Anda di halaman 1dari 16

Laporan

PARTISI

Oleh

Nama : Lila Muliani


Npm : 85FA17010
Kelompok :4

Asisten: 1. Nazlyana Anwar S.Farm., Apt


2. Rahmawanto Taidi . S.Farm

LABORATORIUM FITOKIMA DAN FARMAKOGNOSI


PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
BINA MANDIRI GORONTALO
2019
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara kita yaitu Negara Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan
beraneka ragam flora dan fauna. Keanekaragaman ini (terutama tumbuhan)
mengundang perhatian banyak orang untuk memilih jalur alternatif dalam
pengobatan, mengingat terlalu banyak efek samping dari produk obat-obatan
sintetis. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
dan kecenderungan masyarakat memilih produk yang alamiah, maka semakin
gencar penelitian tentang kandungan-kandungan kimia penting dalam tumbuh-
tumbuhan yang dapat digunakan dalam pengembangan obat baru. Penelitian
biasanya menggunaan metoda analisis fitokimia, dimana metode ini membahas
secara sistematis tentang berbagai senyawa kimia, terutama dari golongan
senyawa organik yang tedapat dalam tumbuhan, proses biosintesis metabolisme,
dan perubahan-perubahan lain yang terjadi pada senyawa kimia tersebut beserta
sebaran dan fungsi biologisnya. Senyawa kimia yang terkandung dalam
tumbuhan merupakan hasil metabolisme dari tumbuhan itu sendiri. Dari hasil
penelitian banyak ahli tak jarang senyawa kimia ini memiliki efek fisiologi dan
farmakologi yang bermanfaat bagi manusia. Senyawa kimia tersebut lebih
dikenal dengan senyawa metabolit sekunder yang merupakan hasil dari
penyimpangan metabolit primer tumuhan senyawa tanaman sirih.
Tanaman sirih (Piper betle L) sudah lama digunakan sebagai obat sejak dulu.
Bagian tanaman yang digunakan adalah daunnya, kandungan daun sirih antara
lain saponin, polifenol, minyak atsiri, dan flavonoid. Selain itu daun sirih juga
mempunyai khasiat sebagai obat batuk (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
Daun sirih di Nusantara sudah menjadi kebutuhan di tatanan kehidupan
masyarakat, baik digunakan dalam bidang pengobatan maupun digunakan dalam
kebudayaannya. Bentuk pemanfaatan daun sirih bisa dilihat dari kegiatan
masyarakat Indonesia yang sering melakukan kegiatan menyirih, kebiasaan ini
merupakan aktifitas mengunyah daun sirih yang menyebabkan mulut menjadi
merah. Penggunaan daun sirih dalam budaya masyarakat Indonesia tidak hanya
sebatas pada kebiasaan menyirih saja, melainkan daun sirih juga dijadikan sebagai
simbol sosial masyarakat, yaitu dijadikan sebagai makanan penyuguh untuk
menjamu tamu dan juga bermaksud sebagai penghormatan. (Widyastuti, 2001).
Tumbuhan ini kaya akan kandungan kimia, seperti minyak asiri,
hidroksicavikol, kavicol, kavibetol, allypykatekol, karvakol, eugenol, eugenol
methyl ether, pcymene, cyneole, alkohol, caryophyllene, cadinene, estragol,
terpennena, eskuiterpena, fenil propane, tannin, diastase, gula, dan pati.(Soemiati
2002).
Metabolit sekunder yang diproduksi oleh berbagai organisme memang tidak
memiliki peran yang cukup signifikan terhadap keberlangsungan hidup dari
organisme penghasilnya. Namun, metabolit sekunder tersebut diketahui memiliki
berbagai aktivitas biologi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Berbagai
aktivitas biologis dari metabolit sekunder antara lain antikanker, antibakteri,
antioksidan dan antifungi. Pemanfaatan metabolit sekunder yang terdapat dalam
tanaman dapat dilakukan dengan mengkonsumsi langsung tanaman penghasil
metabolit sekunder atau melakukan isolasi terhadap metabolit sekunder yang
memiliki aktivitas biologis. Teknik mengisolasi senyawa metabolit sekunder dari
suatu bahan alam dikenal sebagai ekstraksi partisi.
Partisi adalah proses pemisahan untuk memperoleh komponen zat terlarut dari
campurannya dalam padatan dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Dapat
juga didefenisikan sebagai dispersi komponen kimia dari ekstrak yang telah
dikeringkan dalam suatu pelarut yang sesuai berdasarkan kelarutan dari
komponen kimia dan zat-zat yang tidak diinginkan seperti garam-garam tidak
dapat larut. Operasi ekstraksi ini dapat dilakukan dengan mengaduk suspensi
padatan di dalam wadah dengan atau tanpa pemanasan (Najib, 2013).
1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum
1.2.1 Maksud
Adapun maksud dari praktikum ini ialah agar mahasiswa dapat mengetahui
dan memahami bagaimana tehnik partisi.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini ialah untuk mengetahui cara partisi seperti
partisi cair-cair.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Pengertian Partisi
Partisi adalah proses pemisahan untuk memperoleh komponen zat
terlarut dari campurannya dalam padatan dengan menggunakan pelarut yang
sesuai. Dapat juga didefenisikan sebagai dispersi komponen kimia dari ekstrak
yang telah dikeringkan dalam suatu pelarut yang sesuai berdasarkan kelarutan
dari komponen kimia dan zat-zat yang tidak diinginkan seperti garam-garam
tidak dapat larut. Operasi ekstraksi ini dapat dilakukan dengan mengaduk
suspensi padatan di dalam wadah dengan atau tanpa pemanasan (Najib, 2013)
2.1.2 Metode Partisi
1. Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi cair-cair adalah proses pemisahan zat terlarut di dalam 2
macam zat pelarut yang tidak saling bercampur atau dengan kata lain
perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik, dan pelarut air. Hal
tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang dapat larut air dan
ada pula senyawa yang larut dalam pelarut organik. Satu komponen dari
campuran akan memiliki kelarutan dalam kedua lapisan tersebut (biasanya
disebut fase) dan setelah beberapa waktu dicapai keseimbangan biasanya
dipersingkat oleh pencampuran kedua fase tersebut dalam corong pisah (Najib,
2008).
Kerap kali sebagai pelarut pertama adalah air sedangkan sebagai pelarut
kedua adalah pelarut organik yang tidak bercampur dengan air. Dengan
demikian ion anorganik atau senyawa organik polar sebagian besar terdapat
dalam fase air, sedangkan senyawa organik non polar sebagian besar akan
terdapat dalam fase air, sedangkan senyawa organik non polar sebagian besar
akan terdapat dalam fase organik. Hal ini yang dikatakan “ like dissolves like “,
yang berarti bahwa senyawa polar akan mudah larut dalam pelarut polar, dan
sebaliknya (Dirjen POM, 1979).
Jika suatu cairan ditambahkan ke dalam ekstrak yang telah dilarutkan
dalam cairan lain yang tidak dapat bercampur dengan yang pertama, akan
terbentuk dua lapisan. Satu komponen dari campuran akan memiliki kelarutan
dalam kedua lapisan tersebut (biasanya disebut fase) dan setelah beberapa
waktu dicapai kesetimbangan konsentrasi dalam kedua lapisan. Waktu yang
diperlukan untuk tercapainya kesetimbangan biasanya dipersingkat oleh
pencampuran kedua fase tersebut dalam corong pisah (Tobo, 2001).
Kelarutan senyawa tidak bermuatan dalam satu fase pada suhu
tertentu bergantung pada kemiripan kepolarannya dengan fase cair,
menggunakan prinsip ”like disolves like”. Molekul bermuatan yang memiliki
afinitas tinggi terhadap cairan dengan sejumlah besar ion bermuatan
berlawanan dan juga dalam kasus ini ”menarik yang berlawanan”, misalnya
senyawa asam akan lebih larut dalam fase air yang basa daripada yang netral
atau asam. Rasio konsentrasi senyawa dalam kedua fase disebut koefisien
partis. Senyawa yang berbeda akan mempunyai koefisien partisi yang berbeda,
sehingga jika satu senyawa sangat polar, koefisien partisi relatifnya ke fase
polar lebih tinggi daripada senyawa non-polar (Tobo, 2001).
Fraksinasi selanjutnya yaitu suau senyawa hanya ada dalam satu fase,
hal ini dapat dicapai dengan ekstraksi fase awal berturut-turut dengan fase yang
berlawanan. Lebih baik menggunakan elusi berurytan dengan volume relatif
kecil dibandingkan dengan satu kali elusi keseluruh volume (Tobo, 2001).
2. Partisi Padat-Cair
Partisi padat cair adalah proses pemisahan untuk memperoleh
komponen zat terlarut dari campurannya dalam padatan dengan menggunakan
pelarut yang sesuai. Dapat juga didefenisikan sebagai dispersi komponen kimia
dari ekstrak yang telah dikeringkan dalam suatu pelarut yang sesuai
berdasarkan kelarutan dari komponen kimia dan zat-zat yang tidak diinginkan
seperti garam-garam tidak dapat larut. Operasi ekstraksi ini dapat dilakukan
dengan mengaduk suspensi padatan di dalam wadah dengan atau tanpa
pemanasan (Najib, 2014).
Pelaksanaan ekstraksi padat cair terdiri dari 2 langkah, yaitu (Najib, 2014) :
1. Kontak antara padatan dan pelarut untuk mendapatkan perpindahan
solute ke dalam pelarut.
2. Pemisahan larutan yang terbentuk dan padatan sisa.
Berdasarkan metode ekstraksi padat cair dikenal 4 jenis, yaitu (Najib, 2014) :
1. Operasi dengan sistem bertahap tunggal.
2. Operasi dengan sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar atau aliran
silang
2.2 Uraian Bahan
1. Aquadest (FI Edisi III, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILATA
Nama Lain : Aquadest
RM/BM : H2O/ 18,02
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak


berasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut
2. Alkohol (Ditjen POM, RI, 1979 : 65)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol
RM/BM : C2H6O/ 46,07 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, mudah


bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar
dengan memberikan warna biru yang tidak berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, kloroform P, dan eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
ditempat sejuk, jauh dari api.
Kegunaan : Zat Tambahan
3. Kloroform (Ditjen POM, RI, 1979 : 151)
Nama Resmi : CHOLOROFORNUM
Nama Lain : Kloroform
RM/BM : CHCl3/119,38
Pemerian : Cairan, mudah menguap, tidak berwarna, bau khas,
rasa manis dan membakar
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut
dalam etanol mutlak P, dalam minyak atsiri dan dalam
minyak lemak
Penyimpanan : Dalam wadahtertutup baik, bersumbat kaca,
terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Eluen
2.3 Tinjauan tentang Tanaman Sirih (Piper betle L.)
Kedudukan tanaman sirih dalam sistematika tumbuhan :
1. Klasifikasi Tanaman Sirih (Piper betle L.) (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Piperales
Familia : Piperaceae
Spesies : Piper betle L.
Gambar 2.1 Tanaman Sirih (Piper Betle L)
Sumber gambar Fredi Kurniawan
2. Nama Lain Sirih (Piper betle L.)
Daun sirih di Indonesia mempunyai nama yang berbeda–beda sesuai dengan
nama daerahnya masing-masing, yaitu si ureuh (Sunda); sedah, suruh Jawa); sirih
(Sampit); ranub (Aceh); cambia (Lampung); base seda (Bali) (Syamsuhidayat dan
Hutapea, 1991).
3. Morfologi Tanaman Sirih (Piper betle L.)
Tanaman sirih merupakan tanaman yang tumbuh memanjat, tinggi 5 cm-15
cm. Helaian daun berbentuk bundar telur atau bundar telur lonjong. Pada bagian
pangkal berbentuk jantung atau agak bundar, tulang daun bagian bawah gundul
atau berbulu sangat pendek, tebal berwarna putih, panjang 5-18 cm, lebar 2,510-,5
cm. Daun pelindung berbentuk lingkaran, bundar telur sungsang atau lonjong
panjang kira-kira 1 mm. Perbungaan berupa bulir, sendiri-sendiri di ujung cabang
dan berhadapan dengan daun. Bulir bunga jantan, panjang gaggang 1,5-3 cm,
benang sari sangat pendek. Bulir bunga betina, panjang gaggang 2,5-6 cm, kepala
putik 3-5. Buah Buni, bulat dengan ujung gundul. Bulir masak berbulukelabu,
rapat, tebal 1-1,5 cm. Biji berbentuk bulat (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
4. Kandungan Kimia Daun Sirih (Piper betle L.)
Kandungan kimia daun sirih antara lain saponin, flavonoid, polifenol, dan
minyak atsiri (Syamshidayat dan Hutapea, 1991)
5. Kegunaan Daun Sirih (Piper betle L.)
Daun Sirih mempunyai khasiat sebagai obat batuk, obat bisul, obat sakit mata,
obat sariawan, obat hidung berdarah (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
2.4 Tinjauan Tanaman Mahoni (Swietenia mahagoni) (Raja. 2009)
1. Klasifikasi Tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Clas : Dicotyledon
Ordo : Polygales
Famili : Meliaceae
Genus : Swietenia
Spesies : Swietenia mahagoni
Gambar 2.2 Tanaman Mahoni
(Swietenia mahagoni) Sumber Fredi
kurniawan
2. Deskripsi Tanaman
Tumbuhan Mahoni /Swietenia mahagonitermasuk Famili Meliaceae yang
dianjurkan untuk pengembangan HTI (Hutan Tanaman Industri) ,berasal dari
Hindia barat yang beriklim tropis, tetapi sudah lama dibudidayakan diIndonesia,
dan sudah beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia. Mahoni dalam klasifikasinya
ada dua spesies yang cukup dikenal yaitu S. macrophylla(mahoni daun lebar) dan
S. mahagoni (mahoni daun sempit).Tanaman mahoni umumnya ditanam dipinggir-
pinggir jalan atau di lingkungan rumah tinggal dan halaman perkantoran sebagai
tanaman peneduh. Mahoni termasuk jenis tanaman pohon tinggi, percabangannya
banyak, tingginya dapat mencapai kira-kira 10 -30 m. Mahoni dapat tumbuh
dengan baik ditempat-tempat yang terbuka dan kena sinar matahari langsung, baik
didataran rendah maupun dataran tinggi (1000 m diatas permukaan laut ).
Swiegenia mahagoni termasuk tumbuhan bioremediator yaitu tumbuhan yang
mampu menyerap pencemar tanpa mengalami kerusakanatau gangguan
pertumbuhan. Swietenia mahagoni memiliki /Plumbum diudara . Pb merupakan
salah satu logam berat yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup karena bersifat
karsinogenik, dapat menyebabkan mutasi,terurai dalam jangka waktu yang lama
dan tokisisitasnya yang tidak berubah.Pb dapat mencemari udara, tanah, air,
tumbuhan, hewan dan bahkan manusia. Masuknya Pb ke tubuh manusia dapat
melalui pencernaan bersamaan dengan tumbuhan yang biasa dikonsumsi manusia.
Pohon pelindung sekaligus filter udara Swiegenia mahagoni mampu mengurangi
polusi udara sekitar 47%-69% (Soerjani, 1977).
BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu gelas kimia, gelas
ukur, batang pengaduk, kaca arloji, neraca analitik, dan corong
3.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu ekstrak maserasi
dan perkolasi daun sirih (Piper betle L), ekstraks refluks tanaman mahoni
(Swietenia mahagoni) aquadest, dan etanol, kloroformh, aluminium foil,
3.2 Prosedur Kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Pada Praktikum ini diperoleh hasil yaitu :
Sampel Bobot Volume Volume Fraksi Volume Fraksi
Ekstrak Ekstrak Pelarut Etanol Polar Kloroform NonPolar
Daun
sirih 5 gram 30 ml 50 ml 70 ml 50 ml 60 ml
(metode
maserasi)
Daun
sirih 2,5 gram 15 ml 50 ml 100 ml 50 ml 50 ml
(metode
perkolasi)
Kulit
batang 0,20 10 ml 50 ml 50 ml 50 ml 60 ml
mahoni gram
(metode
refluks)

4.2 Pembahasan
Partisi ekstrak (ekstraksi cair-cair) adalah proses pemisahan zat terlarut di
dalam dua macam zat pelarut yang tidak saling bercampur, dengan kata lain
perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik dan pelarut air. Hal
tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang dapat larut dalam air dan
ada pula yang dapat terlarut dalam pelarut organik. Sedangkan ekstraksi padat-cair
adalah proses pemisahan untuk memperoleh komponen zat terlarut dari campurannya
dalam padatan dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Pada umumnya metode ini
digunakan untuk sampel yang tidak larut dalam air.
Tujuan dilakukannya partisi yaitu untuk memisahkan komponen kimia dari
sampel berdasarkan tingkat kepolarannya. Proses partisi sebenarnya dapat dilakukan
dengan partisi cair-cair ataupun partisi padat cair, namun pada praktikum kali ini
hanya dilakukan partisi cair-cair.
Prinsip dari proses partisi yaitu digunakannya dua pelarut yang tidak saling
bercampur untuk melarutkan zat-zat yang ada dalam ekstrak. Ekstrak yang digunakan
dalam percobaan iniadalah ekstrak daun jamblang (Eugenia cumini Merr).
Pelarut yang digunakan yaitu pelarut yang bersifat polar dan nonpolar. Pada
pengerjaan awal, partisi dilakukan dengan menggunakan pelarut non polar (n-
Heksan), hal ini disebabkan karena jika pada pengerjaan awal digunakan pelarut
polar, maka dikhawatirkan adanya senyawa nonpolar yang ikut terlarut, sebagaimana
kita ketahui bahwa pelarut polar, selain mampu melarutkan senyawa yang bersifat
polar juga mampu melarutkan senyawa yang bersifat nonpolar.
Tahap-tahap dalam melakukan proses partisi yaitu pertama-tama ekstrak
metanol dilarutkan dalam air. Setelah larut, kemudian dimasukkan ke dalam corong
pisah dan ditambahkan 50 ml n-heksan dan dikocok pada satu arah hingga homogen.
Sesekali membuka keran corong pisah untuk mengeluarkan udara dari hasil
pengocokan. Dipisahkan hingga terlihat adanya dua lapisan, dimana lapisan atas
adalah lapisan n-heksan, sedangkan lapisan bawah adalah lapisan air. Hal ini
disebabkan karena air memiliki massa jenis yang lebih besar daripada n-heksan.
Selanjutnya untuk lapisan ekstrak n-heksan ditampung dan diuapkan sehingga di
dapatkan ekstrak kering. Sedangkan untuk lapisan air, dimasukkan ke dalam corong
pisah dan ditambahkanlagi n-heksan dan dikocok hingga homogen, prosedur ini
dilakukan sama halnya pada prosedur awal, dan dilakukan terus-menerus hingga
lapisan atas kelihatan jernih.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun hasil yang didapatkan setelah dilakukan proses partisi ekstrak dengan
menggunakan metode partisi ekstrak cair-cair didapatkan hasil yang berbeda setiap
sampel ekstraknya dengan menggunakan dua pelarut yang berbeda tingkat
kepolarannya
5.2 Saran
Sebaiknya pada saat praktikum, praktikan lebih memperhatikan tata tertib
serta prosedur kerja dalam mengekstraksi tanaman yang dapat menyebabkan
kesalahan pada saat praktikum berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto, T. Dan Y.E. Widyastuti. 2001. Meningkatkan Produksi jagung lahan
kering, sawah dan pasang surut. Penrbar Swadaya, Jakarta.

Anonim. 1989. Materi medika indonesia . edisi V. Departemen kesehatan Republik


indonesia. Jakarta

Anonim. 1986. Sediaan galenik. 2-3 jakarta. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia

Agoes, goeswin. 2007. Teknologi Bahan Alam. Penerbit ITB: Bandung

Soemiati, A dan Elya B. 2002. Uji pendahuluan egfek kombinasi antijamur infus
daun sirih (Piper betle L), Kulit buah delima (Punica granatum L) dan rimpang
kunyit (Curcuma domestica Val) terhadap jamur candida albicans, makara seri
sains. 6 (3). 150-154.

Departemen kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesi Edisi IV. Jakarta

Voigt. 1984. Buku ajar teknologi farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani noeroto S.
UGM Press. Yogyakarta Hal 337-338