Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencemaran lingkungan dan penyalahgunaan bahan kimia pada pertanian, bahan
makanan dan kosmetik dapat memberikan dampak terhadap kesehatan makhluk hidup,
termasuk logam berat (merkuri / Hg, timbal/Pb, Arsen/As dll). Logam berat sesungguhnya
merupakan komponen alami di tanah dengan sifat non-degradable (tidak dapat
didegradasi).Logam berat dapat menjadi berbahaya atau beracunapabila kadarnya di dalam
tubuh berlebihan. Senyawa ini juga dapat mengumpul dan tetap tinggal dalam jangka
waktu lama di dalam tubuh sebagai racun terakumulasi atau biasa dikenal dengan istilah
bioakumulasi.
Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh makhluk hidup melalui berbagai
sumber seperti bahan pangan, air minum, udara, bahkan melalui sediaan kosmetika.
Pencemaran logam berat pada bahan pangan dan air minum disebabkan oleh pencemaran
lingkungan pada air dan pada tanah akibat berbagai kegiatan manusia, termasuk di sektor
industri dan pembangunan.
Limbah industri biasanya banyak mengandung logam-logam berat. Cemaran
limbah yang tidak terorganisir dengan baik akan mencemari sungai dan tanah disekitar area
pabrik tersebut dan dapat berdampak pada pertumbuhan berbagai tanaman (sayuran dan
buah) serta kehidupan makhluk hidup perairan (ikan dan hasil laut). Kemudian jika
manusia dan hewan mengkonsumsi hasil pangan dari tanaman dan air tercemar tersebut,
maka dapat berpotensi menyebabkan bahaya kesehatan.
Logam berat juga dapat mencemari berbagai kosmetika seperti timbal, dan
merkuri pada lipstik; merkuri pada krim pemutih kulit, arsen, dan timbal pada maskara:
oksida logam. timbal asetat, tembaga, dan besi pada pewarna rambut; serta oksida logam
pada tabir surya.
Akibat bahaya yang disebabkan oleh berbagai cemaran dan penyalah gunaan
logam tersebut, pemantauan logam di lingkungan menjadi perhatian utama dalam beberapa
dekade belakangan ini.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa itu Timbal, Arsen dan Merkuri ?
b. Apa saja sumber paparan dari Timbal,Arsen dan Merkuri ?
c. Bagaimana cara masuk Timbal, Arsen dan Merkuri ke dalam tubuh ?
d. Berapa nilai ambang batas untuk Timbal, Arsen, dan Merkuri ?
e. Apa saja efek toksisitas dari Timbal, Arsen dan Merkuri terhadap tubuh ?

1
1.3 Tujuan Pembahasan
a. Untuk mengetahui apa itu Timbal, Arsen dan Merkuri.
b. Untuk mengetahui sumber paparan dari Timbal, Arsen dan Merkuri.
c. Untuk mengetahui nilai ambang batas dari Timbal, Arsen dan Merkuri.
d. Untuk mengetahui bagaimana cara masuknya Timbal, Arsen dan Merkuri masuk
ke dalam tubuh.
e. Untuk mengetahui toksisitas akibat tercemar oleh Timbal, Arsen dan Merkuri.

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Timbal (Plumbum = Pb)


1.1 Karakteristik dan Sifat Timbal
Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat yang sering juga disebut dengan
istilah timah hitam. Timbal memiliki titik lebur yang rendah, mudah dibentuk, memiliki sifat
kimia yang aktif sehingga biasa digunakan untuk melapisi logam agar tidak timbul
perkaratan. Timbal adalah logam yang lunak berwarna abu-abu kebiruan mengkilat dan
memiliki bilangan oksidasi +2.
Timbal merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup
karena bersifat karsinogenik, dapat menyebabkan mutasi, terurai dalam jangka waktu lama
dan toksisistasnya tidak berubah.
Timbal dapat mencemari udara, air, tanah, tumbuhan, hewan, bahkan manusia. Masuknya
timbal ke tubuh manusia dapat melalui makanan dari tumbuhan yang biasa dikonsumsi
manusia seperti padi, teh dan sayur-sayuran. Logam Pb terdapat diperairan baik secara
alamiah maupun sebagai dampak dari aktivitas manusia.Logam ini masuk ke perairan
melalui pengkristalan Pb di udara dengan bantuan air hujan. Selain itu, proses korofikasi dari
batuan mineral juga merupakan salah satu jalur masuknya sumber Pb ke perairanTimbal (Pb)
merupakan logam yang bersifat neurotoksin yang dapat masuk dan terakumulasi dalam tubuh
manusia ataupun hewan, sehingga bahayanya terhadap tubuh semakin meningkat.

1.2 Sumber Paparan Timbal (Pb)


a) Sumber dari Alam
Kadar Pb yang secara alami dapat ditemukan dalam bebatuan sekitar 13 mg/kg.
Khusus Pb yang tercampur dengan batu fosfat dan terdapat didalam batu pasir (sand
stone) kadarnya lebih besar yaitu 100 mg/kg. Pb yang terdapat di tanah berkadar
sekitar 5-25 mg/kg dan di air bawah tanah (ground water) berkisar antara 1-60
µg/liter.
Secara alami Pb juga ditemukan di air permukaan. Kadar Pb pada air telaga dan
air sungai adalah sebesar 1-10 µg/liter. Dalam air laut kadar Pb lebih rendah dari
dalam air tawar. Laut Bermuda yang dikatakan terbebas dari pencemaran
mengandung Pb sekitar 0,07 µg/liter. Kandungan Pb dalam air danau dan sungai di
USA berkisar antara 1-10 µg/liter.
Secara alami Pb juga ditemukan di udara yang kadarnya berkisar antara 0,0001 -
0,001 µg/m3. Tumbuh-tumbuhan termasuk sayur-mayur dan padi-padian dapat
mengandung Pb, penelitian yang dilakukan di USA kadarnya berkisar antara 0,1-1,0

3
µg/kg berat kering. Logam berat Pb yang berasal dari tambang dapat berubah
menjadi PbS (golena), PbCO3 (cerusite) dan PbSO4 (anglesite) dan ternyata golena
merupakan sumber utama Pb yang berasal dari tambang. Logam berat Pb yang
berasal dari tambang tersebut bercampur dengan Zn (seng) dengan kontribusi 70%,
kandungan Pb murni sekitar 20% dan sisanya 10% terdiri dari campuran seng dan
tembaga.

b) Sumber dari Industri


 Industri pengecoran maupun pemurnian. Industri ini menghasilkan timbal
konsentrat (primary lead), maupun secondary lead yang berasal dari
potongan logam (scrap).
 Industri baterai. Industri ini banyak menggunakan logam Pb terutama lead
antimony alloy dan lead oxides sebagai bahan dasarnya.
 Industri bahan bakar. Pb berupa tetra ethyl lead dan tetra methyl lead
banyak dipakai sebagai anti knock pada bahan bakar, sehingga baik industri
maupun bahan bakar yang dihasilkan merupakan sumber pencemaran Pb.
 Industri kabel. Industri kabel memerlukan Pb untuk melapisi kabel. Saat ini
pemakaian Pb di industri kabel mulai berkurang, walaupun masih digunakan
campuran logam Cd, Fe, Cr, Au dan As yang juga membahayakan untuk
kehidupan makluk hidup.
 Industri kimia, yang menggunakan bahan pewarna. Pada industri ini
seringkali dipakai Pb karena toksisitasnya relatif lebih rendah jika
dibandingkan dengan logam pigmen yang lain. Sebagai pewarna merah pada
cat biasanya dipakai red lead, sedangkan untuk warna kuning dipakai lead
chromate.

c) Sumber dari Transportasi


Hasil pembakaran dari bahan tambahan (aditive) Pb pada bahan bakar
kendaraan bermotor menghasilkan emisi Pb inorganik. Logam berat Pb yang
bercampur dengan bahan bakar tersebut akan bercampur dengan oli dan melalui
proses di dalam mesin maka logam berat Pb akan keluar dari knalpot bersama
dengan gas buang lainnya.

1.3. Cara Masuknya Timbal ke Dalam Tubuh


Timbal dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan,pemaparan maupun saluran pencernaan. Lebih kurang 90 % partikel
timbal dalam asap atau debu halus di udara dihisap melalui saluran pernafasan.
Penyerapan di usus mencapai 5 – 15 % pada orang dewasa. Pada anak anak lebih
tinggi yaitu 40 % dan akan menjadi lebih tinggi lagi apabila si anak kekurangan

4
kalsium, zat besi dan zinc dalam tubuhnya. Laporan yang dikeluarkan Poison
Center Amerika Serikat menyatakan anak-anak merupakan korban utama
ketoksikan timbal; dengan 49 % dari kasus yang dilaporkan terjadi pada anak-
anak berusia kurang dari 6 tahun. Yang lebih menghawatirkan adalah efeknya
terhadap kecerdasan (IQ) anak – anak, sehingga menurunkan prestasi belajar
mereka, walaupun kadar timbal di dalam darah mereka tidak dianggap toksik.

1.4. Nilai Ambang Batas


Nilai ambang batas timbal pada tubuh manusia menurut Menteri
Kesehatan (2002) dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1406/MENKES/SK/IX/2002 tentang standar pemeriksaan kadar timah
hitam pada spesimen biomarker manusia, pengukuran kadar timbal pada tubuh
manusia dapat dilakukan melalui spesimen darah, urine, dan rambut. Adapun
pada masing-masing spesimen tersebut memiliki nilai ambang batas yang
berbeda-beda, yaitu:
a. Spesimen darah
Nilai ambang batas kadar timbal dalam spesimen darah pada orang
dewasa normal adalah 10-25 µg per desiliter.
b. Spesimen urine
Nilai ambang batas kadar timbal dalam spesimen urine 150 µg/ml
creatinine.
c. Spesimen rambut
Nilai ambang batas kadar timbal dalam spesimen rambut 0,007-1,17
mg Pb/100gr Jaringan Basah. (Palar, 2008)

Untuk dapat mengetahui kandungan timbal di dalam tubuh manusia


ditetapkan cara yang akurat dalam bentuk pengukuran kadar timbal di dalam
darah dan urine. Konsentrasi timbal di dalam darah merupakan indikator yang
lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi timbal di dalam urine (Chahaya,
2005). Dalam aliran darah sebagian besar Pb diserap dalam bentuk ikatan dengan
eritrosit. Plasma darah mendistribusikan Pb dalam bagian syaraf, ginjal, hati, kulit
dan otot rangka. Sehingga kadar Pb dalam darah dapat menggambarkan
kandungan Pb yang tersebar di seluruh tubuh secara lengkap.

1.5. Mekanisme Timbal dalam Tubuh


a) Absorbsi
Absorbsi timbal melalui saluran pernafasan dapat dipengaruhi oleh tiga
proses yaitu: deposisi, pembersihan mukosiliar dan pembersihan alveolar.
Deposisi tersebut tergantung pada ukuran partikel timbal, volume nafas dan daya
larut. Pembersihan mukosiliar membawa partikel ke faring lalu ditelan,
fungsinya adalah untuk membawa partikel ke eskalator mukosiliar, menembus
lapisan jaringan paru menuju kelenjar limfe dan aliran darah. Sebanyak 30-40%
5
timbal yang diabsorbsi melalui saluran nafas akan masuk ke dalam saluran
pernafasan dan aliran darah, tergantung ukuran, daya larut, volume nafas dan
variasi faal antar individu (Darmono, 2001).
Absorbsi timbal yang melalui saluran pencernaan, biasanya terjadi akibat
timbal tersebut tertelan bersama dengan perilaku merokok, makan dan minum
dengan menggunakan tangan yang sebelumnya telah terkontaminasi oleh timbal.
Hal yang sama terjadi jika memakan makanan yang telah terkontaminasi dengan
debu jalanan. Kurang lebih 5-10% dari timbal yang tertelan diabsorbsi melalui
mukosa saluran pencernaan. Pada orang dewsa timbal diserap melalui usus
sekitar 5-10%, namun terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
misalnya dalam keadaan puasa penyerapan timbal dari usus lebih besar, yaitu
sekitar 15-12% (Darmono, 2001).

b) Distribusi dan penyimpanan


Timbal yang telah diabsorbsi melalui saluran pencernaan didistribusikan
kedalam jaringan lain melalui darah. Dalam tubuh manusia timbal tersebut
terdeteksi dalam (Darmono, 2001):
 Jaringan lunak seperti hati dan ginjal, mempunyai waktu paruh sekitar
beberapa bulan. Terdapat keseimbangan antara kadar timbal dalam darah
dan jaringan lunak. Pada jaringan ini sejumlah timbal didistribusikan dan
yang lainnya didepositkan.
 Darah, timbal tersebut terikat dalam sel darah merah (eritrosit) yaitu
sekitar 95%. Waktu paruh timbal dalam darah sekitar 25-30 hari.
 Tulang dan jaringan keras seperti tulang rawan, gigi dan sebagainya.
Hampir sekitar 90-95% timbal dalam tubuh terdapat dalam tulang,
terutama pada tulang panjang. Waktu paruh mencapai 30-40 tahun.
Tulang berfungsi sebagai tempat pengumpulan timbal karena sifat ion
timbal hampir sama dengan Ca. Jika kadar timbal tersebut dalam darah
menurun, tulang akan mengembalikan timbal tersebut dalam peredaran
darah.

c) Ekskresi
Ekskresi timbal melalui beberapa cara, yang terpenting adalah melalui
ginjal dan saluran pencernaan. Timbal diekskresikan melalui urine sebesar 75-
80%, melalui feses 15% dan lainnya melalui empedu, keringat, kuku dan rambut
(Palar, 2008). Biasanya ekskresi timbal dari tubuh sangat kecil meskipun intake
timbal tiap harinya naik, sehingga dapat menaikkan kandungan timbal yang
terdapat dalam tubuh.

6
1.6. Toksisitas Timbal (Pb)
Timbal adalah logam toksik yang bersifat kumulatif sehingga mekanisme
toksitasnya dibedakan menurut beberapa organ yang dipengaruhinya, yaitu sebagai
berikut :
a. Sistem hemopoeitik, timbal akan menghambat sistem pembentukan
hemoglobin sehingga menyebabkan anemia.
b. Sistem saraf pusat dan tepi, dapat menyebabkan gangguan enselfalopati dan
gejala gangguan saraf perifer.
c. Sistem ginjal, dapat menyebabkan aminoasiduria, fostfaturia,
gluksoria,nefropati, fibrosis dan atrofi glomerular.
d. Sistem gastro-intestinal, dapat menyebabkan kolik dan konstipasi.
e. Sistem kardiovaskular, menyebabkan peningkatan permeabelitas kapiler
pembuluh darah.
f. Sistem reproduksi, dapat menyebabkan kematian janin pada wanita dan
hipospermi dan teratospermia.

2. Arsen (As)
2.1. Karakteristik dan Sifat Arsen
Arsen (As) disebut juga arsenik (arsenikum) yang dilambangkan dengan
symbol As merupakan logam yang sangat toksik dan berpotensi sebagai salah satu
logam yang bersifat karsinogen. Arsen memiliki tititk didih 614oC dan titik lebur
817 oC. Ketika dipanaskan, arsen akan cepat teroksidasi menjadi oksida arsenic, yang
berbau seperti bawang putih.
Kegunaan utama arsen adalah untuk memperkuat campuran tembaga terutama
timbal, khususnya untuk baterai mobil. Arsen juga dipergunakan untuk produksi
pestisida (herbisida, fungisida dan insektisida).

2.2. Sumber Paparan Arsen (As)


Pembakaran batubara dan pelelehan logam merupakan sumber utama pencemaran
arsen dalam udara. Pencemaran arsen terdapat di sekitar pelelehan logam (tembaga
dan timah hitam). Arsen merupakan salah satu hasil sampingan dari proses pengolahan
bijih logam non-besi terutama emas, yang mempunyai sifat sangat beracun. Ketika
tailing dari suatu kegiatan pertambangan dibuang di dataran atau badan air, limbah
unsur pencemar kemungkinan tersebar di sekitar wilayah tersebut dan dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan. Bahaya pencemaran lingkungan ini terbentuk
jika tailing yang mengandung unsur tersebut tidak ditangani secara tepat.
Tingginya tingkat pelapukan kimiawi dan aktivitas biokimia pada wilayah tropis, akan
menunjang percepatan mobilisasi unsur-unsur berpotensi racun. Selanjutnya dapat
memasuki sistem air permukaan atau merembes ke dalam akifer-akifer air tanah

7
setempat. Ini terjadi di negara-negara yang memproduksi emas dan logam dasar.
Sumber pencemaran arsen juga dapat berasal dari:
1. Pembakaran kayu yang diawetkan oleh senyawa arsen pentavalen, dapat
menaikkan kadar arsen di udara
2. Pusat listrik tenaga panas bumi (geothermal) yang dapat menyebabkan
kontaminasi arsen pada udara ambient
3. Pupuk yang di dalamnya mengandung arsen.

2.3. Cara Masuk Arsen ke Dalam Tubuh

Senyawa arsen dapat masuk ke dalam tubuh melalui 3 cara, yaitu peroral,
inhalasi, dan absorpsi melalui kulit / mukosa membran. Arsen bersifat sitotoksik,
karena menyebabkan efek racun pada protoplasma sel tubuh manusia. Racun arsen
yang masuk ke dalam saluran cerna akan diserap secara sempurna di dalam usus dan
masuk ke aliran darah dan disebar ke seluruh organ tubuh. Distribusinya tergantung
dari lama pemberian dan jenis arsen. Sebagian besar arsen disimpan dalam hati, ginjal,
jantung dan paru.

Di dalam darah, arsen yang masuk akan mengikat globulin dalam darah. Dalam
waktu 24 jam setelah dikonsumsi, arsen dapat ditemukan dalam konsentrasi tinggi di
berbagai organ tubuh, seperti hati, ginjal, limpa, paru-paru serta saluran cerna,
dimana arsen akan mengikat gugus syulfhidril dalam protein jaringan. Hanya
sebagian kecil dari arsen yang menembus blood-brain barrier. Arsen anorganik yang
masuk ke tubuh wanita hamil dapat menembus sawar darah plasenta dan masuk ke
tubuh janin.Didalam tulang arsen menggantikan posisi fosfor, sehingga arsen dapat
dideteksi didalam tulang setelah bertahun-tahun kemudian. Sebagian arsen dibuang
melalui urin dalam bentuk methylated arsenic dan sebagian lainnya ditimbun dalam
kulit, kuku dan rambut.

2.4. Kadar Ambang Batas Arsen


Kadar normal arsen dalam serum adalah kurang dari 5 µg/ L. Nilai ambang
batas dalam air minum adalah 0,2 ppm. Pada orang dewasa kadar normal dalam urin
100 µg/L, rambut 0,5 mg/kg. Kadar dalam rambut pada keracunan 0,75 mg/kg dan
pada kuku 1 mg/kg atau lebih. Kadar normal dalam darah normal anak-anak 30 µg/L,
urine 100 µg/24 jam.

Pada pemeriksaan laboratorium dicurigai keracunan arsen bila kadar arsen


pada bahan yang diperiksa diatas batas normal :

Spesimen Normal Dicurigai Keracunan

Rambut 0,5 mg/kg 0,75 mg/kg 30 mg/kg

Kuku 1 mg/kg 1 mg/kg 80 ug/kg

8
2.5. Toksisitas Arsen (As)
Toksisitas senyawa arsenik sangat bervariasi. Bentuk organik memiliki toksisitas
yang lebih rendah daripada bentuk arsenik anorganik. Penelitian telah menunjukkan
bahwa arsenites (trivalen bentuk) memiliki toksisitas akut yang lebih tinggi daripada
arsenates (pentavalent bentuk). Minimal dosis akut arsenik yang mematikan pada
orang dewasa diperkirakan 70-200 mg atau 1 mg/kg/hari. Sebagian besar melaporkan
keracunan arsenik tidak disebabkan oleh unsur arsenik, tapi oleh salah satu senyawa
arsen, terutama arsenik trioksida, yang sekitar 500 kali lebih beracun daripada
arsenikum murni.
Efek toksisitas arsen menurut beberapa organ yang dipengaruhinya, yaitu :

1. Pada mata
Gangguan penglihatan dan kontraksi mata pada bagian perifer sehingga
mengganggu daya pandang (visual fields) mata.
2. Pada kulit
Kulit berwarna gelap (hiperpigmentasi), penebalan kulit (hiperkeratosis), timbul
seperti bubul (clavus), infeksi kulit (dermatitis) dan mempunyai efek pencetus
kanker (carcinogenic).
3. Pada darah
Kegagalan fungsi sumsum tulang dan terjadinya pancytopenia (yaitu menurunnya
jumlah sel darah perifer).
4. Pada liver
Mempunyai efek yang signifikan pada paparan yang cukup lama (paparan kronis),
berupa meningkatnya aktifitas enzim pada liver (enzim SGOT, SGPT, gamma
GT), ichterus (penyakit kuning), liver cirrhosis (jaringan hati berubah menjadi
jaringan ikat dan ascites (tertimbunnya cairan dalam ruang perut).
5. Pada ginjal
Kerusakan ginjal berupa renal damage (terjadi ichemia and kerusakan jaringan).
6. Pada saluran pernafasan
Timbulnya laryngitis (infeksi laryng), bronchitis (infeksi bronchus) dan dapat pula
menyebabkan kanker paru.
7. Pada pembuluh darah
Mengakibatkan penyakit arteriosclerosis (rusaknya pembuluh darah), portal
hypertention (hipertensi oleh karena faktor pembuluh darah potal), oedema paru
dan penyakit pembuluh darah perifer (varises, penyakit burger).
8. Pada gastroentestinal
Mual dan muntah, serta nyeri perut.

9
9. Pada sistem reproduksi
Efek arsen terhadap fungsi reproduksi biasanya fatal dan dapat pula berupa cacat
bayi waktu dilahirkan, lazim disebut effek malformasi.
10. Pada sistem imunologi
Penurunan daya tahan tubuh / penurunan kekebalan, akibatnya peka terhadap
bahan karsinogen (pencetus kanker) dan infeksi virus.
11. Pada sistem sel
Rusaknya mitochondria dalam inti sel menyebabkan turunnya energi sel dan sel
dapat mati.

Hubungan hematologi : Anemia, Leukopenia, Bone Marrow Suppresion, Leukimia


dikarenakan :
1. Mengambat sintesis Hb dalam sumsum tulang
2. Memperpendek umur Hb, karena Hb menjadi mudah pecah/ lisis
3. Kedua hal diatas dapat menyebabkan anemia berat
4. Gangguan metabolisme Fe dan sintesis globin dalam Hb
2

3. Merkuri (Hydrargyricum=Hg)
3.1. Karakteristik dan Sifat Merkuri
Merkuri atau juga disebut air raksa atau hydrargyrum adalah elemen kimia
dengan simbol Hg dan memiliki nomor atom 80 berisotop 202 dengan paruh hidup (half-
life) 444 tahun. Merkuri adalah logam berat berwarna keperakan, tetapi merupakan
konduktor panas yang lemah.
Merkuri adalah unsur kimia sangat beracun (toxic). Unsur ini dapat bercampur
dengan enzim di dalam tubuh manusia menyebabkan hilangnya kemampuan enzim
untuk bertindak sebagai katalisator untuk fungsi tubuh yang penting. Logam Hg ini
dapat terserap oleh tubuh melalui saluran pencernaan dan kulit. Merkuri memiliki sifat
sebagai berikut :
1. Berwujud cair pada temperatur kamar.
2. Terjadi pemuaian secara menyeluruh pada temperatur 396°C.
3. Merupakan logam yang paling mudah menguap.
4. Logam yang sangat baik untuk menghantar listrik.
5. Dapat melarutkan berbagai logam untuk membentuk alloy yang disebut juga
amalgam.
6. Merupakan unsur yang sangat beracun bagi hewan dan manusia. Karena sifat
beracun dan cukup volatil, maka uap merkuri sangat berbahaya jika terhisap,
meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.

10
3.2. Sumber Paparan Merkuri (Hg)
Secara alami Hg dapat berasal dari gas gunung berapi dan penguapan dari air laut.
Industri pengecoran logam dan semua industri yang menggunakan Hg sebagai bahan
baku maupun bahan penolong, limbahnya merupakan sumber pencemaran Hg. Sebagai
contoh antara lain adalah industri klor alkali, tambang emas, peralatan listrik, cat,
thermometer, tensimeter, industri pertanian, dan pabrik detonator. Kegiatan lain yang
merupakan sumber pencemaran Hg adalah praktek dokter gigi yang menggunakan
amalgam sebagai bahan penambal gigi. Selain itu bahan bakar fosil juga merupakan
sumber Hg pula (Sudarmaji,dkk.,2006)
Di alam merkuri (air raksa) ditemukan dalam bentuk elemen merkuri (Hg0),
merkuri monovalen (HgI), dan bivalen (HgII). Menurut Waldock (1994), di dalam
Lasut (2001), senyawa metal-merkuri adalah bentuk merkuri organik yang umum
terdapat di lingkungan perairan. Senyawa ini sangat beracun dan diperkirakan 4-31
kali lebih beracun dari bentuk merkuri inorganik. Selain itu, merkuri dalam bentuk
organik yang umumnya berada pada konsentrasi rendah di air dan sedimen adalah
bersifat sangat bioakumulatif (terserap secara biologis). Metil-merkuri dalam jumlah
99% terdapat di dalam jaringan daging ikan.

3.3. Cara Masuk Merkuri ke dalam Tubuh


a. Absorbsi
Merkuri dapat diabsorbsi melalui saluran pencernaan, pernafasan, dan
kontak kulit. Uap senyawa metil merkuri seperti uap metil merkuri klorida
dapat diserap melalui pernafasan hingga 80 %. Penyerapan metil merkuri
dapat juga melalui kulit. Setelah diabsrobsi, merkuri di jaringan mengalami
oksidasi membentuk merkuri divalent (Hg2+) yang dibantu oleh enzim
katalase untuk mempercepat reaksinya. Merkuri juga dapat masuk ke dalam
tubuh melalui paru-paru dalam bentuk uap atau debu. Inhalasi terhadap uap
bakteri akan diabsorbsi melalui sel darah merah lalu ditransformasikan
menjadi merkuri divalent (Hg2+). Akibatnya sebagian merkuri akan menuju
otak yang kemudian diakumulasikan di dalam jaringan (Rianto,2010).
Absorbsi merkuri anorganik melalui gastrointerstinal kurang dari 15 %
pada mencit dan 7 % pada manusia sedangkan absorbs merkuri organic
sebesar 90-95 %. Konsentrasi merkuri ditemukan dalam pajanan merkuri
anorganik dan uap merkuri sedangkan merkuri organic mempunyai afinitas
yang besar terhadap otak (Sari,2002).

b. Metabolisme
Unsur merkuri yang diabsorbsi akan dioksidasi dengan cepat menjadi
ion Hg2+ yang memiliki afinitas terhadap gugus-gugus sulfhidril (-SH) serta
berikatan dengan substrat-substrat yang banyak mengandung gugus tersebut.

11
Metil merkuri dapat dimetabolisme menjadi merkuri anorganik oleh hati dan
ginjal. Merkuri dapat melewati darah,otak, dan plasenta.
Metil merkuri mempunyai afinitas yang kuat terhadap otak. Sekitar 90
% merkuri darah terdapat dalam eritrosit. Senyawa fenil merkuri diubah
dengan cepat menjadi merkuri organik,sedangkan metil merkuro
dimetabolisme secara lambat (Rianto, 2010). Metil merkuri yang ada dalam
saluran pencernaan akan dikonversi menjadi merkuri anorganik oleh flora
usus.

c. Ekskresi
Sifat ekskresi merkuri oleh tubuh adalah sangat lambat. Dalam
percobaan selama 21 hari, anak ayam yang dipelihara hanya akan
mengeksresikan kurang lebih 0,66 % dari total merkuri dalam tubuhnya. Jika
dibandingkan antara mekuri organic dan anorganik, maka merkuri anorganik
relatif lebih mudah dieksresikan. Ekskresi merkuri dari tubuh melalui urin dan
feses dipengaruhi oleh bentuk senyawa merkuri, besar dosis merkuri serta
waktu paparan. Ekskresi metil merkuri sebesar 90 % terjadi melalui feses,
baik paparan akut maupun kronis.

3.4. Nilai Ambang Batas Merkuri


Menurut WHO (1991) dalam Warsono (2000), kadar merkuri maksimal dalam
darah 500 µg/l. Dalam kadar ini sudah dapat menimbulkan gejala parestesia dan
disartria, sedangkan pada kadar 3000-40000 µg/l akan berakibat kematian.Bila kadar
merkuri dalam urin 100-600 µg/l menimbulkan gejala pada susunan saraf pusat berupa
letargia, hiperrefleksia, dan tremor.

3.5. Toksisitas Merkuri

Toksisitas merkuri dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu :

1. Merkuri metal

Rute utama dari pajanan merkuri metal adalah melalui inhalasi; sebanyak
80 % merkuri metal disabsorpsi. Merkuri metal dapat di metabolismekan menjadi
ion inorganik dan dieksresikan dalam bentuk merkuri inorganik. Organ yang
paling sensitif adalah system syaraf (peripheral dan pusat). Gejala neurotoksik
spesifik adalah tremor, perubahan emosi (gugup, penurunan percaya diri, mudah
bersedih), insomania, penurunan daya ingat, sakit kepala,penurunan hasil pada tes
kognitif dan fungsi motorik. Gejala dapat bersifat irreversibel jika terjadi
peningkatan durasi dan atau dosis merkuri.

12
2. Merkuri Anorganik

Garam merkuri anorganik bisa mengakibatkan presipitasi protein, merusak


mukosa, alat pencernaan, termasuk mukosa usus besar, dan merusak membran
ginjal ataupun membran filter glomerulus, menjadi lebih permeabel terhadap
protein plasma yang sebagian besar akan masuk ke dalam urin.
Toksisitas garam merkuri yang larut bisa menyebabkna kerusakan
membran alat pencernaan,eksanterma pada kulit, dekomposisi eritrosit, serta
menurunkan tekanan darah.
Toksisitas kronis dari merkuri anorganik meliputi gejala gangguan system
syaraf, antara lain berupa tremor, terasa pahit di mulut, gigi tidak kuat dan rontok,
anemia, albuminuria, dan gejala lain berupa kerusakan ginjal, serta kerusakan
mukosa usus.

3. Merkuri Organik

Alkil merkuri ataupun metil merkuri lebih toksik dibandingkan merkuri


anorganik karena alkil merkuri bisa membentuk senyawa lipolhilus yang mampu
melintasi membran sel dan lebih mudah diabsorbsi serta berpenetrasi menuju
sistem syaraf, toksisitas merkuri organic sangat luas, yaitu mengakibatkan
disfungsi blood brain barrier, merusak permeabilitas membran, menghambat
beberapa enzim, menghambat sistesis protein, dan menghambat penggunaan
substrat protein. Namun demikian, alkil merkuri ataupun metil merkuri tidak
mengakibatkan kerusakan mukosa sehingga gejala toksisitas merkuri organik
lebih lambat dibandingkan merkuri anorganik.
Gejala toksisitas merkuri organik meliputi kerusakan sistem syaraf pusat
berupa anoreksia, ataksia, dismetria, gangguan pandangan mata yang bisa
mengakibatkan kebutaan, gangguan pendengaran, konvulsi, paresis, koma, dan
kematian.

3.6. Biomarker Pajanan Mekuri


a. Rambut
Penentuan tingkat keracunan merkuri antara lain dapat dilakukan dengan
sampel rambut. Karena dalam tubuh manusia, merkuri tidak diperlukan dan
dapat dibuang melalui rambut. Logam berat dikeluarkan melalui mekanisme
ekskresi (Hartono,2003). Kadar merkuri dalam rambut merupakan salah satu
indikator tingkat kandungan merkuri dalam tubuh dan dapat digunakan untuk
menilai sejauh mana kontaminasi merkuri pada penduduk.Analisis rambut
dapat mengidentifikasi kekurangan nutrisi jangka panjang yang merupakan
akar penyakit serta menemukan logam berat yang berpotensi menimbulkan
penyakit. Rambut memberikan informasi tentang nomor, tipe, dan jumlah

13
logam berat. Proses pertumbuhan rambut dapat digunakan sebagai
rekonstruksi pemajanan pada masa silam yaitu 10 rambut sama dengan 300
hari.
b. Darah
Pemeriksaan sampel darah merupakan pilihan utama apabila
pemaparan merkuri anorganik jangka pendek dengan konsentrasi tinggi
karena merkuri dalam darah meningkat sangat cepat. Untuk pemaparan
merkuri oganik, pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan sampel darah
dan rambut. Pengukuran merkuri dalam darah biasanya digunakan untuk
mengidentifikasi pemaparan metil merkuri.
Pemajanan merkuri dalam darah biasanya melalui makanan (ikan,
kerang, udang) dan air minum. Masyarakat yang gemar mengkonsumsi ikan,
kadar merkuri dalam darahnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarang
mengkonsumsi ikan. Paparan metil merkuri dalam jangka panjang melalui
makanan berhubungan linier dengan kadar merkuri dalam darah. Dan kadar
merkuri dalam darah 5-10 kali lebih rendah dari kadar merkuri dalam otak
(WHO,1990).
c. Urin
Sampel urin merupakan indikator yang baik terhadap kandungan
merkuri anorganik dalam tubuh karena uap merkuri. Hal ini disebabkan
merkuri dalam urin mencapai puncaknya ± 2-3 minggu setelah pemaparan dan
berkurang dengan sangat lambat dengan waktu paruh 40-60 hari untuk
pemaparan jangka pendek dan 90 hari untuk pemaparan jangka panjang (EPA,
2006).
Pada beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda awal
pengaruh kurang baik yang berkaitan dengan system syaraf pusat atau ginjal
dapat dilihat pada konsentrasi kadar merkuri dalam urin antara 25-35 µg/l
keratin. Apabila konsentrasi merkuri dalam urin melebihi 100 µg/l keratin
maka pasti mempunyai resiko kesehatan. Terutama pada sistem syaraf pusat
dapat menyebabkan tremor, rasa cemas, erithism, dan kerusakan ginjal dengan
proteinuria. Sedangkan pada pemaparan antara 50-100 µg/l keratin dalam urin
gejalanya kurang terlihat (IPCS,1994).

14
BAB III

PENUTUP

I. Kesimpulan

Timbal (Pb), Arsen (As), dan Merkuri (Hg) adalah beberapa logam-logam berat
yang bersifat toksik bagi manusia. Logam berat tersebut dapat masuk ke dalam tubuh
makhluk hidup melalui berbagai sumber seperti bahan pangan, air minum, udara, bahkan
melalui sediaan kosmetika. Selain itu pencemaran limbah yang tidak terorganisir dengan
baik akan mencemari sungai dan tanah disekitar area pabrik tersebut dan dapat
berdampak pada pertumbuhan berbagai tanaman (sayuran dan buah) serta kehidupan
/makhluk hidup perairan (ikan dan hasil laut).Interaksi logam-logam berat dengan
molekul-molekul penting sel makhluk hidup menyebabkan rusaknya struktur dan fungsi
sel pada organ target.Senyawa-senyawa tersebut dapat menyebabkan berbagai gangguan
kesehatan seperti kerusakan sistem saraf, kerusakan paru-paru. kerusakan ginjal,
gangguan pencernaan, gangguan peredaran darah, gangguan sistem reproduksi, hingga
kanker kulit.

II. Saran

Dengan adanya informasi yang didapatkan dari makalah ini, diharapkan pembaca
dapat lebih menyadari bahaya dari paparan logam berat di sekitar kita, sehingga dapat
mengurangi bahayanya dengan cara tidak menggunakan produk yang menggunakan
logam berbahaya tersebut,menggunakan alat pelindung diri saat kontak langsung, dan
mengolah sisa limbah berbahaya dengan baik sehingga tidak terjadi pencemaran
lingkungan.

Selain itu penulis menyadari adanya kekurangan dan kesalahan dalam makalah
ini, oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran untuk
menyempurnakan makalah ini di kemudian hari.

15
DAFTAR PUSTAKA

Sembel,Dantje T. 2015. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2008.


Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta. EGC.

https://www.slideshare.net/Authorblue/toksikologi-arsen

https://ejournal.undip.ac.id/index.php/teknik/article/download/1690/1447

https://www.scribd.com/document/370717328/339260622-Arsen-Forensik-docx

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/26317/1/AGUNG%20TAUFIQUR%2
0ROKHMAN%20SY-FKIK.pdf

https://core.ac.uk/download/pdf/11722817.pdf

16