Anda di halaman 1dari 14

FORMULASI HERBISIDA

(Laporan Praktikum Herbisda dan Lingkungan)

Oleh

Kelompok 1

Mifta Khuroji 1614121002


Putri Dwi Septiani 1614121013
Annisa Efrima 1614121024
Dwi Rahayu 1614121030
Reza Fitria Sari 1614121040
Annissa Leona 1614121055
Ita Indira Rahma Dhanti 1614121062

UNIVERSITAS LAMPUNG
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
2019
III. METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum formulasi herbisida yaitu timbangan,


spatula, gelas ukur, stopwatch dan alat tulis.

Bahan yang digunakan adalah empat macam formulasi herbisida (Bimaron 500F,
Solaris 500SL, Karmex 30WP, dan Logran 75WG) dan air.

3.2 Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini sebagai berikut:


1. Diamati sifat-sifat fisik formulasi herbisida sebelum dilarutkan kedalam air.
Sifat fisik tersebut meliputi fisik, warna, bau dll.
2. Disiapkan air dalam botol sebanyak kurang lebih 300ml dan beri label nama
herbisida.
3. Dimasukkan herbisida sebanyak kurang lebih 10ml atau 10 g kedalam air
atau botol tersebut. Jangan diaduk kemudian diamati dan catat tingkat
kelarutan herbisida tersebut dalam air dan perubahan warna yang terjadi.
4. Setelah 10 menit, diaduk herbisida tersebut selama kurang lebih 2 menit dan
amati kembali tingkat kelarutannya (termasuk ada atau tidak adanya endapan)
dan perubahan warna yang terjadi.
5. Diamati selama 10 menit dan amati hal yang sama dengan urutan 3 dan 4.
6. Setelah pengamatan selesai, simpan larutan tersebut di tempat yang aman dan
amati kembali minggu depan.
7. Kemudian pengamatan dilengkapi dengan foto.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Gulma merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman yang menghambat


pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya, kehadiran gulma pada areal tanaman
bubidaya tidak dapat dihindarkan. Gulma merupakan tumbuhan liar yang tumbuh
pada lahan budidaya, atau tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tidak di inginkan
kehadirannya sehingga merugikan tanaman lain yang ada di sekitarnya. Gulma
memiliki dampak negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu
menurunkan produktifitas tanaman budidaya dan pendapatan petani (Sukman, 2002).

Kehadiran gulma disuatu areal pertanaman secara umum memberikan pengaruh


negatif terhadap tanaman pertanian karena gulma memiliki daya kompetitif yang
tinggi sehingga memungkinkan terjadinya persaingan cahaya, CO2, air, unsur hara,
dan ruang tumbuh yang digunakan secara bersamaan. Selain itu gulma memiliki
peranan lain yaitu sebagai alelopati, alelomediasi, dan alelospoli. Peranan gulma
sebagai alelopati, karena gulma dapat mengeluarkan bahan kimia untuk menekan
bahkan mematikan tanaman dan tumbuhan lain, alelomediasi karena gulma
merupakan tempat tinggal bagi beberapa jenis hama tertentu atau gulma sebagai
penghubung antara hama dengan tanaman budidaya, dan sebagai alelospoli karena
gulma selalu bersifat monopoli atas air, unsur hara, CO2, O2, dan sinar matahari
(Sunanto, 1993).

Tumbuhan yang lazim menjadi gulma mempunyai ciri yang khas yaitu
pertumbuhannya cepat, mempunyai daya saing kuat dalam memperebutkan faktor-
faktor kebutuhan hidup, mempunyai toleransi yang besar terhadap suasana
lingkungan yang ekstrim, mempunyai daya berkembang biak yang besar baik secara
vegetatif atau generatif maupun kedua-duanya, alat perkembangbiakannya mudah
tersebar melalui angin, air maupun binatang, dan bijinya mempunyai sifat dormansi
yang memungkinkan untuk bertahan hidup yang lama dalam kondisi yang tidak
menguntungkan (Tanasale, 2010).

Anderson (1977) menyatakan bahwa gulma dan tanaman pertanian (crops)


merupakan tanaman yang secara mendasar keduanya memiliki kebutuhan yang sama
untuk tumbuh dan berkembang secara normal. Keduanya juga membutuhkan pasokan
yang memadai akan nutrisi-nutrisi yang sama, kelembapan, cahaya, suhu, dan CO2.
Gulma berhasil bersaing dengan tanaman budidaya dengan menjadi lebih agresif saat
tumbuh. Gulma memperoleh dan menggunakan unsur-unsur essensial (nutrisi,
kelembapan, cahaya, suhu, dan karbon dioksida) bagi pertumbuhan dan
perkembangan dengan mengalahkan tanaman budidaya, dan pada beberapa kasus,
gulma juga mengekskresikan zat-zat kimia yang merugikan bagi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman budidaya.

Herbisida adalah bahan senyawa beracun yang dapat dimanfaatkan untuk membunuh
tumbuhan pengganggu. Kehadiran gulma dalam lahan pertanian sangat tidak
diharapkan karena akan menyaingi tanaman yang ditanam dalam memperolah unsure
hara, air dan matahari. Akibat dari serangan gulma dapat menurunkan hasil panen
yang cukup besar.Formulasi sangat menentukan bagaimana pestisida dengan bentuk
dan komposisi tertentu harus digunakan, berapa dosis atau takaran yang harus
digunakan, berapa frekuensi dan interval penggunaan, serta terhadap jasad sasaran
apa pestisida dengan formulasi tersebut dapat digunakan secara efektif. Selain itu,
formulasi pestisida juga menentukan aspek keamanan penggunaan pestisida dibuat
dan diedarkan. Berikut ini merupakan beberapa macam formulasi pestisida
(Djojosumarto, 2008).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan yang diperoleh dari praktikum ini sebagai berikut:

Merek Bentuk Perubahan yang terjadi


dagang formulasi
Herbisida
Bimaron 500F Cairan yang -Saat dimasukkan ke air langsung jatuh dan
(warna hijau) sangat pekat didiamkan 10 menit terjadi pengendapan
-saat diaduk 2 menit homogen
-setelah diaduk dan didiamkan 10 menit tidak
terjadi pengendapan
-setelah didiamkan 1 minggu warna larutan
formulasi herbida menjadi hijau jernih dan
sedikit terjadi pengendapan

Solaris 500SL Larutan -Saat dimasukkan ke air langsung jatuh serta


(putih) menyebar dan didiamkan 10 menit menjadi
homogen
-saat diaduk 2 menit homogen
-setelah diaduk dan didiamkan 10 menit tidak
terjadi pengendapan
-setelah didiamkan 1 minggu larutan formulasi
herbida menjadi sedikit putih jernih dan sedikit
terjadi pengendapan

Karmex 30WP Tepung -Saat dimasukkan ke air menyebar dan didiamkan


(putih) 10 menit terjadi pengendapan
-saat diaduk 2 menit homogen
-setelah diaduk dan didiamkan 10 menit terjadi
pengendapan
-setelah didiamkan 1 minggu larutan formulasi
herbida menjadi putih sedikit jernih dan sedikit
terjadi pengendapan
Logran 75WG Butiran -Saat dimasukkan ke air menyebar dan didiamkan
(coklat) 10 menit terjadi pengendapan
-saat diaduk 2 menit homogen
-setelah diaduk dan didiamkan 10 menit terjadi
pengendapan
-setelah didiamkan 1 minggu larutan formulasi
herbida menjadi berwarna coklat gelap dan terjadi
pengendapan berwarna putih

4.2 Pembahasan

Pada bahas data kali ini formulasi herbisida Bimaron 500 F yang formulasinya
cairan pekat saat masuk ke air dan didiamkan 10 menit terjadi pengendapan, saat
diaduk larutan herbisidanya homogen tetapi saat diaduk 10 menit tidak terjadi
pengendapan dan saat larutan herbisida yang telah dilarutkan dengan air
didiamkan 1 minggu hanya terjadi sedikit pengendapan. Pada herbisida solaris
500 SL formulasi herbisidanya larutan berwarna putih saat herbisida solaris 500
SL dimasukan ke dalam air larutan herbisida menyebar dan saat didiamkan 10
menit tanpa diaduk herbisida langsung homogen dan hanya sedikit tidak ada
pengendapan tapi setelah didiamakan selama 1 minggu hanya terjadi sedikit
pengendapan. Karmes 30WP hebisidanya formulasi tepung saat dimasukan dalam
air menyebar dan saat didiamkan 10 menit terjadi pengendapan dan saat diaduk 2
menit larutan herbisida menjadi homogen saat didiamkan 10 menit lagi setalah di
aduk terjadi pengendapan, 1 minggu setelah didiamkan formulasi herbisida
menjadi sedikit jernih dan hanya terjadi sedikit pengendapan. Pada herbisida
Logran 75WG yang formulasi herbisidanya butiran pada saat dimasukan pada air
langsung menyebar dan setalah didiamkan 10 menit terjadi pengendapan dan saat
diaduk 2 menit herbisida langsung homogen dan setelah itu diamkan lagi 10 menit
dan terjadi pengendapan, pada saat herbisida didiamkan 1 minggu terjadi
pengendapan berwarna putih .

Sehingga dapat diketahui bahwa formulasi herbisida dapat mempengaruhi daya


larut dan daya penguapan, daya meracun pada tanaman dan sifat sifat lainya.
Herbisida yang diformulasikan dalam bentuk cair lebih efektik dari pada herbisida
padat karena herbisida pada partikel – partikel dari bahan aktif yang terkandung
dalam formulasi lebuh halus sehingga proses penyebaran dan penyerapan
herbisida dan herbisida padat lebih gampang terjadi pengendapan jadi lebih susah
terserap ke permukaan tanah

Keberhasilan aplikasi suatu herbisida dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :


jenis herbisida dan formulasi herbisida. Formulasi herbisida adalah bentuk
herbisida yang dapat mempengaruhi daya larut, daya penguapan, daya meracun
pada tanaman,dan sifat-sifat lainnya (Moenandir, 1988).

Formulasi menentukan bentuk herbisida, komposisi, dosis atau takaran, frekuensi


dan interval penggunaan, serta jasad sasaran apa pestisida dengan formulasi
tersebut dapat digunakan secara efektif. Selain itu, formulasi pestisida juga
menentukan aspek keamanan penggunaan pestisida dibuat dan diedarkan dalam
banyak macam formulasi (Ardiyan, 1992).

Herbisida diformulasikan untuk memudahkan pengaturan, penyimpanan dan


pemakaian agar lebih aman serta meningkatkan keefektifan dalam mematikan
gulma sasaran. Menurut Akobundu (1975), herbisida yang diformulasikan dalam
bentuk cair lebih mudah digunakan karena mudah dalam proses pengukuran jika
dibandingkan dengan formulasi dalam bentuk padat. Herbisida dalam bentuk cair
lebih efektif dari herbisida yang diformulasikan dalam bentuk padat karena
partikel-partikel dari bahan aktif yang terkandung dalam formulasi ini lebih halus
sehingga proses penyebaran dan penyerapan herbisida ke permukaan tanah dan
gulma lebih baik. Faktor lainnya yang mempengaruhi keberhasilan aplikasi
herbisida adalah sifat kimia dari herbisida itu sendiri, iklim, kondisi tanah.

Macam – macam bentuk Formulasi adalah sebagai berikut:


A.Formulasi Padat
1. Wettable Powder (WP)
Merupakan sediaan bentuk tepung (ukuran partikel beberapa mikron) dengan
kadar bahan aktif relatif tinggi (50 – 80%), yang jika dicampur dengan air akan
membentuk suspensi. Pengaplikasian WP dengan cara disemprotkan.

2. Soluble Powder (SP)


Merupakan formulasi berbentuk tepung yang jika dicampur air akan membentuk
larutan homogen. Digunakan dengan cara disemprotkan.

3. Butiran,
Umumnya merupakan sediaan siap pakai dengan konsentrasi bahan aktif rendah
(sekitar 2%). Ukuran butiran bervariasi antara 0,7 – 1 mm. Pestisida butiran
umumnya digunakan dengan cara ditaburkan di lapangan (baik secara manual
maupun dengan mesin penabur).

4. Water Dispersible Granule (WG atau WDG)


Berbentuk butiran tetapi penggunaannya sangat berbeda. Formulasi WDG harus
diencerkan terlebih dahulu dengan air dan digunakan dengan cara disemprotkan.

5. Soluble Granule (SG)


Mirip dengan WDG yang juga harus diencerkan dalam air dan digunakan dengan
cara disemprotkan. Bedanya, jika dicampur dengan air, SG akan membentuk
larutan sempurna(Djojosumarto,2008):

B. Formulasi Cair
1. Mulsifiable Concentrate atau Emulsible Concentrate (EC)
Merupakan sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan kandungan bahan
aktif yang cukup tinggi. Oleh karena menggunakan solvent berbasis minyak,
konsentrat ini jika dicampur dengan air akan membentuk emulsi (butiran benda
cair yang melayang dalam media cair lainnya). Bersama formulasi WP, formulasi
EC merupakan formulasi klasik yang paling banyak digunakan saat ini.

2. Water Soluble Concentrate (WCS)


Merupakan formulasi yang mirip dengan EC, tetapi karena menggunakan sistem
solvent berbasis air maka konsentrat ini jika dicampur air tidak membentuk
emulsi, melainkan akan membentuk larutan homogen. Umumnya formulasi ini
digunakan dengan cara disemprotkan.

3. Aquaeous Solution (AS)


Merupakan pekatan yang bisa dilarutkan dalam air. Pestisida yang diformulasi
dalam bentuk AS umumnya berupa pestisida yang memiliki kelarutan tinggi
dalam air. Pestisida yang diformulasi dalam bentuk ini digunakan dengan cara
disemprotkan.

4. Soluble Liquid (SL)


Merupakan pekatan cair. Jika dicampur air, pekatan cair ini akan membentuk
larutan. Pestisida ini juga digunakan dengan cara disemprotkan.

5. Ultra Low Volume (ULV)


Merupakan sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah,
yaitu volume semprot antara 1 – 5 liter/hektar. Formulasi ULV umumnya berbasis
minyak karena untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah digunakan
butiran semprot yang sangat halus (Kardinan,2000).
V. KESIMPULAN

Kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Formulasi yang ditemui di pasaran, umumnya berbentuk padatan yaitu butiran
atau granule (G, WG, WDG), tepung (WP) dan dalam bentuk cairan seperti
pekatan yang larut dalam air atau water-soluble concentrate (S, WSC), pekatan
yang dapat diemulsikan (EC, E) dan larutan (AS, SL).
2. Bentuk formulasi herbisida tersebut sangat ditentukan oleh kelarutan bahan
aktif (dalam minyak, air, pelarut organik lain) dan cara formulasi herbisida
tersebut diaplikasikan (dilarutkan dalam pembawa atau aplikasi kering).
3. Sifat-sifat herbisida pada saat dilarutkan dalam air beraneka ragam, ada
formulasi herbisida yang kurang baik sehingga mengkibatkan terjadinya
pemisahan antara air dan herbisida, ada yang mengalami pengendapan, atau
bahkan ada formulasi herbisida tertentu yang tidak dapat larut dengan baik dan
ada juga yang dapat larut dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, W.P. 1977. Weed Science: Principles. West Publishing Company. St.
Paul. New York. Boston. Los Angeles. San Francisco.

Ardiyan, A. (1992). Formulasi Pestisida, 7–29. Retrieved from


http://eprints.undip.ac.id/43729/3/ARWIN_ARDIYANTO_G2A009002_B
AB2KTI.d

Duke. Akobundu, I. O., R. D. Sweet and W. B. 1975. A method of evaluating


herbicide combinations and determining herbicide synergism. Weed Sci.

Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Kardinan, A. 2000. Pestisida nabati, Ramuan dan Aplikasi. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Moendandir, J. 1988. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma 1. C.V.


Rahawali. Jakarta.

Sukman, Y. 2002. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT Raja Grafindo


Persada. Jakarta.

Sunanto, H. 1993. Budidaya Pala Komuditas Ekspor. Kansius. Yogyakarta.

Tanasale, V. 2010. Komunitas Gulma Pada Pertanaman Gandaria Belum


Menghasilkan dan Menghasilkan Pada ketinggian Tempat Yang Berbeda.
Tesis. UGM. Yogyakarta.
LAMPIRAN
Pelaksanaan Praktikum Formulasi Herbisida
Hasil Pengamatan Setelah 1 Minggu