Anda di halaman 1dari 25

LP DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA BAYI NY.A DENGAN KASUS HIPERBILIRUBIN


DI RUANG SOKA RSUD MAJENANG

Disusun oleh :
1) Muhammad Rifaldi Satria Aji
NIM : P1337420217086
2) Melika Azzahra Ishfahany
NIM : P1337420217036

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
2018

1
KATA PENGANTAR

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………...ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………….iii
BAB I LAPORAN PENDAHULUAN………………………………………………………………..1
A. Definisi......................................................................................................................................1
B. Epidemologi.….……………………………………………………………………………….1
C. Klasifikasi………………………………...…………………………………………………...1
D. Etiologi………………………………………………………………………………………..3
E. Patofisiologi…………………………………………………………………………………...3
F. Manifestasi klinis……………………………………………………………………………...4
G. Komplikasi……………………………………………………………………………………4
H. Pemeriksaan Diagnostik………………………………………………………………………5

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN…………………………………….......................................6


A. Pengkajian…………………………………………………………………………………….6
Diagnosa Keperawatan………………………………………………………………………...8
B. Intervensi Keperawatan…………………………………………………………………….....9

ASUHAN KEPERAWATAN………………………………………………………………………..13

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………..21

BAB I

iii
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya
lebih dari normal (Suriadi, 2001). Nilai normal bilirubin indirek 0,3 – 1,1 mg/dl, bilirubin direk
0,1 – 0,4 mg/dl.
Hiperbillirubin ialah suatu keadaan dimana kadar billirubinemia mencapai suatu nilai
yang mempunyai potensi menimbulkan kernikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik
(Prawirohardjo, 1997).
Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah meningginya kadar bilirubin di
dalam jaringan ekstravaskuler, sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya
berwarna kuning (Ngastiyah, 2000).

B. EPIDEMOLOGI
Pada sebagian besar neonatus, ikterik akan ditemukan dalam minggu pertama
kehidupannya. Dikemukan bahwa angka kejadian iketrus terdapat pada 60 % bayi cukup bulan
dan 80 % bayi kurang bulan. Ikterus ini pada sebagian penderita dapat berbentuk fisiologik dan
sebagian lagi patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan
kematian.

C. KLASIFIKASI
Ikterus neonatorum dibagi menjadi ikterus fisiologis dan patologis ( Ngastiyah,1997):
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak
mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau
mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.
Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya
mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin.
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah ikterus yang
memiliki karakteristik sebagai berikut menurut (Hanifah, 1987), dan (Callhon, 1996), (Tarigan,
2003) dalam (Schwats, 2005):

1
a. Timbul pada hari kedua - ketiga.
b. Kadar bilirubin indirek setelah 2x24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus
cukup bulan dan 10 mg% pada kurang bulan.
c. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari.
d. Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg%.
e. Ikterus hilang pada 10 hari pertama.
f. Tidak mempunyai dasar patologis; tidak terbukti mempunyai hubungan dengan
keadaan patologis tertentu.
g. Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan
karakteristik sebagai berikut Menurut (Surasmi, 2003) bila:
1). Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran.
2). Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau > setiap 24 jam.
3). Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus < bulan dan 12,5
mg% pada neonatus cukup bulan.
4). Ikterus disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD
dan sepsis).
5). Ikterus disertai berat lahir < 2000 gr, masa gestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia,
sindrom gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia,
hiperosmolalitas darah.

2. Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia.
Menurut (Tarigan, 2003) adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam
darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus kalau
tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang
patologis. Brown menetapkan hiperbilirubinemia bila kadar bilirubin mencapai 12 mg%
pada cukup bulan, dan 15 mg% pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15
mg%.
3. Kern Ikterus.
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak terutama
pada korpus striatum, talamus, nucleus subtalamus, hipokampus, nukleus merah, dan
nukleus pada dasar ventrikulus IV.
Kern ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup
bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg%) dan disertai penyakit hemolitik

2
berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern ikterus secara klinis
berbentuk kelainan syaraf simpatis yang terjadi secara kronik.

D. ETIOLOGI

Peningkatan kadar bilirubin dalam darah tersebut dapat terjadi karena keadaan sebagai
berikut;

1. Polychetemia
2. Isoimmun Hemolytic Disease
3. Kelainan struktur dan enzim sel darah merah
4. Keracunan obat (hemolisis kimia; salisilat, kortikosteroid, kloramfenikol)
5. Hemolisis ekstravaskuler
6. Cephalhematoma
7. Ecchymosis
8. Gangguan fungsi hati; defisiensi glukoronil transferase, obstruksi empedu (atresia biliari),
infeksi, masalah metabolik galaktosemia, hipotiroid jaundice ASI.
9. Adanya komplikasi; asfiksia, hipotermi, hipoglikemi. Menurunnya ikatan albumin; lahir
prematur, asidosis.

E. PATHOFISIOLOGI

Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang
sering ditemukan adalah apabila terdapat beban penambahan bilirubin pada sel heparbyang
berlebihan hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran entrosit,
polistemia.

Gangguan pecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar


bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi
hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah
apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonates yang mengalami gangguan
ekskresi. Misalnya sumbatan saluran empedu.

Pada derajat bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh toksisitas
terutama ditemukan bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam

3
lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patoligis pada sel otak apabila bilirubin tadi
dapat menembus sawar darah otak.

Kelainan yang terjadi pada otak disebut kern ikterus. Pada umumnya dianggap bahwa
kelainan pada syaraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih
dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya
tergantung pada keadaan neonates. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar otak apabila
bayi terdapat keadaan BBLR, Hipoksia dan Hipoglikemia.

F. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala yang jelas pada anak yang menderita hiperbilirubin adalah :
1. Tampak ikterus pada sklera, kuku atau kulit dan membran mukosa.
2. Jaundice yang tampak dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit hemolitik
pada bayi baru lahir, sepsis, atau ibu dengan diabetik atau infeksi.
3. Jaundice yang tampak pada hari ke dua atau hari ke tiga, dan mencapai puncak pada
hari ke tiga sampai hari ke empat dan menurun pada hari ke lima sampai hari ke tujuh
yang biasanya merupakan jaundice fisiologis.
4. Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung
tampak kuning terang atau orange, ikterus pada tipe obstruksi (bilirubin direk) kulit
tampak berwarna kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat dilihat pada
ikterus yang berat.
5. Muntah, anoksia, fatigue, warna urin gelap dan warna tinja pucat, seperti dempul
6. Perut membuncit dan pembesaran pada hati
7. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar
8. Letargik (lemas), kejang, tidak mau menghisap
9. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental
10. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus, kejang,
stenosis yang disertai ketegangan otot.
G. KOMPLIKASI

1. Bilirubin enchepalopathy (komplikasi serius)


2. Kernikterus; kerusakan neurologis, cerebral palsy, retardasi mental, hiperaktif, bicara
lambat, tidak ada koordinasi otot dan tangisan yang melengking.

4
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Laboratorium (Pemeriksan Darah)
2. Pemeriksaan billirubin serum. Pada bayi prematur kadar billirubin lebih dari 14 mg/dl
dan bayi cukup bulan kadar billirubin 10 mg/dl merupakan keadaan yang tidak
fisiologis.
3. Hb, HCT, Hitung Darah Lengkap.
4. Protein serum total.
5. USG, untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.
6. Radioisotop Scan, dapat digunakan untuk membantu membedakan hapatitis dan
atresia billiari.

5
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
a. Riwayat Penyakit
Perlunya ditanyakan apakah dulu pernah mengalami hal yang sama, apakah
sebelumnya pernah mengkonsumsi obat-obat atau jamu tertentu baik dari dokter maupun
yang di beli sendiri, apakah ada riwayat kontak denagn penderiata sakit kuning, adakah
rwayat operasi empedu, adakah riwayat mendapatkan suntikan atau transfuse darah.
Ditemukan adanya riwayat gangguan hemolissi darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau
darah ABO), polisitemia, infeksi, hematoma, gangguan metabolisme hepar, obstruksi
saluran pencernaan dan ASI, ibu menderita DM.
b. Riwayat orang tua :
Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh, ABO, Polisitemia,
Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI.
c. Pengkajian Psikososial :
Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua, apakah orang tua merasa
bersalah, masalah Bonding, perpisahan dengan anak.
d. Pengetahuan Keluarga meliputi :
Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut, apakah mengenal
keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan, kemampuan mempelajari
Hiperbilirubinemia .
e. Pola Kebutuhan sehari-hari.
Data dasar klien:
- Aktivitas / istirahat : Latergi, malas
- Sirkulasi : Mungkin pucat, menandakan anemia.
- Eliminasi : Bising usus hipoaktif, Pasase mekonium mungkin lambat, Feses
lunak/coklat kehijauan selama pengeluaran bilirubin,Urine gelap pekat, hitam
kecoklatan ( sindrom bayi bronze ).
- Makanan/cairan : Riwayat perlambatan/makan oral buruk, lebih mungkin disusui
dari pada menyusu botol, Palpasi abdomen dapat menunjukkan perbesaran limfa,
hepar.

6
- Neurosensori : Hepatosplenomegali, atau hidropsfetalis dengan inkompatibilitas
Rh berat. Opistetanus dengan kekakuan lengkung punggung,menangislirih,
aktivitas kejang (tahap krisis).
- Pernafasan : Riwayat afiksia
- Keamanan : Riwayat positif infeksi/sepsis neonatus , tampak ikterik pada
awalnya di wajah dan berlanjut pada bagian distal tubuh, kulit hitam kecoklatan
sebagai efek fototerapi.
- Penyuluhan/Pembelajaran : Faktor keluarga, misal: keturunan etnik,riwayat
hiperbilirubinemia pada kehamilan sebelumnya, penyakithepar,distrasias darah
(defisit glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G-6-PD). Faktor ibu, mencerna obat-
obat (misal:salisilat), inkompatibilitas Rh/ABO. Faktor penunjang
intrapartum, misal: persalinan pratern.

f. Pemeriksaan Fisik :
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pemeriksaan derajat ikterus, ikterus terlihat pada
sclera, tanda-tanda penyakit hati kronis yaitu eritema palmaris, jari tubuh (clubbing),
ginekomastia (kuku putih) dan termasuk pemeriksaan organ hati (tentang ukuran, tepid an
permukaan); ditemukan adanya pembesaran limpa (splenomegali), pelebaran kandung
empedu, dan masa abdominal, selaput lender, kulit nerwarna merah tua, urine pekat warna
teh, letargi, hipotonus, reflek menghisap kurang/lemah, peka rangsang, tremor, kejang,
dan tangisan melengking

g. Pemeriksaan Diagnostik
· Golongan darah bayi dan ibu, mengidentifikasi inkompatibilitas ABO.
· Bilirubin total: kadar direk bermakna jika melebihi 1,0 1,5 mg/dL kadar indirek
tidak boleh melebihi peningkatan 5 mg/dL dalam 24 jam, atau tidak boleh lebih 20
mg/dL pada bayi cukup bulan atau 15 mg/dL pada bayi pratern.
· Darah lengkap: Hb mungkin rendah (< 1 mg/dL) karena hemolisis.
· Meter ikterik transkutan: mengidentifikasi bayi yang memerlukan penentuan
bilirubin serum.

7
2. Pengelompokan Data
a. Data Subjektif
· Riwayat afiksia
· Riwayat trauma lahir
b. Data Objektif
· Tampak ikterik pada awalnya di wajah dan berlanjut pada bagian
distal tubuh.
· Kulit hitam kecoklatan sebagai efek fototerapi
· Hepatosplenomegali.
· Tahap krisis: epistetanus, aktivitas kejang
· Urine gelap pekat
· Bilirubin total:
- Kadar direk > 1,0 – 1,5 mg/dL
- Kadar indirek > 5 mg/dL dalam 24 jam, atau < 20 mg/dL pada bayi cukup bulan atau
15 mg/dL pada bayi pratern.
· Protein serum total: < 3,0 g/dL
· Golongan darah bayi dan ibu inkompatibilitas ABI, Rh.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul :
1. Risiko/ defisit volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, serta
peningkatan Insensible Water Loss (IWL) dan defikasi sekunder fototherapi.
2. Risiko /gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin, efek fototerapi.
3. Risiko hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi.
4. Gangguan parenting ( perubahan peran orang tua ) berhubungan dengan perpisahan dan
penghalangan untuk gabung.
5. Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi.
6. Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi
7. Risiko tinggi komplikasi (trombosis, aritmia, gangguan elektrolit, infeksi) berhubungan dengan
tranfusi tukar.
8. PK : Kern Ikterus

8
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Risiko /defisit volume cairan b/d tidak adekuatnya intake cairan serta peningkatan IWL dan
defikasi sekunder fototherapi
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi deficit
volume cairan dengan kriteria :
- Jumlah intake dan output seimbang
- Turgor kulit baik, tanda vital dalam batas normal
- Penurunan BB tidak lebih dari 10 % BBL
Intervensi & Rasional :
a. Kaji reflek hisap bayi
( Rasional/R : mengetahui kemampuan hisap bayi )
b. Beri minum per oral/menyusui bila reflek hisap adekuat
(R: menjamin keadekuatan intake )
c. Catat jumlah intake dan output , frekuensi dan konsistensi faeces
( R : mengetahui kecukupan intake )

d. Pantau turgor kulit, tanda- tanda vital ( suhu, HR ) setiap 4 jam


(R : turgor menurun, suhu meningkat HR meningkat adalah tanda-tanda dehidrasi)
e. Timbang BB setiap hari
(R : mengetahui kecukupan cairan dan nutrisi).

2. Risiko/hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi


Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi hipertermi
dengan kriteria suhu aksilla stabil antara 36,5-37 0 C.
Intervensi dan Rasional :
a. Observasi suhu tubuh ( aksilla ) setiap 4 - 6 jam.
(R : suhu terpantau secara rutin )
b. Matikan lampu sementara bila terjadi kenaikan suhu, dan berikan kompres dingin serta
ekstra minum.
( R : mengurangi pajanan sinar sementara )
c. Kolaborasi dengan dokter bila suhu tetap tinggi.
( R : Memberi terapi lebih dini atau mencari penyebab lain dari hipertermi ).

9
3. Risiko /Gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin, efek fototerapi.
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi gangguan
integritas kulit dengan kriteria :
· Tidak terjadi decubitus.
· Kulit bersih dan lembab.
Intervensi :
a. Kaji warna kulit tiap 8 jam
(R : mengetahui adanya perubahan warna kulit )
b. Ubah posisi setiap 2 jam
(R : mencegah penekanan kulit pada daerah tertentu dalam waktu lama ).
c. Masase daerah yang menonjol
(R : melancarkan peredaran darah sehingga mencegah luka tekan di daerah tersebut ).
d. Jaga kebersihan kulit bayi dan berikan baby oil atau lotion pelembab
( R : mencegah lecet )
e. Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar bilirubin, bila kadar bilirubin turun menjadi 7,5
mg% fototerafi dihentikan
(R: untuk mencegah pemajanan sinar yang terlalu lama )
4. Gangguan parenting ( perubahan peran orangtua) berhubungan dengan perpisahan dan
penghalangan untuk gabung.
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan orang tua dan bayi
menunjukan tingkah laku “Attachment” , orang tua dapat mengekspresikan ketidak mengertian
proses Bounding.
Intervensi :
a. Bawa bayi ke ibu untuk disusui
( R : mempererat kontak sosial ibu dan bayi )
b. Buka tutup mata saat disusui
(R: untuk stimulasi sosial dengan ibu )
c. Anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya
(R: mempererat kontak dan stimulasi sosial ).
d. Libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan
( R: meningkatkan peran orangtua untuk merawat bayi ).
e. Dorong orang tua mengekspresikan perasaannya
(R: mengurangi beban psikis orangtua)

10
5. Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi.
Tujuan : Setelah diberikan penjelasan selama 2x15 menit diharapkan orang tua menyatakan mengerti
tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif dalamperawatan.
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit pasien
( R : mengetahui tingkat pemahaman keluarga tentang penyakit )
b. Beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi dan perawatannya
( R : Meningkatkan pemahaman tentang keadaan penyakit )
c. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah
(R : meningkatkan tanggung jawab dan peran orang tua dalam erawat bayi)

6. Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi


Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi injury
akibat fototerapi ( misal ; konjungtivitis, kerusakan jaringan kornea )
Intervensi :
a. Tempatkan neonatus pada jarak 40-45 cm dari sumber cahaya
( R : mencegah iritasi yang berlebihan).
b. Biarkan neonatus dalam keadaan telanjang, kecuali pada mata dan daerah genetal serta
bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya usahakan agar penutup mata
tidak menutupi hidung dan bibir
(R : mencegah paparan sinar pada daerah yang sensitif )
c. Matikan lampu, buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam
(R: pemantauan dini terhadap kerusakan daerah mata )
d. Buka penutup mata setiap akan disusukan.
( R : memberi kesempatan pada bayi untuk kontak mata dengan ibu ).
e. Ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan
( R : memberi rasa aman pada bayi ).

7. Risiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan tranfusi tukar


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1x24 jam diharapkan tranfusi tukar dapat
dilakukan tanpa komplikasi
Intervensi :
a. Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang digunakan
(R : menjamin keadekuatan akses vaskuler )

11
b. Basahi umbilikal dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan
( R : mencegah trauma pada vena umbilical ).
c. Puasakan neonatus 4 jam sebelum tindakan
(R: mencegah aspirasi )
d. Pertahankan suhu tubuh sebelum, selama dan setelah prosedur
( R : mencegah hipotermi
e. Catat jenis darah ibu dan Rhesus memastikan darah yang akan ditranfusikan adalah darah
segar
( R : mencegah tertukarnya darah dan reaksi tranfusi yang berlebihan 0
f. Pantau tanda-tanda vital, adanya perdarahan, gangguan cairan dan elektrolit, kejang
selama dan sesudah tranfusi
(R : Meningkatkan kewaspadaan terhadap komplikasi dan dapat melakukan tindakan lebih dini
)
g. Jamin ketersediaan alat-alat resusitatif
(R : dapat melakukan tindakan segera bila terjadi kegawatan )

8. PK Kern Ikterus
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tanda-tanda awal kern
ikterus bisa dipantau
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda awal Kern Ikterus ( mata berputar, letargi , epistotonus, dll )
b. Kolaborasi dengan dokter bila ada tanda-tanda kern ikterus.

12
ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pengkaji : 1. Melika Azzahra Ishfahany


2. Muhammad Rifaldi Satria Aji
Tanggal Masuk : 04 - 12 - 18
Tanggal Pengkajian : 05 – 12 - 18

A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
Nama : By. Ny. A
Tanggal Lahir : 02 – 12 – 2018
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 3 Hari
Nama Ayah : Tn. A
Umur Ayah : 25 tahun
Pekerjaan Ayah : Wiraswasta
Pendidikan Ayah : SMP
Ibu : Ny. A
Umur Ibu : 23 tahun
Pekerjaan ibu : IRT
Pendidikan Ibu : SMK
Alamat :-
Kultur : Sunda
Agama : Islam
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Bayi panas, kuning pada seclera dan wajah, luas ikterus daerah 1 ( Kepala dan Leher
).
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Bayi lahir di RSUD Majenang secara spontan, usia ibu 23 tahun, bayi lahir cukup
bulan, menangis spontan, usia kehamilan 37 minggu, ketuban jernih, BBL : 2600gr
PB: 47 cm.

13
c. Riwayat Kesehatan keluarga
Tidak terdapat kelainan kongenital, keluarga tidak memiliki riwayat penyakit yang
berhubungan dengan hepar, leukemia, anemia.
3. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
a. Prenatal : Ketuban jernih, usia kehamilan 37 minggu
b. Natal : Bayi lahir secara normal
c. Post Natal : By. Ny. A di Diagnosa Ikterus Neonatorum
4. Riwayat Sosial
Bayi diasuh oleh ibu dan ayah kandungnya dengan hubungan keluarga yang harmonis.
5. Kebutuhan Dasar
a. Cairan : di Rs. Asi
b. Makanan : Tidak makan
c. Pola Tidur : Normal
d. Mandi : Seka 3x sehari
e. Eliminasi : BAB 3x sehari, BAK Normal
6. Keadaan Kesehatan Saat Ini
a. Diagnosa Medis : Ikterus Neonatorum
b. Tindakan Medis : Tidak ada tindakan operasi
c. Status Nutrisi : Kebutuhan nutrisi ASI 8x / hari
d. Status Cairan : Kebutuhan cairan 150cc/ kg/ hari
e. Terapi infus D10 terpasang di kaki sebelah kanan = 5cc/ menit
f. Foto Terapi 1 x 24 jam tanggal 05 Desember 2018 pukul 12.30
7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : k/u Lemah, nafas spontan, Menggunakan O2 nasal kanul 2 liter
b. Tanda – tanda vital : RR 45x/menit N : 120x/menit S : 36,8 C
c. Pemeriksaan Kepala : simetris
d. Gambaran wajah simetris
e. Telinga Normal tidak ada serumen
f. Hidung Simetris
g. Mata ikteris pada seclera
h. Pemeriksaan Integumen
1) Warna kulit kuning
2) Turgor kulit elastic
i. Dada dan thorax

14
1) Bentuk simetris
2) Tidak ada retraksi dada
3) Tidak sianosis
4) Tidak ada ronchi dan wheezing
j. Abdomen
1) Tidak ada distensi abdomen
2) Tidak ada pembesaran dan benjolan
k. Genetalia
Lengkap terdapat labia mayora dan labia minora jenis kelamin perempuan, anus
terdapat lubang, tidak ada sumbatan.
l. Ekstremitas
1) Jari tangan lengkap
2) Posisi dan bentuk simetris kanan dan kiri
3) Jari kaki lengkap
4) Pergerakan aktif
5) Warna kulit pucat, Tangan dan kaki berwarna agak kekuningan
8. Pemeriksaan tingkat perkembangan orik
a. Motorik Kasar : Menggenggam (Baik), Mencari (baik), menghisap (baik)
b. Motorik Halus : Menangis Melengking

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal : 04 – 12 – 2018 pukul 08.45

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Hematologi

Hemoglobin (HGB) 16,90 g / dL 11,4 – 15,1


Eritrosit (RBC) 54,64 106 / µl 4,0 – 5,0
Leukosit ( WBC) 9,17 10 3 / µl 4,7 – 11,3
Hematokrit 47,70 % 38 – 42
Trombosit ( PLT) 306 10 3 / µl 142 – 424
MCV 102,80 fL 80 – 93
MCH 36,40 Pq 27 – 31
MCHC 35,40 g / dL 32 – 36
RDW 15,60 % 11,5 – 14, 5
PDW 10,0 fL 9 – 13
MPV 9,3 fL 7,2 – 11,1
P-CLR 19,6 % 15,0 – 25,0
PCT 0,28 % 0,150 – 0,400

15
Hitung jenis

Eosinofi 8,8 % 0–4


Basofil 0,8 % 0–1
Neutrofil 28,3 % 51 – 67
Limfosit 41,2 % 25 – 33
Monosit 20,9 % 2–5
Lain – lain

FAAL HEMOSTASIS

PPT

Pasietaln 15,40 detik 11,5 – 11,8


INR 1,31 0,8 – 1,30

APTT

Pasien 34,30 Detik 27,4 – 28,6


Kesimpulan PPT dalam batas normal
KIMIA KLINIK

FAAL HATI

Bilirubin total 14,01 Mg / dL < 0,1


Bilirubin direk 0,73 Mg / dL < 0,25
Bilirubin indirek 13,28 Mg / dL < 0,75
AST / SGOT 29 U/L 0 - 32
ALT / SGPT 12 U/L 0 - 33
Albumin 3,72 9/dl 3,5 – 5,5
METABOLISME

KARBOHIDRAT

Glukosa darah sewaktu 283 Mg/dl < 200


FAAL GINJAl

Ureum 19,40 Mg/dl 16,6 – 48,5


Kreatin 0,43 Mg/dl < 1,2
ELEKTROLIT

Kalicium (ca) 9,0 Mg/dl 7,6 – 11,0


Phosphor 6,3 Mg/dl 2,7 – 4,5
INFLAMASI
CRP Kuantitatif 0,96 Mg/dl < 0,3

16
C. ANALISA DATA

DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM


1. Ds = - Hiperbilirubin meningkat Potensial kern ikterik
Do =
a. K/u lemah
b. Kes.compos mentis
c. RR = 45 x / m
d. N = 120 x / m
e. S = 36,8 c
f. Turgor kulit elastic
g. Mukosa kulit kering
h. Kuning pada seclera,
kepala dan leher

2. Ds = -
1. Bayi diberikan fototerapi Resiko gangguan
Do = 1 x 24 jam intergritas kulit
2. Peningkatan suhu tubuh
a. K/u lemah 3. Efek fototerapi
b. Kes. Compos mentis 4. Mukosa kulit kering
c. Suhu:36.8c, RR 45x/m,
HR 120x/m
d. Mukosa kulit kering
e. Suhu tubuh meningkat
s: 37,7c

3. Ds = - 1. Bayi diberikan Hipertermi


Do = fototerapi 1 x 24 jam
a. K/u lemah 2. Peningkatan suhu tubuh
b. Kes. Compos mentis
38,0c
c. Suhu:38 c
d. Minum ASI ibu
3. Efek fototerapi
4. panas

17
D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Potensial karena ikterik b/d ikterus sebagian dari tubuh.
2. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin efek fototerapi.
3. Hipertermi berhubungan dengan dilakukannya fototerapi.

E. INTERVENSI

No. Dx Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Paraf


Dx
1. Potensial karena Setelah dilakukan tindakan1. tangan sebelum dan
ikterik b/d ikterus keperawatan selama 1x24 sesudah tindakan.
sebagian dari jam Diharapkan ikterik 2.rawat bayi selama
tubuh normal,kulit normal dilakukan fototerapi
3.beri posisi yang nyaman
pada bayi
4.pertahankan suhu
lingkungan
5. observasi TTV
2. Resiko gangguan Setelah dilakukan asuhan 1. Observasi TTV
intergritas kulit keperawatan selama 2 x 24 2. Kaji warna kulit tiap 8
berhubungan jam diharapkan tidak jam
dengan ekskresi terjadi gangguan 3. Ubah posisi setiap 3
bilirubin efek intergritas kulit dengan jam
fototerapi kriteria hasil: 4. Jaga kebersihan kulit
bayi dan berikan baby
1. Tidak terjadi oil atau pelembab
dekubitus 5. Kolaborasi untuk
2. Kulit bersih dan pemeriksaan kadar
lembab bilirubin turun

3. Peningkatan suhu Setelah dilakukan asuhan 1. Observasi TTV


tubuh keperawatan selama 1 x 24 2. Pantau suhu tubuh tiap
berhubungan jam diharapkan suhu tubuh 2 jam sekali
dengan kembali normal dengan 3. Kolaborasi dengan
dilakukannya kriteria hasil: dokter untuk
fototerapi menurunkan suhu
1. Suhu tubuh turun tubuh bayi
36,5 – 37,5 c
2. Bayi tidak panas

18
F. IMPLEMENTASI

No Tanggal / Jam Tindakan TTD


1. 05 – 12 – 2018 1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
09.00 dengan cara 6 langkah.
2. Merawat bayi selama dilakukan fototerapi
3. Mengontrol suhu dalam incubator dalam batas
normal 36,5 – 37,5 c
4. Memberi posisi yang nyaman pada bayi
5. Tidur terlentang, menggunakan penutup kepala
6. Mempertahankan suhu lingkungan
7. Mengobservasi TTV
RR : 45x/m HR : 120x/m S : 36,8 c

2. 05 – 12 – 2018 1. Mengobservasi TTV


09.15 2. Mengkaji warna kulit tiap 8 jam
3. Mengubahbah posisi setiap 3 jam
4. Menjaga kebersihan kulit bayi dan berikan baby oil
atau pelembab
5. Mengkolaborasikan tindakan dengan dokter dan tim
medis

3. 05 – 12 – 2018 1. Mengobservasi TTV


11.00 2. memantau suhu tubuh tiap 2 jam sekali
3. melakukan kompres
4. Berkolaborasi dengan dokter untuk menurunkan suhu
tubuh bayi

G. EVALUASI

No Tanggal Evaluasi TTD


1. 05 – 12 – 2018 S:-
O : 1. Foto Terapi 1 x 24 jam tanggal 05 – 12 - 18

19
1. k/u lemah
2. HR : 120x/m RR : 45x/m S: 36,8 C
3. Inf D10 5cc/mnt
4. Bayi tidur terlentang dan menggunakan topi
5. Suhu incubator 36,5 – 37,5 c
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi No : 3,4,5
3. 05 – 12 – 2018 S:-
O : 1. k/u lemah
2. HR : 120x/m RR : 45x/m S: 36,8 C
3. Inf D10 5cc/mnt
4. Kuning pada seclera + wajah, kaki dan tangan
sebagian
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi

4. 05 – 12 – 2018 S:-
O : 1. k/u lemah
2. Suhu meningkat 38,0 c
3. Melaporkan ke dokter
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi

20
DAFTAR PUSTAKA

Suriadi, dan Rita Y. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak . Edisi I. Fajar Inter Pratama. Jakarta.

Ngastiah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta.

Prawirohadjo, Sarwono. 1997. Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.

Syaifuddin, Bari Abdul. 2000. Buku Ajar Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.
JNPKKR/POGI & Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.

Doengoes, E Marlynn & Moerhorse, Mary Fraces. 2001. Rencana Perawatan Maternal / Bayi. EGC.
Jakarta

21
22