Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Penukar panas atau dalam industri kimia populer dengan istilah bahasa
Inggrisnya, heat exchanger (HE), adalah suatu alat yang memungkinkan
perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai
pendingin. Biasanya, medium pemanas yang dipakai adalah uap lewat panas
(super heated steam) dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar
panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat
berlangsung secara efisien.

Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat
dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung begitu saja.
Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik
kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah
satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana
cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara. Penukar panas merupakan
alat yang dapat memindahkan panas dari satu sistem ke sistem yang lain tanpa
terjadi perpindahan massa dari dari sistem satu ke sistem lainnya.

Pengklasifikasian heat exchanger berdasarkan desain konstruksinya,


menjadi pengklasifikasian yang paling utama dan banyak jenisnya. Salah satu
jenisnya adalah heat exchanger tipe tubular yang melibatkan penggunaan tube
pada desainnya. Bentuk penampang tube yang digunakan bisa bundar, elips,
kotak, twisted, dan lain sebagainya. Heat exchanger tipe tubular didesain untuk
dapat bekerja pada tekanan tinggi, baik tekanan yang berasal dari lingkungan
kerjanya maupun perbedaan tekanan tinggi antar fluida kerjanya. Tipe tubular
sangat umum digunakan untuk fluida kerja cair-cair, cair-uap, cair-gas, ataupun
juga gas-gas. Namun untuk penggunaan pada fluida kerja gas-cair atau juga gas-
gas, khusus untuk digunakan pada kondisi fluida kerja bertekanan dan

1
bertemperatur tinggi sehingga tidak ada jenis heat exchanger lain yang mampu
untuk bekerja pada kondisi tersebut.

Shell and Tube Exchanger merupakan salah satu exchanger dari tipe
tubular. Exchanger ini melibatkan tube sebagai komponen utama. Tipe shell and
tube sering digunakan dalam industri karena memiliki kelebihan bila
dibandingkan dengan tipe lainnya, antara lain :

1. Konfigurasi yang dibuat dapat memberikan luas permukaan yang besar (>
200 ft2) dengan volume yang kecil.
2. Mempunyai lay-out mekanik yang baik dan bentuknya cukup baik untuk
operasi bertekanan.
3. Menggunakan teknik fabrikasi yang sudah mapan.
4. Dapat dibuat dari berbagai material.
5. Mudah dibersihkan dan konstruksinya sederhana

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Analisa Performa Dalam Sebuah 1-2 Exchanger


Disaat semua persamaan relevan digunakan untuk menghitung kondisi
proses yang sesuai dengan heat exchanger, itu di sebut dengan rating dari HE
tersebut. Ada tiga poin signifikan di dalam menetukan kesesuaian dari existing
exchanger :
1. Seberapa jelas koefisien Uc bisa perform dengan dua fluida sebagai hasil
dari flownya dan individual film koefisien hi dan ho?
2. Dari neraca panas Q=WC (T1-T2) = wc (t2-t1) diketahui sebgai permukaan A,
perbedaan temperature dari nilai design .
3. Pressure drop yang dibolehkan untuk dua aliran.

Untuk memulai perhitungan harus terlebih dahulu diketahui dimana fluida


panas dan dingain akan di tempatkan di dalam shell heat exchanger. Salah satu
aliran harus lebih besar dari yang lainnya agar area perpindahan panas menjadi
besar. Di dalam perhitungan subskrip s dan t di gunakan untuk membedakan
antara shell dan tube.

2.1.1 Perhitungan Dari 1-2 Exchanger

Kondisi proses yang diperlukan

Fluida Panas : T1, T2, W, c, s, µ, Rd, ∆P

Fluida dingin : t1, t2, w, c , s, µ, Rd, ∆P

Untuk exchanger data di bawah harus diketahui :

3
1. Heat balance,

2. Perbedaan temperature, ∆T:

3. Caloric temperature ,
Fluida Panas: Shell side Fluida dingin : Tube side

13. Clean overall coefficient Uc,

4
14. Design overall coefficient : external surface /lin ft a” dari appendix table
10
Heat transfer surface,

15. Dirt Factor, Rd:

Jika Rd sama atau berlebih dari dirt factor yang diperlukan, maka proses
dibawah pressure drop

Penggunaan caloric temperature pada contradiction parsial pada perhitungan 1-2


parallel flow-counterflow, temperature difference maka U di asumsikan konstan

Pressure Drop

Fluida Panas Fluida dingin

Contoh perhitungan 7.3 Perhitungan dari Kerosine-Crude Oil Exchanger.


43800 lb/hr 42º API kerosene keluar dari bottom column distillation pada
suhu 390 ºF Dan akan didinginkan sampai suhu 200 ºF dengan
menggunakan149000 lb/hr 34 ºAPI Mid-continent crude dari storage dengan suhu
100 ºF. pressure drop yang dibolehkan adalah 10 psi pada kedua aliran dan
berdasarkan table 12, combine dirt factor adalah 0.003. Untuk perhitungan ini HE
dengan ID 21,25 inch mempunyai 158 1 inch OD.13 BWg tubes 16’0” panjang

5
dan laid out 1,25 inch, square pitch. Di susun dengan 4 aliran dan baffles dengan
jarak 5 inch. Apakah HE ini sesuai, dan apa itu dirt factor?

Solusi

Excahanger :

1. Heat balance
Kerosine, Q = 43800 x 0.605 (390 – 200) = 5,100,000 Btu/hr
Mid-continent crude Q = 149000 x 0.49 (170 – 100) = 5,100,000 Btu/hr
2. ∆t :

LMTD = 152,5ºF
R = 190/70 = 0.241

S=
Fr = 0.905
∆t = 0.905 x 152.5 = 138 ºF
3. To dan tc :

Kc = 0.20 (crude oil controlling)


Fo = 0.42

6
Tc = 200 + 0.42 x 190 = 280 ºF

Karena flow area kedua shell dan tubes akan sama , di asumsikan lebih
besar aliran di dalam tubes dan perhitungan di tube side

Fluida panas; shell side; kerosene Fluida dingin; tube side; crude oil

13. Clean overall coefficient Uc:

7
14. Design overall coefficient

= 0.2618 ft2/in ft

Total surface, A = 158 x 16’0” x 0.2618 = 662 ft2

15. Dirt factor, Rd :

Summary
162 h outside 121
Uc 69.3
Ud 55.8
Rd calculated 0.00348
Rd required 0.00300
Pressure Drop
Fluida panas Fluida dingin

8
Dirt factor 0.00348 diperoleh walaupun hanya 0.003 akan diperlukan untuk
perbaikan berkala, pressure drop tidak berlebih, artinya Exchanger sangat layak
untuk digunakan.

2.2 Exchanger Menggunakan Air


Umumnya proses pendinginan pada peralatan tubular dilakukan dengan
menggunakan air. Perpindahaan panas dari air yang memiliki karakteristik yang
berdeda dari jenis fluida yang lain. Hal ini bisa menyebabkan korosi pada
baja/besi, apalagi jika suhu dinding tabung terlalu tinggi dan banyak industry
menggunakan tabung nonferrous tertentu untuk proses pemindahan panas
menggunakan air.
Tabung nonferrous yang digunakan umumnya adalah kuningan dan
tembaga. Dikarenakan dinding tabung terbuat dari bahan baja/besi, air adalah
penanganan yang baik di dalam tabung. Saat air mengalir di dalam tabung, tidak
terjadi korosi pada floating-heat cover.
Pada exchanger water-to-water dengan jika lapisan koefisien adalah 1000
pada sisi dinding dan tabung, kombinasi tahanan adalah 0,002 atau Uc = 500. Jika
fouling factor yang dibutuhkan adalah 0,004 maka fouling factor mempengaruhi
tahanan. UD harus kurang dari 1/0,004 atau 250. Kapanpun koefisien tinggi untuk
kedua sisi exchanger, kegunaan dari fouling factor yang tidak sesuai harus
dihindari.

Contoh 7.4 Perhitungan exchanger air mentah dan air suling


175.000 lb/hr air suling masuk ke dalam exchanger pada suhu 93 F dan suhu
keluaran yaitu 85 F. Panas berpindah menjadi 280.000 lb/hr air mentah yang
masuk dari persediaan pada suhu 75 F dan suhu keluaran pada 80 F. Pressure drop
sebesar 10 psi dikeluarkan pada kedua pemanas saat fouling factor untuk air
suling adalah 0,0005 dan air mentah 0.0015 dan kecepatan tabung berlebih 6 fps.
Pada proses ini digunakan sebuah exchanger dengan ID 15¼ in., OD 160¾ in., 18
BWG tabung panjang 16’00’’ dan berada pada 15/16 in. triangular pitch. Terdapat
sekat dengan jarak 12 in. Apakah exchanger yang digunakan sesuai?

9
Penyelesaian:
Exchanger:
Shell Side Tube Side
ID = 15¼ in. Number and length = 160, 16’00’’
Baffle spaces = 12 in. OD = ¾ in
Passes = 1 BWG = 18 BWG
Pitch = ¾ in. triangular
Passes = 2

1. Heat Balance
Air suling
Q = 175.000 x 1(93-85)
= 1.400.000 Btu/hr
Air mentah
Q = 280.000 x 1(80-75)
= 1.400.000 Btu/hr
2. ∆t

3. Tc dan tc : temperatur rata-rata yaitu 89 dan 77,5 F akan bekerja dengan


baik untuk jarak yang singkaat dan ɸ yang diperoleh 1.0. Gunakan suhu
panas pada luaran pipa sebagai percobaan, karena lebih kecil di antara
keduanya.

10
Hot fluid: Shell side, distilled water Cold fluid: Tube side, raw water

13. Clean Overall Coefficient, Uc:

Saat kedua lapisan memiliki koefisien yang tinggi, tahanan suhu dari
tabung metal tidak bias diasumsikan dari persamaan di atas. Untuk sebuah baja
dengan 18 BWG, Rm tabung = 0,00017 dan Rm tembaga = 0,000017.

11
14. Design Overall Coefficient, UD:

15. Dirt Factor, Rd:

Pressure Drop

12
Dapat dilihat bahwa koefisien keseluruhan dari soal ini adalah 5 kali dari
oil-to-oil exchanger pada contoh sebelumnya, perbedaan yang mendasar terdapat
pada kondisi thermal dari air. Exchanger layak untuk digunakan.

2.4 Temperatur Optimal Air Outlet

Dalam menggunakan air sebagai media pendingin, dapat digunakan dalam


kuantitas sirkulasi yang besar dengan range temperatur yang kecil, atau kuantitas
sirkulasi yang kecil namun dengan range temperatur yang besar. Secara natural,
range temperatur pada air mempengaruhi LMTD. Jika digunakan kuantitas besar,
t2 akan lebih jauh dari T1 dan dibutuhkan lebih kecil luas permukaan sebagai
akibat dari besarnya LMTD. Walaupun biaya investasi dan perawatan lebih
hemat, namun biaya operasinya akan lebih mahal karena diperlukannya kuantitas
air yang besar.
Total biaya tahunan dari exchanger adalah penjumlahan dari biaya air
tahunan dan fixed charge ditambah dengan biaya perawatan dan depresiasi. Jika
CT adalah biaya tahunan, maka:

Dengan mengsubstitusi rumus heat balance, dimana dan


luas permukaan maka didapat rumus:

13
Asumsi U konstan:

Dengan menjaga semua faktor konstan kecuali temperatur air outlet dan Δt2,

Kondisi optimum akan tercapai apabila total annual cost minimal, dan saat dCt/dt2
= 0.

Saat nilai dari U tinggi atau ada cairan panas dengan range yang besar,
temperatur outlet-water yang optimal dapat diatas batas dari 120 F. Hal ini tidak
sepenuhnya benar, karena biaya perawatan akan meningkat diatas 20% dari biaya
awal saat temperaturnya meningkat diatas 120 F.

14
2.4 Solution Exchangers

Salah satu kelas yang paling umum dari exchangers mencakup pendingin
atau pemanas suatu cairan adanya kekurangan data fisik. Hal tersebut dapat
dimengerti, mengingat sifat properties dan temperatur dibutuhkan bukan hanya
pada kombinasi solute dan solvent, tetapi juga pada konsentrasi yang berbeda.
Beberapa data yang terdapat pada literatur dan studi lain menunjukkan peraturan
dari formula untuk mengestimasi properties pertukaran panas dari cairan saat
rumus tersebut digunakan. Yaitu sebagai berikut:

Thermal comductivity:

Larutan dari liquid organik : menggunakan conductivity yg terukur.

Larutan dari liquid organik dan air: menggunakan 0,9 kali conductivity terukur.

15
Larutan dari garam dan air yang disirkulasikan melalui shell: menggunakan 0,9
kali conductivity air sampai konsentrasi 30%.

Larutan dari garam dan air yang disirkulasikan melalui tubes dan tidak melebihi
30%: gunakan Fig. 24 dengan conductivity 0,8 dari air.

Dispersi koloid: menggunakan 0,9 kali conductivity dari liquid dispersi.

Emulsi: menggunakan 0,9 kali conductivity dari liquid yg mengelilingi tetes air.

Specific heat:

Larutan organik: menggunakan panas spesifik yang terukur.

Larutan organik dalam air: menggunakan panas spesifik yang terukur.

Garam yang melebur dalam air: menggunakan panas spesifik yang terukur dimana
panas spesifik dari garam dalam fase kristal.

Viskositas:

Liquid organik dalam organik: menggunakan kebalikan dari jumlah aturan (fraksi
berat atau viskositas) dari tiap komponen.

Liquid organik dalam air: menggunakan kebalikan dari jumlah aturan (fraksi berat
atau viskositas) dari tiap komponen.

Garam dalam air dimana konsentrasinya tidak melebihi 30% dan tidak ada hasil
dari tipe sirup: gunakan dua kali viskositas air. Larutan sodium hidroksida dalam
air dalam konsentrasi sangat kecil harus dianggap sirup dan tidak dapat diestimasi.

2.5 Steam Sebagai Media Pemanas

Sejauh ini tidak ada penelitian tentang perpindahan panas menggunakan


steam walaupun sejauh ini steam merupakan media pemanas yang paling umum.
Steam sebagai media pemanas ditemui beberapa kesulitan: (1) kondensat steam
panas cukup korosif, dan perlu perhatian khusus agar kondensat tidak

16
berakumulasi dalam exchanger dimana kontak secara terus menerus dengan metal
akan mengakibatkan kerusakan. (2) pipa kondensat harus disambung dengan
bijaksana. Misalkan knalpot uap pada 5 psig dan 228 F digunakan untuk
memanaskan lairan dingin yang masuk pada suhu 100 F. Suhu dari dinding tube
akan berada diantara suhu tersebut tapi akan lebih dekat ke steam, anggap 180 F,
yang sesuai dengan tekanan saturasi yang hanya 7,5 psia untuk kondensat pada
dinding tube. Walaupun steam masuk pada tekanan 5 psig, tekanan dari steam
bisa turun ke tekanan dibawah atmosfer, sehingga kondensat tidak akan hilang
dari heater. Justru akan tertinggal dan terakumulasi dalam exchanger sampai
menutup seluruh permukaan untuk pertukaran panas, sehingga steam akan tetap
pada tekanan saat masuk. Proses pemanasan akan terganggu dan tidak seragam.
Maka dibutuhkan trap pada perpipaan.
Mengkoneksikan steam pada tubes lebih efisien dibandingkan
mengkoneksikannya ke bagian shell. Dengan demikian, mengingat kondensat
dapat korosif, maka hanya diperlukan perbaikan pada bagian tube saja, dimana
apabila dimasukkan ke dalam shell, maka kedua-duanya akan mengalami
kerusakan.

2.6 Pressure Drop Untuk Steam

Ketika steam digunakan dalam dua sisi tabung, pressure drop yang harus
sangat kecil, tidak boleh lebih dari 1.0 psi, terutama bila ada aliran yang
terpengaruh gravitasi kembali ke kondensat. Dalam sistem gravity-return, aliran
kondensat kembali ke boiler karena perbedaan statis antara kolom vertikal uap
dan kolom vertikal kondensat. Penurunan tekanan didalam exchanger termasuk
pada saat masuk maupun keluar dapat dihitung dengan mengambil setengah dari
pressure drop yang dihitung dengan Persamaan (7.45) untuk kondisi uap masuk.
Kecepatan massa dapat dihitung dari aliran uap masuk dan area aliran yang
dilewati pertama. Bilangan Reynolds berdasarkan kecepatan massa dan viskositas
uap yang didapatkan dari Gambar. 15. Specific Gravity yang digunakan dengan

17
Persamaan (7.45) merupakan densitas uap dari tabel 7 untuk tekanan masuk yang
dibagi dengan densitas air sebesar 62.5 lb/ft3.
Perhitungan ini masih merupakan perkiraan. Hal ini dikarenakan terjadinya
penurunan tekanan secara berturut per ft panjang dengan kuadrat laju massa,
sementara pendekatannya mengasumsikan nilai rata-rata pada saat masuk dan
keluar.

2.7 Penggunaan Optimal Dari Exhaust Dan Process Steam

Beberapa pabrik mendapat power tanpa turbine dan mesin. Di tempat-


tempat seperti itu kemungkinan ada banyak exhaust steam pada tekanan rendah 5-
25 psig yang dianggap sebagai produk samping dari suklus daya pabrik.
Sementara itu, ada aspek acak pada metode untuk memperkirakan biaya exhaust
steam yang berasal dari seperempat hingga seperdelapan biaya proses atau live
steam. Walaupun memiliki panas laten yang tinggi, exhaust steam merupakan
nilai proses yang terbatas. Jika cairan dipanaskan hingga 250 atau 275oF, sangat
penting menggunakan uap proses dengan tekanan 100-200 psi yang dihasilkan
powerhouse untuk tujuan proses.
Ketika fluida akan dipanaskan hingga suhu yang mendekati atau melewati
suhu exhaust steam, maka semua pemanasan bisa dilakukan pada shell tunggal
uap proses. Sebagai alternatif, panas bisa dibagi dua shell, satu memanfaatkan
exhaust steam sebanyak mungkin, dan yang lainnya memanfaatkan uap proses
sedikit mungkin. Ini akan menghasilkan hasil yang optimum: jika suhu keluaran
fluida dingin sangat mendekati suhu exhaust steam, hasilnya ∆t kecil dan pemanas
pertama besar. Sebaliknya, jika suhunya tidak mendekati, maka biaya operasi dari
kebutuhan proses steam yang lebih tinggi pada pemanas kedua akan meningkat,
sehingga biaya awal dari dua shell mungkin tidak dibenarkan.
Analisis berikut ini diasumsikan pressure drop, biaya pemompaan, dan
koefisien overall adalah identik dalam single dan double penyusunan pemanas.
Juga diasumsikan bahwa biaya tetap per ft2 permukaan ialah tetap, walaupun hal
ini tidak selalu benar. Persamaan untuk biaya diambil dari jumlah hasil uap dan
biaya tetap dan karena uap terkondensasi secara isothermal. ∆t = LMTD

18
Dimana,
Cr = total biaya pertahun (dolar)
CF = biaya tetap pertahun (dolar/ft2)
CE = biaya exhaust steam (dolar/Btu)
CP = Biaya steam proses (dolar/Btu)
TE = suhu exhaust steam (oF)
TP= suhu Steam proses (oF)
t = suhu intermediate diantara shell
Ɵ = total jam operasi pertahun

Subtitusi, difenrensiasi persamaan (7.52)

Contoh 7.7 Penggunan Optimum dari Exhaust dan Process Steam


Exhaust steam pada 5 psi. (= 228 oF) dan proses steam pada 85 psi (= 328
o
F) tersedia untuk memanaskan cairan dari 150 hingga 250 oF. Biaya exhaust
steam 5 cent per 1000 lb dan biaya proses steam 30 cent per 1000 lb. dari
pengalaman laju keseluruhan ialah 50 Btu/(hr)(ft2)(oF). Gunakan biaya tetap
pertahun $1.20 per ft2, 8000 jam pertahun, panas laten exhaust 960.1 Btu/lb dan
888.8 Btu/lb utuk proses steam

Solusi:

19
2.8 1-2 Exchangers Tanpa Sekat (Baffles)

Tidak semua 1-2 Exchangers memiliki 25% potungan sekat segmental.


Ketika fluida yang melewati shell memiliki pressure drop yang sangat kecil, fluida
tidak menggunakan segmental baffle, melainkan menggunakan pelat pendukung.
Hak ini biasanya berupa setengah lingkaran, 50% pelat potong yang akan
mengakibatkan kekakuaan pada tabung, dan mencegah tabung melengkung. Pelat
pendukung berturut disusun tumpang tindih pada diameter shell sehingga seluruh
gabungan dapat didukung oleh dua stengah lingkaran yang mendukung satu atau
dua baris tabung yang sama. Hal ini mungkin berjarak jauh dari diameter luar
shell, namun ketika digunakan fluida yang melalui shell dianggap mengalir
sepanjang sumbu bukan menyebrangi tabung. Ketika aliran fluida dalam shell
mengalir sepanjang tabung atau memotong 25 persen baffle, maka Fig. 28 tidak
lagi berlaku. Alirannya kemudian dianalogikan dengan annulus penukar pipa
ganda dan dapat diperlakukan dengan cara yang sama, menggunakan diameter
ekuivalen berdasarkan pada area aliran distribusi dan lingkar basah untuk seluruh
shell. Perhitungan pressure drop pada bagian shell akan sama dengan rumus
annulus tersebut.

Contoh 7.8 Perhitungan Pemanas Sugar-Solution Tanpa Baffle

200,000 lb/hr dari 20% sugar-solution (s = 1.08) akan dipanaskan dari suhu
100 hingga 122 oF mennggunakan uap bertekanan 5 psi. Melewati exchanger
tanpa baffle dengan 12in. ID, 76 ¾ in. OD, 16 BWG tube 16’0” diadalam 1-in.
square pitch. Gabungan disusun untuk 2 aliran. Bisakah pemanas (exchanger)
menyediakan 0.003 dirt factor tanpa melewati pressure drop sebesar 20 psi?
Solusi:

Penukar Panas:

20
1. Kesetimbangan panas

2. ∆t

3. Tc dan tc: koefisien uap akan sangat besar dibandingkan dengan dengan itu
untuk larutan gula, dan suhu didinding tabung akan lebih mendekati 228 oF
dari pada suhu kalori dari fluida. Fc didapatkan dari U1 dan U2. Gunakan
suhu 111 oF sebagai suhu rata-rata, tc

Fluida Panas: Shell side Fluida dingin : Tube side

21
13. Koefisien Overall Uc:

14. Koefisien Design Overall, UD :

15. Dirt Factor Rd:

22
Summary
1500 h outside 311
Uc 275
Ud 137
Rd Perhitungan 0.0034
Rd dibutuhkan 0.003

Pressure drop :
Fluida Panas Fluida dingin

2.9 Heat Recovery Pada 1-2 Exchanger

Saat sebuah exchanger dalam keadaan bersih, suhu cairan panas yang keluar
lebih rendah daripada suhu keluaran proses. Suhu cairan dingin yang keluar lebih
tinggi dari pada suhu yang keluar. Untuk counterflow memungkinkan untuk
mendapatkan nilai T2 dan t2 pada exchanger yang bersih dari persamaan (5.18),
dimulai dari

𝑤𝑐(𝑡2 − 𝑡1 ) = 𝑈𝐴 × 𝐿𝑀𝑇𝐷

23
Untuk 1-2 exchanger suhu yang keluar bias didapatkan dengan menyatakan
𝑤𝑐(𝑡2 − 𝑡1 ) = 𝑈𝐴𝐹𝑇 × 𝐿𝑀𝑇𝐷, dimana LMTD dalam hal ini dinyatakan sebagai
parameter R dan S oleh persamaan (7.39) dan FT dinyatakan oleh persamaan
(7.41).
Jika FT bisa dieliminasi ketika 𝑈𝐴/𝑤𝑐 di persamaan (7.37) diplotkan
terhadap S, Ten Brock membuat grafik yang ditunjuukan pada gambar (7.25).
Pada 1-2 exchanger A dan wc diketahui. U dapat dihitung dari jumlah aliran dan
suhu, dan R dapat dievaluasi dari 𝑤𝑐/𝑊𝐶. Nilai S bisa dicari langsung dari grafik
dari data diatas. Jika 𝑆 = (𝑡2 − 𝑡1 )/(𝑇1 − 𝑡1 ) dan T1 dan t1 diketahui, maka t2
dapat di cari dan dari heat balance 𝑤𝑐(𝑡2 − 𝑡1 ) = 𝑊𝐶(𝑇1 − 𝑇2 ). Garis dirancang
threshold mewakili initial point yang mana cross temperature terjadi.

24
Contoh 7.9 Suhu Keluar untuk Clean 1-2 Exchanger

Dari contoh 7.3 kerosene-crude oil exchanger, berapa suhu keluaran ketika
exchanger baru di tempatkan?

Jawaban :

𝑈𝑐 = 69.3 𝐴 = 662 𝑤 = 149,000 𝑐 = 0.49


𝑊 = 43,800 𝐶 = 0.60
𝑈𝐴 69.3 × 662
= = 0.63
𝑤𝑐 149,000 × 0.49
𝑤𝑐 149,000 × 0.49
𝑅= = = 2.78
𝑊𝐶 43,800 × 0.60
Dari gambar 7.25
𝑡2 − 𝑡1
𝑆= = 0.265
𝑇1 − 𝑡1
𝑡2 = 𝑡1 + 0.265(𝑇1 − 𝑡1 ) = 100 + 0.265(390 − 100) = 177℉
𝑇2 = 𝑇1 − 𝑅(𝑡2 − 𝑡1 ) = 390 − 2.78(177 − 100) = 176℉

2.10 Effisiensi Exchanger

Standar operasi yang maksimum selalu diinginkan dalam mendisain suatu


peralatan. Effisiensi dijadikan patokan apakah performance peralatan dibawah
stadar. Dodge mendefenisikan effisiensi sebuah exchanger sebagai rasio jumlah
panas yang di keluarkan dari cairan terhadap jumlah maksimum yang mungkin
bisa dikeluarkan. Secara nomenclature,
𝑤𝑐(𝑡2 − 𝑡1 ) (𝑡2 − 𝑡1 )
𝑒= =
𝑤𝑐(𝑇1 − 𝑡1 ) (𝑇1 − 𝑡1 )

Dimana identik dengan suhu group S dan dianggap bahwa t2 = T1. Efisiensi
juga dapat dinyatalan oleh,
𝑊𝐶(𝑇1 − 𝑇2 )
𝑒=
𝑊𝐶(𝑇1 − 𝑡1 )
Meskipun defenisi ini memiliki keunggulan dari standpoint termodinamika,
namun ada kekurangan dari defenisi effisiensi yang sesungguhnya yang mana
melibatkan perbedaan terminal dan perbedaan temperature yng mendekati nol. Ini

25
sama dengan mendefenisikan effisiensi sebagai ratio heat transfer oleh exchanger
yang sesungguhnya dengan exchanger dengan permukaan yang luas.
Dalam proses perpindahan panas ada definisi lain yang lebih sesuai. Suhu
proses dapat menghasilkan perbedaan suhu yang maksimum jika disusun secara
counterflow. Nilai ini muncul dari effisiensi exchanger sebagai rasio dari
perbedaan suhu yang dihasilkan oleh exchanger yang lain menjadi counterflow
yang sesungguhnya. Hal ini identic dengan FT, yang mana secara proportional
mempengaruhi permukaan yang dbutuhkan.

26
BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini adalah:


3.1 Shell and tube exchanger merupakan salah satu tipe dari exchanger yang
diklasifikasikan berdasarkan desain konstruksinya.
3.2 Suatu alat penukar panas yang telah dirancang perlu diuji kelayakannya untuk
mengetahui kinerja alat tersebut dalam melakukan proses perpindahan panas.
Menurut Kern (1965), untuk menentukan kelayakan suatu alat penukar panas
(heat axchanger) dilakukan melalui 2 macam besaran yang perlu ditentukan
yaitu :
1. Faktor kekotoran (Rd)
Semakin besar harga Rd hasil kalkulasi dari harga Rd yang dibutuhkan
maka alat penukar panas dapat dikatakan layak digunakan apabila telah
dilakukan service sehingga alat penukar panas perlu dibersihkan dan
diservis. Apabila harga Rd hasil kalkulasi lebih kecil dari harga Rd yang
dibutuhkan maka alat penukar panas dapat dikatakan tidak layak
digunakan.
2. Pressure drop (∆P)
Kelayakan alat penukar panas baik apabila memiliki harga ∆P untuk gas
sebesar < 2 psia dan untuk cair sebesar < 10 psia.

27