Anda di halaman 1dari 26



1.1 Latar Belakang

Pembangunan industri merupakan bagian dari pembangunan nasional, sehingga


derap pembangunan industri harus mampu memberikan sumbangan yang berarti
terhadap pembangunan ekonomi, budaya maupun sosial politik. Oleh karenanya,
dalam penentuan tujuan pembangunan sektor industri jangka panjang, bukan
hanya ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan di sektor industri
saja, tetapi sekaligus juga harus mampu turut mengatasi permasalahan nasional.
Kondisi ekonomi dunia yang terus berubah perlu diiringi dengan analisis
mengenai dampak dari situasi tersebut kepada Perekonomian Indonesia.

Perubahan terhadap tatanan ekonomi dunia dengan semakin bertumbuhnya


kekuatan-kekuatan ekonomi baru dan semakin pudarnya kekuatan-kekuatan
ekonomi lama memberikan pengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Di
samping itu, tekanan-tekanan yang terjadi terhadap perekonomian dunia seperti
naiknya harga komoditas-komoditas utama dunia perlu untuk mengambil
kebijakan yang tepat.

Untuk itu, Indonesia perlu menyiasati perkembangan-perkembangan tersebut


dalam rangka mewujudkan tujuan-tujuan nasional terutama di bidang industri dan
perdagangan. Untuk meningkatkan daya saing industri yang berkelanjutan perlu
adanya anlisa mengenai dampak perubahan berbagai variabel kinerja makro
ekonomi terhadap perkembangan sektor industri.

Untuk mewujudkan visi industri Indonesia tahun 2014 yaitu Pemantapan daya
saing basis industri manufaktur yang berkelanjutan serta terbangunnya pilar
industri andalan masa depan untuk menunjang visi Industri tahun 2025 dengan

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 1


menjadi negara industri maju di dunia, Kementerian Perindustrian perlu untuk
menyiasati perkembangan-perkembangan ekonomi dunia maupun regional dalam
rangka merebut peluang-peluang yang ada untuk menunjang perkembangan
Industri di dalam negeri.

Untuk itu diharapkan dengan adanya laporan analisis pengembangan kinerja


industri ini dapat menjadi acuan dalam memahami kondisi ekonomi Indonesia
dan kebijakan-kebijakan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasinya.

1.2 Tujuan dan Sasaran

Tujuan dari analisa ini adalah :

 Meningkatkan kemampuan aparatur dalam menganalisa perkembangan


ekonomi dan industri serta memberikan rekomendasi upaya-upaya yang harus
diantisipasi.

 Memberikan masukan kepada para Pimpinan Kementerian Perindustrian untuk


membantu dalam hal pengambilan kebijakan untuk pengembangan sektor-
sektor industri.

Sasaran dari analisa ini adalah Memberikan informasi tentang perkembangan


kinerja sektor industri terkini kepada para Pimpinan Kementerian Perindustrian
dengan harapan dapat memberikan masukan yang bermanfaat dalam
pengambilan kebijakan pengembangan sektor industri.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 2



2.1 Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV Tahun 2010

Kinerja perekonomian Indonesia pada Triwulan IV-2010, sesuai PDB atas dasar
harga konstan 2000 menurun sebesar 1,4 persen dibanding triwulan sebelumnya
(q-to-q). Penurunan tersebut mengikuti pola triwulanan yang lalu yaitu
mengalami kontraksi pada Triwulan IV setelah terjadi kenaikan pada Triwulan
III. Pertumbuhan negatif pada Triwulan IV-2010 ini disebabkan oleh Sektor
Pertanian yang mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 20,3 persen
karena siklus musiman. Sedangkan sektor-sektor lainnya, selama Triwulan IV-
2010 mengalami pertumbuhan positif yaitu: Sektor Pengangkutan dan
Komunikasi tumbuh 3,7 persen, Sektor Jasa-jasa tumbuh 2,5 persen, Sektor
Konstruksi tumbuh 2,5 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih tumbuh,1,7
persen, Sektor Industri Pengolahan tumbuh 1,4 persen, Sektor Keuangan, Real
Estat dan Jasa Perusahaan tumbuh 1,3 persen, Sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran tumbuh 0,7 persen, serta Sektor Pertambangan dan Penggalian
tumbuh sebesar 0,6 persen (Tabel 2).

Selanjutnya, perekonomian Indonesia pada Triwulan IV-2010 bila dibandingkan


dengan Triwulan IV-2009 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 6,9 persen.
Pertumbuhan tersebut terjadi pada semua sektor ekonomi yaitu: Sektor
Pengangkutan dan Komunikasi mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 15,5
persen, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran tumbuh 8,4 persen, Sektor
Jasa-jasa tumbuh 7,5 persen, Sektor Konstruksi tumbuh 6,7 persen, Sektor
Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan tumbuh 6,3 persen, Sektor Industri
Pengolahan tumbuh 5,3 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih tumbuh 4,3

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 3


persen, Sektor Pertambangan dan Penggalian tumbuh 4,2 persen, serta Sektor
Pertanian tumbuh 3,8 persen.

Tabel 2.1
Laju Pertumbuhan PDB Triwulanan Menurut Lapangan Usaha (persentase)

Triwulan III-2010 Triwulan IV-2010 Triwulan IV-2010


Lapangan Usaha Terhadap Terhadap Terhadap
Triwulan II-2010 Triwulan III-2010 Triwulan IV-2009
(1) (2) (3) (4)

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 6,2 -20,3 3,8


2. Pertambangan dan Penggalian 3,5 0,6 4,2
3. Industri Pengolahan 2,6 1,4 5,3
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0,1 1,7 4,3
5. Konstruksi 4,4 2,5 6,7
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 3,9 0,7 8,4
7. Pengangkutan dan Komunikasi 4,7 3,7 15,5
8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 1,7 1,3 6,3
9. Jasa -jasa 1,1 2,5 7,5
Produk Domestik Bruto (PDB) 3,4 -1,4 6,9
PDB Tanpa Migas 3,6 -1,5 7,4
(Sumber : BPS)

2.2 Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010

Perekonomian Indonesia pada tahun 2010 mengalami pertumbuhan sebesar 6,1


persen dibanding tahun 2009. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar
harga konstan pada tahun 2010 mencapai Rp2.310,7 triliun, sedangkan pada
tahun 2009 dan 2008 masing-masing sebesar Rp2.177,7 triliun dan Rp2.082,5
triliun. Bila dilihat berdasarkan harga berlaku, PDB tahun 2010 naik sebesar
Rp819,0 triliun, yaitu dari Rp5.603,9 triliun pada tahun 2009 menjadi sebesar
Rp6.422,9 triliun pada tahun 2010.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 menurut Menteri Keuangan


Agus Martowardojo dipengaruhi oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga,
investasi dan ekspor yang mendapat dukungan dari meningkatnya beberapa
harga komoditas. Pertumbuhan ekonomi diprediksi akan terus meningkat pada
tahun 2011 dengan catatan Pemerintah mampu mempertahankan laju inflasi dan
Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 4
pembenahan pada sektor konsumsi, target pertumbuhan 2011 sebesar 6,4
persen.

Selama tahun 2010, semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan.


Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang
mencapai 13,45 persen, diikuti oleh Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
8,69 persen, Sektor Konstruksi 6,96 persen, Sektor Jasa-jasa 6,01 persen, Sektor
Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 5,65 persen, Sektor Listrik, Gas dan
Air Bersih 5,31 persen, Sektor Industri Pengolahan 4,48 persen, Sektor
Pertambangan dan Penggalian 3,48 persen, dan Sektor Pertanian 2,86 persen.
Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2010 mencapai 6,56 persen yang
berarti lebih tinggi dari pertumbuhan PDB secara keseluruhan yang besarnya
6,10 persen.

Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang mengalami pertumbuhan sebesar


8,69 persen memberikan sumbangan terhadap sumber pertumbuhan terbesar
terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti
oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang
memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen.Selengkapnya dapat
dilihat Tabel 2.2

Pertumbuhan sektor non migas semenjak tahun 2005 berada dibawah


pertumbuhan PDB sebagaimana tersaji pada Tabel 2.3 dan Grafik 2.1.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 5


Tabel 2.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha
(Persen)

LAPANGAN USAHA 2004 2005 2006 2007 2008 2009* 2010**

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN 2.82 2.72 3.36 3.47


PERIKANAN 4.83 3.98 2.86

2. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN -4.48 3.20 1.70 1.93 0.71 4.44 3.48
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 6.38 4.60 4.59 4.67 3.66 2.16 4.48
a. IndustriMigas -1.95 -5.67 -1.66 -0.06 -0.34 -2.19 -2.31
b. Industri Non Migas 7.51 5.86 5.27 5.15 4.05 2.56 5.09
4. LISTRIK, GAS, DAN AIR BERSIH 5.30 6.30 5.76 10.33 10.93 14.29 5.31
5. BA N G UN A N 7.49 7.54 8.34 8.53 7.55 7.07 6.98
6. PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN 5.70 8.30 6.42 8.93 6.87 1.30 8.69
7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 13.38 12.76 14.23 14.04 16.57 15.50 13.45
8. KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERSH. 7.66 6.70 5.47 7.99 8.24 5.05 5.65
9. JASA - JASA 5.38 5.16 6.16 6.44 6.24 6.42 6.01
PRODUK DOMESTIK BRUTO 5.03 5.69 5.50 6.35 6.01 4.58 6.10
PRODUK DOMESTIK BRUTO TANPA MIGAS 5.97 6.57 6.11 6.95 6.47 4.96 6.56

(Sumber : BPS, * Angka Sementara, ** Angka Sangat Sementara)


Tabel 2.3 dan Grafik 2.1
Pertumbuhan PDB Ekonomi dan PDB Industri Non Migas
Tahun 1997-2010

15.00%

10.00%

5.00%

0.00%

-5.00%

-10.00%

-15.00%
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

PDB INDUSTRI NON MIGAS PDB EK ONOMI

(Sumber : BPS)

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 6


2. 3 Perkembangan Realisasi Investasi Tahun 2010

Perkembangan Realisasi Investasi pada tahun 2010 dapat tergambarkan pada


tabel berikut :
Tabel 2.4
Realisasi Investasi PMA dan PMDN Tahun 2010
Investasi PMA Investasi PMDN
Sektor (US$. Juta) (Rp. Miliar)
I Sektor Primer 3.042,3 12.131,4
II Sektor Sekunder 3.357,1 25.612,6
6 Industri Makanan 1.025,9 16.405,4
7 Industri Tekstil 154,8 431,7
8 Industri Barang Kulit dan Alas Kaki 144,1 12,5
9 Industri Kayu 43,1 451,3
10 Industri Kertas dan Percetakan 46,4 1.102,8
11 Industri Kimia dan Farmasi 798,4 3.266,0
12 Industri Karet dan Plastik 105,0 522,8
13 Industri Mineral Non Logam 28,4 2.264,6
14 Industri Logam, Mesin dan Elektronik 589,6 789,6
15 Industri Instru. Kedokteran, Presisi & Optik & Jam 1,4 -
16 Industri Kendaraan Bermotor & Alat Transportasi Lain 393,8 362,2

17 Industri Lainnya 26,2 3,7


III Sektor Tersier 9.815,3 22.882,2
Total 16.214,8 60.626,3
(Sumber : BKPM)

Tabel diatas menunjukkan bahwa nilai investasi PMA terbesar terletak pada
Sektor Tersier yang memiliki nilai tambah kecil bagi perekonomian, sementar di
Sektor Primer dan Sekunder yang memiliki nilai tambah besar bagi perekonomian
hanya 48% dari Investasi PMA. Secara total angka investasi PMA ini mengalami
peningkatan sebesar 55% dibanding tahun 2009. Namun investasi PMA pada
Sektor industri menurun dibanding tahun 2009. Penurunan ini terjadi karena
Indonesia sulit bersaing dengan Negara Industri lain dalam hal kelayakan
infrastruktur dan regulasi yang masih tumpang tindih. Terobosan terhadap
regulasi dan prioritas pembangunan perlu dilakukan untuk meningkatkan

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 7


investasi di bidang industri. Investasi PMDN didominasi oleh investasi pada
bidang Industri, kondisi ini menunjukkan bahwa para pelaku industri mulai
melakukan ekspansi usaha, untuk itu perlu dukungan kebijakan yang bisa
menopang tumbuhnya investasi yang berasal dari dalam negeri,

Secara umum perkembangan Investasi kita tersaji pada Tabel dan Gambar
Berikut :

Tabel 2.5
Realisasi Investasi PMA
Tahun 2006-2010 (US$ Juta)
TAHUN
Sektor
2006 2007 2008 2009 2010
Sektor Primer 532,4 599,3 335,6 462,6 3.042,3
Sektor Sekunder 3.619,7 4.697,0 4.515,2 3.831,1 3.357,1
Sektor Tersier 1.839,5 5.045,1 10.020,5 6.521,2 9.815,3
TOTAL 5.991,7 10.341,4 14.871,4 10.815,0 16.214,7

(Sumber BKPM)
Grafik 2.2
Pertumbuhan Investasi PMA
Tahun 2007-2010
Persen

2007 2008 2009 2010


TOTAL 72.60 43.80 (27.28) 49.93
(Sumber : BKPM)

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 8


Tabel 2.6
Realisasi Investasi PMDN
Tahun 2006-2010 (Rp. Miliar)

TAHUN
Sektor
2006 2007 2008 2009 2010
Sektor Primer 3,599.8 4,377.4 1,757.7 4,415.9 12,131.4
Sektor Sekunder 13,012.7 26,289.8 15,914.8 19,434.4 25,612.6
Sektor Tersier 4,036.5 4,211.5 2,690.8 13,949.5 22,882.2

TOTAL 20,649.0 34,878.7 20,363.4 37,799.8 60,626.2

(Sumber : BKPM)
Grafik 2.3
Pertumbuhan Investasi PMDN
Tahun 2007-2010
Persen

2007 2008 2009 2010


TOTAL 68.91 (41.62) 85.63 60.39

(Sumber : BKPM)

Berdasarkan tabel tersebut diatas pola investasi kita sangat terpengaruh dengan
kondisi ekonomi dunia saat krisis dunia tahun 2008, investasi PMA dan PMDN
kita mengalami penurunan yang sangat tajam, namun segera pulih pada tahun
berikutnya. Untuk menghindari
menghindari dinamika ekonomi yang terjadi di dunia, perlu
dilakukan langkah-langkah
langkah pengaman yang bersifat segera dan tepat sasaran.
Salah satu langkah pengamanan yang dapat dilakukan adalah adanya early
warning system terhadap situasi ekonomi dunia sehingga bisa dilakukan
penyesuaian kebijakan.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 9


2.4 Perkembangan Ekonomi Tahun 2011
2.4.1 Inflasi

Inflasi bulan Februari tercatat sebesar 0,13 dipengaruhi oleh adanya kenaikan
harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada kelompok makanan
jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,47 persen; kelompok perumahan, air,
listrik, gas dan bahan bakar 0,40 persen; kelompok kesehatan 0,69 persen;
kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,13 persen dan kelompok
transport, komunikasi & jasa keuangan 0,15 persen serta perununan indeks pada
kelompok bahan makanan 0,33 persen dan kelompok sandang 0,08 persen

Dari tiga kelompok komponen sumbangan inflasi terhadap inflasi nasional yaitu:
komponen inti 0,31 persen dan komponen yang harganya diatur pemerintah 0,32
persen, Sedangkan komponen bergejolak Mengalami penurunan sebesar 0,48
persen1.

Tabel 2.7
Inflasi Bulanan, Inflasi Year on Year

Inflasi 2009 2010 2011

Februari 0.21 0.3 0.13


Januari-Februari 0.14 1.14 1.03
Februari terhadap Februari (Yoy) 8.60 3.81 6.84
(Sumber : BPS)

Keadaan ini mengakibatkan Inflasi kita (YoY) naik sebesar 6,84 persen, untuk
menekan laju inflasi perlu dilakukan kebijakan yang memungkinkan
dilancarkannya arus barang, karena mengingat pada akhir tahun 2010
khususnya bulan November-Desember dan Januari efek dari kenaikan harga

1
Yang dimaksud dengan komponen inti adalah faktor fundamental ekonomi (seperti nilai tukar, pertumbuhan
ekonomi, dll), Komponen Bergejolak adalah harga-harga barang yang terpengaruh dengan arus barang dan jasa,
komponen harga diatur pemerintah adalah harga BBM dan pupuk.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 10


kebutuhan pokok seperti beras dan bahan makanan seperti cabe menjadi
pendorong tingginya inflasi pada tahun 2010.

Disamping itu perlu juga dirumuskan


dirum kebikajakan yang mendukung infrastruktur,
seperti Fasilitasi pembangunan Infrastruktur Industri yang difokuskan kepada
kepa
penurunan biaya arus barang. Dengan program koridor ekonomi yang
dicanangkan pemerintah diharapkan dapat mendukung pengembangan sektor-
sek
sektor ekonomi khususnya industri, apabila sektor ini berkembang ke depan
diharapkan dapat menahan laju inflasi.

Tahun 2011 akan menjadi tahun yang berat bagi perekonomian Indonesia dalam
hal mengendalikan inflasi,
inflasi Ada beberapa faktor
tor yang harus menjadi
menjad perhatian
dalam mengelola
gelola kebijakan khususnya tren inflasi pada tahun 2011, yang utama
adalah harga komoditi dunia yang terus meningkat khususnya pada Minyak Bumi
dan Kapas. Untuk memperkuat analisa tersebut perlu kita lihat Grafik berikut:

Grafik 2.4
Harga Minyak

Harga Minyak/Barrel (US$) Crude Oil


Price/Barrel
(US$), 103.96
Jan-09

Mar-09

May-09
Jun-09

Oct-09

Jan-10

Mar-10

May-10
Jun-10

Oct-10

Jan-11
Feb-09

Apr-09

Jul-09
Aug-09
Sep-09

Nov-09
Dec-09

Feb-10

Apr-10

Jul-10
Aug-10
Sep-10

Nov-10
Dec-10

Feb-11

(Sumber : www.indexmundi.com)

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 11


Jan-09
Jan-09
Feb-09
Feb-09
Mar-09
Mar-09
Apr-09
Apr-09
May-…
May-09
Jun-09
Jun-09
Jul-09
Jul-09
Aug-09

(Sumber : www.indexmundi.com)
(Sumber : www.indexmundi.com)
Aug-09
Sep-09
Sep-09
Oct-09
Oct-09
Nov-09
Nov-09
Dec-09
Dec-09
Jan-10

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010


Jan-10
Feb-10
Feb-10

Grafik 2.6
Grafik 2.5

Mar-10
Harga Kapas

Harga Gandum
Mar-10
Apr-10
Apr-10
May-…

Wheat/Metric Ton (US$)


May-10
Jun-10
Cotton Price/Pound (US$ Cent)

Jun-10
Jul-10
Jul-10
Aug-10
Aug-10
Sep-10
Sep-10
Oct-10
Oct-10
Nov-10
Nov-10
Dec-10
Dec-10
Jan-11
Jan-11
Feb-11
(US$), 348.15

Feb-11
(US$ Cent), 213.18

Wheat/Metric Ton
Cotton Price/Pound

Page 12
Dari grafik diatas menunjukkan bahwa ada tren peningkatan yang cukup besar
pada harga minyak, gandum, dan Kapas. Tekanan pada peningkatan harga
minyak ini akan memaksa belanja subsidi menjadi makin besar. Setiap kenaikan
harga minyak 1 US$ akan menyebabkan belanja subsidi BBM naik sebesar 2,6
Triliun rupiah, langkah yang diambil pmerintah untuk mengantisispiasi keadaan
ini adalah dengan pembatasan BBM.

Dari hasil analisa kebijakan sektor ekonomi pembatasan BBM ini memiliki
kelemahan, dan bisa memicu gejolak harga yang mendorong inflasi menjadi
lebih tinggi dari sekarang, bila kondisi ini berlanjut maka akan memaksa Bank
Indonesia untuk menaikkan BI Rate, yang dampaknya akan mendorong
peningkatan suku bunga pinjaman, akibatnya bagi sektor industri adalah dapat
memperlambat pertumbuhan industri otomotif dan belanja modal industri, Untuk
menjawab tantangan ini langkah kebijakan yang dapat diambil oleh Kementerian
Perindustrian adalah dengan melakukan koordinasi dengan stakeholder yang
bertujuan untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Kenaikan harga Gandum dan Kapas akan mendorong harga-harga komoditi


dalam negeri yang terkait dengan kedua komoditi tersebut akan mengalami
peningkatan. Sehingga peluang terjadinya inflasi dari kedua komoditi tersebut
cukup besar, agar perkembangan ekonomi dan industri dapat bertahan dan terus
tumbuh, perlu ada langkah antisipasi oleh pemerintah dalam penanganan
komoditi tersebut di dalam negeri.

2.4.2 Ekspor dan Impor Non Migas Tahun 2010


2.4.2.1 Ekspor Non Migas

Nilai ekspor Indonesia Desember 2010 mencapai US$16,78 miliar atau


mengalami peningkatan sebesar 7,36 persen dibanding ekspor November
2010, Sementara bila dibanding Desember 2009 ekspor mengalami
peningkatan sebesar 25,74 persen, Secara kumulatif nilai ekspor
Indonesia Januari-Desember 2010 mencapai US$157,73 miliar atau
meningkat 35,38 persen dibanding periode yang sama tahun 2009,

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 13


sementara ekspor nonmigas mencapai US$129,68 miliar atau meningkat
33,02 persen

Pada periode Tahun 2010, Jepang masih merupakan negara tujuan


ekspor terbesar dengan nilai US$16,500,5 juta (12,72 persen), diikuti
Cina dengan nilai US$14,072,6 juta (10,85 persen), dan Amerika Serikat
dengan nilai US$13,327,2 juta (10,28 persen).

Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari-


Desember 2010, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 62,14
persen sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar
3,17 persen dan kontribusi ekspor produk pertambangan dan lainnya
adalah sebesar 16,91 persen, sementara kontribusi ekspor migas adalah
sebesar 17,78 persen.

Berikut disajikan ringkasan perkembangan ekspor Indonesia dan


Komposisi Ekspor Indonesia berdasarkan Golongan Barang pada tahun
2010.

Tabel 2.8
Ringkasan Perkembangan Ekspor Indonesia
Januari 2011

Tahun
Uraian
Januari Desember Januari Jan-Des
2010 2010 2011 2010
Total Ekspor 11,595.6 16,829.9 14,454.5 157,779.1
Migas 2,344.9 3,259.3 2,518.2 28,039.6
Nonmigas 9,251.0 13,570.6 11,936.3 129,739.5
(Sumber : BPS)

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 14


Grafik 2.7
Komposisi Ekspor Non Migas Berdasar Golongan Barang
Tahun 2010

Bahan Bakar Mineral


Lemak & Minyak hewan/nabati
14%
Mesin/Peralatan listrik
Karet dan barang dari karet
41%
13% Bijih, Kerak, dan abu logam
Mesin-mesin/pesawat
mesin/pesawat mekanik
Bahan Kimia Organik
8%
Alas Kaki

7% Serat Stapel Buatan

4% 6% Berbagai Produk Kimia

2% 2% Lainnya
1% 2%

(Sumber : BPS)

Komposisi Ekspor Non Migas berdasarkan 4 negara tujuan utama


semenjak tahun 2004 – 2010 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.9
Ekspor Non Migas
Tahun 2004-2010

Negara (US$ Juta)


Tahun
AS Jepang China Uni Eropa
2004 7,639,4 8,238,7 4,597,70 8,955,4
2005 9,239,7 9,744,0 5,408,80 10,145,8
2006 10,565,3 12,178,6 7,300,10 12,029,6
2007 11,110,7 13,287,2 8,507,00 13,344,4
2008 12,375,3 13,336,2 9,574,40 15,341,4
2009 10,470,1 11,978,9 8,920,10 13,553,4
2010 13,327,2 16,501 14,072,60 17,069,8
(Sumber BPS)

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 15


2.4.2.2 Impor Non Migas

Nilai impor Indonesia Desember 2010 sebesar US$13,09 miliar atau naik
0,63 persen dibanding impor November 2010 yang besarnya US$13,01
miliar, sedangkan jika dibanding impor Desember 2009 (US$10,30 miliar)
naik 27,08 persen, Sementara itu, selama Januari-Desember 2010 nilai
impor mencapai US$135,61 miliar atau meningkat 40,05 persen jika
dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya (US$96,83
miliar).

Negara pemasok barang impor non-migas terbesar selama Januari-


Desember 2010 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$19,69 miliar
dengan pangsa 18,19 persen, diikuti Jepang US$16,91 miliar (15,62
persen) dan Singapura US$10,05 miliar (9,29 persen), Impor non-migas
dari ASEAN mencapai 22,03 persen, sementara dari Uni Eropa sebesar
9,02 persen.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang selama Januari-


Desember 2010 dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya
masing-masing meningkat, yaitu impor barang konsumsi sebesar 47,98
persen, bahan baku/penolong sebesar 41,73 persen, dan barang modal
sebesar 31,69 persen.

Dari total impor Indonesia selama Desember 2010 sebesar US$13,089,5


juta, impor bahan baku/penolong memberikan peranan terbesar, yaitu
73,34 persen dengan nilai US$9,599,4 juta, diikuti oleh impor barang
modal sebesar 19,06 persen (US$2,494,8 juta), dan impor barang
konsumsi sebesar 7,60 persen (US$995,3 juta).

Impor Indonesia yang dirinci menurut golongan penggunaan barang,


selama Januari-Desember 2010 dibanding impor periode yang sama
tahun sebelumnya mengalami peningkatan untuk semua golongan, yaitu
untuk impor barang konsumsi dari US$6,752,6 juta menjadi US$9,992,6

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 16


juta atau meningkat 47,98 persen dan impor bahan baku/penolong dari
US$69,638,1
638,1 juta menjadi US$98,697,5
US$98 697,5 juta (naik 41,73 persen),
persen)
Demikian juga dengan impor barang
barang modal meningkat dari US$20,438,5
US$20
juta menjadi US$26,916,0
US$26 juta atau naik 31,69 persen.

Berikut disajikan ringkasan perkembangan impor Indonesia dan


Komposisi Impor Indonesia berdasarkan Golongan Barang pada tahun
2010.

Tabel 2.10
Ringkasan Perkembangan Impor Indonesia
Januari 2011

Tahun
Uraian
Januari Desember Januari Jan-Des
Des
2010 2010 2011 2010
Total Impor 9,490.5 13,146.7 12,548.7 135,663.3
Migas 1,936.9 2,643.0 2,971.8 27,412.7
Nonmigas 7,553.6 10,503.7 9,576.9 108,250.6
(Sumber : BPS)

Grafik 2.8
Komposisi Impor Non Migas Berdasar Golongan Barang Tahun 2010

Mesin dan peralatan mekanik


Mesin dan peralatan listrik
19%
Besi dan baja
Kendaran Bermotor dan bagiannya
38%
Plastik dan barang dari plastik

14% Bahan Kimia Organik


Serelia
Kapas
6% Barang dari besi dan baja
5% Gula dan kembang gula
1% 5% 5%
3% 2% 2% Lainnya

(Sumber : BPS)

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 17


Komposisi Impor Non Migas berdasarkan 4 negara tujuan utama
semenjak tahun 2004 – 2010 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.11
Impor Non Migas
Tahun 2004-2010

Negara (US$ Juta)


Tahun
AS Jepang China Uni Eropa
2004 3,301,7 6,019,8 3,822,10 5,292,4
2005 4,253,1 10,213,9 6,662,60 5,731,2
2006 4,553,7 9,230,6 8,293,90 6,003,6
2007 5,445,6 9,335,4 11,215,00 7,650,4
2008 7,865,9 14,969,8 17,598,50 10,529,5
2009 7,037,6 9,810,5 13,491,40 8,649,2
2010 9,291,3 16,908 19,687,20 9,767,2
(Sumber BPS)

Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia memperlihatkan kondisi


yang cukup menggembirakan, Kondisi perdagangan menunjukkan
surplus yang sangat besar yaitu sebanyak US$ 49 Miliar, Surplus ini
menunjukkan bahwa kinerja ekspor kita membaik, namun penguatan
rupiah saat ini bisa menghambat pertumbuhan ekspor khususnya pada
barang-barang furniture,

Bila dilihat dari komposisi Negara, dari data diatas kita simpulkan
Indonesia menghadapi kondisi perdagangan yang defisit dengan China,
Impor Indonesia sebesar US$ 19, 687 Miliar dengan nilai Ekspor sebesar
US$ 14, 072 Miliar, Meski masih defisit Ekspor kita dengan China
meningkat tajam, naik 90% dibanding tahun 2009, 2008 dan 2007,
Bahkan bila kita melihat kebelakang, Ekspor kita mengalami kenaikan
yang luar biasa, Artinya implementasi CAFTA memang memiliki
keuntungan dan kerugian, Namun yang perlu diperhatikan adalah ini
baru tahun awal implementasi CAFTA, efeknya baru bisa terlihat 2-3
tahun mendatang, Sehingga Kebijakan yang melindungi industri dalam

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 18


negeri harus diperkuat dan dipertahankan, Sebagai bahan tambahan
berikut tabel pangsa pasar di 4 negara tujuan utama yaitu AS, China,
Jepang dan Uni Eropa

Tabel 2.12
Pangsa Pasar Indonesia (Juta US$)

Negara AS China Jepang Uni Eropa


Total Impor* 1,935,600 1,394,830 690,038,6 1,200,000
Ekspor Indonesia 13,327,2 14,072,6 16,500,5 17,069,8
Presentase 0,69 1,01 2,39 1,42

*Data Impor diambil dari Website Negara masing

Dari data pangsa pasar tersebut kita bisa lihat bahwa Posisi Indonesia di
setiap negara tujuan utama ekspor masih relatif kecil, untuk itu perlu
diperkuat pengembangan produk Industri kita untuk meningkatkan total
Ekspor kita ke empat negara utama tersebut.

2.5 Perkembangan Ekonomi Dunia

2.5.1 Bencana Gempa Jepang

Pada tanggal 14 Maret 2011 Jepang terkena bencana gempa dengan kekuatan
8,9 Skala Richter, Gempa ini merupakan gempa terbesar yang pernah melanda
jepang dalam 140 tahun terakhir, Saat ini diestimasi kerugian yang dihadapi
sebesar US$ 240 Miliar atau setara dengan Rp, 2400 Triliun, bencana ini setara
dengan 4% nilai GDP Jepang.

Bencana Jepang memiliki efek terhadap perekonomian Indonesia, dengan


presentase Ekspor ke Jepang sebesar 12,72%, akan ada pengaruhnya terhadap
perekonomian meski tidak terlalu besar, mengingat Pangsa Pasar kita di Jepang
yang tidak besar.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 19


Kondisi ini diperkirakan tidak akan terlalu mengganggu kinerja ekspor kita secara
umum, mengingat peluang ekspor di China yang menunjukkan tren meningkat,
Selain itu recovery dari Gempa Jepang tidak akan berlangsung lama diperkirakan
dalam waktu 1-2 tahun Jepang akan pulih seperti sediakala.

Namun kondisi diatas sangat tergantung dengan penanganan Pembangkit Listrik


Tenaga Nuklir mereka yang mengalami kerusakan sebagai akibat bencana
gempa.

2.5.2 Krisis Timur tengah

Krisis Politik di Tunisia pada awal tahun 2011 mendorong pergeseran peta
demokrasi di Timur Tengah. Kawasan Timur Tengah selama puluhan tahun
dipimpin oleh tirani yang korup. Kondisi ini telah mendorong kekecewaan yang
luar biasa pada masyarakat karena tirani tersebut tidak bisa mendorong
kesejahteraan masyarakat, dan inilah yang mendorong masyarakat pada
kawasan tersebut melakukan penggulingan terhadap kekuasaan yang ada.

Revolusi politik selalu berpengaruh kepada ekonomi, namun permasalahan yang


terjadi pada kawasan Timur Tengah bisa menimbulkan masalah yang lebih besar.
Cadangan minyak yang dimiliki oleh negara-negara tersebut. Telah memaksa
Kilang-Kilang minyak besar di Kawasan tersebut untuk mengurangi produksinya,
tentu kondisi ini membuat harga minyak dunia terus menerus mengalami
kenaikan. Permasalahan politik di Timur Tengah harus segera diselesaikan, untuk
menghindari dunia agar tidak jatuh ke arah krisis komoditi.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 20



3.1 Perkembangan Sektor Industri Non Migas Tahun 2010

Perkembangan sektor industri non migas sampai dengan tahun 2010 secara umum
bisa kita lihat pada tabel berikut :

Tabel 3.1
Laju Pertumbuhan Industri Pengolahan Kumulatif
2009* 2010**
LAPANGAN USAHA
I II III IV I II III IV

INDUSTRI PENGOLAHAN 1,50 1,51 1,43 2,16 3,87 4,18 4,21 4,48

a, Industri M i g a s -2,20 -1,86 -1,78 -2,19 -1,01 -1,73 -2,07 -2,31

b, Industri bukan Migas 1,85 1,83 1,73 2,56 4,31 4,72 4,78 5,09

1), Makanan, Minuman dan Tembakau 13,79 15,34 13,39 11,22 0,60 1,22 2,16 2,73

2), Tekstil, Brg, kulit & Alas kaki -2,16 -2,50 -0,75 0,60 0,13 -0,01 0,05 1,74

3), Brg, kayu & Hasil hutan lainnya, 3,12 -0,96 -1,97 -1,38 -2,73 -2,81 -2,83 -3,50

4), Kertas dan Barang cetakan 3,23 3,35 4,60 6,34 -0,84 -0,50 0,48 1,64

5), Pupuk, Kimia & Barang dari karet 3,23 2,84 1,17 1,64 4,45 4,05 4,50 4,67

6), Semen & Brg, Galian bukan logam -4,69 -3,72 -2,92 -0,51 8,03 5,52 3,46 2,16

7), Logam Dasar Besi & Baja -9,88 -8,99 -7,10 -4,26 -0,06 -0,03 -0,13 2,56

8), Alat Angk,, Mesin & Peralatannya -5,97 -6,34 -5,41 -2,87 10,67 11,64 10,67 10,35

9), Barang lainnya 8,70 4,21 3,87 3,19 -1,39 2,25 2,82 2,98

PRODUK DOMESTIK BRUTO 4,60 4,37 4,31 4,58 5,59 5,86 5,84 6,10

PRODUK DOMESTIK BRUTO TANPA MIGAS 5,01 4,77 4,69 4,96 6,09 6,31 6,28 6,56
Sumber : BPS

Dari tabel tersebut kita bisa lihat bahwa pertumbuhan paling besar dialami oleh
Industri Alat Angkut, Mesin dan Peralatannya, Industri ini menjadi tulang punggung
pertumbuhan industri pada tahun 2010 dengan pertumbuhan sebesar 10,35% salah
satu faktor utama dari pertumbuhan industri ini adalah suku bunga Bank Indonesia
yang tetap stabil selama tahun 2010, sehingga mendorong masyarakat untuk
mengajukan kredit pembelian kendaran bermotor.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 21


Sementara itu kita lihat pertumbuhan industri yang mengalami pertumbuhan
industri negatif, adalah Industri hasil hutan dan perkebunan,
perkebunan Industri ini mengalami
penurunan pertumbuhan karena minimnya pasokan bahan baku yang berasal dari
alam, Salah satu faktor pemicunya adalah ekspor barang mentah bahan-bahan
bahan
tersebut.

Secara umum semenjak tahun 2005-2010


2005 2010 kita mengalami pertumbuhan industri
yang positif dengan rata-rata
rata sebesar 4,7 % dibawah rata-rata
rata rata angka pertumbuhan
ekonomi Indonesia sebesar 5,7 %. Lebih lengkapnya tersaji dalam tabel 3.2 dan 3.3
berikut :

Tabel 3.2
Pertumbuhan Industri Non Migas
2005-2010

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 22


Tabel 3.3
Kontribusi terhadap Pertumbuhan Industri
2005-2010

Perkembangan Industri tahun 2010 relatif stabil, ditopang oleh iklim ekonomi dunia
yang sedang menghadapi masa pemulihan pasca krisis tahun 2008, Imbas
pemulihan ini memang terasa pada industri
industri kita meski lajunya besar,
besar Momentum
pemulihan pada tahun 2011 ini perlu dipertahankan dengan menjaga pola
kebijakan yang bersifat insentif,
insentif Perlu dilakukan perluasan bantuan subsidi bunga
terhadap sektor industri, Kebijakan bantuan subsidi bunga adalah salah satu tools
penting untuk menjaga momentum pertumbuhan,
pertumbuhan Tahun 2010 adalah tahun
pertama implementasi ACFTA sehingga belum dapat kita katakan
katakan bahwa Indonesia
tidak terpengaruh oleh kebijakan tersebut,
tersebut Perlu dilakukan upaya-upaya
upaya untuk
menjaga industri dalam negeri, mengingat pada tahun tahun
tahun-tahun mendatang
perdagangan bebas yang bersifat regional akan terus dihadapi oleh Indonesia.
Indonesia

Industri kita secara umum memang tumbuh pasca krisis namun pertumbuhan
tersebut sangatlah lambat, dibandingkan dengan pertumbuhan Indonesia secara

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 23


total. Untuk itu perlu ada langkah-langkah konkrit untuk memperkuat industri
nasional, salah satunya melalui insentif fiskal dan subsidi bunga.

Proyeksi untuk tahun 2011 kemungkinan besar kita akan menghadapi situasi yang
sama dengan tahun 2008 dimana kita terkena imbas dari krisis global, saat ini
kondisi dunia sudah masuk dalam pemulihan, namun situasi ekonomi di Eropa
khususnya di Spanyol, Irlandia, Yunani, dan Portugal akan memaksa Uni Eropa
kembali mengeluarkan dana talangan untuk menyelamatkan ketiga tersebut. Opsi
default adalah opsi yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Eropa, namun
bukan tidak mungkin opsi ini akan diambil.

Selain dengan kondisi tersebut ancaman naiknya inflasi sebagai akibat dari
kenaikan harga minyak membuat para pelaku industri akan cenderung menahan diri
untuk melakukan investasi lebih lanjut. Oleh karena itu perlu ada kejelasan sikap
dari Pemerintah Pusat terkait dengan masalah harga BBM sehingga langkah-
langkah antisipasinya bisa dipersiapkan sejak dini.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 24



4. 1 Kesimpulan

 Secara umum Tahun 2010 ekonomi berjalan dalam koridor yang relative stabil
dan tidak ada gejolak yang berarti, kondisi ini membuat ekonomi Indonesi
berjalan stabil, sehingga angka pertumbuhan pada tahun 2010 lebih tinggi dari
tahun 2009, Efek pemulihan krisis menjadi salah satu penyebab utama
penguatan ini,
 Inflasi pada tahun 2010 menghadapi peningkatan yang cukup besar disbanding
tahun 2009 dengan angka Inflasi 7% pada tahun 2010 membuat BI rate
bergerak untuk dinaikkan pada awal tahun 2011, Kondisi harga 2010 sangat
dipengaruhi pergerakan harga komoditi seperti beras dan cabai, Untuk itu gejala
harga komoditas ini perlu dipantau secara seksama,
 Krisis Timur Tengah memaksa harga komoditas Minyak untuk terus naik,
sehingga mencapai level diatas US$ 110, kenaikan harga minyak ini memiliki
efek terhadap besaran subsidi BBM yang ditetapkan pemerintah, Dengan kondisi
ini APBN-P diperkirakan akan diajukan pada Bulan Mei 2011 dengan
memasukkan rencana pembatasan subsidi BBM,
 Kinerja Ekspor dan Impor kita sangat baik pada tahun 2010, namun kinerja ini
banyak ditopang oleh komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit, Sehingga
peluang peningkatan Ekspor Indonesia pada barang-barang manufaktur masih
terbuka lebar, khususnya dengan pemberlakuan ACFTA, Akan tetapi kebijakan
yang melindungi industri dalam negeri perlu diperkuat,

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 25


 Bencana Jepang belum akan mengganggu perekonomian nasional mengingat
besaran ekspor kita ke Jepang tidaklah besar, Namun penanganan terhadap
reaktor nuklir Jepang menjadi kunci utama dari pemulihan perekonomian
nasional.
4. 2 Saran
 Perlu dirumuskan kebijakan yang menunjang berkembangnya infrastruktur untuk
meningkatkan daya saing, mengingat kondisi Infrastruktur Indonesia menjadi
faktor besar dalam melemahkan daya saing.
 Kebijakan yang bersifat Insentif fiskal perlu dilanjutkan dengan melakukan
perluasan basis industri yang dapat memperoleh akses. Insentif ini juga perlu
disertai dengan pengawasan terhadap pelaksanaannya.

Laporan Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahun 2010 Page 26