Anda di halaman 1dari 3

Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Diagnosa Medis

Autisme
Autisme menjadi salah satu jenis dari ABK dimana terjadi gangguan
perkembangan kompleks yang gejalanya dapat muncul sebelum anak berusia 3
tahun. Autisme menyebabkan anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk
berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-
olah hidup dalam dunianya sendiri. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tentang
diagnosis keperawatan autisme: defisit perawatan diri: berpakaian. Pembahasan
mengenai hal tersebut akan mencakup proses keperawatan dengan diagnosis defisit
perawatan diri: berpakaian.
I. Pengkajian
Nama : Anak A
Usia : 10 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Keluhan : Didiagnosa mengalami autisme
Data kasus Masalah keperawatan
Data Objektif: Defisit perawatan diri: berpakaian
 Klien hiperaktif
 Klien sering menyendiri
 Klien belum dapat menyampaikan
dengan jelas dan tepat
 Klien masih dibantu dalam
melakukan aktivitas seperti
berpakaian
Data Subjektif: -

II. Diagnosis Keperawatan


Defisit perawatan diri: berpakaian
Definisi: ketidakmampuan untuk mengenakan atau melepas pakaian secara
mandiri
Batasan karakteristik: hambatan memilih pakaian, hambatan mengenakan
pakaian pada bagian tubuh bawah, hambatan mengenakan pakaian pada
bagian tubuh atas, ketidakmampuan melepaskan atribut pakaian,
ketidakmampuan mengenakan atribut pakaian.
Kondisi terkait: gangguan fungsi kognitif

III. Perencanaan dan Implementasi


Kriteria Hasil Intervensi Rasional
• Klien mampu melakukan Edukasi: Edukasi:
perawatan diri: • Menjelaskan kepada • Keterlibatan keluarga
berpakaian klien dan keluarga sangat penting dalam
• Klien mendapat bagaimana perawatan proses penyembuhan
dukungan keluarga diri yang baik dan benar
• Menganjurkan keluarga
untuk menyediakan
• Klien dapat melakukan pakaian yang mudah • Pakaian yang mudah
perawatan diri secara untuk dipakai dipakai dapat
mandiri memudahkan klien
• Klien dapat beradaptasi • Memberitahu keluarga untuk berpakaian secara
terhadap keterbatasan untuk selalu berada di mandiri
secara fungsional sisi klien untuk • Keluarga harus selalu
• Mengidentifikasi cara- meningkatkan rasa ada untuk klien dan
cara untuk meningkatkan aman dan mengurangi menjadi pelindung klien
rasa kendali diri ketakutan dari rasa takut dan aman
• Klien dapat Mandiri;
menggunakan sumber- • Lakuan pengulangan
sumber dari komunitas yang konsisten terhadap Mandiri:
• Klien dapat memilih dan, rutinitas kesehatan yang • Membantu klien dengan
mengambil pakaiannya dimaksudkan untuk agar terbiasa dalam
sendiri membangun perawatan melakukan perawatan
• Klien dapat melepas diri diri
pakaian bagian atas • Memberikan bantuan
maupun bawah kepada klien sampai
klien mampu • Membantu klien dalam
melakukan perawatan meningkatkan
diri mandiri kemandirian
• Memuji usaha klien
untuk berpakaian
sendiri • Memuji dapat
membantu klien
Monitoring: meningkatkan harga
• Observasi pasien, dirinya
laporkan kemampuan Monitoring:
persepsi atau kognitif • Melalui observasi yang
pasien setiap hari. cermat perawat dapat
menentukan tindakan
keperawatan yang
• Memantau cara klien sesuai untuk memenuhi
dalam berpakaian setiap kebutuhan pasien
hari, jika perlu berikan • Mempermudah dalam
alat bantu untuk mengidentifikasi area
meningkatkan masalah
kemandirian
• Monitor kemampuan
klien untuk berpakaian
sendiri • Membantu klien secara
perlahan dalam
Kolaborasi: melakukan perawatan
• Rujuk klien ke spesialis diri
atau instansi lain untuk Kolaborasi:
memenuhi tujuan • Membantu klien dalam
pembelajaran dengan menangani masalah
tepat yang dimilikinya
• Konsultasi dengan
terapis okupasi atau
fisik yang menangani • Membantu klien dalam
disabilitas menangani masalahnya
dengan bantuan tenaga
kesehatan lain

IV. Evaluasi
Evaluasi perlu dilakukan pada tahap intervensi untuk menentukan
apakah tujuan intervensi tersebut dapat dicapai secara efektif (Nursalam,
2016). Evaluasi dapat dilakukan menggunakan pendekatan SOAP, yaitu
bagaimana respon subjektif pasien (S), respon objektif (O), analisis terhadap
data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan masih adanya masalah atau
tidak (A), tindak lanjut berdasarkan hasil analisis (P) (Nursalam, 2016).
Mengacu pada kasus, hasil evaluasi secara umum tidak terdapat data
subjektif. Sedangkan data objektif berupa klien hiperaktif, sering menyendiri,
belum dapat menyampaikan dengan jelas dan tepat, dan masih dibantu dalam
melakukan aktivitas seperti berpakaian. Assessment yang didapat dalam kasus
ketika orang tua kelelahan menghadapi perilaku klien, dan sedih memikirkan
masa depan anaknya. Planning yang dapat dilakukan yaitu, melanjutkan
intervensi yang sudah diberikan perawat dan mengevaluasinya apabila
terdapat kegagalan.

Defisit perawatan diri menjadi suatu kondisi dimana seseorang


mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan aktivitas perawatan diri
secara mandiri. Bagi anak dengan diagnosa autisme, dianjurkan untuk sering
ajarkan bagaimana melakukan perawatan diri, salah satunya dengan
melatihnya untuk berpakaian. Oleh karena itu, sebagai perawat harus mampu
membantu klien dengan diagnosa medis autisme yang mengalami defisit
perawatan diri: berpakaian, dan dapat meyakinkan orang tuanya untuk tetap
selalu ada di sisi anaknya walaupun memiliki kekurangan sekalipun.

Daftar Pustaka
Nursalam. (2016). Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktik.
Jakarta : Salemba Medika
NANDA-I. (2017). NANDA-I Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi
2018-2020. Jakarta: EGC.
NIC. (2013). Nursing Outcomes Classification 5th edition. Terj oleh: Intansari N.,
Roxsana D. T. Jakarta: CV. Mocomedia.
NOC. (2013). Nursing Interventions Classification 6th edition. Terj oleh: Intansari
N., Roxsana D. T. Jakata: CV. Mocomedia.