Anda di halaman 1dari 75

MATERI

HYGINE SANITASI

PUSKESMAS SIDOMULY0

WATES - KEDIRI
Persiapan Kegiatan Saka Bakti Husada (SBH) 25 s/d 28 Maret 2018 di Kecamatan Lembah Segar Oleh
Pengcab Sawahlunto

Saka Bakti Husada (SBH) sebagai salah satu dari saka (satuan karya) yang ada pada kegiatan Pramuka. Aktif
melaksanakan kegiatan seperti yang dilaksanakan Pengcab di Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto.

Dari empat gugus yang ada, masing masing mengutus sebanyak 18 orang (yang terdiri dari 9 orang putra dan
putri)

Kegiatan lomba yang dilaksanakan :


1. Lomba Toga
2. Lomba Penyuluhan Kesehatan
3. Lomba dance kreasi GERMAS
4. Lomba Perencanaan Menu Makanan
5. Lomba Sanitasi Rumah dan Identifikasi Larva Nyamuk
6.Lomba bermain peran GERMAS
7. Lomba tapak perkemahan
8. Outbond

Lomba identifikasi larva nyamuk merupakan salah satu pengembangan dari krida bina lingkungan sehat. Dengan
diadakan lomba ini diharapkan peserta dapat mengetahui dimana tempat perindukan nyamuk, perilaku nyamuk
meletakkan telurnya. Sehingga diharapkan bisa diterapkan dalam melakukan pencegahan ketika terjadi wabah
penyakit yang ditularkan vektor nyamuk.

Peningkatan peran Pramuka bisa dapat lebih ditingkatkan ketika terjadi wabah penyakit yang berbasis lingkungan
seperti wabah Demam Berdarah dan Malaria.

Tata cara pelaksanaan lomba identifikasi larva nyamuk. Masing gugus mengirim satu regu yang terdiri dari 3 putra
dan 3 putri. Alat dan bahan yang dibutuhkan (gayung, kaca pembesar, pipet hisap dan senter). Peserta
mengumpulkan sebanyak-banyaknya jentik dirumah masyarakat sekitar perkemahan, setelah itu dilakukan
identifikasi larva nyamuk. Waktu yang diberikan panitia selama 160 menit. Pemenangnya adalah regu yang bisa
mengumpulkan jentik paling banyak dan bisa dengan tepat menjelaskan tentang larva nyamuk yang ditemukan

INDIKATOR RENCANA KERJA PEMERINTAHAN (RKP) PROGRAM KESLING 2017

1. Jumlah desa yang stop buang air besar sembarangan. Desa yang telah dilakukan verifikasi oleh kab/kota.

2. Jumlah kabupaten kota sehat. Syaratnya ada forum kota sehat, ada tim pembina kota sehat dan memiliki
minimal dua tatanan.

3. Jumlah Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang mendapat sertifikat laik sehat.

4. Jumlah Tempat-tempat Umum (TTU) yang memenuhi syarat kesehatan lingkungan. Hasil Inspeksi Kesehatan
Lingkungan (IKL) minimal 70%. TPM yang wajib IKL seperti sekolah dan pasar rakyat

5. Persentase sarana air minum yang dilakukan pengawasan.

6. Jumlah rumah sakit yang melakukan pengelolaan limbah medis sesuai standar

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) PENGAWASAN SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM (TTU)

I. PENDAHULUAN
Tempat-tempat umum adalah suatu tempat dimana bersifat umum (semua orang) dapat masuk ke tempat
tersebut untuk berkumpul melakukan kegiatan baik secara insidentil maupun terus menerus. Jadi tempat –
tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari tempat – tempat umum
terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau menularnya suatu penyakit. Tempat – tempat umum
merupakan tempat kegiatan bagi umum yang mempunyai tempat sarana dan kegiatan tetap yang diselenggarakan
oleh badan pemerintah, swasta dan atau perorangan yang dipergunakan langsung oleh masyarakat.
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia sangat erat interaksinya dengan tempat – tempat umum, baik untuk
bekerja, melakukan interaksi social, belajar maupun melakukan aktivitas lainnya. Tempat – tempat umum memiliki
potensi sebagai tempat terjadinya penularan penyakit, penularan lingkungan ataupun gangguan kesehatan
lainnya. Kondisi lingkungan tempat – tempat umum yang tidak terpelihara akan menambah besarnya resiko
penyebaran penyakit serta penularan lingkungan sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan menerapkan
sanitasi lingkungan yang baik dan tempat – tempat umum perlu dijaga sanitasinya.

II.LATAR BELAKANG
Sanitasi tempat – tempat umum sangatlah penting dijaga sanitasinya agar tidak menimbulkan berbagai masalah
kesehatan, misalnya menimbulkan penyakit berbasis lingkungan.

III. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS

A. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan agar masyarakat mengerti dan memelihara akan keberadaan tempat – tempat umum di
wilayah kerja puskesmas.

B. Tujuan Khusus
1. untuk mengetahui sanitasi SAB (Sarana Air Bersih ) di TTU (Tempat – Tempat Umum)
2. untuk mengetahui sanitasi pembuangan kotoran di TTU
3. untuk mengetahui sanitasi pengelolaan limbah cair di TTU
4. untuk mengetahui sanitasi pengelolaan sampah di TTU
5. untuk mengetahui sanitasi kualitas bangunan yang terpelihara dengan baik yang memenuhi syarat kesehatan
TTU

IV.KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


Pembinaan dan pengawasan terhadap sarana tempat – tempat umum (TTU)
V.CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
Kegiatan yang bersifat monitoring atau inspeksi terhadap sarana tempat – tempat umum (TTU) yang ada di
wilayah kerja puskesmas.

VI. SASARAN
1. Tempat ibadah
2. Kantor
3. Sekolah
4. Pasar
5. Pangkas rambut
6. Salon
7. Rumah sakit
8. Pelayanan kesehatan non-rumah sakit
9. Hotel

VII. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN


Setiap bulan untuk pembinaan dan pengawasan

VIII.EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN


Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.

IX.PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan oleh penanggungjawab program dan dilaporkan kepada kepala puskesmas
dan Dinas Kesehatan Kota
KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) PENGAWASAN SANITASI TEMPAT-TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN (TPM)

I. PENDAHULUAN

Rumah makan, depot dan warung adalah setiap tempat usaha komersil yang lengkap kegiatannya menyediakan
makanan dan minuman untuk umum di tempat usahanya. Hygiene sanitasi makanan adalah upaya untuk
mengendalikan faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapan yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan
penyakit atau gangguan kesehatan.

Pengawasan sanitasi makanan pada rumah makan, depot, warung, adalah pemantauan secara terus menerus
terhadap rumah makan, depot, warung atas perkembangan tindakan atau kegiatan atau persyaratan sanitasi
makanan dan keadaan yang terdapat setelah usaha tindak lanjut dari pemeriksaan.

Pemeriksaan merupakan usaha melihat dan menyaksikan secara langsung serta menilai tentang keadaan, tindakan
atau kegiatan yang dilakukan serta memberikan petunjuk / saran perbaikan.

Kegiatan pengawasan sanitasi makanan meliputi pendataan tempat pengelolaan makanan, pemeriksaan berkala,
member saran perbaikan, melakukan kunjungan kembali, memberi peringatan dan rekomendasi kepada pihak
terkait serta laporan hasil pengawasan.

II.LATAR BELAKANG

Berdasarkan pengamatan awal beberapa rumah makan, depot dan warung yang letaknya cukup strategis dan
sering dilalui banyak kendaraan bermotor, ada beberapa penjamah makanan yang menunjukkan perilakuyang
tidak sehatdalam menjamah makanan, missal menggunakan lap kotor untuk membersihkan meja dan mengolah
makanan ketika sedang sakit.

Demikian juga dengan sarana disekitarnya, dimana sering ditemukan adanya rumah makan , depot, warung yang
melakukan pencucian peralatan makanan tanpa menggunakan sabun, peralatan hanya dicelupkan ke sumber air
pencucian yang sudah kotor, serta bahan makanan belum jadi disimpan dalam ruangan yang tidak dilengkapi
dengan pelindung dari hama.

III. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS

A. Tujuan Umum

Untuk mengetahui persyaratan sanitasi tempat pengelolaan makanan (TPM) dan mampu menerapkan persyaratan
dan teknik pembersihan atau pemeliharaan di ruangan tempat pengelolaan makanan (TPM) agar terhindar dari
resiko pencemaran.

B. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui lokasi / letak bangunan

2. Untuk mengetahui ruangan pengolahan

3. Untuk mengetahui tempat pencucian alat dan bahan makanan

4. Untuk mengetahui tempat sampah

5. Untuk mengetahui cara pembersihan dan tempat pemeliharaan

6. Untuk mengetahui tempat cuci tangan

7. Untuk mengetahui sarana air bersih (SAB)

8. Untuk mengetahui jamban

IV. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Pembinaan dan pengawasan terhadap sarana tempat pengelolahan makanan (TPM).

V.CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


Kegiatan yang bersifat monitoring atau inspeksi terhadap sarana tempat pengelolaan makanan (TPM) yang ada di
wilayah kerja puskesmas.

VI.SASARAN

1. Rumah makan

2. Restoran

3. Jasa boga / catering

4. Industri makanan

5. Kantin

6. Warung

7. Makanan jajanan

VII. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Setiap bulan untuk pembinaan dan pengawasan

VIII. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) PEMERIKSAAN RUMAH DAN SANITASI

I. PENDAHULUAN

Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor
lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Menurut WHO rumah adalah struktur fisik atau
bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta
keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu.

Perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan sebagai faktor yang dapat meningkatkan standar kesehatan
penghuninya. Konsep tersebut melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor risiko dan
berorientasi pada lokasi, bangunan, kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan dan pemeliharaan rumah di
lingkungan sekitarnya.

Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan
kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya. Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungna yang
memungkinkan lingkungan pemukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta
sebagai sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga
seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif. Oleh karena itu keberadaan perumahan yang sehat,
aman, serasi, teratur sangat diperlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik.

Jadi sanitasi perumahan adalah menciptakan keadaan lingkungan perumahan yang baik atau bersih untuk
kesehatan.

III. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS

A. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan agar masyarakat mengerti dan memelihara akan keberadaan tempat – tempat umum di
wilayah kerja puskesmas.

B. Tujuan Khusus

1. untuk mengetahui sanitasi SAB (Sarana Air Bersih ) di TTU (Tempat – Tempat Umum)

2. untuk mengetahui sanitasi pembuangan kotoran di TTU

3. untuk mengetahui sanitasi pengelolaan limbah cair di TTU

4. untuk mengetahui sanitasi pengelolaan sampah di TTU

5. untuk mengetahui sanitasi kualitas bangunan yang terpelihara dengan baik yang memenuhi syarat kesehatan
TTU

IV.KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Pembinaan dan pengawasan terhadap sarana tempat – tempat umum (TTU)

V. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

Kegiatan yang bersifat monitoring atau inspeksi terhadap sarana tempat – tempat umum (TTU) yang ada di
wilayah kerja puskesmas.

VI. SASARAN

1. Tempat ibadah

2. Kantor

3. Sekolah

4. Pasar

5. Pangkas rambut

6. Salon

7. Rumah sakit

8. Pelayanan kesehatan non-rumah sakit

9. Hotel

VII. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Setiap bulan untuk pembinaan dan pengawasan

VIII.EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.

IX.PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan oleh penanggungjawab program dan dilaporkan kepada kepala puskesmas
dan Dinas Kesehatan Kota
KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) PENGAMBILAN SAMPEL AIR UNTUK UJI BAKTERIOLOGIS

I. PENDAHULUAN

Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajad kesehatan masyarakat yang optimal ( UU Kesehatan Nomor 32 Tahun
2009). Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai program / kegiatan telah dan akan dilaksanakan / dikembangkan
baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat. Sesuai dengan penjelasan dalam Undang – undang Kesehatan
Nomor 32 Tahun 2009 yang dimaksud dengan Penyehatan Air meliputi pengamanan dan penetapan kualitas air
untuk berbagai kebutuhan dan kehidupan manusia. Dalam kaitan dengan hal tersebut , maka seharusnya air
bersih yang digunakan selain harus mencukupi dalam arti kuantitas untuk kebutuhan sehari – hari dan juga harus
memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan baik kualitas fisik, bakteriologis, maupun kimia. Persyaratan
kualitas tersebut tertuang dalam Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang Syarat – syarat dan Pengawasan Kualitas
Air, maka diperlukan suatu tindak lanjut pengawasan berupa pengambilan contoh air untuk dilakukan
pemeriksaan dilaboratorium guna mengetahui kualitas bakteriologisnya.

II.LATAR BELAKANG

Sanitasi tempat – tempat umum sangatlah penting dijaga sanitasinya agar tidak menimbulkan berbagai masalah
kesehatan, misalnya menimbulkan penyakit berbasis lingkungan.

III. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS

A. Tujuan Umum

Meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam pengamanan kualitas air untuk berbagai
kebutuhan dan kehidupan manusia.

B. Tujuan Khusus

Terpantaunya kualitas air minum melalui upaya pengawasan :

1. Diketahuinya kualitas air yang memenuhi syarat kesehatan

2. Meningkatnya kualitas air melalui upaya perbaikan

3. Meningkatnya pengertian, kesadaran, kemauan melakukan pengawasan kualitas air.

IV. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

No Kegiatan Pokok Rincian Kegiatan

1 perkenalan menerangkan maksud kunjungan

2 pengamatan melakukan pengamatan terhadap sumber dan sarana air bersih

3 Pengambilan sampel melakukan pengambilan sampel air pada sarana yang memiliki tingkat
resiko sedang dan rendah

4 kesimpulan menyampaikan kesimpulan dan saran kepada pemilik sarana

V. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


Cara melaksanakan kegiatan ini dengan cara pengambilan sampel air langsung pada sarananya, yang dilakukan
tiap tiga bulan sekali sesuai jadwal yang ditentukan oleh dinas kesehatan.

VI. SASARAN

Sarana air bersih yang dimiliki masyarakat baik secara pribadi maupun yang dipakai secara umum seperti; sumur
gali, perlindungan mata air, dan perpipaan.

VII.JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

No Kegiatan J F M A M J J A S O N D

Pengambilan √ √ √ √
sampel

VIII.PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Penanggung jawab program melakukan pencatatan setiap melaksanakan kegiatan dan pelaporan dilakukan pada
saat pelaksanaan kegiatan. Evaluasi dilakukan setiap 3 bulan sekali.

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) PELAYANAN KESEHATAN LINGKUNGAN (KLINIK SANITASI)

I.PENDAHULUAN

Klinik sanitasi merupakan suatu upaya atau kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan promotif,
prefentif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang beresiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit yang
berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan pemukiman.

Anamnesa adalah wawancara terhadap pasien atau kelurganya mengenai :

1. Keluhan utama

2. Keluhan tambahan

3. Riwayat penyakit terdahulu

4. Riwayat penyakit keluarga

5. Lamanya sakit

6. Kondisi lingkungan

7. Sarana sanitasi yang digunakan

Konseling adalah komunikasi antara dua orang atau lebih antara petugas konseling dan pasien atau klien yang
memutuskan untuk bekerja sama sehingga pasien dan klien dapat mengenali dan memecahkan masalah
kesehatan lingkungan secara mandiri maupun dengan bantuan pihak lain.

II.LATAR BELAKANG

1. Penyakit – penyakit yang berhubungan dengan air meliputi : penyakit diare, demam berdarah, malaria dan kulit.
2. Penyakit – penyakit yang penularannya berkaitan dengan kondisi perumahan dan lingkungan yang jelek antara
lain ISPA dan TB Paru

3.Penyakit – penyakit yang penyebabnya atau cara penularannya melalui makanan antara lain : diare, kecacingam
dan keracunan makanan

4.Gangguan kesehatan yang berhubungan dengan penggunaan bahan kimia dan pestisida di rumah tangga.

III. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS

A.Tujuan Umum

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya prefentif, kuratif dan promotif yang dilakukan secara
terpadu, terarah dan terus menerus.

B. Tujuan Khusus

1.Terciptanya keterpaduan kegiatan lintas program dan lintas sector dalam program pemberantasan penyakit
menular dan penyehatan lingkungan dengan memberdayakan masyarakat.

2.Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemampua dari perilaku masyarakat (pasien, klien, dan masyarakat)
untuk mewujudkan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat.

3.Meningkatnya pengetahuan, kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi
penyakit berbasis lingkungan serta masalah kesehatan lingkungan dengan sumber daya yang ada.

4.Menurunnya angka penyakit berbasis lingkungan dan meningkatnya kondisi kesehatan lingkungan.

IV.KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Penderita atau pasien yang menderita penyakit berbasis lingkungan yang datang ke puskesmas

V. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1.Di dalam gedung yaitu di puskesmas.

2.Di luar gedung yaitu di posyandu dan pada waktu kunjungan rumah atau kunjungan lapangan.

VI.SASARAN

1.Penderita penyakit / pasien/ keluarga yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan dan penyakit
berbasis lingkungan yang datang ke puskesmas.

2.Masyarakat umum atau klien yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan
yang datang ke puskesmas.

3.Penderita penyakit / pasien / keluarga yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan, dan penyakit
yang berbasis lingkungan yang dikunjungi rumahnya.

4.Masyarakat umum / klien yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan dan penyakit yang berbasis
lingkungan yang daerahnya dikunjungi.
VII.JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

1.Di dalam gedung pelaksnaan dilakukan setiap hari Senin s.d Kamis.

2.Di luar gedung pelaksanaan dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dengan klien/ pasien

VIII.EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.

IX.PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan oleh penanggung jawab program dan dilaporkan kepada kepala
puskesmas.

SOP Pemeriksaan Tempat-Tempat Umum (TTU)

Pengertian

Pengawasan sanitasi Tempat-Tempat Umum adalah kegiatan pengawasan terhadap tempat-tempat umum agar
tercipta kondisi tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan, bebas dari faktor resiko penyakit dan
kecelakaan terhadap masyarakat di dalam tempat-tempat umum maupun terhadap masyarakat di sekitar/diluar
tempat-tempat umum tersebut.

Tempat-Tempat Umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang dilaksanakan oleh badan pemerintah, swasta,
maupun perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat serta memiliki fasilitas. yang termasuk ke dalam
tempat-tempat umum adalah sarana pendidikan, sarana ibadah, perkantoran, hotel, sarana kesehatan, tempat
rekreasi, pasar, terminal, dan lain-lain.
Tujuan
sebagai acuan bagi petugas dalam melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap masyarakat dan pengelola
tempat-tempat umum, sehingga terciptanya kondisi tempat-tempat umum yang memenuhi syarat esehatan
lingkungan dan memantau keadaan sanitasi tempat-tempat umum secara berkala dalam membangun sanitasi
sesuai dengan standar sanitasi yang telah di tetapkan agar terciptanya kebersihan lingkungan.

Referensi

1. Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan,

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.66 Tahun 2014 Tentang Kesehatan lingkungan,

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1429 Tahun 2006 tentangPedoman Penyelenggaraan
esehatan Lingkungan Sekolah,

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.288 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penyehatan Sarana
an Bangunan Umum,

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1405 Tahun 2002 Tentang Persyaratan Kkesehatan
Lingkungan Kerja Perkantoran Dan Industri,

6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.061 Tahun 1991 Tentang Persyaratan Kesehatan Kolam
Renang Dan Pemandian Umum,

7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.80 Tahun 1990 Tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Dan Bangunan Hotel.

Alat Dan Bahan

1. Alat tulis,

2. Formulir Pemeriksaan Tempat-Tempat Umum,

3. Sanitarian Kit.

Prosedur

Sanitarian menyiapkan alat dan bahan pemeriksaan

Sanitarian melaporkan nama petugas yang akan melaksanakan kegiatan kepada kasubag Tata Usaha agar di
buatkan surat tugasnya

Kasubag Tata Usaha membuat surat tugas kegiatan pengawasan sanitasi Tempat-Tempat Umum.

Sanitarian membawa surat tugas kegiatan.

Sanitarian dan lintas program mendatangi tempat-tempat umum

Sanitarian meminta izin kepada pemilik/pengelola tempat-tempat umum

Sanitarian melakukan pengawasan sanitasi sesuai dengan checkk list formulir pemeriksaan

Sanitarian dan pembina wilayah setempat (PWS) memaparkan hasil pemeriksaan kepada pemilik/pengelola
tempat-tempat umum.

Sanitarian dan petugas promosi kesehatan memberikan penyuluhan tentang masalah kesehatan lingkungan yang
ada pada tempat-tempat umum kepada pemilik/pengelola tempat-tempat umum (bila perlu).
Sanitarian melaporkan hasil rekapan kepada koordinator Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
(P2PL).

Koordinator P2PL melaporkan hasil rekapan kepada Kepala Puskesmas.

Kepala Puskesmas, Koordinator P2PL dan Sanitarian mengevaluasi hasil rekapan,Kepala Puskesmas, Koordinator
P2PL, dan Sanitarian membuat rencana tinddak lanjut.

Unit Terkait
1. Kepala Puskesmas,
2. Koordinator P2PL,
3. Kasubag Tata Usaha,
4. Pembina Wilayah Setempat
5. Petugas Promosi Kesehatan

SOP PENGAWASAN TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN (TPM)

Pengertian

Pengawasan tempat pengolahan makanan adalah kegiatan penilaian terhadap tempat-tempat yang memproduksi
makanan. Objek pengawasan antara lain ruma makan, warung nasi, catering, industri rumah tangga pangan,
pedagang kaki lima, warung kopi dan makanan, depot air minum.

Higiene sanitasi makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang, tempat dan
perlengkapannya yang mungkin bisa menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan

Tujuan
sebagai acuan penerapan langkah-langkah pelaksanaan pengawasan dan pembinaan terhadap pemilik usaha
tempat pengelolaan makanan.

Referensi

1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Lingkungan

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Higiene Sanitasi Depot Air
Minum

4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492 Tahun 2010 Tentang Kualitas Air Minum

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098 Tahun 2013 Tentang Persyaratan Higiene
Sanitasi Rumah Makan dan Restoran

6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1428 Tahun 2006 tentang pedoman
penyelenggaraan kesehatan lingkungan puskesmas

7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 715 Tahun 2013 Tentang Persyaratan Sanitasi
Jasaboga

8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 942 Tahun 2003 Tentang Persyaratan Higiene
Sanitasi Makanan Jajanan
Alat Dan Bahan

1. Alat Tulis

2. Formulir pemeriksaan TPM

3. PH meter

4. Lux meter

5. Noise level meter

Prosedur

1. sanitarian menyiapkan alat dan bahan untuk pengwasan tempat pengelolaan makanan

2. Kasubag Tata Usaha membuatkan surat tugas kegiatan pengawasan tempat pengelolaan makanan

3. sanitarian meminta izin kepada pengusaha atau pemilik usaha pengelolaan makanan dengan menunjukkan
surat tugas

4. sanitarian mengisi formulir pemeriksaan tempat pengelolaan makanan

5. sanitarian mengisi kesimpulan dan saran pada buku TPM (buku berwarna hijau)

6. dokter melakukan pemeriksaan kesehatan karyawan, selanjutnya hasilnya diisikan pada buku kesehatan
karyawan (buku berwarna kuning)

7. sanitarian membuat rekapan hasil pemeriksaan

8. hasil pemeriksaan dilaporkan kepada kepala puskesmas dan subdinas P2PL di dinas kesehatan

Unit Terkait

1. kepala puskesmas

2. koordinator P2PL

3. Kasubag tata usaha

4. petugas farmasi makanan dan minuman

SOP PEMERIKSAAN RUMAH DAN SANITASI

Pengertian :
Pemeriksaan rumah dan sanitasi adalah rangkaian kegiatan dalam melakukan penilaian lingkungan terhadap
rumah dan sarana sanitasi yang dimiliki tiap keluarga, guna mendapatkan kesimpulan memenuhi syarat atau tidak
memenuhi persyaratan kesehatan.
Tujuan :
sebagai acuan bagi petugas dalam memantau dan membina keadaan rumah dan sanitasi secara berkala dalam
usaha meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di masyarakat
Referensi:

1. Undang-Undang Nomor dan 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Kesehatan lingkungan
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829 Tahun 1999 tentang persyaratan kesehatan
perumahan

Alat Dan Bahan:

1. Alat tulis

2. formulir rumah sehat

3. daftar nama sasaran

Prosedur:

1. sanitarian membina kader tentang cara pengisian formulir rumah sehat

2. sanitarian melakukan koordinasi dengan PWS dan kader tentang rencana kegiatan pemeriksaan rumah dan
sanitasi di wilayahnya.

3. Kader kesehatan lingkungan mendapatkan surat tugas dari desa/kelurahan untuk melaksanakan pemeriksaan
rumah dan sanitasi

4. kader kesehatan lingkungan mengisi formulir rumah sehat berdasarkan hasil wawancara dan observasi

5. kader mengumpulkan formulir rumah sehat kepada sanitarian

6. sanitarian membuat kesimpulan data hasil rekapan formulir rumah sehat, untuk selanjutnya dilaporkan ke
dinas kesehatan dan unit-unit yang membutuhkan

SOP KLINIK SANITASI (PELAYANAN KESEHATAN LINGKUNGAN DI PUSKESMAS)

Pengertian

Pelayanan kesehatan lingkungan merupakan suatu bentuk bimbingan, penyuluhan dan bantuan teknis dari
sanitarian kepada masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan lingkungan dalam usaha memberantas
penyakit berhubungan kesehatan lingkungan

Tujuan
sebagai acuan penerapan langkah-langkah pelayanan kesehatan lingkungan

Referensi

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan
lingkungan Tahun 2013 tentang pedoman pelaksanaan klinik sanitasi

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan pelayanan
kesehatan lingkungan di puskesmas

Alat Dan Bahan

1. Daftar pertanyaan

2. ATK

3. Media penyuluhan

Prosedur

1. pelayanan kesehatan lingkungan di dalam gedung

a. konseling terhadap pasien dan keluarga


1) sanitarian menerima kartu rujukan status dari petugas poliklinik

2) sanitarian mencatat identitas pasien kedalam buku konsultasi kesehatan lingkungan

3) sanitarian melakukan wawancara dengan pasien atau keluarga yangmendampingi tentang penyakit yang
diderita serta gambaran lingkungan dan perilaku

4) sanitarian menyimpulkan permasalahan kesling

5) sanitarian memberikan alternatif pemecahan masalah

6) sanitarian membuat kesepakatan kunjungan rumah apabila diperlukan

b. konseling terhadap klien (masyarakat yang ingin berkonsultasi kesling tanpa menderita penyakit berhubungan
lingkungan)

1. sanitarian mencatat identitas klien

2. sanitarian melakukan wawancara dengan klien

3. sanitarian menyimpulkan permasalahan kesling

4. sanitarian memberikan alternatif pemecahan masalah

5. sanitarian membuat kesepakatan kunjungan rumah apabila diperlukan.

2. pelayanan kesehatan lingkungan di luar gedung

a) sanitarian melakukan kunjungan rumah sesuai dengan kesepakatan, apabila memungkinka melibatkan bidan
desa,pws ataupun perangkat desa/kelurahan

b) sanitarian mencatat hasil pengamatan lingkungan rumah pasien pada kartu rumah

c) sanitarian menarik kesimpulan permasalahan lingkungan

d) sanitarian memberikan alternatif pemecahan masalah kesehatan lingkungan


SOP PENGAMBILAN SAMPEL AIR UNTUK UJI BAKTERIOLOGIS

Pengertian :
pengambilan Sampel Air untuk uji bakteriologis adalah Serangkaian kegiatan untuk mengambil air sebagai contoh
yang digunakan untuk pemeriksaan laboratorium, guna mengetahui jumlah bakteri E.Coli/Fecal Coli per 100 ml
sampel.
Tujuan :
sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan pengambilan sampel air di sumber air masyarakat
dan depot air minum oleh sanitarian.
Referensi :

1. Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.66 Tahun 2014 Tentang Kesehatan lingkungan

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum

Alat Dan Bahan


1. Alat tulis

2. Botol sampel steril

3. Lampu bunzen

4. kapas steril

5. Alkohol 70%

6. Korek api

7. Kertas label

8. Tempat penyimpanan botol sampel

Prosedur

1. sanitarian menentukan lokasi pengambilan sampel air

2. sanitarian menentukan titik pengambilan sampel air

3. sanitarian menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan

4. sanitarian melaporkan nama petugas yang akan melaksanakan kegiatan kepada Kasubag tata usaha untuk
dibuatkan surat tugas

5. kasubag tata usaha membuat surat tugas kegiatan pengambilan sampel air

6. sanitarian membawa surat tugas kegiatan

7. sanitarian mendatangi lokasi pengambilan sampel kemudian menunjukkan surat tugas dan meminta izin
kepada pemilik sarana untuk melakukan pengambilan sampel

8. sanitarian melakukan pengambilan sampel sesuai dengan sarana air bersih (sumur gali, perlindungan mata
air, perpipaan)

9. sanitarian sebelumnya mencuci tangan dengan sabun kemudian dibilas dengan air mengalir, atau bisa dengan
membilas tangan menggunakan alkohol 70%

10 menyalakan lampu bunzen

11 untuk sarana berupa perpipaan dengan kran outlet, maka kran dibuka dan dialirkan selama 1 menit, kemudian
mulut kran dibakar dengan lampu bunzen selama 1 menit

12 dibuka tutup botol steril, kemudian mulut botol dibakar dengan lampu bunzen selama 1 menit
13 masukkan air sampel kedalam botol sampel sampai volume ¾ bagian botol terisi.

14 bakar kembali mulut botol dengan lampu bunzen selama 1 menit

15 tutup kembali mulut botol dengan kapas steril

16 mengisi label dengan keterangan (no sampel, nama pemilik sampel, alamat pemilik sampel, jenis sarana, jenis
pemeriksaan, lokasi/titik pengambilan, tanggal pengambilan dan pengiriman, nama petugas pengambil sampel

17 memasang label pada botol sampel

18 sanitarian meletakkan sampel pada tempat pengumpulan sampel untuk segera dibawa ke laboratorium

HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

1. dalam pengiriman sampel harus dihindarkan dari semua bentuk kontaminan dengan cara meletakkan sampel
pada tempat khusus sampel

2. semakin cepat sampel dibawa ke laboratorium lebih baik, sebaiknya dalam waktu maksimal 1 kali 24 jam

DEPOT AIR MINUM WAJIB MEMILIKI TENAGA KONSULTAN/TEKNIS DI BIDANG HIGIENE SANITASI SEUAI
PERMENKES NO.43 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN HIGENE SANITASI DEPOT AIR MINUM

Sesuai Permenkes No.43 Tahun 2014, tentang Higiene Sanitasi Depot Air Minum. Pada Pasal 18 Menjelaskan:

(1) Setiap DAM (depot air minum) harus memiliki tenaga teknis sebagai konsultan di bidang higiene sanitasi

(2) Tenaga teknis sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu), harus terdaftar di organisasi profesi di bidang
kesehatan lingkungan yang akuntabel dan diakui pemerintah pada kabupaten/kota setempat

(3) Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menunjuk tenaga teknis yang berasal dari organisasi profesi
bidang kesehatan lingkungan untuk DAM yang belum memiliki tenaga teknis sebagaimana yang dimaksud pada
ayat (1) dan Ayat (2).

Menyimak pasal yang tertera diatas, mengharuskan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota untuk menunjuk
(mengeluarkan Surat Keputusan Penunjukan) seorang tenaga ahli di bidang kesehatan lingkungan (sanitarian)
sebagai konsultan, yang memiliki tugas dan kewajiban membantu segala sesuatu yang berkaitan dengan teknis
penanganan agar masyarakat terhindar dari mengkonsumsi air yang diproduksi dari DAM yang tidak memenuhi
persyaratan.

BERIKUT CONTOH SK PENUNJUKAN TENAGA TEKNIS DEPOT AIR MINUM

KEPUTUSAN

KEPALA DINAS KESEHATAN DAN SOSIAL KAB/KOTA………………..

NOMOR : 188.47/ /

TENTANG
PENUNJUKAN TENAGA TEKNIS DEPOT AIR MINUM

KAB/KOTA……………….TAHUN…………….

Menimbang :

a. Bahwa air minum yang diproduksi oleh depot air minum harus memenuhi syarat kesehatan, sebagaimana
yang dipersyaratkan oleh peraturan perundangan yang berlaku,

b. Bahwa untuk menjamin kualitas air minum pada point (a) diatas, setiap pemilik depot air minum wajib
melakukan pengawasan terhadap pemenuhan persyaratan higiene sanitasi secara terus menerus;

c. Bahwa untuk memenuhi sebagaimana dimaksud huruf a dan b di atas, maka setiap depot air munum harus
memiliki tenaga teknis sebagai konsultan di bidang higiene sanitasi

d. Bahwa untuk memenuhi sebagaimana dimaksud huruf a,b dan diatas, perlu ditunjuk petugas kesehatan
lingkungan (sanitarian) sebagai tenaga teknis

Mengingat :

Undang dan peraturan terkait yang tertera pada Permenkes No. 43 Tahun 2014.

Plus Permenkes No.32 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan pekerjaan sanitarian (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomr 648).

MEMUTUSKAN

Pertama : Menunjuk saudara (nama petugas).sebagai tenaga teknis/konsultan Depot Air Minum “ Nama Depot”
yang berlokasi di”Lokasi Depot”.

Kedua : Tugas dan kewajiban tenaga teknis/konsultan adalah sebagai berikut:

a. Membantu pemilik DAM dalam memenuhi kewajibannya untuk menjamin air minum yang dihasilkan
memenuhi standar baku mutu atau persyaratan kualitas air minum sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan dan memenuhi persyaratan higiene sanitasi dalam pengelolaan air minum

b. Membantu pemilik depot air minum melaksanakan tata laksana pengawasan kualitas air minum sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Membantu pemiliki Depot Air minum dalam menyediakan informasi mengenai

1. Alur pengolahan air minum

2. Masa kadaluarsa alat desinfeksi

3. Waktu penggantian dan/ atau pembersihan filter

4. Sumber dan kualitas air baku

d. Membantu pemilik DAM untuk melakukan uji laboratorium kualitas air baku dan air minum olahan

Demikianlah peraturan yang musti dicermati oleh semua pihak guna melindungi masyarakat dari bahaya atau efek
negatif yang mungkin timbul oleh mengkonsumsi air produksi DAM yang tidak memenuhi persyaratan.

SK PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS PUSKESMAS

KEPUTUSAN

KEPALA PUSKESMAS
NOMOR : 188.47 / /PKM-KT/2016

TENTANG

PEMBENTUAN TIM PENGELOLA SAMPAH MEDIS

PUSKESMAS

TH 2016

Kepala puskesmas

Menimbang : a. Bahwa untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat dan mencegah penyakit dan/atau
gangguan kesehatan dari kegiatan pengelolaan sampah medis di puskesmas sampai kepada
pemusnahannya di incinerator, maka perlu dibentuk tim pengelola sampah medis agar pelaksanaannya di
lapangan sesuai dengan aturan dan perundang-undangan berlaku

b. Bahwa untuk memenuhi sebagaimana dimasud huruf a diatas, perlu dibentuk Tim Pengelola Sampah
Medis Puskesmas

1. Undang-unang gangguan (hinder Ordonantie)1926 Stbl 1940 Nomor 14 dan Nomor 450;

2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembar Negara Tahun 1984
Nomor 20 Tambahan Lembar Negara Nomor 3237)

3. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan (Lembar Negara Republik
Mengingat : Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, tambahan Lembar Negara Nomor 3237).

4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
(Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140)

5. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan (Lembar Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembar Negara Republi Indonesia Nomor 5063

6. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah (Lembar Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomnor 5587).

7. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, Tambahan Lembaran Negara Republi Indonesia Nomor 5607);

8. Peraturan pemeritah Nomor 46 Tahun 2014 tentang informasi kesehatan (Lembaran Negara Republlik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5542);

9. Peraturan pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang kesehatan lingkungan (lembar Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 184, Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia Nomor 5570)

10. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang sistem kesehatan nasional (lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 193);

11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menes/SK/VIII/2001 tentang pedoman teknis analisis
dampak lingkungan.

12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Tenaga
Sanitarian (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 648);

13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat ( Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1676);

14. Peraturan Daerah Kota

15. Surat Keputusan Kepala Dinas kesehatan

MEMUTUSKAN :

Pertama : Membentuk Tim Pengelola Sampah Medis Puskesmas

Kedua : Tim Pengelola Sampah Medis Puskesmas terdiri dari penanggung jawab, koodinator, pelaksana, tenaga
pengumpul, penanggung jawab ruangan penghasil sampah medis, sopir.

Tempat kegiatan pengelolaan sampah medis adalah di lingkungan Puskesmas

Ketiga :

Tugas dan Kewajiban Tim Pengelola Sampah Medis Puskesmas adalah sebagai berikut :

1. Penanggung Jawab

Keempat : a. Bertanggung jawab terhadap kegiatan pengelolaan sampah medis di lingkungan puskesmas

b. Memberikan pembinaan pengelolaan sampah Medis di Puskesmas

2. Koordinator

a. Melakukan koordinasi kegiatan pengelolaan sampah medis

b. Melakukan pembinaan terhadap terhadap pelaksana, petugas pengumpul dan penanggung jawab
ruangan yang mengahasilkan sampah medis

c. Memberikan fasilitas dan kebutuhan yang diperlukan dalam pengelolaan sampah medis

d. Membuat perencanaan anggaran yang dibutuhkan dalam pengelolaan sampah medis

3. Pelaksana

a. Melaksanakan pengelolaan sampah medis di Puskesmas Kampung Teleng

b. Membuat Alur dan Prosedur Pengelolan Sampah Medis

c. Melaporkan pengelolaan sampah medis kepada penanggung jawab/koordinator.

d. Melakukan Koordinasi dengan petugas pengumpul Sampah medis

e. Membuat catatan pelaporan pengelolaan sampah medis

f. Mengantarkan sampah medis yang telah terkumpul ke Dinkessos Kota untuk dimusnahkan di
incinerator dibantu sopir.

4. Petugas pengumpul

a. Melakukan kegiatan pengumpulan sampah medis setiap hari sesuai arahan dari pelaksana

b. Melaporkan kepada pelaksana tentang masalah atau kendala dalam pelaksanaan pengumpulan sampah
medis

5. Penanggung jawab ruangan penghasil sampah medis

a. Mengelola sampah medis di ruangan masing-masing sesuai dengan Protap

b. Melaporkan kepada pelaksana tentang kendala dalam pengelolaan sampah medis di ruangannya.

6. Sopir

a. Membantu pelaksana dalam pengangkutan sampah medis yang telah terkumpul untuk dibawa ke
Dinkessos untuk dimusnahkkan di incinerator.

Segala biaya yang timbul aibat dikeluarkan keputusan ini dibebankan pada dana APBD Kota Tahun 2016

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.


Ditetapkan dl :

Pada Tanggal :

Kepala Puskesmas

( )

Sanitasi Sarana Dan Prasarana Laboratorium Puskesmas Menurut Permenkes No.37 Tahun 2012

Laboratorium puskesmas

adalah sarana pelayanan kesehatan di pusesmas yang melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian
terhadap bahan yang berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebaran penyakit, kondisi
kesehatan akut, ffaktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat.

A. Persyaratan sarana laboratorim

ukuran minimal 3 X 4 meter persegi, kebutuhan luas ruangan disesuaikan dengan jenis pemeriksaan

langit-langit berwarna terang dan mudah dibersihkan (putih lebih disaranan)

dinding berwarna terang, keras, tidak berpori, kkedap air, mudah dibersihkan dan tahan terhadap bahan kimia.

pintu disarankan memiliki lebar buka minimal 100 cm ( terdiri dari dua pintu masing-masing ukuran 80 cm dan 20
cm)

lantai terbuat dari bahan tidak licin, tidak berpori, warna terang, mudah dibersihan serat tahan terhadap bahan
kimia.

disarankkan tersedia akses langsung (lubang/celah) bagi pasien untuk mengambil sampel dahak

pada area ba cuci tersedia pembatas yang gunanya untuk menghindari paparan tampiyas air cucian ke area
sekitar.

tersedia kamar kecil khusus labor atau digabungkan dengan milik puskesmas.

B. Prasarana labor
adalah jaringan/ instalasi yang membuat suatu sarana yang aa bisa berfungsi sesuai dengan tujuan yang diharapan

Pencahayaan harus cukup

pencahayaan alami ( terdiri dari dua jendela dengan ukuran lebar 80cm X 100cm)

cahaya tidak boleh mengarah langsung ke meja pemeriksaan dan rak reagen ( untuk menghindari reaksi dengan
sinar matahari yang panas).

intensitas cahaya loet (200 s/d 500 lux), area pengambilan sampel (200 s/d 500 lux), area pemeriksaan spesimen
(1000 s/d 2000 lux), toilet (100 s/d 200 lux) diuji dengan luxmeter.

Tersedia ventilasi yang bisa menjamin sirkulasi udara yang baik

disarankan menggunakan exhausted fan (kipas yang bisa membuang udara dari dalam ke luar ruangan) yang
dipasang pada ketinggian 120 cm dari lantai

Suhu udara terjaga antara 22⁰C sampai dengan 26⁰C

pengambilan dahak dilakukan diruangan terbuka

tersedia bak cuci yang cukup

tersedia tempat sampah memiliki tutup yang rapat

limbah cair yang dihasilkan diolah pada sistem pengolahan air limbah puskesmas
Langkah Dasar Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan

Penilaian resiko kesehatan lingkungan adalah serangkaian proses untuk penentuan dampak yang bisa merugikan
kesehatan manusia ketika terpapar dengan pollutant, baik saat ini maupun beberapa tahun yang akan datang.

Dalam penilaian faktor risiko lingkungan ada 4 langkah dasar yang akan dilakukan

Langkah I, Mengidentifikasi Bahaya


menguji titik penekanan potensi bahaya yang mungkin timbul

Langkah II, Penilaian Jumlah Respon


menghitung jumlah paparan dan dampak yang telah ditimbulkan

Langkah III, Penilaian paparan


meneliti frekuensi, waktu, jumlah kontak dengan titik potensial bahaya

Langkah IV, Penentuan sifat risiko


menyimpulkan sifat risiko disesuaikan dengan data yang berhubungan timbul titik potensial bahaya yang ditimbulkan.

Langkah-langkah Penentuan Faktor Resiko Penyakit Berhubungan Lingkungan

Penentuan faktor risiko penyakit dalam usaha peningkatan kualitas lingkungan, Merupakan kegiatan utama yang
harus dilakukan sebelum melakukan penilaian terhadap kualitas lingkungan. Dalam penentuan faktor risiko ada
beberapa langkah yang akan dilakukan, antara lain :

1. Penentuan kuantitas paparan dalam sebuah populasi yang akan diteliti.adalah kegitan yang dilakukan
dalam usaha menghitung jumlah paparan sebuah populasi terhadap suatu faktor risiko penyakit.
2. Penentuan dampak resiko yang ditimbulkan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan adalah
menganalisis dampak yang mungkin timbul setelah terpapar dengan penyakit.
3. Memperkirakan hubungan paparan dengan respon yang akan ditimbulkan melalui studi epidemiologi
adalah melakukan penelitian epidemiologis dalam usaha menghitung hubungan paparan dengan respon
yang mungkin timbul.
4. Memperkirakan jumlah kasus dikaitkan dengan hubungan paparan dan respon yang timbul
adalah kegiatan penentuan jumlah kasus penyakit yang timbul setelah terpapar dengan faktor risiko sesuai
jangka waktu yang ditentukan dalam penelitian.
5. Membuat kesimpulan awal faktor risiko utama pada populasi yang diteliti
adalah kegiatan awal untuk memutuskan faktor risiko utama penyebab penyakit, supaya dilakukan usaha
untuk penanggulangan penyakit berhubungan lingkungan.

Penyimpanan Makanan Jadi (setelah diolah)

Makanan adalah sesuatu yang sangat perlu kita perhatikan dalam hidup ini. setiap hari kita makan baik itu
makanan yang dibuat sendiri maupun makanan yang dibeli di tempat-tepat yang menyediakan makanan.
Kadangkala kita tidak memperdulikan dari sumber mana makanan yang kita makan bagaimana penyimpanannya
setelah diolah. Apakah sudah memenuhi syarat atau belum.

Kita juga ragu untuk masuk ke dapur tempat pengolahan di cafe/restaurant. Di beberapa cafe/restoran cepat saji
melarang kita untuk masuk ke ruang dapur. saya rasa ini melanggar hak asasi kita sebagai konsumen, untuk
sesuatu yang akan kita masukkan kedalam mulut kita. yang nantinya bakal menjadi darah daging kita. Kita dilarang
untuk melihat proses produksinya. Seharusnya dapur itu dibuat transparan bukan tertutup, sehingga kita bisa
memantau dari luar.

sebenarnya penyimpanan bahan makanan itu disesuaikan dengan jenis makanannya, tetapi itu terlalu rumit untuk
kita ingat dan hafalkan. Paling tidak ini beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan kalau kita sekali-kali melihat
ke dapur cafe/ restorant.

Untuk penyimpanan makanan dingin minimal ≤ 5°c, atau mereka menyediakan lemari es di dapur. Penyimpanan
makanan yang panas, langsung setelah diolah suhu minimal 57°c. Untuk penyimpanan makanan yang untuk kedua
kalinya suhu minimal 73°c. ini cuma standard umum saja. jika anda perlu yang lebih detail anda bisa mengacu
pada persyaratan sanitasi makanan.
PROTAP SAMPAH MEDIS

PROTAP PENANGANAN SAMPAH MEDIS

Sampah medis

~ Kering : tempat infus, kasa kering, kapas, verband, pembalut dan lain-lain bahan yang berhubungan dengan
penderita, jarum suntik dan infuse, lancet, dak glas, objek glas, dll

~ Basah : sampah basah dengan kandungan air (kapas basah, kasa basah, handscoen dll.)

PROTAP PELAKSANAAN PENANGANAN SAMPAH MEDIS

1. Petugas ruangan memasukkan sampah medik dari ruangan ke dalam kantong plastik warna kuning/merah.

2. Dilarang keras memasukkan benda ini ke dalam kantong plastik untuk sampah medis seperti ; kaleng sprayer
aerosol (obat nyamuk, pengharum ruangan dan cat),Botol kaca ukuran ≥ 50 ml, Kaleng makanan dan minuman
ringan, Melamin, Cairan kecuali darah, Logam selain jarum suntik, Sampah non medis lainnya. (jika termasukkan
ke dalam sampah medis, bisa meyebabkan ledakan atau membuat alat incinerator cepat rusak).

3. Dilarang mencapurkan sampah medis dengan non-medis (karena masih sampah beda dalam penanganannya)

4. Sampah medis maksimal terisi 2/3 bagian, harus dikosongkan (untuk menghindari kontak dengan tangan)

5. Pisahkan infuse set yang airnya telah dikeringkan terlebih dahulu

6. Pisahkkan botol vaksin dalam kantong plastik tersendiri lalu masukkan dalam sampah medis.

7. Petugas kebersihan setiap hari mengecek dan mengumpulkan sampah medis untuk dikumpul sebelum
dibawa untuk dimusnahkan di incinerator

8. Petugas yang melakukan penanganan sampah medis diharapkan memperhatikan safety (menggunakan
handscoen tebal, baju khusus dll)

Catatan : sampah medis adalah semua sampah yang dihasilkan ataupun ditimbulkan akibat melakukan pelayanan
medis di institusi layanan medis (puskesmas, rumah sakit, klinik), Laboratorium, poli KIA dan Poli Gigi.

contoh : Jika datang seorang pasien dengan baju penuh darah akibat kecelakaan maka otomatis baju tersebut
sudah menjadi sampah medis dan harus dibakar di incinerator, karena kita tahu darah merupakan cairan tubuh
yang bisa sebagai media penularan penyakit.

KADER JUMANTIK DI TIAP RUMAH SOLUSI MENGHADAPI VEKTOR DBD

Seiring dengan meningkatnya intensitas hujan terutama pada bulan yang berakhiran "ber" ini meyebabkan efek
lain. Dimana-mana terjadi peningkatan kasus penyakit menular, yang seolah-olah sudah melekat dengan musim
hujan yaitu terjadi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal ini menjadi isu nasional yang membuat
sibuk seluruh instansi yang berkaitan dengan kesehatan mulai dari rumah sakit, dinas kesehatan dan puskesmas.

Sebenarnya kasus tidak ada salahnya dengan peningkatan intensitas hujan, karena tersebut adalah faktor alamiah.
Tapi yang mejadi masalah adalah karena selama ini masyarakat kurang waspada terhadap tempat-tempat yang
memungkinkan dijadikan tempat bertelur nyamuk aedes. Nyamuk ini menjadi tersangka utama vektor DBD, yang
menyebabkan kita semua menjadi pusing dan bahkan memakan korban nyawa.

Masalah peningkatan kasus DBD perlu digaris-bawahi tidak akan selesai kalau masyarakat tidak dilibatkan secara
aktif. Walaupun berapa besar biaya dan tenaga yang siap dikeluarkan untuk menangani kasus ini, namun tiap
tahun kejadian tetap berulang. Ada suatu program di dinkes khususnya subdin P2MPL yaitu mencetak kader aktif
yang dengan sukarela membantu tenaga kesehatan untuk melaksanakan pengawasan terhadap jentik dan tempat
bertelurnya yaitu Kader Juru Pemantau Jentik (JUMANTIK).

Program ini perlu disokong oleh berbagai pihak terutama oleh para stakeholders yang memiliki daya untuk
menghimpun massa dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang banyak terdapat
lokasi tempat bertelurnya nyamuk aedes. Fogging kalau bisa tidak perlu dilakukan lagi, alasannya kalau kita sudah
tidak memberikan tempat bagi nyamuk aedes dengan sendirinya populasi mereka akan berkurang.

Mengingat banyak efek negatif dari fogging jika terlalu sering bisa menyebabkan penumpukan zat kimia dimana-
mana serta efek lainnya seperti meningkatnya resistensi nyamuk terhadap racun yang disemprotkan. Kalau sudah
begitu nyamuk tersebut tidak akan mati jika disemprot racun, sehingga perlu penggantian racun yang lebih kuat
lagi. Semakin banyak bahan kimia yang digunakan ini merupakan suatu hal yang kurang bijak.

Kader JUMANTIK yang dilatih mungkin akan memberikan efek yang berarti terhadap usaha untuk menurunkan
kasus DBD di masyarakat. Mulai dari rumah sendiri setiap ibu rumah tangga adalah kader jumantik yang akan
memantau ada tidaknya jentik di bak mandi, sekitar rumah. tugas jumantik adalah melaporkan kepada si Bapak
untuk melakukan pengurasan bak, membersihkan wadah yang mungkin bisa menampung air hujan.

Di sekolah tiap murid/siswa maupun guru adalah juga kader JUMANTIK yang tugasnya memberikatahukan dan
memperingatkan penjaga sekolah yang juga petugas kebersihan di sekolah untuk membersihkan bak umum dsb.
Di mesijd pengurus mesjid dan ustad adalah kader jumantik yang akan mengingatkan gharim mesjid untuk
membersihkan tempat berwudu, memantau ada tidak jentiknya. Di kantor pimpinan dan karyawan juga adalah
jumantik yang bisa menyampaikan kepada tenaga kebersihan. Di Pasar pedagang adalah jumantik yang tugasnya
melaporkan kepada pengelola pasar dan terminal ketika ditemuinya banyak jentik.

Petugas kesehatan tugasnya memberikan sosialisasi tempat bersarangnya nyamuk, memberikan cara untuk
melindung dari nyamuk, pemberian bubuk Abate atau juga mengingatkan masyarakat untuk memelihara ikan kecil
pemakan jentik. Kalau semua sudah aktif menjadi jumantik, bukan tidak mungkin kasus DBD bisa kita hindari
terutama pada musim hujan. Memang hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi ini harus semua
kita lakukan dengan penuh komitmen yang tinggi.
SKP SANITARIAN

Ada beberapa item pada DUK-PAK yang bisa dimasukkan dalam satuan kinerja pegawai fungsional sanitarian
antara lain :

1. Menyusun rancangan rencana tahunan tingkat kecamatan/ puskesmas ( SKP 0.2)


2. Menyajikan rancangan pelaksanaan kesehatan lingkungan tingkat kabupaten/kota (SKP 0.09)
3. Melakukan pengolahan data dengan alat bantu elektronik (SKP 0.07)
4. Melakukan studi kelayakan berupa persiapan lapangan (SKP 0.48)
5 . Pelaksanaan studi kelayakan (SKP 1.92)
6. Melakukan pemeriksaan objek Kelompok II secara konvensional (SKP 0.08)
7. Melakukan pengambilan sampel objek kelompok II secara konvensional (SKP 0.07)
8. Melakukan pemberdayaan individu secara potensial (SKP 0.02)
9. Melakukan pemberdayaan kelompok secara umum (SKP 0.03)
10. Menentukan diagnosa/ treatment intervensi objek kelompok II secara konvensional (SKP 0.04)
11. Melakukan konsultasi kesling objek Kelompok II secara lokal (SKP 0.05)
12. Menganalisis perilaku berupa tabulasi dan pengumpulan data lanjut (SKP 0.09)
13. Melakukan kunjungan/ bimbingan teknis ke objek kelompok I (SKP 0.07)
14. Melakukan kegiatan lintas sektor (SKP 0.5)
15. Membimbing survei desa (SKP 0.24)
16. Membuat perencanaan pemberdayaan masyarakat secara lanjut (SKP 0.24)
17. Membuat karya tulis berupa tinjauan yang dipublikasikan dalam bentuk makalah (SKP 4)
18. Mengembangkan teknologi tepat guna di bidang lingkungan ( SKP 5)
19. Membimbing sanitarian dibawah jenjang (0.02)
20. Menjadi anggota organisasi profesi di bidang kesehatan lingkungan ( SKP 0.35)
21. Melatih kader ( SKP 0.21)
22. Membina kader ( SKP 0.06)
PTP Program Kesling
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-nya akhirnya penyusunan
Perencanaan Program Kesling Tahun 2016 ini dapat diselesaikan.

Kami menyadari bahwa Perencanaan Program Kesling ini masih banyak kekurangannya, namun kami mengharapkan
dengan adanya Perencanaan Program Kesling ini dapat dijadikan salah satu sumber informasi dan sebagai bahan evaluasi bagi
kami, begitu juga bagi pihak yang membutuhkan.

Untuk itu kami sangat mengharapkan saran dan pendapat yang konstruktif dari berbagai pihak demi perbaikan dan
penyempurnaan perencanaan tahunan ini, sehingga apa yang menjadi target dan visi serta misi Puskesmas menjadi lebih baik
dan sesuai dengan yang kita harapkan.

Demikianlah Perencanaan Program Kesling ini kami susun agar dapat dipedomani bersama untuk
mencapai status kesehatan masyarakat yang optimal.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan
cita-cita bangsa indonesia sebagaimana yang dimaksudkan dalam pancasila dan UUD 45.

Tujuan dari pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan
sumberdaya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Kebijakan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia bahwa Puskesmas sebagai bagian dari sistem Kesehatan
Nasional, sub sistem, dari kesehatan yang berada di Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional. Sebagai sistem yang harus
berjalan, Puskesmas dilengkapi dengan organisasi, memiliki Sumber Daya dan Program kegiatan pelayanan kesehatan.

Program pokok Puskesmas merupakan program pelayanan kesehatan yang wajib dilaksanakan karena mempunyai
daya ungkit yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Ada 6 program pokok
pelayanan kesehatan diantaranya program pengobatan, promosi kesehatan, pelayanan KIA dan KB, pencegahan penyakit
menular dan tidak menular, kesehatan lingkungan dan perbaikan gizi masyarakat.

program kesehatan lingkungan adalah salah satu program pokok puskesmas yang berupaya untuk menciptakan
kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk
mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.

Ada (5) upaya dasar yang dilakukan di bidang kesling

1) Penyehatan sumber air bersih (SAB)

Kegiatan upaya penyehatan air meliputi ; surveilans kjualitas air, inspeksi sanitasi SAB, pemeriksaan kualitas air, pembinaan
kelompok pemakai air.

2) Penyehatan lingkungan pemukiman (Pemeriksaan Rumah)

Sarana sanitasi dasar yang dipantau meliputi jamban keluarga (jaga), saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat
pengelolaan sampah (TPS).

3) Penyehatan tempat-tempat umum (TTU)


Penyehatan tempat-tempat umum meliputi hotel dan tempat penginapan lain, pasar, kolam renang dan pemandian umum
lain, sarana ibadah, salon dan pangkas rambut, dilakukan upaya pembinaan institusi rumah sakit dan sarana kesehatan lain,
sarana pendidikan dan perkantoran

4) Penyehatan tempat pengelola makanan (TPM)

Secara umum penyehatan TPM bertujuan untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan
makanan dan minuman, kesiap-siagaan dan penanggulangan KLB, keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit bawaan
makanan

5) Pemantauan Jentik nyamuk dan PSN (pemberantasan Sarang Nyamuk)

Petugas sanitasi puskesmas melakukan pemeriksaan terhadap tempat yang mungkin menjadi perindukan nyamuk.

6) Konsultasi kesling klinik sanitasi

Pemberian konsultasi gratis kepada masyarakat/pasien yang menderita penyakit yang berhubungan dengan lingkungan
seperti; diare, kecacingan, penyakit kulit, TB Paru, dan lainnya.

BAB II
VISI DAN MISI PROGRAM KESLING
1.1 VISI

Masyarakat Sawahlunto yang mandiri untuk hidup sehat menuju kota wisata tambang yang berbudaya dan
sejahtera DENGAN MENGUTAMAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN LINGKUNGAN

1.2 MISI

Untuk mewujudkan visi tersebut diatas maka ditetapkan misi Program kesehatan lingkungan sebagai berikut :

1. Meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki jamban sehat dengan septik tang

2. Meningkatkan masyarakat terhadap akses air minum dan air bersih

3. Menciptakan TPM/TTU yang sesuai standar kesehatan

4. Memacu pengelolaan sampah berwawasan lingkungan

5. Menurunkan angka penyakit berhubungan dengan lingkungan

6. Peningkatan jumlah rumah sehat

BAB III
TUJUAN MANFAAT PROGRAM KESLING
Keadaan lingkungan baik fisik dan biologis, rata-rata pemukiman Indonesia masih belum baik. Masih banyak
penduduk Indonesia yang belum terpenuhi kebutuhan sanitasi dasar seperti; air bersih, jamban, pembuangan sampah,
saluran air limbah Hal ini berdampak terhadap peningkatan angka kesakitan maupun kematian yang disebabkan penyakit
yang berhubungan dengan lingkungan. Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas bertujuan :

1. Menanggulangi dan menghilangkan unsur-unsur fisik (rumah, air, sampah, debu, kebisingan dll) pada lingkungan yang
berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Sehingga tidak menjadi factor pencetus peningkatan angka kesakitan dan
kematian.

2. Meningkatkan kualitas mutu lingkungan menjadi lebih sehat melalui perubahan perilaku masyarakat yang lebih higienis.

3. Melakukan pengendalian factor biologis (nyamuk, bakteri, kuman dll) agar tidak terjadi wabah dan KLB (kejadian luar biasa)
yang dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat secara umum.
4. Membina TPM/TTU yang menjadi sumber aktifitas masyarakat sehingga terjaminnya tempat umum dan pengelolaan
makanan sesuai dengan prinsip kesehatan.

5. Dll

Manfaat program kesehatan lingkungan antara lain :

1. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara umum dan perbaikan kualitas lingkungan secara khusus.

2. Perubahan perilaku masyarakat dari perilaku yang berdampak buruk bagi kesehatan menjadi lebih sehat melalui pengelolaan
lingkungan pemukiman dan sanitasi dasar

3. Memastikan ketersediaan sarana sanitasi dasar dan melakukan upaya agar terpenuhi kebutuhan akan sarana sanitasi yang
memenuhi standar kesehatan.

B. TAHAP PENYUSUNAN RENCANA USUSLAN KEGIATAN (RUK)

No Rumusan Masalah Berbagai Faktor Perumusan Penyebab


Penyebab Masalah
Masalah

1 Cakupan jamban  Masih adanya  Kepemilikan rumah yang


yang memenuhi sebagian dari berstatus sewa/kontrak
syarat masih rendah, masyarakat yang
66.4% sedangkan tidak mempunyai  Tidak tersedianya lahan untuk
target 90% jamban dan membuat septictank
septictank Dan lahan yang tersedia
 Faktor Pengetahuan rawan bahaya tanah longsor
 Masyarakat masih
menempatkan kebutuhan
akan sarana jamban tidak
begitu mendesak
dibandingkan kebutuhan
lainnya

 Tidak tersedianya  Saran yang diberikan petugas


sarana CTPS belum diikuti oleh pengusaha
dengan air mengalir rumah makan.
Masih rendahnya
di rumah
2 cakupan TPM yang  Penataan alat/peralatan
makan/warung nasi
memenuhi syarat dari belum tertata rapi
target 100 %,  Secara umum K3
tercapai baru 78.6 %  Sarana yang ada didapur
dapur masih kurang
tidak diatur sedemikian rupa,
 Tidak terdapatnya misal jarak minimal lemari
gudang bahan dengan dinding minimal 5 cm
makanan sehingga tidak rapat
serangga/tikus
 Tidak rapat
serangga/tikus  Tidak adanya gudang khusus
untuk bahan makanan yang
 Limbah yang akan diolah, biasanya
dihasilkan belum diletakkan dekat dapur
dilakukan
pengolahan  Limbah yang mengandung
sebelum dialirkan padatan sisa bahan makanan,
ke riol minyak dan lemak langsung
dialirkan ke riol, sebaiknya
dibuatkan bak pengolahan
limbah, atau
menggunakangrease
trap ( penangkap lemak)

 Kurangnya kemauan
masyarakat untuk melakukan
pengawasan lingkungan
sekitar rumah (perindukan
 Masih ditemukan
tempat-tempat nyamuk)
yang  Jarang menguras bak karena
memungkinkan air leding tidak lancar.
sebagai tempat
Masih rendahnya perindukan nyamuk tidak memelihara ikan
cakupan rumah yang pemakan jentik dan
3 bebas jentik (91.9%) menaburkan bubuk abate
dari target ABJ (angka
bebas jentik) 95%

1.2 UPAYA KESEHATAN WAJIB

 Melakukan pemeriksaan saniltasi Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) dan Tempat-Tempat Umum
(TTU)

 Melakukan Pemeriksaan Sanitasi perumahan (Fisik runah, air limbah, air bersih, jamban, sampah,
angka bebas jentik)

 Melaksanakan konsultasi kesehatan lingkungan pada Klinik Sanitasi

 Melakukan Pengambilan Sampel Air Masyarakat dan Depot Air Minum

1.3 UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN

 Ikut berperan aktif dalam pelaksanaan program PAMSIMAS di desa/kelurahan yang menerima bantuan

 Melaksanakan pembangunan jamban keluarga miskin bekerjasama dengan TNI

 Melakukan pembinaan sekolah sehat pada Pogram UKS

 Melakukan pembinaan kader kesling

 Melakukan pembinaan Pengusaha TPM dan Depot Air Minum

 Melakukan Penilaian tempat produksi dan higiene sanitasi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP)

 Melakukan Pengelolaan Sampah dan Limbah medis


C.
RENC
ANA
PELA
KSAN
AN
KEGIA
TAN

1. PROGRAM : KESLING

JADWAL
SUMBER
NO KEGIATAN SASARAN LOKASI VOL.KEGIATAN PEN.JAWAB PELAKSANA BIAYA
DANA JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES

tidak
1 Pemeriksaan a. pengusaha Semua 2 X pertahun Pelaksana Dokter BOK
ada

TPM b. penjamah desa/kel program sanitarian

makanan kesling PWS

tidak
2 Pemeriksaan pemilik Semua 1 X pertahun Pelaksana Sanitarian APBD
ada

sanitasi rumah rumah desa/kel program PWS

kesling Kader

tidak
3 Konsultasi Kesling Pasien Puskesmas 3 kali/ minggu Pelaksana sanitarian BOK
ada

setiap jam
klinik sanitasi Klien program perawat
kerja

kesling bidan

4 Pengambilan Mayarakat Semua per 6 bulan Pelaksana

tidak
sampel air masya desa/kel program sanitarian BOK
ada

kesling

5 Pamsimas Mayarakat kel. Dapt 1 X pertahun Pelaksana sanitarian

Pansim
program program fasilitator APBN
as

pamsimas kesling BPSPAM

6Jamban Gakin KK miskin Semua Sesuai Pelaksana sanitarian Dinkes APBD

desa/kel KK penerima program PWS/Masy

bantuan kesling TNI

7 Sekolah sehat seluruh seluruh 1 X pertahun Pelaksana sanitarian

tidak
Masyarakat sekolah yg program PWS BOK
ada

sekolah ada kesling Farmakmin

8 Pembinaan Kader Kader Kesling Semua 1 X pertahun Pelaksana Dokter

tidak
desa/kel program Sanitarian BOK
ada

kesling

tidak
9 Pembinaan Pengusaha KBSS,KBSU 3 bln sekali Pelaksana sanitarian BOK
ada

Depot karyawan T.Lapang program


PERBAIKAN KINERJA, LANGKAH-LANGKAH DAN ALUR

Kegiatan Perbaikan Kinerja


1. monitoring dan penilaian kerja
2. analisis kerja
3. penyusunan rencana perbaikan
4. pelaksanaan perbaikan
5. evaluasi

Langkah-Langkah Perbaikan Kinerja

A. Langkah I
- Melaksanakan Dokumentasi Kinerja
pengawas mendokumentasikan bidang-bidang menyangkut kinerja karyawan yang perlu dilakukan perbaikan,
dalam pendokumentasian masalah kinerja supervisor harus objektif, faktual dan spesifik dan memberikan contoh
untuk lebih memperjelas masalah kinerja. Dalam pendokumentasian kinerja hal-hal yang mencakup :

informasi karyawan

tanggal yang relevan

keterangan kinerja (perbedaan atau kesenjangan)

deskripsikan kinerja yang diharapkan

deskripsi kinerja aktual

deskripsi konsekuensi

rencana aksi

tanda tangan kesepakatan manajer dan karyawan

evaluasi rencana aksi dan rencana perbaikan kinerja secara keseluruhan

B. Langkah 2

Pengembangan rencana aksi


penetapan rencana aksi sementara untuk perbaikan, yang dapatdisesuaikan berdasarkan umpan balik dari
karyawan ketika pertemuan/rapat. bekerja-sama bisa mempercepat penyelesaian masalah karyawan.
tujuan harus spesifik, terukur dan akurat, relevan dan ada timeline penyelesaian.

C. Langkah 3
Peninjauan Rencana Kinerja

sebelum pertemuan dengan pegawai pimpinan harus mengkonfirmasi dengan profesional dibidangnya

dokumentasi kinerja dinyatakan dengan jelas tanpa melibatkan emosi

spesifik, terukur dan timeline

terjadwal ex. 60 hari

D. Langkah 4

pertemuan dengan karyawan

dimungkinkan merubah rencana aksi perbaikan kinerja setelah dapat masukan dan tanggapan karyawan

penandatanganan kesepakatan

E. Langkah 5
Follow Up

penetapan pertemuan rutin (mingguan/bulanan)

mendiskusikan dan dokumentasi kemajuan

karyawan diberi kesempatan bertanya, mendapatkan bimbingan, klarifikasi dan ekspektasi kerja yang diharapkan

sediakan alat/ pelatihan yang diperlukan

F. Langkah 6
jika seorang karyawan tidak mampu memperbaiki kinerja atau menolak untuk berkomitmen untuk perbaikan
kinerja, maka harus dilakukan pertimbangan pengalihan jabatan/kerja, penurunan pangkat atau skorsing.

ketika karyawan tidak menunjukkan beberapa perbaikan tetapi masih memungkinkan untuk pencapaian beberapa
atau semua tujuan perbaikan kinerja. maka hal yang bisa dilakukan;

jika karyawan sudah berusaha melakukan perbaikan kinerja tetapi tidak bisa mencapai atau lebih tujuan, masih
bisa dipertimbangan perpanjangan masa kerja.

jika pimpinan merasa tujuan kinerja yang dicapai terlalu tinggi maka dipertimbangkan untuk menghapus dari
tujuan akhir perbaikan kinerja.

jika karyawan memang tidak cocok untuk posisi kerja yang sekarang, dipertimbangkan untuk penugasan kembali,
penurunan jabatan, atau penhentian hubungan kerja.

Faktor yang mempengaruhi kinerja

harapan tugas yang jelas

umpan balik yang jelas

lingkungan fisik, alat yang tepat, persedian dan ruang kerja

motivasi dan insentif yang didapat karyawan

keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk pekerjaan itu.

tentukan kinerja yang diinginkan

jelaskan kinerja aktual

jelaskan kesenjangan kinerja

cari penyebab akar masalah

pilih disain intervensi

melaksanakan intervensi

pemantauan dan evaluasi kinerja


Masker Sapu Tangan Lembab

Pencemaran kabut asap akibat kebakaran hutan dirasakan hampir merata di seluruh wilayah sumatera. Kebakaran
hutan secara alamiah maupun oleh hasil perbuatan oknum tertentu sangat menyengsarakan kehidupan kami
sebagai rakyat kecil.

Tidak ada cara lain selain berusaha melindungi diri dan keluarga dengan segenap kekuatan yang ada. Masker
standar untuk kabut asap (N95) bagi kami mungkin terlalu mahal. Masker yang mirip seperti tempurung ini
sepintas saya lihat di sebuah majalah seharga Rp 159 ribu/buah, merupakan harga yang cukup mahal bagi kami.
Syukur-syukur ada dermawan yang mau bagikan masker ke masyarakat. Itupun tidak semua yang kebagian.

Untuk saudaraku korban kabut asap mungkin ada alternatif lain, jika tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan,
seperti membuat masker sendiri dari sapu tangan lembab. Caranya...

1. Cukup dengan membasahi kain atau sapu tangan dengan air bersih.

2. Kemudian peras sedikit sehingga airnya keluar

3. siap digunakan. Cuci setiap selesai menggunakan.

Cara kerjanya ;
1. Partikel karbon yang halus akan diikat oleh air yang ada di sapu tangan. Ditandai dengan perubahan warna kain
putih berubah menjadi kelabu. Sebaiknya gunakan kain atau sapu tangan berwarna putih.

2. Gas yang dihasilkan dari pembakaran karbon yang tidak sempurna. Akan bereaksi dengan air pada sapu tangan,
sehingga mengurangi jumlah yang masuk ke saluran pernafasan.

Semoga tips ini berguna, daripada kita tidak melakukan apa-apa untuk melindungi diri dari efek kabut asap

Formalin Pada Pangan

Sejumlah pedagang "nakal" melakukan tindakan kecurangan dengan menambahkan pengawet yang bukan
diperuntukkan bagi makanan. Hal tersebut mereka lakukan demi keuntungan semata, pangan yang seharusnya
sudah rusak dan segera dibuang dapat laku dijual kepada konsumen. Sebagai konsumen kita berada dalam situasi
yang berbahaya, untuk itu konsumen perlu mendapat pengetahuan agar mereka dapat menghindari untuk
membeli pangan berbahaya tersebut.

Ada banyak jenis pengawet yang dapat dipakai salah satunya adalah formalin. Zat kimia ini mungkin lebih akrab
dikenal oleh masyarakat sebagai pengawet mayat. Dalam bentuk larutan zat kimia ini tidak berwarna dengan bau
yang tajam. formalin terdiri dari (air, 37% formaldehid, 15% metanol). formalin juga dapat digunakan sebagai
bahan perekat kayu lapis, desinfektan alat medis.

Formalin dapat menimbulkan berbagai dampak seperti, luka bakar pada kulit, iritasi saluran pernafasan, alergi
serta dampak jangka panjang berupa kanker. jika termakan sebanyak 2 sendok makan bisa menimbulkan
kematian.

Gejala umum yang sering dirasakan seperti mulut, tenggorokan dan perut serasa terbakar, sakit menelan, mual,
muntah, sakit kepala, tekanan darah rendah, kejang. selain itu juga bisa menimbulkan kerusakan pada hati,
jantung, otak, limpa, pankreas, sistem syaraf pusat, dan ginjal.

Konsumen perlu memgetahui ciri-ciri pangan yang ada formalinnya:

* mie basah berformalin


- tidak rusak selama dua hari disimpan pada suhu 25 derjatcelcius
- tidak rusak selama 15 hari disimpan pada suhu 10 derjatcelc
- tidak lengket dan lebih mengkilap dibanding mie yang normal
- bau agak menyengat

* tahu berformalin
- tidak rusak selama 3 hari pada suhu 25 derjatcelc
- tidak rusak selama 15 hari disimpan pada suhu 10 derjatcelc
- terlampau keras, kenyal namun tidak padat
- bau menyengat

* ikan dan hasil laut berformalin


- tidak rusak selama 3 hari pada suhu 25 derjatcelc
- warna insang merah tua dan tidak cemerlang
- daging ikan putih bersih tidak merah segar
- bau menyengat

* ikan asin berformalin


- tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu 25 derjcelc
- bersih dan cerah
- tidak berbau khas ikan asin
- tidak disukai lalat untk hinggap

* Bakso berformalin
- tidak rusak disimpan selama 5 hari pada suhu 25 derjcelc
- teksturnya sangat kenyal
- bau menyengat

*ayam berformalinRI
- tidak rusak disimpan selama 5 hari pada suhu 25 derjcelc
- teksturnya lebih kencang
- bau menyengat.

Sumber : BPOM

Keselamatan Kerja di Rumah Sakit Kep.Menkes No.1087/VIII/2010

Keselamatan kerja berkaitan erat dengan sarana dan prasarana dan peralatan kerja, bentuk pelayanan
keselamatan kerja meliputi :
1. Pembinaan dan pengawasan kesehatan dan keselamatan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan
* Lokasi rumah sakit
* Teknis bangunan rumah sakit
* Bangunan ramah untuk penyandang disabilitas, anak-anak, dan usia lanjut
* standar keamanan prasarana
* pemeliharaan sarana
* dokumentasi pengoperasian, perbaikan dan pemeliharaan peralatan dan sarana.
* peralatan medis dan nonmedis (standar mutu, keamanan, laik pakai)
* kalibrasi alat medis dan non medis
* peralatan dengan sinar pengion diawasi lembaga berwenang.
* kelengakapan sertifikasi sarana dan prasarana.

2. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap pekerja di rumah sakit
* identifikasi resiko ergonomi peralatan kerja
* pengendaliam resiko ergonomi

3. Pembinaan dan pengawasan lingkungan kerja


* lingkungan kerja harus memenuhi syarat (fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan psikosial
* pemantauan/pengukuran faktor diatas secara berkala
*evaluasi dan rekomendasi perbaikan lingkungan kerja

4. Pembinaan dan pengawasan sarana sanitasi di rumah sakit


* makanan dan minuman
* air
* tempat pencucisn
* sampah dan limbah
* pengendalian serangga dan tikus
* sterilisasi/desinfeksi
* perlindungan radiasi
* penyuluhan kesling

5. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja


* pembuatan rambu-rambu dan tanda keselamatan
* peta penyelamatan ketika terjadi bencana kerja
* alat pelindung diri
* perkiraan jumlah APD yang dibutuhkan

6. Promosi keselamatan kerja di rumah sakit


* penyuluhan dan pelatihan
* sertifikasi K3

7. Rekomendasi pengadaan kebutuhan keselamatan kerja


* kebutuhan alat, sarana dan prasarana
* Standar keamanan

8. Pelaporan kejadian luar biasa dan tindak lanjut


* alur pelaporan
* SOP penanganan tindakan dan pelaporan

9. Manajemen pencegahan kebakaran


* manajemen pencegahan kebakaran
* tim penanggulangan kebakaran
* SOP
* sosialisasi dan pencegahan kebakaran
* audit internal mengenai sistem pencegahan kebakaran

10. pencatatan dan pelaporan didokumentasikan

Standar Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit Berdasarkan Kep.Menkes RI No: 1087/Menkes/SK/VIII/2010

Rumah sakit merupakan salah satu tempat kerja yang memiliki resiko tinggi terjadi gangguan kesehatan bagi
pekerja, oleh karena itu rumah sakit dalam hal ini manajemen rumah sakit wajib melakukan pelayanan kesehatan
bagi pegawai yang sehari-hari bertugas di rumah sakit.

STANDAR PELAYANAN KESEHATAN KERJA DI RUMAH SAKIT


1. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja bagi pekerja di rumah sakit (medis, non medis).
* pemeriksaan fisik lengkap
* kesegaran jasmani
* rontgen paru-paru (bila perlu)
* laboratorium rutin
* pemeriksaan sesuai kebutuhan bagi pekerjaan resiko tinggi, untuk mencegah dampak yang ditimbulkan
dikemudian hari

2. Menjadwalkan pemeriksaan berkala bagi pekerja di rumah sakit


* pemeriksaan berkala bagi pegawai rumah sakit sekurang-kurangnya 1 tahun

3. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada :


* bagi pekerja di rumah sakit yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit yang memerlukan perawatan yang
lebih dari dua minggu.
* bagi pekerja di rumah sakit diatas umur 40 tahun, pekerja wanita, pekerja berusia muda yang melakukan
pekerjaan resiko tinggi.
* bagi pekerja yang terdapat dugaan mengalami gangguan kesehatan
* bagi pekerja yang mengalami keluhan khusus.

4. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan kerja dan memberikan bantuan bagi
pekerja di rumah sakit dalam penyesuaian diri baik fisik dan mental.
* informasi umum rumah sakit dan fasilitas yang terkait kesehatan kerja
* informasi tentang bahaya khusus di tempat kerjanya
* standar operasional tetap dalam hal (kerja, peralatan, alat pelindung diri).
* orientasi tempat kerja
* budaya kerja

5. Meningkatkan kesehatan jasmani, mental pekerja rumah sakit


* pemberian makanan tambahan dengan gizi yang mencukupi untuk pekerja di radiologi, labor, kesling , perawat,
dokter, bidan, pekerja dinas malam.
* pemberian imunisasi khusus
* olah raga, senam, dan rekreasi
* pembinaan rohani dan mental

6. Memberika rehabilitasi, pengobatan dan perawatan bagi pekerja rumah sakit yang menderita sakit.
*pengobatan gratis
* biaya pengobatan bagi pekerja yang mengalami penyakit akibat kerja
* tindak lakjut pemeriksaan kesehatan
* rehabilitasi penyakit

7. Melakukan koordinasi dengan tim panitia pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit
* pertemuan koordinasi
* pembahasan khusus
* penanggulangan kejadian infeksi nosokomial

8. Melaksanakan surveilans kesehatan kerja di rumah sakit


* pemetaan tempat kerja berdasarkan bahaya dan resiko
* identifikasi pekerjaan, lama pajanan dan dosis pajanan
* analisa pemeriksaan kesehatan berkala khusus
* tindak lanjut ( rotasi kerja, rujuk ke dokter spesialis, istirahat kerja)
* pemantauan perkembangan kesehatan pekerja rumah sakit
9. Menerapkan ergonomi (posisi kerja yang benar) di setiap pekerjaan di rumah sakit
* pelatihan ergonomi
* modifikasi alat

10. Pencatatan dan pelaporan kesehatan kerja setiap bulan dan dalam keadaan darurat kerja
Forrmulir Indikator Kota Sehat

Formulir 1b.

FORMULIR VERIFIKASI INDIKATOR PENYELENGGARAAN

KABUPATEN/KOTA SEHAT

I. DATA UMUM

Propinsi :

Kab / Kota :

Nama Forum :

Nama Ketua Forum :

Alamat :

Telepon :

NamaWalikota /Bupati :

Alamat Kantor :

Tatanan yang diambil : 1. Kawasan Permukiman dan Sarana Prasarana Umum

2. Kawasan Sarana Lalu Lintas Tertib dan Pelayanan Transportasi

3. Kawasan Pertambangan Sehat

4. Kawasan Hutan Sehat

5. Kawasan Industri dan Perkantoran Sehat

6. Kawasan Pariwisata Sehat

7. Ketahanan Pangan dan Gizi

8. Kehidupan Masyarakat yang Mandiri

9. Kehidupan Sosial yang Sehat

II. DATA KHUSUS

NO TATANAN SCORE 2013 2014


NILAI

INDIKATOR POKOK

1 Angka kematian bayi 34 per 1.000 kelahiran hidup

a. Baik (<20 per 1000) 100

b. Cukup (20-34 per 1000) 50

Rendah (>34 per 1000) 0

2 Angka kematian ibu melahirkan 228 per 1.000 kelahiran hidup

a. Baik (<100 per 1000 KH)

b. Cukup (100-228 per 1000 KH) 100


Rendah (>228 per 1000 KH) 50

3 Prevalensi Penderita Tb Paru 235 per 100.000 penduduk

a. Baik (<150 per 100.000) 37/60.000

b. Cukup (150-235 per 100.000) 100


Rendah (>235 per 100.000) 50

4 Prevalensi penderita HIV pada populasi dewasa 0,2%

a. Baik (<0,1%)
100
b. Sedang (0,1%-0,2%)
50
Rendah (>0,2%)
50

5 Angka kesakitan DBD 55 per 100.000 penduduk

a. Baik (<30 per 100.000) 100

b. Cukup (30 – 55 per 100.000) 50

Rendah (>55 per 100.000) 0

6 Kasus diare 350 per 1000 penduduk

a. Baik (<250 per 1000)

b. Cukup (250-350 per 1000) 100

Rendah (>350 per 1000) 50

7 Kecamatan Bebas Rawan Gizi

a. Bebas 100

b. Ada kasus rawan gizi 50


8 Presentase peduduk yang memiliki akes terhadap air minum
berkualita 62%

a. Baik (>62%)

b. Cukup (50% - 62%) 100

Rendah (<50%) 75

25

9 Presentasi desa/kelurahan yang mencapai UCI 80% i

a. Baik (>80%) 100

b. Cukup (70%-80%) 75

Rendah (<70%) 25

10 Adanya Peraturan dan lokasi kawasan bebas rokok

a. Perda dan Lokasi 100

b. Lokasi Saja 75

Perda dalam proses 50

d. Sticker/ himbauan saja 25

e. Tidak ada perda dan lokasi 0

11 Meningkatnya umur harapan hidup 70,7 tahun

a. Mencapai > 70,7 tahun 100

b. Target tahun 2009 sampai 70,7 tahun 75

Sampai dengan target tahun 2009 50

d. Tidak mencapai target 0

TOTAL

INDIKATOR PENYELENGGARAAN

KABUPATEN / KOTA SEHAT

Tatanan : 1

Kawasan Permukiman Sarana & prasarana sehat


TATANAN
NO SCORE NILAI 2013 2014
INDIKATOR KHUSUS

Kawasan Permukiman Sarana & Prasarana Sehat

1 Adanya program udara bersih

a. SK Bupati/Walikota dan kegiatan 100

b. Kegiatan tanpa SK 75

c. SK dalam proses tanpa kegiatan 50

d. Tidak ada 25

2 MENURUNNYA Incidence penyakit ISPA/ Pneumonia

a. Menurun dari tahun sebelumnya

b. Sama dengan tahun sebelumnya 100


Meningkat dari tahun sebelumnya 50

25

3 Menurunnya Incidence kasus TB Paru

a. Menurun dari tahun sebelumnya 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Meningkat dari tahun sebelumnya 0

4 Adanya uji emisi kendaraan roda 4

a. SK Bupati/ Walikota dan kegiatan 100

b. Kegiatan tanpa SK 75

SK dalam proses tanpa Kegiatan 50

d. Tidak ada 25

5 Adanya uji emisi udara tidak bergerak

a. SK Bupati/ Walikota dan kegiatan 100

b. Kegiatan tanpa SK 75

SK dalam proses tanpa Kegiatan 50

d. Tidak ada 0

6 Air sungan terlihat bersih/ tidak terdapat sampah dan tinja

a. Bersih

b. Kotor 100
0

7 Terlarang membuang sampah/ limbah kesungai

a. SK Bupati/ Walikota dan kegiatan 100

b. Kegiatan tanpa SK 75

SK dalam proses tanpa kegiatan 50

d. Membuang sampah/ limbah 0

8 Bantaran sungai bebas dari bangunan liar

a. Ada 100

b. Tidak ada 0

9 Peningkatan cakupan pelayanan air bersih

a. Meningkat sesuai target 100

b. Tidak meningkat 0

10 Penigkatan cakupan kualitas air minum

a. Meningkat sesuai target 100

b. Tidak meningkat 0

11 Persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat 64%

a. >64%

b. 60% - < 64% 100 100 83,8% 86%


50% - 60% 75
d. <50% 50

12 Adanya sistem pengolahan limbah domistik kota (IPAL)

a. Ada

b. Tidak ada 100 100

50

13 Drainase perkotaan lancar/ tidak terdapat genangan air dijalan

a. Lancar dan tidak ada genangan

b. Tidak lancar/ ada genangan 100 100


0

14 Adanya pemisahan/ pemilahan sampah (3R)

a. Ada 100 100

b. Tidak ada 0

15 Tempat Pembuangan Akhir Sampah tidak mencemari


lingkungan

a. Tidak terdapat keluhan masyarakat


100 100
b. Ada keluhan masyarakat
0

16 PSN dan GJB berjalan dengan baik

a. Berjalan dengan baik 100 100

b. Tidak ada kegiatan 0

17 Tersedia fasilitas sarana umum yang cukup (Olah raga,


rekreasi,dll)

a. Ada
100 100
b. Tidak ada/ kurang
0

18 Angka bebas jentik aedes di perumahan/ pemukiman

a. Bebas jentik (ABJ = 0)

b. Ditemukan jentik 100 100

19 Bebas bajir

a. Bebas banjir 100 100

b. Banjir 0

20 Peningkatan rumah sehat

a. Meningkat dari tahun sebelumnya 100 100 76,6 79,7

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun dari tahun sebelumnya 25

21 Menurun klb penyakit Diare, DBD atau malaria

a. Menurun dari tahun sebelumnya 100 100


b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Senurun dari tahun sebelumnya 25

22 Menigkatnya pemanfaatan pelayanan Puskesmas

a. Meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun dari tahun sebelumnya 25

23 Program wajib tanam pohon bagi masyarakat

a. SK Bupati/ Walikota dan kegiatan tanam 100

b. Kegiatan tanam tanpa SK 75

SK dalam proses tanpa kegiatan tanam 50

d. Tidak ada 0

24 Tersedia taman dan hutan kota

a. Ada 100

b. Tidak ada 0

25 Presentase sekolah sehat

a. Meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun dari tahun sebelumnya 25

26 Tersedianya saran berolah raga di sekolah

a. Ada 100 100

b. Tidak ada 0

27 Adanya program pasar sehat

a. SK Bupati/ Walikota dan kegiatan 100 0

b. Kegiatan tanpa SK 75

SK dalam proses tanpa kegiatan 50

d. Tidak ada 0

28 Lingkungan pasar perkotaan bersih


a. Bersih 100 100

b. Kotor 0

29 Tersedia toilet yang cukup dan memenuhi syarat di pasar

a. Cukup

b. Kurang 100 10

30 Tersedia lahan parkir di pasar perkotaan

a. Ada 100 100

b. Tidak ada 0

31 Adanya pengaturan dan penataan pedagang K5

a. Ada 100
b. Tidak ada 0 100

INDIKATOR PENYELENGGARAAN

KABUPATEN / KOTA SEHAT

Tatanan : 6

Kawasan Pariwisata Sehat

TATANAN
NO SCORE 2013 2014
INDIKATOR KHUSUS NILAI

Kawasan Pariwisata Sehat

1 Tersedianya informasi obyek wisata di tempat umum (hotel,


bandara/pelabuhan, dll)
a. Ada, seluruh tempat umum

b. Tidak ada 100

2 Adanya informasi sarana kesehatan untuk wisatawan di lokasi

a. Ada

b. Tidak ada 100

3 Seluruh hotel laik sehat

a. Seluruhnya 100

b. Sebagian 50

Tidak ada 0

4 Seluruh restoran/ rumah makan laik sehat

a. Seluruhnya 100

b. Sebagian 50

Tidak ada 0

5 Meningkatnya jumlah wisatawan pertahun

a. Ya 100

b. Tetap 50

Tidak 0

6 Wisatawan telah diasuransikan (bukti SK)

a. SK Bupati/Walikota 100

b. SK dalam proses 50

c. Tidak ada 0

7 Terjadi keracunan makanan pada wisatawan 1 tahun terakhir

a. Tidak ada dalam 2 tahun terakhir 100

b. Ada dalam 1 tahun terakhir 50

Ada dalam 2 tahun terakhir 0

8 Menurunnya kasus kecelakaan di obyek wisata

a. Menurun 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Meningkat 0

9 Transportasi tersedia ke daerah wisata

a. Tersedia, jumlah cukup 100

b. Tersedia, jumlah tidak cukup 50

c. Sulit/ tdk tersedia 0


10 Adanya tanggap darurat / balai keselamatan di daerah wisata
(bukti SOP)

a. Ada
100
b. Tidak ada
0

11 Tersedia fasilitas umum di setiap objek wisata (toilet, jamban, air


bersih, TPS, klinik/P3K, telekomunikasi, cindera mata, dll)

a. Tersedia , lengkap dengan jumlah cukup


100
b. Tersedia tidak lengkap dan jumlah tidak cukup
50
c. Tidak tersedia
0

12 Adanya polisi pariwisata

a. Ada 100

b. Tidak ada 0

13 Adanya kelompok sadar wisata dilokasi objek wisata

a. Ada SK dan kegiatan 100

b. Kegiatan tanpa SK 75

c. SK dalam proses tanpa kegiatan 50

d. Tidak ada 0

TOTAL

INDIKATOR PENYELENGGARAAN

KABUPATEN / KOTA SEHAT

Tatanan : 7

Ketahanan pangan dan gizi

Tahun 2015

TATANAN
NO SCORE NILAI 2013 2014
INDIKATOR KHUSUS

Ketahanan Pangan dan Gizi (900)


1 Meningkatnya produksi tanaman pangan

a. Meningkat 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun 0

2 Kasus gizi buruk

a. Menurun 100

b. Sama dengan tahub sebelumnya 50

Meningkat 0

3 Tersedianya cadangan pangan dan lumbung padi dimasyarakat

a. Tersedia 100

b. Tidak tersedia 0

4 Ketersediaan pangan (diambil dari neraca bahan makanan)

a. Cukup 100

b. Kurang 0

5 Berfungsinya Koperasi

a. Banyak Koperasi yang aktif 100

b. Tidak ada sama sekali 0

6 Adanya Kasus keracunan pestisida pada petani

a. Tidak ada kasus 100

b. Masih ada kejadian 0

7 Adanya penyuluhan pengendalian hama terpadu dan penggunaan


pestisida

a. Ada
100
b. tidak ada
0

8 Berfungsinya lembaga distribusi pangan yang ada di masyarakat


(koperasi, kelompok tani)

a. Ada dan berfungsi


100
b. Tidak ada
0

9 Adanya program pertanian organic oleh pemerintah dan masyarakat

a. Ada

b. Tidak ada 100

TOTAL
INDIKATOR PENYELENGGARAAN

KABUPATEN / KOTA SEHAT

Tatanan : 8

Kehidupan Masyarakat Sehat Yang Mandiri

TATANAN NILAI
SCORE
INDIKATOR KHUSUS 2013 2014

8. Kehidupan Masyarakat Sehat Yang Mandiri(3.800) 3.800 3.800

1 Adanya gerakan olah raga rutin di masyarakat/perkantoran, dll


a. Ada 100

b. Tidak ada 0

2 Menurunnya kasus penggunaan NAPZA

a. Menurun 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Meningkat 0

3 Adanya kelompok/ organisasi masyarakat dlm program penanggulangi


NAPZA dan HIV/AIDS

a. Ada
100
b. Tidak ada
0

4 Adanya kepatuhan masyarakat untuk tidak merokok di tempat umum

a. Patuh

b. Tidah patuh 100

5 Adanya gerakan anti merokok oleh pemerintah dan masyarakat

a. Ada 100

b. Tidak ada 0

6 Adanya fasilitas untuk orang cacat di tempat umum

a. Ada di semua tempat 100

b. Ada di beberapa tempat 50

Tidak ada 0

7 Cakupan pelayanan air bersih

a. Diatas target nasional 100

b. Sama dengan target nasional 50

Dibawah target nasional 0

8 Adanya pemeriksaan rutin kualitas air bersih oleh pemerintah

a. Ada secara rutin

b. Ada dan tidak rutin 100


Tidak ada 50

0
9 Meningkatnya Kualitas air bersih

a. Diatas target nasional 100

b. Sama dengan target Nasional 50

Dibawah target nasional 0

10 Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan airnya ke laboratorium

a. Semua memeriksakan

b. Sebagian memeriksakan 100


Tidak ada 50

13 Meningkatnya cakupan penggunaan pelayanan kesehatan

a. Meningkat 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun 0

14 Tersedianya fasilitas pelayanan konseling remaja

a. Ada dan meningkat 100

b. Ada dan tetap 50

Tidak ada 0

15 Adanya pemeriksaan kesehatan secara rutin pada anak sekolah

a. Ada dan rutin

b. Ada dan tidak rutin 100


Tidak ada 50

16 Meningkatnya Program UKS

a. 100 % sekolah 100

b. > 50 % 50

< 50% 0

17 Meningkatnya dokter kecil

a. Meningkat 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun 0

18 Pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih

a.Ya, 100 % 100

b. 75%-100% 75

c. <75% 50

d. Tidak ada 0
19 Tersedianya pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas

a. ada dan meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. ada dan tetap dari tahun sebelumnya 50

Tidak tersedia 0

20 Pelayanan klinik sanitasi yang berfungsi

a. 75%-100% dari jumlah puskesmas 100

b. 50%-<75% dari puskesmas 50

<50 % dari jumlah puskesmas 0

21 Adanya gerakan anti rokok, alkohol dan narkotik oleh masyarakat

a. Ada, dan meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya 50

Tidak ada 0

22 Adanya pelayanan khusus penanggulangan narkoba oleh pemerintah

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya

b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya 100


Tidak ada 50

23 Menurunnya kasus penggunaan narkoba

a. Menurun ……kasus/th 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Meningkat ……kasus / th 0

24 Meningkatnya cakupan imunisasi

a. Meningkat 6,25 % 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun …..% 0

25 Berfungsinya posyandu aktif

a. Berfungsi > 50 % 100

b. Berfungsi 30% - 50 % 50

Berfungsi < 30% 0

26 Cakupan kunjungan ke puskesmas/ saryankes

a. Meningkat …….% 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun ………% 0

27 Adanya gerakan PSN di sekolah, Rumah Tangga,TTU

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya 100


b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya 50

Tidak 0

28 Bebas jentik aedes di sekolah, Rumah Tangga dan TTU

a. Bebas jentik selama dua tahun terakhir 100

b. Bebas jentik hanya 1 tahun terakhir 50

Masih ditemukan 0

29 Adanya gerakan kelompok/ masyarakat dalam pencegahan penyakit


degenerative/ PTM

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya


100
b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya
50
Tidak ada
0

30 Adanya informasi resiko dan upaya pencegahan PTM

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya 50

Tidak ada 0

31 Adanya kelompok masyarakat dalam penanggulangan masalah gizi

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya

b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya 100


Tidak ada 50

32 Meningkatnya KEP pada ibu hamil

a. Meningkat 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun 0

33 Adanya penderita kretin baru

a. Menurun 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Meningkat 0

34 Adanya ibu hamil yang anemia dan kekurangan yodium

a. Menurun 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Meningkat 0

35 Menurunnya masyarakat kekurangan vitamin A.

a. Menurun 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50


Meningkat 0

36 Menurunnya berat bayi lahir rendah (BBLR)

a. Menurun 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Meningkat 0

37 Meningkatnya keluarga sadar gizi

a. Meningkat 100

b. Sama dengan tahun sebelumnya 50

Menurun 0

38 Jumlah puskesmas yang memberikan pelayanan dasar bagi masyarakat


miskin

a. 80%-100%
100
b. 50%-<80%
50
< 50%
0

TOTAL

INDIKATOR PENYELENGGARAAN

KABUPATEN / KOTA SEHAT

Tatanan : 9

Kehidupan Sosial yang Sehat

TATANAN NILAI
NO SCORE
INDIKATOR KHUSUS 2013 2014
9. Kehidupan Sosial yang sehat

1 Menurunnya angka kemiskinan (4%-6 %)

a. Menurun > 6 % 100

b. Menurun 4%-6% 50

c. Menurun <4% 0

2 Adanya pengemis dan gelandangan di sarana umum

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnyaM 50

Tidak ada 0

3 Menurunnya jumlah pemakai narkoba

a. Menurun 100

b. sama dengan tahun sebelumnya 50

c. Meningkat ....% 0

4 Menurunnya jumlah tuna susila

a. Menurun 100

b. sama dengan tahun sebelumnya 50

c. Meningkat ....% 0

5 Adanya rumah singgah bagi anak jalanan

a. Ada 100

b. Tidak ada 0

6 Adanya tenaga informal yang sudah kursus/ pelatihan kerja

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya 50

Tidak ada 0

7 Adanya pengembangan kreatifitas anak dan produktifitas lanjut usia

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya

b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya 100

Tidak ada 50

8 Adanya program pendidikan penanganan kecacatan

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. Ada dan tetap dari tahun sebelumnya 0

9 Adanya fasilitas bagi penderita kecatatan di tempat umum

a. Ada dan meningkat dari tahun sebelumnyo 100

b. Da dan tetap dari tahun sebelumnya 50

Tidak ada 0
10 Kebijakan pemda terhadap penanganan masyarakat di daerah terpencil/pulau
kecil

a. Ada dan sudah dilaksanakan


100
b. Ada dalam proses
50
Tidak ada
0

11 Sarana transportasi umum menuju daerah terpencil /pulau kecil

a. Ada, dapat dijangkau kendaraan roda empat 100

b. Ada, tidak dapat dijangkau kendaraan roda empat 50

Tidak ada 0

12 Sarana kesehatan di daerah terpencil /pulau kecil

a. Ada, dan berfungsi 100

b. Ada, dan tidak berfungsi 50

Tidak ada 0

13 Sarana TPA yang memenuhi syarat

a. Ada, dan memenuhi syarat 100

b. Ada, kurang memenuhi syarat 50

Tidak ada 0

14 Program khusus terhadap anak terlantar, jompo/lanjut usia

a. Ada, dan meningkat dari tahun sebelumnya 100

b. Ada dan tetap 50

Tidak ada 0

15 Program kesiap siagaan penanggulangan bencana bagi masyarakat

a. Ada secara rutin setiap tahun

b. Ada dan tidak setiap tahun 100


Tidak ada 50

16 Kejadian kerusuhan/ anarkis

a. Tidak ada selama 2 tahun terakhir 100

b. Tidak ada selama 1 tahun terakhir 50

Ada 0

17 Memilki contingency plan masalah bencana

a. Ada, melibatkan LS/LP terkait 100

b. Ada, dan kurang melibatkan LS/LP terkait 50

Tidak ada 0

TOTAL
Catatan :

Total nilai

- Sama dengan atau lebih dari 80% total nilai per tatanan

- Total nilai :minimal 80% dari total nilai

Catatan/ komentar Tim Penilai :

.......................................................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................................................................
................................................................................................................................................................

............................................................2015

TIM VERIFIKASI :

NO. Nama Instansi


Tandatangan

1. ............................................. .................................... .............................

2. ............................................. .................................... .............................

3. ............................................. .................................... .............................

4. ............................................. .................................... .............................

5. ............................................. ................................... .............................

Ketua Tim Pembina KKS

(--------------------------------)

Pedoman Pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU)

Tempat-Tempat Umum juga dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan apabila tidak dikelola dengan
baik, oleh sebab itu menjadi tugas dari petugas kesehatan lingkungan (sanitarian) untuk melakukan pemantauan
dan pengawasan secara berkala.

Tempat-tempat umum
tempat kegiatan bagi umum yang dilakukan swasta, perorangan, bemerintah, masyarakat yang ada tempat dan
kegiatannya tetap.

Jenis tempat-tempat umum


a. berkaitan pariwisata

hotel/penginapan

kolam renang, pemandian umum

restoran, rumah makan, cafe, warung nasi

bioskop, gedung pertemuan

tempat hiburan/rekreasi

taman

b. berkaitan sarana perhubungan

terminal darat/ kerata api

pelabuhan laut/udara

c. berkaitan sarana sosial

tempat ibadah

pasar

Gedung Olahraga (GOR)

d. berkaitan sarana komersil

salon

pangkas rambut

pusat perbelanjaan

dll

Pengawasan dan pemeriksaan


melakukan pengawasan dan memeriksa item-item yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan dan kesehatan
pada umumnya. fasilitas sanitasi yang diawasi seperti (airbersih/minum, pembuangan kotoran, limbah, sarana
pengumpulan dan pembuangan sampah). titik berat kegiatan pada pengadaan fasilitas sanitas, penggunaan
fasilitas serta pemeliharan fasilitas sanitasi yang ada.

Langkah kegiatan yang dilakukan

pengumpulan data dasar sarana TTU yang ada pada wilayah kerja

peraturan daerah berkaiatan TTU (biasanya masalah izin usaha)

permasalahan umum/khusus mengenai objek TTU yang akan diawasi

hambatan pelaksanaan ( surat tugas, BBM, dll)maupun hambatan sosial (pengelola kurang responsif dengan
kedatangan petugas)

potensi yang bisa dikembangkan


saran-saran perbaikan

koordinasi lintas sektor terkait misal; satpol pp tentang masalah perizinan, kelurahan/kecamatan, desa, tokoh
masyarakat, LSM, Dinas perindustrian/perdagangan dll

buat perencanaan untuk pengawasan tindak lanjut setelah pengawasan tahap I

penyuluhan kepada konsumen/ masyarakat pemakai sarana TTU

penilaian dan reward bagi TTU terbaik dalam mengelola fasilitas sanitasi

perbanyak alat peraga dan poster tentang TTU sehat

Sosialisasikan Standar TTU yang Sehat menurut ilmu higiene sanitasi

lakukan pelaporan indikator perkembangan TTU yang ada.

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Demam berdarah dengue (DBD) adalah :

penyakit dengan tanda demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2 s.d
7 hari,

Manifestasi perdarahan (ptekie, purpura, perdarahan konjuctiva, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
melena, hematuri), trombositopeni (kurang atau sama dengan 100.000 /ul),

hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit >20 %)

disertai dengan atau tanpa pembesaran hati (hepato megali)

Penyebab DBD : Virus dengue

Masa inkubasi : 4 sampai dengan 7 hari

Vektor : Nyamuk Aedes (Aedes aegypti, Aedes albopictus) untuk aedes albopictus lebih senang hidup
dikebun/ladang maka fogging disekitar kebun di dekat rumah perlu juga.

pasien dengan Demam Dengue (biasanya tidak menampakkan gejala/asimptomatis) hanya berupa demam ringan.

Tanda dan gejala penyakit

a. Demam

demam tinggi mendadak, terus menerus 2 s.d 7 hari


panas turun pada hari ketiga (3), kemudian naik pada hari keenam (6) dan ketujuh (7)

b. Tanda perdarahan

perdarahan bisa terjadi pada semua organ, sesuai dengan manifestasi perdarahan diatas dengan melakukan uji
Tourniquet. petekie sering ditemukan pada awal-awal demam.

c. Pembesaran hati

d. Renjatan (syok)

kulit teraba dingin dan lembab terutama ujung hidung, jari tangan dan kaki

penderita menjadi gelisah

sianosis didekitar mulut

nadi cepat, lemah, kecil sampai tidak teraba

tekanan nadi menurun, sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang

Gejala klinik lain

nyeri otot

anoreksia (hilang nafsu makan)

lemah

mual

muntah

sakit perut

diare

kejang:

kadang terjadi penurunan kesadaran

Tersangka Demam Berdarah jika

Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas

berlangsung terus-menerus selama 2 s.d 7 hari

disertai manifestasi perdarahan

trombositopenia (kurang dari 100.000 /ul)

Kriteria Klinis

demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2 - 7 hari

ditemukan manifestasi perdarahan

pembesaran hati

syok

Siklus Hidup Aedes.sp

telur ( kurang lebih 2 hari)


jentik (6 s.d 8 hari)

kempompong (2 s.d 4 hari)

nyamuk dewasa (9 s.d 10 hari)

nyamuk betina ( hidupnya bisa mencapai 2 sampai 3 bulan)

Tempat perindukan nyamuk :

jaraknya biasa tidak melebihi 500 meter dari rumah

tepat penampungan air (drum, tangki, tempayan, bak, ember)

tempat bukan penampungan air (ban, kaleng, botol, plastik, vas bunga, tempat minum burung)

tempat pemampung air alamiah (lobang pohon, lobang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah daun,
potongan bambu)

perilaku nyamuk

nyamuk jantan menghisap cairan tumbuhan atau sari bunga

nyamuk betina lebih menyukai darah manusia dari pada binatang

nyamuk betina biasanya aktif pada pagi (9.00 s.d 10.00 wib) dan sore hari (16.00 sd 17.00)

rata-rata telur nyamuk betina sebanyak 100 butir.

telur juga dapat diletakkan pada tempat kering (suhu minus 2 derjatcelc sampai 42 derjcelc) sampai menunggu
ada genangan air (hujan).

kemampuan terbang 40 meter maksimal 100 meter namun bisa lebih jauh terbawa oleh angin

pada ketinggian 1000 meter diatas perukaan laut jarang ditemukan

Survei Jentik

Nyamuk dewasa dapat diketahui dengan mata telanjang

periksa tempat peridukan nyamuk aedes (tempat yang ada wadah atau pembatas dengan tanah)

pada air yang agak keruh biasa jumlah jentik ditemukan lebih sedikit

Angka Bebas Jentik (ABJ)

(Jumlah rumah tidak ada jentik : jumlah rumah diperiksa ) X 100%

Kepadatan Nyamuk

untuk mengetahui bisa digunakan Ovitrap (kaleng yang dicat warna hitam pada bagian dalam diberi air
secukupnya). perhitungannya adalah jumlah telur dibagi jumlah ovitrap yang digunakan.

Pemberantasan Nyamuk

A. Nyamuk Dewasa

fogging pada dinding

menyemrot nyamuk harus dari dalam dahulu berangsur-angsur petugas fogging mundur keluar rumah

peralatan safety (masker, sarung tangan, kaca mata) wajib dipakai


insektisida yang digunakan

- Organophosphat ( ex. malathion)

- Pyretroid sintetik (ex. sihalotrin, cypermetrin, alfametrin)

- Carbamat

penyemrotan dilakukan 2 kali dengan jarak satu minggu (7 hari) dari penyemrotan sebelumnya

dilakukan juga PSN (pemberantasan sarang nyamuk)

B. Jentik

melaksanakan 3 M (menutup, menguras, menimbun)

Abtisasi ( temephos dengan dosis 10 gram/satu sendik makan rata untuk 100 liter air pada bak penampungan)
efeknya bisa bertahan selama 3 bulan

memlihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan pantau, ikan gupi, ikan cupang dll)

Pemberantasan dan pencegahan Nyamuk :

lakukan penyelidikan epidemiologis oleh snaitarian atau pengelola program P2M puskesmas

tentukan fokus lokasi fogging (buat pemetaan wilayah)

Bila ada lebih dari dua kasus pada satu wilayah dengan jarak kurang 100 meter, lakukan penyemrotan dua kali
dengan jarak 7 hari.

libatkan lintas sektor untuk menggerakkan PSN di masyarakat

lakukan pemantau berkala setiap tahun pada wilayah yang pernah terjadi KLB

pemeriksaan jentik berkala

penyuluhan ( rapat pemerintah, posyandu balita, posyandu lansia, pasar,sekolah, mesjid/ musholla)

membuat iklan layanan masyarakat tentang siaga darurat DBD.

Penyelidikan Epidemiologis (PE)

kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD, jentik nyamuk DBD radius 100 meter dari rumah
penderita/tersangka DBD.

Tujuan PE :

untuk mengetahui potensi penularan

untuk mengetahui penderita atau tersangka lainnya

untuk mengetahui ada tidaknya jentik aedes

untuk jenis tindakan yang cocok utuk dilakukan

Peralatan Survei : tensimeter, senter, formulir PE, surat tugas, Cidukan larva, botol larva dll

Catatan : semua kegiatan yang dilakukan oleh bidang kesehatan sebaiknya disosialisasikan dan diperbincangkan
hasilnya di masyarakat secara formal (rapat pemerintahan) ataupun nonformal (warung/kedai kopi, pasar, sarana
ibadah, pertemuan masyarakat setempat) tujuan untuk menimbulkan partisipatif masyarakat dalam
penanggulangan DBD. mengingat masalah kesehatan tidak bisa diselesaikan hanya oleh pelaksana bidang
kesehatan saja tanpa kerjasama dengan masyarakat.

LAPORAN PRAKTEK LAPANGAN KLINIK SANITASI


LAPORAN PRAKTEK LAPANGAN

PELATIHAN ORIENTASI KLINIK SANITASI

Bagi petugas kesehatan linkungan

Kabupaten/kota se Sumbar

BAB I

GAMBARAN UMUM PUSKESMAS

A. Geografi

Wilayah kerja Puskesmas Padang Pasir adalah Kecamatan Padang Barat yang terletak di pusat kota Padang dengan
luas wilayah 7 km2. Dari 10 kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Padang barat 5 kelurahan diantaranya
terletak di pinggir pantai.

Batas wilayah Kecamatan Padang Barat adalah sebagai berikut :

· Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Padang Utara

· Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Padang Selatan

· Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Padang Timur

· Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia

B. Demografi

Tabel 1. Jumlah Penduduk di Kecamatan Padang Barat Tahun 2014

No Kelurahan Jumlah* Jumlah KK Jumlah KK Miskin

1 Flamboyan 4560 1.427 130

2 Rimbo Kaluang 3935 1.025 224

3 Ujung Gurun 4608 1.360 222

4 Padang Pasir 4655 1.717 240

5 Kampung Jao 4396 1.668 138

6 Purus 6745 1.649 645

7 Olo 5270 1.612 436

8 Belakang Tangsi 2920 1.060 119

9 Kampung Pondok 3922 1.430 95


10 Berok Nipah 4633 1.423 428

Jumlah 45644 14.371 2.677

*Sumber : BPS Kota Padang

Tabel 2. Jumlah RT dan RW di Kecamatan Padang Barat Tahun 2014

No Kelurahan RT RW

1 Flamboyan 19 4

2 Rimbo Kaluang 14 4

3 Ujung Gurun 28 7

4 Padang Pasir 22 6

5 Kampung Jao 21 8

6 Purus 27 7

7 Olo 18 4

8 Belakang Tangsi 17 6

9 Kampung Pondok 34 11

10 Berok Nipah 24 8

Jumlah 224 63

C. 10 Penyakit Terbanyak

D. SUMBER DAYA

JUMLAH

NO. JENIS TENAGA NON PNS


PNS
PTT NPD/Volunteer

1 Kepala Puskesmas 1 - -

2 Dokter Umum 2 - -

3 Dokter Gigi 6 - -

4 Sanitarian 2 - -

5 Pelaksana Gizi 2 - -

6 Perawat 11 - 8

7 Perawat Gigi 2 - -

8 Bidan 13 6 1

9 Apoteker 1 - -
10 Asisten Apoteker/D3 Farmasi 6 - -

11 Analis Laboran 3 - -

12 Tata usaha 1 - -

13 Petugas loket dan Medical Record 2 - -

14 Fisioterapis 0 - 1

15 Sopir 1 - -

16 Umum Lainnya 3 - 2

JUMLAH : 56 6 12

BAB II

HASIL

A. WAKTU DAN PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANGNA DI PUSKESMAS PADANGPASIR

- HARI/TANGGAL : KAMIS/ 12 JUNI 2014

- JAM : 08.00 S/D 11.30 WIB

- TEMPAT :

o Dalam Gedung : Puskesmas Padang Pasir

o Luar Gedung : Purus V Kelurahan Purus

B. PROSES PELAKSANAAN

C. HASIL KEGIATAN

1. Kegiatan Dalam Gedung

Jumlah kunjungan sampai pengamatan selesai 99 orang


Tersangka pasien yang mengidap penyakit yang berbasis linkungan 5 orang ( 5,05 % )

Pasien yang mempunyai penyakit berbasis lingkungan di Puskesmas Padang Pasir berjumlah 13 orang, yang dirujuk
ke Klinik Sanitasi sebanyak 5 orang dengan rincian :

- ISPA : 3 orang

- Gatal-gatal : 1 orang

- Kecacingan : 1 orang

- Tersangka TBC : 0 orang

2. Kegiatan Luar Gedung

Kunjungan pasien Klinik sanitasi dilakukan menggunakan IS ( Inspeksi Sanitasi ) antara lain : formulir Rumah sehat,
sarana air bersih , kartu Rumah.

Selain rumah pasien TB paru yang diinspeksi, dilakukan juga penyelidikan epidemiologi sebanyak 20 rumah
dilingkungan sekitar rumah pasien tersebut. Dengan rincian :

NO NAMA KK/ANGGOTA KELUARGA STATUS RUMAH

1 Irwan alex MS

2 Irsan Dilimonte MS

3 Etmonetis MS

4 Ar MS

5 Naziva MS

6 afendi MS

7 Sumardi MS

8 Anto MS

9 Ervi TMS

10 Beni TMS

11 Fanrozi TMS

12 Maidarnis TMS

13 Sudirman TMS

14 Ferizal TMS

15 Lazuardi TMS

16 Yanuar TMS

17 Murtias TMS

18 Azi TMS

19 Juli TMS

20 Dazi TMS
A. Komponen Rumah

1. Ventilasi : dari 12 rumah yang TMS, 11 rumah dengan kriteria mempunyai ventilasi permanen < 10 % dari
luas lantai. 1 rumah tidak mempunyai ventilasi sama sekali

2. Lubang Asap dapur: dari 11 rumah yang TMS , 7 rumah tidak mempunyai lubang asap dapur dan 4 rumah
mempunyai ventilasi permanen < 10 % dari luas lantai

3. Pencahayaan : dari 8 rumah yang TMS, 3 rumah tidak terang dan tidak dapat dipergunakan untuk
membaca. 5 rumah kurang terang sehingga kurang jelas untuk membaca dengan normal.

4. Langit-langit : dari 5 rumah 1 rumah tidak mempunyai langit-langit. 4 rumah mempunyai langit-langit tetapi
kotor.

5. Jendela kamar tidur : 5 rumah yang diperiksa tidak mempunyai jendela.

6. Jendela ruang keluarga : 5 rumah yang diperiksa tidak mempunyai jendela.

7. Dinding : 4 rumah semi permanen.an

B. Sarana sanitasi

1. SPAL : 11 rumah mempunyai saluran air limbah yang dialirkan ke selokan yang terbuka tetapi air limbahnya
tidak lancar

C. Perilaku Penghuni

1. Membuka jendela kamar tidur : dari 9 rumah yang diperiksa,1 rumah tidak pernah dibuka jendelanya, dan 8
rumah kadang-kadang dibuka jendelanya.

2. Membuka Jendela ruang keluarga : dari 9 rumah yang diperiksa, 1 rumah tidak pernah dibuka jendelanya,
dan 8 rumah kadang-kadang dibuka jendelanya.

BAB III

PEMBAHASAN

1. KEGIATAN DALAM GEDUNG

Hasil kegiatan praktek lapangan, kegiatan klinik sanitasi sudah teritegrasi dengan lintas program di lingkungan
puskesmas Padang Pasir. Didapatakan hasil 5,05% pasien yang berbasis linkungan, hal ini dipengaruhi tingkat
pendidikan, social ekonomi, dan lintas program yang belum terorganisir dengan baik.

pengamatan kami yang tersangka TBC tidak di temukan, maka dari itu hasil ini menggambarkan penurunan
prevalensi TBC. Indonesia dipilih oleh USAID dan paramitra untuk memperoleh penghargaan dengan
pertimbangan, yaitu: 1) Kemajuan upaya pengendalian Tuberkulosis yang terjadi di Indonesia dianggap sebagai
pelopor dalam penerapan strategi dan pendekatan yang inovatif di bidang pencegahan, diagnosis maupun
pengobatan Tuberkulosis; 2) Indonesia termasuk negara pertama yang mengadopsi introduksi Rapid Diagnostic
Expert Mycobacterium Tuberculosis/Rifampisin (MTB/RIF), yaitu suatu alat yang bisa mendeteksi kuman
Tuberkulosis dan resistensinya terhadap Rifampisin; 3) Implementasi Public Private Mix (PPM) yang komprehensif
untuk meningkatkan layanan Tuberkulosis; 4) Komitmen Pemerintah yang kuat untuk tetap menjaga keberhasilan
pencapaian pengendalian Tuberkulosis dituangkan dalam rencana pembiayaan yang berkelanjutan Menanggapi
hal tersebut.
Pasien yang dirujuk ke klinik sanitasi dengan sikap beragam seperti kurang terbuka dalam memberikan
keterangan,tidak sabar atau terburu- buru dalam menjalani konseling.

2. KEGIATAN LUAR GEDUNG

Dari Kegiatan PE ditemukan beberapa factor resiko yang bisa mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat
khususnya penyakit berbasis lingkungan. Faktor resiko yang ditemukan adalah sebagai berikut ;

A. Komponen Rumah

· Ventilasi

· Lubang Asap dapur

· Pencahayaan

· Langit-langit

· Jendela kamar tidur.

· Jendela ruang keluarga

· Dinding

B. Sarana sanitasi

SPAL : rumah mempunyai saluran air limbah yang dialirkan ke selokan yang terbuka tetapi air limbahnya tidak
lancar

C. Perilaku Penghuni

· Membuka jendela kamar tidur

· Membuka Jendela ruang keluarga

Hasil pengamatan kami sebagian besar belum sesuai dengan standar kesehatan, ini akan menimbulkan bebagai
dampak terhadap kesehatan pendudk sekitar, terutama terhadap penyakit yang berbasis linkungan. Faktor yang
mempengaruhi adalah tingkat pendidikan, social ekonomi dan lintas program yang belum berjalan optimal.
Menurut Notoadmojo, 2007 derajat keshatan dipengaruhi empat faktor: lingkungan komtribusinya 45% , perilaku
30%, pelayanan 20% dan genetik 5%

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN

Hasil pengamatan dalam gedung di Puskesmas Padang Pasir ditemukan penyakit yang berbasis linkungan, dan
ditatalaksana sesuai dengan protap, kemudian dilakukan konseling di klinik sanitasi dengan memberikan
penyuluhan dengan media tentang penyakit yang disebabkan lingkungan yang tidak sehat.

Hasil pengamatan luar gedung ditemukan sebagian besar rumah tidak memenuhi standar kesehatan, baik aspek
fisik,sarana sanitasi dan perilaku penghuni.Halini disebakan tingkat pendidikan, sosial ekonomi dan lintas program
yang belum optimal

2. SARAN
Penyelesaian masalah kesehatan lingkungan terutama masalah yang menimpa sekelompok keluarga atau
kampung dapat dilaksanakan secara musyawarah dan gotong royong oleh masyarakat dengan bimbingan teknis
dari petugas sanitasi dan lintas sektor terkait. Apabila dengan cara demikian tidak tuntas dan atau untuk
perbaikannya memerlukan pembiayaan yang cukup besar maka penyelesaiannya dianjurkan untuk mengikuti
mekanisme perencanaan yang ada, mulai perencanaan tingkat desa, tingkat kecamatan dan tingkat
kabupaten/kota . Petugas sanitasi juga dapat membantu mengusulkan kegiatan perbaikan kesehatan lingkungan
tersebut kepada sektor terkait

Keberhasilan klinik sanitasi di lapangan Sangat tergantung pada kemauan, pengetahuan dan keterampilan petugas
klinik sanitasi dalam menggali, merumuskan dan memberikan saran tindak lanjut perbaikan lingkungan dan
perilaku secara cepat, tepat dan akurat. Selain itu dukungan kepala Puskesmas, petugas kesehatan lain, lintas
sektor dan masyarakat terutama dalam penyelesaian masalah kesehatan lingkungan sangat dibutuhkan untuk
keberhasilan pelaksanaan klinik sanitasi. Untuk itu dalam pelaksanaan klinik sanitasi harus dilakukan secara
terintegrasi dan didukung pengetahuan dan keterampilan di bidang lainnya seperti teknik komunikasi, konseling
dan lain-lain

Masalah penyakit lingkungan berbasis wilayah meliputi penyakit New Emerging Infectious Disease (NEID) dan Re
Emerging Infectious Disease (REID) merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang harus diantisipasi, karena
berpotensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), menyebar dalam tempo singkat dan menimbulkan dampak luar
biasa terhadap kehidupan masyarakat serta merupakan salah satu ancaman serius di masa mendatang.Untuk itu
dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, lintas program maupun lintas negara dalam manajemen penanggulangannya,
termasuk keterlibatan aktif lembaga pendidikan kesehatan

BAB V

PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH

PENGAMAT :

· Aplikasi ilmu yang di dapat selama pelatihan lebih bermanfaat karena dilakukan setelah proses pembelajaran

· Membuat manajemen terorganisir dalam pengelolaan penyakit berbasis lingkungan

INSTANSI :

· Aplikasi ilmu terapan baik dalam lingkungan Dinas kesehatan, puskesmas dan lintas sektor

· Membuat manajemen program klinik sanitasi di puskesmas,


Indonesia dipilih oleh USAID dan paramitra untuk memperoleh penghargaan dengan pertimbangan, yaitu: 1)
Kemajuan upaya pengendalian Tuberkulosis yang terjadi di Indonesia dianggap sebagai pelopor dalam penerapan
strategi dan pendekatan yang inovatif di bidang pencegahan, diagnosis maupun pengobatan Tuberkulosis; 2)
Indonesia termasuk negara pertama yang mengadopsi introduksi Rapid Diagnostic Expert Mycobacterium
Tuberculosis/Rifampisin (MTB/RIF), yaitu suatu alat yang bisa mendeteksi kuman Tuberkulosis dan resistensinya
terhadap Rifampisin; 3) Implementasi Public Private Mix (PPM) yang komprehensif untuk meningkatkan layanan
Tuberkulosis; 4) Komitmen Pemerintah yang kuat untuk tetap menjaga keberhasilan pencapaian pengendalian
Tuberkulosis dituangkan dalam rencana pembiayaan yang berkelanjutan Menanggapi hal tersebut, Direktur
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K),
MARS, DTM&H, DTCE, menyatakan Indonesia telah berhasil menurunkan insidens, prevalens, dan angka kematian
akibat TB. Insidens TB berhasil diturunkan sebesar 45%, yaitu 343 per 100.000 penduduk (1990) menjadi 189 per
100.000 penduduk (2010). Prevalensi TB diturunkan sebesar 35%, yaitu 443 per 100.000 penduduk (1990)
menjadi 289 per 100.000 penduduk (2010). Selanjutnya, angka kematian diturunkan sebesar 71%, yaitu 92 per
100.000 penduduk (1990) menjadi 27 per 100.000 penduduk (2010).

Hal ini berarti target MDGs untuk tuberkulosis sudah dapat dicapai di Indonesia. Ini merupakan suatu prestasi
nasional juga internasional, kata Prof. Tjandra.

BAB VI

KESIMPULAN

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kunci

keberhasilan program penanggulangan tuberkulosis adalah dengan

menerapkan strategi DOTS, yang juga telah dianut oleh negara kita.

Oleh karena itu pemahaman tentang DOTS merupakan hal yang sangat

penting agar TB dapat ditanggulangi dengan baik.

DOTS mengandung lima komponen, yaitu :

1. Komitmen pemerintah untuk menjalankan program TB nasional

2. Penemuan kasus TB dengan pemeriksaan BTA mikroskopik

3. Pemberian obat jangka pendek yang diawasi secara langsung,

dikenal dengan istilah DOT (Directly Observed Therapy)

4. Pengadaan OAT secara berkesinambungan

5. Monitoring serta pencatatan dan pelaporan yang (baku/standar)

baik

Istilah DOT diartikan sebagai pengawasan langsung menelan obat

jangka pendek setiap hari oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)

Pengawasan dilakukan oleh :

Penderita berobat jalan

1. Langsung di depan dokter

2. Petugas kesehatan

3. Orang lain (kader, tokoh masyarakat dll)

4. Suami/Istri/Keluarga/Orang serumah

Penderita dirawat

Selama perawatan di rumah sakit yang bertindak sebagai PMO adalah

petugas RS, selesai perawatan untuk pengobatan selanjutnya sesuai

dengan berobat jalan.

Tujuan :

• Mencapai angka kesembuhan yang tinggi


• Mencegah putus berobat

• Mengatasi efek samping obat

• Mencegah resistensi

Dalam melaksanakan DOT, sebelum pengobatan pertama kali dimulai

harus diingat:

• Tentukan seorang PMO

Berikan penjelasan kepada penderita bahwa harus ada seorang

PMO dan PMO tersebut harus ikut hadir di poliklinik untuk

mendapat penjelasan tentang DOT

• Persyaratan PMO

PMO bersedia dengan sukarela membantu penderita TB sampai

sembuh selama 6 bulan. PMO dapat berasal dari kader dasawisma,

kader PPTI, PKK, atau anggota keluarga yang disegani penderita

• Tugas PMO

Bersedia mendapat penjelasan di poliklinik, memberikan

pengawasan kepada penderita dalam hal minum obat,

mengingatkan penderita untuk pemeriksaan ulang dahak sesuai

jadwal, memberitahukan / mengantar penderita untuk kontrol bila

ada efek samping obat, bersedia antar jemput OAT jika penderita

tidak bisa datang ke RS /poliklinik

• Petugas PPTI atau Petugas Sosial

Untuk pengaturan/penentuan PMO, dilakukan oleh PKMRS

(Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit), oleh

PERKESMAS (Perawatan Kesehatan Masyarakat) atau PHN

(Public Health Nurse), paramedis atau petugas sosial

• Petugas sosial

Ialah volunteer yang mau dan mampu bekerja sukarela, mau

dilatih DOT. Penunjukan oleh RS atau dibantu PPTI, jika

mungkin diberi penghargaan atau uang transport

Penyuluhan tentang TB merupakan hal yang sangat penting,

penyuluhan dapat dilakukan secara :

• Peroranga/Individu

Penyuluhan terhadap perorangan (penderita maupun keluarga)


dapat dilakukan di unit rawat jalan, di apotik saat mengambil obat

dll

Kelompok

Penyuluhan kelompok dapat dilakukan terhadap kelompok

penderita, kelompok keluarga penderita, masyarakat pengunjung

RS dll

Cara memberikan penyuluhan

• Sesuaikan dengan program kesehatan yang sudah ada

• Materi yang disampaikan perlu diuji ulang untuk diketahui tingkat

penerimaannya sebagai bahan untuk penatalaksanaan selanjutnya

• Beri kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, terutama hal yang

belum jelas

• Gunakan bahasa yang sederhana dan kalimat yang mudah

dimengerti, kalau perlu dengan alat peraga (brosur, leaflet dll)