Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum VI Hari/Tanggal : Senin, 25 Februari 2019

Teknik Laboratorium Nutrisi Tempat Praktikum : Laboratorium Terpadu


dan Teknologi Pakan Asisten Praktikum :
Dwitami Anzhany (D24150036)

TEKNIK TITRASI
Rezeki Sirait
D24160075
Kelompok 4 (G2)

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Titrasi merupakan salah satu prosedur dalam ilmu kimia yang digunakan
untuk menentukan molaritas dari suatu asam dan basa. Reaksi kimia pada titrasi
dikenakan pada "larutan yang sudah diketahui volumenya, namun tidak diketahui
konsentrasinya" dan "larutan yang sudah diketahui volume dan konsentrasinya".
Tingkat keasaman atau kebasaan dapat ditentukan dengan menggunakan asam
atau basa yang ekivalen. Ekivalen asam setara dengan satu mol ion hidronium,
sedangkan ekivalen basa setara dengan satu mol ion hidroksida. Jika yang
direaksikan adalah asam atau basa poliprotik (banyak ekivalen), maka setiap mol
zat tersebut akan melepaskan lebih dari satu H+ atau OH-. Ketika larutan yang
sudah diketahui konsentrasinya direaksikan dengan larutan yang tidak diketahui
konsentrasinya, maka akan dicapai titik dimana jumlah asam sama dengan jumlah
basa, yang disebut dengan titik ekivalen. Titik ekivalen dari asam kuat dan basa
kuat mempunyai pH 7. Untuk asam lemah dan basa lemah, titik ekivalen tidak
terjadi pada pH 7. Dan untuk larutan asam basa poliprotik, akan ada beberapa titik
ekivalen (Ripani 2009).
Ada dua cara yang biasa digunakan untuk memprediksi dan menentukan
titik ekivalen, yaitu menggunakan pH meter dan indikator asam-basa.
Menggunakan pH meter melibatkan grafik sebagai fungsi pH dan volume titran
yang dipakai yang disebut dengan kurva titrasi. Selama titrasi berlangsung terjadi
perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang
dihasilkan dari netralisaasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam
basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada. Pada
umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah diamati adalah
titik akhir yang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai.
Metode penggunaan indikator mengandalkan timbulnya perubahan warna larutan.
Indikator asam basa merupakan suatu asam atau basa organik lemah yang
mempunyai warna yang berbeda pada keadaan terdisosiasi maupun tidak. Karena
digunakan dalam konsentrasi yang rendah, indikator tidak menunjukkan
perubahan yang besar pada titik ekivalen. Titik dimana indikator berubah warna
merupakan titik akhir titrasi. Untuk titrasi, perbedaan volume antara titik akhir
dengan titik ekivalen relatif kecil. Seringkali kesalahan (error) pada perbedaan
volume diabaikan. Seharusnya dalam kasus tersebut diberlakukan faktor koreksi
(Ripani 2009).

Tujuan

Praktikum ini bertujuan Mengamati terjadinya perubahan warna pada


larutan yang dititrasi, mengamati banyaknya larutan NaOH dan larutan boraks
yang diperlukan menitrasi larutan HCl, menentukan konsentrasi larutan HCl
dengan menggunakan larutan NaOH dan larutan boraks.
MATERI DAN METODE

Materi

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah Erlenmeyer 100
ml, Pipet tetes, Pipet volumetrik 10 ml, Larutan HCL, Larutan boraks, Gelas
Ukur, Larutan NaOH, Larutan Boraks, Corong kaca dan Buret.

Metode

Titrasi Larutan NaOH dengan Larutan HCL

Pasang buret asam di statif, Larutan HCL diambil sebanyak 100 ml dan
dimasukkan kedalam Erlenmeyer kemudian tambahkan metil merah jambu 2 tetes
ke dalam larutan NaOH. Letakkan erlenmeyer di bawah keran buret dan titrasi
larutan NaOH dengan HCL tetes demi tetes sambil digoyang-goyangkan dengan
hati-hati sampai terjadi perubahan warna merah jambu. Catat berapa ml tetesan
HCL yang diperlukan pada titrasi dalam tabel hasil pengamatan. Hitung
konsentrasi NaOH dengan rumus perhitungan titrasi dan catat data sebagai hasil
pengamatan.

Titrasi Larutan Boraks dengan Larutan HCL

buret yang telah dipasang dan dipakai pada titrasi larutan sebelumnya,
digunakan kembali untuk titrasi larutan boraks. Larutan HCL diambil sebanyak
100 ml dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer kemudian tambahkan metil merah
jambu 2 tetes ke dalam larutan Boraks. Letakkan erlenmeyer di bawah keran buret
dan titrasi larutan Boraks dengan HCL tetes demi tetes sambil digoyang-
goyangkan dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna merah jambu. Catat
berapa ml tetesan HCL yang diperlukan pada titrasi dalam tabel hasil pengamatan.
Hitung konsentrasi Boraks dengan rumus perhitungan titrasi dan catat data
sebagai hasil pengamatan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan dan hasil


perhitungan konsentrasi dari kedua larutan yang dititrasi. Larutan yang dititrasi
memiliki sifat yang berbeda, sehingga memberikan konsentrasi yang berbeda
pula. Oleh karena itu, titrasi perlu dilakukan untuk mengetahui konsentrasi setiap
larutan. Hasil yang telah diperoleh dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1 Hasil Titrasi Larutan Boraks dengan Larutan HCL


Volume HCL (ml) Konsentrasi HCL (N) Konsentrasi
Boraks (N)
13,6 0,0735 0,1
13,4 0,0746 0,1
13,1 0,0763 0,1

Rata-rata 0,0748

Dibawah ini merupakan hasil pengukuran konsentrasi larutan NaoH yang


dititrasi dengan larutan HCL.

Tabel 2 Hasil Titrasi Larutan NaOH dengan Larutan HCL


Volume HCL (ml) Konsentrasi HCL (N) Konsentrasi
NaoH (N)
13,6 0,0748 0,08901
13,4 0,0748 0,0935
13,1 0,0748 0,0920
Rata-rata 0,0748

Pembahasan

Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan


suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat lain yang diketahui
konsentrasinya. Prinsip dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi nertalisasi
asam basa. Titik equivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana
sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung
terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam
yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi
asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada. Pada
umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah diamati adalah
titik akhir yang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai (Ripani
2009).
Pada titrasi juga memerlukan Indikator asam-basa untuk mengetahui
konsentrasinya. Titrasi asam basa disebut juga titrasi adisi alkalimetri. Kadar atau
konsentrasi asam basa larutan dapat ditentukan dengan metode volumetri dengan
teknik titrasi asam basa. Volumetri adalah teknik analisis kimia kuantitatif untuk
menetapkan kadar sampel dengan pengukuran volume larutan yang terlibat reaksi
berdasarkan kesetaraan kimia. Kesetaraan kimia ditetapkan melalui titik akhir
titrasi yang diketahui dari perubahan warna indicator dan kadar sampel untuk
ditetapkan melalui perhitungan berdasarkan persamaan reaksi (Ripani 2009).
Larutan baku primer adalah suatu larutan yang telah diketahui secara tepat
konsentrasinya melalui metode gravimetri. Nilai konsentrasi dihitung melalui
perumusan sederhana, setelah dilakukan penimbangan teliti zat pereaksi tersebut
dan dilarutkan dalam volume tertentu. Contoh: K2Cr2O7, AS2O3, NaCl, asam
oksalat, asam benzoat. Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji
kualitatif dan kepekaan tertentu. Sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan
massa ekivalen yang besar, sehingga kesalahan karena penimbangan dapat
diabaikan. Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih. – reaksi
yang berlangsung dengan pereaksi tersebut harus bersifat stoikiometrik dan
langsung. kesalahan titrasi harus dapat diabaikan atau dapat ditentukan secara
tepat dan mudah. Larutan baku sekunder adalah suatu larutan dimana
konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembakuan menggunakan larutan baku
primer, biasanya melalui metode titrimetri. Contoh: AgNO3, KMnO4, Fe(SO4)2
(Ripani 2009).
Pada praktikum yang telah dilakukan Perubahan warna terjadi saat jumlah
asam sama dengan jumlah basa, yang disebut dengan titik ekivalen. Hal ini terjadi
dikarenakan adanya Indikator asam basa, yang merupakan suatu asam atau basa
organik lemah yang mempunyai warna yang berbeda pada keadaan terdisosiasi
maupun tidak. Natrium hidroksida merupakan senyawa basa yang mengandung
unsur dari golongan alkali, yaitu natrium (Na+).NaOH biasanya digunakan sebagai
pelarut karena sifat keefektifitasannya untuk menetralkan asam. NaOH sangat
bereaksi aktif dengan larutan asam, ekses yang melebihi keperluan netralisasi
akan bereaksi dengan material fospatida (Agus 2018).
Natrium hidroksida merupakan basa kuat dan dapat berdisosiasi sempurna
dalam larutan. Natrium hidroksida juga berfungsi sebagai zat pembersih kuat
terutama untuk kotoran berminyak seperti pembersih oven (James 2008). Asam
klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida.Asam klorida merupakan
asam kuat karena dapat berdisosiasi sempurna dalam larutan, serta merupakan
komponen utama dalam asam lambungyangterlibat dalam proses pencernaan
protein dan menurunkan jumlah bakteri dari makanan yang telah masuk ke dalam
lambung. Selain itu asam klorida juga digunakan dalam berbagai industri.Asam
klorida merupakan gas yang tidak berwarna yang dilarutkan dalam air.Asapyang
ditimbulkan dari HCl dan ion-ion yang terbentuk dalam larutan, dapat
membahayakan tubuh manusia (Azizah 2010).
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi yang paling tinggi
adalah konsentrasi larutan boraks. Hal ini disebabkan sifat boraks yang lebih kuat
dibandingkan dengan NaoH. Setiap zat atau senyawa mempunyai sifat asam, basa,
atau netral.Kita dapat menentukan apakah zat atau senyawa tersebut asam, basa
atau netral dengan menggunakan indikator. Indikator ini dapat berupa indikator
universal atau lakmus biru, lakmus merah yang dimuat di laboratorium, atau juga
dapat menggunakan indikator asam basa dengan bahan dari alam, seperti bunga
kembang sepatu, bunga bogenuil, bunga mawar, kunyit dan sebagainya. Zat warna
dari bahan-bahan tersebut memberi warna yang berbeda dalam larutan asam,
basa, maupun netral (Ripani 2009).
Perubahan warna harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-
raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. Untuk memenuhinya maka trayek
indikator harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva titrasi (Sudarmo
2004). Dalam titrasi ada pula yang tidak memerlukan indikator sebagai penunjuk
titik akhir titrasi, hal ini memungkinkan karena zat asalnya yang berwarna dan
memiliki perbedaan warna pada awal titrasi dengan warna akhir titrasi yang
cukup kontras dan mencolok, sebagai contoh pada titrasi Permanganometri yang
memiliki larutan titer yang berwarna ungu dengan warna merah muda pucat pada
titik akhir titrasi. Istilah yang sering digunakan adalah Autoindikator. Bila suatu
indikator dalam suatu titrasi kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi,
maka : Indikator harus berubah warna tepat pada saat titrant menjadi ekivalen
dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi (yakni selisih antara titik akhir dan
titik ekivalen). Untuk memenuhinya maka trayek indikator harus mencakup pH
larutan pada titik ekivalen, atau sangat mendekatinya (Raymond Chang 2014).

SIMPULAN

Praktikum memberikan pengetahuan mengenai cara pemisahan filtrate dan


endapan dari suatu larutan. Pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan alat
Titrasi, centrifuge dengan jenis dan kecepatan yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Budiman. 2009. Metode Titrasi untuk pemisahan biodiesel dalam proses
pencucian. Jurnal riset industry. III :173-178.
Andaka dan Ganjar. 2011. Hidrolisis Ampas Tebu menjadi Furfural dengan
Katalisator Asam Sulfat. Jurnal Teknologi. 4 (2): 180-188.
Dewati dan retno. 2010. Kinetika Reaksi Pembuatan Asam Oksalat dari Sabut
Siwalan dengan Oksidator H2O2. Jurnal Teknologi.10 (1): 29-37.
Faisol A, Rizka F, dan Tiara N. 2015. Pengaruh Konsentrasi NaOH
danwaktuPeleburan padaPembuatanAsam OksalatdariAmpas Tahu. Jurnal
Teknik Kimia.3(21): 9-15.
Hugate R.E. 1966. The Rumen and Its Microbes, Avademic Press, Inc. Hal 8-330
Irmawaty S, Edia R, Bendiyasa I M. 2009. Kinetika Reaksi pada Pembuatan
Glifosat dari N-PMIDA (Neophosphonomethyl Iminodiacetic Acid) dan
H2O2 dengan Katalisator Pd/Al2O3. Jurnal Rekayasa Proses. 3(2):45-49.
Khasani. 2009. Prosedur Alat- Alat Kimia. Yogykarta(ID): Liberty.
Moeksin R. Rahmawati Y, Rini P. 2008. Pengaruh penambanhan papain terhadap
kualitas vco dengan metode enzimatis, Titrasi, dan pemanasan. Jurnal
Teknik Kimia. 1(15) : 11-14
Ripani. 2009. Penerapam Kontroler Fuzzy Untuk Pengendalian Kecepatan Motor
Induksi 3 Fasa Pada Mesin Sentrifugal. INKOM. Vol. III, No. 1-2
Suhartanto B, Utomo R, Kustantinah, Budisatria IGS, Yusiati LM. 2014.
Pengaruh penambahan formaldhide pada pembuuatan undergraded protein
LAMPIRAN