Anda di halaman 1dari 7

VARIASI INTRA POPULASI

Oleh :
Nama : Arlina Setyoningtyas
NIM : B1A017150
Rombongan :1
Kelompok :1
Asisten : Pradina Damayanti

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

LABORATORIUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN


FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekumpulan makhluk hidup dari spesies yang sama yang hidup pada suatu waktu
dan kawasan tertentu serta saling berinteraksi disebut dengan populasi. Oleh karena
populasi berasal dari spesies yang sama, maka individu di dalam populasi mempunyai
potensi melakukan kawin silang yang akan menghasilkan keturunan yang fertil (mampu
bereproduksi). Ciri-ciri dari suatu populasi yaitu memiliki kesamaan morfologi,
memiliki kesamaan fungsi fisiologi, dapat melakukan perkawinan silang dan dapat
menghasilkan keturunan yang fertil (Syamsuri et al., 2007).
Variasi yang dapat terjadi dalam suatu populasi, terjadi pada spesies yang sama,
tetapi memiliki phena yang berbeda disebut dengan variasi intra populasi. Variasi intra
populasi yaitu perbedaan-perbedaan yang terdapat pada hewan-hewan dalam suatu
populasi. Variasi di alam dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor genetik dan
faktor non genetik. Faktor genetik yaitu faktor yang mempengaruhi variasi spesies
dikarenakan oleh peristiwa pewarisan sifat dari tetua ke keturunannya, yaitu melalui
faktor pembawa keturunan (DNA). Faktor non genetik yaitu faktor yang memengaruhi
variasi spesies dalam populasi dikarenakan faktor selain genetik, yaitu seperti
dikarenakan variasi umur, variasi musiman pada suatu individu, variasi sosial, variasi
habitat (Inger & Iskandar, 2005).
Phena adalah istilah untuk menunjuk perbedaan bentuk atau fenotip yang terjadi
dalam satu populasi (varian individu) contohnya itik jantan berbulu cerah (Anas
boschas) dan itik betina berbulu coklat: (A. platyrhynchos), elang dewasa (Accipiter
palumbarius) dan elang remaja (A. gentilis) (Zug, 1997). Beberapa phena yang berbeda
berasal dari populasi suatu hewan, sebagai hasil dari beberapa proses seperti variasi
umur, variasi seksual, variasi musiman, polimorfisme dan sebagainya. Variasi yang
tidak mengalami keberhasilan akan berakibat pada kesalahan dalam penentuan suatu
species dan kategori tertentu. (Djuhanda, 1982).

B. Tujuan

Tujuan Praktikum acara Variasi Intra Populasi antara lain :


1. Praktikan dapat mengambil berbagai variasi (umur, seksual, musiman,
polimorfisme, dsb) pada suatu populasi hewan.
2. Praktikan dapat menentukan spesies hewan berdasarkan berbagai variasi yang
terdapat pada suatu populasi hewan.
3. Praktikan dapat menggunakan software aplikasi komputer dalam penelitian tentang
variasi intra atau anter populasi.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Terdapat dua faktor utama yang memengaruhi variasi, yaitu faktor genetik dan
faktor non genetik. Faktor genetik yaitu faktor yang mempengaruhi variasi spesies
dikarenakan oleh peristiwa pewarisan sifat dari tetua ke keturunannya, yaitu melalui
faktor pembawa keturunan (DNA). Faktor non genetik yaitu faktor yang mempengaruhi
variasi spesies dalam populasi dikarenakan faktor selain genetik (Inger & Iskandar,
2005). Macam-macam faktor non-genetik menurut Hickman (1992), diantaranya sebagai
berikut:
1. Variasi individu berdasarkan waktu yaitu variasi yang terjadi pada tahapan-tahapan
proses perkembangan spesies hewan, yang berbeda secara morfologi dengan
dewasanya. Contohnya yaitu udang Pennaeus, dimana bentuk zoea, nauplius, dan
juvenile-nya berbeda dengan yang dewasanya.
2. Variasi sosial, variasi ini terdapat pada hewan yang hidup secara berkoloni.
Contohnya adalah rayap yang hidup secara berkoloni akan menunjukkan adanya
kasta di antaranya pekerja, tentara, dan ratu (reproduktif) yang memiliki perbedaan
morfologi.
3. Variasi karena kepadatan. Hewan tertentu akan memperlihatkan perbedaan
morfologi berdasarkan kepadatannya. Contohnya adalah belalang yang hidup
berkoloni akan memperlihatkan morfologi yang berbeda berdasarkan tiga fase
berbeda yaitu bersifat soliter (jika jarang), bersifat transisi (jika agak padat), dan
bersifat koloni (jika padat).
4. Variasi allometrik (heterogenik), suatu jenis ikan akan menunjukkan adanya
perbedaan sifat tumbuh yaitu allometrik dengan pertambahan panjangnya lebih
cepat daripada bobotnya atau pertambahan bobotnya lebih cepat daripada
pertambahan panjangnya.
5. Variasi musim. Ikan nila jantan dalam keadaan normal sirip dorsal dan kaudalnya
tidak berwarna, dan pada musim pemijahan kedua sirip itu akan berwarna merah
cerah. Aves yang dalam keadaan normal warna bulunya tidak cerah, pada musim
kawin warnanya cerah.
6. Variasi neurogenik, yaitu variasi yang muncul karena adanya respon terhadap
kondisi lingkungan, yang berupa penyebaran dan berkumpulnya kromatofora
(pigmen warna pada hewan). Contohnya pada bunglon.
7. Variasi traumatik. Variasi ini pada umumnya terjadi karena hewan terinduksi suatu
parasit. Contohnya Stylopirosi andrena. Jantan akan memperlihatkan perubahan
bulu yang bertambah panjang, ukuran panjang antenna berubah dan ukuran genitalia
tereduksi. Betina akan memperlihatkan perubahan pada organ pengumpul nektarnya
tereduksi, panjang segmen antenna berubah, dan organ aksesori tereduksi.
8. Variasi habitat, bivalvia tertentu yang hidup di daerah hulu dan hilir di suatu sungai
akan menunjukkan perbedaan morfologi cangkangnya. Kondisi ini merupakan
variasi lokal.
Variasi genetik yaitu suatu variasi yang terjadi karena berkaitan dengan genotip.
Variasi genetik di antaranya adalah seksual dimorfisme, gynandromorfi, interseks,
uniparental, strain seksual, variasi kontinyu, variasi diskontinyu, dan polimorfisme.
Seksual dimorfisme merupakan suatu individu yang memiliki kelamin yang berbeda
seperti perbedaan sek primer dan sekunder (yang merupakan perbedaan paling nyata).
Contoh dari seksual dimorfisme ditunjukkan dalam morfologi kadal jantan dan betina
(Abbott, 2011).
Suatu penampakan morfologi genetik pada satu individu memiliki sebagian
karakter jantan dan sebagian lagi karakter betina Gynandromorph. Contoh dari
Gynandromorph adalah pada sayap kupu–kupu yang terdapat karakter jantan pada sayap
bagian anterior sementara pada sayap bagian posterior memiliki karakter betina. Suatu
individu yang memiliki alat reproduksi campuran baik jantan maupun betina sehingga
tidak dapat diketahui (dilihat) disebut dengan interseks. Contoh dari interseks terdapat
pada penderita sindrom klinefelter. Uniparental adalah individu yang merupakan
keturunan dari satu parental dan memiliki karakter yang identik dengan parentalnya,
contoh cacing pita (Abbott, 2011).
Strain seksual adalah suatu galur atau varietas yang berbeda pada suatu spesies,
contoh lalat buah (Drosophila sp.). Variasi kontinyu adalah kemiripan antar spesies yang
terjadi karena perubahan evolusi. Variasi diskontinyu adalah variasi yang disebabkan
oleh satu morfologi yang diatur oleh satu genotip, contoh perbedaan warna itik jantan
dan betina. Polimorfisme adalah variasi morfologi yang bermacam-macam yang terdapat
pada satu spesies, contoh ikan mas koki (Carassius auratus auratus) (Buwono, 2011).
Polimorfisme adalah perubahan atau mutasi pada gen yang tidak menimbulkan
perubahan struktur protein melainkan hanya mengakibatkan variasi pada fungsi protein.
Polimorfisme tidak bermanifestasi klinis, tetapi bias menentukan kerentanan terhadap
penyakit (Triwani & Saleh 2015).
Spesies sibling adalah spesies yang secara morfologi sama tetapi pada genetik,
fisiologi, ekologi, reproduksi dan tingkah laku sangat berbeda contohnya Bactrocera
dorsalis dan B. carambollae (Zug, 1997). Spesies yang sama dapat menjadi generalis
habitat di beberapa wilayah dan spesialis habitat di wilayah lain, di mana spesies saudara
kandung simpatrik mungkin menjadi generalis habitat. Oleh karena itu variasi geografis
dapat memberikan informasi penting untuk memahami penyebab spesialisasi niche dan
hubungannya dengan proses evolusi mikro yang pada akhirnya menghasilkan spesies
sibling (Shtinkov et al., 2015).
Sebuah software yang dapat menganalisis sebuah data genetika populasi dengan
berbagai metode dasar dan uji statistic disebut dengan Arlequin 3.5. Arlequin merupakan
terjemahan kata “Arlecchino” dari bahasa Francis yang merupakan karakter orang Italia
yang terkenal yaitu “Commedia dell’Arte”. Kemampuan polimorfik disimbolkan melalui
kostumnya dalam berbagai warna yang menjadi desain ikon Arlequin.Arlequin 3.5 dapat
menganalisis dan menyimpulkan informasi genetik dan berbagai aspek demografi dari
koleksi sampel populasi (Excoffier et al., 2005).
Sebuah program computer interaktif yang digunakan untuk menganalisis
polimorfisme DNA dari data untaian nuleotida disebut dengan DnaSP. DnaSP dapat
menghitung beberapa ukuran variasi untai DNA dalam dan antara populasi (noncoding)
pada daerah yang sama maupun tidak, aliran gen, konversi gen, rekombinasi dan
parameter linkage disequilibrium. Selain itu DnaSP dapat melakukan test Fu and Li's,
Hudson, Kreitman and Aguadé's, McDonald and Kreitman, and Tajima. Software DnaSP
sangat bermanfaat untuk peneliti yang ingin menganalisis polimerfisme untai DNA baik
secara intrapopulasi maupun interpopulasi (Kreitman, 1983).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan dalam Praktikum acara Variasi Intra Populasi adalah bak
preparat, pinset, gloves, kaca pembesar, mikroskop, kamera, alat tulis, software
Arlequin 3.5 dan komputer.
Bahan yang digunakan dalam Praktikum acara Variasi Intra Populasi adalah
spesimen pada setiap tahapan hidup katak, kadal dan jangkrik jantan dan betina, koloni
lebah, sequens nukleotida, beberapa spesies hewan, chloroform.

B. Metode

1. Tahapan hidup katak digambar, difoto, dan didefinisikan jenis variasi yang terjadi.
2. Jangkrik jantan dan betina serta organ reproduksi kadal jantan dan betina digambar,
difoto, dan didefinisikan jenis variasi yang terjadi.
3. Awetan koloni lebah diamati kemudian didefinisikan jenis variasi yang terjadi.
4. Polimorfisme pada ikan mas koki diamati dan didefinisikan jenis variasi yang
terjadi.
5. Laporan sementara dibuat dari hasil praktikum.
DAFTAR REFERENSI

Abbott, J.K., 2011. Intra-locus Sexual Conflict and Sexually Antagonistic Genetic
Variation in Hermaphroditic animals. Proc. R. Soc. B, pp. 161–169.
Buwono, I.D., 2011. Potensi Genetik Induk Belut Sawah (Monopterus albus) Berdasar
Uji Polimorfisme Menggunakan Marker RAPD (Random Amplified
Polymorphic DNA). Jurnal UNPAD, pp. 1-12.
Djuhanda, T., 1982. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Armico, Bandung.
Excoffier, L. G. Laval, and S. Schneider., 2005. Arlequin ver. 3.0: An integrated
software package for population genetics data analysis. Evolutionary
Bioinformatics Online, 1, pp. 47-50.

Hickman, C. P., 1992. Biology of Animal. Saint Louis: Mosay Company.

Inger, R.F. & Iskandar, J. T., 2005. A Collection of Amphibians From West Sumatra
With Description of A New Species of Megrophys (Amphibia: Anura). The Raffles
Bulletin Zoology, 53(1). pp. 133-142.

Kreitman, M., 1983. Nucleotide Polymorphism at the Alcohol Dehydrogenaselocus of


Drosophila melanogaster.Nature, 304, pp. 412-417.

Shtinkov, N., Kolev, Z., Vila, R., & Dinca, V., 2015. The sibling species Leptidea
juvernica and L. sinapis (Lepidoptera, Pieridae) in the Balkan Peninsula:
ecology, genetic structure, and morphological variation. Journal of Zoology, pp.
1-10.
Syamsuri, I., H. Suwono, Ibrohim, Sulisetijono, I. W. Sumberartha, & E. Rahayu., 2007.
Biologi Jilid 1A untuk SMA Kelas X, Semester 1. Jakarta: Erlangga.
Triwani, & Saleh, I., 2015. Single Nucleotide Polymorphism Promoter -765g/C Gen
Cox-2 Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Karsinoma Kolorektal. Biomedical
Journal of Indonesia, pp. 1-9.
Zug, G. R., 1997. Herpetology : An Introduction Biology of Amphibian and Reptiles.
New York: Academic press Inc.

Anda mungkin juga menyukai