Anda di halaman 1dari 19

CRITICAL BOOK REPORT

“PSIKOLOGI PENDIDIKAN”

OLEH
NAMA : CHINTYA RACHMAWATI PUTRI SARMI

NIM : 4183111107

KELAS : DIK-A MATEMATIKA 2018

JUDUL : PSIKOLOGI PENDIDIKAN


PENGARANG : DRS.SUMADI SURYABRATA, B.A., M.A., ED.S., PH.D.
PENERBIT : PT RAJAGRAFINDO PERSADA
TEMPAT TERBIT : JAKARTA
TAHUN TERBIT : 2015

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU


PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT. dimana atas segala nikmat dan
rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan tugas ctitical book report untuk pemenuhan tugas pada
mata kuliah Psikologi pendidikan.

Terima kasih penulis ucapkan kepada seluruh pihak serta dosen pengampu yang telah
membimbing dan membantu dalam penyelesaian tugas ini.Penulis sadar bahwa dalam
makalah ini masih terdapat kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun untuk makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca dan penulis sendiri khususnya.

Medan, 04 Maret 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ilmu jiwa pendidkan yang lebih dikenal dengan psikologi pendidikan terdiri
dari dua kata, yaitu psikologi dan pendidikan. Psikologi berasal dari bahasa Yunani
yaitu psyche yang ber arti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah
psikologi berarti ilmu tentang jiwa atau ilmu jiwa.Adapun mengenai pendidikan
menurut kamus besar bahasa indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap
dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mende wasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Psikologi pendidikan menurut Alice Crow yaitu study tentang belajar,


pertumbuhan dan kematangan individu serta penerapan prinsip prinsip ilmiah tenta ng
reaksi manusia yang mempengaruhi belajar dan mengajar.

Pengetahuan psikologi pendidikan merupakan salah satu pengetahuan yang


perlu dipelajari dan dipahami oleh seorang guru agar dapat menjalankan tugas sebagai
guru dengan cara yang sebaik-baiknya. Jadi seorang guru harus menguasai mata
pelajaran yang diberikan tetapi perlu juga memahami mereka yang dipimpinnya
dalam prosses pendidikan.Para ahli psikologi dan pendidikan pada umumnya
berkeyakinan bahwa dua orang anak (yang kembar sekalipun) tak pernah memiliki
respons yang sama persis terhadap situasi belajar mengajar di sekolah. Keduanya
sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan, kematangan jasmani, inteligensi, dan
keterampilan motor/jasmaniah. Anak-anak itu seperti juga anak-anak lainnya, relative
berbeda dalam kepribadian sebagaimana yang tampak dalam penampilan dan cara
berpikir atau memecahkan masalah mereka masing-masing.

B. RUMUSAN MASALAH

Sesuai dengan judul makalah ini “Psikologi Pendidikan”, Berkaitan dengan


judul tersebut, maka masalahnya dapat di identifikasi sebagai berikut :

1. Apa pengertian psikologi pendidikan ?


2. Apa ruang lingkup psikologi pendidikan ?

C. TUJUAN
Tujuan nya yaitu :
1. Untuk mengetahui apa itu psikologi pendidikan
2. Untuk mengetahui ruang lingkup psikologi pendidikan
BAB II
RINGKASAN MATERI

IDENTITAS BUKU
BUKU UTAMA
Judul : Psikologi Pendidikan
Pengarang : Drs.Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D.
Penerbit : PT Rajagrafindo Persada
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2015

BUKU PEMBANDING

Judul Buku : Psikologi Pendidikan


Pengarang : Drs. M. Ngalim Purwanto, MP
Penerbit : PT. Remaja Rosdakarya
Tahun terbit : 2011

A. BUKU UTAMA

Pengertian dan definisi Psikologi Pendidikan dapat dilihat dari dua sudut yakni
etimologi dan terminologi. Menurut etimologi (asal usul kata) Psikologi Pendidikan dapat
dijabarkan dalam dua kata yakni “Psikologi” dan “Pendidikan”. Psikologi pertama secara
etimologi adalah istilah hasil peng-Indonesia-an dari bahasa asing, yakni bahasa Inggris
“Psychology”.
Istilah psychologi sendiri bersal dari kata kata Yunani ”Psyche”,yang dapat diartikansebagai
roh, jiwa atau daya hidup, dan “logis” yang dapat diartikan ilmu. Kedua secara terminologi
(istilah) maka psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang memperlajari atau menyelidiki
pernyataan pernyataan Gejala jiwa yang dijadikan obyek pembahasan dalam psikologi ada
empat macam yakni; gejala pengenalan (kognisi), gejala perasaan (emosi), gejala kehenak
(konasi), dan gejala campuran (kombinasi). Pendidikan yang berasal dari kata didik dalam
bahasa Indonesia juga hasil dari transeletasi peng-Indonesia-an dari bahasa Yunani yaitu
“Peadagogie”. Etimologi kata Peadagogie adalah “ pais ” yang artinya “Anak”, dan “again”
yang terjemahannya adalah “bimbing”. Jadi terjemahan bebas kata peadagogie berarti
“bimbingan yang diberikan kepada anak”. Menurut termonologi yag lebih luas maka
pendidikan adalah usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang lain agar
menjadi dewasa atau mencapai tujuan hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti
mental.
Penelusuran makna dua kata psikologi dan pendidikan di atas dapat dijadikan dasar
untuk melihat lebih jauh pengertian dan definisi psikologi pendidikan. Dengan maksud untuk
memahami lebih luas psikologi dan pendidikan dari sudut masing masing, berikut beberapa
definisi Psikologi Pendidikan yang pernah dikemukakan para ahli.
Menurut Crow & Crow ; Educational psychology deseribesa and explains the learning
experiencess of an individual from birth though old age. Its subject matter is concerned with
the conditions that efect learning. Crow &Crow menegaskan bahwa Psikologi merupakan
suatu ilmu yang menerangkan masalah belajar pada seorang anak sejak lahir sampai usia
lanjut, termasuk didalamnya kondisi yang mempengaruhi belajar. Kemudian Barlow
memberikan batasan Psikologi Pendidikan sebagai berikut: ..... a body of knowladge
grounded in psychological research which provides a repertioire of resoucers to aid you in
functioning more effectively in teaching learning process. Makna dari kutipan tersebut adalah
bahwa Psikologi Pendidikan sebagai sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologi dengan
rangkaian sumber sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas tugas sebagai guru
dalam proses belajar mengajar secara efektif. Bagian berikut ini Witherington menegaskan
pengertian Psikologi Pendidikan sebagai berikut: A Systematic study of the process and
factor involvidin the education of human being called educational psychology.Terjemahan
Indonesianya adalah bahwa Psikologi Pendidikan merupakan studi sistematis tentang proses
proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan manusia. Psikologi pendidikan lebih
merupakan ilmu yang dapat diterakan dalam kehidupan sehari hari khususnya tentang
bagaimana masyarakat kita mengelola belajar. Hubungan guru dengan murid dan lain
sebagainya.
Beberapa definisi di atas penulis anggap dapat mewakili banyak definisi yang
dikemukakan para ahli. Untuk itu sedikitnya ada tiga hal penting yang harus dijelaskan dari
pengertian Psikologi Pendidikan yakni:
1. Psikologi Pendidikan adalah pengetahuan kependidikan yang didasarkan atas hasil hasil
temuan riset psikologi.
2. Hasil hasil riset psikologi tersebut kemudian dirumuskan sehingga menjadi konsep konsep,
teori teori, dan metode serta strategi yang utuh.
3. Konsep, teori, metode dan strategi tersebut kemudian disiste-matisasikan hingga menjadi
“repertoire of resources”, yakni rangkaian sumber yang berisi pendekatan yang dapat dipilih
dan digunakan untuk praktik praktik kependidikan khususnya dalam hal belajar mengajar.
Dari rumus berbagai pendapat di atas, Psikologi Pendidikan jelas hadir dari pengembangan
riset psikologi pada umumnya untuk kepentingan pendidikan. Dengan dasar ini dapat
ditegaskan definisi dan pengertian Psikologi Pendidikan yakni; suatu cabang ilmu jiwa yang
membahas tingkah laku anak pada proses pendidikan.

B. Psikologi Pendidikan sebagai Disiplin Ilmu


Kerangka kerja ilmu sebagai sebuah pengetahuan ilmiah didasarkan pada tiga syarat utama
yakni; obyek, metode dan sistematika. Kualifikasi dari tiga syarat inilah yang menjadi satu
disiplin ilmu diterima dijajaran ilmu-ilmu lainnya sebagai sebuah disiplin yang berdiri sendiri
atau tidak. Psikologi Pendidikan yang membidangi kajian praktis tentang kependidikan
memiliki kapling yang sepesifik yakni sebagai berikut:
1. Obyek
Setiap ilmu pengetahuan ditentukan oleh obyeknya. Ada
dua macam obyek ilmu pengetahuan, yaitu obyek materia dan obyek forma. Obyek materia
ialah seluruh lapangan atau bahan yang diajadikan obyek penyelidikan suatu ilmu, sedangkan
obyek forma ialah obyek materia yang disoroti oleh suatu ilmu sehingga membedakan ilmu
satu dengan ilmu lainnya, jika berobyek materia sama. Dalam Psikologi Pendidikan
pembagian obyek pembahasan ini sebagai berikut:

a. Obyek materia
Obyek materia Psikologi Pendidikan adalah penghayatan dan tingkah laku manusia.
b. Obyek forma
Obyek forma dari Psikologi Pendidikan ini adalah aspek study tentang human behavior dan
human relanship dalam bidang atau dari sudut tinjauan kependidikan. Kongkritnya adalah
proses membimbing, mengajar dan melatih anak dalam dunia pendidikan.
2. Metode
Metode yang digunakan dalam Psikologi Pendidikan tidak jauh berbeda dengan psikologi
lainnya, hanya lebih diarahkan pada upaya peningkatan kemampuan guru dalam proses
pendidikan dan pengajaran. Pada dasarnya metode itu meliputi usaha mengumpulkan data,
pengolahannya dan penyimpulannya. Beberapa metode yang lazim digunakan dalam
psikologi pendidikan adalah sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Adalah metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku
peserta didik dalam situasi yang wajar, dilaksanakan dengan berencana, kontiniu dan
sistematik serta diikuti dengan upaya mencatat atau merekam secara lengkap.
b. Metode Eksperimen dan Tes
Metode esperimen adalah dengan sengaja menciptakan situasi buatan dalam pendidik dan
dalam situasi itu ditempatkan subyek penelitian tertentu. Sementara itu metode dilakukan
dengan memberikan tugas yang harus dilakukan oleh subyek, baik tugas tertulis maupun
tugas lisan.
c. Metode Kuestioner dan Interview
Metode ini disebut juga angket dimana berupa daftar yang memuat sejumlah pertanyaan yang
disampaikan kepada subyek untuk dikerjakan (dijawab) kemudian hasil jawabannya dianalisa
dan disimpulkan.
d. Metode Studi Kasus
Metode ini adalah satu hal, kejadian atau peristiwa yang dialami oleh seorang peserta didik
sebahai klien yang baik pendidikan merupakan problem awal sampai
akhir memerlukan tatanan yang rapi dan ilmiah, sistematika inilah yang disebut metode studi
kasus.
e. Metode Sosiometri
Metode ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana tingkat intensitas hubungan sosial
seorang anak. Dengan metode ini akan dapat diketahui pakah seorang peserta didik memiliki
rasa sosial atau justru terisolasi dari teman temannya.
f. Metode Statistik
Metode ini lebih diarahkan untuk menganalisa dan menarik kesimpulan dari metode metode
sebelumnya. Analisa statistik sebagai satu rangkaian proses kegiatan ilmiah mempunyai
kedudukan penting dalam pembahasan Psikologi Pendidikan.Sementara itu metode lain
adalah seperti pendapat pada tokoh-tokoh psikologi. Beberapa metode yang dapat digunakan
dalam penelitian di bidang psikologi diantaranya:
a. Metode eksperimental
Metode ini dapat dipakai di luar maupun di dalam laboratorium. Dalam metode eksperimen
dimungkinkan menyelidiki perbedaan pengaruh berbagai aspek dengan mengujicobakannya
terhadap berbagai kelompok individu.
b. Metode pengamatan/ observasi
Tahap awal suatu ilmi memerlukan penyelidikan untuk mengenal hubungannnya yang
kemudian akan menjadi objek studi yang lebih tepat. Menurut A.Thontowi metode observasi
adalah suatu metode yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap
tingkah laku individu dalam situasi yang wajar, dilaksanakan dengan berencana, kontiniu dan
sistematis serta diikuti dengan pencatatan atau merekam secara lengkap.
c. Metode survey
Beberapa masalah yang sulit dipelajari dengan cara pengamatan
langsung dapat juga dipelajari melalui pemberian
kuesioner/ wawancara. Menurut A.Thontowi metode ini disebut juga dengan angket, dimana
berupa daftar yang memuat sejumlah pertanyaan yang disampaikan kepada individu untuk
dikerjakan (dijawab) kemudian hasil jawabannya di analisa dan disimpulkan.
d. Metode tes
Tes digunakan untuk mengukur segala jenis kemampuan, minat, sikap dan hasil kerja.
Analisis terhadap hasil tes kemudian menghubungkan keanekaragaman skor tes dengan
keanekaragaman yag terdapat di antara manusia. Penyusunan tes dan pemakaiannya bukan
hal yang sederhana, karena diperlukan berbagai langkah dalam menyiapkan butir-butir soal,
pembuatan skala, dan menentukan normanya.
e. Riwayat kasus
Penelaahan riwayat hidup secara ilmiah yang dikenal dengan riwayat kasus, yang merupakan
sumber data yang penting bagi para ahli psikologi dalam mempelajari setiap individu.
Sebagian besar riwayat kasus dipersiapkan dengan cara merekonstruksikan riwayat hidup
seseorang yang didasarkan pada kejadian dan catatan yang teringat. Rekonstruksi itu perlu
dilakukan karena sering kali riwayat hidup seseorang diabaikan sampai orang tersebut terlibat
dalam kesulitan, pengetahuan masa lalu individu itu penting untuk memahami perilaku yang
muncul pada masa kini. Dalam psikologi pendidikan sendiri, metode tersebut diatas juga
lazim digunakan. Hanya saja disesuaikan dengan kasus/masalah yang sedang dihadapi dalam
bidang pendidikan itu sendiri.
KEDUDUKAN DAN HUBUNGAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DENGAN ILMU
LAIN
Dalam struktur filsafat ilmu pengetahuan suatu obyek dapat didekati dari berbagai
sudut pandang sesuai dengan sasaran dan tekanan pembahasan yang akan dilakukan. Diantara
bidang ilmiah dari ilmu pengetahuan adalah filsafat fisika, filsafat astronomi,. Filsafat biologi
dan filsafat ilmu ilmu sosial.Prinsip di atas menggambarkan bahwa dalam satu disiplin ilmu
selalu terlahir adanya percabangan dari induk ilmu yang ada sebelumnya. Untuk mengetahui
kedudukan dan hubungan satu disiplin ilmu seperti Psikologi Pendidikan, maka ada dua
pendekatan yakni; pendekatan deduktif dan pendekatan induktif. Pendekatan deduktif disini
maksudnya melihat satu proses keilmuan dari induk (akar) sampai kepada lahirnya Psikologi
Pendidikan. Pendekatan induktif maksudnya melihat bidang kajian praktis yang nyata kaitan
antara Psikologi Pendidikan dengan ilmu lainnya.
1. Pendekatan Deduktif
Sistem pencabangan pengetahuan pertama sekali diawali dari induk pengetahuan filsafat yang
terdiri atas tiga bidang kajian utama yakni; filsafat alam (geosentris), filsafat manusia
(antroposentris) dan filsafat Tuhan (theosentris). Semakin praktisnya kajian filsafat tersebut
maka lahirlah disiplin keilmuan yakni geosentris menjadi geologi, antroposentris menjadi
antropologi dan theosentris menjadi teologi. Dalam perkembangan selanjutnya menurut
Christian Wolff percabangan filsafat tersebut mengarah pada; filsafat ketuhanan, filsafat
kejiwaan dan filsafat kealaman.Sementara itu di Indonesia sendiri pengelompokan ilmu
pengetahuan dari yang diformalkan lewat fakultas fakultas di perguruan tinggi adalah dengan
empat bidang kajian yakni:
a. Ilmu agama/kerohanian
b. Ilmu Kebudayaan
c. Ilmu Sosial
d. Ilmu Eksakta dan teknik (M.D.Ghony:tt,28)
Dalam pembagian yang lebih awalnya adalah dari sistem pengetahuan yang utuh diklasifikasi
menjadi empat yakni; filsafat agama dan seni. Kemudian ilmu dibagi menjadi ilmu alam,
ilmu ketuhanan dan ilmu kemanusiaan. Dari ilmu kemanusiaan inilah terlahir apa yang
disebut dengan ilmu pendidikan, ilmu jiwa dan ilmu ilmu sosial lainnya. Rangkaian tersebut
tentu juga masih ditemukan pembahasan yang tumpang tindih antara satu dengan lainnya.
Bila disistematisir lagi maka tuntutan sejak pengetahuan – ilmu – ilmu kemanusiaan – ilmu
pendidikan dan ilmu jiwa khusus akhirnya terdapatlah ilmu jiwa pendidikan (Psikologi
Pendidikan). Jadi jelasnya Psikologi Pendidikan adalah berinduk kepada psikologi secara
umum yang digunakan/difungsikan untuk kepentingan dunia pendidikan.
2. Pendekatan Induktif
Pendekatan yang lebih mengarah kepada fungsi praktis sekaligus menjabarkan bahwa
perbedaan antara ilmu ilmu yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan hanyalah
perbedaan pada tekanan. Adalah tidak mungkin untuk menarik garis yang tegas pembeda
antara antropologi, sosiologi, psikologi dan fisiologi dalam kaitan dengan Psikologi
Pendidikan. Dimana ketiganya mempunyai saling keterkaitan yang erat sekali.Empat disiplin
ilmu yang mempunyai hubungan fungsional dengan Psikologi Pendidikan tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Psikologi Pendidikan dengan Antropologi
Antropologi adalah ilmu tentang manusia dari seluk beluk kebudayaan, kepribadian, typikal
yang terdapat dalam individu dan kelompok masyrakat tertentu. Pembahasan ini jelas
memiliki kaitan erat untuk kepentingan Psikologi Pendidikan ingin menyikap tabir
kepribadian anak dalam hal; memahami, membina, mengembangkan, mengarahkan serta
mengelompokkan. Dengan dasar tersebut antropologi dan Psikologi Pendidikan memiliki
kaitan fungsional yang lebih praktis untuk menemukan gejala kejiwaan dari sudut latar
belakang dan kebudayaan.
b. Psikologi Pendidikan dengan Fisiologi
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi fungsi berbagai organ yang ada dalam tubuh
manusia dan berbagai sistem peredaran darah dan lain sebagainya. Sementara itu psikologi
juga akan membahas adanya satu interaksi antara aspek biologis dan psikologi sebagai satu
kesatuan gejala dalam dunia pendidikan.Dalam pendekatan fungsional, maka kedua disiplin
ilmu ini dapat lebih mengarah pada satu proses saling mengisi dan melengkapi untuk
pembahasan gejala pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental peserta didik
atau anak.
c. Psikologi Pendidikan dengan Didaksologi
Didaksologi adalah ilmu yang mempelajari proses interaksi pendidikan dan pengajaran, dari
upaya penciptaan suasana belajar, komunikasi dan interaksi antara pendidik dan peserta
didik, sampai evaluasi kependidikan. pendidikan yang perlu dipelajari oleh calon guru atau
oleh guru umumnya dalam rangka meningkatkan kemampuannyauntuk melaksanakan tugas
tugas kependidikan. Pada bidang Psikologi Pendidikan kepentingan dunia pendidikan baik
prinsip maupun teknis jelas tidak dapat dipungkiri, pembahasan didaksologi menjadi
lapangan utama dari Psikologi Pendidikan ini, baik dengan cara memadukan teori dan prinsip
maupun dengan melihat adanya sintesa dan analisa dari dua disiplin ilmu tersebut merupakan
proses utama dalam perkembangan Psikologi Pendidikan.
d. Psikologi Pendidikan dengan Pembelajaran
Bila didaksologi lebih bersifat makro dalam menelaah bidang bidang pendidikan, maka
pembelajaran lebih bersifat teknis dan operasional. Kemampuan guru untuk kegiatan
operasional ini adalah kemampuan dalam hal merancang, mengembangkan dan mengevaluasi
kegiatan pembelajaran. Seorang guru dalam merancang pembelajaran sangat membutuhkan
informasi dari siapa penerima pembelajaran khususnya kondisi psikologis mereka. Begitu
juga dalam mengembangkan strategi pembelajaran, apakah pembelajaran akan diberikan
kepada individu, pasangan atau kelompok semuanya memerlukan kajian psikologi
pendidikan. Dalam mengevaluasi hasil belajar seorang pendidik memerlukan analisis
perkembangan dan kemampuan dari sipebelajar, ini artinya psikologi pendidikan sangat
dibutuhkan oleh pendidik dalam menilai keberhasilan atau kegagalan dari proses
pembelajaran.
PSIKOLOGI PENDIDIKAN UNTUK STRATEGI PEMBELAJARAN
Pendidikan adalah sebuah proses yang dilakukan anak manusia untuk mempersiapkan
generasi muda. Sebagai sebuah proses maka pendidikan memerlukan media, ruang dan
penataan,begitu juga dengan generasi maka memerlukan pemahaman tentang manusia.
Bagaimana memahami kondisi manusia secara tepat dan benar, agar pelaksanaan pendidikan
dalam dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tujuan dan kehendaknya.
Berbagai penelitian banyak dilakukan terhadap proses belajar, tentunya hasil
penelitian tersebut menjadi dasar dasar bagaimana manusia memandang proses belajar. Pada
gilirannya lahirlah apa yang disebut dengan teori belajar. Fungsi dari teori teori tersebut tentu
memberi rambu rambu bagaimana kita harus memahami anak, memahami proses pendidikan,
memahami kegiatan belajar dan lain sebagainya. Menurut Patrick Suppes (1974) sedikitnya
ada empat fungsi teori belajar yani: (1) berguna sebagai kerangka untuk melakukan
penelitian, dan (2) memberikan suatu kerangka kerja bagi pengorganisasian butir-butir
informasi tertentu. Teori juga sering (3) menggungkapkan peristiwa-peristiwa yang
kelihatannya sederhana dan
(4) mengorganisasikan kembali pengalaman-pengalaman sebelumnya.Begitu juga dengan
fungsi teori pengajaran adalah; merupakan prinsip, teknik, cara dalam mendayagunakan
sumber sumber pengajaran (sofware dan hardware) untuk mencapai tujuan pengajaran.
Dengan perkataan lain bahwa teori pengajaran merupakan penerapan prinsip prinsip teori
belajar dalam mendayagunakan alat dan sumber yang haus dikembangkan untuk menunjang
perubahan tingkah laku yang diinginkan berdasrkan tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Seiring dengan hal tersebut, dewasa ini telah banyak penelitian tentang otak manusia yang
kemudian dijadikan dasar bagaimana seseorang harus belajar. Wawasan ilmiah semakin
mendalam tentang fungsi otak manusia menumbuhkan kegairahan besar di kalangan
pendidik; namun, proses menerapkan temuan bidang neurobiologsi dalam dunia pendidikan
sejauh ini masih belum konsisten. Nyatanya adalah peran psikologi pendidikan akan
memberikan teori teori bagaimana seorang perancang pembelajaran menata pembelajaran
dari cara membuat perencanaan pembelajaran, mengelola pembelelajaran, membuat
pembimbingan bagi peserta didik, sampai pada menetapkan proses keberhasilan.

PENGERTIAN DAN TUJUAN BELAJAR


Belajar adalah syarat mutlak untuk menjadi pandai dalam semua hal, baik dalam hal ilmu
pengetahuan maupun dalam hal bidang keterampilan atau kecakapan. Seorang bayi misalnya,
dia harus belajar berbagai kecakapan terutama sekali kecakapan motorik seperti; belajar
menelungkup, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan. Berikut beberapa definisi belajar
menurut para ahli: Belajar adalah satu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingahlaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pengertian belajar
menurut James Owhittaker sebagaimana dikutip Abu Ahmadi adalah:Learning is the process
by which behavior (in the broader sense originated of changer through pracice or training).
Artinya belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas ditimbulkan atau diubah
melalui praktek atau latihan. Ciri ciri kematangan belajar adalah:
a. Aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, baik aktual,
maupun potensial.
b. Perubahan itu pada dasarnya berupa didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam
waktu yang relatif lama.
c. Perubahan itu terjadi karena usaha.
Belajar dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja dengan guru atau tanpa guru, dengan
bantuan orang lain, atau tanpa dibantu dengan siapapun. Belajar juga diartikan sebagai usaha
untuk membentuk hubungan antara perangsang atau reaksi. Belajar dilakukan oleh setiap
orang, baik anak anak, remaja, orang dewasa maupun orang tua. Belajar berlangsung seumur
hidup, selagi hayat dikandung badan. Berbagai definisi (rumusan) tentang belajar telah
dikemukakan oleh para ahli, yang semuanya sepakat bahwa belajar itu bertujuan untuk
mengadakan perubahan. Jelasnya belajar dapat didefinisikan sebagai Suatu usaha atau
kegiatan yang bertujuan untuk mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup;
perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
Dari definisi tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Belajar adalah suatu usaha, yang berarti perbuatan yang dilakukan secara sungguh
sungguh, sistematis, dengan mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, baik fisik
maupun mental.
2. Belajar bertujuan untuk mengadakan perubahan di dalam diri antara lain perubahan
tingkah laku diharapkan kearah positif dan kedepan.
3. Belajar juga bertujuan untuk mengadakan perubahan sikap, dari sikap negatif menjadi
positif, dari sikap tidak hormat menjadi hormat, dan sebagainya.
4. Belajar juga bertujuan mengadakan perubahan kebiasaan dari kebiasaan buruk, menjadi
kebiasaan baik. Kebiasaan buruk yang harus dirubah tersebut untuk menjadi bekal hidup
seseorang agar ia dapat membedakan mana yang dianggap baik ditengah-tengah masyarakat
untuk dihindari dan mana pula yang harus dipelihara.
5. Belajar berutujuan mengadakan perubahan pengetahuan tentang berbagai bidang ilmu,
misalnya tidak tahu membaca menjadi tahu membaca, tidak dapat menulis jadi dapat menulis
, dari tidak tahu berhitung menjadi tahu berhitung, dari tidak tahu berbahasa Arab menjadi dai
berbahasa Arab.
6. Belajar dapat mengadakan perubahan dalam hal keterampilan,misalnya: keterampilan
bidang olah raga, bidang kesenian,bidang teknik dan sebagainya.Dari uaraian di atas, cukup
jelas bahwa belajar adalah salah satu kegiatan.usaha manusia yang sangat penting dan harus
dilakukan sepanjang hayat, karena melalui usaha belajarlah kita dapat mengadakan
perubahan (perbaikan) dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan diri kita. Dengan
kata lain, melalui usaha belajar kita akan dapat memperbaiki nasib melalui belajar kita akan
dapat sampai kepada cita cita yang senantiasa didambakan. Oleh sebab itu maka belajar
dalam hidup dan kehidupan mempunyai tempat yang sangat penting dan strategis untuk
mengarahkan meluruskan dan bahkan menentukan arah kehidupan seseorang.
B. Faktor Faktor yang mempengaruhi Belajar
Belajar adalah sebuah proses kegiatan atau aktivitas yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Keadaan-keadaan
yang mengiringi kegiatan tersebut jelas mempunyai andil bagi proses dan tujuan yang
dicapai, maka hal itu disebut dengan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Berhasil
tidaknya seorang dalam belajar bertanggung jawab pada banyak faktor, antara lain; kondisi
kesehatan, keadaan inteligensi dan bakat, keadaan, minat dan motivasi, cara belajar siswa,
keadaan keluarga dan sebagainya.Di bawah ini akan dikemukan secara ringkas faktor-faktor
yang turut menuntukan (mempengaruhi) belajar tersebut dapat dilihat dari dua faktor yakni:
1. Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi dapat digolongkan
menjadi dua golongan dengan catatan bahwa overleapping tetap ada yaitu:
a. Faktor-faktor non sosial, dan
b. Faktor-faktor sosial
2. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun dapat lagi digolongkan
menjadi dua golongan yaitu:
a. Faktor-faktor fisiologis,
b. Faktor-faktor psikologis,
Sementara itu pendekatan dari proses belajar sebagai sebuah sistem, dan dengan dasar
tersebut maka belajar dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni:
a. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor individual.
b. Faktor yang diluar individu yang kita sebut faktor sosial.
C. Tipe Tipe Belajar
Dalam pendidikan teori-teori tentang belajar dan pembelajaran merupakan satu rangkaian
yang sangat membantu seorang pendidik untuk melakukan kegiatan pembelajaran dan
pengembangan pembelajaran itu sendiri. Teori belajar secara ideal mencakup secara luas
mengenai kenapa perubahan perubahan belajar terjadi namun tidak lengkap dalam hal
implikasi praktisnya bagi pendidik.Dekan memperhatikan aktivitas yang berlangsung dalam
belajar serta tahapan tahapan perkembangan anak, Gagne mengelompokkan belajar atas 8
tipe yakni sebagai berikut:

1. Signal Learning (Belajar isyarat tanda)


Tipe belajar ini merupakan tahapan pertemuan adalah proses penguasaan pola pola tingkah
laku yang bersifat involuntery
(tidak disengaja dan tidak disadari).Misalnya anak menolak untuk dibawa ke dokter sebagai
reaksi atas pengalaman yang kurang menyenangkan. Kondisi yang diperlukan bagi
berlangsungnya tipe belajar ini adalah perangsang (stimulus) tertentu yang diberikan secara
berulang ulang (repetition).
2. Stimulus Response Learning
Tipe belajar ini termasuk classical condition atau belajar dengan trial and error. Kondisi
yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor reinpocerment.
3. Chaening (mempertautkan)
Tipe Chaening disebut juga belajar membentuk (chaeing Molore) rangkaian tingkah laku.
Proses belajar ini berlangsung dengan menghubungkan gerakan yang satu dengan gerakan
yang lain (masuk ke kelas, duduk, ambil buku dan seterusnya).
4. Verbal Associateori (Chaeing Verbal)
Tipe ini memberikan reaksi verbal pada stimulus yang datang (misalnya buku, bahasa yang
disenangi, blook, makan,catatan nomor telepon).
5. Discomination Learning (belajar membedakan)
Dalam tahapan ini siswa mengadakan diskriminasi (seleksi dan pemilihan) atas perangsang,
serta memilih respon yang sesuai/diantara alat tulis yangh ada dapat menyebabkan mana
prioritas pilihan dan mana pula yang tidak.
6. Concept Learning (belajar konsep)
Kemahiran mengadakan diskriminasi akan membantu siswa dalam menemukan persamaan
persamaan serta menemukan karakteristik dari stimulus yang ada. Selanjutnya berdasarkan
hal ini akan diperolehnya pengertian pengertian tertentu (konsep) misalnya pensil, buku, bul
point dll.
7. Rule Learning (belajar membuat generalisasi atau hukum dan disebut juga
menghubungkan bebebrapa konsep).
Pada tingkat ini siswa mengadakan kombinasi dari berbagai konsep dengan mengapreiasikan
logika (induktif, deduktif,analysis, sintesa komperasi, kausalitas), sehingga siswa dapat
menemukan kesimpulan tertentu berupa dalil, aturan,hukum, prinsip dan sebagainya.
8. Problem Solving (pemecahan masalah)
Dengan menggunakan hukum, dalil dan prinsip yang ada,sis merumuskan dan memecahkan
masalah masalah. Proses belajar problem solving berlangsung dalam beberapa tahapan yang
sistematis.
B. BUKU PEMBANDING

PENGANTAR PSIKOLOGI
1. Pengertian Psikologi
Menurut arti kata-katanya maka psikologi sering diterjemahkan menjadi ilmu jiwa. Yakni
dari kata psyche yang berarti jiwa, roh, dan logos yang berarti ilmu. Sebenarnya arti tersebut
kurang tepat karena bertitik tolak dari pandangan dualisme manusia yang menganggap bahwa
manusia itu terdiri dari dua bagian yaitu jasmani dan rohani.
Dengan singkat dapat kita katakan bahwa psikologi ialah ilmu yang mempelajari tingkah laku
manusia. Tingkah laku disini diartikan secara luas ialah segala kegiatan, tindakan perbuatan
manusia yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yang disadari maupun tidak
disadarinya. Termasuk di dalamnya: cara berbicara, berjalan, berpikir atau mengambil
keputusan, cara ia mengambil sesuatu, caranya beraksi terhadap segala sesuatu yang datang
dari luar dirinya maupun dari dalam dirinya.

2. Obyek Psikologi Dan Macam-Macamnya


a) Obyek Material
Yakni yang dipandang dengan keseluruhan. Adapun obyek material dari psikologi ialah
manusia. Di samping menjadi obyek psikologi, manusia juga menjadi bagian obyek bagi
ilmu-ilmu yang lain, seperti sosiologi, antropologi, sejarah, biologi, ilmu kedokteran, ilmu
hukum, ilmu mendidik. Semua obyeknya adalah manusia.
b) Obyak Formal
Jika dipandang menurut aspek mana yang dipentingkan dalam penyelidikan psikologi itu,
dalam hal ini maka obyek formal psikologi adalah berbeda-beda menurut perubahan zaman
dan pandangan masing-masing para ahli. Pada zaman Yunani sampai dengan abad
pertengahan yang menjadi obyek formalnya ialah hakekat jiwa. Kemudian pada masa
Descartes obyek psikologi itu ialah gejala-gejala kesadaran. Secara sistematis macam-macam
psikologi itu dapat kita susun sebagai berikut:
1) Psikologi matafisika, yang menyelidiki hakekat jiwa seperti yang dilakukan oleh Plato
dan Aristetoles.
2) Psikologi empiri, yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku manusia
dengan menggunakan pengamatan (observasi). Psikologi empiri dapat dibagi lagi menjadi
dua bagian antara lain:
• Psikologi umum, yang menyelidiki atau mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia pada
umumnya.
• Psikologi khusus, yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan manusia menurut aspek-aspek
tertentu sesuai dengan pandangan serta tujuannya.

3. Hubungan Psikologi Dengan Ilmu-Ilmu Lainnya


a) Psikologi dan Antropologi
Secara etimologis, antropologi berarti tentang manusia. Antropologi sebagai ilmu yang masih
muda yang mempunyai perhatian terhadap semua cabang pengetahuan yang berhubungan
dengan manusia.
b) Psikologi dan Sosiologi
Para ahli psikologi memusatkan perhatian terutama kepada tingkah laku kelompok. Ia
mempelajari pengaruh-pengaruh kelompok terhadap individu-individu yang termasuk
kedalam kelompok itu. Masalah-masalah yang diselidiki oleh sosiologi antara lain masalah-
masalah kejahatan, kenakalan anak-anak, perceraian, perkembangan atau perubahan sifat-
sifat keluarga dan sebagainya.
c) Psikologi dan Fisiologi
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi-fungsi berbagai organ yang ada dalam tubuh
manusia (seperti: fungsi perut dan hati, limpa dan empedu) dan berbagai sistem peredaran
(seperti: peredaran darah, makanan, pengeluaran sisa-sisa pembakaran dan sebagainya). Juga
mempelajari bagaimana organ-organ dan sistem-sistem peredaran itu bisa berinteraksi satu
sama lain.

4. Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan


Mengingat bahwa psikologi pendidikan merupakan ilmu yang memusatkan dirinya pada
penemuan, aplikasi prinsip-prinsip dan teknik-teknik psikologi kedalam pendidikan, maka
ruang lingkup psikologi pendidikan mencakup topik-topik psikologi yang erat hubungannya
dengan pendidikan.
Yang merupakan ruang lingkup psikologi pendidikan, antara lain:
1) Sampai sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan lingkungan yang berpengaruh
terhadap belajar.
2) Sifat-sifat dari proses belajar.
3) Hubungan tingkat kematangan dengan kesiapan belajar.
4) Signifikansi pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan
keterbatasan belajar.
5) Perubahan-perubahan jiwa yang terjadi selama dalam belajar.
6) Hubungan antara prosedur-prosedur dengan hasil belajar.
7) Teknik-teknik yang sangat efektif bagi penilaian kemajuan dalam belajar.
8) Pengaruh atau akibat relatif dari pendidikan formal dibandingkan dengan pengalaman
belajar yang insidental dan informal terhadap individu.
9) Nilai atau manfaat sikap ilmiah terhadap pendidikan bagi personal sekolah.
10) Akibat psikologis yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi sosiologis terhadap sikap para
sisiwa.
PEMBAWAAN, KETURUNAN DAN LINGKUNGAN
1. Soal Pembawaan Dan Lingkungan
Soal pembawaan ini adalah soal yang tidak mudah dan dengan demikian memerlukan
penjelasan dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli
biologi, ahli psikologi, dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban atas
pertanyaan perkembangan manusia itu tergantung pada pembawaan atau pada lingkungan.
Dalam usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu disini dikemukakan adanya
beberapa pendapat:
a) Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa segala perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-
faktor yang dibawa sejak lahir. Pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah
yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut nativisme, pendidikan tidak dapat
mengubah sifat-sifat pembawaannya.
b) Aliran Empirisme
Mereka berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama
sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya
sejak kecil. Pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme paedagogis.
c) Hukum Konvergensi
Hukum ini berasal dari ahli psikologi bangsa Jerman bernama William Strem. Ia berpendapat
bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia.
Dalam aliran yang menganut aliran konvergensi itu sendiri masih terdapat dua aliran, yaitu
aliran yang dalam hukum konvergensi ini lebih menekankan kepada pengaruh pembawaan
dari pada pengaruh lingkungan.
2. Pembawaan Dan Keturunan
a) Keturunan
Kita mengatakan bahwa sifat-sifat atau ciri-ciri pada seseorang anak adalah keturunan jika
sifat-sifat atau ciri-ciri tersebut diwariskan atau diturunkan melalui sel-sel kelamin dari
generasi yang lain. Banyak para ahli yang berusaha menyelidiki sifat-sifat kejiwaan manusia
yang berkenaan dengan keturunan, tetapi sampai sekarang penyelidikan itu masih belum
dapat dikatakan memuaskan hasilnya. Adapun beberapa faktor yang menyulitkan
pelaksanaan penyelidikan tersebut dengan baik, antara lain :
• Pada manusia tidak dapat dilakukan persilangan menurut rencana tertentu umpamanya
persilangan antara dua ras yang sangat berlainan asalnya seperti yang dapat dilakukan
terhadap binatang atau tumbuhan-tumbuhan.
• Masa perkembangan manusia yang sangat lama sehingga mengakibatkan sifat-sifat yang
ada yang terjadi karena keturunan dapat tersembunyi dengan lamanya, sebelum sifat-sifat itu
menampakkan diri pada suatu individu yang tertentu.
• Masa hidup suatu generasi juga demikian lama sehingga si penyelidik tidak akan mungkin
mengadakan pengamatan-pengamatan terhadap lebih dari satu kerturunan.
• Adanya jumlah anak manusia yang relatif (menurut perbandingan hanya sedikit sekali).
b) Pembawaan
Agar lebih jelas lagi pengartian kita tentang turunan dan bagaimana hubungannya atau
adakah perbedaan antara turunan dan pembawaan, marilah kita ikuti uraian yang berikut.
Sebelum kita utarakan lebih lanjut, dapatlah kiranya kita mengatakan: ”pembawaan ialah
seluruh kemungkinan atau kesanggupan (potensi) yang didapat suatu individu dan yang
selama masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan (direalisasikan)”.
Hanya dengan memperhatikan prestasi-prestasi (actual ability), bentuk wataknya dan tingkah
laku sesuatu individu sajalah kita dapat mengambil kesimpulan tentang sesuatu pembawaan
yang tentu ada pada individu itu.
c) Struktur Pembawaan
Sifat-sifat pembawaan atau kesanggupan-kesanggupan yang termasuk dalam struktur
pembawaan itu tidak semuanya dapat berkembang atau menunjukkan diri dalam
perwujudannya. Tersembunyi; jadi tetap tinggal sebagai kemungkinan saja, yang tidak
mewujudkan diri.
Adapun yang menyebabkan berkembangnya sifat-sifat pembawaan itu sehingga menjadi
wujud (actual ability) atau tetap tinggal terpendamnya suatu sifat pembawaan (potensial
ability) ialah faktor-faktor dari luar (umpamanya karena mendapat kesempatan atau latihan
atau pengajaran yang cukup) maupun faktor-faktor dari dalam (umpamanya konstitusi badan
yang demikian rupa sehingga tidak memungkinkan berkembangnya sifat-sifat pembawaannya
itu).
Dimuka telah dikatakan bahwa pembawaan ialah seluruh kemungkinan yang terkandung
dalam sel benih yang akan berkembang mencapai sebagai perwujudannya. Pembawaan (
yang dibawa si anak sejak lahirnya) adalah potensi-potensi yang aktif dan pasif yang akan
terus berkembang mencapai perwujudannya.
Jadi kesimpulannya ialah semua yang dibawa oleh si anak sejak lahir adalah diterima kerena
kelahirannya, jadi adalah memang pembawaan. Tetapi pembawaan itu tidaklah semuanya
diperoleh karena keturunan. Sebaliknya, semuanya yang diperoleh karena keturunan adalah
dapat dikatakan pembawaan, atau lebih tepat lagi pembawaan keturunan.

3. Pembawaan Dan Bakat


Sebenarnya kedua istilah pembawaan dan bakat adalah dua istilah yang sama maksudnya,
umumnya dalam buku-buku psikologi kita dapati kedua istilah itu sejajar, sama-sama dipakai
untuk satu pengertian yaitu pembawaan (aanleg). Untuk menggantikan kata aanleg kauda
istilah tersebut dapat digunakan sama-sama dengan maksud yang sama pula. Titik berat
perbedaannya terletak pada luas pengertiannya; yang satu mengandung pengertian yang lebih
luas dari pada yang lain.

4. Beberapa Macam Pembawaan Dan Pengaruh Keturunan


Perlu pula kiranya disini kita singgung sedikit beberapa macam pembawaan, antara lain:
• Pembawaan Jenis
• Pembawaan Ras
• Pembawaan Jenis Kelamin
• Pembawaan Perseorangan
Adapun yang termasuk pembawaan perseorangan yang dalam pertumbuhannya lebih
ditentukan oleh pembawaan keturunan antara lain ialah :
• Konstitusi tubuh
• Cara bekerja alat-alat indra
• Sifat-sifat ingat dan kesanggupan belajar
• Tipe-tipe perhatian
• Cara-cara berlangsungnya emosi-emosi yang khas
• Tempo dan ritme perkembangan

5. Lingkungan (Enveronment)
Macam-macam lingkungan
a) Lingkungan alam/luar (external or physical enveronment)
b) Lingkungan dalam (internal enveronment)
c) Lingkungan sosial atau masyarakat (social enveronment)
Bagaimana individu berhubungan dengan lingkungan?
Menutrut Woorworth, cara-cara individu berhubungan dengan lingkungan dapat
dibedakan menjadi 4 macam, diantaranya:
1) Individu bertentangan dengan lingkungannya
2) Individu menggunakan lingkungannya
3) Individu berpatisipasi dengan lingkungannya
4) Individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya
Sebernanya keempat macam cara hubungan individu dengan lingkungannya itu kita dapat
rangkum menjadi satu saja, yakni bahwa individu itu senantiasa berusaha untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam arti yang luas menyusuaikan diri itu berarti:
1) Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan (penyesuain autoplastis).
2) Mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri (menyesuaikan diri
alloplastis).

MENGAPA MANUSIA BERINTERAKSI DENGAN DUNIA LUAR


1. Tenaga-Tenaga Pendorong Pada Manusia
Daya-daya/tenaga yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar agar dapat
berlangsung dan mengembangkan hidupnya. Daya-daya yang mendorong manusia dari dalam
untuk melakukan perbuatan itu disebut dorongan nafsu. Yang dimaksud dengan dorongan
nafsu ialah kekuatan pendorong maju yang memaksa dan mengejar kepuasan dengan jalan
mencari, mencapai sesuatu yang berupa benda-benda ataupun nilai-nilai yang tertentu. Dalam
garis besarnya dorongan nafsu dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
a) Dorongan nafsu yang mempertahankan diri
Mencari makanan jika ia lapar, menghindarkan diri dari bahaya, menjaga diri agar tetap sehat
mencari perlindungan untuk hidup aman dan sebagainya.
b) Dorongan nafsu yang mempertahankan diri
Dorongan ingin tahu, melatih dan mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya. Pada
manusia, dorongan inilah yang menjadikan kebudayaan manusia semakin maju dan semakin
tinggi.
c) Dorongan nafsu mempertahankan diri
Manusia ataupun hewan secara sadar maupun tidak sadar selalu menjaga agar jenisnya atau
keturanannya tetap berkembang dan hidup. Ada pula yang membagi dorongan nafsu itu
menjadi empat macam ialah sebagai berikut:
a. Dorongan nafsu vital
Daya pendorong dalam diri manusia yang dilahirkan pada terciptanya nilai-nilai atau benda-
benda yang berfaedah bagi organisme.
b. Dorongan nafsu egois
Nafsu ini mendorong manusia kepada penghayatan akan kepercayaan kepada diri sendiri,
menghargai diri, kemerdekaan batin dan perasaan tanggung jawab. Hidup dorongan nafsu
egois ini berhasrat mempertinggi aku, artinya tertuju kepada perkembangan dan
kesempurnaan diri.
c. Dorongan nafsu sosial
Hidup dorongan nafsu sosial, mendorong manusia berkumpul dan mengadakan kontak
dengan manusia lain berupa persahabatan, perkawinan dan sebagainya yang memungkinkan
hidup masyarakat.
d. Dorongan Nafsu Super Sosial
Pada dasarnya manusia itu berbeda dengan makhluk yang lain. Dorongan nafsu diarahkan
kepada penghayatan atas perhubungan dengan yang Mahakuasa sebagai asal mula yang ada.

2. Daya-Daya/Alat-Alat Interaksi Manusia Dengan Dunia Luar


a. Pengamatan
Suatu daya jiwa untuk memasukkan kesan-kesan dari luar melalui/dengan menggunakan alat
indra. Seperti: melihat, mendengar, mencium, meraba sesuatu dan sebagainya. Pengamatan
merupakan dasar bagi setiap pengalaman dan pengetahuan seseorang.
b. Ingatan
Kesan-kesan yang tertinggal dari pengamatan di dalam diri manusia yang berupa tanggapan-
tanggapan maupun pengertian itu disimpan sewaktu-sewaktu dikeluarkan lagi. Daya untuk
menyimpan dan mengeluarkan kesan-kesan itu disebut daya ingatan.
c. Fantasi
Daya jiwa untuk menciptakan tanggapan-tanggapan atau kesan-kesan yang baru dengan
bantuan tanggapan-tanggapan yang sudah ada. Ada dua pendapat yang bertentangan terhadap
perkembangan dan gunanya Fantasi itu bagi mannusia. Montesori berpendapat bahwa fantasi
itu tidak baik dikembangkan pada diri anak-anak karena melatih fantasi pada anak-anak itu
berarti mengajar berdusta. Akan tetapi Frobel yang juga sebagai ahli didik (Jerman) yang
mendirikan Taman Kanak-Kanak (Kindergaten) berpendapat sebaliknya. Menurut Frobel
fantasi itu perlu dan penting sekali dikembangkan pada diri anak.
d. Perasaan
Perasaan adalah gema psikis yang biasanya selalu menyertai setiap pengalaman dan daya
psikis yang lain. Jenis-jenis perasaan antara lain:
• Perasan Intelek ialah perasasn yang kita hayati bila kita memperoleh pengetahuan tentang
sesuatu.
• Perasaan Estetis (keindahan) ialah perasaan yang kita hayati di waktu kita berpendapat
bahwa sesuatu itu bagus atau jelek, indah atau tidak.
• Perasaan Etis (kesusilaan) ialah perasaan yang kita hayati diwaktu menilai sesuatu itu baik
atau buruk dalam arti susila.
• Perasaan Sosial (kemasyarakatan) ialah perasaan yang menyertai pendapat seseorang
tentang orang lain dan pengalaman-pengalaman dengan orang lain.
• Perasaan Religius (keagamaan) ialah perasaan yang kita hayati di waktu kita merasa diri
bersatu dengan alam semesta sedang menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa seperti
pada waktu kita bersembahyang.
• Perasaan Harga Diri ialah perasaan yang kita hayati di waktu menilai tinggi rendahnya
diri kita terhadap orang lain di dalam pergaulan sehari-hari.

BAB III
PEMBAHASAN
A. PERBEDAAN

Pada buku ini terdapat perbedaan dengan buku lain yaitu buku ini mencakup
bebrapa materi yang di buku lain tidak dijelaskan misalnya seperti membahas tentang
kemampuan dan intelegensi sehingga pembaca mendapat tambahan wawasan dengan
membaca buku ini.

B. KEUNGGULAN

Pada buku ini menjelaskan beberapa materi yang tidak dijelaskan di beberapa
buku yaitu seperti kemampuan dan intelegensi sehingga itu membuat pembaca lebih
banyak mendapatkan wawasan dari buku ini.

C. KELEMAHAN

Pada buku ini kata-kata nya yang sulit dipahami sehingga kurang menarik
perhatian para pembaca untuk membaca nya dan juga cara penyajian nya kurang
menarik

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Istilah psychologi sendiri bersal dari kata kata Yunani ”Psyche”,yang dapat
diartikansebagai roh, jiwa atau daya hidup, dan “logis” yang dapat diartikan ilmu.
Kedua secara terminologi (istilah) maka psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang
memperlajari atau menyelidiki pernyataan pernyataan Gejala jiwa yang dijadikan
obyek pembahasan dalam psikologi ada empat macam yakni; gejala pengenalan
(kognisi), gejala perasaan (emosi), gejala kehenak (konasi), dan gejala campuran
(kombinasi). Pendidikan yang berasal dari kata didik dalam bahasa Indonesia juga
hasil dari transeletasi peng-Indonesia-an dari bahasa Yunani yaitu “Peadagogie”.
Etimologi kata Peadagogie adalah “ pais ” yang artinya “Anak”, dan “again” yang
terjemahannya adalah “bimbing”. Jadi terjemahan bebas kata peadagogie berarti
“bimbingan yang diberikan kepada anak”. Menurut termonologi yag lebih luas maka
pendidikan adalah usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang lain
agar menjadi dewasa atau mencapai tujuan hidup dan penghidupan yang lebih tinggi
dalam arti mental.

B. SARAN

Menurut saya,materi dari buku ini sudah jelas dan bagus tetapi alangkah baik
nya penyajian nya dibuat semenarik mungkin sehingga dapat menarik perhatian dari
pembaca dan juga sebaiknya buku ini menggunakan kata-kata yang mudah dipahami.
DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Ngalim. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Suryabata,Sumadi.2015.Psikologi Pendidikan.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada