Anda di halaman 1dari 4

Laporan Tugas Mandiri V: Observasi Lapangan

oleh Bernardus Nathanael A. H. (1606889446)


Mata Kuliah: Acuan Perilaku Ekonomi dan Bisnis

Pada hari Kamis, 11 April 2019, seperti biasanya saya berkunjung ke Warung Makan
Poci yang menjadi rutinitas saya untuk menikmati hidangan sekaligus mewawancarai pemilik
dari warung tersebut yaitu Bapak Budi. Setelah saya memesan hidangan makanan dan
menghabiskannya, saya memulai wawancara dengan Bapak Budi untuk menanyakan
pertanyaan-pertanyaan terkait dengan acuan-acuan yang mempengaruhi beliau dalam
pengambilan-pengambilan keputusan yang berkaitan dengan aktivitas usaha bisnisnya. Motif
sendiri berarti alasan yang mendasari perbuatan yang dilakukan seseorang. Ada beberapa motif
yang mendasari perilaku yang diperbuat oleh Bapak Budi sendiri diantaranya motif ekonomi,
kepercayaan atau keyakinan, keagamaan, dan sosial. Motif sosial adalah motif yang mendasari
aktivitas individu dalam mereaksi terhadap orang lain. Sementara itu, motif ekonomi adalah
motif yang mendorong orang melakukan tindakan ekonomi. Secara umum sendiri motif-motif
tersebut berasal dari diri sendiri maupun berasal dari lingkungan yang ada di sekitar Bapak Budi
sendiri. Motif keagamaan sendiri menggunakan tumpuan agama dalam melakukan tindakan. Dan
motif keyakinan atau kepercayaan adalah alasan yang diyakini atau dipercaya yang telah
ditanamkan sejak lama apda pelaku yang mendasari beliau mengambil keputusan.

Pak Budi sendiri selama ini melakukan tindakan ekonomi berupa menjalankan usaha
bisnisnya yang berbentuk warung makan, selain itu beliau juga memiliki usaha warung
kelontong kecil-kecilan di rumahnya yang dikelola oleh adik iparnya. Dahulu, Bapak Budi
menjelaskan awalnya motif yang dilakukannya adalah semata mengisi kekosongan waktu untuk
istri beliau, Bu Tati, yang memang sebelumnya tidak mengerjakan apa-apa. Bu Tati yang
sebelumnya hanya bekerja serabutan seperti membantu tetangga bila ada hajatan maupun
menjadi pembantu rumah tangga yang dipekerjakan harian, sehingga dengan adanya warung
makan ini Bu Tati dapat menjadi semakin produktif dalam mendapatkan penghasilan. Setelah
Bapak Budi berhenti menjadi sopir, beliau pun mulai turut aktif menjalankan warung makan
tersebut, motif ekonomi yang tadinya hanya mengisi kekosongan waktu Bu Tati untuk
menambah produktivitasnya pun bergeser menjadi mencari keuntungan sehingga dibukalah
warung makan tersebut. Akhirnya, hingga sekarang motif ekonomi tersebut mempengaruhi
Bapak Budi dalam menjalankan usahanya dengan tidak asal-asalan melainkan menjalankannya
dengan penuh perhitungan. Bapak Budi tidak menjalankan usaha tersebut dengan berpikir hanya
untuk makan hari ini saja, namun lebih memikirkannya secara berkelanjutan hingga beliau
berpikiran untuk membuka usaha fotokopi. Sehingga keuntungan yang didapatkan oleh Bapak
Budi dapat menambah kesejahteraannya.

Selain motif ekonomi yang menjadi dasar perilaku Bapak Budi dalam mengelola
usahanya, beliau pun punya motif lain yaitu secara sosial. Beliau sendiri sudah terbiasa dengan
budaya saling tolong menolong sejak masih bersama dengan saudara-saudaranya. Sehingga hal
tersebut melandasinya untuk membuat usaha di rumahnya tersebut. Usaha yang ada di rumahnya
tersebut adalah warung kelontong kecil-kecilan. Rumah beliau yang ada di Kranggan sendiri
memang tadinya tidak ditempati alias kosong, namun beliau melihat adik iparnya di Jakarta yang
merupakan perantau kesusahan membayar biaya kontrakan, sehingga beliau pun bersimpati
untuk memberikan izin kepada saudara iparnya untuk menempati rumah tersebut. Beliau pun
memberikan modal untuk saudara iparnya mendirikan warung kelontong di rumahnya tersebut.
Hasil keuntungan dari warung kelontong yang didirikan beliau sendiri nantinya dibagi dengan
saudara iparnya mendapatkan bagian yang lebih besar karena telah mengelola warung kelontang
tersebut. Sehingga dapat dilihat motif sosial yang mendasari kegiatan usaha warung kelontong
yang didirikannya adalah untuk membantu saudaranya. Selain itu saya bertanya-tanya kepada
beliau apa alasan lain yang mendasari masih berjalannya usaha warung makan beliau. Ternyata
jawaban beliau benar-benar membuktikan kedekatan beliau dengan pelanggan-pelanggan
tetapnya yang mayoritas adalah mahasiswa-mahasiswa yang bertempat indekos di sekitar warung
makan beliau. Beliau berkata kadang-kadang jika warung makannya tutup, biasanya
pelanggan-pelanggan dekatnya tersebut melayangkan protes dan mengeluh kepada beliau karena
susah mencari makan apalagi di saat beliau. Karena beliau tidak enak dan sungkan, akhirnya
pada akhir minggu yang ramai misalnya saat ada ujian atau yang menyebabkan mahasiswa asal
Jabodetabek tidak kembali ke rumahnya, beliau akan menyempatkan waktu untuk membuka
warungnya agar pelanggan-pelanggannya tidak kesusahan mencari makanan. Selain itu, alasan
beliau mempertahankan harga makanan di warung makannya tetap murah tidak lain dikarenakan
keinginan beliau untuk membantu pelanggannya terutama mahasiswa agar mendapatkan asupan
yang bergizi dengan harga yang terjangkau.

Selain motif ekonomi dan sosial, motif lain yang mendasari beliau dalam menjalankan
usaha bisnisnya adalah motif agama dan keyakinan atau kepercayaan beliau. Tanpa ditanya,
beliau sudah menjelaskan kepada saya bahwa dalam berusaha bisnis harus berpegangan kepada
agama, yaitu nilai-nilai keislaman yang dianut oleh beliau. Beliau selama ini mengaku tidak
berlaku curang atau tindakan tidak baik lainnya dalam menjalankan usaha karena berpedoman
pada agama. Beliau mengaku sering berdoa dan mengaji agar mendapatkan petunjuk dari Yang
Mahakuasa untuk menjalankan usahanya. Selain itu, menurut beliau dengan membantu sesama
dengan menyajikan makanan yang menyehatkan dapat menjadi berkah sendiri karena menurut
beliau hal tersebut disunahkan oleh agamanya. Beliau pun selama ini menganggap bahwa
kelancaran aktivitas usahanya tersebut tidak lain merupakan pahala yang didapatkannya karena
menolong sesama. Selain motif agama, beliau juga menjalankan usahanya dengan keyakinan
atau kepercayaan tertentu. Beliau selama ini bercerita beliau dan Bu Tati belum dikaruniai anak
hingga di usia senjanya ini. Bapak Budi pun hanya bisa bersyukur atas apa yang diberikan oleh
Yang Mahakuasa selama ini. Selama ini pun, akhirnya beliau menganggap bahwa
pelanggan-pelanggan yang dekat beliau terutama mahasiswa sebagai anak beliau sendiri.
Sehingga dengan alasan tersebut Bapak Budi pun tidak enggan menolong mahasiswa-mahasiswa
tersebut, tidak hanya dengan menjual makanan saja namun juga hingga mempiutangi mahasiswa
yang sedang kesusahan misalnya jika uang bulanan belum diberikan oleh orang tua. Beliau pun
tidak mencurangi makanannya dengan mengolah kembali makanan atau memasak dengan bahan
berbahaya agar kesehatan pelanggannya terjaga dan dapat menghasilkan yang baik-baik menurut
beliau. Beliau percaya apa yang beliau lakukan selama ini akan berbalik lagi pada dirinya di
masa yang akan mendatang.
Dapat kita simpulkan, dalam menjalankan aktivitas terkait usaha warung makan dan
warung kelontongnya, Bapak Budi berpedoman pada banyak motif yaitu motif ekonomi, sosial,
kepercayaan atau keyakinan, dan keagamaan. Sehingga secara garis besar, dapat disimpulkan
bahwa terkait dengan usaha yang dijalankan motif utamanya adalah mencari pendapatan untuk
penghidupan dan menolong sesama. Dari kesimpulan ini, saya banyak belajar bahwa dalam
dinamika berusaha walaupun tujuan utamanya adalah mencari keuntungan, namun tetap
memperhitungkan dan bersimpati pada kondisi atau keadaan sosial di sekitar lingkungan usaha
baik fisik maupun non-fisik. Dari awal saya berbincang dengan Bapak Budi dapat dilihat beliau
memang ramah dan mudah akrab dengan seseorang tentu saja karakter beliau yang demikian
yang memang mendorong motif-motif tersebut muncul sebagai dasar dari alasan mengapa beliau
mau berusaha. Cerita beliau yang memang sudah menerapkan semangat kekeluargaan dan
gotong-royong dari kecil saat masih bersama keluarga akhirnya menjadi kebiasaan beliau. Secara
tidak sadar beliau memang ingin menolong orang tidak hanya yang menjadi keluarganya namun
orang-orang yang berada dekat di sekitar beliau. Dapat kita simpulkan acuan-acuan yang beliau
pakai untuk mendasari keputusan-keputusan dalam menjalani aktivitas usaha bisnis beliau sudah
tertanam sejak dini dalam budaya keluarganya. Hal ini menjadi pelajaran penting, karena
menurut saya salah satu faktor yang membuat warung makan beliau laku di kalangan pelanggan
mahasiswa dikarenakan karakter beliau yang ramah dan juga keinginan beliau untuk menolong
mahasiswa yang sedang mengalami kesulitan.

Beliau pun selalu berpesan kepada saya untuk tetap berpegang teguh pada agama dan
keyakinan yang kita anggap baik seperti dirinya, maka akan diberikan jalan yang mudah oleh
Yang Mahakuasa. Bagi beliau, tidak adanya halangan yang berarti saat beliau menjalankan
usahanya merupakan pahala atau berkah atas perbuatan-perbuatan baik yang selama ini ikhlas
beliau lakukan. Akhirnya setelah beliau memberikan beberapa pesan lainnya pada saya, akhirnya
saya pun harus pamit karena beberapa pekerjaan lain yang harus saya kerjakan. Demikian hasil
wawancara saya pada minggu kemarin.