Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PRAKTIKUM

OSILOSKOP
MATA KULIAH PENGUKURAN LISTRIK DASAR
SEMESTER GENAP 2018/2019

Kelas 1B – D4 Teknik Listrik

Pande Rajadi Siallagan


421 18 046

PROGRAM STUDI DIV TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
MAKASSAR
2019
I. Tujuan
Selesai percobaan, maka diharapkan dapat :
1. Melihat bentuk-bentuk gelombang listrik dalam layar osiloskop
2. Mengukur besar tegangan maksimum maupun puncak ke puncak dari
masing-masing gelombang listrik
3. Mengukur besar frekuensinya
4. Mengukur beda phasa dengan metode 2 saluran dan metode X-Y
5. Mengukur perbandingan frekuensi dari gelombang listrik
II. Teori Dasar
1. Pengertian Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur besaran listrik yang dapat memetakan sinyal
listrik. Pada kebanyakan aplikasi, grafik yang ditampilkan memperlihatkan
bagaimana sinyal berubah terhadap waktu. Seperti yang bisa anda lihat pada
gambar di bawah ini ditunjukkan bahwa pada sumbu vertikal (Y)
merepresentasikan tegangan V, pada sumbu horizontal (X) menunjukkan
besaran waktu t.
Osiloskop terdiri dari dua bagian utama yaitu display dan panel kontrol.
Display menyerupai tampilan layar televisi hanya saja tidak berwarna warni
dan berfungsi sebagai tempat sinyal uji ditampilkan. Pada layar ini terdapat
garis-garis melintang secara vertikal dan horizontal yang membentuk kotak-
kotak dan disebut div. Arah horizontal mewakili sumbu waktu dan garis
vertikal mewakili sumbu tegangan. Panel kontrol berisi tombol- tombol yang
bisa digunakan untuk menyesuaikan tampilan di layar.
Layar osiloskop dibagi atas 8 kotak skala besar dalam arah vertikal dan 10
kotak dalam arah horizontal. Tiap kotak dibuat skala yang lebih kecil. Sejumlah
tombol pada osiloskop digunakan untuk mengubah nilai skala-skala tersebut.
Osiloskop Dual Trace dapat memperagakan dua buah sinyal sekaligus pada
saat yang sama. Cara ini biasanya digunakan untuk melihat bentuk sinyal pada
dua tempat yang berbeda dalam suatu rangkaian elektronik.
Sinyal osiloskop juga dinyatakan dengan 3 dimensi seperti yang terlihat
pada Gambar 2.1
Sumbu vertikal (Y) merepresentasikan tegangan V dan sumbu horizontal
(X) menunjukkan besaran waktu t. Tambahan sumbu Z merepresentasikan
intensitas tampilan osiloskop. Tetapi bagian ini biasanya diabaikan karena
tidak dibutuhkan dalam pengukuran.

Gambar 2.1. Sinyal Osiloskop Dinyatakan Dalam Dimensi

Wujud dari osiloskop terlihat mirip sebuah pesawat televisi dengan


beberapa tombol pengatur. kecuali terdapat garis-garis (grid) pada layarnya.

Gambar 2.2. Osiloskop

Pada umumnya osiloskop terdiri dari dua kanal yang bisa digunakan untuk
melihat dua sinyal yang berlainan, sebagai contoh kanal satu untuk melihat
sinyal masukan dan kanal dua untuk melihat sinyal keluaran.
Ada beberapa jenis tegangan gelombang yang akan diperlihatkan pada
layar monitor osiloskop, yaitu :
1. Gelombang sinusoidal
2. Gelombang blok
3. Gelombang gigi gergaji
4. Gelombang segitiga.
Secara umum osiloskop hanya untuk circuit osilator ( VCO ) di semua
perangkat yang menggunakan rangkaian VCO. Meskipun sudah
berpengalaman dalam hal menggunakan osiloskop, kita harus mempelajari
tombol instruksi dari pabrik yg mengeluarkan alat tersebut. Untuk
menggunakan osiloskop haruslah berhati-hati, bila terjadi kesalahan sangat
fatal akibatnya..

2. Fungsi Osiloskop
a. Untuk menyelidiki gejala yang bersifat periodik.
b. Untuk melihat bentuk gelombang kotak dari tegangan
c. Untuk menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian
elektronika
d. Dapat melihat amplitudo tegangan, periode, frekuensi dari sinyal yang
tidak diketahui
e. Untuk melihat harga-harga momen tegangan dalam bentuk sinus maupun
bukan sinus
f. Digunakan untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah-ubah
terhadap waktu, yang ditampilkan pada layar
g. Mengetahui beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran.
h. Mengukur keadaan perubahan aliran (phase) dari sinyal input
i. Mengukur Amlitudo Modulasi yang dihasilkan oleh pemancar radio dan
generator pembangkit sinyal
j. Mengukur tegangan AC/DC dan menghitung frekuensi
3. Fungsi Bagian Tombol Osiloskop
a. Tampak Depan

Gambar 2.3. Tombol Osiloskop Tampak Depan


Tombol/sakelar kontrol dan indikator Osiloskop berdasarkan gambar diatas
sebagai berikut :
Tabel 2.1 Bagian dan Fungsin Osiloskop

NO BAGIAN BAGIAN FUNGSI

Tombol Power ON/OFF berfungsi

1 TOMBOL POWER ON/OFF untuk menghidupkan dan


mematikan Osiloskop

Lampu Indikator berfungsi sebagai


Indikasi Osiloskop dalam keadaan
2 LAMPU INDIKATOR ON (lampu Hidup) atau OFF
(Lampu Mati)

Rotation pada Osiloskop berfungsi


untuk mengatur posisi tampilan
3 ROTATION garis pada layar agar tetap berada
pada posisi horizontal. Untuk
mengatur rotation ini, biasanya
harus menggunakan obeng untuk
memutarnya.

Intensity digunakan untuk


mengatur kecerahan tampilan
4 INTENSITY bentuk gelombang agar mudah
dilihat.

Focus digunakan untuk mengatur

5 FOCUS penampilan bentuk gelombang


sehingga tidak kabur

CAL digunakan untuk Kalibrasi

6 CAL tegangan peak to peak (VP-P) atau


Tegangan puncak ke puncak.

Posistion digunakan untuk

POSITION mengatur posisi Vertikal (masing-


7
masing Saluran/Channel memiliki
pengatur POSITION).
Saat tombol INV ditekan, sinyal

8 INV (INVERT) Input yang bersangkutan akan


dibalikan.

Sakelar yang digunakan untuk


memilih besarnya tegangan per
sentimeter (Volt/Div) pada layar

Sakelar VOLT/DIV Osiloskop. Umumnya, Osiloskop


9
memiliki dua saluran (dual
channel) dengan dua Sakelar
VOLT/DIV. Biasanya tersedia
pilihan 0,01V/Div hingga 20V/Div.
Fungsi Variable pada Osiloskop
adalah untuk mengatur kepekaan
(sensitivitas) arah vertikal pada
saluran atau Channel yang

10 VARIABLE bersangkutan. Putaran Maksimum


Variable adalah CAL yang
berfungsi untuk melakukan
kalibrasi Tegangan 1 Volt tepat
pada 1cm di Layar Osiloskop.

Pilihan AC digunakan untuk


mengukur sinyal AC, sinyal input
yang mengandung DC akan
ditahan/diblokir oleh sebuah
Kapasitor. Sedangkan pada pilihan
11 AC – DC posisi DC maka Input Terminal
akan terhubung langsung dengan
Penguat yang ada di dalam
Osiloskop dan seluruh sinyal input
akan ditampilkan pada layar
Osiloskop.
Jika tombol GND diaktifkan, maka
Terminal INPUT akan terbuka,
12 GND Input yang bersumber dari
penguatan Internal Osiloskop akan
ditanahkan (Grounded).

VERTICAL INPUT CH-1 Sebagai VERTICAL INPUT untuk


13
Saluran 1 (Channel 1)
Sebagai VERTICAL INPUT untuk
14 VERTICAL INPUT CH-2 Saluran 2 (Channel 2)
Sakelar MODE pada umumnya
terdiri dari 4 pilihan yaitu CH1,
CH2, DUAL dan ADD.
CH1 = Untuk tampilan bentuk
gelombang Saluran 1 (Channel 1).
CH2 = Untuk tampilan bentuk
gelombang Saluran 2 (Channel 2).
DUAL = Untuk menampilkan

15 Sakelar MODE bentuk gelombang Saluran 1 (CH1)


dan Saluran 2 (CH2) secara
bersamaan.
ADD = Untuk menjumlahkan
kedua masukan saluran/saluran
secara aljabar. Hasil
penjumlahannya akan menjadi satu
gambar bentuk gelombang pada
layar.

Untuk pembesaran (Magnification)


16 x10 MAG frekuensi hingga 10 kali lipat.

Untuk penyetelan tampilan kiri-


17 POSITION kanan pada layar.

Pada fungsi XY ini digunakan,


Input Saluran 1 akan menjadi Axis
18 XY X dan Input Saluran 2 akan menjadi
Axis Y.

Sakelar TIME/DIV digunakan


19 Sakelar TIME/DIV
untuk memilih skala besaran waktu
dari suatu periode atau per satu
kotak cm pada layar Osiloskop.

Ini berfungsi untuk kalibrasi


20 Tombol CAL (TIME/DIV) TIME/DIV

Fungsi Variable pada bagian


21 VARIABLE Horizontal adalah untuk mengatur
kepekaan (sensitivitas) TIME/DIV.
GND merupakan Konektor yang
22 GND dihubungkan ke Ground (Tanah).

CHOP adalah menggunakan


potongan dari saluran 1 dan saluran
2.
23 Tombol CHOP dan ALT ALT atau Alternate adalah
menggunakan saluran 1 dan saluran
2 secara bergantian.

HOLD OFF HOLD OFF untuk mendiamkan


24
gambar pada layar osiloskop.
LEVEL atau TRIGGER LEVEL
digunakan untuk mengatur gambar
25 LEVEL yang diperoleh menjadi diam atau
tidak bergerak.

NORM : Pemicuan dilakukan

26 TOMBOL NORM dan AUTO secara normal


AUTO : Pemicuan dilakukan
secara otomatis

Tombol LOCK Memperlambat gerakan pada layar


27
osiloskop
Menunjukan hubungan dengan

28 Sakelar COUPLING sinyal searah (DC) atau bolak balik


(AC).

29 SAKELAR SOURCE Penyesuai pemilihan sinyal.

(Alternate) menggunakan
30 TRIGGER ALT bergantian Channel1 dan Channel
2
Normal digunakan yang +.

31 SLOPE Gunakan yang – untuk kebalikan


gelombang

EXT Trigger yang dikendalikan dari


32
rangkaian di luar Osiloskop.

Penampilan pada Layar (Display)


a. Layar Osiloskop
b. Trace, garis yang digambar oleh Osiloskop yang mewakili sinyal
c. Garis Grid Horizontal
d. Garis Grid Vertical
e. Garis Tengah Horizontal dan Vertikal
b. Tampak Belakang

Gambar 2.4. Port Osiloskop Tampak Belakang


Port kontrol dan indikator Osiloskop berdasarkan gambar diatas sebagai
berikut :
1. Security loop yaitu keamanan (Non Teknis)
2. Carrying Handle yaitu alat bantu untuk memindahkan osiloskop
3. Power On/Off yaitu menyalakan atau mematikan DSO BK-2542B
4. AC Line Input yaitu terminal kabel power dari sumber AC/PLN
5. Pass/Fail Output yaitu mengeluarkan sinyal sisa pemfilteran
6. LAN Interface Port yaitu terminal untuk kabel jenis LAN
7. RS232 Serial interface Port yaitu terminal untuk kabel serial
8. USB Device Interface Port yaitu Terminal untuk komunikasi dengan port
USB PC
9. Rear Rubber Feet yaitu penyangga osiloskop (Non teknis)
10. Ventilation Fan yaitu pendingin utama DSO

4. Cara Kerja Osiloskop


Bagian utama dari sebuah CRO adalah tabung sinar katoda (CRT =
Cathode-Ray Tube), sehingga disebut sebagai osiloskop sinar katoda.
Komponen CRT adalah pistol elektron (Electron Gun), pelat pembelok, layar
pendar dan tabung kaca pembungkus (lihat gambar 2.5). Pistol Elektron akan
menembakkan berkas elektron ke arah layar pendar, sehingga nampak di layar
sebagai pendaran sinar ketika elektron menabrak layar. Pada pistol elektron,
berkas eletron ini berasal dari katoda yang dipanasi sehingga elektron dapat
melepaskan diri dari atomatom material katoda, selanjutnya elektron akan
bergerak dipercepat ke arah anoda akibat beda tegangan yang diberikan antara
katoda dan anoda, dari sinilah istilah sinar katoda berasal.
Gambar 2.5. Skema Kerja Osiloskop

Setelah lepas dari pistol elektron, berkas elektron bergerak menuju layar
pendar akibat energi kinetik yang dimilikinya. Sebelum mencapai layar pendar,
berkas elektron akan bertemu dengan dua pasang lempeng pembelok, yaitu
sepasang lempeng pembelok arah vertikal dan sepasang lempeng pembelok
arah horizontal. Lempeng pembelok ini berupa logam yang diberi tegangan,
sehingga elektron akan berbelok ketika melewati medan listrik yang
dibangkitkan oleh lempeng ini. Lempeng pembelok arah vertikal dihubungkan
dengan pengua vertikal yang tersambung dengan jalur masukan sinyal,
sehingga simpangan pada arah vertikal dari berkas elektron akan mengikuti
bentuk simpangan dari sinyal yang masuk ke CRO. Besarnya penguatan dapat
diatur oleh pengguna CRO melalui tombol VOLT/DIV.
Lempeng pembelok arah horizontal dihubungkan dengan penguat
horizontal yang tersambung dengan generator basis waktu (time base
generator) atau disebut juga generator ‘sapuan’ (sweep generator) milik CRO.
Generator sapuan ini membangkitkan sinyal berbentuk
gigi gergaji sehingga beda tegangan antar lempeng pembelok horizontal
mengalami kenaikan beda tegangan secara linear, kemudian jatuh ke nilai nol
dan kembali naik secara linear. Bentuk sinyal ini menyebabkan berkas elektron
akan ‘menyapu’ layar dari tepi kiri ke tepi kanan layar, kemudian kembali
terulang secara terus menerus. Besarnya penguatan pada arah horizontal ini
dapat diatur dengan pengguna CRO melalui tombol TIME/DIV.
Apabila sinyal masukan bersifaf periodik, tampilan yang stabil di layar CRT
dapat dimunculkan dengan memulai sapuan horizontal pada titik yang sama di
layar. Untuk melakukan ini, sampel dari sinyal masukan diteruskan ke
rangkaian pemicu (trigger circuit) yang akan memicu pulsa yang digunakan
untuk menyalakan generator sapuan yang selanjutnya akan memulai sapuan
arah horizontal dari arah kiri layar.

III. Alat dan Bahan


Tabel 3.1 Alat dan Bahan

NO Alat dan Bahan Jumlah Jumlah

1 Resistor 33 KΩ 1 Buah

2 Kapasitor 10 µF 1 Buah

3 Transformator 220/3 Volt 1 Buah

AFG (Audio Frekuency


4 Generator) 1 Buah

6 Osiloskop 2 saluran 1 Buah

7 Kabel Secukupnya 16 Buah

8 Multimeter 1 Buah

9 Papan Percobaan 1 Buah


IV. Prosedur Percobaan
1. Mengukur besar tegangan dan frekuensi
a. Osiloskop pada percobaan A (kalibrasi), Menggunakan salah satu saluran
saja , sehingga tombol “MODE” perlu disesuaikan dengan saluran yang
akan digunakan. Mengukur tegangan dari AFG dengan Voltmeter sebesar
5 volt , serta mengatur frekuensinya ±1Hz
b. Mengukur keluaran AFG dengan osiloskop , mengatur skala “volt/div”
maupun “time/div” sehingga diperoleh gambar yang jelas.
c. Menggambar bentuk-bentuk gelombangnya pada kertas millimeter blok
lengkap dengan skala volt/div dan time/div-nya
d. Menunjukan berapa tegangan maksimum dan tegangan puncak ke puncak
yang terlihat pada layar masing-masing gelombang
e. Menunjukan pula seberapa besar frekuensi yang ditunjukan pada layar
osiloskop

2. Mengukur Beda Phasa


a. Membuat rangkaian seperti gambar 4.1 dibawah ini :
X / Ch1
R = 33Kµ
AC

Y / Ch2
C = 10µF

GND1

Gambar 4.1. Rangkaian Beda Phasa


b. Mengukur AFG pada skala sinusoidal 1 Khz dengan tegangnya 2 volt,
Mengatur osiloskop pada metode “dual” dan skala sweep time/div.
c. Menggambar bentuk gelombang lengkap dengan skala volt/div dan sweep
time/div. menunjukan besar beda phasanya
d. Mengubah saklar sweep time/div pada posisi X-Y dengan saklar pemilih
10 dan 19 pada posisi ground , mengatur tombol posisi sehingga diperoleh
titik cahaya ditengah skla sumbu.
e. Mengubah saklar pemilih 10 dan 19 ke posisi AC . Menggambar hasil
pengukuran dengan skala volt/div dan sweep time/div, serta menghitung
besar beda phasanya.
3. Pengukuran Frekuensi dengan lissajous
a. Membuat rangkaian seperti gambar 4.2 dibawah ini :

220

Ch2
Gambar 4.2. Pengukuran Frekuensi
b. Mengatur tegangan keluaran AFG sama dengan 3 volt. Osiloskop diatur
seperti pada percobaan 2.
c. Mengatur frekuensi AFG sehingga didapat gambar pada layar

A B C

Gambar 4.2 Lissajous beberapa frekuensi


d. Menghitung perbandingan frekuensi trafo dengan frekuensi AFG ,
membandingkan dengan yang tertera dalam skala AFG
e. Mematikan Osiloskop dengan skala volt/div pada skala besar
V. Hasil Percobaan
VI. Gelombang Kalibrasi

Gambar 5.1. Gelombang Kalibrasi


Diketahui :
CH1 dan CH2
V/div = 1 V/div , Time/div = 0,5 ms/div
Sehingga :
Vp-p = 2 div x 1 V/div = 2 Volt
f=1, T = 2 div x 0,5 ms/div = 1 ms
T
1
f= 1X 10−3
= 1000 Hz = 1 kHz

1. Percobaan I
2. Gelombang dari Pengukuran Tegangan dan Frekuensi

Gambar 5.2. Gelombang dari Pengukuran Tegangan dan Frekuensi


Diketahui :
Tegangan dan Frekuensi di AFG : V= 5 Volt dan f = 1 kHz
CH1 : V/div = 5 V/div , Time/div = 0,5 ms/div
Sehingga :
Vp-p = 2,0 div x 5 V/div = 10 Volt
Vmax = 1,4 X 5 = 7 Volt
V max 7 = 4,94 Volt
Vrms = =
√2 √2

T = 2,1 div x 0,5 ms/div = 1,05 ms


1
f= 10 -3
= 1 kHz

a. Percobaan IGelombang dari Rangkaian R-C

Gambar 5.3. Gelombagn dari Rangkaian R-C


Diketahui :
Tegangan dan Frekuensi di AFG : V= 2 Volt dan f = 1 kHz
CH1 : V/div = 2 V/div , Time/div = 0,5 ms/div
CH2 : V/div = 1 V/div , Time/div = 0,5 ms/div
Sehingga beda sudut phasanya :
θ = ∆L x 360o = 0,4 x 360o = 72o
I 2

b. Gelombang X-Y (Lissajous)

Gambar 5.4. Gelombang Lissajous


Diketahui :
Tegangan dan Frekuensi di AFG : V= 2 Volt dan f = 1 kHz
CH1 : V/div = 2 V/div , Time/div = 0,5 ms/div
CH2 : V/div = 1 V/div , Time/div = 0,5 ms/div
A = 1,1 , B = 1,2
Sehinnga :

Arc sin A = Arc sin 1,1 = 66,44o


B 1,2

3. Percobaan III
4. Gelombang Lissajous Bentuk 8

Gambar 5.5. Gelombang Lissajous Bentuk 8

Dari hasil gambar dari osiloskop, alat ukur menunjukkan frekuensi sebesar :

f = 99,7 Hz

a. Gelombang Lissajous Bentuk O

Gambar 5.6. Gelombang Lissajous Bentuk O


Dari hasil gambar dari osiloskop, alat ukur menunjukkan frekuensi sebesar :

f = 50,98 Hz

b. Gelombang Lissajous Bentuk Berantakan

Gambar 5.7. Gelombang Lissajous Bentuk Berantakan

Dari hasil gambar dari osiloskop, alat ukur menunjukkan frekuensi sebesar :

f = 33,52 Hz

VII. Analisis Hasil Percobaan


a. Analisis Perhitungan
Rumus Mencari Priode dapat menggunakan Rumus Sebagai Berikut :

1 (1)
T=
f

Rumus Mencari Frekuensi dapat menggunakan Rumus Sebagai Berikut :

1 (2)
f=
T

Rumus Mencari Vp-p dapat menggunakan Rumus Sebagai Berikut :

Vp−𝑝 = 𝑉𝑝 . 2 (3)

Rumus Mencari Vp dapat menggunakan Rumus Sebagai Berikut :

𝑉𝑉−𝑉 (4)
𝑉𝑉 = 𝑉𝑉𝑉𝑉 =
2
Rumus Mencari Vrms dapat menggunakan Rumus Sebagai Berikut :

(5)
V r m s=
√2

Rumus Mencari beda fase dapat menggunakan Rumus sebagai berikut:

θ = ∆L x 360o (6)
I

Rumus untuk metode Lissajous

Metode X-Y (Lissajous) dapat ditentukan perbandingan besar frekuensi


dua gelombang listrik, yang salah satunya dapat dicontohkan seperti pada
gambar berikut:

Gambar 5.1 Lissayous Beda Phasa


fx nx
Perbandingannya adalah :
fy
= ny
(7)

Dimana :

fx = frekuensi pada colok x


fy = frekuensi pada colok y
nx = jumlah lengkungan yang menyinggung garis horizontal
ny = jumlah lengkungan yang menyinggung garis vertikal
b. Perhitungan Secara Teori
Dalam mengetahui perbandingan antara pengukuran dengan teori, maka
dari itu menentukan nilai secara teori sebagai berikut :
1. Kalibrasi Osiloskop
a. Tegangan
Diketahui 2 div dari puncak ke puncak dan 1 V/div
Vp-p = 2 div . 1 V / Div
=2V
Dalam hal ini sesuai dengan tegangan peak to peak yang tertulis pada
osiloskop
b. Frekuensi
Diketahui 2 div dalam satu gelombang dan 0,5 ms/div
1 ms
f= T = 2div. 0,5
T div
1
=
1ms
= 1KHz

Dalam hal ini sesuai dengan frekuensi yang tertulis pada osiloskop

2. Percobaan I
Dalam percobaan ini tegangan dari AFG sebesar 5 Volt serta frekuensi
sebesar 1 kHz, sehigga dalam percobaan dapat menentukan besar
tegangan dan frekuensinya sebagai berikut :
a. Tegangan
Diketahui Vrms =5V

Sehingga :

Vmax = Vrms x 1,4

= 5 x 1,4

=7V
Vp-p =2X5
= 10
= 10 V
b. Frekuensi
Diketahui frekuensi 1 kHz
Sehingga
1
f=
T
T = 1= 1
= 1 ms
f 1000Hz

3. Percobaan II
Percobaan mengukur beda phasa, dalam percobaan ini tegangan dari
AFG sebesar 2 Volt serta frekuensi sebesar 1 kHz, sehigga dalam
percobaan dapat menentukan besar sudut θ sebagai berikut :
Rangkaian RC :
𝑍𝑅 = 33000 Ω∠0°
𝑍𝐶 = 𝑋𝐶 =1 /𝜔𝑐
= 1 2𝜋𝑓𝑐
= 1 2𝜋×1000×10−8
= 1 2𝜋.10−5
= 105 2𝜋
= 15923 Ω
= 15,923 𝐾Ω∠−90°
𝑍𝑇 = 𝑍𝑅 + 𝑍𝐶
= 33000∠0°+ 15923∠ −90°
= 36640,71 ∠−25,75°
𝐼 =2 ∠ 0° 36640,71 ∠−25,75°
= 5,45 ×10−5∠ 25,75°
= 0,0545 𝑚𝐴 ∠ 25,75°
𝑉𝑅 = 𝐼 ×𝑍𝑅
= 0,0545 𝑚𝐴 ∠ 25,75° × 33000∠0°
= 1,79∠ 25,75°
𝑉𝑅(𝑡) = 1,79√2sin (𝜔𝑡+25,75)
𝑉 = 2 𝑉∠ 0°
𝑒(𝑡) = √2 𝑥 2 𝑆𝑖𝑛 𝜔𝑡
= 2,82 𝑆𝑖𝑛 𝜔𝑡
𝑉𝐶 = 𝐼 × 𝑍𝐶
= 0,0545 𝑚𝐴 ∠ 25,75° × 15923∠ −90°
= 0,86∠−64,25°
𝑉𝐶(𝑡) = 0,86√2sin (𝜔𝑡−64,25)
𝑏𝑒𝑑𝑎 𝜃= 64,25°
4. Percobaan III
Pengukuran frekuensi dengan metode Lissajous, dalam percobaan ini
tegangan keluaran pada AFG adalah 3 Volt. Sehingga osiloskop diatur
untuk mendapatkan gambar seperti Gambar 4.2. Untuk menghitung
pengukuran frekuensi lissajous maka dapat menggunakan rumus seperti
dibawah ini dan langkah-langkah penyelesesaiannya :

a. Perhitungan Gambar A pada Gambar 4.2

b. Perhitungan Gambar B pada Gambar 4.2

c. Perhitungan Gambar C pada Gambar 4.2


Perhitungan Persentase Kesalahan

Dalam Mengetahui besarnya perbedaan antar praktek dan teori maka


digunakan sebuah rumus yang disebut Error (%), kemudian dengan
mengambil contoh pada tabel 5.1
Perhitungan−Pengukuran
𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟 (%) = Perhitungan
X 100 %
2−2
= 2
X 100%
=0%
Untuk menentukan error pada perbandingan percobaan yang lain dapat
menggunakan rumus yang sama dengan diatas dan hasil error dapat
dilihat pada tabel 6.1, 6.2, 6.3 dan 6.4

Tabel 6.1 Perbandingan teori dan praktek pengkalibrasi osiloskop


Vp-p Frekuensi
Teori Praktek Error Teori Praktek Error
(V) (V) (%) (Hz) (Hz) (%)
2 2 0% 1000 1000 0

Tabel 6.2 Perbandingan teori dan praktek perhitungan tegangan dan frekuensi
Vp-p (V) Vmax (V) Vrms (V) Frekuensi (Hz)
T P % T P % T P % T P %
15 10 20 7,5 7 6,6 5 4,94 1,2 1000 1000 0

Tabel 6.3 Perbandingan teori dan praktek pengukuran beda fasa rangkaian RC
Ɵ
Teori (°) Praktek (°) Error (%)
64,25° 68,57 6,7
Tabel 6.4 Perbandingan teori dan praktek perhitungan frekuensi dengan lissajous
Fy1 Fy2 Fy3
Teori Praktek Error Teori Praktek Error Teori Praktek Error
(Hz) (Hz) (%) (Hz) (Hz) (%) (Hz) (Hz) (%)
100 99,8 0,2 50 50,13 0,26 33,3 30,05 9,7

Analisa Hasil Praktikum

Setelah melakukan percobaan dan perhitungan teori hasil analisa yang kami
peroleh yaitu:

1. Berdasarkan data yang ditunjukkan tabel 6.1, pada percobaan kalibrasi


kami memperoleh persentase kesalahan (error) yaitu 0% ini dikarenan
tingginya ketelitian oleh praktikan. Di mana pada osiloskop untuk kalibrasi
Vp-p 2 Volt dan frekuensi 1 kHz. Kalibrasi ini dilakukan untuk agar
pengukuran yang dilakukan dapat meningkatkan keakuratan nilai.
2. Berdasarkan data yang ditunjukan pada tabel 6.2 didapatkan hasil
perhitungan Vp-p, Vmax, dan Vrms,. Dari perbedaan tersebut kita dapat
menentukan persentase kesalahan (error) sebesar ±6%. Hal ini mungkin
disebabkan karena beberapa faktor seperti kurang teliti praktikan dalam
membaca alat ukur, sehingga gelombang yang dihasilkan pada osiloskop
tidak akurat. Untuk frekuensinya diperoleh data yang sama antara teori dan
praktek yaitu sebesar 1000 Hz. Berdasarkan data tersebut diperoleh
kesalahan sebesar 0% sehingga antara pengukuran dan perhitungan
manual didapatkan hasil yang sinkron.
3. Berdasarkan yang ditunjukka pada tabel 6.3. didapatkan hasil
perbandingan sudut phasa (θ), di mana perbedaan ini cukup jauh yang
selisihnya 4,32 sehingga besar persentase kesalahannya 6,7 %. Hal ini
mungkin disebabkan karena beberapa faktor seperti tidak rapatnya
kapasitor pada papan percobaan atau kurang telitinya praktikan dalam
membaca alat ukur dan penentuan besaran output dari AFG , sehingga
gelombang yang dihasilkan pada osiloskop tidak akurat.
4. Berdasarkan data yang ditunjukkan pada tabel 6.4. terjadi perbedaan antara
teori dan praktek. Di mana hasil dari teori dan praktek tidak jauh berbeda.
Dalam percobaan ini tiga bentuk yang diukur yang dari data tersebut kita
dapat mengetahui persentase kesalahannya sebesar ±0.2 % Adanya
perbedaan yang ada mungkin disebabkan oleh kurang telitinya praktikan
dalam menentukan dan membaca alat ukur.
VIII. Kesimpulan
Setelah melakukan praktik, perhitungan teori dan menganalisis percobaan
dapat disimpulkan :
1. Bentuk gelombang listrik yang terlihat pada layar osiloskop berupa
gelombang sinusoidal dan gelombang lissajous.
2. Mengukur besar tegangan maksimum maupun puncak ke puncak dari
masing gelombang listrik, dengan melihat gelombang listrik kita dapat
menentukan besar tegangan dan tegangan puncak ke puncaknya, selain
besar tegangan frekuensi dan periode juga dapat ditentukan dengan melihat
v/divnya dan time/divnya dengan rumus :

Vp-p = jumlah div vertikal puncak ke puncak x skala v/div

T = Jumlah div horizontal 1 gelombang x skala T/div

f=1

3. Mengukur perbandingan frekuensi dari gelombang listrik . Hal ini dapat


dilakukan dengan metode X-Y (Lissajous). Dengan menggunakan rumus :
𝑉𝑉
=
𝑉𝑉
𝑉𝑉
4. Mengukur beda phasa dengan metode dua saluran dan metode x-y dengan
menggunakan dua saluran , maka akan terlihat dua gelombang. Jika
menggunakan metode X-Y , akan terlihat gambar lissajous . beda phasa
dapat dihitung dengan perhitungan masing-masing metode
5. Menghitung dan membedakan nilai frekuensi untuk gelombang listrik yang
berbeda-beda menggunakan metode lissajous. Di dalam percobaan in
terdapat frekuensi secara teori dan praktek memiliki perbedaan yang kecil ±
0,13.
DAFTAR PUSTAKA

[Online]. Diakses pada tanggal 8 April 2019 dari


https://teknikelektronika.com/bagian-bagian-osiloskop-kontrol-dan-indikator-
osiloskop/

[Online]. Diakses pada tanggal 8 April 2019 dari


https://id.scribd.com/doc/257926839/MAKALAH-PENGUKURAN-
LISTRIK-OSILOSKOP-pdf

------- . 2019. Jobsheet Laboratorium Pengukuran Dasar. Makassar:


Politeknik Negeri Ujung Pandang
LAMPIRAN

Gambar 9.1. Kalibrasi Gambar 9.2. Percobaan I

Gambar 9.3. Percobaan II Gambar 9.4 Percobaan II (X-Y)

Gambar 9.5 Percobaan III (A) Gambar 9.5 Percobaan III (B)
JAWABAN PERTANYAAN

Soal 1
Gambarkan proses terjadinya gambar lissajous pada percobaan D langkah
kerja 2 dan 3 !
Solusi
Untuk gambar proses terjadinya lissajous pada percobaan tersebut, dapat
dilihat pada hasil percobaan Gambar 5.6.
Soal 2

Berapa beda fasa antara AFG dengan trafo pada percobaan D ?

Solusi
Beda fasa pada metode Lissajous :
Untuk menentukan beda fasa antara AFG dan trafo pada perc. D, digunakan
formula
𝑉
−1 ( )
𝑉= 𝑉

𝑉𝑉𝑉

Gambar 1

Gambar 1 jawaban pertanyaan

𝑉 1
𝑉= 𝑉𝑉𝑉−1( 𝑉 ) = 𝑉𝑉𝑉−1 ( 1 ) = 𝑉𝑉𝑉−1 ( 1 ) = 𝑉𝑉°
Jadi, beda fasa (𝑉) antara AFG dan Trafo berdasarkan gambar di atas, adalah
90o

Untuk gambar 1 diatas, dapat pula ditentukan perbandingan frekuensi antara


trafo dan AFG, menggunakan rumus:

𝑉𝑉 𝑉𝑉
=
𝑉𝑉 𝑉𝑉

Ket :

Fx = frekuensi trafo (50 Hz)


Fy = frekuensi AFG

Nx = jumlah lengkungan yang menyinggung garis horizontal


Ny = jumlah lengkungan yang menyinggung garis vertikal
𝑉𝑉 2
=
𝑉𝑉 2

𝑉𝑉 1
=
𝑉𝑉 1

Gambar 2

Gambar 2 jawaban pertanyaan

Untuk gambar 2, fx : fy = 2 : 4 = 1 : 2

Untuk gambar lissajous yang kedua di atas, berdasarkan ketentuan bahwa :

a. Gambar lissajous yang dapat ditentukan beda fasanya, ialah lissajous yang 2
gelombang pembentuknya bernilai sama frekuensinya
b. Lissajous yang hanya terdiri dari 1 lingkaran2.
Maka, berdasarkan bentuk gambar di atas yang berbentuk 2 lingkaran yang
berimpit, maka

𝑉𝑉 𝑉𝑉
=
𝑉𝑉 𝑉𝑉
𝑉𝑉 4 2
= =
𝑉𝑉 2 1

Ket :

fx = frekuensi trafo (50 Hz)

fy = frekuensi AFG

nx = jumlah lengkungan yang menyinggung garis horizontal

ny = jumlah lengkungan yang menyinggung garis vertikal

Soal 3
Sebutkan keuntungan dan kerugian osiloskop sebagai pengukur tegangan !
Solusi
Keuntungan :
a. Dapat digunakan untuk mengukur Vp-p, Vp(maks), Veff(RMS) dan Vrata-rata , dari
suatu bentuk gelombang sinusoidal sinyal-sinyal masukan.
b. Dapat memperagakan bentuk dari gelombang tegangan-tengangan
masukan, melalui permukaan layar dalam bentuk bintik cahaya yang
bergerak dari kiri ke kanan.
c. Penggunaan Osiloskop sinar katoda (CRO), dapat melengkapi suatu cara
pengamatan terhadap tegangan yang berubah terhadap waktu.
d. CRO dapat menyajikan gambaran visual dari berbagai fenomena dinamik
melalui pemakaian transduser dan mengubah arus, tekanan, regangan,
temperatur, percepatan dan banyaknya besaran fisis lainnya menjadi
tegangan.
Kerugian :

 Pengamatan sinyal-sinyal listrik dengan osiloskop mempunyai keterbatasan


dalam perbandingan frekuensi antar sinyal-sinyal tersebut (perbandingan
maksimum 10:1), sehingga penggunaan cukup terbatas.
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

------- . 2016. JobsheetLaboratoriumPengukuranDasar. Makassar: Politeknik Negeri Ujung Pandang

https://teknikelektronika.com/bagian-bagian-osiloskop-kontrol-dan-indikator-osiloskop/

http://belajarelektronika.net/pengertian-osiloskop-kegunaan-dan-cara-kerjanya/