Anda di halaman 1dari 34

` PEDOMAN

PELAYANAN KESEHATAN JIWA

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa i


PEMERINTAH KABUPATEN KLUNGKUNG

UPT. PUSKESMAS NUSA PENIDA I

2016
PEDOMAN
PELAYANAN KESEHATAN JIWA

PEMERINTAH KABUPATEN KLUNGKUNG


DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS NUSA PENIDA I
2016

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa i


UPT PUSKESMAS NUSA PENIDA I

PEDOMAN
PELAYANAN
KESEHATAN JIWA
No. Dok.: 24/PM/WMM-NP1/2016 Tgl. Berlaku: 1 April 2016

No. Rev.: 00 Hal: 1-33

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa ii


LEMBAR PENGESAHAN

01/FORM/WMM/NP1/2016

Ayu Ketut Mahendrayanti


Pemegang Program Jiwa
Dibuat Oleh
dr. I Ketut Apriantara
Penanggung Jawab UKM

Diperiksa dan
dr. I Ketut Apriantara
Disetujui oleh WMM

Ditetapkan oleh
dr. I Ketut Rai Sutapa
Ka. Puskesmas Nusa Penida I

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa iii


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,


Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa UPT. Puskesmas Nusa Penida I telah
dapat diselesaikan. Ucapan terima kasih yang tak terkira juga kami
sampaikan kepada pihak- pihak yang telah membantu dalam penyusunan
pedoman ini.

Pedoman ini disusun agar digunakan sebagai acuan dalam


melakukan pelayanan kesehatan jiwa dasar di Puskesmas.Pedoman ini
membahas tentang pelayanan kesehatan jiwa termasuk dalam deteksi dini
kasus gangguan jiwa.

Pedoman ini memang masih perlu penyempurnaan, oleh karenanya


sangat diharapkan kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sehingga
dapat dipergunakan sebagai pedoman pelayanan kesehatan jiwa secara
optimal.

Nusa Penida, April 2016

dr. I Ketut Rai Suapa, S. Ked


NIP. 19790401 200604 1 012

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa iv


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... iv


DAFTAR ISI.................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2. Tujuan Pedoman ............................................................................. 2
1.3. Sasaran Pedoman ........................................................................... 2
1.4. Ruang Lingkup Pedoman ................................................................ 3
1.5. Batasan Operasional ....................................................................... 3
BAB II STANDAR KETENAGAAN .................................................................. 5
1.1. Kualifikasi Sumber Daya Manusia .................................................. 5
1.2. Distribusi Ketenagaan ..................................................................... 6
2.3. Jadwal Kegiatan .............................................................................. 6
BAB III TATA LAKSANA PELAYANAN ........................................................... 7
3.1. Lingkup Kegiatan ............................................................................ 7
3.2. Metode ............................................................................................ 7
3.3. Langkah Kegiatan ........................................................................... 7
a. Penemuan kasus gangguan jiwa di Poliklinik umum, Poliklinik KIA,
UGD dan rawat inap.............................................................................. 7
b. Penemuan kasus gangguan jiwa di puskesmas pembantu .............. 7
c. Penemuan kasus gangguan jiwa di desa se wilayah kerja UPT.
Puskesmas Nusa Penida I ...................................................................... 8
d. Kunjungan Rumah .......................................................................... 8
e. Promosi Kesehatan Jiwa ................................................................. 8
f. Upaya Rujukan ............................................................................... 8
g. Pencatatan dan pelaporan ............................................................... 9
BAB IV LOGISTIK ...................................................................................... 10
4.1. Manajemen Logistik ...................................................................... 10
4.2. Penyimpanan dan Pengelolaan Logistik ......................................... 10
BAB V KESELAMATAN PASIEN ................................................................. 11
5.1. Pengertian ..................................................................................... 11
5.2. Tujuan .......................................................................................... 12
5.3. Tata Laksana Keselamatan Pasien ................................................ 12
BAB VI KESELAMATAN KERJA ................................................................. 15
6.1. Pengertian ..................................................................................... 15
Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa v
6.2. Identifikasi Faktor-faktor yang Dapat Menyebabkan Kecelakaan
Kerja …………………………………………………………………………………….16
6.3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Puskesmas Nusa Penida I ... 17
6.4. Tata Laksana Pasca Pajanan ......................................................... 18
BAB VII PENGENDALIAN MUTU ................................................................ 22
BAB VIII PENUTUP .................................................................................... 26

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa vi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Gangguan jiwa masih menjadi masalah serius kesehatan mental di


Indonesia yang perlu mendapat perhatian lebih dalam kebijakan kesehatan
nasional. Menurut Undang Undang Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2009
sehat adalah keadaan sejahtera, fisik, mental, sosial dan spiritual. WHO
menyatakan kesehatan mental adalah keadaan sejahtera dimana individu
dapat menyadari kemampuannya, dapat mengatasi stres kehidupan yang
normal, dapat bekerja produktif dan bermanfaat serta dapat berkontribusi
positif dalam komunitas.
Pada tahun 2014 diterbitkan Undang Undang Nomor 18 Tahun 2014
tentang kesehatan jiwa yang menguraikan bahwa upaya kesehatan jiwa
adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang
optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat dengan pendekatan
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara
menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh pemerintah, pemerintah
daerah dan/atau masyarakat.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 terdapat 0,46
% dari total populasi Indonesia atau setara dengan 1.093.150 jiwa
penduduk Indonesia berisiko tinggi mengalami gangguan jiwa. Hasil Survey
Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) oleh Bahar,dkk pada tahun
1995 menunjukkan bahwa 185/1000 penduduk rumah tangga dewasa
menunjukkan adanya gejala gangguan kesehatan jiwa. Prevalensi diatas
100/1000 anggota rumah tangga dianggap sebagai masalah kesehatan
masyarakat yang perlu mendapat perhatian (priority public health problem).
Gangguan jiwa dalam pandangan masyarakat masih identik dengan
psikotik "gila" sementara kelompok jiwa lain yang lebih ringan kurang
dikenal seperti ansietas, depresi dan gangguan jiwa yang tampil dalam
bentuk berbagai keluhan fisik. Kelompok gangguan inilah yang banyak di
masyarakat.
Masalah kesehatan jiwa yang melatarbelakangi keluhan fisik
seringkali terabaikan sehingga pengobatan menjadi tidak efektif. Masalah
kesehatan jiwa juga menimbulkan dampak sosial antara lain meningkatnya
angka kekerasan kriminalitas, bunuh diri, penganiayaan anak, perceraian,
Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 1
kenakalan remaja, penyalahgunaan NAPZA, HIV/AIDS, perjudian,
pengangguran dan lain lain. Oleh karena itu masalah kesehatan jiwa perlu
ditangani secara serius.
Dengan adanya berbagai masalah kesehatan jiwa, maka kebutuhan
akan pelayanan kesehatan jiwa juga semakin meningkat. Jangkauan
pelayanan kesehatan jiwa harus dapat mencapai masyarakat yang jauh
dan bukan di kota saja. Oleh karena itu perlu dikembangkan upaya untuk
memanfaatkan fasilitas kesehatan yang sudah ada yaitu puskesmas.
Pedoman Pelayanan Program Kesehatan Jiwa ini diharapkan dapat
membantu petugas kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan jiwa
sehingga kasus dan masalah kesehatan jiwa dapat di deteksi, diagnosis,
diobati dan bila perlu di rujuk.

1.2. Tujuan Pedoman


a. Tujuan Umum

Meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat di wilayah kerja


Puskesmas Nusa Penida I.

b. Tujuan Khusus
1. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan jiwa kepada
masyarakat
2. Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat
melalui deteksi dini.
3. Meningkatnya kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat untuk
memelihara kesehatan jiwa.
4. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan dalam mengatasi masalah gangguan kesehatan
jiwa yang dialaminya.

1.3. Sasaran Pedoman

Sasaran Pedoman Pelayanan Kesehatan JiwaPuskesmas Nusa Penida I


antara lain:
1. Kepala Puskesmas
2. Dokter
3. Perawat/Petugas Program Jiwa
4. Petugas Poliklinik Umum
5. Petugas Poliklinik KIA

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 2


6. Petugas UGD/Rawat Inap
7. Petugas Puskesmas Pembantu
8. Aparat Desa
9. Kader
10. Tokoh Masyarakat

1.4. Ruang Lingkup Pedoman


Ruang lingkup pedoman ini meliputi standar ketenagaan meliputi
kualifikasi Sumber Daya Manusia, distribusi ketenagaan, standar fasilitas,
logistik, tatalaksana kegiatan, keselamatan pasien dan kesehatan dan
keselamatan kerja serta pengendalian mutu.

1.5. Batasan Operasional

a. Puskesmas adalah : Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang


menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan prefentif untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah
kerjanya.
b. Pemegang program kesehatan jiwa adalah : seseorang yang ditunjuk
dan di tugaskan oleh Kepala Puskesmas untuk menangani masalah
kesehatan jiwa di wilayah kerja Puskesmas.
c. Pedoman program kesehatan jiwa adalah landasan / pijakan bagi
pemegang program jiwa/ petugasdalam melaksanakan kegiatan
termasuk masalah administrasi.
d. Pelayanan kesehatan jiwa di dalam gedung puskesmas meliputi
penjaringan kasus/gangguan jiwa melalui rawat jalan poliklinik
umum, KIA, UGD dan Rawat inap ; Penyuluhan kesehatan jiwa pada
pasien/keluarga ; rujukan kasus jiwa yang tidak bisa ditangani
dipuskesmas ke Rumah Sakit Umum Daerah atau Rumah Sakit
Jiwa.
e. Pelayanan Kesehatan Jiwa di luar gedung puskesmas meliputi
pendataan kasus jiwa di puskesmas pembantu; penyuluhan
kesehatan jiwa kepada masyarakat dan anak sekolah; penjaringan
kasus gangguan jiwa dan penggunaan NAPZA di wilayah kerja
puskesmas serta rujukan kasus gangguan jiwa ke puskesmas.

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 3


Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 4
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

1.1. Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Salah satu unsur yang paling penting dalam pelayanan adalah Sumber
Daya Manusia yang bertugas sebagai pemberi pelayanan. Pemberi
pelayanan yang berkualitas akan berdampak pada tersedianya layanan
kesehatan yang bermutu. Pelayanan yang bermutu selaras dengan
tercapainya tujuan keselamatan pasien.

Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan, maka sangat penting


untuk menetapkan Standar dan kompetensi ketenagaan pemberi pelayanan
kesehatan jiwa, yaitu

1. Tenaga medis
Seorang dokter umum yang mempunyai :
 Kualifikasi pendidikan Dokter Umum atau Dokter Layanan
Primer
 Kompeten dalam bidangnya ditunjukkan dengan Sertifikat
Kompetensi dari Kolegium Dokter Indonesia
 Surat Tanda Registrasi dari Konsil Kedokteran Indonesia
 Menjadi anggota organisasi profesi yaitu Ikatan Dokter
Indonesia
 Surat Ijin Praktik dengan tempat praktik di Puskesmas
Nusa Penida I
 Mengikuti pelatihan kesehatan jiwa
2. Perawat dengan kualifikasi :
 Pendidikan minimal D3 Keperawatan
 Kompeten dalam bidang Keperawatan terutama
keperawatan jiwa
 Surat Ijin Perawat
 Surat Ijin Praktek Perawat
 Surat Ijin Kerja di Puskesmas Nusa Penida I
 Mengikuti pelatihan kesehatan jiwa

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 5


1.2. Distribusi Ketenagaan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas perlu tenaga


yang ideal dan memenuhi standar yaitu
1. Satu (1) orang dokter umum
2. Satu (1) orang perawat

2.3. Jadwal Kegiatan

Pelayanan Kesehatan Jiwa di dalam gedung dilakukan setiap hari


sedangkan pelayanan kesehatan jiwa di luar gedung dijadwalkan pada
bulan tertentu.

No Rincian Waktu Pelaksanaan


Kegiatan Jan Feb Mart Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

1 Melakukan
Penemuan X x x x x x x x x x x x
Kasus di Poli
Klinik, UGD
dan Rawat
Inap
2 Melakukan
Penemuan X x x x x x x x x x x x
Kasus ke
Pustu
3 Melakukan
Penemuan x x
Kasus ke desa
sewilayah kerja
Puskesmas
Nusa Penida I
4 Melakukan
Kunjungan x x
Rumah

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 6


BAB III
TATA LAKSANA PELAYANAN

3.1. Lingkup Kegiatan

Lingkup kegiatan pelayanan kesehatan jiwa UPT. Puskesmas Nusa Penida I


antara lain meliputi :

a. Penemuan kasus gangguan jiwa di poliklinik umum, poliklinik KIA,


UGD dan Rawat Inap
b. Penemuan kasus gangguan jiwa di puskesmas pembantu
c. Penemuan kasus gangguan jiwa ( menggelandang / tidak ) di desa se
wilayah kerja UPT. Puskesmas Nusa Penida I
d. Melakukan kunjungan rumah pasien gangguan jiwa.
e. Promosi kesehatan jiwa
f. Upaya Rujukan
g. Pencatatan dan Pelaporan

3.2. Metode

Untuk mendapatkan hasil kinerja yang memadai, methode yang di gunakan


adalah :

a. Koordinasi dengan unit terkait yang ada di Puskesmas Nusa Penida I


b. Kunjungan Rumah
c. Wawancara dengan pasien/ keluarga

3.3. Langkah Kegiatan

a. Penemuan kasus gangguan jiwa di Poliklinik umum, Poliklinik


KIA, UGD dan rawat inap
 Setiap pasien jiwa yang sudah ditangani ataupun dirujuk tercatat
di buku register dan rekam medik pasien
 Petugas program kesehatan jiwa mencatat semua data kasus
gangguan jiwa setiap hari.

b. Penemuan kasus gangguan jiwa di puskesmas pembantu


 Setiap pasien jiwa yang sudah ditangani ataupun dirujuk tercatat
di buku register dan rekam medik pasien. Petugas pustu juga
Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 7
melapor kepada petugas program jiwa apabila menemukan orang
dengan gangguan jiwa yang menggelandang di wilayah kerjanya.
 Petugas program kesehatan jiwa mencatat semua data kasus
gangguan jiwa setiap hari.

c. Penemuan kasus gangguan jiwa di desa se wilayah kerja UPT.


Puskesmas Nusa Penida I
 Berkoordinasi dengan aparat desa ataupun tokoh masyarakat agar
memberikan informasi apabila menemukan masalah kesehatan jiwa
di masyarakat sekitarnya baik yang menggelandang atau tidak
menggelandang, di kurung dan di pasung.

d. Kunjungan Rumah
 Dilakukan dengan cara mendatangi rumah penderita gangguan
jiwa. Kunjungan rumah dilakukan bila petugas telah mendapatkan
informasi baik dari petugas kesehatan maupun dari aparat desa.
 Adapun kegiatan yang dilakukan saat kunjungan rumah yaitu :
1) Anamnesa pasien dan keluarga
2) Pemeriksaan fisik
3) Pemberian terapi oleh dokter
4) Penyuluhan kesehatan/KIE kepada pasien dan keluarga
5) Rujukan kasus ke Puskesmas

e. Promosi Kesehatan Jiwa


 Kegiatan ini diintegrasikan dengan kegiatan program esensial
puskesmas yaitu program promosi kesehatan melalui kegiatan
penyuluhan kelompok/masyarakat dan anak sekolah.
 Tahapan-tahapan kegiatan promosi kesehatan jiwa
1) Menentukan sasaran penyuluhan
2) Menentukan jadwal kegiatan, media, dan lokasi penyuluhan
3) Koordinasi dengan tim promosi kesehatan dan sasaran.
4) Pelaksanaan penyuluhan
5) Evaluasi kegiatan
6) Dokumentasi kegiatan

f. Upaya Rujukan

 Dalam hal pasien tidak dapat ditangani di Poliklinik Umum atau


unit lain di Puskesmas Nusa Penida I karena memerlukan

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 8


pemeriksaan dan atau penatalaksanaan lebih lanjut, pasien dirujuk
ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi
 Alur Rujukan disesuaikan dengan jaminan kesehatan yang dimiliki
oleh pasien
 Dokter menulis surat rujukan dan menyerahkan kepada pasien
 Data Pasien yang di rujuk dicatat pada buku rujukan

g. Pencatatan dan pelaporan


 Terdapat 2 macam pencatatan dalam pelayanan kesehatan jiwa di
puskesmas yaitu kartu rawat jalan untuk mencatat data mengenai
pasien serta pencatatan harian rutin untuk mencatat data yang
dikumpulkan pasien selama sehari ( dalam buku register harian).
 Pencatatan kegiatan di tulis pula pada BCP (Buku Catatan Petugas).
Didalam BCP di tulis tanggal dan waktu pelaksanaan kegiatan,
hasil kegiatan serta lokasi yang dituju.
 Pelaporan bulanan rutin dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan
Kabupaten yang merupakan laporan kegiatan yang dilakukan
selama sebulan, sebagai hasil pengolahan dari kumpulan
pencatatan harian selama sebulan.

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 9


BAB IV
LOGISTIK

4.1. Manajemen Logistik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Logistik adalah proses


pengelolaan dari pada pemindahan dan penyimpanan barang dan infomasi
terkait dari sumber pengadaaan ke konsumen akhir secara efektif dan dan
efisien.

Pengadaan alat kesehatan di Puskesmas Nusa Penida I diajukan


kepada Dinas Kesehatan oleh Kepala Puskesmas kemudian setelah datang,
alat kesehatan tersebut diinventarisir dan disimpan oleh pengelola alat
kesehatan. Alat kesehatan untuk program kesehatan jiwa didapatkan
melalui pengamprahan pada pengelola alat kesehatan dan selanjutnya
diinventarisasi/ disimpan oleh petugas program. Alat yang dperlukan dalam
program/pelayanan kesehatan jiwa yaitu :

a. Cheklist pengumpulan data


b. Buku register
c. Tensimeter
d. Stetoskop
e. Termometer
f. Lembar balik gangguan kesehatan jiwa
g. Leaflet/poster tentang kesehatan jiwa

4.2. Penyimpanan dan Pengelolaan Logistik

Setiap petugas berkewajiban menjaga dan memelihara serta menggunakan


logistik program kesehatan jiwa Puskesmas Nusa Penida I dengan sebaik-
baiknya dan penuh tanggung jawab.

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 10


BAB V
KESELAMATAN PASIEN

5.1. Pengertian

Pelayanan kesehatan merupakan rangkaian kegiatan yang mengandung


risiko karena menyangkut keselamatan tubuh dan nyawa seseorang.
Perkembangan ilmu pengetahuan, metode pengobatan dan penemuan alat
kedokteran canggih, selain memberikan manfaat yang besar bagi
masyarakat, pada kenyataannya tidak mampu menghilangkan resiko
terjadinya suatu Kejadian Tidak Diinginkan (KTD), baik timbulnya
komplikasi, kecacatan maupun meninggal dunia.

Dengan diberlakukannya UU Nomer 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan


Konsumen, UU Nomer 29 Tahun 2009 tentang Praktik Kedokteran dan UU
Nomer 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang menjamin hak pasien
untuk mengajukan gugatan baik kepada tenaga kesehatan maupun fasilitas
kesehatan, maka suatu KTD dapat berujung pada tuntutan hukum. Oleh
karenanya Puskesmas Puskesmas perlu menyusun suatu program untuk
memperbaiki proses pelayanan pada pasien, agar suatu KTD dapat dicegah
melalui rencana pelayanan yang komprehensif. Dengan meningkatnya
keselamatan pasien diharapkan KTD semakin berkurang dan pada
akhirnya kepercayaan masyarakat terhadap mutu pelayanan Puskesmas
semakin meningkat.

Mengingat isu keselamatan pasien sudah menjadi isu global dan tuntutan
masyarakat, maka penyusuan program peningkatan mutu dan keselamatan
pasien di Puskesmas menjadi prioritas.

Keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu sistem dimana Program


pelayanan kesehatan jiwaPuskesmasNusa Penida I membuatasuhan pasien
lebih aman. Sistem tersebut meliputi : assessmen risiko, identifikasi dan
pengelolaan hal yangberhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan
analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindaklanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem tersebut
diharapkan dapatmencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidakmelakukan

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 11


tindakan yang seharusnya dilakukan.Sedangkan insiden keselamatan
pasien adalah setiap kejadian atau situasi yang dapat mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan harm (penyakit, cidera, cacat, kematian, dan
lain-lain) yang tidak seharusnya terjadi.

5.2. Tujuan

Tujuan sistem ini adalah mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil. Selain itu sistem keselamatan pasien ini
mempunyai tujuan agar tercipta budaya keselamatan pasien pada
pelayanan kesehatan jiwa Puskesmas Nusa Penida I, meningkatkannya
akuntabilitas Puskesmas terhadap pasien dan masyarakat, menurunnya
kejadian tidak diharapkan di Puskesmas, dan terlaksananya program-
program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak
diharapkan.

5.3. Tata Laksana Keselamatan Pasien

Dalam melaksanakan keselamatan pasien terdapat tujuh langkah menuju


keselamatan pasien rumah sakit. Adapun tujuh langkah tersebut adalah:

1. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien. Menciptakan


kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.
2. Memimpin dan mendukung karyawan. Membangun komitmen dan
fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien.
3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko. Mengembangkan sistem
dan proses pengelolaan risiko, serta melakukan identifikasi dan
asesmen hal potensial bermasalah.
4. Mengembangkan sistem pelaporan. Memastikan karyawan agar dengan
mudah dapat melaporkan kejadian atau insiden, serta Puskesmas
mengatur pelaporan kepada KKP-RS (Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit).
5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Mengembangkan cara-
cara komunikasi yang terbuka dengan pasien.
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien.
Mendorong karyawan untuk melakukan analis akar masalah untuk
belajar bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul.

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 12


7. Mencegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien.
Menggunakan informasi yang ada tentang kejadian atau masalah untuk
melakukan perubahan pada sistem pelayanan.

Dalam melaksanakan keselamatan pasien standar keselamatan


pasien harus diterapkan.Standar tersebut adalah:

1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatan keselamatan pasien
6. Mendidik karyawan tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi yang merupakan kunci bagi karyawan untuk mencapai
keselamatan pasien.

Langkah-langkah penerapan keselamatan pasien Puskesmas Nusa Penida I:

1. Menetapkan unit kerja yang bertanggung jawab mengelola program


keselamatan pasien Puskesmas.
2. Menyusun program keselamatan pasien Puskesmas jangka pendek 1-2
tahun
3. Mensosialisasikan konsep dan program keselamatan pasien Puskesmas
4. Mengadakan pelatihan keselamatan pasien Puskesmasbagi jajaran
manajemen dan karyawan
5. Menetapkan sistem pelaporan insiden (peristiwa keselamatan pasien)
6. Menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien
Puskesmasseperti tersebut di atas
7. Menerapkan standar keselamatan pasien Puskesmas (seperti tersebut
di atas) dan melakukan self assessment dengan instrument akreditasi
pelayanan keselamatan pasien Puskesmas
8. Program khusus keselamatan pasien Puskesmas
9. Mengevaluasi secara periodik pelaksanaan program keselamatan pasien
Puskesmasdan kejadian tidak diharapkan.

Sasaran Keselamatan Pasienpada programkesehatan jiwa Puskesmas Nusa


Penida I :

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 13


1. Ketepatan Identifikasi Pasien
Ketepatan identifikasi pasien adalah ketepatan penentuan identitas
pasien sejak awal pasien masuk sampai dengan pasien keluar terhadap
semua pelayanan yang diterima oleh pasien.
2. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi lisan yang menggunakan
prosedur: Write back, Read back dan Repeat Back (reconfirm).
3. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (high-alert)
Obat yang perlu diwaspadai adalah obat yang sering menyebabkan
terjadi kesalahan atau kesalahan serius (sentinel event), obat yang
berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse
outcome)
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien yang memerlukan
tindakan
Penandaan lokasi tindakan adalah tata cara yang wajib dilakukan
sebelum tindakan oleh dokter. Tepat lokasi adalah melaksanakan
tindakan secara tepat pada lokasi yang diharapkan. Tepat prosedur
adalah melaksanakan tindakan sesuai dengan prosedur yang sudah
ditetapkan. Tepat pasien adalah melaksanakan tindakan sesuai dengan
pasien yang tepat yang terjadwal (perawat harus selalu melakukan
identifikasi pasien sebelum melakukan tindakan).
5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
Pokok eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci
tangan (hand hygiene) yang tepat.
6. Pengurangan risiko pasien jatuh
Pengurangan risiko pasien jatuh adalah pengurangan pengalaman
pasien yang tidak direncanakan untuk terjadinya jatuh, suatu kejadian
yang tidak disengaja pada seseorang pada saat istirahat yang dapat
dilihat atau dirasakan atau kejadian jatuh yang tidak dapat dilihat
karena suatu kondisi adanya penyakit seperti stroke, pingsan, dan
lainnya.

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 14


BAB VI
KESELAMATAN KERJA

6.1. Pengertian

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat (2) disebutkan bahwa


“Setiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan”. Dalam hal ini yang dimaksud pekerjaan adalah
pekerjaan yang bersifat manusiawi, yang memungkinkan pekerja berada
dalam kondisi sehat dan selamat, bebas dari kecelakaan dan penyakit
akibat kerja, sehingga dapat hidup layak sesuai dengan martabat manusia.

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 pasal 164 ayat (1)


menyatakan bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi
pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta
pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Pengelola tempat kerja
wajib menaati standar kesehatankerja danmenjamin lingkungan kerja yang
sehat sertabertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan kerja.Pengelola
tempat kerja wajib melakukan segala bentukupaya kesehatan melalui
upaya pencegahan,peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi
tenagakerja.Puskesmas Nusa Penida I adalah tempat kerja yang termasuk
dalam kategori seperti disebut di atas, berarti wajib menerapkan upaya
keselamatan dan kesehatan kerja. Program keselamatan dan kesehatan
kerja di tim pendidikan pasien dan keluarga bertujuan melindungi
karyawan dari kemungkinan terjadinya kecelakaan di dalam dan di luar
Puskesmas.

Dalam era globalisasi, tuntutan pengelolaan program Keselamatan


Kerja semakin tinggi karena pekerja, penginjung, pasien dan masyarakat
sekitar Puskesmas ingin mendapat perlindungan dari gangguan kesehatan
dan kecelakaan kerja, baik sebagai dampak proses kegiatan pemberian
pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana di Puskesmas
yang tidak memenuhi standar.

Tujuan dari Upaya Kesehatan dan Keselamatan kerja di Puskemas


Nusa Penida I adalah menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan
produktif untuk pekerja, aman dan sehat bagi pasien, pengunjung,

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 15


masyarakat dan lingkungan sekitar Puskesmas Nusa Penida I sehingga
proses

6.2. Identifikasi Faktor-faktor yang Dapat Menyebabkan Kecelakaan


Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan bagian integral dari


perlindungan terhadap pekerja dalam hal ini Poliklinik Umum dan
perlindungan terhadap Puskesmas. Pegawai adalah bagian integral dari
rumah sakit. Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja akan
meningkatkan produktivitas pegawai dan meningkatkan produktivitas
rumah sakit. Undang-Undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja dimaksudkan untuk menjamin:

1. Agar pegawai dan setiap orang yang berada di tempat kerja selalu
berada dalam keadaan sehat dan selamat.
2. Agar faktor-faktor produksi dapat dipakai dan digunakan secara efisien.
3. Agar proses produksi dapat berjalan secara lancar tanpa hambatan.

Faktor-faktor yang menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat


kerja dapat digolongkan pada tiga kelompok, yaitu :

1. Kondisi dan lingkungan kerja


2. Kesadaran dan kualitas pekerja, dan
3. Peranan dan kualitas manajemen

Dalam kaitannya dengan kondisi dan lingkungan kerja, kecelakaan


dan penyakit akibat kerja dapat terjadi bila :

 Peralatan tidak memenuhi standar kualitas atau bila sudah aus


 Alat-alat produksi tidak disusun secara teratur menurut tahapan
proses produksi
 Ruang kerja terlalu sempit, ventilasi udara kurang memadai,
ruangan terlalu panas atau terlalu dingin
 Tidak tersedia alat-alat pengaman
 Kurang memperhatikan persyaratan penanggulangan bahaya
kebakaran dan lain-lain.

Faktor – faktor yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja :

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 16


 Bahaya- bahaya potensial di Puskesmas yang disebabkan oleh
faktor biologi yaitu kuman pathogen (virus, bakteri, jamur, dll)
yang umumnya berasal dari pasien.
 Faktor Kimia : pemaparan dalam dosis kecil dan terus
menerus seperti antiseptic pada kulit, obat-obatan dll
 Faktor Ergonomi : cara kerja yang salah misalnya cara
mengangkat pasien yang salah, cara duduk yang salah
 Faktor Fisik : suhu, cahaya, bising, listrik, getaran, radiasi dll
 Faktor Psikososial : kerja bergilir, hubungan sesame pekerja/
atasan dll)

Risiko petugas puskesmas terhadap kesehatan dan kecelakaan kerja antara


lain masih rendahnya perilaku petugas kesehatan di puskesmas terhadap
kepatuhan melaksanakan setiap prosedur tahapan kewaspadaan universal
dengan benar, status vaksinasi Hepatitis B petugas kesehatan puskesmas
masih rendah, risiko tertusuk jarum bekas. Kerugian Akibat Kecelakaan
Kerja dalam Puskesmas antara lain Kerugian Langsung yaitu penderitaan
pribadi, rasa kehilangan dari anggota keluarga korban dan Kerugian Tak
langsung (tersembunyi) yaitu Kerusakan mesin dan peralatan,
terganggunya produksi, terganggunya waktu kerja prtugas Kesehatan dll.

6.3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Puskesmas Nusa Penida I

a. Perlindungan Keselamatan Kerja Dan Kesehatan Petugas Kesehatan


 Petugas kesehatan yang merawat pasien menular harus
mendapatkan pelatihan mengenai cara penularan dan
penyebaran penyakit, tindakan pencegahan dan pengendalian
infeksi yang sesuai dengan protokol jika terpajan.
 Petugas yang tidak terlibat langsung dengan pasien harus
diberikan penjelasan umum mengenai penyakit tersebut.
 Petugas kesehatan yang kontak dengan pasien penyakit menular
melalui udara harus menjaga fungsi saluran pernapasan (tidak
merokok, tidak minum dingin) dengan baik dan menjaga
kebersihan tangan.

b. Petunjuk Pencegahan infeksi untuk Petugas Kesehatan

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 17


 Untuk mencegah transmisi penyakit menular dalam tatanan
pelayanan kesehatan, petugas harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri) yang sesuai untuk kewaspadaan Standar dan
Kewaspadaan Isolasi (berdasarkan penularan secara kontak,
droplet, atau udara) sesuai dengan penyebaran penyakit.
 Semua petugas kesehatan harus mendapatkan pelatihan tentang
gejala penyakit menular yang sedang dihadapi.
 Semua petugas kesehatan dengan penyakit seperti flu harus
dievaluasi untuk memastikan agen penyebab. Dan ditentukan
apakah perlu dipindah tugaskan dari kontak langsung dengan
pasien, terutama mereka yang bertugas di instalasi perawatan
intensif (IPI), ruang rawat anak, ruang bayi.
 Bila terjadi pajanan terhadap specimen yang dapat meenularkan
infeksi maka petugas melakukan tatalaksana profilaksis pasca
pajanan sesuai panduan dan prosedur yang ditentukan.

6.4. Tata Laksana Pasca Pajanan

Pelayanan klinis oleh pemberi layanan klinis memiliki resiko tertular


berbagai penyakit tertentu seperti HIV, Hepatitis dll yang dapat menular
secara perenteral yang mana penularannya dapat melalui tusukan atau
terpajan darah penderita. Oleh karenanya perlu ditetapkan suatu
manajemen tata laksana profilaksis pasca pajanan antara lain :

 Saat terpapar pajanan :


a. Petugas jangan panik.
b. Segera bilas dengan air mengalir dan sabun/ antiseptic, tidak
boleh ditekan atau menghisap darah dari luka.
c. Bila darah mengenai kulit yang utuh/ tanpa luka cuci dengan air
mengalir dan sabun atau larutan garam dapur.
d. Bila darah mengenai mulut, ludahkan dan kumur- kumur dengan
air beberapa kali.
e. Kalau terpercik pada mata, cucilah mata dengan air mengalir
atau garam fisiologis.
f. Jika darah memercik ke hidung, hembuskan keluar dan
bersihkan dengan air
 Catat kejadian dan laporkan kepada atasan <24 jam

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 18


 Telaah Pajanan. :
a. Pajanan yang memiliki resiko penularan infeksi adalah perlukaan
pada kulit, pajanan pada selaput mukosa, pajanan melalui kulit
yang luka dan gigitan berdarah.
b. Bahan yang berisiko menularkan infeksi adalah darah, cairan
bercampur darah yang kasat mata, cairan yang potensial
terinfeksi ( seperti semen, cairan vagina, cairan serebrospinal,
cairan sendi, cairan peritoneal, cairan pericardial, cairan amnion)
dan konsentrasi virus.
c. Status infeksi sumber pajanan (kalau belum diketahui) yaitu
HbsAG positif, HCV positif, HIV positif
d. Kerentanan orang yang terpajan : Pernahkah mendapat vaksinasi
Hepatitis B, status serologi terhadap HBV bila pernah mendapat
vaksin, Anti HCV dan ALT, Antibodi HIV
 Berikan Profilaksis Pasca Pajanan kepada yang berisiko infeksi
a. Hepatitis B Virus

b. Hepatitis C tidak diberikan profilaksis


c. Profilaksis HIV
 Lakukan pertolongan pertama dengan:Segera cuci luka
atau kulit yang kontak dengan darah atau cairan tubuh
dengan sabun dan air yang mengalir, kemudian bilas
dengan larutan NaCL 0,9% steril atau larutan antisptik.
Jika kena mata lakukan irigasi mata dengan bersih
Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 19
 Laporkan segera pada tim PPP atau lakukan protokol PPP
setempat
 Sarankan ke VCT untuk Konseling
 Pemberian profilaksis pasca pajanan (bila terpajan < 72
jam), tabel terlampir
 Pemberian Profilaksis Pasca Pajanan
Gunakan bentuk dibawah ini jika sumber pasien diketahui
HIV positif, jika suspek menjadi HIV +, atau status tidak
diketahui

TANYA LIHAT
Kapan terjadinya luka ? Lihat bagian tubuh atau kulit
(jika lebih dari 72 jam jangan yang terpajan dan peralatan yang
memberi PEP) digunakan
Bagaimana cara luka
 Dimana terjadi perlukaan (jika perlukaan lebih dari 24jam
- Kulit lalu, anda perlu bertanya untuk
- Selaput lendir memperoleh informasi berikut)
 Apa yang menyebabkan
perlukaan ? Jika kulit tertusuk atau pecah
- Tertusuk atau terpotong karena suatu alat: berapa dalam
alat lukanya
- Terpercik darah atau
cairan tubuh yang lain Jika alat berupa jarum:
 Apakah terpajan dengan  Apakah jarum
bahan yang berpotensi berlubang atau solid?
menular?  Adakah darah pada alat
- Apakah darah atau  Apakah jarum telah
cairan berdarah digunakan pada tempat
- Atau cairan tubuh yang vena atau arteri pasien?
lain yang bukan darah:
semen, sekresi vagina, Jika hanya tumpahan, lihat jika
cairan, otak, cairan kulit pecah atau rusak:
sendi, pleura,  Berbekas
peritoneum, pericardial,  Dermatitis
cairan amnion  Abrasi
jaringan?( resiko  Luka terbuka
rendah)

 Profilaksis Pasca Pajanan ( PPP )

Tanda Klasifikasi Pengobatan

Tertusuk atau terpotong  Rekomendasi PPP


dengan: selama 28 hari dengan
- Jarum besar dan AZT-3TC atau D4T-3TC
berlubang ( adaptasi nasional
- Jarum yang digunakan tambahan obat ketiga
pada arteri dan vena  Sebelum pemberian
pasien PPP, sangat dianjurkan
- Luka tusuk yang dalam PAJANAN RESIKO untuk memberikan
- Terlihat darah dalam alat TINGGI konseling dan tets HIV
pada terpajan ( lihat
pedoman perawatan
akut)
 Hentikan PPP bila
ternyata terpajan HIV
(+) dan rujuk untuk
perawatan HIV kronik

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 20


- Tusukan atau terpotong  Tawarkan regimen
dengan lubang kecil atau AZT-3TC atau D4T-3TC
jarum solid  Sebelum pemberian
- Garukan permukaan PPP, sangat dianjurkan
- Terpercik pada kulit atau untuk memberikan
selaput lendir tak utuh konseling dan tets HIV
PAJANAN RESIKO pada terpajan ( lihat
TINGGI pedoman perawatan
akut)
 Hentikan PPP bila
ternyata terpajan HIV
(+) dan rujuk untuk
perawatan HIV kronik

Percikan pada kulit utuh Tidak perlu PPP


RESIKO RENDAH

 Laksanakan pemeriksaan Lab lanjutan dan lakukan konseling,


sarankan segera periksa apabila ada gejala penyakit

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 21


BAB VII PENGENDALIAN MUTU

Prinsip dasar upaya peningkatan mutu pelayanan adalah pemilihan aspek


yang akan ditingkatkan dengan menetapkan indikator, kriteria, serta
standar yang akan digunakan untuk mengukur mutu pelayanan. Indikator
Mutu pada Pelayanan Kesehatan Jiwa Puskesmas Nusa Penida I mengacu
pada Pedoman Indikator Mutu Puskesmas Nusa Penida I yaitu:

1. Pemberdayaan kelompok masyarakat khusus dalam upaya penemuan


dini dan rujukan kasus gangguan jiwa

Ruang lingkup Penemuan kasus gangguan jiwa dan rujukan


kasus gangguan jiwa ke puskesmas dari kelompok
masyarakat khusus di wilayah puskesmas Nusa
Penida I
Dimensi mutu Pasien/ Keluarga dengan gangguan jiwa selalu
memanfaatkan pelayanan kesehatan dalam
mengatasi gangguan jiwa
Tujuan Untuk pemberdayaan kelompok/masyarakat
dalam penemuan gangguan jiwa
Definisi operasional Pemberdayaan kelompok masyarakat khusus
dalam upaya penemuan dini dan rujukan kasus
gangguan jiwa adalah memberdayakan kader
dalam kelompok/posyandu diwilayah puskesmas
Nusa Penida I dalam penemuan kasus dengan
cara mencatat nama pasien dan melaporkan ke
petugas kesehatan. Serta langsung merujuk ke
puskesmas apabila ada pasien gangguan jiwa yang
mengamuk atau mengganggu masyarakat.
Kriteria inklusi Posyandu yang melakukan pendataan kasus
gangguan jiwa
Kriteria eksklusi
Numerator Jumlah kelompok masyarakat khusus yang
melakukan pendataan kasus gangguan jiwa.
Denominator Jumlah seluruh kelompok masyarakat khusus se
wilayah kerja Puskesmas Nusa Penida I (52

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 22


kelompok)
Standar 100%

2. Penemuan dan penanganan kasus gangguan perilaku, gangguan jiwa,


masalah napza,dll dari rujukan kader dan masyarakat.

Ruang lingkup Menemukan kasus gangguan jiwa dan masalah


napza dengan mencari data dari aparat desa,
kader dan masyarakat; Melakukan rujukan ke
Puskesmas
Dimensi mutu Pasien/ Keluarga dengan gangguan jiwa selalu
memanfaatkan pelayanan kesehatan dalam
mengatasi gangguan jiwa
Tujuan Menemukan dan menangani gangguan perilaku,
gangguan jiwa, maslah napza,dll
Definisi operasional Penemuan dan penanganan kasus gangguan
perilaku, gangguan jiwa, masalah napza,dll dari
rujukan kader dan masyarakat merupakan
kegiatan dalam penemuan kasus didesa dengan
mengumpulkan informasi dari aparat desa, kader
dan masyarakat. Selanjutnya akan ditangani
melalui kunjungan rumah dan melakukan
rujukan ke puskesmas.
Kriteria inklusi Penemuan dan pengananan kasus gangguan
perilaku, gangguan jiwa, maslah napza dari
rujukan kader dan masyarakat.
Kriteria eksklusi
Numerator Jumlah penemuan dan penanganan kasus
Denominator Jumlah target penemuan dan penanganan kasus
Standar 100%

3. Penanganan kasus kesehatan jiwa, melalui rujukan ke RS/ spesialis.

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 23


Ruang lingkup Menangani kasus kesehatan jiwa yang dirujuk ke
RS Jiwa atau RSUD Klungkung.
Dimensi mutu Semua pasien gangguan jiwa bisa ditangani di
Puskesmas.
Tujuan Masalah gangguan kesehatan jiwa di masyarakat
teratasi
Definisi operasional Penanganan kasus kesehatan jiwa melalui
rujukan ke RS/spesialis adalah penanganan
kasus sudah dilakukan dipuskesmas namun
memerlukan penanganan lebih lanjut ke tingkat
pelayanan kesehatan lebih tinggi yaitu Rumah
Sakit
Kriteria inklusi Kasus gangguan jiwa yang di rujuk
Kriteria eksklusi
Numerator Jumlah kasus kesehatan jiwa yang di rujuk
Denominator Jumlah target penanganan kasus kesehatan jiwa
melalui rujukan ke RS/spesialis
Standar

4. Deteksi dan penanganan kasus jiwa

Ruang lingkup Deteksi dan penemuan kasus jiwa di puskesmas


Nusa Penida I
Dimensi mutu Pasien/ Keluarga dengan gangguan jiwa selalu
memanfaatkan pelayanan kesehatan dalam
mengatasi gangguan jiwa
Tujuan Kasus gangguan jiwa dapat terdeteksi dan
tertangani dengan cepat dan tepat.
Definisi operasional Deteksi dan penanganan kasus jiwa adalah upaya
penemuan dan penanganan kasus jiwa ( gangguan
perilaku, gangguan psikosomatik, masalah
napza,dll yang datang berobat ke puskesmas baik
ke poliklinik umum, poliklinik KIA, UGD,
Puskesmas pembantu dan rawat inap.
Kriteria inklusi Kasus gangguan jiwa yang terdeteksi dan
tertangani di puskesmas.

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 24


Kriteria eksklusi
Numerator Jumlah kasus yang sudah dideteksi dan ditangani
di puskesmas
Denominator Jumlah target deteksi dan penanganan kasus jiwa
dipuskesmas (689 kasus)
Standar 100%

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 25


BAB VIII
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa Puskesmas Nusa Penida I ini


merupakan kebijakan kegiatan pelayanan kesehatan jiwa yang
dilaksanakan di Puskesmas Nusa Penida I.

Petugas Puskesmas Nusa Penida I khususnya petugas Program


kesehtan jiwa agar senantiasa memperhatikan dan menjalankan pelayanan
dengan sebaik-baiknya baik itu di dalam gedung maupun di luar gedung,
serta tetap mematuhi prosedur dan mengembangkan pelayanan berbasis
keselamatan pasien dan kepuasan masyarakat.

Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa 26


Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa Puskesmas Nusa Penida I 1