Anda di halaman 1dari 15

Lampiran

Materi Ajar

1. Pengertian Hama dan Penyakit Pada Penyimpanan


Hama merupakan organisme yang dalam aktivitasnya mengganggu, merusak tanaman
maupun hasilnya dan secara ekonomis merugikan. Hama gudang ini terdiri dari serangga
(insekta), mamalia (tikus), aves (burung). Kerusakan yang terjadi dapat mengakibatkan
penurunan kualitas maupun kuantitas dari bahan yang disimpan. Hal ini disebabkan serangga
hama gudang mempunyai kemampuan berkembang biak dengan cepat, mudah menyebar dan
dapat mengundang pertumbuhan kapang. Namun, dari beberapa kelompok hama gudang ini
yang paling sering dijumpai adalah golongan serangga dan tikus.
Kerusakan yang terjadi akibat hama gudang adalah :
- Kerusakan fisis-mekanis seperti lika, koyak, dan berlubang menyebabkan cacat sehingga
mutunya turun dan harganya rendah bahkan ditolak
- Tercemar karena kotoran hasil kegiatan biologisnya seperti kotoran, kulit terkelupas dan
yang tidak terlihat seperti urine dan racun
- Tercemar adanya bulu, bangkai, bagian atau bahkan organisme bersangkutan
- Secara tidak langsung kegiatan biologis organisme tersebut menaikkan suhu dan
kelembaban ruangan yang merangsan kerusakan lebih lanjut serta mempercepat proses
kerusakan fisiologis dan kimia lainnya
Penyebab penyakit pada produk dalam simpanan di antaranya disebabkan oleh
cendawan, bakteri, virus, dan nematoda. Patogen yang terbawa benih selain dapat
menimbulkan penyakit pada tanaman itu sendiri, dapat pula menjadi sumber infeksi untuk
tanaman lain.

2. Jenis-Jenis Hama dan Penyakit


Hama
Serangga adalah binatang berkaki enam sehingga disebut heksapoda dan tubuh terdiri
dari 3 bagian : kepala, dada dan perut, memiliki sungut atau antenna sebagai alat
penghidu. Serangga memili 2 ordo yaitu golongan kumbang (Coleoptera) dan golongan
ngengat atau pijer (Lepidoptera). Perbedaannya adalah pada sayapnya. Sayap kumbang keras.
Kedua ordo ini memiliki metamorphosis (perubahan) sempurna yaitu telur, larva,
kepompong, dewasa, telur dan seterusnya.
- Hama primer dapat menyerang komoditas yang masih utuh dalam arti masih berkulit
(keras) misalnya rhizopertha, sitophilus.
- Hama sekunder hanya menyerang komoditas yang lunak, telah terkupas atau telah
terserang hama primer. Komoditas yang diserang misalnya beras, tepung, gaplek
misalanya tribolium, sp.
- Hama utama (major pest) tergolong paling merusak dan umum dijumpai pada suatu
komoditas tertentu, misalnya sitophilus, sp. Dan tribolium sp. (serealia) calossobrochus
spp (kacang-kacangan), lasioderma sp (tembakau)
- Hama minor tidak terlalu penting karena jarang menyerang komoditas tersebut dan kalau
menyerang biasanya hanya menimbulkan kerusakan yang relative kecil.
- Hama pemakan dalam sebagian besar hidupnya berada didalam komoditas terutama fase
larva dan kepompong misalnya sitophilus sp. Dan rhizopertha sp.
- Hama pemakan luar mempunyai kebiasaan makan dipermukaan komoditas contoh
tribolium, Corcyra, cryptoleste spp.
Komoditas Jenis hama
Serealia dan karbohidrat tinggi Sitophilus, rhizopertha, tribolium, stegobium, ephestia
Kacang-kacangan Callosobruchus chinensis
Kopi sejenisnya Araecerus fasciculatus
Kulit sejenisnya Dermestes spp
Tembakau Lasioderma spp
Kopra Necrobia rufipes
Kacang tanah Caryedon serratus

1. Sitophilus oryzae
Gejala Serangan
Kumbang ini merupakan hama utama pada beras yang disimpan. Serangan kumbang
ini ditandai dengan butir beras berlubang-lubang atau hancur menjadi tepung karena gerekan
kumbang. Akibat hama ini, beras mengalami susut berat mencapai 23% setelah disimpan
beberapa bulan.
Sitophilus oryzae dikenal sebagai bubuk beras (rice weevil). Hama ini bersifat
kosmopolit atau tersebar luas di berbagai tempat di dunia. Kerusakan yang ditimbulkan oleh
hama ini termasuk berat, bahkan sering dianggap sebagai hama paling merugikan produk
pepadian. Hama (Sitophilus oryzae) bersifat polifag, selain merusak butiran beras, juga
merusak simpanan jagung, padi, kacang tanah, gaplek, kopra, dan butiran lainnya. Akibat dari
serangan hama ini, butir beras menjadi berlubang kecil-kecil, tetapi karena ada beberapa
lubang pada satu butir, akan menjadikan butiran beras yang terserang menjadi mudah pecah
dan remuk seperti tepung. Kualitas beras akan rusak sama sekali akibat serangan hama ini
yang bercampur dengan air liur hama.
Ciri-ciri Kumbang
Kumbang muda dan dewasa berwarna cokelat agak kemerahan, setelah tua warnanya
berubah menjadi hitam. Terdapat 4 bercak berwarna kuningagak kemerahan pada sayap
bagian depan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan.
Panjang tubuh kumbang dewasa ± 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya. Apabila
kumbang hidup pada jagung, ukuran rata-rata ± 4,5 mm, sedang pada beras hanya ± 3,5 mm.
larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan ketika bergerak akan
membentuk dirinya dalam keadaan agak membulat. Pupa kumbang ini tampak seperti
kumbang dewasa.
Kumbang betina dapat mencapai umur 3-5 bulan dan dapat menghasilkan telur
sampai 300-400 butir. Telur diletakkan pada tiap butir beras yang telah dilubangi terlebih
dahulu. Lubang gerekan biasanya dibut sedalam 1 mm dan telur yang dimasukkan ke dalam
lubang tersebut dengan bantuan moncongnya adalah telur yang berbentuk lonjong. Stadia
telur berlangsung selama ± 7 hari. Larva yng telah menetas akan langsung menggerek butiran
beras yang menjadi tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva akan tetap berada di
lubang gerekan, demikian pula imagonya juga akan berada di dalam lubang selama ± 5 hari.
Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama ± 31 hari. Panjang
pendeknya siklus hidup ham ini tergantung pada temperatur ruang simpan, kelembapan di
ruang simpan, dan jenis produk yang diserang.
Gambar 1. Sitophilus oryzae
Pengendalian
Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus calandrae (parasit larva), semut
merah dan semut hitam yang berperan sebagai predator dari larva dan telur hama.
Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara melakukan penjemuran produk simpanan
pada terik matahari, diharapkan dengan adanya penjemuran ini hama Sitophilus oryzae dapat
terbunuh, dengan pengaturan tempat penyimpanan, dan dengan melakukan fumigasi terhadap
produk yang disimpan.

2. Kumbang Penggerek Gabah (Rhizopertha dominica)


Gejala Serangan
Gejala serangan kumbang ini ditandai dengan berlubangnya gabah dan adanya sisa
gerekan berupa dedak halus. Selain merusak produk padi-padian kumbang ini juga
menyerang produk tanaman yang banyak mengandung karbohidrat seperti jagung, gaplek,
dan lainnya. Kerusakan yang ditimbulkannya bisa mencapai 7%.
Ciri-ciri kumbang
Kumbang ini memiliki tubuh slindris dan ramping, protorak berbentuk seperti perisai
atau tudung, mempunyai benjolan kecil yang kasar terutama bagian depan. Kepalanya berada
di bawah pronotumnya, berwarna coklat gelap atau hitam. Panjang tubuh kumbang 1,5-3
mm.

Gambar 2. Kumbang Penggerek Gabah (Rhizopertha dominica)


3. Ngengat Gabah (Sitotroga cereallela)
Gejala serangan
Gejala kerusakan berupa lubang-lubang bekas gerekan dan adanya sisa gerekan
berbentuk tepung (serasah halus). Ngengat ini bersama dengan R. dominica menyebabkan
kerusakan berat pada gabah dalam simpanan.
Ciri-ciri ngengat
Ngengat dewasa tubuhnya berwarna kekuningan hingga merah muda yang mengilap.
Tubuhnya ramping dengan panjang 3-4 mm, panjang rentang sayapnya 11-15 mm. Larva
berwarna putih kekuning-kuningan dengan bagian kepala berwarna coklat gelap. Tubuhnya
beruas-ruas dan pada ruas ke 1-3 dilengkapi dengan kaki. Betina mampu menghasilkan telur
200-369 butir dan akan menetas setelah 3-4 hari. Siklus hidup ngengat pada lingkungan ideal
berlangsung 25-28 hari.

Gambar 3. Ngengat Gabah (Sitotroga cereallela)

4. Kumbang Tepung (Tribolium spp.)


Gejala serangan
Hama ini juga disebut hama bubuk beras, bubuk Tribolium bukan hama yang khusus
menyerang beras atau tepungnya. Pada kenyataannya, dimana pada komoditas beras
ditemukan hama (Sitophilus oryzae), pasti akan ditemukan juga hama bubuk ini. Hama
(Tribolium spp) hanya memakan sisa komoditas yang telah terserang hama (Sitophilus
oryzae) sebelumnya yang berbentuk tepung (hama sekunder). Hama ini tidak hanya
ditemukan dalam komoditas beras, tetapi juga terdapat pada gaplek, dedak, beaktul yang ada
di toko maupun di rumah.
Kumbang dan larva merusak tepung, dan jika belum terdapat tepung maka akan
menunggu hasil perusakan butiran beras oleh hama lain dan kumbang ini akan bergerak
setelah berlangsung kehancuran pada materian tersebut, sehingga sering disebut secagai
secondary pest.
Ciri-ciri kumbang
Kumbang dewasa berbentuk pipih, berwarna cokelat kemerahan, panjang tubuhnya ±
4 mm. Telur berwarna putih agak merah dengan panjang ± 1,5 mm. larva berwarna cokelat
muda dengan panjang ± 5-6 mm. Pupa berwarna putih kekuningan dengan panjang ± 3,5 mm.
Kumbang betina mampu bertelur hingga 450 butir sepanjang siklus hidupnya. Telur
diletakkan dalam tepung atau pada bahan lain yang sejenis yang merupakan pecahan kecil
(remah). Larva bergerak aktif karena memiliki 3 pasang kaki thorixal. Larva akan mengalami
pergantian kulit sebanyak 6-11 kali, tidak jarang pula pergantian kulit ini hanya terjadi
sebanyak 6-7 kali, ukuran larva dewasa dapat mencapai 8-11 mm.
Menjelang terbentuknya pupa, larva kumbang akan muncul di permukaan material,
tetapi setelah menjadi imago akan kembali masuk ke dalam material. Seklus hidup dari
kumbang ± 35-42 hari (Wagianto, 2008).
Pengendalian
Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan oleh hama ini dapat
dilakukan dengan melakukan penjemuran terhadap komoditas simpanan pada waktu tertentu
dengan pengeringan yang sempurna. Selain itu juga dapat dilakukan fumigasi terhadap
produk pasca penen dengan menggunakan fumigan yang tidak berbahaya bagi kesehatan
manusia (Wagianto, 2008).

Gambar 4. Kumbang Tepung (Tribolium spp.)

5. Kumbang gigi gergaji (Oryzaerphilus surinamensis)


Gejala serangan
Kumbang umumnya menggerek bagian material sehingga tampak berlubang-lubang
dan bentuknya berkelok-kelok.
Ciri-ciri kumbang
Bagian thorax (dada) kumbang menyerupai gigi gergaji. Tubuh kumbang dewasa
berwarna coklat gelap dengan panjang antara 2,5-3,5 mm. Larva berwarna putih, bentuknya
memanjang dan pipih, berukuran 4-5 mm. Kumbang betina menghasilkan 6-10 butir per hari
dan total telur sebanyak 375 butir. Pada butir padi, telur biasanya diletakkan di dekat lekukan
biji. Larva yang akan berkepompong mencari tempat berupa celah atau lekukan untuk
menjadi popa. Siklus hidup hama ini mencapai 1 bulan

Gambar 5. Kumbang gigi gergaji (Oryzaerphilus surinamensis)

6. Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays)


Gejala Serangan
Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) menyerang pada tanaman jagung yang
mengakibatkan butir-butir jagung menjadi lubang. Ukuran lubang yang diakibatkan lebih
besar dari pada gejala serangan pada beras, jagung yang terserang menjadi mudah pecah dan
remuk, sehingga kualitas jagung menurun karena bercampur dengan air liur hama.
Ciri-Ciri Kumbang
Morfologi Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) memiliki panjang 2,5-4,5 mm,
berwarna coklat, moncong sempit dan panjang, mempunyai antena, larvanya putih dan
gemuk dan tidak berkaki. Kadang larvanya berkembang dalam satu butir jagung. Kumbang
muda berwarna coklat agak kemerahan, yang tua berwarna hitam. Terdapat bercak kuning
agak kemerah-merahan pada sayap bagian depan. Pada sayap kiri dan kanan terdapat dua
bercak. Panjang tubuh kumbang dewasa sekitar 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup
larvanya.
Pengendalian
Cara pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara pengeringan bahan yang
sempurna, melakukan pengamasan yang baik, pemberian tablet khusus misalnya phastoksin.
Kemudian melakukan fumigasi yang tentunya akan menimbulkan resiko yang sangat besar

Gambar 6. Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays)

7. Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis)


Gejala serangan
Gejala serangan Kumbang kacang hijau (Callosobruchus chinensis) tampak lubang
pada biji-biji kacang hijau yang mengakibatkan lama-kelaman biji tersebut menjadi retak.
Intensitas serangan akibat hama dalam produk simpanan termasuk dalam kategori sedang,
walaupun beberapa hama dapat menyebabkan kerugian yang nyata secara ekonomi. Intensitas
serangan pada komoditas kopi, kacang hijau, kacang tanah, kacang tolo, dan beras adalah 0,3
%, 0,13 %, 0,19 %, 0,29 %, dan 0,34 %. Intensitas serangan paling kecil terdapat pada
komoditas kacang hijau dan intensitas tertinggi ada pada komoditas beras.
Ciri-Ciri Kumbang
Ukuran tubuh Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis) memiliki ukuran
tubuh yang relative kecil dibandingkan dengan hama gudang lainnya. Warna tubuh Kumbang
Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis) berwarna coklat kehitam-hitaman, sayapnya
berwarna kekuning-kuningan. Imago dari hama ini berbentuk bulat telur. Bagian kepala
(Caput) agak meruncing, pada elytra terdapat gambaran agak gelap. Pronotum halus, elytra
berwarna cokelat agak kekuningan. Ukuran tubuh sekitar 5-6 mm. Imago betina dapat
bertelur hingga 150 butir, telur diletakkan pada permukaan produk kekacangan dalam
simpanan dan akan menetas setelah 3-5 hari. Larva biasanya tidak keluar dari telur, tetapi
hanya merobek bagian kulit telur yang melekat pada material. Larva akan menggerek di
sekitar tempat telur diletakkan. Lama stadia larva adalah 4-6 hari. Produk yang diserang akan
tampak berlubang (Borror, 1992).
Pengendalian
Pengendalian dapat dilakukan dengan melakukan fumigasi dan menggunakan musuh alami
hama ini (Anisopteromalus calandrae dan semut hitam).

Gambar 7. Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis)

Tikus
Tikus merupakan hewan yang cepat berkembangbiak dan merupakan hama utama
yang menyebabkan kehilangan sangat besar baik dari segi kualitas maupun kuantitas bahan
pangan. Tikus dapat membawa pathogen berbahaya seperti Salmonella typhii kuman
penyebab penyakit tipus. Kuman berkembang karena adanya kotoran, komoditas busuk
akibat serangannya, sampah dari sarangnya serta bekas makanan yang secara keseluruhan
mengotori komoditas yang disimpan. Kerusakan/kehilangan yang ditimbulkan tikus yaitu :
1. Kehilangan kuantitas
2. Kerusakan wadah dan bangunan
3. Pengotoran komoditas
4. Pembawa dan penyebar kuman penyakit

Berdasarkan bentuk tengkorak, ordo rodentia terbagi :


1. Hystricomorpha : bermoncong tumpul, senang tinggal di dalam tanah
2. Scioromorpha : tinggal diatas pohon/didalam tanah, bentuk kepala bundar
3. Myomorpha : mempunyai moncong relative panjang dan lancip (golongan tikus)
Jenis tikus yang sering menjadi hama dalam penyimpanan :
1. Tikus rumah (Rattus rattus diardii).
2. Tikus riul (Rattus norvegicus)
3. Mencit rumah (Mus musculus).

Gambar 8. Tikus rumah (Rattus rattus diardii)


Gambar 9. Tikus Riul (Rattus norvegicus)

Gambar 10. Mencit rumah (Mus musculus)


Penyakit
1. Cendawan Aspergillus sp. (Yellow Mold)
Gejala kerusakan.
Pada bahan awalnya terlihat bercak kecil yang menempel pada permukaan biji atau
bahan, yang kemudian berkembang melebar dan membentuk kumpulan cendawan berwarna
kuning kehijauan. Selain menurunkan kualitas bahan, cendawan ini juga dapat menghasilkan
racun aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Gambar 11. Cendawan Aspergillus sp. (Yellow Mold)


2. Cendawan Penicillium spp. (Blue Mold)
Gejala Kerusakan.
Berawal dari munculnya bercak berwarna abu-abu kehijauan. Bercak akan membesar
dan membentuk seperti tepung berwarna hijau atau biru abu-abu. Racun yang dihasilkan
berupa citreoviridin yang dapat merusak sistem syaraf pusat.

Gambar 12. Cendawan Penicillium spp. (Blue Mold)

3. Cendawan Fusarium spp.


Gejala kerusakan
Pada umumnya warna material yang diserang cendawan ini berubah menjadi berwana
pink-coklat kemerahan, kemerahan, biru tua tergantung dengan spesies Fusarium yang
menyerang. Cendawan ini menghasilkan racun seperti zearalenon (F-2) yang mengakibatkan
kemandulan pada hewan dan fusariogenin.yang sangat berbahaya bagi manusia dan hewan
ternak.

Gambar 13. Cendawan Fusarium spp.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS HAMA DAN PENYAKIT


DALAM PENYIMPANAN
Faktor eksternal adalah kondisi lingkungan dari tempat penyimpanan/gudang yaitu kondisi
suhu, kadar air dan kualitas sumber makanan. Sedangkan faktor internal adalah kemampuan
interaksi antar individu dan antar spesies.
1. Suhu
Serangga hama gudang memerlukan keadaan suhu udara minimum dan maksimum
untuk kelangsungan hidupnya. Pada umumnya suhu optimum untuk perkembangan hama
gudang yakni 25-30oC (Kartasapoetra, 1991).
Suhu sangat mempengaruhi aktivitas biologi serangga gudang, di mana pada kondisi
suhu tinggi maka masa inkubasi (penetasan) telur serangga akan berlangsung lebih cepat.
Menurut Kartasapoetra (1991), kumbang Tribolium castaneum memiliki masa indukasi cepat
yakni 3,5 hari pada bulan Juli-Agustus (suhu tinggi) dibandingkan dengan pada bulan April-
Nopember yakni selama 12,2 hari. Masa perkembangan, ketahanan hidup dan produksi telur
serangga hama pascapanen tergantung pada kesesuaian lingkungan dan makanan. Laju
populasi akan semakin meningkat apabila masa perkembangan hama pendek, ketahahan
hidup meningkat dan produksi telur banyak.
Dalam kondisi normal, gudang adalah sumber makanan, sehingga permasalahan
utama bagi serangga gudang adalah suhu dan kadar air/kelembaban di dalam gudang. Kondisi
suhu gudang akan mempengaruhi siklus hidup perkembangan serangga. Hingga batas
tertentu, kenaikan suhu lingkungan meningkatkan aktivitas makan. Pada suhu optimal, siklus
hidup serangga akan semakin pendek, sebaliknya pada suhu rendah maka siklus hidup
serangga hama gudang akan lebih lama.
Suhu akan mempengaruhi ketahanan hidup/survival serangga. Serangga biasanya
memiliki kisaran suhu optimum. Sedikit saja di luar kisaran suhu tersebut, terjadi penurunan
populasi yang sangat besar. Kematian terbesar terjadi pada larva instar awal. Peningkatan
suhu dan kadar air bahan simpan meningkatkan produksi telur, hanya saja produksi telur
tertinggi dan ketahanan hidup tertinggi tidak terjadi pada satu titik suhu atau kadar air yang
sama.

2. Kelembaban
Menurut Kartasapoetra (1991), hama Sitophilus oryzae yang dipelihara pada
temperatur 21oC siklus hidupnya berbeda pada tingkat kelembaban berbeda. Menurutnya,
pada kelembaban udara relatif 50% siklus hidup serangga tersebut 59 hari, sedangkan pada
kelembaban udara 80% siklus hidup serangga tersebut hanya 37 hari. Kelembaban juga akan
sangat mempengaruhi kadar air bahan, artinya pada tingkat kelembaban udara yang tinggi
pada umumnya kadar air bahan simpanan juga relatif tinggi.

3. Pengaruh kadar air dan kualitas sumber makanan terhadap hama gudang
Peranan faktor makanan sangat diperlukan untuk menopang tingkat hidup yang
aktif,terutama pada proses peneluran dan stadium larva. Stadium imago porsinya menjadi
kecil karena periode kehidupannya menjadi relatif pendek apabila hama-hama tersebut telah
meletakkan telur. Kesesuaian makanan erat kaitannya dengan dinamika serangga memilih
sumber makanan yang cocok untuk pertumbuhan populasinya atau dalam proses
perkembangbiakan keturunannya.
Kualitas makanan suatu bahan mempunyai arti yang sangat dalam kaitannya dengan
percepatan perkembangbiakan serangga yang pada akhirnya berpengaruh pada tingkatan
serangan yang dilakukannya (kualitas dan kuantitas serangan). Kualitas makanan sangat
berpengaruh terhadap perkembangbiakan serangga hama. Pada kondisi makanan yang
berkondisi baik dengan jumlah yang cukup dan cocok bagi sistem pencernaan serangga hama
akan menunjang perkembangan populasi, sebaliknya makanan yang berlimpah dengan gizi
jelek dan tidak cocok akan menekan perkembangan populasi serangga (Andrewartha dan
Birch, 1954).
Ketidakcocokan faktor makanan dapat ditimbulkan oleh hal-hal sebagai berikut:
a) kurangnya kandungan unsur yang diperlukan serangga,
b) rendahnya kadar air bahan,
c) permukaan terlalu keras, bentuk material bahan yang kurang disenangi, misalnya beras
lebih disenangi dari pada gabah.
Kadar air meningkat, kondisi lingkungan makin baik untuk serangga sehingga
ketahanan hidupnya pun meningkat. Sebaliknya, ketahanan hidup hama pascapanen menurun
bila kadar air biji rendah. Implikasinya, kalaupun pengendalian hama tidak bisa dilakukan
dengan menurunkan suhu (pendinginan), pengeringan dan pemanasan dapat pula bermanfaat.
Kondisi kadar air dan kualitas bahan simpanan sangat mempengaruhi kemampuan imago
betina menghasilkan telur. Serangga memerlukan nutrisi yang cukup untuk memproduksi
telur.
Hubungan Antara Kadar Air Biji Dengan Perubahan Biji dan Kehidupan Hama Gudang
Kadar Air Bahan Perubahan Biji
(%)
> 45 Terjadi proses perkecambahan biji di tempat penyimpanan
18-20 Di dalam ruang penyimpanan akan timbul uap panas, tetapi
cendawan dan bakteri yang terbawa akan berkembang subur dan
merusak biji
12-18 Serangga akan merusak biji dalam simpanan
8-9 Kehidupan serangga gudang dapat dihambat
4-8 Keadaan aman untuk menyimpan biji

4. Cahaya
Warna cahaya yang berbeda akan memancarkan perbedaan panjang gelombang.
Semakin panjang gelombang yang dipancarkan maka akan semakin besar pula energi yang
dihasilkannya. Semakin besar energi yang dipancarkan akan semakin besar juga kenaikan
suhu yang ditimbulkannya dalam satuan luas yang tetap atau konstan.
Menurut Kartasapoetra (1991), hama-hama gudang saat melakukan kopulasi dan
meletakkan telurnya serta aktivitas pengerusakan sangat menyukai kondisi cahaya yang
gelap.

5. Aerasi
Pada umumnya pada kondisi oksigen yang rendah maka akan terjadi kematian pada
serangga gudang. Berdasarkan hasil penelitian terhadap Sitophilus sp. yang ditempatkan pada
tempat dengan aerasi yang diatur, maka diketahui bahwa apabila kadar CO2 > 40% atau O2
<2%, maka hama tersebut akan mati dalam semua tingkat pertumbuhannya, sedangkan
apabila kadar CO2 dalam kondisi biasa dan kadar O2 hanya 4%, pada temperatur 29oC akan
terjadi kematian total pada imago Sitophilus sp. Apabila kadar CO2 5% dan O2 seperti biasa
di udara, maka akan terjadi keamtian total setelah + 3 minggu (Kartasapoetra, 1991).

PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT DALAM PENYIMPANAN


1. Struktur Bangunan
2. Syarat komoditas harus terpenuhi
3. Kebersihan
4. Kemasan
5. Penggunaan Protektan
Mencegah datangnya hama lebih mudah daripada membasmi atau mengeliminasi serangga
yang sudah masuk
1. Membuat konstruksi kedap serangga: bangunan dari beton atau logam lebih baik daripada
kayu
2. Sanitasi gudang: ceceran bahan simpanan di lantai harus dibersihkan sebelum dilakukan
penyimpanan selanjutnya, celah-celah atau retakan pada lantai, dinding, dsb. harus ditutup,
menggunakan lantai keramik, pintu gudang harus selalu tertutup

Gambar 14. Gudang yang Berlubang


3. Tidak menyimpan alat pertanian, seperti alat pemanenan di ruang penyimpanan karena
biji-biji yang tertinggal dapat menjadi sumber infestasi
4. Jangan memakai karung bekas yang belum di"disinfestasi" untuk menyimpan
5. Jangan menyimpan wadah bekas di ruang penyimpanan
6. Menggunakan wadah yang tidak mudah dimasuki oleh serangga atau kemasan yang
digunakan kedap udara
7. Menggunakan protektan untuk melindungi bahan simpanan (khusus untuk penyimpanan
benih) seperti abu sekam dan serbuk tanaman yang diketahui mengandung insektisida

Gambar 15. Penyimpanan Beras

8. Menyimpan bahan dalam bentuk yang lebih resisten, misal yang masih dilengkapi
dengan polong, terutama kacang tanah
9. Menurunkan tingkat kadar air. Beras dengan kadar air < 14% akan lebih aman disimpan,
sedangkan beras dengan kadar air >14% akan menyebabkan perkembangbiakan mikroba
dan serangga bertambah cepat
10. Meningkatkan derajat sosoh Serangga hama gudang sangat menyukai zat-zat yang
terdapat dalam bekatul karena banyak mengandung lemak, protein dan vitamin. Itu
sebabnya beras dengan derajat sosoh rendah (masih banyak mengandung lapisan bekatul)
mudah diserang hama gudang.
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT DALAM PENYIMPANAN

Pengendalian adalah tindakan pencegahan, pengawasan, penjagaan dan pemberatasan.


Pencegahan adalah usaha menghindari/mencegah kemungkinan serangan hama.
Pengawasan berarti pemantauan dan evaluasi terus menerus. Penjagaan adalah tindakan
mempertahankan/menjaga agar nilai dan daya guna komoditas tidak berkurang.

1. Pengurangan Kadar Air Bahan Simpanan


Penjemuran Bahan
Selain untuk mengatasi tingginya serangan serangga gudang, penjemuran juga dapat
mengurangi kerusakan gabah akibat tingginya kadar air gabah. Kehilangan hasil pada tahapan
pengeringan gabah pada ekosistem padi lahan irigasi sebesar 0,98%, untuk ekosistem padi
lahan tadah hujan sebesar 1,05% dan pada ekosistem lahan pasang surut sebesar 1,52%.
2. Pengaturan Tempat Penyimpanan
Tempat penyimpanan juga sangat mempengaruhi kesukaan serangga gudang terhadap
gabah yang disimpan. Tempat penyimpanan yang tidak baik dengan kelembaban tinggi dan
temperatur yang tidak sesuai akan memacu perkembangbiakan serangga. Walaupun kadar air
gabah sudah memenuhi standar setelah dikeringkan, akan tetapi jika tempat penyimpanan
tidak sesuai justru akan meningkatkan kembali kadar air gabah.

Gambar 16. Penyimpanan Beras


3. Penggunaan Pestisida Nabati
No. Nama Tumbuhan Bagian Serangga Uji
Tumbuhan
1. Babadotan, Ageratum conyzoides Daun, bunga, Tribolium castaneum
batang, akar
2. Lempuyang gajah, Zingiber Rimpang Sitophilus sp.
zerumbet
3. Lempuyang emprit, Rimpang Sitophilus sp.
Zingiber americans
4. Jeringau, Acorus calamus Rimpang Sitophilus sp.
5. Bengkuang, Biji Callosobruchus analis,
Pachyrhizus erosus Sitophilusi sp.
6. Serai dapur, Cymbopogon nardus Daun Callosobruchus analis
7. Bawang putih, Umbi Callosobruchus analis
Allium sativum
8. Tuba, Akar Sitophilus sp.,
Derris eliptica Carpophilus sp.
9. Brotowali, Batang Tribolium castaneum
Tinospora sp.
10. Srikaya, Biji Callosobruchus analis
Annona squamosal

4. Pemanfaatan Sistem Kedap (Hermetic Storage)


Penyimpanan kedap udara mencakup penempatan gabah/beras/benih kedalam
kontainer (wadah) yang menghentikan pergerakan udara (oksigen) dan air antara atmosfir
luar dan gabah/benih yang disimpan.
Penyimpanan tertutup mengendalikan serangga karena serangga menggunakan
oksigen yang ada sepanjang respirasi dan mengeluarkan karbon dioksida (misalnya tingkat
oksigen dapat berkurang dari 21% menjadi kurang dari 5% dalam 10-21 hari). Pada kondisi
oksigen rendah ini, aktivitas serangga menjadi minimal dan reproduksi terhenti.

Gambar 17. Pemanfaatan Sistem Kedap

5. Tindakan Kuratif (Fumigasi)


Fumigasi merupakan tindakan pembasmian hama gudang dengan menggunakan
senyawa kimiawi berupa fumigan. Beberapa jenis senyawa fumigan yang sering digunakan di
antaranya metilbormide, carbon disulphide, hydricianic acid, phospine, ethylene oxide,
ethylene dibromide.

Tindakan Pengendalian Tikus


1. Secara mekanis, dengan menangkap dan membunuh tikus secara langsung.
2. Penggunaan perangkap tikus untuk menangkap tikus dalam keadaan hidup dan umpan
beracun untuk menangkap tikus sampai tikus tersebut mati.
3. Kimiawi. Penggunaan rodentisida seperti Klerat, Seng Fosfit Temik atau melakukan
fumigasi dengan menggunakan bahan kimia berupa HCN, metil bromida, CO terhadap
tempat penyimpanan.
4. Penggunaan pestisida nabati. Kardinan (2001) melaporkan bahwa campuran umbi gadung
racun (1 kg), dedak padi (10 kg), tepung ikan 1 ons, kemiri sebagai pemikat dan air yang
dibentuk menjadi pelet dapat digunakan untuk membunuh tikus.
DAFTAR PUSTAKA

Andrewartha,H.G., and L.C.Birch, 1954. The Distribution And Abundance Of Animals. The
University of Chicago Press. Chicago.
Borror, D.J., Charles, A.T., dan Norman, F.J.1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kartasapoetra, A.G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan. Rineka Cipta. Jakarta.
Wagianto. 2008. Hama dan Penyakit. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.