Anda di halaman 1dari 10

BAB II SEJARAH DAN KONSEP ESTETIKA BARAT

A. Sejarah dan Konsep Estetika Barat


Prof. Allan Menzeis menyatakan bahwa Eropa dimulai dari Yunani. Di wilayah inilah
bangsa Arya di Eropa untuk pertama kalinya merasakan sentuhan seni dan peradaban Timur
serta digerakkan oleh bragam aktivitas yang sama sekali baru. Oleh sebab itu dapat dikatakan
bahwa sejarah dan konsep estetika Barat berawal dari zaman Yunani Klasik (Sekitar abad ke-
3SM).
Para filsuf Yunani Klasik mengartikan keindahan di dalam arti yang luas yang di
dalamnya terdapat ide tentang kebaikan. Plato, menyebutkan tentang watak yang indah dan
hukum yang indah. Sementara itu muridnya, Aristoteles, menyebutkan bahwa watak
keindahan sebagai sesuatu yang baik dan menyenangkan. Plotinus juga menuliskan tentang
ilmu yang indah dan kebajikan yang indah.
1. Estetika Yunani Klasik
a. Plato (427-347 SM)
Plato berpendapat bahwa realitas yang ada bukanlah realitas yang sesungguhnya,
tetapi hanya sebagai tiruan dari yang sesungguhnya ada. Ia menyebutnya sebagai idea yang
memiliki sifat spiritual, rohaniah, kekal, absolute, dan tidak akan pernah berubah. Maka dari
itu Plato beranggapan seni adalah tiruan dari tiruan: mimesis-memeseos karena keindahan
yang sebenarnya hanya ada di dalam idea, sedangkan para seniman dalam berkarya-misalnya
membuat lukisan alam-hanya “meniru” sesuatu yang ada di dalam realitas yang sekali lagi
bagi Plato hanya tiruan yang tidak nyata, bukan yang sesungguhnya dari alam idea (teori ini
disebut teorimimesis).

b. Aristoteles (384-322 SM)


Aristoteles menolak pandangan Plato tentang idea tetapi tidak menolak semua
konsepnya. Misalnya, konsep estetika Aristoteles yang diuraikan secara lengkap di
dalam Poetika (Poetics) menyebutkan bahwa keindahan selalu menyangkut keseimbangan
dan keteraturan yang berlaku secara umum: alam raya dan karya seni buatan manusia. Tetapi
badi Aristoteles, seni tidak hanya sebagai tiruan dari benda yang ada di alam, tetapi lebih
tinggi sebagai “tiruan dari sesuatu yang universal”.
Menurut Aristoteles syarat disebut karya seni, yakni: mampu merefleksikan
fenomena-fenomena universal, karya seni harus menjadi sebuah cermin agar manusia bisa
bercermin dan berpikir tenang dirinya yang berada di dalam cermin tersebut-karya seni
menjadi bahan renungan tentang kehidupan manusia (hal ini disebut katarsis “purgation”).

c. Estetika Yunani Klasik


Ciri-ciri estetika Yunani Klasik, yakni:
1) Bersifat metafisik, artinya keindahan adalah idea sesuatu yang sakral dan merefleksikan
kebaikan dan kebenaran, tetapi memiliki tingkatan.
2) Bersifat objektivistik yang berarti bahwa marokosmos dan mikro kosmos merupaka wujud
keindahan yang berasal dari Yang Absolut Tuhan.
3) Bersifat fungsional artinya keindahan harus berperan dalam menyampaikan nilai-nilai moral,
keadilan, kebenaran, dan kebaikan kepada siapa saja yang melihatnya.

2. Estetika Romawi
Estetika Romawi lebih aspek fungsional seperti monument-monumen peringatan,
seperti, misalnya Trajan’s Column yang dibangun sebagai monument kemenagan bangsa
romawi atas kaum Dacians (Romania).
3. Estetika Abad Pertengahan (The Dark Ages)
- St. Thomas Aquinas
Menurut Matius Ali, ada tiga ciri estetika St. Thomas Aquinas, yakni:
 Bersifat metafisik dan rasional
 Keindahan adalah aspek dari “ yang baik”
 Keindahan itu terkait erat dengan hasrat atau keinginan
Ada 3 kwalitas keindahan, yakni:
 Integritas atau kelengkapan (integrity): artinya sempurna, tidak terpecah dan tidak tersemai.
 Harmoni, selaras, dan proposiaonal (harmony): keselarasan yang benar.
 Kecemerlangan (clarity): jelas, terang, dan jernih.
Cirri estetika menurut Thomas Aquinas, yakni:
a. Estetika adalah bagian atau cabang dari teologi.
b. Keindahan bukanlah nilai dari yang independen, melainkan lebih sebagai “percikan
kebenaran” (splendor veritatis) dari kesempurnaan ilahi, yakni Tuhan sendiri.
c. Kata kuncinya adalah mengatasi dunia indrawi, menuju kontemplasi langsung
“kesempurnaan ilahi” (divine perfection).
d. Keindahan sejati berada di wilayah Tuhan, ditangkap lewat intelek atau intuisi mistik.

4. Estetika Renaisans
Renaisans (renaissance) berarti “kelahiran kembali”. Maksudnya adalah kembali
lahirnya kebudayaan Yunani Klasik, setelah berabad lamanya kehidupan masyarakat Italia
dan Eropa termasuk seni didominasi oleh aturan yang ketat dari Gereja. Renaisans bukan
romantisme terhadap kejayaan Yunani Klasik, melainkan interpretasi baru atasnya yang
melahirkan gerakan kebudayaan yang sangat progresif di dalam bidang agama, sastra,
filsafat, seni, politik, ilmu pengetahuan estetika, dan lainnya. Renaisans melahirkan gerakan
humanism karena manusia menjadi subjek refleksi atas segala sesuatunya. Gerakan ini
mengeser teosentrisme menjadi antroposentrisme karena reflesi adikodrati bergeser kepada
refleksi kodrati. Ini disebabkan oleh beberapa hal, yakni: pemikiran manusia yang berubah,
Arab-Islam yang pada masa itu berada puncak peradabannya.
Menurut Harold Osbrone dalam Aesthetics dan Art Theory member cirri Estetika
Renaisans, yakni:
1) Seni lukis dan seni pahat-patung merupakan hal yang bersifat mental dan intelegensi (cosa
mentale).
2) Seni dan puisi meniru alam dan untuk tujuan ini, ilmu-ilmu empiris memberikan petunjuk-
petunjuk yang berguna.
3) Seni plastic seperti sastra, juga mengejar tujuan moral, yakni perbaikan status sosial, namun
tetap bercita-cita menuju yang ideal.
4) Tujuan segala seni keindahan adalah property objektif dari benda-benda terdiri atas tatanan
(ordr), harmoni, proporsi, dan kebenaran.
5) Puisi dan seni-seni visual yang telah mencapai kesempurnaan serta bentuk yang definitive di
masa klasik (Yunani-Romawi) rahasianya telah hilang dan kesenian semakin merosot atau
menurun nilainya.
6) Seni harus tunduk dan mengikuti aturan-aturan kesempurnaan yang secara rasional dapat
dimengerti dan secara tepat dapat diformulasikan dan diajarkan. Unsur-unsur perspektif
menjadi penting dalam proses menciptakan sebuh ilusi kedalaman suatu karya seni.
7) Banyak berhutang pada mitologi-mitologi klasik dan filsafat mistik.

a. Leonardo da Vinci (1452-1519)


Konsep estetika menurut Leonardo da Vinci, yakni:
1) Mengikuti model warisan Aristoteles dan Alberti, Leonardo da Vinci melihat aktivitas seni
mencakup tahap “observasi terhadap alam” dan rincian-rinciannya secara ilmiah.
2) Kemudian menuju tahap momentum inspirasi ilahi, artinya inspirasi ilahi itu pada saat atau
momentum tertentu diperoleh dan dapat membantu memvisualkan kembali alam yang telah
di observasi secara cermat.
Tujuan utama estetika Leonardo da Vinci adalah “dinamis-ekspresif” dan membawa
ketenangan. Karya terkenalnya, yakni: Virgin of the Rocks, Virgin and Child with St. Anne,
Ginevra de’Benci, Annunciation, Lady with an Ermine, The Baptism of Christ, Adoration of
the Magi, St. John the Baptist, La bella ferronniere, Bacchus, Salvator Mundi, Vitruvian
Man, dan lainnya.

b. Donatello (1386-1466)
Donato di Niccolo di Betto Bardi juga dikenal sebagai Donatello, adalah seorang seniman
atau pematung terbaik pada awalnya masa renaisans. Karya paling terkenal adalah patung
perunggu David-nya.

c. Michelangelo (1475-1564)
Michaelangelo Buonarroti atau Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni adalah seorang
tokoh terkemuka dalam sejarah estetika, beliau adalah seorang pelukis sekaligus pemahat dan
artistic dan bahkan seorang penyair. Karya terkenalnya antara lain:Patung David, Pieta, dan
Fresco di langit-langit Kapel Sistina, Roma, Italia.

d. Raphael (1483-1520)
Raphael bisa jadi adalah salah satu seniman renaisans yang paling berpengaruh dan dicintai
oleh para peminat seni zaman ini. Beberapa karya terkenalnya, yakni: Disputation of the Holy
Sacrament, School of Athens, The Crucified with the Virgin Mary, Saints and Angels (The
Mond Crucifiion), dan Transfiguration.

5. Estetika Barat Modern


Untuk pertama kali istilah modern diperkenalkan oleh William Ockharm melalui Via
Moderna (Jalan Modern) dan Via Antiqua (Jalan Antik/Tradisi). Cirri modernitas , yakni:
subjektifitas, kritik, dan kemajuan.
Subjektifitas adalah kesadaran diri manusia sebagai pusat realitas, manusia
adalah subjectum parameter; manusia adalah pusat segala realitas.
Kritik secara implicit terdapat di dalam pengertian tentang subjektifitas sejauh
dihadapkan dengan otoritas.
Kemajuan yang dimaksud, yakni: kesadaran manusia akan waktu sebagai sumber
yang mahalangka yang tidak mungkin dapat diulangi kembali.
Menurut Matius Ali, modern member dampak kepada kehidupan manusia, yakni:
1) Pandangan dualitas tentang kenyataan, yakni: subjek-objek, spiritual-material, manusia-
dunia, telah menyebabkan krisis ekologi karena alam dieksploitasi dan dikuras secara
berlebihan.
2) Modernism melahirkan pandangan yang bersifat objektif dan positivistic sehingga cenderung
menjadi manusia sebagai objek dan masyarakat pun direkayasa bagaikan mesin.
3) Modernism mendudukan ilmu-ilmu positif-empiris sebagai standart kebenaran tertinggi.
4) Modernisme melahirkan materialism.
5) Modernisme mendukung bangkitnya kembali tribalisme, yakni mentalitas yang
mengunggulkan satu suku atau kelompok sendiri.

a. Estetika Rasionalisme Jerman


 Estetika terdiri ataas sebuah sains tentang pengenalan indrawi.
 Pengetahuan demikian, bukanlah seperti yang diyakini oleh Spinoza dan Leibiniz, lebih
rendah dari pengetahuan logis, namun memiliki otonomimya sendiri.
 Pengetahuan estetika menunjukan kesempurnaannya sendiri.

b. Esteetika Ingris Abad ke-18


David Hume menyatakan, keindahan sesuatu tidak terletak pada sebuah objeknya (misalnya
pada sebuah lukisan atau patung), tetapi pada “perasaan” seseorang yang melihatnya.

c. Empat Perspektif Seni Immanuel Kant


Immanuel Kant memberi keindahan empat perspektif, yakni:
 Kualitas
Keindahan merupakan hal yang subjektif, artinya keindahan yang menghasilkan kesenangan
subjek sebagai seseorang.
 Kuantitas
Keindahan artinya yang universal yang dapat diterima oleh semua orang tanpa subjektivitas
atau objektivitas.
 Relasi dan Finansial
Keindahan adalah “forma” financial suatu objek. Financial adalah maksud atau tujaun
tertentu dari keberadaa suatu objek; sesuatu yang memberikan rasa senang.
 Rasa Senang dan Niscaya
Keindahan adalah apa yang lepas dari konsep, dan ditangkap sebagai objek yang memberikan
rasa sengan secara “niscaya”.

d. Estetika idealism Jerman Abad ke-19


Konsep estetika Georg Wilhelm Friedrich Hegel dibangun dalam kerangka filsafat idealisme
sehingga ia merumuskan 3 bentuk utama seni, yakni:
 Bentuk Simbolik
Bentuk seni simbolik adalah bentuk seni yang mencari ekspresinya.
 Bentuk Klasik
Bentuk klasik memiliki sifat yang antropomorfis atau menampilkan ide-ide kesemestaan
(alam semesta termasuk alam sekitar; hewan dan bentuk alamiah lainnya) ke dalam wujud
manusia.
 Bentuk Romantik
Puncak seni romantic adalah puisi, music, dan lukisan.

e. Estetika Masa Romantika


Filsuf yang mempengaruhi konsep estetika masa romantic adalah Schelling, Fichte, A.
Schopnhaeur, dan Nietzsche. Pada masa itu seni merupakan ekspresi emosi dari para
senimannya. Seniman menjadi semacam alternative sumber pengetahuan baru melalui
karyanya. Ada beberapa cirri estetika zaman romantic, yakni:
 Seni merupakan ekspresi emosi dan perasaan sang seniman.
 Di Prancis muncul romantisme yang ekstrem dengan semboyan l’art pour l’art, artinya “seni
untuk seni itu sendiri”.
 Kata-kata kuncinya adalah jenius, imajinasi kreatif, orisinalitas, ekspresi, komunikasi, emosi,
simbolisme, sentimental.
 Mengenal kembali mitologi-mitologi, baik di Timur maupun di Barat; akibatnya, para
seniman eksotisme dunia lain dan mistisisme.
 Memuja sang artis dan mendewakannya.
 Sang artis tidak lagi diinspirasikan oleh Tuhan, tetapi dirinya didewakan ke tingkat tertinggi.
 Seniman jenius tidak lagi mengikuti aturan atau tradisi, tetapi membuat aturan sendiri,
terobosan, serta kemungkinan-kemungkian baru.

f. Estetika Abad ke-20


Estetika abad ke-20 sangat dipengaruhi oleh konsep-konsep estetika sebelumnya, yang dapat
dikatakan inovasi formal artistic sebagai upaya meruntuhkan konsep estetika pada masa
sebelumnya. Konsep abad ke-20 dipengaruhi oleh B. Croce, Collingwood, Susanne Langer,
Bell, dan Beardsley yang secara substansial merupakan bentuk baru dari konsep estetika
Plato. Langer memiliki konsep estetika yang menekankan seni sebagai bentuk symbol,
Collingwood menekankan estetika sebagai craft. Croce memiliki konsep estetika tentang
intitusi seni dan Beardsley yang berpendapat bahwa karya seni tidak bersifat fisik melainkan
objek estetik estetisyang dapat dipergunakan sebagai instrument untuk membantu kehidupan
manusia dalam pengertian yang sesungguhnya.

6. Estetkika Barat Kontemporer (Postmodern)


Estetika ini sering disebut juga sebagai estetika postmodernpascamodern dipengaruhi
konsep-konsep filsafat postmodern. Posmodern adalah gerakan filsafat kebudayaan yang
terjadi sekitar tahun 1960-an sebagai reaksi terhadap modernism yang dianggap menjadi
penyebab segala bentuk runtuhnya kemanusiaan dan moralitas. Beberapa kelompok
postmodern:
 Kelompok New Age: Metafisika New Age cenderung ingin menggali kembali pemikiran-
pemikiran kuno, baik di Barat maupun di Timur, seperti Neo-Platonisme, Zoroasrotianisme,
Taoisme, Hinduisme, Buddhisme, Kabbalah, Gnostisme, dan lain-lain. Tokoh yang termasuk
dalam kelompok ini antara lain R. Steirner, J. Krisnamurti, dan H.P. Blavatsky.
 Kelompok yang terkait pada dunia sastra dan masalah linguistik (dekonstruksi). Tokoh yang
terkait antara lain J. Derrida, F. Lyotard, dan J. Baudrillard.
 Kelompok yang ingin merevisi modernism yang diwakili pemikir-pemikir, Whitehead,
David Bohm, J. Cobb Jr, David Ray Griffin, Frederick ferre, dan lain-lain.

Ada dua modus pendekatan dalam estetika ini:


 Mainstream yaitu: melalui pastice, imitasi atas hal-hal di masa lampau.
 Oposisional yakni: keputusasaan atau kehampaan melalui parody, penyajian isi, bentuk,
dan style secara ironis.

Menurut Hayward ada empat konsep estetika postmodern, yakni:


 Simulia: Paradodi arau Pastiche
Pastice adalah simptomatis, artinya menirukan genre, style sebelumnya.
 Prefabrication
Film-film sebelumnya diseleksi dan kemudian menjungkirbalikanya.
 Intertextuality
Interteks adalah berbagai cara dimana media berinteraksi dengan teks-teks lain: bagaimana
satu teks lain, khususnya kesalingtergantungan antarteks, bukan keunikan teks masing-
masing.
 Bricolage
Bricolage adalah merakit atau menyatukan berbagai gaya, tekstur, genre atau diskursus yang
berbeda.

BAB III SEJARAH DAN KONSEP ESTETIKA TIMUR


A. Estetika Timur Dekat Kuno
Karya seni Timur Dekat Kuno memperlihatkan bentuk dan gaya estetik yang beragam
yang merefleksikan masyarakatnya, kota-kotanya, kerajaan-kerajaannya yang Berjaya selama
ribuan tahun. Konsep estetika Timur Dekat Kuno selalu berupaya merefleksikan hubungan
manusia dengan para dewa (dalam hal kehidupan, kematian, dan kesakralan alam semesta).

1. Mesopotamia
Berada pada wilayah Iraq modern, Mesopotamia adalah jantung peradaban Timur
Dekat Kuno. Beberapa bangunan, kuil, dan monument dibangun berdasarkan kesadaran
estetika yang bersumber dari kesadaran akan kesakralan langit dan bumi serta keseimbangan
diantaranya juga antara manusia dan dewa-dewi. Kepercayaan kepada dewa-dewi sangat
mempengaruhi pola estetikanya.

2. Sumeria
Terletak di Iraq modern kira-kira 8 km dari Kota Baghdad, memiliki konsep estetika
yang mengadopsi konsep estetika Mesopotamia.

3. Akkadia
Dibangun oleh Sargon I dan berhasil menguasai hampir seluruh Mesopotamia.
Memiliki bentuk seni yang sama dengan peradaban Mesopotamia lainnya. Sargon memiliki
syarat-syarat estetika yang lengkap seperti garis, struktur, kedalaman, kontras, tekstur, ritme,
dan bentuk yang sempurna secara anatomis.

4. Babylonia
Pada masa kekuasaan Hammurabi, Babylonia menjadi penguasa daerah Mesopotamia.
Hukum Hammurabi ditulis dengan sentuhan estetika yang luar biasa karena hukum tersebut
diukir dalam sebuah basal hitam yang menjelaskan hukum Hammurabi secara mendasar,
seperti 300 anggaran dasar hukumnya.

5. Assyria
Berlokasi di daerah Syria modern, konsep estetika bangsa Assyiria cenderung
memiliki kesamaan dengan bangsa-bangsa Timur Dekat Kuno lainya. Keunikan estetika
Assyria adalah patung Lammassu, sesosok mahluk penjaga gerbang istana yang merupakan
perpaduan antara manusia, hewan (kerbau atau sapi), mahluk langit (burung), dan mahluk
yang spiritual dengan mahkotanya.

6. Persia Kuno
Dibangun oleh Achemenes terletak di Iran modern. Konsep estetika Persia mengikuti
konsep sestetika bangsa-bangsa Mesopotamia lainnya dengan tema kesenian seperti kejayaan
kerajaan, riwayat nabi Persia Kuno, Zoroaster dan ajarannya, serta menempatkan dua ekor
banteng sang saling membelakangi sebagai symbol kekuasaan dan kejayaan serta kekuatan
raja-rajanya.

7. Mesir Kuno (Sekitar 4000SM)


Peradaban Mesir kuno dibangun sepanjang bantaran sungai Nil sekitar 4000 SM
hampir bersamaan dengan peradaban bangsa-bangsa Mesopotamia. Estetika Mesir kuno
memperlihatkan struktur yang teratur, jelas, seimbang atau proporsional, dan sederhana.
Karya seni juga digunakan untuk menjaga stabilitas politik (semacam propaganda) melalui
“artistic order” dan “Hierarchy of Scale” dimana riwayat para dewa dan Firaun akan sangat
diagungkan.
B. Sejarah dan Konsep Estetika Timur Jauh
1. India
Estetika India sudah lama dimulai dan tidak terlepas dari agama Hindu dan Buddha.
Kedua agama tersebut mempercayai dan memandang bahwa waktu terus berulang, alam
semesta diciptakan dan dihancurkan dan diciptakan kembali dan seterusnya, dunia adala tidak
nyata (maya), manusia bereinkarnasi (samasara), perbuatan baik akan dibalas dengan
kebaikan dan perbuatan jahat akan dibalas dengan kejahatan (karma), oleh sebab itu manusia
harus berbuat kebaikan agar terlepas dari lingkaran waktu (moksha). Konsep keagamaan ini
menjadikan dua konsep pondasi estetika India, yakni Pratibhka (kreativitas artistic) dan Rasa
yang ditulis oleh Bharata Muni. Pratibha sendiri adalah daya cipta artistic yang terdapat
dalam diri seniman. Rasa sebagai Veda Kelima menjelaskan rasa pengalaman estetis pemirsa
dalam memersepsi sebuah karya seni, utamanya seni pertunjukan.

2. Cina
Estetika Cina sangat dipengaruhi oleh Taoisme dan Buddhisme terutama Zen
Buddhisme. Selain itu, Lao Tse dan Kong Hu Cu adalah dua filsuf yang memberikan
sumbangan besar terhadap kebudayaan Cina termasuk di dalam hal estetikanya. Dalam
lukisan-lukisan kaligrafi yang penting bukanlah representasi kenyataan eksternal, melainkan
ekspresi kenyataan batin. Konsep estetika memperlihatkan keadaan batin dengan tema-tena
yang menggambarkan harmoni antara manusia, alam, dan alam semesta. Ada enam prinsip
dasar bagi para seniman yang dapat dikatakan sebagai kanon estetika Cina, yakni:
 Chi’I Yun Sheng Tung
Bersatunya roh semesta dengan diri seniman
 Ku Fa Yung Fi
Seniman mampu menyergap roh kehidupan dengan cara mengosongkan bentuk yang terlihat
sehingga esensi bentuk akan ditemukan.
 Ying Wu Hsiang Hsing
Seniman mampu merefleksikan objek dengan menggambarkan bentuknya, esensinya, seperti
yang dikatakan oleh Ch’eng Heng-lo, seni lukis Barat adalah seni lukis mata, sedangkan seni
lukis Cina adalah seni lukis idea.
 Sui Lei Fu T’sai
Seniman mampu untuk memilih warna-warna yang menciptakan keselarasan karena dalam
konsep estetika Cina, warna bukan berfungsi untuk pemanis saja tetapi memiliki sifat yang
simbolis.
 Ching Ting Wei Chih
Seniman mampu mengorganisasikan, menyusun, dan merencanakan dengan pertimbangan-
pertimbangan terrtentu sehingga menghasilkan buah karya seni yang memiliki komposisi
berimbang.
 Chuan Mo I Hsieh
Seniman memproduksi karya seninya agar dapat disebarluaskan.

3. Jepang
Estetika Jepang sangat dipengaruhi oleh Zen Buddhaisme yang berkembang di Jepang pada
abad ke-12. Ada enam cirri estetika Jepang, yakni:
 Ketidakseimbangan (imbalance),
 Asimetris (asymetry),
 Kemiskinan (property),
 Wabi-sabi,
 Kesederhanaan (simplification),
 Kesepian-kesunyian (alones).

C. Sejarah dan Konsep Estetika Islam


Dalam hadis terdapat larangan bagi seorang muslim untuk menggambarkan dalam hal ini
melukiskan makhluk hidup. Ada tiga ciri estetika Islam, yakni:
 Kaligrafi, yakni seni menulis khas islam yang biasanya mengutip ayat-ayat suci;
 Arabesques atau seni ornament khas islami yang biasanya berbentuk dekoratif artistic stilasi
tetumbuhan, bunga, dan kadang binatang;
 Desain-desain geometric, yakni pengulangan pola-pola geometric dalam kesatuan yang
harmonis.
Estetika Islam dikembangkan pila oleh para sufi melalui sastra,, puisi, dan musik. Tidak
jarang puisi-puisi mereka sebenarnya merupakan tafsir spiritual terhadap ayat-ayat Alquran
yang ditransformasikan ke dalam bahasa figuratif puisi.

BAB IV ESTETIKA NUSANTARA

A. Mendefenisikan Estetika Nusantara


Sebelum melihat estetika Nusantara, kita akan melihat pembabakan kebudayaan Nusantara
secara historis oleh Darini, yakni dibagi dalam dua zaman;
a. Zaman Prasejarah
 Masa berburu dan meramu atau budaya paleolitikum,
 Masa berburu dan merakit atau budaya mesolitikum, dan
 Masa bercocok tanam atau budaya megalitikum
b. Zaman Sejarah
 Masa pengaruh India (masa klasih/zaman purba)
 Masa pengaruh Islam (masa Islam/zaman madya,
 Masa pengaruh colonial (masa Kolonial/Indis), dan
 Masa Indonesia merdeka.

1. Estetika Zaman Prasejarah


Pada masa ini sangat nampak kesenian berfungsi sakrral dan profane. Yang sakral dikatkan
dalam fungsi ritual keagamaan, representasi simbolik dari para moyang, dan kekuatan-
kekuatan alam yang dinilai suci, sakral, magis, gaib, dan bisa juga sebaliknya. Pada masa ini
seni yang memiliki nilai estetika yang berorientasi kepada spiritualitas: harmoni manusia
dengan alam, dan harmoni manusia dengan ruh leluhur, dan harmoni manusia dengan Tuhan
yang melahirkan cirri-ciri estetika yang sangat primordial, yakni pola-pola geometris, meniru
alam dan mahluk, dan juga estetika menjadikan representasi simbolik dari kekuatan-kekuatan
tersebut.

2. Estetika Nusantara Zaman Klasik atau Estetika Hindu-Budha


Estetika kebudayaan pada masa ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Buddha. Pada masa
ini lahir bentuk-bentuk kesenian yang akulturatif seperti seni bangunan atau arsitektur yang
meliputi candi-candi; seni rupa yang meliputi patung, arca, relif, prasasti, dan seni lukis; seni
pertunjukan yang meliputi wayang dan tari; dan seni sastra. Estetika pada masa ini
berorientasi pada konsep-konsep keagamaan Hindu-Buddha dan juga kepercayaan sebelum
masa ini.

3. Estetika Nusantara Zaman Islam


Karena karateristik kebudayaan Nusantara yang paradox, kesenian pada masa ini pun
memiliki sifatnya yang akulturatif. Artinya, pada masa ini kesenian Hindu-Buddha tidak
lantas dilarang, tetapi kemudian diislamkan dan beberapa diantaranya dijadikan sebagai
media dakwah. Ada beberapa kesenian yang berasal dari zaman sebelumnya, tetapi kemudian
diislamkan seperi bangunan kecuali mesjid, tetapi pada mesjid-mesjid tertentu ada pula yang
mengawinkan kebudayaan Hindu-Buddha dengan Islam seperti beberapa mesjid yang
dikelilingi oleh selokan air sebagai tempat menjalankan wudhu.
Pada masa ini nilai-nilai estetika Jawa yang berorientasi kepada bentuk-bentuk yang luhur
seperti kehalusan, kesempurnaan, kecantikan, kedewaan dan lain sebagainya. Kesenian
wayang, masih mempertahankan kesenian tersebut sebagai media dakwah. Karena efektif
dalam usaha penyebaran nilai, paham, konsep, gagasan, pandangan, dan ide bersumber dari
agama Islam.

4. Estetika Nusantara Zaman Modern: Kolonial dan Pascakolonial


Pada zaman Indonesia modern (colonial dan pascakolonial), martin Suryajaya menguraikan
pandangan-pandangan estetis para seniman, yakni:
 Ekspresivisme, kesenian adalah jiwa-ketok. Jadi, kesenian adalah jiwa. Karya seni adalah
manifestasi jiwa sang seniman berakar pada tradisi ekspresivisme yang tumbuh di Eropa
paska-Romantik.
 Realism, kebagusan dan kebenaran adalah satu.
 Materialism Historis, pandangan bahwa kesenian bertopeng pada realitas ekonomi-politik
punya akar pada tradisi Marxis.
 Fungsionalisme, pandangan bahwa seni mesti memenuhi fungsi sosial tertentu dan hanya
dapat dievaluasi secara estetis berdasarkan pemenuhan fungsi tersebut adalah pandangn yang
sangat tua.
 Formalism, pandangn bahwa karya seni berurutan secaraeksklusif dengan bentuk dan hanya
dapat dievaluasi dari segi bentuknya berakar pada tradisi formalis yang berkembang pada
abad ke-20.
 Manifesto Gerakan Seni Rupa Baru 1987, pandangan yang menarik garis tegas antara “seni
murni” dan “seni terapan”, antara seni dan kerajinan, punya sejarah yang belum terlalu tua.
 Estetika penyadaran, pandangan bahwa setiap orang adalah seniman, bahwa sebi yang
emansipatoris hanya bisa datang dari tangan rakyat itu sendiri, bersumber pada estetika
pasca-avent-grande Augusto Boal.
Hal-hal ini menunjukan konsep-konsep kesenian dalam hal ini estetika menjadi sesuatu yang
berkesinambungan, akan tetapi ada upaya untuk mencari seni atau estetika yang “Indonesia”
sekali.
Estetika Nusantara Zaman Moderen pada umumnya dibagi menjadi beberapa priode, yakni:
 Periode Perintis (masa kolonial)
 Priode Mooi Indie (Indonesia jelata)
 Priode PERSAGI atau Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia dilahirkan pada masa
pergolakan kemerdekaan pada tanggal 23 Oktober 1983 di Jakarta.
 Priode Pendudukan Jepang
 Periode sanggar, pada priode ini saanggar-sanggar seni bermunculan.
 Periode akademi (sekitar tahun 1950-an)
 Periode seni rupa baru.
 Periode Kontemporer.

5. Bandung dan Estetika:


a. Taman Kota Bandung: Estetika, Etika, dan Kuasa Ekonomi
Taman-taman, lapangan terbuka, dan boulevands (jalan lebar) merupakan cirri khas dan
taman a la Prancis. Yang dengan demikian memperkuat dugaan bahwa kota Bandung
memang dibangun sedemikian rupa sehingga menyerupai kota Paris. Tetapi sayangnya,
setelah para meneer angkat kaki, beberapa taman malah dialihfungsikan menjadi gedung
perkantoran dan pemukiman penduduk. Di Bandung ada 17 taman tematik. Namun hal ini
tidak sesuai dengan pola hidup masyarakat Sunda atau kota Bandung.

b. Estetika Kontemporer dalam Karya-karya Mufti Priyanka (Amenkcoy)


Karya-karya Amenkcoy merupakan pembongkaran makna cultural yang telah mapan dan hal
tersebut diartikan sebagai penolakan terhadap asal-usul yang berarti penolakan terhadap
kebenaran hakiki yang mengandaikan adanya esensi. Sesuatu yang telah berlaku lama, tertata,
kemudian muncul sesuatu yang baru yang menolak atau bahkan sama sekali bertolak
belakang dengan apa selama ini sudah tertanam kokoh, baik di bidang sosial, politik, agama,
budaya, begitu juga dalam seni.

c. Mencari yang Sakral dalam yang Profan


Banyak fenomena agama sebagai institusi formal dianggap sudah tidak mampu untuk
mengakomodasikan mengaktualisasikan ajaran agama ke dalam kehidupan yang mereka
jalani. Pada mulanya Man Jasad sebagai orang Sunda hanya menjadikan kesundaan sebagai
ekspresi estetik semata. Tetapi perjumpaannya dengan para pelaku kesundaan lainnya
membuat ekspresi tersebut bergeser kearah ekspresi idiologi. Perubahan idiologi Jasad pada
dasarnya adalah bentuk keberubahan yang niscaya. Keberubahan itu karenaglobalisasi
(digitalisasi) terlebih kultur kapitalistik yang ikut mempromosikannyasebagai bahan dari
komoditas yang menghasilkan nilai ekonomis yang luar biasa. Skena music underground
menjadi semacam wahana yang mengekspresikan mengartikulasikan, mengaktualisasikan,
dan mengekspresikan bahkan mengkoeksistensikan pelbagai macam yal yang diinginkan oleh
para pelakunya.