Anda di halaman 1dari 11

SUMMARY AUDIT CHAPTER 8

“Prosedur Analitis”

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
8.2 Analytical Procedure

Prosedur Analitis (Analytical Procedures) adalah evaluasi dari informasi keuangan melalui
analisis akan kemungkinan hubungan antara data keuangan (finansial) dan non-keuangan (non-
finansial). Prosedur analitis juga mencakup penyelidikan sedemikian rupa seperti yang
diperlukan dari fluktuasi yang diidentifikasi atau hubungan yang tidak sesuai dengan informasi
yang relevan atau yang berbeda dari nilai-nilai yang diharapkan dalam jumlah yang signifikan.

a. Relationships Among Data (Hubungan Antar Data)

Premis dasar menggunakan prosedur analitis adalah bahwa terdapat hubungan yang masuk akal
antar data dan hubungan ini dapat diharapkan untuk dilanjutkan. Prosedur analitis mencakup
perbandingan laporan keuangan entitas dengan informasi sebelum periode, hasil yang diharapkan
seperti anggaran, dan informasi industri sejenis.

b. Types of Analytical Procedure (Jenis-Jenis Prosedur Analitis)

Prosedur analitis umum meliputi analisis trend, analisis rasio, analisis statistik dan data mining,
dan tes kewajaran.
- Analisis Trend: analisis perubahan dalam saldo rekening dari waktu ke waktu.
- Analisis Rasio: perbandingan hubungan antara akun laporan keuangan, perbandingan
rekening dengan data non-keuangan, atau perbandingan hubungan antara perusahaan dalam
suatu industri.
- Pengujian Kewajaran: analisis saldo akun atau perubahan saldo rekening dalam suatu periode
akuntansi dalam hal kewajaran mereka.
- Data Mining: seperangkat teknik komputer-dibantu yang menggunakan analisis statistik yang
canggih.

Untuk tes ini auditor umumnya menggunakan perangkat lunak audit dibantu komputer (CAAT)

c. When to Use Analytical Procedures (Kapan Menggunakan Prosedur Analitis)

Auditor harus merancang dan melaksanakan prosedur analitis di dekat akhir audit yang
membantu auditor ketika membentuk kesimpulan keseluruhan apakah laporan keuangan
konsisten dengan pemahaman auditor mengenai entitas sesuai dengan ISA 520.

1
d. Computer Assisted Audit Techniques / CAAT (Teknik Audit Dibantu Komputer)

Penggunaan CAAT dapat memungkinkan pengujian lebih luas akan transaksi elektronik dan file
akun. CAAT dapat digunakan untuk memilih transaksi sampel dari key electronic files, memilah
transaksi dengan karakteristik tertentu, atau menguji seluruh populasi daripada sampel. CAAT
tersedia pada perangkat lunak audit umum (generalized audit software/GAS) yang menyediakan
auditor dengan kemampuan untuk mengakses, memanipulasi, mengelola, menganalisis, dan
melaporkan data dalam berbagai format.

8.3 The Analytical Review Process (Proses Ulasan Analitis)

Proses perencanaan, pelaksanaan, dan mencari kesimpulan dari prosedur analitis disebut ulasan
analitis. Ada beberapa pandangan, teoretis dan praktis, dalam sub-proses terkait ulasan analitis.
1. Mental Representation (Representasi 3. Information Search (Pencarian
Mental) Informasi)
2. Hypothesis Generation (Generasi 4. Hypothesis Evaluation (Evaluasi
Hipotesis) Hipotesis)
Auditor secara khusus menghipotesiskan penyebab dan kemungkinan yang terkait,
mengumpulkan bukti untuk menguji hipotesis, dan akhirnya memilih hipotesis mana yang paling
mungkin menyebabkan fluktuasi.

 Four-Phase Process

Suatu pendekatan praktisi yaitu four-phase process adalah yang paling umum digunakan, ada
empat fase yaitu:
- Fase Pertama: merumuskan ekpektasi (expectations);
- Fase Kedua: mambandingkan nilai yang diharapkan dengan nilai tercatat (identification);
- Fase Ketiga: menyelidiki kemungkinan penjelasan untuk perbedaan antara nilai yang
diharapkan dan nilai tercatat (investigate);
- Fase Keempat: mengevaluasi dampak dari perbedaan antara jumlah ekpektasi dan tercatat
dalam audit dan laporan keuangan (evaluation).

2
8.4 Formulation Expectations (Merumuskan Ekspektasi)

Ekspektasi dikambangkan dengan mengidentifikasi hubungan yang secara masuk akal dapat ada
berdasarkan pemahaman auditor akan klien dan industrinya. Hubungan ini dapat ditentukan
dengan membandingkan dengan sumber-sumber berikut:

- Informasi yang dapat dibandingkan - Elemen dari informasi keuangan dalam


untuk periode sebelumnya; periode;
- Hasil yang dinantikan; - Informasi industri serupa;
- Informasi non-keuangan;

a. Sources of Information and Precision of Expectations (Sumber Informasi dan Ketepatan


Ekspektasi)

3
Sumber informasi yang menjadi dasar ekspektasi menentukan ketepatan auditor dalam
memprediksi saldo akun. Ketepatan yang diinginkan dari suatu ekspektasi bervariasi berdasarkan
tujuan dari prosedur analitis.

b. Nature of Account and Characteristics of Data (Sifat Akun dan Karakteristik Data)

Efektivitas dari suatu prosedur analitis adalah suatu fungsi dari sifat akun dan keandalan dan sifat
lain dari data. Semakin suatu data dapat diandalkan, semakin tepat suatu ekspektasi.

8.5 Prosedur Analitis Umum

Prosedur analitis umum terdiri dari trend analysis, ratio analysis, statistical and data mining
analysis, dan reasonable tests. Penentuan dari tipe prosedur analitis yang tepat membutuhkan
pertimbangan profesional. Reviu dari praktik audit mengindikasikan bahwa pendekatan yang
lebih sederhana (seperti perbandingan dan ratio analysis) lebih banyak digunakan dibanding
yang kompleks (seperti time series atau regresi).

Trend analysis adalah analisis dari perubahan saldo akun atau rasio dari waktu ke waktu. Trend
analysis membandingkan saldo tahun sebelumnya dengan saldo yang belum diaudit atau saldo di
beberapa periode. Trend analysis paling baik dilakukan jika akun atau hubungan yang ada dapat
diprediksi dengan andal, dan kurang efektif ketika entitas yang diaudit mengalami perubahan
operasi atau akuntansi yang signifikan. Trend analysis di tingkat agregat memiliki hasil yang
kurang tepat karena nilai salah saji material yang relatif lebih kecil dibanding saldo akun agregat,
dan lebih akurat jika dilakukan pada data non-agregat, seperti segmen, produk, atau data
bulanan.

Ratio analysis adalah perbandingan dari hubungan antara akun laporan keuangan, perbandingan
antara akun dengan data non-keuangan, atau perbandingan dari hubungan antara perusahaan di
dalam sebuah industri. Ratio analysis paling tepat dilakukan ketika hubungan antar akun adalah
stabil dan dapat diperkirakan dengan andal (seperti hubungan antara akun penjualan dan
piutang). Ratio analysis dapat lebih efektif dibanding trend analysis karena perbandingan antara
neraca dan laporan laba rugi dapat menunjukkan fluktuasi yang tidak biasa sementara akun
individual tidak.

4
Rasio yang biasanya digunakan di dalam industri yaitu rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas,
dan aktivitas. Tipe-tipe ratio analysis yang digunakan dalam prosedur analitis:

1. Rasio yang membandingkan data klien dan industri;


2. Rasio yang membandingkan data klien dengan data serupa di periode sebelumnya;
3. Rasio yang membandingkan data klien dengan hasil ekspektasi yang ditentukan klien;
4. Rasio yang membandingkan data klien dengan hasil ekspektasi yang ditentukan auditor;
5. Rasio yang membandingkan data klien dengan hasil ekspektasi menggunakan data non-
keuangan.

Reasonable testing adalah analisis dari saldo akun atau perubahan saldo akun dalam sebuah
periode akuntansi dalam hal kewajaran dalam hal hubungan yang diekspektasikan antar akun.
Hal ini melibatkan pengembangan dari ekspektasi yang didasarkan pada data keuangan maupun
data non-keuangan. Berbeda dengan trend dan ratio analyses, reasonable tests menggunakan
informasi untuk mengembangkan prediksi eksplisit dari saldo akun. Auditor mengembangkan
asumsi untuk setiap faktor kunci (misalnya faktor industri dan ekonomi) untuk mengestimasi
saldo akun.

Trend analysis, ratio analysis, dan reasonableness tests berbeda dalam hal jumlah variabel
prediktif independen yang dipertimbangkan, penggunaan data eksternal, dan keakuratan secara
statistik. Trend analysis yang bergantung pada prediktor tunggal tidak mengizinkan penggunaan
data operasi relevan yang potensial serta prosedur lainnya. Ratio analysis yang menggunakan
informasi keuangan dan non-keuangan yang terkait menghasilkan ekspektasi yang lebih akurat.
Reasonable tests dan regression analysis meningkatkan akurasi dari ekspektasi karena adanya
variabel yang relevan serta penggunaan data eksternal untuk membentuk ekspektasi.

Auditor harus menentukan kemungkinan dari sebuah perusahaan mengalami likuidasi atau tidak
lagi going concern. Asumsi dari going concern adalah perusahaan dilihat sebagai bisnis yang
tetap berlanjut di masa yang akan datang. Laporan keuangan untuk tujuan umum dibuat dalam
basis going concern, kecuali manajemen memiliki intensi untuk likuidasi atau menghentikan
operasi, ataupun tidak ada alternatif lain selain melakukannya. Prosedur analitis dapat
menunjukkan indikasi risiko yang membuat asumsi going concern perlu dipertimbangkan
kembali, seperti indikator finansial, operasional, dan indikator lainnya.

5
8.6 Prosedur Analitis di Fase Berbeda dalam Proses Audit

Prosedur analitis digunakan: (1) untuk memandu auditor dalam merencanakan sifat, waktu, dan
luasan prosedur audit; (2) sebagai prosedur substantif; dan (3) sebagai reviu menyeluruh dari
laporan keuangan dalam tahap akhir dari audit. Auditor diwajibkan untuk mengaplikasikan
prosedur analitis di setiap tahap reviu dalam audit.

Prosedur analitis yang dilaksanakan pada tahap perencanaan (tahap 2 dalam model proses audit)
digunakan untuk mengidentifikasi perubahan yang tidak biasa dalam laporan keuangan, atau
tidak adanya perubahan yang diekspektasikan, dan risiko spesifik. Pada tahap perencanaan,
prosedur analitis biasanya difokuskan pada saldo akun agregat di tingkat dan hubungan laporan
keuangan.

Pada tahap tes substantif (tahap 3 dalam model proses audit), prosedur analitis dilakukan untuk
mendapatkan asurans bahwa saldo akun dalam laporan keuangan tidak mengandung salah saji
material. Prosedur analitis pada tes substantif berfokus pada faktor dasar yang mempengaruhi
saldo akun melalui pengembangan ekspektasi mengenai bagaimana akun tercatat harus terlihat.

Prosedur analitis yang dilakukan pada tahap reviu menyeluruh (fase 4 dalam model proses audit)
dirancang untuk memandu auditor dalam menilai bahwa fluktuasi signifikan dan hal tidak wajar
lainnya telah dijelaskan dengan cukup dan presentasi laporan keuangan keseluruhan telah masuk
akan berdasarkan hasil audit dan pemahaman bisnis. Prosedur analitis dalam tahap reviu
ditujukan untuk menguatkan kesimpulan yang dibuat saat mengaudit komponen individual dalam
laporan keuangan dan memberi panduan dalam menentukan kewajaran laporan keuangan, dan
mungkin juga mengidentifikasi area-area yang membutuhkan prosedur lebih lanjut.

Pertimbangan penting dalam menerapkan prosedur analitis adalah tests of controls atas persiapan
informasi yang digunakan untuk analisis. Ketika kontrol efektif, auditor lebih percaya diri atas
keandalan dari informasi, sehingga hasil prosedur analitis juga lebih andal.

8.7 Prosedur Analitis sebagai Tes Substantif

6
Prosedur substantif dalam audit didesain untuk mengurangi risiko pendeteksian terkait asersi
spesifik dalam laporan keuangan. Tests of details (antara atas saldo atau transaksi) dan prosedur
analitis termasuk dalam tes substantif. Auditor menggunakan prosedur analitis untuk
mengidentifikasi situasi yang membutuhkan prosedur lain (seperti tests of controls, prosedur
audit substantif, dan lainnya), tetapi tidak dimaksudkan untuk mengurangi usaha audit.

Menjalankan prosedur analitis substantif memiliki beberapa keuntungan dibandingkan tests of


details, misalnya auditor dapat menggunakan pemahaman dari bisnis klien yang didapatkan saat
prosedur perencanaan. Prosedur analitis substantif membuat auditor dapat fokus pada faktor
kunci yang mempengaruhi saldo akun. Prosedur analitis substantif dapat lebih efisien dalam
melaksanakan understatement tests.

Akan tetapi, prosedur analitis substantif juga memiliki kelemahan, misalnya lebih banyak
menghabiskan waktu pada saat awal perancangan dan lebih tidak efektif dibanding menjalankan
tests of details dari saldo. Mendapatkan data yang digunakan untuk mengembangkan ekspektasi
dan memastikan keandalan data di tingkat agregat juga lebih memakan waktu dibanding
menjalankan tests of details.

Prosedur analitis lebih tidak efektif ketika diaplikasikan kepada laporan keuangan secara
keseluruhan dibanding kepada informasi keuangan bagian individual dari operasi atau kepada
laporan keuangan dari komponen perusahaan. Prosedur substantif analitis juga tidak selalu
memberikan hasil yang diinginkan setiap tahunnya karena banyak perubahan dan ketidakstabilan
yang terjadi sehingga sulit untuk mengembangkan ekspektasi akurat yang cukup dari jumlah
tercatat dan lebih tepat untuk dilakukan tests of details.

Ketika prosedur analitis disajikan sebagai tes substantif, auditor harus memberikan penjelasan
yang kuat untuk perbedaan signifikan dengan mendapatkan bukti audit yang cukup, dan teknik-
teknik yang dapat digunakan misalnya meminta informasi dari pihak luar atau pihak dalam yang
independen, ataupun mengevalasi bukti pendukung.

Contoh dari penerapan prosedur analitis substantif misalnya menggunakan program CAATs
untuk mendeteksi fraudulent payments dengan membagi-bagi pembayaran berdasarkan ukuran
dan lalu mengeluarkan seluruh pembayaran dalam jumlah besar. Jika auditor mencurigai adanya
fraud dalam area payroll, auditor akan melakukan tes substantif beberapa kali untuk mendeteksi

7
‘ghost employee’, yaitu karyawan yang masih bekerja untuk perusahaan walaupun kontrak
kerjanya sudah dihentikan, atau charges atas lembur yang terlalu besar.

Terdapat 3 tipe tes analitis yang dapat dilaksanakan untuk mendeteksi ketidakwajaran seperti
contoh di atas, yaitu duplicate and validity tests, exception testing, dan rekalkulasi. Duplicate
and validity tests digunakan untuk mendeteksi ghost employee atau terminated employee.
Program CAATs dapat membantu auditor untuk memeriksa duplikasi dari SSN, nama, atau
nomor rekening bank. Cara lain untuk mendeteksi ghost employee adalah auditor dapat
mengidentifikasi karyawan yang tidak pernah mengambil cuti, atau yang tidak memiliki asuransi
atau pengurangan lainnya untuk gaji yang dibayarkan kepadanya. CAATs dapat memverifikasi
bahwa gaji yang dibayarkan berada dalam skala untuk pekerjaan yang dilakukan dan jumlah dari
withholding tax masuk akal.

8.8 Computer Assisted Audit Techniques (CAATs) dan Generalised Audit Software (GAS)

Penggunaan dari CAATs dapat memungkinkan pemeriksaan yang lebih luas atas transaksi
elektronik dan data akun. CAATs umumnya termasuk analisis regresi dan statistik, serta teknik
interogasi data dengan menggunakan GAS. Analisis regresi adalah penggunaan dari model
statistik untuk mengukur ekspektasi auditor dalam istilah-istilah keuangan, dengan risiko yang
dapat diukur dan tingkat ketelitian. Analisis regresi menyediakan tingkat ketelitian yang tinggi,
dan secara potensial memasukkan semua data operasi yang relevan, perubahan di operasi, serta
perubahan di kondisi ekonomi. Paket GAS terdiri dari banyak sekali teknik audit dengan
komputer, baik untuk melakukan prosedur analitikal dan juga pengambilan sampel statistik. GAS
menyediakan auditor kemampuan untuk mengakses, manipulasi, mengatur, menganalisis, dan
melaporkan data dalam beberapa format.

Penggunaan GAS dalam audit membutuhkan konversi data klien ke dalam format umum dan
kemudian dianalisis (interogasi data). Interogasi data adalah sebuah CAAT yang
memperbolehkan auditor untuk melakukan kegiatan audit secara otomatis pada data komputer
klien. Mengekstrak informasi yang sesuai dengan kriteria, memilih informasi, dan memeriksa
ketepatan dari perhitungan dapat dilakukan dengan interogasi data. Interogasi data dapat
memenuhi keempat jenis tugas audit;

1. Mengkonversi Data Klien ke dalam Format Umum;

8
Auditor dapat menggunakan GAS untuk melakukan konversi data klien ke dalam format
umum yang dapat dimanipulasi oleh perangkat lunak tersebut.
2. Menganalisis Data;
GAS dapat menangani data dengan jumlah besar dengan cepat. Pemeriksaan audit yang dapat
dilakukan oleh GAS contohnya seperti; mengidentifikasi semua persediaan terkait produk
yang tidak lagi dijual, memilih semua persediaan yang tidak ada lokasi tercatat, meringkas
persediaan berdasarkan lokasi untuk observasi fisik, reviu akun piutang untuk jumlah yang
melewati batas kredit atau lebih lama daripada periode tertentu, dan lain-lain.
3. Membandingkan Kelompok Data yang Berbeda;
Dengan GAS, auditor dapat membandingkan hal-hal seperti: perubahan di akun piutang di
antara dua tanggal dengan rincian atas penjualan dan penerimaan kas pada data transaksi,
rincian daftar gaji dengan catatan personil, data persediaan terkini dengan periode
sebelumnya untuk melihat produk-produk yang memiliki potensial untuk rusak, dan lain-lain.
4. Memastikan Ketepatan Perhitungan dan Melakukan Perhitungan;
5. Mengambil Sampel Secara Statistik;
6. Memeriksa Celah atau Duplikasi dalam Sebuah Urutan.

Untuk dapat menggunakan prosedur analitikal dalam memeriksa saldo akun dengan GAS,
auditor kemungkinan akan mengikuti empat tahap dasar dalam model reviu audit. Dalam
menggunakan GAS untuk melakukan keempat tahap reviu audit, auditor harus pertama-tama
mengatur data supaya dapat dibaca dengan perangkat lunak tersebut.

8.9 Prosedur Analitikal Menggunakan Teknik Data Mining

Data Mining adalah sekelompok teknik yang didukung dengan komputer, yang menggunakan
analisis statistical yang sangat baik, termasuk di dalamnya teknik kecerdasan buatan, untuk
memeriksa data dengan jumlah besar dengan objektif mengindikasikan pola atau informasi yang
tidak diekspektasi atau disembunyikan. Data Mining seringkali diketahui sebagai knowledge
discovery in databases (KDD). Data Mining ini sangat sering dan luas digunakan dalam
customer relationship management (CRM) dan deteksi fraud. Data Mining digunakan dalam
pendekatan atas-bawah untuk melakukan verifikasi atas ekspektasi auditor atau menjelaskan
kondisi atau situasi yang diobservasi. Metode-metode Data Mining adalah sebagai berikut;

9
1. Deskripsi Data  untuk menyediakan deskripsi secara menyeluruh atas data, baik di
dalamnya sendiri maupun di dalam masing-masing kelas atau konsep. Dua pendekatan
utama; karakterisasi data dan diskriminasi data.
2. Analisis Ketergantungan  untuk mencari hubungan yang paling signifikan antara variabel
atau atribut dalam jumlah yang besar.
3. Klasifikasi dan Prediksi  adalah proses mencari model (yang disebut dengan classifiers),
atau fungsi yang dapat memetakan catatan ke dalam satu kelas terpisah.
4. Analisis Cluster  untuk memisahkan data dengan karakteristik yang mirip dengan yang
tidak mirip.
5. Analisis Outlier  adalah data yang sangat nyata tidak mirip dengan data-data lainnya.
6. Analisis Evolusi  untuk menentukan perubahan paling signifikan pada kelompok data
sepanjang waktu.

Algoritme yang paling sering digunakan dalam Data Mining:


1. Decision Tree  model prediktif yang mengklasifikasikan data dengan struktur hirarki.
2. Apriori Algorithm  usaha untuk menemukan kelompok barang yang sering dengan
menemukan asosiasi antara kehadiaran atau ketidakhadiran barang tersebut.
3. Neural Network  adalah model komputer atas arsitektur otak.

8.10 Follow Up dalam Kasus Deviasi yang Tidak Diekspektasi

Apabila auditor mendeteksi deviasi dari kontrol dimana akan digunakan, auditor tersebut harus
membuat pertanyaan spesifik untuk mengerti masalah-masalah ini dan konsekuensinya. Lebih
jauh, auditor tersebut juga harus menentukan apakah test of controls menunjukkan dasar yang
laya untuk dapat bergantung pada kontrol tersebut; test of controls tambahan dibutuhkan; atau
risiko salah saji potensial yang harus dibahas melalui prosedur substantif. Ketika prosedur
analitikal mengidentifikasi fluktuasi signifikan atau hubungan yang tidak konsisten dengan
informasi relevan lain, atau berbeda dari jumlah yang diprediksi, maka auditor harus
menginvestigasi dan mendapatkan penjelasan cukup serta bukti yang layak. Perbandingan antara
hasil aktual dengan yang diekspektasi harus memasukkan pertimbangan kenapa ada perbedaan.
Investigasi atas fluktuasi dan hubungan yang tidak biasa ini biasanya dimulai dengan pertanyaan
kepada manajemen, dan diikuti dengan pembenaran atas respons manajemen, serta prosedur
audit lain berdasarkan hasil dari pertanyaan tersebut.

10