Anda di halaman 1dari 31

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS MATA KULIAH AUDIT


ANALISIS IMPLIKASI DAN ETIKA DARI KASUS
KANTOR AKUNTAN PUBLIK DELOITTE DAN
PERUSAHAAN MULTIFINANCE PT SUNPRIMA NUSANTARA PEMBIAYAAN
(SNP FINANCE)

LAPORAN
UJIAN TENGAH SEMESTER

Disusun oleh:
VIDYA INTANI ATHFALINA
1606911036

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
OKTOBER 2018
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Laporan Akhir Ujian Tengah Semester ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua
sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Vidya Intani Athfalina


NPM : 1606911036
Tanda Tangan :

Tanggal : Oktober 2018

2
KATA PENGANTAR/UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-
Nya, saya dapat menyelesaikan laporan akhir tengah semester yang berjudul “Skandal
Manipulasi Laporan Keuangan Toshiba”. Penulisan laporan ini dilakukan dalam rangka
memenuhi salah satu syarat dalam memenuhi penilaian mata kuliah Pengauditan dan
Asuransi. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,
sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan laporan akhir ini. Oleh karena itu, saya
mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Bapak Ahmadi Hadibroto SE, AK, M.Sc, CA, CPA, selaku dosen mata kuliah
Pengauditan dan Asuransi 1 yang telah mengajarkan ilmunya dan memberikan
wawasan yang luas mengenai praktik audit di dunia nyata dan memberikan bimbingan
terhadap mahasiswa.
(2) Orang tua, kakak, adik dan seluruh keluarga yang senantiasa memberikan semangat dan
inspirasi sehingga Penulis mampu melewati kesulitan yang ada,
(3) Seluruh teman dan semua pihak terkait yang belum sempat disebutkan yang telah
membantu selama masa penyusunan laporan akhir
Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan
semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan laporan tengah semester untuk
mata kuliah Pengauditan dan Asuransi 1 ini.
Penulis menyadari jika laporan akhir ini tidak luput dari kesalahan yang ada karena
memang tidak ada yang sempurna, kecuali Allah SWT. Sehingga kritik, masukan serta saran
sangat diharapkan dengan tujuan untuk melengkapi dan menyempurnakan laporan akhir
Tengah Semester ini. Dan diharapkan semoga laporan ini dapat membawa manfaat bagi
penbaca dan pengembangan ilmu di masyarakat.

3
Depok, Oktober 2018
Vidya Intani Athfalina

DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS........................................................................2

KATA PENGANTAR/UCAPAN TERIMA KASIH..................................................................3

BAB I.........................................................................................................................................6

PENDAHULUAN......................................................................................................................6

1.1 Latar Belakang.............................................................................................................6

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................7

1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................8

BAB II........................................................................................................................................9

LANDASAN TEORI.................................................................................................................9

2.1 Prinsip Etika................................................................................................................9

2.2 Aturan Etika.................................................................................................................9

2.3 Definisi Auditing.........................................................................................................9

2.4 Definisi Etika dalam Auditing...................................................................................10

2.5 Tanggung Jawab Dasar Auditor.................................................................................13

2.6 Independensi Auditor.................................................................................................14

BAB III.....................................................................................................................................15

PEMBAHASAN......................................................................................................................15

3.1 Perusahaan SNP Finance...........................................................................................15

3.1.1 Profil SNP Finance.............................................................................................15

3.1.2 Visi.....................................................................................................................15

3.1.3 Misi....................................................................................................................16

3.2 Kantor Akuntan Publik Deloitte................................................................................16

4
3.2.1 Profil Deloitte.....................................................................................................16

3.2.2 Visi dan Strategi.................................................................................................17

3.3 Sinopsis Kasus...........................................................................................................18

3.4 Hubungan Tanggung Jawab Auditor dan Pernyataan Akuntansi...............................20

3.5 Kesalahan yang Dilakukan........................................................................................21

3.5.1 Kesalahan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan...............................................21

3.5.2 Kesalahan Pihak Perbankan Pemberi Dana SNP...............................................22

3.5.3 Kesalahan Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte...........................................23

3.6 Etika yang Dilanggar Oleh Pihak-Pihak Terkait.......................................................24

3.4.1 Etika yang Dilanggar PT Sunprima Nusantara Pembiayaan..............................24

3.4.1 Etika yang Dilanggar Pihak Perbankan Pemberi Dana SNP Finance................25

3.4.2 Etika yang Dilanggar Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte..........................25

3.7 Keputusan dan Solusi Atas Kasus SNP Finance.......................................................26

BAB IV....................................................................................................................................28

KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................................28

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................30

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Auditor memegang peranan penting dalam hal pertumbuhan ekonomi yang akan
mempengaruhi banyak khalayak. Auditor menjadi kunci dalam menentukan apakah laporan
keuangan suatu entitas wajar ataupun tidak, sehingga pengguna dari laporan keuangan seperti
pihak internal perusahaan, pemegang saham, obligasi dan juga kreditur akan ikut terpengaruh
dalam hal menentukan suatu keputusan. Saat auditor telah mengaudit laporan keuangan dan
dinyatakan bahwa laporan tersebut wajar, maka tidak aka nada kekhawatiran untuk
menanamkan investasi di perusahaan tersebut, namun sebaliknya, ketika auditor menyatakan
bahwa ada sesuatu yang mengindikasi adanya keanehan pada laporan keuangan, pihak seperti
investor akan segera menjual saham atas perusahaan tersebut. Di sini, auditor harus bersifar
professional dan berkode etik yang kuat, karena banyak pihak yang sangat digantungkan oleh
hasil dari kinerja auditor. Saat auditor gagal untuk mengaudit, sementara perusahaan
mengalami kerugian, auditor dapat dituntut dan diadili hingga kerugian dari perusahaan
pulih. Masyarakat menaruh kepercayaan yang sangat besar terhadap auditor sebagai pihak
yang indpenden dalam mengaudit laporan keuangan. Banyaknya kasus gagal audit yang
terjadi, menciptakan keruaguan mengenai tanggungjawab auditor terhadap berbagai pihak.
Salah satu hal yang harus dimiliki oleh setiap auditor adalah etika. Etika sangat
berperan penting dalam profesi auditor. Etika seorang auditor akan mempengaruhi standar
kualitas audit, hal ini dikarenakan seorang audit memiliki tanggung jawab dan pengabdian
yang besar terhadap masyarakat. [ CITATION Eti17 \l 2057 ]
Etika dalam auditing adalah suatu prinsip untuk melakukan proses pengumpulan dan
pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas
ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan
kriteria-kriteria yang dimaksud yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen.
Dalam proses auditing, seorang auditor harus memahami dan berpedoman pada standar
auditing yang telah ditentukan Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar auditing
merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis. Standar auditing terdiri atas
sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA). Dengan

6
demikian PSA merupakan penjabaran lebih lanjut masing-masing standar yang tercantum di
dalam standar auditing. [ CITATION Lin17 \l 2057 ]
Auditor yang mendapat masalah profesionalitas atas laporan yang di auditnya dapat
dikategorikan menjadi beberapa kelompok, yakni kurangnya kapabilitas dalam mendeteksi
adanya kesalahan saji dalam laporan keuangan dan kurangnya etika pada diri auditor,
diantaranya adanya benturan kepentingan (conflict of interest), menutup mata akan salah saji
material (material misstatement) dan juga tidak memberikan infromasi yang seharusnya
karena kepentingan pribadi. Banyaknya kasus audit yang masih banyak bermunculan
membuktikan bahwa ternyata aturan, standar audit dan standar akuntansi yang telah
ditetapkan dengan sedemikian rupa dan didukung oleh kecanggihan teknologi masa sekarang,
masih tidak mampu mencegah adanya kecurangan dalam penyajian laporan keuangan
Penulis mengambil contoh kasus audit Akuntan Publik (AP) Marlinna, Merliyana
Syamsul, Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio, Bing, Eny dan Rekan, dan KAP Deloitte
dengan perusahaan multifinansial PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance).
Seperti dilansir pada artikel SNP Finance mengalami permasalahan Non Performing Loan
(NPL), dimana ia mengalami gagal bayar untuk memenuhi kewajiban membayar bunga surat
utang jangka menengah atau medium term notes (MTN). Menurut Penulis, kasus ini cukup
menarik karena penyimbangan ini baru saja terjadi dan terkuak di tahun 2018 lantaran salah
satu kupon medium term notes (MTN) yang diterbitkan SNP gagal bayar. Padahal perusahaan
pembiayaan yang berada di bawah naungan Columbia Group ini terlihat dalam kondisi baik-
baik saja di atas kertas. SNP yang mulanya mendapat rating utang perseroan dengan rating
idA atau stabil dari Pefindo pada Maret 2018, berubah 180 derajat dari stabil menjadi idSD
(selective default) pada Mei 2018 [ CITATION Gum18 \l 2057 ].
Berdasarkan penjabaran penulis mengenai latar belakang sebelumnya, penulis
bermaksud untuk membahas kasus audit yang berkaitan denban profesionalitas dan etika
seorang auditor. Penulis akan menganalisis etika apa saja yang dilanggar dalam kasus ini,
sehingga dapat diambil hikmah dan pelajaran agar kejadian serupa tidak akan terjadi lagi.
Penelitian bersifat deskriptif dengan sumber sekunder yang berkaitan dengan topik ini, seperti
berasal dari artikel-artikel, jurnal, serta literasi yang mendukung dan berhubungan dengan
kasus ini.

1.2 Rumusan Masalah


a) Bagaimana PT Sunprima Nusantara Pembiayaan melakukan fraud dengan
memanipulasi laporan keuangan perusahaan?

7
b) Bagaimana kasus tersebut akhirnya terbongkar?
c) Bagaimana hubungan tanggung jawab auditor dengan pernyataan akuntansi?
d) Apa saja kesalahan yang dilakukan oleh Akuntan Publik (AP) Marlinna, Merliyana
Syamsul, Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio, Bing, Eny dan Rekan, dan KAP
Deloitte terkait kasus PT SNP?
e) Apa saja etika yang dilanggar oleh auditor terkait masalah SNP?
f) Apakah masalah-masalah yang muncul akibat kegagalan dalam proses audit PT SNP?
g) Apa saja hal yang dapat diperbaiki oleh pihak Akuntan Publik (AP) Marlinna,
Merliyana Syamsul, Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio, Bing, Eny dan Rekan, dan
KAP Deloitte?

1.3 Tujuan Penulisan


a) Mengetahui tindakan fraud yang dilakukan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan
terhadap laporan keuangan perusahaan?
b) Mengetahui cara kasus tersebut hingga akhirnya terbongkar.
c) Mengetahui hubungan tanggung jawab auditor terhadap laporan akuntansi
d) Menganalisis kesalahan yang dilakukan oleh Akuntan Publik (AP) Marlinna,
Merliyana Syamsul, Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio, Bing, Eny dan Rekan, dan
KAP Deloitte terkait kasus PT SNP?
e) Mengetahui etika yang dilanggar oleh auditor terkait masalah SNP?
f) Menjelaskan masalah-masalah yang muncul akibat kegagalan dalam proses audit PT
SNP.
g) Memberikan kritik dan saran mengenai hal yang dapat diperbaiki oleh pihak Akuntan
Publik (AP) Marlinna, Merliyana Syamsul, Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio,
Bing, Eny dan Rekan, dan KAP Deloitte.

8
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Prinsip Etika

Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat. Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan
kewajiban moral. [ CITATION KBB16 \l 2057 ] Menurut Maryani & Ludigdo “Etika adalah
Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang
harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan, yang di anut oleh sekelompok atau
segolongan masyarakat atau profesi”[ CITATION Mar01 \l 2057 ].
Etika menggambarkan kumpulan prinsip moral, peraturan yang tercipta dan nilai nilai
yang biasanya berhubungan dengan manusia dan prinsik benar dan salah terhadap aksi
yang dilakukan serta baik buruk dari sebuah motif yang nantinya diakhiri dengan sebuah aksi.
Kemudian sebuah etika di aplikasikan langsung pada saat seorang individu membuat sebuah
keputusan dari beberapa alternatif yang berhubungan dengan prinsip moral. [ CITATION
Hay14 \l 2057 ]

2.2 Aturan Etika


Aturan Etika wajib diimplementasikan oleh anggota Ikatan Akuntan Indonesia –
Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP) dan staf profesional (baik yang anggota IAI-KAP
maupun yang bukan anggota IAI-KAP) yang bekerja pada satu Kantor Akuntan Publik
(KAP). Dalam hal staf profesional yang bekerja pada satu KAP yang bukan anggota IAI-KAP
melanggar Aturan Etika ini,
Aturan etika IAI-KAP memuat lima hal:
a. Standar umum dan prinsip akuntansi
b. Tanggung jawab dan praktik lain
c. Tanggung jawab kepada klien
d. Independensi, integritas, dan objektivitas
e. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi
f. Interpretasi Etika

9
2.3 Definisi Auditing
Pengertian audit menurut PSAK (Pernyataan Standar Audit Keuangan) adalah suatu
proses sistematik yang bertujuan untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti yang
dikumpulkan atas pernyataan atau asersi tentang aksi-aksi ekonomi, kejadian-kejadian dan
melihat tingkat hubungan antara pernyataan atau asersi dan kenyataan, serta
mengomunikasikan hasilnya kepada yang berkepentingan. [ CITATION Ika12 \l 2057 ]
Audit bukan hanya merupakan proses review terhadap laporan keuangan, namun juga
mengenai pengkomunikasian yang tepat terhadap pihak-pihak yang berkepentingan sebagai
dasar pengukuran kualitas audit. Oleh sebab itu, kualitas audit adalah hal yang harus
dipertahankan oleh seorang auditor dalam proses pengauditan [ CITATION Ati16 \l 2057 ]

2.4 Definisi Etika dalam Auditing


Etika dalam auditing adalah suatu prinsip untuk melakukan proses pengumpulan dan
pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas
ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan
kriteria-kriteria yang dimaksud yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen.
Seorang auditor dalam mengaudit sebuah laporan keuangan harus berpedoman terhadap
standar auditing yang telah ditntukan Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar auditing
merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis. Standar auditing terdiri atas
sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA). Dengan
demikian PSA merupakan penjabaran lebih lanjut masing-masing standar yang tercantum di
dalam standar auditing.[ CITATION Lin17 \l 2057 ]
Perilaku etis sangat dibutuhkan dalam sebuah masyarakat untuk menjalankan fungsi
dalam sebuah masyarakat. Berikut beberapa karakteristik yang biasa di relasikan dengan
perilaku etis [ CITATION Hay14 \l 2057 ]:
 Kejujuran
 Integritas
 Pemenuhan Janji
 Loyalitas
 Tanggung jawab Warganegara
 Peduli dan hormat pada sesama
 Keadilan

Seorang akuntan profesional wajib mematuhi prinsip-prinsip dasar berikut ini [ CITATION
Tua15 \l 2057 ]:

10
a. Integritas - lurus/tidak “berbelok ke kanan dan ke kiri”, lugas dan jujur dalam semua
hubungan profesional dan bisnis
b. Objektif - tidak membiarkan bias, benturan kepentingan atau tekanan pihak lain
menghilangkan kearifan dan akal sehat profesional dan bisnis
c. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional - memelihara pengetahuan dan
keterampilan profesional untuk memastikan bahwa klien atau karyawan mendapatkan
jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan terakhir dalam praktik,
ketentuan perundang dan teknik, dan dan bertindak sesuai dengan standar teknis dan
standar prefesional
d. Konfidensialitas - menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh dari hubungan
profesional dan bisnis dan, karenanya, tidak mengungkapkan informasi tersebut
kepada pihak ketiga tanpa hak/wewenang yang tepat dan spesifik; kecuali jika ada hak
atau kewajiban hukum atau profesional untuk mengungkapkannya. Juga, tidak
mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak pihak ketiga, untuk keuntungan
pribadi akuntan atau pihak lain.
e. Perilaku Profesional - memenuhi ketentuan undang-undang dan aturan perundangan
lainnya dan menghindari perbuatan yang merendahkan martabat profesi.
Berdasarkan sumber lain, prinsip akuntansi terdiri dari beberapa yaitu [ CITATION Uta03 \l
2057 ]:
a. Tanggung Jawab
Dalam melaksanakan tanggung- jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang
dilakukannya.
Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat.Sejalan
dengan peranan tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa
profesional mereka.Anggota juga harus selalu bertanggung jawab untuk bekerja sarna dengan
sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan
masyarakat, dan menjalankan tanggung-jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri.Usaha
kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
b. Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan
kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas
profesionalisme.

11
Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung-jawab kepada publik.
Profesi akuntan memegang peranan yang penting di masyarakat, di mana publik dari profesi
akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor,
dunia bisnis dan pihak lainnya.
Dalam mememuhi tanggung-jawab profesionalnya, anggota mungkin menghadapi
tekanan yang saling berbenturan dengan pihak-pihak yang berkepentingan.Dalam mengatasi
benturan ini, anggota harus bertindak dengan penuh integritar, dengan suatu keyakinan bahwa
apabila anggota memenuhi kewajibannya kepada publik, maka kepentingan penerima jasa
terlayani dengan sebaik-baiknya.
c. Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan
profesional.Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan
patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang diambilnya.
Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pribadi.
Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak di sengaja dan perbedaan pendapat yang
jujur, tetapi tidak dapat menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan
berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa.Etika Integritas dapat
menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak
dapat menerima
d. Obyektivitas
Obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan
anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur
secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau
berada di bawah pengaruh pihak lain.
e. Kompetensi dan kehati-hatian profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati-hatian,
kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan
dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien
atau pemberi kerja memperoleh matifaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan
perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.
Kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk memenuhi tanggung jawab
profesionalnya dengan kompetensi dan ketekunan.Hal ini mengandung Aturan arti bahwa
anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya
12
sesuai dengan kemampuannya, derni kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan
tanggung-jawab profesi kepada publik.
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman.kompetensi yang akan
meyakinkan bahwa kualitas jasa yang diberikan memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi
seperti disyaratkan oleh Prinsip Etika.
i. Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi 2 fase yang terpisah:
Pencapaian Kompetensi Profesional, Pencapaian ini pada awalnya
memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan
khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subjek- subjek yang relevan.
Hal ini menjadi pola pengembangan yang normal untuk anggota
ii. Pemeliharaan Kompetensi Profesional, Kompetensi harus dipelihara dan
dijaga melalui komitmen, pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan
kesadaran untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, serta
anggotanya harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk
memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang
konsisten.
f. Kerahasiaan
Setiap anggota harus, menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut
tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk
mengungkapkannya.
g. Perilaku professional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik
dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi sebagai perwujudan tanggung-
jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan
masyarakat umum.
h. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis
dan standar proesional yang relevan. Standar teknis dan standar profesional yang harus ditaati
anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan Akuntan Indonesia, International
Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang relevan.

2.5 Tanggung Jawab Dasar Auditor


Ruang lingkup tanggung jawab auditor meliputi[ CITATION Boy01 \l 2057 ]:

13
 Perencanaan, Pengendalian dan Pencatatan
Seorang auditor perlu merencanakan, mengendalikan dan mencatat pekerjan yang ia
lakukan, agar apa yang telah dilakukan oleh auditor dapat dibaca oleh yang
berkepentingan.
 Sistem Akuntansi
Auditor harus mengetahui dengan pasti sistem pencatatan dan pemrosesan transaksi
dan menilai kecukupannya sebagai dasar penyusunan laporan keuangan.
 Bukti Audit
Auditor akan memperoleh bukti audit yang relevan dan reliable untuk memberikan
kesimpulan rasional. Dan harus memperoleh bukti yang sangat bermanfaat dalam
mengaudit laporan keuangan.
 Pengendalian Intern
Bila auditor berharap untuk menempatkan kepercayaan pada pengendalian internal,
hendaknya memastikan dan mengevaluasi pengendalian itu dan melakukan
compliance test.
 Meninjau Ulang Laporan Keuangan yang Relevan
Auditor melaksanakan tinjau ulang laporan keuangan yang relevan seperlunya, dalam
hubungannya dengan kesimpulan yang diambil berdasarkan bukti audit lain yang
didapat, dan untuk memberi dasar rasional atas pendapat mengenai laporan keuangan.

2.6 Independensi Auditor


Independen berarti auditor tidak mudah dipengaruhi, auditor tidak dibenarkan
memihak kepentingan siapapun. Auditor diharuskan untuk bersikap independen, artinya tidak
mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaanyan untuk kepentingan umum, dalam
hal ini dibedakan dengan auditor yang berpraktik sebagai intern.[ CITATION Aku11 \l 2057 ]
Pengertian independensi adalah Independensi bagi seorang akuntan publik artinya tidak
mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaanya untuk kepentingan umum.
[ CITATION Aku111 \l 2057 ]. Pengertian independensi lainnya adalah “A member in public
practice shall be independence in the performance a professional service as require by
standards promulgated by bodies designated by a council.” [ CITATION alA12 \l 2057 ]

14
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Perusahaan SNP Finance

3.1.1 Profil SNP Finance


Sunprima Nusantara Pembiayaan sering disingkat menjadi SNP adalah perusahaan
pembiayaan yang berdiri sejak tahun 2000, sempat vakum selama 2 tahun dan kemudian
Columbia Group mengambil alih kepemilikannya pada tahun 2002, tetapi PT.SNP baru
beroperasi secara penuh pada tahun 2004. SNP terutama bergerak dalam bidang consumer
finance yang disebut Prima Finance, dan dealer utama yang 100% pembiayaannya di support
oleh PT. SNP adalah semua konsumen Columbia Retail.
Produk yang dibiayai adalah semua kebutuhan rumah tangga, seperti semua produk
elektronik, furniture, hand phone, komputer, motor roda dua. Selain produk tersebut PT. SNP
juga melakukan pembiayaan untuk produk2 produktif seperti hand tractor, dan motor roda 3.
Principal yang bekerja sama sampai dengan hari ini seperti, Nozomi, Yanmar, Olympic,
Modena, Fujitec, Sanken, Galeri musik jakarta. Selain membiayai seluruh outlet
Columbia PT.SNP juga membiayai dealer yang lain, baik tradisional market maupun modern
market, melalui divisi Prima Finance. Saat ini melalui Columbia Group kami berada di 72
kota, dan melalui divisi Prima Finance kami berada di 10 kota

3.1.2 Visi
 Menjadi perusahaan pembiayaan nasional yang terkemuka
 SNP adalah perusahaan pembiayaan yang mandiri, menjunjung tinggi etika bisnis dan
bertanggungjawab berdasarkan portofolio/konsep bisnis yang menguntungkan dan bertumbuh
secara berkesinambungan dan dimanajemeni berdasarkan praktek bisnis yang terbaik:
a. SDM : pengembangan dan pemberdayaan SDM melalui pemberian
pengarahan yang memotivasi, dialog, pemberian inspirasi, pekerjaan yang
menantang dan memberi penghargaan kepada mereka sesuai dengan kontribusi
mereka
b. Portofolio : menerapkan portofolio jasa pembiayaan yang berkualitas yang
mengantisipasi dan dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan para
pelanggan

15
c. Pelanggan : dinilai oleh para pelanggan sehingga pemberi solusi pembiayaan
yang sangat berkompeten, terpercaya dan profesional
d. Mitra : membina jaringan kerja yang lebih baik dengan Bank, perusahaan
asuransi dan dealer (baik outlet yang tradisional maupun modern) untuk
menciptakan manfaat bersama dan menciptakan nilai-nilai yang langgeng
 Mewarnai industri pembiayaan national dengan pengalaman dan cara SNP
 Memberi layanan pembiayaan yang lain daripada yang lain melebihi harapan para
pelanggan dan memberi inspirasi kepada mereka berdasarkan pengalaman kami

3.1.3 Misi
 Kami mempunyai keikatan/komitmen untuk mengembangkan dan mendarmabaktikan
profesionalisme kami dalam :
a. Pemberian jasa pembiayaan dengan kualitas yang tinggi dan terjangkau
b. Pelayanan dan pemberian nasehat kepada para pelanggan kami yang ingin
memiliki barang secara kredit
 Misi kami adalah memberikan jasa pembiayaan dengan cara yang lebih cepat dan
lebih efisien
 Berdasarkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan komersial serta kesadaran kami
terhadap kesejahteraan masyarakat, maka kami menyiapkan jasa pembiayaan untuk
menciptakan nilai yang terus meningkat bagi para pelanggan, pemegang saham dan
karyawan kami
 Kami membantu pelanggan kami untuk memiliki barang dengan pemberian jasa
pembiayaan yang berkualitas tinggi dan dengan kemudahan

3.2 Kantor Akuntan Publik Deloitte

3.2.1 Profil Deloitte


Deloitte Touche Tohmatsu (juga terkenal dengan merek Deloitte) adalah urutan kedua
terbesar di dunia dalam bidang jasa profesional setelah PricewaterhouseCoopers dan
merupakan anggota dari the Big Four auditors, sebuah kelompok kantor akuntan
internasional terbesar di dunia. Dalam tahun 2004, dengan 16,4 miliar dolar Amerika Serikat,
mereka merupakan yang terbesar di antara the Big Four auditors dalam hal penghasilan.
Sebagai tambahan dari jasa akuntansi, Deloitte adalah satu dari kantor penasehat bisnis yang
terbesar di dunia yang menawarkan jasa manajemen strategik dan operasional pada
perusahaan-perusahaan dalam Fortune 500.

16
Sebelumnya, kantor ini dikenal dengan nama Deloitte & Touche yang terbentuk
karena bergabungnya Touche Ross dan Deloitte Haskins & Sells (di luar Kerajaan Inggris)
pada tahun 1990. Dalam tahun 1993, kantor internasional mengubah namanya menjadi
Deloitte Touche Tohmatsu, nama yang ketiga berasal dari kantor Tohmatsu & Co, yang
bergabung dengan Touche Ross dalam tahun 1975. Nama kantor ini merupakan gabungan
nama William Welch Deloitte, George Touche, dan Panglima Nobuzo Tohmatsu. Nama
Deloitte adalah nama tertua yang terus-menerus digunakan dalam profesi akuntansi. Deloitte
Touche Tohmatsu berbentuk hukum Swiss Verein, suatu organisasi keanggotaan berdasarkan
Undang-undang Sipil Swiss (Swiss Civil Code) dimana setiap anggotanya merupakan badan
hukum tersendiri dan independen. Kantor pusat globalnya berkedudukan di Manhattan, New
York. Deloitte di Indonesia di wakili oleh Osman Bing Satrio dan Rekan, juga didukung oleh
PT. Deloitte Konsultan Indonesia dan Deloitte Tax Service. [ CITATION Ali12 \l 2057 ]

3.2.2 Visi dan Strategi


Visi dari Deloitte Touche Tohmatsu dan semua member firmnya adalah “To be the standard
of excellence” .[ CITATION Ard101 \l 2057 ]
Di masa lalu, Deloitte Touche Tohmatsu dan semua member firmnya
berfokus padapencapaian ukuran, skala dan jangkauan global. Namun, tantangan saat ini dan
peluang yang ada mengarahkan untuk tujuan strategis yang baru. Visi dan strategi
untuk dekade2010, yang dikembangkan melalui kepemimpinan dari para partner member
firm yang tersebar di seluruh dunia, berfokus pada Deloitte Touche Tohmatsu menjadi
standard keunggulan dalam semua usaha dan jasa yang disediakan.
Visi Deloitte Touche Tohmatsu dan semua member firmnya diterjemahkan sebagai berikut :
 Menjadi perusahaankonsultan pilihan utama didunia dengan mengutamakan
keunggulan dalam budaya dan keanekaragaman.
 Menjadi pilihan utama yang dicari oleh kilen atas pelayanan berkelas dunia yang
diberikan oleh Deloitte dan para member firmnya.
Kualitas adalah bagian mendasar dari segala sesuatu yang dilakukan Deloitte
ToucheTohmatsu, dan terdapat sejumlah mekanisme formal dan informal untuk memperkuat
komitmen terhadap standar yang tinggi di seluruhprosesbisnis. Dengan klien sebagai focus
utama, Deloitte Touche Tohmatsu dan member firmnya memperhitungkan jasa, proses dan
tim yang terdiri dari ribuan orang berdedikasi. Membangun pendekatan ketatterhadap kualitas
yang sudah ada di dalam organisasi global, Deloitte Touche Tohmatsu bertujuan

17
untuk meningkatkan terus menerus dan mendukung Deloitte Touche Tohmatsu dengan
kepemimpinan, infrastruktur, komunikasi, konsistensi, dan manajemen kinerja.
Deloitte Touche Tohmatsu sukses memberikan layanan yang ditunjang oleh
lingkungan konsultatif dan karyawan yang berkualitas. Hal tersebut didukung oleh program
rekruitmen, proses promosi, program pelatihan dan pengembangan, dan struktur
remunerasi.Karyawan Deloitte Touche Tohmatsu danmember firmnya, pengakuan dan
penghargaan terhadap kualitas merupakanDeloitte juga memberikan penghargaanterhadap
karyawan yang berprestasi, hal tersebut merupakan bagian integral dalam mencapai
tujuan. Reputasi bagus Deloitte Touche Tohmatsu dan member firmnya tidak terlepas dari
kerja keras dan prestasi yang baik oleh karyawannya. Karyawan Deloitte akan
memberikan kontribusi yang besar kepada perusahaan baik dari sisi pelayanan dan pencarian
klien serta pengembangan perusahaan.
Nilai-nilai yang dijunjung oleh Deloitte Touche Tohmatsu dan member firmnya adalah
sebagai berikut :
 Integrity
 Outstanding value to markets and clients
 Commitment to each other
 Strength from cultural diversity

3.3 Sinopsis Kasus


SNP Finance merupakan perusahaan pembiayaan yang merupakan bagian dari
Columbia Group. Dengan dukungan pembiayaan yang berasal dari perbankan, SNP
melaksanakan kegiatan operasionalnya yang tidak lain adalah menyediakan pembelian
barang secara kredit. Selama beroperasi selama 30 tahun, SNP Finance dapat menyajikan
kualitas kredit serta catatan yang lancar dan baik. Selain itu, perushaan yang sudah mendapat
status terdaftar dan diawasi oleh regulator tersebut sempat memperoleh rating idA atau stabil
dari Pefindo di bulan Maret 2018. Sehingga, SNP Finance dengan mudahnya mendapat
pembiayaan dari sejumlah bank.
Masalah SNP Finance, sebenarnya sudah mulai terlihat sejak bulan Juli 2017. Di
mana angka CAPS (aplikasi connecting antara SNP sebagai multifinance dengan bank yang
merupakan sumber kredit SNP Finance), menunjukkan adanya perbedaan saldo. Seperti yang
diungkap oleh Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Slamet Edy Purnomo di Jakarta, Rabu (26/9/2018)

18
Melihat kejadian ini, OJK mengambil tindakan lanjut untuk memeriksa pihak SNP
Finance. Pihaknya melakukan evaluasi dan menunjuk pengawas internal Bank Mandiri di
tahun 2018, karena OJK ingin memberikan kesempatan terhadap pihak internal perbankan
untuk menyelesaikan saat masalah teridentifikasi. Ditemukan bahwa ternyata pihak SNP
Finance belum pernah melakukan rekonsiliasi data SNP Finance dengan pihak core banking,
bermula dari hal tersebut penelitian berlanjut dengan mendalami prosesnya, dan ternyata
terdapat kesalahan pada sistem yang tidak sempurna.
Bank Mandiri sendiri menerapkan sistem executing sebagai mekanisme pemberian
pinjaman terhadap pihak SNP Finance. Mereka akan memberi kredit dalam bentuk joint
funancing/pemberian langsung pada SNP Finance yang kemudian akan diteruskan ke
pengguna yang membutuhkan. Tidak tangun-tanggung, salah satu kantor akuntan publik the
big four, Deloitte, ditunjuk sebagai kantor akuntan publik yang berkewajiban untuk
memeriksa laporan keuangan dari SNP Finance, guna mendapatkan kredit dari bank ini.
Sektor bank sudah melakukan antisipasi sewaktu-waktu SNP mengalami maslah
kredit perbankan menjadi Non Performing Loan (NPL), seiring menurunnya bisnis toko
Columbia, dengan melakukan pencadangan (PPAP) pada tahun yang telah lewat. Memastikan
agar risiko gagal bayar telah di-absorb sebisa mungkin.
SNP Finance kemudian menerbitkan Medium Term Notes (MTN) untuk mengatasi
masalah kredit. MTN yang diterbitkannya diberi peringkat oleh Pefindo berdasarkan hasil
audit laporan keuangan SNP Finance oleh Deloitte. Meskipun MTN diperingkat karena
tujuannya akan diperjualbelikan, MTN tidak melewati proses di OJK, karena memang MTN
termasuk ke dalam perjanjian yang bersifat private.
Sebelumnya, pada periode Desember 2015-2017, SNP Finance mendapatkan peringjat
idA-/stable dari Pefindo. Lalu peringkat mengalami kenaikan menjadi idA/stable di bulan
Maret 2018. Sayangnya pada tanggal 9 Mei, kondisi perusahaan berubah drastis dimana
Pefindo menurunkan rating menjadi idCCC/credit watch negative dan menurunkannya lagi
menjadi idSD/selective default pada bulan yang sama, akibat ia gagal membayar salah satu
Medium Term Notes (MTN) yang diterbitkannya. Ketika itu, kredit SNP Finance di bank
milik Mukmin Ali Gunawan ini tersisa sebesar Rp 141 miliar. Sehingga dari hal ini, diketahui
bahwa terdapat jaminan utang fiktif. [ CITATION Yud18 \l 2057 ]
Menyikapi hal tersebut, SNP Finance melakukan ajuan penundaan kewajiban
pembayarn utang (PKPU) pada kewajibannya yang sebesar Rp 4,07 triliun yang
berkomposisikan kredit perbankan sebesar Rp 2,22 triliun dan MTN sebesar Rp 1,85 triliun.
Di sisi lain, karena SNP telah gagal membayar bunga MTN sebesar Rp 6,75 miliar, OJK
19
membekukan kegiatan usaha SNP PADA 14 Mei 2018 melalui surat Deputi Komisioner
Pengawas IKNB II No. S-247/NB.2/2018.
Selain tidak melakukan rekonsiliasi, pihak SNP Finance diduga tidak menyampaikan
laporan keuangan yang benar alias fiktif, sehingga perusahaan pemeringkat dan auditor tidak
mengeluarkan peringatan atau warning sebelum gagal bayar terjadi. Padahal masalah laporan
keuangan ini sangat vital dan penting adanya, perusahaan seringkali mengalami kesulitan bila
laporan tak dikelola dengan baik.
Mempertimbangkan banyak hal, pihak Bank Mandiri dapat menyimlulman bahwa
permaslahan di SNP Finance itu bukan hanya disebabkan oleh ketidak hati-hatian bank dalam
menyalurkan kredit, ditambah saat ini sudan ditetapkannya rambu-rambu yang ketat bagi
perbankan. Terdapat itikad/niat tidak baik pengurus perseroan untuk menghindari kewajiban
mereka. Argumen ini bertambah kuat ketika SNP Finance melakukan modus pemanfaatan
celah daru ketentuan hukum terkait kepailitan, dengan segera mengajukan PKPU sukarela,
sesaat setelah nilai kreditnya turun.
Selain OJK, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melakukan upaya mitigasi, member
usulan agar direktur keuangan sebagai penyelenggara laporan keuangan seharusnya
mempunya setifikasi sebagai pihak yang diaudit (auditee) serta criteria dari sertfikasi, yang
diantaranya adalah independen dan tidak tidak berkepentingan apapun. Karena sertikasi
terhadap auditee dinilai cukup penting dalam meminimalkan kesalahan dalam pelapora
kinerja keuangan. IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) menanggapi usulan dari BEI dengan sangat
baik. Usulan bahwa direktur keuangan harus memiliki standar dan kompetensi khusus dalam
membuat laporan keuangan didukung juga oleh dunia usaha.

3.4 Hubungan Tanggung Jawab Auditor dan Pernyataan Akuntansi


Masalah Laporan keuangan memiliki peran yang sangat vital bagi para pengambil
keputusan khususnya bagi para pemimpin perusahaan atau biasa disebut pihak internal.
Melalui laporan keuangan pihak internal dapat mengambil keputusan sesuai dengan kondisi
dan situasi yang sedang terjadi. Begitu pula bagi pihak eksternal perusahaan mereka juga
akan bergantung pada laporan keuangan suatu perusahaan dalam memberikan penilaiannya
mengenai suatu perusahaan, oleh karena itu laporan keuangan suatu perusahaan harus
berkualitas.[ CITATION Muh16 \l 2057 ]
Berkualitas atau tidaknya suatu laporan keuangan dapat dilihat dari karakteristik
laporan keuangan tersebut. Menurut FASB, dua karakteristik terpenting yang harus ada dalam
laporan keuangan adalah relevan (relevance) dan dapat diandalkan (reliable). Akan tetapi

20
kedua karakteristik tersebut sangat sulit untuk diukur, sehingga para pemakai informasi
membutuhkan jasa pihak ketiga yaitu auditor independen. Mereka dapat memberi jaminan
bahwa laporan keuangan tersebut relevan dan dapat diandalkan, sehingga dapat
meningkatkan kepercayaan bagi pihak yang menggunakan laporan tersebut baik pihak
internal maupun pihak eksternal. Dengan demikian pihak internal dan pihak eksternal akan
semakin mudah untuk mendapatkan informasi yang mereka perlukan guna kepentingan
mereka masing-masing Auditor independen harus menjamin bahwa kualitas audit yang
mereka lakukan benar-benar berkualitas supaya menghasilkan laporan auditan yang
berkualitas pula. Kualitas audit ini penting karena dengan kualitas audit yang tinggi maka
akan dihasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan. [ CITATION Muh16 \l 2057 ]
Kualitas audit adalah probabilitas bahwa auditor tidak akan melaporkan laporan audit
dengan opini wajar tanpa pengecualian untuk laporan keuangan yang mengandung kekeliruan
material. Dengan demikian auditor harus memastikan tidak ada kekeliruan material ketika
melakukan proses audit sebelum memberikan opininya. [ CITATION Lee99 \l 2057 ]

3.5 Kesalahan yang Dilakukan

3.5.1 Kesalahan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan


Praktik kotor yang dilakukan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance
berhasil dihentikan oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Tipideksus)
Bareskrim. Polisi pun telah menahan lima orang petinggi SNP. Namun untuk saat ini, mereka
masih terus mencari pelaku lain seiring dengan adanya pembuktian selanjutnya.
Lima orang tersangka yang telah diamankan, diantaranya, Direktur Utama PT SNP
berinisial DS, Direktur keuangan berinisial RA, Direktur Operasional berinisial AP, Manajer
Akuntansi berinisial CDS, dan seorang perempuan berinisial AS yang menjabat Asisten
Manajer Keuangan. Mereka ditangkap secara terpisah di Jakarta pada 14 dan 20 September di
Jakarta. Selain itu, polisi juga menetapkan tiga orang lagi sebagai DPO alias buron yaitu LC,
LD, dan SL.
Wadir Tipideksus Kombes Pol Daniel Tahi Monang Silitonga menjelaskan bahwa,
pengungkapan kasus berawal dari laporan Bank Panin pada Agustus 2018 yang mengalami
kerugian Rp 425 miliar. Dokumen fiktif dibuat oleh PT SNP saat mengajukan kredit pinjaman
fasilitas kredit modal kerja dan fasilitas kredit rekening Koran dengan jaminan berupa data
list konsumen yang ada di PT Cipta Prima Mandiri (Columbia) kepada Bank Panin periode
Mei 2016-September 2017 dengan plafon sebesar Rp425 miliar dengan jaminan daftar

21
piutang pembiayaan konsumen Columbia. Pihak Bank Panin mengatakan bahwa, daftar
pembiayaan yang diajukan telah di-mark up, ditambah, diubah, atau diulangi. SNP Finance
telah mengajukan ke sejumlah bank dan menjalankan operasional perusahaan menggunakan
uang hasil dari fasilitas kredit ini.
Para tersangka sampai saat ini tidak dapat menunjukkan dokumen kontrak
pembiayaan yang dijadikan jaminan, karena memang “list’ piutang pembiayaan itu fiktif
sehingga tidak bisa ditagih. Sejumlah barang bukti yang disita dalam kasus ini diantaranya
fotokopi perjanjian kredit Bank Panin dengan PT SNP, fotokopi jaminan fidusia piutang yang
dijaminkan kepada Bank Panin dan fotokopi laporan keuangan in house PT SNP periode
2016-2017. [ CITATION Bar18 \l 2057 ]

3.5.2 Kesalahan Pihak Perbankan Pemberi Dana SNP


Seperti dilansir pada artikel kontan, proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) PT Sunprima Nusantara Pembiayaan telah masuk agenda pencocokan utang alias
verifikasi. Terdapat 28 kreditur yang mendaftarkan tagihannya, di mana 19 kreditur
merupakan pemegang jaminan (separatis). Dari 19 kreditur separatis tadi, tercatat ada 14
bank yang memasukan tagihannya. Mereka adalah Bank Mandiri dengan tagihan Rp 1,4
triliun, Bank Woori Saudara Rp 16 miliar, Bank Capital Rp 30 miliar, Bank Sinarmas Rp 9
miliar, Bank J-Trust Rp 55 miliar, Bank Internasional Nobu Rp 33 miliar, Bank BJB Rp 25
miliar, Bank Nusa Parahyangan Rp 46 miliar, Bank China Trust Rp 50 miliar, Bank Ganesha
Rp 77 miliar, Bank Resona Perdania Rp 74 miliar, Bank Victoria Rp 55 miliar, Bank BCA Rp
210 miliar, dan Bank Panin 141 miliar. Selain perbankan ada pula kreditur separatis lainnya,
yakni Samuel Aset Management dengan tagihan Rp 80 miliar, Reliance Capital Management
Rp 30 miliar, dan tiga kreditur lainnya dengan tagihan Rp 155 miliar. [ CITATION Sep18 \l
2057 ]

Menurut corporate secretary Bank Mandiri, Rohan Hafas, pembobolan dana tersebut,
bukan akibat kesalahan pada sistem perbankan atau regulasi sistem keuangan yang berlaku
saat ini, karena pemalsuan data yang sudah menjadi skenario SNP Finance sejak awal
dikatakan Rohan berasal dari itikad buruk perusahaan. Mereka sendiri tidak percaya, karena
SNP Finance diketahui telah menjadi debitur selama belasan bahkan puluhan tahun dari
keempat belas bank yang menjadi korban, dan memiliki reputasi yang baik. Namun secara
tiba-tiba perusahaan melaporkan kepailitan dan mengajukan penundaan kewajiban
pembayaran utang (PKPU). [ CITATION Hen18 \l 2057 ]

22
Namun dengan mengabaikan SNP Finance memiliki itikad buruk dan bersalah dalam
hal ini, pihak bank yang memberikan sumber dana bagi SNP Finance juga melakukan
kesalahan. Sifat mereka kurang konservatif dan tidak selektif dalam memberikan fasilitas
akses keuangan terhadap perusahaan multifinance. Bank tidak seharusnya langsung percaya
terhadap reputasi baik sebuah perusahaan, mereka perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut
terhadap laporan keuangan dan juga informasi yang relevan dengan kinerja mereka untuk
benar-benar memastikan bahwa mereka tidak akan mengalami gagal bayar. Meski sistem
yang berjalan sudah baik, sehingga tidak perlu insentif tambahan dari regulator, mereka
sebaiknya juga melakukan tindakan preventif tambahan, berupa syarat penyerahan asset yang
jauh lebih besar untuk kredit, agar rasa percaya dengan kreditur dapat tumbuh.

3.5.3 Kesalahan Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte


Data OJK menunjukkan, anak perusahaan Columbia Grup, SNP Finance bekerja
sama dengan afiliasi Kantor Akuntan Publik ternama, Deloitte Indonesia yang memiliki
afiliasi/partner lokal dengan KAP Satrio, Bing, Eny dan Rekan. Laporan keuangan hasil
audit afiliasi Deloitte Indonesia itu kemudian yang dijadikan dasar bagi SNP untuk meraup
kredit dari bank lain.[ CITATION Ant18 \l 2057 ]
Berdasarkan hasil audit Deloitte, yang juga telah diaudit AP dari KAP Satrio, Bing,
Eny dan Rekan, laporan Keuangan Tahunan PT SNP mendapatkan opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP). Namun berbeda hasil, pemeriksaan OJK mengindikasikan bahwa PT
SNP telah menyajikan Laporan Keuangan yang secara signifikan tidak sesuai dengan kondisi
keuangan yang sebenarnya sehingga menyebabkan kerugian banyak pihak.
Kesalahan KAP yang terlibat adalah, mereka kurang memahami dan tidak terlalu
mendalami nature dari usaha yang dijalankan SNP Finance, yakni perusahaan pemberi
pinjaman kredit kepada pihak usaha kecil. Seharusnya Deloitte lebih berhati-hati dalam
memilih dan melakukan kegiatan audit terhadap kliennya. Pemalsuan dengan mudahnya
dilakukan, dengan bermodalkan KTP saja, mereka mampu mendapatkan kredit. Mereka
menggunakan hanya satu KTP, dan mampu menipu banyak kredit di banyak pihak. Pada
kasus ini, terkesan bahwa kantor akuntan public Deloitte sedang benar-benar ditipu.
Pihak OJK telah berkoordinasi dengan Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK)
Kementerian Keuangan terkait dengan pelaksanaan audit oleh KAP Satrio, Bing, Eny dan
Rekan pada PT SNP, akibat AP Marlinna dan AP Merliyana Syamsul tersebut dinilai telah
melakukan pelanggaran berat dan telah dikenakan sanksi oleh Menteri Keuangan. Mereka
telah melakukan pelanggaran berat dengan melanggar POJK Nomor 13/POJK.03/2017

23
Tentang Penggunaan Jasa Akuntan Publik Dan Kantor Akuntan Publik, antara lain dengan
pertimbangan:
a. Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang
sebenarnya.
b. Besarnya kerugian industri jasa keuangan dan masyarakat yang ditimbulkan atas opini
kedua AP tersebut terhadap LKTA PT SNP.
c. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan akibat dari
kualitas penyajian LKTA oleh akuntan publik.
OJK memberikan sanksi berupa pembatalan pendaftaran pada AP Marlinna, AP
Merliyana Syamsul, dan KAP Satrio Bing, Eny dan Rekan. OJK juga melarang KAP tersebut
untuk menambah klien baru, seperti yang dikatakan oleh Anto Prabowo, Deputi Komisioner
Manajemen Strategis dan Logistik OJK, pada Senin (1/10/2018).[ CITATION Dea18 \l 2057 ]
Pengenaan sanksi terhadap AP dan KAP oleh OJK mengingat LKTA yang telah
diaudit tersebut digunakan PT SNP untuk mendapatkan kredit dari perbankan dan
menerbitkan MTN yang berpotensi mengalami gagal bayar dan/atau menjadi kredit
bermasalah. Sehingga langkah tegas OJK ini merupakan upaya menjaga kepercayaan
masyarakat terhadap Industri Jasa Keuangan. [ CITATION Syl18 \l 2057 ]

3.6 Etika yang Dilanggar Oleh Pihak-Pihak Terkait

3.4.1 Etika yang Dilanggar PT Sunprima Nusantara Pembiayaan


 Prinsip Kepentingan Publik
SNP Finance telah melakukan kebohongan publik dengan tidak melaporkan laporan
keuangan secara jujur, menggunakan kredit fiktif untuk menipu 14 bank pemberi kredit.
 Prinsip Tanggung Jawab Profesi
Pihak manajemen sangat tidak bertanggung jawab atas posisi yang didudukinya saat ini,
dengan melakukan penipuan yang telah merugikan banyak pihak dengan jumlah kerugian
yang tidak kecil.
 Prinsip objektivitas
Adanya dugaan pemalsuan dokumen dikarenakan melakukan mark-up dengan indikasi bahwa
manajemen melakukan upaya menaikkan prestasi serta meningkatkan performa keuangan dari
SNP Finance.
 Prinsip Integritas
Selama mengaudit SNP Finance dengan pihak pimpinan SNP Finance memberikan pendapat
wajar tanpa pengecualian karena manipulasi dan rekayasan akuntansi yang mereka lakukan.

24
 Perilaku Profesional
Pihak yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan SNP Finance telah berperilaku tidak
professional sehingga akhirnya melakukan penipuan dan menimbulkan reputasi perusahaan
yang buruk.
 Prinsip Standar Teknis
Perusahaan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan pelaporan keuangan dan pengelolaan
financial sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku. Sedangkan pihak SNP Finance
tidak mematuhi hal tersebut, dengan tidak melakukan rekonsiliasi terhadap core bank, yang
memang sengaja dilakukan dalam rangka membuat laporan keuangannya/kondisi
keuangannya terlihat baik.

3.4.1 Etika yang Dilanggar Pihak Perbankan Pemberi Dana SNP Finance
 Prinsip objektivitas
Pihak perbankan seharusnya melakukan analisa atas laporan keuangan dan informasi lain
secara tersendiri, dan tidak langsung mempercayai suatu perusahaan dalam memberikan
kreditnya hanya karena reputasinya baik dan telah beroperasi dalam periode yang cukup
lama. Terlebih lagi apabila pihak bank tidak memberikan syarat yang memang cukup
reasonable sehingga dapat dipastikan perusahaan tersebut dapat melunasi hutangnya.

 Perilaku Profesional
Pihak bank berlaku tidak professional karena tidak mampu mengetahui adanya penipuan yang
dilakukan oleh pihak SNP Finance, sehingga mereka tetap mempercayai perusahaan tersebut
dan member pinjaman. Seharusnya mereka menerapkan tindakan antisipatif dan preventif
yang professional berupa peningkatan prosedur dan syarat-syarat yang harus dipenuhi
sehingga hal serupa tidak akan terjadi.

3.4.2 Etika yang Dilanggar Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte


 Prinsip Kepentingan Publik
Keterlibatan auditor dari Kantor Akuntan Publik Deloitte telah melakukan kebohongan publik
dengan tidak melaporkan laporan keuangan secara jujur dan tidak mencerminkan kondisi
financial SNP Finance yang sebenarnya.
 Prinsip Tanggung Jawab Profesi
Pelanggaran terhadap Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) berkaitan dengan laporan
audit atas laporan keuangan SNP Finance sebagai dasar pertimbangan kredit terhadap bank-
bank

25
 Prinsip objektivitas
Adanya dugaan pemalsuan dokumen, hingga mark-up kredit fiktif seharusnya dapat dideteksi
oleh pihak KAP Deloitte.
 Prinsip Integritas
Selama mengaudit SNP Finance, pihak auditor Deloitte memberikan pendapat wajar tanpa
pengecualian meskipun pada realitasnya, kondisi SNP Finance tidak sesuai dengan laporan
keuangan yang disajikan. Hal inilah yang menjadikan auditor dianggap melakukan
kebohongan meskipun jika sebenarnya pihak Deloitte memang murni tidak mengetahui/tidak
mempunyai itikad buruk.
 Perilaku Profesional
Dalam kasus ini, Deloitte berperilaku tidak professional sehingga menimbulkan reputasi KAP
tersebut sekarang menjadi yang dipertanyakan. Mereka selaku auditor tidak berhasil
mendeteksi adanya fraud oleh SNP Finance tersebut, meskipun telah melakukan prosedur
audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan tidak diketemukan
adanya unsur kesengajaan.

3.7 Keputusan dan Solusi Atas Kasus SNP Finance


Hingga saat ini, OJK terus mengamati perkembangan kasus SNP Finance dengan
mengajak pengawas industri keuangan non bank (IKNB) OJK, bersamaan dengan melakukan
perbaikan sistem agar terdapat integrasi data antara kreditur dengan debitur multifinance OJK
juga telah membina 14 bank yang menjadi korban SNP Finance. Sejak awal
tahun, OJK meminta para bank untuk menyiapkan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
(CKPN).
Meskipun sebenarnya Kementerian Keuangan sudah memberikan sanksi kepada
Deloitte untuk memperbaiki SOP. OJK ikut mengusulkan untuk memberi sanksi bagi Deloitte
sebagai auditor SNP Finance yang diduga melanggar standar operasional prosedur (SOP),
namun hal ini bisa dilanjutkan apabila telah dilakukan investigasi.
Dalam kasus ini, terlihat juga bahwa terdapat opsi penyelesaian utang SNP Finance
kepada Bank. Setelah PKPU akan diketahui jumlah cash flow nasabah SNP Finance. Dana
tersebut ditambah dengan aset SNP Finance dapat digunakan untuk membayar kredit. Inilah
opsi yang dapat dipikirkan hingga saat ini, namun hal ini masih tentive dan masih dalam
proses. Selanjutnya pihak IKNB yang akan menentukan bagaimana kelanjutan status SNP
Finance. Bisa dipastikan mereka akan diambil satu solusi yang memang bermaksud untuk
melindungi sektor perbankan yang telah menjadi korban. [ CITATION Kar18 \l 2057 ]

26
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Melalui latar belakang masalah dan kajian teori, baik SNP Finance, bank pemberi
kredit, serta Deloitte memang terbukti melakukan kesalahan dan kesalahan ini termasuk
kesalahan yang fatal. Dengan adanya kasus ini, banyak sekali pihak yang dirugikan, terutama
pihak bank-bank yang memberikan pinjaman kredit. Penulis memiliki beberapa saran untuk
SNP Finance, bank pemberi kredit, serta Deloitte secara preventif mau pun saran untuk
peristiwa yang sudah terjadi. Berikut ini merupakan saran sebagai tindakan pencegahan:

1. Seharusnya ada kebijakan serta prosedur yang lebih ketat bagi SNP Finance,
Perbankan dan Deloitte. Dengan adanya kebijakan yang jelas dan tegas, maka kecil
kemungkinan bagi orang-orang di dalam perusahaan tersebut untuk melakukan
tindakan kecurangan. Salah satu contoh kebijakan pada SNP Finance adalah dengan
menerapkan hukuman yang sangat berat bagi pelaku tindak kecurangan tersebut.
Dengan begitu maka tidak akan ada pihak yang berani melakukan kecurangan. Selain
itu, prosedur yang jelas, tidak akan membuat perbankan tertipu untuk berinvestasi di
SNP Finance, karena mereka seharusnya tidak langsung percaya dengan reputasi baik
saja, tentunya diperlukan pemeriksaan atas laporan keuangan dengan benar. Begitu
juga dengan Deloitte, yang melewatkan beberapa prosedur dan ketentuan sebagai
audit, sehingga ia sebagai auditor SNP Finance gagal mendeteksi adanya
ketidakwajaran.
2. Utamakan profesionalitas, sehingga terhindar dari KKN. Berdasarkan hasil pencarian
Penulis, Penulis menemukan bahwa di Indonesia terdapat suatu kebudayaan untuk
saling bergotong-royong, baik dalam hal yang positif dan juga negatif. Mungkin hal
inilah yang menyebabkan kasus di SNP Finance ini baru terungkap setelah ia
mengalami gagal bayar. Mungkin saja sebenarnya karyawan di SNP Finance tahu
akan hal tidak baik yang sudah dilakukan oleh para Board of Directors, namun
karyawan tersebut tidak berani mengungkapkan maupun melapor karena adanya
unsur gotong-royong, atau bias jadi unsure kekuasaan dan ancaman.
3. Mendesain dan menggunakan internal control yang lebih kuat, sehingga suatu tujuan
dari perusahaan dapat tercapai dan berupaya untuk menghindari tindakan-tindakan
tidak terpuji (salah satunya adalah bentuk tindakan yang mengindikasikan adanya

27
kecurangan). Internal control ini sendiri diatur oleh COSO (Committee of Sponsoring
Organization of The Treadway Commission). Pelaporan keuangan dituntut agar tersaji
dengan benar, serta berjalannya efektivitas dan efisiensi operasi dalam perusahaan,
dan sehingga seluruh pihak yang terlibat dalam perusahaan patuh terhadap hukum dan
peraturan yang berlaku. Jika melihat kembali kasus yang ada, SNP Finance jelas
melanggar peraturan yang berlaku. Sehingga, untuk menghindari dan mencegah hal
tak terduga dibutuhkan kekuatan internal control.

28
DAFTAR PUSTAKA

Akuntan, P. I. (2011). Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) (Vol. PSA No.04 SA Seksi
230). Jakarta.

Akuntan, P. I. (2011). Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) (Vol. Seksi 220.1
SPAP:2011). Jakarta.

Aliya. (2012, November 28). Kantor Akuntan Publik dan Big Four. Retrieved from
https://hayahayah.wordpress.com/2012/11/28/kantor-akuntan-publik-dan-big-four/

Antara, & Widyastuti, R. A. (2018, September 27). Tak Hanya Bank Mandiri, BCA Jadi
Korban Pembobolan SNP Finance. Retrieved from tempo.co:
https://bisnis.tempo.co/read/1130570/tak-hanya-bank-mandiri-bca-jadi-korban-
pembobolan-snp-finance/full&view=ok

Ardianti, C. (2010). Sistem Infomasi Manajemen. Retrieved from


https://www.scribd.com/doc/43050692/Tugas-Individu-123100014

Arens et al., a. (2012). Auditing and Assurance Services: An Intregrated Approach (Vol.
Fourteen Edition). Prentice Hall.

Asworo, H. T. (2018, September 25). Kebobolan Rp1,4 Triliun, Bank Mandiri Sebut Bukan
Kesalahan Bank. Retrieved from finansial.bisnis:
http://finansial.bisnis.com/read/20180925/90/842032/kebobolan-rp14-triliun-bank-
mandiri-sebut-bukan-kesalahan-bank

Atiqoh, N. (2016, Februari). Pengaruh Due Profesionel Care, Motovasi Auditor, Time
Budget, Pressure Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 5.3, 1-6.

Bareskrim Bekuk 5 Petinggi SNP Finance. (2018, September 25). Retrieved from BeritaSatu:
http://id.beritasatu.com/home/bareskrim-bekuk-5-petinggi-snp-finance/180751

Boynton, N., R., Johnson., W. C., & Kell, W. G. (2001). Modern Auditing (Ketujuh ed., Vol.
2). Jakarta: Erlangga.

Etika Auditor. (2017, Juni 14). Retrieved Oktober 06, 2018, from Kompasiana:
https://www.kompasiana.com/cindyanty01/593d6409fcd3ae13b84d9402/etika-auditor

29
Gumiwang, R. (2018, Juni 21). Kasus SNP Finance & Upaya Menutup Celah Curang
Keuangan. Retrieved Oktober 06, 2018, from tirto.id.

Hayes, R. (2014). Principles of Auditing. Pearson.

IAI, I. A. (2012). Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Buku Satu. Jakarta: Salemba Empat.

Kartika, H., & Walfajri, M. (2018, September 26). Berikut opsi solusi dari OJK untuk
mengatasi kasus SNP Finance. Retrieved from Kontan.co.id:
https://keuangan.kontan.co.id/news/berikut-opsi-solusi-dari-ojk-untuk-mengatasi-
kasus-snp-finance

KBBI. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Retrieved Oktober 06, 2018, from
Web KBBI: https://kbbi.web.id/pusat

Laucereno, S. F. (2018, Oktober 1). OJK Beri Sanksi ke Akuntan Publik yang Terlibat Kasus
SNP Finance. Retrieved from detikfinance: https://finance.detik.com/moneter/d-
4237228/ojk-beri-sanksi-ke-akuntan-publik-yang-terlibat-kasus-snp-finance

Lee, C., Liu, C., & Wang, T. (1999). The 150-hour Rule. Journal of Accounting and
Economics, 203-228.

Lingga, E. (2017, Desember 31). Etika dalam Auditing dan KAP serta Perkembangan Etika
Bisnis dan Profesi. Retrieved Oktober 06, 2018, from eldorislingga:
https://eldorislingga.wordpress.com/2017/12/31/etika-dalam-auditing/

Maryani, T., & Unti, L. (2001). Survei Atas Faktor-faktor yang Mempengaruhi. TEMA, 49-
62.

Muhammad, A. B. (2016, April 27). Pengaruh Akuntabilitas Auditor dan Independensi


Auditor Terhadap Kualitas Audit pada Kantor Akuntan Publik di Yogyakarta.
Retrieved from http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/31986

Septiadi, A., & Winarto, Y. (2018, Mei 30). Ini daftar tagihan 14 bank dalam PKPU SNP
finance. Retrieved from Kontan.co.id: https://nasional.kontan.co.id/news/ini-daftar-
tagihan-14-bank-dalam-pkpu-snp-finance

30
Syafina, D. C. (2018, Oktober 1). OJK Jatuhkan Sanksi Kantor Akuntan Publik Auditor SNP
Finance. Retrieved from tirto.id: https://tirto.id/ojk-jatuhkan-sanksi-kantor-akuntan-
publik-auditor-snp-finance-c31F

Tuanakotta, T. M. (2015). Audit Kontemporer. Salemba Empat.

Utami, I. (2003, Maret). Studi Praktik Rekayasa Akuntansi Yang Terungkap Melalui Media
Massa Pada Periode 2000 -2002. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, IX, 99 -116. Retrieved
from http://repository.uksw.edu/handle/123456789/3441

Yudistira, G. (2018, September 25). Nilai pembobolan SNP Finance versi OJK Rp 2,4 triliun.
Retrieved from Kontan.co.id: https://keuangan.kontan.co.id/news/nilai-pembobolan-
kasus-snp-finance-versi-ojk-rp-24-triliun

31