Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

‘Misi’ memberikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin dan memberdayakan


masyarakat dalam meningkatkan derajad kesehatan. ‘Visi’ mewujudkan masyarakat sehat dan
mandiri di wilayah puskesmas simpang kiri. Untuk mencapai Visi dan misi diatas, maka
upaya yang harus dilakukan sebagai berikut:

1. Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Secara Merata Dan Terjangkau


2. Meningkatkan Kemandirian Bagi Masyarakat Untuk Hidup Sehat

Pembangunan Kesehatan secara umum bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan


dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang untuk mewujudkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilaksanakan
kegiatan pembangunan kesehatan secara menyeluruh, terpadu, sistematis dan
berkesinambungan oleh pemerintah kecamatan simpang kiri maupun pemerintah
kabupaten/kota beserta masyarakat, termasuk dunia usaha.

Ditingkat global kesehatan diakui sebagai instrumen strategis untuk mengurangi


kemiskinan seperti dinyatakan dalam MDGs (Millenium Development Goals).

Dari delapan tujuan MDGs, diantaranya menyangkut intervensi kesehatan, yaitu :

1. Perbaikan gizi,
2. Penurunan jumlah kematian ibu,
3. Penurunan jumlah kematian bayi,
4. Eliminasi Malaria, penurunan rev TBC dan HIV/AIDS
5. Akses terhadap obat essensial.

Menurut WHO, Dalam sistem selalu harus ada sub sistam informasi yang mendukung
sub sistam lainnya. Tidak mungkin sub sistem lain dapat bekerja tanpa didukung dengan
Sistem Informasi kesehatan (SIK), Sebaiknya sistem informasi kesehatan tidak mungkin
bekerja sendiri, Tetapi harus bersama sub sistem lain.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 17


Ayat 1 Menyebutkan Bahwa pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap
informasi, Edukasi dan Pasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara
derjat kesehatan yang setingi - tingginya. Selain itu pasal 168 menyebutkan bahwa untuk

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 1


menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien Diperlukan Informasi kesehatan
yang dilakukan melaui sistem informasi dan melalui kerja sama lintas sektor, dengan
ketentuan lebih lanjut akan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan Pasal 169
disebutkan pemerintah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperolah akses
terhadap informasi kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Salah satu keluaran dari penyelenggaraan sistem informasi kesehatan bagi masyarakat
kecamatan simpang kiri adalah Profil Kesehatan Puskesmas Simpang Kiri, yang merupakan
salah satu paket penyajian data/Informasi kesehatan yang relatif lengkap, berisi
data/Informasi derjat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan, dan data/informasi
terkait lainnya serta kinerja tahunan.

Profil kesehatan ini diharapkan dapat dijadikan salah satu media untuk memantau dan
mengevaluasi hasil penyelenggaraan pembangunan kesehatan didaerah Kecamatan Simpang
Kiri. Untuk itu penyusunan Profil kesehatan berkualitas, yaitu yang dapat terbit lebih cepat,
menyajikan data yang lengkap, akurat, konsisten dan sesuai kebutuhan, menjadi harapan kita
bersama.

Metodelogi penyusunan kesehatan profil kesehatan Kecamatan Simpang Kiri 2016 ini
dilakukan dengan pengumpulan data, memvalidasi data, kolerasi antar label dan program,
serta Chek dan Balance dari seluruh kegiatan program yang dihimpun dari seluruh
kabupaten/kota. Data profil ini belum termasuk yang berasal dari fasilitas kesehatan swasta,
Praktek – pratek swasta serta dokter Swasta.

Penyajian data/informasi dilakukan dalam bentuk tabel, grafik, peta dan pencapaian
indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) Perdesa Kecamatan Simpang Kiri. Profil
kesehatan Puskesmas Simpang Kiri 2016 ini terdiri atas 5 (Lima) Bab yaitu:

BAB I - Pendahuluan

Bab ini menyajikan tentang Visi dan Misi Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri,
latar belakang diterbitkannya profil Puskesmas Simpang Kiri 2016 serta
sistematika penyajiannya.

BAB II - Gambaran Umum

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 2


Bab ini berisi uraian tentang gambaran umum, yang meliputi :letak geografis,
administratif dan keadaan kependudukan serta informasi umum lainnya.

BAB III - Derajat Kesehatan


Bab ini menyajikan tentang berbagai indikator derajat kesehatan yang mencakup
tentang angka kematian dan angka kesakitan serta hasil – hasil pembangunan
kesehatan sampai dengan tahun 2016.

BAB IV - Upaya Kesehatan


Bab ini menyajikan tentang Upaya – Upaya kesehatan yang telah dilaksanakan
oleh bidang kesehatan sampai tahun 2016, untuk tercapai dan berhasilnya
program – program pembangunan dibidang kesehatan.

BAB V - Sumber Daya Kesehatan


Bab ini berisi uraian tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan
kesehatan lainnya.

BAB II
GAMBARAN UMUM
1. Luas Wilayah

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 3


Kecamatan Simpang Kiri berbatasan disebelah utara dengan wilayah desa pasir panjang.
Disebelah selatan dengan wilayah desa Lae Kombih Kecamatan Penanggalan, sebelah barat
dengan wilayah desa Boluh dori dan disebelah Timur dengan Penanggalan.

Kecamatan simpang kiri terletak antara 02⁰27’39” - 03⁰ 00’00” Bujur Timur dengan
luas area 1.391 km2. Kecamatan Simpang Kiri dibagi menjadi 12 Desa yaitu desa Pegayo,
desa Subulussalam Kota, desa Tangga Besi, desa Kuta cepu, Desa Suka Makmur, ddesa
Sikelondang, desa Subulussalam Barat, Subulussalam Timur, desa Subulussalam Selatan,
Desa Subulussalam Utara, desa Belegen Mulia, Desa Dano Teras.

Kecamatan Simpang Kiri mempunyai iklim tropis yang bertipe A dan B serta terdapat 2
(dua) musim, yaitu Penghujan ( yang biasanya berlangsung bulan Agustus - januari) dan
musim Kemarau (biasanya berlangsung bulan Maret - Agustus). Suhu udara berkisar antara
24 ⁰ C – 28 ⁰C dan curah hujan berkisar antara 1.300 – 1.500 mm/Tahun, dengan hari rata-
rata 140 hari/ Tahun.

1. Jumlah Desa/ Kelurahan


Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal – usul dan adat
istiadat setempat.
Sementara Kelurahan adalah suatu wilayah kerja lurah sebagai perangkat daerah
kabupaten/ kota dalam wilayah kerja kecamatan. Kecamatan Simpang Kiri memiliki
jumlah 12 desa.
2. Jumlah penduduk yang produktif dan non produktif dapat dilihat dari kelompok umur.
Pengelompokan penduduk dalam usia produktif dan non produktif dapat digunakan
sebagai acuan menghitung Angka Beban Tanggungan (ABT) yang merupakan
indikator ekonomi disuatu daerah. Berdasarkan Badan Pusat Statistik, Jumlah
penduduk Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 sebanyak 24,678 Jiwa.

Gambar 1 :
Piramida Penduduk Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 4


Gambar diatas menunjukkan jumlah terbesar penduduk Kecamatan Simpang Kiri
terdapat pada range usia 10 – 14 Tahun sebanyak 3,565. Penduduk Kecamatan Simpang Kiri
dapat diketahui dari banyak nya jumlah penduduk usia muda yang masih tinggi. Badan
piramida besar ini menunjukkan banyaknya penduduk usia produktif sebesar 43 % dari
24.678 Jiwa terutama pada kelompok umur 20-39 yang mencapai 16% persen baik laki-laki
mau pun perempuan. Jumlah golongan penduduk usia tua juga cukup besar mencapai 2
persen, terutama perempuan. Hal ini di maknai dengan semakin tingginya usia harapan hidup.

Kondisi ini menuntut kebijakan terhadap penduduk usia tua. Bertambahnya jumlah
penduduk usia tua dapat di maknai sebagai meningkatnya tingkat kesejahteraan,
meningkatnya kondisi kesehatan tetapi juga dapat dimaknai sebagai beban karena kelompok
usia tua ini sudah tidak produktif lagi.

3. Jumlah Rumah Tangga / Kepala Keluarga


Dari seluruh jumlah rumah tangga 4.685 dikecamatan simpang kiri pada tahun 2016,
rata-rata dalam satu rumah tangga dihuni oleh 5 orang anggota keluarganya.
4. Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk di Kecamatan simpang kiri tahun 2016 adalah 202 per Km²
artinya terdapat 202 jiwa penduduk tiap Km². Kepadatan penduduk dipengaruhi oleh
besarnya wilayah pada masing-masing desa. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di desa
Subulussalam.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 5


Gambar 2 :
Kepadatan Penduduk Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

5. Rasio Beban Tanggungan


Angka Beban Tanggungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara
banyaknya orang yang belum produktif (usia kurang dari 15 tahun) dan tidak produktif lagi
( usia 65 tahun keatas). Dengan banyaknya orang yang termasuk umur produktif (usia 15 –
64 tahun). Saat ini angka beban tanggungan (Dependency Ratio) Penduduk Kecamatan
Simpang Kiri sebesar 76 persen dengan kata lain setiap 100 orang usia produktif harus
menanggung 76 orang usia non Produktif.
Perbandingan angka beban tanggungan menunjukkan dinamika beban tanggungan
umur produktif terhadap umur non produktif. Angka ini dapat digunakan sebagai indikator
yang secara kasar dapat menunjukkan keaadaan ekonomi suatu daerah. Semakin tinggi
beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk
yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
6. Rasio Jenis Kelamin
Rasio jenis kelamin penduduk Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016 sebesar
100,persen, yang artinya Jumlah penduduk perempuan lebih sedikit dibandingkan jumlah
laki-laki. Data tentang rasio jenis kelamin berguna untuk pengembangan perencanaan
pembangunan yang berwawasan gender, terutama yang ada kaitannya dengan perimbangan
pembangunan pada laki-laki dan perempuan secara adil.

BAB III
GAMBARAN UMUM

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 6


Pembangunan secara umum sering diartikan upaya multidimensi untuk mencapai
kualitas terhadap seluruh penduduk yang lebih baik. Pembangunan kesehatan indonesia
dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Sejalan dengan tujuan pembangunan
kesehatan maka pemerintah lebih mengedepankan mutu SDM diberbagai sektor bukan hanya
di tenaga kesehatan saja. Agar masyarakat dapat berprilaku sehat menciptakan lingkungan
sehat dan menjadi masyarakat yang mandiri.
Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat terdapat beberapa indikator yang dapat
digunakan. Indikator – indikator tersebut tercermin dalam kondisi morbiditas,mortalitas, dan
status gizi. Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor
tersebut yaitu: Lingkungan, Prilaku, Pelayanan Kesehatan dan genetika. Adapun indiaktor
penting dan sangat sensitif untuk melihat serta mengukur derajat kesehatan masyarakat yaitu
antara lain: Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka
Kematian Ibu dan Angka Morbiditas beberapa penyakit , berikut penjelasan dan gambaran
dari situasi Kesehatan Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016.

A. ANGKA KEMATIAN (MORTALITAS)


Mortalitas merupakan ukuran jumlah kematian pada suatu kelompok populasi. Mortalitas
menggambarkan jumlah satuan kematian per 1.000 individu dalam periode waktu tertentu.
Salah satu tujuan MDGs (Millenium Development Goals).

1. Angka Kematian Neonatal (AKN)

Angka kematian Neonatus (AKN) adalah jumlah bayi ( usia 0-28 hari) yang meninggal
disuatu wilayah pada kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam 1000 kelahiran hidup pada
tahun yang sama.

Jumlah kematian neonatal Kecamatan Simpang Kiri berjumlah 2 jiwa per 1000 kelahiran
hidup pada tahun 2016 terdapat di desa Subulussalam dan Kuta Cepu.

2. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kematian bayi atau Mortality rate adalah angka yang mendefinisikan banyaknya
bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1000 kelahiran

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 7


berjumlah 4 Jiwa terdapat di desa Subulussalam, desa Tangga Besi dan desa Subulussalam
utara.

Gambar 3.
Angka Kematian Bayi Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

3. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka kematian balita (AKABA) adalah jumlah kematian balita sebelum mencapai usia 5
tahun berjumlah 1 Jiwa yang terdapat di desa subulussalam timur, dinyatakan sebagai angka
per 1000 kelahiran hidup. AKABA mempersentasikan peluang terjadinya kematian pada fase
antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.

Gambar 4 :
Angka kematian Balita per 1000 kelahiran hidup
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 8


Gambar diatas menunjukkan terjadi peningkatan kematian balita ditahun 2016
sebanyak 1 jiwa per 1000 kelahiran hidup. Angka ini tidak serta merta menunjukkan adanya
kelemahan dalam pelayanan kesehatan, akan tetapi sistem pelaporan masih kurang baik.
Namun demikian AKABA Kecamatan Simpang Kiri masih dibawah target MDGs. Dengan
semakin membaiknya sistem pelaporan diharapkan adanya perbaikan dari sisi pelayanan
kesehatan.

4. Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan
derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah ibu yang meninggal dari suatu
penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk
kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas ( 42
hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran
hidup.

AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan.
Indikator ini dipengaruhi oleh status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan
selama kehamilan dan melahirkan.Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan
menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.

Gambar 5 :
Angka Kematian Ibu ( AKI)
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 9


Jumlah kematian ibu ditahun 2016 yang dilaporkan adalah 355 per 100.000 lahir
hidup. Jumlah kematian ibu sebanyak 2 jiwa yang terdapat didesa subulussalam kota dan
tangga besi.

B. ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)


Morbiditas adalah angka kesakitan (Insidensi atau prevalensi) suatu penyakit yang terjadi
pada suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Insidensi suatu penyakit didefinisikan
sebagai jumlah kasus baru suatu penyakit selama kurun waktu tertentu. Angka insidensi
merupakan jumlah peristiwa per penduduk beresiko. Sedangkan prevalensi merupakan
jumlah penduduk yang sakit pada titik waktu tertentu,tanpa memperhitungkan kapan kasus
penyakit dimulai.
1. CNR Kasus baru BTA (+) dan CNR seluruh kasus TB
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah
terinfeksi basil tuberkulosis. Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur
dengan case notification rate ( CNR) dan prevalensi (didefinisikan sebagai jumlah kasus
tuberkulosis pada suatu titik waktu tertentu) dan mortalitas (didefinisikan sebagai jumlah
kematian akibat tuberkulosis dalam jangka waktu tertentu).
Case Notifications Rate (CNR) Tuberkulosisadalah angka yang menunjukan jumlah
pasien baru.pada tahun 2016 jumlah kasus baru TB BTA+ adalah 17 Kasus atau 68,89 per
100.000 penduduk, Hal ini disebabkan oleh kebiasaan laki – laki yang sering keluar rumah
sehingga kemungkinan banyak terpapar dengan udara dan terhirup doplet yang mengandung
kuman TBC

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 10


Tabel 1 :
Jumlah Kasus Baru TB BTA + dan Seluruh Kasus TB Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Gambar diatas menunjukkan jumlah kasus baru TB BTA + Kecamatan Simpang Kiri
sebesar 36 kasus (100) persen.

2. Angka Keberhasilan Pengobatan Penderita TB Paru BTA ( +)

Salah satu upaya mengendalikan TB paru yaitu dengan pengobatan. Indikator yang
digunakan sebagai evaluasi pengobatan sebagai angka keberhasilan pengobatan yaitu angka
keberhasilan pengobatan ( succes rate) angka keberhasilan pengobatan ini dibentuk dari
angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

Gambar 6:
Angka Keberhasilan Pengobatan TB Dan Paru BTA + Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 11


Pada gambar diatas dapat dilihat dari semua penderita TB yang diobati dengan angka
keberhasilan dan angka kesembuhan yang tinggi sebanyak 100 % terdapat didesa kuta cepu,
sikelondang, s.salam barat, s.salam selatan, belegen mulia, dan terendah terdapat didesa
s.salam utara dan dano teras.

3. Persentase Balita dengan Pneumonia ditangani

Pneumonia adalah penyakit paru - paru dimana pulmonary alveolus (alveoli) yang
bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfir meradang dan terisi oleh cairan radang
ini disebabkan oleh kuman pneumococcus, staphylococcus, streptococcus dan virus. Gejala
penyakit pneumonia yaitu menggigil, demam, sakit kepala, batuk mengeluarkan dahak dan
sesak nafas. Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak – anak usia kurang dari 2
tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun dan orang yang memiliki masalah kesehatan( malnutrisi,
gangguan imunologi).

Cakupan perkiraan pneumonia pada balita di Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016
sebesar 55 jiwa laki-laki dan 72 jiwa Perempuan, setelah dilihat di lapangan dan dari laporan
puskesmas tidak ditemukan penderita Pneumonia.

4. Jumlah Kasus HIV/AIDS Dan SYPHILIS

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 12


HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi yang
menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami
penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah terinfeksi berbagai macam penyakit lain.

Gambar 7:
Proporsi Kasus Baru AIDS Menurut Jenis Kelamin
di Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Dari gambar diatas menunjukkan jumlah penderita HIV/AIDS di Kecamatan Simpang


Kiri Tahun 2016 sebanyak 1 orang Laki-laki.

5. Kasus Diare Ditemukan dan Ditangani


Diare merupakan penyakit endemis dan juga merupakan penyakit potensial KLB yang
sering disertai dengan kematian. Seseorang dikata kan menderita diare bila feses lebih berair
dari biasanya atau bila buang air besar lebih dari tiga kali dan berair tapi tidak berdarah dalam
waktu 24 jam. Cakupan penanganan kasus diare pada Kecamatan simpang kiri belum
maksimal, masih banyak terjadinya kasus diare yang belum mendapat pelayanan yang
memadai.
Salah satu penyebab diare pada masyarakat adalah prilaku hidup sehat yang belum
baik, masih buang sampah bukan pada tempatnya, buang air besar sembarangan serta
kebiasaan minum air mentah dan tidak mencuci tangan sebelum makan. Penderita diare yang
ditangani adalah jumlah penderita yang datang dan dilayani disarana kesehatan dan kader
pada suatu wilayah tertentu dan dalam waktu satu tahun. Perkiraan jumlah penderita diare
yang datang kesarana kesehatan dan kader adalah 10 persen dari angka kesakitan nasional
yaitu sebesar 411/ 1000 penduduk.
Gambar 8:
Cakupan Penanganan Kasus Diare Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 13


Gambar diatas menunjukkan penderita diare di dominasi oleh laki – laki yaitu
berjumlah 60 dan perempuan 50 dengan total 110 orang yang ditangani.

6. Angka Penemuan Kasus Baru Kusta Per 100.000 Penduduk

Penyakit kusta disebut juga sebagai penyakit lepra atau penyakit Hansen yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini mengalami proses pembelahan
cukup lama antara 2 – 3 minggu.Daya tahan hidup kuman kusta mencapai 9 hari di luar tubuh
manusia.kuman kusta memiliki masa inkubasi 2 – 5 tahun bahkan juga dapat memakan waktu
lebih dari 5 tahun.

Pelaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progressif yang
mengakibatkan kerusakan permanen pada kulit,saraf,anggota gerak,mata dan mata,Diagnosis
kusta dapat ditegakan dengan adanya kondisi sebagai berikut :

a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa.
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan
kelemahan/kelumpuhan otot.
c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif

Di kota Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016 ditemukan Laki-laki 1 penderita kusta

7. Penyakit Menular Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 14


Berdasarkan ketetapan dari kementerian kesehatan bahwa ada beberapa penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi antara lain :

1. Penyakit Difteri yaitu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium diphteriae ditandai dengan pembentukan membran dikerongkongan dan
aliran udara lainnya yang menyebakan sulit bernafas.

2. Penyakit Pertusis merupakan penyakit membran mukosa pernapasan dengan gejala


demam ringan, bersin, hidung berair, dan batuk kering.
3. Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi akut dan sering fatal yang mengenai sistem saraf
yang disebabkan infeksi bakteri dari luka terbuka. Ditandai dengan kontraksi otot tetanik
dan hiper-refleksi, yang mengakibatkan trismus (rahang terkunci), spasme glotis, spasme
otot umum, opistotonus/spasme respiratoris, serangan kejang dan paralysis.
4. Penyakit Tetanus Neonatorum yaitu suatu bentuk tetanus infeksius yang berat, dan terjadi
selama beberapa hari pertama setelah lahir. Disebabkan oleh faktor-faktor seperti tindakan
perawatan sisa tali pusat yang tidak higienis, atau pada sirkulasi bayi laki-laki dan
kekurangan imunisasi maternal.
5. Penyakit campak adalah penyakit akut yang disebakan morbilivirus ditandai dengan
munculnya bintik merah (ruam), dan terjadi pertama kali saat anak-anak.
6. Penyakit polio adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, dapat menyerang
semua umur, namun biasanya menyerang anak-anak usia kurang dari 3 tahun yang
menyebabkan kelumpuhan sehingga penderita tidak dapat menggerakkan salah satu
bagian tubuhnya.
7. Penyakit Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis (A, B, C, D,
dan E).

Berikut gambar penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di Kecamatan
Simpang Kiri Tahun 2016.

Gambar 9:
Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 15


8. Angka

Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus Dengue yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus
Aedes, misalnya Aedes Agyptie atau Aedes albopictus. Penyakit DBD dapat muncul
sepanjang tahun dan dapat menyerang semua kelompok umur penyakit ini berkaitan dengan
kondisi lingkungan dan prilaku masyarakat.

Gambar 10 :
Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue ( DBD)
Di Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Dari Gambar diatas menunjukkan pada tahun 2016 Persentase Angka kesakitan
Demam Berdarah Dengue ( DBD) berjumlah 16,2 persen, laki-laki sebanyak 81,1 persen dan
pada perempuan sebanyak 24,4 persen.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 16


9. Angka Kesakitan Malaria Per 1000 Penduduk

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan parasit plasmodium yang hidup dan
berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria
(anopheles) betina, dapat menyerang semua orang baik laki-laki atau pun perempuan pada
semua golongan umur dari bayi, anak – anak dan orang dewasa.

10. Angka Kesakitan Penyakit Filariasis

Filariasis adalah Penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing Filaria yang terdiri dari
tiga spesies yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Penyakit ini
menginfeksi jaringan limfe (getah bening). Penyakit filariasis menular melalui gigitan
nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Dalam tubuh manusia cacing
tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga
menyebabkan pembengkakan di kaki, tungkai, payudara, lengan dan genitalia.

Gambar 11:
Angka Kesakitan Filariasis Tahun 2016

Dari gambar di atas menunjukkan penderita filariasis di tahun 2016 berjumlah 1 jiwa
yang terletak di desa Kuta cepu.

BAB IV
UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 17


Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama yaitu upaya kesehatan
masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap
kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat serta swasta, untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah
kesehatan di masyarakat.

Upaya kesehatan masyarakat mencakup upaya – upaya promosi


kesehatan,pemeliharaan kesehatan pemberantasan penyakit menular,pengendalian penyakit
tidak menular penyehatan lingkungan dan penyedian sanitasi dasar,perbaikan gizi
masyarakat,kesehatan jiwa,pengamanan sedian farmasi dan alat – alat kesehatan,pengamanan
penggunaan zat aditif dalam makanan dan minuman,pengamanan narkotika,psikotropika,zat
adiktif dan bahan berbahaya lainnya,serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusian.

Berikut ini diuraikan upaya kesehatan yang dilakukan selama beberapa tahun
terakhir,khususnya untuk 2016.

A. Pelayanan Kesehatan

Upaya kesehatan pelayanan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan


pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan
tepat, diharapkan sebagian besar permasalahan masyarakat dapat diatasi

1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 Dan K4

Layanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal


sekurang – kurangnya 4 kali selama kehamilan, dengan distribusi waktu minimal 1 kali pada
trimester pertama ( usia kehamilan 0 sampai 12 minggu) minimal 1 kali pada trimester kedua
(usia kehamilan 12 sampai 24 minggu) dan minimal 2 kali pada trimester ketiga usia
kehamilan (24 minggu – lahir).

Capaian pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator
cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan
antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil disuatu
wilayah kerja pada kurun waktu 1 tahun. Sedangkan cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil
yang telah memperoleh layanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali sesuai
jadwal yang dianjurkan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil disuatu wilayah kerja pada

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 18


kurun waktu 1 tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan ibu hamil dan
tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksa kehamilannya ke tenaga kesehatan.

Gambar 12:
Trend Cakupan K1 dan K4 Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Dari gambar diatas menunjukkan terlihat pada tahun 2016 cakupan pelayanan K1
berjumlah 100 % dan mengalami penurunan pada pelayanan K4 yang berjumlah 91,2 % . Hal
ini disebabkan oleh masih kurangnya kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan
kehamilannya kepada petugas kesehatan.

2. Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan

Upaya kesehatan ibu bersalin dilaksanakan dalam rangka mendorong agar setiap
persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu Dokter spesialis kebidanan dan
kandungan( SPoG), Dokter Umum dan Bidan, serta diupayakan dilakukan di fasilitas
pelayanan kesehatan. Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan persalinan yang
dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan.

Gambar 13:
Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 19


Dari gambar diatas menunjukkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan sebesar 83,4%. Dari hasil laporan menunjukkan kunjungan ibu hamil ke
fasilitas kesehatan sudah sangat baik sehingga persalinan sudah dilakukan di fasilitas
kesehatan setempat.

3. Cakupan Pelyanan Nifas

Nifas adalah periode mulai dari 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan.
Layanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan pada ibu nifas sesuai standar yang
dilakukan sekurang – kurangnya 3 (Tiga) kali sesuai jadwal yang dianjurkan yaitu pada 6 jam
sampai dengan 3 hari pasca persalinan pada hari ke 4 sampai dengan hari ke 28 pasca
persalinan. Dan pada hari ke 29 sampai dengan hari ke 42 pasca persalinan.

Keberhasilan upaya kesehatan ibu nifas diukur melalui indikator cakupan pelayanan
ibu nifas ( cakupan KF3) indikator ini menilai kemampuan daerah dalam menyediakan
pelayanan kesehatan ibu nifas yang berkualitas sesuai standar.

Gambar 14:
Cakupan Kunjungan Nifas
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 20


Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa capaian cakupan kunjungan nifas ( KF3) di
Kecamatan Simpang Kiri sudah sangat baik sebesar 96,4%. Adanya kerjasama yang baik
Petugas kesehatan dengan ibu nifas sehingga pencapaian cakupan KF3 mengalami kenaikan.
Salah satu pelayanan yang diberikan pada pelayanan ibu nifas adalah pemberian Vitamin A.

Gambar 15 :
Persentase Ibu Nifas yang mendapat Kapsul Vitamin A
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

4. Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Dan WUS

Imunisasi Toksoid Tetanus ( TT) ibu hamil adalah pemberian vaksin TT pada ibu
hamil sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 21


kehamilan) dengan tujuan memberikan kekebalan tubuh pada ibu hamil agar janin terhindar
dari Tetanus Neonatarum ( TN).
Pemberian TT 2 adalah selang waktu pemberian minimal 4 minggu setelah TT 1
dengan masa perlindungan 3 tahun. Pemberian TT 3 adalah selang waktu pemberian minimal
6 bulan setelah TT 2 dengan masa perlindungan 5 tahun. Pemberian TT 4 adalah selang
waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT 3 dengan masa perlindungan 10 tahun.
Pemberian TT5 adalah selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT4. Dengan masa
perlindungan 25 tahun. Pemberian TT 2 + adalah imunisasi tetanus yang diberikan minimal 2
kali saat kehamilan ( yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan ). Gambar dibawah ini
memberikan informasi cakupan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil di Kecamatan
Simpang Kiri Tahun 2016.
Gambar 16:
Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Gambar diatas menunjukkan TT 2 + lebih banyak dari TT -1 sampai TT -5, pemberian


TT 2 + adalah imunisasi Tetanus yang diberikan minimal 2 kali saat kehamilan (yang dimulai
saat dan atau sebelum kehamilan).

5. Persentase Ibu Hamil Yang Mendapatkan Tablet Fe

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 22


Zat Besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah
( Hemoglobin), selain itu mineral ini juga berperan membentuk komponen mioglobin
( protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang
rawan dan jaringan penyambung serta enzim). Zat besi juga berfungsi dalam sistem
pertahanan tubuh.
Saat hamil kebutuhan zat besi sangat meningkat 2 kali lipat dari kebutuhan sebelum
hamil, kekurangan zat besi ( anemia defisiensi besi) selama hamil dapat berdampak tidak baik
pada ibu maupun janin. Perdarahan yang banyak sewaktu melahirkan, beresiko lebih besar
pada ibu hamil yang anemia.
Pemberian Fe 1 adalah ibu hamil yang mendapat 30 tablet Fe ( Suplemen Zat Besi)
selama periode kehamilannya disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pemberian Fe
3 adalah ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe ( Suplemen Zat besi) selama periode
kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Gambar 17:
Cakupan Ibu Hamil Yang Mendapatkan Tablet Fe
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Persentase ibu hamil yang mendapatkan tablet Fe 1 sejumlah 30 tablet Fe selama


periode kehamilannya pada tahun 2016 sebesar 45,7 persen yaitu sebanyak 352 ibu hamil,
tablet Fe 3 sejumlah 90 tablet selama periode kehamilannya 60,6 persen sebanyak 467 ibu
hamil.
6. Cakupan Komplikasi Kebidanan Dan Neonatus Yang Ditangani

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 23


Komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan
atau janin dalam kandungan baik langsung maupun tidak langsung,termasuk penyakit
menular dan tidak menular yang dapat mengancam jiwa ibu dan atau janin yang tidak
disebabkan oleh karena trauma/ kecelakaan. Komplikasi kebidanan antara lain ketuban pecah
dini, perdarahan pervaginan, Hipertensi dalam kehamilan (sistole >140 mmHg, diastole > 90
mmHg ) dengan atau tanpa edema pre tibial, ancaman persalinan prematur, infeksi berat
dalam kehamilan,distosia( persalinan macet, persalinan tidak maju) dan infeksi masa nifas.
Cakupan penanganan komplikasi kebidanan di Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016
sebanyak 30,5 persen atau 47 ibu hamil. Gambar dibawah ini menunjukkan jumlah
penanganan komplikasi kebidanan per Kecamatan Simpang Kiri.
Gambar 18:
Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan danKomplikasi Neonatal
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Pencegahan dan penanganan komplikasi kebidanan adalah pelayanan kepada ibu


dengan komplikasi kebidanan untuk mendapatkan perlindungan untuk mendapatkan
perlindungan /pencegahan dan penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan
kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan. Indikator yang digunakan untuk
mengukur keberhasilan pencegahan dan penanganan komplikasi kebidanan adalah cakupan

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 24


penanganan komplikasi kebidanan (Cakupan PK). Indikator ini mengukur kemampuan suatu
daerah dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada ibu ( hamil,
bersalin, nifas) dengan komplikasi.
Neonatal dengan komplikasi adalah neonatal dengan penyakit dan atau kelainan yang
dapat menyebabkan kecacatan atau kematian, seperti asfiksia, ikterus, hipotermia,tetanus
neonatorum, infeksi /sepsis,trauma lahir, BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah < 2.500 gram),
sindroma gangguan pernafasan dan kelainan kongenital maupun termasuk klasifikasi kuning
dan merah pada pemeriksaaan dengan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM).
Penanganan Neonatal dengan komplikasi adalah penanganan terhadap neonatal sakit
dan atau neonatal dengan kelainan atau komplikasi /kegawatdaruratan yang mendapat
pelayanan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan atau perawat). Terlatih baik di
rumah, sarana pelayanan kesehatan dasar maupun sarana pelayanan kesehatan rujukan.

7. Persentase Berat Badan Bayi Lahir Rendah


Berat Bayi Lahir adalah berat badan bayi yang ditimbang dalam waktu 1 jam pertama
setelah lahir. Hubungan antara waktu kelahiran dengan umur kehamilan, kelahiran bayi dapat
dikelompokkan ; bayi kurang bulan (prematur) yaitu bayi yang dilahirkan dengan masa
gestasi (kehamilan) <37 minggu ( < 259 hari ). Bayi cukup bulan bayi yang dilahirkan
dengan masa gestasi antara 37 – 42 minggu ( 259 – 293 hari) dan bayi lebih bulan, bayi yang
dilahirkan dengan masa gestasi > 42 minggu ( > 294 hari).
Berkaitan dengan berat badan bayi lahir rendah (BBLR) yaitu Berat lahir < 2500
gram, bayi berat lahir sedang yaitu berat lahir antara 2500 – 3999 gram dan berat badan lebih
yaitu berat lahir ≥ 4000 gram.

Gambar 19 :

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 25


Persentase Berat Bayi Lahir Rendah
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Persentase berat bayi lahir rendah di Kecamatan Simpang Kiri paling banyak terdapat
di desa Suka Makmur sebanyak 1,8 %.

8. Cakupan Kunjungan Neonatus

Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia sampai dengan 28 hari, dimana terjadi
perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi luar rahim. Pada masa
ini terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan
merupakan golongan umur yang memiliki resiko gangguan kesehatan paling tinggi. Pada usia
yang rentan ini, berbagai masalah kesehatan bisa muncul . Tanpa penanganan yang tepat bisa
berakibat fatal. Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan resiko pada
kelompok diantaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya pelayaanan kesehatan sesuai
standar pada kunjungan bayi baru lahir.

Kunjungan neonatal pertama (KN1) adalah cakupan pelayanan kesehatan bayi baru
lahir (umur 6 jam – 48 jam) disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani
sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih diseluruh sarana pelayanan kesehatan.
Pelayanan yang diberikan saat kunjungan neonatal adalah pemeriksaan sesuai standar

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 26


Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) serta konseling perawatan bayi pertama (KN1) ,
bayi baru lahir termasuk ASI eksklusif dan perawatan tali pusat. Pada kunjungan neonatal
pertama (KN1) bayi baru lahir mendapatkan Vit K1 injeksi dan imunisasi hepatitis B0 bila
belum diberikan pada saat lahir.

Selain KN1 indikator yang menggambarkan pelayanan kesehatan bagi neonatal adalah
KN lengkap yang mengharuskan agar setiap bayi baru lahir memperole pelayanan kunjungan
neonatal minimal 3 kali yaitu 1 kali pada 6 – 48 jam, 1 kali pada 3 – 7 hari, 1 kali pada 8 - 28
hari sesuai standar di satu wilayah kerja pada satu tahun.

Gambar 20 :
Cakupan KN1 dan KN lengkap
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Gambar Diatas menunjukkan KN1, di dominasi kecamatan Simpang kiri sebanyak


102,3% dengan jumlah bayi sebanyak 572 bayi dan KN Lengkap sebanyak 100% dengan
jumlah sebanyak 574 bayi.

9. Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 27


Bayi juga merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan
maupun serangan penyakit. Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan
kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Pelayanan kesehatan bayi ditujukan pada
bayi 29 hari sampai dengan 11 bulan dengan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan
standar oleh tenaga kesehatan. Yang memiliki kompetensi klinis kesehatan (dokter, bidan dan
perawat) minimal 4 kali yaitu pada 29 hari, 2 bulan , 3 – 5 bulan ,6- 8 bulan dan 9 -12 bulan
sesuai standar disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Pelayanan ini terdiri dari penimbangan berat badan, pemberian imunisasi dasar
( BCG, DPT/HB-1 -3, POLIO 1-4 dan campak), Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh
Kembang (SDIDTK). Pemberian Vitamin A pada bayi dan penyuluhan perawatan kesehatan
bayi serta penyuluhan ASI eksklusif, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dan
lain-lain.

Cakupan pelayanan kesehatan bayi dapat menggambarkan upaya pemerintah dalam


meningkatkan akses bayi untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini
mungkin adanya kelainan atau penyakit , pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit
serta peningkatan kualitas hidup bayi.

Gambar 21:
Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi 0 – 6 Bulan
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 28


Gambar diatas menunjukkan pemberian ASI Eksklusif yang paling tinggi di desa
Dano Trans sebanyak 75,0% ,dikarenakan jumlah sasaran bayi diddesa dano trans lebih
tinggi dibandingkan desa lainnya.

10. Cakupan Desa/ Kelurahan UCI (Universal Child Immunization)


Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi adalah
Universal Child Immunization atau yang biasa di singkat UCI. UCI adalah gambaran suatu
desa/ kelurahan dimana ≥ 80 % dari jumlah bayi ( 0 – 11 bulan) yang ada di desa/ kelurahan
tersebut sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap .

Gambar 22:
Cakupan Desa /Kelurahan UCI
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Pada gambar diatas menunjukan desa Uci Kecamatan Simpang Kiri sebanyak 100%
yang paling banyak adalah didesa S.Salam Kota dari jumlah 12 desa.

11. Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Bayi dan Anak Balita


Pada usia 6 bulan ASI merupakan sumber utama Vitamin A jika ibu memiliki Vitamin
A yang cukup berasal dari makanan atau suplemen anak yang berusia enam bulan sampai
lima tahun dapat memperoleh vitamin A dari berbagai makanan seperti hati, telur, ikan,
minyak sawit, mangga, pepaya,ubi, jeruk, sayuran berwarna hijau serta wortel.
Anak memerlukan vitamin A untuk membantu melawan penyakit, melindungi
penglihatan mereka serta mengurangi resiko meninggal. Anak yang kekurangan vitamin A

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 29


kurang mampu melawan berbagai potensi penyakit yang fatal beresiko rabun senja. Oleh
karena itu diperlukan pemberian kapsul kvitamin A dalam rangka mencegah dan menurunkan
prevalensi kekurangan vitamin A (KVA) pada balita.
Pemberian kapsul vitamin A dilakukan terhadap bayi (6-11 bulan) dengan dosis
100.000 SI, anak balita ( 12 -59 bulan) dengan dosis 200.000 SI dan ibu nifas diberikan
Vitamin A dengan dosis 200.000 SI , sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang
cukup melalui ASI. Pemberian kapsul vitamin A diberikan secara serentak pada bulan
Februari dan Agustus pada balita 6 -59 bulan.

Gambar 23 :
Persentase Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak Balita
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Gambar diatas menunjukan Pemberian Vitamin A pada Bayi di tahun 2016 sebesar
98,59 %, Pemberian Vitamin A pada Anak Balita di tahun 2016 sebanyak 73,03%,
Pemberian Vitamin A pada Balita di tahun 2016 sebanyak 129,40 % per 1000 kelahiran
hidup. Pemberian vitamin A pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Simpang Kiri sudah
dikatankan berhasil karna sudah mencapai 90%.

12. Cakupan Baduta Ditimbang


Sejak lahir sampai dengan usia lima tahun, anak seharusnya ditimbang secara teratur
untuk mengetahui pertumbuhannya. Cara ini dapat membantu untuk mengetahui lebih awal
tentang gangguan pertumbuhan , sehingga segera dapat diambil tindakan tepat secepat
mungkin.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 30


Hasil penimbangan, dapat mengetahui apakah seorang anak terlalu cepat bertambah
berat badannya dibandingkan usiannya atau tidak bertambah berat badannya. Untuk itu
memerlukan pemeriksaan berat badan anak lebih lanjut terkait dengan tinggi badan yang
dapat menentukan apakah seorang anak mempunyai berat badan berlebih atau kurang.
Untuk mendeteksi status gizi anak 0-23 bulan ( BADUTA) di masyarakat dapat
dilakukan melalui penimbangan berat badan berat badan dan pengukuran tinggi badan di
puskesmas dan posyandu pada bulan februari dan agustus.
Gambar 24 :
Persentase Cakupan Anak 0-23 Bulan Ditimbang
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Gambar diatas menunjukan jumlah usia 0 -23 bulan yang ditimbang di dominasi
Kecamatan Simpang kiri sebanyak 67,4% ,BGM sebanyak 1,6% sesuai dengan jumlah balita
yang paling banyak dikecamatan Simpang Kiri,

13. Cakupan Pelayanan Anak Balita


Kehidupan anak, usia dibawah lima tahun merupakan bagian yang sangat penting.
Usia tersebut merupakan landasan yang membentuk masa depan kesehatan, kebahagiaan,
pertumbuhan, perkembangan, dan hasil pembelajaran anak di sekolah, keluarga masyarakat
dan kehidupan secara umum.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 31


Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu
dalam kondisi optimal. Penilaian perkembangan gerak kasar , gerak halus, bicara dan bahasa,
sosialisasi dan kemandirian, pemeriksaan daya dengar dan daya lihat. Bila ditemukan
penyimpangan atau gangguan perkembangan harus dilakukan rujukan kepada tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi. Untuk itu dipakai indikator yang bisa menjadi ukuran
keberhasilan upaya peningkatan kesehatan bayi dan balita, salah satu diantaranya pelayanan
kesehatan anak balita.
Pelayanan kesehatan pada anak balita dilakukan oleh tenaga kesehatan dan memperoleh:
1. Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun (penimbangan berat
badan dan pengukuran tinggi badan).
2. Pemberian Vitamin A dua kali dalam setahun yaitu setiap bulan Februari dan Agustus.
3. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang balita minimal 2 kali
dalam setahun.
4. Pelayanan Anak Balita sakit sesuai standar menggunakan ManajemenTerpadu Balita
Sakit (MTBS)
Capaian Indikator Pelayanan Kesehatan Anak Balita yang mendapat pelayanan 8 kali
pada tahun 2016 sebesar 73 % yaitu sebanyak 4.034 Anak Balita capaian indikator ini
meningkat dibandingkan tahun 2015 sebesar 72,8% sebanyak 4.009.terjadi kenaikan 1 %
sebesar 25 anak.

14. Cakupan Balita Ditimbang


Permasalahan pada gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja. Gangguan gizi yang terjadi pada balita mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan baik pada masa balita maupun masa berikutnya sehingga perlu mendapatkan
perhatian.
Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1457/ MENKES/SK/X /2003
tentang standar pelayanan minimal bidang kesehatan bahwa pemantauan pertumbuhan
merupakan salah satu kewenangan wajib yang harus dilaksanakan oleh Kota Subulussalam.
Kegiatan pemantauan pertumbuhan balita dapat dilihat dengan menggunakan Kartu Menuju
Sehat (KMS). Dimana balita yang sehat tiap bulan naik berat badannya. Untuk mengetahui
keadaan balita sehat, maka perlu ditimbang setiap bulan di posyandu atau tempat pelayanan
kesehatan.
Gambar 25 :

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 32


Cakupan Balita Ditimbang Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Gambar diatas menunjukan jumlah Balita Ditimbang paling banyak di Desa Suka
Makmur 185 Balita, capaian penimbangan Balita di Kecamatan Simpang Kiri yang tinggi
karena jumlah balita di Kecamatan Simpang Kiri ada 12 Desa berjumlah 2,480 yang
dilaporkan.

15. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan


Balita dengan gizi buruk berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya. Gejala
awal sering tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak tersebut lebih rendah
dibandingkan anak seusianya. Rata-rata berat badannya hanya sekitar 60 – 80 persen dari
berat badan ideal. Ciri –ciri klinis yang biasanya menyertainya antara lain : kenaikan berat
badan berkurang bahkan terus menerus turun,ukuran lingkar lengan atas menurun, maturasi
tulang lambat, rasio berat badan terhadap tinggi normal atau cenderung menurun, tebal lipat
kulit normal atau semakin berkurang.
Di Kecamatan Simpang Kiri pada tahun 2016 jumlah Balita Gizi buruk yang
ditemukan 10 Orang dari 10 orang yang ditemukan semua mendapatkan perawatan dapat
dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 26 :
Persentase Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 33


16. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat
Mengawali masuk sekolah merupakan hal penting bagi tahap perkembangan anak.
Banyak masalah kesehatan terjadi pada anak usia sekolah, seperti misalnya pelaksanaan
Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi, dengan baik dan benar,
mencuci tangan menggunakan sabun, karies gigi, cacingan, kelainan refraksi, ketajaman
penglihatan dan masalah gizi. Pelayanan kesehatan pada anak termasuk pula intervensi pada
anak usia sekolah.
Anak usia sekolah merupakan sasaran strategis untuk pelaksanaan program kesehatan,
karena selain jumlah yang besar mereka juga merupakan sasaran yang mudah dijangkau
karena terorganisir dengan baik. Sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini diutamakan untuk
siswa SD sederajat kelas 1. Pemeriksaan kesehatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan
bersama tenaga lainnya yang terlatih ( guru UKS/ UKSG dan Dokter kecil).
Tenaga kesehatan disini adalah tenaga medis, tenaga keperawatan, atau petugas
puskesmas, yang terlatih sebagai tenaga pelaksana UKS/ UKGS. Guru UKS/ UKGS adalah
guru kelas atau guru yang ditunjuk sebagai pembina UKS/UKGS disekolahdan telah dilatih
tentang UKS/UKGS). Dokter kecil adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya berasal
dari murid kelas 4 dan 5 SD dan Setingkat yang telah mendapatkan pelatihan Dokter Kecil.
Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran tentang kebersihan dan kesehatan gigi bisa
dilaksanakan sedini mungkin. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan
siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada khususnya kesehatan tubuh
serta lingkungan pada umumnya. Kegiatan penjaringan kesehatan selain untuk mengetahui

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 34


secara dini masalah kesehatan anak sekolah sehingga dapat melakukan tindakan cepat untuk
keadaan yang lebih buruk.
Kegiatan Penjaringan kesehatan terdiri dari :
1. Pemeriksaan Kebersihan perorangan( rambut, kulit, kuku)
2. Pemeriksaan status Gizi melalui pengukuran antropometri
3. Pemeriksaan ketajaman indera (pendengaran dan penglihatan)
4. Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut
5. Pemeriksaan laboratorium untuk anemia dan kecacingan
6. Pengukuran kebugaran jasmani
7. Deteksi dini masalah mental emosional.
Di Kecamatan Simpang Kiri pada tahun 2016 penjaringan kesehatan seluruh SD/MI
sederajat berjumlah sebesar 96,3 % atau sebanyak 495 siswa.
17. Rasio Tumpatan/ Pencabutan Gigi Tetap
Pelayanan kesehatan dasar gigi dan mulut di puskesmas pada prinsipnya sama seperti
pelayanan kesehatan pada umumnya, meliputi upaya pencegahan, pengobatan dasar serta
upaya kesehatan gigi sekolah ( UKGS) untuk murid SD dan sederajat. Kegiatan pelayanan
dasar gigi tetap dijadikan salah satu indikator pelayanan dengan menghitung rasio tumpatan/
pencabutan gigi tetap. Jika rasio tumpatan lebih tinggi dari pencabutan berarti pengetahuan
dan tingkat kepedulian masyarakat untuk mempertahankan gigi cukup baik.
Dikecamatan Simpang Kiri pada tahun 2016 tidak ada tumpatan Gigi ,adapun
pencabutan gigi tetap sebanyak 30 siswa sehingga Rasio tumpatan Gigi Pencabutan 0,1
Persen.
19. Cakupan Pelayanan Kesehatan Usila

Masalah lanjut usia (Lansia) perlu mendapatkan perhatian karena jumlahnya yang
terus bertambah setiap tahun. Data BPS menunjukkan bahwa jumlah Lansia terus meningkat
dari 4.275. Pertambahan penduduk lansia ini mungkin disebabkan oleh semakin membaiknya
pelayanan kesehatan dan meningkatkan usia harapan hidup orang indonesia. Lansia pedesaan
perlu mendapatkan perhatian karena diperkirakan 60% lansia tinggal dipedesaan. Lansia
dipedesaan sangat minim aksesnya terhadap fasilitas pelayanan kesehatan dan prilaku hidup
sehat. Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016 cakupan pelayanan kesehatan Usila 291 (6,8
Persen)

20. Cakupan Pelayanan Gawat Darurat Level I yang harus diberikan Pelayanan
Kesehatan (RS) di Kecamatan Simpang Kiri.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 35


Sesuai dengan keputusan menteri kesehatan nomor 741/ PER/VII/2008 Tentang SPM
Bidang kesehatan yang terdiri dari 4 jenis pelayanan dengan 18 indikator. Salah satu standar
pelayan minimal kesehatan (SPM-K) adalah pelayanan kesehatan rujukan.
Ada dua indikator untuk menilai kesehatan rujukan yaitu :
1. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 harus diberikan sarana kesehatan rumah sakit,
puskesmas dan sarana kesehatan lainnya.
2. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin.

Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat level 1 adalah tempat
pelayan gawat darurat yang memiliki dokter umum on site (berada ditempat) selama 24 jam
dengan kualifikasi GELS ( General Emergency Life Support ) dan/ ATLS (Advance Trauma
Life Support) serta ACLS (Advance Cardiac Life Supoort), Yang dilengkapi dengan alat
transportasi dan komunikasi. diKecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 cakupan pelayanan
gawat darurat level 1 di Rumah Sakit Umum Daerah 1 Unit.

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN


1. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Salah satu upaya dalam menjalankan pembangunan bidang kesehatan adalah jaminan
pemeliharaan kesehatan (JPK) Pra-Bayar. Menurut data yang diperoleh jumlah penduduk
jAsuransi Jaminan kesehatan Kecamatan Simpang Kiri Bejumlah 94.147 Jiwa atau 122,14
Persen.
2. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap di Sarana Pelayanan Kesehatan
Penduduk atau Masyarakat sasaran program yang telah ditetapkan oleh Kementrian
Kesehatan dan dinas kesehatan kabupaten/kota setempat. Seluruh penduduk di Kecamatan
Simpang Kiri terlindungi oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan mendapat subsidi
Pemerintah dan Pemda disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Kunjungan pasien baru adalah seseorang yang baru berkunjung ke sarana kesehatan
dengan kasus penyakit baru. Sarana kesehatan strata pertama adalah tempat pelayanan
kesehatan meliputi antara lain : Puskesmas, balai pengobatan pemerintah dan swasta, praktek
bersama dan perorangan.
Sarana kesehatan strata dua dan strata tiga adalah Balai kesehatan masyarakat, balai
pengobatan penyakit paru, balai kesehatan indera masyarakat, balai besar kesehatan paru
masyarakat, rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 36


Pelayanan kesehatan dasar pasien masyarakat miskin adalah jumlah kunjungan pasien
rawat jalan masyarakat miskin di seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Simpang
Kiri.

3. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa Di Sarana Pelayanan Kesehatan.


Kunjungan gangguan jiwa adalah kunjungan pasien yang mengalami gangguan
kejiwaan, yang meliputi gangguan pada perasaan, proses fikir dan prilaku, yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran
sosialnya. Pelaksanaan program kesehatan jiwa di Kecamatan Simpang Kiri diawali dengan
ditetapkannya suatu pendekatan CNHN, sebagai bentuk asuhan keperawatan kesehatan jiwa
masyarakat. Sampai tahun 2016 telah dilakukan beberapa kegiatan yang difokuskan pada
peningkatan sumber daya kesehatan, tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat (TPKJM)
Kota serta kader kesehatan jiwa. Jumlah kunjungan gangguan jiwa di Kecamatan Simpang
Kiri tingkat puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah pada tahun 2016 sebanyak 185
kunjungan.
C. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT
1. Persentase Rumah Tangga Ber – PHBS
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah salah perilaku kesehatan yang
dilakukan atas kesadaran sehingga anggota kelurga atau keluarga dapat menolong dirinya
sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan – kegiatan kesehatan dan
berperan aktif dalam kegiatan – kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS itu jumlahnya
banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang Gizi : makan beraneka ragam makanan, minum
Tablet Tambah Darah, Mengkonsumsi garam yang beryodium , memberi bayi dan balita
Kapsul Vitamin A. Tentang kesehatan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya,
membersihkan lingkungan. Setiap rumah tangga dianjurkan untuk melaksanakan semua
prilaku kesehatan.
Rumah Tangga ber PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) adalah rumah tangga
yang seluruh anggotanya berperilaku hidup bersih dan sehat, yang meliputi 10 indikator,
yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, bayi diberi ASI eksklusif, balita
ditimbang setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan
sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik dirumah sekali seminggu, makan
sayur dan buah setiap hari, melakan aktivitas fisik setiap hari, dan tidak merokok didalam
rumah. Apabila dalam rumah tangga tersebut tidak ada ibu yang melahirkan, tidak ada bayi

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 37


dan tidak ada balita, maka pengertian rumah tangga ber-PHBS Adalah rumah tangga yang
memenuhi minimal 7 indikator dan 9 Indikator yaitu:
(1) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan adalah ibu bersalin yang mendapat
pertolngan persalinan oleh tenaga kesahatan yang memiliki kompetensi kebidanan
( Dokter kandungan dan Kebidanan, Dokter umum, dan bidan )
(2) Memberi Bayi ASI Eksklusif adalah Bayi yang mendapat ASI Saja sejak lahir sampai
usia 6 bulan. Menimbang bayi setiap bulan adalah balita di timbang setiap bulan dan
tercatat di KMS Atau buku KIA.
(3) Menggunakan Air bersih adalah rumah tangga yang menggunakan air bersih untuk
kebutuhan sehari-hari yang berasal dari air kemasan, air ledeng, air pompa, sumur
terlindung, Mata air terlindung dan penampungan air hujan dan memenuhi syarat air
bersih yaitu tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna. Sumber air pompa, sumur dan
mata air terlindung berjarak minimal 10 meter dari sumber pencemar seperti tempat
penampungan kotoran atau limbah.
(4) Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun penduduk 5 tahun keatas mencuci tangan
sebelum makan dan sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, setelah
menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan menggunakan air bersih dan
sabun.
(5) Menggunakan Jamban cemplung sehat anggota rumah tangga yang menggunakan
jamban leher angsa dengan tangki septik atau lubang penampungan kotoran sebagai
pembuangan Akhir dan terpelihara kebersihannya. Untuk daerah yang sulit air dapat
menggunakan jamban cemplung, jamban plengsengan.
(6) Memberantas jentik dirumah sekali seminggu adalah rumah tangga melakukan jentik
nyamuk didalam dan atau diluar rumah seminggu sekali dengan cara 3M
Plus/Abatisasi/Ikanisasi atau cara lain yang dianjurakan.
(7) Makan sayur dan buah setiap hari adalah anggota rumah tangga umur 10 tahun keatas
yang mengkonsumsi minimal 2 porsi sayur dan 3 porsi buah atau sebaliknya setiap
hari.
(8) Melakukan aktifitas visi adalah setiap hari adalah penduduk/anggota keluarga umur
10 tahun ke atas yang melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.
(9) Tidak merokok didalam rumah adalah penduduk/rumah tangga umur 10 tahun keatas
tidak merokok didalam rumah ketika berada bersama anggota keluarga lainnya.

Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016 jumlah rumah tangga 4,685 dan yang dipantau
adalah 598 (15,2 persen) dan rumah ber-PHBS 124 (20,7 Persen).

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 38


D. KEADAAN LINGKUNGAN
1. Persentase Rumah Sehat

Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan yaitu
rumah yang memiliki jamban sehat, sarana air bergek, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan
lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah (Kepmenkes no. 829/Menkes/SK/VII/1999
Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan).

Kecamatan Simpang Kiri pada tahun 2016 jumlah seluruh rumah 3.292 unit, rumah
yang memenuhi syarat kesehatan 636 (19,3 persen), dan yang belum memenuhi syarat
kesehatan 1.670. Dari rumah yang mendapat binaan tersebut yang memenuhi syarat 95 (25,3
persen) dan 656 (17,2 persen) rumah tangga yang memenuhi syarat rumah sehat.

2.Persentase Penduduk Yang Memiliki Akses Air Minum Yang Layak

Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia.menurut kementrian
RI, Syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak
mengandung mikroorganisme yang berbahaya, dan tidak mengandung logam berat. Air
minum adalah air yang melalui proses pengolahan ataupun tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 907 Tahun 2002).
Kecamatan Simpang Kiri 2016 jumlah penduduk terhadap Air Minum Berkualitas
dengan akses berkelanjutan dan memenuhi syarat dan bukan jaringan perpipaan yaitu sumur
gali terlindung 5,432 jiwa,sumur gali dengan pompa 0 jiwa, sumur bor dengan pompa 0 jiwa,
mata air terlindung 0 jiwa, penampungan air hujan 135 jiwa
Jumlah penduduk terhadap air minum berkualitas dengan akses berkelanjutan dan
memenuhi syarat dengan perpipaan (PDAM, BPSPAM) 0 Jiwa. Total penduduk yang
memiliki akses air minum 5,567 jiwa (22,56 persen).

4. Persentase Penyelenggaraan Air Minum Memenuhi Syarat Kesehatan


Masalah air bersih merupakan hal yang sangat penting bagi kehiduupan manusia.
Dimana setiap hari kita membutuhkan air bersih untuk minum, memasak, mandi, mencuci
dan sebagainya. Pengunaan air yang besih untuk kegiatan sehari – hari tentunya membuat

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 39


manusia terhindar dari penyakit. Sebagian besar tubuh manusia. Agar air yang digunakan
untuk kegiatan manusia tidak berdampak negative bagi manusia, maka perlu diketahui
persyaratan air bersih.
Kualitas air bersih dapat ditinjau dari segi fisik, kimia dan biologis. Kualitas fisik
ditinjau bau, rasa, dan warna. Kualitas kimia dapat diteliti melalui pengamatan tentang
kesadaran, Ph, kandungan ion dan sebagainya. Sedangkan ada atau tidaknya mikroorganisme
penyebab penyakit pada air merupakan syarat biologi air bersih. Selain dari segi kualitas,
jumlah air juga harus memadai dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia.
Air digunakan manusia untuk mandi, minum, mencuci pertanan perikanan dan lain
sebagainya. Masing-masing kegiatan tersebut memerlukan jumlah air yang beragam. Sumber
air yang ada dipermukaan bumi dapat diolah menjadi air minum dengan berbagai teknik yang
telah berkembang. Sehingga kebutuhan air minum yang memenuhi persyaratan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia dapat terpenuhi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Penyelnggaraan air minum memenuhi syarat kesehatan ( fisik, bakteriologi, da kimia)
Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016 sebanyak 8 (40 Persen).

5. Persentase Penduduk yang Memiliki Akses Sanitasi yang Layak


Fasilitas sanitasi yang layak adalah fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan
antara lain dilengkapi dengan leher angsa dan tanki septik. Proporsi penduduk atau rumah
tangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak adalah perbandingan antara
penduduk atau rumah tangga yang memiliki akses terhadap fasilitas yang layak dengan
penduduk atau rumah tangga seluruhnya yang dinyatakan dalam persentase.
Sanitasi yang layak penting bagi penduduk atau rumah tangga didaerah urban maupun
rural, meskipun risikonya lebih besar didaerah urban menghindari kontak dengan
pembuangan kotoran. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan rakyat dari aspek
kesehatan. Penduduk yang memiliki Akses Sanitasi yang Layak di Kecamatan Simpang Kiri
tahun 2016 sebanyak 27,237 (110,4 per 1000 kelahiran hidup).

6. Persentase Desa STBM


Kecamatan Simpang Kiri memiliki komitmen untuk mewujudkan kondisi
subulussalam Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Sasaran ini dibagi dua yaitu

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 40


dalam bentuk sistem pengolahan limbah terpusat (off-site) bagi 10 persen penduduk dan
bentuk sistem pengolahan limbah setempat (on-site) bagi 90 penduduk.
STBM sebagai perogram Subulussalam, bersama program-program sanitasi lainnya
memiliki peran dalam memenuhi sasaran pada bagian pengolahan limbah on-site. Di Kota
Subulusalam belum ada desa yang melaksanakan desa STBM .

6. Persentase Tempat-Tempat Umum Memenuhi Sehat


Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Umum Pengelolaan Makanan (TUPM)
merupakan suatu sarana yang dikunjungi banyak orang, dan berpotensi menjadi tempat
penyebaran penyakit. TUPM meliputi hotel, restoran, pasar, dan lain-lain.
Sedangkan TUPM sehat adalah tempat umum dan tempat pengelolaan makanan dan
minuman yang memenuhi syarat kesehatan, Yaitu memiliki sarana air bersih, tempat
pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, luas lantai (Luas
ruangan) yang sesuai dengan banyaknya pengunjung memiliki pencahayaan ruang yang
memadai. Kecamatan Simpang Kiri tahun di 2016, TTU yang sehat 6 unit (4,5 persen).

7.Persentase Tempat Pengelolaan Makanan Memenuhi Syarat, dibina dan diuji Petik
Institusi yang Dibina adalah Unit kerja yang dalam memberikan pelayanan/jasa
potensial menimbulkan risiko/dampak kesehatan; mencakup RS, Puskesmas, Sekolah,
Instalasi pengolahan air minum, industri rumah tangga, dan industri kecil serta tempat
penampungan pengungsi.
Instalasi Pengolahan Air Minum adalah Instalasi yang telah melaksanakan
pengawasan internal dan eksternal (oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota) sesuai dengan
Kepmenkes 907/SK/VII/2002 dengan jumlah sampel air yang diperiksa memenuhi persyratan
bakteriologis 95 persen, dan tidak ada parameter kimia yang berdampak langsung terhadap
kesehatan. Kecamatan Simpang Kiri 2016 Jumlah penyelenggara Air Minum 53 unit dengan
jumlah sampel yang diperiksa sejumlah 20 unit dan yang memenuhi syarat 8 (40 persen).
Sarana Pelayanan Kesehatan adalah Sarana Pelayanan Kesehatan yang effluentnya
memenuhi baku mutu limbah cair, mengelola limbah padat dengan baik, tersedia air cukup
kuantitas dan kualitas, higiene sanitasi makanan dan minuman, pengendalian vektor serta
binatang pengganggu.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 41


Sarana Pendidikan dan Perkantoran adalah Sarana Pendidikan dan Perkantoran yang
mempunyai sarana pengolahan limbah cair, limbah padat dengan baik, tersedia air cukup
(kuantitas dan kualitas), penerangan, ventilasi, pengendalian vektor dan binatang pengganggu
lainnya. Masalah Kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang untuk
mengatasinya dibutuhkan integrasi dari berbagai sektor terkait.
Di Kecamatan Simpang kiri tidak dilakukan pembinaan pada TPM dikarenakan
Anggaran yang belum ada untuk kegiatan tersebut.

BAB V
SUMBER DAYA KESEHATAN

A. SARANA KESEHATAN
Derajat kesehatan masyarakat suatu daerah dipengaruhi oleh keberadaan saran
kesehatan, seperti institusi pendidikan kesehatan milik pemerintah yang menghasilkan tenaga
kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan yang dibahas pada
bagian ini terdiri dari : Puskesmas, Rumah Sakit dan upaya kesehatan bersumber daya
Masyarakat (UKBM).
Undang – undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa
fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat atau tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun
rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat.

1. Jumlah Puskesmas dan Jaringannya


Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128 Tahun 2004 tentang kebijakan dasar
Puskesmas mendefinisikan puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota yang bertanggung Jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 42


Dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembangunan berwawasan kesehatan,
pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer, dan upaya
kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan.
Upaya kesehatan wajib terdiri dari :
1. Upaya promosi kesehatan
2. Upaya kesehatan lingkungan
3. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana
4. Upaya perbaikan gizi
5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
6. Upaya pengobatan

Jumlah Puskesmas di Kecmatan Simpang Kiri sampai dengan Desember 2016


sebanyak 1 unit Non rawat Inap.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar
puskesmas,melaksanakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan
masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan yang diberikan terdiri dari pelayanan rawat
jalan dan rawat inap untuk puskesmas tertentu jika dianggap diperlukan . Meskipun
pelayanan kesehatan masyarakat merupakan inti dari puskesmas, pelayanan kesehatan
perorangan juga menjadi perhatian dari pemerintah.
Selain enam upaya kesehatan wajib yang harus diberikan, puskesmas juga
menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan pengembangan. Upaya
kesehatan pengembangan puskesmas dapat berupa pelayanan obstetrik dan neonatal
emergensi dasar (PONED) pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) upaya kesehatan
kerja, upaya kesehatan olahrag, tata laksana kasus kekerasan terhadap anak (KTA). Upaya
kesehatan pengembangan diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan yang ada diwilayah
kerja.
2. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat
Pembangunan kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi –tingginya juga memerlukan peran masyarakat. Melalui konsep upaya kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), masyarakat berperan serta aktif dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan. Bentuk UKBM antara lain pos pelayanan terpadu
(Posyandu), Pos Kesehatan Desa( Poskesdes), dan desa siaga aktif.
Salah satu UKBM yang memiliki peran signifikan dalam pemberdayaan masyarakat
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah posyandu. Posyandu dikelola dan
diselenggarakan dari dan untuk bersama masyarakat untuk memberdayakan dan memberikan

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 43


kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar bagi
masyarakat terutama ibu, bayi dan anak balita. Posyandu memiliki 5 program prioritas yaitu
kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, imunisasi, gizi serta pencegahan dan
penanggulangan diare.
Terdapat 12 posyandu pada tahun 2016, dari jumlah tersebut posyandu pratama
sebanyak 4 (1800,00) persen , purnama sebanyak 2(5,26) persen.
Jenis UKBM lainnya adalah poskesdes yaitu UKBM yang dibentuk didesa untuk
mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa sehingga mempermudah akses
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan utama poskesdes adalah pelayanan
kesehatan bagi masyarakat desa berupa pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan
ibu menyusui, pelayanan kesehatan anak, pengamatan dan kewaspadaan dini (Surveilans
penyakit, gizi, dan perilaku beresiko , surveilans lingkungan, dan masalah kesehatan lainnya.
Jumlah Poskesdes yang beroperasi pada tahun 2016 sebanyak 6 unit. Adapun polindes
tidak ada di Kecamatan Simpang Kiri, Posbindu berjumlah 4 unit.

Gambar 27 :
Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)
Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016

Dari Gambar diatas dapat di lihat Jumlah Poskesdes yang beroperasi pada tahun 2016
sebanyak 11 unit, Polindes tidak ada di Kecamatan Simpang Kiri, Posbindu sebanyak
sebanyak 4 unit jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2015 tidak ada jumlah posbindu.
Desa siaga aktif adalah desa yang mempunyai pos kesehatan desa atau UKBM
lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar,
penanggulangan bencana dan kegawat daruratan, surveilans berbasis masyarakat yang
meliputi pemantauan pertumbuhan gizi, penyakit, lingkungan dan perilaku sehingga
masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan sehat (PHBS).

B. TENAGA KESEHATAN

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 44


Undang – undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pada pasal 21
menyebutkan bahwa pemerintah mengatur perencanaan, pengadaan, pendayagunaan,
pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan
kesehatan. Dalam presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang sistem kesehatan nasional
dijelaskan bahwa untuk melaksanakan upaya kesehatan dalam rangka pembangunan
kesehatan diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis
dan kualitasnya serta terdistribusi secara adil dan merata.
Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan memutuskan
bahwa tenaga kesehatan terdiri dari Tenaga Medis, Tenaga Keperawatan, Tenaga
kefarmasian, Tenaga kesehatan masyarakat, Tenaga Gizi, Tenaga Keterafian Fisik, dan
Tenaga Keteknisian Medis.
Tabel 2:
Jumlah Rasio berdasarkan Jenis Tenaga Kesehatan
Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016
Rasio per
Tenaga Kesehatan Jumlah Tenaga 100.000 Standar
Penduduk
Dokter Spesialis 0 0,00 6
Dokter Umum 2 2,00 40
Dokter Gigi 1 1,00 11
Keperawatan 14 17,22 117,5
Kefarmasian 1 1,00 10
Kesehatan 1 1,00 40
Masyarakat
Kesehatan 1 1,00 40
Lingkungan
Nutrisionis/gizi 2 2,00 22
Keteknisian medis 2 2,00
Bidan 41 404,15 100

Sumber : Kepegawaian Dinas Kesehatan Kota Subulussalam Tahun 2016

1. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di sarana Kesehatan


Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah
tenaga kesehatan yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat,Tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memilki

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 45


pengetahuan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan salah satu indikator
untuk melihat kecukupan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan salah satunya adalah
menggunakan indikator rasio. Dokter spesialis di Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 tidak
ada dokter spesialis, rasio Dokter Spesialis Sebesar 0,00 per 100.000 penduduk, rasio
tersebut hampir mendekati dengan standar nasional yaitu 6 per 100.000 penduduk.
Dokter umum di Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016 berjumlah 2 orang, rasio Dokter
Umum : 2,00 per 100.000 penduduk, rasio dokter umum menurun dibandingkan tahun 2015
sebesar 25,411 per 100.000 penduduk rasio tersebut masih dibawah target nasional.
Dokter gigi di Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 berjumlah 2 orang, rasio dokter
gigi : 6,65 per 100.000 penduduk ,jika kita melihat nilai rasio pada tahun 2016 : 6,65 per
100.000 penduduk. Rasio Dokter gigi masih berada dibawah target nasional dan Standar
WHO sebesar 11 per 100.000 penduduk.

2. Jumlah dan Rasio Bidan dan Perawat di sarana Kesehatan


Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369/ MENKES/SK/III/2007
tentang standar Profesi bidan, bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan
bidan yang diakui oleh pemerintah dan organisasi profesi bidan serta memiliki kompetensi
dan kualifikasi untuk di register, sertifikasi atau secara sah mendapat lisensi untuk
menjalankan praktek kebidanan.
Bidan diakui sebagai tenaga profesional yang bertanggung jawab dan akuntabel yang
bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama
hamil, masa kehamilan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri
dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya
pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, akses
bantuan medis atau bantuan lain.
Jumlah Bidan di Kecamatan Simpang Kiri pada Tahun 2016 berjumlah 41 orang
dengan rasio bidan 404,15 per 100.000 penduduk, jika kita melihat rasio tenaga bidan
melebihi target nasional dan standar WHO sebesar 100 per 100.000 penduduk.
Jumlah perawat di Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016 berjumlah 14 orang dengan
rasio sebesar 178,22 per 100.000 penduduk , rasio tenaga keperawatan tersebut melebihi
target nasional dan standar WHO sebesar 117,5 per 100.000 penduduk.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 46


3. Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di sarana kesehatan
Tenaga kefarmasian di Kota Subulussalam pada tahun 2016 berjumlah 1 orang
dengan rasio sebesar 33,33 per 100.000 penduduk, jika melihat rasio tenaga kefarmasian
tersebut melebihi target nasional dan standar WHO sebesar 10 per 100.000 penduduk.

4. Jumlah Dan Rasio Tenaga Gizi Di Sarana Kesehatan


Tenaga Nutrisionis atau Gizi di Kota Subulussalam Tahun 2016 sebanyak 2 orang
dengan rasio sebesar 2,77 per 100.000 penduduk mengalami penurunan di tahun 2015. Rasio
tersebut masih jauh di bawah target nasional dan standar WHO sebesar 22 per 100.000
penduduk.

5. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana Kesehatan


Tenaga Kesehatan Masyarakat di Kecamatan Simpang Kiri tahun 2016 sebanyak 1
orang dengan rasio sebesar 33,24 per 100.000 penduduk, rasio tenaga kesehatan masyarakat
tersebut masih di bawah target nasional dan WHO sebesar 40 per 100.000 penduduk.

6. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Lingkungan


Tenaga kesehatan lingkungan di Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 adalah 1 orang
dengan rasio sebesar 3,30, rasio tenaga kesehatan lingkungan tersebut masih dibawah target
Nasional dan standar WHO sebesar 40 per 100.000 penduduk.

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 47


C. PENUTUP
Demikian, penyajian Profil Puskesmas Simpang Kiri Tahun 2016 ini telah selesai
kami susun, semoga dengan tersusunnya Buku Profil ini dapat bermanfaat untuk memantau
dan mengevaluasi hasil kinerja pembangunan kesehatan di jajaran Dinas Kesehatan Kota
Subulussalam. yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
menentukan kebijakan Program Pembangunan Kesehatan di Tahun berikutnya.
Secara umum dapat di sampaikan bahwa pencapaian upaya kesehatan menunjukkan
kecendrungan yang baik, namun masih perlu dilakukan peningkatan partisipasi preventif,
kuratif, maupun rehabilitatif serta masih perlunya peningkatan pembiayaan kesehatan secara
menyeluruh terutama APBK untuk sektor kesehatan.
Pada tahun ini kami telah berusaha melakukan perbaikan dari tahun sebelumnya agar
data ini dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk perencanaan, evaluasi dan
monitoring serta cermin terhadap pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan hari ini maupun
waktu terbit profil ini dibutuhkan adanya komitmen bersama, keseriusan dan dukungan
khususnya dari pengelola program terkait di Dinas Kesehatan Kota Subulussalam termasuk
RSUD, sehingga Tujuan Profil kesehatan ini dapat menjadi salah satu sumber data dan
informasi kesehatan dapat tercapai.
Demikian kami sampaikan atas segala upaya dan bantuan semua pihak yang telah
memberikan kontribusinya sehingga profil kesehatan Kecamatan Simpang Kiri ini dapat
terselesaikan.

Terima Kasih

wassalam

Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Simpang Kiri Tahun 2016 Page 48