Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH


SAHAM & OBLIGASI

DISUSUN OLEH : NIM


Muhammad romainur (5304171083)
Muhammad amrin hakim (5304171066)
Obim rio romadhoni (5304171068)

DOSEN PENGAMPU :
Rosmida S.E.,M.Si

D IV-AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


ADMINISTRASI NIAGA
POLITEKNIK NEGERI BENGKALIS
APRIL 2019
Diskusikan mengapa tingkat suku bunga bonds rata-rata lebih tinggi dibandingkan tingkat
suku bunga utang bank jangka panjang. Diskusikan apakah dalam penerbitan penerbitan bonds
terdapat persyaratan yang lebih ketat dibandingkan dengan utang bank.
Jawaban :

1. Interest Rates.Karena dipengaruhi oleh teori durasi dimana semakin pendek durasi
obligasi berarti semakin kecil pengaruhnya terhadap tingkat suku bunga. Semakin
panjang durasinya maka semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga. Apabila kita
menjual obligasi yang kita miliki pada pihak lain di pasar sekunder sesuai dengan nilai
atau harga pasar sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. “Apabila tingkat suku bunga
mengalami penurunan, maka harga obligasi akan naik, begitu pula sebaliknya. Dengan
demikian ada suatu pengaruh kuat bagi harga obligasi sebagai akibat berubahnya tingkat
suku bunga.”
2. Faktor Resiko dan jatuh tempo.Perubahan harga obligasi di pasar sangat dipengaruhi oleh
perubahan suku bunga dan persepsi terhadap resiko. Harga obligasi di pasar modal dapat
lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai parinya. Berinvestasi pada obligasi tidak hanya
memberikan keuntungan dari pembayaran bunga tetap (kupon), tetapi kita juga memiliki
peluang untuk mendapatkan keuntungan dari capital gain (selisih harga beli dan jual).
3. Perubahan harga obligasi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor yield to maturity dan
present value cash flow saja, tetapi juga faktor lain seperti Default risk, Inflation risk,
Call Risk, Exchange rate risk, Liquidity risk, Volatility risk, Re-investment risk (interest
on interest factor).
Obligasi adalah suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan yang merupakan suatu
pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk menbayar
kembali pokok utang beserta kupon bunganyna kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran.
Obligasi secara ringkasnya adalah utang tetapi dalam bentuk sekuriti. “penerbit” obligasi adalah
si peminjam atau debitur, sedangkan “pemegang” obligasi adalah pemberi pinjamana atau
kreditur dan “kupon” obligasi adalah bunga pinjaman yang harus dibayar oleh debitur kepada
kreditur. Dengan penerbitan obligasi ini maka dimungkinkan bagi penerbit obligasi guna
memporoleh pembiayaan investasi jangka panjangnya dengan sumber dana dari luar perusahaan.
Pada beberapa Negara, istilah “obliges” dan “surat utang” dipergunakan tergantung pada jangka
waktu jatuh temponya. Pelaku pasar biasanya menggunkana istilah obligasi untuk penerbitan
surat utang dalam jumlah besar yang ditawarkan secara luas kepada publik dan istilah “surat
utang” digunakan bagi penerbitan surat utang dalam skala kecil yang biasanya ditawarkan
kepada sejumlah kecil investor. Tidak ada pembatasan yang jelas atas penggunaan istilah ini.
Ada juga dikenal istilah “surat perbendaharaan” yang digunakan bagi sekuriti berpenghasilan
tetap dengan masa jatuh tempo 3 tahun atau kurang. Obligasi memiliki resiko menengah dan
“surat perbendaharaan” yang memiliki resiko terendah yang mana makin pendek durasinya
memiliki risiko makin rendah. Obligasi dan saham keduanya adalah instrument keuangan yang
disebut sekuriti naun bedanya adalah bahwa pemilik saham adalah bagian dari pemilik
perusahaan penerbit saham, sedangkan pegeng obligasi adalah semata merupakan pemberi
pinjaman atau kreditur kepeda penerbit obligasi.
 penerbitan obligasi terdapat persyaratan yang lebih ketat dibandingkan dengan utang
bank karena proses penerbitan obligasi yang harus melalui perizinan seperti pengajuan
usulan, penilaian & persetujuan oleh menteri keuangan c.q dirjen perimbangan keuangan
begitu pula dengan pelaporan dan pertanggungjawaban serta evaluasinya. Sedangkan
untuk penerbitan utang bank hanya perlu berusrusan dengan bank terkait

Persyaratan penerbitan Surat Utang Bank menurut Bank Indonesia berdasarkan ketentuan
SBK yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 19/9/PBI/2017 tentang Penerbitan
dan Transaksi Surat Berharga Komersial di Pasar Uang menjelaskan bahwa :

1. Kewajiban korporasi/lembaga terkait untuk mendaftarkan diri ke Bank Indonesia.


2. Persyaratan korporasi yang dapat menerbitkan SBK.
3. Kriteria SBK yang dapat diterbitkan.
4. Kewajiban penerbit SBK untuk mendaftarkan rencana penerbitan SBK kepada Bank
Indonesia.
5. Prinsip-prinsip keterbukaan informasi mengenai korporasi yang akan menerbitkan SBK
serta struktur SBK.
6. Prinsip-prinsip dalam penawaran SBK kepada calon investor.
7. Prinsip-prinsip dalam penerbitan dan penatausahaan SBK.
SOAL LATIHAN
1. Menurut ketentuan dalam perjanjian obligasi, PT. Kamboja menggunakan deposito tahunan
menjadi bond sinking fund (mulai 31 Desember Tahun 2) untuk mengumpulkan dana yang
diperlukan untuk pelunasan obligasi pada saat jatuh tempo mereka. Pada tanggal 31, tahun
ke-5, semua pembayaran bunga yang diperlukan dan pembayaran sinking-fund yang jatuh
tempo sampai saat ini telah dilakukan sesuai jadwal. Apabila aktiva sinking-fund
diklasifikasikan sebagai tidak lancar, bagaimana seharusnya saldo hutang obligasi harus
diklasifi-kasikan dalam laporan posisi keuangan pada 31 Desember tahun ke-5?
Jawaban :
Bond Sinking Fund dikategorikan sebagai aset lancar, didalam kasus ini dijelaskan
bahwasanya diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar.Metode sinking fund atau dana pelunasan
hutang, yaitu pembayaran hutang yang dilakukan dengan 1 kali pembayaran pada akhir periode
hutang. Namun karena dalam kasus tersebut merupakan 5 tahun terakhir pelunasan obligasi dan
jangka waktunya kurang dari 1 tahun maka dapat dikategorikan sebagai aset lancar.

2. Pada 31 Desember, tahun ke-2, sebuah entitas memiliki kewajiban berikut ini yang
diharapkan untuk dilunasi: Wesel bayar 17% 140.000.000.000 Wesel bayar 15%
200.000.000.000 Wesel bayar 17% diterbitkan pada 1 Oktobertahun ke-1, dan jatuh tempo
pada 1 Juli tahun ke-3. Tidak ada perjanjian pinjamanyang muncul pada tanggal laporan
posisi keuangan untuk pembayaran wesel. Wesel bayar 15% diterbitkan pada 1 Mei tahun
ke-1dan jatuh tempo pada 1 Mei tahun ke-3. Pada 1 Februari tahun ke-3, seluruh saldo
140.000.000.000 milik wesel bayar 17% dibiayaioleh penerbitan instrumen hutang
jangkapanjang. Pada 7 Februari tahun ke-3, entitasmelakukan perjanjian yang tidak dapat
dibatalkan dengan pihak pemberi pinjamanuntuk membiayai wesel 15% secara
jangkapanjang. Laporan keuangan disetujui untukditerbitkan pada 1 Maret tahun ke-3.
Berapakan nilai total dari kewajiban yang diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka panjang
pada laporan posisikeuangan 31 Desember tahun ke-2 ?
Jawaban :
Wesel bayar adalah janji tertulis yang dibuat oleh perusahaan untuk membayar kepada
kreditor sejumlah tertentu dan bunga pada tingkat yang disepakati.
Dalam laporan keuangan periode 31 desember untuk tahun ke-2 menunjukkan saldo sebesar Rp.
140.000.000,00 untuk wesel bayar

3. Pada 1 Mei tahun ke-1, sebuah entitas menerbitkan obligasi pada 103 ditambah bunga yang
diakru, sebanyak 500.000, obligasi tersebut senilai 10.000.000 dengan bunga 12%. Obligasi
tersebut tertanggal 1 Januari tahun ke-1 dan jatuh tempo pada 1 Januari tahun ke-6. Bunga
harus dibayar semi tahunan yakni pada 1 Januari dan 1 Juli. Bagaimana Ayat jurnal untuk
mencatat penerbitan obligasi dan penerimaan cash proceeds akan dilakukan?
Jawaban :
Saat penerbitan obligasi jurnal yang akan dicatat adalah sebagai berikut :
Kas Rp. 10.000.000,-
Utang obligasi Rp. 10.000.000,-

PENUGASAN
Carilah laporan keuangan PT. UNILEVER untuk tahun 2006-2012. Lakukan analisis dan
pengamatan dari laporan keuangan tersebut dengan menjawab pertanyaan berikut ini:
a) Utang jangka panjang apa saja yang dimiliki oleh perusahaan.
b) Pengungkapan apa yang dilakukan oleh perusahaan terkait dengan utang jangka panjang.
c) Apakah perusahaan memiliki obligasi? Jelaskan bagaimana pengungkapan untuk obligasi
tersebut.
Jawaban
Utang jangka pendek dalam laporan keuangan PT. UNILEVER untuk tahun 2015
liabilitas pajak tangguhan Rp. 327.041
kewajiban imbalan kerja jangka panjang
bagian tidak lancar Rp. 403.002 +
Rp. 775.043
Utang jangka pendek dalam laporan keuangan PT. UNILEVER untuk tahun 2016
liabilitas pajak tangguhan Rp. 245.152
kewajiban imbalan kerja jangka panjang
bagian tidak lancar Rp. 918.211 +
Rp. 1.163.362
Utang jangka pendek dalam laporan keuangan PT. UNILEVER untuk tahun 2017
liabilitas pajak tangguhan Rp. 344.965
kewajiban imbalan kerja jangka panjang
bagian tidak lancar Rp. 855.756 +
Rp. 1.200.721