Anda di halaman 1dari 10

Pengauditan dan Asuransi 1:

Rangkuman Bab 5

Disusun oleh:
Bobby Kristanto Chandra (1606880056)
Calvin Diva Aditya (1606825152)
Reftnius Christian J.A. Pasaribu (1606911383)

Kelas: Pengauditan dan Asuransi 1-A


Dosen: Aria Farahmita / Ludovicus Sensi Wondabio

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
2018
AUDITOR’S RESPONSE TO ASSESSED RISK

A. Pendahuluan
Prosedur pengumpulan bukti dalam kegiatan audit diarahkan oleh risiko yang dinilai dari
salah saji material. ISA 330 menyatakan “Tujuan dari auditor adalah untuk memeroleh bukti
audit yang cukup dan tepat sehubungan dengan penilaian risiko dari salah saji material,
melalui rancangan dan pelaksanaan tanggapan yang sesuai untuk risiko-risiko tersebut.

 Prosedur Audit Responsif terhadap Risko yang dinilai dari Salah Saji Material pada
Tingkat Asersi
Untuk memenuhi tujuan ini dalam memeroleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor
harus merancang dan melaksanakan prosedur audit yang mana dasar, pemilihan waktu dan
tingkat yang didasarkan pada risiko yang dinilai.
Pemilihan waktu dalam prosedur audit mengacu pada kapan audit dilaksanakan, atau
periode atau tanggal di mana bukti audit diaplikasikan. Tingkat dari prosedur audit
mengacu pada kuantitas yang akan dilaksanakan. Merancang dan melaksanakan prosedur
audit yang berkelanjutan di mana dasar, pemilihan waktu dan tingkat yang didasarkan
pada, dan responsif terhadap risiko yang dinilai dari salah saji material pada tingkat asersi
menampilkan keterkaitan yang jelas antara prosedur audit lebih lanjut yang dimiliki oleh
auditor dan penilaian risiko.
Tanggapan keseluruhan untuk mengatasi risiko yang dinilai dari salah saji material dalam
tingkat laporan keuangan termasuk:
 Menekankan pada tim yang terlibat akan kebutuhan untuk mempertahankan
skeptisisme yang profesional
 Menugaskan staff yang lebih berpengalaman atau mereka yang memiliki keahlian
khusus atau menggunakan tenaga ahli
 Menyediakan supervisi yang lebih
 Menggabungkan tambahan elemen dari ketidakpastian dalam pemilihan dari
prosedur audit yang lebih lanjut yang akan dilaksanakan
 Membuat perubahan umum terhadap dasar, pemilihan waktu dan tingkat dari
prosedur audit
 Alasan Penilaian Risiko
Saat merancang prosedur audit untuk dilaksanakan, auditor harus mempertimbangkan
alasan dari penilaian yang termasuk: kemungkinan salah saji material yang disebabakan
karena risiko inheren dan apakah penilaian risiko memperhitungkan kontrol yang relevan,
dengan demikian perolehan bukti audit untuk menentukan apakah kontrol beroperasi
secara efektif atau tidak.
Penilaian risiko dari salah saji material dalam tingkat laporan keuangan, dan demikian
tanggapan auditor keseluruhan, dipengaruhi oleh pemahaman auditor terhadap lingkungan
kontrol.
Semakin tinggi penilaian risiko yang dilakukan oleh auditor, semakin banyak bukti audit
yang persuasif yang dibutuhkan olehnya.
Auditor harus mempertimbangkan seluruh bukti audit yang relevan, tanpa memperhatikan
apakah itu muncul untuk menguatkan atau untuk menyangkal asersi dalam laporan
keuangan.
Dokumentasi dalam Lembar Kerja dari Tanggapan untuk Risiko yang dinilai
Auditor harus termasuk dalam dokumentasi audit tangapan keseluruhan untuk mengatasi
risiko yang dinilai dalam salah saji material dan dasarnya, pemilihan waktu dan tingkat
dari prosedur audit lebih lanjut yang dilaksanakan.

B. The Basis of Evidence


Bukti audit adalah informasi yang digunakan oleh auditor untuk mencapai pencantuman di
mana opini auditor didasarkan. bukti audit mencakup informasi yang terkandung dalam
catatan akuntansi yang mendasari laporan keuangan dan informasi lainnya.
Bukti untuk membuktikan dalam asersi audit berbeda dengan bukti yang berasal dari
pengertian hukum. Bukti audit hanya dibutuhkan untuk membuktikan jaminan yang wajar,
sedangkan dalam lingkungan hukum terdapat standar yang lebih keras terkait bukti dan
dokumentasi.
 Bukti Elektronik
Beberapa data akuntansi entitas dan informasi lain mungkin tersedia hanya dalam bentuk
elektronik. Informasi elektronik tertentu mungkin berada pada waktu titik tertentu, tetapi
mungkin tidak dapat diperbaiki setelah jangka waktu tertentu jika data diubah dan jika
tidak ada data yang diback-up. Sifat dasar dari elektronik dalam dokumentasi akuntasi
biasanya mengharuskan auditor untuk menggunakan Computer-Assisted Audit Techniques
(CAATs).

C. Asersi Laporan Keuangan


Manajemen bertanggung jawab untuk penyajian wajar dari laporan keuangan sehingga
mereka mencerminkan dasar dan operasi dari perusahaan berdasar pada kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku (IAS, GAAP, dll). Manajemen mempersiapkan laporan keuangan
berdasarkan dokumen akuntansi dan informasi lain. Auditor cenderung menggunakan
dokumen akuntansi dan informasi lain sebagai bukti audit. Dalam menggambarkan bahwa
laporan keuangan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, manajemen
secara implisit atau eksplisit membuat asersi mengenai pengakuan, pengukuran, penyajian
dan pengungkapan dari berbagai elemen dalam laporan keuangan dan pengungkapan yang
berhubungan.

 Standar Asersi

Auditor telah mengidentifikasi beberapa asersi yang dibuat oleh manajemen, baik secara
langsung maupun tidak langsung, berhubungan dengan laporan keuangan. Standar asersi tersebut
antara lain kejadian, kelengkapan, keakuratan, pemotongan, klasifikasi, wujud, hak dan kewajiban,
valuasi dan alokasi, dan dapat dimengerti. Untuk masing-masing grup, asersi didefinisikan berbeda
dan terkadang dikombinasikan.

D. Test of Controls
Test of Controls (ToC) adalah sebuah prosedur mengevaluasi efektivitas kegiatan
pengendalian (control activities) berkaitan dengan pencegahan (preventing), pendeteksian dan
pembetulan (detection and correction) salah saji material (material misstatement) dalam tingkat
asersi untuk meminimalkan risiko pengendalian. Auditor perlu mendesain dan melakukan ToC
untuk mendapatkan bukti yang cukup bahwa pengendalian berjalan dengan efektif dan sesuai
substansinya.

Secara umum, proses yang dilakukan dalam ToC adalah melakukan tes pada:
1. Kondisi/unsur yang mengindikasikan performa dari pengendalian, mencakup bagaiman
pengendalian itu dilakukan, konsistensinya, dan kemungkinan adanya indirect controls.
2. Penyimpangan (deviation) yang terjadi yang menyebabkan performa tidak sesuai.

Dua kondisi yang membutuhkan ToC:


1. Penilaian risiko auditor mencakup ekspektasi efektivitas pengendalian, maka perlu
dilakukan evaluasi dan testing
2. Ketika prosedur substantif tidak dapat memberikan bukti audit yang kuat dan tepat atas
performa pengendalian, maka ToC bertujuan memeroleh bukti tersebut.

Dalam ToC, seorang auditor perlu mendeteksi kemungkinan adanya salah saji
(misstatement) dan penyimpangan/deviasi (deviation). Ditemukannya salah saji mengindikasikan
secara kuat adanya kekurangan dalam pengendalian internal. Tidak ditemukannya salah saji tidak
menjamin kontrol berkaitan asersi pasti efektif. Jika ditemukan deviasi, maka auditor harus
memeriksa apakah ToC yang dilakukan sudah sesuai dengan kontrol yang diuji. Auditor juga perlu
menentukan apakah ToC tambahan/lanjutan perlu dilakukan atau perlu dilakukan prosedur
substantif atas risiko berpotensi. Konsep dari efektivitas suatu pengendalian mencakup masalah
salah saji dan deviasi tersebut.

 Mendesain dan Melaksanakan ToC


Desain ToC perlu disesuaikan dengan karakteristik kontrol sehingga dapat memeroleh
bukti yang andal dari efektivitas kontrol. Perlu dibedakan antara efektivitas desain kontrol
(konsep) dan implementasi kontrol (praktik). Auditor dapat mengevaluasi efektivitas kontrol di
saat bersamaan dengan desain dan implementasinya. Namun, hal ini terkadang sulit dilakukan
pada entitas yang beroperasi dengan IT atau tanpa dokumentasi transaksi/kejadian.

 Hakikat dan Kelanjutan ToC


Jenis dan dasar-dasar sebuah kontrol mempengaruhi prosedur ToC atas kontrol tersebut.
Contohnya jika dokumentasi tidak lengkap atau aktivitas yang dilakukan dengan IT. Karena itu,
bukti audit dapat diperoleh dengan prosedur audit lainnya, misalnya dengan Computer Assisted
Audit Techniques (CAATs).

Kelanjutan ToC dapat dilihat dari:

- Frekuensi performa kontrol


- Tingkat deviasi dari kontrol
- Relevansi dan keandalan bukti audit
 Menggunakan Bukti Audit Sebelumnya
Di kondisi tertentu, bukti audit sebelumnya dapat digunakan untuk menjadi bukti audit kini
ketika auditor melakukan prosedur audit untuk mempertahankan konsistensi relevansinya.
Perubahan dapat terjadi pada bukti lama sehingga tidak lagi relevan, misalnya karena adanya
perubahan sistem informasi perusahaan.
Menurut ISA 330, kontrol perlu diuji paling sedikit tiga tahun sekali. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi rentang waktu pengujian suatu kontrol, atau tidak bergantung pada bukti
audit sebelumnya:
- Lingkungan kontrol yang tidak efisien.
- Pemantauan/pengawasan kontrol yang tidak efisien.
- Adanya unsur manual.
- Pergantian personel yang berpengaruh terhadap aplikasi kontrol.
- Kondisi yang berubah yang mengindikasikan perlunya perubahan pada kontrol.
- Kontrol sistem informasi/IT yang tidak efisien.

E. Prosedur Substantif
Dalam melakukan audit, seorang auditor berusaha memeroleh bukti audit melalui prosedur
tes (test procedures). Prosedur substantif disusun untuk mendeteksi salah saji materiil di tingkat
asersi. Prosedur substantif mencakup: (1) Pengujian detail (transaksi, saldo akun, dan
pengungkapan), dan (2) Prosedur Analitikal substansif.

Prosedur substantive adalah tes yang dilaukan untuk memeroleh bukti audit untuk
mendeteksi kesalahan material atau kesalahan signifikan yang secara keseluruhan bersifat material
dalam laporan keuangan. Semakin tinggi risiko, semakin tinggi tingkat/luas prosedur substantif
yang dilakukan.

Jika auditor menetapkan bahwa risiko kesalahan saji material adalah signifikan, auditor
harus melakukan prosedur substantif yang secara khusus merespon risiko tersebut.

 Nature dari Prosedur Substantif

sifat (nature) dari prosedur substantif meliputi test of details dan prosedur analitikal substantif.
Dalam prosedur substantif ini termasuk di dalamnya mencocokkan laporan keuangan dengan
catatan akuntansi, pemeriksaan penyesuaian yang dilakukan dalam menyiapkan laporan keuangan
dan prosedur lain berhubungan dengan proses penutupan pelaporan keuangan. Prosedur analitikal
substantif lebih sesuai dilakukan untuk transaksi-transaksi dengan volume besar dan predictable.
Sedangkan Test of details lebih cocok untuk memeroleh buki audit menyangkut asersi laporan
keuangan.

 Pengujian Saldo (Test of Balances)


Test of Balance merupakan pengujian substantif yang memberikan reasonable assurane
atas keabsahan saldo akun GL atau mengidentifikasi salah saji di akun. Hal yang difokuskan adalah
potensi adanya saldo lebih atau kurang (over or understatement), terutama berfokus pada akun
dengan perputaran tinggi seperti kas, piutang, utang, dan persediaan. Hal ini disebut dengan
direction of testing, yang dilakukan secara bersama semua saldo akun.

 Pengujian Sementara (Interim Testing) Prosedur Substabtif


Prosedur substantif bisa saja dilakukan pada interim date. Namu hal ini akan meningkatkan risiko
tidak terdeteksinya kesalahan saji pada akhir periode. Semakin jauh jarak interim date dengan
akhir periode semakin tinggi risikonya. Jika Prosedur substantif dilakukan pada tanggal interim,
maka untuk periode sisanya harus dilakukan lagi prosedur substantif dan test of control atau
prosedur substantif saja, selama hal tersebut memberikan reasonable basis dalam penarikan
kesimpulan dari tanggal interim ke akhir periode. Manfaat dari dilakukannya prosedur pada
tanggal interim adalah untuk membantu auditor dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah pada tahap awal audit.

 Luas Prosedur Substantif


Semakin besar risiko kesalahan saji material semakin luas prosedur substantif yang dilakukan.
Luas prosedur substantif bisa dikurangi jika diketahui bahwa internal control memadai, karena
risiko salah saji material dipengaruhi internal control.

 Test of Details : Unrecorded Liabilities


Pengujian yang dilakukan pada akun utang biasanya adalah pencarian pada utang-utang yang tidak
tercatat. Untuk mencarinya auditor akan mereviu pengeluaran yang dilakukan klien pada periode
setelah balance sheet sampai selesainya tugas lapangan. Karena walaupun utang-utang yang tidak
dicatatat oleh klien tetapi utang akan diminta untuk dilunasi oleh vendor atau kreditor dalam
jangka waktu tertentu. Dengan tekanan ini maka utang akan dilunasi setelah balance sheet date,
dan auditor tahu populasi potensial dari utang tidak tercatat ini.

F. Bukti Audit yang Cukup dan Tepat


Menurut ISA 500, tujuan auditor adalah merancang dan melakukan prosedur audit
sedemikian rupa untuk dapat memeroleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk dapat menarik
kesimpulan yang layak sebagai dasar opini audit.
Seperti yang dijelaskan ISA 200, asurans yang wajar (reasonable assurance) dapat
diperoleh ketika auditor memeroleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk meminimalkan risiko
audit sampai ke tingkat terendah yang dapat diterima.
Sifat cukup dan tepat dari suatu bukti audit bersifat saling berhubungan. Sifat cukup
(sufficiency) adalah ukuran kuantitas/jumlah dari bukti audit. Sementara sifat sesuai (appropriate)
adalah ukuran kualitas dari bukti audit, yakni relevansi dan keandalan bukti tersebut.
ISA 330 menekankan bahwa auditor harus dapat menyimpulkan bahwa apakah bukti audit
yang diperoleh cukup dan tepat. Faktor yang mempengaruhi pendapat auditor dalam
mengidentifikasi apakah bukti audit yang diperoleh sudah cukup dan tepat:

 Signifikansi salah saji di asersi dan kemungkinan memiliki pengaruh yang material.
Semakin material, semakin tingkat kecukupan dan kelayakan bukti audit yang
sesuai yang diperlukan.
 Efektivitas dari kontrol dan respons manajemen dalam mengatasi risiko. Semakin
tinggi efektivitas, semakin rendah kualitas bukti audit terkait.
 Pengalaman dari proses audit sebelumnya dan hubungannya dengan salah saji yang
mirip. Hal ini menunjukkan bagaimana dan seberapa banyak dan kuat bukti audit
yang perlu dikumpulkan.
 Hasil audit sebelumnya, termasuk apakah ditemukan fraud atau error. Semakin
tinggi risiko dan fraud yang ditemukan, semakin banyak bukti audit yang sesuai
yang diperlukan.
 Sumber dan keandalan informasi yang ada. Semakin tidak andal, semakin banyak
bukti audit yang sesuai yang diperlukan.
 Sifat meyakinkan dari bukti audit, yakni unsur kekuatan yang ada dalam bukti yang
dapat memberikan alasan logis dalam memberikan opini audit.
 Pemahaman atas entitas yang diaudit dan proses bisnis, lingkungan, dan
pengendalian internalnya.

Kesesuaian/Relevansi (Relevance)
Relevansi berkaitan dengan hubungan logis antara tujuan prosedur audit dengan asersi.
Relevansi dapat dipengaruhi oleh direction of testing. Prosedur audit mungkin memberikan bukti
audit yang relevan terhadap asersi tertentu namun tidak untuk lainnya.

Keandalan (Reliability)
Keandalan bukti audit sangatlah penting karena mencakup keakuratan dan kecukupan
informasi secara detail dan sesuai dengan prosedur audit. Keandalan bukti audit dipengaruhi sifat
dan sumbernya dan lingkungan darimana bukti ini diperoleh. Beberapa sifat keandalan bukti audit:

 Bukti audit dapat semakin andal ketika diperoleh dari pihak independen di luar
entitas (eksternal).
 Ketika informasi tersebut muncul dari kontrol internal yang efektif, keandalan
informasi tersebut meningkat.
 Bukti audit yang didapat langsung dari auditor (seperti inspeksi langsung) lebih
andal dibanding yang diperoleh tidak langsung dari pihak lain (seperti meminta
keterangan dan data).
 Bukti audit dalam bentuk dokumentasi apapun, baik konvensional maupun
elektronik, lebih andal dibanding informasi verbal.
 Bukti audit dalam dokumentasi asli lebih andal dibanding salinan/fotokopian.
Dalam hal dokumen berbentuk elektronik keandalan tergantung pada kontrol atas
persiapan dan pemeliharaan (maintenance)

Bukti Persuasif
Bukti dapat bersifat persuasif berdasarkan karakter, kredibilitas atau reliabilitas sumbernya.
Auditor lebih percaya pada bukti yag persuasif daripada conclusive dan seringkali auditor mencari
bukti dari sumber dan nature yang berbeda untuk mendukung asersinya.

Bukti audit lebih persuasif jika ada konsistensi antara item-item yang ditemukan dari sumber yang
berebeda atau nature yang berbeda. Bukti lebih bersifat persuasif untuk akun neraca saldo ketika
diperoleh mendekati tanggal neraca saldo. Untuk laporan pendapatan, bukti lebih bersifat persuasif
jika sample diambil dari keseluruhan periode, dibandingkan hanya semester pertama.

Cost/Benefit
Auditor perlu memperhatikan biaya yang dikeluarkan dalam memeroleh bukti audit dan kegunaan
dari informasi tersebut. Namun ini bukan alasan untuk tidak melakukan prosedur audit yang
penting. Jika auditor tidak mampu menemukan bukti audit yang tepat dan cukup, maka opini yang
diberikan qualification atau disclaimer