Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

METODE DAN TEKNIK SAMPLING ANALISIS FISIKA, KIMIA DAN


BIOLOGI AIR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Analisis Kualitas
Lingkungan Yang Di Ampu Oleh :

La Ode Ahmad Saktiansyah, S.K.M., M.P.H

OLEH ;
KELOMPOK 1
KELAS K3
Inggrid Fadilla Nurman (J1A1 17 059)
Siti Azzahra (J1A1 17 132)
Tuti Mulyanti (J1A1 17 143)
Asyad Karyadi (J1A1 17 187)
Fera Rahayu Ningsi (J1A1 17 207)
Sri Ayu Mulyana (J1A1 17 272)
Winda Sari Ondjo (J1A1 17 285)
Emi Ayu Elsawati (J1A1 17 309)
Umul Hidayat (J1A1 17 340)

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Karena dengan
rahmat dan karunianya kami masih diberi kesempatan. Untuk menyelesaikan
tugas Analisis Kualitas Lingkungan. Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih
kepada dosen pembimbing Bapak La Ode Ahmad Saktiansyah, S.K.M., M.P.H,
yang telah membimbing kami agar dapat mengerti tentang bagaimana cara
menyusun tugas ini. Tugas ini disusun agar pembaca dapat memperluas
ilmuAnalisis Kualitas Lingkungan, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan
dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh kami dengan berbagai rintangan.
Baik itu yang datang dari diri kami maupun yang datang dari luar. Namun dengan
penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari tuhan akhirnya tugas ini dapat
terselesaikan.

Semoga tugas kami dapat bermanfaat bagi para mahasiswa umum


khususnya pada diri kami sendiri dan semua yang membaca tugas kami ini. Dan
mudah-mudahan juga dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun tugas ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami mohon
untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Kendari, 18 Maret 2019


DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air merupakanbahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia,


hewan dan tanaman yaitu sebagai media pengangkutan zat-zat makanan, juga
merupakan sumber energi serta berbagai keperluan lainnya (Arsyad, 1989).

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang


Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
menyebutkan bahwa kebutuhan air ratarata secara wajar adalah 60 l/orang/hari
untuk segala keperluannya. Kebutuhan akan air bersih dari tahun ke tahun
diperkirakan terus meningkat. Menurut Suripin (2002), pada tahun 2000 dengan
jumlah penduduk dunia sebesar 6,121 milyar diperlukan air bersih sebanyak 367
km per hari, maka pada tahun 2025 diperlukan air bersih sebanyak 492 km per
hari, dan pada tahun 2100 diperlukan air bersih sebanyak 611 km per hari.
Masalah utama yang dihadapi berkaitan dengan sumber daya air adalah kuantitas
air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan
kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin menurun dari tahun ke tahun.
Kegiatan industri, domestik, dan kegiatan lain berdampak negatif terhadap sumber
daya air, termasuk penurunan kualitas air. Kondisi ini dapat menimbulkan
gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi mahluk hidup yang bergantung pada
sumber daya air (Effendi, 2003). Penurunan kualitas air tidak hanya diakibatkan
oleh limbah industri, tetapi juga diakibatkan oleh limbah rumah tangga baik
limbah cair maupun limbah padat (Lallanilla, 2013).

Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Air


merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada
kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Namun demikian, air dapat menjadi
malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi yang benar, baik kualitas
maupun kuantitasnya. Air yang relatif bersih sangat didambakan oleh
manusia,baik untuk keperluan hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk
kebersihan sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya.
Air sebagai komponen lingkungan hidup akan mempengaruhi dan dipengaruhi
oleh komponen lainnya. Air yang kualitasnya buruk akan mengakibatkan
lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kesehatan dan
keselamatan manusia serta mahluk hidup lainnya. Penurunan kualitas air akan
menurunkan daya guna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung
dari sumberdaya air yang pada akhirnya akan menurunkan kekayaan sumberdaya
alam. Untuk mendapat air yang baik sesuai dengan standar tertentu, saat ini
menjadi barang yang mahal, karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-
macam limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia, sehingga secara kualitas,
sumberdaya air telah mengalami penurunan. Demikian pula secara kuantitas, yang
sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Pencemaran air
adalah peristiwa masuknya zat-zat atau komponen yang lainnya yang
menyebabkan kualitas air terganggu bahkan menurun.

Semakin meningkatnya aktivitas masyarakat,cenderung semakin


meningkat konsumsi kebutuhan yang di perlukan sehingga menyebabkan
bertambahnya buangan limbah khususnya limbah rumah tangga yang di hasilkan.
Pembuangan limbah rumah tangga yang sembarangan merupakan salah satu
penyebab turunnya kualitas air tanah.Sumber air secara luas telah di manfaatkan
untuk keperluan air rumah tangga, pertanian, industri, perikanan, pembangkit
tenaga listrik dan lain-lain.Pemanfaatan sumber air selain harus memenuhi
kuantitas dan kualitasnya juga harus memenuhi kriteria kualitas air sesuai
pemanfaatannya (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2002).

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diangkat ialah:
a) Jelaskan Pengertian Air?
b) Jelaskan Karakteristik Air?
c) Jelaskan Parameter Kualitas Air?
d) Bagaimana Pencemaran Air Tanah?
e) Bagaimana Hubungan Kualitas Fisik Air Dengan Kesehatan?
f) Bagaimana Teknik Pengambilan Sampel?
g) Jelaskan Alat Dan Bahan Serta Prosedur Kerja Dalam Pengambilan Sampel?
h) Jelaskan Teknik Analisis Air Dan Analisis Univariat?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum

Tujuan umum penulisan makalh ini adalah untuk mengetahui Pengertian


Air, Karakteristik Air, Parameter Kualitas Air, Pencemaran Air Tanah, Hubungan
Kualitas Fisik Air Dengan Kesehatan, Teknik Pengambilan Sampel, Alat Dan
Bahan Serta Prosedur Kerja, Teknik Analisis Air Dan Analisis Univariat

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan makalah ini antara lain:
a) Untuk mengetahui Pengertian Air.
b) Untuk mengetahui Karakteristik Air.
c) Untuk mengetahui Parameter Kualitas Air.
d) Untuk mengetahui Pencemaran Air Tanah.
e) Untuk mengetahui Hubungan Kualitas Fisik Air Dengan Kesehatan.
f) Untuk mengetahui Teknik Pengambilan Sampel.
g) Untuk mengetahui Alat Dan Bahan Serta Prosedur Kerja.
h) Untuk mengetahui Teknik Analisis Air Dan Analisis Univariat.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Air

Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang


pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bahwa yang di maksud
dengan air adalah semua air yang terdapat pada, di atas ataupun di bawah
permukaan tanah termaksud dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air
hujan, air laut yang berada di daratan. Air adalah salah satu di antara pembawa
penyakit yang berasal dari tinja untuk sampai kemanusi. Supaya air yang masuk
ketubuh manusia baik berupa makanan dan minuman tidak menyebabkan penyaki,
maka pengolahan air baik berasal dari sumur, jaringan transmisi atau distribusi
adalah mutlak di perlakukan untuk mencegah terjadinya kontak antara kotoran
sebagai sumber penyakit dengan air yang di perlukan (Sutrisno, 2004 : 1).
Sedangkan Menurut Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang
Syarat¬Syarat dan Pengawasan Kualitas Air bersih, Air minum adalah air yang
kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan dan langsung dapat diminum.

Selain itu Berdasarkan Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990


tentang syarat-syarat pengawasan kualitas air, air minum adalah air yang
kualitasnya memenuhi syarat dan dapat diminum langsung. Air bersih adalah air
yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitsanya memenuhi syarat
kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.

Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting bagi
kehidupan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun
untuk kepentingan lainnya seperti, pertanian dan industri. Air bersifat tidak
berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar (Allafa dalam Rini
2014 : 11).

Bagi manusia kebutuhan akan air sangat mutlak karena sebenarnya zat
pembentuk tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air, yang jumlahnya
mencapai 70% dari bagian tubuh. Air di dalam tubuh manusia berfungsi sebagai
pengangkut dan pelarut bahan-bahan makanan yang penting bagi tubuh, sehingga
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya manusia berupaya mendapatkan
air yang cukup bagi dirinya (Suharyono, 1996 : 1). Air dimanfaatkan manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk mencuci, membersihkan peralatan,
mandi, dan lain sebagainya. Manfaat lain dari air dapat dipakai sebagai
pembangkit tenaga, irigasi, alat transportasi, dan manfaat lainnya.

Berdasarkan pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa air merupakan


komponen yang sangat penting bagi kehidupan di dunia yang tidak dapat di
pisahkan, baik manusia maupun mahluk hidup yang lain, dalam airti lain bila
tidak ada air maka kehidupan di bumi akan punah.

B. Karakteristik Air

Menurut Effendi (2003 : 1), air memiliki karakteristik yang tidak dimiliki
oleh senyawa kimia lain, karakter tersebut antara lain :

1. Pada kisaran suhu yang sesuai bagi kehidupan, yakni 0 0C (32 0F) – 1000C, air
berwujud cair.
2. Perubahan suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat sebagai
penyimpan panas yang sangat baik.
3. Air memerlukan panas yang tinggi pada proses penguapan. Penguapan adalah
proses perubahan air menjadi uap air.
4. Air merupakan pelarut yang baik.
5. Air memiliki tegangan permukaan yang tinggi.
6. Air merupakan satu-satunya senyawa yang merenggang ketika membeku.

Bagi kehidupan makhluk, air bukanlah merupakan hal yang baru, karena
tidak satupun kehidupan di bumi ini dapat berlangsung tanpa air. Oleh sebab itu
air dikatakan sebagai benda mutlak yang harus ada dalam kehidupan manusia.
Tubuh manusia mengandung 60%-70% air dari seluruh berat badan, air didaerah
jaringan lemak terdapat kira-kira 90% (Soemirat, 2001 : 2).
Masyarakat selalu mempergunakan air untuk keperluan dalam kehidupan
sehari-hari, air juga digunakan untuk produksi pangan yang meliputi perairan
irigasi, pertanian, mengairi tanaman, kolam ikan dan untuk minum ternak.
Banyaknya pemakaian air tergantung kepada kegiatan yang dilakukan sehari-hari,
rata-rata pemakaian air di Indonesia 100 liter / orang / hari dengan perincian 5
liter untuk air minum, 5 liter untuk air masak, 15 liter untuk mencuci, 30 liter
untuk mandi dan 45 liter digunakan untuk jamban (Wardhana, 2001 : 2)

C. Parameter Kualitas Air

Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap


air tersebit. Pengujian yang biasa di lakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau
kenampakan (bau dan warna).

1. Kualitas Fisik.
Menurut Amin (2014 : 4) parameter fisik, yaitu parameter yang dapat di
identifikasi dari kondisi fisik air.Contohnya, warna, bau, kekeruhan, temperatur,
TDS (Total Dissolued Solids), dan TSS (Total Suspended Solid).

a) Tidak berwarna
Air untuk keperluan rumah tangga harus jernih. Air yang berwarna berarti
mengandung bahan-bahan lain yang berbahaya bagi kesehatan, artinya sebaiknya
air minum tidak berwarna untuk alasan estetis dan untuk mencegah keracunan
dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna. Warna dapat
disebabkan tanin dan asam humat atau zat organik, sehingga bila terbentuk
bersama klor dapat membentuk senyawa kloroform yang beracun, sehingga
berdampak terhadap kesehatan pengguna air (Slamet dalam Rini, 2014 : 14).

b) Tidak berbau
Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari
dekat. Air yang berbau busuk mengandung bahan organik yang sedang
mengalami penguraian oleh mikroorganisme air.

c) Rasanya tawar
Secara fisika, air bisa dirasakan oleh lidah. Air yang terasa asam, manis,
pahit, atau asin menunjukkan bahwa kualitas air tersebut tidak baik. Rasa asin
disebabkan adanya garam-garam tertentu yang larut dalam air, sedangkan rasa
asam diakibatkan adanya asam organi maupun asam anorganik. Air dengan rasa
yang tidak tawar dapat menunjukkan kehadiran berbagai zat yang membahayakan
kesehatan, seperti rasa logam (Slamet dalam sarman, 2015 : 13).

d) Kekeruhan
Air yang berkualitas harus memenuhi persyaratan fisik seperti berikut
jernih atau tidak keruh. Air yang keruh disebabkan mengandung partikel bahan
yang tersuspensi sehingga memberikan warna/rupa yang berlumpur dan kotor.
Untuk standar air bersih ditetapkan oleh Permenkes RI No. 492 / Menkes / Per /
IV / 2010, yaitu kekeruhan yang dianjurkan maksimum 5 NTU.Kekeruhan air
disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik yang bersifat organik, maupun
anorganik. Zat anorganik biasanya berasal dari lapukan tanaman atau hewan, dan
buangan industri juga berdampak terhadap kekeruhan air, sedangkan zat organik
dapat menjadi makanan bakteri, sehingga mendukung pembiakkannya dan dapat
tersuspensi dan menambah kekeruhan air. Air yang keruh sulit didisinfeksi karena
mikroba terlindung oleh zat tersuspensi tersebut, sehingga berdampak terhadap
kesehatan, bila mikroba terlindung menjadi patogen (Soemirat, 2009).

Kekeruhan di dalam air di sebabkan oleh materi yang tersustensi atau


tidak larut jenis-jenis partikel yang tersustensi di dalam air yang umumnya di
temukan di perairan terdiri dari materi organik, materi anorganik , dan organisme
hidup ataupun mati. Materi organik sebagian besar merupakan hasil dari
degradasi secara biologis sisa-sisa tumbuhan maupun hewan, contohnya adalah
humas. Materi inorganok sebagian besar di hasilkan oleh proses cuaca/ alam,
contohnya adalah lempung (clays),maupun oksida seperti oksida besi, kalsit,
maupun mineral lainnya. Organisme bersel satu (mikroorganisme) di dalam air
dapat di anggap sebagai partikel, contohnya adalah virus, bakteri, alga (termaksud
di atom) dan protozoa. Materi yang cenderung sulit untuk larut dapat terdiri dari
partikel-partikel kecil yang bersuspensi di dalam air dalam waktu yang cukup
lama yaitu berhari-hari atau berminggu-minggu (Gregory dalam Trisnobudi
dkk,2009 : 2).

e) Temperaturnya normal
Air yang baik harus memiliki temperatur sama dengan temperatur udara (±
30C). Air yang secara mencolok mempunyai temperatur di atas atau di bawah
temperatur udara berarti mengandung zat-zat tertentu yang mengeluarkan atau
menyerap energi dalam air. Berdasarkan aspek suhu air, diketahui bahwa suhu air
yang tidak sejuk atau berlebihan dari suhu air yang normal akan mempermudah
reaksi zat kimia, sehingga secara tidak langsung berimplikasi terhadap keadaan
kesehatan pengguna air (Slamet dalam Rini 2014 : 16).

f) Tidak mengandung zat padatan

Bahan padat adalah bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan
dan pengeringan pada suhu 103-1050C. Sedangkan berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Nomor 492 / Menkes / Per / IV /
2010 , persyaratan fisika air bersih adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Daftar Persyaratan Kualitas Air Bersih secara Fisik

No Parameter Satuan Kadar Maksimum

1 Suhu 0C Suhu udara

2 Warna TCU 15

3 Bau Tdk berbau

4 Rasa tidak berasa

5 Kekerihan NTU 5

6 Jumlah zat padat mg/lt 500

terlarut (TDS)
Keterangan :

Mutu air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia,


No 492/Menkes/Per/IV/2010

2. Kualitas Kimia
Kualitas air tergolong bak bila memenuhi persyaratan kimia sebagai
berikut:

a) pH netral
pH merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas
keadaan asam atau basa sesuatu larutan (Sutrisno, 2004). pH air biasanya
dimanfaatkan untuk menentukan indeks pencemaran dengan melihat tingkat
keasaman atau kebasaan air yang dikaji, terutama oksidasi sulfur dan nitrogen
pada proses pengasaman dan ksidasi kalsium pada proses pembasaan. Angka
indeks yang umum digunakan mempunyai kisaran antara 0 hingga 14 dan
merupakan angka logaritmik negatif dari konsetrasi ion hydrogen di dalam air.
Angka pH 7 adalah netral, sedangkan angka pH lebih besar dari 7 mnunjukkan
bahwa air bersifat basa dan terjadi ketika ion-ion karbon dominan. Sedangkan pH
lebih kecil dari 7 menunjukkan bahwa air bersifat asam(Asdak dalam Sarman,
2015 : 17).

b) Tidak mengandung bahan kimia beracun

Air yang berkualitas baik tidak mengandung bahan kimia beracun seperti
sianida sulfida, fenolik (Asdak dalam Sarman, 2015 : 17).

c) Tidak mengandung garam-garam atau ion-ion logam

Air yang berkualitas baik tidak mengandung garam atau ion-ion logam
(Asdak dalam Sarman,2015 : 17) :

a. Besi (Fe)
Besi atau Ferrum (Fe) adalah metal berwarna abu-abu, liat, dan dapat di
bentuk. Besi merupakan elemen kimiawi yang dapat ditemukan hampir di setiap
tempat di bumi pada semua lapisan-lapisan geologis, namun besi juga merupakan
salah satu logam berat yang berbahaya apabila kadarnya melebihi ambang batas
(Soemirat, 2009). Besi dapat larut pada pH rendah. Kadar besi dalam air tidak
boleh melebihi 1,0 mg/L, karena dapat menimbulkan rasa, bau dan dapat
menyebabkan air yang berwarna kekuningan, menimbulkan noda pakaian dan
tempat biaknya bakteri Creonothrinx yaitu bakteri besi (Soemirat dalam Rini
2014 : 18). Besi dibutuhkan tubuh dalam pembentukan Hemoglobin. Banyaknya
Fe didalam tubuh dikendalikan pada fase absorbsi. Tubuh manusia tidak dapat
mengekresikan Fe. Karenanya mereka yang sering mendapat tranfusi darah,
warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Sekalipun Fe itu diperlukan
tubuh, tetapi dalam dosis besar dapat merusak dinding usus. Kematian seringkali
disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini (Soemirat, dalam Sarman, 2015 : 19).
Kelebihan logam besi dalam tubuh dapat menimbulkan efek-efek kesehatan
seperti serangan jantung, gangguan pembuluh darah bahkan kanker hati. Logam
ini bersifat akumulatif terutama di organ penyaringan sehingga dapat
mengganggu fungsi fisiologis tanah. Nilai estetika juga dapat dirusak oleh
keberadaan logam-logam ini karena dapat menimbulkan bercak-bercak hitam
pada pakaian. Air yang tercemar oleh logam ini biasanya Nampak pada intensitas
warna yang tinggi pada air, berwarna kuning bahkan berwarna merah kecoklatan,
dan terasa pahit atau masam (Wardhana dalam Sarman,2015 : 20).

b. Nitrat (NO3)
Nitrat dan nitrit dalam jumlah besar dapat menyebabkan gangguan GI
(Gastro Intestinal), diare campur darah, disusul oleh konvulsi, koma, dan bila
tidak tertolong akan meningggal. Keracunan kronis menyebabkan depresi umum,
sakit kepala, dan gangguan mental. Nitrit terutama bereaksi dengan haemoglobin
dan membentuk Methemoglobin (metHb). Dalam jumlah melebihi normal
Methemoglobin akan menimbulkan Methemoglobinemia. Pada bayi
Methemoglobinemia sering dijumpai karena pembentukan enzim untuk mengurai
Methemoglobinemia menjadi Haemoglobin masih belum sempurna. Sebagai
akibat Methemoglobinemia, bayi akan kekurangan oksigen, maka mukanya akan
tampak biru, karenanya penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit ‘blue babies
(Wardhana, 2004). Salah satu contoh sumber pencemaran nitrat terhadap air
minum yakni akibat kegiatan pertanian. Meskipun pencemaran nitrat juga dapat
terjadi secara alami, tetapi yang paling sering yakni akibat pencemaran yang
berasal dari air limbah pertanian yang banyak mengandung senyawa nitrat akibat
pemakaian pupuk nitrogen (urea) (Wardhana, 2004). Senyawa nitrat dalam air
minum dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan methaemoglobinemia, yakni
kondisi dimana hemoglobin di dalam darah berubah menjadi methaemoglobin
sehingga darah menjadi kekurangan oksigen. Hal ini dapat mengakibatkan
pengaruh yang fatal, serta dapat mengakibatkan kematian khususnya pada bayi
(Wardhana dalam Sarman, 2015 : 24).

c. Klorida
Klorida adalah senyawa hologen Klor (Cl). Toksisitasnya tergantung pada
gugus senyawanya. Misalnya NaCL sangat tidak beracun, tetapi karboksil klorida
sangat beracun. Di Indonesia, Klor digunakan sebagai desinfektan dalam
penyediaan air minum. Dalam jumlah banyak, klorida akan menimbulkan rasa
asin, korosif pada pipa sistem penyediaan air panas. Sebagai desinfektan, sisa klor
didalam penyediaan air sengaja dipertahankan dengan konsentrasi sekitar 0,1 mg/l
untuk mencegah terjadinya rekontaminasi oleh mikroorganisme pathogen, tetapi
klor ini dapat terikat senyawa organik berbentuk hologenhidrokarbon (Cl-HC)
banyak diantaranya dikenal sebagai senyawa karsinogenik. Oleh karena itu, di
berbagai negara maju sekarang ini, klorinisasi sebagai proses desinfektan tidak
lagi digunakan (Soemirat dalam Sarman, 2015 : 30)

d. Sianida
Keberadaan sianida merupakan sifat khas penting yang yang membedakan
sampah industri dari limbah domestik normal. Industri tapioka berpotensi besar
dalam menghasilkan limbah dengan kandungan sianida sangat tinggi. Hal ini
disebabkan umbi singkong (ubi kayu) sebagai bahan baku industri tapioka
mengandung asam sianida dengan konsentrasi besar (Mirna, 2005).
e. Seng (Zn)
Seng (Zn) dalam jumlah kecil merupakan unsur penting dalam
metabolisme, sehingga kalau anak kekurangan seng (Zn), pertumbuhannya bias
terhambat. Seng (Zn) juga berperan dalam membantu penyembuhan luka,
menyusun struktur protein dan membran sel. Namun terlalu banyak seng akan
menyebabkan rasa pahit dan sepet pada air minum, dapat menyebabkan muntah,
diare serta menyebabkan gangguan reproduksi

d) Kesadahan rendah

Kesadahan adalah sifat air yang disebabkan oleh adanya ion-ion (kation)
logam valensi dua (Sutrisno, 2004). Tingginya kesadahan berhubungan dengan
garam-garam yang terlarut di dalam air terutama garam Ca dan Mg (Asdak,
2004).

e) Tidak mengandung bahan organik

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


Nomor 492 / Menkes / Per / IV / 2010 , persyaratan kimia air bersih adalah
sebagai berikut :

Tabel 2. Persyaratan Kualitas Air secara Kimia

No. Parameter Satuan Kadar Maksimum yang

Diperbolehkan

1. Air raksa mg/L 0,001

2. Arsen mg/L 0,01

3. Besi mg/L 0,3

4. Fluorida mg/L 1,5

5. Kadnium mg/L 0,003


6. Kesadahan (CaCO3) mg/L 500

7. Klorida mg/L 250

8. Total Kromium mg/L 0,05

9. Mangan mg/L 0,4

10. Nitrat mg/L 50

11. Nitrit mg/L 3

12. Ph mg/L 6,5-8,5

13. Selenium mg/L 0,1

14. Seng mg/L 3

15 Sianida mg/L 0,07

16. Sulfat mg/L 250

17. Timbal mg/L 0,01

Sumber : Permenkes RI, 2010

Keterangan :

Mutu air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia,


No 492/Menkes/Per/IV/2010

3. Kualitas Mikrobiologi
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala
bakteri, terutama bakteri patogen (Notoatmodjo, 2003). Bakteri golongan Coli
(Coliform bakteri) tidak merupakan bakteri patogen, tetapi bakteri ini merupakan
indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen. Menurut Permenkes RI No.
416/MENKES/PER/IX/1990, bakteri coliform yang memenuhi syarat untuk air
bersih bukan perpipaan adalah < 50 MPN. Standar air minum di Indonesia
mengikuti standar WHO yang dalam beberapa hal disesuaikan dengan kondisi di
Indonesia. Pada tahun 2010, Departemen Kesehatan RI telah menetapkan kriteria
kualitas air secara mikrobiologis, melalui permenkes RI No 492/2010 bahwa air
minum tidak diperbolehkan mengandung bakteri coliform dan Escherichia coli..
Secara mikrobiologi, salah satu syarat air bersih yang dapat di konsumsi adalah
tidak di temukannya Escherichia coli dalam 100 ml3. Escherichia coli juga
termaksud bakteri yang dapat menyebabkan keluhan diare. Mutu air minum dan
air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, No
416/Menkes/Per/IX/1990, Tanggal 3 September 1990. Mutu Air baku mutu
Golongan A, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, No
173/Menkes/Per/VIII/77, Tahun 1977 secara bakteriologi adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Persyaratan Kualitas Air secara Bakteriologi

Kadar maksimum

No Parameter Satuan Air Air Air

minum bersih baku

1 Coli Group /100 ml 0 10 10,000

2. E. coli /100 ml 0 0 2,000

Keterangan :

Mutu air minum dan air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia, No 492/Menkes/Per/IV/2010

D. Pencemaran Air Tanah

Zat pencemar (pollutant) dapat di definisikan sebagai zat kimia, radioaktif


yang berwujud benda cair, padat, maupun gas,baik yang berasal dari alam yang
kehadirannya di pic oleh manusia (tidak langsung) ataupun dari kegiatan manusia
(antropogenic origin) yang telah di definisikan mengakibatkan efek yang buruk
bagi kehidupan manusia dan lngkungannya. Semua ini di picu oleh aktivitas
manusia (Notodarmojo dalam Nurraini 2011 : 19).

Di sebagian wilayah Indonesia, air tanah masih menjadi sumber air minum
utama. Air tanah yang masih alami tanpa gagguan manusia, kualitasnya belum
tentu baik. Terleih lagi yang sudah tercemar oleh aktivitas manusia, kualitasnya
akan semakin menurun. Pencemaran air tanah antara lain di sebabkan oleh kurang
teraturnya pengolaan lingkungan. Beberapa sumber pencemaran yang
meyebabkan menurunnya kualitas aiar tanah antara lain (Freeze dan Chery dalam
Nurraini 2011 : 19) :

1. Pembuangan limbah ketanah.


2. Pembuangan limbah radioaktif.
3. Sampah dari TPA.
4. Tumpahan minyak.
5. Kegiatan pertanian.
6. Pembuangan limbah cair pada sumur dalam,dll.

Akibat pengambilan air tanah yang intensif di daerah tertentu dapat


menimbulkan pencemaran air tanah dalam yang berasal dari air tanah dangkal,
sehingga kualitas air tanah yang semula baik menjadi menurun dan bahkan tidak
dapat di gunakan sebagai bahan baku air minu. Sedangkan di daerah dataran
pantai akibatnya pengambilan air tanah yang berlebihan akan menyebabkan
terjadinya intrusi air laut karena pergerakan air laut ke air tanah.

E. Hubungan Kualitas Fisik Air Dengan Kesehatan

Hubungan air dengan kesehatan erat kaitannya dengan cakupan penyediaan


air bersih yang ada di suatu wilayah. Secara khusus, pengaruh air terhadap
kesehatan dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Hal ini berkaitan
dengan air yang merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan kita.

1. Pengaruh tidak langsung


Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh yang timbul sebagai akibat
penyalahgunaan air yang dapat meningkatkan ataupun menurunkan air yang dapat
meningkatkan ataupun menurunkan kesejahteraan masyarakat, dalam hal
kesehatan khususnya. Sebagai contoh pengotoran air dapat menurunkan
kesejahteraan masyarakat karena dari pengotoran badan-badan air dengan zat-zat
kimia tidak beracun sukar diuraikan secara alamian dan menyebabkan masalah
khusus seperti estetika, kekeruhan karena adanya zat-zat tersuspensi.
Hal diatas juga dapat menimbulkan berbagai macam penyakit bagi
manusia, salah satunya diare. Pengaruh ini dapat terjadi melalui perantara, seperti
makanan, alat-alat yang digunakan untuk makan, dan lain-lain. Pengaruh tak
langsung dapat terjadi misalnya akibat mengkonsumsi hasil perikanan dimaan
pruduk-produk tersebut dapat mengkumulasi zat-zat polutan berbahaya.
Resiko kesehatan dapat diakibatkan oleh polusi senyawa kimia yang
tidak menimbulkan gejala yang segera (acute), tetapi dapat berpengaruh terhadap
kesehatan akibat pemaparan terus-menerus pada dosis rendah, serta seringkali
tidak spesifik dan sulit untuk dideteksi. Sebagai contoh misalnya senyawa
trihalomethan (THHs) atau senyawa khlorophenol yang dapat terjadi akibat hasil
samping proses khlorinasi pada proses pengelolaan air minum.
2. Pengaruh langsung
Pengaruh langsung terhadap kesehatan tergantung sekali pada kualits air,
dan terjadi karena air berfungsi sebagai penyalur ataupun penyebar penyebab
penyakit ataupun insekta penyebar penyakit. Kualitas air berubah karena kapasitas
air untuk membersihkan dirinya telah dilampaui. Hal ini disebabkan
bertambahnya jumlah serta intensitas aktivitas penduduk yang tidak hanya
meningkatkan kebutuhan akan air tetapi juga meningkatkan jumlah air buangan.
Buangan-buangan inilah yang merupakan sumber-sumber pengotoran perairan.
Pengaruh langsung ini dapat terjadi ketika kita minum.
Bahaya langsung terhadap kesehatan manusia/masyarakat dapat terjadi
akibat megkonsumsi air yang tercemar atau air dengan kualitas yang buruk, baik
secara langsung diminum atau melalui makanan, dan akibat penggunaan air yang
tercemar untuk berbagai kegiatan sehari-hari misalnya mencuci peralatan makan
dan lain-lain, atau akibat penggunaan air untuk rekreasi.
F. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel ditentukan dengan teknik purposive


sampling. Teknik purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu. Teknik ini bisa diartikan sebagai suatu proses
pengambilan sampel dengan menentukan terlebih dahulu jumlah sampel yang
hendak diambil, kemudian pemilihan sampel dilakukan dengan berdasarkan
tujuan-tujuan tertentu, asalkan tidak menyimpang dari ciri-ciri sampel yang
ditetapkan. Peneliti membagi kawasan penelitian menjadi empat (4) titik, masing-
masing klaster terdiri atas beberapa satuan kawasan administratif (RT) yaitu
masing - masing satu (1) titik per RT yang dianggap kritis dan perlu untuk diteliti

G. Alat Dan Bahan Serta Prosedur Kerja


1. Alat Dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Tabel 4. Alat dan Bahan

N
o Nama Alat/Bahan Fungsi

1. Termometer Air Raksa Untuk mengukur suhu air sampel

Alat yang digunakan untuk memeriksa pH


2. pH meter air

3. Sebagai bahan yang akan diamati


Air sampel yang diambil di
lokasi

Penelitian

4. Botol Aquades Untuk menyimpan air sampel

Alat yang digunakan untuk memeriksa


tingkat

5. Turbidmeter

Kekeruhan

6. GPS Untuk menentukan koordinat sampel

Untuk mengukur kadar logam dalam air


dan zat

7. TDS Meter

padat terlarut lainnya

Untuk mengukur kandungan Nitrat dan


8 Spektrofotometer Klorida.

2. Prosedur Kerja

Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data


sebagai berikut :
1. Pengukuran Suhu Cara Kerja :
a) Sampel air dituang dalam wadah berupa botol aquades.
b) Memasukkan thermometer kedalam botol.
c) Dibaca dan dicatat temperaturnya (waktu membaca thermometer tetap di
dalam air).
2. Pengukuran pH Cara kerja :
a) Sampel air dituang dalam wadah berupa botol aquades.
b) Memasukkan pH meter kedalam botol.
c) Dibaca dan dicatat nilai yang diperoleh.
3. Pengukuran Kekeruhan Cara kerja :
a) Menghubungkan turbidmeter dengan listrik.
b) Mengisi tabung turbidmeter dengan sampel sampai garis tadan 50 mm.
c) Kalau sampel sangat keruh dengan tabung 20 mm.
d) Kalau lebih keruh lagi diencerkan dengan aquades.
e) Menutup dengan kaca pencelup (plunger) sampai tidak ada udara.
f) Memasukkan kedalam alat turbidmeter Hellige kemudian kaca filter ditutup.
g) Memutar tombol, sampai titik dalam alat merata.
h) Dilihat angka yang diperoleh.
4. Pengukuran Nitrat
a) Encerkan larutan standar nitrat (kadar 100 ppm), buat larutan standar yang
berkadar 0,0; 0,05; 0,10; 0,20; 0,40; 0,80; 1,00; 1,50 dan 2,00 ppm.
b) Tambahkan 2 ml larutan NaCl, 10 ml larutan H2SO4 dan 0,5 ml larutan
brusin sulfanilat ke dalam masing-masing larutan standar dan goyang sampai
merata.
c) Kemudian panaskan di atas hot plate selama beberapa waktu sampai timbul
warna kuning.
d) Ambil sebanyak 10 ml air sampel yang telah disaring dan tuangkan ke labu
takar 50 ml serta tambahkan kedua larutan tersebut seperti pada larutan
standar nitrit. Lalu tambahkan lagi akuades sampai volume menjadi 25 ml.
e) Bandingkan warna air sampel dengan larutan standar dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm.
5. Pengukuran Klorida
a) Encerkan larutan baku klorida (kadar 100 ppm), buat larutan standar yang
berkadar 0,0; 0,05; 0,10; 0,20; 0,40; 0,80; 1,0 dan 1,5 ppm.
b) Tambahkan 2 ml larutan ammonium molibdat ke dalam masing-masing
larutan standar dan goyang sampai merata.
c) Tambahkan 5 tetes larutan SnCl2 dan kocok, sehingga timbul warna biru
yang ketajamannya sebanding dengan kepekatan kadar P. Warna biru akan
terbentuk dalam 10 sampai 12 menit dan perlu penambahan larutan SnCl2
lagi satu tetes agar terbentuk warna biru yang lebih baik.
d) Ukur dan tuangkan 50 ml air sampel ke labu takar 100 ml.
e) Bandingkan warna biru air sampel dengan larutan standar dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 690 nm.
6. Pengukuaran kadar besi (Fe)
a) beberapa parameter pengukur untuk logam besi (Fe) ditetapkan sebagai
berikut panjang gelombang 213,9 nm, tipe nyala asetilen/udara;
b) kemudian masing-masing larutan standar yang telah di buat di ukur pada
panjang gelombang. Nilai absorbansinya akan terlihat;
c) Buat kurva kalibrasi untuk mendapatkan persamaan garis regresi;
d) Dilanjutkan dengan pengukuran sampel yang sudah dipersiapkan.
7. Pengukuran kadar seng (Zn)
a) beberapa parameter pengukur untuk logam Seng (Zn) ditetapkan sebagai
berikut panjang gelombang 213,9 nm, tipe nyala asetilen/udara;
b) kemudian masing-masing larutan standar yang telah di buat di ukur pada
panjang gelombang. Nilai absorbansinya akan terlihat;
c) Buat kurva kalibrasi untuk mendapatkan persamaan garis regresi;
d) Dilanjutkan dengan pengukuran sampel yang sudah dipersiapkan.
8. Untuk pemeriksaan bakteri di lakukan secara khusus dengan
menggunakan botol steril berukuran 250 ml, setelah pengambilan
sampel air, mulut botol segera di sterilkan dan di tutup dengan tutupan
yang steril untuk kemudian segera di kirim ke laboratorium Biologi
Unit Forensik dan Biomolekuler Universitas Halu Oleo.
H. Teknik Analisis Air Dan Analisis Univariat
1. Teknik Analsis

Analisis pada air dilakukan secara in situ dan laboratorium. Analisis in situ
meliputi suhu dan pH. Analisis laboratorium meliputi parameter fisika terdiri dari
TDS, kekeruhan dan parameter kimia yang terdiri dari besi, seng, klorida, nitrat,
sianida. Jadi analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis
univariat. Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel
dan hasil penelitian pada umumnya. Dalam analisis ini hanya menghasilkan
distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel.

Data hasil pengukuran sampel yang di laboratorium untuk parameter Fisik,


Kimia, dan Mikrobiologi dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5. Hasil Pengukuran Sampel Air Sumur di Kelurahan Lalolara


Kecamatan Kambu Kota Kendari.

Peraturan menteri Hasil Pengukuran

N Satua Sumur
o Parameter n kesehatan RI No Sumur 1 Sumur 2 3 Sumur 4

492/Menkes/Per/IV/
2010

A. Fisik

0
1. Suhu C 24-30 26,10 26,8 26,12 26,05

2. Kekeruhan NTU 5 1,50 1,20 1 6,20

3 TDS mg/L 500 159,10 170,16 163,21 720,16

B. Kimia
4. pH mg/L 6,5 – 8,5 7,3 8,1 6,7 7,8

5. Besi (Fe) mg/L 0,3 0,26 0,35 0,48 0,21

6. Seng (Zn) mg/L 3 0,0214 0,0166 0,0138 0,0211

7. Nitrat (NO3) mg/L 50 2,05 1,98 2,45 3,01

8. Klorida (Cl) mg/L 250 22,16 25,70 23,10 26,28

Mikrobiolog
C. i

9. Coliform /100 ml 0 0 0 0 0

1
0 E.Coli /100 ml 0 0 0 0 0

(Sumber : Data Primer 2016)

Keterangan: Nilai yang melampawi ambang batas maksimum yang di


perbolehkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/ Menkes/Per/IV/2010
tentang persyaratan kualitas air minum.

Nilai yang melampawi ambang batas maksimum yang di perbolehkan oleh


Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/ Menkes/Per/IV/2010 tentang
persyaratan kualitas air minum terdapat pada sumur 4 yaitu nilai TDS dan
Kekeruhan ini di pengaruhu adanya sisa daun tumbuhan yang jatuh kedalam
sumur serta kondisi sumur yang sangat dekat dengan sumber pencemaran yaitu
hanya berjarak 1 meter dari got sedangkan yang di perbolehkan jarak sumur dari
sumber pencemaran seperti got dan septi tank yaitu >11 meter.
Nilai yang melampawi ambang batas maksimum yang di perbolehkan oleh
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/ Menkes/Per/IV/2010 tentang
persyaratan kualitas air minum untuk nilai Besi (Fe) terdapat pada sumur 2 dan 3
ini di pengaruhi oleh kondisi dari sumur yang menggunakan pipa besi sehingga
kadar besi dalam air menjadi tinggi.

2. Analisis Univariat
a) Gambaran Kualitas Fisik Air Sumur
Hasil penelitian mengenai gambaran parameter air tanah secara fisik
terdiri dari parameter zat padatan terlarut (Total dissolved solids),
suhu(temperature), dan kekeruhan (turbidity) pada air sumur masyarakat di
Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6. Gambaran Kualitas Fisik Air Tanah Masyarakat di Kelurahan


Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari.

Parameter fisik air Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat

Sumur Frekuensi Presentase Frekuensi Presentase

Suhu 4 100% 0 0%

TDS 3 75% 1 25%

Kekeruhan 3 75% 1 25%

(Sumber : Data Primer 2016)

Berdasarkan table diperoleh hasil analisis bahwa dari di antara parameter


fisik air tanah, parameter yang tidak memenuhi syarat adalah parameter TDS dan
Kekeruhan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/
Menkes/Per/IV/2010.

b) Gambaran Kualitas Kimia Air Sumur


Hasil penelitian mengenai gambaran parameter air tanah secara kimia
terdiri dari parameter pH (potential of Hydrogen), besi (Fe), Seng (Zn) nitrat
(NO3), dan klorida (Cl), dan sianida (Cn) pada air sumur masyarakat di Kelurahan
Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7. Gambaran Kualitas Kimia Air Sumur Masyarakat di Kelurahan


Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari.

Parameter kimia air Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat

Sumur Frekuensi Presentase Frekuensi Presentase

Ph 4 100% 0 0%

Besi (Fe) 2 50% 2 50%

Seng (Zn) 4 100% 0 0%

Nitrat (NO3) 4 100% 0 0%

Klorida (Cl) 4 100% 0 0%

(Sumber : Data Primer 2016)

Berdasarkan tabel 7 diperoleh hasil analisis bahwa semua sampel yang


diteliti memenuhi syarat kecuali pada parameter besi (Fe) menurut Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 492/ Menkes/Per/IV/2010.

c) Gambaran Kualitas Microbiologi Air Sumur


Hasil penelitian mengenai gambaran parameter air tanah secara
mikrobiologi terdiri dari parameter total coliform, dan total escherichia coli pada
air sumur masyarakat di Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari
dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 8. Gambaran Kualitas Mikrobiologi Air Sumur Masyarakat di


Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari.
Parameter Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat

microbiologi air

Frekuensi Presentase Frekuensi Presentase

Sumur

Coliform 4 100% 0 0%

escherichia coli 4 100% 0 0%

(Sumber : Data Primer 2016)

Berdasarkan tabel 8 diperoleh hasil analisis bahwa semua sampel yang


diteliti memenuhi syarat menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/
Menkes/Per/IV/2010.
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
1. Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting bagi
kehidupan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
maupun untuk kepentingan lainnya seperti, pertanian dan industri. Air bersifat
tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar (Allafa
dalam Rini 2014 : 11).
2. Menurut Effendi (2003 : 1), air memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh
senyawa kimia lain, karakter tersebut antara lain : pada kisaran suhu yang
sesuai bagi kehidupan, yakni 0 0c (32 0f) – 1000c, air berwujud cair, perubahan
suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat sebagai penyimpan
panas yang sangat baik, air memerlukan panas yang tinggi pada proses
penguapan, air merupakan pelarut yang baik, air memiliki tegangan
permukaan yang tinggi, dan air merupakan satu-satunya senyawa yang
merenggang ketika membeku.
3. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air
tersebit. Pengujian yang biasa di lakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau
kenampakan (bau dan warna).
4. Beberapa sumber pencemaran yang meyebabkan menurunnya kualitas aiar
tanah antara lain (Freeze dan Chery dalam Nurraini 2011 : 19) : Pembuangan
limbah ketanah, Pembuangan limbah radioaktif, Sampah dari TPA, Tumpahan
minyak, Kegiatan pertanian, Pembuangan limbah cair pada sumur dalam, dll.
5. Hubungan air dengan kesehatan erat kaitannya dengan cakupan penyediaan air
bersih yang ada di suatu wilayah. Secara khusus, pengaruh air terhadap
kesehatan dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Hal ini berkaitan
dengan air yang merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan kita
6. Teknik pengambilan sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling.
Teknik purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Teknik ini bisa diartikan sebagai suatu proses
pengambilan sampel dengan menentukan terlebih dahulu jumlah sampel yang
hendak diambil, kemudian pemilihan sampel dilakukan dengan berdasarkan
tujuan-tujuan tertentu, asalkan tidak menyimpang dari ciri-ciri sampel yang
ditetapkan.
7. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: termometer air
raksa, ph meter, air sampel yang diambil dilokasi penelitian, botol aquades,
turbidmeter, gps, tds meter, dan spektrofotometer,.
8. Dalam analisis univariatnya terdapat 3 gambaran kualitas yaitu gambaran
kualitas fisika, gambaran kualitas fisika, dan gambaran kualitas mikrobiologi.
DAFTAR PUSTAKA

Nugraheni, Hermien dkk. 2018. Kesehatan Masyarakat Dalam Determinan Sosial


Budaya. Yogyakarta : Penerbit Deepublish. Buku Ajar.
Said, Idaman Nusa. 1999. Kesehatan Masyarakat dan Teknologi Peningkatan
Kualitas Air. Jakarta : Direktorat Teknologi Lingkungan, BPPT.
Sasongko, Budi Endar., Widyastuti, Endang., Priyono, Edy Rawuh. 2014. Kajian
Kualitas Air Dan Penggunaansumur Gali Oleh Masyarakatdisekitar Sungai
Kaliyasa Kabupaten Cilacap. Jurnal Ilmu Lingkungan. Vol.12, No.2 :72-82.
Wulan, Sukia Trimurti. 2016. Analisis Kualitas Air Sumur Kelurahan Lalolara
Kecamatan Kambu Kota Kendari. Program Studi Pendidikan Geografi.
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Halu Oleo.