Anda di halaman 1dari 12

ARISAN SISTEM GUGUR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Perbaikan Nilai pada Mata Kuliah Masailul Fiqhiyah

Dosen: Ahmad Muslimin, Lc, M.H.I

Di Susun Oleh :

1. Nur Khasanah 171140016


2. Puput Ratna Sari 171140018

Program Studi S.I Hukum Ekonomi Syariah

FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM


INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF NU
METRO LAMPUNG
1440 H/ 2019 M

i
ABSTRAK

Muamalah adalah merupakan bagian dari hukum Islam yang mengatur


hubungan antara dua pihak atau lebih dalam suatu transaksi. Namun jika melihat
suatu kenyataan di masyarakat pada saat sekarang ini sudah banyak Praktik
ekonomi yang mengaku berazazkan Islam atau untuk tolong-menolong tapi
kenyataannya memberatkan bagi masyarakat. Salah satu bentuk transaksi yang
marak di masyarakat saat ini ialah arisan.
Arisan sistim gugur yang dipraktekkan sementara ini, betul-betul
menafikan prinsip keadilan, dan lebih bertumpu pada prinsip untung-untungan
(qimar, gambling). Dimana pemilik modal dengan andil paling minimal dalam
tempo yang lebih singkat, karena terlebih dulu memperoleh undian, malah
memperoleh keuntungan yang besar. Sebaliknya penanam modal yang lebih besar
dengan tempo yang lebih lama, karena mendapatkan undian belakangan, malah
memperoleh pembagian keuntungan yang lebih sedikit, bahkan jika mendapatkan
undian terakhir, dia tidak memperoleh keuntungan apapun. Sehingga muncullah
kedhaliman yang sangat dilarang / diharamkan oleh agama. Oleh karena itu,
menyelenggarakan maupun menjadi peserta arisan sistim gugur, sepanjang
terdapat unsur gharar, untung-untungan, riba dan sistem pengelolaan yang
mengesampingkan aspek keadilan, hukumnya adalah haram.

Kata Kunci: Arisan Sistem Gugur

A. PENDAHULUAN
Menurut pandangan Islam, “manusia adalah mahluk yang mulia, dan
sempurna di bandingkan mahluk ciptaan Allah lainnya, ini disebabkan
manusia diberi kelebihan berupa akal untuk berpikir, sehingga dengan akal
tersebut bisa membedakan mana yang hak mana yang batil”.1 Sehingga
dengan kelebihan itu manusia dituntut untuk dapat membedakan yang baik
dan yang buruk, yang halal dan yang haram, yang diperintah dan dilarang
serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia yang
memerlukan pemilihan untuk dijalani dan ditinggalkan.
Dengan melihat begitu kompaknya hubungan dalam masyarakat,
manusia dituntut untuk saling membantu dalam hal kebaikan yaitu dengan
cara bermuamalah. “Muamalah adalah merupakan bagian dari hukum Islam
yang mengatur hubungan antara dua pihak atau lebih dalam suatu transaksi”.2

1
Ishak Hariyanto, “Pandangan Al-Qur’an tentang Manusia”, dalam Jurnal Komunike,
Volume 7, No. 2, Desember 2015, hlm. 41
2
Nurfaizal, “Prinsip-Prinsip Muamalah Dan Inplementasinya Dalam Hukum Perbankan
Indonesia”, dalam Jurnal Hukum Islam, Vol. XIII No. 1 Nopember 2013, hlm. 194

1
Namun jika melihat suatu kenyataan di masyarakat pada saat sekarang ini
sudah banyak Praktik ekonomi yang mengaku berazazkan Islam atau untuk
tolong-menolong tapi kenyataannya memberatkan bagi masyarakat. Salah satu
bentuk transaksi yang marak di masyarakat saat ini ialah arisan.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Arisan
“Arisan merupakan kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang
bernilai sama oleh beberapa orang dan diundi di antara mereka untuk
menentukan siapa yang memperolehnya. Undian dilaksanakan di sebuah
pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya”.3
Sedangkan dalam kutipan Kartika Sunu Wati, “arisan merupakan salah
satu kegiatan pengumpulan dana yang ditarik dengan cara diundi atau
bergiliran, dimana pada dasarnya kegiatan arisan adalah kegiatan investasi
dana”.4
Dalam budaya Indonesia, anggota arisan yang menang yakni
mendapatkan giliran menerima uang arisan yang telah terkumpul memiliki
kewajiban untuk membuat pertemuan yang dihadiri anggota arisan.
Arisan adalah kegiatan di luar ekonomi formal. Bisa dikatakan bahwa
arisan adalah sistem penyimpanan uang sekaligus kegiatan sosial karena
ada unsur pertemuan yang bersifat memaksa karena anggota diharuskan
membayar sebelum arisan diundi atau diserahkan hasil pengumpulan
uangnya.5
Berdasarkan keterangan tersebut diatas, Inti dari arisan adalah
menyimpan sekaligus meminjam sejumlah uang dari peserta lainnya
dengan maksud agar pada suatu saat dapat mengumpulkan uang dalam
jumlah besar untuk keperluan yang besar pula. Disamping itu, terkadang
maksud untuk bertemu secara bergiliran dan tetap.
3
Muhammad Zakaria Umar, “Pembangunan Rumah Tinggal dengan Sistim Arisan di
Desa Pangan Jaya”, dalam EMARA Indonesian Journal of Architecture Vol 3 Nomor 1 – August
2017, hlm. 3
4
Kartika Sunu Wati, “Modal Dalam Praktik Sosial Arisan Sosialita (Studi Fenomenologi
Terhadap Dua Kelompok Arisan Sosialita di Malang dan Jakarta)”, dalam Jurnal Idea Societa Vol.
2 No 5 Oktober, 2015, hlm. 2
5
Mokhamad Rohma Rozikin, Hukum Arisan dalam Islam, (Malang: UB Pres, 2018),
hlm. 1

2
2. Manfaat Arisan
Adapun manfaat dari arisan adalah “untuk bersosialisasi dan
berkomunikasi, kita bisa saling mengenal bahkan meningkatkan keakraban
atau mempererat tali persaudaraan, serta saling bertukar informasi. Selain
tentunya saling membantu dalam segi ekonomi sebagai wujud dari budaya
mapalus yaitu adanya rasa kebersamaan”.6
Ada 5 manfaat lagi yang didapat bila Anda mengikuti arisan sebagai
berikut ini:
a. Bersosialisasi
Melalui arisan tentunya kita bisa lebih saling mengenal dan akrab antar
anggota arisan
b. Sebagai ajang promosi
Sebagian orang ada yang memanfaatkan arisan sebagai ajang promosi.
Melakukan promosi pada saat arisan merupakan cara yang paling
efektif karena tidak dipungut biaya dan sudah tahu latar belakang
konsumen yang disasar.
c. Sebagai tempat latihan menabung
Ada manfaat ekonomi yang bisa didapat dari mengikuti arisan yaitu
tempat berlatih untuk menabung. Bila Anda termasuk orang yang sulit
menabung, maka kegiatan ini bisa dijadikan sebagai ajang latihan
untuk mendisiplinkan diri.
d. Sebagai wadah untuk bertukar informasi
Meskipun saat ini teknologi sudah canggih, namun tetap saja orang
masih mencari berbagai informasi kepada orang lain. Misalnya
mengenai informasi pendidikan, kesehatan, keluarga, anak, dan lain
sebagainya. Dengan mengikuti arisan, informasi tersebut tentunya
akan mudah dicapai karena sebagian orang yang ada dalam arisan
tersebut memiliki latar belakang yang sama yaitu sebagai orangtua dan
memiliki anak.

6
Joanne P.M. Tangkudung & J.J Senduk, “Mapalus Arisan Sebagai Salah Satu Model
Kearifan Lokal Masyarakat Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara”, dalam Jurnal
LPPM Bidang EkoSosBudKum, Volume 3 Nomor 2 Tahun 2016 Edisi Oktober, hlm. 108

3
e. Melepas stres Hidup.7
Berdasarkan keterangan tersebut diatas, manfaat arisan antara lain
yaitu bersosialisasi, sebagai ajang promosi, sebagai tempat latihan
menabung, sebagai wadah untuk bertukar informasi dan melepas stres
hidup.

3. Hukum Arisan Sistem Gugur


a. Permasalahan
Di wilayah Kabupaten Klaten, muncul kelompok-kelompok
arisan dengan sistim gugur. Misalnya, panitia menetapkan peraturan
bahwa bagi setiap peserta arisan diwajibkan membayar setoran tiap
bulannya sebanyak Rp. 10.000,- selama 24 bulan. Dengan peserta
sebanyak 1000 orang maka setiap peserta yang beruntung mendapat
undian, memperoleh uang sebesar Rp. 240.000,- Bagi yang telah
mendapatkan undian, tidak berkewajiban meneruskan setoran untuk
periode selanjutnya. Sehingga yang terlebih dulu mendapatkan undian,
dialah yang lebih beruntung. Sedangkan yang terakhir mendapatkan
undian hanya mendapatkan uang sejumlah yang disetorkan.
Untuk menutup kerugian dari bonus yang diberikan kepada
pemenang undian, pihak panitia menginvestasikan uang setoran
peserta tersebut pada suatu badan usaha.8

b. Pertanyaan
Bagaimana hukumnya menyelengarakan arisan dengan sistim gugur
tersebut ?

c. Jawaban
Ditinjau dari aspek materi akad, berapa banyak sebenarnya uang
yang mesti disetorkan dan kapan serta berapa banyak uang yang
diterima oleh peserta arisan, maka arisan sistim gugur tersebut

7
Joanne P.M. Tangkudung & J.J Senduk, “Mapalus Arisan Sebagai Salah Satu Model
Kearifan Lokal Masyarakat Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara”, hlm. 110
8
Wahid Adib, “Hukum Arisan Sistem Gugur”, dalam
https://web.facebook.com/notes/lajnah-bahtsul-masail-nu-klaten/hukum-arisan-sistim-
gugur/365611970143105/?_rdc=1&_rdr, diakses pada 08 Mei 2019

4
mengandung unsur ketidakjelasan akibat dan untung-untungan, unsur
utama dari ghoror yang diharamkan berdasarkan nash-nash yang
shahih. Sedangkan apabila dilihat dari aspek model transaksi dan
sistim pengelelolaannya, maka dapat diqiyaskan (dianalogikan)
dengan transaksi syirkah mudlarabah / murabahah (bagi hasil).
Dimana ada penanam modal yakni peserta arisan dan pihak panitia
yang diberi amanah sebagai pengelola modal, serta usaha untuk
mendapatkan keuntungan.
Prinsip utama dalam akad bagi hasil adalah al-‘adalah / at-
ta’adul (keadilan), yang dengannya akan terwujud rasa saling ridla (at-
taradli) bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dimana prinsip
saling ridla ini menjadi esensi dari setiap transaksi dalam mu’amalah.
Arisan sistim gugur yang dipraktekkan sementara ini, betul-
betul menafikan prinsip keadilan, dan lebih bertumpu pada prinsip
untung-untungan (qimar, gambling). Dimana pemilik modal dengan
andil paling minimal dalam tempo yang lebih singkat, karena terlebih
dulu memperoleh undian, malah memperoleh keuntungan yang besar.
Sebaliknya penanam modal yang lebih besar dengan tempo yang lebih
lama, karena mendapatkan undian belakangan, malah memperoleh
pembagian keuntungan yang lebih sedikit, bahkan jika mendapatkan
undian terakhir, dia tidak memperoleh keuntungan apapun. Sehingga
muncullah kedhaliman yang sangat dilarang / diharamkan oleh agama.
Sementara apabila dikatagorikan ke dalam aqad al-qardl (utang-
piutang), maka di dalamnya akan mengandung unsur riba, karena
adanya janji untuk memberikan suatu keuntungan kepada si pemberi
pinjaman, yang janji tersebut menyatu dengan aqad.
Oleh karena itu, menyelenggarakan maupun menjadi peserta
arisan sistim gugur, sepanjang terdapat unsur gharar, untung-untungan,
riba dan sistem pengelolaan yang mengesampingkan aspek keadilan,
hukumnya adalah haram. 9

9
Wahid Adib, “Hukum Arisan Sistem Gugur”, dalam
https://web.facebook.com/notes/lajnah-bahtsul-masail-nu-klaten/hukum-arisan-sistim-
gugur/365611970143105/?_rdc=1&_rdr, diakses pada 08 Mei 2019

5
d. Sumber pengambilan dalil
1) Firman Allah SWT :
 
  
 
  
   
  
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian
memakan harta-harta orang lain di antara kalian dengan cara
yang bathil, kecuali dengan perdagangan yang dilandasi
kesukarelaan di antara kalian.” ( QS.An-Nisa : 29 )10
 
 
   
  
  
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu
orang-orang yang beriman.” ( QS. Al-Baqarah : 278 )11

 
 
 
 
 
 
  
Artinya : “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal
sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena
mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah
menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu
siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa : 161 )12
2) Sabda Rasulullah SAW :

10
Al-Qur’an [4]; 29
11
Al-Qur’an [2]: 278
12
Al-Qur’an [4]: 161

6
‫سله َم‬ ‫صلهى ه‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ‫سو ُل ه‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َع ْن أ َ ِبي ُه َري َْرة َ قَا َل نَ َهى َر‬
ِ‫ي‬ َ ‫َع ْن بَيْعِ ْالغ ََر ِر َوبَيْعِ ْال َح‬
ٌ ‫صاةِ ْ رواه الترمذ‬
Artinya : Dari Abu Hurairah ra dia berkata : Rasulullah saw
melarang jual beli ghoror dan jual beli dengan cara melempar
kerikil." ( HR. Tirmidzi )
3) Keterangan Kitab al-Muhadzdzab Juz 1 hal. 262 :

‫الغرر هو المجهول العاقبة‬


Artinya : “Gharar adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui
akibatnya.”
4) Keterangan Kitab Anisul Fuqaha Juz I hal. 221 :

‫وبيع الغرر هو الخطر الذي ال يدري أيكون أم ال كبيع‬


‫السمك في الماء والطير في الهواء‬
Artinya : “Jual beli ghoror yaitu pertaruhan yang tidak dapat
diprediksi apakah sesuatu akan terwujud ataukah tidak.Seperti jual
beli ikan yang berada di dalam air dan burung yang terbang di
udara.”
5) Keterangan Kitab Qawa’idul Fiqh Juz I hal. 214 :

‫بيع الغرر ثم هو البيع الذي فيه خطر انفساخه بهالك المبيع‬


‫والغرر محركة التعريض للهلكة وما طوى عنك علمه و‬
‫في المبسوط الغرر ما كان مستور العاقبة وفي المغرب‬
‫الغرر هو الخطر الذي ال يدري أيكون أم ال قال النووي‬
‫النهي عن بيع الغرر أصل عظيم من أصول كتاب البيوع‬
‫ويدخل فيه مسائل كثيرة كبيع اآلبق والمعدوم و المجهول و‬
‫ما ال يقدر على تسليمه وما لم يتم ملك البائع عليه من شياه‬
‫ونظائر ذلك فكل هذا بيعه باطل ألنه غرر‬
Artinya : “Jual beli ghoror yaitu jual beli yang di dalamnya
terdapat pertaruhan akan rusaknya jual beli itu, disebabkan
rusaknya barang dagangan. Ghoror adalah penggerak munculnya
penyebab kerusakan, dan sesuatu yang tidak dapat kamu
prediksikan. Di dalam kitab al-Mabsuth al-ghoror didefinisikan
sebagai sesuatu yang tersembunyi akibatnya. Di dalam kitab al-

7
Maghrab didefinisikan dengan pertaruhan yang tidak dapat
diprediksi, apakah terealisir ataukah tidak. Imam an-Nawawi
berkata bahwa larangan tentang jual beli ghoror merupakan
prinsip yang sangat esensial dari berbagai prinsip kitab jual beli,
yang mencakup amat banyak permasalahan. Seperti jual beli
hamba yang minggat dan hamba yang tidak dapat ditemukan
keberadaannya, jual beli majhul ( sesuatu yang tidak diketahui ),
jual beli sesuatu yang tidak bisa diserahterimakan, jual beli
sesuatu yang belum menjadi milik sempurna si penjual, semisal
kambing dan sebangsanya. Semuanya termasuk jual beli yang
bathil karena termasuk ghoror.”
6) Keterangan Kitab At-Tamhid Juz 21 hal. 136 :

‫قال أبو عمر بيع الغرر يجمع وجوها كثيرة منها المجهول‬
‫كله في الثمن والمثمن‬
Artinya : “Abu Umar berkata : Jual beli gharar mencakup banyak
sekali bentuk transaksi. Di antaranya adalah transaksi yang tidak
dapat diketahui harganya dan obyek transaksi yang dikenakan
harga.”
7) Keterangan Kitab Aunul Ma’bud Juz 9 hal. 165 :

‫باب في بيع الغرر بفتح الغين وبراءين أي ما ال يعلم‬


‫عاقبته من الخطر الذي ال يدرى أيكون أم ال‬
Artinya : “ Bab tentang gharar, dengan dibaca fathah ghainnya
dan dua ra’ yaitu sesuatu ( transaksi ) yang tidak dapat diketahui
akibatnya.”
8) Keterangan Kitab Rasail wa Fatawi Juz 29 hal. 107 :

‫فلو اشترط ربح ثوب بعينه لم يجز و هذا الغرر فى‬


‫و ذلك أن‬ ‫المشاركات نظير الغرر فى المعاوضات‬
‫األصل فى هذه المعاوضات و المقابالت هو التعادل من‬
‫الجانبين فان اشتمل أحدهما على غرر أو ربا دخله الظلم‬
‫فحرمها هللا الذي حرم الظلم على نفسه و جعله محرما على‬
‫عباده‬

8
Artinya :”… Jika mensyaratkan keuntungan sebuah baju, yaitu
materi bajunya, maka tidak diperbolehkan. Dan ini adalah ghoror
di dalam akad-akad musyarokah (kerjasama). Sebagaimana
ghoror dalam akad mu’awadlah dan muqabalah. Karena prinsip
di dalam akad mu’awadlah dan muqabalah adalah keadilan
(ta’adul) di antara kedua belah pihak. Apabila salah satunya
mengandung ghoror atau riba, maka sudah dimasuki unsur
penganiayaan (kedhaliman). Maka Allah mengharamkannya,
dimana Allah sendiri mengharamkan kedhaliman atas diri-Nya,
serta Allah haramkan pula atas hamba-hamba-Nya.”
9) Keteragan Kitab Rasail wa Fatawi Juz 29 hal. 108 :

‫ذا اشترطا ألحد الشريكين مكانا معينا خرجا عن موجب‬


‫الشركة فان الشركة تقتضى االشتراك فى النماء فاذا انفرد‬
‫أحدهما بالمعين لم يبق لآلخر فيه نصيب و دخله الخطر و‬
‫معنى القمار كما ذكره رافع فى قوله فربما أخرجت هذه و‬
‫لم تخرج هذه فيفوز أحدهما و يخيب اآلخر و هذا معني‬
................‫القمار‬
‫و أنه إنما زجر عنه ألجل ما فيه من المخاطرة و معنى القمار‬
Artinya : “Apabila kedua belah pihak mensyaratkan bagi salah
seorang yang terlibat dalam transaksi kerjasama (syirkah), bahwa
dia mendapatkan bagian tempat tertentu, maka berarti keduanya
telah keluar dari konsekwensi syirkah. Karena syirkah
mengharuskan adanya kebersamaan dalam hasil usaha. Apabila
salah seorang diantaranya telah mendapatkan hasil dari bagian
tertentu, maka yang lain tidak memperoleh hasil dari bagian
tertentu tadi. Maka masuklah ke dalamnya unsur pertaruhan dan
makna perjudian. Sebagaimana dituturkan oleh Rafi’ dalam
ucapannya : “maka terkadang tanah bagian ini menghasilkan
panenan, sedangkan yang lain tidak menghasilkan panenan,
sehingga orang ini memperoleh keuntungan, sedangkan yang lain
mengalami kerugian dan inilah arti dari al-qimar ……

9
Sesungguhnya Rasulullah saw melarangnya adalah karena di
dalamnya terkandung makna taruhan dan perjudian”
10) Keterangan dalam Kitab Muhadzdzab Juz I hal. 204 :

‫وال يجوز قرض جر منفعة مثل أن يقرضه ألفا على أن‬


‫يبيعه داره أو على أن يرد عليه أجود منه أو أكثر منه‬
‫وروي عن أبي بن كعب وابن مسعود وابن عباس رضي‬
‫هللا عنهم أنهم نهوا عن قرض جر منفعة والنه عقد إرفاق‬
‫فإذا شرط فيه منفعة خرج عن موضوعه‬
Artinya : “ Dan tidak boleh utang-piutang dengan menarik suatu
manfaat. Seperti meminjamkan uang seribu dengan syarat mau
menjual rumahnya, atau mengembalikan dengan sesuatu yang
lebih baik atau lebih banyak dari yang dipinjam. …Dan
diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Mas’ud r.a
bahwasanya mereka dilarang berutang-piutang yang menarik
suatu manfaat. Dan karena utang-piutang itu adalah perjanjian
yang berdasarkan pertemanan, maka apabila di dalamnya
diperjanjikan adanya manfaat, keluarlah dari konteksnya.”

C. KESIMPULAN
Arisan sistim gugur yang dipraktekkan sementara ini, betul-betul
menafikan prinsip keadilan, dan lebih bertumpu pada prinsip untung-untungan
(qimar, gambling). Dimana pemilik modal dengan andil paling minimal dalam
tempo yang lebih singkat, karena terlebih dulu memperoleh undian, malah
memperoleh keuntungan yang besar. Sebaliknya penanam modal yang lebih
besar dengan tempo yang lebih lama, karena mendapatkan undian belakangan,
malah memperoleh pembagian keuntungan yang lebih sedikit, bahkan jika
mendapatkan undian terakhir, dia tidak memperoleh keuntungan apapun.
Sehingga muncullah kedhaliman yang sangat dilarang / diharamkan oleh
agama.
Oleh karena itu, menyelenggarakan maupun menjadi peserta arisan
sistim gugur, sepanjang terdapat unsur gharar, untung-untungan, riba dan

10
sistem pengelolaan yang mengesampingkan aspek keadilan, hukumnya adalah
haram.
D. DAFTAR PUSTAKA
Ishak Hariyanto, “Pandangan Al-Qur’an tentang Manusia”, dalam Jurnal
Komunike, Volume 7, No. 2, Desember 2015

Joanne P.M. Tangkudung & J.J Senduk, “Mapalus Arisan Sebagai Salah Satu
Model Kearifan Lokal Masyarakat Kecamatan Kauditan Kabupaten
Minahasa Utara”, dalam Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum,
Volume 3 Nomor 2 Tahun 2016 Edisi Oktober

Kartika Sunu Wati, “Modal Dalam Praktik Sosial Arisan Sosialita (Studi
Fenomenologi Terhadap Dua Kelompok Arisan Sosialita di Malang
dan Jakarta)”, dalam Jurnal Idea Societa Vol. 2 No 5 Oktober, 2015

Mokhamad Rohma Rozikin, Hukum Arisan dalam Islam, (Malang: UB Pres,


2018)

Muhammad Zakaria Umar, “Pembangunan Rumah Tinggal dengan Sistim


Arisan di Desa Pangan Jaya”, dalam EMARA Indonesian Journal of
Architecture Vol 3 Nomor 1 – August 2017

Nurfaizal, “Prinsip-Prinsip Muamalah Dan Inplementasinya Dalam Hukum


Perbankan Indonesia”, dalam Jurnal Hukum Islam, Vol. XIII No. 1
Nopember 2013

Wahid Adib, “Hukum Arisan Sistem Gugur”, dalam


https://web.facebook.com/notes/lajnah-bahtsul-masail-nu-
klaten/hukum-arisan-sistim-gugur/365611970143105/?_rdc=1&_rdr,
diakses pada 08 Mei 2019

11