrologi jenis ini:

Akan tctapi, pada tingkatan tcrtinggi, yakni dalam karya-karya mctafisika clan mistisisme
(irfuni-pcny.), simbolisme astrologi yangscdemikian kuat itu tclah diintegrasikan
secara sempuma ke dalarn esoterisme Islam. OaJarn karya-karya ini, astrologi-<lalam
aspck simbolisnya-<linyatakan sebagai sarana yang dcngannya manusia dapat
menemukan kcmbali dimensi kosmis dirinya sendiri, sehingga ia mampu menyadari
hakikac malakut dan realicas arkccipal dirinya, scrca mcmahami pcngaruh realicas ini
ccrhadap eksistcnsi di bumi ini.•

1
Scyycd Hossein Nasr, Islamic Science, hh. 126-131 .
l Encyclopaedia Britannica, Loe. Cit.
4
Scyyed Hosscin Nasr, Op. Cit.

Bahan dengan hak cipta