Anda di halaman 1dari 3

Artikel ini telah tayang di Kompas.

com dengan judul "Melihat Detil Aturan Tarif PPh Final UMKM
0,5 Persen", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/06/26/090800326/melihat-detil-aturan-tarif-
pph-final-umkm-0-5-persen.
Penulis : Andri Donnal Putera
Editor : Erlangga Djumena

Pemerintah berencana menurunkan tarif PPh Final bagi pelaku usaha mikro, kecil dan
menengah (UMKM) dari 1% menjadi 0,25% dari peredaran usaha bruto, dan rencana ini
telah masuk dalam APBN 2018. Di awal di tetapkan aturan ini pada tahun 2013 telah
memunculkan kontroversi walaupun tujuan awalnya untuk memberikan kemudahan kepada
Wajib Pajak orang pribadi dan badan yang memiliki peredaran bruto tertentu. Salah satu
kontroversi adalah unsur keadilan dalam pengenaan PPh Final ini karena dasar pengenaannya
adalah peredaran usaha bruto (omzet), entah menghasilkan keuntungan atau malah
mengalami kerugian tetap di kenakan PPh Final tarif 1% dari peredaran usaha bruto (omzet).

Telah 4 (empat ) tahun sejak di tetapkan PP 46 ini ternyata memberikan peluang bagi Wajib
Pajak untuk melakukan kecurangan dalam melaporkan kewajiban perpajakannya terutama
terkait pelaporan SPT Tahunan PPh baik SPT PPh OP maupun PPh Badan. Bentuk
kecurangan yang lazim di lakukan Wajib Pajak adalah tidak melaporkan keseluruhan
peredaran usahanya. Salah satu praktek kecurangan yang masih di lakukan adalah
melaporkan peredaran usaha dalam SPT PPh OP maupun SPT PPh Badan hanya sebesar di
bawah batasan sebagaimana di tetapkan dalam PP 46 tahun 2013 yaitu sebesar Rp. 4,8
Milyar. Modus yang di gunakan adalah menyamarkan pembelian dengan cara membeli
barang baik barang dagangan maupun bahan baku dengan menyamarkan dokumen faktur
pajak sehingga tidak terlacak oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa menyamarkan faktur pajak dalam rangka
pembelian barang ? Modus yang paling sering di gunakan adalah menggunakan beberapa
cara sebagai berikut :

 Melakukan pembelian barang dagangan yang tidak berfaktur pajak, biasanya ini berasal dari
barang barang yang di Impor dengan cara titip impor (importir barang campuran).
 Melakukan pembelian dengan menggunakan nama lain dan menggunakan NPWP
00.000.000.0-000.000 sebagai identitas pembeli, hal ini di akomodir dengan
memanfaatkan Grey AreaPasal 17 ayat (2) Peraturan Dirjen Pajak PER - 24/PJ/2012 yang
menyatakan bahwa : "Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) huruf e Undang-Undang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan adalah dalam hal Faktur Pajak tidak memuat keterangan mengenai :
1. Nama , alamat dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima
Jasa Kena Pajak; atau
2. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima
Jasa Kena Pajak, serta nama dan tandatangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak
untuk Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran."

Praktek umum yang di lakukan dengan menggunakan dasar Pasal 17 ayat (2) Peraturan
Dirjen Pajak PER - 24/PJ/2012 pembeli dan penjual bersepakat untuk bertransaksidengan
menggunakan nama lain dan NPWP 00.000.000.0-000.000 dalam dokumen Faktur Pajaknya.
Secara sepintas PKP Penjual merasa aman karena ini tidak bisa dikenakan sanksi STP
sebagaimana diatur di Pasal 14 ayat (1) huruf e UU KUP, akan tetapi sebenarnya ini
merupakan pelanggaran atas Pasal 39A UU KUP yang berbunyi :

" Setiap orang yang dengan sengaja:

1. menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti


pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang
sebenarnya; atau
2. menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam)
tahun serta denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti
pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak dan paling banyak
6 (enam) kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan
pajak, dan/atau bukti setoran pajak."

Pelanggaran atas Pasal 39A UU KUP ini dapat di buktikan dengan dokumen yang di jadikan
dasar transaksi yaitu dengan Faktur Pajak yang menggunakan Nama Lain serta NPWP
00.000.000.0-000.000sebagai identitas pembeli di confirm dengan dokumen surat jalan,
invoice serta bukti pembayaran (arus uang dan barang) dari konsumen kepada penjual
(penerbit faktur pajak) yang tidak mencerminkan transaksi sebenarnya.

Atas praktek umum yang masih di lakukan dengan menerbitkan faktur pajak dengan
menggunakan nama lain serta NPWP 00.000.000.0-000.000 sebagai identitas pembeli
dengan tujuan menyamarkan pembelian ini di harapkan Direktorat Jenderal Pajak
melakukan law enforcment terhadap PKP penerbit faktur tersebut dengan menerapkan Pasal
39A UU KUP.

Berdasarkan uraian di atas dan atas praktek kecurangan yang masih umum di lakukan Wajib
Pajak yang mengaku UMKM dengan masih menyembunyikan peredaran usaha yang
sebenarnya dengan hanya melaporkan peredaran usahanya kurang dari 4,8 Milyar rupiah
dengan memanfaatkan kelemahan Dirjen Pajak PER-24/PJ/2012, penulis mengusulkan agar
di lakukan revisi atau perubahan atas Peraturan Dirjen Pajak PER-24/PJ/2012 terlebih dahulu
terutama pasal 17 ayat (2) agar hanya di berlakukan kepada PKP Pedagang Eceran saja atau
yang hanya melakukan penjualan ke konsumen akhir, sedangkan dari pabrikan/distributor ke
pedagang eceran (dimaksudkan untuk dijual kembali) diterapkan Wajib mengisi identitas
dengan jelas dan lengkap terutama kolom NPWP walaupun pembeli bukan merupakan PKP.
Setelah itu baru di lakukan revisi atas tarif PP No 46 tahun 2013 agar penurunan tarif PP 46
ini tepat sasaran yaitu ke UMKM bukan Wajib Pajak yang mengaku UMKM karena adanya
celah memanfaatkan penerbitan faktur pajak dengan menggunakan NPWP 00.000.000.0-
000.000.

https://forumpajak.org/pph-final-umkm-perbedaan-pp-46-tahun-2013-dengan-pp-23-tahun-2018/

Faktor produksi tenaga kerja dan juga faktor produksi alam ini termasuk faktor
produksi asli. Ini karena dengan hanya menggunakan dua faktor produsi tersebut,
manusia sudah bisa menghasilkan barang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
meski masih dengan hasil sedikit.

Seiring dengan perkembangan zaman yang membuat ilmu dan teknologi semakin
maju, maka kebutuhan hidup manusia pun ikut berkembang. Manusia kemudian
dituntut untuk bisa memproduksi berbagai hal yang dapat digunakan dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya secara lebih baik, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

https://azkhastores.wordpress.com/materi-kuliah/penentuan-harga-transfer-transfer-pricing/

http://riansy01.blogspot.com/2016/10/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

https://superkurnia.wordpress.com/2015/09/11/teori-asimetri-informasi/

http://www.ganipramudyo.web.id/2016/11/resume-assimetri-informasi.html

https://www.akseleran.com/blog/diversifikasi-investasi/

https://www.moneysmart.id/diversifikasi-investasi-itu-apa-sih-yuk-kenalan/