Anda di halaman 1dari 16

MATERI V : SELEKSI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemuliaan tanaman adalah kegiatan mengubah susunan genetik individu
maupun populasi tanaman untuk suatu tujuan. Kegiatan pemuliaan tanaman dapat
dikatakan sebagai tekanan evolusi yang sengaja dilakukan oleh manusia. Pada
masa prasejarah, pemuliaan tanaman telah dilakukan orang sejak dimulainya
domestikasi tanaman, namun dilakukan tanpa dasar ilmu yang jelas. Sisa-sisa biji-
bijian dari situs-situs peninggalan arkeologi membantu menyingkap masa
prasejarah pemuliaan tanaman. Catatan-catatan pertama dalam jumlah besar
mengenai berbagai jenis tanaman diperoleh dari karya penulis-penulis Romawi,
terutama Plinius.
Peningkatan kepastian terhadap hasil biasanya diarahkan pada peningkatan
daya hasil, cepat dipanen, ketahanan terhadap organisme pengganggu atau kondisi
alam yang kurang baik bagi usaha tani, serta kesesuaian terhadap perkembangan
teknologi pertanian yang lain. Hasil yang tinggi menjamin terjaganya persediaan
bahan mentah untuk diolah lebih lanjut. Usaha perbaikan kualitas produk adalah
tujuan utama kedua. Tujuan semacam ini dapat diarahkan pada perbaikan ukuran,
warna, kandungan bahan tertentu (atau penambahan serta penghilangan substansi
tertentu), pembuangan sifat-sifat yang tidak disukai, ketahanan simpan, atau
keindahan serta keunikan. Untuk itu, kegiatan seleksi harus dilakukan untuk
memilih bibit unggul serta membuang sifat-sifat yang tidak disukai.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum acara seleksi ini antara lain
adalah :
1. Mengetahui komposisi genetik dari populasi tanamn allogam dan
segregasi keturunannya
2. Mengetahui pengaruh seleksi terhadap perubahan komposisi genetik suatu
populasi tanaman allogam dari satu generasi ke generasi lain.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi alel dan genotip


dalam kumpulan gen suatu populasi tetap konstan selama beberapa generasi
kecuali kalau ada yang bertindak sebagai agen selainan rekombinasi seksual.
Dengan kata lain pergeseran seksual alel akibat meiosis dan fertilisasi acak akan
tidak berpengaruh terhadap struktur genetik suatu populasi (Syamsuri, 2004).
Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa dalam populasi yang besar dimana
tidak terjadi seleksi. Migrasi dan mutasi maka frekuensi alel akan tetap sama dari
generasi ke generasi. Penyimpanan proporsi alel dan genotip dari Hukum Hardy-
Weinberg dapat terjadi karena mutasi, rekombinasi, isolasi migrasi, dan seleksi
(Yeh, 2000 dalam Hasnah, 2004)
Suatu populasi dapat dicarikan dengan frekuensi alel dan frekuensi
genotipnya. Frekuensi alel adalah frekuensi relatif dari suatu alel dalam
populasi(jumlah alel terhadap total alel yang terdapat dalam suatu populasi)
selanjutnya dinyatakan keragaman genetik terjadi apabila terdapat dua alel atau
lebih dalam suatu populasi. Keragaman genetik dapat diukur secara akurat dengan
nilai heterosigositas (h). (Sumantri, 2008)
Hukum Hardy-Weinberg memudahkan kita dalam asumsi apakah suatu
populasi berada dalam kesetimbangan yang stabil frekuensi alelnya yakni dengan
membandingkan populasi alel dalam lokasinya berada.(Kusdiarti, 2008)
Hukum Hardy-Weinberg ini berfungsi sebagai parameter evolusi dalam
suatu populasi. Bila frekuensi gen dalam suatu populasi selalu konstan dari
generasi ke generasi, maka populasi tersebut tidak mengalami evolusi. Bila salah
satu saja syarat tidak dipenuhi maka frekuensi gen berubah, artinya populasi
tersebut telah dan sedang mengalami evolusi (Russel, 1992).
Alel ialah gen yang terletak pada lokus yang sama, memiliki pekerjaan yang
sama persis, hampir sama atau berlawanan tapi untuk satu tugas tertentu. Gen A
yang bermutasi itu kini diberi simbol a, karena karakter yang ditumbuhkannya
bersifat resesif, artinya kalau sama terdapat pada satu tubuh dengan gen A , ia
akan ditutupi atau dikalahkan. Gen A itu disebut dominan terhadap a.Kedua gen A
dan a masih terletak pada lokus yang sama (Yatim, 1996).
Seleksi adalah suatu tindakan untuk memilih ternak yang dianggap
mempunyai mutu genetik baik untuk dikembangkan lebih lanjut serta
menyingkirkan ternak yang kurang baik. Tujuan seleksi mengubah frekuensi gen.
(Suryo, 2001)
Frekuensi gen adalah proporsi suatu alel yang terdapat dalam suatu
populasi, sedangkan frekuensi genotipe adalah proporsi suatu genotipe yang
terdapat dalam populasi tersebut (Mangoendidjojo, 2003). Seleksi dapat
menyebabkan perubahan pada frekuensi alel dari waktu ke waktu. Namun,
perubahan hanya pada frekuensi alel dari generasi ke generasi tidak selalu
menunjukkan seleksi yang sedang bekerja. (Noor,1996)
Allogami atau penyerbukan silang adalah proses penyerbukan melibatkan
serbuk sari dari bunga individu lain tetapi masih dalam 1 jenis/spesies. Tanaman
allogami akan selalu mengalami segregasi bebas yakni komposisi genetik dan
populasi alel tersebut akan tidak selalu sama dengan generasi sebelumnya ataupun
berikutnya.(Widyastuti et al, 2012) Tumbuhan yang menyerbuk silang itu terjadi
karena beberapa hal diantaranya alat kelamin tidak masuk bersamaan,.
Keberhasilan persilangan ditentukan oleh waktu persilangan (antara jam 10.00-
13,00), metode penyerbukan, serta kematangan bunga jantan dan betina.
Perlakuan kastrasi bunga jantan juga menentukan keberhasilan persilangan
(Subantoro, 2008)
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Hari/Tanggal : Rabu - Rabu/ 7 – 14 November 2018
Waktu : 9.20 – 11.00
Tempat : Laboratorium Bioteknologi I FP UPN Veteran Jawa Timur
3.2 Bahan dan Alat Praktikum
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah manik-manik hitam
dan putih masing-masing berjumlah 128. Sedangkan alat yang digunakan adalah 2
kantong hitam yang nantinya akan diisi 64 manik hitam dan 64 manik putih.
Kantong tersebut mewakili masing masing dari jenis kelamin tetua sedangkan
manik hitam mewakili genotip A (dominan) dan manik putih mewakili genotip a
(resesif).
3.3 Cara Kerja
A. Tidak Ada Seleksi
1. Suatu populasi tanaman allogam yang mempunyai frekuensi gen
A=p=0,5 dan a=q=0,5.
2. Mengambil 64 manik hitam dan 64 manik putih ke dalam kantong
dan mengacak manik-manik agar tercampur dengan rata. Manik dalam
kantong ini dianggap genotip tetua betina.
3. Membuat lagi komposisi manik yang sama pada kantong lainnya
sebagai individu jantan.
4. Membuat persilangan buatan dengan mengambil dua manik secara
acak dari masing-masing kantong.
5. Mencatat warna manik yang muncul, kemudian memasukkannya
kembali ke masing-masing kantong. Melakukan persilangan tersebut
sebanyak 16 kali. Kemudian menghitung jumlah frekuensi gen A dan
frekuensi gen a keturunan F1.
6. Membentuk generasi II (populasi baru) dengan perbandingan
genotipnya sesuai dengan yang diperoleh pada hasil persilangan F1.
7. Melakukan percobaan ini hingga generasi ke 5.
8. Membuat grafik frekuensi gen dominan dan resesif dari generasi I
– generasi V
B. Seleksi Lengkap
1. Membuat persilangan seperti percobaan sebelumnya dengan
mempunyai frekuensi gen A=p=0,5 dan a=q=0,5.
2. Untuk menunjukkan adanya seleksi lengkap terhadap individu
homozigot resesif, maka setiap persilangan yang salah satu atau
keduanya homozigot resesif tidak dicatat.
3. Melakukan persilangan tersebut sebanyak 16 kali. Kemudian
mencatat genotip yang dihasilkan pada generasi I.
4. Membuat grafik frekuensi gen dominan dan resesif dari generasi I
– generasi V.
C. Seleksi Tak Lengkap
1. Membuat persilangan seperti percobaan sebelumnya dengan
mempunyai frekuensi gen A=p=0,5 dan a=q=0,5.
2. Untuk menunjukkan adanya seleksi tak lengkap, maka setiap
persilangan dari orang tua yang salah satunya atau keduanya
bergenotipe resesif (aa) hanya menghasilkan dua keturunan (yang dua
keturunan lainnya diseleksi) , sedang persilangan normal menghasilkan
empat keturunan.
3. Menentukan susunan genotip dan frekuensi gen yang diperoleh
setelah terjadi persilangan.
5. Melakukan persilangan tersebut sebanyak 16 kali. Kemudian
mencatat genotip yang dihasilkan pada generasi I.
4. Membuat grafik frekuensi gen dominan dan resesif dari generasi I
– generasi V.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


A. Tidak ada seleksi

1. Generasi 1

Keturunan
Persilangan Frekuensi Total
AA Aa Aa
AA x AA 3/16 3 3 x 4 = 12
AA x Aa 7/16 7 7 x 2 = 14 7 x 2 = 14
AA x aa 3/16 3 3 x 4 = 12
Aa x Aa 2/16 2 2x1=2 2x2=4 2x1=2
Aa x aa 0/16 0 0x2=0 0x2=0
aa x aa 1/16 1 1x4=4
Total 16 28 30 6
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 28 x 2 ) + 30 = 86
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 6 x 2 ) + 30 = 42

2. Generasi 2

Keturunan
Persilangan Frekuensi Total
AA Aa Aa
AA x AA 2/16 2 2x4=8
AA x Aa 5/16 5 5 x 2 = 10 5x2=8
AA x aa 3/16 3 3 x 4 = 12
Aa x Aa 3/16 3 3x1=3 3x2=6 3x1=3
Aa x aa 1/16 1 1x2=2 1x2=2
aa x aa 2/16 2 2x4=8
Total 16 21 30 13
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 21 x 2 ) + 30 = 72
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 13 x 2 ) + 30 = 56

3. Generasi 3

Keturunan
Persilangan Frekuensi Total
AA Aa aa
AA x AA 2/16 2 2x4=8
AA x Aa 8/16 8 8 x 2 = 16 8 x 2 = 16
AA x aa 2/16 2 2x4=8
Aa x Aa 2/16 2 2x1=2 2x2=4 2x1=2
Aa x aa 2/16 2 2x2=4 2x2=4
aa x aa 0/16 0 0x4=0
Total 16 26 32 6
Frekuensi A = ( AA x 2) + Aa = ( 26 x 2 ) + 32 = 84
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 6 x 2 ) + 32 = 44

4. Generasi 4

Keturunan
Persilangan Frekuensi Total
AA Aa aa
AA x AA 5/16 5 5 x 4 = 20
AA x Aa 6/16 6 6 x 2 = 12 6 x 2 = 12
AA x aa 1/16 1 1x4=4
Aa x Aa 2/16 2 2x1=2 2x2=4 2x1=2
Aa x aa 2/16 2 2x2=4 2x2=4
aa x aa 0/16 0 0x4=0
Total 16 34 24 6
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 34 x 2 ) + 24 = 92
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 9 x 2 ) + 24 = 36

5. Generasi 5

Keturunan
Persilangan Frekuensi Total
AA Aa aa
AA x AA 2/16 2 2x4=8
AA x Aa 6/16 6 6 x 2 = 12 6 x 2 = 12
AA x aa 3/16 3 3 x 4 = 12
Aa x Aa 3/16 3 3x1=3 3x2=6 3x1=3
Aa x aa 1/16 1 1x2=2 1x2=2
aa x aa 1/16 1 1x4=4
Total 16 23 32 9
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 23 x 2 ) + 32 = 78
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 9 x 2 ) + 32 = 50
Grafik Perubahan Frekuensi Gen dari
Generasi 1-5 Akibat Tanpa Seleksi
100 92
86 84
78
Frekuensi gen 80 72
56
60 50
42 44
36 frekuensi A
40
frekuensi a
20

0
Generasi Generasi Generasi Generasi Generasi
1 2 3 4 5

Grafik 4.1.1 Perubahan Frekuensi Gen dari Generasi 1-5 Akibat Seleksi
Tak Lengkap

B. Pengaruh seleksi lengkap terhadap perubahan frekuensi gen

1. Generasi 1 *
Persilangan Frekuensi Total Keturunan
AA Aa aa
AA x AA 0/16 0 0x4=0
AA x Aa 6/16 6 6 x 2 = 12 6 x 2 = 12
Aa x Aa 2/16 2 2x1=2 2x2=4 2x1=2
Total 13 13 14 5
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 13 x 2 ) + 14 = 40
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 5 x 2 ) + 14 = 24

2. Generasi 2
Persilangan Frekuensi Total Keturunan
AA Aa aa
AA x AA 1/16 1 1x4=4
AA x Aa 4/16 4 4x2=8 4x2=8
Aa x Aa 4/16 4 4x1=4 4x2=8 4x1=4
Total 13 16 16 4
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 16 x 2 ) + 16 = 48
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 4 x 2 ) + 16 = 24
3. Generasi 3
Persilangan Frekuensi Total Keturunan
AA Aa aa
AA x AA 2/16 2 2x4=8
AA x Aa 7/16 7 7 x 2 = 14 7 x 2 = 14
Aa x Aa 3/16 3 3x1=3 3x2=6 3x1=3
Total 14 25 20 3
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 25 x 2 ) + 20 = 70
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 3 x 2 ) + 20 = 26

4. Generasi 4
Persilangan Frekuensi Total Keturunan
AA Aa aa
AA x AA 3/16 3 3 x 4 = 12
AA x Aa 10/16 10 10 x 2 = 20 10 x 2 =
20
Aa x Aa 1/16 1 1x1=1 1x2=2 1x1=1
Total 14 33 22 1
Frekuensi A = (AA x 2) + Aa = ( 33 x 2 ) + 22 = 88
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 1 x 2 ) + 22 = 24

5. Generasi 5
Persilangan Frekuensi Total Keturunan
AA Aa aa
AA x AA 5/16 5 5 x 4 = 20
AA x Aa 6/16 6 6 x 2 = 12 6 x 2 = 12
Aa x Aa 2/16 2 2x1=2 2x2=4 2x1=2
Total 15 34 16 2
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 34 x 2 ) + 16 = 84
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 2 x 2 ) + 16 = 20
Grafik Perubahan Frekuensi Gen dari
Generasi 1-5 Akibat Seleksi Lengkap
100 88 84
Frekuensi gen 80 70

60 48
40
frekuensi A
40 26
24 24 24 20 frekuensi a
20

0
Generasi Generasi Generasi Generasi Generasi
1 2 3 4 5

Grafik 4.1.2 Perubahan Frekuensi Gen dari Generasi 1-5 Akibat Seleksi
Tak Lengkap

C. Pengaruh seleksi tak lengkap terhadap perubahan frekuensi gen

1. Generasi 1

Persilangan Frekuensi Total Keturunan


AA Aa aa
AA x AA 2/21 2 2x4=8
AA x Aa 5/21 5 5 x 2 = 10 5 x 2 = 10
AA x aa 3/21 3 3x2=6
Aa x Aa 4/21 4 4x1=4 4x2=8 4x1=4
Aa x aa 5/21 5 5x1=5 5x1=5
aa x aa 2/21 2 2x2=4
Total 21 22 29 13
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 22 x 2 ) + 29 = 73
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 13 x 2 ) + 29 = 55
2. Generasi 2

Persilangan Frekuensi Total Keturunan


AA Aa aa
AA x AA 5/22 5 5 x 4 = 20
AA x Aa 4/22 4 4x2=8 4x2=8
AA x aa 0/22 0 0x2=0
Aa x Aa 5/22 5 5x1=5 5 x 2 = 10 5x1=5
Aa x aa 5/22 5 5x1=5 5x1=5
aa x aa 0/22 0 0x2=0
Total 22 33 23 10
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 33 x 2 ) + 23 = 89
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 10 x 2 ) + 23 = 43

3. Generasi 3

Persilangan Frekuensi Total Keturunan


AA Aa aa
AA x AA 4/18 4 4 x 4 = 16
AA x Aa 8/18 8 8 x 2 = 16 8 x 2 = 16
AA x aa 1/18 1 1x2=2
Aa x Aa 1/18 1 1x1=1 1x2=2 1x1=1
Aa x aa 4/18 4 4x1=4 4x1=4
aa x aa 0/18 0 0x2=0
Total 18 33 24 5
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 33 x 2 ) + 24 = 90
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 5 x 2 ) + 24 = 34

4. Generasi 4

Persilangan Frekuensi Total Keturunan


AA Aa aa
AA x AA 7/18 7 7 x 4 = 28
AA x Aa 5/18 5 5 x 2 = 10 5 x 2 = 10
AA x aa 1/18 1 1x2=2
Aa x Aa 4/18 4 4x1=4 4x2=8 4x1=4
Aa x aa 1/18 1 1x1=1 1x1=1
aa x aa 0/18 0 0x2=0
Total 20 42 21 5
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 42 x 2 ) + 21 = 105
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 5 x 2 ) + 21 = 31

5. Generasi 5

Persilangan Frekuensi Total Keturunan


AA Aa aa
AA x AA 5/17 5 5 x 4 = 20
AA x Aa 9/17 9 9 x 2 = 18 9 x 2 = 18
AA x aa 0/17 0 0x2=0
Aa x Aa 2/17 2 2x1=2 2x2=4 2x1=2
Aa x aa 1/17 1 1x1=1 1x1=1
aa x aa 0/17 0 0x2=0
Total 17 40 23 3
Frekuensi A = ( AA x 2 ) + Aa = ( 40 x 2 ) + 23 = 103
Frekuensi a = ( aa x 2 ) + Aa = ( 3 x 2 ) + 23 = 29
Grafik Perubahan Frekuensi Gen dari
Generasi 1-5 Akibat Seleksi Tak Lengkap
120 105 103
100 89 90
73
Frekuensi gen
80
55
60 43 frekuensi A
34 31 29
40 frekuensi a
20

0
Generasi Generasi Generasi Generasi Generasi
1 2 3 4 5

Grafik 4.1.3 Perubahan Frekuensi Gen dari Generasi 1-5 Akibat Seleksi
Tak Lengkap

4.2 Pembahasan
Percobaan pengaruh seleksi terhadap perubahan struktur genetik (frekuensi
gen) dilakukan dengan perlakuan tanpa seleksi, seleksi lengkap, dan seleksi tidak
lengkap.
Hasil menunjukkan bahwa pada perlakuan tanpa seleksi, akan
menghasilkan garis yang saling bercerminan satu sama lain, cenderung
menyerupai baris aritmatik. Ini menunjukkan bahwa perlakuan tanpa seleksi tidak
menyebabkan perubahan struktur gen secara nyata, karena pada setiap generasi,
hasil frekuensi tersebut akan memiliki selisih yang sama baik gen dominan
maupun resesifnya. Sedangkan pada perlakuan seleksi lengkap, akan
menghasilkan perubahan yang mencolok pada grafik (frekuensi gen dominan
meningkat tajam sedangkan gen resesif cenderung berkurang tetapi tidak
signifikan). Ini menunjukkan bahwa seleksi lengkap pada gen homozigot resesif
akan berdampak pada hasil persilangan berikutnya dan benar berpengaruh nyata
menyebabkan perubahan struktur gen dari generasi satu ke generasi lain. Lalu,
pada perlakuan seleksi tidak lengkap akan menghasilkan perubahan pada setiap
gen dominan dan resesif, namun gen dominan membentuk pola seperti baris
geometrik dan gen resesif membentuk baris aritmatik. Hal ini disebabkan karena
hanya sebagian kecil dari homozigot resesif yang diseleksi dapat memberikan
perubahan struktur gen dari satu generasi ke generasi lain.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan


bahwa perlakuan Seleksi mempengaruhi perubahan struktur genetik pada tanaman
allogam seperti yang didapatkan pada hasil analisa frekuensi alel F1 sampai
F5 pada perlakuan tanpa seleksi, seleksi lengkap, dan seleksi tidak lengkap.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan dari praktikum ini yaitu praktikan
diharapkan cermat, serius, dan profesional saat melakukan praktikum karena
praktikum ini membutuhkan ketelitian dan toleransi kesalahan yang tinggi.
Daftar Pustaka

Hasnah, T.M. 2014. Keragaman Genetik Meranti (Shorea leprosala) Asal


Kalimantan dengan Analisis Isozim . J. Penelitian Dipterokarpa 8(1) :35-46

Kusdiarti, L. 2008. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press

Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta:


Penerbit Kanisius

Noor, R. R. 1996. Genetika Ternak. Jakarta: Penebar Swadaya.

Russel. 1992. Genetics. New York : HarperCollins Publisher.

Syamsuri. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga,

Yatim, W. 1996. Genetika. Bandung: Tarsito.

Subantoro, R. S. W. dan Rosi P. 2008. Pemuliaan Tanaman Padi (Oryza sativa L)


Varietas Lokal Menjadi Varietas Lokal yang Unggul. Jurnal Mediagro 4 (2)
: 62-74

Suryo. 2001. Genetika manusia. Yogyakarta: Gajah Mada University press.

Widyastuti, Y., Rumanti, dan I. A. Satoto. 2012. Perilaku Pembungaan Galur-


Galur Tetua Padi Hibrida . Jurnal IPTEK Tanaman Pangan 7 (2) : 67-78