Anda di halaman 1dari 2

Novel sebagai bentuk karya sastra sangat erat hubungannya dengan

kehidupan. Fungsi novel sebagai dulce et utile –bermanfaat sekaligus menghibur–


sedikit banyak memengaruhi kehidupan sehari-hari. Pembaca dapat mengambil
pelajaran melalui permasalahan dalam sebuah novel. Beberapa novel sebagai contoh
karya sastra di antaranya Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, Gadis Pantai karya
Pramoedya Ananta Toer dan Para Priyayi karya Umar Kayam. Novel-novel tersebut
mengandung nilai-nilai yang dipaparkan tanpa membuat pembaca merasa digurui.
Oleh karena itu, dengan adanya permasalahan tersebut maka tulisan ini akan
membahas mengenai nilai-nilai dalam novel, mengomunikasikan nilai-nilai dengan
pembaca, serta kebermanfaatannya untuk pembaca.
Nilai-nilai dalam Novel
Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari menonjolkan nilai-nilai
kebudayaan dimana adat-adat di sebuah desa begitu dijunjung tinggi. Salah satu
budaya yang masih dilakukan oleh warga Karangsoga adalah ketika Darsa jatuh dari
pohon kelapa saat menyadap nira. Mukri segera mengencingi Darsa dan mengatakan
kodok lompat! ketika ia melihat Darsa jatuh dari pohon kelapa. Selain itu terdapat
nilai kehidupan dalam menjalani hidup berumah tangga. Dalam novel ini, Lasi
melarikan diri ke Jakarta karena mengetahui Darsa tak lagi setia sekaligus tidak
menghargai perjuangan Lasi. Meskipun Darsa sendiri tak bermaksud berkhianat pada
istrinya.
Kisah tentang penguasa-penguasa negeri juga mengandung nilai-nilai yang
‘berani’ dalam mengungkap segala sesuatu di balik kekuasaan di negeri ini.
Adapun nilai moral yang terdapat dalam novel Bekisar Merah ialah jangan
pernah mengecewakan atau mengkhianati kepercayaan seseorang yang digambarkan
dalam tokoh Darsa yang mengkhianati Lasi. Membantu sesama meskipun sudah
menjadi kaya, seperti Lasi yang membantu warga desanya.
Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer menguak budaya
feodalisme Jawa, yakni kesenjangan sosial antara golongan atas dengan golongan
bawah. Pandangan ketika orang golongan bawah bisa menikah dengan orang
golongan atas. Pernikahan itu dapat meningkatkan derajat bagi golongan bawah.
Selanjutnya, apabila seorang selir atau bendoro putri melahirkan anak perempuan,
dengan tega keluarga golongan itu akan mengusir wanita itu dengan bayi tetap dalam
keluarga itu. Hal itu disebabkan karena bayi laki-laki dianggap lebih unggul, kelak
dapat meneruskan keturunan golongan atasnya.
Dalam novel ini tidak hanya nilai budaya tetapi juga religius. Sang Bendoro
yang merupakan keturunan Arab, taat beribadah shalat bahkan mengajak dan
mengajari Gadis Pantai untuk shalat. Bendoro juga rajin membaca quran dan
menyuruh Gadis Pantai untuk belajar mengaji.
Novel Para Priyayi
Nilai-nilai dalam ketiga novel di atas dituliskan penulis dengan gaya bahasa
yang berbeda-beda. Tujuannya sama, menyampaikan nilai-nilai kehidupan sebagai
teladan sekaligus menjadi hiburan.
Kebermanfaatan untuk pembaca
Nilai-nilai kultural dalam novel Bekisar Merah mampu menghibur pembaca
dengan kultur yang diangkat melalui desa Karangsoga dan kisah hidup tokoh Lasi.
Novel Gadis Pantai dapat memberikan wawasan bagi pembaca mengenai
kebudayaan Jawa dahulu yang menyimpan sisi lain negatif yakni membeda-bedakan
seseorang sesuai dengan status sosialnya.
Memberikan pembaca agar sisi negatif Budaya Jawa tidak ikut dilestarikan.
Pandangan budaya jawa yang menganggap bayi laki-laki lebih unggul daripada
perempuan sebaiknya mulai dikaburkan karena semua orang sama dihadapan Tuhan,
baik laki-laki maupun perempuan.
Gadis Pantai tidak melupakan orang tua dan kampung halamannya walaupun
sudah menjadi bendoro putri yang mempunyai derajat lebih tinggi.Pada akhir cerita
Gadis Pantai diusir dan bayi perempuannya dipisahkan darinya. Memisahkan ibu dan
anak adalah sikap yang tidak berkemanusiaan.

Kebermanfaatan