Anda di halaman 1dari 133

INTEGRAL

DAN APLIKASINYA
Penyusun:
R. Sulaiman

(Jurusan Matematika Universitas Negeri Surabaya)

Penerbit: Zifatama

3
Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha


Kuasa atas selesainya penyusunan buku ini. Buku ini pertamakali
diterbitkan pada tahun 2008. Beberapa revisi dan perbaikan
dilakukan berdasarkan masukan dosen-dosen dan mahasiswa
selama pembelajaran dan berdasar pengalaman penulis selama
mengajar matakuliah Kalkulus Integral.
Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi utama
mahasiswa Matematika dalam pembelajaran matakuliah terkait
integral . Disamping itu dapat pula dijadikan referensi mahasiswa
di Fakultas Lain untuk memahami konsep integral taktentu dan
integral tentu serta beberapa aplikasinya.
Dengan selesainya buku ini saya mengucapkan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
kelancaran penyusunan dan penyempurnaan buku ini. Penulis
sangat berharap masukan dari pembaca untuk bahan
penyempurnaan buku ini selanjutnya.
Semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya.

Januari 2015
Penulis

4
Daftar Isi
Cover ................................................................................................
Daftar Isi.......................................................................................... 3
Bab 1 : Anti DerIvatif ..........................................................................
Bab 2: Teknik Pengintegralan ............................................................
2.1 Teknik menghilangkan akar ...............................................
2.2 Integral memuat bentuk fugsi rasional ...............................
2.3 Integral memuat bentuk fugsi rasional trigonometri ...........
Bab 3: Integral Parsial ........................................................................
Bab 4: Rumus Reduksi .......................................................................
Bab 5: Integral Tentu ........................................................................
5.1 Notasi Signa ......................................................................
5.2 Jumlah Riemann ................................................................
5.3 Integral tentu ....................................................................
5.4 Teorema Fundamental Kalkulus ........................................
Bab 6: Luas Daerah Bidang ................................................................
Bab 7: Volume Benda Putar ..............................................................
Bab 8: Panjang Kurva ........................................................................
Bab 9: Luas Permukaan Putar ............................................................
Bab 10: Pendekatan Nilai Integral Tentu........................................
Daftar Pustaka
Glosarium
Indeks

5
BAB 1
ANTI DEREVATIF
Pada bab ini akan dibahas tentang arti “anti derivatif” (anti
turunan), “integral tak tentu”, dan beberapa hal dasar yang pada
akhirnya membantu kita untuk menemukan teknik yang
sistematik dalam menentukan suatu fungsi jika diketahui
derivatifnya.
Kita telah memahami bahwa:
d d d 1 1
(sin x)  cos x; ( x 2  7)  2 x; ( )  .
dx dx dx x x x
Jika A dan B adalah himpunan fungsi dan kita buat relasi
“mempunyai derivatif” dari ke , maka untuk beberapa fungsi
di atas dapat diillustrasikan sebagai berikut.

“mempunyai derivatif”
𝐴 𝐵

cos ⬚ 𝑥
𝑓 𝑥 = sin ⬚ 𝑥
−2𝑥
𝑔 𝑥 = −𝑥 2 − 7
1 −1
ℎ 𝑥 =
𝑥 𝑥 𝑥
𝑡 𝑥 =⋯ 𝑥 3 − 2𝑥

Diagram 1.1

6
Dengan memperhatikan diagram di atas kita dapat
membaca:
(1) sin x derivatifnya adalah cos x
(2)  x 2  7 derifativnya adalah  2 x
1 1
(3) derivatifnya adalah
x x x
Dengan kalimat berbeda tetapi tidak mengubah makna,
ungkapan-ungkapan itu sama artinya dengan:
(1) cos x adalah derivatif dari sin x
(2)  2 x adalah derivatif dari  x 2  7
1 1
(3) adalah derivatif dari
x x x
Apakah fungsi t bila fungsi t adalah fungsi yang
derivatifnya x3  2 x ? Fungsi yang derivatifnya adalah x3  2 x
disebut juga anti derivatif (anti turunan) dari x3  2 x .
Uraian diatas secara formal dapat dinyatakan dengan definisi
berikut.

1.1. DEFINISI. Fungsi 𝐹 disebut anti derivatif fungsi 𝑓 pada


suatu selang jika pada selang itu.

1 4
Kita tahu bahwa derivatif dari x  x 2 adalah x3  2 x . Oleh
4
karena itu, kita dapat mengatakan anti derivatif dari x3  2 x
1
adalah x 4  x 2 .
4

Contoh 1.1
Fungsi-fungsi 2 x 2 , 2 x 2  3, 2 x 2  11, 2 x2   semuanya
merupakan anti derivatif dari 4 x karena derivatif dari setiap

7
fungsi itu adalah 4 x . Untuk sebarang konstanta c, 2 x 2  c
merupakan anti derivatif dari 4 x . Ini menunjukkan bahwa anti
derivatif suatu fungsi tidak tunggal (lebih dari sebuah).
Secara umum dapat dinyatakan dengan teorema berikut ini.

1.2. TEOREMA. Jika anti derifatif dari , maka untuk


sebarang konstanta c, juga anti derivatif dari .

Bukti:
d
Jika F (x) anti derivatif dari f (x) , maka [ F ( x)]  f ( x). Untuk
dx
sebarang konstanta c berlaku,
d d d
[ F ( x)  c]  [ F ( x)]  [c]
dx dx dx
 f ( x)  0
= f (x) .
Dengan demikian, F ( x)  c juga merupakan anti derivatif dari
f (x).

Contoh 1.2 (Perhatikan Diagram 1.1)


Dengan memperhatikan Diagram 1.1 dan Teorema 1.2, kita
peroleh:
d
Anti derivatif cos x adalah sin x  c , karena (sin x  c)  cos x .
dx
d
Anti derivatif  2 x adalah  x 2  c , karena ( x 2  c)  2 x .
dx
1 1 d 1 1
Anti derivatif adalah  c , karena (  c)  .
x x x dx x x x

8
Contoh 1.3
d 4
Anti derivatif dari 4x3 adalah x 4  c , karena ( x  c)  4 x 3 .
dx

Contoh 1.4
1 1
F ( x)  ln x ( x  0) adalah anti derivatif dari f ( x)  , karena
2 2x
d 1 1 1
[ ln x]  . Demikian pula G( x)  ln 3x juga anti derivatif
dx 2 2x 2
d 1 1
dari f (x) , karena [ ln 3x]  .
dx 2 2x

Contoh 1.5
1
H ( x)   cos 2 x adalah anti derivatif dari sin 2 x , karena
2
d 1
[ cos 2 x]  sin 2 x. Demikian pula T ( x)   cos 2 x juga anti
dx 2
d
derivatif dari sin 2 x , karena [ cos 2 x]  sin 2 x.
dx
Pada Contoh 1.4, F (x) dan G(x) merupakan anti derivatif
1
dari . Ternyata G(x) dapat dinyatakan sebagai F (x) ditambah
2x
suatu konstanta (coba cek sendiri!). Demikian pula pada Contoh
1.5, H (x) dan T (x) keduanya merupakan anti derivatif dari
1
sin 2 x . Ternyata T ( x)  H ( x) 
(coba cek sendiri!).
2
Jika dua fungsi atau lebih merupakan anti derivatif dari f (x) ,
maka fungsi-fungsi itu hanya berbeda konstanta. Pernyataan ini
dirumuskan dalam teorema berikut.
Untuk selanjutnya Jika H(x) anti derivativ dari g(x) kita
asumsikan bahwa H(x) kontinu pada suatu selang.

9
1.3. TEOREMA. Jika dan anti derivatif dari , maka
untuk suatu konstanta c.

Bukti:
Misalkan H ( x)  F ( x)  G( x) .
H ' ( x)  F ' ( x)  G ' ( x )
 f ( x)  f ( x)
H ' ( x)  0
Dengan demikian H ( x)  c.
Jadi, F ( x)  G( x)  c . F ( x)  G( x)  c.
d
Jika F (x) adalah fungsi sehingga [ F ( x)]  f ( x) , maka
dx
fungsi dengan bentuk F ( x)  c disebut anti derivatif dari f (x)
dan ditulis dengan

(1)

Simbol  dibaca “integral” dan f (x) disebut “integran”.


Pernyataan 1 dibaca “integral tak tentu dari f ( x ) sama dengan
F (x) ditambah c. Kata “tak tentu” menunjukkan bahwa hasilnya
tak tentu (banyak fungsi yang mungkin), c disebut konstanta
pengintegralan. Untuk menyederhanakan penulisan, seringkali
dx “dimasukkan” pada integran. Sebagai Contoh, 1. dx ditulis
1 dx
dengan  dx dan x 2
dx ditulis dengan x 2
.

Dengan memperhatikam Contoh 1.1 sampai dengan Contoh 1.5,


kita dapat menulis:

10
 4 xdx  2 x  c
2

 cos xdx  sin x  c


1 1
 x x
dx 
x
c

 4x dx  x 4  c
3

1 1
 2 x dx  2 ln x  c
1 1 1
 2 x dx  2 ln 2 x  c
1
 sin 2 x dx   2 cos 2 x  c
 sin 2 x dx   cos xc
2

Formula pengintegralan “dasar” diberikan pada tabel berikut ini.

11
Tabel 1.1

No Derivatif Anti Derivatif


d
1
dx
[ x]  1  dx  c
d 1 dx
2
dx
[ln x]  ( x  0)
x  x
 ln x  c

d x n 1 1
 x dx  n  1 x
n1
3 [ ]  x n , (n  1)
n
 c ; n  1
dx n  1
d
4
dx
[sin x]  cos x  cos x dx  sin x  c
d
5
dx
[ cos x]  sin x  sin x dx   cos x  c
d x
[e ]  e x e dx  e x  c
x
6
dx
d 1 1
7  tan x   2  cos 2
dx  tan  c
dx cos x x
d 1 1
8   cot x   2  sin 2
dx   cot x  c
dx sin x x
d 1
 arcsin x   ;1  x  1 dx
9 dx 1  x2  1  x2
 arcsin x  c ;  1  x  1

d 1 dx
 arccos x   ;1  x  1   arccos x  c ;  1  x  1
10 dx 1  x2 1  x2

d 1 dx
11  arctan x    1 x  arctan x  c
dx 1  x2 2

12
Kita ingat kembali bahwa  f ( x)dx berarti anti derivatif dari
f (x). Dengan kata lain,  f ( x)dx adalah fungsi yang derivatifnya
adalah f (x). Dengan demikian kita memperoleh hasil

Hasil di atas sangat membantu kita dalam membuktikan teorema


berikut ini.

1.4. TEOREMA.
(a) Jika c adalah konstanta, maka
(b)

Bukti:
d d
(a) [ c  f ( x)dx ]  c [  f ( x)dx].
dx dx
= c. f ( x) .
Karena derivatif dari c  f ( x)dx  c. f ( x) , ini sama artinya
dengan  c. f ( x)dx  c  f ( x)dx.
d d d
(b) [  f ( x)dx   g ( x)dx ]  [  f ( x)dx ]  [  g ( x)dx ]
dx dx dx
= f ( x)  g ( x).
Jadi,  [ f ( x)  g ( x) ]dx   f ( x)dx   g ( x)dx .

Contoh 1.6
 (3x  x ) dx   (9 x 2  6 x3  x 4 )dx
2 2

13
=  9 x 2dx   6 x3dx   x 4dx
= 9 x 2dx  6 x3dx   x 4 dx
3 4 1 5
= 3x3  x  x c
2 5

Contoh 1.7
1 1
 ( 3x  2 sin x  x  x x )dx =
3

3
1 1 

3 x
dx  2 sin x dx   x3dx   x 2 dx

1 1 1
= ln x  2 cos x  x 4  2 c
3 4 x

Contoh 1.8
3 2 dx dx
 [ 1  x2  1  x2  5 ] dx =  3 1  x2  2 1  x2  5 dx
= 3arcsin x  2 arctan x  5x  c .
Kita perhatikan bahwa
d 1 n 1
[ f ( x)n 1  c ]  f ( x) n . f ' ( x)
dx n  1 n 1
= f ( x) n . f ' ( x )
1
 f ( x) . f ' ( x) dx  n  1 f ( x)
n 1
Dengan demkian, n
c.

Mengingat df ( x)  f ' ( x)dx , maka dapat dirumuskan

14
Dengan metode yang sama seperti di atas (analog), dapat
dikembangkan formula yang lebih umum dari Tabel 1.1 menjadi
Tabel 1.2 berikut.

Tabel 1.2
No Anti Derivatif

1  df (x)  f (x)  c
df ( x)
2  f ( x)
 ln f ( x)  c

1
 f (x) df (x)  n  1 f (x)
n1
3
n
 c , n  1

4  cos f ( x) df ( x)  sin f ( x)  c
5  sin f ( x) df ( x)   cos f ( x)  c
6  e df ( x)  e  c
f ( x) f ( x)

df ( x )
7  cos 2
f (x)
 tan f ( x )  c

df ( x )
8  sin 2
f (x)
dx  cotf ( x )  c

df ( x )
9   arcsin f ( x )  c ;  1  x  1
1   f ( x )
2

df ( x )
10   arccos f ( x )  c ;  1  x  1
 1   f ( x )
2

df ( x )
11  1   f (x) 2
 arctan f ( x )  c

15
Contoh 1.9
1
x 3
2
( x3  7)5 dx = ( x 3  7) 5 d ( x 3  7)

Ingat:
1 1 3
= . ( x  7) 6  c
3 6
1 3
= ( x  7) 6  c .
18

Contoh 1.10
1 1 dx sin x
 ( 2x  tan x )dx = 2  x   cos x dx
1 d cos x
= ln x  
2 cos x

Ingat:

1
= ln x  ln cos x  c
2
x
= ln c .
cos x

Contoh 1.11
1 d ln x
 x ln x dx =  ln x Ingat:
= ln ln x  c .

Contoh 1.12
dx dx
 x2  2x  5 =  ( x  1) 2
4

16
1 dx
=
4 
x 1 2
( ) 1
2
x 1
d( )
1
= .2.  2
4 x 1 2
( ) 1
2
1 x1
= arctan C .
2 2

Contoh 1.13
1
 sin x dx   (1  cos 2 x)dx
2

2
1
  (1  cos 2 x)dx
2
1 1
  dx   cos 2 x dx
2 2
1 1 1
  dx  .  cos 2 x d (2 x)
2 2 2
1 1
= x  sin 2 x  C .
2 4

Contoh 1.14
1
 cos x dx   (1  cos 2 x)dx
2

2
1
 cos x dx   2 (1  cos 2 x)dx
2

1 1
  dx   cos 2 xdx
2 2
1 1 1
  dx  .  cos 2 xd (2 x)
2 2 2

17
1 1

2  dx   cos 2 xd (2 x)
4
1 1
 x  sin 2 x  C
2 4

Contoh 1.15
1 3x
 e dx   3 e d (3x)
3x

1
 e3x  c .
3

Contoh 1.16

2 dx   e ln 2 dx   e x. ln 2 dx
x
x

1

ln 2  e x ln 2 d ( x ln 2)

1 x ln 2
 .e c.
ln 2

Disamping rumus dasar yang tertera pada Tabel 1.2, ada integral
yang sering digunakan. Berikut diuraikan penurunannya.
dx 1
1)   ln tan x  c
sin x 2
dx 1  
2)  cos x  ln tan( 2 x  4 )  c ; 0  x  2

Bukti:
dx dx
sin x 
1)  
1 1
2 sin x. cos x
2 2

18
1
d ( x)
= 2
1 1
cos 2 x. tan x
2 2
1
d tan x
= 2  ln tan 1 x  c
1 2
tan x
2

dx d (  x) 1 
2)    2   ln tan (  x)
cos x sin(  x) 2 2
2
 x
= ln cot(  )
4 2
  x
= ln tan(   )
2 4 2
1 
= ln tan( x  )  c .
2 4

19
Latihan 1
Tentukan integral tak tentu berikut ini.
1. ∫ 3 5 − 2 2 7 − 4
2. ∫ −9 7 8 4 12
5⁄ ;3
3. ∫ (2 4 −3 5)
:3 ;5
4. ∫ ( )
2 4⁄ ;2
5. ∫ ( 3 −3 5)
3x 7  6 x 5  3x 2  8)
6.  dx
x2
7. ∫ 2
2
8. ∫ 3
9. ∫ 3
;5
10. ∫
11. ∫ 4
12. ∫ 95
2 3x
13.  ( 3  4  7)dx
x 5x
4x 5  6x 4  x  7
14.  x x
dx

15.  (3x 5  4 x 2  3).(5x 2  4 x)dx


16.  ( x  5) 7 dx
1
17.  ( x 2  3) 6 xdx
2
18.  3x 2 ( x 3  5) 8 dx
19.  x  9dx
5

20.  3z 2 6 z 3  1dz

20
21.  ( x 2  3x  2) 8 (2 x  3)dx

22.  (5x 2  1) 5x 3  3x  2dx


dx
23. 
5  4x  2x2
x . dx
24.  2
x  4x  8

21
BAB 2
TEKNIK PENGINTEGRALAN

Kita telah memahami apa arti  f ( x)dx . Notasi  f ( x)dx


berarti anti derivatif dari f atau integral tak tentu dari .
Menentukan fungsi yang sama dengan  f ( x)dx berarti mencari
fungsi yang derivatifnya adalah f (x). Mencari fungsi yang
derivatifnya f (x) dengan cara coba-coba sering tidak efisien.
Namun demikian kita telah memiliki beberapa formula “integral
dasar” seperti pada Tabel 1.1 dan pengembangannya menjadi
Tabel 1.2.
Untuk menentukan integral tak tentu dari suatu fungsi,
kita mungkin dapat langsung menerapkan formula dasar pada
Tabel 1.1 atau Tabel 1.2. Tetapi sering kita harus
memodifikasinya terlebih dahulu. Misalkan kita tidak dapat
langsung menggunakan Tabel 1.1 atau Tabel 1.2 untuk
dx
3
x 2  6 x5
menentukan  ,
x2  2x  5
 3
x
dx .

Pada bab ini akan dibahas teknik-teknik menentukan


integral tak tentu suatu fungsi.

2.1. TEKNIK MENGHILANGKAN AKAR


Kadangkala jika integran memuat akar, menentukan
integralnya relatif lebih sulit dibandingkan dengan tidak memuat
akar. Untuk mempermudah menentukan integralnya kita dapat
melakukan substitusi (penggantian) terhadap suatu bentuk.
Integran yang semula, misalkan fungsi , dengan melakukan

22
substitusi kita munculkan variabel baru, misalkan , sehingga
akhirnya integran berubah menjadi fungsi dalam . Setelah
berubah variabel, kita harapkan pengintegralannya akan lebih
sederhana dan lebih mudah mencarinya. Jika tidak, kita dapat
menggunakan teknik yang lain.

2.1.1. Integran Memuat bentuk p (ax  b)q

Untuk menghilangkan akar dapat dilakukan substitusi


z  ax  b .
p

Dengan substitusi itu kita peroleh:


zp b p.z p 1dz
z p  ax  b ; x  ; dx  .
a a
zp b
Dengan mensubstitusi x menjadi dan dx menjadi
a
p.z p 1dz
, maka integran yang semula fungsi dalam x berubah
a
menjadi fungsi dalam z . Kita berharap dengan melakukan
substitusi ini pengintegralan menjadi lebih sederhana.

Contoh 2.1
x dx
Hitung  (2 x  1)3
Jawab:
1 2
Dengan melakukan substitusi z  2 x  1 diperoleh x  ( z  1)
2
x dx z 2  1 z dz
, dx  zdz , sehingga  (2 x  1)3
=  2 . z3

23
1 z2  1
2  z2
= dz

1 1
=  (1  2 )dz
2 z
1 1
= (z  )  c
2 z
1 1
= ( 2x  1  )c.
2 2x  1

ax  b q
2.1.2. Integran Memuat bentuk p ( )
cx  d

Untuk menghilangkan akar dapat dilakukan substitusi


ax  b
z p .
cx  d

Contoh 2.2
2 2 x
Hitung  (2  x) 2
3
2 x
dx

Jawab:
2 x 2  2z3
Dengan melakukan substitusi z  3 diperoleh x  ,
2 x 1  z3
 12 z 2
dx  dz , sehingga
(1  z 3 ) 2
2 3 2 x 2(1  z 3 ) 2 .z.12 z 2
 (2  x) 2 2  x dx = -  16 z 6 (1  z 3 )2 dz
3 dz 3
=- 
2 z 3
= 2 c
4z

24
2 3 2 x 3 2 x 2
 (2  x)2 2  x dx = 4 3 ( 2  x )  c

2.1.3. Integran Memuat Akar Yang Tidak Senama

Untuk memahami teknik ini perhatikan beberapa contoh berikut


ini.

Contoh 2.3
x  3 x2  6 x
Hitung  dx
x(1  3 x )
Ada tiga bentuk akar yang muncul pada integran, yaitu
2 1 1
2
x  x , x  x dan x  x . Tiga bentuk akar itu kita sebut
2 3 6 6 3 3

tidak senama sebab pangkat penyebutnya tidak sama. Untuk


menghilangkan bentuk akar, kita lakukan dengan menyamakan
penyebutnya terlebih dahulu yaitu dengan melakukan substitusi
1

z  x k dengan adalah KPK dari penyebut-penyebut pangkat .


Perhatikan jawaban soal di atas berikut ini.
Jawab:
Dengan substitusi z  6 x diperoleh x  z 6 dan dx  6 z 5dz
sehingga
x  3 x2  6 x z6  z4  z
 x(1  3 x ) dx =  z 6 (1  z 2 ) (6 z )dz
5

z11  z 9  z 6
= 6 dz
z8  z 6
z6
= 6  ( z3  )dz
z8  z 6

25
1
= 6  (z3  )dz
z 1
2

3 4
= z  6 arctan z  c
2
3
= 3 x 2  6 arctan 6 x  c
2

2.1.4. Integran Memuat Bentuk a2  x2 ; a  0 .


Untuk menghilangkan akar, gunakan substitusi x  a sin t ,
 
 t . Degan substitusi itu kita peroleh:
2 2
dx  a cos t dt
x
t  arcsin
a
a2  x2 = a 2  a 2 sin 2 t

= a 2 (1  sin 2 t )

=a cos 2 t )
= acos t

Contoh 2.4
Hitung ∫
4;
Jawab:
 
Substitusi x  2 sin t ;  t
2 2
dx  2 cos t dt
cos t dt
∫ = 2
4; 4 sin 2 t 4  4 sin 2 t

26
1 cos t dt
=
2  sin 2
t 4(1  sin 2 t )
1 cos t dt
=
2  sin2
t. 2 cos t
1 dt
= 
4 sin 2 t
1
= - cot t + c
4
x
Karena x  2 sin t , maka sin t  . Dengan demikian cot t =
2
4  x2 dx 1 4  x2
x
, sehinga x 4  x2
=-
4 x
+ c.

2.1.5. Integran Memuat Bentuk x2  a2 ; a  0 .


Untuk menghilangkan akar, gunakan substirusi x  a .tan t
 
,  t . Degan substitusi itu kita peroleh:
2 2
dx  a sec2 t dt
x
t  arctan
a
x2  a2 = a2 tan 2 t  a2

= a2 (tan 2 t  1)

= a sec2 t )
= asec t

Contoh 2.5
Hitung  x x 2  4 dx

27
Jawab:
 
Substitusi x  2 tan t ;  t
2 2
dx  2 sec t dt 2

2dt
x x 2  4 dx =  2 sec t. 2.tg t.
cos 2 t
sin t dt
= 8
cos 4 t
d cos t 8
= -8  = +c
cos t4
3 cos 3 t
8 x2  4 3 1
= ( ) +c = ( x 2  4) x 2  4 + c.
3 2 3

2.1.6. Integran Memuat Bentuk x2  a2 ; a  0 .


Untuk menghilangkan akar, gunakan substirusi x  a .sec t ,
 
 t . Degan substitusi itu kita peroleh:
2 2
dx  a sin t. sec2 t dt
x2  a2 = a 2 sec2 t  a 2

= a 2 (sec2 t  1)
=a tan 2 t
= a tan t

Contoh 2.6
dx
Hitung x 2
4x2  9

28
Jawab:
 
Substitusi 2 x  3 sec t ;  t
2 2
3
dx 
sin t.sec2 t dt
2
dx 3 sin t dt
x =
2
4x  9
2 9
2 cos 2 t . sec 2 t.3 tan t
4
2 2
=  cos t dt = sin t + c
9 9
2 4x2  9
= +c
9 2x

2.1.7. Integran Memuat Bentuk ax 2  bx  c


Untuk menghilangkan akar, kita dapat memodifikasi
bentuk itu sehingga kita dapat melakukan substitusi seperti pada
kasus 2.1.4, 2.1.5 atau 2.1.6. Untuk mengetahui substitusi apa
yang kita lakukan, kita perhatikan nilai a dan diskriminannya.
Jika a  0 dan D>0, maka bentuk itu dapat dibawa ke bentuk 2.1.6.
Jika a  0 dan D<0, maka bentuk itu dapat dibawa ke bentuk 2.1.5.
Jika a  0 dan D>0, maka bentuk itu dapat dibawa ke bentuk 2.1.4.
Bagaimana jika a<0 dan D<0? Bagaimana jika a=0? (Coba
jelaskan!)

Contoh 2.7
5 x  4 dx
Hitung  x2  2x  5
Jawab:

29
5 x  4 dx 5 x  4 dx
 x  2x  5
2
=  x  2x  1  4
2

5 x  4 dx
=  ( x  1) 2  4
Substitusi x  1  2 tan t , maka
5 x  4 dx 5(2 tan t  1)  4
 x 2  2 x  5 =  4 tan2 t  4 (2 sec t )dt
2

10 tan t. sec2 t  sec2 t


= 2 dt
4 tan 2 t  4
10 tan t. sec2 t  sec2 t
=  sec t
dt

10 sin t dt
=  cos 2 t
dt -  cos t
d cos t 1 
= -10  cos 2
t
- ln tan( x  )  c
2 4
10 1 x1 
= - ln tan( arctan  c
cos t 2 2 4
10 1 x 1 
= - ln tg ( ( arc.tg  ) + c.
x1 2 2 4
cos.arctan
2

Latihan 2.1

30
Tentukan integral berikut ini.
x2
1.  1  3x
dx

x3
2.  2x  3
dx

x  3 x2  6 x
3.  x(1  3 x )
dx

ln x
4. x 1  ln x
dx

6
2x  3
5. 1 3
2x  3
dx

25  x 2
6.  x
dx

x2
7.  9  x2
dx

x2
8.  16  25 x 2
dx

2x  3
9.  4  x2
dx

1 x2
10.  x
dx

t
11.  4 t2
dt

dx
12. x x2  9
t
13.  t2  9
dt

31
2t  1
14.  t2  9
dt

x2
15.  (x 2
 4) x  4 2
dx

t2  4
16.  t3
dt

17. x 25x 2  1 dx
t 3
18.  5  4t  t 2
dt

5x  4
19.  x  2x  5
2
dx

20. x 3  2 x  x 2 dx
2

x
21.  x  2x  8
2
dx

2x  1
22.  x 2  4x  5
dx

23.  5  4 x  x 2 dx
dx
24.  16  6 x  x 2
dx
25.  x  2x  5
2

dx
26.  x 2  4x  5
3x
27.  x 2  2x  5
dx

32
2.2. INTEGRAN MEMUAT BENTUK FUNGSI RASIONAL

Sering integran berbentuk pecahan rasional dari


polinom.
Jika derajat pembilang lebih besar atau sama dengan derajat
penyebut, maka terlebih dahulu dicari hasil bagi dan sisa
pembagiannya. Hasil baginya merupakan polinom yang
mudah untuk dicari integralnya, sedangkan teknik untuk
menghitung integral sisanya kita tinjau beberapa kasus
berikut ini.

2.2.1. Penyebut dapat difaktorkan menjadi faktor-faktor Linier


dan Berbeda.
Untuk memahami cara menyatakan pecahan
rasional dalam polinom ke bentuk jumlah pecahan
rasional lain yang lebih sederhana, terlebih dahulu anda
perhatikan jumlah bilangan pecahan berikut ini.
1 1 5
  . Penyebut 6 kita peroleh dari KPK 2 dan
2 3 6
5
3. Sebaliknya jika kita nyatakan sebagai jumlah
6
pecahan-pecahan yang penyebutnya lebih sederhana
5 5 1 1
(lebih kecil dari 6) adalah    . Dari mana
6 23 2 3
penyebut 2 dan 3? Dengan memperhatikan proses awal di
atas, kita tahu bahwa 2 dan 3 merupakan faktor-faktor 6.
Demikian pula yang kita lakukan untuk menyederhanakan
pecahan rasional dalam polinom. Setiap pecahan rasional
yang lebih sederhana itu disebut pecahan-pecahan parsial.
Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.

33
Contoh 2.8
x2  1
Hitung  x3  2 x2  3x dx
Jawab:
Dengan menggunakan teknik pembagian Horner,
x  2 x  3x dapat difaktorkan menjadi x( x  3)( x  1) .
3 2

x2  1 x2  1
 x3  2 x 2  3x dx =  x( x  3)( x  1) dx
x2  1
Pecahan rasional kita uraikan menjadi
x( x  3)( x  1)
jumlah pecahan-pecahan parsial, yaitu:
x2  1 A B C
  
x( x  3)( x  1) x x  3 x  1
x2  1 A( x  3)( x  1)  Bx ( x  1)  Cx( x  3)

x( x  3)( x  1) x( x  3)( x  1)
x2  1  A( x  3)( x  1)  Bx( x  1)  Cx( x  3)
x2  1  ( A  B  C) x2  (2 A  B  3C ) x  3 A
Nilai A,B dan C dapat ditentukan dengan menyamakan
koefisien yang bersesuaian, yakni:
Koefisien x 2 : 1=A+B+C
Koefisien x : 0 = -2A+B-3C
Konstanta : 1 = -3A
Dari tiga persamaan tersebut diperoleh nilai = − 3,
5
= 6 dan = 2.
Dengan demikian,
x2  1 1 dx 5 dx 1 dx
 x( x  3)( x  1) dx =- 3  x  6  x  3  2  x  1

34
1 5 1
= - ln x  ln x  3  ln x  1  C.
3 6 2
Disamping cara di atas, untuk menentukan nilai A, B dan C dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
x2  1  A( x  3)( x  1)  Bx( x  1)  Cx( x  3)
5
Untuk x  3 , diperoleh: 10 = 12B atau =6
Untuk x  1 , diperoleh: 2 = 4C atau =2
Untuk x  0 , diperoleh: 1 = -3A atau = − 3.

2.2.2. Penyebut dapat Difaktorkan menjadi faktor-faktor yang


Tidak Semuanya Linier.

Perhatikan contoh berikut.

Contoh 2.9
3x 2  2 x  2
Hitung  ( x  2)( x2  1) dx
Jawab:
3x 2  2 x  2 A Bx  C
  2
( x  2)( x  1) x  2 x  1
2

3x2  2 x  2  A( x2  1)  ( Bx  C )( x  2)
3x2  2 x  2  ( A  B) x 2  (2B  C) x  A  2C
Koefisien x 2 : 3=A+B
Untuk x  2 diperoleh, 10 = 5A atau A = 2
Koefisien x : -2 = -2B + C
Konstanta : 2 = A – 2C, maka C = 0. Akibatnya B = 1.
Dengan demikian,

35
3x 2  2 x  2 2 x
 ( x  2)( x2  1) dx =  x  2 dx   x 2
1
dx

1
= 2 ln x  2  ln x 2  1  C .
2

2.2.3 Penyebut dapat Difaktorkan dan Ada Faktor yang Sama


Agar dapat memahami cara menentukan pecahan-
pecahan parsial untuk kasus ini kita perhatikan terlebih
dahulu penjumlahan bilangan pecahan berikut ini.
1 1 3
  . Penyebut 4 kita peroleh dari KPK 2 dan
2 4 4
3
4. Sebaliknya jika kita nyatakan sebagai penjumlahan
4
3 3 1 1
pecahan-pecahan parsial, maka    . Dari
4 22 2 22
mana penyebut 2 dan 2 2 ? Dengan memperhatikan proses
awal di atas, kita tahu bahwa 2 dan 2 2 merupakan faktor-
3
faktor dari 4. Dengan memperhatikan hal itu maka
12
dapat dipecah dengan cara seperti berikut.
3 3 ... ... ...
 2   2  . Perhatikan contoh yang lain
12 2 x3 2 2 3
berikut ini.
1 1 ... ... ... ...
 2 2   2  2
36 2  3 2 2 3 3
4 1
= 3=
27 3 3 32 33

Coba anda temukan nilai setiap titik-titik di atas!


Demikian pula yang kitalakukan untuk menyederhanakan
pecahan rasional dalam polinom. Perhatikan cara

36
membuat pecahan parsial berikut ini dan kemudian
perhatikan contoh soal.
x2 A B C
dipecah menjadi  
x( x  1) 2
x x  1 ( x  1) 2
x2  x  4 A B Cx  D Ex  F Gx  F
  2 2  2  2
x ( x  1)
2 2 3
x x x  1 ( x  1) 2
( x  1)3

Contoh 2.10
 x2  2x  1
Hitung  ( x  1)( x  2)2 dx
Jawab:
 x2  2x  1 A B C
  
( x  1)( x  2) 2
x  1 x  2 ( x  2) 2
A( x  2) 2  B( x  1)( x  2)  C ( x  1)
=
( x  1)( x  2) 2
 x2  2 x  1  A( x  2)2  B( x  1)( x  2)  c( x  1)
Koefisien x 2 : -1 = A+B
Koefisien x : -2 = 4A+3B+C
Konstanta : 1 = 4A+2B+C
Diperoleh A=2, B=-3 dan C=-1. Dengan demikian,
 x2  2x  1 dx dx dx
 ( x  1)( x  2)2 dx = 2 x  1  3 ( x  2)   ( x  2)2
1
 2 ln x  1  3 ln x  2  C .
x2

Contoh 2.11
6 x 2  15 x  22
Hitung  ( x  3)( x2  2)2 dx
Jawab:

37
6 x 2  15 x  22 A Bx  C Dx  E
  2 
( x  3)( x  2)
2 2
x  3 x  2 ( x 2  2) 2
Dengan menyamakan koefisien yang bersesuaian dan
melakukan eliminasi atau substitusi diperoleh nilai A=1,
B=-1, C=3, D=-5 dan E=0. Sehingga,
6 x 2  15 x  22 dx ( x  3) x dx
 ( x  3)( x2  2)2 dx =  x3  x 2
2
dx  5 2
( x  2)2
1 d ( x 2  2) dx 5 2 x dx
= ln x  3   2  3 2   2
2 x 2 x  2 2 ( x  2) 2
1 3 x 5
= ln x  3  ln(x 2  2)  arctan    C
 2  2(x  2)
2
2 2

Latihan 2.2
Tentukan integral berikut ini.
2
1.  2 dx
x  2x
2
2.  2 dx
x 1
5x  3
3.  2 dx
x 9
x6
4.  2 dx
x  2x
x  11
5.  2 dx
x  3x  4
3x  13
6.  2 dx
x  3x  10
2x  1
7.  3 dx
x x
t 2  2t  2
8.  dt
(t  1)(t  2) 2

38
2t  3
9.  9t 2
 12t  8
dt

t2
10.  dt
(t  1)(t 2  1) 2
x4  x2  2x  3
11.  x2  x dx
2 x  21
12.  2 dx
2x  9x  5
2x2  x  4
13.  3 dx
x  x2  2x
x3  4 x
14.  2 dx
( x  1) 2
x3  8 x 2  1
15.  ( x  3)( x  2)( x3  1) dx

2.3. INTEGRAN MEMUAT BENTUK FUNGSI RASIONAL


DALAM FUNGSI TRIGONOMETRI

39
Bentuk rasional dalam fungsi trigonometri yang
dimaksud adalah suatu bentuk yang terdiri dari sebanyak
hingga penjumlahan, pengurangan, perkalian dan
sin x  3 cos x
pembagian dari sin x dan cos x . Bentuk ,
cos x  2 sin x
sin x 2 sin 3 x
, adalah beberapa contoh bentuk
1cos x  2 sin 2 x 1  3 sin x
rasional dalam fungsi trigonometri.
Untuk menghitung suatu integral yang integrannya
merupakan bentuk rasional dalam fungsi trigonometri dapat
x
dilakukan substitusi u  tan( ),    x   . Dengan
2
melakukan substitus itu diharapkan integran menjadi fungsi
dalam u yang dapat diintegralkan dengan metode yang telah
kita pelajari sebelumnya.
x
Dengan substitusi u  tan( ) , maka diperoleh:
2
x 2
 arctan u ; dx  du
2 1  u2
x 1 1 1
cos( )   
2 x x 1  u2
sec( ) 1  tg 2 ( )
2 2
 1 
sin( x )  tg ( x ) cos( x )  u 

2 2 2
 1 u 
2

Sehingga diperoleh:
 1   1 
sin x  2 sin( x ). cos( x )  2u 





2 2
 1 u   1 u 
2 2

2u
sin x 
1  u2

40
2u 2
cos x  1  2 sin 2 ( x )  1 
2 1  u2
1  u2
cos x  .
1  u2

Contoh 2.12
dx
Hitung 
1  sin x
Jawab:
x
Dengan substitusi  arctan u , maka diperoleh:
2
dx 1  2  2
 1  sin x =   2u   1  u 2  du   1  2u  u 2 du
1  2 
1 u 
2 2 2
=  (1  u) 2
du  
1u
C  
1  tan(x 2 )
 C.

Contoh 2.13
dx
Hitung  2  cos x
Jawab:
x
Dengan substitusi  arctan u , maka diperoleh:
2
dx 2 1 du
 2  cos x =  1  u 2 . 1  u 2 du  2 u 2  3
2
1  u2
 u 
3.d  
= 
2  3   2 3 arctan  u   C
 
3  u 2 3  3
  1
 3

41
 tan 1 x 
2  2 C
= 3.arctan  
3  3 
 

Latihan 2.3
Hitung integral berikut ini
dx
1. 
3sin x  4 cos x
dx
2. 
2 sin x  cos x  2
dx
3. 
3  5 sin x
dy
4. 
4 sin y  3 cos y
dx
5.  sin x  tgx
cos x
6.  2  cos x dx
7. ∫ : :
dx
8.  sin x(2  cos x  2 sin x)

BAB 3
INTEGRAL PARSIAL

42
Teknik lain sebagai salah satu alternatif yang mungkin
dapat dilakukan untuk menentukan integral tak tentu adalah
dengan pengintegralan parsial. Teknik ini didasarkan pada
turunan hasil kali dua fungsi.
Misalkan u  f ( x) dan v  g ( x), maka
d
 f ( x).g ( x)  f ( x).g , ( x)  g ( x). f , ( x) .
dx
Dengan mengintegralkan kedua ruas persamaan di atas (dan
menggunakan Teorema 1.4) kita peroleh
f ( x).g ( x)   f ( x).g , ( x)dx   g ( x). f , ( x)dx

Atau  f ( x).g ( x)dx  f ( x).g ( x)   g ( x). f ( x)dx .


, ,

Karena dv  g , ( x)dx dan du  f , ( x)dx , persamaan terakhir dapat


ditulis sebagai berikut.

∫ = −∫ .

Persamaan di atas sering kita sebut dengan Rumus Integral


Parsial (bagian demi bagian)

Contoh 3.1
Tentukan  xcos x dx
Jawab:
Kita akan memisalkan xcos x dx sebagai u dv . Salah satu caranya
adalah dengan memisalkan u  x dan dv  cos x dx . Dengan
pemisalan itu kita peroleh du  dx dan v   cos x dx  sin x .
Dengan rumus integral parsial kita peroleh,

 x cos x dx  x.(sin x)   sin x dx

43
 x.sin x  cos x C .
Pemisalan u dan dv dipilih sehingga integral yang muncul lebih
sederhana dan dapat diselesaikan. Pemilihan yang keliru tidak
akan membantu dalam menyelesaikan integral bahkan justru
dapat memunculkan integral yang lebih rumit. Jika untuk soal di
atas kita melakukan pemisalan u  cos x dan dv  xdx , maka kita
x2
peroleh du   sin xdx dan v  . Dengan menggunakan rumus
2
integral parsial, maka diperoleh,
x2 x2
 x cos x dx  (cos x) 2
  ( sin x dx) .
2
Dengan melakukan pemisalan tersebut justru memunculkan
integral yang lebih rumit.

Contoh 3.2
Tentukan  ln x dx
Jawab:
Misalkan u  ln x dan dv  dx , maka
1
du  dx dan v  x .
x
Dengan menggunakan rumus integral parsial kita peroleh,
1
 ln x dx  x ln x   x. x dx
 xln x   dx  x ln x  x  C .
Contoh 3.3
Tentukan  arc.sin x dx
Jawab:

44
Misalkan u  arcsin x dan dv  dx , maka
1
du  dx dan v  x .
1  x2
Dengan menggunakan rumus integral parsial kita peroleh,
x
 arc.sin x dx  x .arcsin x   1  x2
dx

1
1
 x . arcsin x 
2  (1  x 2 ) 2 d (1  x 2 )

2
= . .2 1 − .
2

Contoh 3.4
Tentukan  e2 x cos 3x dx
Jawab:
Ada dua pilihan yang dapat kita lakukan yaitu,
1
(1) mengubah e2 x dx menjadi d (e 2 x ) atau
2
1
(2) mengubah cos 3x dx menjadi d (sin 3x) .
3
Jika kita lakukan yang (1), maka
1
e cos 3x dx 
2
cos 3x d (e2 x ) . Dengan menggunakan rumus
2x

integral parsial diperoleh,


1 2x
e cos 3x dx  (e cos 3x  3 e2 x sin 3x dx
2x

2
1 3
 (e2 x cos 3x   sin 3x d (e2 x )
2 2
1
2
3

 (e2 x cos 3x  e2 x sin 3x   e2 x d sin 3x )
2

45
2 3 2 2
= 2( 3 . [ 3 − 3∫ 3 ])
2 2
3 2 9
e cos 3x dx = 2 2
3 3 − 4∫ 2
3
2x
4

Kita perhatikan bahwa integral awal muncul kembali dengan


9
koefisien − 4. Jika kita sederhanakan diperoleh,
13 2
1 2
3 2
∫ 3 = 3 3
4 2 4
2
4 1 2
3 2
∫ 3 = [ 3 3 ]
13 2 4

5 2x 1 3
2  e cos 3x dx  e2 x cos 3x  e2 x sin 3x  C
2 4
1 2x 3 2x
 e cos 3x dx  5 e cos 3x  10 e sin 3x  C
2x

Contoh 3.5
3 x
Hitung  3 x
dx

Jawab:
3 x 3(1  z 2 )
Misalkan z  , maka diperoleh x  sehingga,
3 x 1  z2
3 x 1  z2 
 dx = 3 z. d  
2 
3 x 1 z 
 1  z2 z2 1 
= 3 z .
 1 z
2
  z 2  1 dz 
 1  z2  2 
= 3.  z .   1  2 dz  
 1 z  z 1  
2

46
3z(1  z2 )
=  3z  6 arctan z  C ,
1  z2
3 x
dengan z  .
3 x

Latihan 3
Hitung integral berikut ini
1.  xarcsin xdx

2.  x arctgxdx

3.  x e x dx

4.  ln 3xdx

5.  x x  1 dx

1
6.  arctg  t  dt
7.  arcsin x dx
2

8.  sin x ln cos x dx

9.  e sinh 2 x dx
x

arcsin x
10.  (1  x) 2
dx

x earcsin x
11.  1  x2
dx

12.  x 2 e x dx

47
13.  ln 2 x dx

14.  x cos x dx
2

15.  x ln(2 x  1) dx
x cos x
16.  sin3
x
dx

 1
17.  x ln 1   dx
 x

BAB 4

48
RUMUS REDUKSI

  f ( x) dx menjadi bentuk lain


n
Jika kita dapat mengubah
yang pangkat integrannya lebih rendah, yaitu

  f ( x) dx  g ( x)    f ( x) dx
n
dengan k  n , maka bentuk
k

terakhir itu kita sebut dengan rumus reduksi. Rumus reduksi


sering kita dapatkan dengan melakukan integral parsial.
Perhatikan beberapa rumus reduksi berikut ini.

 sin xdx   sin n1 x . sin x dx


n

  sin n1 x. d (cos x) .


Dengan menerapkan integral parsial kita peroleh,

 sin xdx   sin n1 x. cos x   cos x. d (sin n1 x)


n

 sin xdx   sin n1 x. cos x  (n  1) cos x. sin n2 x. cos xdx
n

 sin xdx   sin n1 x. cos x  (n  1) sin n2 x. cos 2 xdx
n

Dengan mengganti cos 2 x dengan 1 sin 2 x kemudian


menguraikannya, maka diperoleh,

 sin xdx   sin n1 x. cos x  (n  1) sin n2 dx  (n  1) sin n xdx
n

Dengan mengumpulkan yang sejenis dan membagi kedua ruas


dengan n maka diperoleh rumus reduksi yang berlaku untuk
bilangan asli n; n  2 :

Dengan cara yang sama dapat diturunkan rumus untuk cosinus


yakni

49
Contoh 4.1
Tentukan  sin 4 xdx
Jawab:
 sin 3 x. cos x 3
 sin xdx =
4
  sin 2 xdx
4 4
 sin 3 x. cos x 3 1
=   (1  cos 2 x)dx
4 4 2
 sin 3 x. cos x 3 1
=  ( x  sin 2 x)  c
4 8 2

Contoh 4.2
Tentukan  sin 5 xdx
Jawab:
 sin 4 x. cos x 4
 sin xdx =
5
  sin 3 xdx
5 5
 sin 4 x. cos x 4   sin 2 x cos x 2 
=     sin xdx 
5 5 3 3 
 sin 4 x. cos x 4 8
=  sin 2 x cos x  cos x  c
5 15 15

Contoh 4.3
Tentukan  cos 5 xdx

50
Jawab:
cos 4 x. sin x 4
 cos xdx =
5
  cos 3 xdx
5 5
cos 4 x. sin x 4  cos 2 x. sin x 2 
=     cos xdx 
5 5 3 3 
cos 4 x. sin x 4 8
=  cos 2 x sin x  sin x  c
5 15 15
Untuk pangkat bilangan ganjil, dapat pula dikerjakan dengan cara
sebagai berikut.

Contoh 4.4
Tentukan  sin 5 xdx
Jawab:

 sin xdx =  sin 4 x. sin x dx


5

=   sin 4 x. d cos x

=   (sin 2 x) 2 d cos x

=   (1  cos 2 x) 2 d cos x

=   (1  2 cos 2 x  cos 4 x) d cos x


2 1
=  cos x  cos 3 x  cos 5 x  c
3 5
Cara di atas juga dapat digunakan untuk cosinus.
Disamping dua rumus reduksi di atas, juga berlaku dua rumus
berikut untuk bilangan asli m dan m  2.

51
Contoh 4.5
dx
Tentukan  sin 6
x
Jawab:
dx cos x 4 dx
 sin 6
x
=  
5 sin x 5 sin 4 x
5

cos x 4   cos x 2 dx 
=     2 
5 sin x 5  3 sin x 3 sin x 
5 3

cos x 4 cos x 8
=   cot x  c
5 sin x 15 sin 3 x 15
5

Latihan 4
Hitung integral berikut ini
1.  sin 6 xdx

52
2.  cos 4 xdx

3.  sin
7
xdx

4.  cos 5
xdx

dx
5.  sin 4
x
dx
6.  cos 5
x
dx
7.  sin 8
x
dx
8.  cos 6
x

BAB 5
INTEGRAL TENTU

53
5.1 Notasi Sigma
Sering kita melakukan penjumlahan beberapa bilangan,
misalkan 2+4+6+8+10+12+14+16+18+20+22+24. Untuk
mempersingkat penulisan penjumlahan tersebut kadangkala kita
hanya menulis dengan 2+4+6+ . . . + 24. Tentunya penulisan itu
kita lakukan jika bentuk penjumlahan itu mempunyai pola
tertentu dan dapat diamati polanya dari beberapa suku saja.
Disamping cara penulisan seperti di atas, ada notasi lain
yang dapat kita pakai dan lebih menguntungkan dalam
penggunaannya. Keuntungannya adalah lebih efisien dan lebih
mudah difahami dalam menuliskan formula yang berlaku. Notasi
itu adalah  (huruf Yunani: sigma besar). Notasi itu dibaca
“sigma”.
Penjumlahan 12 22 32 42 tiap sukunya merupakan
2
bentuk dengan merupakan bilangan bulat mulai 1 sampai 4.
Dalam notasi sigma penjumlahan tersebut ditulis dengan,
4
2
∑ .
<
Bentuk penjumlahan
2+4+6+8+10+12+14+16+18+20+22+24 dapat ditulis
12
dengan  2n . Perhatikan penulisan notasi sigma berikut ini.
n 1
6
2
∑ 1=2 5 1 17 25 37
<
9
1 1 1 1 1 1 1 1 1
∑ =1
2 3 4 5 6 7 8 9
<

54
6

∑ 2 1 =3 5 7 9 11 13
<
8

∑ 3 − 5 =4 7 1 13 16 19
<3

Sifat:
n n
(1)  c.ai  c. ai
i 1 i 1

n n n
(2)  (ai  bi )  . ai   bi
i 1 i 1 i 1

n n n
(3)  (a
i 1
i  bi )  . ai   bi
i 1 i 1

Latihan 5.1
Tentukan nilai jumlahan berikut ini
5
1.  (5k  2k  3)
k 1

55
6
2i
2. i6
i 1

4
3.  2i
i 1
2
1

6
4.  ( j  1)
j 1
2

5. ∑4 < sin 2
6. ∑6<2 3 −1
7. ∑5< −1
8. ∑7 < 2
9. ∑5 <3 2 :

10. ∑5<2 2

Tuliskan jumlah berikut dengan menggunakan notasi sigma.


11. 1+2+3+4+ . . . +80
12. 2+4+6+8+ . . . + 94
1 1 1 1 1
13. 1      . . .
2 3 4 5 55
1 1 1 1 1
14. 1     . .. 
2 3 4 5 55
15. a1  a2  a3  . . .  a77
16. c5  c6  c7  . . .  c58
17. − 2 3 − 4 5
18. − − 2 3 − 4
2 3 4
19. 2 3 4
5 4 3 2 2 3 4 5
20.

56
5.2 Jumlah Riemann
Konsep luas diawali dengan definisi
bahwa luas daerah persegi panjang dengan
l

p
57
ukuran panjang p satuan dan lebar l satuan adalah (p  l) satuan
luas.
Berikut ini akan diuraikan konstruksi definisi jumlah
Riemann. Konsep jumlah Rieman terkait erat dengan konsep luas
daerah persegi panjang.
Misalkan fungsi f terdefinisi pada selang [a, b]. Bagilah selang
[ ] menjadi n buah subselang (secara umum panjangnya tidak
harus sama). Misalkan panjang subselang ke-i adalah xi . Dengan
demikian xi  xi  xi 1 .

a b

x x x x x x
−{ 2 } disebut partisi dari selang [a, b].

Ambil sebarang titik xi pada tiap selang bagian [x i 1 , x i ]. Titik itu

kita sebut dengan titik sampel untuk selang [x i 1 , x i ]. Untuk setiap

selang bagian, hitunglah f ( xi ) . xi . Kemudian jumlahkan semua

hasil kali f ( xi ) . xi mulai dari i=1 sampai i=n. Jumlahan itulah

yang kita sebut dengan jumlah Rieman untuk yang bersesuaian


dengan partisi dan dapat kita tulis dengan

=∑ ̅ .
<

Jika xi sama untuk setiap i dari 1 sampai n dan kita tulis xi = x ,

maka RP dapat ditulis,

58
Tafsiran geometris jumlah Rieman dari fungsi f untuk suatu partisi P
dapat diillustrasikan sebagai berikut (untuk n=7).

menyatakan luas persegi panjang dengan panjang | | dan


lebarnya sama dengan panjang ruas garis dari ; ke .
7

∑ 𝑓 𝑥̅𝑖 . 𝑥𝑖 = 𝐴 −𝐴2 −𝐴3 −𝐴4 𝐴6 𝐴7


𝑖<

𝑦=𝑓 𝑥

𝑥
𝐴7
𝐴 𝐴6
𝑥2 𝑥3 𝑥4
𝑎=𝑥 𝐴2 𝐴5 𝑥6 𝑥6 𝑥7 𝑥 = 𝑏
𝐴3 7
𝑥 𝑥2 𝐴4
𝑥5 𝑥5
𝑥3
𝑥4
Dengan demikian secara geometris jumlah Rieman dapat
ditafsirka sebagai jumlah aljabar dari luas-luas.
Dalam hal fungsi f bernilai nonnegatif pada selang [a, b], maka
jumlah Riemann dapat diartikan sebagai jumlah luas-luas.

Contoh 5.1

59
Hitung jumlah Riemann untuk fungsi f dengan persamaan
f ( x)  x 2  1 pada selang [-1, 2] untuk partisi P= {-1; -0,5; 0; 0,5;
1; 1,5; 2} dengan titik sampel xi adalah titik tengah subselang ke-
i.
Jawab:
x0  1; x1  0,5; x2  0; x3  0,5; x4  1; x5  1,5 dan x6  2
x1  0,5 ; x2  0,5 ; x3  0,5 ; x4  0,5 ; x5  0,5 dan
x6  0,5
x1  0,75; x2   0,25; x3  0,25; x4  0,75; x5 1,25 dan x6 1,75

Dengan menggunakan kalkulator diperoleh,


RP [ f (0,75)  f (  0,25)  f ( 0,25)  f ( 0,75)  f (1,25)  f (1,75)]. (0,5)
RP [1,5625 1,0625 1,0625 1,5625  2,5625  4,0625]. (0,5)
RP  5,9375 .
Ilustrasi geometrisnya sebagai berikut.

𝑦 = 𝑥2 1

60
Contoh 5.2
Hitung jumlah Rieman untuk fungsi f dengan persamaan
f ( x)  ( x  1).( x  2).( x  4)  x 3  5x 2  2 x  8 pada selanng [0, 5]
untuk partisi P= {0; 1,1; 2; 3,2; 4; 5} dan untuk titik sampel
x1  0,5; x2  1,5; x3  2,5; x4  3,6 dan x5  5 .
Jawab:
n
RP   f  x  . xi
i 1
i

       
RP  f x1 . x1  f x2 . x2  f x3 . x3  f x4 . x4  f x5 . x5  
RP  (7,875). (1,1  0)  (3,125). (2  1,1)  (2,625). (3,2  2)
 (2,944).(4  3,2) 18. (5  4)
RP  23,9698
Illustrasi geometrisnya sebagai berikut.

61
Latihan 5.2

n
Tentukan jumlah Rieman RP   f ( xi ) . xi untuk data
i 1

berikut ini.

62
1. f ( x)  2x  1; P  {0; 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5; 3} ;
x1  0; x2  0,5; x3  1; x4  1,5 ; x5  2; x6  2,5;
2. f ( x)  2 x 2  3x  5; P  {1; 1,4; 1,8; 2,2; 2,6; 3} ;
x1  1; x2  1,4; x3  1,8; x4  2,2; x5  2,6.
1
3. f ( x)  x 3  2 x  1; [2, 4] dibagi menjadi enam subselang
3
yang sama panjang dan xi adalah titik tengah subselang
ke-i.

5.3 Integral Tentu


Pada pembahasan ini dan selanjutnya partisi yang kita
gunakan adalah partisi seragam dan notasi xi dan xi
mempunyai makna yang sama dengan notasi pada bahasan 5.2

63
yaitu berturut-turut menotasikan panjang subselang ke-i dan titik
sampel subselang ke-i.
Berikut ini adalah definisi integral tentu.

Definisi: Integral tentu sebagai limit jumlah Riemann


Misalkan 𝑓 adalah fungsi yang didefinisikan pada [a, b].
Jika
𝑛

lim ∑ 𝑓 𝑥̅𝑖 . 𝑥𝑖
𝑛→∞
𝑖<
ada, maka kita katakan 𝑓 terintegralkan pada [a, b].
Selanjutnya nilai limit itu kita sebut integral tentu (integral
Riemann) dari 𝑓 dari 𝑎 ke 𝑏 dan dinotasikan dengan
𝑏
∫ 𝑓 𝑥 𝑑𝑥
𝑎
Jadi dalam hal ini ,
𝑏 𝑛

∫ 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 = lim ∑ 𝑓 𝑥̅𝑖 . 𝑥𝑖
𝑎 𝑛→∞
𝑖<

Sebaliknya jika limit di atas tidak ada, kita katakan fungsi 𝑓 tak
terintegralkan pada [a, b].

Dengan demikian jika f terintegralkan pada [a, b] maka

64
b
Pada notasi  f ( x) dx ,
a
kita katakan adalah batas bawah

pengintegralan, adalah batas atas pengintegralan dan f (x)


adalah integran (yang diambil integralnya).
Berdasarkan konstruksi dari definisi integral tentu di atas, notasi
b

 f ( x) dx menyatakan secara implisit bahwa a  b . Namun untuk


a

selanjutnya asumsi itu kita hilangkan dengan definisi berikut ini.

Definisi:

Contoh 5.3
3
Hitung  ( x  3) dx
2

Jawab:
Buat partisi dari selang [-2, 3] dengan membagi selang itu
menjadi n subselang yang sama panjang. Ambil titik sampel xi

dari selang xi 1 , xi  dengan xi = xi .

𝑌
𝑦=𝑥 3

65
𝐴
Maka:
5
x 
n
x0  2
5
x1  2  x  2 
n
5
x2  2  2.x  2  2 
n
. . . . . .
5
xi  2  i. x  2  i. 
n
. .. . . .
5
xn  2  n. x  2  n.   3
n
5 5
f ( xi )  xi  3  2  i.    3  1  i.   , sehingga:
n n
n n

 f ( xi ). xi   f ( xi ). x
i 1 i 1

n
  5  5
=  1  i. n  . n
i 1  

66
5 n 25 n
= . 1  2 . i
n i 1 n i 1
5 25  n(n  1) 
= . ( n)  2 
n n  2 
25  1 
=5+ .1  
2  n
3 n

 ( x  3) dx = lim  f ( xi ) . xi
2
n 
i 1

 25  1 
= lim 5  1  
n 
 2  n 
35
= .
2

Contoh 5.4
4
Hitung  ( x  3) dx
1

Jawab:
Buat partisi dari selang [1, 4] dengan membagi selang itu menjadi
n subselang yang sama panjang. Ambil titik sampel xi dari selang
xi1 , xi  dengan xi = xi .

Maka:
3
x 
n
x0  1
3
x1  1  x  1 
n

67
3
x2  1  2.x  1  2 
n
. . . . . .
3
xi  1  i. x  1  i. 
n
. .. . . .
3
xn  1  n. x  1  n.   4
n
3 3
f ( xi )  xi  3  1  i.    3  2  i.   , sehingga:
n n
n n

 f ( xi ). xi   f ( xi ). x
i 1 i 1

n
  3  3
=   2  i. n  . n
i 1  
n
6 9 n
=  . 1  2 . i
n i 1 n i 1
6 9  n(n  1) 
=  . ( n)  2 
n n  2 
9  1
= -6 + .1  
2  n
4 n

 ( x  3) dx = lim  f ( xi ) . x
1
n 
i 1

 9  1 
= lim  6  1  
n 
 2  n 
1
= 1 .
2

Contoh 5.5

68
3
Hitung  (2 x 2  8) dx
1

Jawab:
𝑦 = 2𝑥 2 − 8

-1
1 2 3

Buat partisi dari selang [-1, 3] dengan membagi selang itu


menjadi n subselang yang sama panjang. Ambil titik sampel xi
dari selang xi 1 , xi  dengan xi = xi .
Maka:
4
x 
n
x0  1
4
x1  1  x  1 
n
4
x2  1  2.x  1  2 
n
. . . . . .

69
4
xi  1  i. x  1  i. 
n
. .. . . .
4
xn  1  n. x  1  n.   3
n
2
 4  16i 32i 2
f ( xi )  2( xi )  8  2   1  i.  .   8  6 
2
 2 ,
 n  n n
sehingga:
n n

 f ( x ). x   f ( x ). x
i 1
i i
i 1
i

n
 16 i 32 i 2  4
=  
i 1 
 6 
n
 2 .
n  n
24 n 64 n 128 n
= . 1  2 . i  3  i 2
n i 1 n i 1 n i 1
24 64n(n  1) 128n (n  1) (2n  1)
= . ( n)   3
n n2 . 2 n 6

 1  128  2  3  1 
= -24-32 1   +  
 n 6  n n2 

3 n

 (2 x  8) dx = lim  f ( xi ) . x
2
n 
1 i 1

  1  128  3 1 
= lim  24  321     2   2 
n 
  n 6  6 n 
128 40
=  24  32   .
3 3

70
Sifat-sifat Integral tentu:
(1) Jika f kontinu pada [a, b], maka f terintegralkan pada [a, b]
b n
(2)  dx  lim
n  i 1
 x i ba
a

b n
(3)  k. dx  lim  k. x
n  i 1
i  k (b  a)
a

(4) Jika f dan g terintegralkan pada [a, b], maka f+g, c.f, f-g
juga terintegralkan pada [a, b] dan berlaku:
b b b
(a)  ( f ( x)  g ( x) )dx   f ( x) dx   g ( x) dx
a a a

b b
(b)  c. f ( x) dx  c. f ( x) dx
a a

b b b
(c)  ( f ( x)  g ( x) )dx   f ( x) dx   g ( x) dx
a a a

(5) Jika terintegralkan pada [a, b] dan c  [a, b], maka juga
terintegralkan pada [a, c] dan pada [c, b] serta memenuhi
b c b

 ( f ( x)dx   f ( x) dx   f ( x) dx
a a c

Pembuktian sifat-sifat di atas merupakan bahan latihan untuk


pembaca.

Contoh 5.6
2 2 2

 (4 x  5 x ) dx  4 xdx  5 x 2 dx
2

0 0 0

Latihan 5.3

71
Untuk tiap nilai a dan b yang diberikan, nyatakan limit berikut
sebagai sebuah integral tentu.
n
1. lim  ( xi ) 3 . xi ; a  1, b  6
n 
i 1

n
2. lim  ( xi  2) 2 . xi ; a  3, b  9
n 
i 1


n xi 
3. lim  
.  x i ; a  1, b  5
n 
i 1
xi  3
n 

4. lim  (sin 2
xi ) . x ; a  0, b  
i
n 
i 1

Hitung integral tentu berikut dengan menggunakan limit jumlah


Rieman.
4
5.  (2 x  4) dx
0

6
6.  (2 x 2  1) dx
2

1
7.  (x  2) dx
2

2

5.4 Teorema Fundamental Kalkulus


Kita telah mempelajari integral tak tentu dan integral
tentu. Menghitung integral tentu dengan menggunakan definisi
memerlukan waktu yang relatif lama dan sering cukup rumit
untuk banyak fungsi. Kesulitan yang dialami adalah dalam
menentukan jumlah suatu deret dalam n.

72
Isaac Newton dan Gottfried Leibniz secara
bersamaan di tempat yang berbeda keduanya
menemukan kaitan antara integral tak tentu
(anti turunan) dengan integral tentu.
Demikian pentingnya temuan itu sehingga
teorema tentang itu disebut “teorema
fundamental kalkulus”.
Dengan teorema fundamental kalkulus kita dapat
menghitung integral tentu tidak dihitung melalui jumlah
Riemannya, tetapi dihitung dengan menentukan terlebih dahulu
integral tak tentunya dan kita telah banyak belajar tentang hal itu.
Sebelum membahas teorema fundamental kalkulus, terlebih
dahulu kita bicarakan teorema nilai rata-rata yang diperlukan
dalam pembuktian teorema fundamental kalkulus.

Teorema Nilai Rata-rata


Ide dasar teorema nilai rata-rata secara geometris adalah bahwa
jika f adalah fungsi kontinu pada [a, b] dan f (a) tidak sama
dengan f (b) , maka pasti ada garis singgung kurva f di suatu
titik c [a, b] yang sejajar dengan garis AB (perhatikan dua
gambar berikut).

•B

A•
73

c b
a

A•

a b

Pada topik turunan (Matematika Dasar) kita sudah


f (b)  f (a)
membicarakan bahwa kemiringan garis AB adalah
ba
dan kemiringan garis singgung f di titik C adalah f ' (c ) . Secara
formal teorema nilai rata-rata adalah sebagai berikut.

Teorema Nilai rata-rata


Jika f adalah fungsi kontinu pada [a, b] dan terdiferensialkan
pada (a,b), maka terdapat paling sedikit sebuah titik
sehingga

, atau dapat ditulis

74
Bukti:
Kita definisikan s( x)  f ( x)  g ( x) ,dengan y  g(x ) adalah
persamaan garis yang melalui titik (a, f (a)) dan titik (b, f (b))
(perhatikan ilustrasi gambar di bawah ini).

𝑦=𝑓 𝑥

𝑏𝑓 𝑏

𝑦=𝑔 𝑥

𝑎 𝑓 𝑎
𝑠 𝑥
f (b)  f (a)
Garis y  g(x ) mempunyai kemiringan (gradien) .
ba
Karena garis y 𝑎g(x ) melalui𝑥 titik (a, f 𝑏(a)) , maka persamaan
garis y  g(x ) dapat ditulis
f (b)  f (a)
g ( x)  f ( a )  . ( x  a) . Dengan demikian rumus
ba
f (b)  f (a)
s(x) adalah s( x)  f ( x)  f (a)  . ( x  a) .
ba
Dari rumus s(x) di atas, kita peroleh s(a)  s(b)  0 .
Disamping itu kita mempunyai persamaan
f (b)  f (a)
s ' ( x)  f ' ( x)  (*)
ba

75
Karena f dan g kontinu pada [a, b], maka s juga kontinu pada [a,
b]. Berdasarkan teorema eksistensi Maksimum-Minimum (pada
Matematika Dasar), maka s pasti mencapai maksimum dan
minimum pada [a,b]. Kita tinjau 2 (dua) kasus yang mungkin
terjadi, yaitu:
(1) Nilai maksimum sama dengan nilai minimum dan sama
dengan nol. Maka s ' ( x)  0 untuk setiap x  (a, b) . Ini
mengakibatkan f ' ( x)  g ' ( x) di setiap x  (a, b) . Ini telah
membuktikan kebenaran teorema di atas.
(2) Salah satu dari nilai maksimum atau nilai minimum tidak
sama dengan nol. Maka nilai tak nol tersebut akan dicapai di
suatu titik c  (a, b) . Jadi tidak mungkin nilai maksimum atau
nilai minimum yang tak nol itu terjadi di x  a atau di x  b ,
karena s(a)  s(b)  0 . Karena s mempunyai turunan di (a,b)
dan berdasarkan Teorema Titik Kritis (Matematika Dasar),
maka s ' (c)  0 ■

Kita sudah membuktikan teorema nilai rata-rata. Berarti kita


sudah cukup bekal untuk membahas teorema fundamental
kalkulus. Berikut bunyi teorema itu.

Teorema Fundamental Pertama Kalkulus


Misalkan fungsi f kontinu pada [a, b] dan misalkan F sebarang
anti turunan dari f, maka

76
Bukti:
Misalkan P  {a  x0 , x1 , x2 , . . . , xn  b} adalah partisi
seragam dari [a,b].
F (b)  F (a)  F ( xn )  F ( xn1 )  F ( xn1 )  F ( xn2 )  F ( xn2 )  . . .
 F ( x1 )  F ( x1 )  F ( x0 )
n
=  F ( x )  F ( x ) .
i 1
i i 1

Dengan menerapkan teorema nilai rata-rata (yang sudah kita


buktikan sebelumnya) pada F pada setiap sub interval [ xi 1 , xi ],

kita peroleh x i [xi 1 , xi ] sehingga

 
F(xi )  F(xi 1 )  F ' xi .(xi  xi 1 )  f xi .xi  
Sehingga diperoleh,
n
F(b)  F( a)   f xi . xi .
i 1
 
Jika kedua ruas kita ambil limitnya kita peroleh,
n
lim F (b)  F (a)  lim
n  n 
 f  x  . x
i 1
i i

n b
 F (b)  F (a)  lim
n 
 f  x  . x
i 1
i i =  f ( x)dx ■
a

Contoh 5.7
3
Hitung  ( x 2  2 x) dx
1

Jawab:
Karena f ( x)  x 2  2 x kontinu pada [1,3] dan anti turunan dari

77
3
1
3
f adalah F ( x)  x 3  x 2 , maka  ( x 2  2 x) dx =
1 3 2  =
3 1  3 x  x 
1
2
.
3
1 3
Kita boleh mengambil F ( x)  x  x 2  c , hal ini tidak akan
3
berpengaruh pada hasil akhir.

Contoh 5.8

Hitung 
0
sin x dx

Jawab:
Karena f ( x)  sin x kontinu pada [0,  ] dan anti turunan dari f

adalah F ( x)   cos x , maka 


0

 
sin x dx =  cos x = 2..
0

Contoh 5.9
x
x
Hitung 1 x
0
4
dx

Jawab:
x
Karena f ( x)  kontinu pada [0,1] dan
1 x2
x 1 d( x 2 ) 1
 1  x4 dx  
2 1   x2  2
 arctan x 2  c , maka
2

78
1
x
x  1 arctan x 2  
0 1  x 4 dx =  2 

8
.
0

Teorema Fundamental Kedua Kalkulus


Misalkan fungsi 𝑓 kontinu pada interval 𝐼 dan misal 𝑎 adalah
sebarang titik di 𝐼. Jika 𝐹 didefinisikan sebagai
𝑥
𝐹 𝑥 = ∫ 𝑓 𝑡 𝑑𝑡.
𝑎

Maka 𝐹 𝑥 = 𝑓 𝑥 ∀𝑥 ∈ 𝐼.

Bukti:
Jika bukan titik batas interval maka berdasarkan definisi
derevatif diperoleh
ℎ −
= lim
→ ℎ

:
1
= lim [∫ −∫ ]
→ ℎ

1
= lim [∫ ∫ −∫ ]
→ ℎ
:
1
= lim ∫
→ ℎ

Teorema fundamental kedua kalkulus di atas dapat dinyatakan


sebagai:

79
[∫ ]= .

Contoh 5.10
3
Karena = kontinu, berdasar teorema fundamental kedua,
maka
3 3
[∫ ]= .

Kita dapat memeriksa dengan cara berikut.


< 4
3
1 4
1
∫ =[ ] = − .
4 < 4 4
Sehingga,
4
1 3
[∫ ]= [ − ]= .
4 4

Latihan 5.4
Hitung integral tentu berikut.
3
1.  ( x 2  2) dx
1

2
2.  (3x  3x  5) dx
2

1

3
3.  (4 x  7 x  3) dx
2

2


2
4.  (sin x) dx
0

1
5.  ( x 2  1) 10 (2 x)dx
1

80

2
6.  (2 x  sin x) dx
0

7. Jika

=∫ 2
⁄4

3
=∫ 1

Tentukan dan .

BAB 6
MENENTUKAN LUAS DAERAH
BIDANG
Salah satu penggunaan integral tentu adalah untuk
menentukan luas daerah bidang. Tentu tidak semua daerah
bidang dapat ditentukan luasnya dengan mudah. Pada bab ini kita
akan membahas cara menentukan luas daerah bidang yang
dibatasi oleh beberapa kurva yang diketahui atau dapat
ditentukan persamaannya.
Pada bab ini simbol-simbol x i , xi menyatakan hal yang
sama seperti pada bahasan bab 5.

81
Luas daerah yang dibatasi kurva y  f (x) , garis x  a , garis x  b
dan sumbu X; f ( x)  0 untuk a  x  b .

Y
y=f(x)

a b X

Definisi:
Misalkan f adalah fungsi kontinu pada [a,b] dan f ( x)  0 pada
[a,b].
Jika D adalah daerah yang dibatasi oleh kurva y  f (x) , garis
x  a , garis x  b dan sumbu X, maka luas daerah D adalah

Contoh 6.1
Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh kurva y  x 2  1 , sumbu-
X, garis x  1 dan x  2 .

82
Jawab:

𝑌
𝑦 = 𝑥2 1

−1 2 𝑋

2 2
L   y dx   ( x 2  1)dx
1 1

2
1 3
=[ ]
3 ;

8   1  18
=   2      1   6.
3   3  3

Contoh 6.2
Tentukan luas daerah yang dibatasi sumbu-X, y  x , dan garis
y  x  6 .
Jawab:
Grafik = dan y   x  6 berpotongan di x  4. Garis
y   x  6 memotong sumbu-X di x  6 .

𝑦= 𝑥
83
𝑦 = −𝑥 6

6 X
4

4 6
L   x dx   ( x  6)dx
0 4
4 6
2 3⁄ 1 2
16 22
=[ 2] [− 6 ] = 2= .
3 2 4 3 3

Jika bernilai negatif pada suatu sub interval [a,b], maka luas
n b
daerah D adalah L  lim  f ( x i ) . xi   f ( x) dx
n 
i 1 a

Contoh 6.3
Tentukan luas daerah yang diarsir berikut ini.

𝑓 𝑥 = 𝑥 3 -3𝑥 2 − 𝑥 − 3

−1 1 2 3 X

Jawab:

84
Daerah yang akan kita cari luasnya sebagian berada di atas
sumbu-X dan sebagian berada di bawah sumbu-X. Dengan
demikian luasnya adalah
1 2
L  ( x  3x  x  3)dx 
3 2
x
3
 3x 2  x  3 dx , atau dapat pula
1 1

ditulis,
1 2
L   ( x 3  3x 2  x  3)dx   ( x 3  3x 2  x  3)dx
1 1
1 2
=  x  x 3  x  3x    x  x 3  x  3x
4 2 4 2

 4 2  1  4 2 1

= 4-   7   23 .
 4 4

Contoh 6.4
Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh kurva y  x 2  2 x  3
dan sumbu X.
Jawab:
1
L 
3
x 2  2 x  3 dx
4
3 1
= x
 x 2  3x
3 3 -3 1
32
= .
3

Luas daerah yang dibatasi x  f ( y) , garis y  a , garis y  b


dan sumbu Y.

85
Definisi:
Misalkan x  f ( y) adalah fungsi kontinu pada [a,b] dan f ( y)  0
pada [a,b].
Jika D adalah daerah yang dibatasi oleh y  f (x) , garis x  a ,
garis x  b dan sumbu Y, maka luas daerah D adalah
n b
L  lim  f ( y i ). yi   f ( y )dy
n 
i 1 a

Contoh 6.5
Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh grafik y  x 2 , garis
y  4 dan sumbu Y.

Jawab:

y  x2  x  y
4

L
4
y dy 
2  
16
0  3 y y
 3
0

86
Contoh 6.6
Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh grafik y  x 3 , garis
y  1 , garis y  8 dan sumbu Y.
Jawab:

Dengan analogi seperti contoh 6.3 maka


0 8
L  (
1
3 y ) dy  (
0
3 y ) dy 

3.
0 8
 3 3  3 3   3 3
 4 y y    4 y y     4   4 . 8. 2  12 4
  1  0  

Luas daerah yang dibatasi kurva y  f (x) , y  g (x) , garis


x  a , garis x  b dan sumbu Y.

Berikut ini kita akan membahas konstruksi definisi luas


daerah yang dibatasi oleh dua kurva.
Misalkan f dan g adalah dua fungsi kontinu pada [a, b] dengan
f ( x)  g ( x) untuk a  x  b . Sebagai ilustrasi misalkan grafik dua
fungsi tersebut adalah sebagai berikut.

87
Kita akan mengkonstruksi definisi luas daerah yang diarsir, yaitu
daerah tertutup yang dibatasi oleh dua kurva, garis x  a dan
garis x  b .

Mula-mula kita buat partisi [a, b] sehingga selang [a, b] terbagi


menjadi n buah subselang yang sama panjang. Misalkan partisi
itu P  {a  x0 , x1 , x2 , . . . , xn1 , xn } . Pada setiap sub interval kita

buat persegipanjnag yang sisi-sisinya x dan f ( x)  g ( x) . Luas

persegipanjnag itu adalah A   f ( x)  g ( x). x . Dengan langkah


seperti pada bagian-bagian sebelum ini, maka luas daerah yang
dimaksud adalah,

 
n
L  lim  f ( x)  g ( x) . xi
n 
i 1

88
Jika pada selang [a, b] f ( x)  g ( x) , maka luasnya adalah

Dengan tanpa memperhatikan nilai fungsi f dan g pada selang [a,


b], maka luas daerah yang dimaksud adalah

Contoh 6.7
Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh grafik y  sin x ,
y  cos x , sumbu Y dan garis x   .

Jawab:

𝑌
1

𝐷 𝑦 = 𝑠𝑖𝑛 𝑥
𝐷

𝜋 𝜋 3𝜋 𝜋 𝑋
4 2 4
𝐷
𝑦 = 𝑐𝑜𝑠 𝑥
−1

89
1 1 
Kedua grafik berpotongan di titik   , 2.
4 2 
1

4 
L  cos x  sin x  dx   (sin x  cos x)dx
0 1

4

   
1 
= sin x  cos x 4   cos x  sin x 1
0 
4
= 2 11 2  2 2 .

Contoh 6.8
2
Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh grafik x  ( y  1) ,
3
x y dan sumbu X.
Jawab:
Y

4
2 𝑦 = 𝑥2
𝑥= 𝑦−1
3
D

2 0 1 2 X

3

90
2
( y  1)  y, y  0
3
9
 y2  2y 1  y
4
1
 y2  4 y 1  0
4
1
 ( y  4). ( y  )  0
4
2
Dari persamaan x  y berarti x  0 , sehingga dari x  ( y  1)
3
diperoleh syarat y  1 . Dengan demikian y yang memenuhi
1
persamaan ( y  4). ( y  )  0 adalah y  4 yang dicapai untuk
4
x  2.
4
4 2 
L    y  ( y  1)  dy 
 2 1 2  
2
y y  ( y 1)
0 3   3 3  6
0
2 1 1 2 2
L  .8  .9   2  .
3 3 3 3 6

91
Latihan 6
Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh kurva berikut ini dengan
membuat sketsa grafik kurva yang diketahui persamaannya
terlebih dahulu dan mengarsir daerah yang dimaksud.
1. y  x 2  2 , y   x , x  2 dan x  2 .
2. y  x 2  2 x  3 , sumbu X
3. y  2  x 2 dan y  x
4. y  x  4 dan y  x 2  2
5. y  x 2  4 x  3 dan x  y  1  0
6. y  x 3 , y  0, x  1 dan x  2
7. y  x 2  2, y  2 x 2  x  4
8. x   y 2  y  2, x  0
9. x  4  y 2 , x  y  2  0
10. x  y 2  3 y, x  y  3  0
11. y 2  2 x  0, y 2  4 x  12  0

92
12. x  y 3 dan y  x
13. y  sin x, y  x dan x  
14. x  y 2 dan x  y  2
15. y  x 2 pada [0,1], y  2 x  x 2 pada [1,2] dan sumbu X

BAB 7
VOLUME BENDA PUTAR

Jika suatu daerah bidang datar diputar mengelilingi


sebuah garis lurus, maka akan terbentuk suatu benda putar.
Garis tetap itu kita sebut sumbu putar. Sebagai contoh, jika
daerah segitiga ABC diputar mengelilingi sisi AC maka akan
terbentuk kerucut (lihat gambar).

C
A

Jika daerah lingkaran diputar dengan sumbu garis m maka akan


terbentuk torus (seperti ban).
m

93
Pada bab ini kita akan membahas cara menetukan volume benda
putar. Ada tiga metode yang akan kita bahas yaitu metode
cakram, metode cincin dan metode kulit tabung.
Metode Cakram

Contoh 7.1
Tentukan volume benda putar V yang terbentuk jika daerah yang
dibatasi oleh kurva y  x , sumbu X dan garis x  4 diputar
mengelilingi sumbu X.
Jawab:

Y
Y

𝑥 𝑦= 𝑥
𝑥

𝑥 𝑥 𝑥

X X

94
Buat partisi [a,b] yaitu P= {x 0 , x 1 , x 2 , . . . , x n } sehingga

terbentuk n buah subselang (dalam hal ini tiap subselang


panjangnya sama, kita sebut dengan xi = x ). Ambil titik sampel

xi pada subselang ke-i xi 1 , xi  dengan xi = x i . Kita perhatikan

daerah yang diarsir. Amati pula jika daerah itu diputar


mengelilingi sumbu X. Misalkan volumenya adah Vi .

Sekarang kita perhatikan persegi panjang yang terbentuk


jika sisi-sisinya adalah ruas garis dari xi 1 ke xi dan panjang sisi
yang lain adalah f ( xi ) . Jika persegi panjang itu kita putar
mengelilingi sumbu X akan terbentuk suatu tabung. Tabung itu
beralas lingkaran dengan jari-jari x i dan tingginya xi = x .

Maka volume tabung itu adalah Vi    x  . x .


i
2
i

Samakah Vi dengan Vi ?


Jika x sangat kecil, maka Vi mendekati Vi . Kita dekati
n
luas benda putar semula, V dengan  V
i 1
i untuk x mendekati

nol. x akan mendekati nol jika dan hanya jika n mendekati  .


Dengan demikian kita peroleh,

 x  .x
n n
V  lim  Vi  lim  
2
i i
n  n 
i 1 i 1

 x  dx    xdx (ingat definisi integral tentu!!)


4 2 4
= 
0 0

95
4

=
1 2   8 .
 2 x 
0

Metode mengiris permukaan (daerah yang akan diputar) secara


tegak lurus (dengan sumbu putar berisisan dengan daerah itu),
irisan itu akan membentuk cakram. Oleh karena itu metode ini
disebut metode cakram.

Contoh 7.2
Tentukan volume benda putar V yang terbentuk jika daerah yang
dibatasi oleh kurva y  x 3 , sumbu Y dan garis y  3 diputar
mengelilingi sumbu Y.
Jawab:

𝑥= 𝑦

𝑦
𝑦 𝑦
𝑦
𝑦 𝑦

X
X

Langkah-langkah ini analog dengan langkah-langkah pada contoh


sebelumnya (contoh 6.1). Kita akan menggunakan metode

96
cakram. Kita buat irisan tegak lurus dengan sumbu putar (dalam
hal ini adalah sumbu Y). Pada contoh ini kita membuat partisi
dari interval [0,3] pada sumbu Y.

Vi    y  . y
3
2
i

 y  .y
n n
V  lim  Vi  lim  
2
3
i
n  n 
i 1 i 1

   y  dy    y
3 2 3 2
= 3 3
dy (ingat definisi integral
0 0

tentu!!)
3 5 
3
.
93 9
  y3 
5

5 
 0

Metode Cincin
Kadangkala kita kita membuat irisan tegak lurus dengan sumbu
putar, dan putaran irisan itu membentuk sebuah cakram yang
berlubang di bagian tengah menyerupai cincin. Metode seperti ini
kita sebut metode cincin.

m m

Perhatikan contoh berikut ini.

97
Contoh 7.3
Tentukan volume benda putar V jika daerah yang dibatasi oleh
parabola y  x 2 dan y 2  8 x diputar mengelilingi sumbu X.

Jawab:

2
𝑉 = 𝜋( 8𝑥 − 𝑥2 2) 𝑥

2
𝑉 = ∫ 𝜋 8𝑥 − 𝑥 4 𝑑𝑥

98
  2
Vi   8x . xi   ( x 2 . xi   2
(coba anda jelaskan mengapa
demikian!)


   
   8 x  x 2  . xi
2 2


   
n
V  lim    8 x  x 2 .xi
2 2

n 
i 1

 

 
2
V    8 x  x 4 dx (ingat definisi integral tentu!!)
0

.
2
 8x 2 x
5
 48
 
   5
 2 5  0

Contoh 7.4
Tentukan volume benda putar V jika daerah yang dibatasi oleh
x  4  y 2 (di kanan sumbu-Y) dan sumbu Y diputar
mengelilingi garis x  1 .
Jawab:

99
2
𝑉 ≈ 𝜋 [(1 4 − 𝑦 2 ) − 1] 𝑦

2 2
𝑉 = ∫ 𝜋 [(1 4 − 𝑦 2 ) − 1] 𝑑𝑦



Vi    1  4  y 2 
2
 1. yi

(mengapa??)

Volume V adalah dua kali volume jika daerah di atas sumbu X saja
yang diputar, sehingga,

  1dy
2
V  2.    1  4  y 2
2

0 

 
2
V  2.  2 4  y 2  4  y 2 dy
0

100
2 2
V  4  4  y 2 dy  2  (4  y 2 )d y
0 0

32
V  4 2   (coba anda uraikan sendiri dari mana hasil ini
3
diperoleh!)

Metode Kulit Tabung


Metode lain yang mungkin dapat digunakan untuk
menghitung volume benda putar adalah metode kulit tabung.
Kulit tabung yang dimaksud disini adalah benda ruang yang
dibatasi oleh dua buah tabung lingkaran tegak yang sumbu
simetrinya berimpit. Misalkan jari-jari tabung dalam adalah r1 ,
jari-jari tabung luar adalah r2 dan tingginya h (perhatikan
gambar di bawah ini).

101
Misalkan volume kulit tabung itu adalah V, maka
V  luas Alas. tinggi

V  ( .r2   .r1 ). h
2 2

V   (.r2  .r1 ). (r2  r1 ).h


r2  r1
V  2 (. ).h. (r2  r1 )
2
Rumus di atas akan digunakan untuk mengkonstruksi rumus
volume benda putar. Perhatikan contoh berikut.

Contoh 7.5
Tentukan volume benda putar V jika daerah yang dibatasi oleh
1
kurva y , sumbu X, garis x=1 dan garis x=4 diputar
x
mengelilingi sumbu Y.
Jawab:
Perhatikan sketsa gambar berikut.

102
Dengan cara dan langkah-langkah seperti pada contoh-contoh
sebelumnya jika satu potongan kita putar mengelilingi sumbu Y
maka volumenya adalah Vi .
r2  r1
Vi  2 (. ).h. (r2  r1 )
2
r2  r1
Vi  2 (. ).h..x
2
Untuk x mendekati nol, maka r2 mendekati r1 , sehingga
Vi  2 (.xi ). f ( xi .).x (tinggi kulit tabung itu adalah
f ( xi ) ).
Sehingga,
4
V  2  x. f ( x) dx
1

4
1
V  2  x. dx
1 x
4 1
V  2  x 2 dx
1

103
4
 3
V  2
 2x 2  2 2
 2 ( .8  .1)
 3  3 3
 
1

28
V .
3

Contoh 7.6
Perhatikan kembali contoh 7.2. soal itu akan kita selesaikan
dengan metode kulit tabung. Soalnya adalah sebagai berikut.
Tentukan volume benda putar V yang terbentuk jika daerah yang
dibatasi oleh kurva y  x 3 , sumbu Y dan garis y  3 diputar
mengelilingi sumbu Y.
Jawab:
Perpotongan dua kurva itu di (- 3 3,1 ) dan di ( 3 3,1 ).
Vi  2 . xi (3  x 3 ).x
3
3
V  2  x. (3  x 3 ) dx
0
3
3
V  2  (3x  x
4
) dx
0

33

V  2
3 2 1 5
 2 x  5 x 
0

104
3 1 
V  2  3 32  3.3 32 
2 5 
 93 9 
V  2  
 10 
93 9
V   (Bandingkan dengan hasil contoh 6.2)
5

Latihan 7
Tentukan volume daerah benda putar yang terjadi jika daerah
yang dibatasi oleh kurva-kurva berikut ini dengan terlebih dahulu
membuat sketsa daerah yang dimaksud.
1. y  x 2  1 ; sumbu Y; sumbu X dan garis x  2 diputar terhadap
sumbu X.
2. y   x 2  4 x ; sumbu X dan garis x  3 , diputar terhadap
sumbu X.
3. y  4  x 2 ; sumbu Y dan sumbu X (di kuadran pertama),
diputar terhadap:
a). Sumbu X
b). Sumbu Y
4. y  4  2 x ; sumbu Y; sumbu X, diputar terhadap:
a). Sumbu X
b). Sumbu Y
1 2
5. y  x ; x  4 dan y  0 , diputar terhadap sumbu X
4

105
6. y  x 3 ; x  2 dan y  0 , diputar terhadap sumbu X
1
7. y  ; x  1; x  4 dan y  0 , diputar terhadap sumbu X
x
8. y  4  x 2 ; y  0; x  1dan x  2 , diputar terhadap sumbu X
9. x  y 2 ; x  0 dan y  2 , diputar terhadap sumbu Y
10. x  y ; y  4 dan x  0 , diputar terhadap sumbu Y

11. x  9  y 2 ; x  0 , diputar terhadap sumbu Y


x2 y2
12.   1; dengan a  b (daerah di atas sumbu X ) diputar
a2 b2
terhadap sumbu X.
13. y  4x 2 ; y  4 x , diputar terhadap sumbu X
14. x  2 y  0 ; y 2  2 x  0 , diputar terhadap sumbu X
1 2
15. y  x 2 ; y  x ; y  4 , diputar terhadap sumbu X
4
16. y  x dan y  x 3 , diputar terhadap:
a). Garis y  1
b). Garis y  3
17. y   x 2  4 x ; garis x  y  4 , diputar terhadap:
a). Sumbu X
b). Sumbu Y
c). Garis x  1
d). Garis x  6
18. y  sin x ; y  x dan garis x   , diputar terhadap:
a). Sumbu X
b). Sumbu Y
c). Garis x  

106
d). Garis y  

BAB 8
PANJANG KURVA PADA BIDANG
DATAR
A. Persamaan Parameter
Kita telah sering menemukan persamaan kurva dengan y
1 2
dinyatakan dalam variabel x . Sebagai contoh adalah y  x ,
4
1
y  x3 , y  . Demikian juga kita telah menemukan persamaan
x
kurva dengan x dinyatakan dalam variabel y . Sebagai contoh

adalah x  y 2 , x  y , x  9  y2 .
Tetapi sering juga persamaan fungsi dinyatakan dalam bentuk
parameter. Artinya bahwa x dan y dinyatakan dalam variabel
yang lain.
Sebagai contoh perhatikan persamaan kurva berikut ini.
x  2t  1 , y  t 2  1 ; 0  t  3 .
Jika kita daftar untuk beberapa nilai t , maka kita peroleh nilai x
dan y sebagai berikut.

107
t 0 1 2 3
x 1 3 5 7
y -1 0 3 8

Kita peroleh beberapa pasangan (x,y) : (1,1), (3,0), (5,3), (7,8) .


Jika beberapa titik itu kita letakkan pada bidang Cartesius XY
kemudian kita hubungkan, akan kita peroleh grafik berikut ini.

Contoh 8.1
Persamaan lingkaran dengan persamaan

108
x 2  y 2  a 2 ; a  0 dapat dinyatakan dengan persamaan
parametrik x  a cos t , y  a sin t ; 0  t  2 .

B. Panjang Kurva
Kita akan menentukan panjang kurva dengan persamaan
x  f (t ), y  g (t ), a  t  b . Seperti biasa pertama kali kita buat
partisi seragam [a,b] sehingga menjadi n buah subselang. Dengan
partisi itu kurva terbagi oleh n subbusur. Sebagai ilustrasi
perhatikan gambar berikut ini.

109
Misalkan panjang kurva itu adalah L satuan panjang. Kita akan
dekati panjang kurva itu L dengan “segi n”. Analog dengan
pemikiran pada bagian sebelumnya maka kita peroleh,
wi  (xi ) 2  (yi ) 2

  f (ti )  f (ti1 )2  g (ti )  g (ti1 )2


Dengan menggunakan teorema nilai rata-rata (lihat Bab 5), maka
 
ada titik t i dan t i pada interval (t i 1 , t i ) sehingga

f (t i )  f (t i 1 )  f ' (t i ). t i

g (t i )  g (t i 1 )  g ' (t i ). t i ; dengan t i  t i  t i 1 .
Dengan demikian diperoleh,
2 2
     
wi   f ' (t i ) . t i )   g ' (t i ). t i 
   
2 2
 
   
wi   f ' (t i )    g ' (t i ) . t i
   
Dengan demikian jumlah panjang sisi “segi n” adalah
2 2
     
n n

 wi  
i 1 i 1
 f ' (t i )    g ' (t i ) . t i

Bentuk itu dapat kita anggap sebagai jumlah Rieman. Dengan


demikian, dapat kita definisikan L sebagai limit jumlah Rieman di
atas untuk n   yang ekuivalen dengan t i  0 . Sehingga
diperoleh,
2 2
     
n
L  lim   f ' (t i )    g ' (t i ) . t i
n 
i 1

110
b
L  f ' (t ) 2  g ' (t )2 . dt
a

2 2
 dx   dy 
b
L  dt    dt  . dt
a    
Kasus-kasus khusus.
1) Jika x  t , maka persamaan kurva yang akan kita tentukan
dx dy dy
panjangnya adalah y  f ( x), a  x  b dan  1,  dan
dt dt dx
dt  dx . Dengan demikian panjang kurva yang dimaksud
adalah
2
 dy 
b
L 1    dx
a  dx 
2) Dengan cara yang sama, jika persamaan kurva yang akan kita
tentukan panjangnya adalah x  g ( y), c  y  d , maka panjang
kurva yang dimaksud adalah
2
d
 dx 
L 1    . dy
c  dy 

Contoh 8.2
Tentukan keliling lingkaran dengan persamaan x 2  y 2  r 2 ;
r  0.
Jawab:
Cara 1:

111
Persamaan parametrik lingkaran itu adalah x  r cos t , y  r sin t ;
dx dy
0  t  2 . Kita peroleh,  r sin t ,  r cos t . Dengan
dt dt
demikian keliling lingkaran itu adalah

2
L 
0
r 2 sin 2 t  r 2 cos 2 t dt

2
  r dt  rt 0  2 r .
2

Cara 2:
Dari persamaan x 2  y 2  r 2 kita peroleh y  r 2  x 2 .
x
2
 dy 
2 2
dy x r
 , 1+    1  2  2 .
dx r 2  x2  dx  r x 2
r  x2
Keliling lingkaran itu sama dengan empat kali panjang busur dari
(0,r) ke (r,0). Sehingga keliling lingkaran itu (K)
r
dx
K  4. r 
0 r 2  x2
Dengan substitusi x  r sin t , diperoleh

x  0 t  0 , x  r  t  , dx  r cos t dt sehingga
2

2 
dt  4r t 02  2r.
r cos t
K  4. r 
0
r cos t

112
Latihan 8
1. Tentukan panjang kurva dengan persamaan y  3x  8 dari
x  2 sampai x  5 dengan menggunakan integral, kemudian
cocokkan dengan menggunakan rumus jarak dua titik.
2. Tentukan panjang kurva dengan persamaan 2 x  3 y  6  0
dari y  2 sampai y  6 dengan menggunakan integral,
kemudian cocokkan dengan menggunakan rumus jarak dua
titik.
3. Tentukan panjang kurva berikut ini:
3
1
a) y  2x antara x 
2
dan x  7
3
3
2 2
b) y  ( x  1) 2 antara x  1 dan x  4
3
c) 30 xy 3  y 8  15  0 antara y  1 dan y  2

113
4. Tentukan panjang “busur panjang” lingkaran x 2  y 2  25 dari

titik A(-2, 21 ) ke B(3,4)


5. Tentukan panjang busur 27 y 2  4( x  2) 2 dari titik berabsis
x  3 ke titik berabsis x  8 .
6. Tentukan panjang busur x 4  4 x 2  32 y 2  0 dari titik P(0,0) ke
Q(2,0).
7. Gambarlah grafik fungsi berikut kemudian hitung panjangnya.
a) x  t 3 , y  t 2 ; 0  t  4
b) x  3t 2  2, y  2t 3  1;1  t  3
c) x  4 cos t  5, y  4 sin t  1; 0  t  2
8. Tentukan jarak tempuh partikel P(x,y) dalam selang waktu
yang diberikan di bawah ini jika kedudukan partikel itu pada
waktu t adalah:
3
1 1
a) x  t 2 dan y  (2t  1) 2 dari t=0 sampai t=4
2 3
3
1 1
b) x  (2t  3) 2 dan y  t 2  t dari t=0 sampai t=3.
3 2

114
BAB 9
LUAS PERMUKAAN BENDA PUTAR
Diferensial Panjang Busur
Sebelum membahas luas permukaan putar, kita terlebih
dahulu akan membahas tentang diferensial panjang busur. Hal itu
diperlukan untuk menentukan rumus luas permukaan putar.
Pada Bab 8 kita telah membahas bahwa panjang busur y  f (u)
mulai dari titik berabsis u  a sampai titik berabsis u  b adalah
2
 dy 
b
L 1    du .
a  du 
Jika s(x) adalah fungsi yang
menyatakan panjang kurva f dari
titik A(a, f (a)) ke B( x, f ( x)) , maka

115
x

s(x) dapat dinyatakan sebagai s( x)   1   f ' (u ) dx .


2

Dengan demikian diperoleh,


2
 dy 
 1   f ' ( x)  1   
ds
s ' ( x)  . Sehingga diferensial
2

dx  dx 
panjang busur ds dapat dinyatakan sebagai

Luas Permukaan Putar


Jika sebuah kurva pada bidang datar diputar mengelilingi sebuah
garis pada bidang itu, maka akan terbentuk suatu permukaan.
Permukaan itu kita sebut dengan permukaan putar. Sebagai
ilustrasi perhatikan gambar berikut ini.

Perhatikan gambar kerucut terpancung di atas. Jika jari-jari


lingkaran alas adalah r1 dan jari-jari lingkaran atas adalah r2 ,

116
maka luas selimut kerucut terpancung itu adalah
r r 
A  2  1 2 .l (coba buktikan!)
 2 
Misalkan kurva dengan persamaan
x  f (t ), y  g (t ), a  t  b terletak di atas sumbu-X.
Jika kurva itu diputar mengelilingi sumbu-X, maka akan
terbentuk permukaan putar (perhatikan gambar berikut ini!).

Untuk menentukan luas permukaan putar itu pertama kali kita


buat partisi dari interval [a, b] sehingga terbentuk n subselang.
Misalkan partisinya adalah P  {a  t 0 , t1 , t 2 , . . . , t n  b } . Dengan
partisi itu, kurva dari x  a ke x  b dapat dibagi menjadi n buah
kurva bagian. Misalkan si adalah panjang kurva bagian ke-i dan
misalkan y i adalah ordinat titik dengan absis t i . Jika kurva
bagian ke-i itu diputar mengelilingi sumbu-X, maka akan
membentuk permukaan putar, misalkan luasnya Li . Luas daerah
bagian itu dapat didekati dengan luas selimut terpancung.
Dengan demikian Li dapat didekati dengan 2 . yi . si .
Dengan demikian luas permukaan putar (seluruhnya)
n **
adalah L  lim  2 . yi .si   2yds . Dengan memperhatikan ds
n 
i 1 *

seperti pada awal bab ini, maka diperoleh luas permukaan putar

117
jika kurva y  f ( x), a  x  b diputar mengelilingi sumbu-X
adalah

Dengan cara yang sama maka luas permukaan putar jika kurva
x  f ( y), p  y  q diputar mengelilingi sumbu-Y adalah

Contoh 9.1
Tentukan luas permukaan putar yang terjadi jika busur ellips
x2 y2
dengan persamaan   1 (a, b  0; a  b; y  0) diputar
a2 b2
pada sumu-X
Jawab:
x2 y2 b2 2
Dari  1 , kita peroleh y2  (a  x 2 ) atau
a2 b2 a 2

b
y (a 2  x 2 ) .
a
Dengan demikian,
dy b x
 .
dx a a2  x2

a 4  (a 2  b 2 ).x 2
2
 dy  b 2 .x 2
1    1 2 2 
 dx  a (a  x 2 ) a 2 .(a 2  x 2 )

118
Jika a 2  b 2 kita misalkan c 2 , maka:
a 4  c 2 .x 2
2
 dy 
1    2 2 .
 dx  a .(a  x 2 )
Sehingga separuh luasnya adalah,
a 4  c 2 .x 2
a
1 b
L  2  a2  x2 . dx
2 0
a a a2  x2
a
b
 2
a2  0
a 4  c 2 x 2 . dx .

Dengan melakukan substitusi cx  a 2 sin t diperoleh,


a2
dx  cos t dt dan a 4  c 2 .x 2  a 2 cos t .
c
Untuk x  0 diperoleh sin t  0  t1  0
c c
Untuk x  a diperoleh sin t   t 2  arc sin
a a
Jadi,
4b 2
t
a2
L  2  a 2 cos t. cos t dt
a t1 c

2a 2 b 2
t

c t1
L (1  cos 2t ) dt

c
2a 2 b
arcsin
 1  a
L t  2 sin 2t 
c  0
2a 2 b  c bc 
L arcsin a  a 2  .
c  

119
Latihan 9
1. Tentukan luas permukaan putar yang terjadi jika kurva y  x 3
antara x  0 dan x  1 diputar mengelilingi sumbu-X
2. Tentukan luas permukaan putar yang terjadi jika kurva
x 4  4 x 2  32 y 2  0 dari titik asal ke titik (2,0) diputar
mengelilingi sumbu-X.
3. Tentukan luas permukaan putar yang terjadi jika kurva
y4 1
x  2 dari y  1 ke y  2 diputar mengelilingi sumbu-
4 8y
Y
4. Tentukan luas permukaan putar yang terjadi jika kurva x  y 2
dari titik asal ke titik (1,1) diputar mengelilingi sumbu-Y.
5. Tentukan luas permukaan putar yang terjadi jika kurva
x2 1
y  ; 0  x  1 diputar mengelilingi sumbu-Y.
2 2

120
6. Tentukan luas permukaan putar yang terjadi jika kurva y  x 2
antara titik (0,0) dan (2,4) diputar mengelilingi sumbu-y

BAB 10
NILAI PENDEKATAN INTEGRAL
TENTU
Banyak integral tentu yang tidak dapat kita hitung nilainya
dengan mudah. Hal itu disebabkan kita kesulitan dalam
menentukan integral tak tentunya. Beberapa contoh untuk hal itu
5  0, 5

adalah  e  x dx,  sin( x 2 ) dx,  1  x 2 dx .


2

1 0 0

Pada bagian ini kita akan membicarakan cara menentukan nilai


pendekatan dari suatu integral tentu. Ada dua metode yang akan
kita bicarakan yakni metode Trapesium dan metode Parabol.

Metode Trapesium

121
Misalkan grafik fungsi dengan persamaan y  f (x) pada selang
[a, b] adalah sebagai berikut.

b
Menghitung  f ( x) dx
a
sama artinya dengan menghitung luas

daerah yang dibatasi oleh kurva y  f (x) , garis x  a , garis x  b


dan sumbu-X. Luas daerah tersebut akan didekati oleh jumlah
luas trapesium yang konstruksinya sebagai berikut.
Buat partisi [a, b] sehingga [a, b] terbagi menjadi n subselang
yang sama panjang. Panjang tiap selang bagian itu adalah
ba
h . Namakan titik-titik partisinya adalah
n
a  x0 , x1 , x2 , . . . , xn  b . Hubungkan titik ( xi 1 , f ( xi 1 ) ) dan
titik ( xi , f ( xi ) ) dengan ruas garis. Dapat dibentuk n buah
trapesium (lihat Gambar sebelumnya). Dengan mengingat rumus
luas trapesium, maka luas trapesium ke-i adalah
b
h
Ai  ( f ( xi 1  f ( xi ) ) . Dengan demikian
2  f ( x) dx dapat didekati
a

122
dengan
h
 f ( x0 )  f ( x1 ) + h  f ( x1 )  f ( x2 ) + h  f ( x2 )  f ( x3 ) +
2 2 2

...+
h
 f ( xn1 )  f ( xn ) . Atau dapat ditulis dengan,
2

Contoh 10.1:
3
Hitung nilai pendekatan integral x dx dengan menggunakan
4

metode trapesium untuk n=8. Kemudian hitung nilai eksaknya.

Jawab:
3 1
n  8, h   0,25
8
x0  1,00 f ( x0 )  (1,00) 4 1,0000
x1  1,25 f ( x1 )  (1,25) 4  2,4414
x2  1,50 f ( x2 )  (1,50) 4  5,0625
x3  1,75 f ( x3 )  (1,75) 4  9,3789

x4  2,00 f ( x4 )  (2,00) 4 16,0000


x5  2,15 f ( x5 )  (2,15) 4  25,6289
x6  2,50 f ( x6 )  (2,50) 4  39,0625
x7  2,75 f ( x7 )  (2,75) 4  57,1914
x8  3,00 f ( x8 )  (3,00) 4  81,0000
Jadi,

123
3

x dx 
4

0,25
[1,000  2(2,4414)  2(5,0625)  2(9,3789)  2(16,0000)  2(25,6289)
2
 2(39,0625)  2(57,1914)  81,000]
3

x dx  48,9414
4

Nilai eksak,

 
1 5
3 3
 x dx = x
4
1
1
5

=
1
243  1  242
5 5
= 48,4000
Contoh 10.2:
1
Hitung nilai pendekatan integral  e  x dx dengan menggunakan
2

metode trapesium untuk n=6.


Jawab:
1 0 1
n  6, h  
6 6
Dengan menggunakan kalkulator diperoleh,
x0  0,0000 f ( x0 ) 1,0000
1
x1  f ( x1 )  0,9726
6
2
x2  f ( x2 )  0,8948
6
3
x3  f ( x3 )  0,7788
6

124
4
x4  f ( x4 )  0,6412
6
5
x5  f ( x5 )  0,4994
6
x6  1 f ( x6 )  0,3679
1

e
 x2
Jadi, dx 
0

1
1,0000  2(0,9726)  2(0,8948)  2(0,7788)  2(0,6412)  2(0,4994)  0,3679
12
 0,7451

Metode Parabol (Simpson)


b
Pada metode trapesium nilai  f ( x) dx yang
a
menyatakan luas

daerah, didekati dengan jumlah buah trapesium. Pada metode


parabol, luas daerah tersebut akan didekati oleh jumlah daerah
yang tiap bagian dibatasi oleh parabola. Untuk lebih jelasnya
perhatikan uraian berikut ini.
Tidak seperti pada metode trapesium, pada metode ini
selang [a,b] dibagi menjadi n buah selang bagian, dengan n adalah
ba
bilangan genap. Panjang tiap selang bagian adalah h  .
n
Kemudian melalui tiga buah titik yang berdekatan (dari paling
kiri) dibuat parabola (perhatikan Gambar berikut ini).

125
n
Akan terbentuk buah parabola.
2
Tiap daerah bagian yang dibatasi parabola luasnya dapat dihitung
sebagai berikut.

X
h 2
Perhatikan daerah yang h
dibatasi oleh parabola dengan
persamaan y  ax 2  2bx  c , garis x  0 , garis x  2h dan
sumbu-X.
Luas daerah itu adalah,
2h
1 
2h
L   (ax  2bx  c) dx   ax 3  bx 2  cx 
2

0 3 0
1
 h(8ah 2  12bh  6c) .
3

126
Jika y 0 , y1 , y 2 berturut-turut menyatakan ordinat untuk x  0 ,
= ℎ dan 2 = 2ℎ , maka y 0  c , y1  ah 2  2bh  c dan
y 2  4ah 2  4bh  c .
1
Jadi, L  h( y 0  4 y1  y 2 ) .
3
Dengan menerapkan rumus luas itu pada tiap bagian pada daerah
semula yang akan dihitung luasnya, maka diperoleh,
b

 f ( x) dx 
a

h
 f ( x0 )  4 f ( x1 )  2 f ( x2 )  4 f ( x3 )  . . .  2 f ( xn2 )  4 f ( xn1 )  f ( xn )
3

Atau,
b

 f ( x) dx
a


h
 f ( x0 )  f ( xn )  2( f ( x2 )  ( x4 )  . . .  f ( xn 2 ))  4( f ( x1 )  f ( x3 )  . . .  f ( xn 1 )
3

Contoh 10.3:

2
Hitung nilai pendekatan integral 
0
sin x dx dengan

menggunakan metode Simpson untuk n=6.


Jawab:

0

n  6, h  2 
6 12
x0  0 f ( x0 )  0

127

x1  f ( x1 )  0,50875
12

x2  f ( x2 )  0,70710
6

x3  f ( x3 )  0,84090
4

x4  f ( x4 )  0,93060
3
5
x5  f ( x5 )  0,98280
12

x6  f ( x6 )  1
2

2

Jadi, 
0
sin x dx 
36
(13,60520)

Contoh 10.4:

Hitung nilai pendekatan integral  sin x dx dengan menggunakan
0

metode Simpson untuk n=6. Bandingkan nilai pendekatan itu


dengan nilai eksaknya untuk memperoleh nilai pendekatan nilai
.
Jawab:
 0 
n  6, h  
6 6
x0  0 f ( x0 )  0

x1  f ( x1 )  0,50000
6

128

x2  f ( x2 )  0,86603
3

x3  f ( x3 )  1
2
2
x4  f ( x4 )  0,86603
3
5
x5  f ( x5 )  0,50000
6
x6   f ( x6 )  0


Jadi,  sin x dx  18 (11,46412)  0,6369 
0

Nilai eksak,

 sin x dx =  cos x

0 =2
0

Dengan demikian diperoleh 0,6369   2.


Nilai pendekatan dari  adalah 3,1402.

129
Latihan 10
Tentukan nilai pendekatan integral berikut dengan metode
trapesium.
1
dx
1. x
0
2
2
; n3

2
2. 
1
1  x dx ; n  5

2
3.  cos(sin x) dx ; n  4
1

Tentukan nilai pendekatan integral berikut dengan metode


simpson.
2
4. 
1
x dx ; n  6

2
5. x
0
x 2  4 dx ; n  4


2
dx
6.  1  sin x ; n  8
0

130
1
4
7. Hampiri nilai  dengan menghitung 0 1  x 2 dx dengan metode
trapesium untuk n=6.

DAFTAR PUSTAKA

Anton, Howard, 1992. Calculus with analytic geometri-4th ed.


John Wiley & Sons. New York

Apostol, Tomm, 1966. Calculus (Volume 1 second edition). John


Wiley & Sons. New York

J. Purcell Edwin (terjemahan I Nyoman Susila), 1991. Kalkulus


dan Geometri Analitis Jilid 1. Erlangga. Jakarta
Martono Koko, 1992. Kalkulus seri 8: Penggunaan Integral Tentu.
ITB. Bandung

Thomas George B (terjemahan Pantur Silaban), 1986. Kalkulus


dan Geometri Analitik. Erlangga. Jakarta.

131
GLOSARIUM

A
Anti derevatif: inevers dari derevatif

D
Derevatif : nama lain dari turunan

F
Fungsi trigonometri: fungsi yang terdiri dari sebanyak
hingga penjumlahan, pengurangan, perkalian dan
pembagian sinus dan cosinus.

I
Integran: fungsi yang akan dicari integralnya

P
Parsial: bagian

R
Reduksi: mengurangi/menurunkan

132
S
Substitusi : penggantian

INDEKS

Anti derivatif
Anti turunan
Benda putar
Bidang Cartesius
Busur
Derievatif
Diskriminan
Eksak
Fungsi
Ganjil
Garis singgung
Genap
Gradien
Gottfried Leibniz
Himpunan
Invers
Integral
Integral tentu
Integral tak tentu

133
Integral parsial
Integran
Isaac Newton
Jumlah aljabar
Kemiringan
Kerucut terpancung
Koefisien
Konstanta
Kontinu
KPK
Limit
Linier
Maksimum
Metode cakram
Metode cincin
Metode kulit tabung
Minimum
Nonnegatif
Ordinat
Parabol
Partisi
Partisi seragam
Persamaan parameter
Persamaan parametrik
Permukaan putar
Polinom
Reduksi
Riemann
Selang
Selang bagian
Sigma
Simson
Sub selang
Substitusi
Teorema fundamental kalkulus

134
Teorema nilai rata-rata
Titik kritis
Titik sampel
Torus
Trapesium
Turunan
Variabel

135