Anda di halaman 1dari 20

HANTARAN ELEKTROLITIK

1. Mekanisme Hantaran Elektrolitik


- Ion-ion selalu bergerak karena mempunyai
derajat kebebasan translasi.
- Gerak ion-ion ini disebut gerak termal, tidak
mempunyai arah tertentu.
- Jika ke dalam larutan diadakan beda potensial
listrik (melalui dua buah elektroda), maka gerak
ion-ion menjadi terarah. Gerak terarah ini
disebut gerak migrasi.
- Selain migrasi ion terjadi pula reaksi kimia pada
kedua elektroda.
- Pada rangkaian luar :
a. Elektron dari baterai B mengalir ke arah
elektroda K (katoda) dan berantaraksi dengan
ion-ion positif
b. Pada saat yang sama elektron mengalir dari
elektroda A (anoda). Elektron ini berasal dari
reaksi oksidasi yang terjadi pada elektroda ini.
- Di dalam larutan
a. Muatan listrik negatif (I-) mengalir dari katoda ke anoda, sedangkan muatan listrik positif (I+) mengalir
dari anoda ke katoda
b. Muatan listrik ini bukan aliran elektron, melainkan aliran ion-ion.
c. Ion-ion negatif (anion) bermigrasi ke anoda, sedangkan ion-ion positif (kation) bermigrasi ke katoda.

- Kesimpulan :
Hantaran elektrolitik terjadi karena :
a. Elektron masuk ke dalam dan keluar dari larutan melalui reaksi pada kedua elektroda.
b. Elektron lewat dalam larutan melalui migrasi ion.

2. Konsep Daya Hantar


Daya hantar : kemampuan penghantaran listrik oleh larutan elektrolit dinyatakan dalam suatu besaran yang
disebut daya hantar.
Jika jarak antara kedua elektroda adalah ℓ cm, dan luas elektroda A cm2, maka tahanan dari larutan antara
kedua elektroda adalah :
𝑅 = 𝑅𝑠 . ℓ⁄𝐴 (1)
dengan : R = tahanan ( dalam ohm, Ω)
Rs = tahanan jenis larutan (dalam Ω.cm)
Daya hantar, L, adalah kebalikan dari tahanan, R, sehingga :
1 1 𝐴
𝐿= = . ⁄ℓ
𝑅 𝑅𝑠

𝐿 = 𝐿𝑠 . 𝐴⁄ℓ (2)
Dengan : Ls = daya hantar jenis larutan
satuannya Ω-1cm-1 atau Ω-1m-1 (dalam satuan SI)
atau S.m-1 (S = Siemens)
Catatan :
- perhatikan bahwa konduktor sepanjang 1 cm dan luas 1 cm2 mempunyai volume 1 cm3. Akan tetapi tidak
selalu benar untuk menyatakan bahwa Ls adalah daya hantar 1 cm3 larutan.
- Ls suatu larutan elektrolit ditentukan dengan cara mengukur tahanannya dalam suatu sel daya hantar.
- Suatu sel daya hantar tertentu, ℓ dan A adalah tetap. Angka banding ℓ/A disebut tetapan sel, K.

Ungkapan persamaan (2) dapat ditulis :


𝐿𝑠 = 𝐿 . ℓ⁄𝐴
1
𝐿𝑠 = . 𝐾
𝑅
atau 𝐾 = 𝐿𝑠 . 𝑅 (3)

Ls bergantung pada konsentrasi larutan elektrolit. Jika konsentrasi larutan meningkat, maka L s juga
meningkat. Kenaikan ini disebabkan karena kenaikan jumlah ion dalam larutan.
Misalnya : Pada suhu 25 oC
Larutan KCl 0,01 M : Ls = 1,41 x 10-3 Ω-1 cm-1
0,1 M : Ls = 1,28 x 10-2 Ω-1 cm-1
1,0 M : Ls = 1,11 x 10-1 Ω-1 cm-1

3. Daya Hantar Ekivalen dan Daya Hantar Molar


Ʌ = daya hantar jenis larutan yang mengandung 1 ekivalen atau 1 mol elektrolit.
Jika C* = konsentrasi dalam ekivalen atau mol per cm3 larutan, maka :
Ʌ = Ls/C*
Jika konsentrasi dinyatakan dalam ekivalen atau mol per liter, maka :
1000 Ls
Ʌ= (4)
C∗
Catatan : Ʌ berkurang jika konsentrasi larutan dinaikkan. Hal ini disebabkan karena penurunan kecepatan
ion sebagai akibat dari meningkatnya efek antaraksi ion.

Tabel 1. Daya Hantar Ekivalen pada 25 oC (Ω-1 cm2 ekiv-1)


C, ek/L HCl NaOH NaCl BaCl2 CH3COOH NH4OH
≈0 426 248 126 140 391 271
0,0005 423 246 125 136 68 47
0,001 421 245 124 134 49 34
0,005 416 240 121 128 23 16
0,01 412 237 119 124 16 11
0,05 399 227 111 111 7 5
0,1 391 221 107 106 5 4

Dari data di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan :


- Larutan asam kuat dan basa kuat mempunyai daya hantar yang tinggi, bagi zat-zat ini pengaruh
konsentrasi terhadap daya hantar tidak begitu besar.
- Larutan garam mempunyai daya hantar yang kurang lebih sama besar , daya hantarnya tidak banyak
bergantung pada konsentrasi.
- Larutan elektrolit lemah mempunyai daya hantar yang jauh lebih rendah, dan pengaruh konsentrasi
sangat besar.

4. Penentuan Daya Hantar Molar


Untuk elektrolit kuat kebergantungan Ʌ pada konsentrasi diberikan oleh persamaan KOHLRAUSCH.
Ʌ = Ʌo − b √C (5)
dengan Ʌ = daya hantar pada konsentrasi tertentu
Ʌo = daya hantar pada pengenceran tak terhingga
b = suatu tetapan
Menurut persamaan (5), aluran Ʌ terhadap √C merupakan garis lurus. Ʌo dapat ditentukan dengan cara
ekstrapolasi hingga C = 0

Ʌo slope = -b


Ʌ

0 √C →
5. Hukum KOHLRAUSCH
Untuk menentukan Ʌo yang berlaku baik untuk elektrolit kuat maupun elektrolit lemah didasarkan atas
hukum KOHLRAUSCH.
“Pada pengenceran tak terhingga ion-ion bergerak secara bebas tanpa terpengaruh oleh gaya tarik-menarik
antar ion, dalam hal ini daya hantar sama dengan jumlah daya hantar tiap jenis ion dalam larutan”
Ʌo = λo+ + λo- (6)

dengan λo+ = daya hantar ekivalen (molar) kation pada pengenceran tak terhingga
λo- = daya hantar ekivalen (molar) anion pada pengenceran tak terhingga
Penerapan utama hukum KOHLRAUSH adalah untuk mencari harga limit dhl (dhm) dari elektrolit lemah
Ʌo (AD) = Ʌo (AB) + Ʌo (CD) - Ʌo (CB) (7)
dengan Ʌo adalah dhl (dhm) pada pengenceran tak terhingga dari spesies, AD, AB, CD, dan CB, dan
umumnya ini merupakan elektrolit kuat kecuali AD.
Dengan menggunakan hukum KOHLRAUSCH :
Ʌo (AD) = λoA+ + λoB- + λoC+ + λoD- - λoC+ - λoB-
= λoA+ + λoD-

Tabel 2. Dhl Ion pada Pengenceran Tak Hingga

Kation λo+ Anion λo-


H+ 349,82 OH- 198,0
Li+ 38,69 Cl- 76,34
K+ 73,52 Br- 78,4
Na+ 50,11 I- 76,8
Ag+ 61,92 NO3- 71,44
NH4+ 73,4 CH3COO- 40,9
½ Mg2+ 53,06 ClO4- 68,0
½ Ca2+ 59,50 ½ SO42- 79,8
½ Ba2+ 63,64
1/3 La3+ 69,6
6. Hukum Disosiasi Arrhenius
Menurut Arrhenius, dhl (dhm) menurun jika konsentrasi larutan dinaikkan disebabkan karena berkurangnya
jumlah ion pembawa arus dan hal ini terjadi karena elektrolit dalam larutan tidak mengion dengan
sempurna.
Derajat disosiasi larutan elektrolit lemah dapat ditentukan dari angka banding dhl (dhm) pada konsentrasi
tertentu dengan dhl (dhm) pada pengenceran tak hingga. Dengan asumsi bahwa ion-ion yang bermuatan
listrik tidak mempunyai pengaruh timbal balik terhadap sifatnya masing-masing.
Ʌ
𝛼= (8)
Ʌ𝑜
Catatan :
- Teori Arrhenius cukup memuaskan bila diterapkan pada larutan elektrolit lemah, tetapi gagal untuk
larutan elektrolit kuat.
- Elektrolit kuat dianggap mengion dengan sempurna dalam larutan, dan adanya ion-ion yang bermuatan
listrik pasti mempunyai pengaruh yang besar terhadap sifat-sifat larutan.

Hukum disosiasi Arrhenius dapat digunakan untuk menentukan kostanta disosiasi larutan elektrolit lemah.
Misalnya, untuk suatu elektrolit lemah biner AB
AB → A+ + B-
Mula-mula 1M - -
Terurai αM αM αM
Akhir (1-αM) αM αM
[𝐴+ ][𝐵− ]
𝐾=
[𝐴𝐵]
(𝛼𝑀)(𝛼𝑀)
𝐾=
(1−𝛼)𝑀
𝛼2 𝑀
𝐾= (9)
(1−𝛼)

7. Mobilitas Ion (U)


Mobilitas ion adalah kecepatan dorong dalam medan listrik dibagi dengan kuat medan listrik.
𝑑𝑥/𝑑𝑡
𝑈= (10)
𝐸
Dimana U = mobilitas ion (m2 V-1 s-1)
E = kuat medan listrik (V m-1)
dx/dt = kecepatan rata-rata ion dalam arah medan (m s-1)

Kuat medan dapat dihitung dengan persamaan :


𝐼
𝐸= (11)
𝐴 𝐿𝑠
Dimana I = kuat arus (Ampere,A)
A = luas penampang (m2)
Ls = hantaran jenis (Ω-1 m-1)

Jika hantaran ion pada konsentrasi tertentu diketahui, maka U dapat dihitung dengan persamaan :
𝜆
𝑈= (12)
𝑧𝐹
Dimana F = tetapan Faraday
z = muatan ion
Tabel 3. Mobilitas ion dalam air pada pengenceran tak hingga pada 25 oC
Kation U Anion U
(m2 V-1 s-1) (m2 V-1 s-1)
H+ 36,25 x 10-8 OH- 20,64 x 10-8
Li+ 4,01 x 10-8 F- 5,74 x 10-8
Na+ 5,19 x 10-8 Cl- 7,91 x 10-8
K+ 7,62 x 10-8 NO3- 7,41 x 10-8
NH4+ 7,62 x 10-8 ClO3- 6,70 x 10-8
Mg2+ 5,50 x 10-8 CH3COO- 4,24 x 10-8
Ca2+ 6,17 x 10-8 SO43- 8,29 x 10-8
Pb2+ 7,20 x 10-8 CO32- 7,18 x 10-8
Cu2+ 5,56 x 10-8 C6H5COO- 3,36 x 10-8

8. Bilangan Hantaran
Bilangan hantaran suatu jenis ion menyatakan fraksi dari arus total yang dihantar oleh ion tersebut.

𝐼+ 𝐼−
𝑡+ = atau 𝑡− = (13)
𝐼𝑡𝑜𝑡 𝐼𝑡𝑜𝑡

dengan t+ = bilangan hantaran ion positif


t- = bilangan hantaran ion negatif

karena Itot = I+ + I-
maka t + + t- = I

jika di dalam larutan terdapat lebih dari satu jenis elektrolit, maka :
∑ 𝑡𝑖 = 𝐼 (14)

Pada suhu tertentu bilangan hantaran ion bergantung pada :


- Jenis ion
- Kecepatan ion dalam larutan
- Konsentrasi

Misal, pada suhu 25 oC :


Larutan LiCl 0,1 M : tLi+ = 0,317
Larutan NaCl 0,1 M : tNa+ = 0,385
Larutan KCl 0,1 M : tK+ = 0,490

Di antara ketiga kation ini, ion Li+ yang paling kecil dan diharapkan bilangan hantarannya paling besar.
Kenyataannya tidak demikian, tLi+ justru yang paling kecil. Mengapa demikian ?
Karena ion Li+ mempunyai derajat hidrasi paling besar di antara ketiga jenis ion tersebut.
9. Penentuan BIlangan Hantaran

9.1 Metode Perbatasan Bergerak

Metode ini didasarkan atas pengukuran kecepatan gerak ion.

Alat perbatasan bergerak :

A : amperemeter

B : baterai

C : coulometer

R : tahanan

- pipa kapiler P berisi larutan HCl dengan konsentrasi C ekivalen per liter. Elektroda positif (anoda) terbuat
dari logam Cd.
- Jika arus listrik dilewatkan dalam larutan maka Cd akan larut dan menghasilkan ion-ion Cd2+.
- Baik ion H+ dan ion Cd2+ bergerak ke arah elektroda negatif, dan ion H+ bergerak relatif lebih cepat.
- Antara larutan HCl dan larutan CdCl2 terdapat perbatasan yang jelas karena ion-ion Cd2+ tidak dapat
mendahului ion-ion H+ dan juga tidak dapat tertinggal di belakangnya karena larutan harus tetap netral.
- Andaikan perbatasan pindah dari a ke b sejauh ℓ cm jika Q coulomb lewat.
- Jumlah listrik yang lewat adalah Q/F ekivalen.
𝑄
- Dari jumlah ini . 𝑡+ ekivalen dihantarkan oleh ion-ion H+.
𝐹
𝐶
- Konsentrasi ion H+ dalam larutan adalah C ekivalen/L atau 1000
ekivalen/cm3
𝑄 1000
- Volume larutan yang dilampaui oleh perbatasan adalah 𝑡+ . ⁄𝐹 𝑥 cm3
𝐶
- Jika luas penampang pipa kapiler adalah A cm2, maka :
𝑡+ 𝑄 1000
𝐴. ℓ = 𝑥
𝐹 𝐶
𝐶𝐹ℓA
Sehingga 𝑡+ = (15)
1000 𝑄

9.2 Metode HITTORF


Metode ini didasarkan atas penentuan perubahan konsentrasi elektrolit di sekitar elektroda, yang disebabkan
karena migrasi ion dan elektrolisis.

Alat HITTORF

A : ruang anoda
T : ruang tengah
K : ruang katoda
B : baterai
R : tahanan
M : amperemete
C : coulometer
- Jika arus listrik dilewatkan dalam larutan AgNO3, maka ion Ag+ akan bermigrasi ke arah katoda dan ion NO3-
ke arah anoda
- Pada katoda terjadi reduksi : Ag+ + e → Ag
Pada anoda terjadi oksidasi : Ag → Ag+ + e
- Proses-proses ini menimbulkan perubahan konsentrasi larutan di sekitar elektroda, misalnya pada ruang
katoda :
1. Andaikan arus yang lewat dalam larutan = Q coulomb = Q/F Faraday
2. Sebelum arus lewat jumlah ion Ag+ (dan ion NO3-) = n0 ekivalen
3. Sesudah arus lewat jumlah ion Ag+ (dan ion NO3-) = n ekivalen
4. Jumlah ion Ag+ yang bermigrasi masuk ruang katoda = 𝑡+ . 𝑄⁄𝐹 ekivalen
5. Jumlah ion NO3- yang bermigrasi masuk ruang katoda = 𝑡− . 𝑄⁄𝐹 ekivalen
6. Jumlah ion Ag+yang hilang karena terjadi reduksi = Q/F ekivalen
7. Dari perubahan-perubahan ini dapat diturunkan hubungan :
𝑄 𝑄
𝑛 = 𝑛0 + 𝑡+ . ⁄𝐹 − ⁄𝐹
𝑄
= 𝑛0 + (𝑡+ − 1) ⁄𝐹

𝑄
𝑛 − 𝑛0 = (𝑡+ − 1) ⁄𝐹
𝑛−𝑛0
(𝑡+ − 1) = 𝑄⁄
𝐹
𝑛−𝑛0
Atau 𝑡+ = 𝑄⁄ +1 (16)
𝐹

Contoh :
Larutan AgNO3 0,01 M dielektrolisis selama waktu tertentu dalam sel Hittorf menggunakan dua elektrode
perak. Dalam waktu tesebut arus listrik sebanyak 28,8 C dialirkan ke dalam larutan. Analisis dari larutan dalam
katoda dan anoda pada akhir percobaan memberikan data sbb :

Lar.Katoda Lar.Anoda
Massa Larutan 27,12 g 20,09 g
Jumlah ion Ag+ yg ada 11,54 mg 39,66 mg

Tentukan bilangan hantaran kation dan anion.

Pada katoda :
Massa AgNO3 = 170 g mol-1/108 g mol-1 x 11,54 mg = 18,16 mg
Massa air = massa larutan-massa AgNO3 = (27120-18,16) mg = 27101,4 mg = 27,1014 g = 27,1014 mL
0,01 𝑚𝑜𝑙
Jumlah Ag+ sebelum arus lewat = x 27,1014 mL = ……mol(ekivalen)
1000 𝑚𝐿
Jumlah Ag+ setelah arus lewat = 0,01154 g/108 g mol-1 = 0,00106 mol (ekivalen)
𝑛−𝑛0 (0,00106−0,000271014)𝑚𝑜𝑙
𝑡+ = 𝑄⁄ +1= 28,8 𝐶 + 1 = ……
𝐹 ⁄96500 𝐶/𝑚𝑜𝑙
10. Penggunaan Pengukuran Daya Hantar
A. Penentuan Kelarutan Garam yang Sulit Larut
Penentuan kelarutan garam yang sulit larut didasarkan atas persamaan (4) :
1000 Ls 1000 Ls
Ʌ= atau C =
C Ʌ
Pada persamaan ini Ls sebenarnya menyatakan daya hantar jenis yang disebabkan oleh ion-ion saja. Untuk
garam yang besar kelarutannya daya hantar ini sama dengan daya hantar oleh larutan (ion-ion + pelarut),
karena daya hantar oleh air sangat kecil dan dapat diabaikan. Akan tetapi untuk garam yang sulit larut dalam
air, konsentrasi ion-ion dalam larutan rendah sekali dan Ls (H2O), sekalipun kecil, tidak dapat lagi diabaikan.
Oleh karena itu Ls pada persamaan di atas harus diganti dengan Ls-Ls(H2O). Dalam percobaan ini biasanya daya
hantar air ditentukan secara terpisah.
Bagi garam yang kelarutannya sangat kecil, misalnya AgCl, BaSO4, CaF2, dsb jumlah ion dalam larutan sedikit
sekali, sehingga sebagi pendekatan dapat diambil Ʌ = Ʌo, yaitu daya hantar ekivalen pada pengenceran tak
hingga. Ʌo kemudian dihitung menggunakan persamaan (6) :
Ʌo = λo+ + λo-
Jadi konsentrasi C dalam persamaan di atas akhirnya ditentukan melalui persamaan :
1000 [Ls - Ls (H2 O)]
C= (17)
λo+ + λo-

Perhitungan yang lebih teliti akan diperoleh jika harga Ʌ diperkirakan dari persamaan Onsager :

Ʌ = Ʌo – (θɅo + a) √C
Dalam hal ini konsentrasi C mula-mula dihitung dari persamaan (17), kemudian dengan harga C ditentukan
dengan persamaan persamaan di atas.

Contoh :
Penentuan kelarutan AgCl pada 25 oC
Data eksperimen : Ls (lar.jenuh) = 3,41 x 10-6 Ω-1 cm-1
Ls (H2O) = 1,60 x 10-6 Ω-1 cm-1
Data dari tabel (2) : λo (Ag+) = 61,92 Ω-1 cm2 ekiv-1
λo (Cl-) = 76,34 Ω-1 cm2 ekiv-1
Persamaan Onsager bagi AgCl pada 25 oC : Ʌ = 138,26 – 91,21 √C
Hitung kelarutan AgCl dalam satuan ekiv/L.
Jawaban :
Berdasarkan persamaan (17) :
1000 (3,41- 1,60) 10 −6
C= = 1,309 x 10-5 ekiv/L
61,92 + 76,34
Perhitungan yang lebih teliti :
Ʌ = 138,26 – 91,21 √1,309 x 10−5 = 137,93 Ω-1 cm2 ekiv-1
1000 (3,41- 1,60) 10 −6
C= = 1,312 x 10-5 ekiv/L
137,93

B. Penentuan Derajat Disosiasi Elektrolit Lemah


Besaran ini dapat ditentukan menggunakan persamaan :
Ʌ = α Ʌo
Hanya perlu diingat bahwa persamaan ini berlaku sebagai pendekatan saja oleh karena pada penurunannya
diandaikan bahwa mobilitas ion tidak bergantung pada konsentrasi.
Contoh :
Dari tabel (1) untuk larutan amonia dalam air :
Pada konsentrasi 0,01 ekiv/L : Ʌ = 11 Ω-1 cm2 ekiv-1
Pada pengenceran tak hingga : Ʌo = 271 Ω-1 cm2 ekiv-1
Jadi, derajat disosiasi larutan NH3 0,01 M adalah :
α = (11/271) = 0,04

C. Penentuan Tetapan Hidrolisis


Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah atau dari asam lemah dan basa kuat selalu
mengalami hidrolisis jika dilarutkan dalam air. Proses ini disertai dengan perubahan daya hantar dan
pengukuran daya hantar ini dapat digunakan untuk menentukan derajat hidrolisis dan tetapan hidrolisis garam
yang bersangkutan.
Misalnya garam MCl yang berasal dari basa lemah MOH dan asam kuat HCl. Dalam air garam ini menghasilkan
ion-ion M+ dan Cl-. Ion M+ mengalami hidrolisis sesuai persamaan : M+ + H2O MOH + H+
Proses ini disertai dengan peningkatan daya hantar karena sebagian dari ion M+ yang mempunyai daya hantar
rendah diganti dengan ion H+ yang daya hantarnya tinggi. Jumlah ion M+ yang mengalami hidrolisis bergantung
pada derajat hidrolisis , αh.
Jika Ʌ = dhe larutan MCl dengan konsentrasi C ekiv/L
Ʌ’ = dhe larutan MCl dengan konsentrasi C ekiv/L, jika seandainya garam ini tidak mengalami hidrolisis
Ʌ’’ = dhe larutan HCl dengan konsentrasi C ekiv/L
Maka akan berlaku :
Ʌ = (1-αh)Ʌ’ + αhɅ’’
Ʌ - Ʌ'
Sehingga , αh = (18)
Ʌ'' - Ʌ'
Dengan menentukan derajat hidrolisis, maka tetapan hidrolisis, Kh, kemudian dapat dihitung :
[MOH][H+ ]
Kh=
[M+ ]
α2h C
= (19)
1 - αh
Catatan :
Daya hantar Ʌ’ ditentukan dengan cara mengukur daya hantar larutan MCl yang ditekan hidrolisisnya dengan
menambahkan MOH secara berlebih.

Contoh :
Garam anilin hidrogenklorida, C6H5NH3Cl, yang terbentuk dari basa lemah anilin, C6H5NH2, dan asam kuat HCl,
menghasilkan ion-ion C6H5NH3+ dan ion Cl- dalam larutan. Ion C6H5NH3+ terhidrolisis menurut :
C6H5NH3+ + H2O C6H5NH2 + H3O+
Pada konsentrasi 0,00781 M, daya hantar anilin hidrogenklorida yang diukur adalah 119,4 Ω-1 cm2 ekiv-1,
sedangkan daya hantar larutan HCl pada konsentrasi yang sama adalah 413,0 Ω-1 cm2 ekiv-1.
Jika pada larutan anilin hidrogenklorida 0,00781 M ditambahkan cukup anilin untuk menekan hidrolisis, maka
daya hantar larutan yang diukur adalah 103,0 Ω-1 cm2 ekiv-1. Hitung derajat hidrolisis dan tetapan hidrolisis.

Jawab :
Diketahui Ʌ = 119,4 Ω-1 cm2 ekiv-1
Ʌ’ = 103,0 Ω-1 cm2 ekiv-1
Ʌ’’ = 413,0 Ω-1 cm2 ekiv-1
Berdasarkan persamaan (18) :
(119,4 -103,0)Ω-1 cm2 ekiv-1
αh = = 5,29 x 10-2
(413,0 – 103,0)Ω-1 cm2 ekiv-1
(5,29 𝑥 10−2 )2 (0,00781)
Kh= = 2,31 x 10-5
1 - 5,29 𝑥 10−2

D. Penentuan Struktur Seyawa Kompleks


Kobal (III) klorida dapat membentuk berbagai senyawa kompleks, misalnya :
(a) [Co(NH3)6]Cl3
(b) [Co(NH3)5 (NO2)]Cl2
(c) [Co(NH3)4 (NO2)2]Cl
(d) [Co(NH3)3 (NO2)3]

Senyawa (a) memberikan 4 ion dalam larutan, sehingga daya hantarnya kira-kira akan sama dengan daya
hantar suatu elektrolit lain yang juga memberikan 4 ion pada konsentrasi yang sama, misalya lantanum
klorida, LaCl3.

Demikian pula larutan senyawa kompleks (b) mempunyai daya hantar yang kurang lebih sama besar dengan,
misalnya larutan CaCl2 pada konsentrasi yang sama.

Jadi, jika daya hantar larutan senyawa kompleks diukur dan kemudian dibandingkan dengan daya hantar suatu
elektrolit dengan jumlah ion diketahui, maka dapat diketahui jumlah ion dari senyawa kompleks itu dan jika
komposisinya juga diketahui, maka strukturnya dapat pula ditentukan. Data di bawah merupakan hasil
pengukuran daya hantar beberapa senyawa kompleks kobal (III) klorida dan elektrolit sederhana pada
konsentrasi 0,001 M, pada 25 oC.

Ʌ (Ω-1 cm2) Ʌ (Ω-1 cm2)


[Co(NH3)6]Cl3 461 LaCl3 411
[Co(NH3)5 (NO2)]Cl2 263 CaCl2 263
[Co(NH3)4 (NO2)2]Cl 105 NaCl 124
[Co(NH3)3 (NO2)3] 1,6

E. Kontrol Kualitas Air


Air yang diproses untuk konsumsi dan aqua-dm (demineralized) harus dikontrol dengan ketat jumlah ion
yang terlarut di dalamnya agar tidak melampaui batas-batas tertentu. Cara yang paling mudah untuk
melaksanakan ini ialah dengan pengukuran daya hantarnya.

F. Penentuan Kecepatan Reaksi


Bagi reaksi yang disertai dengan perubahan jumlah ion atau perubahan jenis ion, jalannya reaksi dapat
diikuti dengan mengukur daya hantar campuran reaksi selama reaksi itu berlangsung. Salah satu reaksi yang
dapat dikaji dengan metoda ini adalah reaksi penyabunan ester oleh basa :
CH3COOC2H5 + OH- → CH3COO- + C2H5OH
Pada reaksi ini ion OH- yang mempunyai daya hantar tinggi diganti dengan ion asetat yang daya hantarnya
jauh lebih rendah, sehingga selama reaksi berlangsung daya hantar larutan akan berkurang.