Anda di halaman 1dari 15

BAKTERIOLOGI III

LAPORAN PRAKTIKUM
ISOLASI & IDENTIFIKASI BAKTERI GRAM NEGATIF
BASIL PENYEBAB INFEKSI SALURAN
PENCERNAAN
Shigella sp.

Disusun oleh :

RANI DIAN PUTRI UTAMI


NPM : 411117098

PROGRAM STUDI ANALIS KESEHATAN (D-3)


STIKES JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI

2018/2019
A. TANGGAL PRAKTIKUM
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi STIKES
Jenderal Achmad Yani Cimahi pada tanggal 9,10 dan 11 April 2019.

B. TEORI DASAR
1. Definisi Shigella
Shigella adalah bakteri patogen usus yang dikenal sebagai agen
penyebab penyakit disentri basiler. Bakteri ini menginfeksi saluran
pencernaan dan menyebabkan berbagai gejala, dari diare, kram, muntah,
dan mual. (Jawetz, 2005)

Shigella sp adalah kuman berbentuk batang dengan pengecatan


Gram bersifat Gram negatif, tumbuh baik pada suasana aerob dan fakultatif
anaerob, tidak dapat bergerak,kuman ini patogen pada pencernaan.
Termasuk dalam (famili) Enterobacteriace genus Shigella.c.
(Brooks,dkk.2001)

Berdasarkan aspek biokimia dan serologi, Shigella sp. dibagi menjadi


4 spesies, yaitu S.dysentriae (serogroup A), S.flexneri (serogroup B),
S.boydii (serogroup C) dan S.sonei (serogroup D) (Krugman, et al., 1992;
Guerrant, et al., 2000, Jawetz, et al., 1995). Golongan Shigella yang sering
menyerang manusia ialah S.dysenteriae, S.flexneri, S.boydii dan S.sonnei.
Di daerah tropis yang sering ditemukan ialah S.dysenteriae dan S.flexneri,
sedangkan S.sonnei lebih sering dijumpai di daerah sub tropis atau daerah
industri (Abuhammour, 2002).

Terdapat 4 species organisme:


1. Shigella sonnei, menyebabkan disentri ringan dan bertanggung jawab
atas 95% kasus di Inggris.
2. Shigella flexneri, menyebabkan disentri sedan, timbul terutama di
negara tropis dan subtropis dan bertanggung jawab atas 5% kasus di
Inggris terutama di rumah sakit jiwa.
3. Shigella boydii, menyebabkan disentri sedang, timbul terutama di
negara tropis dan subtropis.
4. Shigella shiga, menyebabkan disentri berat, timbul terutama di Timur
jauh.
2. Morfologi

Shigella sp merupakan kuman kecil berbentuk batang dengan


pengecatan gram bersifat negatif ramping dengan ukuran 0,5 – 0,7 µm x 2 -
3 µm, tidak mempunyai Flagel sehingga tidak dapat bergerak dan tidak
berspora. Pertumbuhan cepat pada suhu 370 C pada Mac Conkey, SSA,
EMBA dan Endo. Tampak koloni kecil dan transparan tidak dapat meragikan
laktosa kecuali pada Shigella sonnei bersifat laktosa fermenter lambat.
(Brooks,dkk.2001)

Bakteri ini tidak meragi laktosa, kecuali Shigella sonnei.


Ketidakmampuannya untuk meragikan laktosa membedakan bakteri Shigella
pada perbenihan diferensial. Shigella juga dapat dibedakan menjadi 2
bagian yaitu bagian yang dapat memfermentasi manitol dan yang tidak dapat
memfermentasi manitol (Jawetz et al., 2005).

Shigella sp mempunyai susunan antigen yang kompleks. Terdapat


banyak tumpang tindih dalam sifat serologi berbagai spesies dan sebagian
besar bekteri ini mempunyai antigen O yang juga dimiliki oleh bakteri enteric
lainnya. Antigen somatic O dari Shigella sp. adalah lipopolisakarida.
Kekhususan serologiknya tergantung pada polisakarida dan terdapat lebih
dari 40 serotipe. Klasifikasi Shigella sp didasarkan pada sifat-sifat biokimia
dan antigeniknya ( Jawetz et al.,2005).

Shigella bersifat fakultatif anaerob tetapi tumbuh paling baik secara


aerob. Koloni berbentuk konveks, bulat, transparan dengan tepi yang utuh
dan mencapai diameter sekitar 2 mm dalam 24 jam.

Semua Shigella memfermentasikan glukosa. Kecuali Shigella sonnei,


shigella tidak memfermentasikan laktosa. Ketidakmampuannya
memfermentasikan laktosa membedakan shigella pada medium diferensial.
Shigella membentuk asam dari karbohidrat tetapi jarang menghasilkan gas.
Organisme ini dapat dibagi menjadi organisme yang memfermentasikan
manitol dan tidak memfermentasikan manitol. (Nygren, dkk. 2012)

Sifat pertumbuhan adalah aerob dan fakultatif anaerob, pH


pertumbuhan 6,4 – 7,8 suhu pertumbuhan optimum 370C kecuali S. sonnei
dapat tumbuh pada suhu 450 C. Sifat biokimia yang khas adalah negative
pada reaksi adonitol tidak membentuk gas pada fermentasi glukosa, tidak
membentuk H2S kecuali S.flexneri, negative terhadap sitrat, DNase, lisin,
fenilalanin, sukrosa, urease, VP, manitol, laktosa secara lambat, manitol,
xylosa dan negative pada test motilitas. Sifat koloni kuman adalah sebagai
berikut : kecil, halus, tidak berwarna, bila ditanam pada media agar SS,
EMB, Endo, Mac Conkey. (Lampel & Maurelli . 2003)

3. Toksin
Shigella sp menghasilkan toksin yang disebut Shigatoksin dan
mengadakan multiplikasi tanpa invasi di dalam jejunum kemudian
memproduksi toksin. Toksin ini kemudian berikatan dengan reseptor dan
menyebabkan aktivasi proses sekresi sehingga terjadi diare cair yang
tampak pada awal penyakit, hal ini merupakan tanda dari sifat enterotoksik
shigatoksin. Selanjutnya, perjalanan penyakit melibatkan usus besar dan
invasi jaringan dimana aksi shigatoksin akan memperberat gejalanya. Efek
enterotoksin shigatotoksin lebih pada penghambatan absorpsi elektrolit,
glukosa, dan asam amino dari lumen intestinal (Dzen dkk, 2003).

Toksin shigella dysenteriae dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :


1. Endotoksin
Pada waktu terjadi autolisis, semua Shigella mengeluarkan
lipopolisakaridanya yang toksik. Endotoksin ini mungkin menambah iritasi
pada dinding usus. (Dzen dkk, 2003).

2. Eksotoksin (Shigella dysentriae)


S. Dysentriae tipe 1 (basil Shiga) memproduksi eksotoksin tidak
tahan panas yang dapat mempengaruhi saluran pencernaan dan sistem
saraf pusat. Eksotoksin merupakan protein yang bersifat antigenik
(merangsang produksi antitoksin) dan mematikan hewan percobaan.
Sebagai enterotoksin, zat ini dpat menimbulkan diare, sebagaimana halnya
enterotoksin. (Dzen dkk, 2003).

Terapi dengan rehidrasi yang adekuat secara oral atau intravena,


tergantung dari keparahan penyakit. Derivat opiat harus dihindari. Terapi
antimikroba diberikan untuk mempersingkat berlangsungnya penyakit
danpenyebaranbakteri.Trimetoprim-sulfametoksazole atau fluoroquinolon
dua kali sehari selama 3 hari merupakan antibiotik yang dianjurkan. (Dzen
dkk, 2003).

Antibiotik terpilih untuk infeksi Shigella adalah ampisilin,


kloramfenikol, sulfametoxazol-trimetoprim. Beberapa sumber lain
menyebutkan bahwa kanamisin, streptomisin dan neomisin merupakan
antibiotik yang dianjurkan untuk kasus-kasus infeksi Shigella. Masalah
resistensi kuman Shigella terhadap antibiotik dengan segala aspeknya
bukanlah merupakan suatu hal yang baru. Shigella yang resisten terhadap
multiantibiotik (seperti S. dysentriae 1) ditemukan di seluruh dunia dan
sebagai akibat pemakaian antibiotika yang tidak rasional. (Dzen dkk, 2003).

Shigella sp yang kurang tahan terhadap agen fisik dan kimia


dibandingkan Salmonella. Tahan dalam ½ % fenol selama 5 jam dan dalam
1% fenol dalam ½ jam. Tahan dalam es selama 2 bulan. Dalam laut selama
2-5 bulan. Toleran terhadap suhu rendah dengan kelembaban yang cukup.
Garam empedu konsentrasi yang tinggi mengambat pertumbuhan strain
tertentu. Kuman akan mati pada suhu 55⁰C.
Tabel Uji Biokimia Shigella sp.
Media S. dysentria S.flexneri S. boydii S.sonnei
(Group A) (Group B) (Group D)
(Group C)

Glukosa Fermenter, Gas Fermenter, Gas Fermenter, Gas Fermenter, Gas


(-) (-) (-) (-)
Laktosa Non Fermenter, Non Fermenter, Non Fermenter, Non Fermenter,
Gas (-) Gas (-) Gas (-) Gas (-)
Sukrosa Non Fermenter, Non Fermenter, Non Fermenter, Non Fermenter,
Gas (-) Gas (-) Gas (-) Gas (-)
Manitol Non Fermenter, Fermenter, Gas Fermenter, Gas Fermenter, Gas
Gas (-) (-) (-) (-)
SIM H2S (-), H2S (-), H2S (-), H2S (-),
Indol (-/+) Indol (-/+) Indol (-/+) Indol (-)
Motil (-) Motil (-) Motil (-) Motil (-)
MR + + + +
VP - - - -
TSIA Merah/Kuning Merah/Kuning Merah/Kuning Merah/Kuning
Gas (-) Gas (-) Gas (-) Gas (-)
H2S (-) H2S (-) H2S (-) H2S (-)
SC - - - -
Urease - - - -

C. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Melakukan isolasi bakteri Shigella sonnei dari sampel feses.

2. Melakukan identifikasi bakteri Shigella sonnei dari sampel feses.


D. ALAT DAN BAHAN
Tabel 1. Alat yang Digunakan Praktikum

No. Nama Alat Spesifikasi

1. Tabung Reaksi Volume 20 mL

2. Tabung Durham Tinggi 35mm ; Diameter 6mm

3. Pipet Volume Volume 10 mL

4. Cawan Petri Volume 20 mL

5. Ose Tusuk Kawat NiCr

7. Ose Bulat Kawat NiCr

8. Bunsen Volume 200 mL

9. Korek Api -

10. Rak Tabung Reaksi 12 Lubang; Ukuran 20 x 10 cm

11. Tempat sampel Steril Volume 100 mL

12. Kaca Objek Bebas dari lemak

13. Mikroskop Perbesaran lensa objektif 100x

14. Autoklaf Suhu 37°C

Tabel 2. Bahan yang Digunakan Praktikum

No. Nama Bahan Spesifikasi

1. Sampel Urine

a. Media Mac Conkey (MC agar)


b. Gula – gula (Laktosa, Sukrosa,
2. Media Glukosa, Manitol)
c. Metil Red (MR)
d. Voges Proskauer (VP)
e. Sulfid Indol Motility (SIM)
f. Simon Citrat (SC)
g. Triple Sugar Iron Agar (TSIA)
h. Urease

a. Kovacks

3. Reagen b. α-naftol 5% & KOH 40%


c. Methyl Red

Kristal violet oksalat, Alkohol 96%,


4. Zat Warna Gram
Lugol, Safranin 0,25%

5. Alkohol 70%

6. Oil Imersi -

E. PROSEDUR KERJA
1. Hari I
Melakukan penanaman sampel feses pada media slektif MC
dengan cara isolasi 4 kuadran, lalu di inkubasi selama 24 jam pada suhu
370C.
2. Hari II
Amati pertumbuhan koloni bakteri pada media, kemudian lakukan
pewarnaan Gram, untuk melihat bentuk, sifat, dan susunan dari bakteri
tersebut. Lalu dilakukan uji gula gula ( glukosa, laktosa, manitol, dan
sukrosa) dan dilakukan juga penanaman uji biokimia pada SC, Urease,
MR, VP, TSIA, dan SIM. Kemuadian di inkubasi 24 jam pada suhu 370C
3. Hari III
Di lakukan pengamatan pada uji gula gula ( glukosa, laktosa,
manitol, dan sukrosa) dan pengamatan pada uji biokimia SC, Urease,
MR, VP, TSIA, dan SIM. Pada SIM di tambahkan dengan reagen kovaks ,
pada MR di tambah reagen Metil Red 1%, dan pada VP di tambah reagen
5% αnaphtol + KOH 40%. Setelah itu amati perubahan yang terjadi.
F. HASIL PENGAMATAN
Hari Pertama :
Penanaman pada media Selektif : Mac Conkey Agar (MCA) dan SS Agar

Mac Conkey Agar Salmonella-Shigella Agar


Hari Kedua :
a. Hasil Isolasi pada media selektif : Mac Conkey Agar (MCA)

Mac Conkey Agar Salmonella-Shigella Agar

b. Ciri Koloni
No. Ciri Koloni : Media : MCA Media : SS Agar
1. Bentuk Bulat Bulat
2. Ukuran 1-2 mm 1-2 mm
3. Warna Pink Pi nk
4. Elevasi Cembung Cembung
5. Pinggiran Rata Rata
6. Ciri khas lainnya Laktosa
Fermenter
Bakteri Tersangka : Escherichia coli
Pewarnaan Gram

Bentuk : Basil
Sifat : Gram negatif (-)
Susunan : Monobasil

Hari Ketiga :
Pengamatan Hasil Uji Biokimia
Gambar Hasil Pengamatan

Glukosa : Non Fermenter, gas (-)


Laktosa : Fermenter, gas (+)
Sukrosa : Fermenter, gas (+)
Manitol : Fermenter, gas (+)

MR : negaif (+) terbentuk cincin merah


VP : negatif(-)
SIM
Sulfur : negatif (-)
Indol : positif(+)
Molitity : positif (+)
SC : negatif (-)
Urease : negatif (-)
TSIA :
asam/ asam,
gas (+),
H2S (-)

G. PEMBAHASAN
Pada praktikum isolasi dan identifikasi bakteri kali ini yaitu pada
bakteri Shigella sonnei dengan menggunakan sampel rektal swab. Untuk
identifikasi hari pertama dilakukan penanaman pada media selektif Mac
Conkey Agar (MCA) dan Salmonella-Shigella Agar (SSA) yang merupakan
media untuk bakteri Shigella sp. Setelah itu diinkubasi selama 24 jam pada
suhu 37ºC.
Pada hari kedua dilakukan pengamatan pada hasil isolasi pada
media selektif Mac Conkey Agar dan Salmonella-Shigella Agar (SSA)
diperoleh hasil dengan ciri koloni : Berbentuk bulat (Coccus), Ukuran 1-2 µm,
Warna pink, Elevasi Cembung, Pinggiran Rata serta memiliki ciri khas yaitu
Laktosa fermenter. Setelah itu dilakukan pewarnaan gram dengan
mengambil koloni dari media SS Agar dan diamati menggunakan mikroskop
dengan perbesaran 100x dengan penambahan minyak emersi. Hasil
pengamatan dibawah mikroskop diperoleh bakteri dengan bentuk basil,
susunan monobasil, sifat gram negatif (-), warna merah.

Setelah mendapatkan bakteri Gram negatif, lalu tanam kembali koloni


yang sama pada beberapa media untuk dilakukan uji Biokimia, media
tersebut diantaranya media Gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, manitol),
MR/VP, SIM, TSIA, SC, dan Urease. Setelah itu diinkubasi selama 24 jam
pada suhu 37ºC.
Pada media Gula-gula mendapatkan hasil pada tabung glukosa non
fermenter dan gas (-) dikarenakan tidak ada perubahan warna (ungu),
sedangkan pada laktosa, manitol, sukrosa positif dan gas (+) karena gas
yang terbentuk banyak serta ditandai dengan terjadinya perubahan warna
dari ungu menjadi kuning (asam).

Pada media MR setelah diberi regaen Methyl Red didapatkan hasil


positif (+), karena terbentuk cincin berwarna merah pada medium,
sedangkan media VP didapatkan hasil negatif (-) karena setelah diberi
reagen KOH 40% dan α- naftol warna medium tidak terdapat cincin berwarna
kecoklatan. Pada media SIM tabung uji didapatkan hasil yaitu Sulfur (H2S)
negative (-) (tidak terbentuk warna hitam), Indol positif (+) (adanya cincin
bewarna magenta setelah ditambahkan reagen kovaks) menandakan bakteri
mempunyai enzim triftofanase dan Motility positif (+) (adanya penyebaran
pada bekas tusukan menandakan adanya pergerakan).

Pada media TSIA tabung hasil A/A Gas(+) H₂S(-) (terjadi perubahan
warna dari merah menjadi kuning dan terdapat gas) bakteri dapat
memfermentasikan laktosa, sukrosa dan glukosa serta menghasilkan banyak
gas. Pada media Simon Citrate (SC) tabung didapatkan hasil negative (-),
karena tidak terjadi perubahan warna pada media dari hijau jadi biru,
menandakan bakteri tidak mempergunakan citrate sebagai sumber
karbonnya. Dan terakhir pada media Urease tabung didapatkan hasil negatif
(-), karena tidak terjadi perubahan warna media dari kuning menjadi pink.
Setelah dilakukan serangkaian uji pada sampel diperoleh hasil
persentase kesesuaian 90% mengarah pada bakteri Escherichia coli, karena
semua hasil uji sesuai dengan tabel koneman :

No Nama Hasil Shigella sonnei Escherichia coli


Uji Pengamatan
1. Laktosa Fermenter, Non Fermenter, Fermenter, gas (+)
gas (+) gas (-)
2. Glukosa Non Fermenter, gas (-) Fermenter, gas (+)
Fermenter,
gas (-)
3. Manitol Fermenter, Fermenter, gas (-) Fermenter, gas (+)
gas (+)
4. Sukrosa Fermenter, Non Fermenter, Fermenter, gas (+)
gas (+) gas (-)
5. MR Positif (+) Positif (+) Positif (+)
6. VP Negatif (-) Negatif (-) Negatif (-)
7. SIM Sulfur (-), Sulfur (-), Sulfur (-),
Indol (+), Indol (-), Indol (+),
Motility (+) Motility (-) Motility (+)
8. TSIA A/A, B/A, A/A,
Gas (+), Gas (-), Gas (+),
H2S (-) H2S (-) H2S (-)
9. SC Negatif (-) Negatif (-) Negatif (-)
10. Urease Negatif (-) Negatif (-) Negatif (-)

Derajat kemiripan 9/10 x 100% = 90% Escherichia Coli

Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan tidak hanya ada koloni bakteri
Shigella sonnei tetapi ada juga koloni lainnya di dalam media SS Agar.
Sehingga saat dilakukan penanaman biokimia bukan bakteri Shigella sonnei
yang diambil tetapi bakteri lainnya yang juga ada di media tersebut.
H. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum Isolasi & Identifikasi Bakteri Gram (-) penyebab
infeksi saluran pencernaan Shigella sp. pada sampel rektal swab didapatkan
hasil dari uji kemiripan 90% mengarah pada tersangka bakteri Escherichia
coli.
I. DAFTAR PUSTAKA

Brooks, G.F., J.S. Butel, dan S.A. Morse. 2005. Mikrobiologi Kedokteran.
Salemba Medika, Jakarta.
Gandasoebrata, R., 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian
Rakyat.
Gould, D. & Brooker, C,2003, Mikrobiologi Terapan untuk perawat, halaman.
252, cetakan pertama, Jakarta, penerbit buku kedokteran EGC

Jawetz, Melnick, dan Adelberg. 2005. Medical Microbiologi. Salemba Medica


Page: 353-357

Lampel KA, Maurelli AT . 2003. Shigella Species Chapter 11. Dalam: Miliotis
MD, Bier JW, penyunting. International Handbook Of Foodborne
Pathogens. Marcel Dekker. New York. 167– 180

Lightfoot D. 2003. Shigella Chapter 17. Dalam: Hocking AD, penyunting


Foodborne Microorganisms Of Public Health Significance Edisi Ke-6.
Australian Institute Of Food Science And Technology (Nsw Branch)
Sydney. 543– 552.

Merck. 2003. Salmonella – Shigella agar@SS agar. www.merck.de, 12


September 2008
Ryan KJ, Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (edisi ke-4th
ed.). McGraw Hill. ISBN 0-8385-8529-9
Taylor WI, Schelhart D. 1970. Isolation of Shigellae. 8. Comparison of xylose
lysine deoxycholate agar, hektoen enteric agar, Salmonella-Shigella
agar, and eosin methylene blue agar with stool specimens. Appl
Microbiol 21:32-37.