Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH FISIKA FARMASI

“KELARUTAN”

KELOMPOK 3
Amar Sulthan Fauzi (AKF18129)
Elsa Dwi Harianti (AKF 18126)
Hawa Indah Utami Wibisono (AKF 18138)
Diamirta Agustin .m. (AKF 18115)
Utari Sukarman (AKF 18107)
Palmira Bria (AKF 18140)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG

TAHUN AJARAN 2019


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah dengan ini dapat tersusun hingga selesai.

Kami mengucapkan terima kasih yang tiada tara kepada seluruh teman yang telah
membantu kami dalam meyelesaikan makalah ini, baik secara langsung maupun tidak. terlebih
terhadap Dosen pembimbing kami “HARITSAH ALFAD, M.Pd. dan GARDIANI FEBRI
HADIWIBOWO, S.Farm., Apt.” yang dengan penuh sabar membimbing kami dalam
mengerjakan makalah dengan tema kata “KELARUTAN”.Atas kepeduliannya serta
bimbingannya kami mengucapkan banyak kata terima kasih kiranya makalah ini dapat menjadi
sumber pembelajaran kita semua dalam menambah ilmu pengetahuan.

Bila dalam penyampaian makalah ini ditemukan hal-hal yang tidak berkenan bagi pembaca,
dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf yang setulusnya.

Malang, 08 MEI 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN AWAL…………………………………………………………………………..1
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2
BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 4
1.2 Tujuan Percobaan ............................................................................................................. 5
1.3 Maksud Percobaan ........................................................................................................... 5
BAB II TEORI DASAR ............................................................................................................ 6
2.1 Pengertian Kelarutan ........................................................................................................ 6
2.2 Faktor Kelarutan ............................................................................................................... 6
BAB III KESIMPULAN............................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 10

3
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat terlarut didalam larutan
jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Larutan memainkan peranan penting dalam
kehidupan sehari-hari. Di alam kebanyakan reaksi berlangsung dalam larutan air, tubuh
menyerap mineral, vitamin dan makanan dalam bentuk larutan.Sejalan dengan pesatnya
perkembangan penelitian di bidang obat, saat ini tersedia berbagai pilihan obat, sehingga
diperlukan pertimbangan yang cermat dalam pemilihan obat untuk mengobati suatu
penyakit, kelarutan sangat besar pengaruhnya terhadap pembuatan obat dimana bahan-
bahan dapat dicampurkan menjadi suatu larutan sejati, larutan koloid, dan dispersi kasar.

Data kelarutan suatu zat dalam air sangat penting untuk diketahui dalam pembuatan
sediaan farmasi. Sediaan farmasi cairan seperti sirup, eliksir, obat tetes mata, injeksi dan
lain-lain dibuat dengan menggunakan pembawa air. Bahkan untuk sediaan obat lainnya
seperti suspensi, tablet atau kapsul yang diberikan secara oral, data ini tetap diperlukan
karena didalam saluran cerna obat harus dapat melarut dalam cairan saluran cerna yang
komponen utamanya adalah air agar dapat diabsorpsi.

Pada umumnya obat baru dapat diabsorpsi dari saluran cerna dalam keadaan telarut
kecuali kalau transport obat melalui mekanisme pinositosis. Oleh karena itu salah satu
cara untuk meningkatkan ketersediaan hayati suatu sediaan adalah dengan menaikkan
kelarutan zat aktifnya di dalam air.

Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu adalah suhu, pH, jenis
pelarut, bentuk dan ukuran partikel, konstanta dielektrik bahan pelarut dan penambahan
surfaktan.

Dalam bidang farmasi kelarutan sangat penting, karena dapat mengetahui dan
dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau
kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada
waktu pembuatan larutan farmasetis (dibidang farmasi) dan lebih jauh lagi dapat
bertindak sebagai standar atau uji kelarutan.

Oleh karena itu , percobaan kelarutan sangat penting dilakukan agar kita dapat
mengetahui usaha – usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kelarutan suatu obat yang
dapat mempermudah absorpsi obat didalam tubuh manusia.

4
1.2 Tujuan Percobaan
1. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif.
2. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan satu zat.
3. Menjelaskan usaha-usaha yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan suatu zat
aktif dalam air dalam pembuatan sediaan cair.
1.3 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami perbandingan kelarutan paracetamol di dalam
air, alkohol dan propilenglikol.

5
BAB II
TEORI DASAR
2.1 Pengertian Kelarutan

Kelarutan atau solubility (s) adalah kebanyakan senyawa dalam satuan garam yang dapat
membuat jenuh larutan. Jika volume larutan dm3 maka kelarutan itu mempunyai satuan
molar (m) (Martin, 1990).
Kelarutan suatu zat didefinisikan sebagai jumlah solut yang dibutuhkan untuk
menghasilkan suatu larutan juneh dalam sejumlah solven. Pada suatu temperatur tertentu
suatu larutan jenuh yang bercampur dengan solut yang tidak terlarut merupakan contoh
lain dari keadaan kesetimbangan dinamik (Mochtar, 1989).
Jika gambar ionik dimasukkan kedalam air, maka banyaknya garam yang dapat
larut dalam sejumlah pelarut tertentu merupakan nilai dari perkalian ion-ion yang bergam
dan merupakan salah stu sifat fisis dari senyawa/garam itu sendiri (Martin, 1990).
Banyaknya garam yang dapat larut dalam sejumlah pelarut disebut kelarutan, jika
volume larutan yang dipakai untuk melarutkan 1 dm3, maka kelarutan garam senyawa
tersebut dapat dinyatakan sebagai kepekaan garam atau senyawa tersebut (Arief, 2003).
Kelarutan suatu gram yang sedikit larut juga tergantung pada konsentrasi dari zat-
zat yang membentuk kompleks dengan kation gram dan hasil hidolisasi seperti dikatakan
diatas adalah suatu contoh yang pereaksi pembentuk kompleksnya yaitu ion hidroksida
(Roth,1994).
Telah lazim dikenal dalam bidang kimia bahwa senyawa tidak larut pun tidak
memiliki kelarutan. Oleh karena itu senyawa seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai
senyawa yang sukar larut (Anief, 2003).
Besarnya kelarutan suatu senyawa adalah jenuh, misalnya senyawa yang
bersangkutan yang larut dalam sejumlah pelarut tertentu dan merupakan larutan yang
jenuh yang ada dalam kesetimbangan dengan bentuk padatnya (Ansel, 1989).

2.2 Faktor Kelarutan

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah
(Mirawati, 2007) :
1. Pengaruh pH
Zat aktif yang sering digunakan didalam dunia pengobatan adalah zat organik
yang bersifat asam lemah, kelarutan asam lemah seperti barbiturat dan sulfonamide

6
dalam akar akan bertambah dengan naiknya pH karena terbentuknya garam yang
mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa organic seperti alkaloida dan anastetik
pada umumnya sukar larut.

2. Pengaruh temperatur
Kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung pada temperatur, titik leleh
zat padat, dan panas peleburan molar zat tersebut.

3. Pengaruh jenis pelarut


Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar akan
melarutkan lebih baik zat-zat polar ionik, begitu juga sebaliknya.

4. Pengaruh konstanta dielektrik


Telah diketahui bahwa kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas
pelarut.

5. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel


Kelarutan suatu zat akan naik dengan berkurangnya ukuran partikel suatu zat.
Konfigurasi molekul dan bentuk sediaan susunan kristal juga mempengaruhi.

6. Pengaruh penambahan zat-zat lain


Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikkan kelarutan
suatu zat. Surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat yang
dikenal sebagai misel.

Sifat yang penting dari misel ini adalah kemampuannya untuk menaikkan kelarutan
zat yang biasanya sukar larut dalam air. Proses ini dikenall sebagai solubility. Solubility
terjadi karena molekul zat yang sukar larut berasosiasi dengan misel membentuk suatu
larutan yang jernih dan stabil secara termodinamika. Lokasi molekul zat terlarut dalam
misel tergantung pada pelarut zat tersebut. Molekul non polar akan masuk kedaerah
polisade dan membentuk suatu misell campuran (Mirawati, 2007).

Selain penambahan surfaktan dapat juga ditambahkan zat-zat pembentuk kompleks


untuk menaikkan kelarutan suatu zat, misalnya penambahan ureten dalam pembuatan
injeksi khirin (Mohtar, 1989).

7
Kelarutan suatu zat dalam pelarut tertentu diketahui dengan membuat larutan jenuh
dari zat itu pada suhu yang spesifik dan penentuan jumlah zat yang larut pada sejumlah
berat tertentu dan larutan dengan cara analisis kimia (Ansel, 2005).

Kelarutan bergantung juga pada sifat dan konsentrasi zat-zat lain, terutama ion-ion
dalam campuran itu (Hardjaji, 1993)

Tipe larutan yang paling umum yang kita jumpai di laboratorium terdiri atas solute
yang terlarut dalam zat cair, oleh karena itu sebagian besar perhatian kita, kita arahkan
terhadap larutan tipe ini. Larutan yang berbentuk cair (contohnya NaCl dalam air),
melarutkan zat cair dalam zat cair (contohnya etilen glikol dalam air, larutan anti beku),
atau melarutkan gas dalam zat cair contohnya CO2 dalam air, efferfescens) (Ditjen POM,
1979).

Untuk menyatakan kelarutan zat kimia, istilah kelarutan dalam pengertian umum
kadang-kadang perlu digunakan tanpa mengindahkan perubahan kimia yang mungkin
terjadi pada pelarutan tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut
adalah kelarutan pada suhu 20oC dan kecuali dinyatakan lain menunjukkan bahwa, 1
bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu
pelarut, pernyataan kelarutan yang tidak disertai angka adalah kelarutan pada suhu
kamar, kecuali dinyatakan lain, zat jika dilarutkan boleh menunjukkan sedikit kotoran
mekanik seperti bagian kertas saring, serat dan butiran debu. Pernyataan bagian dalam
kelarutan berarti bahwa 1 g zat padat atau 1 ml zat cair dalam sejumlah dalam sejumlah
ml pelarut (Ditjen POM, 1979). Jika kelarutan suatu zat tidak diketahui dengan pasti,
kelarutannya dapat ditunjukkan dengan istilah sebagai bentuk (Ditjen POM, 1979).

Sangat mudah larut Kurang dari 1


mudah larut 1 sampai 10
Larut 10 sampai 10
Agak sukar larut 30 sampai 100
Sukar larut 100 sampai 1.000
Sangat sukar larut 1.000 sampai 10.000
Praktis tidak larut Lebih dari 10.000

8
BAB III

KESIMPULAN
Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut
(solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah
maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan

Kelarutan juga berfungsi sebagai sebuah parameter molekul. Pengionan struktur dan
ukuran molekul stereokimia dan struktur elektronik Semuanya akan mempengaruhi antar aksi
pelarut dan terlarut, seperti pada bagian terdahulu, air membentuk ikatan hydrogen dengan ion
atau dengan senyawa non ionik, sedangkan polar melalui gugus – OH, -NH, atau dengan
pasangan elektron tak mengikat pada atom oksigen atau nitrogen. Ion atau molekul akan
memperoleh sampel hidrat dan akan memisah dari bongkahan zat padat dan artinya melaru

9
DAFTAR PUSTAKA
Ansel C. Howard. 1989.“Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi ”Universitas Indonesia Press :
Jakarta Ditjen.POM. 1979. “

Farmakope Indonesia Edisi III ”. Departemen KesehatanRI’’ : Jakarta Ditjen. POM. 1995.

Farmakope Indonesia Edisi IV ”Departemen Kesehatan RI’’ : Jakarta Effendi, Idris. 2003.

Estien, Yazid , 2005.“Kimia Fisika Untuk Paramedis ”.Hipokrates : Jakarta.

Gennaro.A.R. 1990.”Remington Pharmaceutical Edisi 18 th

Mark Publing Hardjadi. 1993.’’Ilmu Kimia Analitik Dasar’’ PT Gramedia Pestaka : Jakarta

Lund, Walter. 1994.“The Pharmaceutical Codex”

The Pharmaceutical Press : London. Martin, Alfred, 1993.“Farmasi Fisika”.Universitas


Indonesia : Jakarta

R. Voight., 1994,“Buku Pelajaran Teknologi Farmasi” Edisi Kelima, Penerbit Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta.

Rosenberg. 1992.“ Kimia Fisika”.Penerbit Intan pariwara. Jakata.

Sukardjo. 1997.’’ Kimia Fisika I’’ Universitas Indonesia : Jakarta

10

Anda mungkin juga menyukai